Still You

Still You Poster

Judul     : Still You

Author  : Ahn Seun Hwa (안슨화)

Genre   : Romance, School Life, Friendship, Sad

Rating   : G/Teen

Lenght  : Oneshoot

Maincast :     Kris EXO a.k.a Wu Yi Fan

                         Luhan EXO a.k.a Xi Lu Han

                         Jessica SNSD a.k.a Jessica Jung

                         Tiffany SNSD a.k.a Hwang Min Young

Othercast:    Found by yourself 😀

#WARNING

                         Setelah setahun lebih wara-wiri baca FF orang, nyobain jadi author boleh kan ? Setelah cucuran keringat dan air mata #lebaymodeon aku rilis juga nih FF! Enjoy! Ini udah lamaaaa banget aku bikin, eh, malah aku rilis pas Kris out…. Aku langsung sedih nyesel gimana gitu….. :’(( Dan entah kenapa ceritanya malah ending sekarang! Inspirasinya baru datang! Ya udah enjoy aja ya! Mian klo ada dosa-dosa di FF ini~

                         Cast-nya punya Yang Maha Kuasa, Cerita original imajinasi extrim aku~ Ini cerita jauh dari kenyataan ya chingu -_- karena Xiumin gak seumuran ama Jessica kan ? Ikutin aja ceritannya okeh ??

Stop plagiarisme please 😉

##Your coment help me to growing up##

==================================================================================

                         Bel Incheon Bilingual High School berbunyi,

semua murid masuk ke kelasnya. Termasuk juga Tiffany dan Jessica, dua sahabat yang sudah bersahabat sejak SMP ini. Mereka berlenggok ria masuk ke kelas yang suasananya masih riuh rendah. Sampai akhirnya Hye Seok seosaengnim masuk.

Ia bersama seorang siswa dengan seragam sekolah itu juga

                         “Morning class” ucap Hye Seok seosaengnim.

                         “Morning seosaengnim.” Balas murid-murid.

                         “Today we have new student. Introduce yourself please.”

                         “Anyeonghaseyo! Wu Yi Fan imnida. I’m from China. Nice to meet you all!” Ucap siswa itu. Lalu ia duduk di sebelah bangku Jessica dan Tiffany, di bangku Lay lebih tepatnya. Kris mulai akrab dengan Lay, juga dengan teman di depannya Suho. Kris tersenyum melihat Jessica. “Lama tak bertemu, Sica.” Sapanya pada Jessica. Mendengarnya Jessica menjadi risih. “Sok kenal banget orang ini.” Batin Jessica.

~~~~

                         “Jesicca-ya! Jessica wait!” teriak Tiffany dari jauh. Ia mengejar Jessica yang melesat keluar kelas begitu bel istirahat berbunyi. “Ada apa?” Jawab Jessica tak acuh.”Kenapa sih kamu jadi gak friendly gitu. Emang kenapa sih? Ada problem dengan Kris ya?”

                         “It’s a long story...”

=FLASHBACK= 1 MONTH AGO =JESSICA POV=

                         Aku menunggu seseorang di sebuah cafe di pinggir kota Seoul. Entah mengapa awal musim semi ini senada berbunganya dengan hatiku. Hari ini aku akan bertemu dengan namja yang sangat aku cintai. Namja itu berjanji untuk mengatakan hal penting disini. Oh God, apakah dia akan menyatakan cintanya? Ya ampun entah kenapa aku jadi Ge-Er begini… -_-

                         Lonceng pintu cafe berbunyi. Dan benar saja, namja itu datang dan menghampiriku . Who’s him. Dia Luhan, Xi Luhan. Namja yang kusukai sejak SMP. Pesonanya benar-benar mengubahkan duniaku… Setelannya sangat stylish hari ini. Polo shirt dan skinny jeans dengan jaket Baseball. Rambutnya agak berantakan namun itu membuatnya terlihat semakin cool. Ia duduk di depanku. Dan langsung berbicara -To The Point-.

                         “Jessica, kita udah satu sekolah sejak SMP, kita udah deket sejak sekelas di SMA, and now we dating sometimes. But, i have a bad news.” Ucap Luhan dengan serius. Perasaanku berubah seketika , “Mwo? Kabar buruk?” Luhan mengangguk.

                         “Aku akan ke Canada karena aku lulus exeleration class. Aku akan kuliah disana. Now, i’m just can say saranghae. I like you very much              . Sejak kita sekelas, tiap kali kamu duduk di bangku itu untuk menontonku main sepak bola. Tapi bodohnya aku cuman bisa diam, dan malah baru mengungkapkannya 1 bulan ini. Aku memang pengecut. Mianhe. Mianata.” Ucap Luhan sambil menunduk. Akupun hanya bisa menunduk.

                         Tak kusangka orang yang aku cintai dengan segenap jiwaku ini, yang sudah kucintai selama 4 tahun lamanya. Orang yang akhirnya peka terhadap perasaanku, dan menjadi bagian hidupku selama 1 bulan yang indah, menghancurkan hatiku hanya dalam 10 menit pembicaraan pahit.

                       “Tapi, aku sudah mencari penggantiku. Namanya Wu Yi Fan. Kau bisa memanggilnya Kris. Dia teman SD-ku dulu di China. Dia mengenalmu dengan baik. Ku harap kau bisa mencintainya seperti kau mencintaiku.” Ucap Luhan lagi sambil melihat ke luar. Akupun hanya terisak kecil sambil terus menunduk. Kami diam hampir 10 menit.

                         Sampai akhirnya Luhan melepas keheningan, “Aku harus pergi. Hari ini aku berangkat. Jaga dirimu baik-baik.” Luhan pun pergi tanpa sepatah kata lagi. Aku diam mematung di tempat dudukku, menangis sejadinya, sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Sampai aku mengingat suatu hal. Aku bisa mengejarnya! Aku langsung menyetop taksi, dan pergi ke Incheon Airport.

                         Di Bandara, aku berlari sambil mencari depature ke Ottawa. Sampai saat aku menemukannya, Luhan sudah bersiap untuk check in ke pesawat.

                         “Luhan, aniya. Stayed here please! For me! Isaku dari luar ruang tunggu. Luhan yang langsung me-noticed keberadaanku hanya bisa berbalik, tersenyum, dan melambaikan tangan. Dan terus melangkah menuju pesawat. Dan aku, terus terisak sampai akhirnya pesawat itu terbang.

=FLASHBACK OFF=

*AUTHOR POV*

                         Sebulan ditinggal Luhan, Jessica masih sakit hati. Dia tak menyangka sudah sama-sama suka tapi sama-sama diam. Kadang Jessica juga menyesal mengapa dia tidak pernah bilang. Malah nyadar sebulan sebelum Luhan pergi. Saat bercerita dengan Tiffany di taman pun ia masih sedih dan menangis. Jessica juga belum bisa melepas Luhan. Dan tidak bisa menerima Kris.

                         “Jadi, kamu masih sayang sama Luhan?” Tanya Tiffany.

                         “Ne. Dan aku belum bisa melepasnya.” Jawab Jessica sambil menyeka air matanya.

                         “Aku hanya menyarankan. Lepaskan dia.”

                         “Hah? Apa maksudmu? Kenapa aku harus melepaskan orang yang aku sayang?”

                         “Izinkan dulu Kris mendekatimu, siapa tahu hal itu bisa melepaskanmu dari Luhan. Aku merasa kau sepertinya sedih banget…. Saking gak bisa ngelepasin Luhan.”

                         “Hah? Nggak mungkin! Dia baru saja pergi dan dan aku harus melupakannya? Harus mendekati Kris ? Gak akan. Aku akan setia sampai ajal menjelang sekalipun!”

                         “Terserah kamu aja deh, pokoknya aku sudah menyarankan. Tapi ingat, kamu gak akan pernah tahu kapan Luhan kembali. Bahkan apakah Luhan kembali atau tidak kamu tidak tahu. Ya sudah aku sudah dijemput. Bye!” Jawab Tiffany sambil berlalu. Kini tinggal Jessica disitu.

                         Jessica akhirnya merenungkan apa yang dikatakan Tiffany. “Apakah aku harus mendekatinya? Apakah aku harus melupakan Luhan?” Pikir Jessica. “ARGHH!!! It’s make me Crazy!” Erang Jessica. Ia meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju daerah gedung sekolah. “Mungkin melihat-lihat sebelum pulang akan lebih baik.” Ucapnya lagi.

~~~

                         Sekolah belum terlalu sepi. Masih ada yang eksul atau sekedar berkumpul di lorong & kantin. Sampai akhirnya Jessica melewati lapangan basket.Dan…………. disana ada Kris. Sedang bermain dengan Lay dan Chanyeol melawan Minho, Kyuhyun, dan Kai. Jessica memperhatikan mereka bermain dari luar lapangan.

                         “Wah, ternyata Kris itu jago main basket. Gesit tapi santai. Dia keren deh kalo lagi main.” Pikir Jessica. “Eh, kok aku jadi mikir gitu! Arrghh!” Gerutunya lagi. Mendengar gerutuan Jessica, Kris menoleh mencari si penggerutu (?) Dan ia menemukan Jessica. Sementara ia menoleh, bola di tangan Lay direbut Minho dan dilempar ke arah ring. BLAM! Bola masuk. “O~ye! It’s 3 point baby!” Ucap Minho. Tim Minho pun melakukan tos. Namun Kris tidak mempedulikannya. Ia langsung membereskan barangnya dan pergi ke arah Jessica (yang masih menggerutu sendiri)

                         “Aku duluan ya! Kalian lanjutlah bermain.” Ucap Kris sambil berlalu.

                         “Tapi bagaimana dengan timnya? Siapa yang akan menggantikamu?” Tanya Chanyeol.

                         “Ajak Tao. Kalo dia belum pulang. Oh ya, Minho tadi 2 point. Kaki kirimu masuk ke daerah Free Throw Line.”

“What? Nggak kok!” Jawab Minho. Tapi Kris sudah tidak mempedulikannya, ia berjalan terus ke arah Jessica.

*KRIS POV*

                         Aku berjalan menuju Jessica. Mengapa yeoja itu menggerutu sendiri? Apa yang dia pikirkan ya? Aku menghampirinya. “Jessica apa yang kau lakukan?” Tanyaku padanya. Dia langsung diam, namun tak bergerak. Pelan-pelan ia berbalik. “WA! Apa yang kau lakukan!” Teriaknya tiba-tiba. “Hey! Tenang saja! Aku hanya bertanya apa yang kau lakukan?.” Balasku masih dengan pose -melindungi diri-

“Kau mendengarku menggerutu?” Jawabnya polos.

Ani. Tapi aku memperhatikannya dari jauh. Sangat lucu dari jauh.” Jawabku sambil setengah tertawa.

                         “Urgh! Menyebalkan!” Erangnya sambil memukulku. Lalu ia berlalu begitu saja. “Kau lupa denganku, Sica? Mengapa semudah itu kau melupakanku, sementara aku selalu berusaha mengingatmu!” Ucapku agak berteriak agar dia mendengarku. Ia langsung berbalik badan. Lalu ia berjalan ke arahku. Matanya terlihat menahan tangis. “Siapa kau! Beraninya berbicara seperti itu! Kau bukan siapa-siapa yang harus kuingat dan bukan seseorang yang pantas diingat! Kau hanya membuatku semakin sakit hati!” Isaknya. Kini air mata itu telah jatuh. Ia lalu berlari. Aku mengejarnya, namun ia keburu naik taxi dan pergi.

                         “Andai kau mengingatku, Jessica… kita pasti akan sangat dekat. Sica..

=FLASHBACK ON=10 YEARS AGO=AUTHOR POV=

                         “Hay! Apa yang kau lakukan disini?” Tanya seorang gadis berumur 9 tahun.

                         “Aku tersesat dan lupa jalan pulang.” Jawab seorang anak laki-laki yang terlihat seumuran dengan gadis itu.

                         “Oh, kalau begitu temani aku bermain, siapa tahu nanti orang tuamu menemukanmu. Siapa namamu?” Balas gadis itu.

                         “Kevin. Kevin Li. Kamu ?” Tanya anak laki-laki itu lagi.

                         “Sica. Jessica. Ayo kita bermain.” Jawab Jessica. Mereka main kejar-kejaran, memanjat pohon, main tebak-tebakan, main ayunan yang tergantung di pohon itu. Sampai akhirnya seorang ibu mendekati lapang rumput itu. “Kevin! Kevin! Where are you ?”Teriak ahjuma itu.

I’m here mom!” Jawab Kevin sambil berlari menuju ahjuma yang ternyata eomma-nya itu.

“Bye Sica! See you later!” Ucap Kevin sambil melambai ke arah Jessica. “Bye!” Jawab Sica sambil melambaikan tangannya

                         Sejak hari itu, Jessica mulai menyukai Kevin. Ia selalu menunggu Kevin untuk datang. Ia selalu menghabiskan waktu disini, bahkan sang Aboeji sampai membuatkan rumah pohon di sana. Krystal pernah bertanya, “Unnie, mengapa unnie senang sekali kesini?”

                         “Aku bertemu anak laki-laki yang lucu sekali. Ia tampan dan lucu! Dulu dia tersesat disini, dan aku ingin bertemu lagi dengannya!” Jawab Jessica polos. Sampai akhirnya 3 bulan kemudian, Kevin datang lagi.

                         “Sica! Sica! Apakah kamu ada disini?” Teriak Kevin mencari Jessica.

                         “Ya! Aku ada disini Kevin!” Jawab Jessica sambil keluar dari rumah pohon. “Lama tak jumpa! Ayo kita main!” Ucap Kevin. Mereka pun bermain bersama, kejar-kejaran, main di rumah pohon, main ayunan, menggambar, bernyanyi, dan banyak lagi. Seminggu sekali Kevin akan main di lapang rumput itu.

                         “Hahaha! Gambarmu jelek sekali!” Ejek Jessica suatu hari.

                         “Suaramu bahkan lebih indah dari burung yang bernyanyi” Puji Kevin suatu hari.

                         “Kevin berhenti! Aku lelah!” Jawab Sica suatu hari saat kejar-kejaran.

                         “Bisakah kau mendorongku lebih tinggi! Mana tenagamu!” Olok Kevin suatu hari.

                         Mereka menjadi dekat sekali. Sampai tak terasa, sudah 1 tahun mereka berteman.

~~~

                         “Sica! Sica! Kemarilah !” Ucap Kevin yang baru datang. Kini ia datang dengan mobil hitam, memakai baju bepergian, bukan baju main seperti biasanya.

                         “Ada apa Kevin ? Mengapa naik mobil ? Bukankah biasanya kamu naik sepeda ? Kenapa kamu memakai baju pergi ? Apakah kamu mau pergi ? Tanya Sica polos.

                         “Ayo kita ke rumah pohon!”

                         Mereka menaiki rumah pohon. Kevin lalu mengambil cutter dan penutup mata. “Jessica tutup matamu, dan jangan mengintip. “Ne,Kevin-ah.” Jawab Sica sambil menutup matanya. Kevin lalu membuka sebuah celah disana, menulis sesuatu di batang pohon dengan cutter-nya, dan menutup celah itu lagi. “Oke buka penutup matanya!” Sorak Kevin. Sica pun membuka penutup matanya.

                         “Aku harus pergi Sica-ya. Appa punya urusan di China, dan aku akan pindah ke sana. Aku berjanji akan kembali, walau entah itu kapan. Untuk menjagamu seutuhnya. Jaga dirimu ya.” Pesan Kevin kepada Sica. Sica yang sedih hanya diam kaku. Sementara Kevin segera turun dari rumah pohon tersebut.

                         Sica yang beberapa detik kemudian baru tersadar, langsung melompat begitu saja, mengejar Kevin. Namun ia terlamat, Kevin sudah memasuki mobilnya, dan kini mobil itu telah melaju jauh, sementara Sica baru sampai di pinggir Lapang. Ia menangis sejadinya. Meneriakkan nama Kevin. Namun, sekencang apapun ia berteriak, Kevin tak akan kembali dalam sekejap.

=FLASHBACK OFF=

                         Jessica masih menangis di kamarnya. Matanya sembab sekali. Tisu bertebaran dimana-mana. Ia masih bingung, takut, sedih, “Apa yang dimaksud Kris? Siapa yang aku lupakan? Kenapa dia menanyakan itu ?” pikir Jessica. Ia ingin Luhan kembali. Melihat Kris hanya membuatnya semakin sedih karena itu artinya Luhan tidak akan kembali. Jessica tidak mau makan, ataupun keluar kamar. Ia hanya menangis sampai tertidur.

~MORNING~

                         Kris datang dan duduk lagi di sebelah Jessica. Jessica yang sendirian di kelas itu diam saja dan seolah tak acuh dengan Kris.Ia masih mengkhayalkan Luhan kembali ke kelas.

                         “Sica! Sadarlah!” Ucap Kris setengah menyentak. Jessica yang tersadar langsung merasa tak nyaman. Ia menatap Kris dan berkata, “Seenaknya kamu memanggilku Sica? Siapa kamu!” Sentak Jessica. Kris hanya tersenyum simpul sambil menahan tawa. “Mengapa kamu tertawa seperti itu? Tertawalah yang puas sekalian!” Sentak Jessica lagi. Kris pun akhirnya tertawa. Bukannya marah, Jessica malah mengingat sesuatu, “Tawa itu. Aku mengenal tawa itu…”

                         “Kau tidak berubah, Sica,” ucap Kris seusai tertawa.

                         “Jangan memanggilku Sica! Kau bukan siapa-siapa untukku!” Sentaknya untuk kesekian kalinya.

                         “Benarkah? Kau benar-benar melupakanku?” Ucap Kris agak menggoda. (?)

                         “Memangnya kamu siapa sih?” Balas Jessica tak nyaman.

                         “You, you you my ever forever bestfriend. Let’s stayed like this forever. You, you, you my ever forever bestfriend. Let’s grow up together…” Kris bernyanyi sambil meninggalkan Jessica. Jessica hanya diam.

                         “Aku sepertinya mengetahui lagu itu,” pikir Jessica.

                         Sementara Jessica asik berpikir, datanglah Tiffany. “Hey! Asik banget bengongnya!” Ucap Tiffany agak menyentak. “Duh! Bikin kaget aja!” Ucap Jessica kaget. “Apa yang kamu pikirkan sih, Sica? Kamu masih mikirin Luhan ya?” Tanya Fany. “Ya, begitulah. Aku Masih mencintainya.” Ujar Jessica sambil menatap lurus ke depan.

                            “Aku hanya menyarankan, Sica-ya. Lupakanlah dia. Itu hanya akan membuatmu makin sakit hati. Sekalipun dia kembali, mungkin dia sudah memiliki pasangan atau sudah melupakanmu. Itu akan membuatmu flashback, dan ujung-ujungnya sakit hati lagi.” Nasihat Tiffany.

                         Mungkin benar apa yang dikatakannya. Aku harus move on. “Arrghh!!! Tapi aku masih mencintainya Tiffany! SANGAT MENCINTAINYA!” Rutuk Jessica. “Hahaha, asal kau berusaha, lama-lama juga lupa.” Ujar Fany ringan.

~1 YEAR LATER~

                         Jessica kini sudah lulus. Lulus SMA ? Yup! Tapi ada yang lebih penting. Ia sudah lulus move on dari Luhan. Tapi tetap saja, ia memilih untuk sendiri. Ia, Tiffany, Kris, Lay, dan anak-anak lainnya hanya berteman. Oh ya, Jessica kini berkuliah di Kyunghee University fakultas Teater & Musical. Tiffany mendapat exceleration scholarship di USA. Kris memilih untuk ikut tim basket terkenal di Seoul. Begitu juga teman-teman yang lain memilih jalan mereka masing-masing.

                         Sejak Tiffany pindah ke USA, Jessica dan Kris menjadi dekat. Mereka sering makan siang bersama atau pergi di malam minggu. Sama, seperti hari ini, Kris dan Jessica akan jalan-jalan bersama. Jessica memakai Polo Shirt, Sweater dan Skinny jeans untuk satnite malam ini. Saat ia sudah siap, Kris datang menjemputnya dengan motornya.

                         “Kau terlihat simple malam ini.” Ujar Kris.

                         “Memangnya biasanya aku tampil ribet?” Jawab Jessica sewot.

                         “Ani, but you always wear a lot of accecories and a catcthy bag.” Balas Kris sambil tertawa. Sica yang sebal memukul tangan Kris gemas.

                         “Entahlah, tapi firasat styleku, aku harus tampil begini. Memangnya jelek?” Ucap Jessica. “Ani-ya. Tapi kurasa firasatmu benar. Naiklah.” Jawab Kris.

                         “Kita mau kemana?”

                         “Lihat saja nanti.” Ucap Kris sambil menutup helmnya. Ia lalu memacu motornya menuju sebuah cafe yang tidak jauh dari rumahnya Jessica -sebenarnya. Namun karena hanya 1 jalur jadi mereka harus memutar.

                         Jessica langsung flasback saat melihat cafe ini.

*JESSICA POV*

                         Hari ini kami satnite di sebuah cafe. Cafe ini, aku sangat mengingatnya. 1 tahun yang lalu, cafe ini, saksi bisu rasa sakitku. Kini setelah 1 tahun aku tidak pernah kesini. Rasa sakit itu sepertinya sudah hilang. Sudah tidak membekas lagi.

                         Mereka memesan makanan dan mengobrol bersama. Entah teman atau kekasih, tapi mereka dekat sekali. Sampai akhirnya, aku menyadari sesuatu, “Kita tidak pernah makan disini, tidak mungkin dia mengajakku kesini tanpa alasan.” Akupun memberanikan diri bertanya, “Kenapa kita makan disini.”

                         Kris sempat diam, seolah berpikir sebelum menjawab. Lalu, ia membuka handphonenya dan melihat jam tangan. Aku yang seolah tak diacuhkannya, memukul piringku dengan garpu. Hal itu membuatnya terlonjak kaget. “Jawab aku, Kris.” Tekanku padanya. Lihatlah kebelakangmu. Arah jam 1.

Saat aku menoleh…¾JLEB

                         Hatiku hancur berkeping-keping. Wae? Wae-yo? Tuhan apa dosaku hingga kau menghukumku seperti ini! Aku melihat, sahabatku -Hwang Min Young- bersama orang yang telah mencampakkan cintaku yang paling tulus kuciptakan untuknya -Xi Luhan-

                         Jantungku entah seolah telah ditusuk pisau yang baru diasah,ditusuk berkali-kali, hingga jiwaku lenyap rasanya. Luka itu masih membekas, baru mau mengering. Dan saat aku mengoreknya, sakitnya akan muncul lagi. Seperti sekarang.

                         Jadi, semua omongan manis itu, semua kebaikan itu, hanya topeng? Dan sebenarnya tangan mereka terkait dibelakang punggungku saat aku bersandar dipunggung Luhan?

                         Aku menangis sejadinya, dan bodohnya, aku menghampiri mereka. Kugebrak meja mereka dan kutampar wajah Luhan. Mereka berdua langsung shock. Untungnya cafe sudah mulai sepi.

                         “Ada apa dengan kalian, heh? Ternyata selama ini, kalian begitu dekat padaku, hanya untuk memanfaatkan ku heh? Kalian jatuh cinta satu sama lain, dan menyembunyikannya dari, eoh? Semudah itu kalian jadian, sama-sama pergi jauh, agar aku tidak menggangu hubungan kalian? Dan kau Xi Luhan, kukira kamu adalah namja baik-baik ternyata kamu bahkan lebih busuk dari sampah.” Cercaku selepasnya. Aku benar-benar sakit hati. Semua emosiku bercampur jadi satu amarah yang tak sanggup ku bendung bersama kesedihanku.

*AUTHOR POV*

                         “Aku bisa menjelaskannya, Sica-ya” Ucap Tiffany sambil menggenggam tangan Jessica. “Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semuanya sudah jelas.” Jawabku. Aku berlalu begitu saja. Namun, Kris menggengam tangannya, dan membawanya ke meja itu lagi. Jessica yang sudah tidak berdaya mengikutinya saja.

                         “Gomawo-yo. Tiffany-ah, Luhan-ssi. Karena kalian, kini Jessica jadi tahu apa cinta yang sebenarnya. Mana yang benar-benar tulus dan mana yang benar-benar busuk. Semoga kalian bahagia, tapi tahukah ? Cinta kedua itu biasanya membosankan…” Sindir Kris. Dan akhirnya mereka pergi begitu saja.

~~~

                         Kris mengendarai motornya menuju rumah Jessica. 10 menit perjalanan mereka sudah sampai. Jessica, yang tadinya sempat ceria, kini hanya diam dalam tangisnya. Kris pun berkata, “Ayo kita ke rumah pohon itu.”

*KRIS POV*

                         Jessica tampaknya sedih sekali. Aku membawanya ke rumah pohon di lapang rumput di depan rumahnya. Kami naik ke atasnya, dan kunyalakan lampunya. Jessica kaget melihatku tahu saklar rumah pohon ini.

                         “Darimana kau…” lalu kubekap mulutnya.

                         Aku tidak akan pernah melupakan tempat ini, kamu, dan semua memori kita disini, Sica-ya.” Ucapku sambil mengelus pipinya yang masih basah akibat air matanya. Kami menuju sebuah lemari kecil buatan aboejinya Sica. Aku membukanya.

                         “Kau ingat gambar-gambar ini? Kau pernah bertanya ini apa. Ini dinosaurus, ini buaya, dan ini ayam. Dan kau tahu ini apa?” Jelasku.

                         “Hahaha… itu aku kan? Darimana kau…” Jawabnya setengah tertawa. Saat iya bertanya lagi, kutempelkan jariku di mulutnya.

                         “Walkman ini masih menyala?” tanyaku sambil menunjuk sebuah walkman yang ditempel di dinding. Ia mengangguk. Aku mengambil heasetku, ku sambungkan ke walkman tersebut dan memasangkannya ke telinganya. Aku “play” lagu yang ada didalam walkman itu. Dan suara anak-anak muncul disana.

Sica, menyanyilah untukku…

You, you you my ever forever bestfriend.

Let’s stayed like this forever.

You, you, you my ever forever bestfriend.

Let’s grow up together…

                         Jessica lanjut bernyanyi lagi, mengikuti alunan suara anak itu. “’Cause we never know we will say goodbye. But i still love you. Whatever world will say, but i won’t losing you….” Ia terus bernyanyi sampai akhirnya lagu itu selesai.

                         Ia menatapku, “Kevin, are you Kevin? You comeback for me? Are you real Kevin? Or its just my dream? Or my halusination ? Its too much sadness and now i found a fake happiness.” Ucapnya rilih. Ini membuatku juga sedih.

                         “Ani ,ani, ani, ani, ani. It’s all real.” Jawabku sambil memeluknya. Ia menangis dipelukkanku. Ku elus puncak kepalanya.

                         “Kevin! Kris! You back! Hiks.. Why you not tell me from first…”

                         “’cause you’re never let me to show it. And now its a perfect time.”

                         “Show what?

                         Kubuka dinding walkman yang 10 tahun lalu sudah kubuka, dan ku ukir sebuah tulisan.

                         사랑해제시카 (I Love You Jessica)

                         내여자친구가주시겠습니까? (Would you be my girlfriend?)

                         Airmata harunya jatuh, “Ne, of course. Kevin-ah”

                         “Until?” Tanyaku.

                         “Forever.” Jawabnya. Kudekatkan wajahku padanya. Kuhapus semua air mata itu. “From, now, don’t let your tears pour down for a bitch again. Just for me. Because i’m never let it down.” Ia mengangguk. Kuhapus jarak diantara kami, dan kucium bibir lembutnya. Kini, aku dan dia menjadi sepasang kekasih.

Karena cinta, tidak pernah dimakan jarak dan waktu. Dan bila sudah ditakdirkan, tidak bisa diganggu gugat.¾KriSica (author quotes)

-FIN-

                         Thanks for reading….. Waaa sorry klo ada typo atau ceritany jelek. Maklum newbie. Don’t be a silent reader please~~

%BOW%

Iklan

16 pemikiran pada “Still You

    • Hy! This is Ahn Seun Hwa!
      Gomawo….. Haha tadinya aku kira alurnya kecepetan… Makasih udah baca! Iya gitulah Luhannya nikung gitu~~~ *eh(?)

  1. Aish, Jadi peran Luhan di sini itu apaa!?!? *GarukTembok –‘ << Abaikan Yang ini

    Oke, cuma sedikit menyarankan yes Author-ssi…
    Mungkin penulisan paragraf dan tanda bacanya udah rapi ya…
    Tapi bahasanya yang kurang baku memungkinkan sedikitnya para readers yang bakalan nangis atau terharu. *CeilehBahasaGue –'

    Sekian Author-ssi…
    Tapi udah cukup nyekse kok yang satu ini ^^

    Fighting!! ^^

    • This is Ahn Seun Hwa!

      Peran Luhannya gantung ya, iya sori, maklum author newbie~~ %bow% Thanks udh baca!

      Saran aku terima kok, emang masih perlu perbaikan disana-sini.
      Gomawo sarannya~~ Tapi sebenernya emang niatnya gk bergenre “Angst” soalnya takut kurang emosional—–>ini apalagi??
      HAHA… “sad” aja cukup ^^ tapi emang kurang sad sih -___-

      Sekali lagi, Kamsahamnida #bowing 90 degrees#

  2. bikin nyesekkkkkk….. bgt bcanya. air mtaku mau aj keluar kl gk ad tulisan END. bikin sebel aj tuh tulisan END-nya.
    q kira ini tdi chapter…. eh ternyata oneshoot, tpi itu nmanya tiffany bnr2 hwang min young atau cmn nma ff aj?.
    bgs thor q ska apalagi sma tulisan trakhirnya

    • Hahaha….makasih~~

      Maaf emang harus end~ Klo gk end susah -,-
      Iya, nama Tiffany emang Hwang Min Young 😉
      Gomawo udh baca
      #BOW#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s