Werewolf (Chapter 8)

WEREWOLF 

Chapter 8

Title : Werewolf [Chapter 8]

Author : gabechan (@treshaaruu)

Genre : Fantasy, Tragedy, Thriller, and maybe Romance?

Length : Chapter (on going)

Rate : T

Main Cast : Park Chanyeol, Lee Hyejin, Wu Yifan (Kris), Oh Sehun

(there’s a new other cast, not main cast haha~)

 

FF ini terinspirasi dari lagu VIXX “Hyde” dan EXO “Wolf”

 

Hai, hai! Aku kembali setelah hiatus yang sangaaatt lama^^ maaf membuat kalian menunggu berbulan-bulan. Makasih buat readers yang masih nunggu kelanjutannya~ Setelah bebas dari UN pun aku masih disibukkan dengan urusan perpisahan. Yah jadinya FFku agak terbengkalai. Nah semoga chap ini bisa nebus dosaku karena terlalu lama update yaaa~~ Oya, aku juga lagi buat sequel Love Love Novel! Yang belum baca Love Love Novel, monggo dibaca hehehe..

Hope you’ll like it and Happy Reading!!

 

NO PLAGIARISM, THIS IS PURE MINE!

 

***

“Chanyeol-ssi, dari semua hal kejam yang telah kualami, hal terkejamnya bukan kematian. Tapi menunggu kematian itu sendiri.”

***

 

Previous:

Hyejin berusaha menjernihkan pikirannya. Ia benar-benar takut kalau-kalau kemungkinan terburuk akan terjadi padanya. Untuk memastikan hal itu, ia menatap langsung kedua mata beriris merah milik Sehun.

Menyadari apa yang sedang dilakukan gadis itu, Sehun menyeringai. “Wah, aku lupa mengatakan padamu kalau dengan menatapku langsung seperti itu bisa berakibat fatal.”

Sehun menyibakkan rambut yang menghalangi wajah Hyejin dengan pelan. Satu lagi kesalahan fatal yang Hyejin lakukan adalah memalingkan wajahnya ke kiri. Gerakan itu membuat leher Hyejin semakin terekspos jelas. Sehun semakin tidak sabar melakukan aksinya ketika melihat hal itu.

Lelaki itu pun semakin mendekatkan wajahnya pada Hyejin, lalu berbisik, “Ini…akibatnya.”

Hal terakhir yang Hyejin lakukan adalah menutup matanya rapat-rapat dan menyebut satu nama dalam pikirannya.

 

Park… Chanyeol…

***

 

Chanyeol POV

 

Mencari tempat yang jauh dari jangkauan indra penciuman laki-laki brengsek itu tidak gampang. Oh   maksudku   laki-laki brengsek dengan rambut pirang menggelikan itu. Karena indra penciumannya yang lebih tajam, aku harus menempuh jarak yang cukup jauh dari tempat peristirahatan sementara kami.

Ya, tempat peristirahatan.

Sebuah bukaan di tengah hutan menjadi tempat peristirahatan sementara kami. Tempat peristirahatan itu bahkan tidak bisa dibilang aman. Resikonya pun besar. Selain gangguan dari makhluk lain yang mungkin berkeliaran di sekitar bukaan itu, teror yang akan Kris berikan mungkin lebih buruk dari yang kami bayangkan.

Mungkin laki-laki itu telah memberi perintah pada anak buahnya yang tidak kalah berbahayanya untuk menangkap kami. Bukan aku atau Sehun sasaran utamanya. Hyejin. Gadis itu mungkin tidak punya gambaran akan seberapa berbahayanya keberadaannya saat ini. Aku dan Sehun tahu itu. Sebagai perlindungan, Sehun dengan sukarela menggunakan kekuatan supranaturalnya untuk mengacaukan bau kami. Ia mengendalikan udara dan mencampur bau kami dengan bau makhluk lain yang menghuni hutan ini.

Menurutku, cara itu cukup ampuh. Buktinya, sejauh ini tidak ada satu serangan pun yang kami terima. Meskipun begitu, laki-laki pirang itu belum bisa dipercaya, mengingat ia dulunya memihak Kris.

Sebelum pergi, aku sudah memperingatkannya untuk tidak membahayakan Hyejin. Aku mengatakan padanya agar ia bersikap sedikit lembut dan membuat gadis itu merasa aman selama aku pergi. Yah, memang cukup sulit berbicara dengan laki-laki sepertinya. Bahkan, hanya menerima tanggapan berupa sebuah anggukan malas adalah pertanda bagus.

Ketika aku benar-benar ingin pergi, Sehun tiba-tiba menarik pergelangan tanganku. Tadinya, kukira ia terlalu mendalami pembicaraan kami sampai ia lupa bahwa ini bukan tempat yang tepat untuk ber-drama ria.

Setelah mendapat tatapan terkejut dariku, laki-laki pirang itu menyeringai. Tiba-tiba saja ia menonjok perutku dengan keras, membuatku terpelanting sejauh 4 meter. Dan sebelum aku pulih dari gerakannya yang tiba-tiba itu, Sehun berjongkok di sebelahku, mengarahkan tangannya pada bagian tubuhku yang penuh luka cukup parah.

Kurang lebih, itu kejadian yang kuingat sebelum aku sampai di sini.

Setelah tertatih-tatih selama beberapa menit (waktu berjalan sangat singkat saat kau bisa melompati beberapa pohon), akhirnya aku memutuskan untuk berhenti di bawah sebuah pohon tua yang besar. Aku duduk bersandar pada batang pohon yang besar ini, mengisi paru-paruku dengan udara untuk sejenak.

Luka-lukaku belum sepenuhnya sembuh walaupun Sehun sudah membantu memulihkan luka-luka itu dengan kekuatan healing-nya. Mungkin ia akhirnya sadar bahwa luka-luka pada tubuhku sebagian besar disebabkan olehnya, sehingga ia dengan sukarela menyumbangkan kemampuan istimewanya itu.

Aku membiarkan sel-sel dalam tubuhku mengambil alih. Setiap manusia serigala bisa menyembuhkan dirinya sendiri dalam waktu singkat. Itu kalau kondisi tubuh mereka tidak seburuk kondisiku. Dengan kata lain, penyembuhan diri itu akan berlangsung sedikit lebih lama dari biasanya jika kondisi tubuh sedang lemah. Mungkin kalau kalung itu ada padaku, benda itu bisa bermanfaat untuk kondisi yang memprihatinkan seperti ini.

Berbicara tentang kalung mengingatkanku dengan gadis itu.

Masalah ini sebenarnya tidak akan menjadi rumit kalau saja aku bisa dengan mudah membunuhnya. Anehnya, tiap kali aku ingin melakukannya, ada sesuatu yang berusaha untuk mencegahku. Ada sesuatu yang tidak mengizinkanku untuk membunuhnya. Entah itu karena aku yang memang pengecut atau gadis itu punya semacam selubung transparan yang bisa mencegahnya terbunuh. Perkiraan kedua jelas tidak mungkin.

Semuanya berawal dari kebodohanku yang tiba-tiba saja masuk ke dalam restoran itu. Kalau saja aku tidak datang dan bertemu dengan gadis itu, mungkin tidak akan ada yang harus dibunuh dan membunuh.

Tidak akan ada.

“Aarghh…haah..haahh..”

Aku mengerang saat luka cambuk pada bagian perutku mulai menutup. Jemari tanganku mencakar tanah saat rasa sakit luar biasa terasa sampai ke ubun-ubun. Aku tidak bisa berbuat apapun selain duduk lemas di sini sampai luka-luka ini benar-benar sembuh.

Sebenarnya penyembuhan diri ini butuh tenaga yang besar. Kalau memaksakan diri dengan tenaga yang tidak mencukupi, entah tubuhku akan terbakar atau

 

[Park… Chanyeol…]

 

Tunggu. Bukankah itu…

 

[Tolong..]

 

Suara ini..

 

Hyejin?

 

…..

 

Ya! Apa yang terjadi?! Lee Hyejin!

 

Tidak ada jawaban.

 

Gadis itu dalam bahaya.

Ia tidak sadar kalau aku pernah membuat suatu hubungan telepati dengannya. Terakhir kali ia berbicara dalam pikirannya adalah saat kami hampir mati di dalam ruangan tempat Sehun merantaiku. Karena itu, bukan tanpa alasan ia berbicara dalam pikirannya kali ini. Ia memang dalam bahaya.

Dengan terengah-engah, aku membenarkan posisi dudukku, bersandar pada pohon di belakangku. Aku memejamkan mataku sejenak.

 

 Oh Sehun, apa yang terjadi di sana?! Ya, Oh Sehun!

 

Sial! Laki-laki itu menutup pikirannya. Apapun yang sekarang ia lakukan, Hyejin pasti terlibat. Dan Sehun harus punya alasan yang jelas mengapa ia menutup pikirannya. Oh, kecuali…

“Haah..haah..Oh Sehun…kubunuh kau!”

Tanpa pikir panjang, aku membiarkan tubuhku berubah. Walaupun perubahan saat ini hanya terjadi pada mata, gigi dan kakiku, setidaknya hal itu bisa membuatku melompati beberapa pohon sekaligus. Kini waktu sangat berharga. Terlambat beberapa detik saja, nyawa Hyejin bisa hilang.

Kemarahanku semakin memuncak ketika asap dari api unggun tempat peristirahatan mulai terlihat. Aku berlari, melompati semak, lalu langsung menerjang Sehun yang sedang memojokkan Hyejin di batang pohon tua itu.

Sehun terhempas ke tanah dengan keras sambil meringis. Aku menggeram di depan wajahnya, meninjunya dan hendak merobek wajahnya ketika ia dengan cekatan menepis tanganku.

“APA YANG KAU PIKIRKAN, HAH?!” teriakku.

Yang kudapati dari laki-laki brengsek ini hanyalah tawa mengejek. Ia bangkit dari posisinya dan berdiri di hadapanku sambil mengelap darah di bibirnya akibat tinjuan yang kuberikan.

“Aku mau menuruti perkataanmu bukan karena aku berada di pihakmu, Park Chanyeol.” ucapnya, “Bukankah hal itu sudah jelas? Aku tidak memihak siapapun lagi.

Aku menatapnya nanar. Percuma beradu mulut dengannya, ia hanya akan membuatku berakhir babak belur lagi. Aku menarik napas perlahan seiring dengan perubahan tubuhku menjadi normal kembali. Sehun menyibukkan dirinya dengan kekuatan healingnya selagi aku mengecek keadan Hyejin.

Gadis itu pingsan, lagi. Tapi kini dengan luka gores dan darah segar pada leher kanannya.

“Katakan padaku kau tidak  

“Tentu saja tidak. Aku hanya menakutinya dengan menggoreskan telunjukku. Gadis itu mengira aku akan mengisap darahnya.”

Denyut nadinya masih terasa. Ya, gadis ini hanya pingsan. Aku merengkuhnya lembut, lalu menatap nanar Sehun.

“Cepat hentikan pendarahannya. Belum saatnya ia mati.”

 

_____

 

04.00 AM

 

Gwenchana?

Hyejin tidak langsung menjawab.

Gadis itu mengerutkan dahi, mendapati dirinya terselimuti dedaunan kering. Well, Oh Sehun sekali lagi berbaik hati. Laki-laki itu kembali dari pelariannya dengan membawa segunung dedaunan kering. Yah, bukan membawa, lebih tepatnya menggunakan udara untuk membawakan tumpukan daun-daun itu.

Memang, suhu udara menurun drastis. Aku bahkan mendapati diriku menggigil.

“Minumlah. Kau akan merasa sedikit lebih baik.” Aku menyodorkan segelas air hangat padanya.

Matanya membulat sebesar kelereng ketika melihat gelas yang kupegang. Ia bertanya darimana gelas itu kudapat, karena ia yakin di hutan ini tidak ada barang pecah belah sama sekali. Aku hanya angkat bahu dan mengatakan kalau Sehunlah yang menemukannya.

Hyejin hanya mengangguk sambil menyentuh bagian lehernya yang terluka. “Berapa lama aku pingsan?”

“Tiga jam. Mungkin kau juga sempat tertidur.”

Aku menoleh, mendapati Hyejin masih menyentuh lehernya dengan hati-hati. Dari seluruh insiden yang gadis itu alami, inilah yang terburuk.

“Luka itu akan sembuh.”

“Kuharap begitu,” gumamnya. “Apa yang kau lakukan saat itu sampai kau menyuruh Sehun menemaniku?”

“Bukan urusanmu.”

“Kukira kau tidak akan datang dan aku akan mati saat itu juga.” Hyejin menatapku dengan mata sendunya, “Sekarang ada dua orang yang ingin aku mati, ya.”

Aku terdiam. Seketika kedua mataku lebih tertarik pada kakiku yang terlihat menjijikkan ini. Kalimat itu terus terngiang dalam pikiranku seperti rekaman suara yang rusak. Di satu sisi, aku mengiyakan perkataannya. Namun di sisi lain  entah sisi yang mana  aku menyadari perkataannya itu lebih seperti renungan untukku.

“Telepati yang kubuat dalam pikiranmu menyelamatkanmu,” aku mengalihkan topik, “kalau itu tidak ada …”

Hyejin menekuk lututnya dengan wajah muram. Aku yakin ia tahu apa kata selanjutnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan tentang kalimatku, tampaknya bukan hal yang menyenangkan untuk dibagi.

Beberapa detik kemudian, gadis itu mengeluarkan tawa frustasi. Ia, lalu, menatapku dengan mata sendunya, “Jadi, aku punya kekuatan super? Haha. Betapa kerennya itu!”

Gadis itu menghentikan tawanya. Helaan napas berat lolos dari mulutnya.

“Kau tahu, aku tidak pernah berpikir cerita yang sedang kubuat menjadi kenyataan. Dan saat aku merasakannya sendiri, aku sadar kalau aku sudah sangat kejam terhadap tokoh utamanya. Mungkin ia sedang membalas dendam karena aku telah membuatnya tersiksa. Ia mengutuk hidupku, sehingga aku ikut merasakan apa yang ia rasakan.”

“Setelah ibuku dan Kyungsoo meninggal, aku menyadari bahwa kutukan yang ia berikan benar-benar nyata,” Hyejin melanjutkan, “Ia menyiksaku dengan keji.”

“Chanyeol-ssi, dari semua hal kejam yang telah kualami, hal terkejamnya bukan kematian. Tapi menunggu kematian itu sendiri.”

Aku melempar ranting kayu ke dalam api unggun dengan kasar, lalu mendengus, “Jangan menasehatiku, gadis bodoh. Aku tahu semua hal tentang apa yang kausebut kematian itu. Yang kau bicarakan itu omong kosong. Harusnya kau melihat bagaimana temanmu yang bernama Kyungsoo itu memohon-mohon agar aku tidak membunuhnya. Kematian dan menunggu kematian itu sama kejamnya! Kami hidup untuk mewujudkan hal itu!”

Tak ada tanggapan. Yang terdengar darinya hanyalah napas yang tercekat.

“Kau… membunuh Kyungsoo..?” Cairan bening mulai memenuhi kedua pelupuk mata gadis itu.

Aku mengangguk tidak peduli. Beberapa detik kemudian, suara isakan terdengar di belakangku. Aku menoleh, lalu membentaknya untuk berhenti menangis. Meskipun aku bersimpati padanya, bukan berarti aku akan bersikap baik. Tidak peduli seberapa rapuh gadis itu saat ini, aku hanya ada untuk menyanderanya. Bukan sebagai seseorang yang muncul sebagai pahlawannya.

Napasku memburu, keringat mulai bercucuran di pelipisku. Entah kenapa aku merasa marah. Marah karena selama ini aku menjadi sama lemahnya dengan gadis itu atau karena aku membiarkan diriku kalah dengan perasaan. Mungkin keduanya.

Aku menggelengkan kepalaku sekuat tenaga. Mencoba menghentikan sesuatu yang sedang bergejolak dalam diriku.

 

Tidak, jangan sekarang!

 

Tangan kananku mencengkeram dada kiriku dengan kuat. Berharap hal itu bisa menghentikan perubahanku. Tak beberapa lama, aku merasakan diriku kembali tenang. Napasku mulai teratur.

Aku bangkit dengan sedikit terhuyung, menjauh dari gadis itu.

“Aku ingin jalan-jalan, tidak lama.” ucapnya pelan.

Suaranya masih sedikit bergetar. Aku mengacak rambutku, lalu mengusap wajahku kasar. Yang sangat kuinginkan saat ini adalah mendapatkan ketenangan. Aku menghela napas panjang.

 

“Pergilah..”

_____

 

Normal POV

 

“Semua berjalan sesuai perkiraanmu, Tuan.”

Lelaki yang dipanggil ‘tuan’ itu tersenyum tipis. Ia mendongak, memandangi langit-langit ruangan. “Tentu saja. Cepat jalankan perintahku.”

Setelah memberi hormat, lawan bicaranya pun keluar ruangan dengan langkah lebar-lebar. Lelaki yang sibuk memandangi langit-langit ruangan itu melangkah menuju jendela yang terbuka lebar, merasakan angin menerpa wajahnya.

Ia menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak mungkin. Ketika membuka mata, irisnya membiru. Tubuhnya sedikit bergetar, namun ia tidak mempedulikannya. Lelaki itu menyeringai puas.

Digenggamnya sebuah kalung berliontin kepala serigala. Terbuat dari kayu murni. Berkilau dalam cahaya yang minim. Lelaki berahang tegas itu mengamati liontin itu, seolah-olah berlianlah yang sedang digenggamnya.

Seringai kembali terukir di bibirnya.

“Park Chanyeol, apa kau sudah lama menungguku?”

 

_____

 

04.50 AM, Forest

 

Untuk kesekian kalinya, Hyejin merasa dirinya sangat bodoh. Ia harusnya bisa menjaga kata-katanya ketika sedang berbicara dengan lelaki jangkung pemarah itu.

Kemana otaknya pergi tadi sehingga ia dengan seenaknya membahas tentang kematian? Ya tuhan, seandainya ia sadar dengan siapa ia bicara. Bisa-bisa saat itu ia meregang nyawa karena telah membuat manusia serigala itu marah.

Yah, walaupun masih sulit bagi Hyejin untuk menerima hal ‘tidak biasa’ di sekelilingnya saat ini, pada akhirnya ia bisa menerima kenyataan bahwa ia sedang menjadi sandera dua orang manusia serigala.

Oh, mungkin lebih.

Hyejin masih ingat betul, bagaimana lelaki bertampang seperti pembunuh bayaran itu mengatakan hal yang membuatnya harus menjaga hidupnya baik-baik. Siapa namanya? Kevin? Oh, bukan. Namanya Kris. Memikirkan nama itu saja membuatnya bergidik.

Melihat tatapan menusuk yang Chanyeol berikan tiap kali lelaki bernama Kris itu berbicara kepadanya, Hyejin menyimpulkan bahwa mereka tidak berada dalam hubungan pertemanan yang harmonis. Oh, haruskah Hyejin menyebutnya ‘pertemanan’? Chanyeol sepertinya tidak akan setuju jika Hyejin mengatakan hal itu di hadapannya.

Hyejin menendang ranting kayu yang menghalangi jalannya. Ia berhenti sejenak, mengambil napas, lalu memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada makhluk lain yang menghuni hutan ini selain pepohonan tua dan semak. Gadis itu menghela napas. Sebelum pergi, Chanyeol memberi peringatan kepadanya   dengan nada dingin   agar tidak pergi terlalu jauh. Ia mengatakan ada banyak makhluk yang bersembunyi di hutan ini, sehingga Sehun sudah membuat semacam pembatas transparan.

Dan kupikir, pembatas transparan itu hanya berlaku untuk makhluk-makhluk yang Chanyeol katakan. Ia tidak menyebutkan kalau itu berlaku juga untuk Kris.

“Hiks…hiks…”

 

Hyejin berhenti melangkah. Gadis itu menyibakkan rambutnya ke belakang telinga, mendengarkan. Kakinya menuntunnya pada sebuah bukaan lainnya yang dikelilingi semak-semak yang cukup tinggi.

Suara tangisan itu semakin keras ketika Hyejin mulai masuk ke dalam semak-semak itu. Ia tak peduli kaki dan tangannya yang sekarang penuh dengan luka kecil karena tergores semak yang tajam. Akal sehatnya kalah dengan perasaan senang yang meledak-ledak. Akhirnya ia bisa bertemu dengan manusia lain yang sama sepertinya.

“Ah, adik kecil. Kau baik-baik saja?”

Hyejin kebingungan. Bocah di hadapannya ini terus menangis. Dilihat dari pakaiannya yang lusuh dan betapa kotornya tubuhnya, Hyejin yakin bocah ini tersesat. Well, Hyejin tahu tersesat di hutan bukanlah hal yang menyenangkan.

“Apa kau tersesat?” Pertanyaan yang sudah Hyejin ketahui jawabannya.

Bocah itu mengangguk pelan. Melihat tanggapan baik dari bocah itu, Hyejin tersenyum. Ia menyingkirkan rambut panjang bocah itu dari wajahnya yang basah karena air mata. Anak ini memiliki mata yang indah dengan iris berwarna coklat sama seperti miliknya, wajah cantik yang juga terlihat imut, dan hidung serta bibir yang mungil.

“Huss.. berhentilah menangis.. Aku akan mencari jalan pulang ke rumahmu.”

“Be  benarkah..?”

Hyejin mengangguk yakin, “Tentu saja. Nah, sekarang, ayo bangun.”

Bocah itu berdiri dengan sedikit terhuyung sehingga Hyejin harus menopang tubuhnya. Hyejin tersenyum menatap gadis kecil itu, lalu merapikan pakaiannya yang sangat berantakan. Tubuhnya yang kurus sedikit bergetar karena dinginnya suhu udara saat ini.

“Baiklah.. Ke arah mana rumahmu, ya?” Digenggamnya tangan mungil bocah itu. Hyejin memunggunginya, menoleh ke kiri-kanan, menimbang-nimbang apakah ia harus mengambil jalan di kanan atau kirinya.

Sedetik kemudian, terdengar suara kekehan mengerikan di belakangnya. Gadis itu menoleh dengan cepat. Tak ia sangka akan secepat ini ia mengalami mimpi buruknya.

“Gadis manis.. Itulah kelemahanmu. Hatimu terlalu lembut, sayang.”

Erangan sempat lolos dari mulut Hyejin ketika pergelangan tangannya dicengkeram begitu kuatnya. Ia tak bisa kemana-mana. Semua jalan keluar telah ditutup oleh wanita di hadapannya ini.

Hyejin meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman wanita itu. Tangannya yang bebas berulangkali memukul tangan kuat yang mencengkeramnya.

“Kau begitu mudah dibodohi,” wanita bersorot mata tajam itu tersenyum, “ayo kita pergi.”

 

_____

 

Chanyeol bangkit dari posisinya ketika samar-samar suara teriakan ia dengar.

 

Hyejin?

 

Pikirannya menyuarakan apa yang ingin ia katakan. Chanyeol menggeleng, tidak mungkin gadis itu dalam bahaya. Tidak ada siapapun di hutan ini selain dirinya, Sehun, dan gadis itu.

Chanyeol kembali duduk di depan perapian. Merilekskan seluruh indranya, lelaki itu menutup mata. Menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. Begitu berulangkali, sementara pikirannya mulai melayang.

Pertemuannya dengan Kris terakhir kali bukanlah pertemuan hangat. Chanyeol tahu, lelaki itu sedang merencanakan sesuatu. Lelaki brengsek itu tidak akan mudah tersenyum (yah, walaupun senyumnya selalu berupa seringai), kecuali ketika suasana hatinya sedang baik. Dan kalau suasana hatinya sedang baik, itu merupakan pertanda buruk. Kris atau Wu Yi Fan (terserah kau ingin memanggilnya apa) memiliki persepsi berbeda terkait dengan suasana hati.

 

 

Telinga Chanyeol mendeteksi sebuah pergerakan. Chanyeol membuka matanya, masih dalam posisi duduk, mulai mendengarkan. Telinganya kembali mendengar suara ranting-ranting patah terinjak. Tepat di belakangnya. Chanyeol duduk dengan posisi siaga. Lelaki itu menolehkan kepalanya ke kanan, melirik dari sudut matanya.

 

SREK. SREKK.

 

Instingnya mengambil alih. Chanyeol berdiri, lalu berbalik. Taring telah memenuhi mulutnya. Ia menggeram layaknya serigala dan merangsek maju. Tepat saat itu, seorang lelaki bertubuh atletis keluar dari semak-semak, melancarkan tinjunya ke wajah Chanyeol.

Yeah, Chanyeol terlempar kira-kira empat meter.

Annyeong, Park Chanyeol!” sapa lelaki itu riang, sudah berdiri di hadapan Chanyeol.

Chanyeol berusaha bangkit dengan tubuhnya yang serasa remuk. “Si..siapa kau?”

“Ken, seingatku begitu.” Lelaki itu angkat bahu. Ia menatap Chanyeol dari ujung kepala sampai kaki, lalu bersiul.

“Apa?!”

“Kau tahu, Kris menyuruhku menjemputmu. Tak kukira aku akan berhadapan dengan manusia serigala kurus kering sepertimu.”

Chanyeol mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak memanggang lelaki asing itu.

Chanyeol menatap tajam Ken, “Dimana dia?”

“Kris? Oh, astaga! Sudah kuduga kau merindukannya! Tenang saja, dia  

“DIMANA GADIS ITU?!” Ketika Chanyeol berteriak, dinding api setinggi tiga meter muncul entah darimana, mengelilingi mereka. Chanyeol menggeram, lalu melangkah mendekati Ken yang hampir menangis seperti bayi. “DIMANA DIA?!”

Ken menarik napas dalam-dalam, menatap kedua mata Chanyeol yang penuh dengan kemarahan. Kedua bola mata itu seolah ikut memancarkan api. Ingin dirinya selamat, Ken mengangkat kedua tangannya, tanda damai.

 

“Tenang, bung,” ucap Ken, “ikut aku.”

 

 

[To be Continued]

22 pemikiran pada “Werewolf (Chapter 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s