Thorn Of Love (Chapter 8 : Tell Me Why)

Thorn of Love

Part 8 (Tell Me Why)

 Thorn Of Love II

 

Author                         :           @Yuriza94 / Oriza Mayleni

Main Cast                    :

  • Byun Baekhyun
  • Han Yoonjoo
  • Byun Heejin
  • Oh Sehun

Support Cast               :

  • Kim Jongdae (Chen)
  • Byun Junghwan (OC)
  • Etc..

Genre                         :           Romance, Angst

Rating                                     :           PG15

Recommended Song   :           Toheart – Tell Me Why

 

~oOo~

Yoonjoo menatap kosong ke arah sebuah toko yang hampir keseluruhan dindingnya berlapis kaca. Toko tersebut terlihat remang karena sekarang memang sudah pukul 7 malam dan Yoonjoo tahu pasti tepat satu jam yang lalu toko tersebut telah di tinggalkan pemiliknya, tulisan ‘closed’ yang menggantung di pintu kaca besar itu sudah cukup menjelaskan. Ia datang ke situ bukan untuk membeli sesuatu tapi memang inilah salah satu kegiatan rutinnya. Ia akan berdiri dari seberang jalan selama hampir setengah jam atau bahkan lebih hanya untuk menatap toko tersebut, tak jelas apa yang ia perhatikan, yang jelas selama setengah jam tersebut pasti ada saat dimana matanya memerah lalu butiran bening jatuh membasahi pipinya yang kemerahan karena hawa dingin yang menyeruak. Seperti saat ini, ia hanya perlu berdiri sambil memandang lekat sebuah tempat yang dulu menjadi favoritnya, yang dulu menjadi miliknya, hanya dulu.

 

Luka lamanya yang sudah mulai mengering itu seperti di siram air panas tatkala tadi sore matanya bertemu pandang dengan pemuda itu, pemuda bernama Oh Sehun. Memang benar Oh Sehun tak bersalah tapi tetap saja wajah ayahnya akan terpampang jelas di pikiran saat kau melihat wajah Sehun karena mereka ayah dan anak, kau tentu pernah mendengar peribahasa ‘buah tak jatuh jauh dari pohonnya’ namun Yoonjoo selalu berdoa Sehun tak akan jadi seperti ayahnya.

Setiap kali ia di paksa mengingat bagaimana semua hal kelam yang terjadi padanya dan keluarganya, ingin rasanya ia berlari menuju sungai Han lalu menjatuhkan diri. Dinginnya air sungai tersebut pasti mampu membuat seluruh tubuhnya membeku. Rasa sakit ini juga akan membeku. Ia tidak akan merasakan sakit ini lagi. Tapi Yoonjoo masih cukup rasional untuk menyia-nyiakan hidupnya dan mati dalam keadaan menyedihkan. Ia masih ingat bagaimana pesan ayahnya sebelum menghembuskan nafas terakhir dan ia pun masih ingat janjinya.

Drrtt…drrtt…

Yoonjoo mengusap air matanya lalu menarik nafas pelan dan menstabilkan suaranya sebelum menerima panggilan telpon itu.

“Yeoboseyo bibi…” Ucapnya pelan

“Nona kau dimana sayang? Kenapa belum pulang?” Suara di ujung sana terdengar begitu khawatir membuat hati Yoonjoo sedikit sejuk mengingat ia masih mempunyai seseorang yang bisa di jadikan tempat berbagi suka dan duka

“Aku sedang di jalan bibi, sebentar lagi aku akan sampai” Balasnya sambil tersenyum ringan

“Oh ya, ada teman nona disini”

“Teman?” Yoonjoo tertegun, teman yang mana? Sora kah? Seingatnya tidak ada orang lain yang tahu alamat rumahnya selain Lee Sora

“Dia bilang dia teman sekelas nona dan teman sebangku juga”

Yoonjoo tak usah bertanya lebih lanjut karena ia langsung tahu siapa orang yang di maksud.

~oOo~

Lima belas menit kemudian, Yoonjoo sudah berada di depan pintu rumahnya atau lebih tepat di sebut sebagai tempat yang di sewanya untuk tinggal. Ia bisa melihat sepasang sneakers berwarna hitam disana dan tentu saja bibi Jung tak akan memakai sepatu seperti itu, sneakers itu sudah pasti milik seorang tamu tak di undang yang kini berada di dalam entah sedang melakukan apa.

Yoonjoo membuka pintu perlahan. Tepat saat kakinya melangkah masuk, matanya menangkap sosok ‘tamu tak di undang’ tersebut tengah duduk bersila dengan secangkir teh yang kepulan asapnya sudah hilang menandakan ia sudah cukup lama duduk di situ. Pemuda tersebut menoleh saat mendengar suara Yoonjoo yang menyerukan “Aku pulang”.

“Nona kau sudah pulang” Sambut seorang wanita tua yang dipanggil Yoonjoo dengan sebutan ‘Bibi Jung’

“Bibi sudah ku bilang jangan memanggilku ‘nona’ lagi” Ucap Yoonjoo dengan suara pelan hampir berbisik

“Tidak apa-apa, bibi sudah terbiasa”

“Kau sudah pulang?” Tamu tersebut bersuara sambil memamerkan senyum

“Kau sedang apa disini?” Tanya Yoonjoo

“Aigoo nona jangan begitu, dia kan temanmu. Ayo duduk” bibi Jung menarik paksa Yoonjoo dan membuat gadis itu duduk berhadapan dengan seseorang yang tadi siang baru saja masuk UKS karena alergi mentimun “Bibi ke dapur dulu mengambilkan cemilan, kalian ngobrol lah”

Sepeninggalnya wanita tua tersebut, Yoonjoo masih diam dan tak berniat menatap tamunya.

“Kenapa kau kemari?” Akhirnya Yoonjoo buka suara walau yang terlontar adalah kalimat yang terdengar kasar

“Aku mengunjungi temanku. Apa tidak boleh?”

“Pulanglah kalau memang tidak ada hal penting” Yoonjoo beranjak dari tempat duduknya namun sebuah tangan segera menahannya

“Tidak sebelum kita bicara” Baekhyun menarik gadis tersebut keluar rumah

“Lepaskan aku! Ada apa denganmu sebenarnya?” Pekik Yoonjoo sesaat setelah mereka sampai di sudut gang dengan penerangan temaram, cukup jauh agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka

“Kau…kenal dengan Sehun?”

“Tidak. Lagi pula kenapa kau bertanya hal seaneh itu?”

“Tadi sore aku melihatmu dan Sehun saling bertatapan aneh di dekat gerbang sekolah. Anak kecil pun bisa tahu bahwa kalian saling mengenal hanya dari tatapan itu”

“Kenapa kau begitu ingin ikut campur ke dalam kehidupan orang? Tidak cukupkah kau selalu mengangguku di sekolah dan sekarang kau mau mengorek kehidupan pribadiku juga?”

“Maafkan aku karena terlalu ikut campur urusanmu, aku tahu aku terlalu tidak tahu diri tapi sungguh aku tidak berniat mengorek kehidupanmu di belakangmu makanya aku bertanya langsung”

“Kau bisa melihat lingkungan apa ini? Apa menurutmu orang yang tinggal di lingkungan seperti ini bisa kenal orang seperti Sehun?”

Baekhyun memijit keningnya. Rasa sakit itu kembali menderanya, terasa begitu berdenyut hingga kadang ia ingin membenturkan saja kepalanya itu ke dinding.

“Dari ucapanmu, kau seperti tahu orang seperti apa Sehun itu dan dari kalangan mana dia berasal” Balas Baekhyun

“Tentu saja. Bukankah dia tunangan adikmu? Berita itu bukan rahasia lagi di sekolah. Dan aku yakin orang yang berhubungan dengan keluargamu juga pasti bukan orang biasa”

“Aku anggap ucapanmu sebagai pujian tapi aku beritahu Han Yoonjoo, entah kau suka atau tidak, aku akan terus mengikutimu sampai aku dapat jawaban tentang hal yang terus berkelebat di kepalaku”

Yoonjoo menatap Baekhyun tidak percaya, ia bingung kenapa laki-laki ini begitu ngotot tentang dirinya.

“Aku tidak tahu kenapa hanya aku yang tersisa dari memorimu tapi kita benar-benar tak punya hubungan apa-apa. Kita orang asing. Jika kau mengikutiku untuk menggali memori lamamu, kau salah orang Baekhyun jadi berhentilah sekarang”

“Ya mungkin kau benar, kita hanya teman sekelas yang bahkan tak pernah saling menyapa tapi semakin ku pikirkan, kau semakin membuatku tertarik”

“Mwo?”

“Dari cara bibi tadi memanggilmu, aku bisa simpulkan kau bukan orang biasa dan lagi kau masuk ke salah satu sekolah bergengsi di Korea Selatan, kau kenal Oh Sehun dan kau selalu membuatku bertanya-tanya jadi…tidakkah kau berpikir kita semua berhubungan?”

Yoonjoo tak menjawab, ia bingung harus berkata apa. Tapi jujur ia sedang ketakutan hebat, ia bukan takut Baekhyun mengetahui hubungan keluarganya dengan keluarga Oh tapi ia takut laki-laki di depannya ini akan mengetahui hal lain, hal yang selalu bisa membuatnya menangis terisak di malam hari ketika kenangan mengerikan itu mampir di mimpinya.

“Masuklah, kau bisa kena flu” Baekhyun menyampirkan jaket miliknya ke tubuh Yoonjoo lalu pergi dengan langkah cepat

“Nona…kau kah itu?”

Yoonjoo menoleh dan mendapati bibi Jung sedang menatapnya dengan mata menyipit.

“Ne…” Jawab Yoonjoo sangat pelan

“Kenapa kalian berbicara di sudut gang begitu? Bukankah di dalam lebih enak, cuaca sedang ding—”

“Bibi pindahkan aku ke sekolah lain” pinta Yoonjoo dengan wajah memelasnya

“Apa? Pindah lagi?”

“Sehun sudah tahu aku sekolah di Junsang….” Gumam Yoonjoo

“Memangnya kenapa kalau Sehun tahu? Semua itu sudah berlalu nona, yang perlu nona lakukan hanya belajar yang rajin dan ingat pesan tuan besar”

“Masalahnya bukan hanya Sehun tapi laki-laki tadi…aku tidak menyukainya, dia sungguh menggangguku jadi aku ingin sekolah baru, sekolah mana saja….” Ucap Yoonjoo dengan nada memohon

“Dia mengganggumu? Bibi memang belum mengenalnya tapi sepertinya dia anak yang baik, tadi sebelum nona datang, kami sempat mengobrol dan dia juga anak yang sopan”

“Bibi—“

“Dia mengganggumu karena menyukaimu nona muda, jangan memikirkan hal-hal yang buruk dan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak ada. Bibi juga pernah muda jadi bibi tahu, apalagi tadi bibi sempat melihat caranya memasangkan jaket pada nona”

Yoonjoo menatap wanita berwajah kalem di depannya ini. Selama 10 tahun ia bekerja untuk keluarga Han, baru kali ini Yoonjoo melihat bibi Jung berbicara begitu banyak di depannya. Biasanya bibi Jung hanya akan berbicara banyak dengan Ibunya.

“Tidak ada pria yang mau menyukaiku bibi, mereka pasti jijik denganku…..”

~oOo~

Gadis itu terlihat tak bersemangat. Sedari melangkahkan kaki ke luar rumah hingga sekarang ia memasuki gerbang sekolah, kepalanya terus menunduk. Matanya memandang kerikil-kerikil kecil maupun debu yang terinjak oleh sepatunya dengan pandangan kosong hingga sebuah getaran membuatnya terhenyak. Kakinya berhenti melangkah, tangannya terjulur untuk menerima telpon dari seseorang yang namanya terpampang pada layar. Seseorang yang sangat ia kenal.

“Sora-ya”

“Yoonjoo! Apa kau akan ikut?”

Dahi Yoonjoo mengerut, ia tak mengerti maksud sahabatnya tersebut “Ikut? Kemana?”

“Eo? Kau belum dengar rupanya. Shinhwa dan Junsang akan mengadakan camping gabungan, selalu begitu setiap tahun—“

Yoonjoo tak bisa mendengar lagi apa yang di katakan oleh Sora selanjutnya. Pikirannya terlempar jauh saat mendengar kalimat ‘camping gabungan Shinhwa & Junsang’. Masalahnya adalah karena saat ini atau bahkan di masa depan, ia tak ingin melihat orang itu lagi. Melihatnya cukup bisa membuat dada sesak, itulah yang di rasakan Yoonjoo.

“Yoonjoo? Kau mendengarku?”

Yoonjoo terhenyak lagi, ia sudah terhenyak 2 kali di pagi ini “Aku tidak akan ikut” ucapnya tegas

“Kenapa?”

“Kau tahu alasannya….” Yoonjoo menggantung kalimatnya

“Kau harus menghadapinya, jangan terus menghindar”

Yoonjoo menggigit bibir. Ia bukan tak pernah mencoba menghadapi masalahnya, ia bahkan selalu menampar dirinya sendiri agar sadar bahwa semua telah terjadi dan menghindari orang-orang yang berhubungan dengan semua itu tak serta merta menyelesaikan masalah namun, menghadapi orang-orang tersebut juga tak serta merta akan mengembalikan semua miliknya yang telah hilang, semua. Itulah mengapa Yoonjoo memilih berdiri di tengah-tengah, tak menghindar dan tak juga menghadapinya.

“Aku harus masuk kelas. Aku akan menghubungimu lagi nanti” Ujar Yoonjoo sebelum akhirnya memencet tombol merah di ponselnya tanpa ampun, ia bahkan tak menunggu salam perpisahan dari Sora

Setelah itu, Yoonjoo kembali memerintahkan otaknya untuk menggerakkan kaki, melanjutkan perjalanannya yang tertunda karena sesuatu. Ia berharap tak ada lagi pembicaraan mengenai camping itu namun nasib berkata lain, tepat saat ia sampai di ambang pintu kelas, matanya bisa melihat Baekhyun tengah berdiri di depan kelas, laki-laki itu tengah memberikan ‘ceramah’ singkat mengenai acara tahunan tersebut. Ada satu kalimat yang begitu mengganggu Yoonjoo hingga ia tak kuasa melangkah masuk.

“Seperti yang kalian tahu, ini adalah acara tahunan untuk siswa kelas 12 jadi, semua siswa tingkat akhir wajib ikut serta”

‘Wajib’….satu kata itu terus berputar-putar di benak Yoonjoo. Sungguh demi apapun, ia sama sekali tak berniat menjadi bagian acara tersebut, tak perduli itu tradisi ataupun keharusan, ia tak mau. Hanya ada 2 cara yang bisa membuat Yoonjoo hadir, pertama adalah membujuk gadis itu hingga ia berubah pikiran, dan yang selanjutnya adalah harus ada seseorang yang memaksanya. Sayang sekali dari 2 cara tersebut, yang ternyata terjadi adalah cara kedua.

“Han Yoonjoo” Panggil Baekhyun lumayan keras, gadis itu mendongak sedikit

“Silahkan isi formulirmu” Baekhyun melangkah mendekati Yoonjoo yang seperti setengah tersadar, sedetik kemudian Baekhyun menjulurkan form untuk acara yang di anggap bencana oleh Yoonjoo itu

“Jangan terlalu lama, kami semua  sudah mengumpulkannya, hanya kau yang belum..” Lanjut Baekhyun dengan nada sedikit memaksa

“Aku tidak akan ikut” Yoonjoo menolak menerima kertas yang di sodorkan oleh Baekhyun, ia menyelonong masuk setelah menyampaikan keputusannya tapi bukan Baekhyun namanya jika langsung mundur hanya karena di perlakukan seperti itu

“Aku yakin kau mendengar aku mengatakan acara ini ‘wajib’ untuk kita siswa tingkat akhir, dengan demikian kau tidak bisa menolak” Suara Baekhyun kembali meninggi membuat hampir seisi kelas melempar mata pada Yoonjoo

“Bahkan dengan alasan yang logis, aku tetap tidak bisa menolaknya?”

“Makadari itu aku menyuruhmu menulis formulir ini, aku tidak perduli alasanmu logis atau tidak, tuliskan saja alasanmu itu disini” Baekhyun meraih tangan Yoonjoo lalu menyelipkan formulir yang di pegangnya dengan paksa ke selipan jari Yoonjoo

End Author’s POV

 

3 Days Later

Heejin’s POV

Sejak aku memutuskan untuk mulai membuka hati agar Sehun memiliki akses untuk kesana, aku mulai menyadari hari-hari dan dentingan jam berjalan bukan semakin mudah namun semakin sulit. Aku tahu benar itulah resiko saat aku memutuskan untuk membuang jauh-jauh rasa suka pada kakakku, ya kalian benar, aku memang juga menyukainya. Ku kira semua akan berjalan lancar dan kembali ke kiblat yang benar saat aku berusaha membuang perasaannya tapi sejak kecelakaan itu, aku jadi seperti menyadari sesuatu, aku menyadari kalau selama ini arah yang ku kira benar justru malah membimbingku merasakan sakit. Bagiku, ia bukanlah sekedar kakak, aku memandangnya sebagai pria, seperti aku memandang Sehun walaupun selama ini aku selalu berteriak padanya kalau aku hanya menganggapnya kakak, itu semua bohong, jauh di dalam lubuk hatiku, aku menginginkannya.

“Kau benar-benar tidak mau membantuku?”

Aku menoleh dan ku dapati Yunae tengah memasang wajah kesalnya. Kami sedang berada di daerah pegunungan yang aku lupa namanya, kami disini untuk acara tahunan Junsang & Shinhwa. Acara ini bukan hanya boleh di hadiri siswa tingkat akhir tapi juga siswa kelas 10 dan 11, itulah mengapa aku bisa disini. Kembali pada Yunae, aku tahu ia memintaku untuk membantunya memasang tenda tapi bukankah tadi ada Chen sunbae bersamanya? Lalu kemana perginya pacarnya itu hingga ia berteriak kesal padaku?

“Aku datang”

Aku berjalan cepat menuju Yunae yang tengah berusaha membuat simpul. Tepat saat tanganku mengambil alih simpul tersebut, mataku menangkap pemandangan yang hampir seminggu ini selalu menjadi hal buruk dalam bunga tidurku. Baekhyun tengah bersama seseorang bernama Han Yoonjoo. Di saat seperti ini, aku merasa aku adalah wanita paling egois di dunia. Di satu sisi aku adalah calon tunangan Sehun dan di sisi lain aku sangat menginginkan perhatian Baekhyun hanya tertuju untukku, tepat seperti sebelum ia kehilangan semua memorinya.

Bohong sekali kalau aku tidak kesal karena buktinya sekarang aku sedang menarik lalu sesekali mencengkram tali di genggamanku. Bukan hanya perhatian Baekhyun pada Yoonjoo yang membuatku kesal, lebih tepatnya iri tapi juga karena perilaku Sehun akhir-akhir ini. Entah ini benar atau tidak, aku sering menangkap basah Sehun tengah menatap Yoonjoo, tatapannya susah di artikan dan itu benar-benar membuatku kesal, amat sangat kesal.

“Perhatian semua! Sekitar 10 menit lagi kita akan berkumpul untuk acara selanjutnya jadi cepat selesaikan tenda kalian sebelum fajar datang”

Suara salah seorang panitia acara itu masuk ke dalam kepalaku namun tak berpengaruh apa-apa. Aku masih menatap kosong ke arah tenda berwarna coklat di ujung sana, tepat berjarak 10 langkah dariku. Baekhyun masih berdiri disana untuk membantu Yoonjoo, mereka terlihat sesekali bercakap-cakap tapi aku tak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan walau sebenarnya ingin.

“Kau melihat apa?” Sebuah tangan menyentuh pundakku membuatku terlonjak pelan

“Kau sedang melamun?”

Aku membalikkan tubuh. Rupanya Sehun, ia tengah menatapku dengan alis terangkat.

“Tidak ada” Jawabku seadanya

“Kau bohong…” Tebaknya

Aku sedang tidak berminat meladeni tebak-tebakannya.

“Ada apa denganmu?” Sehun bersuara lagi, lumayan keras hingga membuat Yunae dengan senang hati pergi meninggalkan kami berdua

“Aku bilang tidak ada” Balasku dengan suara di tekankan

“Benarkah? Tapi biarkan aku menebak lebih dulu, apa kau sedang memperhatikan Baekhyun?”

Aku mengepalkan tangan. Kenapa ini terasa seperti aku sedang di tangkap basah berselingkuh?

“Kau diam, itu tanda tebakanku benar bukan?”

“Lalu bagaimana denganmu?” Aku bertanya balik padanya, ia langsung memasang wajah tak mengerti, sungguh menyebalkan

“Aku? Kenapa denganku?”

“Apa oppa pikir selama ini aku buta? Mataku cukup sehat untuk bisa melihat akhir-akhir ini oppa selalu memperhatikan Yoonjoo. Gelagatmu membuatku berpikir terlalu jauh—“

“Aku tidak apa-apa dengan Yoonjoo” Potongnya

“Benarkah? Lalu kenapa oppa memandangnya seperti itu? Setiap kali oppa menjemputku, aku bisa melihat cara oppa memandangnya….aku, aku ini tunanganmu, apa kau tidak mengerti bagaimana perasaanku melihatmu seperti itu?”

Aku berbalik untuk melangkah pergi. Kemana saja untuk menghindari keramaian. Aku tak mau di tatap konyol oleh murid-murid lain karena berteriak-teriak. Sehun mengikutiku, aku tahu itu. Aku bisa mendengar suara renyah di belakangku, suara yang di timbulkan karena hancurnya daun-daun yang mengering karena terinjak oleh kaki Sehun.

“Heejin….”

Aku merasa terlalu lemah. Dalam satu sentakan aku kembali bertemu muka dengan Sehun. Kedua tangannya tengah mencengkram lenganku.

“Apa kau benar-benar cemburu? Padaku? Bukan pada yang lain?”

“Apa maksudmu?”

“Ayolah Heejin, kau mengerti maksudku”

Tidak, aku tidak mengerti maksudnya. Walau aku sudah mengertipun, aku tak mau berkata jujur. Aku terlalu takut untuk mengakuinya.

“Cemburumu untuk Baekhyun, bukan untukku…”

“Aku—“

“Tidak usah mengelak. Aku bisa melihatnya dari matamu, kau….jangan bilang kau juga menyukai Baekhyun seperti dia menyukaimu…”

Aku merasakan sesuatu yang hangat menyapa pipiku. Ku julurkan tangan untuk menggapainya, benda hangat tersebut rupanya air mata. Aku menangis tanpa suara. Kepalaku tertunduk, aku tak tahu ekspresi macam apa yang ada di wajah Sehun sekarang dan aku tak berani mencari tahu.

“Heejin, dia itu kakakmu”

“Dia bukan!!” Pekikku, bisa kulihat wajah terkejut Sehun

“Dia bukan kakakku, mungkin butuh waktu lama untuk menceritakan semua padamu tapi ku tegaskan kalau kami tidak punya hubungan darah”

“Kau—darimana kau punya pendapat seperti itu?”

“Oppa tidak perlu tahu, ini masalah keluarga kami dan oppa tidak berhak bertanya terlalu jauh…”

“Begitu?….Seharusnya jika memang seperti itu, kau jangan memberikan harapan padaku sedikitpun. Kau menerima pertunangan kita dan itu membuatku mengira kau ada di pihakku, tidakkah kau merasa jahat karena melakukan hal tersebut?”

End Heejin’s POV

 

 

Author’s POV

Senja mulai menyapa namun cahaya jingga yang seharusnya membias itu tertutup oleh gumpalan awan hitam yang mulai menyelimuti langit bersamaan dengan datangnnya angin yang bertiup sedikit kencang. Di tengah-tengah area pegunungan tengah di gelar acara tahunan milik sekolah bergengsi di Korea. Sekitar 100 meter dari hiruk pikuk acara tersebut, ada sepasang manusia yang tengah bertatapan tegang. Jika di lihat lebih dekat, kau bisa melihat salah seorang dari pasangan tersebut tengah menangis tentunduk dan salah satunya sedang mengepal tangan keras.

“Begitu?….Seharusnya jika memang seperti itu, kau jangan memberikan harapan padaku sedikitpun. Kau menerima pertunangan kita dan itu membuatku mengira kau ada di pihakku, tidakkah kau merasa jahat karena melakukan hal tersebut?” Sehun berujar sambil menatap tajam ke arah Heejin “Kau sudah tak seperti pertama aku mengenalmu…” lanjut Sehun

“Oppa memang tidak pernah mengenalku” Balas Heejin

“Setidaknya aku selalu berusaha mengenalmu, tak seperti kau yang tak pernah berusaha mengenalku. Awalnya aku senang saat aku mengira kau cemburu padaku tapi setelah di pikir lagi, kau marah bukan karenaku tapi karena Baekhyun dan itu sungguh membuatku sesak Byun Heejin….” Sehun memijat keningnya, ia merasakan denyutan hebat disana

“Pergilah, pergilah katakan pada Baekhyun semua hal yang dia lupakan tapi sebelum itu, aku beritahu kalau aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Yoonjoo. Ia hanya teman yang ku kenal semasa sekolah menengah pertama dan….aku yakin kau tidak akan mau mendengar alasan kami jadi tidak bertegur sapa seperti ini. Ku harap itu cukup menjawab, itu pun kalau kau memang benar-benar ingin tahu….” Sehun berkata pelan namun sarat tekanan sebelum akhirnya melangkah panjang meninggalkan Heejin yang diam seribu bahasa

~oOo~

Baekhyun memandang sekeliling. Sosok yang ia cari belum juga muncul. Baekhyun menoleh ke arah gerombolan siswa lain di sekitar api unggun, terlihat panitia yang mulai berkoar menandakan acara akan segera di mulai tapi 2 orang itu belum kembali juga, yang di maksud adalah Heejin dan Sehun.

“Ck..kemana anak itu” omel Baekhyun pelan, hari sudah mulai gelap dan ia belum kembali juga

Tepat saat kaki Baekhyun ingin melangkah yang juga menggenapkan 10 kali ia mondar-mandir, matanya menangkap sesosok laki-laki yang ia kira pergi bersama adiknya namun aneh, laki-laki itu kembali sendiri lalu kemana Heejin?

“Sehun” Panggil Baekhyun pelan namun cukup membuat Sehun sadar

“Kau..tidak pergi bersama Heejin?”

Sehun baru ingin membuka mulut menanggapi pertanyaan Baekhyun saat sebuah suara menghentikkannya.

“Aku disini” Heejin muncul sekitar 5 kaki di belakang Sehun, matanya terlihat agak sembab

“Kalian jangan sesuka hati pergi berduaan” Ujar Baekhyun dengan nada lumayan tinggi, walau Heejin dan Sehun akan bertunangan, tetap saja ia tak suka adiknya sembarangan pergi berduaan ke tempat sepi di saat hubungan mereka masih di sebut ‘calon’

Sehun tak menjawab, ia melengos pergi. Baekhyun yang melihat hal tersebut jadi terheran sekaligus tak percaya.

“Apa pacarmu selalu begitu?” Tanya Baekhyun pada Heejin yang di jawab dengan gelengan tak pasti

Baekhyun memilih menutup mulutnya. Ia bisa tahu kalau Heejin dan Sehun sedang tak dalam keadaan yang baik atau bisa di bilang mereka sedang bertengkar dan Baekhyun tahu ia tak punya hak untuk bertanya lebih lanjut.

“Ayo kembali” Baekhyun mengelus pelan kepala Heejin membuat gadis itu kembali bergumul air mata

“Kau kenapa? Ada apa?”

Heejin menunduk sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Suara isakan mulai menguar dari mulutnya.

“Apa kau sakit? Dimana yang sakit?” Baekhyun gelagapan

“Aku…ingin pulang” Ucap Heejin sedikit terbata

“Arraseo. Aku akan mengantarmu pulang”

Tanpa basa basi lagi, Baekhyun berlari ke arah Chen untuk membisikkan beberapa kalimat yang nanti akan Chen sampaikan pada panitia acara. Ia tidak perlu bersusah payah meminta izin guru karena memang tidak ada guru pendamping pada acara tersebut, semua murni rancangan dewan sekolah dan Baekhyun merupakan salah satunya. Segera setelah ia selesai dengan urusan izin perizinan, Baekhyun berlari ke tendanya untuk mengambil kunci mobil milik Chen. Dalam hati Baekhyun merasa was-was untuk menyetir, ia masih sedikit trauma setelah kecelakaan itu makanya ia sendiri tak membawa mobil namun apa boleh buat, ia tak ingin merusak acara Chen atau yang lain bahkan Sehun.

Baekhyun mulai menyetir. Porsche putih milik Chen itu melaju dalam kecepatan normal bahkan bisa di bilang terlalu lamban. Sesekali Baekhyun melirik ke arah samping tempat Heejin duduk, gadis itu tengah menutup mata namun Baekhyun tahu ia tak sedang tidur, air matanya pun masih sesekali menetes. Pemandangan tersebut membuat hati Baekhyun kalut, ingin rasanya ia menyetir seperti para pembalap F1 namun apa daya, ia juga takut akan membahayakan nyawa merek berdua.

“Oppa…” Panggil Heejin tanpa membuka mata

“Hmmm? Ada apa?”

“Kita langsung pulang ke rumah saja” Pintanya dengan suara pelan

“Tidak. Kita ke rumah sakit dulu”

“Aku tidak mau. Aku mau langsung pulang”

“Heejin—“

“Aku mau pulang oppa….” Potong Heejin cepat yang diikuti anggukan pasrah dari Baekhyun

“Baiklah, kita pulang”

Sekitar 30 menit kemudian, mobil berwarna putih tersebut telah terparkir di depan rumah keluarga Byun. Heejin terlihat keluar dari mobil dengan di bopong oleh Baekhyun. Sekitar 2 kali memencet bel, seorang wanita tua membuka pagar dan terlihat terkejut namun ia tak bertanya begitu juga Baekhyun yang tak bersuara, ia fokus menggiring Heejin dengan hati-hati untuk masuk ke rumah dan lalu mengantarnya naik ke kamar.

Saat sampai di kamar milik Heejin, Baekhyun mengedarkan pandangannya. Ia merasa ini adalah kali pertama ia masuk ke kamar dengan dominasi warna putih dan cream itu. Baekhyun menarik selimut lalu merebahkan Heejin di atas tempat tidurnya. Ia menempelkan telapak tangannya di dahi Heejin untuk merasakan suhu tubuh gadis tersebut. Tak ada yang aneh, hanya sedikit hangat tapi Baekhyun masih tak mengerti kenapa Heejin bersikap seperti itu, tiba-tiba menangis dan membuatnya bingung setengah mati. Jika memang ini ada hubungannya dengan Sehun, maka tebakannya tentang Sehun dan Heejin yang bertengkar adalah benar. Tapi masalahnya, bertengkar masalah apa juga Baekhyun sendiri tak tahu karena seingatnya, saat tadi pagi mereka dan rombongan lainnya pergi, Heejin dan Sehun terlihat baik-baik saja dan mereka berada dalam mobil yang sama dalam perjalanan.

Baekhyun menggeleng pelan, entah kenapa kepalanya jadi sedikit pusing karena kegiatan tebak-tebakan itu. Ia beranjak dari pinggiran ranjang tempatnya duduk namun sebuah hal yang mengejutkan langsung menghentikan kakinya yang baru saja hendak melangkah. Baekhyun menatap pinggangnya yang kini di lingkari sepasang tangan. Heejin tengah memeluknya dari belakang, sangat erat.

“Heejin…” Gumam Baekhyun pelan

“Oppa, jangan pergi” Ujar Heejin dengan suara pelan dan serak

“Oppa tidak akan kemana-mana. Oppa hanya akan keluar mengambil kompres dan obat untukmu”

Heejin menggelengkan kepala walau Baekhyun tak bisa melihatnya.

“Aku mau mengatakan sesuatu jadi jangan kemana-mana”

“Baiklah tapi lepaskan dulu tanganmu, kau membuat oppa tidak bisa bernafas lega”

Heejin tak patuh. Ia tetap melingkarkan tangannya dengan erat dan menyandarkan kepala di pundak Baekhyun. Ia memejamkan mata sejenak sambil menghirup aroma tubuh Baekhyun, ia merasa nyaman. Setelah paru-parunya penuh, Heejin menghembuskan nafas perlahan sambil bersiap dengan reaksi yang akan Baekhyun berikan pada perkataannya.

“Oppa, aku sayang padamu”

Baekhyun tertawa ringan “Tentu saja, aku juga sayang padamu karena kau adikku”

“Bukan begitu, aku sayang padamu bukan sebagai adik tapi sebagai seorang wanita”

Baekhyun tersentak lalu melepas tautan tangan Heejin di pinggangnya. Ia menatap Heejin dengan dahi berkerut sempurna. Sungguh ini bukan waktu yang tepat untuk melontarkan lelucon.

“Aku tahu oppa terkejut. Seperti itulah ekspresiku waktu oppa dulu mengatakan hal yang sama”

Heejin terus mengeluarkan hal yang selama ini ia pendam. Kotak penyimpanannya rupanya sudah penuh dan inilah waktu yang tepat untuk mengeluarkan isinya dan mulai jujur pada perasaannya sendiri. Memendamnya terlalu lama sama sekali tak membawa pengaruh baik, itulah yang Heejin rasakan.

“Apa maksudmu?”

“Oppa, kau juga menyukaiku sebagai pria bukan kakak, itulah yang dulu oppa katakan”

“Aku? Baiklah Heejin, kepalaku sekarang tiba-tiba berdenyut hebat karena ucapanmu. Bagaimana bisa…bagaimana bisa aku suka pada adikku sendiri?” Baekhyun tersenyum masam

“Karena kita bukan saudara, kita tak punya hubungan darah sama sekali….”

Baekhyun mundur 2 langkah. Ia memijat kening, kini rasa sakit di kepalanya bahkan lebih hebat dari saat biasa ketika ia sedang berusaha mengingat memori yang hilang. Entah perkataan Heejin ini benar atau bohong, ia tak tahu.

“Malam itu, malam dimana oppa mengalami kecelakaan. Hari itulah ayah tahu mengenai perasaan oppa padaku, ayah menemukan sketsa wajahku di kamarmu, ayah benar-benar marah waktu itu lalu aku menelponmu—“

Bla..bla..bla..lanjutan kalimat yang meluncur dari mulut Heejin itu tak bisa Baekhyun dengar dengan jelas. Seperti radio yang kehilangan sinyal, bergumul di kepala Baekhyun membuat pemuda itu terpojok. Tubuhnya terasa kaku dan ia berharap Heejin akan segera menghentikkan gerakan mulutnya karena demi apapun penjelasan-penjelasan itu bukan malah membuat Baekhyun puas tapi sebaliknya, ia merasa jatuh ke lembah kebingungan. Ia bingung harus percaya pada ayahnya atau Heejin, tapi jika memang Heejin benar, berati selama ini ayahnya telah mendoktrin sejumlah kebohongan yang tersusun rapi ke dalam kepalanya. Jika memang Heejin benar, mungkin itulah alasan ia lupa ingatannya, ia memang ingin membuang jauh-jauh semua kenangan menyakitkan itu saat kecelakaan itu menimpanya. Kepalanya terbentur hebat di saat hati dan pikirannya tertekan lalu yang terjadi, ia siuman dalam keadaan lupa segalanya, segalanya yang berhubungan dengan hal-hal yang membuatnya tertekan juga membebaninya, Heejin salah satunya.

“Berhenti Heejin” Perintah Baekhyun “Kita bicara nanti” Baekhyun melangkah keluar

Heejin berlari pelan mengikutinya lalu dengan suara keras Baekhyun membentaknya “Jangan mengikutiku!”

Heejin tertegun, kakinya mendadak kaku mendengar perintah itu. Ia bisa melihat Baekhyun seperti frustasi, pemuda itu terus membuang nafas berat.

“Kau tahu? Jika memang apa yang kau katakan itu benar, tidak seharusnya kau mengatakan semua itu di saat aku sudah tak mengingatnya”

“Oppa aku—“

“Kau tidak seharusnya mengatakannya Heejin. Seharusnya kau biarkan saja aku hidup tanpa mengingat hal itu karena…karena, semua yang kau katakan benar-benar sukses membuatku sesak. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya perasaanku dulu. Saat ini, saat di saat aku tidak ingat apa-apa saja rasanya sakit apalagi dulu saat semua masih tertanam jelas di kepalaku”

“Jadi, oppa mau bilang kalau oppa menyesali perasaan oppa padaku? Lalu kenapa oppa dulu selalu berteriak menyukaiku sampai aku begini? Aku juga mulai goyah dan aku bingung apa yang harus ku lakukan. Aku merasa bodoh saat menyadari aku juga mulai menyukaimu!”

Baekhyun terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Semuanya benar-benar buruk, tak ada yang berjalan baik hari ini.

“Apa Sehun tahu semua ini?”

“Apa oppa sekarang lebih mementingkan perasaan Sehun daripada perasaanku?” Heejin mulai menangis lagi dan itu membuat Baekhyun jauh lebih menderita

“Aku bukan sedang mengkhawatirkan Sehun. Aku hanya sedang bingung tentang perasaanmu pada Sehun, kalau memang benar aku pernah menyukaimu dulu sebelum aku kehilangan ingatan dan kau juga menyukaiku, kenapa kau menerima Sehun? Kau menerima pertunangan itu dan ini membuatku jadi seperti korban cinta sepihak…atau jangan-jangan aku memang satu-satunya yang punya perasaan tak berbalas disini? Lalu..lalu kenapa sekarang kau berteriak suka padaku? Kau mau membuatku gila?!?”

“Aku tidak bermaksud begitu, ini—“

“Sudahlah. Kepalaku serasa mau meledak sekarang…kita bicara lagi nanti”

End Author’s POV

 

Baekhyun’s POV

Aku bisa mendengar suara Heejin yang memanggil-manggil namaku tapi tidak, aku tidak sedang dalam mood untuk mendiskusikan hal-hal mengejutkan yang barusan ia lontarkan padaku. Semua itu terlalu tiba-tiba, membuatku merasa di sengat listrik bertegangan tinggi. Kami tidak memiliki hubungan darah, aku mencintainya, dia mencintaiku, entahlah, aku bingung harus mulai menggali kebenaran yang mana. Benarkah hidupku serumit ini?

Aku menerka-nerka kalau saja malam itu aku tak mengalami kecelakaan lalu amnesia, mungkin sekarang aku sudah berada di suatu Negara antah berantah dalam rangka pengasingan yang di lakukan Ayahku. Ku pejamkan mata sejenak sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil milik Chen yang ku pinjam, aku harus pergi, kemana saja asal tak bertemu Heejin, melihatnya membuatku merasa sulit bernafas dan kepalaku serasa mau pecah.

Aku mengemudi dalam kecepatan normal, mataku fokus melihat jalanan yang terlihat agak lengang. Jam di dashboard menunjukkan kalau sekarang sudah pukul 8 lewat 50 menit. Aku memutuskan kembali ke camp, aku tak punya tujuan lain dan juga aku harus mengembalikan mobil Chen, barang-barangku juga masih disana. Sekitar 30 menit duduk dibalik kemudi, aku sampai juga di camp. Mataku memencar, sepi, mungkin mereka semua tengah asik di dalam hutan karena aku sempat membaca susunan acara bahwa malam ini akan ada permainan pencarian jejak berpasangan. Aku ketinggalan jauh dan lagi aku juga sedang tak berminat bergabung, pikiranku lelah, tubuhku juga, hatiku berkecamuk, aku ingin tidur saja berharap besok pagi rasa nyeri di kepalaku akan berku—

“Panggil ambulan! Panggil ambulan!”

Aku menoleh, rencana yang tersusun di kepalaku buyar karena suara teriakan itu. Aku bisa melihat Sehun tengah berlari sambil menggendong seseorang di punggungnya dan itu Yoonjoo!

Sedetik kemudian sepi yang tadi kurasa hilang. Riuh, kepalaku kembali terasa berputar karena suara-suara teriakan panik dari 2 orang, salah satunya Sehun dan aku tak tahu satunya siapa lagi.

“Yoonjoo-ya!” Teriak wanita berambut panjang yang pasti siswi dari Shinhwa itu karena aku tak pernah melihatnya di Junsang

“Aku akan membawanya ke rumah sakit” Kali ini Sehun yang bersuara, dari raut wajahnya, aku sekarang yakin betul kalau mereka sudah saling mengenal lama sebelum semua ini terjadi

“Lepaskan dia, aku yang akan membawanya ke rumah sakit. Ini salahmu, kenapa kau harus mengatakan hal seperti itu padanya“

“Lee Sora kau—“

“Minggir” Potongku, darah di dahi Yoonjoo masih mengalir dan mereka malah berdebat

Aku mengambil alih Yoonjoo yang sedang berada dalam pelukan Sehun. Ia sedikit terkejut dengan apa yang ku lakukan, begitu juga seseorang yang ternyata bernama Sora itu, aku mendengar Sehun menyebutkan namanya tadi. Aku segera memasukkan tubuh Yoonjoo ke kursi bagian belakang dengan Sora bersamanya, detik kemudian ku lihat Sehun ingin masuk ke mobil namun aku mencegahnya, aku tidak ingin melihat ia dan Sora kembali bertengkar di rumah sakit.

“Kau disini saja” Perintahku sambil menahan dada Sehun saat ia bergerak membuka pintu mobil

“Apa?”

“Harus ada yang memberi kabar pada yang lain agar mereka tidak kebingungan jadi…kau disini saja, tunggu sampai mereka kembali”

~oOo~

Jam dinding menunjukkan pukul 22:32 ketika aku tiba di rumah sakit dan sekarang sudah pukul 23.03, sekitar 15 menit yang lalu Yoonjoo selesai di operasi, hanya operasi ringan untuk menghentikkan pendarahan di dahinya. Dokter bilang keadaannya tidak parah, luka di kening itu akan sembuh dalam waktu 3 hari dan ia akan segera sadar tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda ia akan siuman jadi aku memutuskan untuk meninggalkannya sebentar ke toilet. Hari ini benar-benar melelahkan. Aku perlu mencuci wajahku dengan air dingin, mungkin saja setelah tersentuh cairan dingin ini, pikiranku bisa terasa lebih ringan.

 

Heejin, apa dia baik-baik saja? Jika mengingat caraku meninggalkan dan berteriak padanya, itu agak sedikit keterlaluan, haruskah aku menelponnya? Tapi ini sudah jam 11 malam, mungkin saja dia sudah tidur  tapi sepertinya tidak ada salahnya mencoba. Tanganku menekan angka sembilan sambil berjalan keluar toilet lalu menempelkan benda yang di sebut ponsel ini ke telinga. Keningku berkerut ketika mendengar suara operator telepon yang memberitahu telepon yang kuhubungi sedang tidak aktif. Aku menekan tombol merah dan menimbang-nimbang, apa Heejin memang sudah tidur, ku putuskan untuk mencoba sekali lagi namun tanganku berhenti bergerak ketika melihat kelebatan yang sangat ku kenal, itu Yoonjoo. Ia sudah siuman rupanya tapi mau kemana dia? Kenapa ia seperti terburu-buru begitu?

“Kau mau kemana?” Ucapku langsung saat tangannya sudah berada dalam genggamanku, ia terlonjak kaget

“Kau—“ Ujarnya dengan wajah bingung

“Aku yang mengantarmu kesini, tadi aku bersama temanmu tapi saat kau di pindahkan dari UGD, dia kembali ke camp untuk mengambil barang-barangmu” Yoonjoo tak menjawab, gadis ini selalu begini, lebih banyak diam, memang apa sulitnya membuka mulut “Dan lagi kau mau kemana? Seharusnya kau istirahat saja di kamar”

“Aku mau ke toilet” Ucapnya pelan, aku menghembuskan nafas lega, setidaknya perkiraanku tentang ia yang mau kabur tidak benar

“Ayo, aku antar”

“Aku bisa sendi—“

“Aku antar” Potongku tegas

Detik berikutnya aku sudah menggandengnya, aku sudah berjalan lumayan pelan tapi tetap saja langkah kami tidak sejajar. Yoonjoo memang sangaja berjalan di belakang walau tanganku sedang memegang erat tangannya. Bisa kurasakan sedikit penolakan di sana tapi percuma, usahanya justru membuat genggamanku semakin erat. Aku baru saja ingin mengomel pada Yoonjoo saat ia memekik pelan, saat itu seseorang yang berjalan dari arah belakang menyenggol bahunya. Yoonjoo agak terhuyung, tetapi segera ku tahan. Pria yang menyenggolnya tadiberbalik. Bukannya meminta maaf, ia malah menatapku dan Yoonjoo bergantian dengan alis berkerut. Sopan santun di Korea seperti mulai pudar.

“Hey—“

“Maaf, aku minta maaf”

Ucapanku terpotong karena kalimat permintaan maaf Yoonjoo, ia sekarang sedang membungkuk.

“Hey Yoonjoo—“

“Byun Baekhyun”

Mulutku kembali terkatup saat mendengar pria yang tadi menabrak Yoonjoo menyebutkan namaku dengan lengkap dan benar. Apa jangan-jangan ia orang yang ku kenal? Aku tidak bisa mengingatnya.

“Dan lihat siapa yang bersamanya, Han Yoonjoo..lama tidak berjumpa”

Kini pria itu pun menyebutkan nama Yoonjoo dengan lengkap dan benar. Apa Yoonjoo juga mengenalnya? Bagaimana bisa? Aku berbalik, bisa ku lihat ekspresi aneh di wajah Yoonjoo, itu ekspresi ketakutan, ia bahkan mencengkram kemeja yang ku pakai sambil bersembunyi di balik tubuhku seperti sangat takut wajahnya akan terlihat oleh pria ini.

“Kenapa kau bersembunyi? Kau tidak boleh seperti itu Yoonjoo, apa kau lupa kenangan kita dulu?”

Pria itu bersuara lagi dan semakin membuat Yoonjoo terpojok di belakang tubuhku. Aku menahan dada pria itu saat ia melangkah maju hendak mendekati Yoonjoo. Tatapan pria itu beralih padaku, dari tatapannya, aku yakin kami saling mengenal tapi bukan dalam artian baik.

“Wow, aku mimpi apa tadi malam sampai bisa bereuni bersama 2 teman lamaku dan mereka sedang bersama-sama”

“Maaf, apa kita saling mengenal?” Tanyaku dengan nada sesopan mungkin

“Wah kau keterlaluan sekali Baekhyun. Aku tahu kita sudah tak pernah bertemu untuk waktu yang lama tapi bagaimana bisa kau lupa seseorang yang pernah kau hajar habis-habisan sampai menimbulkan bekas luka begini” Pria itu menunjukkan segores bekas luka di dahinya, aku pernah menghajarnya? Untuk apa?

“Dan Yoonjoo, aku mengakui kau hebat sekali. Dengan semua kekurangan yang mengikutimu, kau masih bisa memikat pria tampan dan kaya seperti temanku ini” Pria ini terus berbicara mengenai hal yang tak ku mengerti, bahkan sekarang ia meletakkan tangannya di pundakku dan bertingkah seolah kami teman akrab

Aku menepis tangannya, ia malah tertawa miring “Baekhyun biar ku berikan sedikit nasehat padamu, lebih baik kau menyelidiki dulu latar belakang gadis itu sebelum kau memutuskan untuk serius padanya dan kalau kau memang lupa padaku, maka biar ku perkenalkan diri lagi. Namaku adalah Park Dongjoo, semoga kita bisa bertemu lagi dan oh ya titip salam untuk adikmu, Heejin”

Apa ini? Pria bernama Dongjoo ini bahkan mengenal Heejin?

End Baekhyun’s POV

 

Author’s POV

Baekhyun melirik ke arah Yoonjoo yang masih bersembunyi di belakang. Tanpa bertanya, Baekhyun menggerakkan tangannya untuk mengangkat wajah Yoonjoo dan betapa mengejutkannya, gadis itu sudah berlinang air mata. Ia menggigit bibir menahan isakan tangis. Baekhyun tak mengerti apa yang sedang terjadi sekarang, ia perlu penjelasan tapi melihat keadaan Yoonjoo sekarang, ia urung bertanya. Ia tahu pertanyaan-pertanyaannya justru malah akan membuat gadis ini semakin terisak dan ia tak ingin hal itu terjadi, ia tidak ingin gadis yang berdiri di hadapannya itu mendapat kesulitan. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Ia kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengatakan sesuatu yang menghibur agar Yoonjoo berhenti menangis.

Perlahan Baekhyun maju selangkah dan memeluk gadis itu. Yoonjoo tidak menghindar. Entah kenapa Baekhyun merasa segalanya tepat seperti seharusnya ketika gadis itu dalam pelukannya. Seluruh rasa lelah seolah mengalir keluar dari tubuhnya. Ia ingin sekali terus seperti ini. Ia ingin sekali tetap berdiri di sana dan memeluk Yoonjoo selamanya.

“Kau belum pernah memperlihatkan senyumanmu padaku jadi bagaimana bisa sekarang kau menangis tersedu-sedu seperti ini? Kau membuatku ingin terus memelukmu” Baekhyun mempererat pelukannya sambil menyentuh lembut puncak kepala Yoonjoo

“Aku ingin pulang” gadis itu bersuara pelan di ikuti anggukan Baekhyun

“Baiklah, aku akan mengantarmu pulang”

~oOo~

Taksi yang di tumpangi Baekhyun dan Yoonjoo membelah sepinya malam. Tak terlalu sepi karena memang kota Seoul tak pernah tidur sepenuhnya namun jalanan malam ini lumayan lengang membuat taksi tersebut melaju di atas kecepatan normal. Baekhyun baru saja mengirim sms pada Chen agar memberitahukan Sora untuk tak kembali ke rumah sakit. Baekhyun yakin mereka berdua pasti bertemu karena saat Sora memutuskan kembali ke camp, Baekhyun menyuruhnya membawa mobil milik Chen dan itulah alasan kenapa ia dan Yoonjoo naik taksi sekarang.

Baekhyun melirik ke arah Yoonjoo, gadis itu tengah merebahkan kepala di kaca jendela. Ingin rasanya Baekhyun menarik kepala Yoonjoo untuk bersandar di bahunya tapi ia urung melakukannya karena menurutnya Yoonjoo sekarang perlu menenangkan pikirannya sendiri dari sesuatu yang Baekhyun tak tahu sama sekali, Baekhyun tak punya gambaran apapun tentang pria bernama Park Dongjoo itu hingga sebuah ide melintas di pikirannya. Baekhyun membuka aplikasi browsing yang ada di ponselnya, ia sedang mencoba-coba memasukkan nama Dongjoo sebagai kata kunci, jika memang ia pernah menghajar Dongjoo sampai sebegitu parahnya, pasti kemungkinan besar hal tersebut akan masuk berita dan kalian tentu tahu betapa Korea sangat cepat soal pemberitaan internet. Benar saja, tak sampai 30 detik Baekhyun menunggu, ada beberapa hasil yang keluar namun hasil tersebut tak sesuai dugaan dan harapannya. Artikel itu bukan tentang ia yang sedang menghajar Dongjoo tapi justru tentang yang terjadi antara Dongjoo dan Yoonjoo. Kini semua terjawab sudah, Baekhyun tak perlu bertanya pada Yoonjoo maupun Dongjoo tentang apa yang terjadi karena artikel di salah satu website ini menjelaskan semuanya dan hal tersebut membuat amarah timbul dalam dirinya.

 

Ia merasa sangat marah sampai ia hampir tidak bisa menahan diri. Kini ia tiba-tiba merasakan desakan hebat untuk menghajar pria bernama Park Dongjoo itu. Tidak, menghajar saja tidak cukup. Ia bahkan bisa membunuh orang itu. Jika ia tahu kejadian ini sebelumnya, ia pasti tidak akan membiarkan Dongjoo lolos begitu saja di rumah sakit dan sekarang ia yakin tentang suatu hal bahwa dulu saat ia menghajar Dongjoo pasti juga di sertai alasan kuat. Baekhyun tak tahu apa alasan itu tapi Baekhyun tahu laki-laki seberengsek Dongjoo memang pantas mendapatkannya.

Suara deheman sopir taksi menarik Baekhyun ke alam sadar. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu mengeluarkan beberapa lembar uang won sebelum akhirnya berjalan pelan di belakang Yoonjoo. Ia mengikuti gadis itu berjalan ke arah rumahnya, langkah gadis itu terlihat berat tapi tak seberat hati Baekhyun sekarang. Ia begitu marah mengetahui kenyataan bahwa gadis itu hidup dengan membawa beban hingga membuatnya jadi pendiam seperti sekarang. Saat mata Baekhyun menangkap langkah Yoonjoo yang terhenti di depan sebuah rumah, ia tahu mereka sudah sampai dan saat itu pula Baekhyun menarik tangan gadis itu hingga berhadapan dengannya.

Mata Baekhyun memperhatikan wajah Yoonjoo yang nampak terkejut. Bekas air mata masih kentara disana membuat tangan Baekhyun terangkat untuk menghapusnya dengan lembut.

“Kau tidak akan mengalami hal seperti itu lagi. Aku berjanji, jadi jangan pernah menangis saat aku tidak bersamamu” Bisik Baekhyun

Mereka berpandangan sesaat sebelum akhirnya Baekhyun memutuskan untuk menautkan bibir mereka. Baekhyun menempelkan bibirnya dengan hati-hati dan lembut, mengecupnya berulang kali hingga ia merasa sudah cukup lega.

“Masuklah” Ujar Baekhyun sambil mengelus lembut pipi Yoonjoo, gadis itu hanya mengangguk

Tepat saat Baekhyun berbalik, Yoonjoo membuka mulutnya “Baekhyun…”

“Hmmm?”

“Hati-hati di jalan. Selamat malam”

Baekhyun tersenyum ringan “Selamat malam”

 

Headline news, 22 September 2010

            Sidang kasus pemerkosaan yang terjadi di daerah Dankook Junior High School dengan korban  berinisial HYJ dan pelaku bernama Park Dongjoo hari ini resmi di tutup. Dalam sidang yang di gelar di kejaksaan tinggi Pyeongtaek tersebut, hakim memutuskan hukuman 4 tahun penjara beserta denda yang jumlahnya di sembunyikan dari para wartawan. Banyak orang yang memprotes tentang singkatnya hukuman yang di terima oleh pelaku namun Hakim menjelaskan bahwa hal tersebut berdasar pada fakta yang ada seperti pelaku yang masih di bawah umur dan ia melakukan hal tersebut saat dalam pengaruh alkohol.

 

To be continue……

Part ini agak saya panjangkan karena saya sekalian mau minta maaf, minggu depan saya mau hiatus. Saya lagi banyak tugas kuliah jadi mohon pengertian dari readers yang budiman. Sekian dari saya & terima kasih~

72 pemikiran pada “Thorn Of Love (Chapter 8 : Tell Me Why)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s