The Chase (Chapter 2)

The Chase 

qzawoy3mx40ek0j4g

 

title: THE CHASE

author: EL (@chrscyn)

co-author: kxanoppa (@berty5192)

cast: all EXO members

rate: general

genre: fantasy/supranatural, adventure, alternative universal, bromance, tragedy, mystery

lenght: chapter

poster: Jungryu14

a/n: penggunaan nama tempat, istilah, nama-nama tokoh kami ambil dari game grand chase. tapi untuk jalan cerita, alur, penokohan semua murni hasil pemikiran kami selaku authors. so please don’t do such plagiarism. hargai karya kami ini, no copy, no bash. please RCL and suggestions are sure welcome J

TrailerPrologChapter 1

 

+++

 

{Chapter 2}

 

Setelah memberitahu ayah angkat dan juga saudaranya, Tao pun segera bersiap dan berpamitan pada keluarganya itu setelah mendapatkan persetujuan dari mereka.

“Bukankah ini yang kau inginkan? Tidak perlu menutupinya, aku tahu tentangmu lebih daripada dirimu sendiri, Tao!” ujar ayah angkatnya itu dengan senyum bangga. “Pergilah, dan kembalilah dengan selamat sebagai seorang fighter yang sesungguhnya,” lanjut pria yang tidak lagi muda itu.

Tao menatap ayahnya intens sebelum kemudian memeluk pria tua itu dengan erat dan mengucapkan “Terima kasih, ayah. Aku janji akan kembali dengan selamat dan membuat kalian bangga.”

Xiao yang masih berusia 7 tahun hanya bisa melihat pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia sedih mengetahui kakak kesayangan yang selalu menjaganya akan pergi meninggalkan rumah.

“Apakah Tao-ge akan pergi untuk waktu yang lama?” tanya Xiao dengan suara serak.

Tao berjongkok untuk bisa menyamakan tingginya dengan Xiao, sebelum akhirnya mengusap dan mengacak rambut Xiao penuh sayang.

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Xiao. Aku akan selalu ada bersamamu,” jawab Tao lembut. “Di sini,” lanjutnya dengan telunjuknya yang mengarah di kening Xiao. “Dan juga, di sini,” ucapnya lagi dengan telunjuknya yang kini mengarah di tengah-tengah dada Xiao.

“Aku akan selalu bersamamu. Di pikiran dan hatimu, Xiao,” jelas Tao lalu memeluk adik kecilnya itu. Xiao balas memeluk Tao dengan erat, kemudian mengusap airmatanya begitu melepaskan pelukannya.

Saat itu juga, Tao telah memantapkan hatinya untuk bisa ikut bergabung bersama kelompok elite EXO CHASE, dalam misi mereka untuk menemukan dan menghentikan raja kegelapan—Kaze.

 

+++

 

Kelompok elite EXO CHASE kembali berkelana hingga sampai di perbatasan wilayah Serdin. Secara keseluruhan tempat itu hanyalah sebuah jalan, kanan kirinya hutan. Jalan itu adalah penghubung wilayah Serdin dengan wilayah Kanavan yang sebelumnya melewati desa-desa kecil. Jalan itu sering dilewati oleh para perantau, namun saat itu, jalan tampak sangat sepi. Tao yang tidak begitu mengerti tentang tempat tujuan hanya bisa diam.

“Tao, kau tidak harus secanggung itu,” ucap Baekhyun yang sedikit kesal karena Tao sama sekali tak bersuara semenjak memulai perjalanan.

“Aku tidak pernah berkelana sampai sejauh ini. Hal ini sangat asing bagiku,” ucap Tao kemudian.

“Kalau begitu, kau bisa menanyakan apapun padaku. Tidak perlu sungkan. Karena kita adalah satu tim,” balas Baekhyun dengan senyum cerahnya.

“Terima kasih, Baekhyun. Sebenarnya kemana tujuan kita yang pasti?” tanya Tao setelah yakin untuk menanyakan hal itu pada Baekhyun.

“Ah, tujuan kita adalah ke hutan Reisner. Hutan tersebut berada di belakang bukit yang ada di Kanavan. Kaze berada di sana, itu adalah perkataaan ratu Serdin. Sebenarnya, aku tidak terlalu percaya karena menurut penerawanganku, Kaze tidak berada di sana saat ini,” jelas Baekhyun, mengingat ia adalah penyihir hebat, jadi dia bisa menerawang tempat yang jauh.

“Tapi, Baekhyun, banyak bukti-bukti dari penduduk Kanavan bahwa di sana terjadi banyak kejanggalan. Kejanggalan yang dibuat oleh.. siapa lagi kalau bukan Kaze!” timpal Chanyeol yang secara tiba-tiba menembakkan panahnya ke arah belakang.

“Argh!” rintih sesosok goblin yang telah terhunus oleh panah milik Chanyeol.

Merasa ada keributan di belakangnya, Kris menghentikan langkahnya dan menoleh. Ternyata, di belakangnya terdapat goblin dengan jumlah yang lebih banyak dari mereka.

“Ini adalah perbatasan yang sangat aman. Bagaimana bisa ada goblin di sekitar sini? Darimana mereka datang?” tanya Kris sementara Baekhyun, Chanyeol dan Tao sudah bertarung melawan goblin-goblin itu.

Kris hendak mengeluarkan pedang dari sarungnya, namun ia kalah cepat dengan goblin-goblin yang sudah berada di belakangnya yang hendak menyerang.

“Kris! Awas!”

Suara pedang yang mengenai permukaan kulit goblin-goblin itu terdengar begitu berisik. Dengan sekali tebas, goblin-goblin itu sudah terkapar tak bernyawa. Baekhyun, Chanyeol dan juga Tao begitu terkejut melihat hal itu.

“Siapa.. kau?” tanya Baekhyun yang masih terkesima melihat sosok pemuda yang bahkan lebih pendek darinya bisa membunuh goblin-goblin itu dalam hitungan sepersekian detik.

Pemuda itu telah menyelamatkan Kris dari serangan goblin-goblin yang menggila. Ia pun menoleh ke sumber suara—Baekhyun—yang menanyakan siapa dirinya.

“Aku? Aku adalah seseorang yang bisa menyadari keberadaan demon dari radius 10 kilometer. Jelaskan, siapa dari kalian yang merupakan demon?” ucap pemuda itu seraya memasukkan pedangnya ke dalam sarung.

Demon? Aku adalah seorang elf,” jawab Chanyeol ketika dipandangi oleh pemuda itu dengan tatapan menuduh.

Kris masih terdiam di tempatnya, ia melihat semuanya tanpa membuka rahangnya sama sekali. Ia menatap pemuda itu, terlebih pada pedang yang sedikit mirip dengan pedang miliknya.

Pemuda itu menyeringai ketika melihat Kris sekilas. Kris yang fokus memandangi pedang miliknya.

“Baiklah, aku tidak punya waktu untuk berbicara dengan bocah seperti kalian. Aku harus segera mencari demon itu dan juga Kaze. Selamat tinggal!” ucap pemuda itu sebelum pergi dengan berlari. Bahkan larinya sangat cepat melebihi Tao.

“Siapa yang kau sebut bocah?! Dan, tunggu! Kau bilang Kaze?!” panggil Baekhyun, namun tidak mungkin pemuda itu akan kembali.

Baekhyun beralih menatap teman-temannya, “Kalian tidak apa-apa? Tidak ada yang terluka?” tanyanya.

Tao hanya mengangguk, sementara Chanyeol menjawab seraya mengembalikan busur panahnya pada tempatnya semula—di punggungnya. Baekhyun kemudian melihat Kris yang masih seperti patung.

“Hei, alis tebal. Kau benar-benar pahlawan,” lanjut Baekhyun menyindir.

“Maaf, aku hanya sangat terkejut dengan serangan dadakan tadi,” ucap Kris pada akhirnya.

“Kau benar-benar pemimpin yang hebat!” balas Baekhyun lagi.

“Kenapa kau berbicara seperti itu padaku?! Bukankah aku sudah minta maaf?!” emosi Kris meledak begitu saja.

Semuanya terdiam mendengar kemarahan Kris. Chanyeol memberi isyarat pada Baekhyun untuk mengakhiri perdebatan itu. Tao pun memikirkan cara untuk segera mencairkan suasana yang sangat tidak ia sukai selama hidupnya.

Well, well. Maaf. Sepertinya semua ini salahku?” sahut seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka semua.

Tak bisa dipungkiri bahwa mereka semua terkejut melihat seseorang yang manyahut itu. Bahkan pakaiannya sangat aneh. Perbedaan sangat terlihat jika dibandingkan dengan manusia.
“Hei, ayolah, jangan menatapku seperti itu.”

“Apakah kau demon?” tanya Chanyeol to the point.

Yang ditanyai seperti itu tampak bingung harus menjawab apa, “Okay, kuakui, aku adalah demon. Akulah yang memanggil goblin-goblin itu untuk datang kemari. Awalnya aku menyuruh mereka untuk menyerang pelayan istana yang terus saja mengikutiku, tapi, aku lupa kalau goblin-goblin itu bodoh, tidak bisa menjalankan perintahku dengan baik,” jelasnya panjang lebar.

Tiba-tiba muncul sosok yang sama seperti demon itu di sebelahnya. “Tuan, aku mohon, kembalilah ke istana,” pinta sosok itu, sosok pria paruh baya dengan pakaian pelayan kerajaan, penampilannya sudah tidak baik—penuh memar di sekujur tubuhnya.

“Pergi, Jeeves!” usir demon itu tanpa belas kasihan.

Dan seketika, pria paruh baya itu menghilang, hanya meninggalkan asap tipis berwarna hitam.

Melihat hal itu, Chanyeol hendak meraih busur panahnya, dan Tao juga pada posisi berjaga-jaga jika tiba-tiba saja demon itu memiliki maksud jahat—menyerang mereka.

“Apa yang akan kalian lakukan?! Aku demon baik-baik! Namaku Kai, aku adalah keturunan bangsawan kerajaan Dominicon—demon. Tapi, aku kabur karena aku tidak suka dengan kehidupanku disana,” ucap demon itu.

“Apa yang seorang demon inginkan di dunia manusia?” tanya Baekhyun dengan penekanan pada kata demon.

“Aku mencari sepupuku bernama Dio, apakah mungkin kalian pernah melihatnya? Ia hampir mirip sepertiku, hanya saja aku lebih tampan darinya,” balas Kai sambil tertawa.

“Kami tidak pernah melihatnya,” jawab Kris. “Maaf, kami memiliki misi yang penting, jadi jangan menghambat perjalanan kami,” lanjutnya dengan nada tak suka, kemudian berjalan mendahului mereka semua.

“Baiklah, terima kasih. Aku juga akan pergi,” balas Kai sebelum menghilang dengan cara yang sama seperti pelayannya—meninggalkan asap tipis berwarna hitam.

“Astaga, ia menghilang begitu saja!” Tao tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Aku tidak ingin bertemu dengan demon lagi. Terlalu menyeramkan, aku tidak tahan dengan auranya,” sahut Chanyeol.

“Okay, waktu terus berjalan. Dan kita tidak boleh berlama-lama disini!” timpal Baekhyun yang kemudian melangkahkan kakinya menyusul Kris. “Ayo cepat kemari, kawan! Sebelum pemimpin beralis tebal itu meledak-ledak lagi!” lanjutnya dengan suara yang dilembutkan namun Kris masih bisa mendengarnya.

Kris pun hanya bisa mendengus kesal, menahan untuk tidak menunjukkan lagi watak aslinya; kemarahan yang sulit ia kendalikan.

 

+++

 

Semburat warna jingga kemerahan tampak di langit bagian barat, sementara langit bagian timur sudah berwarna biru. Lambat laun, kehangatan yang diberikan matahari sudah tidak dirasakan lagi oleh mereka.

“Hari sudah malam, apakah kita tidak beristirahat di suatu penginapan?” tanya Tao pada Kris sambil menahan hembusan angin yang mulai menusuk.

Kris menoleh pada Chanyeol. Dari pandangannya, Chanyeol sudah tahu apa maksud pemimpinnya itu.

“Di desa ini tidak ada penginapan. Kalau kita benar-benar ingin istirahat malam ini, kita harus kembali ke belakang, ke desa Gaon,” ucap Chanyeol.

“Itu akan menghabiskan waktu! Lebih baik kalian minum saja ramuanku. Ramuan ini adalah ramuan penambah stamina, tapi rasanya aku hanya membawa tiga,” sahut Baekhyun.

“Hmm, bagaimana Kris?” tanya Tao lagi.

“Kita pergi ke kedai saja. Selama di dalam kedai, silahkan kalian meminum ramuan itu, aku tidak perlu. Dan setelah itu kita lanjutkan perjalanan,” jawab Kris.

“Kau yakin?” tanya Tao.

“Tidak apa, Tao. Kris adalah orang yang kuat.” Baekhyun meyakinkan.

Dan setelahnya, mereka masuk ke dalam salah satu kedai di desa itu. Kedai yang cukup ramai, mengingat desa itu adalah desa kecil, dimana terdapat banyak warga yang menghilang dengan misterius. Rumornya, mereka dibunuh secara diam-diam oleh seseorang yang sudah lama tidak pernah muncul di benua Bermesiah.

Kris dan yang lain sudah duduk di dalam. Kedai itu lumayan besar. Bisa jadi kedai itu adalah kedai kelas satu di desa itu. Meja berbentuk U yang besar itu menghadap si pemasak sekaligus penjual.

“Mau pesan apa, anak muda?” tanya si penjual sambil memegangi kumis tipisnya yang panjang, membuat Kris agak risih.

“Uhuk! Uhuk!” tiba-tiba suara itu mengganggu Baekhyun yang hendak bersuara. “Kalian? Kurasa aku tahu siapa kalian!” lanjutnya lagi. Seorang pria yang terlihat sangat tua namun sangat antusias ketika melihat kelompok Exo Chase.

“Siapa?” tanya Baekhyun.

“Kalian adalah penjahat! Terutama kau! Buronan di desa ini!” jawab pria tua itu seraya menudingkan telunjuknya tepat ke wajah Kris.

Wajah Kris mundur beberapa senti. Terkejut dengan tuduhan pria tua itu. Si penjual sekaligus pemasak di kedai itu langsung tertawa terbahak-bahak.

“Kau salah orang, sobat!” ucapnya lalu melanjutkan tawanya. “Maaf, anak muda. Dia selalu berkata seperti itu pada pendatang baru,” lanjutnya seraya memegangi kumis tipisnya lagi dengan telunjuk dan ibu jarinya.

Pria tua itu menarik tangannya sendiri, kemudian duduk manis di tempatnya semula.

“Hal yang membuat pria tua itu menjadi seperti tadi karena.. anaknya dibunuh secara misterius.. dia tidak terima dengan hal itu..” selama mereka menyantap makanan yang mereka pesan, penjual itu terus saja bercerita.

“Paman!” panggil seseorang yang baru masuk ke dalam kedai.

“Oh, Dio!” jawab penjual itu.

Merasa tidak asing dengan nama yang telah disebut barusan, Chanyeol yang notabene memiliki indra pendengaran paling tajam langsung menoleh ke pemilik nama tersebut. Setelah melihatnya dengan baik—bahkan orang itu hendak duduk di sebelahnya, perasaan Chanyeol tidak enak. Ia kembali merasakan aura yang sangat dibencinya.

 

Aura seorang demon.

 

“Hei, bolehkah aku bergabung dengan kalian?”

 

(Kai muncul membawa tulisan TBC, kemudian menghilang /poof!/)

Iklan

26 pemikiran pada “The Chase (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s