A Familiar Person – HeLL (o), Dear ! (Chapter 4)

HeLLo, dear

Title        :               A Familiar Person – HeLL (o), Dear !

Author   :               usney or mee-icha

Main Cast:             Kang Hye Yeon, EXO

Length    :              Chapter

Disclaimer             :               http://asniishere.wordpress.com/

Note : Big Hai #sambil melambai dengan bendera ditangan.. hahaha… How are you??? Huaaaa… it’s been a long time ago since the last time I’ve updated this FF. I sent my big apologize to all of you, who’s waiting for this FF. My work is getting more hectic than before. Feel free to tell me if you disappointed with this chapter. Well, enjoy it and don’t forget to write your comment.

^^^

Author P.O.V

Sehun berjalan pelan menuju meja makan dengan perasaan

was-was. Entahlah, ada ketidaknyamanan dalam setiap langkah yang diambilnya. Namja ini merasa ada sesuatu yang berbeda yang akan terjadi malam ini.

“Sehun-a, cepat duduk. Mama sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.” Sapa Nyonya Oh pada anak laki-lakinya tersebut.

Sehun melirik meja makan tersebut. Malam ini meja bundar itu tersebut berisi menu makanan yang lebih banyak dari biasanya padahal tidak ada tanda-tanda kehadiran tamu. Hampir semua makanan kesukaannya tersaji rapi.

Eomma, apa ada sesuatu yang sedang kita rayakan? Kenapa banyak sekali makanan malam ini ?” Tanya Sehun sedikit curiga.

“Sudah, makan saja. Nanti kita bicarakan setelah makan selesai.” Ujar Tuan Oh yang langsung menghentikan pikiran Sehun untuk bertanya lebih lanjut.

Makan malam itu berjalan dengan lancar. Bahkan, Namjoo yang biasanya akan sangat cerewet berkomentar tentang setiap menu makan malam yang tersaji, malam ini terlihat sangat pendiam dan menikmatinya dengan lahap. Tidak ada sedikitpun kata ‘diet’ yang keluar dari mulutnya.

Tepat saat Tuan Oh meletakkan gelas setelah meneguk pelan air mineralnya, suasana makan malam itu terasa berubah.“Sehun-a, bagaimana pendapatmu tentang Hye yeon?”

Ne?” Sehun terlihat terkejut dengan pertanyaanya tersebut. Terlalu tiba-tiba hingga membuatnya tersedak saat meneguk minumannya.

Namjoo segera menoleh pada appadan oppa-nya secara bergantian. Gadis ini juga terlihat bingung dengan pertanyaan sang appa.

Sehun-a, gwencana? Pelan-pelan saja minumnya.” Ujar Nyonya Oh khawatir. “Yeobo, kenapa langsung to the point seperti itu.” Tegur Nyonya Oh pada suaminya.

“Kalau begitu kau saja yang menyampaikannya. Aku tidak terlalu pandai merangkai kata.” Balas Tuan Oh.

Nyonya Oh mengangguk pelan sambil memberikan senyum tipis pada sang suami. Pandangannya kini diluruskannya pada sang anak laki-lakinya. “Sehun-a, Eomma yakin kau sudah tahu maksud appa-mu bertanya demikian. Ini tentang masalah perjodohanmu dengan anak Tuan Kang.”

“Aku tahu, memangnya ada apa?” Tukas Sehun masih terlihat bingung. Dia masih menebak-nebak apa yang direncanakan orang tuanya kali ini.

“Mungkin ini terdengar tiba-tiba bagimu, tapi percayalah eomma dan appa sudah mempersiapkannya dengan baik…”

“Apa mereka akan menikah, eomma?” Sergah Namjoo ditengah kalimat Nyonya Oh.

Namjoo-a…” Tegur Tuan Oh sambil melirik pada anak gadisnya itu.

Arraseoyo, aku akan diam.” Tukas Namjoo cepatsambil menggerakkan tangan seakan mengunci mulutnya.

Sehun terlihat sedikit berpikir kemudian berkata hati-hati,“Apa benar yang dipertanyakan Namjoo, aku akan menikah dengannya?”

“Tentu saja kau memang akan menikah dengannya. Itukan memang tujuan dari perjodohan ini. Hanya saja, bukan dalam waktu dekat ini…” Nyonya Oh menghentikan sesaat ucapannya. Kemudian terlihat sedikit melirik pada suaminya dan menghela nafas pelan untuk kemudian melanjutkan ucapannya. “Eomma dan appa, kami berdua, hanya ingin kalian bertunangan dulu.Yah, setidaknya sampai kalian lulus sekolah.”

“Tunangan?” Ulang Sehun cepat.

Ne, tunangan. Dan itu akan dilaksanakan minggu depan.” Tukas Tuan Oh singkat dan jelas.

Ne? Mi…mi…minggu depan?” Sehun bertanya dengan agak tergagap.

“Iya, minggu depan, sayang.” Jawab Nyonya Oh dengan lembut ketika melihat kekagetan yang menyergap anak laki-laki satu-satunya itu. “Maaf jika hal ini mengagetkanmu. Kau tidak perlu mempersiapkan apapun. Ini hanyalah sebuah acara pertunangan saja. Eomma dan appa hanya ingin menunjukkan i’tikad(?) baik untuk kelanjutan masalah perjodohan ini pada keluarga Tuan Kang. Karena kalian masih terlalu muda untuk sebuah pernikahan makanya kami memutuskan untuk mengadakan acara pertunangan saja terlebih dahulu hingga nanti akhirnya kami bisa menyelenggarakan pernikahan kalian.” Jelas Nyonya Oh.

Sehun hanya bisa terdiam mendengar penjelasan Nyonya Oh. Dia terlalu shock mendengar berita tersebut. Dia tidak menyangka bahwa orang tuanya benar-benar serius untuk masalah ini. Kepalanya seakan langsung dipenuhi berbagai pertanyaan. Tapi dia bingung harus memulainya dengan pertanyaan apa. Jantungnya juga terus bertalu-talu seakan ada gondam besar yang baru saja memukul organ tersebut. Dia terlihat menunduk tapi matanya seakan bergerak liar tanpa fokus. Dia benar-benar bingung sekarang.

Nyonya Oh bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kearah anak laki-lakinya itu. “Sudahlah, tenang saja. Kau tidak perlu memikirkan macam-macam. Anggap saja pertunangan ini sebagai salah satu cara kamu dan Hye yeon untuk lebih dekat satu sama lain. Kalian berdua masih bisa menjalankan aktifitas kalian seperti biasa. Tidak akan ada yang berubah. Ok?” Ujar Nyonya Oh sambil mengelus pelan kepala sang anak. “Kau tidak perlu memikirkan apapun untuk acara itu, biar eomma yang urus semuanya. Kau cukup datang ke acara yang akan kita selenggarakan nanti.” Tambahnya lagi dan hanya dijawab dengan anggukan singkat dari Sehun.

Eomma, aku bisa bantu apa? Aku juga ingin membantumu. Aku bisa temani eomma belanja, ya, ya?” Ujar Namjoo yang terlihat antusias dengan rencana orang tuanya tersebut. Sangat berbanding terbalik dengan Sehun yang malah memberinya death glare singkat yang membuat gadis itu langsung terdiam.

^^^

Perlahan tapi pasti tubuhnya mulai menggeliat dibalik selimut yang masih membaluti tubuhnya. Namja itu membuka mata dan mendesah dalam. Tidurnya tadi malam benar-benar jauh dari kata nyaman. Hampir setiap jam dia selalu terbangun dari tidurnya. Dan tiap kali terbangun itu, dia selalu berharap bahwa acara makan malam itu hanya bagian dari mimpi buruk yang akan hilang saat dirinya terbangun. Tapi tidak mungkin, hal itu terlalu nyata untuk menjadi sebuah mimpi.

Namja itu sudah mengubah posisinya menjadi duduk. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri secara bergantian seakan sedang mencari sesuatu yang entah apa itu. “Apa yang harus aku lakukan untuk hidupku setelah ini? Arrgggggghhhhh…” Erangnya, gusar pada diri sendiri sambil mengacak-ngacak rambuk yang sudah berantakan itu. BUM!. Suara hentakan keras karena dia kembali membanting tubuhnya diatas kasur tidurnya itu. Dia benar-benar tidak bersemangat untuk berangkat sekolah hari ini. Apalagi harus bertemu dengan gadis itu.

Hanya berselang waktu 30 menit, Sehun sudah berada dalam mobilnya menuju sekolah. Berada dirumah juga tidak akan membuat perasaannya lebih baik. Dia sedang tidak ingin sarapan bersama apalagi harus membiarkan Namjoo berangkat sekolah satu mobil dengannya. Dia sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun pagi ini, terutama dengan keluarganya yang mungkin akan membahas tentang acara pertunangan itu.

Mobilnya sudah terparkir sempurna saat belum banyak siswa yang datang. Wajar saja, ini bahkan belum jam 7 pagi. Dia berjalan menuju ruang basket. Tidak banyak hal yang dilakukannya disana, hanya duduk disudut ruangan sambil memainkan bola basket ditangannya dan merenung tentang apa yang akan dilakukannya untuk masa depannya. Apakah dia harus menjalani pertunangan ini? Apakah tidak ada kemungkinan untuknya menghindari pertunangan ini? Setelah pertunangan ini, kapan dia akan menikah? Apakah dia akan berakhir menjadi pasangan yang menikah muda? Bagaimana dengan mimpinya? Bagaimana dengan cita-citanya? Bagaimana dengan kehidupan masa mudanya?. Pertanyaan demi pertanyaan terus menerus membanjiri otaknya tanpa henti. Pagi ini seakan menjadi pagi yang paling membuatnya frustasi seumur hidupnya.

Kringgggg… Kriiinggggg…

Bel tanda masuk sudah berdering keras. Ternyatapertanyaan-pertanyaan tadi sudah membuatnya tenggelam dalam dunianya sendiri tanpa menyadari waktu yang berlalu begitu saja. Langkahnya terkesan sangat gontai menuju ruang kelas. Saat-saat seperti ini bukan waktu tepat untuk menjejalkan pelajaran-pelajaran sekolah ke otaknya.

Saat tiba diruang kelas, Ahn Songsaenim yang akan mengajarkan mata pelajaran Matematika belum tiba jadi dia bisa tersenyum lega. Mata namja tersebut langsung tertuju pada meja gadis yang dalam hitungan hari akan menjadi tunangannya. Hanya ada tas yang tergantung disisi kanan kursi gadis itu. Sosok gadis itu sama sekali tidak terlihat, bahkan hingga mata pelajaran Ahn Songsaenim berakhir.

Kemana dia? Kalau tidak ingin masuk sekolah kenapa harus meletakkan tasnya disitu? Dia pasti sudah dengar juga tentang rencana pertunangan itu. Apa dia menerimanya? Atau malah menolaknya?, tanya sehun dalam hati.

“Hei, Sedang apa?” Ujar Baekhyun yang sukses membuat Sehun tersentak kaget.

“Ha?” Balas Sehun yang malah terlihat bingung.

“Kenapa kau menatap bangku Hye yeon seperti itu? Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Ah, oh itu… itu…”

“Itu… itu apa?” Tanya Baekhyun tidak sabar.

“Iya, itu apa?” Ulang Chanyeol yang entah sejak kapan nimbrung pembicaraan mereka.

Sehun tidak berujar apapun. Dia hanya menarik nafas perlahan dan menghembuskannya dengan kasar. Hal itu membuat Baekhyun dan Chanyeol tambah penasaran.

“Ada apa? Kenapa wajahmu berubah serius seperti itu?” Tanya Baekhyun lagi.

“Iya, ada apa? Apa ada masalah besar? Dan itu berhubungan dengan Hye yeon?” Kali ini Chanyeol bertanya serius tanpa ingin bermain-main dengan kalimatnya.

Pandangan Sehun masih tidak lepas dari bangku Hye yeon. “Ini memang sesuatu yang berhubungan dengan gadis itu. Nanti saat jam istirahat aku akan menceritakannya pada kalian” Ujar sambil menoleh bergantian pada Baekhyun dan Chanyeol.

“Harus menunggu jam istirahat ya? Tidak bisa sekarang saja? Aku sudah penasaran.” Ujar Chanyeol sambil sedikit memelas karena rasa penasarannya.

“Tidak bisa. Tunggu saja nanti. Karena ini adalah suatu masalah yang besar.”

Arraseo. Kau harus janji akan menceritakannya. 30 menit lagi waktu jam istirahat.” Ujar Baekhyun sebelum kembali ke posisi duduknya dan menghadap ke papan tulis untuk kembali berpura-pura mendengarkan penjelasan Ahn Songsaenim yang kini sedang menjelaskan contoh penggunaan rumus matematika differensial yang baginya hanya terlihat seperti gambar cacing-cacing liar.

^^^

“Mworago???” Ujar Baekhyun dan Chanyeol secara bersamaan setelah mendengar penjelasan singkat dari Sehun tentang acara pertunangannya.

“Orang tuamu serius tentang hal ini?” Tanya Chanyeol masih penuh dengan kekagetan berita yang didengarnya.

“Kalau hal ini tidak serius, aku tidak mungkin seperti ini.” Jawab Sehun asal. Dia sedang tidak ingin membicarakan hal lebih lanjut. Hanya saja dia ingin memberitahukan pada sahabat-sahabatnya agar tidak muncul kesalahpahaman nantinya.

“Kau benar juga. Tapi Hye yeon bukan pilihan yang buruk kok.” Tukas Baekhyun yang langsung diberi death glare oleh Sehun.

“Hah… kalimatmu sama saja seperti Namjoo. Sudahlah, aku sedang tidak ingin membicarakan gadis itu. Aku hanya bisa berharap kalau gadis itu akan menolak rencana pertunangan bodoh ini.” Ujar Sehun sedikit jengkel.

“Baiklah. Kita tidak akan membicarakannya sekarang… mungkin lain kali. Jangan menatapku seperti itu Sehun-a, suka atau tidak, gadis itu sudah jadi bagian dari rencana pertunangan ini. Tidak mungkin kita tidak membicarakannya, ya ‘kan Chanyeol?”

Meski sedang kesal, Sehun harus mengakui bahwa perkataan Baekhyun memang ada benarnya.

“Betul sekali. Feeling-ku bukan hanya kau yang tidak setuju dengan rencana ini tapi gadis itu juga.” Ujar Chanyeol menyetujui kalimat Baekhyun. “Kemungkinan dia juga baru mendapat berita tentang rencana pertunangan itu tadi malam dan karena kesal dengan keputusan mendadak itu makanya dia tidak mengikuti pelajaran sama sekali. Mungkin saja dia tidak ingin melihat mukamu sama sekali. Aku tidak menyangka kalau ada gadis yang menolak ditunangkan denganmu. Hahaha…”

Baekhyun tertawa singkat menanggapi kalimat Chanyeol barusan. “Tapi, seharusnya dia tidak datang saja sama sekali kalau benar-benar tidak ingin melihat muka Sehun saat ini. Kenapa harus repot-repot datang ke sekolah kalau tidak ada satupun mata pelajaran yang dihadirinya.” Tukas Baekhyun bingung.

“Entahlah, aku juga tidak mengerti jalan pikiran gadis itu.” Ujar Sehun yang terlihat pasrah campur galau.

^^^

Disisi lain sekolah tersebut, Hye yeon bisa melihat Sehun dari tempatnya berdiri saat ini. Meski tidak begitu jelas, tapi cukup baginya untuk tahu bahwa salah satu dari namja yang sedang duduk dipinggir lapangan basket itu adalah Sehun, sang calon tunangannya.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Tanya Eunji yang dari tadi menemaninya.

“Entahlah, aku juga bingung…” … “Sejak kecil aku selalu berpikir bahwa akan menyenangkan jika aku bisa segera merayakan ulang tahunku yang ke-17. Berarti aku sudah punya alasan untuk bisa independent terhadap hidupku sendiri. Tapi sekarang, angka 17 yang kutunggu itu seakan menjadi mimpi buruk yang siap untuk menjemput kebahagiaanku.” Ujar Hye yeon sambil menghela nafas dengan kasar.

Sejak tiba disekolah dan meletakkan tas ransel dikelas, Hye yeon memang selalu berada disini, dilantai teratas gedung sekolahnya. Tempatnya bisa melihat keseluruhan bangunan sekolah ini. Entahlah, dia kehilangan semangatnya untuk belajar. Sebenarnya dia tidak ingin berada disekolah sama sekali. Setidaknya untuk hari ini. Tapi dia tidak tahu harus pergi kemana dengan seragam sekolah yang terbalut dibadannya sejak pagi. Dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Sehun hari ini. Kalau bisa, untuk seterusnya. Dia masih belum bisa menerima keputusan acara pertunangan yang akan diselenggarakan minggu depan itu.

“Jangan begitu Hye yeon-a. Orang tuamu tidak akan melakukan hal ini jika mereka berpikir ini akan melukaimu. Mereka hanya ingin yang terbaik untukmu.”

“Sayangnya, appa tidak berpikir sama sekali” Ujar Hye yeon sinis.

Eunji menatap temannya dengan wajah khawatir, “Hye yeon-a, ini bukan akhir dari segalanya. Kalau kau tidak suka, kau katakan saja. Jujur pada aboeji-mu.”

“Beliau tidak peduli itu. Aku sudah mengatakan berkali-kali bahwa aku tidak menginginkan pertunangan ini. Tapi apa yang terjadi sekarang? Mereka malah sudah menentukan hari dan tanggal pertunanganku. Beliau tidak peduli padaku. Ucapanku hanya angin lalu baginya. Bulls*** dengan semua amanah itu. Itu semua bohong.” Ujar Hye yeon menggebu-gebu hingga air mata mulai muncul dipelupuk matanya.

Eunji segera memeluk sahabatnya yang terlihat sangat rapuh dengan kemarahan yang sedang menyelimutinya. “Tenang Hye yeon-a, tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja.” Ujarnya sambil mengelus pelan punggung Hye yeon untuk menenangkannya. “Jika ada yang bisa membuatmu merasa lebih baik, aku siap membantumu.” … “Mungkin ini tawaran yang bodoh, apa kau mau izin pulang saja sekarang, setelah itu kita bisa pergi ke taman bermain untuk melepaskan sedikit stresmu itu, bagaimana?”

Hye yeon malah tertegun kemudian tertawa kecil ditengah isak tangis yang mulai membanjiri wajahnya. Dia melepaskan diri dari pelukan sahabatnya itu.Eunji selalu hebat dengan ide konyolnya. Kemudian dia memandang kearah sahabatnya itu.Ada rasa iri dalam diri Hye yeon dengan kehidupan yang dimiliki Eunji.Hidup sahabatnya itu terasa jauh lebih mudah dan menyenangkan dari hidupnya.

“Jangan memandangku seperti itu. Kalau kau tidak mau, ya lupakan saja.” Ucap Eunji yang salah tingkah ditatap Hye yeon dengan air matanya yang masih mengalir.

“Kau memang selalu hebat memberikan solusi untuk masalahku. Tapi aku ada test di jam pelajaran terakhir. Sayang rasanya kalau aku sudah berada disekolah tapi tidak mengikuti test tersebut.”

Test?What an amazing thought ! Kau masih bisa berpikir tentang test disaat keadaanmu seperti ini. Uwooow…” Tukas Eunji terkagum-kagum dengan jalan pikiran sahabatnya ini sambil bertepuk tangan pelan.

Hye yeon hanya tersenyum getir bercampur bangga pada dirinya sendiri.

“Otakmu sungguh… se-su-a-tu.” Tukas Eunji lagi dengan sedikit nada meledek.

Hye yeon hanya bisa tertawa mendengarnya. “Tapi setelah pulang sekolah aku kerumahmu ya? Aku bolehkan menginap dirumahmu? Aku sedang tidak ingin kembali kerumah. Berada dirumah membuatku semakin tertekan.”

“Baiklah, tuan puteri. Rumahku selalu terbuka untukmu. Oh ya, ada satu syarat.”Pekiknya pelan seakan baru teringat sesuatu.

“Syarat?” Tanya Hye yeon bingung.

“Iya, syarat. Kau harus membantu mengerjakan PR matematikaku. Kalau ada satu saja yang salah, kau keluar dari rumahku. Hahahahaha…” Jawab Eunji puas sambil tertawa.

Hye yeon kembali tersenyum. “Aman.Tenang saja. Aku ini Kang Hye yeon. Semua pasti beres.” Ujar Hye yeon tersenyum bangga.

“Kau ini…” Tukas Eunji diantara tawanya bersama Hye yeon. Bagi Eunji, Hye yeon selalu bisa menjadi sahabat yang bisa diandalkan meskipun dia sedang masalah. Begitu pula bagi Hye yeon, Eunji adalah sahabat yang selalu memberinya semangat disaat dia mulai merasa putus asa dengan hidupnya.

^^^

Kali ini Eunji menikmati makan siangnya bersama dengan beberapa teman sekelasnya.Biasanya, dia selalu menghabiskan waktu istirahatnya bersama Hye yeon.Namun, sudah dua hari ini Hye yeon memilih tidak masuk sekolah.Eunji sadar benar bahwa temannya itu memang butuh waktu untuk sendiri untuk menerima keputusan orang tuanya.Tapi, sekarang dia mulai khawatir jika Hye yeon terlalu terlarut dengan masalahnya dan mungkin saja memutuskan untuk melakukan hal-hal diluar akal sehatnya.

Candaan dari yang silih berganti keluar dari mulut teman-temannya tidak menjadi fokus perhatiannya.Masalah yang dihadapi oleh sahabat masa kecil itu masih mengganggu pikirannya.Karena terlalu terlarut memikirkan hal tersebut, Eunji bahkan lupa membeli minum untuk makan siangnya. Walau dengan berat hati, Eunji melangkah kembali untuk mengambil salah satu minuman dibagian sisi kiri ruangan yang merupakan rak yang berisi deretan minuman ringan kemudian melanjutkan langkahnya menuju antrian di depan meja kasir.

Saat sedang menunggu giliran membayar minuman tersebut, Eunji menyadari bahwa dua orang dibelakangnya sedang membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan Hye yeon dan Sehun.Dia segera menoleh, ternyata mereka adalah Baekhyun dan Chanyeol. Tentu saja Eunji tahu siapa mereka, Hye yeon pernah beberapa kali menyebutkan nama mereka dalam sesi curhatnya dan mereka adalah orang-orang yang cukup terkenal disekolah selain Sehun.

Eunji mendengarkan dengan seksama setiap perbincangan mereka.Namun, ada beberapa kalimat tentang Hye yeon yang mereka ucapkan membuatnya sakit hati.Eunji berusaha menahan rasa kesalnya tapi ternyata kesabarannya ada batasnya yang membuatnya langsung membuka suara untuk menginterupsi perbincangan dua sunbae-nya tersebut.

Chogiyo, Hye yeon tidak begitu ya.”Ujarnya setelah berhadapan langsung dengan mereka berdua dengan suara sepelan mungkin.Dia tidak ingin berita pertunangan Hye yeon ini tersebar keseluruh sekolah. Bisa panjang urusannya, lagi pula akan sangat sulit menangani fans die hard dari Sehun.

Ne?”Tanya Baekhyun bingung karena ada seorang gadis yang tiba-tiba nimbrung dalam pembicaraan dengan Chanyeol.

“Kalian pikir Hye yeon senang pertunangan ini?Dia sangat tertekan karena masalah ini.”Jelas Eunji masih dengan suara pelan.

“Sehun juga tertekan.Kau tahu itu?”Balas Baekhyun saat dia mulai mengerti maksud pembicaraan gadis yang tidak dikenalnya ini. Entah kenapa, tanpa pikir panjang Baekhyun malah meladeni siswi yang tidak dikenalnya sama sekali ini.

“Benar itu.” Dukung Chanyeol. “Seharusnya dia beruntung bisa menjadi tunangan Sehun.”

“Se-ha-rus-nya…” Eunji berusaha menekankan setiap suku kata tersebut.“Sehunlah yang merasa beruntung bisa mendapatkan Hye yeon.Mengerti?”

“Tidak, aku tidak mengerti.”

“Apa?”Eunji memekik secara pelan.Eunji mulai kesal.Dia tidak terima sahabatnya dikomentari seperti itu.“Dari apa yang kutangkap dari pembicaraan kalian, berarti Sehun juga tidak menyetujui pertunangan ini ‘kan?Kenapa kalian tidak menyuruhnya untuk membatalkan saja pertunangan itu?”

Sebenarnya Baekhyun ingin mengatakan bahwa Sehun sudah berusaha ingin membatalkannya, hanya saja Sehun tetap tidak berhasil.Tetapi berkata seperti itu hanya membuat harga dirinya dan harga diri Sehun hancur didepan gadis ini.“Kenapa tidak gadis itu saja? Atau jangan-jangan…” Ujar Baekhyun mulai berspekulasi.

“Jangan-jangan apa?”Tantang Eunji dengan nada sedikit keras yang membuat beberapa siswa didekat mereka mendelik kaget.

“Tunggu dulu, kau ini siapa sebenarnya?Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya.”Ujar Chanyeol penasaran.

“Apa pedulimu aku siapa.Aku sebutkan pun kalian tidak akan tahu.”Jawab Eunji cuek.

Baekhyun hanya mendengus kesal mendengar jawaban gadis yang tiba-tiba merusak perbincangannya dengan Chanyeol.Tapi kemudian matanya melirik pada nametag diseragam gadis itu.“Jung-Eun-Ji.” Ejanya secara perlahan dengan smirk tipis yang menyebalkan.

Eunji dengan cepat menutup nametag dari pandangan mereka, meskipun gerakan itu tidak berpengaruh apapun lagi karena Baekhyun telah mengetahui namanya. Kemudian Eunji langsung membelakangi mereka untuk menghindari interogasi yang akan mereka lakukan lebih lanjut.

“Kau kelas berapa?Aku tidak pernah melihatmu diantara murid tingkat 3.”Chanyeol masih terus merundungi dengan pertanyaan.

Eunji tidak mempedulikan pertanyaan Chanyeol sama sekali, dia malah mempercepat geraknya menuju kedepan meja kasir karena antrian didepannya telah habis. Dia ingin segera menghindar dari hadapan dua manusia tersebut.

“Chanyeol-a, sudahlah. Hentikan pertanyaan tidak pentingmu itu. Kau hanya akan terlihat seperti orang bodoh jika terus melakukan itu.” Ujar Baekhyun santai.

“Memangnya kau tidak penasaran dia kelas berapa. Aku yakin dia bukan anak tingkat 3. Aku tidak pernah melihatnya di gedung kita. Tapi kenapa dia berbicara seolah seangkatan dengan kita.” Balas Chanyeol masih bingung.

“Tenang saja. Nanti juga kita akan tahu dia kelas berapa. Biarkan saja dia.” Ucap Baekhyun saat Eunji berlalu melewati mereka.

“Oh ya? Kita lihat saja nanti.” Chanyeol berucap sambil memandang Eunji dan Baekhyun bergantian.

“Tentu saja. Aku akan melihatnya nanti” Bisik Baekhyun pada dirinya sendiri.

^^^

Sudah berulang kali namja itu memandang kearah bangku yang saat ini seharusnya diduduki calon tunangannya, Hye yeon. Tapi gadis itu tidak pernah terlihat kehadirannya disekolah sejak dua hari yang lalu saat gadis itu hanya masuk kelas di jam terakhir untuk mengikuti test mata pelajaran Fisika.

Ketidakhadiran Hye yeon semakin memperburuk tekanan didalam diri Sehun akibat masalah pertunangan ini. Beban ini terasa semakin berat dipundaknya. Ada bagian kecil dalam hatinya yang terasa sakit setiap kali menatap bangku kosong itu. Entah sejak kapan, Sehun merasa ada sedikit semangat tambahan jika dia bisa melihat gadis itu telah duduk dibangkunya saat dia tiba dikelas.

Oppa…” Panggil Namjoo dari luar pintu kelas.

Sehun yang semula sedang melamun langsung mencari pemilik suara yang sudah sangat dikenalnya. Dia hanya menatap adik semata wayangnya dengan pandangan ‘Wae?’.

Namjoo berjalan mendekati Sehun dan duduk dibangku tepat didepan Sehun. “Hye yeon eonni tidak masuk lagi hari ini?”

“Menurutmu?” Jawab Sehun asal.

Dengan ekpresi kesal Namjoo mengalihkan perhatiannya ke bangku kosong milik Hye yeon. “Aaahh… aku harus bilang apa pada eomma kalau tidak bisa membawa Hye yeon eonni hari ini?” Ucapnya bingung.

“Mana aku tahu. Siapa suruh kau ikut campuran urusan ini. Pake acara mengusulkan diri untuk membantu. Sekarang rasakan.” Ucap Sehun cuek.

“Ah, kau benar-benar tidak membantuku sama sekali.”

“Biarin.”

“Tapi, apa kau tidak berniat menjenguk Hye yeon eonni? Ini berarti sudah dua hari dia tidak masuk karena sakit ‘kan?” Tanya Namjoo penasaran.

Ucapan Namjoo barusan seakan air garam yang sedang disiramkan pada luka yang sedang terbuka lebar, perih. Mungkin kata itulah yang tepat menggambarkan perasaan yang tiba-tiba muncul itu.Apa iya dia benar-benar sakit? Tapi, sakit apa? Dua hari yang lalu dia terlihat baik-baik saja walaupun… agak lemas… tapi dia baik-baik saja kok. Apa aku harus menjenguknya?, pertanyaan itu kembali muncul dibenak Sehun.

Oppa…oppa” Panggil Namjoo.“Kau melamun lagi?” … “Aku tahu, kau memikirkan Hye yeon eonni ya? Kau ingin menjenguknya?” Bisik Namjoo yang terlihat sedikit antusias.

“A…a…apa maksumu?” Balas Sehun agak tergagap.

“Benarkan kau ingin menjenguk Hye yeon eonni?” Goda Namjoo lagi.

“Jenguk? Siapa yang mau jenguk? Aku cuma sedang terpikir PR Sastra yang belum kukerjakan. Ah, Gara-gara kau datang aku lupa harus mengerjakan PR-ku. Kalau kau mau menjenguknya, sana pergilah. Jangan ganggu aku. Mungkin saja dia pura-pura sakit.” Kilah Sehun sambil mengusir Namjoo dari hadapannya.

“Aaaa…ah oppa.” Rengek Namjoo saat di dorong keluar kelas secara paksa oleh Sehun.

“Sana. Balik ke kelasmu.”

Namjoo langsung cemberut melihat muka oppa-nya. Tapi wajahnya kembali sumringah saat dia melihat seseorang yang baru saja akan memasuki pintu kelas Sehun itu. “Kyungsoo oppa…” Serunya.

Baru saja Sehun melangkah menuju bangkunya, namun dia mendelik kaget dengan sikap Namjoo tersebut. Apalagi yang akan dilakukannya kali ini?, gerutunya dalam hati.

“Kau tahu alasan kenapa Hye yeon eonni tidak masuk?” Tanya Namjoo santai tanpa ada sedikitpun basa basi untuk menyapa sunbae-nya tersebut.

Kyungsoo juga tidak mempedulikan sikap Namjoo tersebut.Dia hanya menjawab sekenanya saja.“Setahuku dia sakit.”

“Sakit apa?”Namjoo berusaha menggali informasi lebih.

“Aku tidak tahu.”

Namjoo meragukan jawaban tersebut.“Yakin kau tidak tahu, oppa? Biasanya ‘kan kau selalu bersama dengan Hye yeon eonni, masa’ tidak tahu?”

“Sungguh, aku tidak tahu.” Kyungsoo berusaha meyakinkannya lagi.

“Baiklah. Gumawo oppa. Annyeong” Ujar Namjoo dan melangkah pergi begitu saja. Sementara itu, Sehun merasa ada kelegaan yang didapatnya seketika saat mendengar jawaban Kyungsoo secara tidak langsung itu.Kalau saja Kyungsoo lebih tahu tentang sakit yang diderita Hye yeon, bukankah itu menandakan ada sesuatu diantara mereka berdua?

^^^

Namjoo telah memutuskan bahwa sore ini setelah jam pulang sekolah, dia akan mengunjungi Hye yeon di kediamannya. Dengan tekad bulat Namjoo berjalan seorang diri keluar dari gerbang sekolah.Dia memutuskan untuk naik taksi untuk menuju rumah Hye yeon karena tidak mungkin meminta oppa-nya untuk mengantarkan setelah melihat sikapnya yang acuh tak acuh terhadap Hye yeon.Sedangkan namjachingu-nya beralasan sedang ada tugas kelompok sehingga tidak bisa membantu menemaninya kerumah Hye yeon.

Berbekal alamat yang didapat dari sang bunda, Namjoo mulai menikmati perjalanan menuju rumah Hye yeon yang berjarak sekitar 15 menit dari Sekolahnya. Awalnya, sungguh awalnya, perjalanan itu terasa menyenangkan bahkan ada rasa excited dalam diri Namjoo karena dia bisa sebentar lagi akan mempunyai calon kakak ipar. Tapi, perasaan senang dan excited itu seketika lenyap saat dia melewati area taman kota. Ada sesuatu yang dilihatnya yang membuatkan pikirannya teralihkan.

Namjoo segera meminta supir taksi tersebut menghentikan mobilnya.Dia menunda perjalanan menuju kediaman Hye yeon.Setelah membayar biaya taksi tersebut, Namjoo dengan cepat melangkahkan kakinya mencari object yang menjadi fokus pikirannya sejak beberapa menit lalu.Kepalanya tidak henti menoleh ke kanan dan ke kiri diiringi langkah kaki yang semakin tidak beraturan.Wajahnya terlihat gelisah.Dia mulai menduga-duga atas spekulasinya sendiri.Telapak tanganya mulai berkeringat karena dia terlampau gelisah.Dia takut dugaannya itu benar.Dia tidak mau itu benar.Dia ingin menyangkalnya seperti yang sebelumnya pernah dia lakukan.Bahwa semua itu hanyalah sebuah gossip yang saja.Sebuah berita tanpa sebuah bukti.

Langkah kaki mulai melambat dan akhirnya terhenti.Matanya sudah membulat sempurna saat dia melihat dan membuktikan bahwa berita simpang siur yang selama ini didengarnya bukanlah sebuah gossip belaka.Itu nyata.Kedua telapak tangannya sudah mengepal sempurna tanpa disadarinya.Perlahan tapi pasti, sakit hati itu berubah menjadi amarah yang siap diledakkan. Kekesalan itu semakin memuncak melihat pemandangan itu tepat didepan matanya tanpa si object mengetahui kehadirannya.

“Son Dae Hyun!”Pekik Namjoo tanpa ampun.Nada suaranya sudah jelas menggambarkan bahwa dia sedang marah besar.

Seorang namja yang merasa bahwa namanya dipanggil langsung mencari arah sumber suara.Matanya membelalak kaget saat melihat Namjoo yang sedang menahan kesal. Seketika tangannya yang melingkar dipundak seorang gadis yang berseragam sama dengannya langsung diturunkannya.

“Cha..cha…cha…gi…ya” Ujar Dae hyun tergagap.

Namjoo benar-benar tidak percaya bahwa gossip tentang namjachingu-nya punya pacar lain. Tapi kenyataan didepan matanya ini tidak dapat ditangkisnya lagi.Kepercayaan yang telah diberikannya pada namja itu telah dipermainkan seenaknya.Namja itu mengatakan bahwa dia punya tugas sekolah sehingga tidak bisa menemaninya.Tapi sekarang, kenyataan yang ditemukannya adalah namja itu sedang bercanda ria dengan seorang yeoja yang berseragam sama dengannya dengan sangat romantis.

Chagiya?Chagiya?Chagiya?”Ulang Namjoo sambil menahan marah.“Kau masih bisa menyebutku dengan kata itu?Tidak malu dengan yeoja disampingmu itu?Pacar simpananmu itu.”Tantangnya sambil berjalan mendekati Dae hyun dan melirik sinis pada yeoja tersebut.

Ne?”Ujar Dae hyun pura-pura tidak mengerti.“Dia… dia… dia cuma teman kok.”Tambahnya beralasan.

“Apa maksudmu?Pacar simpanan?” Ujar yeoja berseragam sama dengan Dae hyun yang bertuliskan Seo Jung In di nametag-nya pada Namjoo. Kemudian pandangannya beralih pada Dae hyun seakan meminta konfirmasi “Aku hanya teman?Teman katamu?Dia siapa?Kenapa dia bisa menyebutku pacar simpanan?”Tanyanya beruntun tanpa henti.Jelas sekali yeoja itu juga dibohongi oleh Dae hyun.

“Aku pacarnya.Kenapa?”Tantang Namjoo pada Jung in.

Kalimat tersebut jelas membuat membuat Jung in kaget karena langsung timbul kerutan dikeningnya yang mulus itu.

“Aku pacarnya sejak setengah tahun lalu.”Namjoo memperjelas hubungannya dengan Dae hyun agar yeoja itu tahu diri dan segera pergi dari hadapannya.Karena dia ingin sekali menyelesaikan urusannya secepat mungkin dengan namja breng*** ini.“Kenapa?Perkataanku benar ya?Kau pacar simpanannya?Sudah berapa bulan?Atau mungkin berapa minggu?Atau mungkin hari?”Tanya pada Jung in dengan nada selembut mungkin tapi menggunakan tatapan mata begitu tajam.What a scary girl

Detik berikutnya, yang terjadi adalah sebuah tamparan keras dari Jung in mendarat dipipi mulus Dae hyun yang beberapa menit lalu baju saja dikecup olehnya.Ujung bibir Namjoo tertarik keatas sedikit.Dia senang melihat namja itu menerima balasan itu.Tapi itu belum setimpal.Dia belum memberikan ‘hadiah’nya pada namja itu.

Dae hyun masih mengelus perlahan pipi kanan yang memerah saat tamparan dari Namjoo mendarat dipipi kirinya.Mata membelalak sempurna karena tamparan tersebut. Belum lagi hilang rasa sakit pada pipi kanannya karena tamparan Jung in, kini Namjoo sudah mendaratkan tamparan keduanya dipipi tersebut dan sebagai penyempurna ‘hadiah’ perpisahan darinya, dia memberikan sebuah tendangan lutut pada perut namja tersebut. “Rasakan itu dan jangan pernah menghubungiku lagi.Aku tidak punya waktu untuk orang yang tidak berharga sepertimu.”Bisik Namjoo perlahan dan melangkah pergi tanpa mempedulikan satu katapun yang terucap dari bibir namja tersebut.

Namjoo melangkah pergi tanpa menoleh kebelakang sekalipun.Urusannya dengan namja itu sudah selesai.Dia tidak ingin melihat dan mendengar apapun tentang namja itu lagi.Dia mulai meletakkan tangan didadanya.Nafasnya mulai naik turun setelah menjauh dari namja tersebut.semua perasaan yang campur aduk didalam dirinya dibiarkannya keluar melalui bulir air mata yang menetes secara perlahan. Isakan itu berubah menjadi tangisan yang memilukan.Namjoo mendudukkan dirinya pada salah satu bangku taman dan menangis lepas disana sambil tertunduk.

Meski tidak melihat secara langsung, Namjoo merasa bahwa dia menjadi salah pusat perhatian orang yang berlalu lalang disekitar taman kota tersebut. Tangisannya itu memang cukup terdengar jelas bagi mereka yang dilewat disekitar gadis itu. Sejujurnya, Namjoo masih ingin meraung-raung(?) dan menangis sejadi-jadinya tapi dia berusaha menahan emosi. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya lebih jauh. Apalagi jika karena namja busuk seperti Dae hyun itu.

Namjoo bingung bagaimana caranya dia mengangkat kepalanya dan berjalan pulang tanpa ditatap oleh para pengunjung taman kota itu. Wajahnya benar-benar menyedihkan saat ini dengan matanya yang sembab dan hidung yang memerah karena tangisan barusan.

Haksaeng, itu temanmu ya? Atau mungkin pacarmu? Bagaimana kau ini, masih muda sudah melukai hati seorang perempuan.” Tukas seorang ajhumma pada seorang namja yang sedang berjalan menuju arah dimana Namjoo berada.

Namja yang tersebut terlihat bingung dengan perkataan ajhumma yang baru saja menepuk punggungnya. Dia benar-benar tidak mengerti maksud perkataan ajhumma tersebut karena dia sejak tadi berjalan tanpa memperhatikan keadaan disekitar taman kota itu. Dia hanya fokus pada buku yang berada ditangannya. “Ne? Maksud ajhumma apa? Aku tidak mengerti.”

“Itu. Yeoja itu. Pacarmu ‘kan? Lihat saja, saja seragam kalian sama.” Ujar ajhumma satu lagi yang merupakan teman ajhumma sebelumnya (bingung? Gw juga… haha). Sontak saja namja tersebut langsung mengalihkan perhatiannya pada arah yang ditunjukkan ajhumma-ajhumma tersebut.

Pada saat yang sama, Namjoo juga mengangkat kepalanya karena mendengar suara berisik ajhumma-ajhumma yang menurutnya sedang membicarakan dirinya. Pandangan Namjoo dan namja itu saling bertemu. Keduanya tampak kaget dengan keadaan tersebut.

“Kenapa kau hanya diam, sana hibur pacarmu. Kasihan dari tadi dia terus menangis.” Ucap seorang ajhumma lagi.

Saat Namjoo mendengar kalimat tersebut, dia baru ingat kalau wajahnya masih bersimbah air mata. Dia bingung kenapa dia bisa tiba-tiba lupa hal tersebut. Dan langsung menundukkan wajahnya lagi

“Ta..tapi di…”

“Sudahlah, sana. Tidak ada tapi-tapian. Hibur dia.” Ucap salah satu ajhumma sambil mendorong tubuh namja yang masih berseragam sekolah itu saat dia barusan ingin mengeluarkan pendapatnya.

Tidak ada pilihan lain, namja tersebut berjalan mendekati Namjoo. Sadar karena sesaat sebelumnya melihat mata gadis itu sembab, dia mengeluarkan sapu tangan miliknya kemudian menepuk pelan pundak gadis itu. Saat gadis itu mengangkat wajahnya, dia langsung menyerahkan sapu tangan tersebut. “ Ini…”

Namjoo melihat ragu kearah sapu tangan dan wajah namja itu. Namun, detik berikutnya dia sudah meraih sapu tangan itu. “Gumawo, oppa…

To Be Continued

That’s it Chapter 4. Gimana?Ada yang kecewa.Hayooo kemukakan pendapat kalian. Please don’t bea silent reader.

See you in next chapter… bye #melambai bareng pohon kelapa… haha

6 pemikiran pada “A Familiar Person – HeLL (o), Dear ! (Chapter 4)

  1. wah apa nantinya eunji akan bersama baekhyun thor? *soktau 😀
    heh? siapa namja yg memberikan saputangan ke namjo?? kyungsoo kah? *soktau lg nih 😀
    ayo thor dilanjut ffnya jangan lama-lama.. aku penasaran dgn kelanjutan ceritanya dan penasaran jg siapa namja yg memberikan sapu tangan ke namjo..
    keep writing and fighting for author ! 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s