Unfathomable Friends (Chapter 11)

Title: Unfathomable Friends

Scriptwriter: @autumndoor

Main Cast: You (Park Min Gi), Luhan, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo

Support Cast: Park Chanyeol, Oh Sehun, OC (Kim Hyemi)

Genre: Romance

Duration (Length): Multi Chapter

Rating: PG-17

Part 10His Smile

Hakau, bubur nasi ayam dan sayur, ladu kukus, gulungan mie beras dan kuetiaw gulung telah tersaji di atas meja makan. Hyemi, Sehun dan Chanyeol duduk manis menungguku dan Baekhyun untuk bergabung.

Karena Appa tak ada disini maka peraturan tak berbicara saat makan dapat dilanggar.

“Aku pikir kita harus kembali ke Korea hari ini” Ujar Chanyeol sambil melahap bulat – bulat ladu kukus berisi udang cincang tersebut.

Kembali? Korea?

Tentu saja banyak yang sudah kutinggalkan di Negeri Ginseng yang menjadi tempat tinggal kedua bagiku itu. Drama musikal dan tugas akhir sebagai prasayaratku untuk ada di upacara kelulusan Universitas.  Aku harus pulang mengerjakan semua yang telah kutinggalkan.

“Uhm jika kau belum ingin kembali kau masih dapat tinggal dan Aku akan menemanimu disini” Tawar Hyemi.

Tak ada protes dari siapapun dengan penawaran Hyemi padahal jelas – jelas ini adalah minggu terakhir untuk latihan Drama Musikal.

“Tidak Hyemi, Aku juga akan kembali ke Korea” Aku menggeleng ringan.

Baekhyun dan Chanyeol yang duduk dihadapanku tersenyum lebar mendengar jawabanku, sepertinya sedikit meringankan beban mereka untuk mencari penggantiku dalam waktu yang sangat singkat.

“Tersenyum seperti itu membuat kalian terlhat bodoh! Tentu saja Aku masih ingat dengan tanggung jawabku sebagai pemeran utama di drama musikal mana mungkin Aku tak kembali secepatnya”

Chanyeol dan Baekhyun terkekeh.

“Oh God! Hari ini ulang tahun Noona” Suara Sehun terdengar dari ujung meja makan. Dering handphone Sehun bukan pertanda adanya panggilan, melainkan alarm pengingat ulang tahun kakaknya.

Jeongmal?” Hyemi membulatkan matanya.

“Uhm, dia tidak mengangkat panggilanku” Sehun mencoba beberapa kali melakukan panggilan namun hasilnya nihil.

Hyemi mengetuk – ngetukan ujung telunjuk ke dagunya, hingga sebuah senyum sumringah tampak di wajahnya  “Oppa bagaimana kalau kita memberikan hadiah untuknya? Kita belikan oleh – oleh dari China”

“Ide bagus” Jawab Chanyeol sambil menunjukan jempolnya.

“Uhm, kita dapat pergi ke Wangfujing sore ini, disana kita bisa mendapatkan apapun yang kita butuhkan” Tawarku pada Sehun.

“Ah, kalau begitu kita juga dapat belanja, ya kan Min Gi?” Hyemi tampak bersemangat. Naluri alamiah bagi seorang perempuan untuk bersemangat pada hal yang satu ini.

“Ne” Aku mengangguk semangat.

“Dia akan menikah bulan depan, hadiah apa yang cocok untuknya uhm..” Sehun menerawang mencari ide apa yang harus dibeli untuk seorang calon pengantin wanita.

Aku sama butanya dengan Sehun, hadiah apa yang paling cocok untuk diberikan pada seorang calon pengantin wanita.

Boneka? Ah bukan, terlalu kekanak – kanakan.

Gaun pernikahan? Tidak – tidak itu terlalu berlebihan, ia mungkin akan membelinya bersama kekasihnya.

Baiklah sesuatu yang akan dipakai setelah pernikahan, uhm Bi-ki-ni?

Ya Tuhan! Apa yang Aku pikirkan? jelas tidak, tidak, tidak akan! Aku menutup mulutuku dengan kedua tangan, menahan tawa yang siap berhambur.

“Hey apa yang kau tertawakan bodoh?” Baekhyun melempar sebuah anggur ke arahku.

Sebelum anggur itu mendarat tepat dijidatku beruntung Aku dapat menangkapnya “Tidak – uhm- bukan apa – apa”

“Bohong! Aku tau apa yang kau pikirkan, kau pasti berpikiran kotor” Ejek Baekhyun.

“Baek, Aku bukan kau!”

“Jadi apa yang membuatmu tertawa huh? Jangan bilang telingaku lagi!” Chanyeol ikut berkomentar.

“Dan bukan warna rambutku” Sehun mengelus rambutnya. Karena seorang Oh Sehun dapat mengganti warna rambutnya setiap hari, kali ini ia memilih warna coklat kemerahan. Baguslah setidaknya ia tak mencoba  mencat rambutnya dengan warna pelangi lagi.

Aku merasa tersudut, baiklah kami memang bukan anak sekolah menengah yang dibawah umur. Kami jelas – jelas seorang mahasiswa yang hampir menyelesaikan studinya (Aku, Baekhyun dan Hyemi). Tapi kurasa bukan ide yang bagus jika berterus terang pada mereka tentang sesuatu yang ada dipikiranku.

“Ah Yeollie bukan, uhm hanya tentang menikah

“Uhm, Aku ingin mempunyai sepasang anak kembar laki – laki dan perempuan, ah kyeopta~”  Suara Hyemi lantang menyambar telinga kiriku.

Chanyeol dibuat tertawa oleh kata – kata Hyemi “Sehun, kau harus pastikan memori otakmu menyimpan apa yang dikatakannya”

Sehun hanya melongo mendengar kata – kata yang diucapkan kekasihnya dan mulutnya hanya mempunyai kapasitas untuk mengeluarkan kata “Huh?”

Hyemi yang menyadari Sehun bukan lawan bicara yang menyenangkan, mengalihkan perhatiannya pada Chanyeol.

“Yeol, bagaimana denganmu?” Tanya Hyemi.

Chanyeol berdeham beberapa kali seperti seorang presiden terpilih  yang akan berbicara tentang pidato kemenangannya. “Aku belum memikirkan bagaimana kelak Aku akan menjadi seorang ayah, tapi Aku ingin menikah dengan seorang gadis yang menyukaiku sebagai diriku sendiri, Aku yang….”

Chanyeol memutar bola matanya berusaha membaca diri sendiri “Uhm harus kuakui agak tolol ini”

Syukurlah ia menyadarinya.

Chanyeol menunduk menatap kakinya yang beralaskan sendal jepit Pikachu milikku yang kekecilan untuknya itu, dengan terpaksa ia harus memakainya karena 2 sendal normal yang lain tentu saja sudah jatuh ditangan si pemuda yang barusaja mengganti warna rambutnya dan si dewa eyeliner.

Kemudia ia mengangkat kembali kepalanya dan melanjutkan kata – katanya “Aku tidak ingin jika mereka menyukaiku hanya karena Aku populer. Aku tak pernah berpikir dapat menjadi seorang yang populer di Universitas, Aku bermain band, menjadi seorang pemain bass, itu hanya hobiku. Kadang – kadang Aku ingin menjadi seseorang yang biasa – biasa sehingga Aku tau apakah mereka menyukaiku dengan tulus atau tidak”

“Hmm, kau akan menemukannya Yeol” Sehun menepuk – nepuk pundak Chanyeol dan menatapnya dengan pandangan Aku-tau-kau-sedang-meratapi-nasib-menjadi-seorang-single.

“Aku tahu” Chanyeol mengangguk. Suaranya terdengar dramatis.

“Bagaimana denganmu Min Gi-ah?” Pertanyaan itu digunakan Chanyeol untuk memborbardirku. Karena dia bukanlah satu – satunya yang masih menyandang status single.

“Aku- uhm- Aku tidak tahu” Jawabku terbata – bata.

“Min Gi-ah ayolah katakaaaaaan” Hyemi mengguncang bahuku.

Dengan sangat terpaksa Aku harus menjawabnya. “Aku tidak tahu, semua yang terjadi di dalam hidup ini tidak terduga. Karena Aku sering mengalami kehilangan banyak hal dan Aku tahu ditinggalkan itu menyakitkan. Aku tidak akan pernah meninggalkan siapapun kelak yang menjadi pendamping hidupku”

“Kita tak akan pernah meninggalkanmu” Hyemi mengacak rambutku.

“Baiklah jawaban yang paling kutunggu dari seorang Byun Baekhyun” Lanjut Hyemi antusias.

“Benarkah?”  Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Hyemi.

Wajah menantang Baekhyun memang menyebalkan.

“Tentu saja kau selebriti papan atas, apapun yang kau katakan akan menjadi skandal besar, Aku dapat menjual informasinya pada para fansmu” Chanyeol menyikut lengan Baekhyun.

“Aku akan merekamnya dan langsung meuploadnya ke youtube” Tambah Sehun.

Baekhyun tertawa, Aku tidak mengerti apa yang mereka katakan. Apakah merupakan sebuah pujian atau sindiran.

“Yeol, Aku tahu kalian tak mudah mengatakannya mengakui jika Aku lebih populer dari kalian-”

“Baek mereka hanya ingin membuatmu bicara tentang hal semacam ini” Potong Hyemi “Karena kau terlalu banyak bercanda dengan hidupmu!” Hyemi membentak Baekhyun.

Baekhyun memang hampir tak pernah menyinggung tentang masalah kencan ketika kita bersama, ia bukan Sehun yang dengan mudahnya menceritakan setiap hal yang ia lalui bersama Hyemi baik hal yang menyenangkan maupun menyedihkan dan bukan juga seperti Chanyeol yang ketika seorang gadis tinggi semampai, berambut pirang dengan hidung nyaris seperti pinokio lewat dihadapannya, ia berkata “Min Gi-ah dia sangat mirip dengan Dara Nonna, Min Gi-ah cari tahu tentang dia” .

Baekhyun selalu menutup rapat cerita cintanya, mengenai kencannya beberapa tahun lalu dengan salah satu gadis pemenang kontes menyanyi tahunan Universitas, Shin Yeon Ri,  tak jelas asal – usulnya. Dia hanya berkata jika ia berkencan dengan Yeon Ri, beberapa bulan setelahnya ia berkata jika ia sudah selesai bersama Yeon Ri.

“Hyemi, calm down honey” Kata baekhyun dengan nada bicara yang berirama.

“Beritahu kami Baek!” Tinjuan Chanyeol mendarat di lengan Baekhyun.

Baekhyun menghela nafas sebelum berbicara “Menikah tentang bagaimana kita hidup bersama dan mencoba mengerti satu sama lain sepanjang hidup, terdengar melelahkan tapi tidak jika kita menemukan orang yang tepat”

Jawaban yang sangat logis Byun Baekhyun

“Siapa orang yang tepat untukmu itu Baek?” Hyemi tetap menodong Baekhyun dengan pertanyaan seputar kehidupan cintanya.

“Kalian sendiri tahu Aku tidak berkencan dengan siapa – siapa” Baekhyun menggeleng ringan “Tapi, jika suatu saat nanti Aku bersama dengannya, Aku pastikan telinganya cukup tahan dengan setiap kata – kata lancang yang tak sadar kuucapkan” Kemudian ia tertawa.

“Seseorang yang akan menikahi Chanyeol juga harus mempunyainya kurasa” Balasku.

Jika Baekhyun menjadi urutan pertama tentang bicara lancang, maka Chanyeol dengan otomatis ada di peringkat kedua.

“Ah, ide yang bagus kalian berdua dapat menikah kalian cocok dalam banyak hal” Sehun menjetikkan jari, sangat yakin dengan apa yang ia katakan. Salah satu bentuk pembalasan pada Chanyeol dan Baekhyun.

“Apakah itu alasan kalian berdua tidak berkencan hingga sekarang?” Hyemi pura – pura terkejut.

“Kalian orang  – orang sinting! Berhentilah berpikiran yang tidak – tidak” Baekhyun geram, ia berbicara dengan volume 10 kali lebih keras dari sebelumnya.

Chanyeol mencoba menenangkan dan menatap Baekhyun dengan tatapan penuh kasih sayang. “Baek, Aku pikir ini waktunya kita berterus terang pada sahabat kita sendiri”

“Jangan sentuh Aku Yeol! Kau sangat menjijikan!” Baekhyun angkat kaki, ia tampaknya tak ingin terlibat dengan lelucon yang diciptakan Sehun dan Chanyeol.

Kami tertawa puas melihat Baekhyun yang akhirnya menyerah, kemudian ia pergi menuju kamar tidur. Salah satu bentuk penghindaran, Baekhyun tak ingin mendapat pertanyaan lagi tentang seperti apa gadis yang ia suka, bagaimana nanti Ia menikah, bagaimana kelak ia akan menjadi seorang Ayah, topik pembicaraan yang kurang menarik bagi Baekhyun.

“Ehm, jadi apa yang harus Aku beli untuk hadiah ulang tahun Noona?” Akhirnya kembali pada point utama, karena imajinasi-ku tadi kita hampir lupa dengan tujuan utama pembicaraan kita.

“Kita akan temukan disana” Kata Hyemi.

***

Sore harinya.

Karena China juga memiliki iklim subtropis seperti Korea, maka hawa dingin alami menusuk tulang-pun menyelimuti China membuat kami harus menyiapkan pakaian yang dapat menjaga suhu tubuh kami tetap hangat saat bepergian keluar. Dongcheng menjadi destinasi kami, kami akan mengunjungi Wangfujing yang merupakan destinasi wisata belanja  di Beijing.

“Kalian sudah siap?” Aku melongok ke kamar Sehun, Baekhyun dan Chanyeol sambil memutar – mutar gantungan kunci mobil di jari telunjukku.

“Ne. Kajja kita tak punya waktu banyak” Baekhyun meraih mantelnya yang tergeletak bebas di lantai.

Aku tidak menyangka jika kamar tamu dirumahku akan seberantakan itu ketika dihuni mereka, tempat tidur yang masih berantakan dengan handuk basah diatasnya, kaos kaki entah milik siapa ada di sudut ruangan, pakaian yang meluap dari koper hitam di pinggir tempat tidur,  kurasa Sehun-lah pemiliknya dan oh tidak! boxer Spongebob Park Chanyeol  yang terletak di bawah tempat tidur, ia masih memakainya meskipun selalu menjadi ledekan Baekhyun, sepertinya itu salah satu favoritnya.

“Tidak Baek!” Aku menghalangi  Baekhyun di ambang pintu “Kalian tidak bisa pergi dan meninggalkan kamar tidur dengan kondisi seperti ini

Mereka bertiga saling bertukar pandangan, kemudian ketiganya tersenyum menunjukan deretan gigi seperti wajah tanpa dosa anak lima tahun yang ketahuan mencuri kue yang baru dibuat ibunya. Sehun memasukan pakaian yang meluap dari kopernya, Chanyeol sedikit berjongkok mengambil boxernya kemudian memasukkannya kedalam koper, dan Baekhyun berpura – pura telaten membereskan tempat tidur.

Tak ada gunanya menonton mereka. Aku meninggalkan mereka menuju Hyemi yang sudah menungguku di ruang tamu.

“Dimana mereka?” Tanya Hyemi mendongkakan kepalanya padaku yang masih berada di anak tangga ketiga  dari lantai.

“Menyelesaikan beberapa tugas.”

“Huh?” Hyemi  mengerutkan dahi saat Aku telah duduk disampingnya mnyeruput jus jeruk yang ada ditangannya.

Ketiga pria berumur pertengahan 20-an itu turun brak-brik-bruk dari tangga.

Deadline

Setelah Aku meminta Appa mengecekan jadwal penerbangan dari Beijing ke Incheon, penerbangan terakhir berangkat pukul  9 malam waktu Beijing dan saat ini jam dinding antik yang menempel di dinding ruang tamu telah menunjukan jarum pendeknya ke angka 5. Waktu 4 jam bukanlah waktu yang cukup untuk melakukan wisata belanja.

“Min Gi tugas kami sudah selesai, kau bisa melihat kamar tamumu sekarang seperti kamar hotel bintang lima” Seru Baekhyun penuh percaya diri.

“Oh tentu saja, Aku tahu kau bekerja sebagai Room Attendant di sela-sela kuliahmu ” Chanyeol menyambung.

“Diam Yeol, kurasa Aku pernah melihatmu menjadi Bell Boy di Ritz-Carlton.”

“Ah, kau masih ingat ketika Aku mengantar barangmu, kau uhm bersama seorang wanita umur 50-an dengan make up mencolok dan rok mini. Ya Tuhan Baek! Apa kau tak bisa mencari yang lebih baik?”

“Aku tidak berniat mengencani wanita tua dan-”

Oh shut up buddies!” Kata Sehun Frustasi.

“Kita tak punya waktu banyak , jika kalian masih ingin berdebat dengan lelucon menyedihkan itu tinggalah disini!” Aku berdecak melihat kelakuan Chanyeol dan Baekhyun.

Entah apa yang harus Aku masukan dalam mulut besar mereka agar berhenti berdebat mengenai hal bodoh. Makanan?

Jawabannya adalah tidak. Makanan justru akan memberi mereka lebih banyak energi untuk berbicara lebih banyak.

***

Aku mengambil alih kemudi, karena tentu saja Aku-lah yang menjadi ‘tour-guide’ disini, selain itu Aku dapat menggunakan jalan tikus untuk mempersingkat waktu perjalanan. Baekhyun duduk di kursi penumpang sementara di belakang Sehun dan Hyemi harus berbagi duduk dengan Chanyeol. Dengan wajah polosnya Chanyeol meminta duduk di antara Sehun dan Hyemi. Aku mengerti maksud Chanyeol, ia hanya tidak ingin menjadi seseorang yang diabaikan.

Beruntung jarak dari rumahku ke Wangfujing hanya memakan waktu 20 menit saja. Waktu singkat yang kami punya berbuah sedikit penyesalan mengingat banyak hal yang dapat kami lakukan di Wangfujing mulai dari berbelanja, karena sungguh deretan toko di kiri-kanannya sungguh membuat mata lapar. Ada pakaian, pernak-pernik, barang elektronik, mainan, hingga makanan jalanan yang eksotis. Bagaimana tidak, disana ada penjual sate serangga, bintang laut, hingga kalajengking. Makanan itu digoreng dalam minyak panas hingga kering, dan langsung disajikan tanpa tambahan bumbu atau saus, namun untuk yang satu itu bukanlah selera kami melihatnya saja sudah membuat ingin muntah.

Waktu sugguh berlalu dengan cepat, langit telah berubah menjadi gelap. Setelah selesai berbelanja kami memutuskan untuk mengikuti permintaan Sehun menikmati Bubble Tea di salah satu kios di ujung jalan, untuk sekedar duduk dan meregangkan otot – otot kaki.

“Uhm kurasa Aku butuh aspirin, kepalaku agak sedikit berat” Kata Chanyeol sambil menekan – nekan dahinya.

“Kau baik – baik saja Yeol?” Tanyaku khawatir.

“Tentu saja, mungkin sedikit kelelahan. Aku melihat sebuah minimarket di seberang sana, kalian tunggulah sebentar”

“Aku ikut Yeol!” Sahut Baekhyun meninggalkan Bubble Tea nya di pangkuanku.

15 menit telah berlalu sejak kepergian Chanyeol dan Baekhyun, waktu yang terlalu lama mengingat perjalanan ke minimarket tersebut mungkin hanya membutuhkan waktu sepertiganya. Beberapa kali Aku lihat Hyemi mengecek jam tangannya, Sehun yang menggerak – gerakan kakinya dan membuka tutup topi merah yang ia kenakan, mereka mulai gelisah mengingat kita hanya mempunyai waktu 2 jam lagi untuk menuju Bandara.

“Aku akan menyusul mereka, kalian tunggulah disini. Aku takut mereka tersesat atau ada sesuatu yang menghambat perjalanan mereka kesini” Tawar Sehun.

Mungkin ada kuis dengan hadiah menarik dan kelompok gadis mirip Girls Generation yang sedang berbelanja yang mungkin dapat menahan kedua idiot itu. Menyadari Sehun yang mungkin juga akan tertahan dengan alasan yang sama, meskipun ia sudah memiliki titel sebagai kekasih seorang Kim Hyemi.

Seorang pria tetap lah seorang pria.

“Biar Aku saja, tunggulah disini” Aku mencegah Sehun  dan berjalan mendahuluinya.

Beberapa langkah sebelum sampai di depan minimarket langkahku terhenti, ini bukanlah akhir pekan tak ada pertunjukan tarian klasik atau pertunjukan opera yang biasa digelar di pelataran jalan. Tapi mengapa orang berkerumun bahkan beberapa orang dengan tinggi badan yang kurang mumpuni-pun rela berjinjit dan sedikit melompat untuk melihat pertunjukan itu.

Aku berniat menyebrang jalan, mengambil jalan lain menghindari kerumunan para manusia yang memiliki antusiasme tinggi itu, namun langkahku terhenti saat Aku mendengar sayup – sayup suara berat milik Chanyeol

‘Baek, Hentikan!’

Hentikan? Apa yang harus dihentikan?

Aku berlari menuju kerumunan itu mendesak beberapa orang agar menyingkir dan memberi jalan untukku.

Aku tercekat hampir kehabisan napas ketika melihat Baekhyun tengah duduk diatas pinggang seorang pria berumur beberapa tahun lebih tua darinya. Aku memperhatikan wajah pria tersebut, terdapat lebam di mata kiri dan sedikit luka di dahi yang mengalirkan darah ke bagian pelipis.

Disisi lain Aku melihat Chanyeol tengah menenangkan seorang gadis yang sedang menangis. Tanpa berpikir banyak Aku menarik Baekhyun untuk berdiri, dadanya naik turun, sorot matanya menunjukan amarah yang besar.

“Baek apa yang kau lakukan? Apa kau sinting?” Aku menyolot Baekhyun. Bagaimana mungkin ia membuat keributan di tempat seperti ini, dia tentu saja bukan anak jalanan yang kurang pendidikan ilmu sosial tapi mengapa ia dapat melakukan hal serendah itu.

“Dia yang memukulku lebih dulu!” Baekhyun menunjuk sang pria yang sedang terhuyung – huyung mencoba berdiri dan menyeimbangkan tubuhnya. Serangan Baekhyun rasanya bukan main – main.

“Dia merebut kekasihku!” Sahut yang pria sama emosinya dengan Baekhyun. Ia mengelap darah di pelipisnya dengan telapak tangannya.

“Hey apa yang kau katakan, Aku hanya menolongnya dari perbuatan kotormu!” Balas Baekhyun.

Sang gadis yang ada disamping Chanyeol tak angkat bicara, ia hanya menunduk dan menangis. Aku sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi.  Chanyeol sama menyedihkannya, mukanya pucat sudah jelas dia pergi untuk membeli aspirin untuk meringankan kepalanya, tapi ia malah mendapat masalah lain.

“Baek apa yang terjadi?” Aku menggenggam erat lengan Baekhyun.

Sebelum Baekhyun sempat menjawab sang pria yang telah lebih dulu mendapat serangan dari Baekhyun melayangkan sebuah tinju yang sempurna mendarat di ujung bibir Baekhyun. Baekhyun melepaskan peganganku. Baekhyun tak mau kalah ia maju membalas perbuatan pria tersebut dengan tinjuan di tempat yang sama seperti yang ia lakukan pada Baekhyun.

Suasana berubah menjadi semakin panas ketika sang pria berhasil menjatuhkan Baekhyun pada kerasnya aspal jalan. Orang – orang yang berada dekat dengan mereka melangkah mundur sambil berteriak. Baekhyun tak menyerah ia berhasil berdiri dan menendang pria tersebut tepat di dadanya, Baekhyun memiliki kemampuan Hapkido yang baik tak heran jika tendangannya dapat dieksekusi dengan mulus, sang pria kembali terkulai lemas diatas jalan.

Aku melihat beberapa orang bertubuh tambun menggunakan jaket berwarna hitam dengan highlight biru berjalan dengan langkah seribu kearah kami.

Itu Polisi.

Aku segera menarik lengan Baekhyun, Aku tak ingin Baekhyun mendapat catatan buruk di kepolisian, satu – satunya yang terlintas di pikiranku adalah..

“Baek, ada Polisi ayo kita pergi!” Aku menarik Baekhyun mundur.

Baekhyun terkejut, wajahnya panik. Chanyeol-pun menyadari datangnya sang pemberi hukuman tersebut ekspresi wajahnya tak jauh berbeda dengan Baekhyun.

“Yeol! Lari!” Teriakku pada Chanyeol.

Aku mengeratkan peganganku pada pergelangan tangan Baekhyun bersiap lari dari tempat ini, Baekhyun langsung memacu kecepatan berlarinya sambil menarikku, Aku sempat melihat kebelakang memastikan keadaan Chanyeol, Aku lihat ia berlari ke seberang jalan menghindari para polisi. Sementara Aku dan Baekhyun berlari ke arah kios Bubble Tea yang kami kunjungi. Kami berlari secepat mungkin, Aku rasa Aku akan mencetak rekor kecepatan berlariku hari ini, bisa ku dengar orang – orang di belakang sana saling bersahutan.

Jangan kabur!’

‘Kalian pembuat keributan hey-’

‘Polisi kejar mereka!’

Entah berapa orang yang kami tabrak saat berlari dan Aku yakin beberapa diantaranya bahkan hampir terjatuh. Kami terus berlari dan berlari sampai tak menemukan kerumunan orang lagi dan Polisi tersebut kehilangan jejak kami.

Disinilah kami berakhir di sebuah jalanan sepi, Aku duduk bersandar pada sebuah mobil tua yang sepertinya terparkir abadi disini, karena di dalam ban mobil tersebut tak ada sedikitpun volume udara terlihat. Setelah kulihat ke ujung jalan, jalan ini buntu. Aku meluruskan kakiku diatas jalan karena sudah dipastikan tak akan ada kendaraan yang lewat. Baekhyun yang duduk disampingku juga melakukan hal yang sama.

Aku memiringkan tubuhku menghadap Baekhyun, ujung bibirnya lebam dan mengeluarkan darah. Aku segera mengeluarkan sapu tangan dari dalam mantelku untuk membersihkan darah di ujung bibir Baekhyun.

“Ah-” Baekhyun mengernyit kesakitan.

“Uhm maaf-” Aku menjauhkan tanganku dari lukanya.

Hening, kami berdua tak berbicara mungkin sama – sama kelelahan. Suara ringtone handphone-ku terdengar sangat nyaring di tempat sepi ini, membuat kami terlonjak kaget.

Hyemi’s Calling

“Kau dimana? Pesawat kita akan berangkat 1 jam dari sekarang? Aku menunggumu tapi kau tak datang, Aku dan Sehun sudah ada di rumahmu. Cepatlah pulang!” Hyemi berbicara tanpa tanda baca dan helaan nafas.

“Uhm- Aku – tadi ada sedikit masalah. Aku akan pulang secepatnya.” Aku langsung menutup panggilan Hyemi menghindari pertanyaan selanjutnya.

“Baek, kajja! Pesawat kita berangkat 1 jam dari sekarang.” Aku menarik Baekhyun berdiri. Baekhyun mengangguk .

Kami berjalan berdampingan menuju tempat diparkirnya mobilku. Aku teringat sesuatu…

Chanyeol!

Aku segera mengambil handphone-ku dari balik saku mantel hendak melakukan panggilan pada Chanyeol. Tapi sebuah pesan  mendahului tindakanku.

From : Chanyeol

Aku menunggu di dekat mobilmu. Cepatlah, Aku tidak ingin berakhir menyedihkan di kantor polisi dituduh sebagai seorang preman pembuat keributan.

Aku membalas pesan Chanyeol hanya dengan dua huruf yang dapat memberi makna lebih dari itu ‘OK’.

Aku melirik ke arah Baekhyun yang sesekali memegang lukanya, memastikan tak ada lagi darah yang keluar.

“Baek kau baik – baik saja?”

“Hmm?” Baekhyun menatapku

“Kau baik – baik saja? Lukamu-”

“Tenang, Aku baik – baik saja. Pukulan pria itu tak ada apa – apanya” Jawabnya enteng.

Jika tak ada apa – apanya mungkin ia tak akan mendapat lebam dan luka seperti itu, apa kau sedang berakting menjadi seorang jagoan Byun Baekhyun?

“Apa yang sebenarnya terjadi Baek?” Tanyaku penasaran.

“Akan ku ceritakan nanti” Baekhyun menatap jalanan kosong dihadapannya sama sekali tak memperhatikanku.

“Aku ingin mengetahuinya sekarang Baek!” Aku menyentak Baekhyun.

Ia berhenti di tempatnya, berbalik menghadapaku siap menyerangku balik.

“Kau tahu seberapa jauh kita berlari? Tenggorokan ku kering, Aku tak ingin kehilangan suaraku. Aku akan menceritakannya padamu setelah Aku menemukan air!”

Baekhyun terlihat sedikit kesal. Apa pertanyaanku salah? Aku hanya ingin mengetahui apa yang terjadi. Apa Baekhyun menyembunyikan sesuatu.

‘Dia merebut kekasihku!’

Kata – kata pria itu terngiang – ngiang di telingaku. Aku tahu betul Baekhyun bukan orang seperti itu, tapi apa mungkin, Aku mengingat wajah sang gadis yang tengah ketakutan tadi, ia cantik. Ada kemungkinan Baekhyun atau Chanyeol tertarik padanya, kemudian mereka datang sekedar bertanya mengenai arah jalan pulang untuk mencari perhatiannya, tapi tak lama datanglah kekasihnya. Baekhyun mungkin mengeluarkan kata – kata lancangnya, itu bisa terjadi disamping Chanyeol dan Baekhyun juga dapat berbicara mandarin walaupun tak banyak. Pria tersebut mungkin tersinggung dan memukul Baekhyun.

Kami meneruskan berjalan, tiba – tiba Baekhyun mengeluarkan suaranya “Aku tak seperti apa yang kau pikirkan.” Apa – apaan ini mengapa dia bisa tahu apa yang ada dipikiranku.

“Huh?” Aku menatapnya tanpa ekspresi.

“Kemarilah jangan berjalan terlalu jauh dariku.” Baekhyun meraih jemari tanganku dan mengeratkan dengan miliknya. Ia menarikku sehingga jarak kita hanya beberapa inci saja.  “Sesuatu yang buruk dapat datang kapan saja tanpa kita ketahui” Baekhyun berbisik di telingaku.

Ini bukan pertama kalinya berjalan berdampingan dan saling berpegangan, tapi kali ini…..

Aku merasa seperti Marry Jean yang di lindungi seorang Peter Parker dalam Spider-Man. Baekhyun bahkan terlihat lebih tampan dari seorang Tobey Maguire yang telah kuidolakan selama beberapa seri Spider-Man. Mungkin Baekhyun  menyadari jika wajahnya sedang kuperhatikan, ia menatapku dan tersenyum sekilas kemudian kembali menatap jalan. Ya tuhan senyumnya, Aku merasa dunia berhenti seketika.

Tidak Min Gi! Dia sahabatmu, kau tidak mungkin jatuh cinta padanya.

“Hey!” Chanyeol sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya.

“Yeol, ah gomawo.” Baekhyun merebut kaleng cola di genggaman Chanyeol dan menghabiskannya dengan sekali teguk.

“Hey Baek- emm baiklah chonmaneyo.

“Ayo cepat! Kita tak punya waktu banyak.” Aku segera masuk kedalam mobil.

Aku menyetir dengan kecepatan lebih dari biasanya, tak banyak waktu yang kami punya.

“Min Gi-ah kita tidak sedang shooting Fast and Furious.” Chanyeol berkata dari kursi belakang, ia sepertinya khawatir dengan kapabilitasku menyetir dengan kecepatan tinggi.

“Yeollie, tenang saja Aku jamin kita akan selamat sampai rumah.” Aku tertawa kecil.

“Tapi serius Aku masih ingin hidup Min Gi-ah.” Chanyeol berkata dengan nada sedikit ketAkutan.

“Bisakah kau diam Yeol! Kau tidak ingin ketinggalan pesawat kan?” Baekhyun berdeham. Efektif. Akhirnya Chanyeol menutup mulutnya dan duduk manis sambil memegangi ujung jaketnya.

“Baek, kau dapat menjelaskan padaku sekarang.” Aku tetap fokus menyetir.

“Oh- itu- pria itu akan melakukan tindakan pelecehan.” Jawab Baekhyun

Aku mengerutkan alis dan menatap Baekhyun sekilas “Pelecehan?”

“Iya, pria itu memaksa gadis itu membuka mantelnya dan kancing kemejanya di gang sempit di pinggir minimarket, Aku tidak tahu dia kekasihnya atau bukan, itu tak penting. Tapi gadis itu tampak sangat ketakutan dan menangis, Aku tentu saja tak bisa hanya diam melihat seorang pria berlaku seperti itu.” Jelas Baekhyun.

Kemudian Chanyeol ikut menambahkan. “Baekhyun mencoba mengingatkan pria itu tapi dia sama sekali tak mendengar, pria itu marah dan menarik Baekhyun ke jalan kemudian memukul Baekhyun. Maafkan Aku tidak membantumu Baek, kepalaku sungguh tak bisa diajak kompromi.” Jika saja tadi kami harus berurusan dengan polisi mungkin Chanyeol-lah yang akan menjadi saksi atas peristiwa ini.

“Tidak apa – apa Yeol Aku mengerti, kau disana sudah cukup untuk menenangkan gadis itu, dia tampak sangat ketakutan.” Kata Baekhyun.

Kali ini Baekhyun tidak bercanda ia benar – benar melakukan sesuatu dengan benar, tindakan heroik itu benar – benar mencerminkan bagaimana ia melindungi sosok yang lemah, Aku sepenuhnya bangga padanya.

“Menjadi perempuan harus lebih hati – hati dibanding menjadi  seorang pria kau harus tau itu.” Suara berat Chanyeol mampir di telingaku memecah pikiranku, Aku tak dapat berbohong jika beberapa kali otakku mengirim impuls untuk mengatakan ..

‘Baekhyun kau sangat luar biasa’

‘Baekhyun kau benar – benar pria yang baik’

Tapi Aku tak bisa mengatakannya.

“Dan para pria sudah menjadi kewajibannya melindungi perempuan” Baekhyun berkata sambil menatap lurus jalan.

Dia membuatku kembali jatuh dalam kubangan yang bisa diberi nama ke-luarbiasa-an seorang Byun Baekhyun.

“Oh tentu saja, Robin” Jawabku “Dan Batman” Aku melirik Baekhyun di sampingku.

Superhero, ya adegan yang mereka lakukan tadi tak jauh berbeda dengan yang biasa dilakukan para superhero di film – film, mekipun pada akhirnya harus melarikan diri seperti seorang pengecut, tapi tentu saja bukan tanpa alasan kami melakukannya, dan ide kabur itu sepenuhnya berasal dariku jika Aku tidak disana Baekhyun mungkin akan lebih bertanggung jawab dan mau dibawa ke kantor polisi.

“Hey kami tidak menggunakan celana dalam diluar!” Protes Baekhyun

“Oh, baiklah Aku akan memberikan nama lain untuk kalian, uhm Baekman dan Yeolbin” Aku tertawa. “Oh Yeolbin, kau dapat menggunakan boxer spongebob-mu sebagai kostum dan Baekman Aku akan memberikan boxer Patrick, mereka bersahabat juga seperti kalian kan?”

Dan pikiran idiot itu kembali datang.

“Dan kami akan menjadi superhero yang menyedihkan sepanjang masa.” Chanyeol memukul kepalaku pelan.

Baekhyun tak ikut berkomentar ia bercermin pada kamera depan handphonenya mengamati luka di ujung bibirnya.

“Oh Baek, sebaiknya kau gunakan masker ini, jika Appa bertanya katakan saja jika kau sedang flu. Jangan beritahu Appa ne?” Aku menyodorkan kotak masker yang ada disampingku. Di musim dingin seperti ini Appa selalu mengingatkanku untuk membawanya, udara di musim dingin seperti ini sangat senang menggelitik hidung hingga membuat bersin berkali – kali.

Baekhyun meraih kotak maskernya. “Baiklah, padahal sebelumnya Aku akan merencanakan menggunakan topeng Batman”

“Oh, bodoh! itu tidak akan menutupi luka dan lebam di bibirmu” Tentu saja topeng batman hanya menutup bagian mata dan hidung sang pemakai. IQ Chanyeol naik beberapa nilai desimal dibanding Baekhyun.

“Aku akan memodifikasinya Yeol!” Jawab Baekhyun tak mau kalah.

Tak terasa kami sudah sampai di depan rumahku “Kita sudah sampai superhero”.

***

Pintu utama terbuka, di ruang tamu Hyemi, Sehun dan Appa tampak sedang berbincang ringan.

“Baek, mengapa kau menggunakan masker?” Belum sempat kami mengucapkan ‘kami pulang’ Hyemi telah lebih dulu bertanya melihat masker berwarna hitam yang digunakan Baekhyun akan menangkap perhatian dalam sekali lihat.

“Aku hanya flu” Suara Baekhyun terdengar sedikit tak jelas.

“Anak – anak 30 menit lagi, kalian harus segera berangkat sekarang” Appa berdiri menuju keluar “Ayo cepatlah! Appa akan mengantarkanmu ke Bandara.”

Aku mengangguk. Kami mengambil barang – barang kami dan berjalan mengikuti Appa.

Appa menuju Mini Van hitam yang terparkir di depan rumah, ia menekan sebuah tombol kunci otomatis mobil ditangannya. “Appa membeli mobil baru?” Tanyaku, Aku tidak tahu jika Mini Van hitam itu miliknya.

“Hanya sebuah hadiah dari perusahaan.” Jawab Appa.

“Benarkah?”

“Uhm sebagai jaminan agar Appa tak meninggalkan perusahan.”

Benar. Setelah kepergiam Eomma banyak berita beredar jika kami, Aku dan Appa akan pindah ke Korea. Namun melihat Mini Van itu sudah bertengger di depan rumah, jelas hanya Aku yang akan kembali ke Korea.

Jika  Chanyeol bilang Aku mengemudi seperti di Fast and Furious maka sesungguhnya Appa-lah yang mengajarkanku, semacan Van Diesel versi Korea. Kami sampai di Bandara dalam hitungan menit.

Appa mengucapkan salam perpisahan pada kami, memeluk kami satu – persatu, tak lupa memberikan nasihat – nasihat penuh kasih sayang dan perhatian. “Appa akan datang saat pertunjukan drama musikalmu, Appa janji.” Katanya sambil memberikan ciuman di pipiku.

“Aku tak akan memaafkan Appa jika Appa tak datang” Aku balas mencium pipinya. Appa tersenyum dan melangkah berbalik kembali menuju mobil. Kami melambaikan tangan beramai – ramai sambil mengucapkan salam perpisahan padanya.

“Ayo cepatlah, pesawatnya akan segera berangkat” Sahut Sehun.

***

Penerbangan menuju Korea.

“Min Gi-ah apa yang terjadi tadi sebenarnya? Apa yang kau lakukan bersama Chanyeol dan Baekhyun?” Hyemi menggoyang – goyangkan bahuku keras. Sial kesempatan tidurku hilang olehnya.

“Baekhyun berkelahi.” Aku bergerak menyamankan posisi dudukku.

“Mwo?” Hyemi berteriak sampai – sampai membuat orang yang duduk di samping kami menengok. Bukan memastikan tidak terjadi apa – apa dengan kami, melainkan lebih merasa terganggu karena asal tahu Hyemi sangat berisik memaksaku yang sedang mengantuk untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Hyemi berbalik pada kesamping kirinya dan tersenyum sambil sedikit membungkuk sebagai permintaan maaf.

Aku menceritakan duduk perkara yang sebenarnya pada Hyemi, ia tak henti – hentinya ber- ‘Whoa’ setiap kali menceritakan bagaimana Baekhyun meninju dan menendang pria itu dan Aku menceritakan alasan Baekhyun memukul pria brengsek tersebut. Sampai akhirnya Hyemi  berkata “Baekhyun adalah seorang yang sangat penyayang, Aku tahu itu ia selalu berusaha melindungi orang disekitarnya.”

Tiba – tiba sang tokoh utama datang dengan mata merah dan rambut sedikit berantakan menghampiri Aku dan Hyemi. “Chanyeol meracau tak karuan sepertinya ia demam. Bisakah kalian membantunya?” Katanya dengan suara yang parau.

“Ah tentu saja.” Aku segera bangkit dari kursiku untuk melihat keadaan Chanyeol, namun Hyemi mencegahku “Aku tahu kau lelah, biar aku yang mengurusnya. Baek kau bisa duduk di tempatku.” Tawar Hyemi sebelum akhirnya ia pergi menuju kursi Chanyeol yang berselang dua kursi dari tempatku.

Aku melihat Sehun yang duduk di kursi belakangku sedang tertidur lelap, penerbangan hari ini tidak terlalu padat membuat Sehun tak harus berbagi tempat duduk dengan siapa – siapa.

“Baek, kau baik – baik saja?” Aku melihat ekspresi lelah di wajah Baekhyun, mana mungkin ia baik – baik saja setelah kejadian tadi yang menguras tenaganya.

“Tentu.” Baekhyun mengangguk. Ia berbohong.

“Baekhyun…” Aku kembali memanggilnya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padanya. “Saat kita dalam perjalanan menuju mobilku, kau bilang sesuatu yang buruk dapat datang kapan saja-”

Baekhyun memotong perkataanku seolah mengerti apa maksud kata – kataku “Maksudku mungkin saja tiba – tiba ada perampok yang tiba – tiba menodongmu, kau lihat sendiri jalanan disana sangat sepi.”

Benar ia tahu.

“Kau ingin melindungiku?”

“Tentu saja kau seorang perempuan dan sahabatku.” Katanya singkat.

Jawaban yang menyadarkanku, ayolah Min Gi apa yang kau harapkan keluar dari mulutnya?

Dia adalah sahabatmu, cukup. Interaksi tadi tak berarti apa – apa, mungkin jika saat itu Chanyeol tak sakit kepala aku bisa saja melarikan diri bersama Chanyeol.

Aku berkutat dengan pikiranku sendiri. Tiba – tiba sebuah kepala mendarat di bahuku, Baekhyun sangat lucu ketika ia tertidur aku bisa mendengar suara aneh yang ia keluarkan saat ia tertidur pulas seperti yang selalu dibicarakan Chanyeol.

Dan sesaat setelah aku ikut menutup mata, yang aku lihat adalah senyum yang Baekhyun berikan saat kami berjalan saling berpegangan tangan tadi.

Ya Tuhan, tidak! Dia sahabatmu Park Min Gi.

Hope you enjoy this story and keep thankyou for reading, for you who give me comments for this story <3, or for you who just visiting.

You can write some critical for my story honeeeeey ~~~

23 pemikiran pada “Unfathomable Friends (Chapter 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s