Fairytale Love (Chapter 1)

Fairytale Love (Part 1)

 IMG_5703

 

 

Author : Carla 蓝梅花 (@babycarl308)

 

Rate     : G

Length : Chaptered

Genre   : Romance, Songfic

Cast: EXO-M Luhan / Xi Lu Han

APINK Naeun / Son Naeun

Support cast: Find by yourself

 

Hello~ I’m back with my new FF titled ‘Fairytale Love’! Di bulan Mei ini,ada satu ide bermunculan di otakku. Aku bakal bikin project EXOPINK FF Series, jadi dimulai dari FF ‘So Long’ yg kemarin itu dan disambung sama ini dan seterusnya. Semua member EXO-M di pair ke APINK. What do u think? ><kkk~ kita liat aja ya kisah mereka gimana hehehee. Lagi-lagi judul FF ini dan isi ceritanya terinspirasi dari lagu APINK di 4th Mini Album ‘Pink Blossom’ dengan sedikit perubahan^^. Okay then, ga usah banyak omong lagi. . .

Enjoy your imagination and Happy reading ^^)/ ❤

 

P.s : Read, Comment, Like and SHARE! DON’T COPY W/OUT PERMISSION!!! This FF only published at Carla’s Little Trinkets and EXO Fanfiction on WordPress!

 

 

Music :APINK – Fairytale Love~ ♪♫

“The love that I learned for the first time was all about fluttering feelings”


~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

 

 

 

Aku merenggangkan semua otot-ototku yang terasa kaku, menggerakkan leherku ke kanan ke kiri dan mengusap-usap mataku guna menghilangkan semua kabut yang seakan menghalangi pandanganku.

Aku tersenyum saat membuka tirai kamar dan melihat matahari yang bersinar menyapa selamat pagi padaku dengan riangnya.Waktunya memulai hari baru, Son Naeun.Ujarku pada diri sendiri.

 

Kulangkahkan kakiku keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Kuraih termos air hangat dan menuangkannya ke dalam gelas lalu meminumnya habis sekali teguk. Kruk kruk. Suara monster-monster di perutku mulai memanggil untuk diberi makan. Aish. Apa yang harus kubuat ya pagi ini.Kuketuk-ketukkan jari ke meja sambil berpikir.

 

Ah! Geurae! Sepertinya English breakfast dan coklat panas untuk sarapan adalah ide yang sangat bagus. Aku tertawa sekilas dan mulai menyiapkan semua bahan-bahan untuk membuat English breakfastlalu mulai memasak sosis, telur, dan beanserta memanggang roti di atas penggorengan.

 

Sambil menunggu, aku membuat coklat panas dan mengambil marshmallow lalu meletakkannya di atas coklat panas itu.Kuseruput sekali dan mulai merasakannya dengan lidahku. Omo! Ini enak sekali.

 

 

Drrtt.. Drrttt…

 

 

Suara apa itu? Kutengok handphone-ku dan melihat tulisan di layarnya.

 

Chorong eonni : ‘Naeun-ah! Apakah ada waktu untuk jalan-jalan?Aku dan Bomi akan menunggumu jam 11 siang ini di restaurant tempat biasa kita berkumpul, ne? Kalau kau bisa, bilang saja.Kami menunggumu~ annyeong chuJ!’

 

 

Aku terkikik geli saat membaca pesan dari Chorong eonni.Chorong eonni dan Bomi eonni, mereka adalah teman baikku di tempat les vocal dan juga les dance. Mereka sangat perhatian padaku dan telah menganggapku sebagai dongsaeng mereka sendiri.Tanpa banyak menunggu lagi, aku membalas pesan singkat Chorong eonni dan mengirimnya kembali.Disebut apakah ini? Girls date di hari libur? Aigoo~mana mungkin aku melewatkannya?Ini juga sudah lama sejak terakhir kami bertiga jalan bersama.

 

 

Beberapa menit setelah aku membalas pesan Chorong eonni, English breakfast untukku telah siap dan langsung kusajikan di meja berserta coklat panas dengan marshmallow. Aku sangat menikmati sarapan pagiku hari ini, terasa nikmat dan beda dari hari-hari sebelumnya. Sesekali kuteguk coklat panasku dan uh jinjja! Rasanya sangat kontras dan cocok dengan English breakfast nya. Neomu massiseoyo~!

 

 

 

Ting! Ting!

 

 

 

Tsk! Mengganggu sarapanku saja. Ige mwoya? Kulirik handphone ku dan benar saja, aku menemukan sebuah pesan Kakao Talk dari Luhan gege. Camkamman. Luhan?! Ada apa dia menyapaku setelah sekian lama ini? Aneh.

 

 

Kubuka pesannya dan terbelalak kaget saat membaca apa isi pesan itu.

 

 

‘Naeunnie, neo jaljinaeseo?Kau ada waktu hari ini?bisakah kita bertemu? Bogoshippeo~’

 

 

Dia…merindukanku? Mustahil! Tapi, mana mungkin aku menolaknya? Teman masa kecilku yang pernah mengajarkan apa artinya menyukai seseorang dan membiarkan aku mengerti kalau cinta itu sungguh indah. Sejujurnya, aku juga merindukannya.

 

 

‘Oppa! Na jaljinae kkk~ nado bogoshippeo! Oh bertemu? Boleh, bagaimana kalau di restaurant Korea di daerah Gangnam? Kebetulan aku dan teman-temanku akan makan siang bersama. Otteyo?’

 

 

2 menit setelahnya, kulihat dia telah membacanya. Dan sepersekian detik kemudian balasan pun datang.

 

 

‘Geurom, sampai bertemu disana!’

 

 

Huft. Jantungku berdetak lebih cepat setelah akhirnya sadar kalau hari ini aku akan bertemu dengan Luhan gege. Cepat-cepat kuhabiskan sarapanku lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh serta berdandan yang rapi, serapi mungkin. Naeun-ah, fighting!

 

 

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

 

 

Hah~ akhirnya. Sekarang aku sudah ada di dalam bus dan akan pergi menuju daerah distrik Gangnam dimana disana Chorong & Bomi eonni sedang menungguku untuk makan bersama. Oh! Jangan lupakan juga Luhan gege yang juga ingin bertemu denganku.

 

Hng, geurae. Aku baru ingat, apakah Chorong & Bomi eonni akan marah jika aku mengajak orang lain tanpa memberitahu mereka terlebih dulu? Eoh tapi mana mungkin? Tidak tidak. Mereka pasti tidak akan keberatan.

 

Aku mengalihkan pandanganku ke jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku guna memastikan jam berapa sekarang ini. Setengah 11. Baguslah, aku berangkat lebih awal karena rumahku agak jauh dari Gangnam.Mudah-mudahan aku tidak telat. Hft.

 

Bosan sekali di bus ini.Dentuman musik sedikitpun juga tidak ada.Kuputuskan untuk mengambil handphone ku, mencolokkan earphone nya lalu menempelkan ke telingaku dan mulai menyetel lagu jazz. Ah~ begini kan lebih baik. Tanpa sadar, bibirku tertarik keatas membentuk sebuah senyuman. Kulihat pemandangan kota dari kaca jendela dan sesekali mulutku bergumam ikut menyanyikan lagu yang sedang kudengarkan ini. Sungguh, hatiku terasa sangat senang dan bahagia.

 

Tiba-tiba kurasakan bus yang kutumpangi berhenti di depan sebuah halte dan sontak saja aku mengecek sudah dimana aku sekarang. Oh, masih beberapa halte lagi yang harus dilewati. Kalau aku sampai kelewatan bisa bahaya!

 

Dari halte ini tidak banyak orang yang naik ke dalam bus. Hanya yeoja-yeoja muda, dan 2 orang eommonim, dan seorang namja. Merasa tidak penting untuk diperhatikan, aku mulai menempatkan diriku lagi untuk mendengarkan lagu yang masih mengalun indah di telingaku.

 

 

BUGH

 

 

Kurasakan tempat dudukku sedikit bergerak akibat ada seseorang yang duduk di sebelahku. Seseorang? Refleks aku melihat ke samping kananku dan… “Hei, Naeunnie?” seorang namja tersenyum manis kepadaku dan setelahnya ia menyandarkan punggungnya ke belakang sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Camkamman. Namja ini…siapa?Apa aku tidak salah dengar tadi? Dia menyebut apa? Naeunnie? Bahkan dengan telinga tersumpal pun kata-kata itu masih terdengar jelas untukku.

 

Langsung saja kucabut earphone yang menyumpal lubang telingaku lalu mulai mengarahkan badanku untuk duduk menghadapnya. “K-kau… siapa? Kau mengenalku?” tanyaku takut-takut sambil mencoba menebak wajahnya.

 

Ia melirikku dengan ekspresi kaget dan aku juga sedikit memundurkan badanku dan ikut terkaget. Mwoya?

 

“Neo?!… kau lupa denganku?” ia bertanya padaku sambil mengarahkan telunjuk kanan nya ke arah wajah nya yang putih bersih itu.

 

“Memangnya aku pernah mengenalmu?” kukedipkan mataku berkali-kali.Sungguh, ini aku yang lupa atau dia yang salah orang?

 

“Tsk, aigoo! Kau ini. Ini aku, Luhan gege kesayanganmu, Naeunnie!”

 

“L-luhan ge?”

 

“Hey, hey. Sadarlah! Memangnya aku jadi seperti apa sampai kau lupa padaku begini?” ia menepuk-nepuk pipiku sambil tertawa renyah.

 

“Omo! K-kau, sangat berbeda, gege! D-dan k-kenapa kau bisa ada di bus yang sama denganku sekarang?” oh Tuhan, tolong sadarkanlah aku. Kenapa jadi bodoh begini? Aish.

 

“Takdir, mungkin? Ah, jadi bagaimana kabarmu?”

 

“T-takdir? Uh-oh, a-aku, baik. Sangat baik. Gege bagaimana?” gugup gugup gugup.Aku sungguh gugup.Jujur, aku belum siap mental untuk berpapasan dengannya dan mengobrol sedekat ini seperti dulu.Kukira tak secepat ini bertemunya. Tapi…

 

“Kalau kau baik aku juga baik. Hanya masih merasa jetlag karena kemarin aku baru sampai Korea,”

 

“Dari China?”

 

“Tentu,”

 

Kuanggukkan kepalaku sambil membentuk huruf ‘O’ pada mulutku tanda mengerti apa maksud perkataannya.

 

“Kenapa kau balik ke Korea?”

 

“Memangnya tidak boleh?”

 

“A-ani, bukan begitu maksudku. Hanya saja, apakah kau ada perlu kesini?”

 

“Geurae, untuk menjengukmu,” lagi, aku dibuatnya terbelalak kaget dan speechless, tidak mengerti harus bicara apa lagi. Aku?  Sebagai alasannya kembali ke Korea? Mustahil!

 

“Berapa lama kau disini, gege?”

 

“Entahlah, aku belum tahu. Jadwal kuliahku sedang libur, ya sudah lebih baik aku kesini,” Luhan getersenyum manis lagi padaku dan sedikit berdehem.

 

Diam. Suasana diam kembali. Aku hanya sibuk dengan berbagai pertanyaan apa yang harus kulempar kepadanya. Sedangkan dia? Dia hanya duduk manis sambil melihat-lihat keluar jendela dan ketika aku meliriknya, ia juga melirikku. Ish! Sungguh aku benci situasi aneh seperti ini.

 

“Ada apa kau melirikku seperti itu? Kita sudah sampai, hm.”

 

“H-hah? Sudah sampai?” tanpa menjawab pertanyaan bodohku yang kesekian kalinya, ia menggapai tanganku, menariknya untuk turun dari bus. Aku hanya pasrah dan mengikuti tarikan tangannya hingga sampai di jalan raya.Semilir angin sejuk berhembus menyambutku dan dia. Aku tersenyum dan tanpa sadar, aku masih merasakan tangannya yang menggenggam tanganku erat.

 

“Oppa,” panggilku lembut padanya sambil berusaha menyamakan kecepatan jalanku dengannya.

 

“Hm? Waeyo?”

 

“Sudah berapa lama kita tidak bertemu?” ia menatapku dengan wajah berpikirnya.

 

“Berapa ya? Dari aku umur 18 ‘kan? Berarti sekitar, hmm, 6 tahun?”

 

“Ah? Jeongmalyo? Sudah lama sekali rupanya.Berarti aku mengenalmu waktu umur 12 tahun, ne?”

 

“Majjayo. Waktu itu kepalamu dengan bodohnya terkena bola sepak yang kutendang dan menangis teraduh-aduh,” pecahlah tawanya yang menggelegar keras, mengejekku.

 

“Ish, oppa! Kau ini. Yang itu tidak usah dibahas,” aku mengerucutkan bibirku sambil memukul pelan lengannya.

 

“Ahahaha mianhae, tapi itu ‘kan awal kita bertemu, bukan? Walaupun sedikit memalukan,” tangannya yang mulus mengacak pelan rambutku lalu meraih tanganku lagi untuk digenggam.

 

“Hei, restaurant mana yang kamu maksud? Aku tidak tahu daerah ini,” eoh, bodohnya aku. Karena terlalu asik mengobrol, aku sampai lupa apasebenarnya tujuanku ke Gangnam. Giliran aku yang menarik tangan Luhan ge dan mendahului jalannya.

 

 

“Naeun-a! Yeogiga!” teriak seorang yeoja yang suaranya sangat familiar di telingaku, langsung kulambaikan tangan padanya dan segera menghampiri mereka begitu juga dengan Luhan ge yang tangannya masih pasrah kutarik.

 

“Annyeong eonnideul~!” aku mengambil tempat duduk di hadapan Bomi dan Chorong unnie serta Luhan ge yang ikut duduk di sampingku.

 

“Eiy, Naeun-a. Namja ini… dia siapa?Tampan sekali!” bomi unnie memajukan wajahnya dan berbicara sepelan mungkin padaku, seperti berbisik. Aku terkekeh geli melihat Bomi unnie melirik Luhan ge dengan sedikit menyelidik.

 

“Geurae, ini Luhan oppa, dia sunbae ku sewaktu kecil. Oppa, mereka eonni-ku, ini Bomi eonni dan ini Chorong eonni,” aku mencoba memperkenalkan Luhan ge kepada dua orang eonni ku ini.

 

“Ah, bangapseumnida,” ucap mereka berbarengan dan saling tersenyum satu sama lain.

 

“Jadi, kalian teman lama?” Chorong eonni angkat bicara di tengah acara makan kami yang sedari tadi diam.

 

“Eung, geurom. Sewaktu itu bertemu dengannya, aku umur 12 tahun dan Luhan oppa berumur 16 tahun,”

 

“Jauh sekali umur kalian, eoh?”

 

“Pertemuan kami sungguh konyol,” jawabku dan Luhan oppa berbarengan. Sontak Bomi & Chorong eonni saling menatap dan tertawa.

 

“Kompak sekali,” ledek Bomi eonni sambil terus terkekeh.

 

“Konyol bagaimana maksud kalian?” Chorong eonni mencoba meluruskan lagi pembicaraan kami.

 

Aku dan Luhan oppa melihat satu sama lain untuk beberapa detik dan dia mengisyaratkan untuk aku yang bercerita. “Ya… konyol. Kau tahu eonni, aku sedang berjalan dengan tidak bersalah di pinggir lapangan sekolah dan tiba-tiba, sebuah bola sepak melayang bebas dan dengan indahnya kearah kepalaku dan–“

 

“Dan disitulah awalnya pertemuan kita. Awalnya aku tidak ingin membantu yeoja malang itu, namun aku merasa kasihan dan langsung membantunya,” Luhan oppa dengan tidak sopannya memotong kata-kataku. Kupukul pelan tangannya dan dia meringis kesakitan.

 

“Kalian bukan pacaran?” tanya Chorong eonni penasaran sambil mengarahkan garpu di tangan kirinya kearah kami bergantian, alisnya terangkat sebelah tanda ia sedang menyelidik. Dengan secepat mungkin, aku dan Luhan ge mengelak akan pertanyaan itu. Chorong eonni hanya mengangguk mengerti.

 

 

 

“Aigoo aigoo aigoo~ Naeun-ah! Kalian lucu sekali.Hanya dengan kejadian seperti itu bisa menjadi teman di masa kecil. Chorong eonni juga punya teman masa kecil, ‘kan? Sedangkan aku? Aku tidak punya masa kecil yang indah sama sekali dengan seorang namja,” curhat Bomi eonni dengan wajah memelas, ia mem-pout-kan bibirnya dan menghela nafas sedih.

 

“Kau terlalu cepat tua, Bomi-ya!Bahkan mengulang waktu ke masa kecil saja tidak mampu.Dan lagi, kau ini terlalu tomboy.Bahkan mengalahkan tomboy nya seorang namja. Jadi, mana ada yang berani mendekatimu, eoh.” Chorong eonni menepuk-nepuk pundak Bomi eonni dan kami semua tertawa sambil menunjukan ekspresi penuh kasihan.

 

 

“Ish, jinjja! Kalian menyebalkan,” keluh Bomi eonni.

 

 

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

 

 

“Naeun-a, kalian kalau ingin jalan-jalan berdua saja, aku dan Chorong tidak apa, kami berdua akan berbelanja atau lainnya. Eotte?” ujar Bomi eonni menawarkan setelah kami selesai makan.

 

“E-eung, bagaimana ya?” aku menggaruk pelan kepalaku yang tidak terasa gatal sama sekali. Jalan? Berdua dengan Luhan ge? Apakah dia mau?Aku meliriknya dan dia menganggukkan kepalanya, mengisyaratkan setuju pada usulan Bomi eonni.

 

“Y-yasudah, aku dan Luhan oppa akan jalan-jalan. Tapi kan eonni mengajakku bertemu dan jalan-jalan bersama, lalu aku-“

 

“Gwaenchana, nikmati saja waktu kalian. Aku dan Bomi akan menjelajah Seoul hari ini,” kekeh Chorong eonni.

 

“Geurom, kalau begitu kami pergi dulu ne, Naeun-ah! Luhan-ssi, jaga dongsaeng kami ne! Annyeong~” dengan gaya yang imut, Bomi eonni pamitan kepada kami sambil menarik tangan Chorong eonni keluar dari restaurant ini.

 

 

 

Lalu sekarang apa? Mereka meninggalkan aku dan Luhan ge. Berdua. . .

 

“Naeunnie!” Luhan ge menyentuh tanganku dan berhasil membuatku tersentak kaget.

 

“Ah! Ah… ah ya, k-kenapa?” tanyaku tergagap. Luhan ge tertawa seketika dan hampir menyemburkan air minum yang baru saja ia masukan ke mulutnya.

 

“Yah! Ge, kau kenapa ketawa? Apa yang lucu eh?” sentakku sambil melihat ekspresi anehnya.

 

“Ekspresimu barusan. . .buahahahahaha!” tawanya makin pecah dan aku memukul punggungnya pelan.

 

“Yak! Berhenti tertawa. Aku tidak mau disangka membawa orang gila kesini,” cibirku sambil mendengus sebal. Aku menangkup wajahku dengan kedua tangan.

 

“H-hey~ hahaha, Naeun-ah. Maafkan aku tapi tadi memang mukamu–“

 

“Cih, diamlah,”

 

“–eh, dengar dulu. Kau sudah memotong kalimatku saja.Mukamu lucu tadi, kau kaget dan linglung seperti itu. Neomu gwiyeowo.” Luhan ge menarik tangannya keluar, mencubit pipiku lalu mengusapnya sekilas.

 

“Naeun-ah, mau menemaniku jalan-jalan? Aku bosan eh.” Katanya sambil menyenggol lenganku dengan siku nya.

 

“Jalan kemana? Kau pikir aku akan mau setelah kau menertawakanku seperti itu?” aku masih egois dan cemberut.

 

Luhan ge sedikit berdecak lalu kemudian mendekat kepadaku. “Yah kau marah? Ayolah, aku hanya bercanda.” Ia mengangkat tangannya lagi untuk menepuk-nepuk pipiku secara perlahan.Bukannya luluh, rasa gengsiku malah mendominasi. Aku menepis tangannya dan melihat ke arah lain.

 

“Aish, yasudah. Ikut aku.” Luhan ge menarik tanganku paksa untuk berdiri dan beranjak pergi dari sini. “Y-yak! Oppa mwoya?!” teriakku tak terima.

 

 

 

~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~

 

 

Author POV

 

 

“Y-yah! Oppa, lepaskan! Kita mau kemana, eoh? Kenapa menarikku seperti itu?” Naeun seakan menyambit Luhan dengan tatapannya yang sedikit tajam.Yang ditatap bukannya takut, malah cengengesan.

 

“Ikut saja, kau pasti suka tempat ini.” ujarnya sambil tersenyum manis. Naeun menghela nafas panjang guna meredam emosinya lalu mengangguk, mengisyaratkan untuk ikut dengan Luhan. “Begitu ‘kan lebih baik.” Luhan terkekeh dan menggenggam tangan Naeun lagi. Mereka berjalan ke halte bus terdekat dan tanpa perlu menunggu lama, bus yang mereka akan tumpangi datang. Cepat-cepat mereka naik ke dalam bus itu dan duduk di bagian tengah­–tidak terlalu belakang ataupun tidak terlalu depan–.

 

Hanya memakan waktu 15 menit dengan bus, mereka sampai di tempat tujuan yang entah dimana ini. “Naeun-ah, ayo turun.” pinta Luhan sebelum akhirnya ia turun terlebih dahulu dari Naeun. Naeun melirik sekitar, menerka-nerka dimana sebenarnya ini.Ia menggedikkan bahunya tidak peduli lalu berjalan di belakang Luhan dan turun dari bus.

 

“Sebenarnya kita mau kemana?”

 

“Lihatlah ke sebelah kirimu,” gestur Luhan mengarah pada sebelah kiri yang ia maksud. Naeun kebingungan dan mengikuti arahan Luhan. Ia menoleh kesebelah kiri dan menemukan sebuah taman yang besar penuh dengan ratusan bahkan ribuan jenis bunga warna-warni nan indah dimana di dalamnya ada banyak yeoja memakai flower crown di kepala mereka dan banyak namja disana yang berpasangan dengan yeoja-yeoja itu.

 

“Festival bunga?” gumam Naeun. Matanya sedikit terbelalak, ia terpesona akan pemandanan menarik di depan matanya.

 

“Ya, bagaimana? Mau masuk?” Luhan tersenyum dan mengulurkan tangan kirinya untuk menggenggam tangan Naeun dan membawanya masuk ke dalam taman penuh bunga tersebut. Tanpa banyak menolak, Naeun mengangguk semangat lalu menerima uluran tangan Luhan dan mereka berjalan masuk kesana. Ekspresi senang terpancar di wajahnya sesaat mereka tiba di dalam taman itu.

 

“J-jinjja yeppeuda,” Naeun memandang sekitar dan senyuman bahagia terukir dan menambahkan kecantikan pada wajah putih mulusnya itu.

 

Seorang yeoja tiba-tiba datang menghampiri Naeun dan tangannya menggenggam sebuah flower crown. “Selamat datang di festival bunga, kalian berpasangan? Silahkan masuk ke dalam dan nanti di tengah taman kalian akan menemukan banyak pasangan lain yang berdansa. Kalau kalian mau kalian boleh ikut berdansa,” Yeoja itu mengangkat tangannya dan memakaikan flower crown di kepala Naeun. Sepersekian detik setelahnya, yeoja itu membungkuk layaknya pelayan jaman kerajaan di masa lampau. “Saya permisi. Selamat menikmati festival bunga.”

 

Naeun sedikit mematung sesaat setelah yeoja itu menjauh pergi. Apa katanya? Berpasangan? Dansa? Pertanyaan pertanyaan itu seakan menghantui pikiran dan benaknya.

 

“Tunggu apa lagi, nona. Ayo kita ke dalam,” Luhan menarik ujung bibirnya dan membentuk senyuman manis nan tulus lalu ia beralih kebelakang badan Naeun dan mendorongnya sedikit agar tidak mematung terus.

 

“O-oppa, apakah kita akan b-berdansa?” Naeun kelagapan setelah tiba ditengah-tengah taman dan dengan sigap, Luhan mengarahkan tangan kiri Naeun untuk menyentuh pundak sebelah kanannya, dan tangan kanan Naeun ia genggam dengan tangan kirinya. Luhan hanya mengangguk.

 

“T-tapi, aku tidak bisa dansa,” Naeun menggeleng gugup, dahinya semakin mengerenyit setelah mendengar musik dansa yang bertempo slow bergema diseluruh taman.

 

“Ikuti saja aku, kau akan suka nanti.” Luhan mulai menggerakkan kakinya ke kanan, kiri, depan dan belakang dengan tempo yang konstan mengikuti irama musik tersebut. Naeun yang awalnya gugup, lama kelamaan mulai terbiasa dan ia terkekeh geli akan kenyataan kalau ia ternyata juga bisa berdansa.

 

“Oppa, ini menyenangkan!” serunya sambil tertawa dan memperlihatkan deretan gigi putih bersih miliknya.Ia sedikit mendongak untuk menatap Luhan dan Luhan menatap Naeun.

 

“Sudah kubilang ini menyenangkan, bukan?” tanggap Luhan sambil mengerlingkan sebelah matanya.Seringaian tiba-tiba terukir di bibirnya.

 

Ia mulai melepaskan tangan kiri Naeun dari pundaknya, memutarkan tangan kirinya yang menggenggam tangan kanan Naeun diatas kepala Naeun lalu memutar badan yeoja mungil itu dan dengan sigap Luhan menangkap pinggang Naeun sebelum Naeun terjatuh ke tanah.

 

Mata Naeun terbelalak menerima serangan mendadak seperti itu.Sekarang, posisi badannya menumpu di tangan kanan Luhan.Wajah mereka hampir dekat, Luhan mendengar nafas Naeun yang tersengal.

 

“O-oppa,” Naeun tergagap saat Luhan mulai memajukan kepalanya, menghapus jarak di antara mereka. Naeun memejamkan matanya, ia seakan tahu apa yang terjadi setelah ini. Dengan penuh keberanian, Luhan mendaratkan ciuman di kening Naeun.Kecupan itu lembut dan penuh arti di baliknya. Arti?

 

Ciuman itu berlangsung lama, semua orang yang melihat mereka disana bertepuk tangan meriah dan melemparkan ratusan helai bunga berwarna-warni keatas mereka.

 

Luhan menjauhkan kepalanya dan menatap Naeun yang perlahan-lahan membuka matanya.Luhan tersenyum dan Naeun membalas senyuman itu pula.

 

“Maukah kau menjadi yeojachinguku?” seru Luhan sedikit lantang namun lembut–ia ingin semua orang disana mendengar– masih dengan posisinya yang menumpu badan Naeun. Naeun yang sedari tadi tersenyum, tiba-tiba ekspresinya berubah menjadi ekspresi kaget, tidak percaya dan speechless.Semua orang disekitar mereka langsung hening, memasang telinga mereka untuk mendengar jawaban Naeun.

 

“O-oppa a-aku,” Naeun tergagap. Semua orang disekeliling mereka bersorak, ‘terimalah!! Terima!’.Naeun menatap orang-orang asing itu dan kembali menatap Luhan yang masih menanti jawabannya.Hatinya bergetar, darahnya seakan berdesir.

 

‘Ayolah, kau harus mengakui kalau dulu kau menyukai Luhan.Dan sampai sekarang masih, bukan?Ini kesempatanmu, Son Naeun. Terimalah, atau kau akan menyesal.’ hati nuraninya angkat bicara, membuatnya seratus kali lipat lebih bingung daripada sebelumnya. Tapi, hati nurani itu singkatnya ingin menjawab ‘ya’, bukan?

 

 

Apakah ini mimpi?Bagaimana bisa keadaan seperti layaknya dongeng ini terjadi sekarang, saat ini juga, dihidupku?Naeun membatin dan matanya mengerjap beberapa kali.‘Naeun-ah, terimalah.’

 

 

Ia menarik nafas panjang sebelum bibirnya terbuka untuk mengucapkan sesuatu. “Ya, aku mau.” Jawab Naeun sama lantangnya dengan Luhan tadi. Semua orang disana yang tadinya hening, kembali bersorak lebih meriah dan bertepuk tangan.Luhan dengan cekatan menarik tubuh Naeun lalu memeluknya.Mendekapnya dengan hangat, membelai rambut panjang berwarna coklatnya yang terurai bebas dengan penuh sayang.

 

Matanya terpejam dan semakin mengeratkan pelukannya pada Naeun.Naeun perlahan-lahan menerima dan membalas pelukan itu. Kedua tangannya melingkar di pinggang Luhan, kepalanya ia sandarkan di dada namja yang baru saja menyatakan perasaannya. Bukan, lebih tepatnya yang sudah resmi menjadi kekasihnya.

 

Pelukan itu merengkuhnya dengan hangat dan perlahan-lahan terlepas. Luhan menangkup kedua pipi Naeun dan menempelkan kening mereka setelah ia mengecup bibir mungil Naeun.

 

 

 

 

‘Aku terbangun dari mimpi.Hatiku terbuka dan mencoba menerimanya.Tangannya menggapai tanganku dan membawaku ke negeri dongeng yang damai, hanya kami berdua disana. Ia merengkuhku ke dalam pelukan hangat, tidak akan terpisah dan tidak akan pernah terlepas. Fairytale love. Cerita kami, dimulai. . . . .’

 

 

 

 

TO BE CONTINUED

20 pemikiran pada “Fairytale Love (Chapter 1)

  1. YAK DAEBAK!! FF nya kerennnnn. ditunggu chapter selanjutnya ya Thor^^ dan kalau boleh saran, next chapternya dimuncul BaekMi couple yaa Thor hehe kamsha:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s