Be My Shine (Luhan’s Story: Cold Winter with The Warm Heart)

Be My Shine (Luhan’s Story: Cold Winter With the Warm Heart)

dgdfjfgj

Title                       : Be My Shine

Sub – Title           : Luhan’s Story: Cold Winter With the Warm Heart

Author                  : AlifyaA (200497)

Main Cast            :

  • Xi Luhan as Luhan
  • You as Kim Ah Reum

Genre                   : Romance

Rating                   : G

Type                      : Oneshot

 

You will never know what you could see, if you refuse to open your eyes..

Because stupid person is not someone who doesn’t want to learn, but someone who is blind.

–          By AlifyaA

***

Anyeonghaseyo, cheoneun Alifya imnida! Bangapsemnida! Author mau buat 12 fanfic oneshoot yang masing – masing FF nyeritain member – member EXO satu persatu. 3 dari 12 FF sudah Author publish dengan judul yang sama namun karakter berbeda, jadi kalau yang udah pernah baca dari blog lain, ini BUKAN hasil plagiat.. OK! Author sudah pernah membuat fanfic sebelumnya, tapi ini pertama kalinya bikin FF tentang EXO dan dipublish di blog ini. Karena masih amatiran, kemungkinan FF ini akan melukai mata.. kukuku. Jadi, jeongmal kamsahamnida untuk menyempatkan diri untuk baca. Komen juga kritik dan saran sangat ditunggu, jadi tuangkan pemikiran kalian! And Happy Reading, guys!

***

 

Musim Semi, 20 April 2013

[LUHAN’s POV]

Aku menghela nafas beratku sambil terduduk di halte bus dan menunggu hujan reda. Curah hujan di musim semi memang cukup tinggi, namun aku masih merasa aneh dengan cuaca di Korea. Hujan turun deras di musim semi, tapi musim hujan terjadi di akhir bulan Juni hingga pertengahan Juli yang sebenarnya merupakan musim panas. Haahh.. tapi untuk apa aku memikirkan cuaca? Walaupun musim gugur datang dan langit terlihat cerah, aku tetap tidak bisa berjalan – jalan dengan bebas. Tidak bisa menyisihkan waktu untuk diriku sendiri, untuk mendapat ketenangan ataupun waktu untuk bernapas dengan bebas tanpa orang – orang yang mengelilingiku dengan suara riuh dan berkas – berkas cahaya yang seperti menguliti dan ingin mengangkat semua rahasiaku ke permukaan.

Sepertinya kalau ada orang yang melihatku, mereka akan berfikir bahwa aku adalah seorang buronan yang ingin melarikan diri ke luar negeri atau anak yang kabur dari rumah karena mencuri uang eommanya dan berkelahi di sekolah. Kurasa presepsi itu akan terbukti dengan penampilanku sekarang, sebuah jas sweater dan syal merah yang menutupi lebih dari setengah wajahku. Haahhh.. jeongmal..

Dari kejauhan aku melihat seorang youja yang berlari – lari kecil sambil berusaha melindungi kepalanya dengan tas dari hujan. Ia pun duduk di kursi panjang yang sama denganku, jarak kami sekitar satu setengah meter. Aku mencoba melihat ke arahnya yang sedang merapikan diri, dress birunya sedikit basah terkena air hujan, kulitnya benar – benar putih seperti Sehun, wajahnya terlihat polos, dengan rambut panjang berwarna hitam pekat yang sedikit bergelombang.

Merasa diperhatikan, ia pun menoleh ke arah ku dan sedikit mengangguk memberi hormat. Huuuh.. aku meniup nafas lega karena dia tidak mengenaliku. Aku pun mencoba mengorek kantung celanaku untuk mengecek ponselku apakah ada pesan yang masuk.

Tiba – tiba ada dua orang namja yang juga menghampiri halte bus, mungkin mereka juga ingin berteduh. Aku pun mengabaikan mereka dan mencoba memperhatikan pesan yang ku terima dari manager hyung.

“Oh yeopoda, apakah kau ingin minum dengan Oppa?” aku mendengar salahsatu namja itu berkata pada youja di sebelahku, aku pun menoleh dan melihat youja itu hanya menundukkan kepalanya dan menggeleng pelan.

“Ayolah, Oppa akan membuat mu senang!” ucap namja lainnya. Aku bisa melihat tangan rapuh youja itu mulai bergetar sambil memegang erat tasnya.

“Ayolah!” namja itu mulai menarik – narik lengannya. Karena tubuhnya sangat ringan, hal itu berhasil membuat youja itu beranjak dan sedikit terseret dengan posisi berdiri. Youja itu masih mencoba melepaskan genggaman tangan kasar itu.

“Shireo,” ucap gadis itu dengan suara pelan yang bergetar.

Aku pun beranjak dan menggenggam pergelangn namja yang memegangi youja itu dan menatapnya dingin.

“Jangan mengganggu youjachinguku!” ucapku dingin dengan suara rendah dan dalam.

“Ha! Mana ada orang berpacaran yang duduk berjauhan?”

“Kau belum pernah melihat sepasang kekasih bertengkar?” ucapku sambil melepaskan genggamannya dari youja itu dan menariknya, menyembunyikan tubuh rapuh itu di belakang punggungku.

“Pergilah, atau kau merasa lebih baik bila polisi yang menyeret kalian pergi?” ancamku sambil menunjukkan ponselku. Merekapun mendengus dan pergi memecahkan hujan dengan wajah yang kesal. Setelah melihat punggung mereka yang mulai menjauh, aku pun membalikkan badanku.

“Gwaenchana?” ucapku.

Tiba – tiba suara klakson bus mengejutkanku, aku pun mencoba menolehkan kepala ku ke belakang, namun tangan rapuh youja itu menyentuh pipi kiriku.

“Jangan menoleh, mereka (penumpang bus) akan mengenalimu,” aku terkejut, lalu aku mendengar suara bus kembali melaju.

“Kau mengenaliku?” ucapku sambil menurunkan syal dan menatapnya. Ia hanya balas menatapku dan tersenyum. Tak lama, kami mendengar lagi suara bus.

“Jeongmal kamshahamnida, Luhan-ssi,” ucapnya sambil membungkukkan tubuh. Aku pun menarik tangannya sebelum ia beranjak pergi.

“Nuguseyo?”

“Ah Reum, Kim Ah Reum,” ucapnya dan berjalan pergi menaiki bus itu.

Setelah bus berjalan, aku pun baru menoleh dan melihat bus itu semakin menjauh dari jangkauan mataku.

                Kim Ah Reum, nama yang sangat cocok dengannya. Yeopo.

 

Musim Dingin 2013

Aku baru selesai shooting MV Miracle In December dengan member EXO lainnya untuk Special Album Natal kami. Sudah berbulan – bulan aku tidak bertemu Ah Reum-ssi, sejak pertemuan pertama kami, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Dan entah kenapa, aku sangat ingin melihannya lagi. Kurasa lagu ini benar – benar cocok dengan suasana hatiku sekarang.

 

Wǒ wàngyǎnyùchuān kàn wǒ kàn bù dào de nǐ. Wǒ cè’ěr qīngtīng tīng wǒ tīng bù dào de nǐ

 

“Manager Hyung, sudah tidak ada schedule lagi, kan?”

“YA, Luhan-ah! Kau mau kemana?”

“Aku hanya ingin berjalan – jalan sebentar, nanti aku akan langsung pulang ke dorm.”

“YA, berhati – hati! Jangan sampai ada fans yang melihatmu dan mengambil gambar aneh.”

“Arraseo!” ucapku sambil berjalan keluar.

Salju pertama musim dingin turun dengan ringan membasahi topi hoodieku. Aku pun hanya terus berjalan lurus tanpa arah sambil mengangkat syal hingga menutupi hidungku. Cuaca benar – benar dingin, aku mulai reflex menggosok – gosokkan tubuh sambil memeluk diri.

Dari kejauhan aku melihat seorang youja berjalan sambil menundukkan kepala. Dengan seketika, aku berhenti dan menatap ke arahnya. Aku terus menatapnya yang semakin lama memperpendek jarak kita, ia masih belum menyadari keberadaanku. Saat jarak kami tinggal dua meter, ia pun mengangkat kepalanya dan langsung melihatku. Ia berhenti berjalan dan menatapku. Selama beberapa detik kami hanya terdiam sambil menatap, namun tiba – tiba ia tersenyum ke arahku. Seketika detak jantung langsung memenuhi pendegaranku saat aku melihat senyum cantik itu.

“Sudah lama, Luhan-ssi.”

[AUTHOR’s POV]

Mereka pun terduduk di ayunan yang berada di taman yang tidak jauh dari tempat mereka bertemu tapi. Uap hangat keluar dari masing – masing kopi mereka, Americano dan Caramel Macchiato memang nikmat diminum saat dingin. Selama bermenit – menit mereka hanya membisu sambil memerhatikan kopi di tangan mereka masing – masing

“Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan mu lagi, Ah Reum-ssi,” ucap Luhan memecahkan keheningan. “Ne,” jawab Ah Reum singkat.

“Sekarang masih pukul 7, apakah kamu ingin bermain denganku?”

“Ah.. banana!!! Andwe banana..haaa,” ucap Luhan saat boneka banana itu terjatuh untuk kesekian kalinya. Ah Reum hanya bisa tertawa melihat ekspresi lucu Luhan.

“Ah.. permainan ini sulit sekali,” keluh Luhan.

“Kajja,” ucap Ah Reum sambil menarik tangan Luhan.

“Ah.. teobokki ini benar – benar mashita tapi juga sangat pedas,” ucap Luhan.

“Igeo.” Ah Reum pun menyodorkan air minum kepada Luhan.

“Ahhhhhhhhhhhh.. pedasssss.” “Hahahaha..” “Jangan tertawa!” teriak Luhan.

“Yeopoda,” ucap Ah Reum sambil melihat sebuah sepatu cantik di etalase sebuah toko.

“Kau suka? Mau aku belikan?” tawar Luhan.

“Aniya! Sepertinya harganya sangat mahal.”

“Gwanchana, aku akan membelikannya sebagai tanda terimakasih karena sudah menemaniku.” Ucap Luhan sambil menariknya masuk ke toko.

Mereka pun terus berjalan sampai mereka tidak sadar bahwa mereka sudah ada di dekat Sungai Han karena mereka terlalu sibuk dengan pikiran yang ada di kepala mereka juga debaran jantung yang keras dan tidak mau berheti. Tanpa disadari, tangan mereka masih bertautan. Saat tersadar, mereka lekas melepaskan tangan mereka masing – masih dan tertawa canggung.

“Eeee.. Ah Reum-ssi?” “Ne?”

“Aku tahu ini memang terlalu cepat, tapi aku sudah dapat merasakannya. Nan chuayo,” ucap Luhan gugup. Ah reum hanya dapat menundukkan kepalanya dan merasa bingung atas apa yang seharusnya dia lakukan.

“ Mianhe, Luhan-ssi. Aku masih belum merasa yakin akan perasaanku. Dan juga yang terpenting bukan itu. Kau adalah Luhan, salah satu member EXO, bintang yang bersinar. Sedangkan aku? Kau bahkan tidak tahu bagaimana latar belakangku, apa saja kekuranganku, dan bagaimana kenangan – kenanganku di masa lalu.”

“Itu semua bukan yang terpenting. Aku memang tidak tahu semua hal tentang mu, namun aku tahu bahwa aku meyukaimu.”

Ah Reum hanya terdiam tertunduk selama beberapa saat.

“Tapi menurutku itu penting, aku peduli dan aku mengerti.”

“Ani, kamu tidak mengerti. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah membuka kedua matamu, kau tidak akan tahu apa yang bisa kamu lihat jika kamu menolak untuk membuka mata.”

“Luhan-ssi memang sudah membuka mata, namun Luhan-ssi tidak tahu apa – apa. Nae eomma meninggal 3 tahun lalu karena overdosis obat penenang setelah uri Appa meninggalkan kami untuk pergi dengan youja yang sudah aku anggap ahjumma ku sendiri. 2 tahun lalu aku mengalami kecelakaan dan melukai tanganku, padahal aku adalah seorang pianist. Karena hal itu, aku harus berhenti dan menjadi youja yang tidak memiliki arah tujuan. Setelah eomma meninggal, hanya piano yang bisa menemaniku. Tapi karena situasi, aku berhenti. Nae eonni, stress dan menjadi seorang pelacur. Aku benar – benar berantakan. Aku tidak ingin merusak imagemu, mempermalukanmu, atau pun menginjakmu dengan semua masa laluku,” ucap Ah Reum sedikit berteriak sambil meneteskan cairan being dari kedua mata indahnya. Luhan hanya menangkap tangan Ah Reum  dan meletakkannya di dada kirinya.

“Apa kau bisa merasakannya?” ucap Luhan sendu, Ah Reum pun berhenti menangis dan menatapnya dengan mata yang masih berkaca – kaca.

“Aku tidak peduli akan semua itu. Ketika aku membuka mataku, yang kulihat adalah Ah Reum-ssi bukan latar belakangnya.” Ucap Luhan lembut sambil menariknya kepelukannya.

“Aku sangat ingin bertemu denganmu setelah hari di halte itu, aku sangat ingin melihat senyum manis mu sebelum kau pergi menaiki bus, aku ingin kau menyentuh pipiku lagi karena khawatir aku akan mendapat masalah jika menoleh, aku ingin duduk di kursi halte yang sama lagi dengan mu. Aku menginginkan semua itu, walaupun aku hanya mengetahui nama cantik dan raut wajah rapuh mu. Jadi bisakah kau juga membuka matamu dan melihatku?”

Ah Reum hanya mengangguk kecil dengan air mata yang sudah tidak dapat dibendung lagi. Luhan pun hanya menariknya ke dalam pelukan.

“Saranghaeyo, maukah kau bersama ku dan saling berbagi semua cerita?” ucap Luhan lembut di telinganya. Sekali lagi Ah Reum hanya mengangguk, namun bibirnya terangkat dan memperlihatkan senyuman cantik.

***

[LUHAN’s POV]

Kau tahu, musim dingin itu benar – benar dingin.. sesuai dengan namanya. Karena terlalu dingin, hal itu pun membekukan hati. Namun di hari pertama salju ini turun, hati ku terasa hangat karena cahaya yang kau bawa dengan jiwamu yang rapuh namun cantik. Tapi aku tidak akan membuatmu lebih rapuh lagi dari ini.

“Ah Reum-ssi, bolehkah aku memanggilmu Snow?”

“Snow?”

“Ne, karena Snow sangat rapuh namun cantik, dan hari ini adalah hari salju pertama turun.”

“Kalau begitu aku akan memanggilmu Hannie Oppa. Eotte?”

“Honey?” Tanya Luhan berseri – seri. “Aniya, Han-nie.. Luhannie. Jadi, Hannie Oppa.”

“Aku kira kau memanggulku chagi, ish!”

“Hahahha.. tidak akan pernah. Shireo!”

“WAE??!!”

END

52 pemikiran pada “Be My Shine (Luhan’s Story: Cold Winter with The Warm Heart)

Tinggalkan Balasan ke AlifyaA Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s