Hate or Love (Chapter 6)

HoL

Title : Hate or Love (Chapter 6)

Author : starLinn

Genger : Romance, family, …

Rating : G

Main cast : Yoon Hagun (OC), Oh Sehun, Kim Jongin

Sub cast : Yoon Joonmyeon, Yoon Bora, Xi Luhan, ……

Length : Chapter

Chapter 6 datang sudah! Maaf ya readers harus menunggu sedikit lama. Tapi sesuai janji author sebelumnya, FF ini diperpanjang!! Apa ini sudah cukup panjang? Atau author perlu memperpanjang lgi? ._. yaaa, semoga saja ini cukup untuk readers. Kalau kurangpun, silakan beritahu author dan selanjutnya akan lebih panjang lagi hehe. Jangan lupa commentnya ya readers, author selalu nungguin lochh hoho.

Selamat membaca~~

PYONGG!!!

******

“Ya! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!!” suruh Hagun sambil berontak. Sehun tetap menggendong Hagun sampai ke kamarnya, dia menidurkan Hagun di ranjang dan mendekati wajahnya. Hagun kembali merasakan panas di seluruh tubuhnya, tapi kenapa tubuhnya malah membeku? Sulit sekali untuk digerakan. Sehun mulai merasakan nafas Hagun, begitupun sebaliknya. Semakin dekat dan..

“Gun-ah!” panggil seseorang dari pintu kamar Hagun.

Chapter 6

“Jelaskan, apa yang kalian lakukan barusan?!?!” suruh Bora yang menatap tajam Hagun dan Sehun bergantian. Ya, Bora yang tadi memanggil Hagun dari pintu kamarnya. Sekarang Hagun dan Sehun sedang diadili/? di ruang keluarga.

“Eomma, jangan salah paham. Ta-tadi itu kami hanya.. hanya..” ucap Hagun gelagapan.

“Hanya apa, eoh?” sekarang Suho yang akat bicara.

“Ahjumma, ahjussi, Hagun sama sekali tidak bersalah. Aku yang bersalah.”

“Sehun-ah, ahjumma sama sekali tak mau tahu siapa yang bersalah. Ahjumma hanya mau pen-je-las-an!!” ucap Bora dan memberikan penekanan pada kata ‘penjelasan’. Hagun dan Sehun hanya diam, saling menundukkan kepalanya. Mereka bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan kejadian barusan.

“Baiklah, kalau begini caranya.. Kalian akan kami nikahkan.” Ucap Suho lalu beranjak dari tempat duduknya.

“MWO? Appa! Aku tadi tidak melakukan apapun dengannya.” Ucap Hagun yang langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya.

“Kau bisa saja tidak melakukan apapun tadi, tapi hari sebelumnya dan selanjutnya bagaimana, eoh?” tanya Suho tanpa menatap Hagun.

“Tapi appa..”

“Keputusan appa sudah bulat, appa akan membicarakannya dengan orangtua Sehun. Siapkan diri kalian, pernikahan akan dilaksanakan secepatnya.” Ucap Suho lalu pergi menuju kamarnya.

“Eomma.. aku mohon bujuk appa untuk membatalkan keputusan gilanya..” pinta Hagun sambil memegang tangan Bora.

“Apa? Gila katamu? Seharusnya kau sadar Hagun, apa yang kau lakukan jauh lebih gila dari apa yang appa putuskan!! Bahkan menurut eomma, keputusan appa itu benar. Eomma kecewa padamu, Hagun.” Bora menepis tangan Hagun dan berlalu dari hadapan kedua manusia yang tak lain adalah Hagun dan Sehun.

“Semua ini gara-gara kau namja asing. Hidupku jadi hancur semenjak kau datang ke sini!” ucap Hagun sambil memukuli dada bidang Sehun.

“Ma-maafkan aku..” ucap Sehun tanpa menahan pukulan dari Hagun. Ia tahu, kali ini dia yang salah dan dia layak mendapatkan pukulan dari Hagun.

“Maafmu tak akan menyeselaikan masalah ini, kau tahu??” sebuah cairan bening keluar dari mata Hagun, lama kelamaan cairan itu semakin banyak dan menjadi deras. Sehun terkejut, hatinya serasa hancur melihat Hagun menangis. Entah setan apa yang membuat Sehun berani memeluk Hagun dan mengelus rambut halusnya.

“Uljima., aku tak akan mengecewakanmu atas apa yang ahjussi putuskan.” bisik Sehun pelan tanpa berhenti memeluk dan mengelus rambut Hagun.

“Apa maksud ucapanmu?” tanya Hagun di sela tangisannya. Dia tak menolak pelukan Sehun, bukan karena ia menyukai namja itu. Tapi hanya merasa nyaman, ya.. hanya nyaman. Setidaknya itu yang dipikirkan Hagun saat ini, yang dirasakan? Entahlah, dia juga tak tahu harus menjawab apa.

“A-aku juga tidak tahu, hmmm, tadi itu aku hanya ingin mengatakannya saja.. iya hanya ingin mengatakannya saja.” jawab Sehun sedikit gelagapan, kata-kata tadi langsung meluncur begitu saja.

“EHEM!” Suho menghentikan adegan mesra antara Sehun dan Hagun. Mereka kembali menundukan kepala, berusaha untuk tidak menatap kedua bola mata milik Suho. Walaupun Suho memiliki kepribadian yang sangat lembut, tapi sekali dia marah dia akan berubah 180 derajat.

“Sehun, orangtuamu setuju dengan keputusan ahjussi. Dan mereka akan tiba di Seoul besok sore. Kalian berdua akan menikah 1 minggu dari sekarang.” Ucap Suho dan dibalas dengan tatapan terkejut dari dua sejoli yang tadi berusaha menghindar dari tatapan Suho.

“Ingat keputusan ini sudah bulat, bagi yang menolak bisa meninggalkan rumah ini dan keluar dari keluarga Yoon ataupun Oh.” Sebelum Sehun dan Hagun angkat bicara, Suho telah membuat keduanya bungkam. Ucapannya barusan cukup mengerikan untuk Hagun dan Sehun.

Jongin Pov

“Hahh… kapan dua makhluk itu datang? Aku sudah bosan menunggunya!” ucapku sambil menidurkan diri ke ranjang. Ini sudah lewat 1 jam dari perjanjian kerja kelompok. Bahkan aku sudah menelpon Bora ahjumma, tapi kenapa mereka tak kunjung datang? Aishh, menyebalkan sekali. Besok aku akan membuat perhitungan dengan mereka berdua.

“Jongin-ah!” panggil seseorang dari bawah, dan secepat kilat aku turun dan menemukan Hagun berdiri di ruang tamu bersama Sehun. Kenapa mereka bisa datang secara bersamaan? Ah.. mungkin mereka betemu di jalan.

“Kenapa kalian lama sekali? Aku sampai lumutan menunggu kalian!” tanyaku kesal sambil menatap Hagun dan Sehun bergantian.

“Hehe, mianhae Jong-ah. Tadi aku ada sedikit masalah di rumah.” Jawab Hagun dan aku hanya menganggukan kepala lalu tersenyum kecil. Sekarang tinggal makhluk putih pucat ini, aku menatapnya tanpa berkedip.

“Wae? Tadi aku sakit perut dan kesasar untuk mencari rumah terpencilmu ini.” Jawaban yang membuatku naik darah, namja satu ini benar-benar mencari ribut denganku.

“Neo!!” ucapku geram.

“STOP! Lebih baik kita mulai bekerja, tak ada waktu lagi.” Hagun menarik kerah belakangku dan meninggalkan Sehun. Sebelum aku melakukan pemberontakan/? Hagun kembali angkat bicara.

“Kita akan kerja di mana? Kamarmu saja ya Jong? Baiklah..” tanya Hagun dan disertai jawabannya sendiri. Ada apa dengan yeoja ini? Sedikit aneh.

“Kau, ikuti kami..” ucap Hagun lagi tanpa memandang orang yang diajaknya bicara. Tapi tentunya aku tahu, dia bicara pada Sehun. Sepertinya mereka berdua sedang dilanda pertengkaran. Baguslah, setidaknya tak ada lagi yang berani mengganggu Hagunku.

Hagun Pov

Aku terus menarik kerah belakang Jongin tanpa menghiraukan namja asing itu. Mungkin kalian bingung, bagaimana mungkin aku dan dia masih mau datang ke rumah ini. Sedangkan ada masalah besar yang melanda kami.

Siapa lagi kalau bukan eomma yang menyuruh kami pergi, katanya Jongin menelpon sebelum dia sampai di rumah. Apa kalian lupa? Eomma dan appaku pergi ke luar negeri dan baru pulang hari ini.

“Jong-ah, kenapa kau menelpon eommaku?” tanyaku saat sampai di kamar Jongin. Kamar yang penuh dengan fotoku dengan Jongin. Sebagian besar, aku yang memasangnya.

“Eoh? Bagaimana kau bisa tahu? Apa eommamu yang menyuruhmu ke sini?”

“Menurutmu?” tanyaku lagi dan mulai membuka laci meja Jongin. Laptopnya dia simpan di dalam sini.

“Aishh, aku hanya malas menelponmu. Aku tahu sifatmu yang senang mengulur-ngulurkan waktu. Jadi langsung saja aku menelpon Bora ahjumma.” Jawabnya panjang lebar, dia benar-benar mengenalku.

“Kita sudah bersahabat lama, tentu saja aku mengenalmu.” Lanjut Jongin lagi. Aku menolehkan kepala menatap Jongin. Apa sekarang dia bisa membaca pikiranku?

“Wae?” Jongin balas menatapku.

“Anniyo.. sudah ayo kita mulai bekerja.” Ucapku lalu naik ke ranjang Jongin dan diikuti dengan pemilik ranjang ini, siapa lagi kalau bukan Jongin. Hanya kurang satu orang, namja asing. Aku tak mau memanggilnya, come on Jongin! Panggil dia. Aku terus diam menatap Jongin, dan melirik-lirik sedikit ke arah Sehun. Aku mencoba memberi kode kepada Jongin.

“Ahh, matta! Ya, kau namja jadi-jadian, silahkan ambil kursi itu lalu ikut bekerja bersama kami.” Ucap Jongin akhirnya, dia menunjuk kursi hitam yang ada di dekat meja belajar. Butuh waktu yang cukup lama untuk menyadarkannya. Dasar namja hitam lemot -_-

Sehun Pov

“Kalian berdua tidak ke rumah Jongin?” Bora ahjumma bertanya, saat aku dan Hagun hendak kembali ke kamar masing-masing. Apa ahjumma sudah tak marah pada kami? Sebelum aku membuka mulut, Hagun sudah angkat bicara.

“Ke rumah Jongin? Bagaimana eomma bisa tahu?” tanya Hagun balik sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Dia menelpon eomma tadi, sudah cepat kalian pergi ke rumah Jongin. Ada tugas bukan? Jangan sampai nilai kalian jelek, eomma dan appa tidak mau malu karena kalian. Arra?”

“Hmm.. arrasso, bisakah eomma mengantar kami?”

“Shireo! Eomma mau masak untuk makan malam, coba kau tanyakan appamu.” Bora ahjumma meninggalkan kami untuk pergi ke dapur. Orang tua macam apa ini? -_- keluarga yang aneh.

“Hey kau..” ucap Hagun pelan. Aku tahu itu ditunjukan untukku, tapi aku bukanlah manusia tanpa nama yang bisa seenaknya dipanggil seperti itu. Jadi kuputuskan untuk diam, seakan-akan aku tak mendengarnya.

“YA! Namja asing! Aku memanggilmu!!” bentak Hagun, jujur aku kaget mendengar suaranya.

“Orang yang kau panggil memiliki nama tuan putri.”

“Suka-sukaku ingin memanggilmu dengan sebutan apa.“ yeoja ini benar-benar menyebalkan. Bagaimana hidupku nanti saat menikah dengannya? Memiliki rumah sendiri, anak, dan… Argh! Aku tak mau membayangkannya.

“Hah.. ada apa, eoh?” tanyaku akhirnya.

“Hmm, kau bisa mengendarai sesuatu?”

“Aku pernah mencoba mengendarai motor. Memang kenapa?”

“Kajja! Kita pergi dengan motor saja kalau begitu!” ucap Hagun dan dia langsung menarik tanganku.

DEG DEG DEG

Ada apa dengan jantungku? Lalu kenapa badanku serasa memanas? Apa kerena Hagun menarik tanganku? Haha, tidak mungkin! Akukan tak menyukai yeoja mengerikan ini. Seperti kataku sebelumnya, aku hanya ingin menjaganya. Dia itu seperti anak kecil yang butuh perlindungan.

“Ya ya ya! Apa yang kau lakukan, eoh? Dasar namja asing aneh.” Ucap Hagun dan aku hanya menatapnya.

“Memang apa yang aku lakukan?” tanyaku polos.

“Ckck, kau memukuli kepalamu sendiri tapi kau tak sadar? Hahh, aku bisa mati kalau menikah denganmu. Sudah cepat kita pergi!” apa katanya? Memukuli kepalaku sendiri? Come on Oh Sehun, ada apa denganmu?

“YA! KAU MENDENGARKANKU ATAU TIDAK??” teriak Hagun dan sukses membuatku kaget. Aku hanya menghela napas lalu berjalan ke garasi untuk mengambil motor, tak lupa aku memakai helm. Setelah siap aku menuju gerbang, Hagun sudah menunggu di sana. Hagun hendak menaiki motor tapi aku menahannya.

“Pakai helmmu dulu.” Aku menariknya ke hadapanku dan memakaikannya helm. Membetulkan rambutnya dan menatap mata hazel miliknya.

“Go-gomawo.” Hahaha lihat! Dia terlihat menahan malu, pipinya memerah. Sungguh, ini menyenangkan. Tapi kenapa aku tiba-tiba bersikap baik kepadanya? Dan dia juga tidak menolaknya? Come on, hanya butuh hitungan menit, pemikiranku berubah kembali. Sehun tanamkan ini baik-baik, kau hanya ingin menjaganya, tak lebih! Hahh.. setidaknya ini jauh lebih baik dibandingkan harus selalu bertengkar dengan yeoja ini. Aku mulai menjalankan motor vespa berwarna biru, sepertinya ini milik ahjumma. Tak mungkin ahjussi mau memakai motor seperti ini. Jujur aku sedikit malu menggunakan motor ini. Memang terlihat masih baru, tapi aku tak terlihat maco lagi. Aishh, tapi apa Hagun tak takut jatuh? Dia sama sekali tidak berpengangan padaku, sekedar memegang bajuku saja tidak. Padahal jarang sekali aku membonceng seseorang dengan selamat. Aku tak ahli dalam mengemudi.

“Pegangan, nanti kau jatuh babo.” Ucapku dari depan.

“Mworago? Aku tak mendengarnya.”

“Pegangan!!” ucapku dengan suara yang lebih besar.

“Ne??? Aku masih tidak bisa mendengarnya.” Aishh, aku memberhentikan motor dengan tiba-tiba dan ini sukses membuat Hagun memeluk pinggangku. Gawat, jantungku berdetak lebih cepat lagi sekarang.

“Hmm.. Pe-peganganlah yang erat, aku tak mau sampai kau jatuh.” Ucapku sedikit terbata-bata.

“Hmm, arasso..” balasnya, hanya itu? Aku kira dia akan marah, tumben sekali. Aku kembali menjalankan motor vespa ini ke rumah Jongin, tentunya dengan tangan Hagun yang melingkar di pinggangku. Sekitar 10 menit kemudian, aku dan Hagun sampai di depan rumah Jongin. Aku memarkir motor vespa ahjumma di taman, seberang rumah Jongin. Hanya untuk jaga-jaga, agar Jongin tak curiga. Tapi sepertinya aku pernah ke sini sebelumnya. Aku ingat, waktu itu aku mengawasi Hagun. Ternyata benar, orang yang waktu itu adalah Jongin.

“Kemarikan helmmu.” Ucap Hagun, aku hanya menurutinya dan melihat apa yang akan diperbuat yeoja ini. Dan ternyata dia memasukan helmku dan helmnya ke dalam semak-semak. Eiyy, aku merasa seperti seseorang yang melihat pencuri, menyembunyikan barang bukti dari polisi. Baru aku mau menghinanya dia sudah angkat bicara,

“Namja asing, untuk saat ini kita harus jaga jarak di depan Jongin. Aku takut nanti dia curiga. Arra?” jujur aku sedikit kesal mendengarnya. Memang kenapa kalau Jongin curiga? Akhirnya dia juga akan tahu kalau aku dan Hagun akan menikah.

“Arrayo..” balasku dan Hagun langsung memasuk rumah Jongin tanpa mengetuknya. Apa mereka sangat dekat? Sampai-sampai, Hagun tak mengetuk pintu. Atau mungkin Hagunnya saja yang tak punya tata kerama?

“Jongin-ah!” panggil Hagun saat memasuki ruang tamu. Hmm, rumah ni cukup nyaman dan rapi. Tapi kenapa sepi sekali?

Dan tak lama, Jongin turun dengan wajah yang sulit kuartikan. Mungkin dia bingung kenapa aku dan Hagun bisa datang bersamaan dan mungkin juga dia kesal karena kami telat.

“Kenapa kalian lama sekali? Aku sampai lumutan menunggu kalian!” tanyanya kesal sambil menataku dan Hagun bergantian.

“Hehe, mianhae Jong-ah. Tadi aku ada sedikit masalah di rumah.” Jawab Hagun berbohong. Dan apa sekarang giliranku menjawab? Aku rasa begitu.

“Wae? Tadi aku sakit perut dan kesasar untuk mencari rumah terpencilmu ini.”bohongku juga sambil menatap Jongin datar.

“Neo!!” ucapnya geram.

“STOP! Lebih baik kita mulai bekerja, tak ada waktu lagi.” Ucap Hagun meleraikan kami sebelum terjadi keributan di sin. Baguslah aku tak perlu membuang tenaga untuk hal yang tak penting ini. Dan Hagunpun menarik kerah belakang Jongin, apa-apain ini?

“Kita akan kerja di mana? Kamarmu saja ya Jong? Baiklah..” tanya Hagun dan disertai jawabannya sendiri.

“Kau, ikuti kami..” ucap Hagun lagi tanpa memandang orang yang diajaknya bicara. Aku tahu yang dia maksud adalah aku. Ada apa dengannya? Apa dia benar-benar tak mau Jongin tahu kalau aku dan Hagun akan menikah? Tapi setidaknya dia harus memikirkan perasaanku. Aishh, aku benci situasi seperti ini. Dan pada akhirnya aku hanya bisa mengikuti mereka berdua layaknya pasangan bahagia, dari belakang.

“Jong-ah, kenapa kau menelpon eommaku?” tanya Hagun saat tiba di kamar Jongin. Tunggu kenapa kamar ini penuh dengan foto mereka berdua? Sedekat apa Hagun dengan Jongin? Jujur aku cemburu, sekarang Hagun adalah calon istri yang akan mendampingiku.

“Eoh? Bagaimana kau bisa tahu? Apa eommamu yang menyuruhmu ke sini?”

“Menurutmu?” Hagun berjalan ke arah meja yang ada di kamar ini, membuka laci dan mengambil laptop dari dalam sana. Lihat bahkan dia hafal letak Jongin menyimpan barangnya.

“Aishh, aku hanya malas menelponmu. Aku tahu sifatmu yang senang mengulur-ulurkan waktu. Jadi langsung saja aku menelpon Bora ahjumma.”

“Kita sudah bersahabat lama, tentu saja aku mengenalmu.” Lanjut Jongin lagi. Apa Jongin bisa membaca pikiran Hagun? Lihat Hagun langsung menoleh saat Jongin mengucapkan kalimat itu. Aishh, aku merasa seperti orang yang sedang menyaksikan film romance di bioskop. Lebih baik mereka menyuruku membuat tugas ini sendiri. Dibandingkan melihat mereka berdua berbicara dan menghiraukan kehadiranku.

“Wae?” tanya Jongin yang melihat reaksi Hagun

“Anniyo.. sudah ayo kita mulai bekerja.” Ajak Hagun lalu naik ke ranjang Jongin dan diikuti oleh pemiliknya. Lalu bagaimana dengan aku? Lebih baik aku pulang saja. Baru aku mau angkat bicara, Jongin sudah mendahuluiku,

“Ahh, matta! Ya, kau namja jadi-jadian, silahkan ambil kursi itu lalu ikut bekerja bersama kami.” Suruh Jongin. Baiklah, setidaknya mereka masih menyadari kehadiranku. Aku mengambil kursi yang ditunjuk oleh Jongin. Menariknya ke depan ranjang dan duduk menatap dua sejoli yang sangat akrab. Aku menghela napas dan melipat tangan di dada, mari kita lihat apa yang mereka akan lakukan sekarang.

“Jong-Jong, bagaimana kalau kita membuat kisah seorang gadis yang jatuh cinta pada pandangan pertama dan akhirnya hidup bahagia?”

“Hmmm..itu terlalu biasa.”

“Jadi mau seperti apa?”

“Nan mollayo..” ucap Jongin dan mengubah posisinya dari duduk menjadi berbaring.

“Hey kau, ada ide?” tanya Hagun lalu menatapku.

“Ada, seorang yeoja yang jatuh cinta pada namja yang dibencinya. Bagaimana?” ujarku sambil menatap Hagun lekat.

“WOAH! Aku setuju, dia seperti memakan kata-katanya sendiri bukan?” Jongin mendadak antusias. Lihatlah, dia langsung duduk dan tangannya mulai menari-nari, mengetik alur cerita dari ideku. Aku kembali menatap mata hazel milik Hagun. Dan dia juga menatapku, tapi tatapannya memiliki arti. Mungkin seperti ‘Apa maksudmu?’ dan kawan-kawannya. Aku hanya membalasnya dengan smirk andalanku.

“Hey kenapa kalian malah saling bertatapan begitu?” tanya Jongin tak suka. Hagun terlihat panik, sedangkan aku tak menunjukan reaksi apapun. Yeoja ini ternyata payah dalam berakting.

“A-ani, kami tak bertatapan. Kau salah lihat Jong-ah. Aku melihat foto kita yang ada di sebelah sana.” Tunjuk Hagun asal.

“Eoh? Foto saat aku memberikanmu cincin—Akhh!! Kenapa kau mencubitku??” tanya Jongin yang terlihat kesakitan. Apa katanya?? Cicin?? Apa jangan-jangan?? Aku melihat ke arah Hagun menunjuk, dan di sana ada Hagun yang memamerkan cicin di jari manisnya dan Jongin yang sedang tersenyum di sampingnya. Aku mengalihkan mataku dari foto itu dan menatap Hagun tajam, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Cincin apa, eoh?” tanyaku pada kedua manusia menyebalkan yang ada di depanku.

“Buat apa kau tahu? Kau juga bukan siapa-siapa Hagun.” Jawab Jongin dengan tatapan meremehkan.

“Memang dia bukan siapa-siapaku saat ini, tapi sebentar lagi dia akan menjadi milikku, permisi.” Aku beranjak dari kursi dan keluar dari kamar Jongin. Aku benar-benar membenci manusia hitam itu. Setelah aku menikah dengan Hagun, jangan harap kau bisa mendekatinya lagi.

Normal Pov

“Memang dia bukan siapa-siapaku saat ini, tapi sebentar lagi dia akan jadi miliku, permisi” Sehun keluar dari kamar Jongin.

“Apa-apaan itu? Hagun tak mungkin menjadi milikmu, namja jadi-jadian!” ucap Jongin dan dia menoleh saat Hagun beranjak dari ranjangnya.

“Kau mau kemana, eoh?” tanya Jongin dengan wajah bingungnya.

“Jongin, kerja kelompok kita selesai dulu, ya? Kita lanjutkan saja lain waktu. Aku harus pergi sekarang.” Lanjut Hagun sambil beranjak dari rajang Jongin.

“Tapi kenapa? Bahkan kerja kelompok kita belum ada setengah jam.” Ucap Jongin, dia terlihat keberatan Hagun pulang sekarang. Sedangkan Sehun, dia tak perduli dengan namja itu.

“Aku harus mengejar Sehun, mianhae. Annyeong!” Hagunpun berlari keluar kamar Jongin dan mengejar Sehun.

“Apa katanya? Mengejar Sehun?” tanya Jongin pada dirinya sendiri. Jongin sempat berpikir beberapa menit dan dia memutuskan untuk mengikuti Hagun.

“Sehun! Kau kenapa, eoh?” tanya Hagun saat melihat Sehun hendak membuka gerbang rumah Jongin. Sehun sama sekali tak menjawab pertanyaan Hagun, dia tetap membuka pintu gerbang rumah Jongin, dengan helm di tangan kirinya. Sebelum mendekati Sehun, Hagun mengambil helm miliknya dari semak-semak.

“YA! Apa kau tuli?! Kau itu kenapa?!” tanya Hagun sambil menarik lengan baju Sehun, tapi Sehun tetap diam.

“YAA! JAWAB AKU, NAM-“

 

CHU~~

Kata-kata Hagun terputus oleh ciuman yang sehun berikan di bibir

kecilnya. Karena kaget Hagun hanya bisa mematung dengan matanya

yang membesar. Tak ada pemberontakan dari Hagun, dan Sehunpun

terus mencium bibirnya. Menciumnya dengan lembut dan penuh

perasaan. Sehun sadar bahwa sekarang dirinya telah terperangkap

oleh Hagun. Memang sebelumnya, ia merasa hanya ingin menjaga

Hagun. Tapi setelah melihat kedekatan Hagun dengan Jongin. Ia baru

menyadari kalau ia telah jatuh cinta pada yeoja mengerikan ini.

“Kau adalah milikku.” Ucap Sehun disela ciumannya. Sepertinya Sehun baru menyadari, kalau cinta itu bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Tak perlu mengenal waktu dan bagaimana hubungan sebelum cinta itu hadir. Sekarang, tinggal menunggu cinta itu datang dan menghinggapi hati Hagun.

To Be Continue kawan~

Iklan

28 pemikiran pada “Hate or Love (Chapter 6)

  1. So sweet… Akhirnya Sehun sadar -,-
    Ngomong” Jongin suka sama Hagun gak? Kalo suka kan, konfliknya tambah greget
    Next thor 🙂 jgn lama” yah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s