It’s Not Just A Game (Chapter 2)

title : it’s not just a game!  (chapter 2)

author : damchukiddo (@damchukidd0)

main cast : Jung Jihyun (OC), Kim Jongin a.k.a Kai, Oh Sehun (EXO-K)

support cast : Lee Hyerim, Jung Jaehyun (OC) & EXO-K members

Genre : romance, school life

Rating : PG –15

length : series/chaptered

disclaimer : all characters belong to God and his/her family. It’s pure from my imagination. So, sorry for similarity of the plot, weird storyline, typos and etc, i’m still amateur. No bash. No plagiarism. No sider!~

enjoy ^^

ibdsjfhks

 

______

Sehun’s POV

Pulang sekolah adalah hal yang aku tunggu-tunggu. Bukan aku saja sih, sepertinya semua pelajar di dunia juga sangat menyukai jam pulang. Apalagi setelah 2 jam pelajaran bahasa yang membosankan, bel pulang itu seperti nyanyian para dewi. Berlebihan memang tapi itu kenyataannya.

Dan sekarang aku sedang berada di bus. Ada yang berbeda dengan perjalanan pulang ku kali ini. Sekarang aku ditemani Kai yang baru pindah beberapa hari yang lalu. Dia menolak dijemput oleh supir.

Menurutku itu bodoh.

Menolak dijemput dan lebih mendengarkan perkataan Chanyeol dan Baekhyun. Kalau aku mungkin sangat bahagia jika ada yang mengantar jemput. Kau tidak perlu kepanasan atau berdesak desakan di bus dan tidak perlu membuang uang jajan mu.

Aku bukannya tidak mampu mempekerjakan seorang supir, tapi aku lebih suka menabungkan uangku atau membelikan untuk kebutuhanku sehari-hari. Lagipula untuk apa pemerintah menyediakan transportasi umum jika tidak ada yang memakainya, aku juga masih mempunyai skateboard dan sepeda di rumah.

Sekarang aku merasa mengantuk. Kai tidak mengeluarkan sepatah kata pun semenjak kita naik bus tadi. Dulu Kai tidak sependiam ini. Dia mendadak berubah ketika sesuatu hal bodoh terjadi menimpa dia dan kekasihnya dulu.

Ya perlu sekali lagi aku bilang bahwa Kai itu bodoh. Mempunyai masalah dengan seorang yeoja bisa membuat dirinya berubah 180°. Jika aku bilang begitu pasti dia akan membalas, “semua orang bisa berubah”.

Ya memang aku tahu semua orang bisa berubah tapi perubahan Kai itu termasuk perubahan yang… bodoh, menurutku. Ya sudahlah lah,  sekarang aku mencoba untuk menutup mataku dan tidur.

“Hun.”

“hmm?” aku menyahut sambil membuka mataku sedikit. Mengapa saat aku mencoba tidur dia baru mengajak ku mengobrol? Kemana saja dia sedari tadi?

yeoja di kantin itu siapa?”

Yeoja? tumben sekali dia menanyakan tentang yeoja, biasanya dia tidak peduli. Lagipula yeoja mana yang bisa membuat seorang Kai tertarik?

yeoja yang mana?” aku membenarkan posisi duduk ku yang sedikit merosot saat aku mencoba tidur tadi. Sekarang aku sudah tidak mengantuk lagi. Percakapan ini sepertinya akan menarik.

yeoja yang membuat kau dan yang lainnya terkagum-kagum.”

Aku mengerutkan dahiku. Yeoja yang membuatku terkagum-kagum? Sepertinya aku tidak pernah mengagumi yeoja selain ibuku sendiri. Aku mengingat-ngingat semua kejadian yang terjadi di sekolah hari ini. Maklum, ingatan ku jangka pendek untuk hal-hal yang tidak penting. Kemudian aku mengingat seseorang. Jung Jihyun. Yeoja sinisyang menolak permintaan maafku, dan menjadi topik panas teman-temanku hari ini.

“oh, yeoja sinis tadi pagi?”

“nah, iya itu. Kau menabraknya? Kapan?” terdengar sedikit semangat di nada bicara Kai.

“tadi pagi saat ke kelas. Memang kau tidak melihat? Kau kan bersama ku.”

Kai mengernyit bingung, “yang kau bilang ‘hanya insiden kecil’?”

“iya, mungkin.” Entahlah aku lupa, ingatan ku kan jangka pendek.

“kau mengenalnya?”

“Tidak. Bahkan aku baru melihat wajahnya.”

“yang lain mengenalnya?”

Yeoja ini memang sudah menarik perhatian Kai, pikirku. “sepertinya tidak. Dia bukan siswi populer. Memangnya kenapa?”

“oh, tidak apa-apa.”

“kau tertarik dengannya?”

Kai mendengus meremehkan, “tidak mungkin, dia aneh.”

Cih, munafik.

Kau tidak pandai berbohong Kai. Aku tahu kau memang tertarik pada Jihyun. Kai adalah tipe orang yang menjaga image nya. Mana mau Ia menanyakan sesuatu yang dianggap bodoh, apalagi menyangkut seorang yeoja pada orang lain –tak terkecuali pada teman-temannya sendiri.

Bus pun berhenti di halte dekat rumah ku. Kai turun duluan lalu aku mengikutinya dari belakang. Rumahku dan rumah Kai memang tidak terlalu jauh. Itulah alasan lain dia ingin pulang sendiri tanpa dijemput.

Kemudian aku mendapatkan sebuah ide. Mendadak aku berhenti berjalan. Kai yang menyadari aku sudah tidak berjalan di sebelahnya membalikan badan sambil menampilkan ekspresi bingung. “waeyo? Kenapa kau berhenti?” tanyanya.

Tak sadar seringai terpampang di wajahku, “aku mendapatkan ide. Bagaimana kalau kau mendekatinya?”

Dia mengernyit, “apa maksudmu? Mendekati siapa?”

Aku mendecakan lidah, dia ini pikun atau apa, “mendekati yeoja yang tadi pagi. Jika kau berhasil menjadikannya kekasih, aku berikan apapun yang kau inginkan.”

Kai terbelalak, “kau gila? menjadikan yeoja seperti itu permainan? Tidak. Aku tidak mau.”

Aku bukannya menjadikan Jihyun sebagai permainan bodoh, aku hanya ingin membantumu.

“ayolah, kau takut gagal? Sejak kapan Kai menjadi penakut?” aku memancing Kai. Biasanya jika sudah menyangkut kata ‘takut’, Kai bisa langsung merubah pikiran. Gengsi nya sangat besar.

“aku tidak takut. Jika barang mahal yang kita pertaruhkan, aku bersedia. Jika seorang gadis, aku tidak mau. Terlebih gadis seperti itu. Mengerikan.”

“alibi, bilang saja kau memang takut.”

Kai terlihat seperti berpikir. Lihat saja  dia pasti akan setuju mengikuti usulku.

“ok, aku ikut.” Benar kan kataku. “Tapi kau juga harus mengikutinya.”

aku mengernyit, “apa maksudmu?”

“kau juga harus ikut. Jadi jika diantara kita bisa menjadikan dia kekasih itu yang menang. Dan yang kalah, harus memberikan apa saja yang diinginkan si pemenang selama sebulan. Bagaimana?”

Aku menimang-nimang, tapi kemudian pikiran ku teralihkan ketika aku melihat seseorang berjalan ke arah barat. Aku harus cepat-cepat mengejar orang itu. Ada sesuatu yang belum aku selesaikan.

ok call! Kita mulai dari esok hari. Aku pergi duluan, ada yang harus ku urusi.” ucapku lalu melesat menggunakan skateboard ku.

Aku berbelok ke arah barat. Tadi aku sedikit mendengar Kai meneriakan sesuatu, tapi biarlah dia kan bisa menanyakannya nanti. Seseorang yang aku kejar ini lebih penting.

Seseorang itu adalah Jihyun.

Walaupun di sekolah tadi aku bilang urusanku dan dia sudah selesai, sebenarnya aku masih tidak enak padanya. Permintaan maaf ku belum diterima. Mungkin tadi dia masih emosi kepadaku.

Ya salah ku juga sih, tadi siswa yang berjaga di depan gerbang sudah mengingatkan ku untuk tidak memainkan skateboard ku di lingkungan sekolah, tapi aku tidak mendengarkannya. Jadi mungkin sekarang Jihyun sudah tidak terlalu emosi dan dia bisa memaafkan ku.

Jihyun terlihat memasuki sebuah toko. Dan oh, kebetulan sekali dia masuk ke toko buku yang sering aku kunjungi. Sebenarnya dari kemarin aku ingin mengunjungi toko buku ini, hanya saja aku lupa. Aku buru-buru masuk ke toko itu. Laki-laki penjaga toko –yang ku prediksikan umurnya hanya berbeda sedikit denganku, tersenyum ketika aku memasuki toko, sepertinya ia sudah familiar dengan wajahku.

Menurutku, tempat ini lebih mirip perpustakaan lama dari pada toko buku –dengan rak-rak yang hampir mencapai langit-langit dan juga disini disediakan meja dan kursi. Buku-buku disini juga lengkap, kau bisa menemukan buku-buku lama atau baru –dan yang sangat langka sekalipun. Dan juga yang paling kusukai adalah harga yang tidak terlalu mahal, juga toko ini memberikan diskon tiap minggunya. Jadi tidak salah kan aku menjadikan toko ini salah satu tempat favoritku?

Aku melihat sekeliling. Tidak ada Jihyun. Mungkin aku harus lebih masuk ke dalam, pikirku. Toko buku ini juga bisa dibilang luas. Rak-rak yang tinggi juga membuatku sulit untuk menemukan Jihyun. Aku berjalan lebih ke dalam lagi. Hampir sekitar 10 menit aku berputar-putar di toko buku ini dan akhirnya aku menemukan Jihyun sedang membaca di salah satu meja. Tempat dia duduk berada di sudut ruangan dan memang terhalangi oleh rak yang paling besar, pantas saja aku sulit menemukannya.

Lalu aku bergegas duduk di depannya. Jihyun masih tidak menyadari aku ada di hadapannya. Yeoja yang memakai hoodie berwarna merah marun itu masih sibuk dengan buku bacaannya. 15 menit berlalu, dan Jihyun masih tidak menyadari aku berada di depannya.

Yeoja ini kepekaan terhadap sekitarnya minim atau bagaimana?

Dan sekarang aku mulai bosan, sepertinya aku juga membutuhkan sesuatu untuk dibaca. Aku memundurkan kursi ku berniat untuk bangkit. Suara kaki kursi yang berderit di lantai sepertinya mengganggu makhluk di depan ku. Dia menurunkan bukunya dan terbelalak melihatku.

Semengejutkan itu kah aku disini?

“biasa saja. Aku bukan hantu.” Kataku.

Wajah Jihyun berubah tenang. “Mirip.” Jawabnya.

Aku sedikit tersentak. Yeoja ini dinginnya benar-benar sangat keterlaluan.

“sejak kapan kau disini?” dia berucap lagi. Terdengar kesinisan di nada suaranya yang tenang itu. Sepertinya kehadiranku disini sangat tidak diinginkan.

Aku mengangkat tangan kiri ku. Berpura-pura melihat jam dan berpikir, “sekitar 15 menit yang lalu.”

Dahi Jihyun sedikit mengerut, dia menatapku aneh.

“aku hanya ingin meminta maaf. Kau belum menerima permintaan maafku.” Ucapku tenang.

Jihyun memutarkan bola matanya. Seperti malas untuk mengungkit-ngungkit hal itu lagi. Tapi aku harus mendapatkan maaf darinya. Iya, harus.

Aku memutar otak untuk mencari cara agar permintaan maafku diterima. Lalu pandangan ku tertuju kepada buku yang sedang dibaca oleh Jihyun. Mendadak aku memiliki sebuah ide.

“atau.. bagaimana kalau ini,” aku membuka tas ku dan menyodorkan sebuah kotak cokelat kehadapannya. “untuk permintaan maaf ku.”

Orang yang suka membaca buku tentang cokelat pasti suka memakan cokelat kan? Dan Jihyun lah orangnya. Terima kasih juga untuk seseorang yang sudah memasukan sekotak cokelat ke dalam tas ku saat aku sedang mengikuti pelajaran olah raga tadi. Hadiahmu berguna.

Jihyun mengamati kotak di depannya. Tangannya sedikit terangkat untuk menyentuh kotak itu. Ayolah, aku tahu kau pasti sangat menginginkannya.

“ambil saja, dan ku anggap kau menerima permintaan maafku.”

Jihyun mengangkat wajahnya, matanya menajam melihatku. Wajahnya berubah menjadi lebih sinis dari yang sebelumnya. “kau.. licik sekali.” Desisnya lalu mengambil kotak cokelat itu.

Aku menarik ujung bibirku. Ya, urusanku disini sudah selesai. Lalu aku membereskan barangku dan bangkit dari duduk. Aku sudah terlalu lama diam disini.

“selamat menikmati cokelatnya.” Ucapku sambil mengangkat satu ujung bibirku lalu melenggang keluar toko buku tersebut.

Yaa, ada untungnya juga sih aku mengikuti Jihyun sampai kesini. Aku jadi sedikit tahu tentang kesukaannya. Apa ini bisa dibilang mencuri start? Jika iya, maafkan aku Kai.

______

Kai tergeletak di atas kasur di kamar tidurnya. Yang sedari tadi ia lakukan hanya berguling ke kanan dan ke kiri. Dia bosan. Tidak tahu harus melakukan apa dari sepulang sekolah. Mungkin jika Sehun tidak pergi duluan tadi Ia bisa mengajaknya bermain di rumah.

Berbicara soal Sehun, Kai jadi mengingat perjanjiannya dengan Sehun tadi. Sebenarnya Kai tidak tahu mengapa Sehun bisa mencetuskan ide gila seperti itu. Dan anehnya Kai malah menyetujuinya. Entahlah, mungkin Kai tertarik dengan yeoja itu. Dia bukan seperti yeoja pada umumnya.

Ada beberapa asumsi di kepala Kai tentang sikap yang dimiliki yeoja tersebut. Yang pertama, mungkin dia memang mempunyai sifat sinis dari lahir. Yang kedua, sebenarnya dulu dia yeoja yang baik, hanya saja sesuatu terjadi padanya dan membuat dia menjadi sinis. Dan yang ketiga –sebenarnya ini yang paling gila menurut Kai- yeoja itu tidak menyukai laki-laki alias tidak normal.

Sayang sekali jika dari ketiga asumsinya itu –apalagi yang terakhir, benar terjadi pada yeoja itu. Padahal yeoja itu ehm… cantik. Tak sadar Kai menarik sedikit ujung bibirnya ketika mengingat wajah yeoja itu. Kemudian Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Fantasy nya terlalu berlebihan. Kebosanan berdampak buruk pada otaknya ternyata.

Ponsel Kai berdering. Nama Baekhyun terpampang di screen ponselnya. Kai berharap teman-temannya akan mengajaknya untuk bermain. Dia sudah hampir mati karena kebosanan.

“KAI!!” Baekhyun berteriak di seberang sana membuat Kai menjauhkan ponsel dari telinganya.

“kau berisik sekali. Ada apa?”

“ayo kita bermain!”

Akhirnya doa nya terkabul juga.

“Kami tunggu di lapangan olah raga dekat rumahmu. Ajak Sehun juga.” Tambah Baekhyun.

Kai mengernyit, “memang dia tidak bersama kalian?”

“tidak. Ponselnya juga tidak dapat dihubungi. Cepat kesini kami tunggu.”

Sambungan lalu terputus. Sehun tidak bersama mereka. Apakah urusannya belum selesai? Entahlah. Kai bergegas berganti baju. Jika terlalu lama, dia bisa pulang dengan memar di seluruh tubuhnya.

Kai berjalan menuju lapangan yang Baekhyun katakan tadi. Tapi sebelum kesana Ia  pergi ke rumah Sehun terlebih dahulu. Benar kata Baekhyun, ponsel Sehun tidak aktif. Ia sudah mencoba meneleponnya beberapa kali tadi.

Dari kejauhan, Kai melihat Sehun sedang membuka pagar rumahnya. Dia masih menggunakan seragam sekolah, sepertinya dia baru saja sampai ke rumahnya.

“SEHUN!!” Kai berlari mendekati Sehun.

Yang dipanggil menoleh ke arah sumber suara dengan malas. “mwoya?

“kau.. mengapa ponsel mu tidak aktif?” tanya Kai sambil tersenggal-senggal.

Sehun merogoh saku seragamnya, lalu mengecek ponselnya. “ponsel ku lowbat.”

“pantas saja.”

“ada apa memang?”

“ayo kita bermain. Yang lain sudah menunggu di lapangan.”

“malas ah.”

“kami sudah menunggumu daritadi. cepatlah!” Kai menyeret kerah Sehun.

ok, tapi lepaskan. Kau mau aku mati ketika sampai disana?” ucap Sehun sinis.

sorry.” Kai melepaskan tangannya dari kerah Sehun.

“Hun, yeoja itu.. siapa namanya?” tanya Kai tiba-tiba.

yeoja yang mana?” Sehun menyahut malas sambil membenarkan kerahnya yang kusut oleh perbuatan Kai tadi.

Kai mendesah kesal, Sehun ini sudah pikun sepertinya. “yeoja sinis itu.”

Sehun berhenti membenarkan kerahnya. “oh, kau mau tahu?”

“bagaimana aku bisa mendekatinya jika aku tidak tahu namanya.” Kai memutarkan bola matanya.

“cari tahu saja sendiri.” Sehun berjalan duluan meninggalkan Kai di belakangnya.

“Ya Oh Sehun kau licik sekali!!”

______

“aku pulang.” Tidak ada jawaban.

Sebenarnya percuma Jihyun berkata seperti itu karena ia tahu tidak akan ada yang menjawabnya. Jaehyun –kakak kandung Jihyun, pasti belum pulang. Jihyun membuka sepatu dan bergegas menuju dapur. Tenggorokannya terasa kering sejak pulang dari toko buku tadi.

Ia berlari-lari kecil menuju kulkas. Mengambil kotak susu cokelat lalu menuangkan ke gelas favoritnya. Jihyun menegak minuman itu dengan satu kali helaan nafas.

“aaahh…” ini yang sedari tadi ia butuhkan. Semua yang terjadi padanya hari ini terlalu aneh dan absurd. Ia butuh mendinginkan pikirannya. Lalu jihyun berbalik menuju ruang tamu, dan tak lupa ia mengisi penuh gelasnya dengan susu cokelat.

Jihyun mengingat-ngingat semua yang terjadi pada dirinya hari ini. Dimulai dari insiden di koridor, penolakan permintaan maaf dari namja populer –dan ini membuat Jihyun diceramahi seharian oleh Hyerim, dan yang paling membuat Jihyun terkesan adalah Sehun menemuinya hanya untuk meminta maaf.

Sebenarnya itu tidak bisa dibilang ‘menemuinya’ karena mungkin Sehun tak sengaja sedang mengunjungi toko buku yang sama dengan Jihyun. Dan Jihyun kira namja seperti Sehun adalah namja yang masa bodoh dengan kesalahannya. Tapi ternyata Ia salah.

Lalu Jihyun mengambil kotak cokelat yang diberikan Sehun tadi, sebagai permintaan maaf katanya. Jihyun membuka tutup kotak tersebut dan mendapati berbagai cokelat berukuran kecil dengan bentuk hati dan boneka teddy.

“pasti cokelat dari penggemarnya.” Gumam Jihyun.

Jihyun mengambil satu cokelat berbentuk hati dan memasukan ke dalam mulutnya. Cokelat ini enak, pikirnya. Yang  memberikan ini pasti tidak sembarangan membeli di supermarket. Sepertinya ia memesan  ke toko khusus cokelat.

“tapi kenapa dia bisa tahu kalau aku menyukai cokelat?” Jihyun mengernyit.

Lalu kemudian pandangannya terpaku kepada sebuah buku yang tergeletak di sebelahnya. ‘All About Chocolate’ terpampang jelas dan besar sebagai judul di sampul depan buku itu.

“dan sekarang aku merasa bodoh.” Runtuknya.

Kemudian terdengar suara mesin mobil dari luar. Sepertinya Jaehyun sudah pulang. Jihyun ingin menyambut kakaknya di depan, tapi dia terlalu lelah dan malas untuk berdiri. Biarlah toh kakaknya juga tidak mempermasalahkan hal-hal yang  seperti itu.

“eh, kau belum tidur?” Jaehyun menyapa sambil membuka jaketnya. Terlihat rambutnya sedikit acak-acakan. Ada kantung hitam di bawah matanya juga.

“kau terlalu kelelahan Jaehyun.” Ucap Jihyun tidak memperdulikan pertanyaan kakaknya tadi.

Jaehyun menghempaskan tubuhnya di sebelah Jihyun. “benarkah? Wah sejak kapan adik ku yang dingin ini memperhatikan kakaknya.” Ucap Jaehyun sambil terkekeh.

Jihyun memutarkan bola matanya, “aku menarik kata-kata ku tadi.”

Jaehyun tertawa melihat adiknya itu. Lalu perhatiannya terpusat pada kotak cokelat yang terbuka di atas meja. Jaehyun mengambil satu dan melahapnya dengan cepat. “ini enak, kau dapat dari mana?”

Jihyun menutup dan mengamankan cokelat itu. Ia tau pasti kakaknya akan melahap habis semua cokelatnya. Jaehyun sedikit merengut pada Jihyun. Adiknya ini memang maniac cokelat. Bahkan Jihyun pernah marah 2 hari pada Jaehyun karena cokelatnya dimakan sedikit oleh Jaehyun.

“dari siapa? namjachingu mu ya? Wah adik ku sudah besar ternyata, ayo kenal kan pada ku!” ucap Jaehyun sambil cekekikan.

“ya! Seharusnya kau yang mengenalkan yeojachingu mu terlebih dahulu padaku!” Jihyun melawan.

Jihyun sempat bingung karena kakak laki-lakinya ini memang tidak pernah mengenalkan seorang yeoja secara resmi kepadanya. Padahal Jaehyun orangnya sangat ramah, sopan dan talkactive. Jaehyun juga mewarisi wajah yang tampan dan berperawakan bak model. Mana mungkin tidak ada yeoja yang menyimpan hati padanya.

Jaehyun juga memiliki banyak lingkup pertemanan. Dia termasuk siswa populer saat sekolah dulu. Setiap hari valentine, Jaehyun akan pulang dengan beberapa kantong berisi cokelat, bunga dan surat-surat yang sudah disemprot habis-habisan dengan parfum. Dan pasti Jihyun akan mendapatkan sebagian cokelat yang Jaehyun dapatkan.

Berbeda sekali dengan Jihyun. Jihyun adalah anak yang pendiam, sedikit anti-sosial, dan dingin pada sekitarnya. Kadang juga iya bersikap sinis dan bermulut tajam. Ia hanya membuka mulutnya jika hanya ada yang mengajak berbicara –itu juga hanya dengan ‘iya’, ‘tidak’ atau anggukan dan gelengan.

Jihyun juga tidak terlalu memiliki banyak teman. Sebenarnya banyak yang ingin mendekati Jihyun, karena ia termasuk gadis cantik dengan tubuh ramping dan rambut yang indah. Dan Ia juga pintar. Hampir berhasil mendekati kata sempurna. Tapi sikapnya itu membuat yang lainnya memikirkan dua kali untuk mendekatinya.

Satu-satunya yang tahan berteman dengan Jihyun hanyalah Hyerim. Mereka sudah berteman sejak di bangku menengah pertama. Jihyun sendiri tidak mengerti, mengapa orang yang ceria dan tak mau diam seperti Hyerim bisa tahan berteman dengan makhluk dingin seperti Jihyun. Jika ditanya seperti itu Hyerim pasti akan menjawab, “sebenarnya kau menarik Jihyun, hanya saja mereka harus berhasil menemukan itu dalam dirimu.”

Dan pasti Jihyun berakhir dengan terbahak-bahak jika Hyerim berkata seperti itu.

“aku hanya belum menemukan yang tepat! Lagipula aku masih harus mengurusi mu!” seru Jaehyun.

“bilang saja kau tidak bisa mencari kekasih!”

“tidak, aku bisa!”

“bagaimana kau bisa mendapatkan kekasih jika kau selalu menempel dengan Youngji oppa!

Youngji adalah sahabat Jaehyun dari sekolah menengah akhir sampai sekarang, dan Jihyun cukup dekat dengannya. Jaehyun dan Youngji memiliki pribadi yang hampir sama. Mereka termasuk siswa populer seperti EXO pada jamannya. Dulu, mereka selalu bermain bertiga sehabis pulang sekolah. Jihyun berpikir bahwa Ia menyukai Youngji,  dan Youngji juga memiliki perasaan yang sama  karena Youngji sangat baik dan perhatian padanya.

Tapi Ia merubah pikirannya saat Youngji membawa seorang yeoja untuk bermain bersama mereka. Ya walaupun Ia tidak diberitahu siapa yeoja itu, tapi Ia bisa menebak bahwa itu yeojachingu dari Youngji. Sejak saat itu Jihyun menjadi mendingin pada namja –kecuali pada beberapa orang namja. Ia takut untuk berharap lagi.

“lihat saja aku bisa menemukan yeoja seperti eomma!” Jaehyun lalu membungkam mulutnya.

Jihyun mendadak terdiam. Jaehyun langsung menarik Jihyun kepelukannya. Adiknya ini memang bisa menjadi sedikit sensitif bila sudah menyangkut orang tua.

“aku merindukan eomma, Jaehyun..” lirih Jihyun.

eomma dan appa juga pasti merindukanmu.”

“tidak mungkin Jaehyun, itu mustahil!”

Jaehyun mengelus rambut Jihyun, “semua orang tua pasti merindukan anak-anaknya jika jauh dari mereka, Jihyun.”

“lalu mengapa mereka tidak pulang dan lebih mementingkan pekerjaan daripada anak-anak mereka sendiri? Apa itu yang dibilang pasti merindukan anaknya ketika jauh?” kentara sekali perasaan kecewa dari nada bicara Jihyun tadi.

Jaehyun menghela nafas, ia terlalu lelah untuk berdebat dengan adiknya. “dengar, kau harus yakin appa dan eomma melakukan ini untuk kepentingan anak-anaknya juga. Bukan hanya kepentingan sendiri. Sudahlah, sekarang rapihkan barang mu dan tidur, ini sudah terlalu larut.”

Jihyun bangkit dari duduknya, dan merapikan semua barangnya. Lalu ia mengecup pipi kiri Jaehyun, “jalja, aku tidur duluan. Jangan tidur terlalu malam.” Jaehyun hanya tersenyum menanggapinya.

Jihyun tidak tahu bagaimana hidupnya tanpa kehadiran Jaehyun. Entahlah, walaupun kakaknya itu bisa menjadi sangat menyebalkan dan berisik, tapi semua ucapannya memang terbukti. Dan kata-katanya juga bisa membuat Jihyun tenang. Jihyun memang mempunyai hubungan yang tidak baik dengan ayahnya karena ada satu rahasia yang hanya dia yang tahu tentang ayahnya. Jauh dari orang tua juga membuatnya menggantungkan hidup pada kakaknya.

Dan Jihyun sangat bersyukur dianugrahi kakak seperti Jaehyun. Sangat.

______

Jihyun memiliki sebuah ritual setiap istirahat, membaca buku sambil makan cokelat. Ya, walaupun tidak setiap hari tapi dia pasti akan melakukannya di tiap minggunya. seperti hari ini.

“Ya Jung Jihyun! Apa kau tidak bosan makan cokelat tiap hari? Cokelat membuatmu tidak memperhatikanku!” Hyerim menggerutu karena sedari tadi Jihyun tidak mendengarkannya, hanya fokus pada buku dan cokelatnya.

Jihyun menurunkan wajah dari bukunya. “Apa kau tidak bosan membicarakan EXO setiap hari? EXO membuatmu tidak memperhatikan aku yang sedang bersama cokelatku!” Jihyun mengikuti gaya bicara Hyerim tadi.

“Kau menyebalkan Jihyun!”

Jihyun kembali membaca bukunya. “aku memang menyebalkan.”

Hyerim melongo. Temannya ini benar-benar sudah gila. Dia ini keturunan batu es atau apa. Sepertinya Hyerim harus melemparkan Jihyun ke matahari agar dia bisa jadi menghangat!

Melihat Hyerim yang menggerutu tidak berhenti, Jihyun menyodorkan kotak cokelat –dari Sehun- yang sengaja Ia bawa.  Karena jika dibiarkan di rumah, pasti akan dilahap habis oleh kakaknya.

“daripada kau menggerutu tidak jelas, ini makan lah.”

Hyerim menatap kotak cokelat yang disodorkan oleh Jihyun. “tumben sekali kau mau berbagi.” Cibirnya sambil mengambil satu cokelat berbentuk boneka teddy.

“satu cokelat, satu kotak chocolate milk.”

Hyerim menggelengkan kepalanya mendengarkan pernyataan Jihyun tadi. Lalu Ia mengunyah cokelat itu. “ini enak Jihyun, kau beli dimana?”

“tidak. Itu dikasih.”

“oleh siapa? Jaehyun oppa?”

“bukan. Dari Sehun.”

“ohh..” Hyerim ber-oh ria, tapi sepersekian detik berikutnya..

“APAAAA? SEHUNNNN?!?!?” Hyerim berteriak secara histeris, membuat orang-orang yang ada di ruangan tersebut melihat kearah mereka.

“Kau berisik sekali.” Jihyun memutarkan bola matanya.

“tapi.. tapi.. bagaimana bisa Sehun memberikan ini? Kau.. kau.. melakukan apa saja dengan Sehun kemarin?” Ucap Hyerim sambil terbata-bata.

“apa yang kau maksud dengan ‘melakukan apa saja’?”

Hyerim tidak menanggapi pertanyaan Jihyun tadi, “Atau kau sudah berpacaran dengan Sehun? BENARKAN KAU SUDAH BERPACARAN DENGANNYA?!” hyerim berteriak secara histeris lagi. Ingin sekali Jihyun menyumpalnya dengan kamus oxford di depannya itu.

Jihyun memandang sekitarnya. Semua memandang ke arah mereka. Ada yang memandang aneh dan tak sedikit juga yang memandang tidak suka. Jihyun harus keluar dari sini, Ia tidak mau menanggung malu gara-gara teriakan dashyat Hyerim.

“jawab aku Jihyun! Kau sudah berpacaran dengannya kan?!” Hyerim masih histeris.

Jihyun bangkit dari duduknya. “Tanya saja sama Sehun.” Lalu Ia pergi meninggalkan Hyerim. Walaupun Ia tahu Hyerim akan mengejarnya terus sampai mendapatkan jawaban.

Mendadak Jihyun mendapatkan panggilan alam. Lalu Ia berlari ke toilet. Ia harus menggunakan toilet yang memang jauh dari keramaian agar tidak terlalu lama mengantri, apalagi ini jam istirahat. Setelah menemukan toilet yang dia maksud dan melancarkan hasratnya, Jihyun berniat kembali ke kelas.

Tapi saat keluar, Jihyun melihat seorang murid namja sedang bersandar tidak terlalu jauh dari pintu toilet. Jihyun tidak bisa melihat jelas wajahnya karena namja itu menundukan kepalanya.

“pengintip.” Gumam Jihyun sinis. Lalu Ia mendekati namja tersebut, berniat memberi sedikit pelajaran kalau Ia memang berniat mengintip.

“ini toilet yeoja. Kau bukan yeoja kan?” ucap Jihyun dingin.

Namja itu mengangkat wajahnya dan sedikit terkejut ketika melihat Jihyun. Jihyun mengenal wajah namja itu tapi dia lupa siapa namanya. Biarlah toh itu tidak penting baginya.

“Bukan. Aku tidak berniat mengintip.” Tuturnya.

“lalu?”

“aku hanya tersesat. Aku lupa jalan dari kantin menuju kelasku. Teman-teman meninggalkan ku”

“konyol.” Jihyun bergumam sambil meninggalkan namja itu.

“Tunggu!” namja itu menahan bahu Jihyun. “bisa kah kau antarkan aku ke kelasku?”

“sepertinya tidak.”

“Aku mohon.” Pinta namja itu sedikit memelas.

Jihyun berpikir, kasihan juga melihat orang ini tersesat di toilet. “satu kotak chocolate milk?” tawarnya.

ok deal.” Jawab namja itu mantap.

Jihyun mendengus meremehkan, “tapi tolong, tanganmu.”

Namja itu sedikit gelagapan. Salah tingkah karena lupa melepaskan tangannya dari bahu Jihyun. Lalu Ia mengangkat kedua tangannya. Jihyun hanya menatap namja itu aneh.

by the way, nama ku Kai. Kau?”

“Jihyun.”

–TBC

Kyaa kyaa kyaa chapter 2 beres~~ makin abal dan gaje saja ya u,u maaf ya kalau mengecewakan, jujur chapter ini aku sedikit ngeblank nulisnya, dapet ide tapi pas mau ditulis tiba-tiba ngilang err /garuk tanah/. Oh iya terima kasih sangaaaattttt buat yang udah relain waktu yang berharganya buat baca ff abal ini, terus terima kasih juga buat yang udah comment. Aku sama Kai seneng banget baca comment kalian serius^^ /ditendang/.

Tetep comment comment yaaa! Kasih saran aja sebanyak-banyaknya terus kalau mau kritik, kritik aja yang pedes, aku suka yang pedes pedes kok/ga. Pokoknya terima kasih semuanyaaa!! Chu~ chu~

Iklan

40 pemikiran pada “It’s Not Just A Game (Chapter 2)

  1. Wah gimana nih kelanjutannya thor?terus semangat ya thor lanjutin ffnya
    Ffnya bikin penasaran nih,jihyun bakal sama kai ato sehun

  2. Keren!!!
    Love it!
    Next, Thor. Ini mesti dilanjut, aku penasaran setengah mati >.<
    Kasihan Jihyun jadi bahan taruhan… -_-
    Eh, Jaehyun gk suka sama Jihyun a.k.a yeodongsaengnya kan? o.O Entah kenapa pas tau dia gk pernah punya yeojachingu aku mikir gitu xD

    Next ditunggu, Thor~ :3 ❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s