Two Boys!

Two Boys!

two-boys

 

Tittle : Two Boys!

Author : lovelybaekkie

Genre : Romance, Friendship, Sad

Length : Oneshot

Rating : T

Main Cast : Lee Daehee (OC) | Byun Baekhyun (EXO) | Park Chanyeol (EXO)

Other Cast : Kim Soojin (OC) | Oh Sehun (EXO) | Find by yoursel

Disclaimer :
THIS STORY PURE MINE!!
Jika ada kesamaan, harap dimaklum karena itu tidak disengaja dan FF ini benar-benar hasil pemikiran saya sendiri. Sebelumnya FF ini sudah saya buat versi asli dan versi exo nya dan sudah dipublish disini Dan jika kalian melihat nama author pada versi asli adalah Nilam Putri Ananda itu adalah nama asli saya. Jadi tidak ada sedikitpun unsur plagiat dalam fanfic ini. Baekhyun adalah milik Tuhan, orang tuanya, dan agensinya *milik aku juga:* #abaikan. Saya hanya punya OC dan alur ceritanya.

Note :
Good reader is who leave a comment about this fanfic. Saya mohon bantuannya karena ini adalah fanfic pertama yang saya publish.

Poster © deelovely04 on School Art Design. Thanks for nice poster;)

DON’T BE PLAGIAT! DON’T BASH! DON’T BE SIDERS!

~Happy Reading~

****

Author POV

February 1997

Tampak tiga orang anak yang sedang berjalan bersama untuk pulang ke rumah mereka. Mereka baru saja pulang dari taman kanak-kanak tempat mereka belajar. Masih berbalut seragam dan membawa tas, mereka tampak senang bisa berjalan bersama bertiga seperti ini. Bercanda tawa bersama, mengobrol hal-hal yang tidak penting, dan merencanakan sebuah permainan. Itulah yang dilakukan ketiga anak berusia 5 tahun ini setiap hari. Sesuatu yang sederhana yang membuat mereka tertawa lepas dan terlihat sangat bahagia.

“Baekhyun-ah, Chanyeol-ah, bagaimana jika jam 3 sore nanti kita ke taman? Aku ingin bermain ayunan disana!” ucap seorang gadis cilik yang rambutnya diikat dua, membuatnya tampak sangat lucu.

“Aha! Ide bagus Daehee-ya! Aku juga ingin bermain seluncur” sahut lelaki mungil yang dipanggil Baekhyun itu.

“Baiklah, aku ikut. Aku juga ingin bermain ayunan!” ujar anak laki-laki yang bernama Chanyeol.

“Oh, baiklah kalau begitu. Chanyeol-ah, aku akan mendorongkan ayunanmu nanti” balas gadis cilik itu yang tak lain dan tak bukan adalah Daehee.

“Bagaimana denganku?” tanya Baekhyun yang merasa teracuhkan.

“Kau harus mendorongkan ayunanku Baekkie-ya. Kau kan bermain seluncur bukan ayunan Hahaha” tawa Daehee kecil itu.

“Hmm.. ok jika itu maumu Daehee-ya” awalnya Baekhyun memajukan bibir mungilnya itu, tapi karena ia berpikir jika itu semua demi Daehee, ia mau.

Langkah Chanyeol terhenti karena mereka sudah sampai di depan rumah Chanyeol. Chanyeol hanya tersenyum simpul dan melambaikan tangan pada kedua sahabatnya itu. Daehee dan Baekhyun juga membalas lambaian tangan Chanyeol, tentunya dengan lambaian yang ceria dan semangat. Setelah Chanyeol masuk, mereka melanjutkan langkah kecil mereka. Oh, hanya beberapa langkah saja dari rumah Chanyeol,Daehee sudah sampai didepan rumahnya. Ya, rumah mereka memang bersebelahan.

“Annyeong Daehee-ya! Jam 3 sore aku akan kerumahmu!” ujar Baekhyun semangat.

“Geurae! Annyeong! Kutunggu Baekhyun-ah!” balas Daehee tak kalah semangat.

Daehee akhirnya masuk kedalam rumahnya. Baekhyun melanjutkan langkahnya dan sampailah ia dirumahya yang memang berada tepat disebelah rumah Daehee. Ia senang bisa melihat Daehee selalu tersenyum, apalagi jika Daehee tersenyum karenanya.
‘Daehee-ya, aku ingin kau terus tersenyum seperti itu’

****

“Lebih kuat lagi Daehee-ya!Hahaha, ini sangat menyenangkan!” seru seorang anak kecil yang sedang menaiki ayunan.

“Kau itu berat Chanyeol-ah, tapi baiklah akan kucoba untuk lebih kuat lagi”

Daehee mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong ayunan yang Chanyeol naiki. Ia memang sudah lelah karena sudah 10 menit ia mendorong ayunan Chanyeol. Baekhyun yang sedang bermain selucuran seorang diri, merasa kasihan melihat Daehee yang sudah berkeringat dan lelah. Akhirya Baekhyun menghampiri Daehee yang masih saja mendorong ayunan Chanyeol.

“Apakah kau lelah?Biar aku saja yang mendorong ayunan Chanyeol” ujar Baekhyun.

“Tak apa, Baekhyun-ah. Biar aku saja. Aku kan sudah berjanji pada Chanyeol” balas Daehee dan kembali melanjutkan aktivitasnya.

“Tapi kau sudah kelelahan Daehee-ya. Sini biar aku yang mendorongnya!” sahut Baekhyun agak memaksa.

“Sudahlah Baekhyun-ah, kau bermain selucur saja lagi. Aku tidak apa-apa” tolak Daehee.

“Ayolah Daehee-ya”

“Tidak apa Baekhyun-ah”

“Jebal..”

“Tid-“

“Hentikan Daehee-ya. Eommaku sudah menjemput. Aku akan pergi ke mall dulu sekarang. Sampai jumpa Daehee-ya, Baekhyun-ah” pamit Chanyeol yang langsung berlalu menghampiri ibunya.

Setelah Chanyeol pergi. Daehee langsung duduk di ayunan yang tadi Chanyeol naiki. Oh, ayolah, sebenarnya ia sangat lelah. Hanya saja, ia tak mau membuat Chanyeol kecewa karena tak menepati janjinya. Tiba-tiba ayunan Daehee bergerak. Daehee segera menoleh ke belakang dan didapatinya Baekhyun yang tengah mendorong ayunan Daehee.

“Aku tahu kau lelah. Jujur saja padaku” Ucap Baekhyun.

“Hhh..baiklah aku mengaku. Aku sangat sangat lelah Baekhyun-ah” ungkap Daehee.

“Kalau begitu, pejamkan matamu dan nikmati permainan ayunan ini” balas Baekhyun.

Daehee mulai memejamkan matanya. Ia meresapi angin yang menerpa wajah lucunya itu. Taman ini sudah mulai sepi karena hari sudah mulai gelap. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Kedua anak ini masih saja menikmati permainan mereka sendiri.

Dorongan Baekhyun yang perlahan dan terkesan lembut itu membuat Daehee merasa tenang dan nyaman. Ia sangat menikmati ini semua. Baekhyun hanya tersenyum melihat Daehee yang masih memejamkan matanya sembari tersenyum. Detik-detik saat matahari tenggelam, mereka lewati bersama.
‘Kuharap, kita bisa selalu seperti ini Daehee-ya’

****

February 2006

Sorak para murid terdengar setelah pengumuman kelulusan mereka selesai disampaikan. Banyak dari mereka yang lulus ujian akhir JHS dengan nilai yang memuaskan. Diantara para murid JHS itu, tampak tiga orang yang wajahnya sangatlah ceria. Mereka adalah Daehee, Baekhyun, dan Chanyeol.

“Tak terasa kita sudah lulus. Yehey, aku senang sekali yeah!” ucap Baekhyun semangat.

“Ne, nilai kita juga memuaskan” sahut Daehee.

“Kita telah berjuang keras selama ini” balas Chanyeol.

Tiba-tiba salah seorang siswi perempuan menghampiri mereka. Terlihat dari name tag yang dipakai siswi itu bahwa ia bernama ‘Kim Soojin’.

“Annyeong, bagaimana dengan nilai kalian?” tanya Soojin ramah.

“Nilai kami cukup memuaskan Soojin-ah, kau bagaimana?” balas Daehee sopan.

“Ne, aku juga sama. Oh ya, kalian akan melanjutkan sekolah kemana?”

“Seoul High School!!” jawab mereka bertiga serempak.

“Wah, kalian sangat kompak ya, hahaha”

Mereka berempat tertawa renyah dan melanjutkan obrolan ngalur-ngidul mereka.Tanpa sadar, waktu untuk pulang sudah tiba. Soojin juga sudah ditelpon oleh supirnya.

“Oh, maaf teman-teman. Sepertinya aku sudah dijemput. Aku duluan ya. Annyeong” pamit Soojin sambil melambaikan tangan.

“Annyeong” jawab mereka bertiga serempak sembari membalas lambaian tangan Soojin.

Setelah Soojin pergi, mereka memutuskan untuk pulang juga. Seperti biasa, mereka berjalan kaki untuk pulang karena rumah mereka memang tak jauh dari sekolah. Ya, itu memang kebiasaan mereka.

“Tak terasa, sudah bertahun-tahun kita bersama seperti ini” ujar Daehee disela-sela perjalanan mereka.

“Aku ingin kita terus seperti ini hingga kita tua nanti. Tetap bersama walaupun sudah memiliki keluarga masing-masing” balas Chanyeol.

“Ya, aku juga ingin seperti itu Chanyeol-ah” jawab Daehee lagi.

“Aku ingin kita tidak melupakan satu sama lain dan tetap menjalin persahabatan seperti ini” sahut Baekhyun.

“Oh, maksudku keluarga” ralat Baekhyun sambil menampilkan cengirannya.

“Hahaha, you’re right B(dibaca bi)” balas Daehee dengan diiringi tawa renyahnya. Baekhyun terpaku sesaat.

‘Yeppeo’ batin Baekhyun ketika melihat Daehee tertawa renyah seperti itu.

“Yeah, selalu seperti ini” tanggap Chanyeol.

“Aku duluan guys. Annyeong!” lanjut Chanyeol ketika mereka sudah sampai tepat didepan rumah Chanyeol.

“Annyeong” balas mereka berdua.

Mereka melanjutkan langkah mereka. Tapi Daehee menghentikan langkahnya tepat didepan rumahnya. Ia lalu menghadap kearah Baekhyun. Otomatis Baekhyun juga ikut menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Daehee.

“Mwoya?” ucap Baekhyun ketika menyadari Daehee menatapnya.

“Bisa temani aku ke taman? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu” balas Daehee sambil tersenyum manis didepan Baekhyun.

“Kajja” balas Baekhyun yang juga tersenyum.

Mereka melanjutkan langkah mereka ke taman yang sering mereka kunjungi sejak kecil. Daehee dan Baekhyun duduk di ayunan sambil menikmati ice cream.

“Baekhyun-ah, apakah kau tau perasaan apa ketika jantungmu berdetak kencang ketika didekat seseorang apalagi saat orang itu berada dekat sekali denganmu, rasanya jantungmu berdetak sangat sangat cepat. Kau tahu?” tanya Daehee memulai percakapan.

“Hmm, mungkin kau terkena serangan jantung” jawab Baekhyun polos.

“Aish, aku serius Byun Baekhyun!” kesal Daehee. Baekhyun hanya tertwa menanggapinya.

“Hahaha, baiklah baiklah. Mungkin perasaan itu adalah perasaan CINTA” jawab Baekhyun mulai serius.

“Cinta?” tanya Daehee bingung.

“Ne, disaat seseorang berada dekat denganmu, jantungmu akan berdetak abnormal dan ketika ia memujimu, ya walaupun tak berlebihan, tapi kau akan merasa bahwa itu adalah pujian yang sangat special dan istimewa. Apa kau… sedang jatuh cinta?” Baekhyun menatap Daehee penuh tanda tanya.

“Se-sepertinya begitu. A-aku… selalu merasakan hal itu ketika berada didekat…” jawab Daehee menggantung. Sungguh, Daehee malu sekali saat ini.

“Nugu?” tanya Baekhyun penasaran.

“Berada di dekat… Chanyeol” jawab Daehee malu. Ia menundukkan kepalanya sekarang.

‘Sudah kuduga’ gumam Baekhyun dalam hati.

Baekhyun tersenyum miris dan memandang kedepan. Ia… ah sudahlah. Yang penting Daehee bahagia. Baekhyun menarik nafas panjang sebelum ia menghembuskannya kembali. Tentu saja untuk menenangkan hati dan pikirannya saat ini.

“Baguslah jika kau mulai jatuh cinta. Semoga saja orang yang kau cintai itu bisa membuatmu bahagia dan selalu tersenyum” ucap Baekhyun ditengah-tengah keheningan yang mereka ciptakan sendiri.

“A-apa tidak apa-apa jika aku cinta pada Chanyeol?Mak-maksudku, ia kan sahabatku” ujar Daehee gelagapan.

“Ya… mungkin tidak apa-apa. Aku juga seperti itu. Jatuh cinta pada sahabatku sendiri” balas Baekhyun masih menatap ke depan.

“Nugu? Setahuku, sahabatmu hanya aku dan Chanyeol juga…” Daehee mencoba mengingat siapa saja wanita yang dekat dengan Baekhyun. Aha!

“Juga Soojin?” tanya Daehee sambil menatap Baekhyun lekat. Yang ditatap hanya tersenyum miris dan berbalik menatap Daehee.

“Bukan, sahabatku bukan hanya kalian bertiga saja,Daehee-ya.. Kau harus tahu itu. Dan mungkin, belum saat nya kau tahu orang yang kumaksud itu” jawab Baekhyun lembut.

Mereka berpandangan cukup lama. Ya, seperti kejadian 9 tahun lalu. Disaat mereka berada ditaman dan duduk di ayunan, matahari mulai tenggelam. Mereka kembali menghabiskan detik-detik dimana sang surya mulai menenggelamkan dirinya. Langit yang berwarna oranye menandakan bahwa matahari akan kembali ke peraduannya.

‘Kuharap, walaupun kau mencintainya, kita tetap bisa menghabiskan waktu seperti ini terus,Daehee-ya…’

****

January 2009

Siswa siswi Seoul High School tengah berada pada jam istirahat saat ini. Ada yang pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang kosong, ada yang berdiam diri di perpustakaan ataupun taman sekolah yang luas. Daehee, Baekhyun, dan Chanyeol tengah berada di halaman sekolah. Mereka duduk diatas rumput sambil menyandarkan diri ke sebuah pohon besar yang sejuk. Chanyeol tengah berkutat dengan bukunya sedangkan Baekhyun tengah memainkan game di PSP-nya dan Daehee yang sedang memejamkan mata untuk meresapi musik yang terdengar dari earphonenya.

“Daehee-ya.. psst..” bisik Chanyeol. Daehee yang memang berada disebelah Chanyeol segera menoleh dan memasang wajah ada-apa?

Chanyeol menunjukkan secarik kertas yang terselip di halaman buku yang sedang ia baca.

‘Nanti sore jam 3 temani aku ke toko buku. Ada yang ingin kuceritakan padamu’ isi kertas itu.

Daehee hanya tersenyum dan mengangguk kearah Chanyeol. Tampaknya Baekhyun menyadari ada yang aneh dengan kedua sahabatnya. Ia segera menoleh kearah Daehee dan Chanyeol.

“Kalian sedang apa?” tanya Baekhyun. Chanyeol dan Daehee gelagapan. Sepertinya Chanyeol hanya ingin pergi berdua dengan Daehee, jadi Daehee berusaha merahasiakannya dari Baekhyun.

“Ti-tidak ada apa-apa. Oh Ya, kau sudah level berapa huh?Jangan-jangan kau game over yaa~” alih Daehee.

Oh ayolah, Baekhyun bukan anak kecil lagi. Ia tahu ada yang disembunyikan darinya. Tapi sepertinya Daehee tak ingin ia tahu atau mungkin belum mau bercerita padanya. Baiklah, Baekhyun mencoba untuk mengerti itu. Ia akan membiarkan Daehee seperti ini dulu.

“Aku sudah menang. Kau saja yang selalu game over. Huuu~” ejek Baekhyun. Daehee yang semula tersenyum segera menghembuskan nafas lega. Ia lalu mempoutkan bibirnya ketika menyadari ucapan Baekhyun yang mengejeknya.

“Ya! Kau mau bertarung denganku ya?!!” sungut Daehee.

“Keep calm girl. Hahaha, aku hanya bercanda hahaha” canda Baekhyun. Chanyeol yang mendengar itu juga tertawa.

Begitulah mereka bertiga, tetap seperti dulu. Ya, walaupun Chanyeol sudah menjadi seorang pria dewasa sekarang. Daehee masih seperti dulu, ceria dan baik hati. Oh Baekhyun sepertinya yang tak pernah berubah, ia masih saja terlihat kekanakkan dan konyol. Mereka memang sudah menginjak bangku kelas 11 sekarang. Sebentar lagi mereka naik kelas.

Oh, apakah kalian ingat dengan perasaan Daehee terhadap Chanyeol? Ya, Daehee masih mencintai Chanyeol bahkan semakin mencintainya. Sebenarnya ia sudah merasakan gejala jatuh cinta sejak kelas 8, tapi ia baru berani bertanya pada Baekhyun saat hari itu. Mungkin jika dihitung, hari ini tepat Daehee mencintai atau lebih tepatnya memendam perasaan cintanya terhadap Chanyeol selama 3 tahun. Dan selama 3 tahun ini juga Baekhyun selalu mendengar curhatan-curhatan Daehee mengenai Chanyeol. Oh, sampai sekarang pun Daehee tak pernah tahu siapa orang yang dimaksud Baekhyun saat itu. Ia juga sudah tak mempermasalahkannya lagi. Ia pikir, mungkin saja Baekhyun butuh privasi. Ya, mungkin…….

****

“Ada apa?” tanya Daehee ketika ia tengah berjalan berdua dengan Chanyeol menuju halte.
Daehee dan Chanyeol baru saja kembali dari toko buku. Sekarang mereka tengah menuju halte untuk menunggu bus menuju rumah mereka. Daehee sekarang ingin tahu apa yang sebenarnya ingin diceritakan oleh Chanyeol.

“Hmm, ayo kita duduk dulu” ajak Chanyeol ketika mereka sampai di halte yang sepi itu.

Setelah mereka berdua duduk, Chanyeol mencoba menetralkan detak jantungnya. Ia sungguh gugup untuk menceritakan ini pada Daehee. Ya, walaupun Daehee tidak akan marah ataupun menertawakannya, karena Chanyeol tahu Daehee orang yang baik juga perhatian, terutama padanya.

“Daehee-ya…” panggil Chanyeol pelan. Daehee segera menoleh kearah Chanyeol.

“Mwo?” tanya Daehee yang sedari tadi penasaran.

“Sebenarnya aku…”

“Kau kenapa?” alis Daehee semakin mengernyit mendengar pernyataan Chanyeol yang menggantung.

“A-aku menyukai… Soojin. Ak-aku ingin meminta… bantuanmu Daehee-ya” jawab Chanyeol yang sekarang menundukkan kepalanya malu.

DEG

Rasanya Daehee seperti dijatuhkan dari lantai 17. Ia seperti dihunus samurai para ninja yang terkenal dengan ketajamannya. Saat ini Daehee berusaha mati-matian agar air matanya tak jatuh. Sungguh, ini sangat membuatnya sakit. Ia berusaha menetralkan perasaannya saat ini walaupun matanya sudah terlihat berkaca-kaca.

‘Bukan saatnya kau menangis Lee Daehee, tunggu sebentar lagi..’ batin Daehee.

“B-bantuan apa Chanyeol-ah?” tanya Daehee mencoba untuk bersikap seperti biasa dengan menampilkan senyum palsunya.

“Aku ingin kau menemaniku saat… Saat aku mengungkapkan perasaanku pada Soojin nanti di hari valentine. Aku… sangat gugup, Daehee-ya” ungkap Chanyeol.

“O-oh baiklah. Aku… akan menemanimu Yeol… Dan oh, sepertinya saat ini aku ada urusan. Aku duluan Chanyeol-ah, annyeong!” pamit Daehee.

“Daehee-ya, kau mau kemana?!” teriak Chanyeol dari halte karena Daehee sudah melesat pergi menjauh dari halte.

Daehee berlari sekencang-kencangnya. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Daehee tak peduli dengan dinginnya udara saat ini. Sepanjang perjalanannya, Daehee terus menangis. Ia tak peduli pada orang-orang yang memandang kearahnya. Ia berhenti disatu tempat. Ya, taman yang biasa ia kunjungi dengan Baekhyun. Sungguh saat ini Daehee sangat membutuhkan Baekhyun.
Daehee duduk di ayunan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis sejadi-jadinya di taman itu.

‘Aku… hanya bayanganmu. Aku… hanya bisa memendam perasaan ini. Apa aku begitu hina hingga aku tak dapat memilkimu? Memiliki hatimu yang bahkan sudah memilih orang lain. Tak bisakah kau melihatku? Sebentar saja… melihatku sebagai… seorang wanita…’

Tiba-tiba ayunan yang Daehee duduki bergerak, ia segera menolehkan kepalanya kebelakang dan terkejut melihat sosok Baekhyun yang menatapnya iba.

“Chanyeol?” tanya Baekhyun. Daehee segera berdiri dan memeluk Baekhyun. Ia menangis di pelukan Baekhyun.

“Ia… mencintai orang lain B. Hatiku sakit sekali, sangat sakit. Apakah aku salah jika mencintainya? Apakah aku kurang memperhatikannya? Apakah aku…” Daehee meracau dalam tangisnya.

“Ssst, aku tahu apa yang kau rasakan. Berhentilah menangis. Kau hanya membuat matamu bengkak jika terus seperti ini” potong Baekhyun.

“Tapi B..”

“Tidak, cukup sampai disini Daehee-ya. Aku tak mau kau menangis seperti ini hanya karena Chanyeol. Kumohon, lupakanlah Chanyeol. Masih ada orang yang lebih peduli dan lebih menyayangimu Lee Daehee. Aku tak mau melihatmu terluka seperti ini”

‘Orang itu aku Daehee-ya.. AKU!’ seru Baekhyun dalam hati. Ia sudah muak dengan Chanyeol. Ia tak mau melihat Daehee menangis lagi seperti ini.

“Mulai sekarang, kau jangan dulu berdekatan dengan Chanyeol. Kau harus mencoba untuk melupakannya Daehee-ya” titah Baekhyun.

“Itu sulit B, sangat sulit. Aku tak bisa melakukan itu. Aku masih sangat mencintainya walaupun aku tahu jika ia tak mencintaiku” ucap Daehee lirih dan masih berada di pelukan Baekhyun.

“Kau harus mencoba Daehee-ya..”

Daehee terdiam. Ia masih menangis dan tak terlalu memikirkan perkataan Baekhyun. Ia masih merasakan sakit di hatinya. Ia…tak tahu harus melakukan apa. Yang sekarang ia butuhkan adalah Baekhyun yang selalu menjadi sandarannya tatkala ia jatuh. Ya, Baekhyun yang selalu ada untuk Daehee.

‘Kau…hanya melihat dia, dia, dan dia. Aku…hanya bisa menjadi batu sandaran untukmu. Hanya…batu sandaran. Ya, tak lebih…Bahkan kau tak mau mencoba melupakan dan hanya membiarkan rasa sakitmu semakin menjalar kedalam hatimu. Apa aku harus terus seperti ini? Apa aku… harus selalu melihat air mata itu jatuh karena dia? Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku lelah seperti ini. Aku…juga ingin dilihat olehmu seperti kau melihatnya…’

Ya, seperti biasa. Mereka menghabiskan waktu terbenamnya matahari di taman ini berdua. Walaupun perasaan mereka saat ini sedang kacau, tapi mereka mencoba untuk menyalurkan perasaan masing-masing. Ya, hanya menyalurkan…bukan mengungkapkan…

****

Valentine Day

Tampak seorang pria terlihat resah dan juga tengah menggenggam sebuket bunga mawar putih dan sekotak coklat berbentuk hati yang terbungkus dengan apiknya. Pria itu kini menolehkan kepalanya ke belakang tatkala seorang gadis memanggilnya.

“Daehee-ya, kau darimana saja? Aku sedari tadi menunggumu disini” ucap pria itu kesal.

Gadis yang dipanggil Daehee itu hanya diam terpaku memandangi sebuket bunga dan sekotak coklat yang berada di genggaman pria itu—Chanyeol. Matanya menatap kosong kearah dua benda itu. Awalnya ia berlari kearah Chanyeol dengan semangat dan gaya khasnya yang ceria, ia juga memanggil nama Chanyeol dengan sangat girang. Tapi senyum yang menghias wajah cantiknya kini hilang dan tergantikan dengan raut wajah kecewa dan sedih, bahkan matanya mulai memerah dan siap mengeluarkan air mata.

“Daehee-ya? Ya, gwenchana?” Chanyeol mengibas-ngibaskan tangannya yang memegang coklat didepan wajah Daehee. Daehee sontak langsung tersadar dari pikirannya yang kini tengah melayang entah kemana. Air mata yang hampir saja jatuh tadi, ia tahan. Hhh, Daehee yang malang..

“O-oh, a-aku baik-baik saja. Umm, Chanyeol-ah…” ucap Daehee pelan. Chanyeol langsung terfokus pada Daehee.

“Hm?” tanyanya dengan alis yang sudah mengangkat bingung.

“Apa… hari ini… kau akan…” ujar Daehee tak jelas.

“Bisakah kau mengatakannya lebih jelas lagi Daehee-ya?”

“Ekhm, a-apa kau hari ini… akan mengungkapkan perasaanmu pada… So-Soojin?” ujar Daehee kikuk atau mungkin.. takut? Chanyeol yang mendengarnya langsung diam.

“Ya… Tentu saja aku akan melakukannya hari ini. Kau tak melihatku huh? Lihat, bahkan aku sudah siap dengan bunga dan coklat ini. Hanya saja…” kata pria itu menggantung.

“Ha-hanya saja apa?”

“Hanya saja aku…………gugup, Daehee-ya” ucapnya dan menundukkan kepalanya dalam. Daehee hanya terdiam. Sungguh, hatinya sangat sakit. Ini terlalu sakit.

“Daehee-ya, kau akan membantuku bukan? Kau sudah berjanji akan menemaniku. Aish, aku sedari tadi menunggumu disini. Pasti sebentar lagi Soojin akan datang”

Daehee masih terlihat melamun. Oh, bahkan kini ia sungguh tak ingin mendengar nama Soojin. Huh, bahkan sesungguhnya ia tak mau mengingat hari ini. Ia tak mau mengetahui hari ini. Hari dimana orang yang ia cintai menyatakan perasaannya pada gadis lain.

“Ayolah, Lee Daehee. Kau jangan melamun terus seperti ini. Kau kan sahabat terbaikku, jadi jangan buat aku kecewa seperti ini Daehee-ya”

Daehee tersenyum samar. Ya, hanya sebatas ‘sahabat’, tak lebih dan tak akan pernah bisa lebih. Ia lalu mendongakkan kepalanya kearah Chanyeol. Tangannya memegang pundak Chanyeol.

“Kau… tak usah gugup. Aku, sebagai… sebagai sahabatmu akan selalu mendukungmu Yeol. Kau bilang, aku ini sahabat terbaikmu bukan? Tenang saja, ada aku disini” ujar Daehee lirih. Ia memandang lekat manik mata Chanyeol. Matanya tampak berkaca-kaca dan selanjutnya ia kembali menampakkan senyum palsunya. Oh, betapa menyedihkan hidup Daehee.

“Chanyeol-ah..” panggil seseorang. Sontak mereka berdua segera menolehkan kepalanya untuk melihat orang yang memanggil nama Chanyeol. Tentu saja Daehee sudah melepaskan tangannya dari pundak Chanyeol.

“O-oh, k-kau su-sudah d-datang Soojin-ah?” ucap Chanyeol gelagapan. Tangannya ia sembunyikan dibelakang tubuhnya. Daehee sepertinya harus pergi dari sini sekarang.

“Ekhm, sepertinya aku harus pergi. Sampai jumpa Chanyeol-ah, Soojin-ah”

Daehee melambaikan tangannya kearah Chanyeol dan Soojin sebelum ia melangkahkan kakinya pergi. Ia tidak pergi jauh, ia hanya berniat bersembunyi dibalik tembok sekolah yang bisa menutupi seluruh tubuhnya yang mungil. Dari sini, ia bisa melihat dan mendengar dengan cukup jelas kegiatan yang dilakukan Chanyeol dan Soojin. Walaupun hatinya tak sanggup untuk melihat ini semua, tapi ia harus mencoba untuk menepati janjinya pada Chanyeol.

Meanwhile…

“Jadi… ada apa kau mengajakku kemari Chanyeol-ah?”

Chanyeol terdiam. Ia sangat gugup. Ya, tadi saat istirahat ia mengajak Soojin untuk bertemu di lapangan sekolah saat pulang nanti. Dan sekarang mereka berdua tengah berada di tengah salah satu lapangan yang jarang dipakai dan tak ada seorang pun yang berada disana karena bel pulang sudah berbunyi sejak beberapa waktu yang lalu.

“A-ada yang ingin ku bicarakan denganmu…” ucap Chanyeol.

“Apa itu?” tanya Soojin dengan wajah penuh tanda tanya.
Chanyeol mulai menampakkan tangannya yang sedari tadi ia sembunyikan. Sontak alis Soojin berkerut melihat tingkah Chanyeol.

“Untukmu” ujar Chanyeol.

“Untukku?” Sungguh, Soojin tak mengerti apa maksud Chanyeol memberikan bunga dan coklat padanya.

“Nde, untukmu” ucap Chanyeol menyodorkan barang yang sedari tadi ia pegang. Alis Soojin makin berkerut.

“Kenapa kau memberikannya padaku?”

“Karena… aku…” ucap Chanyeol menggantung.

“Karena… kau kenapa?”

“Karena aku… Aku menyukaimu. Saranghae Kim Soojin, apakah kau mau menjadi yeojachinguku?”

****

Lee Daehee POV

“Karena aku… Aku menyukaimu. Saranghae Soojin-ah, apakah kau mau menjadi yeojachinguku?”

Sudah cukup! Aku tak mau mendengar apapun lagi. Ini terlalu menyakitkan. Chanyeol telah menjadi milik orang lain. Aku tak bisa memilikinya lagi. Aku hanya seorang sahabat baginya. Apakah… ini memang akhirnya? Aku… hanya akan menjadi seorang sahabat dan tak akan pernah menjadi lebih.

Aku menutup telingaku dan menatap tak percaya kearah pasangan itu. Air mataku tentu sudah tak terbendung lagi. Aku sudah tak sanggup. Aku berlari sekencang-kencangnya. Tak peduli pada para siswa —yang masih berada disekolah untuk menjalankan ekstrakurikuler—yang tengah berjalan di koridor ini. Aku hanya terus berlari walaupun tubuhku menabrak beberapa orang. Hingga akhirnya, seseorang yang kutabrak berhasil membuatku jatuh. Aku tak peduli pada orang itu dan malah menutup wajahku dengan kedua tanganku.

Aku terus menangis. Hingga akhirnya orang itu angkat bicara.

“Daehee-ya?”

Suara itu. Suara orang yang kini sangat kubutuhkan. Aku langsung mendongakkan kepalaku dan menatap nanar pria yang kini berdiri di hadapanku. Sontak aku langsung berdiri dan memeluk orang itu dengan erat.

“Apa yang terjadi? Apa orang itu menyakitimu?” tanya orang itu—Baekhyun.

****

Byun Baekhyun POV

Setelah tadi Daehee tak sengaja menabrakku di koridor sekolah, aku sangat terkejut melihatnya menangis seperti itu. Aku tahu ini semua karena orang itu, tapi aku tak tahu apa yang terjadi sebenarnya hingga Daehee menjadi seperti ini. Hingga akhirnya aku membawanya ke taman favorit kami agar lebih nyaman untuknya menceritakan semuanya.

“Dia… menyatakan perasaannya pada Soojin tadi. Dan aku menyaksikan momen itu tepat didepan mataku. Rasanya dadaku terlalu sesak hiks, untuk menyaksikan semua itu, hiks…”

Soojin? Jadi wanita yang disukai Chanyeol selama ini adalah Soojin? WTH!! Apa kurangnya Daehee dari Soojin? Ia bahkan terlalu baik untukmu Chanyeol!

“Apa aku salah jika aku mencintainya? Kenapa rasanya begitu sakit? Apa aku harus terus tersakiti seperti ini? Jawab aku B! Jawab aku!!”

Aku terdiam. Apakah ia harus seperti ini? Bahkan aku tak pernah melihatnya menangis seperti ini kecuali saat nenek yang sangat disayanginya meninggal 5 tahun lalu. Ia memelukku sambil memukul-mukul dadaku untuk meluapkan emosinya. Aku hanya terdiam mematung.

“Sakit B, sakit. Aku… hanya bisa melihat dari jauh dan hanya bisa dianggap sahabat, tak lebih dan selamanya tak akan pernah menjadi lebih. Apa kau bisa merasakannya B? Ini terlalu menyakitkan, hiks…”

Aku bisa merasakannya Daehee-ya. Aku selalu merasakannya. Tidakkah kau merasakan bahwa aku sedang mengalami apa yang kau ucapkan itu saat ini? Aku bahkan lebih sakit Lee Daehee. Hatiku lebih sakit darimu!!

Aku mulai membalas pelukannya. Aku mencoba menghentikan kegiatannya memukul dadaku dengan memeluk tubuh mungilnya dengan erat. Kepalaku bersender di pundaknya.

“Hentikan Daehee-ya… Kumohon…” ucapku lirih. Dan tanpa sadar air mataku mengalir keluar dari pelupuk mataku. Damn!

Yang kudengar hanya isakan tangisnya. Aku semakin mendekapnya erat. Aku tak mau melepasnya. Aku tak mau melepaskan cinta pertamaku.

“Hiks.. B, kau tak dapat merasakannya. Kau tak mengerti dan tak akan pernah mengerti B!” serunya.

“Aku mengerti… Aku merasakan apa yang kau rasakan saat ini Daehee-ya. Tidakkah kau tau aku selalu merasakannya?” ucapku dengan suara parau.

Daehee terdiam. Ia mulai menghentikan isakannya. Aku yang merasakan hal itu, perlahan melepaskan pelukanku. Dia menatapku dengan matanya yang bengkak. Tapi matanya seketika membulat saat mengetahui aku menangis.

“K-kau menangis?” tanyanya tak percaya. Air matanya masih mengalir walaupun ekspresi wajahnya masih terkejut. Mungkin ia terkejut melihatku menangis saat ini karena sebelumnya aku tak pernah menangis di hadapannya.

“Ya, aku merasakan apa yang kau rasakan Lee Daehee. Bahkan… aku selalu merasakannya. Tidakkah kau tahu itu?”

“A-apa maksudmu B?”

****

Author POV

Baekhyun menggenggam kedua tangan Daehee. Ia menatap lekat manik mata yang masih mengeluarkan air mata itu. Mencoba untuk menyalurkan perasaannya yang selama ini ia pendam cukup lama. Baekhyun mencoba menyiapkan dirinya dan menghembuskan nafas perlahan untuk menenangkan dirinya.

“Daehee-ya, sebenarnya aku−“

Drrrtt Drrrtt

Ponsel Daehee bergetar. Sepertinya ada telpon masuk. Daehee mengusap sisa air mata di wajahnya dan bergegas mengeluarkan ponselnya dari saku blazer yang kini dikenakannya.

“Eomma wae geurae?”

“……”

“Apakah harus sekarang?”

“……”

“Eomma, aku sedang tak mood untuk melakukan apapun hari ini. Tolong mengertilah..”

“……”

“Hhhh… Arra, arra. Aku akan kesana sekarang”

“……”

“Ye, arraseoyo Eomma. Annyeong”

PIP

“Hmm… B, sepertinya aku harus pulang sekarang. Eomma tadi memaksaku untuk mendatangi acara makan malam bersama kolega bisnis appa. Gwenchana?” tanya Daehee yang memasang wajah kecewa dan khawatir.

Baekhyun hanya tersenyum miris. Beginilah nasibnya. Hhhh.. apa mau dikata, jika ini memang takdirnya untuk selalu tersakiti, ia harus ikhlas menerimanya. Senyum miris Baekhyun berubah menjadi senyuman manis yang selalu ia perlihatkan pada Daehee. Tentunya senyuman ini sangatlah bertolak belakang dengan keadaan hatinya saat ini.

“Gwenchana Daehee-ya. Pulanglah, nanti Ibumu terlalu lama menunggu” ucap Baekhyun sambil tersenyum.

“Mm, kalau begitu.. Mau pulang bersama? Ya, hitung-hitung sebagai tanda permintamaafanku padamu karena kau belum menyelesaikan apa yang kau mau bicarakan tadi. Ah, kita mampir sebentar ke kedai ice cream. Pokoknya kau akan ku traktir kok”
Daehee tertawa renyah agar suasana canggung ini bisa hilang. Ia tahu ia bisa saja disebut sebagai orang gila sekarang. Bagaimana bisa seorang yang menangis sejadi-jadinya beberapa menit lalu bisa langsung tertawa ceria seolah tak terjadi apa-apa dengan secepat itu? Itulah hebatnya Daehee. Bagaimanapun juga ia tak boleh membuat Baekhyun lebih khawatir lagi padanya dengan membiarkan Baekhyun melihat Daehee menangis seharian. Daehee tak ingin Baekhyun kecewa padanya hanya karena Daehee berubah menjadi gadis yang lemah dan cengeng.

Baekhyun awalnya tak mau menerima ajakan Daehee, tapi setelah dipikir-pikir ia harus memanfaatkan waktunya ini agar bisa lebih lama bersama dengan Daehee. Jadi pada akhirnya, Baekhyun mengangguk sambil tersenyum pada Daehee.

“Good boy! Kajja!” Ajak Daehee riang.

Sejenak Baekhyun terdiam. Ia mengapus jejak air mata yang masih setia terlihat di wajahnya. Ia segera berlari menyusul Daehee dengan riang tentunya

‘Mungkin seperti ini lebih baik..’

****

“Eomma, sebenarnya kita akan makan malam dengan siapa?” tanya Daehee pada ibunya.

Sang Ibu hanya tersenyum melihat Daehee. Ibu Daehee melirik suaminya ang juga tersenyum kearahnya.

“Kau akan tahu nanti sayang” ucap nya pada Daehee yang masih memasang wajah bingung.

Ya, keluarga Daehee kini sudah berada di salah satu restoran elit di Seoul. Mereka memakai setelan pakaian yang formal. Membuat Daehee semakin bingung, memangnya sepenting apa kolega bisnis ayahnya yang satu ini?

Malam ini Daehee terlihat sangat cantik dengan dress selutut berwarna pink soft tanpa lengan. Ditambah lagi rambutnya yang digerai dan dipasang bando kecil yang terdapat hiasan pita pink soft diatasnya. Membuatnya tampak sangat cantik dan elegan.
Dan pada akhirnya tamu ayahnya telah datang bersama keluarganya juga. Keluarga Daehee berdiri untuk menyapa tamu ayahnya ini. Terlihat seorang pria paruh baya yang tengah bersapa ria dengan ayahnya dan tampaknya itu adalah koleaa bisnis ayahnya. Disebelah pria itu ada seorang wanita seumuran ibunya yang masih tetap cantik walaupun dengan polesan make up tipis. Mata Daehee akhirnya menangkap seorang lelaki muda yang tampan dengan balutan tuxedo coklat yang juga tengah menatapnya. Lelaki itu mendekati Daehee setelah member salam pada kedua orang tua Daehee, lalu mengulurkan tangannya.

“Annyeong, aku Sehun. Apa kau Daehee?” tanya lelaki itu sambil tersenyum. Daehee membalas uluran tangannya sekaligus tersenyum kikuk dan mengangguk.

“Ah, mari silakan duduk dulu” ucapan ayah Daehee membuat keduanya saling melepaskan genggaman tangan mereka dan duduk di tempat masing-masing.

Ayah Daehee mencoba memperkenalkan Sehun pada Daehee dan mereka mulai saling mengetahui satu sama lain dari acara perkenalan ini. Dua keluarga ini terus berbincang dan sesekali tertawa tatkala para ayah mengungkapkan leluconnya. Ah, terlihat seperti keluarga yang bahagia.

“Hmm, sebenarnya appa mengadakan makan malam ini karena ada sesuatu yang harus dibicarakan denganmu Daehee-ya dan juga dengan kau Sehun-ah”

Daehee langsung membelalakkan matanya. Jangan bilang kalau ia akan dijodohkan dengan Sehun. Oh, ayolah Daehee masih duduk di kelas 2 SHS sekarang.

“Kami akan mengadakan kerja sama bisnis. Dan kalian berdua yang merupakan penerus perusahaan kami yang akan mengerjakannya kali ini. Sekalian untuk pembelajaran kalian sebagai pengusaha yang baik dan benar” jelas ayah Sehun.

‘Hhh.. Syukurlah, setidaknya aku tidak akan menikah di usia muda’ batin Daehee.

“Bagaimana? Kalian mau kan?” tanya Ayah Daehee.

Daehee hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum begitupun juga dengan Sehun. Akhirnya acara makan malam dua keluarga itu berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan sama sekali.

****

Terlihat seorang pria yang memakai seragam ‘Seoul High School’ itu berjalan santai menuju kelasnya. Ia memasang headphone putihnya untuk mendengar lagu-lagu yang diputar dari Ipod nya. Saat sampai dikelas, pria itu mendapati seorang gadis tengah duduk termenung di bangku miliknya. Ia mencoba mendekati gadis itu perlahan dan..

“DORR!!”

“AAAAA!!” teriak gadis itu yang tak lain adalah Daehee. Pria yang mengejutkannya tadi hanya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Daehee yang terkejut tadi.

“Ya! Hentikan! Ini tidak lucu Byun Baekhyun!” Daehee merengut kesal melihat tingkah Baekhyun yang kembali ke asal, kekanak-kanakkan-_-

“Hahahaha.. Lagipula salahmu sendiri. Kenapa melamun di pagi hari yang cerah ini huh?” tanya Baekhyun sembari mendudukkan dirinya di sebelah Daehee yang memang bangku miliknya.

“A-aku tak melamun kok” ucap Daehee bohong.

“Ish, kau ini selalu berbohong ya padaku. Ckckck, mana Daehee yang selalu jujur padaku seperti dulu?” sindir Baekhyun dengan wajah kesal.

Tiba-tiba seseorang datang ke kelas mereka. Ya, saat ini memang terlalu pagi untuk datang ke sekolah sehingga di kelas itu hanya ada Daehee dan Baekhyun.

“Ya, kenapa kalian meninggalkanku huh?” ucap orang itu—Chanyeol. Chanyeol mendudukkan dirinya di depan Daehee. Ia memposisikan tubuhnya agar menghadap kearah Daehee.

“A-ak-aku tak meninggalkanmu kok. A-aku-“

“Kami tak berangkat bersama. Jadi mana mungkin kami meninggalkanmu, bahkan kami saja berangkat masing-masing” ucap Baekhyun datar memotong perkataan Daehee yang terlihat gugup.

“O-oh, begitu. Kukira kalian berangkat bersama, hehehe” cengir Chanyeol. Tapi tak direspon sama sekali oleh kedua sahabatnya ini.
Baekhyun hanya terus memasang wajah datar dan dingin sedangkan Daehee terus menundukkan kepalanya. Chanyeol merasa canggung sendiri dibuatnya. Apa yang salah sebenarnya?

Daehee mulai mendongakkan kepalanya dan menatap Chanyeol dalam.

“Mmm, Chanyeol-ah..” panggilnnya pelan.

“Ya?”

“Apa… kemarin kau… diterima?” tanya Daehee.

Chanyeol yang semula memasang wajah ceria, kini wajahnya berubah menjadi kecewa dan sedih. Ia memalingkan wajahnya kearah lain.

“Tolong jangan bahas hal itu saat ini” ucapnya dengan nada yang dingin.

Ia lalu mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya lalu bergegas pergi hingga saat di pintu kelas, ia berhenti karena suara Daehee yang memanggilnya.

“Chanyeol-ah, kau mau kemana?”

Tanpa membalikkan badannya, Chanyeol menjawab dengan dingin, “Perpustakaan”. Lalu ia berlalu pergi menuju perpustakaan.
Daehee yang tak mengerti dengan sikap Chanyeol dan mencoba untuk menyusulnya. Tapi saat ia ingin berlalu, tangannya ditahan oleh seseorang. Ya, itu adalah Baekhyun.

“Jangan pergi..” ucapnya dingin. Daehee mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Baekhyun, tapi malah genggaman tangan itu menjadi semakin erat.

“Lepaskan B, ini sakit” Daehee terus meronta hingga pada akhirnya..

“JANGAN PERGI!” teriak Baekhyun. Amarahnya kini sudah memuncak. Ia sungguh tak tahan dengan sikap Daehee. Daehee selalu saja mengejar-ngejar Chanyeol yang sudah jelas bahwa Chanyeol tidak mencintai Daehee sama sekali.

Daehee memandang Baekhyun dengan tatapan kaget dan kecewa. Matanya mulai berkaca-kaca. Bibirnya terlihat bergetar. Sementara Baekhyun mulai meredam amarahnya ketika melihat cairan bening itu keluar dari manik mata Daehee. Kini kilatan amarah di mata Baekhyun berubah menjadi tatapan penyesalan.

“Aku kecewa padamu B!” Daehee mencoba untuk pergi lagi, tapi tangannya kembali ditahan oleh Baekhyun. Baekhyun berdiri dari duduknya dan menarik tangan Daehee lalu tiba-tiba..

CHU

Bibir Baekhyun sukses mendarat tepat di bibir Daehee. Ya, hanya menempelkan bibir, tapi rasanya sangat lembut. Kecupan lembut ini sukses membuat Daehee membelalakkan matanya. Sementara Baekhyun memejamkan matanya yang sekarang mulai mengeluarkan cairan bening yang sangat tidak ia sukai.

****

Chanyeol berjalan pelan keluar dari kelas. Ia sebenarnya tak berniat menuju ke perpustakaan sekarang, tapi ia hanya ingin mengecek apa yang Soojin katakan kemarin.

Flashback on

“Karena aku… Aku menyukaimu. Saranghae Soojin-ah, apakah kau mau menjadi yeojachinguku?”

Soojin membelalakkan matanya saat Chanyeol mulai berjongkok dihadapannya sembari menyodorkan sebuket bunga mawar putih. Ia tak tahu harus bagaimana menjawab ungkapan perasaan Chanyeol ini.

“Chanyeol-ah..” panggilnya pelan.

“Nde?”

“Aku… tak bisa. Maaf..” ucap Soojin menundukkan kepalanya dalam.

Nafas Chanyeol tercekat. Rasanya jantungnya berhenti berdetak. Dunia ini terasa berhenti dan langit terasa mendung sekarang. Padahal sebenarnya langit begitu cerah. Ini terlalu menyakitkan. Chanyeol hanya termenung dan menarik kembali tangannya yang tadi menyodorkan bunga. Soojin yang melihat itu mencoba untuk membuat Chanyeol berdiri dengan memegang kedua pundak Chanyeol.

“Maafkan aku Chanyeol-ah. Aku tak bermaksud untuk melukaimu atau menyakiti perasaanmu. Tapi… aku telah mencintai orang lain, jadi maaf” ucap Soojin lirih. Chanyeol mendongakkan kepalanya dan tersenyum, senyum palsu tentunya.

“Gwenchana. Mungkin aku memang bukan orang yang pantas untuk bersanding denganmu. Maaf aku telah lancang mengatakan semua ini padamu. Tapi… jika boleh kutahu, siapa orang yang kau cintai?”

“Dia… Hm, tapi berjanjilah untuk tak memberitahukan siapapun” ucap Soojin yang kini pipinya mulai bersemu merah.

“Nde, yaksok”

“Dia… Baekhyun” ujar Soojin malu-malu. Chanyeol tersenyum miris. Ternyata orang yang selama ini ia cintai, mencintai sahabatnya sendiri. Ia mencoba untuk memberikan senyum termanisnya di depan Soojin.

“Hmm.. Chanyeol-ah, tapi sepertinya… ada seseorang.. yang mencintaimu secara diam-diam saat ini” ujar Soojin. Chanyeol mengubah mimik wajahnya menjadi bingung.

“Nugu?” tanyanya tak mengerti.

“Ia… Daehee. Apa… kau tak bisa merasakannya? Maksudku, Dia selalu memberi perhatian lebih padamu dan terlihat dari tatapannya padamu. Ada yang berbeda dari cara bersikapnya padamu”

“Hahaha, apa kau bercanda? Daehee mana mungkin jatuh cinta padaku. Jangan membual disaat yang seperti ini Soojin-ah” ucap Chanyeol tak percaya.

“Aku serius Chanyeol-ah. Coba kau renungi bagaimana selama ini Daehee memperlakukanmu. Ia memperlakukanmu dengan spesial. Jika kau masih tak percaya, coba besok kau tes apakah Daehee memang mempunyai perasaan yang lebih padamu atau tidak. Sebagai sesama perempuan, aku mengerti apa yang kini dirasakannya. Jangan buat dia kecewa Chanyeol-ah”
Chanyeol termenung dengan ungkapan Soojin. Apa iya selama ini Daehee memendam perasaan spesial padanya? Tapi ia menganggap semua perhatian Daehee adalah perhatian seorang sahabat, tak lebih.

‘Lee Daehee… apa kau benar-benar mencintaiku?’

Flashback off

Chanyeol mencoba untuk memperhatikan gerak-gerik Daehee dari luar jendela kelas. Ia melihat Daehee yang hendak berlalu, tapi tangannya ditahan oleh Baekhyun. Terlihat Baekhyun mengucapkan “Jangan pergi..” dengan pelan. Tapi Chanyeol masih bisa mendengar itu karena sekolah masih sangat sepi sekarang. Daehee terlihat meronta ingin dilepas. Hingga akhirnya Chanyeol terkejut saat Baekhyun berteriak. Bahkan ia melihat Daehee yang mulai menangis.

“Aku kecewa padamu B!” ucap Daehee dan tiba-tiba..

CHU

Tanpa disangka-sangka, Baekhyun mencium bibir Daehee. Chanyeol membelalakkan kedua matanya melihat aksi Baekhyun yang tiba-tiba itu. Entah kenapa, hati Chanyeol terasa sakit melihat adegan itu. Akhirnya ia memutuskan untuk benar-benar pergi ke perpustakaan.

****

Daehee terlihat merenung sendiri dibawah pohon rindang di taman belakang sekolahnya sembari mendengarkan lagu melalui earphone yang dipakainya saat ini. Hanya Daehee, tak ada yang lain atau bisa dikatakan ia sedang sendiri disini. Ya, semenjak kejadian pagi itu, Daehee menghindar dari Baekhyun maupun Chanyeol. Entahlah, semuanya begitu rumit sekarang. Daehee bahkan tak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Pikirannya benar-benar kacau.

Dimulai ketika ia sendiri yang mencintai Chanyeol. Lalu Chanyeol yang ternyata telah mencintai orang lain dan Baekhyun yang tiba-tiba menciumnya. Oh Ya Tuhan, sungguh Daehee tak ingin kejadian seperti ini terjadi. Ini terlalu rumit untuk dijalaninya. Beberapa hari ini Daehee selalu menyendiri dan terkadang air matanya selalu tak terbendung tatkala ia teringat akan masalahnya kini. Ia hanya ingin hidup tenang.

Tanpa disadarinya, cairan bening itu mulai jatuh membasahi pipinya yang kini mulai menirus. Ia memejamkan matanya tetapi air matanya masih mengalir deras. Daehee memijat pelipisnya pelan. Sungguh ia benar-benar butuh seseorang sekarang.

DRRTT DRRTT

Ponsel Daehee bergetar, pertanda ada panggilan masuk. Ia lalu menerima panggilan yang ternyata dari nomor yang tak dikenal itu.

“Yeoboseyo”

‘Apakah ini dengan Lee Daehee?’

“Nde, nuguseyo?”

‘Oh, Daehee-ya. Ini aku, Oh Sehun’

“Sehun-ah? Wae geurae?”

‘Kerja sama kita akan dimulai hari ini. Aku akan menjemputmu saat pulang sekolah nanti, ok?’

“Oh, ok. Arraseo. Ada yang lain?”

‘Apa kau sudah membawa berkas-berkas yang diperlukan?’

“Hmm.. Sepertinya tertinggal di kamarku. Apakah nanti bisa kita pergi ke rumahku dulu?”

‘Oh, gwenchana. Sampai jumpa Daehee-ya. Annyeong’

“Annyeong Sehun-ah. Sampai jumpa”

PIP

Sambungan terputus. Daehee mulai beranjak dari tempatnya karena bel masuk telah berdering semenjak 5 menit yang lalu. Saat ia berjalan di koridor menuju kelasnya, ia berpapasan dengan Chanyeol. Tapi Daehee malah menunduk dan menghindari tatapan langsung dengan Chanyeol. Chanyeol hanya bisa menghela nafas melihat tingkah Daehee yang berubah kini. Begitupun saat di kelas. Daehee sekarang tak lagi duduk bersama Baekhyun. Ia memutuskan untuk pindah ke bangku pojok belakang. Disaat ia melewati bangku Baekhyun, Daehee kembali menunduk bahkan lebih dalam lagi. Baekhyun yang melihat itu benar-benar tak tahan. Sudah beberapa hari Daehee bersikap seperti itu padanya. Ia tahu jika tindakannya saat itu bisa dibilang cukup keterlaluan, tapi sungguh ia juga tak tahu mengapa ia bisa melakukan hal itu. Sekali lagi, Baekhyun hanya bisa menghela nafas pelan dan menahan amarahnya.

Pulang Sekolah…

Terlihat seorang pria yang tengah menyender di kap mobil sportnya. Ia tengah menunggu seseorang dari Seoul High School ini. Beberapa kali ia melirik jam tangan bermerk yang bertengger ditangannya. Ya, ia adalah Oh Sehun. Sehun langsung berangkat menuju sekolah Daehee karena teringat dengan janjinya tadi. Tapi saat ia tiba di sekolah Daehee, justru malah ia yang harus menunggu karena ia datang terlalu cepat.

Para murid mulai berhambur keluar setelah mendengar bel pulang berbunyi. Daehee berjalan gontai kearah gerbang sekolah—karena masalah yang menimpanya akhir-akhir ini tentunya. Saat ia tiba di gerbang sekolah, terlihat beberapa siswi yang berjalan didekatnya tengah membicarakan sesuatu. Bahkan ada beberapa dari mereka ada yang sampai berteriak tertahan. Ada apa sebenarnya?

Daehee memperhatikan arah penglihatan gadis-gadis itu. Saat ia melihat apa yang menjadi objek pembicaraan mereka, ia membelalakkan matanya. Bagaimana tidak? Matanya menangkap Sehun—yang notabene adalah seorang namja tampan, keren dan kaya— yang tengah berdiri disamping mobilnya sembari melambaikan tangan kearahnya. Daehee terdiam di tempatnya terlebih saat Sehun berlari mendekat kearahnya.

“Lee Daehee? Ya, gwenchana?” Daehee mulai tersadar , ia mengerjapkan matanya beberapa kali.

“U-uh, gwenchana. Keundae… kenapa kau ada disini? Mm, maksudku… kenapa kau bisa ada disini?” tanya Daehee dengan wajah polos dan bingung.

“Apa kau lupa? Kita punya janji hari ini” ucap Sehun sembari tersenyum. Ia gemas dengan tingkah laku Daehee. Benar-benar lucu.

“Oh ya? O-oh, Mian hehehe aku lupa” ucap Daehee sembari membentuk huruf v pada jarinya. Sehun semakin dibuat gemas melihatnya. Ia mengacak rambut Daehee pelan.

“Kajja, kau harus membayar waktuku, kau tahu? 1 menit 100.000 won hahaha” canda Sehun.

“M-mwo?”

“Ah sudahlah, kajja” Sehun menarik pelan tangan Daehee yang kini agak lemot itu menuju mobil mewahnya. Akhirnya mereka pergi menuju tempat yang mereka tuju.

Seseorang melihat semua kejadian itu dengan wajah penuh rasa penyesalan dan sarat akan rasa kesedihan. Ya, orang itu adalah Chanyeol. Hatinya sakit melihat Daehee yang digandeng pria lain. Ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah, mungkin saja suasana rumah akan membuatnya tenang, walaupun kemungkinan besarnya ia hanya akan tertidur di rumah. Sementara seorang yang lain disana juga melihat kejadian itu dengan tangan terkepal. Sudah cukup ia menahan sakit selama ini karena Chanyeol dan sekarang ada pria yang lain lagi? Oh, really.. Baekhyun benar-benar sakit sekarang. Ia menahan gejolak emosinya saat ini. Tapi yang bisa ia lakukan hanya bisa melihat dari jauh. Ya, hanya bisa melihat dari jauh…

****

“Ya Sehun-ah..” panggil Daehee. Mereka berdua kini berada di taman sekitar perusahaan milik ayah Daehee. Setelah selesai dengan pelajaran ‘menjadi pewaris perusahaan yang baik’ selesai, mereka memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di taman. “Wae?” tanya Sehun.

“Apa kau pernah terlibat cinta segitiga?” tanya Daehee yang kini tengah memandang kosong ke depan. Sehun tertegun, selanjutnya ia mengulum senyum sembari ikut memandang ke depan seperti yang Daehee lakukan. “Tidak” jawabnya.

“Oh, cinta segitiga memang me—“

“Tetapi aku pernah jatuh cinta pada sahabatku sendiri” jawab Sehun yang masih mengulum senyum di bibir tipisnya. Daehee sontak menoleh kearah Sehun dengan membelalakkan mata. Sehun yang merasa ditatap langsung menolehkan kepalanya tanpa menghilangkan senyum dari wajahnya.

“Cinta pertamaku adalah sahabatku” ucap Sehun. Daehee menatap mata Sehun. Sehun juga balik menatap Daehee. Daehee kini mencoba untuk bicara. “Apa kau… ditolak?” tanya Daehee ragu.

“Ani, aku tahu dia tidak mencintaiku. Aku hanya ingin melihatnya bahagia, dengan pilihannya. Hhhh, ini memang pilihan yang berat tapi… ini yang terbaik” ujar Sehun sambil tersenyum. Walaupun kini hatinya terasa sakit tatkala masalah cintanya di masa JHS dulu kembali teringat.

Hening diantara mereka. Kini mereka hanya menyalurkan perasaan mereka melalui tatapan. Keduanya memberikan tatapan lelah, miris, dan iba. Daehee kini sungguh merasa Sehun tengah berada di titik lemahnya. Walaupun ia baru mengenal Sehun akhir-akhir ini tetapi tetap saja ada aura lain saat Sehun menunjukkan senyum palsunya.

“Sehun-ah..”

“Hm?”

“Bolehkah aku memelukmu?” Sehun membentangkan kedua tangannya sembari tersenyum semanis mungkin.

GREP

Daehee langsung memeluk Sehun. Ia sungguh tak tahan melihat senyum palsu itu. Senyum yang selama ini selalu ia tunjukkan juga pada semua orang. “Menangislah, tak apa. Keluarkan semuanya Sehun”.
Daehee yang juga mulai menangis merasa pundaknya basah. Mereka kini menangis terisak, untuk mengungkapkan pada dunia seberapa sakitnya mereka selama ini. Dunia harus tahu bahwa mereka tersakiti disini. Ya, dunia harus tahu…

****

February 2018

Kota Seoul semakin terlihat megah dengan kecanggihan teknologi dan gedung-gedung pencakar langit. Pria itu nampak sedang menikmati waktu bersantainya di balkon apartemen mewah miliknya. Ia menyesap teh hijau favoritnya sembari memandang pemandangan kota Seoul di malam hari.

TING TONG

Bel apartemennya berbunyi, tanda ada seorang tamu dibalik pintu sana. Pria dewasa itu segera beranjak untuk membuka pintu. Dan, betapa kagetnya ia melihat siapa yang datang ke apartemennya kini.

“Park Chanyeol?”

****

“Ini soal… Daehee”

Baekhyun memalingkan wajahnya. Ia sungguh tak mau mendengar nama itu lagi sekarang. Ia hampir menjadi gila saat tahu Daehee pindah ke luar negri tanpa berpamitan padanya.

“Tak usah menyebutkan nama itu didepanku” ucap Baekhyun menahan air matanya. Chanyeol yang sadar bahwa Baekhyun tengah menahan tangisnya kini memegang bahu Baekhyun erat.

“Kemana Byun Baekhyun yang selalu kuat? Yang selalu tersenyum setiap saat dan selalu menghibur siapapun dengan senang hati. Aku ingin kau kembali seperti dulu B, ayolah B”

“SHUT UP! KELUAR DARI RUMAHKU!!!” teriak Baekhyun histeris.

“Tapi B..”

“KKA JIGEUM!!”

“BYUN BAEKHYUN! KAU HARUS SADAR BAHWA DAEHEE KINI SUDAH PERGI! IA TAK MAU KAU TERUS SEPERTI INI! Mengertilah B…”

Baekhyun berlutut sembari menangis. Ia selalu seperti ini saat ada seseorang yang menyebut-nyebut Daehee. Ia sungguh merasa sebagai pria pengecut yang tak berguna. Pria pengecut yang membiarkan cintanya pergi.Tepat saat hari kelulusan mereka, Daehee pergi meninggalkannya tanpa jejak. Orang tuanya tak mau memberi informasi apapun pada Baekhyun. Saat itu Baekhyun berniat mencari Daehee untuk meminta maaf atas kejadian ‘itu’. Tapi yang ia dapat hanyalah kabar bahwa Daehee sudah tak berada di Korea lagi. Baekhyun benar-benar kacau saat itu. Ia benar-benar mencintai seorang Lee Daehee, bahkan sangat sangat mencintai. Setiap hari alkohol dan rokok selalu menemaninya. Ia keluar masuk kantor psikiater. Bahkan ia juga pernah melakukan percobaan bunuh diri. Orang tua Baekhyun benar-benar sedih melihat anaknya menjadi seperti ini.

Setelah menjalani beberapa proses pemulihan, Baekhyun mulai membaik. Ia menimba ilmu di universitas terbaik dan lulus sebagai sarjana terbaik pula. Baekhyun sekarang juga telah menjadi seorang pengusaha sukses dan kaya. Dengan wajah tampan, otak yang cerdas, juga harta yang berilmpah, membuat Baekhyun tampak sempurna di mata orang-orang. Namun sebenarnya tidak, setiap malam ia selalu menangis meraung-raung di apartemennya. Ia selalu menangis tatkala teringat dengan Daehee, orang yang sangat dicintainya. Bahkan ia merasa Daehee adalah candu baginya.

Chanyeol mengeluarkan sesuatu dari dalam saku mantelnya. Ia menyodorkan benda itu di depan wajah Baekhyun. Sontak Baekhyun langsung mendongakkan kepalanya bingung. Ya, benda itu adalah…sepucuk surat…

****

Flashback on

9 Years ago at Airport

“Daehee-ya! Berhenti! Lee Daehee! Berhenti atau aku akan bunuh diri disini sekarang juga!!” ucap Chanyeol. Daehee menghentikan langkah cepatnya mendengar pernyataan Chanyeol.

“Jelaskan padaku, apa maksud dari semua ini. JELASKAN PADAKU LEE DAEHEE!” teriak Chanyeol ditengah kesibukan Bandara saat itu.

Daehee hanya diam memunggungi Chanyeol. Matanya tak henti-hentiya berhenti mengeluarkan air mata. Ya, ia memutuskan untuk dijodohkan dengan Sehun dan memilih tinggal dengan Sehun di luar negri. Ia pergi tanpa berpamitan pada kedua sahabatnya. Ia tak kuat melihat air mata kedua sahabatnya terus menetes karenanya. Ya, ia pikir lebih baik seperti ini.

GREP

Daehee tersentak kaget saat merasa sebuah pelukan hangat menyelimuti dirinya. Chanyeol memeluknya dari belakang. Dapat Daehee rasakan Chanyeol tengah menangis kini. Itu membuatnya tak kuasa menahan isakan yang sedari tadi ia tahan.

“Jangan pergi..” ucap Chanyeol lirih. Jujur, ia tak sanggup kehilangan Daehee kini. Ini terlalu berat baginya yang baru saja mengerti perasaan cinta yang sesungguhnya. Ini terlalu awal baginya merasakan patah hati yang kedua kalinya.

Ya, setelah acara kelulusan selesai, Chanyeol tak melihat batang hidung Daehee. Padahal saat acara kelulusan berlangsung ia melihat Daehee tersenyum manis di podium. Menyadari Daehee sudah pulang, Chanyeol juga berniat untuk pulang. Saat ia tiba didepan rumahnya, ia melihat Daehee dan seorang pria tengah memasukkan beberapa koper besar kedalam mobil. Selanjutnya mobil itu melesat pergi.Sontak Chanyeol mengikuti mobil yang ternyata bertujuan ke bandara. Chanyeol terus mencari Daehee, hingga ia mendapati seorang gadis tengah berdiri sendirian di tengah keramaian bandara. Chanyeol segera berlari menghampiri Daehee sembari memanggil nama gadis itu. Daehee yang melihat Chanyeol, langsung berlari menghindar.

Daehee membalikkan badannya, membalas pelukan Chanyeol. Ia juga tak sanggup meninggalkan sahabatnya yang satu ini. Sahabat yang pernah ia cintai. “Apa yang harus kulakukan agar kau tak pergi?” bisik Chanyeol.

Daehee melepaskan pelukannya, ia menatap Chanyeol dalam dan menjawab, “Tak ada. Yang harus kau lakukan adalah menuruti permintaanku untuk saat ini. Aku sangat berharap kau akan menurutinya”

“Apa permintaanmu?”

“Tolong.. kau berikan surat ini pada Baekhyun 3 tahun lagi, ah tidak maksudku 9 tahun lagi. Kuharap kau bisa menuruti permintaanku ini. Aku tak tahu apa aku akan kembali lagi kesini atau tidak. Tapi akan kuusahakan aku akan kembali” Daehee tersenyum walau air matanya terus jatuh.

“Daehee-ya..”

“Baik-baiklah disini. Jaga dirimu dan jangan bermalas-malasan kuliah oke. Kau harus muncul di artikel internet sebagai seorang pengusaha sukses. Dan…”

“Kuharap kau bisa bersama Soojin. Berjanjilah padaku bahwa kau akan menjadi seorang lelaki sejati untuknya. Jangan buat ia kecewa sekalipun”

“Tapi.. aku sudah ditolak oleh Soojin. Mian tidak menceritakannya padamu, aku baru sadar jika orang yang selalu mencintaiku dengan tulus adalah kau” ucap Chanyeol sembari menatap mata Daehee dalam. Daehee tertegun dibuatnya. Ia tak menyangka jika Chanyeol ternyata ditolak.

“Gwenchana Chanyeol-ah. Aku yakin Soojin mempunyai perasaan yang sama denganmu. Ia hanya belum menyadarinya saja”

“Tapi—“

“Ssst, kau harus yakin pada dirimu sendiri bahwa kau bisa membuat Soojin jatuh hati padamu. Buktinya, aku saja terpesona olehmu, hahaha” sejenak mereka tertawa renyah karena ucapan Daehee.

Daehee memegang pundak Chanyeol dan berkata, “Berjanjilah kau akan hidup bahagia dengannya. Mmm, dan jangan lupa jaga Baekhyun untukku. Yaksok?”

“Nde, yaksok..” Chanyeol dan Daehee kembali berpelukan dan tetap menangis.

“Daehee-ya, kita harus segera pergi” suara itu, suara Sehun. Daehee melepas pelukannya dan menghapus air mata di wajah Chanyeol. “Kau harus tepati janjimu, Big Guy! Aku pergi. Annyeong”

Daehee kini pergi dengan menggandeng tangan Sehun. Tangan pria yang sudah berjanji akan selalu mencintainya hingga akhir hayatnya. Pria yang tak akan membuatnya sakit hati sekalipun. Chanyeol memandang kepergian Daehee dengan mata sendu. Ia harus mencoba ikhlas. Ya, harus..

Flashback off

****

Hi Mr. B

How Are you? Kuharap kau ‘tidak baik-baik saja’, kkkkk~. Aku disini akan selalu menjaga kesehatanku. Kuharap kau juga begitu. Kau tahu, setelah kupikir-pikir kau ini masih seperti dulu,kekanakkan dan polos. Aku suka kau yang seperti itu.Tapi… saat kejadian ‘itu’, aku pikir kau tak sepolos yang kukira. Ck, dasar mesum! Kau yang merebut ciuman pertamaku kau tahu? Ugh, dasar.

Oh ya, maafkan aku karena aku tak berpamitan padamu saat aku pergi. Jujur saja, aku sangat berat meninggalkan Seoul. Kenangan kita sedari kecil masih selalu terngiang di kepalaku. Kenangan saat kita makan ice cream bersama (pasti aku yang traktir, payah;p), saat kita menghabiskan waktu di taman hingga larut, dan kenangan saat kita mulai mengerti apa itu cinta.
B, aku tahu ini mungkin terlambat tapi.. SARANGHAE BAEKHYUN-AH. Aku tahu aku terlambat menyadari perasaan ini, tapi aku sekarang sadar bahwa orang yang selama ini kucintai adalah kau. Disaat ada gadis-gadis yang mendekat padamu, aku merasa hatiku panas. Disaat aku kesulitan, orang pertama yang kupikirkan adalah kau. Orang yang pertama kali kuberitahu kabar bahagia setelah orang tuaku adalah kau. Kau yang selama ini selalu ada di otakku, dan di hatiku.

But B, aku harus minta maaf lagi padamu. Aku kini telah bersama pria lain yang akan menjagaku dengan baik. Kau tak perlu khawatir, aku akan bahagia dengannya. Kau juga harus hidup bahagia B. Jangan sia-siakan wajah tampanmu! Carilah yeoja cantik dan baik diluar sana. Ingat yeoja CANTIK dan BAIK!

Your Best Friend(Lover),
Lee Daehee

Baekhyun menangis kembali membaca surat pemberian Daehee 9 tahun lalu ditambah lagi pernyataan Chanyeol mengenai kejadian 9 tahun lalu itu. Daeheenya ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia pikir kisah cintanya hanyalah kisah cinta sepihak picisan yang benar-benar tak terbalaskan. Tapi ia bersyukur, ternyata Daehee pernah mencintainya. Walaupun kini Daehee sudah tak mencintainya lagi, Baekhyun akan mengerti itu. Ia akan mencoba hidup yang lebih bahagia dari Daehee. Ia harus mencoba untuk mengikhlaskan Daehee dengan lelaki lain yang mungkin lebih baik darinya. Walaupun ia bisa dibilang sangat terobsesi pada Lee Daehee, tapi ia juga harus membuka matanya. Bahwa seorang Lee Daehee telah dimiliki orang lain dan tak akan berpaling padanya. Bagaimanapun juga, ia tak mau kalah oleh Daehee si gadis manis yang pernah mengisi relung hatinya.

“Aku akan lebih bahagia darimu Daehee-ya. Akan kubuktikan itu”

“Jinjja?”

DEG!

Suara itu… suara Daeheenya. Baekhyun mencoba untuk menganggap bahwa itu hanya ilusinasinya saja.

“Apakah kau bisa lebih bahagia dariku B?”

Suara itu terlalu nyata bagi Baekhyun. Hingga akhirnya, ia menoleh ke belakang dan mendapati seorang wanita cantik tengah berdiri dihadapannya sembari tersenyum manis.

“D-Daehee-ya?”

****

Kisah cintaku dengan dua orang lelaki. Dua orang lelaki yang merupakan sahabatku sendiri. Untuk seseorang disana, mungkin cinta kita tak pernah terucapkan secara lisan. Tapi tanpa kita sadari, setiap hari hati kita selalu mengucapkannya dalam hati kita. Label ‘persahabatan’ adalah bentengnya. Benteng yang tak akan pernah hancur. Walaupun ada retakan yang besar sekalipun, tetapi kita akan tetap memperbaikinya. Hingga benteng itu menjadi benteng yang paling kuat di dunia. Kalian berdua adalah bagian penting dalam hidupku. Karena kalian adalah dua sahabat yang paling berharga. Karena kalian juga adalah dua sahabat namja yang pernah kucintai….
~I’m in love with Two Boys!~

Lee Daehee

-FIN-

Eotte? Jelek ya? Absurd ya? Maafkaaann;’( . Hffftt, but please RCL yaa, aku butuh banget review dari kalian karena ini bener-bener FF pertama yang aku publish.

Semoga kalian bisa menikmati jalan cerita aneh bin absurd ini-_____- Aku juga ingin berterima kasih pada admin yang mau mempost FF ku ini *bow dan terimakasih pada para readers yang sudah mau baca cerita ini *kedipin mata;). Well, aku terlalu banyak cingcong yaa-,- BTW, see you at the next story 😀

*Numpang promote dongs;) Follow twitter-ku yaa @lovelybaekkie dan @nilamputri93. Thank youuu<3

 

 

Iklan

34 pemikiran pada “Two Boys!

  1. emang susah kalo persahabatan tercemar oleh virus yang namanya ‘cinta’ *sigh* dan aku miris banget sama cerita cintanya baekhyun, jadi mau nangis 😦 *hug baekki*
    btw, endingnya kok gantung sih thor? kayanya butuh sequel deh~ *wink* #slapped XD
    aku suka sama ceritanya ^-^
    SEQUEL PLEASE~ :3

  2. Hello readers-deul^^/
    Ada sedikit pemberitahuan dari
    saya 🙂

    Bagi yang mau baca sequel FF
    Two Boys! bisa baca di link ini »
    http://
    lovelybaekkie.wordpress.com/2
    014/07/20/my-new-lover-
    sequel-of-two-boys-12-3/

    Sebenarnya saya sudah
    mengirim sequel ini ke exoff,
    tapi karena disini harus antri
    dulu, kemungkinan akan lama
    kalau menunggu di publish
    disini.

    Oh ya, maaf karena saya ga bisa
    bales comment kalian satu satu
    😦

    Terima kasih banyak untuk yang
    sudah mau baca dan comment:)
    I love you guys! ❤

  3. Kya! Tambah lagi ff yg paling bagus dalam list ff ku/? And ffnya panjang! Aku suka!
    Cerita cinta segi empat antara sahabat sejak kecil! Bener2 mengharukan!
    Endnya ngegantung thor… Masih penasaran! Apa daehee udah nikah ama sehun? Baekhyun gimana kelanjutannya? Pokoknya harus ada sequel! Hehehe! Keep writing!!! ^^

  4. Cinta segi banyak… jleb jleb jleb…
    emang hampir mustahil sebuah persahabatan seperti Daehee-Baekhyun-Chanyeol akan baik-baik saja, langgeng tanpa masalah. Daehee nggak salah jatuh cinta sama towboys, tapi emang lebih baik Daehee sama Sehun karena se-nggak-nya Sehun dan Daehee bisa belajar saling mencintai… << komentar ini muncul setelah baca my new lover lol

    baguuus…. ini adalah ff paling realistik yang pernah saya baca, realistik maksudnya : jodoh itu bukan selalu orang yang sejak awal dicintai atau mencintai, tapi jodoh adalah orang yang disiapkan Tuhan untuk bisa belajar saling mencintai 🙂

    Good FF lah.. suka sama endingnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s