Cynicalace (Chapter 9)

cyc-3co

Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

Disclaimer: Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi,  dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

–Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

–Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

–Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

–Park Chanyeol–

Author’s Note:

Annyeongg~ *liat kiri kanan, ada orang?* hohoho~ akhirnya Cynicalace Chapter 9 di post juga hehehe.. semoga chapter ini tidak mengecewakan yahh ^^

Baiklah mari kita panjangin sama sedikit kisah kasih author tentang chapter ini *eng.. Bahasanya gak enak ya?* #plak

Bagi yg kangen ama kaihae, akhirnya di chapter ini momment yg hanya mereka berdua nongol lagi yeayyy.. Apa mommentnya? Silahkan dibaca chapter ini.. Hehehe~ Reyeol msh ttp ngeksis di chap ini, jangan bosen yah ㅠ.ㅠ

Sebegitu saja ya(?) karena authors gak suka spoiler, dan emang gak enk kalau spoiler..

Lalu seperti biasa,

Makasih buat yang udh comment!! Authors bacanya terharu! Ada yang kocak, ada yang membantu typo authors.. POKOKNYA GOMAWOYO SARANGHAE!

Authors selalu menunggu komment kalian!!

HAPPY READING!

___

 

-:Ilhae’s PoV:-

Sayang sekali hari-hari berlalu dengan sia-sia… Di saat semua teman-temanku melakukan liburan tahun baru dengan keluarga bahkan sampai pulang ke kampung halamannya – termasuk Rein – aku hanya mendekam di apartemen yang membosankan. Sebenarnya aku juga ingin pulang – kalau saja eommaku juga sedang libur dan tidak harus terbang ke Thailand karena perkerjaanya.

Namun ketidakpulanganku juga cukup membuahkan hasil. Ketika aku sedang mengeluh tentang liburanku yang membosankan ini aku mendapatkan pekerjaan.

Semuanya bermula dari Chanyeol yang dengan bodohnya menggangguku.

Chanyeol: Hei Geum Ilhae yang tidak berlibur! Apa yang kau lakukan? Hahaha.

Lihat saja pesannya yang membawa perkara itu dan aku membalasnya.

Ilhae: Diamlah bodoh! Kau juga tidak berlibur! Kau masih di Seoul!

Dan dia mengelak.

Chanyeol: Oh tidak, kali ini aku berkunjung ke rumah pamanku yang tidak berada di Seoul. Kenapa kau tidak melakukan hal yang berguna saja?

Aku berdecak kesal.

Ilhae: Ceh! Apa yang harus aku lakukan di musim liburan begini bodoh?

Chanyeol: Bekerja mungkin? Kau tahu bukan semua lapangan pekerjaan membutuhkan orang sepertimu karena pekerja asli mereka menuntut liburan.

Ilhae: Jangan dengan gampangnya kau menyarankan! Mana bukti nyatanya?!

Setelahnya Rein mania itu tidak membalas pesanku lagi sampai tengah malam – untung saja aku sedang sibuk dengan film comedyku sehingga ia tidak menganggu waktu tidur.

Chanyeol: Baiklah kau menuntut bukti nyata ini dia! Sepupuku yang universitasnya bersebelahan dengan perpustakaan umum mengatakan kalau mereka membutuhkan pekerja tambahan. Dan temannya yang juga bekerja di sana mungkin bisa memberikanmu pekerjaan itu? Kau mau tidak? Kau bisa mulai besok.

Aku menaikkan alisku dan anak ini benar-benar tidak main-main. Menghargai usahanya dan ingin mencoba aku mengiyakan.

Jadilah besoknya aku berangkat dengan berbekal sweater hangat dan rupa yang rapih – rambutku di ikat kucir kuda rapih, memakai softlens, kaus lengan panjang, dan jeans.

Dan sekarang aku sudah berada diantara rak-rak buku untuk memasukkan kembali buku-buku yang telah di pinjam. Aku cukup menyukai pekerjaan ini, berada di antara buku-buku dan terkadang mencuri baca di saat sepi – sangat sesuai dengan seleraku.

Drrt… Drrt….

Aku menghentikan pekerjaanku dan merogoh ponsel.

Chanyeol: Bagaimana dengan pekerjaanmu? Kau masih bekerjakah? Ini sudah genap 2 hari.

Dia mencemoohku.

Ilhae: Heuh! Tentu saja aku masih bekerja, jangan remehkan aku. Aku ini serajin Jung Rein!

Dan aku menyesal kemudian…

Chanyeol: Well terserah saja. Apakah Rein ada di Seoul?

Dia langsung saja melupakan maksudnya dan beralih pada Rein.

Ilhae: Tidak, dia berlibur ke kampung halamannya. Wae?

Chanyeol: Apakah kau tahu alamatnya?

Ini amat sangat annoying, anak ini benar-benar. Dengan kekesalan tingkat tinggi aku membalasnya dengan nada mengancam kalau namja itu harus berhenti menanyakan tentang Rein dan fokus pada dirinya sendiri. Demi reputasi kewarasannya.

Ilhae: Heol! Aku tidak akan memberitahumu! Ingat jaga reputasi kewarasanmu Park Chanyeol!

“Aish, jjinja?! Namja ini sakit jiwa atau apa?!” untuk terakhir kalinya aku memelototi layar ponselku.

Setelah mengembalikan buku-buku yang berada pada rak paling atas aku turun dari tangga dan kembali pada tempatku dibalik meja tempat semua orang menyerahkan buku yang akan di pinjam atau untuk di kembalikan.

 

-:Author PoV’s:-

Seorang namja dengan nama lengkap Kim Jongin berhenti di depan sebuah pintu kaca. Langkahnya terhenti di sana dan kakinya menolak untuk memasuki gedung yang kadar kehangatannya lebih tinggi daripada udara diluar. Di dalam batinnya namja itu terus-terusan mengeluh karena ia harus mengunjungi tempat menyebalkan bernama perpustakaan. Tentu saja kalau bukan karena tugas tambahan dari dosennya yang menyebalkan ia tidak harus meminjam buku yang mengandung sejarah tentang mata kuliahnya itu.

Seumur hidupnya saat-saat ia menyukai perpustakaan adalah ketika ia bisa tidur dengan damai di sana, tapi sekarang mau tidak mau ia harus masuk jika ingin lulus mata kuliahnya atau lebih tepatnya tidak di marahi Kyungsoo.

Begitu berjalan masuk hal yang membuatnya jengkel adalah ia tidak menemukan orang yang seharusnya bertugas – yang intinya adalah ia harus mencari sendiri buku yang dibutuhkannya. Matanya menyisir isi perpustakaan yang lumayan luas tersebut, perputakaan itu sepi tapi beberapa orang yang nampak rajin sedang bergelut dengan buku masing-masing. Mengabaikan keadaan tersebut ia mencari-cari di mana lorong yang ia butuhkan.

Matanya yang tajam tersebut dengan cepat menemukan kebutuhannya dan kakinya langsung melangkah ke sana. Tetapi hanya berselang satu rak ia menemukan siluet seseorang dengan banyak buku ditangannya yang langsung ia simpulkan sebagai pegawai perpustakaan. Berhasil menemukan orang yang bertanggung jawab dengan isi perpustakaan yang dikunjunginya Kai berjalan mendekati sosok tersebut.

Ilhae?

Ck?! Kenapa diantara ribuan orang asing di Seoul ia harus bertemu dengan yeoja itu lagi? Lalu seakan teringat akan sebuah pepatah picisan yang pernah ia dengar dari TV saat Kyungah sedang asik nonton Drama, kata- kata picisan itu terngiang di benaknya. ‘Semakin kau ingin menjauhi seseorang, sebenarnya kau akan semakin di dekatkan padanya. Itulah hidup.’ Mungkin kata- kata tersebut bisa menjadi background dalam situasinya kini.

Mengurungkan niatnya Kai berhenti dan memutuskan untuk berbalik meninggalkan yeoja yang masih terfokus pada pekerjaannya.

Namun suara getaran yang tidak bisa disembunyikan oleh kesunyian pepustakaan membuatnya berhenti. Matanya mengikuti gerak-gerik Ilhae – yeoja itu merogoh saku jeansnya dan mengeluarkan ponsel.

Untuk lima menit lamanya gadis itu terfokus pada layar ponselnya. Wajahnya yang menunjukkan berbagai ekspresi aneh membuat Kai bertanya-tanya apa yang sebenarnya ada di layar ponsel tersebut.

“Aish, jjinja?! Namja ini sakit jiwa atau apa?!”

Namja? Nugu? Jalan pikiran Kai langsung membawanya pada namja yang terlihat sok dekat dengan yeoja itu ketika di Jeju dan kenyataan kalau pikirannya masih bisa mengingat insiden tersebut membuatnya merengut.

Untuk apa kau peduli pada yeoja menyebalkan itu , batinnya menyentak.

Namun kesadarannya malah membawanya mengikuti setiap langkah Ilhae yang berjalan diantara banyak rak buku. Yeoja itu mengembalikan buku-buku yang berada di satu container plastik pada tempatnya.

Awalnya ia mengira melihat kecekatan bekerja yeoja itu cukup menganggumkan, tapi ia buang kembali pikiran itu jauh-jauh ketika pelahan-lahan Ilhae menjatuhkan beberapa buku atau mengomel karena salah memasukkan buku menurut kategori. Yang paling membuat dirinya was-was adalah ketika Ilhae menarik tangga beroda yang digunakannya untuk mengembalikkan buku-buku yang berada di rak teratas. Sekali dua kali yeoja itu hampir terjungkal ketika duduk dianak tangga paling atas. Terjadi pula tangga tersebut bergeser akibat posisi tubuh yeoja itu yang terlalu condong ke kanan atau ke kiri.

Dari tempat pengamatannya Kai sudah banyak kali ingin maju dan menegur kecerobohan yeoja itu, bahkan ia merasa harus berada di dekat tangga tersebut kali-kali yeoja itu benar-benar terjatuh.

Terjadilah ya terjadilah. Ilhae tercekal kakinya sendiri ketika menuruni anak tangga terakhir. Kai hampir berlariuntuk menghampiri Ilhae tapi langkah gadis itu yang lebih cepat bangkit membuatnya berhenti. Setelah mengesampingkan tangga dan membawa kembali container plastik dalan dorongannya yeoja itu melitas begitu saja dengan dirinya yang langsung melompat bersembunyi dibalik rak.

“Ehem.”

Kai menoleh dan menyadari kalau ia hampir menabrak seorang ajhussi dalam prosesnya. Segera saja ia membungkuk meminta maaf dan segera ingkah dari tempat tersebut.

Pada akhirnya ia mencari buku yang dibutuhkannya sendirian dan begitu mendapatkannya ia menuju meja yang kali ini telah berisi seorang Ilhae. Gadis itu sedang membaca buku ketika ia menghampirinya.

“Hei.”

“Ah, mian…. Kai?” yeoja itu menatapnya dengan mata membulat.

“Siapa lagi.” Ia menyerahkan buku yang dipinjamnya dan Ilhae menerima buku tersebut. Dengan gerakan cepat Ilhae menscan buku tersebut dan memasukkan datanya ke komputer.

“Kartu perpustakaanmu?” pinta Ilhae.

Kai merogoh dompetnya dan memberikan kartu perpustakaannya.

“Universitasmu berada disekitar sini?” Ilhae bertanya sembari mengamati kartu tersebut.

“Tidak, hanya rumahku.” Jawab Kai singkat.

“Ah… ini.” Ilhae menganggukkan kepalanya dan mengembalikan kartu beserta buku pada Kai.

Tepat setelahnya ponsel Ilhae bergetar dan yeoja itu segera mengambil ponselnya.

“Jam makan siang.” Gumannya.

Hal termudah yang bisa dilakukan Kai adalah pergi saat itu juga karena misinya berada di tempat kuno – menurutnya, sudah selesai.

Di sisi lain Ilhae sedang berusaha selama mungkin untuk berkemas agar Kai segera enyah dari jarak pandangnya dan ia bisa mencari tempat makan dengan santai mengesampingkan ia asingdengan daerah tersebut. Hanya saja kemampuannya berbenah tidak selama itu sehingga ia tetap berdiri dan keluar dari mejanya ketika Kai masih berada di sana. Pada akhirnya ia harus berjalan berdampingan keluar dari gedung perpustakaan umum tersebut.

“Ah…” Di sisi lain Ilhae mengusap-usap jidatnya yang mencium pintu kaca perpustakaan. Begitu memfokuskan kembali pandangannya ia terdiam sejenak memandang punggung Kai yang berjalan menjauh menuju jalan raya.

Ya! Namja itu bahkan tidak meminta maaf kepadanya! Padahal namja itu yang membuat jidatnya mencium pintu kaca! Ilhae menghentakkan kakinya. Tapi tunggu sebentar, mengapa Ilhae sedang bertanya- tanya mengapa ia menyalahkan Kai? Padahal ‘kecelakaan kecil’ itu sebenarnya di sebabkan oleh keteledorannya sendiri? Mencoba tidak peduli ia melanjutkan langkahnya.

“Cih…. HAH!” Ilhae berjalan keluar menuju minimarket terdekat untuk membeli makan siangnya – nasi kepal.

-:Rein’s PoV:-

“Noonaaaa. Ponselmu bergetar lagi!” Aku segera menoleh ke meja makan ketika mendengar suara melengking milik Jung Reno – Namdongsaeng yang paling kusayangi.

“Abaikan saja! Itu tidak penting.” Lalu aku kembali memfokuskan diri pada acara televisi yang sedang kutonton.

Hah.. Masalah ponsel yang bergetar. Aku tahu siapa pelakunya. Dia menerorku dan menanyakan kabarku hampir setiap jam. Baiklah, mungkin dulu aku akan ngamuk besar dan memakinya yang telah menganggu kegiatanku. Tapi setelah kejadian di Pulau Jeju, di mana aku dengan senang hati menghabiskan hariku hanya bersama namja itu, kini rasanya aku tidak merasakan hal yang sama.

Namja itu, Park Chanyeol.

“Noona, Chanyeol itu siapa sih? Namjachingumu?” Aku tersedak biji dari buah anggur yang kini sedang kumakan.

Membutuhkan waktu semenit penuh untuk berhenti dari kegiatan batuk dan kembali memfokuskan diri. Terutama pada pertanyaan polos bocah bernama Reno itu.

“Bukan.”

Reno terkekeh. “Kkotjimal! Noona, cara dia memberimu pesan terkesan seakan-akan kalian adalah sepasang kekasih.” Wait… Aku segera membalikan tubuhku dan menemukan adikku yang sangat menyebalkan itu tengah memencet sesuatu di ponselku yang berada di tangan kanannya.

“Ya!! Apa yang kau lakukan?!”

Reno turun dari bangkunya dan segera berjalan mundur untuk menghindariku yang langsung menyergap tempatnya berdiri.

“Aigooooo… ‘Rein-ah, apa yang kau lakukan? Kapan kau akan kembali? Aku merindukanmu.’ Ya ampun, Noona sepertinya namja ini menyukaimu.” Sial! Dia membaca pesan-pesan Chanyeol yang bahkan aku tak sanggup membacanya lebih dari sekali karena itu membuat jiwaku tidak tenang karena mulai berbunga-bunga. WHAT? Berbunga-bunga?! Istilah macam apa ini! Geurrae lupakan. Jika membaca lebih lanjut saja aku takut,apalagi berani membalasnya, aku tidak berani. Sungguh. Jadi aku hanya mengabaikan semua pesan dan panggilannya.

“‘Rein, aku hanya memastikan. Kau tidak berubah membenciku lagi, kan? Oh ayolah. Jawab pesanku. Kalau tidak aku akan menelponmu.’ Noona, mengapa kau membencinya?”

“Reno! Kembalikan ponselku!!!” Reno berlarian di rumah sambil membaca pesan-pesan Chanyeol. Satu hal yang kusesalkan, aku tidak menggunakan sistem locked pada ponselku. Alasannya sederhana, sebelum ponselku diinvasi Reno, aku tidak mau repot-repot harus memasukan password yang terkadang aku sendiri saja suka lupa ketika berhadapan dengan ponsel. Tapi sekarang aku berargumen bahwa mengetikan password jauh lebih baik daripada namdongsaengmu yang masih bocah itu bertindak menyebalkan dengan membajak ponsel noona nya.

“Kau benar-benar tidak membalasnya. Panggilannya pun kau reject! Astaga kau melukai martabat namja!”

WHAT THE….

“YA!!!! Bocah!” Aku terus mengejar adik kesayanganku itu sampai-sampai aku harus terantuk kaki kursi panjang dan tersungkur ke depan. “APPO!!”

Bukannya menolongku yang kesakitan, Jung Reno hanya melirikku sekilas dan tersenyum kecil. “Noona, mau kubacakan pesannya yang baru saja sampai tadi? Begini katanya, ‘Rein, bogoshipo. Aku tidak bercanda. Kau harus membalas pesanku. Atau aku akan benar-benar meneror Ilhae untuk menanyakan keberadaan pastimu sekarang, dan menyusulmu.’ Wow. Namja ini daebak! Kau sedang ribut dengannya yah.. Baiklah, Jung Reno tidak bisa tinggal diam.”

Aku memijat tulang keringku yang baru saja terantuk kaki kursi, namun pandangan mataku terfokus pada adikku yang kelihatannya sedang mengetik sesuatu. “Apa yang kau lakukan?”

“Membalas pesannya lah, Noona. Tunggu sebentar…”

“Ya! Jangan macam-macam Jung Reno!” Aku mencoba bangkit berdiri dan hasilnya..

BRUKKKK

Aku kembali tersungkur, karena kakiku tidak siap menahan berat tubuhku.

“Kukembalikan ponselnya.” Reno menghampiriku, memberikan ponselku, lalu berlari sekencang- kencangnya meninggalkan ruangan… Sebelum aku berteriak.

“SIALAN KAU RENO!”

Apa yang dia kirim?!

Chanyeollie, nado bogoshipo. Aku bahkan tidak bisa bernapas dengan benar karena kau tidak ada disini. Kau tidak perlu menyusulku. Aku akan kembali dalam beberapa hari. Aku akan menjanjikan sebuah kecupan manis ketika kita bertemu. Annyeong.

WHAT THE HELL???!!!!!!!!!!

“JUNG RENOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!”

3 hari ke depan setelah insiden ‘pesan berdarah’ itu – aku sengaja memakai istilah horor untuk menyebutnya. Aku bahkan tidak berani menyalakan ponselku. Berarti sudah 3 hari ponselku dalam keadaan mati total, aku sedikit merasa bersalah pada Ilhae. Sebelumnya kami pasti saling mengirim pesan setidaknya sekali dalam sehari. Ku harap dia tidak menghawatirkanku.

“Reinnie, kaja.” Aku membalikan tubuh dan menemukan eomma sudah keluar dari rumah dengan karangan bunga di tangannya. Hari ini adalah hari terakhirku disini, sehingga aku memutuskan untuk mengunjungi sebuah tempat yang sudah sangat lama tidak kukunjungi.

“Reno tidak ikut?” Eomma menggeleng pelan, wajahnya berkerut.

“Reno tidak ikut. Dia seram melihat wajahmu yang selalu memelototinya setiap berpapasan dengannya.” Eomma terkekeh di ujung kalimatnya. Sementara aku hanya bisa mendengus.

Tahu diri juga bocah itu.

Tak mau memusingkannya, aku menggandeng lengan kanan eomma dan mengajaknya untuk segera berangkat.

Dalam kurun waktu 2 jam aku sudah sampai di tempat yang ingin kukunjungi.

Tempat itu adalah, tempat di mana oppaku terbaring, bersatu dengan tanah untuk selamanya. Makam Jung Rehyun.

“Sayang sekali appa mu sedang bekerja dan Reno menolak ikut. Padahal akan lebih indah jika kita sekeluarga datang kesini bersama- sama.” Renung yeoja paruh baya di sampingku sambil menyimpan karangan bunga yang ia bawa tepat di depan nisan Rehyun oppa.

Jung Rehyun adalah oppa yang paling kusayangi, usianya terpaut cukup jauh dariku. Saat aku masih berusia 6 tahun, dan Reno belum hadir di dunia. Ia sudah berusia 15 tahun tahun saat itu. Aku sangat mengagumi dan menghormati sosoknya yang hangat dan dewasa.

Masa kecilku sangat bahagia karena sosoknya yang selalu hadir di sisiku. Tak jarang aku bercerita keseharian hidupku padanya. Mulai dari hal yang kurang penting seperti ‘Oppa, hari ini ada pasir yang masuk ke mataku sehingga aku mataku berair sepanjang hari.’ Atau ‘Oppa, Daeyang membawa sosis bakar untuk bekalnya hari ini. Kapan yah kira- kira aku membawa bekal makanan mahal?’ Sampai hal yang lebih penting seperti, ‘Oppa, hari ini aku ribut dengan seorang namja. Dia menonjok perutku karena aku memarahinya karena dia merusak karya tulis sahabatku. Tapi aku tidak menangis loh, oppa.’

Namja bernama Jung Rehyun itu selalu mendengar setiap ceritaku. Aku sangat dekat dengannya – bahkan lebih dekat dibanding dengan eomma dan appa – hingga suatu hari ketika umurku 7 tahun aku mendengar kabar bahwa Rehyun oppa mengalami kecelakaan dahsyat saat ia melakukan camping dengan sekolahnya. Ia terguling jatuh dari dinding curam sebuah bukit.

Tuhan memanggilnya pulang saat itu. Aku hanyalah seorang gadis kecil yang menangis meraung-raung saat itu. Aku bahkan menolak makan selama hampir sebulan penuh. Aku hanya menangis sepanjang hari di dalam kamarku. Kehilangan Rehyun membuat jiwaku sangat terguncang.

Aku kehilangan sosoknya yang sangat berarti. Dan aku terlalu kecil untuk mengerti kata-kata ‘menerima kenyataan dan ikhlas’. Sampai pada akhirnya aku bangkit dan berjanji di depan makamnya setahun kemudian bahwa aku bisa melanjutkan hidup tanpa kehadirannya, tapi sosoknya akan terus berada di hatiku sampai kapanpun.

Ya, aku butuh waktu pemulihan hampir setahun untuk dapat melanjutkan hidup.

“Reinnie, eomma pergi sebentar. Ada yang perlu eomma bicarakan pada pengurus makam.” Suara lembut eomma mengembalikanku dari ingatan masa kecilku. Aku mengangguk sambil tersenyum.

Lalu ketika eomma sudah benar-benar hilang dari pandangan, aku berlutut untuk mensejajarkan pandanganku dengan nisan oppa.

“Oppa! Orenmaniya. Apa kabarmu? Kau pasti sedang makan enak di surga yah? Sampai sekarang aku masih jarang makan sosis bakar oppa. Walau sekarang aku sudah punya uang untuk membelinya, tapi jiwa akuntansiku tidak membiarkanku membuang- buang uang hanya karena ingin makan sosis bakar setiap hari.” Aku tersenyum. Sepertinya sampai kapanpun aku akan selalu berceloteh tidak jelas jika sudah berada ‘dihadapan’ Jung Rehyun.

Lalu sebuah percakapan yang sangat ingin kumulai dengan oppaku langsung terbesit dalam benakku.

“Oppa, kurasa kau pernah menyukai seorang yeoja bukan? Usiamu sudah 16 tahun saat itu. Miris sekali jika kau belum menemukan setidaknya cinta pertamamu. Aku ingin bertanya…”

Aku menghela napasku.

“Menyukai seseorang itu seperti apa rasanya?”

Aku selalu bisa lebih jujur terhadap oppa dibandingkan diriku sendiri. Belakangan ini ada sesuatu yang mengganjal benakku dan aku tidak bisa menahannya.

“Mungkin tidak, seseorang yang selalu kubenci bisa berubah menjadi seseorang yang kusukai? Terdengar mustahil kan? Ya. Logikaku mengatakan hal itu. Tapi anehnya hatiku mengatakan bahwa tidak ada yang mustahil.” Aku tersipu. Pembicaraan monolog ini terdengar aneh bagi orang lain. Tapi bagiku, pembicaraan ini menghangatkan hatiku.

“Ada seorang namja yang selalu kubenci sejak dulu. Tapi seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa keberadaannya yang seakan- akan selalu disisiku, membuatku merasa berbeda. Mungkin karena alasan aku membencinya, aku selalu bersikap kasar ketika dia ada. Tapi sekarang aku menyadari, bahwa saat aku tidak bersamanya. Hatiku bekerja sama dengan otakku untuk mencari- cari keberadaannya. Apakah itu normal oppa?” Aku membersihkan debu yang menutupi nisan Rehyun oppa, sambil melanjutkan ceritaku.

“Tidak yah. Tapi anehnya, ketika aku menerima keberadaannya dengan cara yang lebih halus dan juga melihatnya dari kacamata lain selain kacamata kebencian. Aku bisa merasakan betapa manis dan lembut perlakuannya untukku. Dan aku senang karenanya.”

Lalu ingatan tentang Jeju terngiang dalam sel-sel memoriku. Sepertinya sepulang dari Jeju pandanganku terhadap Chanyeol berubah hampir 180derajat.

“Aku makin ingin berada di sampingnya. Walaupun dia membuat duniaku berantakan sekali pun. Membuat jantungku berdebar karena tingkahnya, membuat wajahku memanas saat ia tersenyum dan menatap dalam mataku.” Akuku sambil tersenyum simpul.

“Aku tidak tahu apa yang dia rasakan untukku. Tapi, apakah mungkin ada kemungkinan bahwa aku sebenarnya menyukai namja itu?”

Suka? Pada Park Chanyeol?

Sebuah kata yang tidak pernah terlintas di benakku sebelum liburan di Jeju.

“Andai kau masih ada oppa, kau pasti bisa menjawab pertanyaanku.”

-:Author’s PoV:-

Di sebuah kamar, sesuatu bergerak dari balik selimut. Nampaknya sinar matahari siang menelusup dari celah selimut dan mengganggu sesuatu itu. Perlahan selimut tersibak dan muncullah Ilhae dari balik selimut, masih dengan mata setengah terpejam ia melarikan jari-jarinya pada helaian rambutnya.

“Jam berapa?” Gumamnya sambil meraih ponselnya dari nakas.

Beberapa menit berselang benda canggih itu menyala dan memberitahukan gadis itu jam berapa tepatnya. Mata Ilhae membelalak seketika.

“MWOYA?! JAM 11?!”

Dengan kecepatan kilat Ilhae menuruni ranjang dan membuka lemarinya. Tangannya mencari-cari baju yang pas untuk dipakainya menjemput Rein. Yap, hari ini adalah hari di mana Rein pulang dan dia memiliki kewajiban penuh sebagai sahabat yang merasa ditinggalkan kesepian untuk menjemputnya dan bertemu langsung dengan tersangkanya.

Jangnan aniya! Ia harus menjemput Rein tepat jam 12 dan sekarang dirinya bahkan belum menginjak lantai kamar mandi. Bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk Ilhae bermaksud mengirimkan pesan darurat kepada Rein atas kemungkinan keterlambatannya – walaupun sebenarnya Ilhae sendiri agak sangsi karena ponsel yeoja itu yang tidak bisa dihubungi beberapa hari belakangan. Tetapi hal tersebut tidak terjadi karena ponsel Ilhae bergetar dengan adanya panggilan masuk.

“Yeobseyo?” Ilhae mengangkat panggilannya segera.

Beberapa detik ia berjalan menuju kamar mandi sembari mendengarkan apa yang peneleponnya katakan. Sesekali ia mengerucutkan bibirnya dan wajahnya seperti hendak mengeluarkan argumen jika saja di sebrang sana tidak ada kata ‘tunggu’, ‘jangan menyela’, dan ‘dengarkan dulu penjelasanku’.

Setelah mengeluarkan beberapa kata umpatan dan perdebatan akhirnya. “Ne.”

Satu kata dengan datar dan tidak rela keluar dari bibirnya.

*-*-*

Kereta jurusan ekonomi yang mengangkut seorang yeoja berambut panjang yang hari ini ia biarkan tergerai sampai pada destinasinya. Yeoja itu masih sibuk dengan barang-barangnya sementara matanya sudah menjelajah keadaan diluar kereta lewat kaca di sebelah bangkunya, mencari sosok Geum Ilhae di padatnya kerumunan orang di stasiun. Hampir mustahil memang, tapi dia kan hanya berusaha. Mengabaikan pencariannya sejenak, dia mulai menarik kopernya dan keluar dari kereta.

Suara bising orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya, menyambutnya ketika kakinya menginjak tanah Seoul yang sudah sekitar 1 minggu penuh ia tinggalkan. Dia berjalan lebih ke sisi dalam stasiun dan mencoba mencari kotak telepon umum. Yah, mengingat dia masih belum berani untuk menyalakan ponselnya sejak kejadiaan ‘naas’ itu.. Kini Rein – yeoja itu – sudah berada di depan telepon umum, yang tepat bersebelahan dengan sebuah bilik ATM yang tidak berpenghuni alias sedang tidak ada yang menggunakannya. Dia menekan tombol- tombol di kotak telepon. Tombol-tombol itu adalah angka-angka yang dapat menyambungkan sambungan telepon itu dengan sosok sahabatnya yang berjanji akan menjadi penjemputnya hari ini.

“YA! Eodiya?!” Geram Rein saat Ilhae akhirnya mengangkat sambungan teleponnya. Mengapa lama sekali waktu yang dibutuhkan Ilhae hanya untuk mengangkat telepon? Bahkan Rein harus menunggu hingga deringan ke 8.

“Ponselmu rusak, Jung Rein? Kau tidak bisa dihubungi sejak beberapa hari yang lalu dan kini kau menelpon menggunakan ponsel siapa? Apa Reno membanting ponselmu dan menguburnya ke dalam tanah seperti yang pernah ia lakukan pada Nintendoku dulu?” Ingatan Rein melayang pada kejadian 2 tahun lalu ketika dirinya mengajak Ilhae untuk mengunjungi rumahnya di Incheon.

Sejak kejadian itu, Ilhae sangatlah trauma ketika berhadapan dengan Reno mengingat betapa nakalnya adik kecilnya itu.

Oh Hell, seharusnya Ilhae tahu bahwa kini kenakalan Reno telah berubah menjadi sesuatu yang lebih membahayakan ketentraman jiwa orang lain.

“Aku akan menjelaskan detailnya nanti –soal ponsel. Sekarang kau di mana? Aku berada di kotak telepon dekat ATM. Apakah kau berada di dekat sini –”

“Wait. Wait. Perubahan rencana, aku tidak bisa menjemputmu hari ini. Ada orang lain yang akan menjemputmu di sana. Kau sudah bertemu dengannya?” Setelah seenaknya memotong kalimatnya, Ilhae hanya mengatakan pernyataan yang membuat Rein ingin segera memelototinya jika ia berada tepat di hadapannya. Apalagi mendengar nada cengengesannya. Hanya itu nada yang bisa ditangkap Rein dari balik ponselnya, tidak ada rasa bersalah atau apapun.

Mengabaikan nada suara Ilhae yang sedikit menyebalkan. Otaknya sudah mengajaknya untuk berspekulasi. Kira-kira siapa orang itu… JANGAN BILANG?!

“Ya, orang itu…. bukan…”

“REIN!” Rein menurunkan genggaman telepon umum dari telinga kirinya. Ia segera menyimpan ganggang telepon di tempatnya dengan gerakan terburu-buru. Lalu ia membalikan dan sedikit menggeser tubuhnya sehingga kini ia berhadapan tepat dengan seorang namja yang berdiri tegap.

Senyumnya yang lebar dan tatapan matanya yang berbinar terpampang jelas di hadapannya. Hari ini penampilan namja ini sedikit berbeda, dia menaikan rambutnya ke atas dan menggunakan kacamata dengan frame besar. Dan sepertinya ia mengubah warna rambutnya karena seingat Rein terakhir kali ia bertemu dengan namja itu rambutnya masih berwarna coklat gelap. Namun kini warna rambutnya sudah berubah menjadi hitam legam. Hampir sama dengan rambutnya sendiri.

Suhu di Seoul masih dingin sehingga namja itu menggunakan coat yang cukup panjang dengan celana jeans dan sepatu boatnya.

Penampilan namja ini, hari ini, di hadapan Jung Rein membuat Rein menyadari bahwa seorang Park Chanyeol termasuk ke dalam jajaran namja yang cukup tampan yang pernah ia temui.

Selesai mengidentifikasi penampilan, Rein kembali memfokuskan arah pandangnya pada mata namja itu dan sesaat dia merasa seperti ada aliran panas yang mengalir dari lehernya sampai ke pipinya.

OH SIAL!

Sementara jantungnya seakan bekerja tidak benar di dalam sana.

“Rein-ah.” Chanyeol melambai di depan muka Jung Rein. Sehingga yeoja itu akhirnya tersadar dari lamunannya sendiri.

Tiba-tiba sebuah ingatan mengganggunya dan mengajaknya untuk segera membalikan tubuhnya dan mengambil langkah seribu dari tempatnya berpijak.

Ingatan akan isi pesan Jung Reno.

Sial! Bagaimana jika Chanyeol membaca– WAIT! Dia pasti membacanya mengingat dia terus- menerus meneror ponselnya sebelum itu. Lalu bagaimana? Dia pasti salah paham! Sial! Aku malu sekali! Satu-satunya cara hanya segera pergi dari hadapan namja ini sebelum dia menyadari wajahku yang rasanya terbakar saking malunya!!!

Rein panik. Jelas sekali. Chanyeol pun dapat melihat kepanikan Rein dari keningnya tang terus berkerut dan matanya yang seolah-olah tidak fokus, sementara ia terus menerus menggigiti bibir bawahnya.

“Kau baik- baik saja –” Chanyeol belum menyelesaikan pertanyaannya tapi sesosok yeoja dengan jaket putih itu sudah berbalik dan mulai meninggalkan Chanyeol yang masih terbingung-bingung di tempatnya.

Mengabaikan kerepotannya Rein mulai berlari-lari kecil.  Ia sangat malu sekarang!

“Ya! Jung Rein!” Tanpa pikir panjang lagi, Chanyeol dengan langkah panjangnya mulai berjalan menyusul Rein yang sedaya upaya berlari, namun jaraknya dengan Chanyeol tidaklah jauh dari 7 langkah lebar Chanyeol.

Sial, dia bisa menyusulkuhanya dengan langkah lebarnya!Frustasi. Rein melajukan kakinya dengan langkah lebih cepat dan gusar sementara ia sudah  menggendong kopernya di pelukannya agar ia bisa lebih cepat melarikan diri.

Dia benar-benar merasa malu untuk bertemu langsung dengan Chanyeol. Rein hanya ingin menghindari sosok Park Chanyeol hari ini, besok, dan seterusnya.

“YA!” Namun dalam satu hentakan saja, Chanyeol berhasil membalik tubuh Rein sementara tangan kekarnya menyentuh pundak Rein sehingga yeoja itu memekik kaget.

“Eh – Annyeong Park Chanyeol! Apa kabarmu? Sekarang aku sedang buru-buru. Aku harus segera pulang. Bye.” Rein tahu bahwa dari cara bicaranya yang kacau, Chanyeol pasti dapat menebak apa yang ada di pikiran Rein.

Chanyeol tertawa kecil. “Pulanglah denganku. Aku yang menjemputmu hari ini, Rein.” Lalu dengan gerakan ringan ia merebut koper yang digendong Rein dan mulai membawanya berjalan lebih dulu meninggalkan Rein yang masih menganga di tempatnya.

Kini Rein sedang memutuskan apakah dia harus merelakan isi kopernya dengan berbalik arah dan kabur dari sisi Chanyeol –dia bisa pulang dengan taxi. Tapi mengingat uangnya –selain uang receh yang berada di saku jaketnya, berada di dalam kopernya ia tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti Chanyeol.

Chanyeol menyadari hal itu dan kini namja dengan tinggi 187cm itu sedang tertawa karena tingkah Rein yang menurutnya cukup diluar kotak itu.

BRUKK

Chanyeol menyimpan koper Rein di dalam bagasi mobilnya. Dia melirik sekilas Rein dari ujung matanya, yeoja itu sedang menutup mukanya dengan tangan kedua tangannya. Terlihat menggemaskan.

Jarang-jarang ia melihat Rein dengan tingkah seperti itu. Seperti ada sesuatu yang salah dalam makanan yang dimakan Rein selama di Incheon.

“Rein-ah.”

“Chanyeol! Chanyeol! Jangan mendekat!” Rein membalikan tubuhnya. Chanyeol ingin sekali memutar tubuh  yeoja itu, namun belum ia melakukan hal itu dia sudah mendengar suara Rein yang teredam oleh tangannya namun masih bisa terdengar cukup jelas.

“Kau jangan salah paham yah… pesan itu bukan aku yang mengetiknya…” Suara yeoja itu bergetar dan Chanyeol akan teringat akan pesan yang Rein kirimkan untuknya.

Awalny ia pikir Rein kembali mengonsumsi alkohol selama di Jeju sehingga ia mengirim pesan seperti itu untuknya. Dan dia sempat khawatir karena ponsel Rein yang sepertinya mati total setelah itu. Chanyeol tidak bisa menghubungi yeoja itu lagi, dan itu membuatnya sedikit tersiksa.

Tapi mendengar bahwa, pesan yang bukan Rein sendiri yang mengirimnya. Lalu siapa lagi yang berani menyentuh ponsel yeoja ini?

“Siapa yang mengirimnya?”

“ADIKKU!” Bentak Rein sambil menundukan kepalanya.

“Kok bisa?” Tanya Chanyeol dengan suara lembut.

“Dia hanya ingin menjahiliku. Dia adik yang tidak waras, tolong kau jangan salah paham  yah!”

“Lalu kalau kau memang tidak mengirimkan pesan itu…Kenapa kau sekarang harus malu, Jung Rein?”

“SIAPA YANG BILANG AKU MALU??!” Rein memutar tubuhnya, menurunkan tangannya dari wajahnya dan memelototi Chanyeol.

Namun Chanyeol hanya bisa membelalakan wajahnya ketika melihat wajah Rein yang sudah semerah kepiting rebus. Rein…Benar-benar malu.

Kalau dia malu.. Berarti isi pesan tersebut membuat pengaruh dalam dirinya.

Dan itu membuat hatinya semakin berbunga-bunga.

“Tak apa Jung Rein. Aku juga sangat merindukanmu.” Lalu Chanyeol membawa Rein dalam pelukannya. Menyampaikan rasa rindu yang ia pendam selama seminggu penuh.

“Senang bisa bertemu lagi denganmu.”

Rein hanya bisa mematung di tempatnya. Dengan wajah yang rasanya semakin panas sehingga bisa-bisa ia demam karenanya. Juga dengan detakan jantung yang jauh melebihi batas normal.

Seharusnya ia menolak pelukan ini. Namun dia hanya bergeming di tempatnya berdiri.

Chanyeol dia bisa merasakan detakan jantung yang berpacu cepat. Detakan jantung yang saling bersaut-saut. Dia hanya merasa sedikit kepercayaan diri lebih karena dia menginginkan bahwa detakan jantung Rein berpacu sama cepatnya dengan miliknya.

Rein-ah, bogoshipo.

*-*-*

Ilhae tengah berjalan berdampingan dengan seorang namja memasuki lobby apartemennya ketika ia menemukan sepasang manusia yang nampak kaku memasuki lobby.

“….Jadi, hei!” Namja itu berkerut melihat Ilhae yang tidak memperhatikan ucapannya.

Ilhae menoleh.”Ah! Mian, mian, sampai di mana? Eng… tentang situasi di fakultas vokalmu! Ayo ke apartmenku dulu dan ambil lembar kasusku. Sisanya kita bicarakan di lobby saja.”

Namja itu – Chen, memutar bola matanya. Terkadang temannya ini cukup menyebalkan. Apalagi hari ini. Chen menghembuskan napas panjang dan segera melempar pandangannya lurus ke depan dan menemukan. “Itu Rein dan Chanyeol!”

Ilhae mendengus.”Benar dan itu yang baru saja aku lihat.”

“Mereka seperti runaway bride.”

“Jangan sembarangan! Chanyeol hanya menjemput Rein sebagai gantiku. Aku bosan dan membutuhkan beberapa informasi dari seorang Kim Jongdae, jadi disinilah kau sekarang. hehehe.”

Namja yang tengah mendengar jawaban Ilhae tersebut hanya bisa mendengus tidak terima karena jam santainya terpaksa ia pakai untuk memenuhi rongrongan gadis itu.

Sementara di ujung sana Chanyeol menyadari keberadaan mereka dan melambaikan tangannya, dan beberapa menit kemudian mereka sudah berjalan bersama menuju lift.

“Chen, kenapa kau bisa bersama yeoja ini?” Chanyeol memencet tombol lift.

Namja yang dikenali sebagai Chen menjawab.”Kau pikir?”

Rein yang tengah sebal dengan Ilhae yang meninggalkannya dalam jemputan Chanyeol berkomentar sinis, seperti pada keahliannya sejak dulu kala.”Ceh! Kenapa bisa ya kau mengajak Chen ke apartemenmu?”

“Kalian berkencan ya?” Chanyeol menyipitkan matanya.

“Bisa jadi.” Dengan cengiran menyebalkan Ilhae menarik tangan Chen.

“Ya! Yeoja ini! Kau meneleponku hanya untuk mengerjakan tugas liburanmu yang terlupakan saja kan?!” Chen dengan seenaknya menjitak Ilhae dan dibalas yeoja itu dengan cibiran kesal.

“Aku ini yeoja! Berani-beraninya kau memukulku!” Protes Ilhae dan seluruh isi lift yang hanya berisikan mereka-mereka saja menatap datar.

“Wae?”

Rein meloloskan kalimat pamungkasnya.”Memang kau yeoja ya?” Dan di setujui oleh dua namja yang tidak berminat untuk bersikap sefrontal Rein.

*-*-*

Matahari telah turun dari peraduannya beberapa jam yang lalu. Kini Geum Ilhae tengah menyibukan diri dengan variety minggu malam favouritenya. Apalagi kalau bukan Running Man. Sementara Rein masih sibuk dengan dirinya di dalam kamarnya.

Urusan Chen dan Ilhae telah selesai 2 jam setelah pertemuan di lift tadi sore. Sementara Chanyeol – butuh sedikit paksaan – dan akhirnya mau meninggalkan Rein. Tentu saja, Rein mengucapkan terima kasih karena Chanyeol mau menjemputnya hari ini. Walau dengan nada sedikit memberenggut. Karena bagaimanapun mengucapkan kata terima kasih untuk seorang Park Chanyeol cukuplah asing di lidahnya.

Chanyeol tersenyum dan sekali lagi mengatakan bahwa ia sangat merindukan sosok yeoja itu, sehingga di akhir pertemuan mereka hari ini Rein sekali lagi merasa bahwa wajahnya memanas hanya karena beberapa kata keramat yang dilontarkan seorang Park Chanyeol.

Sekarang apartemen mereka telah bersih dari dua makhluk bernama Chen dan Chanyeol.

Rein keluar dari kamarnya membawa sebuah aquarium kaca dengan beberapa penghuninya.

“Ilhae-ya. Oleh-oleh!” Ilhae tersentak dari posisi nyamannya di sofa, lalu dia menoleh ke belakang dan menemukan beberapa ikan berwarna warni di dalam aquarium kaca tepat di depan mukanya.

“Kamchagya!” Ilhae menepuk-nepuk dadanya karena pemandangan yang tiba-tiba – pemandangan absurd ikan-ikan kecil.

“Kenapa kau membawakanku oleh-oleh ikan? Tapi lucu juga…” Ilhae berkata lagi sembari mengamati ikan-ikan mungil tersebut.

“Well, aku hanya bingung saja apa yang bisa dijadikan oleh-oleh dari Incheon untuk orang sepertimu. Saat itu Reno mengajakku jalan-jalan ke pasar ikan dan aku melihat ikan-ikan ini.” Rein menyimpan aquarium tersebut di meja panjang di depan sofa. Lantas dia menghempaskan tubuhnya di sofa di sebelah Ilhae.

“Ikan-ikan itu untung saja bertahan hidup di plastik bening selama perjalanan pulang ke Seoul.” Lanjutnya.

“Ahaha! Aku penasaran bagaimana kalau ikan itu sudah mati ketika kau lihat lagi dan kau akan – OMO!!! Song Jihyo dan Kang Gary! Ohh Rein! Kapan mereka menikah?! Jebal!” Pemandangan ketika hanya tersisa Jihyo dan Gary di atas papan berdasar kolam renang tersaji di layar TV.

Rein menghela napasanya.

Ckkk… Dia mulai lagi..

“Aku masuk kamar dulu.” Rein yang sudah terlalu lelah hari ini, tidak sanggup jika mendengar ocehan Ilhae yang membahana itu.

“Kau sudah mau tidur? Baru jam segini.” Ilhae mengarahkan pandangannya ke jam dinding yang menunjukan pukul 08.45.

“Ani. Aku mau memberi makan Chanyeol.”

“C… CH… CHAN.. YEOL?!”

“Kura-kura baruku.”

Ilhae mengabaikan TV yang masih menyala dan terburu-buru menghampiri Rein yang sudah berasa di ambang pintu.

“Rein-ah!!!! Micheosseo? Kau memberikan nama kura-kuramu Chanyeol?! Mwo?! Kenapa tidak Ddang-ddang saja?!” Ilhae mengguncang-guncangkan Rein dengan binal.

Rein mendengus. Heboh sekali.

“Ddang brothers? Itu sama saja dengan memplagiat nama kura-kura Yesung Super Junior? Lagian tak ada yang salah dengan menamai kura-kura dengan Chanyeol kan?”

Ilhae memberengut tetapi perkataan Rein masuk akal jika… Jika saja yeoja itu tidak memiliki kaitan entah cinta atau benci dengan namja bernama Chanyeol.

“Arra, arra, tapi kenapa selama beberapa hari ini ponselmu tidak bisa dihubungi? Tidak mungkin kan kalau Reno benar-benar membantingnya?” Ilhae mengganti topik karena tahu kalau percakapan tentang kura-kura Chanyeol adalah offlimit.

“Dan… Bagaimana nasib bocah itu ya? Ia bisa-bisa sudah ditemukan tewas di atas pohon jika berani-berani merusak ponsel noonanya yang barbar ini.” Ilhae menatap Rein tidak berkedip.

“Ya! Tidak seperti itu juga! Aku tetap lebih sayang dengan bocah itu dibanding ponselku.” Rein menghela napasnya. “Kau tahu. Kenakalan Reno menjadi-jadi….”

Lalu Rein menceritakan insiden naas itu pada Ilhae. Tidak ada yang terlewat satu pun.

“Woah… Tapi bukankah ada sesuatu yang aneh Jung Rein?” Ilhae menatap lamat-lamat layar ponsel Rein.

“Hmm?”

“Kau bukan tipe orang yang mengambil pusing hal semacam itu. Kau bisa saja kan langsung mengklarifikasikannya pada Chanyeol tanpa harus merasa malu? Apalagi dengan mengnonaktifkan ponselmu berhari-hari.. Hanya karena.. Atau jangan-jangan?!”

“JANGAN- JANGAN APA?!” Telak. Rein akhirnya menyadari bahwa seharusnya dia tidak bertindak kekakanakan seperti itu.

Ilhae hanya meninggalkan topik ini dengan senyum misteriusnya sementara Rein tengah tertegun dan menyadari sifatnya yang banyak berubah belakangan ini.

“Lalu bagaimana sekarang? Mian chingu. Tadi sebenarnya aku yang ingin menjemputmu… Hanya, Chanyeol memaksaku atau mungkin menyogokku agar membiarkan dia yang menjemputmu.” Lanjut Ilhae dengan topik yang sedikit berbeda.

“Kau diiming-imingi apa olehnya?” Rein menyipitkan matanya.

“Ehmm, pekerjaan tetap.” Jawab Ilhae mantap.

“Kau bekerja? Di mana?”

“Di perpustakaan umum. Kau tahu.. yang memberitahuku tentang pekerjaan itu Chanyeol.”

Lalu ganti Ilhae yang bercerita tentang Chanyeol yang mengganggunya dan menawarkannya pekerjaan itu. Betapa menyenangkannya berbagi cerita setelah terpisah karena liburan.

“Akhirnya yeoja ini bekerja juga, bagus.. Bagus…” Rein memuji Ilhae bagaikan ibu. Seakan teringat sesuatu. Rein langsung mendongak dengan pandangan was-was.

“Kalau kau sekarang juga kerja paruh waktu. Lalu siapa yang menjemputku?”

“Ah itu tenanglah, aku tidak bekerja satu minggu penuh, dan kebanyakan aku masih bisa menjemputmu. Kecuali 2 hari. Aku bisa meminta Chanyeol.. Atau… Sehun?” Ilhae memiringkan kepalanya nampak berpikir.

“Lupakan. Aku bisa bergumul dengan angkutan umum seperti bus kota dengan baik. Aku masuk dulu.” Lalu Rein menghilang di balik pintu kamarnya. Sementara Ilhae hanya mengangkat bahunya dan kembali memposisikan dirinya di hadapan televisi.

-:Rein’s PoV:-

“Kau bukan tipe orang yang mengambil pusing hal semacam itu. Kau bisa saja kan langsung mengklarifikasikannya pada Chanyeol tanpa harus merasa malu? Apalagi dengan mengnonaktifkan ponselmu berhari- hari..”

Kalimat Ilhae terus menerus terngiang dalam benakku.

Jelas saja, aku tahu bahwa pasti ada sesuatu yang berubah. Aku tidak melihat seorang Park Chanyeol dari kaca mata yang sama lagi.

Apakah perubahan ini akan berakhir dengan sesuatu seperti rasa suka?

“Andwae!!!! Suka pada Chanyeol?! Aishhh!” Aku melempar makanan ‘Chanyeol’ ke aquariumnya.

“Oppss.. Mian ‘Chanyeol’.” Makanan kura- kura tersebut terkena cangkangnya sehingga ‘Chanyeol’ menggulung kembali tubuhnya ke dalam cangkangnya.

“DUH!”

To Be Continue…

15 pemikiran pada “Cynicalace (Chapter 9)

  1. nyahahahaha mampus rein mampus(?)
    reno boleh juga tuh pinter dia u.u
    chanyeol sampe segitunya ya sukanya sama rein duh -,- envy u.u /dor
    next chap ditungguuuuu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s