Hate or Love (Chapter 7)

HoL

Title : Hate or Love (Chapter 7)

Author : starLinn (@StellaW_)

Genger : Romance, family, …

Rating : G

Main cast : Yoon Hagun (OC), Oh Sehun, Kim Jongin

Sub cast : Yoon Joonmyeon, Yoon Bora, Xi Luhan, ……

Length : Chapter

COME IN!! Author kembali dengan chapter 7!!!! Woooo! Terima kasih untuk readers yang masih setia membaca fanfiction abal-abal ini. Dan untuk new readers, SELAMAT DATANG!!! ‘-‘)/  semoga kalian akan menjadi readers yang setia, hohoho. Typo bertebaran dimana mana, harap dimaklumkan. Jangan lupa RCLnya ya readers!!!

Selamat membaca~~

PYONGG!!!

*****************

“YAA! JAWAB AKU, NAM-“

CHU~~

Kata-kata Hagun terputus oleh ciuman yang sehun berikan di bibir

kecilnya. Karena kaget Hagun hanya bisa mematung dengan matanya

yang membesar. Tak ada pemberontakan dari Hagun,  dan Sehunpun

terus mencium bibirnya. Menciumnya dengan lembut dan penuh

perasaan. Sehun sadar bahwa sekarang dirinya telah terperangkap

oleh Hagun. Memang sebelumnya, ia merasa hanya ingin menjaga

Hagun . Tapi setelah melihat kedekatan Hagun dengan Jongin. Ia

baru menyadari kalau ia telah jatuh cinta pada yeoja mengerikan ini.

“Kau adalah milikku.” Ucap Sehun disela ciumannya. Sepertinya Sehun baru menyadari, kalau cinta itu bisa datang kapan saja dan pada siapa saja. Tak perlu mengenal waktu dan bagaimana hubungan sebelum cinta itu hadir. Sekarang, tinggal menunggu cinta itu datang dan menghinggapi hati Hagun. 

Chapter 7

Setelah kejadian di rumah Jongin, Hagun merasa sedikit canggung jika berada di dekat Sehun. Lain halnya dengan Sehun, dia merasa ingin selalu berada di dekat Hagun. Satu menghindar dan satu mendekati, mereka saling bertolak belakang bukan? Yaa, tapi apa yang tak bisa dilakukan oleh Oh Sehun? Apa yang dia inginkan, harus terjadi atau harus menjadi miliknya, itulah mottonya.

 

TOK TOK TOK

“Eoh? Iya, masuk saja!” ucap Hagun dari dalam kamarnya, ia terlihat sibuk dengan sebuah buku berwarna hijau. Karena tak ada suara pintu, Hagunpun tetap sibuk sampai

“YA! Kau mengangetkanku!!” ia terkejut saat melihat Sehun yang berdiri di samping ranjangnya. Dia layaknya ninja yang masuk ke dalam kamar Hagun tanpa menimbulkan suara apapun.

“A-ada apa, eoh?” tanya Hagun, ia teringat dengan kejadian tadi sore. Seorang namja telah merebut ciuman pertamanya. Padahal ia bertekad, menjaga bibirnya untuk namja yang akan menjadi suaminya kelak. Tentu namja yang sudah resmi menjadi suaminya, bukan namja yang hanya menduduki peringkat calon suami. Tapi yang lalu biarlah berlalu, pikir Hagun untuk menghibur dirinya.

“Ini sudah waktunya makan malam, ayo turun. Ahjussi dan ahjumma sudah menunggumu di bawah.” ajak Sehun yang menatap calon istrinya lekat.

“Aku tak lapar.” Balas Hagun seadanya dan kembali sibuk dengan buku hijaunya. Setidaknya itu yang dilihat Sehun, padahal pikiran Hagun sedang melayang-layang entah kemana.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Sehun dan duduk di samping Hagun.

“Ha-hanya melihat fotoku saat kecil.” Jawab Hagun terbata-bata dan berusaha menggeser tubuhnya menjauh dari Sehun. Sehun yang menyadari gerak-gerik Hagunpun, bangkit berdiri dan meninggalkan Hagun.

“Fiuhhh.. Jantungku hampir saja keluar karena namja itu.” Ucap Hagun pelan dan memegang dadanya.

“Tapi.. kenapa? Aku tak pernah begini kalau dekat dengan namja manapun. Apa jangan-jangan? ANDWAE! Aku tak mungkin menyukai namja asing itu!” Hagun berusaha kembali konsentrasi dengan buku hijaunya yang berisi foto-fotonya saat kecil. Tapi, lagi-lagi Sehun masuk ke dalam kamar Hagun. Ia membawa nampan berisi makanan yang Bora masak.

“AIHH, kau mau membuatku terkena serangan jantung, eoh?!”  tanya Hagun yang kembali memegang dadanya.

“Makanlah.” Hanya itu jawaban Sehun. Setelah meletakan nampan berisi makanan di meja samping ranjang Hagun, Sehun hendak keluar dari kamar Hagun.

“Hei, tung-tunggu sebentar.” Cengah Hagun. Sehun membalikan tubuhnya, menatap Hagun bingung.

“Gomawo.” Sehun memberikan senyuman pertamanya untuk Hagun.

“Hmm, cepat habiskan makanan itu, nanti tak hangat lagi.”  Sehunpun benar-benar keluar, meninggalkan Hagun yang mukanya memerah layaknya kepiting rebus.

Hagun Pov

Setelah sampai di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamar dan membersihkan tubuhku. Hari ini sungguh melelahkan, padahal aku sama sekali tak melakukan kegiatan berat. Aku duduk di ranjang dan bersandar ke tumpukan bantal dan bonekaku. Mengambil buku hijau yang kuletakan di dalam laci, di samping ranjangku. Setiap ada masalah, aku akan membuka buku hijau yang menyimpan berbagai sejarah ini. Sejarah tentang seorang yeoja bernama Yoon Hagun. Yoon Hagun yang belum terikat oleh berbagai masalah, Yoon Hagun yang masih bisa menikmati hari-harinya, dan Yoon Hagun yang hanya hidup dengan kedua orangtua yang ia cintai. Saat aku mulai terjun kembali pada moment-moment indahku saat kecil, seseorang mengetuk pintu kamarku.

TOK TOK TOK

“Eoh? Iya, masuk saja!” ucapku tanpa mengalihkan pandangan. Karena tak ada tanda-tanda orang masuk ke dalam kamar. Aku tetap serius dengan foto kecilku bersama seseorang, sampai aku menoleh ke kiri dan,

“YA! Kau mengangetkanku!!” ucapku saat melihat Sehun berdiri di samping ranjangku. Bagaimana cara dia masuk tanpa menimbulkan suara seperti itu?

“A-ada apa, eoh?” tanyaku gelagapan. Aihhh aku teringat kejadian tadi sore. Mimpi apa aku semalam? Ciuman pertamaku telah diambil oleh namja yang belum resmi menjadi suamiku. Kalau eomma dan appa sampai tahu, mungkin pernikahanku dengannya akan dilaksanakan besok sore saat orangtua Sehun datang.

“Ini sudah waktunya makan malam, ayo turun. Ahjussi dan ahjumma sudah menunggu di bawah” ajak Sehun, aku merasa dia sedang menatapku, jadi aku mengalihkan pandangan darinya dan berusaha kelihatan sibuk.

“Aku tak lapar.” Jawabku singkat.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Sehun dan duduk di sampingku. Ya Tuhan, tolong aku.. keluarkan namja asing ini sekarang juga.

“Ha-hanya melihat fotoku saat kecil.” Jawabku terbata-bata dan menggeser tubuhku menjauh dari Sehun. Dan detik selanjutnya dia berdiri dan keluar dari kamarku.

“Fiuhhh.. Jantungku hampir saja keluar karena namja itu.” Aku memegang dadaku yang berdetak tak normal ini.

“Tapi.. kenapa? Aku tak pernah begini kalau dekat dengan namja manapun. Apa jangan-jangan? ANDWAE! Aku tak mungkin menyukai namja asing itu!” ucapku dan berusaha membuang pikiran tak masuk akal itu dan kembali sibuk dengan buku bersejarahku ini. Tapi, semuanya gagal karena namja asing itu kembali muncul dengan nampan yang berisi entah apa. Apa itu makanan?

“AIHH, kau mau membuatku terkena serangan jantung, eoh?!” tanyaku disertai tatapan kesal.

“Makanlah.” Jawaban yang tak sesuai dengan harapanku. Come on, setidaknya minta maaflah padaku. Tapi ya sudahlah, dia juga berbaik hati membawakan makanan untuku. Setelah menaruh nampan ke meja samping ranjangku, dia beranjak keluar tapi aku menahannya.

“Hei, tung-tunggu sebentar.” Sehun membalikan tubuhnya dan menatapku bingung.

“Gomawo.” Ucapku pelan sambil menatapnya.

DEG Apa barusan dia tersenyum?! Apa aku tak salah lihat? Seorang Oh Sehun tersenyum? Ternyata namja ini memiliki senyuman yang menawan. Aihhh, kau tak boleh terpesona dengan namja asing itu Yoon Hagun. Kuatkan dirimu!

“Hmm, cepat habiskan makanan itu, nanti tak hangat lagi.”  Sehunpun benar-benar keluar dari kamar. Aku beranjak dan menatap kaca yang ada di meja rias. Astaga! Wajahku seperti kepiting rebus! Apa namja asing itu melihatnya? Semoga saja tidak, heung.. Karena aku mimikirkan kepiting rebus, cacing cacing diperutku mulai bangkit dari tidurnya. Karena itu kuputuskan untuk menyantap makanan yang dibawakan Sehun. Dan sialnya ada yang menelponku.

Drrrtt Drttt~~

Kim Jongin is calling…

 

“Yeoboseyo?” ucapku saat menerima panggilan dari Jongin.

“Annyeong, Gun-ah. Cerita untuk tugas kita sudah selesai.”Balas Jongin dari seberang sana.

“Jinjja? Secepat ini??” tanyaku tak percaya.

“Ne, aku sudah mengirimkannya lewat e-mail. Sudah ya, selamat malam.”

“Baiklah! Sela-“

“Tutt.. Tut.. Tut..”  belum aku selesai mengucapkan selamat malam. Jongin sudah mengakhiri panggilan terlebih dahulu, jarang sekali dia seperti ini. Dan nada berbicaranya juga sedikit aneh. Ada apa dengannya? Ahh, sudahlah aku tak perduli, besok dia pasti kembali seperti semula. Oh iya, e-mail dari Jongin! Hebat sekali dirinya, aku baru pulang dari rumahnya sekitar jam 4 sore dan sekarang baru jam 7 malam. Aku tak yakin hasilnya akan bagus. Setelah mengambil macbookku dan membawanya ke ranjang. Aku mulai serius membuka dan membaca e-mail dari Jongin. Cerita ini mengisahkan tentang seorang namja yang diam-diam mencintai sahabatnya, sejak menduduki Junior High School. Namja ini selalu berusaha membuat sahabatnya tersenyum. Entah bagaimanapun caranya, ia bahkan rela ditertawakan satu kelas hanya untuk membuat sahabatnya tersenyum atau hanya memandangnya.

“Woahh! Aku merinding..” ucapku saat membaca paragraf pertama.

“Tapi ini berbeda dengan ide yang Sehun berikan. Biarlah, yang penting cerita ini bagus!” Aku kembali membaca cerita buatan Jongin dan melupakan makanan yang dibawakan Sehun.

SROTTT

 

“Hikss.. cerita ini sungguh mengharukan.” Ucapku yang baru saja mengelurkan lendir-lendir yang berkumpul di hidungku.

“Dia harus membaca cerita ini!” aku bangkit berdiri dan membawa macbookku keluar kamar. Hanya butuh dua langkah, pintu orang yang kutuju sudah ada dihadapanku. Siapa lagi kalau bukan namja asing?

Ngekkk…

“Permisi, hey namja asing!” panggilku dan memasukan kepala ke dalam kamarnya. Woahhh, rapi sekali kamar ini. Apa dia memanggil petugas kebersihan dari hotel? Aku tak yakin dia yang merapikannya sendiri. Tanpa sadar aku sudah meletakan macbookku di ranjangnya dan memperhatikan secara detail kamar ini. Sampai-sampai aku tak menyadari Sehun yang berdiri di belakangku dengan handuk yang hanya menutupi bagian bawah tubuhnya. Yaa, dia topless. Topless? Tunggu, Sehun topless? Oh no…

“KYAAA!!!” teriakku dan Sehun langsung membekap mulutku.

“Dasar bohoh, kalau ahjumma dan ahjussi mendengar teriakanmu bagaimana, eoh?!” tanyanya panik dan perlahan melepaskan tangannya dari mulutku. Tujuannya memang menutup mulutku, tapi tadi seluruh tubuhnya yang tanpa busana itu menempel denganku. Bagaimana ini? Aku benar-benar malu sekarang dan pada akhirnya aku hanya menundukan kepalaku.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Sehun sambil memakai baju santainya.

“Eumm, anu.. aku tadi hmm.. mau menunjukan e-mail dari Jongin.” Jawabku gelagapan.

“E-mail dari Jongin?” ulangnya sambil menatapku tak suka.

“Hmm, ne.. Memang kenapa?”

“Aku tak mau melihatnya” Sehun mengambil celananya rumahnya dan masuk kembali ke dalam kamar mandi. Aishh, namja asing itu benar-benar menyebalkan.

“YA! Namja asing! Jangan seenaknya seperti itu, kau harus menghargai jerih payah Jongin.” Ucapku dari luar kamar mandi. Tapi tak ada balasan dari Sehun.

“Kau mendengarku atau tidak, EOH?!” tanyaku dengan suara yang meninggi.

“Aishh, namja ini benar-benar. Ahkk- sakit..” ringisku sambil memegangi jari-jari kakiku. Karena terlalu kesal dengan Sehun, aku tanpa sadar menendang pintu kamar mandi.

“Bodohnya diriku, jari-jari kakiku yang manis jadi kesakitan seperti ini. Lebih baik aku keluar dari kamar ini, aku merasa menjadi manusia tersial.” Ucapku kesal lalu keluar dari kamar Sehun.

Sehun Pov

Setelah membawakan makanan untuk Hagun, aku kembali ke dalam kamar. Kenapa tubuhku terasa lengket seperti ini? Padahal sepulang dari rumah Jongin, aku langsung membersihkan diri. Aku menidurkan tubuhku di ranjang, mengingat kembali kejadian tadi sore. Aku mencium bibir seorang Yoon Hagun? Entah aku harus bahagia atau kesal dengan diriku. Memang aku menyukai Hagun, ani aku mencintainya. Tapi itu adalah ciuman pertamaku. Dan ciuman pertamaku jatuh pada yeoja yang belum tentu menyukaiku. Atau mungkin saja dia yeoja yang pernah dicium oleh orang lain terlebih dahulu. Aku bangkit dari ranjang dan memutuskan untuk membersihkan tubuhku kembali. Aku tak akan bisa tidur dengan tubuh lengket seperti ini. Sekitar sepuluh menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh tanpa baju, hanya dengan handuk yang membalut tubuh bagian bawahku, lebih tepatnya topless. Aku terkejut melihat Hagun ada di dalam kamarku, dia terlihat memperhatikan ruangan ini. Dia sempat berbalik dan memandangku sebentar, tak lama kemudian dia berteriak.

“KYAAA!!!” aku berlari mendekat dan menutup mulutnya. Kalau ahjumma dan ahjussi mendengar teriakannya, bisa mati kami berdua.

“Dasar bohoh, kalau ahjumma dan ahjussi mendengar teriakanmu bagaimana, eoh?!” tanyaku panik dan perlahan melepaskan tanganku dari mulutnya. Aku melihat Hagun menundukan kepalanya, ada apa dengannya? Aku melihat tubuhku dan terkejut. Oh mann, aku belum memakai baju sama sekali. Dengan cepat aku mendekat ke lemari dan mengambil baju santaiku.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku sambil memakai baju.

“Eumm, anu.. aku tadi hmm.. mau menunjukan e-mail dari Jongin.” Jawabnya gelagapan, apa dia malu melihatku topless seperti tadi?

“E-mail dari Jongin?” ulangku dengan nada tak suka. Kenapa dia mengucapkan nama namja sialan itu?

“Hmm, ne.. Memang kenapa?”

“Aku tak mau melihatnya” moodku mendadak rusak karena nama itu. Tanpa memandang Hagun aku masuk kembali ke dalam kamar mandi dengan celana santai di tanganku.

“YA! Namja asing! Jangan seenaknya seperti itu, kau harus menghargai jerih payah Jongin.” Ucapnya dari luar. Oh Sehun kau harus bersabar, sebentar lagi dia hanya aku memandangmu.

“Kau mendengarku atau tidak, EOH?!” tanyanya lagi dengan suara yang meninggi.

“Aishh, namja ini benar-benar. Ahkk- sakit..” aku sempat kaget saat mendengar suara ketukan di pintu diiringi dengan rintihan Hagun. Ada apa dengannya? Aku hendak membuka pintu tapi,

“Bodohnya diriku, jari-jari kakiku yang manis jadi kesakitan seperti ini. Lebih baik aku keluar dari kamar ini, aku merasa menjadi manusia tersial.” Ucapnya yang terdengar kesal. Dasar yeoja bodoh, apa kau menggunakan sihir sampai-sampai aku bisa jatuh cinta padamu? Kalau sampai iya, kau harus membayar orang yang mengajarimu sirih ini secara double. Karena seorang Oh Sehun telah berhasil kau taklukan.

Normal Pov

Setelah Hagun keluar, tak lamapun Sehun keluar dari kamar mandi. Awalnya dia ingin mengerjakan tugas yang diberikan Dasom. Tapi melihat ada macbook yang tak lain adalah milik Hagun. Sehun menahan keinginannya dan mendekati macbook Hagun.

“Dia bilang ingin menunjukan e-mail dari Jongin, hmm.. Baiklah aku akan melihatnya.” Sehun mulai mengutak-atik macbook Hagun, dia sempat membuka file-file milik Hagun dan menemukan banyak sekali berbagai macam gambar.

‘Kenapa dia menyimpan gamar-gambar seperti ini? Apa dia menyukainya?’ Batin Sehun. Setelah puas dengan file-file Hagun, akhirnya e-mail dari Jongin sudah terbuka di layar. Sehun menaikan sebelah alisnya.

“Namja hitam itu menyelesaikan cerita ini sendiri? Kukira dia tak bisa melakukan apa-apa.” Sehun mulai membaca e-mail yang berisi cerita karangan Jongin.

“Tunggu, cerita ini sedikit aneh. Seorang namja yang mencintai sahabatnya sendiri, dan dia rela melakukan apapun untuk sahabatnya. Kenapa beda dari ideku? Seenaknya sekali namja hitam itu. Tak ada seru-serunya menurutku.” Ucap Sehun panjang lebar yang hendak menutup e-mail dari jongin. Tapi matanya membesar saat membaca kalimat ‘yeojanya dicium oleh namja jadi-jadian.’

“Ne?! Apa jangan-jangan namja hitam itu..”

“Ternyata kau membaca cerita karangan Jongin juga, hmm?” tiba-tiba Hagun muncul di depan kamar Sehun, dengan tangannya yang melipat di dadanya.

“Aku hanya iseng, kalau macbookmu tak menggannggu pemandangan di kamar ini. Aku tak akan membaca karangan namja itu.”

“Sudah, akui saja kalau karangan Jongin bagus bukan?”

“Ani, cerita ini membosankan.”

“Eiyy, kau saja yang tak tahu bagaimana cara menikmati sebuah cerita romance.”

“Terserah kau saja.. Tapi, apa kau tak merasa ada hal yang mengganjal di cerita ini?” tanya Sehun dengan wajah yang mulai serius.

“Mengganjal? Memang ada apa dengan karangan itu?”

“Kemarilah..” Sehun menepuk ranjangnya, mengajak Hagun untuk duduk.

“Shireo!” degan cepat Hagun menolak ajakan Sehun.

“Aku tak akan melakukan apapun, setidaknya untuk beberapa hari ini.” Ucap Sehun dan diakhiri dengan smirknya.

“A-apa maksudmu?”

“Sudah lupakan saja dan terserah kau mau duduk atau tidak. Aku rasa Jongin melihatku menciummu tadi sore.” Ucap Sehun to the point.

“Y-YE?! Bagaimana kau bisa berkata seperti itu, eoh?” Hagun mendekat ke Sehun yang sedang duduk manis di ranjangnya.

“Apa kau membaca cerita ini dengan benar?” tanya Sehun dan dibalas anggukan dari Hagun.

“Kalau kau membacanya dengan benar, kau pasti menyadari kalau dia menulis adegan yang sama seperti tadi sore.” Ucap Sehun bijak, padahal dia hanya membaca sekitar 2 paragraf, ditambah kalimat yang membuatnya curiga.

“Adegan sama seperti tadi sore?” Hagun memiringkan kepalanya tanda ia binggung.

“Hmm, saat aku menciummu di depan rumah Jongin.” Ucapan Sehun sukses membuat wajah Hagun memerah dan jantungnya berkerja secara berlebihan. Kejadian itu berbutar kembali di otaknya.

“Y-yaa, kenapa kau mengungkit kejadian itu lagi, eoh?” tanya Hagun mencoba menetralkan detak jantungnya.

“Memang kenapa? Salahkanlah sahabatmu itu yang menjiplak adegan mesra kita.” Ucap Sehun dan mendapat tatapan tajam dari Hagun.

“Aishh, dasar namja asing gila!” Hagun mengambil macbooknya dan keluar dari kamar Sehun.

“Namja asing… Sepertinya sekarang aku menyukai panggilan itu.” Sehun tersenyum, dan dia yakin kalau hari ini Hagun akan menghiasi mimpinya.

Hagun Pov

Setelah ke luar dari kamar Sehun aku memutuskan untuk masuk kembali ke kamar. Saat masuk, aku melihat Roo sedang memakan makanan yang dibawakan oleh Sehun.

“Astaga, aku lupa memakannya. Ya sudahlah, sepertinya Roo jauh lebih membutuhkan makanan itu ketimbang perutku.”

Aku menidurkan diriku ke ranjang, perkataan Sehun kembali terulang dipendengaranku. Apa benar Jongin melihat kejadian tadi sore? Sikapnya memang berubah saat di telpon tadi. Tapi mungkin saja dia sedang sibuk. Aihhh, aku sangat bingung. Tiba-tiba Roo menjilati pipiku. Aku hanya menatapnya sendu, dia balik menatapku dan mengeluarkan suara “Aingg.. Aingg…” setahu aku itu suara anjing menangis,

“Roo, hanya kau yang bisa mengerti perasaanku. Aku menyayangimu, selamat malam pangeranku. “ aku mengecup Roo dan mulai masuk ke dalam alam mimpi. Aku tak perduli kalau jam baru menunjukan pukul 20.13, aku merasa sangat lelah sekarang.

********

“Sayang ayo bangun, ini sudah jam 10 pagi.” Ucap seorang perempuan dan aku yakin ini adalah suara eomma. Walaupun aku sudah bangun, tapi aku terlalu malas untuk menanggapi ucapan eomma, lagi pula aku masih lelah.

“Apa perlu eomma panggilkan appa, hmm?” tanya eommaku.

“Aku masih lelah eomma, hari inkan hari Minggu. Biarkan aku tidur lebih lama. Lima hari aku sudah bekerja keras, aku ingin istirahat.” Ucapku panjang lebar dengan suara parau. Aku rasa ini sejarahku, mengucapkan kalimat terpanajng saat bangun tidur.

“Hagun, sebentar lagi kau akan menjadi seorang istri, cobalah untuk sedikit lebih rajin.” Eomma mengelus rambutku, yaa Tuhan aku rindu saat-saat ini. Tapi kenapa eomma harus mengungkit kalo sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri? Aihh, menyebalkan sekali.

“Hah.. baiklah, aku sudah bangun eomma.” Dengan wajah kesal aku duduk di ranjang.

“Ini baru anak eomma, cepat turun eomma sudah menyiapkan pancake untukmu.” Eomma mengecup keningku perlahan dan keluar dari kamar. Aku kembali menidurkan diri di ranjang, hahh… tinggal 6 hari lagi aku bisa menikmati kata bebas. Aku tak boleh menyia-nyiakan hari berharga ini! Aku memutuskan untuk turun dan menuju meja makan, cacing di perutku mulai bangun dari tidurnya

“Cha! Ini pancake pertama yang eomma buat.” Eomma menaruh 2 pancake di piringku.

“Tumben sekali, kenapa eomma mencoba memasak pancake?” tanyaku tersenyum-senyum, sambil menuangkan sedikit madu dan gula bubuk. Apa eomma mengingat permintaanku dua minggu yang lalu? Yaaa, aku sempat meminta eomma membuat pancake. Ini adalah salah satu makanan kesukaanku.

“Sehun bilang dia menyukai pancake, jadi eomma mencoba membuatnya. Dan Sehun bilang pancake buatan eomma sangat enak! Eomma sangat senang mendengarnya.” Saat mendengar jawaban dari eomma, pancake yang semula terasa manis di lidahku, tiba-tiba berubah menjadi pahit. Eomma memasak pancake ini untuk Sehun?

“Benarkah? Haha..”

“Hmmm! Cepat habiskan pancake itu, eomma ingin ke taman belakang. Sehun dan appamu sedang menanam bunga tulip.” Eomma tersenyum ke arah taman belakang dan berjalan menjauh dariku. Apa pujian dari Sehun sudah cukup untuk eomma? Bahan saat aku memuji eomma dulu, eomma tak sesenang ini. Apa sekarang anak eomma adalah Oh Sehun? Namja asing yang merebut eomma dan appa dariku? Aku membersihkan pancakeku dari gula dan madu, setelah itu aku memberikannya kepada Roo. Terserah dia mau memakannya atau tidak. Napsu makanku mendadak hilang, aku rasa cacing-caing di perutku mendadak mati. Aku melangkahkan kakiku menuju taman belakang, belum saja sampai aku sudah bisa mendengar tawa dari eomma, appa, dan Sehun. Aku berdiri di belakang pintu kaca, yang menghubungkan rumah ini dengan taman belakang. Ahhh, ternyata benar mereka menanam bunga tulip, bunga kesukaanku. Lebih tepatnya aku menyukai tulip putih, walaupun mereka menanam tulip ungu, tapi tetap saja aku menyukainya. Bunga itu tampak indah di tengah-tengah mereka bertiga. Andai saja aku yang ada di sana. Pasti aku sangat bahagia. Tanpa kusadari air mataku mengalir, membuat sungai kecil di pipiku. Tapi senyuman tak hilang dari wajahku. Entah apa yang membuatku tersenyum di saat hatiku serasa diremas seperti ini. Mungkin tawa dari kedua orangtuaku, dan bunga tulip itu. Semakin lama sungai di pipku makin membesar dan menderas, senyumanpun mulai hilang dari wajahku. Sebelum mereka menyadari keberadaanku, lebih baik aku kembali ke kamar. Aku membalikan tubuhku dan melangkahkan kakiku kembali ke kamar, tempat semustinya aku berada. Oh Sehun, sebelumnya aku mulai menyukaimu tapi aku rasa sekarang aku kembali membencimu..

To Be Continue kawan~

 

25 pemikiran pada “Hate or Love (Chapter 7)

  1. aku masih belum bisa nebak ending nya hagun bakal sama sehun atau kai. mau sehun atau pun kai ff ini bakalan seru kok ending nya. fighting thor. aku tunggu next chapnya. jangan kelamaan yah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s