Thorn of Love (Chapter 7) – Memories

Thorn of Love

Part 7 (Memories..)

 Thorn Of Love II

 

Author             :           @Yuriza94 / Oriza Mayleni

Main Cast        :

  • Byun Baekhyun
  • Han Yoonjoo
  • Byun Heejin
  • Oh Sehun

Support Cast   :

  • Kim Jongdae (Chen)
  • Byun Junghwan (OC)
  • Etc..

Genre             :           Romance, Angst

Rating                         :           PG15

 

~oOo~

Baekhyun’s POV

Ini sudah 2 hari sejak aku di izinkan keluar Rumah Sakit dan kabar buruknya adalah aku masih tak bisa mengingat apapun. Aku merasa seperti bayi yang baru lahir ke dunia, bayi yang baru belajar tentang semua hal tapi bedanya adalah aku tidak belajar mengenai bagaimana caranya berjalan, berbicara, atau sejenisnya, yang ku pelajari dan yang terus coba ku ingat adalah orang-orang di sekitarku. Namaku Byun Baekhyun, aku seorang pelajar tingkat akhir di Junsang International Academy, ayahku bernama Byun Junghwan, adikku bernama Byun Heejin, dan Ibuku…ia meninggal saat aku masih di bangku sekolah dasar. Aku mengalami kecelakaan saat hendak pulang ke rumah. Begitulah yang di katakan Ayahku. Tapi informasi itu tak lantas membuatku puas, kau harus tahu rasanya pikiranmu kosong, aku tak mempunyai kenangan satupun. Satu-satunya hal yang selalu melintas dalam ingatanku adalah wanita itu, wanita dengan rambut panjang lurus yang berlari membelakangiku, aku terus berusaha keras mengingat wajahnya tapi sial, semakin keras aku berusaha, denyutan itu akan langsung bersarang di kepalaku.

Aku menghela nafas lalu memejamkan mata mencoba menetralisir sakit yang tiba-tiba menghinggapi kepalaku lagi. Setelah kurasa cukup tenang, aku kembali menatap lalu lintas manusia dari balik kaca tempatku berada. Sekarang aku sedang berada di Tea House, aku sedang menunggu Chen, Chanyeol, dan D.O. Mereka adalah orang-orang yang paling sering berkunjung saat aku masih di rawat dan aku mengerti kenapa aku bisa akrab dengan mereka, sungguh mereka tak bisa berhenti berbicara kecuali D.O. Kurasa D.O berperan sebagai pendengar karena yah kalau semua mau jadi pembicara, siapa yang mau mendengar?Aku menyeruput espresso yang asapnya sudah tak mengepul menandakan minuman ini sudah dingin dan kenyataannya memang begitu. Kadang, aku berpikir untuk mencoba memukul kepalaku sendiri, ya mungkin ingatanku bisa kembali. Aku bisa mencoba membenturkan kepalaku ke dinding tapi tidak, aku bisa geger otak dan aku tak cukup bodoh untuk melakukannya.

“Sudah lama?”

Aku menoleh tepat saat suara itu menyapa telingaku. Mereka sudah datang rupanya.

“Tidak juga. Jadi info apa yang akan kalian bagikan padaku hari ini?”

“Sabarlah Baekhyun, biarkan kami mengatur nafas dulu dan memesan”

Aku mengangguk pelan, mereka naik mobil tapi gayanya seperti orang yang berjalan kaki kesini.

“Tak ada yang perlu kau khawatirkan. Seisi sekolah sudah tahu hal yang menimpamu jadi mereka akan maklum, begitu juga dengan teman sekelas kita. Tak perlu berusaha terlalu keras untuk mengingat nama mereka” Chen menyodorkan buku absen padaku

“Aku ketua kelas?” Tukasku saat melihat bagan pengurus kelas di halaman pertama

“Iya dan kau ketua Tim Baseball, aku harap kau tidak lupa bagaimana caranya bermain Baseball dan membuat Home Run atau kita akan dalam bahaya” Timpal Chanyeol

“Tenang saja, aku hanya lupa orang-orang yang ku kenal, selebihnya aku ingat dengan jelas”

“Amnesia-mu sedikit aneh” celetuk D.O yang langsung membuatku penasaran

“Maksudmu?”

“Begini, umumnya orang hanya mengalami amnesia sebagian dalam artian tak semua memorinya hilang dan kalaupun itu amnesia total, mereka akan benar-benar lupa segala hal dan jadi seperti bayi yang baru melihat dunia sedangkan kau….aku ragu menyebutmu mengalami amnesia total karena kau masih ingat bagaimana melakukan semua hal dengan benar, satu-satunya yang kau lupa hanya orang-orang di dalam hidupmu. Ironis sekali Byun Baekhyun” Jelas D.O panjang lebar yang di akhiri dengan sindiran

“Kau seperti sengaja mau melupakan kami” Chanyeol berujar sambil memasukkan tiramisu yang baru saja sampai di depannya

“Tepat sekali Chanyeol” Ucap D.O dan Chen berbarengan

“Apa? Memangnya aku bicara apa?” Chanyeol memasang wajah konyolnya

“Apa kau sedang berada dalam tekanan sebelum kejadian itu?” Timpal D.O mengintrogasi

“Aku tidak tahu, aku tidak bisa mengingat apa-apa” Jawabku apa adanya “Memang ada hubungannya?” Lanjutku setelah kembali memesan secangkir espresso

“Tentu saja karena jika kau berada dalam tekanan dan berusaha melupakannya lalu kecelakaan itu terjadi, hilanglah sudah, kau benar-benar lupa. Menurutku.”

Aku menerawang, jika yang di katakan D.O benar, apa mungkin sesuatu yang membuatku tertekan sampai aku mencoba melupakannya adalah wanita itu? Wanita yang terus saja melintas dalam benakku bahkan sampai mampir ke mimpiku. Tak heran saat aku sadar, satu-satunya yang bisa ku ingat adalah dia.

“Apa mungkin aku berusaha melupakannya?” Ujarku lebih pada diri sendiri

“-nya? –nya siapa?”

“Gadis itu, aku selalu melihatnya dalam benakku. Aku sedang berlari mengejarnya, ia membelakangiku, rambut panjangnya bergerak karena langkah kakinya yang cepat tapi aku tak bisa melihat wajahnya. Aku hanya merasa ia terhubung oleh sesuatu denganku”

“Ceritakan bagaimana gadis itu? Siapa tahu kami mengenalnya”

“Dia…rambutnya panjang hingga punggung, lalu….ia sepertinya mengenakan pakaian rumah sakit dan aku tak bisa menggambarkannya lagi”

“Kau bilang, dalam ingatanmu kau sedang mengerjarnya?” Tanya D.O lebih lanjut, ia seperti sangat bersemangat dengan tebak-tebakan semacam ini

“Eo, hanya saja aku tak kunjung bisa mengingat wajahnya”

“Apa yang kau maksud Yoonjoo?”

Perkataan Chen barusan benar-benar mengejutkan hingga membuatku menoleh cepat, leherku terasa hampir putus karenanya.

“Yoonjoo? Siapa Yoonjoo?” Chanyeol menimpali dengan wajah yang sama bingungnya denganku juga D.O

“Dia murid baru di kelas kami”

“Oh-ho Baekhyun, apa kau menyukai murid baru itu?” Goda Chanyeol sambil mengerling aneh

“Aku tidak tahu dan lagi Chen, kenapa kau bisa menebak orang itu adalah Yoonjoo?”

“Karena malam itu….kita…” Chen menggantung kalimatnya membuatku menahan nafas

“Malam itu kalian kenapa?” Selidik D.O

“Malam itu kami baru selesai bermain baseball saat suara berisik datang dari ruang seni. Kami mengeceknya dan menemukan Yoonjoo pingsan lalu membawanya ke Rumah Sakit. Lalu setelah itu bibi dari Yoonjoo datang, saat itu kita sudah bersiap pulang lalu tiba-tiba kau…” Chen menatapku aneh

“Aku kenapa?”

“Kau tiba-tiba jadi penasaran dan mengintip di balik koridor sampai tak lama kemudian Yoonjoo dan bibinya keluar. Aku juga merasa aneh kenapa dia membawa Yoonjoo pulang padahal Yoonjoo sama sekali tak terlihat baik sampai akhirnya kau mengajakku mengikuti mereka tapi aku terpaksa turun di tengah jalan karena isi pesan dari adikku. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi”

“Hanya itu?”

“Kau berharap bagaimana Park Chanyeol?” Chen mengedikkan bahu

“Baekhyun…”

Aku menoleh menatap D.O yang baru saja memanggilku “Eo?”

“Kenapa kau selalu melakukan tindakan yang tak terduga?”

Aku lebih memilih mengikuti jejak Chen dengan mengedikkan bahu lalu menyeruput espresso yang baru saja ku pesan sebelum kepulan asapnya hilang.

“Tapi ini kabar bagus. Akhirnya kau naksir seorang gadis juga Baekhyun!”

Aku tersedak. Bukan hanya karena tepukan keras Chanyeol di bahuku tapi juga karena ucapannya yang terdengar ambigu. ‘akhirnya kau naksir seorang gadis’ apa maksudnya? Memangnya selama ini aku belum pernah menyukai siapapun?

“Mworago? Aku?” aku menatap Chen, Chanyeol, dan D.O bergantian dan mereka mengangguk pasti, sial! Apa saja yang kulakukan di masa mudaku? Bagaimana bisa aku tak pernah berkencan dengan seorang wanita pun?

“Aku jadi tak sabar untuk hari esok”

End Baekhyun’s POV

 

Author’s POV

Heejin berjalan pelan memasuki kamar Baekhyun. Matanya menangkap pemuda itu sedang sibuk mempersiapkan buku-buku yang akan di bawanya besok. Heejin yakin sudah berjalan cukup pelan namun sepertinya indera pendengaran Baekhyun sangat tajam terbukti dengan tolehan pemuda itu tak lama setelah Heejin membuka pintu.

“Aku datang untuk mengantarkan ini” Ujar Heejin sambil mengangkat nampan berisi jus dan buah

“Oh terima kasih” Balas Baekhyun santai lalu mengambil alih nampan di tangan Heejin

Entah kenapa Heejin merasa aneh dengan tingkah Baekhyun yang biasa. Ia merasa seperti rindu perangai Baekhyun yang memperlakukannya agak lain. Sekarang Baekhyun bertingkah seperti kakak-kakak lain kebanyakan. Gadis itu mulai berpikir bodoh, ia menggelengkan kepala pelan untuk mengusir pikirannya, sudah seharusnya ia merasa senang dengan situasi tenang ini dan berdoa sungguh-sungguh agar ingatan Baekhyun tak kembali karena jika itu terjadi, mungkin akan terjadi ketegangan antara Baekhyun juga ayah mereka dan bahkan mungkin melibatkan dirinya juga Sehun.

“Heejin…”

“Ne?”

“Apa kau tidak pernah melihatku berkencan?”

“Apa?”

“Chen, Chanyeol, dan D.O bilang aku belum pernah sekalipun berkencan, apa itu benar?”

“Kurasa juga begitu atau mungkin….”

“Mungkin apa?”

“Mungkin oppa sebenarnya menyukai seseorang tapi tak mau mengungkapkannya dan terus menyimpannya dalam hati” Heejin memekik dalam hati, bagaimana bisa mulutnya mengucapkan kalimat yang merujuk pada dirinya sendiri?

“Ya mungkin saja. Owh ya terima kasih sekali lagi untuk jus-nya, kau tahu saja aku sedang haus” Baekhyun melempar senyum ringan yang di balas senyum kikuk dari Heejin

“Oppa….”

“Hmmm?”

“Jangan tidur terlalu malam. Selamat malam”

“Selamat malam”

~oOo~

Pagi itu Baekhyun dan Heejin berada dalam satu mobil yang menuju Junsang. Ayah mereka menyarankan Baekhyun untuk tidak menyetir sendiri sementara waktu setelah insiden kecelakaan yang di alaminya. Heejin memperhatikan Baekhyun yang sedang memejamkan mata menikmati alunan musik yang di hantarkan earphonenya, mata Heejin beralih pada perangkat komunikasi di tangan Baekhyun, itu bukanlah ponsel lama milik Baekhyun karena yang lama telah di musnahkan ayahnya bersamaan dengan gambar-gambar dirinya yang di buat Baekhyun sendiri. Ayahnya merasa sedikit bersyukur karena Baekhyun kehilangan memorinya sehingga ia bisa membinasakan semua yang berhubungan dengan hal kelam tentang perasaan Baekhyun untuk Heejin.

Entah kapan mobil itu sampai di depan gerbang Junsang, yang pasti kedua penumpangnya sama-sama tidak sadar. Yang satu sedang asik dalam alunan musik sedangkan yang satu lagi asik dengan lamunannya hingga sopir mereka mengeluarkan suara.

“Tuan muda, nona, kita sudah sampai”

“Eo? Maaf Pak Kim, aku hampir tertidur karena musik ini” Balas Baekhyun riang, ia begitu bersemangat sejak tadi malam

Tepat saat Baekhyun baru keluar dari mobilnya, matanya menangkap sesuatu yang tak asing. Rambut panjang itu, punggung itu, sama seperti yang ada dalam ingatannya, apa itu gadis yang di sebut Chen bernama Yoonjoo? Entahlah, Baekhyun tak suka berpikir lama hingga kini ia berjalan menghampiri gadis yang tengah berjalan memasuki gerbang dengan kepala tertunduk itu. Baekhyun berdiri tepat di depan gadis itu dan benar saja, disana, di name tag yang terpasang rapi itu tertulis Han Yoonjoo. Gadis itu segera menghentikkan langkah saat menyadari ada seseorang yang tiba-tiba menghalangi jalannya. Ia tak mengangkat kepala dan lebih memilih berbelok sedikit namun Baekhyun kembali menghalanginya, Baekhyun menunggu gadis itu mengangkat kepala untuk melihat wajahnya, wajah orang yang selalu bersliweran di kepalanya saat ia tak ingat apapun dan siapapun.

Yoonjoo menghela nafas pelan lalu bersuara yang juga sangat pelan “Ada apa?”

“Kau…tidak mengenalku?”

Yoonjoo diam, ia menautkan tangan dan mulai gemetaran seperti biasa. Memang selalu seperti itu jika ia di hadapkan dengan makhluk penghuni planet mars. Yoonjoo punya alasan bagus untuk ketakutannya itu dan alasan itu di rasanya terlalu memalukan untuk di ceritakan pada siapapun sehingga ia lebih memilih memendamnya sendiri. Sederhananya, cukup ia, bibinya, dan Tuhan yang tahu peristiwa memalukan 4 tahun lalu.

“Kenapa diam? Apa tidak ada yang mau kau katakan padaku? Seharusnya kau mendengar bukan kalau aku mengalami kecelakaan, kenapa kau tidak datang menjengukku sekalipun?” Ujar Baekhyun panjang lebar membuat Yoonjoo terjatuh dalam lembah kebingungan

“Kenapa aku harus menjengukmu?”

Baekhyun terdiam, apa memang benar ia tak ada hubungan apa-apa dengan Yoonjoo? Lalu jika memang begitu, kenapa cuma gadis ini saja yang terus melintas di dalam benaknya? Baekhyun yakin ada alasan bagus untuk itu.

“Kita tidak saling mengenal jadi permisi”

Baekhyun menatap punggung Yoonjoo yang mulai menjauh. Sifat gadis itu benar-benar menunjukkan mereka tak punya hubungan special karena jika memang ada, bukankah seharusnya gadis itu khawatir tentang kecelakaan yang di alaminya atau setidaknya ia akan senang Baekhyun sudah kembali sehat.

“Ada apa oppa?” Heejin berdiri di belakang Baekhyun lalu bersuara pelan

“Apa kau kenal gadis tadi?” Tanya Baekhyun tanpa membalikkan tubuhnya

Heejin berpikir sejenak untuk mencerna maksud pertanyaan Baekhyun. Gadis? Gadis yang mana? Apa yang barusan di ajak ngobrol oleh Baekhyun?

“Tidak. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa. Masuklah ke kelas, sampai jumpa jam 1 siang” Baekhyun mengacak rambut Heejin pelan lalu meninggalkan adiknya yang termenung karena perubahan sikapnya

Pagi itu Baekhyun masuk ke kelas dengan wajah kikuknya karena ia tak bisa mengingat siapapun. Awalnya semua temannya memberikan tatapan heran, walaupun mereka sudah mendengar kabar bahwa Baekhyun terkena amnesia, mereka sungguh masih sulit percaya penyakit yang biasa terjadi di film dan drama itu kini tengah terjadi pada Baekhyun. Apa rasanya amnesia? Pertanyaan itu berjubal di benak mereka dan mereka mau saja mengajukan pertanyaan itu langsung pada Baekhyun jika saja tidak ada seseorang yang langsung datang memberikan tatapan horror, siapa lagi kalau bukan Kim Jongdae.

“Kau mau jadi patung selamat datang?” Tegur Chen dari arah belakang yang membuat Baekhyun sedikit kaget

“Tentu saja tidak”

“Kalau begitu jangan berdiri di pintu” Chen merangkul pundak Baekhyun lalu berbisik pelan “Jangan pedulikan tatapan mereka, sebentar lagi juga akan biasa saja”

“Aku tahu”

“Nah di sini tempat dudukmu” Chen menepuk pelan meja yang menjadi tempat duduknya dan Baekhyun dulu sebelum Yoonjoo datang “Oh ya, aku punya sedikit informasi yang akan membuatmu senang” Ujar Chen setengah berbisik

Baekhyun memajukan wajahnya “Apa?”

“Lihat pintu itu, sebentar lagi dia akan masuk dengan banyak buku sastra klasik” Chen berbicara sambil menutup mata seperti paranormal yang memprediksi sesuatu

Baekhyun menatap serius pintu kelasnya dan benar saja 2 menit kemudian seseorang masuk dengan tumpukan buku tebal menutup wajahnya. Baekhyun sempat khawatir orang itu akan menabrak sesuatu karena pandangannya yang tertutup tapi rupanya tidak karena orang itu sepertinya sudah benar-benar hafal rute jalannya dan sedetik yang lalu, seseorang yang di sebut Chen akan membawa kesenangan untuk Baekhyun sudah duduk manis di tempatnya, kursi tepat di samping Baekhyun.

“Jangan menganga begitu, air liurmu hampir menetes” Chen menahan tawa

“Aku tidak menganga” Bela Baekhyun lalu menyandang tasnya dan duduk di tempat seharusnya ia berada

Sedetik, dua detik, tiga detik, gadis itu tak bereaksi. Baekhyun mengalihkan pandangan ke arah Chen yang sedang memasang ekspresi ‘dia memang selalu begitu’. Baekhyun menghela nafas pendek, ia memegang dadanya yang bergemuruh. Ia sendiri bingung kenapa sekarang merasa sedikit tegang padahal ia tidak sedang ikut audisi menyanyi dan sejenisnya. Baekhyun meletakkan tasnya lalu duduk pelan-pelan seolah di kelas tersebut ada beruang yang sedang hibernasi musim dingin dan ia tak mau membangunkannya.

“Jadi kita teman sebangku?” Baekhyun berbasa-basi “Pertanyaan bodoh” Batin Baekhyun

“Iya”

Baekhyun berteriak jengkel, hanya ‘iya?’ tidak ada tambahan lain? Sungguh ia tak habis pikir dengan gadis bernama lengkap Han Yoonjoo ini. Baekhyun berpikir sebenarnya gadis ini memang tak suka bicara atau tak suka pada dirinya? Tadi pagi juga begini, lantas kenapa Baekhyun terus maju pantang mundur begini? Baekhyun menggeleng pelan, apa yang di lakukannya pagi ini dan barusan benar-benar kekhilafan, ia berikrar tak mau lagi jadi korban kacang oleh Yoonjoo.

Baekhyun mengeluarkan bukunya lalu meletakkannya di atas meja dengan cara membanting hingga menimbulkan suara dentuman lumayan nyaring membuat seisi kelas melempar mata padanya. Baekhyun tersenyum simpul seraya berkata dalam hati ‘Tidak ada apa-apa. Jangan menatapku begitu, urusi urusan kalian masing-masing!’.

Entah kapan guru seni itu masuk, yang jelas sudah hampir satu jam ia berkoar-koar tentang jenis-jenis tema lukisan. Tak ada satupun yang benar-benar masuk ke dalam otak Baekhyun, bagaimana mau masuk kalau sedari tadi ia sibuk melirik-lirik teman sebangkunya, dengan diam-diam tentu saja. Yoonjoo bukannya tak tahu ia sedang jadi bahan lirikan tapi ia lebih memilih pura-pura tak tahu, ia menyebutnya sebagai cari aman. Bukan hanya Baekhyun yang sedang berpikir keras tapi juga Yoonjoo, sejak tadi pagi, tepatnya sejak Baekhyun menegurnya, ia bertanya-tanya ada apa gerangan dengan laki-laki itu? Kenapa ia mengucapkan serentetan kalimat aneh yang berkonotasi kalau dirinya dan Baekhyun akrab? Atau ini karena Baekhyun mengalami amnesia makanya jadi melantur? Walaupun Yoonjoo tak terlalu peduli, ia juga mendengar kabar itu dari teman lain tapi jika memang karena amnesia, kenapa harus dirinya? Kenapa tidak yang lain yang jelas-jelas sudah kenal dengan Baekhyun hampir tiga tahu atau bahkan lebih? Tak tahu, hanya Baekhyun yang tahu dan Yoonjoo tak berniat mencari tahu karena jika ia ingin mencari tahu, itu artinya ia harus bertanya langsung pada Baekhyun.

“Siapa kau?” Ujar Baekhyun pelan

“Yoonjoo” Jawab gadis itu pendek membuat Baekhyun geram

“Aku tidak bertanya namamu. Aku bertanya kau siapa? Siapa ku?”

“Orang asing”

“Tapi kenapa kau terus saja muncul dalam pikiranku?” Ucap Baekhyun setengah berteriak yang kembali membuatnya jadi bahan tontonan, kalau hanya teman kelas sih tidak apa-apa tapi guru seni mereka juga jadi penonton dan ini benar-benar alamat buruk.

“Ehem nona Han, tuan Byun, silahkan lanjutkan perdebatan rumah tangga kalian di luar”

Seisi kelas tertawa terbahak-bahak begitu juga Chen.

“Apa yang kalian tunggu? Sekarang!”

Riuh tawa di kelas mengiringi kepergian Baekhyun dan Yoonjoo keluar kelas.

“Terima kasih” ujar Yoonjoo saat mereka sudah di depan kelas sambil mengangkat dua tangan ke atas

“Aku tidak sengaja, ini salahmu karena mengacuhkan ku. Kau tahu? Kau membuatku bingung!”

“Aku?”

“Kau bilang kita tidak saling kenal tapi kenapa sejak aku sadar dari kecelakaan, satu-satunya yang ku ingat cuma kau! Aku sedang mengejarmu, itu saja yang ada di kepalaku! Apa kau tahu betapa tersiksanya aku?” Baekhyun menumpahkan seluruh isi di kepalanya

“Justru aku ingin balik bertanya apa yang kau lakukan berdiri malam-malam di depan rumahku waktu itu?”

“Oh akhirnya kau bicara lebih dari satu kata” Sindir Baekhyun “Aku kira kau akan tiba-tiba pingsan jika bicara lebih dari satu kata”

“Kau—“

“Kalian yang di luar harap tenang!”

Yoonjoo urung membuka mulutnya karena teguran yang berasal dari dalam kelas. Ia malas meladeni laki-laki aneh di sebelahnya yang terus saja berakting seolah-olah mereka akrab padahal kenyataan tidak sama sekali.

30 menit kemudian bel istirahat berbunyi yang segera membuat Baekhyun mendesah lega. Ia memutar-mutar lengannya yang terasa pegal, 30 menit terakhir terasa bagai satu tahun di tambah kenyataan ia menjadi burung beo dadakan. Bayangkan saja selama 30 menit yang lalu, Baekhyun sesekali atau bisa di bilang sering kali melontarkan pertanyaan atau basa basi guna menjalin komunikasi pada Yoonjoo tapi respon yang di berikan gadis itu hanya anggukan, gelengan, atau hanya diam. Sekarang bahkan gadis itu sudah pergi entah kemana, gadis itu menghilang sekali kedipan mata.

“Baekhyun!” Chen yang baru keluar dari kelas langsung melompat merangkul Baekhyun membuat pemuda itu mendelik horror “Aigoo jangan mendelik begitu, seharusnya kan kau bahagia selama 30 menit tadi bisa bersama Yoonjoo” cibir Chen

“Diamlah!” Pekik Baekhyun tepat di telinga Chen

“Yak imma! Kau mau membuatku tuli?”

“Kalau tidak mau tuli, jangan cerewet, kau seperti burung kelaparan”

“Mwo—mworago? Yak bocah!”

Chen berlari pelan menghampiri Baekhyun yang sudah lebih dulu meninggalkannya. Lupa ingatan dan tidak, Baekhyun tetaplah Baekhyun-batin Chen-. Kedua pemuda itu berjalan pelan menuju kantin untuk memuaskan cacing-cacing di perut mereka yang berteriak minta di beri asupan makanan. Tepat saat Baekhyun dan Chen melangkah masuk, mata mereka langsung bertemu dengan 2 pemuda yang sedang melambai sambil memamerkan gummy smile membuat Chen menarik Baekhyun tanpa bertanya.

“Baekhyun, kenapa kau berkeringat begitu? Apa kalian ada kelas olahraga?” Tegur D.O sambil menyodorkan tisu

“Dia di hukum karena pacaran di kelas—awww!!!” Chen mengelus kepalanya yang mungkin akan mempunyai benjolan kembar disana karena ulah Baekhyun “Kau! Jangan menganiayaku begitu, kalau aku sakit bagaimana? Kau tidak akan punya sahabat karib lagi dan ku jamin kau akan kesepian” omel Chen

“Masih ada Chanyeol dan D.O” Balas Baekhyun acuh tak acuh di ikuti suara cekikikan dari arah Chanyeol

“Kau puitis sekali hari ini Chen” komentar Chanyeol “Kurasa kau harus mengembangkan kemampuanmu itu”

“Diam kau jerapah!”

“Kau yang diam unta!”

“Ck..Kalian berisik sekali!” Tegur D.O dengan mata membulat sempurna yang langsung membungkan Chanyeol dan Chen “Jadi, kau sebenarnya kenapa? Apa benar kau di hukum?”

“Eo. Aku di hukum karena membuat ribut. Karena gadis itu terus diam membuatku tak tahan untuk terus bertanya”

“Heol~ Kau benar-benar terperosok ke dalam jurang cinta” komentar Chanyeol

“Cinta?” Alis Baekhyun terangkat, terlalu dini untuk mendefinisikan apa yang di lakukannya pada Yoonjoo sebagai rasa suka atau cinta. Satu-satunya alasan logis Baekhyun terus mendekati Yoonjoo adalah karena gadis itu satu-satunya kenangan yang tersisa, entah penting atau tidak, Baekhyun merasa sesuatu yang tertinggal di saat yang lain pergi tergolong hal yang penting.

“Hey itu Yoonjoo” Chen berbisik pelan membuat Baekhyun menoleh cepat

“Lalu?” Balas Baekhyun acuh tak acuh, ia masih sedikit dongkol dengan kejadian ‘burung beo yang di acuhkan’

“Kau menoleh dengan cepat sampai lehermu mau putus begitu jadi tidak sok tidak perduli” cibir Chen yang di ikuti anggukan setuju dari Chanyeol

“Jangan terlalu agresif. Dia sepertinya tipe pemalu jadi pelan-pelan saja” nasehat D.O, Baekhyun mengedik tak mengerti tapi ia tetap bangkit dari tempat duduknya sambil membawa nampan berisi makanan menuju meja dimana Yoonjoo berada, meja yang terletak agak pojok. Gadis itu sedang makan sendirian.

“Boleh aku duduk disini?” ucap Baekhyun sopan, ia rupanya benar-benar mengikuti nasehat D.O

Yoonjoo mengangguk tanpa mengangkat kepala. Tangan kanannya terlihat sibuk menyuapkan sendok berisi sup rumput laut ke dalam mulut. Baekhyun duduk perlahan, ia tak langsung makan dan malah memperhatikan gadis di depannya dengan seksama. Entah Yoonjoo sadar atau tidak Baekhyun sedang menatapnya karena selang 5 menit kemudian posisi Yoonjoo tak berubah sama sekali.

“Kau tidak makan?”

Baekhyun terhenyak, ia seperti mendengar nyanyian burung di tengah ilalang yang di iringi suara sepoi angin sore di musim semi. Pemuda itu menggeleng pelan, kalimat perumpamaannya tadi sepertinya terlalu berlebihan.

“Apa?” ucap Baekhyun

“Waktu istirahat tinggal sebentar lagi..”

“Ah ne….”

Hening lagi, setidaknya burung beo tetangga sudah mulai membalas si beo yang lupa ingatan. Baekhyun tersenyum ringan lalu menusuk potongan mentimun di nampannya dan melahapnya pelan hingga sesuatu yang aneh mulai menghinggapinya. Entah darimana hawa panas datang tapi ia merasa seluruh tubuhnya memanas dan sedikit gatal. Baekhyun tak ambil pusing dan terus melahap mentimunnya, ia berpikir ini efek dari keringatnya.

“Kau—“

Baekhyun bisa melihat Yoonjoo yang sedang menatapnya dengan mata membulat sempurna.

“Ada apa?”

“Wajahmu merah sekali”

Baekhyun masih merasakan hal aneh itu dan rasa aneh tersebut semakin menjadi setelah Yoonjoo berkata wajahnya berwarna merah padam. Entah sejak kapan rasa gatal di kulitnya semakin hebat hingga membuat jari-jarinya menggaruk cepat dan semakin tak terkendali.

“Hentikan” titah Yoonjoo sambil menahan tangan Baekhyun yang terus bergerak liar “Lebih baik kita ke UKS, kau sepertinya terkena alergi”

~oOo~

Denting jam yang menempel di dinding ruang UKS menemani Baekhyun dan Yoonjoo dalam diam. Sekitar 10 menit yang lalu pemuda itu baru saja mendapat perawatan dari dokter sekolah dan meminum obatnya, kini ia tengah tertidur lelap di balik selimut. Wajahnya masih agak kemerahan namun tak separah sebelumnya, ruam di kulitnya pun semakin tampak pudar menandakan obat yang ia telan sudah mulai bereaksi. Baekhyun alegri mentimun, pemuda itu ternyata alergi mentimun dan ia sendiri tak sadar, Yoonjoo bisa maklum karena Baekhyun sendiri mengalami amnesia. Yoonjoo awalnya tak mau percaya dengan penyakit khas drama dan film itu tapi setelah hal serupa ada di depan matanya, mau tak mau ia harus mengakui penyakit itu benar adanya dan tak hanya terjadi di dunia peran. Satu hal yang membuat Yoonjoo bingung adalah kenapa Baekhyun harus mengingat kejadian dimana ada dirinya? Kenapa tidak kejadian lain saja yang pasti jauh lebih penting. Ia hanya orang yang numpang lewat dan sama sekali tak ada sangkut pautnya dalam kehidupan Baekhyun tapi…tapi kenapa pemuda itu malah bersikeras mengenalnya. Yoonjoo tersenyum masam, kenal? Jika ada yang mau berteman dengan Yoonjoo, itu berarti orang tersebut belum benar-benar mengenal Yoonjoo, tunggu sampai saatnya ia tahu masa lalu Yoonjoo maka kemungkinan besar ia akan pergi seperti yang lain.

Cklek…

Suara pintu yang di buka itu membuat Yoonjoo beranjak dari duduknya lalu menengok. Seorang gadis dengan lambang kelas 11 masuk, Yoonjoo tak perlu bertanya siapa gadis itu karena 10 menit yang petugas UKS memberitahukan padanya kalau adik dari Baekhyun akan datang dan inilah dia.

“Maaf merepotkan” ucap Heejin

“Tidak apa-apa, aku permisi” Tepat saat Yoonjoo selesai membungkukkan badannya dan bersiap melangkah pergi, ia merasakan sebuah tangan dengan suhu dingin memegang erat tangannya

“Kau mau kemana?” sergah Baekhyun dengan suaranya yang agak serak

Heejin tidak buta, matanya masih bekerja dengan baik, dengan sangat baik sehingga ia bisa melihat dengan jelas kedua tangan itu saling bertautan erat, tidak, lebih tepatnya tangan Baekhyun yang menahan tangan Yoonjoo dengan erat. Heejin memelintir roknya dengan kuat, ia tak mengerti kenapa ada perasaan tak senang yang menyelip di hatinya, tautan tangan itu terasa begitu mengganggunya namun ia tak bisa berbuat apa-apa, yang bisa ia lakukan hanya menutup mulut rapat-rapat dan menunggu kedua orang itu selesai dengan adegan mereka.

“Aku harus kembali ke kelas” balas Yoonjoo sambil melepaskan tangannya

“Oppa aku disini, Yoonjoo unnie harus kembali karena kelas sudah di mulai” Timpal Heejin cepat

“Tapi—“

“Aku pergi”

Yoonjoo menghilang dari balik pintu membuat suasana serasa tak enak. Heejin tak tahu musti berbuat apa, ia bisa melihat ekspresi kecewa Baekhyun walau pemuda itu tak mengungkapkannya langsung. Hal itu benar-benar membuat Heejin penasaran, rasa penasaran itu merongrong hati Heejin hingga ia berani melontarkan kalimat pertanyaan pada Baekhyun.

“Dia siapa?”

“Apa?” Baekhyun bangkit dari tidurnya lalu duduk di pinggiran ranjang

“Oppa sepertinya dekat sekali dengannya”

“Ah itu….aku juga tidak pasti, hanya saja sejak sadar dari kecelakaan sampai sekarang, hal lalu yang bisa ku ingat adalah saat aku di depan rumahnya. Aku bahkan tak ingat alasan aku ada di depan rumahnya”

“Begitu?” Heejin menunduk mendengar penjelasan Baekhyun, ia merasa tak perlu mendengar cerita lebih lanjut tapi sayang Baekhyun malah melanjutkan tanpa di minta

“Mungkin karena dia satu-satunya yang tertinggal di kepalaku, aku jadi merasa dekat dengannya”

“Kau tidak merasa dekat denganku?” komentar Heejin

“Apa?”

“Mak…maksudku, bagaimana bisa kau mengingat orang lain dan malah tidak ingat keluargamu sendiri”

“Apa adikku sedang marah sekarang?” goda Baekhyun “Maafkan oppa, otakku yang mengatur semua, aku juga tak ingin begini”

“Kalau begitu, apa oppa ingin ingatan oppa kembali?”

“Entahlah. Sampai sekarang semua baik-baik saja bahkan ayah sendiri menyuruhku tidak usah berusaha mengingat kejadian lalu, bukankah itu artinya tidak ada hal penting di masa lalu yang perlu ku ingat?”

Siang itu matahari bersinar terik tapi entah kenapa Heejin merasa ada petir yang menyambarnya. Baekhyun baru saja berkata ‘tidak ada hal penting di masa lalu yang perlu dia ingat’, apa itu berarti ia benar-benar tak mau ingatannya kembali? Apa itu berarti semua hal yang berhubungan dengan dirinya juga tak berharga untuk Baekhyun? Apa itu berarti Baekhyun ingin memulai awal yang baru tanpa ada campur tangan Heejin di dalam kenangannya? Terlalu sesak, dada Heejin terlalu sesak jika harus memikirkan kemungkinan-kemungkinan tersebut.

“Kembalilah ke kelas. Aku sudah tidak apa-apa”

Bahkan sekarang Baekhyun menyuruhnya untuk kembali ke kelas padahal beberapa menit yang lalu pemuda itu menahan Yoonjoo saat ingin pergi. Terbalik 180 derajat, semua begitu berbeda, perlakuan Baekhyun padanya benar-benar tak seperti dulu lagi.

“Heejin…kau tidak apa-apa?” Baekhyun berdiri menghampiri Heejin saat melihat mata gadis itu mendadak memerah

“Aku tidak apa-apa” Heejin memalingkan wajah dengan cepat

“Apa kau sakit? Dimana yang sakit?”

“Aku tidak apa-apa oppa. Istirahatlah, aku kembali ke kelas” sebelum air mata itu benar-benar membanjiri pipinya dan membuat Baekhyun bertanya-tanya, akan lebih baik ia pergi menjauh

~oOo~

Yoonjoo berjalan menuruni tangga dengan pelan dan perlahan. Tangan kanannya menjinjing tas berisi peralatan lukis beserta kanvas yang sebagian sudah penuh coretan. Matanya terus menatap ke arah bawah dimana kakinya terus bergerak sesuai kontrol otak, kira-kira sekitar 5 menit yang lalu bel pulang berbunyi dan tentu saja ia harus segera kembali ke rumah sebelum hari mulai gelap, ia masih ingat betapa mengerikannya kejadian 4 tahun lalu dan demi apapun ia tak ingin mengulang kejadian tersebut. Jangankan untuk mengulang, untuk mengingatnya saja membuat hati Yoonjoo berdenyut ketakutan.

Jarum arloji di tangan kirinya menunjukkan pukul 3 lebih 5 menit, hari ini ia bisa pulang lebih awal karena tak ada bimbingan belajar yang biasa di terima siswa kelas 12 dan ia bersyukur karenanya. Setiap ada jadwal bimbingan belajar hingga larut malam, hatinya selalu di selimuti kekhawatiran, ia takut kalau-kalau gerombolan itu tiba-tiba muncul di depannya. Yoonjoo mengeluarkan ponselnya yang bergetar hebat, sebuah nama terpampang jelas di sana, itu seseorang yang di sebutnya sebagai bibi walau pada kenyataannya mereka tak mempunyai hubungan darah sama sekali, ada cerita panjang tentang kenapa Yoonjoo bisa tinggal bersama ‘bibi angkatnya’.

“Yeoboseyo” Ucap Yoonjoo segera setelah benda persegi tersebut menempel di telinganya

“Nona muda, jangan pulang ke rumah dulu, paman mu ada di sini”

Yoonjoo mendesah pelan, lagi-lagi malam ini ia harus tidur di rumah sauna. Sungguh suatu kebodohan jika ia masih bersikeras pulang di saat pamannya tahu keberadaannya.

“Arraseo” Ucap Yoonjoo yang kemudian di ikuti suara telpon terputus

Yoonjoo memasukkan ponsel miliknya kembali ke dalam saku dan mengangkat wajah. Tepat saat kepalanya terangkat, matanya menangkap siluet seorang pemuda yang sangat di kenalnya. Sosok pemuda itu nampak tak terlalu jelas di matanya karena efek silau matahari yang memantul di tubuh pemuda tersebut namun Yoonjoo sudah tahu betul siapa orang itu. Untuk sekitar 1 menit, Yoonjoo berdiri kaku, ia merasa kakinya tak bisa bergerak sebelum kilasan memori dimana pemuda tersebut terlibat selesai berkelebat di benaknya. Pemuda yang sedang berdiri di samping motornya itu, pemuda berambut coklat keemasan dan berkemilau terbias sinar matahari itu, pemuda dengan rahang tegas dan tatapan dalam itu, Yoonjoo mengenalnya, sangat mengenalnya setidaknya sampai saat itu, saat di mana ia kehilangan semuanya. Sekarang keadaan berbalik menjadi Yoonjoo yang justru tak mau mengingat apapun tentangnya dan hal yang mengikutinya, apapun itu, sekecil apapun.

Tepat pada detik ke 75, pemuda tersebut menoleh membuat benang yang menghubungkan pandangannya dengan pandangan Yoonjoo. Mereka berdua bertemu pandang dan saling memasangan ekspresi yang sama, ekspresi keterkejutan.

“Yoonjoo…” guman pemuda tersebut, badannya berdiri tegap, matanya memandang lurus ke arah Yoonjoo

Tepat saat pemuda tersebut hendak melangkahkan kaki menghampiri gadis yang sudah lama tak di lihatnya itu, sebuah tangan menghentikkannya dan dalam sekali kedipan, Yoonjoo sudah tak lagi dalam pengawasannya.

“Oppa…kau mau kemana?”

Sehun menoleh dan mendapati Heejin yang sedang menatapnya bingung. Jujur ia hendak berlari mengejar Yoonjoo tapi ia juga ingat tujuannya kemari adalah untuk menjemput Heejin dan gadis itu sudah ada di sini, bukankah akan aneh jika ia tetap berlari pergi? Dan lagi ia harus menjelaskan bagaimana pada Heejin? Lebih baik diam dan kembali ke tujuan awal ia ke Junsang.

“Oppa kau mendengarku?”

“Maaf, ayo kita pulang”

“Pulang?”

Sehun menatap wajah Heejin yang di penuhi kebingungan. Apa ia salah bicara? Bukankah ia memang ingin mengantar Heejin pulang?

“Iya, memangnya apalagi?” Sehun bertanya balik

Heejin menggeleng pelan “Tidak ada. Ayo”

Segera setelah Heejin naik dan melingkarkan tangan di pinggangnya, Sehun melaju dengan kecepatan yang awalnya normal menjadi di atas dari rata-rata. Matanya konsisten memandang ke depan, tidak seperti pikirannya yang berlarian kemana-mana. Ia terus merutuk dalam hati, gadis itu, gadis itu selalu bisa membuat pikirannya kacau dan hatinya kalut seperti sekarang. Selama 20 menit lamanya ia melesat melewati lalu lintas kota Seoul menuju sebuah perumahan, pikirannya tak kunjung jernih dan masih tersesat entah dimana hingga saat motornya berhenti di depan sebuah rumah yang menjadi tujuannya pun, ia masih tak bisa mengembalikan akalnya ke keadaan semula.

“Sepertinya kau memang lupa janjimu” Ucap Heejin sambil melepaskan helmnya, ia sungguh tak mengerti ada apa dengan Sehun hari. Pemuda itu terlihat benar-benar aneh.

“Janji?”

Heejin menghela nafas berat “Pulanglah oppa, kau agak linglung hari ini mungkin karena kurang istirahat” Heejin mengembalikan helmnya lalu pergi meninggalkan Sehun yang masih setengah terbengong dan tak benar-benar sadar apa yang baru saja terjadi

“Janji?” Gumam Sehun pada dirinya sendiri sebelum akhirnya ia mengumpat sambil menendang knalpot motornya “Bagaimana bisa aku lupa kalau hari ini aku akan mengajak Heejin ke kafe Luhan hyung?! Bodoh!”

Ia tak bisa begini, ia sungguh harus segera mengusir rasa penasaran yang berjubal di dalam kepalanya dan ia tahu harus pergi kemana untuk dapat semua jawaban yang ia butuhkan. Jawaban tentang sejak kapan Yoonjoo bersekolah di Junsang? Bagaimana bisa ia tidak tahu sama sekali? Lalu apakah Yoonjoo memang sudah lama kembali ke Korea?

Sehun melesat dengan kecepatan tinggi menuju sekolahnya, ia harus menemui seseorang dan menanyakan banyak hal. Hanya di perlukan waktu 15 menit untuk sampai di Shinhwa International High School, tak mengherankan jika mengingat kecepatan Sehun yang mencapai 120 km/jam. Segera setelah memarkirkan motornya, Sehun berlari pelan menuju ruang musik yang terletak di lantai 3 gedung sekolahnya. Ia yakin orang yang ingin di temuinya masih ada di sana dan benar saja, setelah 3 menit berlari menaiki tangga, Sehun bisa melihat orang itu berdiri dengan tangan memegang biola.

“Lee Sora” Panggil Sehun dengan nafas terengah

“Kau? Ada apa?” Balas seseorang bernama Lee Sora itu dengan nada bicara yang sarat ketidaksukaan

“Yoonjoo….”

“Yoonjoo?” Sora menaikkan alisnya lalu tertawa dingin “Jangan menyebut namanya lagi Oh Sehun”

“Sejak kapan dia ada di Korea? Kenapa kau tidak memberitahuku sama sekali?”

“Memberitahumu? Untuk apa? Agar kau bisa menghancurkannya seperti ayahmu menghancurkan keluarganya?” Sora mendekat ke arah Sehun, ia bisa melihat pemuda itu terkejut karena ucapannya “Tak usah memamerkan wajah terkejutmu, aku tahu kau pasti belum lupa tentang masa-masa itu”

“Aku tidak ingin membahas itu sekarang, yang aku tanyakan adalah sejak kapan Yoonjoo ada di Korea?”

“Memangnya apa urusanmu?” Tantang Sora sambil menatap tepat di mata Sehun “Kau bertanya seperti ini pasti karena kau sudah melihatnya tapi akan lebih baik kalau kau melupakan apa yang kau lihat”

“Aku ingin menemuinya, aku benar-benar ingin menemuinya” Balas Sehun

“Untuk apa? Tidakkah kau sadar kalau dengan melihatmu hanya akan membuat Yoonjoo menderita?” Sora menaikkan nada suaranya

“Itulah kenapa aku bertanya padamu dimana dia sekarang! Aku sedang mencoba memperbaiki kesalahan masa lalu!” Jawab Sehun tak kalah nyaring, kini rahangnya benar-benar mengeras sempurna

“Bagaimana caramu melakukannya? Apa kau berniat membuat ayahmu hancur? Kurasa kau belum seberani itu Oh Sehun”

Sora merapikan biola miliknya lalu bersiap pergi. Ia sama sekali tak berniat meladeni Sehun atau membiarkan pemuda itu melakukan sesi wawancara pada dirinya.

“Oh ya, suatu saat nanti jika kau memang benar-benar berniat membuat ayahmu hancur, aku akan dengan senang hati memberitahukan dimana Yoonjoo tinggal. Untuk sekarang, kau cari tahu saja sendiri, semoga berhasil Oh Sehun”

Sehun tak berteriak marah karena memang semua ucapan Sora adalah benar. Jika memang ia mau memperbaiki kesalahan di masa lalu, ia harus lebih dahulu rela melihat ayahnya hancur, apa ia bisa? Jawabannya tentu tidak, tak ada anak yang suka melihat orang tuanya hancur dan menderita namun bagaimana dengan gadis itu? Gadis yang sudah hampir 5 tahun pergi dari pandangannya itu kini kembali lalu apa yang bisa ia lakukan untuk membalas kesalahannya? Ia masih ingat betul bagaimana masa sulit yang di lalui gadis itu tapi kembali lagi pada masalah utamanya yang mengatakan kalau ayahnya adalah salah satu orang yang harus ia khianati jika memang mau memihak pada Yoonjoo.

 

To Be Continue…..

 

Terima kasih untuk semua kritik saran dan maaf saya gak bisa membalas komentar readers satu persatu *bow. Terima kasih untuk selalu membaca kelanjutan FF rumit amit-amit ini.

Iklan

58 pemikiran pada “Thorn of Love (Chapter 7) – Memories

  1. Hahhhhhhh ada fakta baru..ap hubungan yoonjoo sehun dlu..trus maksud kehilangan semuax it dlm bentuk ap..harta?keluarga?
    Ahhhh mkin penasaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s