The Raspberry (Chapter 5 : Untittled)

The Raspberry (chapter 5: Untittled (special chanbaek))

2014-04-13-22-51-39_deco

Author:            laelynur66

 

Main cast:        Kim Jongin (Exo)

                     Oh Sohee a.k.a Raisa Oh (Oc)

                     Oh Sehun a.k.a Daniel Oh (Exo)

                     Xi Luhan(gs) (Exo)

                     Byun Baekhyun (gs) (Exo)

 

Support cast:     all member Exo

                     Zico Block B

                     Zelo BAP

                     Taehyung BTS

                     Daehyun BAP

 

Length:            chapters

 

Genre:             romance, family, friendship (entahlah, mungkin genrenya akan berubah tiap chapter, mungkin)

 

Rating:             PG-15

 

Author note:         WARNING!!! DI FF INI BEBERAPA MEMBER MENGALAMI PERUBAHAN GENDER!! Bagi yang gasuka saya ga mempermasalahkan kok kalo ga mau baca. Well,saya hanya ngingatin dan saya juga terlalu mencintai beberapa official couple sehingga gamake cast oc ato idol girl lain buat ngepairing-in mereka..

Well, enjoy it..:)

 

 

Kelopak mata tipis dengan double eyelid yang semakin memperindah matanya itu terbuka, menampakkan dua pasang bola mata bening berwarna cokelat muda yang cantik. Mata itu menatap lurus pada langit-langit kamarnya yang dicat berwarna pink lembut dan beberpa bintang-bintang kecil yang akan bercahaya saat gelap, pemandangan biasa yang ia temukan di pagi hari ketika ia membuka matanya. Pemilik mata cokelat itu mengulurkan tangannya pada nakas di samping tempat tidurnya, menekan tombol pada jam wekernya yang baru saja akan berbunyi nyaring dan berbalik menatap benda itu dengan mendengus, “kau telat” gumamnya. Dan dengan sekali hentakan tubuh mungil itu bangkit dari tidurnya, menjuntaikan kaki kurusnya pada lantai dingin akibat dari pendingin ruangan yang semalaman tidak ia matikan. Ia berjengit sesaat sebelum mengenakan sandal rumahnya yang berwarna pink. Ia berjalan terseok ke arah jendela kaca besar yang sekaligus menjadi pintu geser akses baginya menuju beranda kamarnya yang dipenuhi bunga baby breath yang indah secantik dirinya ketika bangun tidur, setidaknya begitulah menurut seseorang diingatannya yang sontak membuatya tersenyum ketika mengamati bunga yang bergerombol seperti tumpukan salju itu. Ia mengalihkan pandangannya, menatap lurus pada beranda dengan pintu geser yang terbuat dari kaca yang sama seperti miliknya di seberang sana, dan tersenyum mendapati tirai dari pintu itu juga telah tersingkap menandakan sang pemilik kamar juga sudah bangun seperti dirinya. Setelah matanya melirik pada jam—yang lagi-lagi—berwarna pink, ia menyambar handuknya yang juga berwarna pink dengan karakter cony yang imut menghiasinya, berjalan dengan cepat menuju kamar mandi di salah satu sudut kamarnya.

Byun Baekhyun, pemilik mata indah itu dan pemilik dari kamar dengan nuansa pink yang mendominasi, kamar yang begitu feminim dengan berbagai pernak-pernik yang tidak jauh dari hewan imut dengan telinga panjang dan bulu halus yang lebat, kelinci, yang menurutnya hewan tersebut sangat cocok dengan karakternya. Ada meja belajar yang terletak di samping ranjangnya, meja rias yang terletak di samping lemari besar berpintu ganda dengan cermin jumbo pada pintu lemari tersebut, bantal duduk yang berbentuk kelinci, wallpaper dinding dengan motif kelinci yang lucu, beberapa bingkai foto yang tertempel di dinding, serta satu set home teather dengan tv layar data yang menempel pada dinding yang lagi-lagi memiliki nuansa berwarna pink lembut. Ranjang raksasa yang tampak berantakan itu terabaikan begitu saja olehnya ketika ia berjalan keluar dari kamar mandinya dengan handuk yang melilit tubuhnya menuju lemari besarnya, mengeluarkan seragamnya dari sana dan mengenakan secepat yang ia bisa.

Dengan cekatakan tanganya mengeringkan rambutnya menggunakan handuk sembari mengamati beranda di seberang kamarnya itu, dari sini ia bahkan bisa melihat meja kayu yang bertatakan alat-alat DJ dan papan skateboard yang terletak di samping lemari kayu tersebut.

“Baekhyun-ahh!” suara berat yang sangat familiar itu membuatnya beralih pada sosok yang tengah berdiri di ambang pintu balkonnya dan ia…

“yak, Park Chanyeol! Gunakan bajumuuu!!!!” pekiknya ketika mendapati tetangga, sekaligus sahabatnya sedari kecil, sekaligus kekasihnya itu melambai padanya masih dengan bertelanjang dada, hanya celana kain kotak-kotak seragam mereka yang Ia kenakan.

“ohh, mian!” sahut Chanyeol dengan cengiran lebarnya dan dengan tergesa menggunakan t-shirt putih polosnya sebelum melapisinya dengan kemeja lengan pendek seragam sekolahnya. “kau bisa membuka matamu, chagiya!” tambahnya masih dengan cengiran lebar di wajahnya ketika mendapati kekasihnya itu menutup matanya dengan dramatis.

Baekyun membuka matanya dan meleletkan lidahnya padanya, sembari menyisir rambutnya dengan jemarinya.

“lagipula, kenapa kau masih malu melihatku bertelanjang dada? Bukankah sudah ratusan kali kau melihatnya. Mungkin ribuan jika ditambah saat kau mengintipku dari balik tirai kamarmu” suara berat Chanyeol lagi-lagi menggodanya, membuat Baekhyun memasang ekspresi ingin muntah.

“jadi? Rumahmu apa rumahku?” Tanya Chanyeol setelah berhasil mengontrol dirinya untuk tidak tertawa melihat reaksi Baekhyun.

“terserah sahut Baekhyun”

“eommaku sedang tidak ada, chagiya! Kau ingin melihatku tewas mengenaskan memakan makanan yang dibuat oleh noonaku?” seru Chanyeol lagi.

“yak! Park dobi! Sialan kau!” Baekhyun tersenyum mendengar suara cempreng lain yang berasal dari rumah di sebelahnya itu, noonanya Chanyeol.

Chanyeol meringis pelan dan kemudian menatap Baekhyun dengan alis terangkat dan bergumam ‘jadi’ tanpa suara, membuat Baekhyun lagi-lagi tersenyum lebar.

”rumahku saja!” seru Baekhyun dan mendapat anggukan dari Chanyeol.

“oke, sepuluh menit cukup untukmu berdandan? Aku menunggumu di bawah oke” sahut Chanyeol dan memasangkan dasinya secara asal pada lehernya dan menyampirkan ranselnya di punggungnya, sebelum menutup pintu kacanya dan menghilang dari pandangan Baekhyun. Yeoja imut itu kembali melanjutkan kegiatannya yang sepat tertunda, matanya melirik pada jam dindingnya, “dua puluh menit” gumamnya dan dengan cekatan tangannya menyapukan eyeliner pada kelopak matanya dan lipbalm yang akan terus menjaga kelembaban bibirnya.

“pagi” suara imut Baekhyun menggema di ruang makan keluarganya yang sudah lengkap terisi oleh menu sarapan serta penghuni-penghuni rumahnya di tambah satu manusia jangkung yang selalu terlihat tampan walau apapun  yang dilakukannya—setidaknya itu menurut Baekhyun—yang tengah tersenyum padanya. Baekhyun menarik kursi kosong di samping Chanyeol dan menjatuhkan dirinya duduk di sana. Matanya mengamati appanya yang tengah membaca Koran pagi, bergantian menatap kedua adiknya yang sudah rapih dengan seragam junior highschoolnya yang tengah menikmati sandwich kalkunnya dengan khidmat tanpa suara.

“apa?” Tanya Baekhyun dengan menoleh pada Chanyeol ketika kekasihnya itu menatapnya intens.

“ani, kau cantik!” sahut Chanyeol tanpa sedikitpun rasa malu pada orang tua Baekhyun yang hanya tersenyum menanggapi mereka.

“as always” ujar Baekhyun malas dan memutar bola matanya, sebelum tangannya terulur menggapai roti tawar dan selai cokelat di hadapannya. Ia mengangguk pada eommanya yang menawarkannya susu di seberang mejanya.

Baekhyun mengolesi dua lembar roti tawar dan meletakkannya satu pada piring di hadapan Chanyeol, ia bahkan tidak peduli apakah namja itu sudah makan atau belum, tapi walaupun begitu Chanyeol tetap memakannya dan mengunyahnya dengan khidmat.

“chagiya?” suara serak Chanyeol memanggilnya.

“hmm?”

“terlambat?”

Baekhyun melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menggeleng.

“baiklah” Chanyeol meneguk susu d hadapannya.

“hahh…” helaan nafas berat appa Baekhyun membuat semua mata menatap padanya. “appa tidak sabar menunggu waktu di mana Chanyeol akan meminta pada kami untuk mengubah margamu menjadi Park!” ucap appanya tanpa mengalihkan fokusnya dari koran yang dibacanya, membuat Baekhyun menunduk menyembunyikan rona di wajahnya dan Chanyeol yang tersenyum lebar menampilkan gigi-gigi putih bersihnya. Suara kikikan geli dari Taehyung dan Daehyun membuat Baekhyun semakin membenamkan wajahnya karena malu.

“sabar, bukankah akan ada saatnya, iyakan tuan Park?” Tanya eomma Baekhyun dengan nada menggoda dan berkedip pada Chanyeol.

“tentu saja, eomma.. tunggu saja, tapi apa kalian tidak apa jika aku membawanya seperti ituu?” Tanya Chanyeol.

“kami tidak masalah, lagipula kami masih punya dua jagoan yang akan terus membawa nama keluarga Byun” jawab appa Baekhyun.

“appa..” Baekhyun meringis pelan, tangannya terkepal di atas pangkuannya, ia masih menundukkan kepalanya enggan menatap semua orang berada di ruangan ini, ia terlalu malu walaupun kenyataanya sudah sering kali lelucon ini di lontarkan padanya, hampir setiap pagi jika Chanyeol sarapan bersama keluarganya.

“tidak apa chagiya, tunggu sampai pangeran berkuda putihmu datang menjemputmu!” ujar Chanyeol dengan nada menggoda, tanganya menepuk dadanya pelan.

“aishhhh!” Baekhyun mendesis sebelum mendorong kursinya kasar dan berlalu meninggalkan ruang makan keluarganya yang dipenuhi tawa dari orang-orang yang disayangnya.

Park Chanyeol, namja tinggi yang sudah menjadi sahabatnya bahkan ketika ia masih di kandungan. Bersahabat selama bertahun-tahun, hingga akhirnya memutuskan rasa sayang yang ada di hati mereka bukan lagi rasa sayang kepada sahabat, mereka memutuskan merubah rasa sayang itu mejadi cinta di umur mereka yang beranjak tujuh belas tahun, tanpa kata-kata hanya ada tatapan mata dan ciuman lembut di bibir keduanya sudah mampu menjabarkan segala hal yang membuat mereka nyaris gila. Hubungan keluarga mereka yang baik, karena selama berpuluh tahun—sebelum Baekhyun dan Chanyeol terlahir—kedua keluarga tersebut sudah menjadi tetangga serta rekan bisnis yang tidak terpisahkan menjadikan hubungan mereka semakin erat.

Baekhyun membungkuk mengikat tali sepatunya ketika sepasang sepatu convers berwarna merah hitam  ‘limited edition’ ditangkap oleh kedua matanya, tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa pemilik sepatu tersebut.

“mau kubantu?” suara berat itu menginterupsinya, membuatnya menggeleng.

‘Baekhyun-ahh?”

‘hmm?”

“kau tidak apa?”

Baekhyun menggeleng, “oh, ayolah Chanyeol. Lelucun yang hampir setiap pagi kalian lontarkan itu tidak mempan lagi padaku..” ucap Baekhyun santai.

“tapi kau selalu merona tiap kami melakukannya” goda Chanyeol. Baekhyun memutar bola matanya malas

“tapi jika aku benar-benar melakukannya?” Tanya Chanyeol kalem, membuat Baekhyun menghentikan aktifitasnya merapihkan rambut ungunya.

“apa?” Tanya Baekhyun penasaran.

“jika aku datang melamarmu dengan menggunakan kuda putih” sahut Chanyeol. Sontak Baekhyun tersenyum dengan pipi memerah dan mengangguk. Tangannya terulur menggapai dasi Chanyeol yang terpasang asal-asalan pada leher namja itu dan mendapat respon dari Chanyeol dengan membungkuk agar Baekhyun tidak perlu mendongak, ia menyatukan keningnya dengan puncak kepala Baekhyun, menghirup aroma segar strawberry yang menguar dari sana, Baekhyun merapikannya dan menyimpulkannya sebagaimana mestinya dasi. “kau akan melakukannya dan harus!” ucap Baekhyun dengan nada mengancam.

Chanyeol tergelak sebelum menarik tubuh mungil Baekhyun ke dalam dekapannya. Byun Baekhyun hanya untuk Park Chanyeol, begitu juga sebaliknya, Park Chanyeol hanya tercipta untuk seorang Byun Baekhyun. Bagaimana semuanya terasa benar ketika ia bersama Chanyeol, ruas jari Chanyeol yang lebar dan besar yang selalu pas dengan jari lentik dan kurus milik Baekhyun, dekapan hangat Chanyeol yang juga pas dengan tubuh mungil Baekhyun, serta lekukan bibir yang seolah tercipta untuk melengkapi milik masing-masing. Bagaimana detak jantung Baekhyun yang berpacu gila-gilaan untuk Chanyeol, bagaimana ia menghirup udara yang sama dengan Chanyeol, aliran darahnya serta saraf-saraf motoriknya yang sudah tergambar jelas sosok Chanyeol di sana.

“Chanyeol, kita terlambat!’ gumam Baekhyun dengan susah payah mengingat wajahnya terbenam pada dada bidang Chanyeol. Chanyeol melepasnya dari dekapannya, tangannya menggenggam jemari Baekhyun menuntunnya menuju mobilnya yang terparkir di pekarangan rumah Baekhyun, meninggalkan Taehyung dan Daehyun yang menatap mereka tanpa berkedip menyaksikan adegan lovey dovey di hadapan mereka.

Dan sepanjang perjalan dari rumah menuju sekolah, Chanyeol sama sekali tidak melepas tautan jemarinya pada jemari Baekhyun…

 

 

 

***

 

 

Sembari mengeluarkan busur panah serta anak panah dari bagasi mobilnya—Chanyeol merupakan anggota club memanah selain basket—Chanyeol mengamati Baekhyun dengan ujung matanya, yeoja imut itu tampak sedang sibuk memperhatikan ponselnya dengan serius.

“chagiya!” panggil Chanyeol.

“ya tuhan, Chanyeol! Kau mengagetkanku” Baekhyun bereaksi berlebihan, ponselnya bahkan nyaris terjatuh dari tangannya.

“mian! Kau kenapa?” Tanya Chanyeol mengikuti arah pandang Baekhyun pada ponselnya.

“ani, aku hanya mengecek akun media sosialku dan… ya Tuhaannnn!!!!” Baekhyun membulatkan kedua matanya, mulutnya terbuka lebar.

“tidak perlu berteriak Baek!” protesnya, tangannya mengusap telinga lebarnya dramatis.

“aku tidak mungkin tidak berteriak melihat ini!” seru Baekhyun dan menunjukkan layar ponselnya tepat di wajah Chanyeol yang ditanggapi Chanyeol dengan mata yang membulat sempurna minus pekikan yang memengikkan telinga.

“tidak mungkin! Tidak mungkin!” gumam Baekhyun sembari menggigiti kuku-kukunya yang dikuteks bening. Ponselnya pindah tangan pada Chanyeol yang terus mengamati layar ponsel Baekhyun dengan mata melotot, sebuah foto yang diunggah ke media social itu adalah hal biasa, tapi bagaimana jika objek dari foto tersebut adalah seorang namja berkulit tan yang ia kenali amat sangat ia kenali tengah tersenyum ceria pada  seorang yeoja yang sedikit samar-samar di kepalanya, tapi tunggu, Bukankah…

“dia Sohee, Sohee! temanku yang kukenalkan padamu! Apa-apaan, kenapa ia bisa bersama si berandal sialan itu!”

“Kai bukan berandal Baek!” ralat Chanyeol. Baekhyun memutar bola matanya malas, Baekhyun tau itu, tapi menurutnya Kai itu namja berandal yang kelewat tengil.

Dengan jempolnya, Chanyeol men-scroll layar  ponsel Baekhyun, membaca tiap komentar pada foto tersebut. Bukan hanya satu, tapi beberapa foto yang di ambil dengan angle yang pas di mana Kai terlihat ceria? Yang bahkan Chanyeol tidak percaya ada kata itu dalam kamus hidup seorang Kai.

“oh, Tuhan! Si berandal itu terlihat bahagia? Ceria?” ujar Baekhyun dengan mata mengamati foto-foto tersebut. “kurasa aku butuh penjelasan” tambah Baekhyun dan mengurut keningnya. sementara Chanyeol tersenyum penuh arti pada foto-foto tersebut sebelum berganti menatap Baekhyun yang masih mengurut keningnya. ia tau betul bagaimana kekasihnya itu terhadap orang yang diklaimnya sebagai teman. Ia masih ingat ketika Kyungsoo mendeklarasikan pada mereka bahwa ia menyukai Hyejin, dan detik itu juga Baekhyun terus saja uring-uringan pada Kyungsoo dan terus mengawasi Kyungsoo.

“Baek!” panggil Chanyeol pelan.

Baekhyun mengangkat wajahnya menatap Chanyeol dan mengikuti arah anggukan kepala Chanyeol. Ia terpekik tertahan ketika mendapati Mclarren kuning hitam memasuki area parkir, mobil Sehun, yang berarti ada Sohee di dalamnya.

Dengan langkah lebar Baekhyun menuju mobil itu, di mana Sohee sudah keluar dan tersenyum menyambutnya.

“pagi Baekhyuun… sapa Sohee ramah. Baekhyun tersenyum tipis. “ceritakan padaku!” kata Baekhyun pada Sohee.

Sohee mengerutkan keningnya “apa?” Baekhyun menghela nafasnya kemudian merampas ponselnya dari tangan Chanyeol yang berbincang dengan Sehun dan menunjukkannya pada Sohee.

Sohee mengerutkan keningnya, matanya menyelusuri tiap gambar pada layar ponsel Baekhyun, tidak perlu berpikir terlalu keras untuk menyadari bahwa objek dari foto tersebut adalah dirinya dan juga Jongin…

Sohee meringis pelan “cepat sekali” gumamnya, ia menggigiti bibir bawahnya masih memandangi foto tersebut.

“kau tidak tau yah kecepatan akses internet di Korea Selatan?” Tanya Baekhyun sinis. Sohee tersenyum lebar.

“tapi menurutku, mulut yeoja masih lebih cepat” Sehun menyahuti dengan nada datar dan mendapat pelototon dari Baekhyun “asal kau tau saja, mulutku tidak secepat itu!” pekik Baekhyun tidak terima.

Chanyeol terkikik geli “benarkah?”

“Chanyeoooolll!” rengek Baekhyun dan Chanyeol tersenyum lebar padanya.

“kami duluan kalau begitu!” ucap Sehun dan berlalu diikuti Chanyeol yang menyematkan alat-alat memanah di punggungnya kemudian melambai kecil pada Baekhyun.

“jadiii?” Tanya Baekhyun pada Sohee yang masih menatap pada ponselnya.

“hei, apa aku terlihat cantik?” Tanya Sohee kegirangan.

Baekhyun mendengus “bukan itu yang ingin kudengar!” sergahnya.

Sohee baru akan membuka mulutnya ketika sebuah Jaguar Sedan XJ memasuki area parkir membuat Baekhyun memutar bola matanya kesal, ia tau siapa pemilik mobil mewah dengan harga miliaran won itu, Kai Kim.

Namja berkulit tan itu keluar dari mobl mewahnya, tidak menyadari dua yeoja yang berada tidak jauh darinya. Ia menguap beberapa kali sebelum memutuskan berjalan menjauhi area parkir.

“Jongin!” panggil Sohee ketika menyadari sosok Jongin. Jongin berbalik dengan malas, namun ia tersenyum dan melambai ketika menyadari yang memanggilnya adalah Sohee, membuat Baekhyun terbelalak, tunggu, Baekhyun membatin, Jongin? Kim Jongin? Kenapa? bukankah ia akan mengamuk jika seseorang memanggil nama aslinya? Tapi… belum lagi senyum itu… Baekhyun memicingkan matanya menatap keduanya bergantian. Dan tersentak saat Sohee menarik tangannya dan berjalan sedikit berlari ke arah Jongin yang masih tersenyum.

“pagi Jongin!” sapa Sohee. Jongin mengangguk pelan. “bersama?” tawar Jongin dan mendapat anggukan dari Sohee, mensejajarkan langkahnya dengan langkah lebar Jongin dengan Baekhyun yang mengekor di belakangnya dan masih sibuk dengan pikirannya. Beberapa siswa yang berdiri di koridor menatap mereka dengan menyelidik, namun hanya Baekhyun yang menyadarinya karena kedua orang di hadapannya tampak cuek dan begitu serius membicarakan sesuatu tentang tangga nada dan kunci nada dan sesekali saling melempar senyum membuat Baekhyun semakin penasaran pada keduanya.

Jongin berbelok di ujung koridor menaiki tangga menuju kelasnya setelah sebelumnya melambai pada Sohee dan Baekhyun, sementara Sohee dan Baekhyun berbelok masuk ke kelas mereka.

Dengan kasar Baekhyun melempar ranselnya pada mejanya dan menjatuhkan dirinya pada kursinya, Sohee menatapnya heran.

“baek..”

“jelasan padaku, tanpa satupun yang disensor” ucap Baekhyun memotong ucapan Sohee.

Sohee terkekeh geli “cerita apa?”

“ya itu, tentang Jongin” Baekhyun mengangkat pundaknya berusaha terlihat tidak begitu peduli.

“baiklah, kami bersama di kelas seni, karena Sehun tidak bisa pulang bersamaku, Jongin menawariku pulang bersamanya, sebenarnya aku yang memintanya, lalu kami singgah untuk makan, lalu aku membantunya mengerjakan tugas yang diberikan miss Tae, lalu kami pulang.” Jelas Sohee dengan mengurangi bagian bahwa ia lupa jalan pulang ke rumahnya.

“hanya itu?” Baekhyun memicingkan mata menatapnya. Sohee mengangguk mantap.

“hm, tidak masalah kan?” Tanya Sohee.

Baekhyun memutar bola matanya malas “ya, sangat tidak masalah. Tapi…”

“tapi?”

“tapi bagaimana jika Kai, baiklah kuganti kim Jongin yang kau anggap teman itu merupakan bujangan, oh kurasa aku juga harus mengganti kata yang itu, seorang remaja yang paling di minati di Korea Selatan dan menjadi seluruh incaran wanita dan bahkan pria gay yang ada di Korea Selatan karena ia menjadi satu-satunya pewaris KIM INC perusahaan yang paling mempengaruhi keuangan negara kita tercinta ini?” sahut Baekhyun dengan penekan di setiap kata-katanya. Sohee meringis pelan. “ah, sudahlah! Lupakan” tambah Baekhyun dan mengibaskan jemari lentiknya di depan wajah imutnya.

“daripada membahas itu..” Sohee merogoh ranselnya dan mengeluarkan sebuah undangan hitam keemasan dengan pita perak yang semakin mempermanisnya.

“apa itu?” Tanya Baekhyun ketika matanya menangkap benda sederhana namun terkesan sangat mewah itu.

“undangan!” sahut Sohee dan mengulurkannya pada Baekhyun yang mengerutkan keningnya “undangan?” ulang Baekhyun dan Sohee mengangguk.

“jangan bilang ini undangan pernikahanmu.. “

‘pletak’

“awww!” kenapa kau memukulku!” pekik Baekhyun ketika Sohee memukul kepalanya pelan.

“jangan sembarang! Itu undangan oppaku” bentak Sohee halus.

“oppamu? Si Sehun-Sehun itu?” Tanya Baekhyun dan mengamati undangan tersebut.

“bukan, oppaku yang satu lagi” jawab Sohee malas.

“ahh…” gumam Baekhyun mengerti dan menatap undangan di tangannya itu. Sohee ikut mengamatinya, undangan berbentuk persegi yang didesign khusus oleh oppanya itu, hanya dicetak beberapa puluh lembar saja untuk acara pernikahannya. Undangan dengan warna hitam elegant dan bercampur dengan warna emas, warna emas yang memang berasal dari bubuk emas murni yang bertabur di permukannya, tulisan dengan huruf italic di mana nama oppanya dan nama Yixing unninya tercetak timbul yang juga di lapisi emas, serta pita perak dengan sulaman-sulaman dari benang emas putih yang menghiasinya. Hanya keluarga dan beberapa rekan bisnis serta sahabat yang mendapatkannya, salah satunya adalah Baekhyun.

“boleh aku mengajak Chanyeol?” Tanya Baekhyun ragu.

“hahh? Tidak perlu, kurasa ia juga akan mendapatkannya dari Sehun, dan ini..’ Sohee mengulurkan lagi satu undangan tersebut pada Baekhyun “berikan pada Hyejin” Baekhyun mengangguk.

“berapa biaya membuat benda ini?” Tanya Baekhyun dengan polos membuat Sohee terkekeh pelan.

“molla, tapi kurasa oppaku itu tidak akan kehilangan kekayaannya begitu saja hanya karena benda itu.. mungkin hanya mempengaruhi nol koma sekian” sahut Sohee bercanda dan keduanya tertawa nyaring. Dan dengan hati-hati Baekhyun meletakkan benda itu ke dalam ranselnya  dan mengeluarkan buku teksnya ketika guru Im memasuki ruangan dengan senyum cerahnya.

 

 

***

 

 

“aisshhhh!’ berulang kali desisan itu keluar dari mulut Chanyeol, tanganya dengan lincah menyapukan penanya pada buku teksnya, menyalin tugas rumah milik Kyungsoo. Di sampingnya juga ada Jongin yag tengah melakukan hal yang sama. Sementara Kyungsoo, terpaksa mengungsi dan duduk pada kursi Jongin di samping Sehun yang dengan nyamannya menyandarkan punggungnya pada meja dan menatap keduanya datar.

“kau utang penjelasan padaku!” ujar Sehun tiba-tiba.

“apa?” Tanya Kyungsoo yang merasa dirinya ditanyai.

“bukan kau, tapi dia” sahut Sehun dan mengangguk ke arah Jongin yang masih sibuk mencatat.

“iya, apa?” Sehun mengangkat bahunya enggan menjawab dan mendapat dengusan kesal dari Kyungsoo.

“good morning, everybody..” suara cempreng namun merdu itu terdengar dari arah pintu, Chen si pemilik suara cempreng namun merdu itu baru saja memasuki kelas dengan menenteng ranselnya dan langsung menghempaskan dirinya duduk di kursinya, tepatnya di seberang kursi Jongin yang sedang di duduki oleh Kyungsoo.

“hai Chen” sapa Kyungsoo secukupnya. Chen menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

Tiba-tiba Jongin menyentakkan pena di tangannya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kyungsoo dengan mata yang menatap Sehun santai.

“tidak ada yang perlu kujelaskan” ujarnya santai. Sehun mendengus kesal.

“mungkin kau yang harus menjelaskannya padaku, bagaimana kau bisa menggaet Luhan sunbae? kau bahkan mengantarnya pulang kemarin” tambah Jongin dan menatap Sehun menantang, Sehun memasang wajah datar tanpa ekpresinya seolah tidak takut akan tatapan mata Jongin.

Kyungsoo, chen dan Chanyeol membulatkan matanya dan secara serentak menatap Sehun tidak percaya…

“Lu… Luhan sunbae?” kata Chen tergagap. Jongin mengangguk.

“Luhan sunbae yang itu?” tambah Chanyeol, kedua tangannya menggesturkan huruf S di udara dengn mulut sedikit terbuka. Sementara Kyungsoo mengangguk membenarkan mungkin? Entahlah.

Jongin melipat kedua tangannya di depan dada dengan alis terangkat menatap Sehun yang mendengus kesal padanya. “oh, man! Kau beruntung sekali” seru Chen pada Sehun yang menatapnya heran.

“jelaskan padaku darimana letak beruntungnya aku itu?” Tanya Sehun sedikit cuek, tapi di dalam hatinya membenarkan semuanya, betapa beruntungnya ia bisa bersama Luhan, malaikat dengan rambut keemasan dan kulit sama bersinarnya dengan rambutnya.

“ohh, bung! Dia itu, mutiara tidak terjamah di sekolah ini” sahut Chanyeol dan meninju pelan dada Sehun. Sehun mengangguk-angguk, matanya bertemu dengan mata Jongin yang mengendikkan bahunya.

“dan kau harus melihat ini, satu-satunya hal yang menjadi bukti bahwa Luhan sunbae itu benar-benar sangat jauh dari jangkauan…” desis Chen sembari meletakkan sebuah majalah otomotif ternama dari ranselnya dan meletakkannya di meja Sehun. Chanyeol menjulurkan lehernya ingin melihat, sementara Jongin hanya mendengus pelan, tidak tertarik.

Sehun menahan nafasnya, terberkatilah matanya. Pada sampul majalah itu, sosok malaikat keemasannyalah yang menjadi objek, tengah berbaring terlentang di atas kap Audi V10 berwarna silver, dengan gaun berwarna hitam keperakan berbelahan dada rendah dan bawahan yang hanya mencapai titik tertinggi pahanya, Luhannya tampak seksi dan menggoda. Ekspresi wajahnya yang tajam namun tetap tidak meninggalkan kesan feminimnya, membuat Sehun menahan nafasnya lebih lama  sebelum menggeram kecil.  “shit!” makinya sebelum merampas majalah tersebut kemudian meloncati Kyungsoo yang menghalangi jalannya untuk berlari keluar kelas.

“ada apa dengannya?” Tanya Chen setelah berhasil mencerna apa yang telah terjadi. Ketiganya mengendikkan bahu tidak tahu.

Jongin melanjutkan menyalin tugasnya diikuti Chanyeol yang tiba-tiba teringat akan sesuatu.

“kau! Harus menjelaskan ini juga padaku” seru Chanyeol dengan menunjuk Jongin tepat di wajahnya.

“apa?” Tanya Jongin cuek.

Chanyeol merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel Baekhyun yang tadi dilupa oleh Baekhyun dan menunjukkannya tepat di hadapan Jongin, foto yang ia unduh dari akun media sosialnya. Jongin terbelalak.. “ituu..”

“hmm?” Chanyeol mengangkat alisnya menunggu jawaban dari Jongin.

“woooahhhh” pekikan Chen dan Kyungsoo ketika melihat foto pada ponsel Baekhyun membuat Jongin menggeram kecil dan menatap tajam pada Chanyeol yang tersenyum puas padanya.

 

 

***

 

 

“Sohee, aku duluan ya” ujar Baekhyun ketika pelajaran berakhir. Dengan menyematkan ranselnya di punggung, ia berpamitan pada Sohee yang masih membereskan barangnya yang tergeletak di meja.

“cepat sekali” Sohee memajukan bibirnya, kesal.

“mianhae, aku berjanji pada Chanyeol unutk melihatnya berlatih hari ini, tidak apa kan?” Sohee mangangguk pelan, tanda ia mengeri dan tersenyum pada Baekhyun mempersilahkannya pergi.

Dengan tergesa Baekhyun berjalan keluar kelasnya, berjalan di koridor yang ramai oleh siswa yang akan pulang setelah bunyi bell tanda pelajaran berakhir, ruang auditorium berada cukup jauh dari kelasnya, ia harus berjalan melewati ruangan kelas tingkat satu, melewati taman yang memisahkan antara tingkat satu dan dua yang berada di bawah—sisanya berada di lantai dua—dan  kantin yang walaupun jam pelajaran berakhir tetap saja selalu ramai, beberapa siswa yang mengambil kelas tambahan menggunakannya sebagai tempat berkumpul menghabiskan waktu menunggu kelas tambahan mereka di mulai., di ujung koridor bangunan kantin, di sanalah ruang auditorium yang serbaguna, ruangan yang di gunakan sebagai ruangan olahraga indoor, di mana terdapat kolam renang serta lapangan basket serta bangku-bangku penonton yang sanggup menampung seluruh siswa dan guru di sekolahnya. Dan di sana jugalah club memanah selalu berlatih, yang artinya Chanyeol sedang berada di sana, sedang memegang busur panahnya membidik sasaran panahannya, Baekhyun membayangkan betapa keren Chanyeolnya ketika membidikkan busur panahnya mengincar sasaran panahan dengan garis hitam, biru merah yang melingkar sebagai sasaran bidiknya, walaupun sudah ratusan kali ia melihatnya, tetap saja Baekhyun tidak pernah tidak terpesona pada sosok Chanyeolnya yang seperti itu.

Ia melangkah perlahan memasuki ruang auditorium, jika saja tidak ada  beberapa siswa yanag sedang bermain basket, mungkin langkah kakinya akan bergema. Matanya menyapu seluruh penjuru dan berhenti pada sisi lain ruangan auditorium, di mana beberapa siswa berkumpul dengan membawa busur panah masing –masing, dari tempatnya berdiri ia bisa melihat sosok Chanyeol yang tengah berdiri, merangkai busur panahnya, Baekhyun tersenyum tipis sebelum memutuskan untuk menyaksikan dari kursi penonton saja.

Dengan ransel di pangkuan dan tangan yang menyangga dagunya, ia menyaksikan para anggota club memanah yang bersiap mengambil posisi masing-masing, di mana Chanyeol tengah berdiri bersiap membidikkan busur panahnya, pandangan Baekhyun tidak pernah lepas darinya, pada sosok tinggi yang tengah membidikan busur panahnya itu. Baekhyun menahan nafasnya saat Chanyeol melepaskan anak panahnya dan… tepat sasaran, Baekhyun tersenyum. Ia terkesirap saat Chanyeol berbalik menatapnya dan dengan jari telunjuk menunjuknya sembari menyeringai manis pada Baekhyun. Senyum Baekhyun semakin lebar, ia tau di manapun dirinya, ke mana pun ia, ia percaya bahwa Chanyeol akan selalu menemukan keberadaannya..

 

 

***

 

 

“Chaann… Chanyeol” suara Baekhyun bergetar seiring dengan Chanyeol yang memberikan kecupan-kecupan singkat pada bahunya yang terbuka, oh jangan salahkan Baekhyun, tapi salahkan lengan jumper  yang ia kenakan karena setiap ia menggerakkan tangannya, lengan junpernya selalu merosot melewati lengannya.

“Chaaaan!” rengek Baekhyun—lagi—ketika Chanyeol berpindah pada lehernya yang juga terekspos akibat dari rambutnya yang ia gulung ke atas, Baekhyun bingung, antara senang dan juga cemas, senang karena sudah lama Chanyeol tidak menyentuhnya seperti ini dan cemas karena mereka berada di rumah Baekhyun, tepatnya di kamarnya sendiri, bisa saja, eomma ataupun kedua adiknya menemukan mereka sedang dalam keadaan seperti ini, walaun pun ia ragu jika eommanya akan marah mengingat kedua orangtuanya sudah ‘memberikan’ dirinya pada chanyeol seutuhnya, tapi tetap saja ia merasa malu.

“Baek…” suara berat Chanyeol mengalun, memanggilnya membuat Baekhyun menggigil  saat deru nafasnya menerpa lehernya.

Chanyeol mengangkat wajahnya dari leher Baekhyun, menatap wajah kekasihnya yang sudah merona dengan mata setengah terpejam, ia tersenyum lebar sebelum kedua tanganya melingkar di pinggang Baekhyun dan dengan cepat mengangkat tubuh mungil Baekhyun mendudukkannya di atas pangkuannya. Ia tidak peduli pada pekikkan Baekhyun ataupun Baekhyunnya sendiri yang berusaha meredam suara pekikkannya.

“Baekhyun, Park Baekhyun..” gumamnya sebelum kembali membenamkan wajahnya pada lekukan antara bahu dan leher Baekhyun, menghirup aroma strawberry polos dari sana, mencicipinya sedikit demi sedikit, seolah kenikmatan it akan habis jika ia menikmatinya sekaligus.

“Chanyeol…” panggil Baekhyun—lagi-lagi—dengan suara bergetar.

“hmmm?” gumam Chanyeol, membuat Baekhyun mencengkram erat kaus Chanyeol karena getaran suara Chanyeol membawa sensasi aneh yang menggelitik pada lehernya.

“ja… jangan berbekas, kumohon” pinta Baekhyun pelan, saat ia merasakan gigi-gigi Chanyeol menggigit pelan kulit lehernya.

Chanyeol mengangkat wajahnya kemudian menatap wajah Baekhyun yang memejamkan matanya sembari menggigiti bibir bawahnya menahan desahan yang harusnya lolos dari bibir tipisnya. Matanya menatapi tiap inchi wajah imut di hadapannya, rona pada pipinya yang membuatnya semakin imut, poninya yang jatuh menutupi sebagian keningnya, ahh, betapa ia memuja wajah polos tanpa lapisan make up itu, betapa ia mengagungkannya melebihi para dewi kecantikan dalam metologi Yunani, mengapa? Karena sosok di pangkuannya ini begitu nyata mewarisi kecantikan-kecantikan para dewi tersebut, ia memujanya, memujanya dengan meletakkannya pada titik puncak tertinggi pemujaannya pada segala hal.

Byun Baekhyun, betapa ia ingin segera menjadikannya sebagai miliknya seutuhnya, mengubahnya menjadi Park Baekhyun, dan akan terus menjaganya tetap seperti itu…

Chanyeol mengulurkan tangannya, mengusap wajah polos di hadapannya, membuat sang pemilik wajah membuka matanya dan menatap sayu padanya, menatap sama dengan dirinya begitu penuh akan pemujaan. Chanyol menangkupkan kedua tangan besarnya pada wajah itu, perlahan mengecup keningnya, lalu turun mengecup kedua kelopak mata yang sehalus kelopak mawar itu,  kemudian mengecup ringkas pipi yang merona sebelum memberikan ciuman lembut pada bibir berwarna pink alami Baekhyun, menciumnya lama dan panjang, memberi apa yang menjadi hak Baekhyun dan menerima apa yang seharusnya ia miliki.

Chaneyol tersenyum di antara ciumanya ketika Baekhyun merangkul pelan lehernya dengan kedua tangannya dan membalas ciuman Chanyeol dengan memberikan kecupan-kecupan kecil pada bibir namja itu. Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Baekhyun, memperdalam ciumannya..

“noonaaaa” suara cempreng terdengar dari luar kamar Baekhyun, yang sontak membuat Baekhyun melepaskan tautan bibirnya membuat Chanyeol memberengut kesal.

“ya?” sahut Baekhyun dan berusaha turun dari pangkuan Chanyeol, tapi namja itu menolak dan semakin mengencangkan pelukannya.

“noona, aku butuh bantuanmu, aku kesulitan mengerjakan tugasku” seru suara itu lagi.

Baekhyun menghembuskan nafasnya ketika melihat Chanyeol menggeleng pelan “tapi noona juga sedang..” Baekhyun berhenti sejenak menahan desahan ketika Chanyeol mengecup kembali pundaknya “mengejarkan tugas noona, besok noona akan ujian”

“bohong! Bukankah Chanyeol hyung ada di dalam!” sahutnya lagi. Baekhyun membulatkan matanya, menatap Chanyeol yang tersenyum lebar

“tidak, tidak ada Chanyeol hyung di sini!” seru Baekhyun.

“ya sudah, kalau begitu bantu aku”

“maaf, noona..tidak bisa”

“hahh, ya sudahlah” suara derap langkah terdengar menjauhi kamar Baekhyun membuat yeoja itu mengurut dadanya pelan.

“kau berbohong” bisik Chanyeol di telinganya. Baekhyun menatapnya bengis, “menurutmu? Karena siapa aku berbohong?” sahut Baekhyun. Chanyeol tertawa pelan dan serak sebelum menyatukan bibirnya pada milik Baekhyun yang merekah karena senyuman.

“aku menginap?” bisik Chanyeol di telinga Baekhyun, kemudian menggigit kecil cuping telinganya. Baekhyun menjauhkan wajahnya dan menatap Chanyeol meminta penjelasan.

“tenang, Baek, aku tidak akan melakukannya sebelum kita menikah, itu sumpahku dan aku bersedia menjadi kodok jika aku melanggarnya” ujar Chanyeol yang mengerti arti dari tatapan Baekhyun.

“baiklah” sahut Baekhyun dengan mengangkat bahunya.

“aku hanya akan memelukmu hingga pagi” ucap Chanyeol lagi, Baekhyun kembali mengangguk.

“tangga yang selalu kugunakan..”

Tawa Baekhyun nyaris meledak saat mengingat tangga aluminium yang terletak di beranda kamarnya yang selalu Chanyeol gunakan untuk keluar dari kamarnya di lantai dua setelah ia menginap, agar orangtua Baekhyun tidak mengetahui Chanyeol yang menginap di kamar putri sulungnya.

“Baek?”

“hmm?”

Dan Chanyeol kembali mencium Baekhyun pelan, dalam dan lembut, menambah deretan daftar ciuman Chanyeol yang tidak akan dilupakan oleh Baekhyun.

 

 

***

 

 

hahhhhh, panas yahh dunia inii… *kipaskipas*

Hohohi, ketahuan banget saya ChanBaek Hard shipper. Fufufufu. In hanya special chapter, untuk jaga2 jika saja chanbaek scene pada chapter2 selanjutnya agak kurang.

Kalo cerita Ini membosankan atau apapun itu, bilang yah… biar saya ganti alur dan plotnya, terima kasih…J#roadToHiatus

 

XOXO

 

 

8 pemikiran pada “The Raspberry (Chapter 5 : Untittled)

  1. Sukaaaaaaaa❤❤❤
    Aduh ini ratingnya, hahahaha
    Lanjut thoooor, suka banget. Meskipun transgender gitu rada susah ngebayanginnya, hahahaha
    Author fighting!!!

  2. aaaaaa >_< I'm hard ChanBaek shipper !!
    omo.. omo.. itu Sehun ngapain lari stelah liat fotonya Luhan ?
    hahh.. lanjut aja deh.. keep writing yaa~ fighting ❤

  3. yuhuuuu….
    chanbaekkkkk!!!!
    bahaya mulai melanda mereka nih
    tapi aku malah seneng banget, soalnya aku chanbaek shipper. hehe… 😀
    sip thor. next ya
    keep writing and ditunggu karya2 author selanjutnya^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s