Unbroken (Chapter 1)

Title: Unbroken – Chapter 1

Author: V (@violarosaliya)

Main casts: Kim Jong In a.k.a Kai | Kim Hyo Jae (OC)

Supporting casts: Find it out through the stories

Genre: Romance | school life | friendship

Rated: PG 13

Length: Multichapter

Disclaimer: Fanfiction ini murni hasil karya author tanpa plagiat dari fiksi manapun.

Author’s note: I hope you enjoy reading this fan fiction. Please leave comments after that. Every comment is so valuable for me. Thank you very much.

I also post this story on my blog phiyongg.wordpress.com

Summary:

Unbroken. Nothing will be broken.

Neither the precious relationship nor the old feeling.

Nothing should be broken in the middle of this triangle love.

 

(KAI POV)

Aku merasakan cuaca yang sangat dingin saat sedang berjalan menyusuri lorong sekolah. Secara otomatis aku merapatkan coat berwarna hitam yang aku kenakan sambil berjalan lebih cepat menuju ruang kelas yang terletak di ujung lorong. Semakin aku mendekati ruang kelas aku semakin mendengar dengan jelas suara tangis tertahan seorang anak kecil. Seorang anak perempuan sepertinya. Aku melambatkan langkah seraya memperhatikan sekeliling. Aku juga bertanya-tanya suara siapa itu. Saat langkahku semakin mendekati ruangan yang aku tuju, suara tangisan itu semakin terdengar jelas. Aku sedikit bergidik ketika aku akhirnya menyadari kalau sekolah sangat sepi. Sepertinya hanya aku sendiri yang berada disini. Berdua jika anak perempuan itu juga seorang manusia. Bukan sesuatu yang mengerikan seperti yang aku pikirkan saat ini. Namun, entah kenapa aku merasakan rasa penasaran yang amat sangat. Dengan langkah berani aku mendekati pintu kelas dan memutar knop pintu. Dengan perlahan dan sangat hati-hati aku berhasil dengan langkah pertamaku. Aku seketika terkejut saat menemukan seorang anak perempuan berambut pendek yang sedang menangis di pojok kelas sambil menutup wajah dengan kedua tangannya yang mungil. Aku tersenyum. Lega karena suara tangisan itu bukan milik hantu ataupun sejenisnya. Kembali dengan langkah perlahan aku mendekatinya untuk sekadar membuatnya berhenti menangis. Namun, semakin aku mendekatinya ternyata dia bukanlah seorang anak perempuan melainkan seorang yeoja berambut ikal berwarna hitam. Saat beberapa langkah lagi aku sampai ke pojok kelas Ia berhenti menangis. Ketika ia tidak lagi menutup wajah dan terlihat menyeka air matanya, matahari bersinar dengan sangat terang menutupi wajahnya. Aku menyipitkan mataku yang mendapat asupan sinar matahari yang overload.

“Tolong tutup gordennya” aku akhirnya meminta yeoja itu untuk menutup gorden yang tepat berada disampingnya.

“Yaa, Agashii. Tolong tutup gordennya” aku sudah berteriak sekarang.

Seketika ia menghilang dari hadapanku digantikan dengan suara teriakan seseorang. Hampir aku meraih benda yang yeoja itu tinggalkan diatas meja. Namun suara berteriak tadi kini sedang melempari aku dengan beberapa buah bantal.

Agashii?? Yaa, Kai. Cepat bangun nanti kau bisa terlambat” kalimat itu terdengar sangat jelas. Aku mencoba mencari sumber suara sambil membuka mataku yang terasa sangat berat.

Seketika aku tersadar dan mendapati So Ra noona berada persis di hadapanku saat ini dengan memegang seember air. Bila aku terlambat beberapa detik saja tadi sekarang pasti aku sudah basah kuyup. Melihat ekspresi galaknya itu aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dengan sigap aku meluncur ke kamar mandi. Ia tersenyum puas seperti baru saja memenangkan lotere 5 juta won.

“Aku sudah siapkan sarapan, Kai” noona mengingatkanku. Adiknya yang sama sekali tidak suka makan pagi ini seraya keluar dari kamar.

 

(KAI POV)

Suasana rumah sudah sepi saat aku keluar dari kamar. Sepertinya noona sudah berangkat ke rumah sakit. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku tahu ini sudah sangat terlambat untuk datang ke sekolahku yang membosankan itu. Sekolah yang kurikulumnya dipenuhi dengan pelajaran ekonomi, manajemen, hukum, dan ilmu pasti lainnya dan aku sama sekali tidak tertarik. Dan yang paling parah aku masih harus melewati satu setengah tahun terakhirku disana. Mungkin aku akan benar-benar gila nanti setelah lulus atau mungkin aku tidak akan pernah lulus. Entahlah. Aku sudah muak dengan semua ini. Muak dengan semua tekanan yang appa berikan. Bahwa aku harus mengikuti apapun yang Ia mau. Termasuk menentukan apa yang aku inginkan, apa cita-citaku, dan ingin menjadi apa aku di masa depan. Aku muak saat Ia selalu mengecilkan apa yang sangat aku banggakan.

Aku baru saja hendak menstarter One-77-ku saat telepon genggamku berdering keras dari dalam ransel. Ternyata sebuah panggilan dari Sehun. Beberapa detik aku merasa ragu untuk menerima telepon darinya. Satu panggilan terlewati dan beberapa detik kemudian Ia kembali meneleponku. Aku sangat yakin sudah pasti Sehun diminta oleh wali kelas untuk mengecek dimana keberadaanku sekarang kemudian memintaku untuk datang ke sekolah dengan normal.

“Yaa, Kai. Kau dimana? Kau tidak datang ke sekolah hari ini?” Sehun langsung menyampaikan maksudnya bahkan sebelum aku mengucapkan sepatah katapun. Ia terdengar setengah berteriak. Mungkin Mrs. Choi, guru manajemen kami baru saja keluar dari ruang kelas.

“Yaa, Sehun-ah. Waee? Aku sedang malas datang ke sekolah hari ini” aku menjawab sekenanya.

“Yaa, Tuhan, Kai. Kau tau kan barusan ini mata pelajaran siapa? Kelas manajemen, kelas Mr. Choi Seunghyun. Apa kau sudah amnesia?” Sehun selalu berbicara sangat cepat saat Ia panik.

“Yaa. Kenapa kau panik? Aku seharusnya yang merasa panik sekarang kan?” jawabku dengan tenang sambil mengenakan sebuah sweater berwarna hitam. Panggilan seketika diakhiri. Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Ini bukan pertama kalinya bagiku dipanggil oleh guru mata pelajaran atau membolos sekolah. Ini sudah kesekian kalinya. Bahkan jika disuruh mengingat aku sudah tidak ingat sudah berapa puluh kali aku membolos.

Jarak antara sekolah yang cukup jauh dari rumah membuatku semakin bahagia. Aku selalu menganggap saat-saat seperti ini sebagai jalan-jalan di pagi hari dimana jalanan sudah mulai sedikit lengang dan tidak terlalu dipadati oleh kendaraan pribadi yang berhimpitan disana-sini. Terkadang itu membuatku ingin lenyap seketika dan berteleportasi ke atas Patung Spinx atau Niagara Fall saat berada ditengah-tengah kemacetan. Dan satu hal lain yang sangat aku sukai adalah berhenti beberapa menit di depan sebuah sekolah Musik dan Seni, memandanginya dan berharap sebuah keajaiban datang dan aku menjadi bagian dari sekolah itu. Lalu seketika aku tersadar akan fakta kehidupan yang terkadang bisa dibilang tidak adil ini.

Tiga puluh menit kemudian

Aku turun dari mobil yang aku parkiran tidak terlalu jauh di luar sekolah. Sengaja aku mengenakan sebuah kacamata hitam dan berjalan dengan sedikit cepat menuju belakang sekolah saat aku melihat jarum jam tanganku menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi. Ya benar, belakang sekolah dimana aku bisa memperoleh jalur masuk tanpa harus melaporkan ini itu pada keamanan sekolah.

Aku melompati gerbang belakang sekolah yang tidak terlalu tinggi. Hanya ada beberapa orang yang mengetahui jalur ini sehingga aku bisa merasa aman untuk melewatinya kapanpun aku mau. Ini satu-satunya hal menyenangkan dari sekolah yang aku tau.

♪♪♪

 

New York, United States of America

(Author POV)

Ne, oppa. Mungkin aku akan tiba disana besok pagi.

          Sebuah pesan via LINE terkirim ke Seoul

What? Besok pagi? Hubungi aku saat kau sampai ya. Aku akan menemuimu sepulang sekolah.

          Pesan yang baru saja diterima oleh yeoja berambut ikal itu lebih terdengar seperti perintah. Yeoja itupun hanya tersenyum saat membacanya dan mulai membalas.

Siap, oppa. Aku akan langsung menghubungimu satu detik ketika aku turun dari pesawat dan menginjak kembali tanah Korea.

Yeoja itu mengirim pesan disertai sebuah stiker bergambar beruang berwarna cokelat yang memberi hormat layaknya tentara.

Sebuah pesan kembali masuk dan kali ini hanya sebuah gambar beruang coklat dengan ekspresi sedih memegang sebuah banner besar diatas kepalanya bertuliskan Missing You.

I miss you and him that much, Oppa

Ia kembali akan mengirim pesan sebelum akhirnya menghilangkan dua kata and dan him hingga tersisa kalimat I miss you that much, Oppa.

♪♪♪

(Author POV)

Kai membelokkan stir mobil jutaan dolarnya kearah kiri dengan sangat cepat sehingga harus menginjak rem secepat mungkin agar tidak menabrak trotoar di depan rumahnya. Beberapa kali ia menekan klakson dengan sangat keras namun tidak seorangpun keluar untuk membukakan pagar rumah. Akhirnya ia turun dari mobil dan membuka pagar dan menyadari bahwa tidak ada orang dirumah terlihat dari suasana rumah tanpa satu lampu pun yang menyala. Kai memarkirkan mobilnya di carport lalu beranjak naik ke studio latihannya di lantai dua melalui tangga di samping carport.

Ia menyalakan sebuah stand lamp di sudut ruangan yang berisi berbagai macam instrument musik dan yang paling ia sayangi adalah satu set drum pemberian terakhir eommanya beberapa tahun yang lalu. Ia mengusap alat musik kesayangannya itu dan meraih dua buah stik yang berada di salah rak di dekatnya. Ia merasakan sesuatu yang asing saat Ia duduk menghadap alat musik pukul itu. Kai mulai memainkannya dan terdengar dari permainan drumnya Ia bukanlah seorang amatir. Ia terlihat sangat menikmati saat ini. Selalu begitu. Saat dimana Ia bisa bebas mengekspresikan dirinya melalui permainan drum. Musik adalah satu-satunya hal yang sangat Ia cintai selain eomma dan noona-nya.

Kai menghentikan permainannya saat waktu sudah menunjukkan lewat pukul sebelas malam. Ia melepaskan seragam sekolah yang sudah dengan penuh keringat itu dan meletakkannya begitu saja di atas sofa. Ia mengambil sebotol air mineral dari dalam ranselnya lalu duduk di atas balkon.

Ia menghela napas panjang lalu mencoba membuat pikirannya tenang sesaat dengan memandangi pemandangan kota di kejauhan yang tampak masih ramai. Diantara deretan gedung tinggi yang memenuhi pandangannya terlihat sebuah gedung yang terletak hanya beberapa blok dari rumahnya. Yang dimaksudnya adalah sebuah bangunan berlantai dua yang merupakan sebuah sekolah dasar. Kai selalu mengingat saat-saat ketika eomma mengantarnya dan juga So Ra noona ke sekolah. Ia juga ingat saat eomma beberapa kali harus menemui wali kelas saat ia kelas lima karena menjahili seorang anak perempuan bahkan pernah berkelahi dengan beberapa anak laki-laki. Ia tersenyum getir mengingat kenangan itu. Ia sangat merindukan eomma-nya. Setetes air mata jatuh tepat diatas smartphone-nya yang dalam posisi on dan menampilkan sebuah foto. Ia memandangi empat orang di dalam foto yang sedang tersenyum dengan latar belakang pantai berpasir putih.

Dia merasa sangat emosional saat ini. Ia larut dalam memori indah yang Ia tahu tidak akan pernah terulang lagi dan itu membuatnya sakit. Wajahnya terlihat sedih dengan tatapan kosong penuh kerinduan dan kesepian. Ia berusaha menahan tangisnya yang kapanpun bisa pecah.

Tepat pukul dua belas malam Ia mendapat hampir lima puluh pesan dari nomor yang tidak Ia kenal. Ia mengacuhkan pesan pesan itu yang sudah pasti dari para yeoja yang terus menerus membuat kepalanya pusing. Mereka salah satu alasan Kai mengapa terkadang Ia malas datang ke sekolah. Sikap mereka yang berlebihan malah membuat Kai tidak respek. Apa perlu berteriak-teriak saat Kai hanya melawati lorong kelas? Kai hanya tidak bisa percaya mereka bisa bertingkah berlebihan seperti itu.

Kemudian datang lagi beberapa pesan baru melalui LINE. Mendengar smartphone-nya berdering tiada henti, Kai memutuskan untuk menonaktifkannya sebelum tiba-tiba telepon genggam berwarna putih itu kembali berdering panjang. Tertulis noona di layar smartphone-nya.

Saengil chukka hamnida . . .” terdengar suara noona di ujung telepon sedang menyanyikan sebuah lagu. Beberapa menit Kai terdiam mendengarkan suara kakaknya itu.

“Happy birthday my beloved brother, Kai. I wish you a really happy day forever. Please be happy. Saranghae” suaranya mulai terdengar terisak sekarang.

Selalu begini. Akan selalu begini. Saat salah satu diantara mereka berdua merayakan ulang tahun keduanya pasti akan larut dalam tangis. Tangis bahagia tentunya. Bahagia karena mereka masih terus bersama walau sudah terlalu banyak masa-masa sulit yang mereka harus hadapi bersama. Dan kali ini mungkin noona sudah tidak sanggup harus mengucapkan selamat secara langsung.

Odia, noona?” Kai akhirnya berbicara.

“Aku dirumah sakit sekarang, Kai. Kau tidak lupa kan kalau aku sekarang bertugas di bagian gawat darurat?” noona mencoba tertawa.

“Kau dimana? Kau tidak keluyuran lagi kan? Apa kau sudah makan?” Ia kembali pada mode cerewetnya. Kai menjauhkan sedikit teleponnya yang mengeluarkan suara cukup nyaring barusan.

“Aku di rumah. Baru saja selesai latihan. Tenang saja noona, aku sudah makan bersama Sehun tadi” aku berbohong untuk satu kalimat terakhir.

“Apa tanganmu sudah benar-benar sembuh sekarang?” suaranya kembali terdengar khawatir. Ia memandangi tangan kanannya yang masih di perban sejak satu bulan lalu. Tangannya patah saat berkelahi dengan beberapa “preman” sekolah yang memang punya dendam pribadi dan salah salah satu dari mereka menginjak tangannya. Ia ingat saat itu Ia pulang dengan tangan penuh darah dan wajahnya bonyok.

Kai sedikit menyesali apa yang baru saja Ia katakan. Seharusnya tadi dia katakan saja kalau dia sedang berada di kamar dan baru saja akan tidur. Namun, noona pasti akan lebih tidak mempercayai itu.

“Tidak apa-apa, noona. Sudah satu bulan aku tidak bermain drum. Teman-teman bandku juga sudah lama tidak latihan karena keadaan tanganku” Kai menjelaskan dengan hati-hati. Kakaknya menghela napas. Ia tahu kalau adiknya itu sangat keras kepala.

“Ya sudah. Aku ada pasien sekarang, Kai. Cepat makan dan jangan tidur terlalu malam” kata Sora cepat kemudian telepon terputus.

(KAI POV)

Aku baru saja hendak beranjak masuk saat terdengar langkah kaki seseorang menapaki anak tangga. Aku menerka-nerka siapa yang datang mengunjungiku selarut ini. Ia pasti seseorang yang aku kenal. Saat tiba di anak tangga terakhir terlihat seseorang yang masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan sebuah ransel berwarna merah. Ia meniup terompet yang tangan kirinya pegang dan membawa sebuah kue dengan lilin diatasnya. Ia berjalan mendekatiku sambil menyanyikan sebuah lagu selamat ulang tahun lalu berhenti dan mendekatiku sambil mengisyaratkan agar aku meniup lilin yang memercikkan cahaya seperti kembang api. Aku masih memandangi kehadirannya yang sangat tidak diduga-duga ini. Walaupun sebenarnya Ia memang penuh kejutan.

Piuhh. Dalam sekali tiup saja aku bisa memadamkan ke tujuh belas buah lilin itu. Aku tersenyum. Lebih terlihat menyeringai sebenarnya. Aku juga memberikannya ekspresi dengan tanda tanya besar di wajahku.

“Yaa, apa aku tidak boleh duduk dulu?” Ia lalu duduk di balkon setelah melepaskan ranselnya yang terlihat cukup berat dan meletakkan kue ulang tahun di tengah kami berdua.

“Apa kau tidak mau coba ini? Kuenya enak” katanya sambil mencomot sedikit bagian berwarna ungu dari rainbow cake yang Ia bawa.

Eomma yang khusus membuatnya untukmu” mendengar kata Eomma membuatku mau tidak mau berhenti sejenak untuk meminta penjelasan atas kehadirannya di tengah malam buta seperti ini. Aku mencicipi kue ulang tahun pertamaku dengan mencoba sedikit bagian kue yang berwarna coklat.

“Kenapa kau tidak pernah datang ke sekolahku lagi, Kai?” tanyanya membuka pembicaraan.

“Aku baru sembuh beberapa hari lalu, hyung. Dan bukannya kau bilang akan pergi ke Amerika, kan?” aku memastikan informasi yang aku dapat.

“Selain itu hatiku sakit saat aku hanya bisa memandangi sekolahmu dari kejauhan. Bahkan saat aku masuk secara diam-diam kesana, aku tetap tidak bisa berbuat apa-apa? Aku terkadang merasa sangat iri setiap kali aku melihat kalian berlatih instrumen musik, bermain peran, menari dan melaksanakan berbagai festival seni” lanjutku terdengar menyedihkan.

Ia terdiam. Sepertinya itu pertanda bahwa Ia setuju dengan apa yang baru saja aku katakan. Kami berdua sama-sama tahu hanya keajaiban yang memungkinkan aku bisa pindah ke sekolahnya. Sekolah yang pasti akan membuatku yakin bahwa aku spesial, berbeda dengan caraku sendiri. Bahwa aku punya sesuatu yang bisa aku banggakan. Aku tahu apa yang aku mau dan tahu bahwa aku bisa melakukannya dengan baik.

“Jangan jadikan sekolah sebagai alasan. Kau bisa berlatih sendiri, Kai. Setiap saat jika kau mau. Dan kau punya teman-teman bandmu, So Ra noona, dan juga aku yang akan selalu mendukungmu. Kau hanya perlu berlatih dengan keras.” Ia tersenyum menyemangatiku.

Kata-katanya terdengar bijak untuk seorang namja yang usianya hanya terpaut satu tahun dariku. Lebih dari delapan tahun kami berteman. Bahkan mungkin lebih dari teman. Ia sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Saat aku harus mendapat beberapa omelan panjang lebar dari noona, ia yang akan mengartikan omelan itu sebagai perhatian dan rasa sayang noona padaku. Bahkan saat aku pernah membuat seorang teman satu kelasku saat sekolah dasar menangis, dia yang meminta maaf pada seorang anak perempuan itu dengan memberi sebuah permen kapas.

Lee Taemin namanya. Namja berwajah tirus dengan kulitnya yang putih. Banyak yeoja yang menyukainya namun tidak satupun dari mereka yang sanggup meruntuhkan hatinya. Ia pernah bilang ia sudah menemukan seorang yeoja namun belum siap untuk menyatakan rasa cintanya itu.

Hyung, apa kau ingat pada Hyo Jae? Kim Hyo Jae?” tiba-tiba aku menanyakan hal yang sama sekali jauh dari konteks pembicaraan kami sebelumnya. Ia mengernyitkan dahi. Mungkin ia masih tidak mengerti mengapa aku menanyakan sesuatu dari pemilik nama itu.

“Hyo Jae yang pernah menangis saat kita masih di sekolah dasar?” tanyanya kemudian.

Aku mengangguk dan tanpa sadar mengenang kembali memori enam tahun lalu itu.

(Author POV)

“Jangan lupa tugas kelompok kalian ya” seorang guru kesenian mengingatkan siswanya sambil berlalu keluar dari kelas. Terlihat seorang anak laki-laki berlari menyusul gurunya yang baru saja keluar itu. Beberapa menit kemudian Ia kembali masuk ke dalam kelas dengan wajah manyun seperti baru saja mendapat sesuatu yang tidak ia inginkan.

“Apa kau mau bertukar pasangan denganku?” Ia lalu bertanya pada salah seorang temannya. Dan yang Ia tanyai menggeeleng pertanda Ia harus menerima keputusan awal gurunya. Ia menghela napas seakan membayangkan kenyataan buruk akan terjadi. Mungkin ini sedikit berlebihan.

“Jongin-ah, apa kita tidak bisa mengerjakannya bersama?” seorang anak perempuan berambut pendek bertanya dengan sangat polos pada Kai kecil di depan kelas.

                   “Tidak. Tidak. Aku tidak bisa dan tidak mau mengerjakan tugas kesenian itu denganmu. Bukankah kau punya teman-temanmu itu kan?” Kai kecil menunjuk beberapa anak laki-laki yang persis berada di belakangnya. Mereka terlihat begitu melindungi dan ini membuat Jongin kecil semakin mengacuhkannya. Ia lalu membuang muka dan meninggalkan anak perempuan bermata bulat itu.

“Aku menemukannya sedang menangis sendirian di taman belakang sekolah hari itu” Taemin membuka suara.

“Saat itu aku bertanya-tanya kenapa Ia bisa menangis sesenggukan seperti itu. Bukankah Ia biasanya sangat periang kan?” ia melanjutkan sambil melirik Kai yang mendengarkan dalam diam. Mungkinkah ia merasa bersalah? Atau Ia masih tetap menyangkal bahwa hal itu hanyalah kejahilan seorang anak laki-laki dan menganggap Hyo Jae menanggapinya dengan berlebihan?

“Sepertinya aku memimpikannya tadi malam. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu. Saat itu ia sedang menangis di pojok kelas. Mata yang bulat dan rambutnya yang pendek membuat aku yakin itu dia” Kai mencoba mengingat kembali mimpi anehnya itu.

Taemin hanya diam dan mendengarkan pembicaraan absurd Kai mengenai mimpinya.

“Dia sekarang ada dimana ya, Hyung? Apa kau pernah mendengar kabar tentangnya?” Kai mulai mengajukan pertanyaan yang entah siapa yang tahu jawabannya.

“Hari itu hari dimana aku membuatnya menangis, eomma harus datang ke sekolah dan menemui wali kelasku. Namun, eomma sama sekali tidak memarahiku. Eomma hanya bilang saat aku tahu bahwa aku salah aku harus meminta maaf” Kai mengenang ucapan eommanya.

“Aku tahu bahwa aku salah. Tidak seharusnya aku mengatakan hal seperti itu dan ingin minta maaf keesokan harinya. Tapi dia tidak pernah kembali ke sekolah. Aku sudah mencoba datang kerumahnya namun ternyata Ia sudah pindah dari sana” Kai terdengar menyesali sikapnya yang kekanak-kanakan dan merasa sangat bersalah sebelum Ia bertemu dan meminta maaf pada Hyo Jae.

“Sudah enam tahun, kan? Apa itu tidak berlebihan Kai?” Taemin mengingatkan Kai bahwa kekhawatirannya itu berlebihan.

“Iya. Enam tahun, Hyung. Aku tidak bisa melupakan kesalahanku begitu saja. Entah kenapa aku selalu berpikiran bahwa Ia sampai harus pindah karena aku” lanjutnya.

“Sudah enam tahun dan belum pernah aku bertemu lagi dengannya satu kalipun. Aku semakin merasa bersalah setiap kali aku mengingat eomma. Itu satu pesan eomma yang belum aku lakukan bahkan setelah beberapa tahun Ia meninggal” mata Kai sudah berkaca-kaca. Ia selalu emosional saat mengenang apapun tentang ibunya.

“Aku juga merindukan eomma, Kai. Kau boleh menangis jika kau memang ingin menangis” kata Taemin sambil mencoba menenangkan Kai saat beberapa butir air mata Kai kembali jatuh.

 

♪ ♪ ♪

14 April 2014, pukul 06:45 AM

(Author POV)

“Kai, cepat bangun. Sebentar lagi aku sampai di rumahmu” Kai mendengar suara Sehun secara samar-samar dari balik selimut. Ia belum sepenuhnya sadar dari tidur.

Tut. Sambungan telepon terputus. Namun itu tidak membuat Kai bangun begitu saja. Ia malah menarik selimut dan kembali mencoba tidur ketika sebuah pesan membuat teleponnya kembali berdering.

Kai kau harus masuk hari ini. Kalau tidak wali kelas akan menghubungi appa-mu atau So Ra noona.

                   Kai akhirnya bangun meskipun Ia masih merasa sangat ngantuk. Wajar saja baru empat puluh menit lalu Ia bisa tidur. Matanyapun masih berat untuk sekadar membalas pesan Sehun. Namun, Ia akhirnya melepas selimut dan bangkit dari tempat tidur. Terpaksa Ia masuk sekolah hari ini bukan karena takut pada appa-nya yang akan marah besar melainkan Ia tidak mau merepotkan kakaknya yang pasti sangat sibuk. Dan pasti sangat tidak penting bila dia harus datang ke sekolah dan mendapat kabar ini itu tentang adiknya.

Kai mandi dengan sangat cepat lalu mengenakan seragam sekolahnya. Ia juga mengambil sebuah jaket kulit dan topi berwarna hitam lalu turun dari kamarnya. Sehun membunyikan klakson dari balik pagar tepat saat Kai keluar dari rumah. Setengah berlari Ia melintasi halaman rumahnya yang cukup luas.

“Ini untukmu” kata Sehun sambil melemparkan sebuah kantong kertas berwarna hitam saat Kai masuk ke dalam mobil lalu mulai melajukan Jaguar merahnya.

Kai membukanya tanpa bertanya apapun pada Sehun. Ia tersenyum saat membuka isinya. Ternyata Ia mendapati sebuah miniatur set drum dari kayu dan selembar kertas kecil kosong.

Thanks anyway, Sehun-ah. Tapi apa ini?” Kai masih tidak mengerti kenapa ada selembar kertas kosong. Apa Sehun lupa menuliskan ucapan selamat?

“Ahh, apa ini artinya aku bisa minta apapun?” Kai tiba-tiba melanjutkan kalimatnya sebelum Sehun sempat menjawab. Sehun terlihat mengangguk. Lalu keduanya tertawa.

“Tapi aku bisa menggunakannya kapanpun, kan? Bagaimana kalau tiba-tiba aku ingin ke Mars?” lagi lagi Kai kembali bertanya.

“Yap. Kapan saja kau mau, bahkan di tengah malam sekalipun” Sehun menegaskan.

“Oke, baiklah. Sepertinya ini menarik. Apapun dan kapanpun kan?” Kai terlihat bersemangat. Sehun terlihat senang melihat sahabatnya itu bisa tersenyum di hari ulang tahunnya.

“Kau harus kembali berlatih, Kai. Aku dengar akan ada beberapa festival musik dan battle untuk drummer, gitaris, dan juga pemain bass dua bulan lagi” Sehun memberikan semangat.

“Semoga dengan melihat miniatur itu, kau akan selalu ingat akan cita-citamu dan ingat banyak sekali yang akan selalu mendukungmu” lanjutnya.

Thanks, Sehun-ah. Thank you” Kai kembali berterima kasih.

Sehun adalah orang ketiga setelah So Ra noona dan Taemin hyung yang sangat mengerti Kai. Hal ini tidak mengherankan karena mereka berdua sudah berteman bahkan sejak mereka masih di taman kanak-kanak. Dan seperti sudah ditakdirkan, Sehun dan Kai selalu berada di sekolah yang sama hingga sekarang.

Tidak seperti kebiasaan Kai, Sehun masuk dan memarkirkan mobilnya ke parkiran sekolah. Meskipun keduanya berteman tapi Sehun tidak pernah bolos. Dan ini juga bagus untuk Kai, Sehun akan jadi mewakilkan semuanya saat Kai membolos. Namun tidak untuk hari ini.

Mereka berdua lalu turun dari mobil dan dengan terburu-buru Kai mengenakan topinya untuk mengantisipasi hal yang tidak Ia inginkan. Keduanya terlihat seperti idol ditengah kerumunan siswa yang memasuki halaman sekolah. Dan seperti sudah diduga, ratusan yeoja yang sudah mengukuhkan diri menjadi fan girl Kai dan Sehun seketika berteriak bahkan dari lantai tiga saat melihat mereka melintasi halaman sekolah menuju lorong.

“Aku berharap setidaknya sekolah ini punya lift” Sehun berbisik saat mereka kesulitan menaiki tangga menuju lantai dua. Kai sepertinya enggan berkomentar apapun dan terus mempercepat langkahnya.

“Mungkin besok kita harus datang lebih pagi atau tepat saat bel masuk, Kai” saat keduanya sudah duduk dengan selamat di kelas mereka pagi ini.

 

♪♪♪

Pukul 04:00 PM

(Sehun POV)

Kai duduk bersimpuh lalu meletakkan seikat bunga di tengah makam eomma. Aku membungkuk menunjukkan rasa hormatku.

Eomma, aku disini” Kai akhirnya mengucapkan sesuatu sejak hampir satu jam kami berada disini.

Eomma, aku merindukanmu. Begitu juga noona” Kai mencoba tersenyum saat mengucapkannya. Ia terlihat menahan agar air matanya tidak jatuh.

“Aku akan jadi anak yang baik, eomma” Kai menghapus bulir air mata yang jatuh di pipi kirinya. Ia lalu berdiri dan kami memutuskan untuk meninggalkan lokasi makam.

Gwenchana?” aku memastikan bahwa ia baik-baik saja.

Ne. I’m okay” Kai seperti mengatakan hal yang sebaliknya. Ia terlihat tidak sehat.

“Sehun, bisa kau turunkan aku di salah satu restoran terdekat? Aku sudah janji makan sup rumput laut bersama noona malam ini” Ia memintaku untuk memberhentikan mobil di restoran favorit keluarganya di daerah Gangnam.

“Kau tidak mau ikut?” Ia menawariku saat kami sudah sampai di sebuah restoran yang menyediakan berbagai jenis masakan Korea ini. Salah satu restoran yang cukup terkenal karena rasanya tetap orisinal dan tidak pernah berubah hampir lima generasi. Ditambah lagi dengan desain dan ornamen-ornamen restoran yang sangat klasik.

“Aku harus pulang, Kai. Eomma baru saja pulang dari Roma tadi pagi” aku mengatakan alasanku.

“Oh, Ne. Sampaikan salamku pada eomma” akupun berlalu meninggalkannya yang terlihat menelepon seseorang.

 

(Author POV)

“Iya, noona. Tidak apa-apa” kata Kai sambil menutup telepon. Ia memilih untuk duduk di salah satu sudut restoran yang tidak terlalu ramai lalu memesan beberapa makanan dengan sup rumput laut sebagai salah satu menunya. Kai mendengarkan beberapa lagu bergenre jazz kesukaannya melalui earphone sambil memperhatikan suasana restoran yang cukup dipadati pengunjung. Terlihat sekumpulan yeoja sepertinya sedang membicarakan beberapa namja yang duduk tidak jauh dari mereka. Tapi satu hal yang Kai tidak mengerti kenapa mereka harus memesan dan makan jjangmyun secara bersamaan? Apa mereka sekumpulan pecinta jjangmyun? Entahlah. Kai juga tidak mau terlalu peduli tentang hal itu.

Sepuluh puluh menit kemudian restoran mulai ramai. Kai baru saja hendak melahap makan malamnya saat salah seorang pegawai restoran mendekati dan menanyakan sesuatu. Iapun mengangguk tanda setuju. Pegawai restoran itu mengucapkan terima kasih dan mempersilahkan seorang yeoja berambut coklat untuk duduk satu meja bersama Kai.

Yeoja bertubuh tinggi itu tersenyum pada Kai lalu duduk di hadapannya. Beberapa kali Ia terlihat mengecek sesuatu di teleponnya.

“Apa itu sup rumput laut?” tiba-tiba Ia tertarik pada menu terakhir Kai. Yang ditanya mengangguk.

“Selamat ulang tahun” satu ucapan selamat terlontar dari seorang asing. Sesuatu yang sulit Kai percaya. Bagaimana dia bisa tahu? Dia tidak terlihat seperti orang Korea walaupun Ia berbicara dalam bahasa Korea dengan fasih.  Tapi bila diperhatikan lagi nampak keeksotikan Asia dari wajahnya yang tidak tertutupi make-up. Kai memilih diam.

“Oh, apa aku salah? Seingatku seseorang harus menyantap sup rumput laut di hari ulang tahunnya” tanyanya sambil mengingat apakah yang ia ucapkan itu memang benar.

“Iya. Aku memang berulang tahun hari ini. terima kasih sudah mengucapkan selamat” Kai akhirnya menjawab.

“Ne. Berarti aku belum pikun kan?” Ia lalu tersenyum kembali pada Kai.

Tidak berapa lama pesanannya tiba. Satu porsi jjangmyun. Dan ini membuat Kai semakin bertanya-tanya ada apa dengan menu jjangmyun hari ini?

“Kenapa hari ini semua orang memesan jjangmyun?” Kai akhirnya memilih untuk mengakhiri rasa penasarannya.

“Benarkah? Aku memesan jjangmyun karena ini adalah makanan kesukaanku dan sudah lama aku tidak memakannya disini” katanya sambil mengaduk mi hitamnya.

“Oh, sebentar. Apa hari ini tanggal 14 April?” tanyanya sambil mengecek kalender di Iphone-nya dengan tergesa. Kai kembali mengangguk.

“Black Day” keduanya mengucapkan dua kata itu secara bersamaan.

Bagaimana bisa Kai lupa bahwa ulang tahunnya berbarengan dengan Black Day, hari dimana para yeoja dan namja yang masih belum mempunyai pasangan merayakan hari mereka ini dengan makan jjangmyun bersama.

Hallo. I’ve already here, Mom. You shouldn’t be so worry, okay” Kai mendengarkan sedikit percakapan telepon yeoja yang ternyata sangat fasih berbahasa Inggris ini. Dari aksennya bisa dipastikan Ia sudah cukup lama tinggal di Amerika. Hal ini juga terlihat dari pakaian yang Ia kenakan dan wajah yang hanya tersapu sedikit make-up. Yeoja itu baru saja hendak meninggalkan meja saat Kai merasa ada sesuatu yang salah dengan kondisi tubuhnya.

Are you okay?” Ia terlihat sedikit kaget melihat “teman” makan malamnya tiba-tiba sakit di hadapannya.

“Bisa tolong hubungi nomor ini?” kata Kai memberikan smartphone sambil menahan sakit di perutnya. Keringat dingin mengalir di dahinya.

Ia mencoba menenangkan diri lalu menghubungi nomor yang Kai berikan. Ia berbicara dengan cepat karena panik hingga harus mengulang beberapa kali agar seseorang di ujung telepon mengerti apa yang ia maksud. Tangannya bergetar sesaat setelah menelepon. Ia terlihat ingin menangis. Entah kenapa reaksinya bisa seperti itu. Yeoja itu akhirnya memutuskan untuk memberikan coat-nya pada Kai yang hanya mengenakan seragam sekolah. Ia juga mengelap keringat dingin Kai yang membanjiri dahinya.

“Bagaimana kalau aku antar ke rumah sakit terdekat?” Ia memberikan penawaran melihat Kai yang makin kesakitan.

Uing. Uing. Uing. Dari kejauhan terdengar suara ambulans yang semakin mendekat.

“Tidak perlu. Noona-ku akan menjemput sebentar lagi” suara Kai mulai melemah. Pegawai restoran dan pelanggan terlihat tekejut saat beberapa orang petugas rumah sakit masuk dan membawa Kai ke ambulans. Yeoja tinggi semampai itu mengekor dari belakang sambil memegangi ransel milik Kai. Ia bertemu dengan seorang perempuan yang mengenakan jas putih rumah sakit. Wajahnya terlihat sangat khawatir.

“Apa kau tadi yang meneleponku menggunakan nomor Kai?” Ia bertanya dan yeoja itu mengangguk. Keduanya sama-sama khawatir akan keadaan Kai yang tiba-tiba saja begitu.

“Aku noonanya. Terima kasih banyak kau sudah mau menolong Kai” So Ra noona mengenggam kedua tangan yeoja itu menunjukkan rasa terima kasihnya. Ia mengangguk.

“Ne. Semoga Kai bisa cepat sembuh”

Nonna mengambil barang-barang Kai lalu ikut masuk ke ambulans yang kemudian secepat mungkin kembali ke rumah sakit. Ia memandangi ambulans yang suaranya sudah terdengar menjauh.

“Kai? Nama yang unik” yeoja itu bergumam seraya masuk kembali ke dalam restoran untuk mengambil tasnya yang tertinggal. Saat ia baru saja masuk seorang pegawai restoran menghampirinya.

“Maaf nona, ini barang-barangmu yang tadi tertinggal dimeja” pegawai tersebut memberikan sebuah postman bag, sebuah jaket kulit berwarna hitam, dan selembar kertas tagihan. Yeoja itu lalu memberikan beberapa lembar uang dua puluh ribu won.

“Aku hanya makan satu piring jjangmyun dan harus membayar lebih dari seratus ribu won? Sepertinya namja itu benar-benar kelaparan” ia sedikit mengomel karena harus membayar satu paket makanan yang tadi belum sempat Kai bayar.

“Baiklah, aku akan menahan ini sementara” katanya sambil tersenyum melihat smartphone dan jaket kulit Kai yang masih ada padanya. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh sebuah pesan yang masuk yang dengan segera ia balas.

Aku sekarang ada di daerah Gangnam, oppa. Aku baru saja selesai makan malam. Apa kau sudah makan?

                   Sebuah pesan kembali masuk.

Jangan kemana-mana. Aku segera menyusulmu kesana sekarang. mengerti?

 

to be continue

Iklan

43 pemikiran pada “Unbroken (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s