[ByunByul 1st Story] Mr…© Aul!

[ByunByul 1st Story] Mr…© Aul!

BBS1 (1)

Byeol (OC) || Byun Baekhyun

Leght : Series || Rating : General || Genre : Friendship- OOC

Maybe some typo(s)!!

Note : Heollo~ bertemu lagi Aul!, sekarang Aul mulai dapet hidayah buat bikin Fanfic yang series, kaena banyak reader yang minta FF-ku itu jangan Oneshoot. So, ini adalah first seriesnya, segitu dulu hehe~

Happy reading~

“Semua orang bisa berubah seiring berjalannya waktu,

bukan hanya fisik, namun juga mental mereka”

-Moon Yeolsu-

Mr…

Kereta bawah tanah tujuan akhir Gwangjin-gu telah berhenti, sedangkan seorang gadis dengan kacamata beningnya masih tertidur dengan topinya yang menguasai hampir separuh wajah bulatnya. Seorang nenek yang duduk di sampingnya dengan senang hati membangunkan gadis itu dengan lembut, “Nak, subway sudah di tujuan akhir. Ireonha” gadis itu sedikit bergeming dan membenarkan posisi topinya, “ah, gamkasahamnida, halmeoni” Byeol –gadis itu membungkuk dan membawa beberapa tas lalu keluar dari kereta.

Byeol menyipitkan matanya karena sinar matahari yang sangat terik, dari jarak lima belas meter ke depan, ia bisa melihat seorang pria yang menjatuhkan kalung perak di jalan tanpa merasa kehilangan. Untuk kesopanan pribadi, Byeol pun mengambil kalung tersebut dan mengembalikannya kepada empunya. “jansiman-yo, kau menjatuhkan ini..” Byeol menepuk pelan pundak pria itu yang membuat yang ditepuk menoleh. Orang itu menatap jengkel objek yang Byeol maksud sambil hendak melanjutkan langkahnya. “itu bukan milikku”,

Byeol mengangkat alisnya dan menghembuskan nafas jengkel, jelas-jelas kalung ini jatuh dari kepalan tangannya, dan dia tak mengakuinya, “ini jelas milikmu, tuan. Kau yang menjatuhkannya” Byeol menahan tangan pria itu yang membuatnya menoleh lagi, “kubilang itu bukan milikku,” pria itu menatap Byeol dingin sambil melepaskan tangannya kasar, apa dia tak tau tata krama? Aku ini perempuan omel Byeol dalam hati. “Ya! Ambil ini” Byeol yang sangat gemas pada oleh pria itu akhirnya memaksanya untuk menerima kalung itu,

Baekhyun –pria itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi hendak membuang kalung itu di sembarang tempat, “eh, andwae!-” Byeol menarik tangan Baekhyun dan mengambil kembali kalung perak itu, “jangan dibuang, lihat ini. yeoppeuda” Byeol mengelus kalung perak itu dengan sayang, sedangkan Baekhyun kembali melanjutkan jalannya. “Ya! Bagaimana dengan kalung ini” Byeol berlari menyamai langkahnya dengan Baekhyun yang sepertinya tengah menahan amarah, “ambillah kalau kau mau, itu hanya sampah!”

Byeol menghentikan langkahnya dan menatap Baekhyun dengan tatapan menyela, “sampah? Dia pasti gila! Aku akan menjadi pemilik barumu~” Byeol melanjutkan jalannya kembali, tapi tidak lagi mengikuti Baekhyun, dia akan pulang ke rumah lamanya walaupun sendirian disana, Byeol berjalan dengan riang sambil bersenandung, berharap keberuntungannya di Korea sekarang akan lebih baik daripada dua tahun lalu. Eomma, jeosonghamnida gumamnya dalam hati.

.:***:.

Byeol membuka matanya berusaha menyesuaikan dengan sinar matahari yang terik, dia sedikit mengusap matanya dan menggeratak nakas di samping ranjang tidurnya sampai ia menemukan benda yang dicari. Ponsel. Byeol melirik ponselnya yang terdapat beberapa pesan baru dari ayahnya disana, ayahnya pasti khawatir tentang keputusannya untuk melanjutkan studinya di Korea. Tapi ayahnya tau apa niat sucinya, eomma, ini amanat ibunya.

Selesai merapikan dirinya dan juga beberapa barang di tasnya, Byeol berjalan ke cermin dan berkaca. Dia tersenyum lebar sambil menautkan rambut yang tak terikat ke celah telinganya, ini adalah tampilan ibunya dulu, casual, elegan, and charismatic walaupun jelas, ibunya adalah orang tercantik di dunia ini.

Selesai berkaca dia mengambil tas jinjingnya dan bersiap pergi untuk melancarkan tujuannya disini, melanjutkan studinya. Byeol keluar rumah dan tak lupa mengunci gerbang kayu tua rumahnya untuk berjaga, dia memulai perjalanannya ke halte bus yang jaraknya berkisar tiga ratus meter dari tempatnya berdiri. Byeol mencoba beradaptasi dengan masyarakat sekitar sambil mengucap salam atau hanya sekedar menebar senyum terbaiknya untuk beberapa orang yang menyapanya. Ia jelas tak menyangka masih cukup banyak orang yang mengingat Byeol kecil yang cengeng di daerah sini.

Byeol memasang earphonenya ketika turun dari bus dan berjalan santai sambil bersenandung. Dia mengukir senyum indahnya begitu melihat tulisan di hadapannya, Konkook university. Byeol melanjutkan langkah kecilnya menuju universitas idamannya sambil bersenandung ria, sampai ketika ia melihat dari sudut paling ujung matanya sesosok orang yang familiar menurutnya. Pria dingin itu. Tapi kali ini Byeol sedang tidak mood mengganggu orang sepertinya yang tak tau tata krama dan dinginnya sedingin suhu minus seratus delapan puluh derajat!

Byeol berjalan di belakang lelaki itu yang sepertinya tak menyadari keberadaannya, dia berjalan perlahan menuju pintu masuk dan berhenti ketika melihat banner dengan tulisan ‘hanya untuk mahasiswa yang memiliki kartu kemahasiswaan yang diizinkan masuk’ dan pria dingin itu telah mengeluarkan kartu kemahasiswaannya. Pabo Byeol! Kenapa dia tak mengingat tentang kartu kemahasiswaan yang ia bawa dari Jepang, lihat! Pria itu sudah masuk ke dalam sekarang! Pupus sudah harapan Byeol untuk meminta pria dingin untuk mengantarnya berkeliling.

Byeol berjalan pelan ke-antrian sambil membawa kartu kemahasiswaan Jepangnya yang ia bawa ke Korea, katanya kartu ini masih bisa digunakan jikalau Byeol masih belum mempunyai kartu kemahasiswaan selama seminggu kedepan. “Kau murid baru?” tanya penjaga pintu masuk sambil mengembalikan kartu Byeol, “ne” Byeol tersenyum sambil melangkah ke dalam universitas, yang harus ia lakukan adalah mencari ruang dosen!

Hampir setengah jam waktu yang Byeol habiskan hanya untuk mencari ruang dosen saja, bagaimana nanti dia mencari kelasnya! Dan anehnya lagi, gengsi Byeol terlalu tinggi hanya untuk bertanya dimana letak ruang yang sangat penting baginya hari ini. Dia takut jikalau banyak orang yang malah mengerjainya dan dia akan tersasar di gudang angker yang tak pernah terpakai bertahun-tahun lamanya. Sampai akhirnya, malaikat dingin turun dari surgaNya. “Ya! Neo!” Byeol berlari menghampiri Baekhyun yang berada sejauh dua puluh meter di hadapannya,

Baekhyun yang merasa dipanggil menoleh kecil, dia memutar bola matanya mengetahui siapa yang barusan memanggilnya. “Kita bertemu lagi tuan…” Byeol mengukir senyum indahnya yang dibalas tatapan mata kejam Baekhyun. “Tolong antarkan aku ke ruang dosen, jebal” rengek Byeol sambil menautkan kedua telapak tangannya. “Geurae, tapi kau tak boleh mengikuti ku lagi” Baekhyun berjalan memimpin meninggalkan Byeol yang tengah merasa jengkel padanya, huh, siapa yang mengikuti dia memangnya.

Byeol melangkah pelan tepat dibelakang Baekhyun, pria dingin itu berhenti di suatu tempat yang letaknya tak jauh dari tempatnya bertemu lelaki tadi, “ah, gomawo!” Byeol melukis eyesmile dimatanya walaupun hanya dibalas anggukan singkat Baekhyun dan lelaki itu pergi begitu saja tanpa pamit dengan Byeol. Tunggu? Memangnya Byeol siapanya dia? Hehe,

.:***:.

Seluruh mahasiswa universitas Konkook kelas siang sudah memasuki kelas dengan jurusan masing-masing, termasuk Byeol yang mengambil jurusan art di semester dua tahun ini. Byeol berjalan membuntuti dosen Jo yang mengantarkannya ke kelas barunya, dia di tempatkan di sebuah kelas berisi murid yang unggul dalam hal bernyanyi sama sepertinya. Ketika di persilahkan masuk dan melangkah pelan, Byeol memilih tempat di pojok depan yang baru terisi satu orang.

Byeol menepuk pundak seseorang yang menempati tempat yang ditujunya untuk bangun dan memberi jalan untuknya, orang itu menoleh, “huh, kau lagi” Byeol mencibir orang yang menempati tempat yang ditujunya, apa memang lelaki dingin itu yang akan menjadi sahabat pertama Byeol di universitas ini?

Byeol melewati pelajaran pertamanya di universitas ini dengan setengah hati, bukannya dia tidak niat belajar, tapi Wo gyosu hari ini hanya membahas pekerjaan rumah yang diberikan kepada mahasiswa disini meliputi nada tertinggi yang pernah dipecahkan penyanyi terkenal Korea, dan terkutuknya Byeol sama sekali tak mengenal para penyanyi itu! Hal yang membosankan kembali ditambah begitu lelaki dingin itu –sama sekali tak mau berbagi pengetahuan dengannya, kukutuk kau agar tidak di wisuda!

Bel berbunyi membuat Wo gyosu pergi dari kelas, begitupun beberapa murid yang berjejer membuntutinya. Byeol melihati Baekhyun sedang merapikan buku-bukunya yang tadi ia baca juga beberapa alat tulisnya yang tergeletak rapi di meja, berbeda dengan mahasiswa lelaki lain yang mungkin tak membawa alat tulis. Baekhyun melihat dari ujung matanya apa yang Byeol lakukan, hingga ia menggeser beberapa senti dan menghadap timur, hendak memberi jalan pada Byeol,

Tapi Byeol malah menaikkan alisnya melihat apa yang lelaki dingin nan pelit itu lakukan, memangnya aku ingin pulang? Baekhyun yang mengetahui apa yang ia lakukan tak direspon sedikitpun oleh gadis penguntit disebelahnya itu menapakkan keras-keras kakinya hingga membuat beberapa mahasiswa yang masih tinggal terkejut, begitupun Byeol. Dia lalu mengambil tasnya dan meninggalkan kelas itu, Byeol yang masih terkejut berlari mengejarnya,

“Bolehkah kita berkenalan?” Byeol berusaha menyamakan langkahnya dengan Baekhyun sama seperti yang dia lakukan kemarin, “aku tidak bisa terus memanggilmu ‘tuan’, kita seangkatan” lagi-lagi ocehan yang keluar dari mulut Byeol tak dihiraukan Baekhyun, tak tinggal diam, akhirnya ia meraih tangan Baekhyun dan menariknya. “Byeol, naneun Byeol imnida” Baekhyun terdiam, ingin sekali ia melukis lengkungan manis di bibirnya, tapi sikapnya selama ini tidak memungkinkan dirinya untuk bisa tersenyum di depan gadis penguntit ini, “Byun,” Baekhyun lalu melanjutkan langkahnya dan menjauhi Byeol, tapi Byeol tetap setia di tempatnya, “Gwenchanha, ini sudah baik. Nama adalah awal dari sesuatu yang baik”

.:***:.

Byeol kembali ke jalan dimana ia bertemu dengan Baekhyun pertama kali, di sebuah sungai Han utara Gwangjin-gu dia dapat melihat lelaki itu tengah menatapi awan di jembatan dongho. Takut-takut lelaki yang ia ketahui bernama Byun itu bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya di sungai Han, Byeol berniat menghampiri lelaki itu dan menemaninya. Ini hanya untuk kesopanan melihat seorang teman satu angkatan terlihat menyendiri sambil termenung.

“Byuna-” Byeol menepuk pelan pundak Baekhyun sama seperti yang ia lakukan pertama kali saat mereka bertemu, gadis itu memberikan segelas kopi hangat yang tadi ia beli untuk Baekhyun dan dirinya, “ingatkan aku kalau aku pernah bilang jangan pernah mengikutiku lagi” ini kali pertama Baekhyun mengucapkan banyak kalimat pada sekali bicara dengan Byeol, “memangnya kau tak mau mempunyai teman?” Byeol mengikuti apa yang Baekhyun lakukan, memandangi awan di langit yang biru. “untuk apa? Mereka hanya bisa mengganggu hidupku” Byeol sedikit tersenyum, nada bicara Baekhyun sudah berubah, mungkin dinginnya berkisar minum delapan puluh derajat.

eh, kau salah. Teman itu multifungsial, bukan hanya untuk berada disampingmu seperti benalu saja, mereka juga bisa kau jadikan kelinci percobaan, ataupun hanya mencoba berteman…” terang Byeol pada Baekhyun yang kini sudah menyandar di tiang pembatas, “seperti aku, bagaimana kalau kau mencoba berteman denganku” lanjut Byeol seraya mengikuti –lagi apa yang Baekhyun lakukan. “kau? Seberapa berantakan nantinya hidupku apabila berteman denganmu” perkataan Baekhyun tadi resmi membuat Byeol jengkel, kedinginan Baekhyun sekarang kembali minus seratus delapan puluh derajat!

Keduanya terdiam dalam pikiran masing-masing, mungkin sekarang Baekhyun tengah menimbang apa yang Byeol katakan tadi. Berteman dengannya. Tapi Baekhyun mempunyai pengalaman buruk dengan hubungan ‘pertemanan’, bagaimana kalau nanti Baekhyun tak bisa mengontrol emosinya dan Byeol akan menjaga jarak dengannya? “aku sering melihatmu disini, kenapa kau terus saja berada disini?” Baekhyun menegang mendengar pertanyaan Byeol tadi, itu sama saja dia harus mengorek kembali lukanya yang mendalam!

“Aku hanya merasa nyaman disini,” jawaban yang Baekhyun berikan menurut Byeol tadi sangatlah menggantung, dia seperti ingin memberitahu sesuatu padanya, tapi itu tertahan di tenggorokannya. “ada yang ingin kau sampaikan lagi?” oh damn! Kenapa mulut dan otak Byeol tak bisa berkerjasama sekarang? Pasti lelaki dingin itu tak akan menjawab pertanyaan tadi dengan alasan, it’s not your business.

Benar saja, Baekhyun hanya memutar bola matanya seraya menghembuskan nafas panjangnya. Tanpa pamit atau mengucapkan sepatah dua patah kata lelaki yang sedingin puncak month everst itu langsung berlalu meninggalkan Byeol sendirian di jembatan dongho. Byeol mengacak rambutnya frustasi, dasar Byeol pabo! Sudah baik dia menjawab pertanyaannya tadi, kenapa malah bertanya sesuatu yang mungkin memang dai tak punya jawabannya. Atau malah, Baekhyun sengaja menyembunyikannya?

.:***:.

Byeol tengah menggelinjang di ranjang tidurnya, entah mengapa kejadian delapan jam tadi membuatnya sukar menutup matanya untuk merelekskan pikirannya, seperti Baekhyun kini sudah menjadi trending topic di otaknya. Bahkan dia belum melepas mantel panjangnya sejak pulang, sebelum melepasnya ia merogoh terlebih dahulu kantong mantelnya hingga mendapati sesuatu. Kalung?

ah! Kalung Byun!” Byeol menjentikkan jarinya seketika, kalung perak berbentuk bulan sabit dengan perhisan berlian kecil menambah cantik kalung itu. Byeol membalik kalung perak itu dan menemukan sesuatu disana, Moon Yeolsu, Byeol menurunkan rahangnya begitu mendapat ide yang sedikit masuk akal baginya, kalau seorang bernama Moon Yeolsu itu adalah mantan kekasih Baekhyun dan mereka putus di jembatan Dongho. Itu sebabnya Baekhyun sering kesana untuk mengenang Yeolsu! Masuk akal baginya, itu semua memang disebabkan hobi Byeol menonton drama-drama yang menguras air mata.

“Aku mendapat rahasiamu, Byun!” Byeol tersenyum kemenangan, dia memang lebih cocok menjadi detektif daripada seorang penyanyi. Byeol lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan memikirkan bagaimana ekspresi Baekhyun apabila Byeol berhasil menguak rahasianya. Sampai bertemu besok Byun.

.:***:.

Hari ini adalah hari terakhir musim semi, itu sebabnya Baekhyun bangun lebih awal hari ini. Baekhyun berniat untuk berkeliling jembatan Dongho lalu melanjutkan pergi ke makam, tepat tanggal 31 Mei adalah hari ulang tahunnya dan hari kematiannya. Itu mengapa Baekhyun sangatlah membenci musim panas, banyak alasannya, sangat banyak. Sebelum dia melancarkan aksinya, dia pergi menatap dirinya disebuah cermin, sungguh menawan, maksudnya keadaannya lebih baik daripada satu tahun lalu.

Setelah selesai berkaca, Baekhyun memakai topi merahnya dengan terbalik sambil memakai blazer abu-abunya. Baekhyun mengambil pot mawar yang diletakkan di jendela kamarnya dan memasukkannya ke tas karton yang dibawanya. Baekhyun kembali mengingat sesuatu yang membuatnya menghentikan langkahnya, dua tahun kedepan berikan bunga ini padaku, kau harus menjaganya baik-baik. Baekhyun memejamkan matanya dan membiarkan setetes air mata mengalir di pipinya, dia begitu merindukannya, sangat, sangat merindukannya.

Suasana jembatan Dongho di akhir musim semi begitu ramai, mungkin juga dikarenakan hari ini adalah tanggal merah dimana banyak orang yang bisa menghabiskan waktu bersama keluarganya. Itu membuat Baekhyun sulit untuk menenangkan pikirannya disini, ditambah matanya menangkap seseorang dengan topi taman juga kacamata bulat mengarah padanya sambil menyebuti namanya berulang-ulang, “Byuna! Byuna! Chakkamanyo!” Baekhyun sedikit mengutuk dirinya karena bangun telat pagi ini dan menyebabkan gadis ‘penguntit’ ini mendahulinya.

“Kenapa kau baru datang? Aku kira kau akan datang lebih awal” Baekhyun mengacuhkan perkataan Byeol sambil menyoret tulisan ‘menjernihkan pikiran di jembatan Dongho’ di jadwal aktivitasnya pagi ini, “Byuna! Chakkam, aku tau sesuatu tentangmu!” perkataan Byeol tadi resmi membuat Baekhyun menggantungkan langkahnya, dia berbalik melihat Byeol yang berada lima belas meter dari hadapannya, Byeol kemudian mengahampiri Baekhyun sambil menggantungkan kalung perak di tangannya,

.:***:.

“Jadi dia hanya pengasuhmu saat kecil?” disinilah mereka berdua sekarang, pemakaman daerah Gangnam-gu tempat dimana Moon Yeolsu, pengasuh Baekhyun ketika kecil dulu dimakamkan. “sebaiknya kau tak perlu tau urusan orang lain” Baekhyun kini masih menatapi makam pengasuhnya yang sangat dekat dengannya sewaktu kecil, sudah dua tahun kematiannya dan ini adalah kali ketiganya mengunjungi makam pengasuhnya. “tapi kenapa kau mau membuang kalung ini kalau kau begitu menyayanginya” Byeol kembali menatap kalung yang bergantung di tangannya,

“siapa orang yang tak suka, jika seorang yang disayanginya menyembunyikan penyakitnya dan kemudian pergi begitu saja” Baekhyun mengeluarkan pot mawar dari tas karton yang langsung mencuri perhatian Byeol. “Wha, yeoppeuda. Aw!”  Byeol mengibaskan tangannya yang berdarah karena tertusuk duri mawar itu, “Kau tidak merawatnya dengan baik, Byun” Byeol menatap Baekhyun dengan tatapan mebunuhnya, “aku sibuk-”, ucapan Baekhyun dipotong oleh Byeol “tapi apabila Yeolsu ahjeomma masih ada disini, dia mungkin tak akan menerima alasanmu tadi”.

Baekhyun mengambil paksa pot mawar itu dan meletakkannya di samping nisan Yeolsu ahjeomma. Dia mendekat ke nisan dan sedikit berbisik, “Saengil chukka hamnida, ahjeomma. Maaf baru mengunjungimu dan mawar berduri ini. maaf juga membawa Byeol yang berisik kesini” Baekhyun menjauhkan kepalanya dari nisan dan menarik Byeol pergi dari pemakaman itu dan kembali ke jembatan Dongho yang mulai merenggang.

uhm, bagaimana dengan tawaranku kemarin?” Byeol menyenggol lengan Baekhyun yang dengan menyeder di jembatan tersebut, “tawaran apa?” Baekhyun menggeleng tak mengerti, apa yang dimaksud penguntit ini. “mencoba berteman denganku, mungkin saja Yeolsu ahjeomma menyukainya, iya kan ahjeomma?” Byeol masih menggantungkan kalung perak itu di telapak tangannya seolah berbicara dengan Moon Yeolsu di hadapannya, “kuperingatkan kau-”, “jangan membawa nama Yeolsu ahjeomma ketika bicara padaku, itu kan kelanjutannya?” Byeol kembali memotong perkataan Baekhyun.

Baekhyun membuang nafasnya kasar, ada kemungkinan kalau Byeol itu cenayang karena bisa membaca pikiran orang sembarangan. Tunggu, bagaimana Baekhyun bisa terpikir seperti itu? Memangnya dia, sahabatnya? Sahabat? Apa lagi ini! “kau tak bisa terus bergantung pada Yeolsu ahjeomma , kau sudah dewasa Byun. Yeolsu ahjeomma pasti percaya padamu” ceramah Byeol tadi sukses membuat Baekhyun berpikir luas, bagaimana nanti di surga Yeolsu ahjeomma memarahinya karena tak bisa bersosialisasi dengan orang sekitar dan langsung menendangnya ke neraka?

Hell, ini adalah keputusan tersulit yang pernah Baekhyun alami seumur hidupnya. Tapi mengapa ini bisa sesulit ini hanya untuk berteman? Apa memang dia begitu buruk dalam hal pertemanan? Semua orang bisa berubah seiring berjalannya waktu, bukan hanya fisik, namun juga mental ucapan Yeolsu ahjeomma terngiang di kepalanya. Baekhyun harus berubah! Harus! “ba-baiklah”

Byeol menoleh dengan raut wajah yang tak bisa diartikan, apa arti ‘baiklah’ yang tadi Baekhyun katakan itu berarti dia ingin berteman dengan Byeol? Jinjja? Jeongmal? Byeol teriak memekik telinga sambil berlompat-lompat kegirangan, itu membuat Baekhyun menjadi ingin menarik kata-katanya barusan. “WORLD WILL MEET NEW BYUN!”

~End~

Thank’s for reading~

Harap meninggalkan review di comment box untuk kelancaran series selanjutnya.

Love ya>.<

Aul!

Iklan

14 pemikiran pada “[ByunByul 1st Story] Mr…© Aul!

  1. waaah…. aku suka banget sama ceritanya 🙂
    jujur… penasaran banget sama kelanjutan ceritanya.. fighting bikin kelanjutannya thor 🙂 .. ditunggu ya 😀

  2. Halo author^^

    Aku suka banget Sama jalan Ceritanya dan karakter baekhyun disini XD fyi, aku suka Kalo karakter baekhyun dingin kayak es kutub utara, Etapi kutub utara udah mau mencair, kayak biang es di kulkas aja kali ya/ngaco

    Keep writing Thor, ditunggu lho kelanjutan series nya^^

    • hello juga^^

      aku juga suka /apasih ikut-ikut/. aku sebenernya juga bingung ngebayangin baekhyun yang pecicilan itu dijadiin sedingin ini, /author-nya kedinginan/

      yaa, 2nd series lagi dalam tahap peng-ending-an /? kok! stay tune.
      btw, big thanks for you!

      • Kita Samaan nih, apa mungkin kita berjodoh? /Gak

        umm btw aku manggil author apa ya? Soalnya ga enak Kalo manggil dengan sebutan ‘thor’ hehe

        Semangat author-nim!! Hehe^^

  3. Yehet! akhirnya byunnie membuka ruang lingkupnya, thanks byeol, sudah membantu byunnie-ku~ *slapped XD
    aku suka ff-nyaa~ ditunggu next seriesnyaa ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s