Merupuri (Chapter 3)

merupuri exo21

Author: Queeney

Cast : Luhan, Minsu(OC)

Genre : Fantasy, Romance, Misteri

Type : Straight

Length : Chapter

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari sebuah komik. Ide maupun judul adalah milik sang komikus Matsuri Hino. Diksi, alur, dan penokohan ulang adalah hasil imajinasi saya. Sudah pernah di publish dengan nama author yang sama tapi versi berbeda.

Note : mulai dari chapter ini, cerita akan sedikit berbeda dari komik aslinya, jadi bagi yang sudah pernah baca komiknya jangan heran kalau ada perbedaan ya ^^

Do not copy-paste without my permission or steal the story! thanks and enjoyed!

Chapter 3 © Queeney

 

“Kenapa dia bisa kabur begitu mudah?”

“Yang benar saja, setelah sebanyak itu pengawal yang dikerahkan untuk berjaga di depan kamarnya?!”

“Kalau sampai dewan kerajaan tahu apa yang tengah terjadi dengan pangeran Luhan, akan menjadi masalah yang besar!”

“Nama kerajaan Daimonia akan tercoreng jika tahu pangeran Kris mengutuk adiknya sendiri”

.

Suara-suara marah berlomba-lomba memenuhi ruangan. Sebuah ruangan megah dengan dinding dipenuhi goresan-goresan cantik serta batu-batu pualam yang tersebar di setiap sudutnya. Di tengah ruangan tersebut, tepatnya di depan pilar tinggi yang terbuat dari emas murni, duduklah seorang namja paruh baya dengan kharisma kuat terpancar dari setiap jengkal tubuhnya.

Namja tersebut tampak beberapa tahun jauh lebih muda daripada umurnya yang sebenarnya. Dan tampan, tentu saja. Matanya memancarkan aura bahaya yang mampu membuat siapa saja menunduk seketika dihadapannya hanya dengan menatapnya saja.

Suho, adalah raja tertinggi di negeri Merupuri. Memegang tampuk kekuasaan dan menjadi orang paling berpengaruh untuk kelangsungan kedamaian di Merupuri. Dengan semua pesona dan wibawa yang memancar darinya, siapa yang tidak akan tunduk dan menyukainya? Namja itu menjadi raja tepat saat umurnya menginjak usia 38 tahun, raja termuda dalam sejarah Merupuri. Sangatlah muda, jika mengingat umur setiap warga Merupuri berjalan 3 kali lebih cepat serta 5 kali lebih panjang dari umur manusia biasa.

Suho berdiri dari singasananya. Namja yang kini telah menginjak usia paruh baya itu, mengarahkan tatapan matanya yang tajam kepada seluruh orang-orang dalam kerajaan yang ikut serta dalam pertemuan tertutup tersebut. Ruangan seketika sunyi, tidak ada yang berani mengungkapkan sepatah kata pun saat Suho berjalan menuruni anjungan tinggi singasananya.

Namja itu perlahan, dengan gerakan anggun, membuka kedua tangannya seolah hendak memeluk seluruh ruangan,

“Tenanglah saudara-saudaraku, perdebatan keras tidak akan menyelesaikan semua kekecauan yang tengah terjadi” ujarnya dengan senyum ramah.

Suho terus berjalan menuju satu-satunya kursi kosong, yaitu kursi yang terletak tepat di tengah meja rapat. Kursi tersebut memang miliknya, tempat ia duduk jikalau berada pada situasi seperti ini, dimana ia terpaksa harus turun dari singasananya dan bergabung dengan lingkaran para menteri raja yang saling berdebat menyatakan pendapat.

“Aku mengenal kedua putraku dengan baik. Kris maupun Luhan. Percayalah, keduanya tidak berada dalam hubungan saling membenci. Jika analisaku tidak salah, dan aku bisa katakan bahwa ini berarti 80% benar, Kris melakukan ini hanya sebagai candaan belaka dan untuk menghindari upacara kedewasaan yang akan segera dilangsungkan untuknya…” Suho berhenti sejenak.

Dia mengedarkan pandangannya kepada seluruh wajah yang tengah menatapnya intens. Tidak ada yang berani menyela karena mereka dapat merasakan bahwa Suho masih belum menyelesaikan ucapannya.

“Kris. Ah… Putra pertamaku itu, dari dulu bisa dibilang memang sedikit memiliki jiwa pemberontak. Dia tidak akan menerima begitu saja keputusan rapat dewan yang telah menetapkan bahwa pada hari upacara kedewasaanya, dia akan dipertemukan dengan wanita yang nanti akan mendampinginya memegang tahta, menggantikan posisiku”

Suho kembali menghentikan penjelasaanya. Kali ini namja itu tampak mengharapkan suara dari salah seorang menteri yang mengelilingi meja rapat. Maka seorang seorang namja dalam ruangan itu berkomentar,

“Mungkin saya sedikit lancang paduka, tetapi melihat seberapa serius hal yang saat ini terjadi, bukankah kita seharusnya memberitahukan hal ini pada dewan kerajaan? Jika rakyat tahu pangeran Luhan akan menjadi besar saat gelap, itu akan mengakibatkan keresahan dan kerajaan akan dikecam tidak bisa mendidik kedua pangeran dengan baik”

Namja itu berbadan tegap serta berpenampilan lebih normal dari pada yang seharusnya. Ia tampak tidak menggunakan jubah sutra apapun dibalik pakaian besinya. Jelas sekali, posisi namja itu pastilah sebagai menteri pertahanan, mengingat ia mengikuti rapat tersebut dengan pakaian kebesarannya yang berat dan tampak mengancam.

Suho mengangkat kedua tangannya dan melipatnya tepat di depan dagunya, dia kemudian mengarahkan tatapanya pada namja yang baru saja memberikan pendapatnya tersebut. Menimbang sesuatu di dalam kepalanya.

“Maaf, jika saya boleh mengutarakan pendapat, paduka? Dari apa yang saya lihat, memberitahu dewan kerajaan atas semua yang terjadi bukanlah pilihan yang tepat untuk solusi masalah ini. Kita jelas mengetahui bahwa dewan kerajaan sedikit sensitif jika menyangkut masalah internal Daimonia, mengingat sebagian besar dari para pemimpin yang duduk disingasana teratas adalah mereka yang berasal dari kerjaan Asther. Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, saya yakin setiap orang dalam ruangan ini paham dengan apa yang saya maksud. Memberitahu para dewan, sama saja dengan memberi alasan kepada mereka untuk memandang rendah Daimonia. Mereka pasti akan mengungkit kembali mengenai apa yang seharusnya menjadi hak mereka, padahal hal tersebut seutuhnya bukan karena Daimonia.

Menurut saya, paduka, akan lebih baik jika kita memusatkan diri untuk melakukan pencarian terhadap pangeran Kris dan berusaha sebaik mungkin untuk menutupinya dari penglihatan para dewan. Jika kita telah berhasil mengembalikan pangeran Kris ke Istana, kita bisa memberikan pengertian padanya secara baik-baik. Dan bukan hal yang tidak mungkin, masalah kutukan pada tubuh pangeran Luhan akan teratasi dengan mudah”

  Kali ini namja bertubuh sedikit lebih kecil daripada yang lain lah, yang memberanikan diri mengungkapkan isi pikirannya.

“Saya setuju dengan gagasan Kyungsoo-ssi, paduka. Jika menilik dengan seksama, gagasan terbagus saat ini memang adalah menemukan pangeran Kris. Apalagi, kitab mantra suci yang dibawanya harus segera dikembalikan ke tempat semula sebelum dewan curiga” kali ini seorang namja yang duduk tepat disamping Suho lah yang berbicara. Ia terlihat sangat berpendidikan dengan senyumnya yang berwibawa.

Suho meneliti ke sekeliling meja rapat, kalau-kalau ada mentri lain selain Tao, Kyungsoo dan Lay, yang hendak mengutarakan pendapatnya. Tapi ruangan itu kembali sunyi dan dari wajah-wajah dihadapannya, Suho dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka telah sama-sama menyetujui satu solusi.

“Baiklah, kalau begitu aku meminta dengan hormat kepada kalian semua untuk melakukan pencarian terhadap putra tertuaku, yang saat ini mungkin saja tengah merencanakan bentuk pemberontakan lain untuk mengungkapkan rasa frustasinya terhadap takdir beratnya yang menanti. Aku siap menunggu laporan setiap saat untuk kemajuan hal ini. Aku rasa cukup untuk rapat kita yang panjang dan melelahkan ini. Hidangan makan malam akan siap dalam beberap jam lagi dan aku secara pribadi mengundang semua yang hadir disini untuk menghadiri makan malam penuh khidmat bersamaku dan permaisuri, serta pangeran Luhan yang sebentar lagi akan aku utus kembali meninggalkan istana untuk mendapatkan pelajaran lebih nyata mengenai hal-hal sepele tapi penting untuk kelangsungan kerajaan Daimonia ke depannya” tutup Suho.

***

Minsu menatap datar pada balon sapphire blue yang ia ikatkan pada sandaran kursi dihadapannya. Balon itu sudah menciut banyak dari saat Minsu mendapatkannya tentu saja. Dia kembali terbayang saat Luhan memberikan balon itu padanya.

“Ah… anak itu, kenapa bisa terlihat sangat keren saat memberikan balon ini?” ujar Minsu pelan sembari menghela nafas dengan berat.

Pagi ini, Minsu terbangun lebih lambat dari biasanya. Semalam tidurnya terasa tidak enak, Ia jadi merasa kesepian sekali sejak Luhan kembali ke Merupuri, padahal itu baru 4 hari. Sebenarnya ia sedikit kesal saat ini. Ia merasa dipermainkan oleh pangeran cilik dari negeri sihir itu. Tapi walaupun begitu, tidak dipungkiri, Minsu seperti punya kebiasaan tambahan setiap harinya. Dia jadi suka membuat nasi omelet, bahkan seingatnya dari dua hari kemarin, ia hanya memakan makanan itu saja. Lebi parah lagi, dia jadi suka duduk di depan televisi, menantikan penayangan serial Bika Ranger.

Dibandingkan saat ia sendirian dulu, kini Minsu jauh merasa lebih kesepian. Mungkin salahnya juga karena merasa terbiasa dengan kehadiran Luhan yang tidak pernah membuat hidupnya tenang.

Bagaimana mungkin bocah itu belum datang juga? Batin Minsu frustasi.

Bunyi alarm dari jam yang tertempel di dinding ruang tengah, menyadarkan Minsu. Dia mengalihkan pandangannya ke arah jam tersebut. Pukul 10.00. Jika tadi Minsu memberanikan diri berangkat ke sekolah, mungkin sekarang ia akan berada di tempat favoritnya yang biasa, di bawah salah satu pohon rindang di sekolah yang terletak tepat mengarah ke lapangan basket.

Kebiasaanya selama ini di tempat itu adalah memerhatikan seorang namja bernama Chanyeol yang menjabat sebagai ketua di kelasnya. Namja bermarga Park itu adalah satu-satunya namja yang tengah menarik perhatiannya saat ini. Dia sangat ramah, dan tentu saja merupakan priaidaman untuk seorang yeoja seperti Minsu, yang mengidamkan sebuah pernikahan dengan jodoh baik yang ditakdirkan untuknya.

“Hmm… Luhan juga tidak kalah tampan dengan Chanyeol, walaupun sedikit menyebalkan” Minsu berucap tanpa sadar. Yeoja itu termenung lama sebelum akhirnya memukul kepalanya dengan keras dan tiba-tiba. Tampaknya ia baru saja merutuki kebodohannya.

***

Nuna! Aku datang!”

Sebuah terikan keras terdengar berasal dari kamar Minsu. Dia menoleh kaget ke arah sumber suara. Luhan! batinnya, kemudian berlari dan hendak membuka pintu kamarnya dengan cepat, tepat saat Luhan juga memutar hendel pintu dengan kuat. Minsu kehilangan keseimbangan, dengan telak ia jatuh menimpa Luhan, membuat namja itu oleng dan jatuh seketika di atas tempat tidur Minsu.

“KYAA, LU! TUBUHMU!” pekik Minsu sesaat setelah matanya terbiasa dalam suasana kamar yang gelap. Luhan terlihat mengelus puncak kepalanya yang pening akibat tubrukan badan Minsu yang tiba-tiba.

“Kau kenapa masih besar saja?” lagi-lagi Minsu bertanya, tidak memperdulikan ringisan Luhan yang berusaha bangun dari tidurnya karena dia masih tetap berada di atas tubuh Luhan.

Nuna, Lututku sakit kau himpit begitu! biarkan aku duduk dulu” sungut Luhan akhirnya saat mendapati sinyal bahwa Minsu tidak akan beranjak sebelum namja itu menyadarkan dimana posisinya berada saat ini.

Minsu seketika salah tingkah, ia turun dari atas tubuh Luhan dan berdiri dihadapan namja itu dengan berkecak pinggang. Ia mengamati Luhan dengan seksama, walaupun enggan, tapi Minsu harus mengakui bahwa namja dihadapannya itu benar-benar tampan.

Ini pertama kalinya Minsu melihat Luhan dalam tubuh dewasanya, memakai pakaian kerajaan yang hanya pernah dilihatnya saat ia pertama kali bertemu Luhan. Pakaian kerajaan yang terlihat elegan dan sangat rumit itu seolah meningkatkan pesona Luhan dua kali lipat lebih dari pada biasanya, dan ini bukanlah hal yang bagus, mengingat Minsu kini harus merasakan sedikit sesak memenuhi dadanya.

“Nah, aku kembali bukan?” setelah beberapa saat berlalu, Luhan berbicara. Ia menggapai tangan Minsu dan menyentakan tubuhnya sedikit ke arah depan, memeluk yeoja itu tiba-tiba. Sontak ini membuat Minsu kelabakan, ia berusaha melepaskan tangan Luhan yang melingkar di punggungnya.

“Aku merindukanmu nuna… biarkan aku memelukmu” ucap Luhan pelan sembari menyandarkan dagunya di atas pundak Minsu.

Beberapa menit berlalu dengan mereka masih berada diposisi yang sama. Minsu sudah nyaris tersedak dengan nafasnya sendiri. Ia berusaha keras sedari tadi untuk mengingatkan dirinya bahwa Luhan yang sekarang tengah memeluknya adalah bocah 7 tahun yang akhir-akhir ini membuat kekacauan dihidupnya yang damai.

Untuk namja sepantarannya, tentu saja normal berpelukan seperti ini Minsu mendesah dalam hati.

“Benar juga, yang menyuruh kau datang lagi itu ‘kan aku” ujar Minsu. Tangannya perlahan terangkat dan balas memeluk tubuh Luhan. Ia tersenyum kecil mengingat betapa rindunya ia pada kehebohan yang dibuat namja ini.

“Jadi, kenapa tubuhmu masih bereaksi dalam gelap? Bukankah kakakmu itu sudah berhasil ditangkap?” Minsu berjalan menghidupkan lampu kamarnya setelah adegan sedikit intim untuk hubungan saling kenal yang baru berjalan kurang dari 2 minggu itu selesai. Luhan melipat kakinya menaiki tempat tidur, mengarahkan tubuhnya menghadap Minsu.

“Kris hyung sudah keburu kabur saat aku kembali ke Daimonia, dan tidak ada satupun yang bisa menghilangkan kutukan ditubuhku termasuk ayah, karena kutukan ini ternyata berasal dari kitab suci, yang berarti hanya bisa dihilangkan dengan mantra pembalik yang ada di kitab tersebut” jelas Luhan sembari menopang dagu.

Entah kenapa Minsu merasa, tatapan Luhan sedikit berubah dari yang sebelumnya. Ia tampak sedikit lebih dewasa, dan fakta ini membuat Minsu makin resah dengan detak jantungnya yang menjadi sedikit tidak normal.

“Kau tidak menanyakan kenapa aku kembali?” Luhan balik bertanya, masih dengan tatapannya yang intens.

Kening Minsu berkerut bingung, “Untuk berkunjung bukan?” jawab Minsu, kendatipun merasa tidak yakin. Untuk pertama kalinya hari itu, Luhan terkekeh pelan. Ia mengangkat tangannya dan perlahan mengacak rambut Minsu, membuat yeoja itu tertegun.

“YA! Apa yang kau lakukan? Aishh…” protes Minsu sesaat tersadar dari keterkejutannya. Ia menepis tangan Luhan pelan tanpa membalas tatapan namja itu. Luhan kembali terkekeh, entah apa yang membuatnya merasa geli.

“Aku akan tinggal disini sementara” ucapan singkat Luhan seketika membuat Minsu kembali mengalihkan tatapannya dengan cepat kearah namja itu. Mata Minsu membulat, “Wae?” tanyanya tidak jelas harus merasa senang atau bagaimana.

“Sudah jelas bukan? Tentu saja karena pangeran Kris belum tertangkap, dan kerajaan yakin bahwa pangeran Kris akan melakukan keisengan lain jika ia kembali bertemu pangeran Luhan. untuk itu pangeran Lu sementara waktu akan bersembunyi di dunia manusia” sebuah suara lain di dalam ruangan tersebut menjawab pertanyaan Minsu.

Dia beralih menatap sisi sebelah kirinya. Seperti yang ia duga, Xiumin kini telah bergabung di dalam kamarnya. Tampaknya namja cantik yang entah Minsu sukai atau tidak itu, gemar sekali muncul tiba-tiba dan menganggetkannya.

“Mengenai kutukan itu, jika aku ingat-ingat lagi penjelasanmu waktu itu Xiumin oppa… astaga, aku jadi sedikit bingung. Bukankah kau bilang bahwa kutukan di tubuh Luhan itu bisa hilang dengan ‘ciuman sang gadis’ yang melegenda? Nah, aku sudah melakukannya dan Luhan sudah kembali ke tubuhnya semula saat dia pulang ke Merupuri, lalu kenapa sekarang dia kembali ke wujud dewasa lagi saat berada dalam gelap?” kali ini Minsu hanya menatap dalam pada Xiumin yang membalasnya dengan tenang.

“Ah mengenai itu, apa aku tidak bilang kalau itu sifatnya hanya sebagai penangkal sederhana saja? yah, semacam pembalik kutukan sementara, bukan permanen” ujar Xiumin enteng, tidak terusik oleh wajah Minsu yang kini benar-benar melongo hebat. Agaknya, ia merasa tertipu. Kalau memang seperti itu, lalu untuk apa ia susah-susah memberikan ciumannya pada Luhan?

“Tentu saja itu karena pangeran Luhan membutuhkan kekuatan sihirnya yang hanya bisa berjalan normal ketika berada dalam tubuh yang sebenarnya” ujar Xiumin seolah menjawab sebuah pertanyaan yang dilontarkan padanya.

“YA! Kau… kau… apa kau bisa membaca pikiran orang lain?” tanya Minsu sontak merasa ngeri dengan namja yang kini tampak khusuk mengamati jemarinya tersebut.

Luhan menoleh pada Xiumin, menatap namja itu dengan tatapan tidak suka, “Itu tidak sopan hyung. Kau sendiri yang mengajariku untuk tidak pernah menggunakan sihir itu karena akan mengganggu privasi seseorang!” ujar Luhan protes.

Xiumin menghela nafas pelan kemudian beralih menatap Luhan,

“Maafkan aku pangeran, aku hanya sedikit penasaran dengan isi pikirannya” jelas Xiumin kemudian menunduk sekilas pada Minsu. Hanya sesaat sebelum berikutnya ia kembali lagi memperhatikan jemarinya yang lentik.

Minsu bergantian memandang dua namja dihadapannya dengan wajah frustasi. Semua penjelasan yang dulu pernah diberitahukan Xiumin kini kembali bercampur aduk di dalam kepalanya. Ia bingung pada beberapa hal yang jelas-jelas harus mendapat keterangan rinci, tapi ia juga tidak mau repot-repot bertanya mengingat orang yang akan menjawab semua pertanyaanya nantinya pastilah Xiumin. Apapun penjelasan namja itu, pasti tidak akan membuat segelanya lebih mudah, melainkan jauh lebih membingungkan daripada sebelumnya.

***

Semburat cahaya merah tiba-tiba melintasi angkasa di atas Minsu dan Luhan ketika sinar matahari muncul dari atas jendela di dekat mereka. Cahaya itu jatuh ke wajah mereka berdua pada waktu yang bersamaan, sehingga Luhan mendadak terlihat kabur.

Minsu mendengar gumaman pelan disebelahnya. Luhan masih tertidur pulas, berkutat dengan alam mimpinya yang mungkin saja berisi tentang Merupuri. Minsu memandang wajah damai itu, memerhatikan lekuk wajahnya yang terlihat tanpa cela. Ia mengumpat dalam hati, menyalahi kebodohannya karena tidak mau mencium namja itu tadi malam (sesudah Xiumin kembali ke Merupuri) untuk mengembalikan wujudnya.

Minsu berguling dan turun dari tempat tidurnya, mendekat ke arah Luhan yang terbaring di atas kasur lipat di sebelah tempat tidurnya. Minsu mendekatkan wajahnya perlahan ke arah wajah Luhan. Sedetik lagi bibirnya akan menyentuh pipi Luhan tepat saat namja itu membuka matanya yang menawan dan beralih menatap Minsu yang membeku di udara.

“Kau mau apa?” pertanyaan yang Luhan lontarkan, bagai hantaman pada Minsu. Dia mundur dengan tergesa tanpa menyadari bahwa ada meja belajar di belakangnya. Kepalanya terbentur dengan keras, mengeluarkan bunyi teredam yang memekakkan.

Minsu meringis, mengelus puncak kepalanya sembari cemberut menatap Luhan, “Aku… aku ingin memberikan ciuman sang gadis!” ujarnya membela diri.

Luhan mengangguk-angguk singkat tetapi segera berhenti sesaat kemudian dan beranjak meninggalkan kasur. Minsu memperhatikannya seksama, memberikan tatapan yang tidak bisa diartikan dengan pasti oleh Luhan.

“Kenapa? aku sedang malas kembali ke wujudku semula, jadi kau tidak perlu memaksakan diri dulu saat ini untuk menciumku” ujar Luhan menjelaskan meski tidak mendapat pertanyaan apapun dari Minsu.

Jam weker di atas meja samping tempat tidur Minsu berbunyi keras, tampak bertekat melakukan tugasnya dengan baik kendatipun sang tuan rumah yang menyetelnya tadi malam telah bangun lebih dahulu darinya. Minsu menjangkau jam weker tersebut dan menekan sebuah tombol di bagian atas, mematikan bunyi yang melengking mengisi suasana sunyi pagi itu. Luhan berjalan menuju pintu kamar mandi tanpa sepatah katapun lagi, membuat Minsu terbengong-bengong akan sikapnya yang menurut Minsu sok-keren.

“Hmm… aku merindukan nasi omeletmu saat berada di Merupuri! Tidak ada satu orangpun disana yang bisa membuatkannya untukku” ucapan Luhan disela-sela acara kunyah-mengunyahnya, mau tidak mau membuat sebuah senyuman manis mengembang di sudut bibir Minsu. Seperti perkiraannya, omelet ternyata masih menjadi kelemahan Luhan. Sepertinya sifat kanak-kanaknya yang secara naluriah masih ada dalam tubuh dewasa itu, tidak bisa hilang begitu saja.

Luhan mengangkat piringnya yang sudah bersih tak bersisa ke arah Minsu, matanya mengedip pelan sebanyak dua kali, sinyal bahwa ia ingin Minsu menambah satu porsi lagi untuk mengisi perutnya yang dari semalam kosong. Mengerti, Minsu terkekeh pelan. Ia mengambil piring Luhan dan mengisi piring tersebut penuh sekali lagi.

“Kau ini, kenapa bisa segitu senangnya sih makan nasi omelet?” kekehnya pelan.

***

Sorakan demi sorakan terdengar seolah meruntuhkan langit-langit ruang olahraga yang saat itu ramai oleh siswa-siswi yang memadati bangku penonton. Pertandingan sengit di tengah lapangan adalah pemicu teriakan-teriakan ini. Sebuah bola berwarna orange kecoklatan dengan garis-garis hitam, atau biasa dikenal dengan bola basket, tampak berpindah tangan dengan cepat. Satu sorakan lagi memenuhi aula saat bola tersebut berhasil memasuki salah satu ring di sudut lapangan.

“KYAA! Nice!” teriak Minsu keras bersama yang lain.

Hari ini adalah awal dimulainya turnamen basket yang telah lama dinanti-nanti. Kejuaraan antar sekolah yang biasanya dimulai akhir tahun, kali ini dipercepat hingga pertengahan bulan agustus. Minsu bersorak kegirangan saat melihat nama seseorang yang sangat ia nanti sepak terjangnya di lapangan, terpampang diurutan teratas daftar nama pemain yang akan diutus sebagai wakil sekolahnya kemarin sore.

Chanyeol mendrible bola dengan cepat, bergerak gesit disela-sela pemain lain. Pesonanya menyihir penonton, termasuk Minsu yang seketika kehilangan suaranya sendiri saat Chanyeol berhasil melewati beberapa orang yang menghadangnya sekaligus. Tempo permainan seolah dikendalikan oleh namja yang baru saja lagi-lagi berhasil melakukan tembakan tiga angka tersebut.

Gemuruh sorakan menyambut kemenangan EXO high school diawal pertandingan pembuka turnamen. Minsu segera melakukan tugasnya sebagai menejer tim. Ia berlari hendak memberikan selamat saat kemudian tubuhnya terdesak dan terdorong menjauhi tim yang saling berpelukan memberikan selamat, karena kini penononton yang tak lain adalah mayoritas diisi oleh siswa EXO, berbondong-bondong ingin memberi selamat pada seluruh pemain yang telah berjuang untuk memenangkan pertandingan.

Minsu memperhatikan kerumunan dengan wajah kesal, “Ya sudahlah, aku tunggu diruang klub saja” ujarnya pelan sembari membalikan badan dan berjalan meninggalkan lapangan.

Minsu sesekali memerhatikan sisi kanan dan kirinya dengan wajah lesu. Mungkin jika murid-murid lain yang tidak menonton pertandingan, berpapasan dengannya di jalan, mereka akan mengira tim sekolah mereka kalah dalam pertandingan pertama. Tapi itu tidak terjadi, disepanjang lorong sekolah yang ditelusuri Minsu, hanya ada dirinya tanpa satu kalipun bertemu dengan murid lain ataupun para staf guru.

Tanpa bisa dicegah, pikirannya melayang pada Luhan. Ia merasa sedikit bersalah meninggalkan namja itu sendirian di rumah.

“Tapi, mana mungkin aku membawanya ke sekolah? Orang-orang bisa salah paham mengira dia pacarku” ujar Minsu keras.

“Pacar? Siapa? Kau sudah punya pacar Minsu-ya?” sebuah suara dibelakangnya otomatis membuat Minsu berbalik. Matanya beradu pandang dengan mata namja yang baru saja menjadi bintang lepangan sesaat lalu.

“Si… Chanyeol-ah? Kau kenapa ada disini?” tanya Minsu pelan, tidak mengindahkan pertanyaan Chanyeol sebelumnya.

“Kau ‘kan tahu sendiri aku kurang suka suasana heboh begitu, jadi aku pergi meninggalkan lapangan saat melihat kau berjalan keluar. Kau tidak ingin memberi selamat, menejer?” tanya Chanyeol terkekeh pelan, membuat Minsu ikut tersenyum kecil. Ia mengulurkan tangannya dan segera dijabat Chanyeol.

Congrats!” ujar Minsu cerah.

“Jadi, siapa yang sedang kau bicarakan tadi?” Chanyeol mendahului Minsu melangkah sebelum akhirnya yeoja itu memperlebar langkahnya untuk menyamai Chanyeol.

Mereka berjalan bersisian, tampak sangat akrab dari pandangan mata seorang bocah yang baru saja memasuki gerbang sekolah dan segera disuguhi pemandangan itu.

“Yang sedang aku bicarakan? Yang mana?” tanya Minsu, benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud Chanyeol. Jelas ia telah lupa apapun mengenai pikirannya tentang Luhan sesaat lalu. Chanyeol tertawa kecil tapi tanpa melepas pandagannya pada Minsu.

“Tentang pacar itu. Aku tidak tahu kalau kau sudah punya pacar” jelas Chanyeol seketika menghentikan Minsu. Ia menatap Chanyeol, berbagai pikiran liar berkecamuk dalam otaknya.

Dia tidak sedang cemburu kan? batin Minsu entah kenapa bersorak senang.

“Tidak, aku tidak punya pacar. Kenapa kau bisa berpikir begitu?” tanya Minsu tanpa sadar menjadi bersemangat.

“Yah… well aku hanya penasaran, habisnya kau terlihat selalu menjaga jarak dengan para pemain” ucapan Chanyeol yang terlihat seolah sedang salah tingkah membuat Minsu benar-benar berpikir liar sekarang. Apapun ekspresi yang terlihat memenuhi wajah Chanyeol saat ini, Minsu tidak mau menghentikan dirinya berpikir bahwa itu sikap orang yang sedang gugup.

“Benar, aku tidak…” ucapan Minsu tidak terselesaikan karena sebuah tangan kini dengan pasti melingkar dipinggangnya yang ramping.

Minsu (juga Chanyeol) mengalihkan pandangannya dengan kaget ke arah belakang, dan seketika pandangan keduanya jatuh pada sosok kecil nan tampan yang tengah menatap Minsu intens. Bocah itu mempererat pelukan tangan kecilnya di pinggang Minsu, seolah sedang menegaskan hanya ia yang boleh melakukan hal tersebut.

“Luhan!” ujar Minsu keras setelah berhasil keluar dari keterkejutannya dan menemukan kembali suaranya yang sempat hilang ntah kemana.

Chanyeol bergantian menatap Minsu dan Luhan dengan pandangan tidak mengerti yang kentara. Sementar itu, Luhan tampaknya masih enggan melepas pelukannya pada pinggang Minsu kendatipun yeoja itu sudah mengenalinya.

“Kau kenapa bisa ada disini?” ujar Minsu lagi, melepaskan tangan Luhan dan kemudian berbalik menghadapnya.

“Aku tidak tahu kalau kau memaksa menciumku hanya untuk meninggalkan aku dan melakukan hal ini” ucap Luhan sembari menyentak pelan Chanyeol yang segera mundur selangkah, tapi hanya sesaat karena kemudian namja itu segera berlutut hingga kini kepalanya hanya sedikit lebih rendah dari Luhan yang berdiri tegap.

Dongsaengmu lucu sekali Minsu-ya” cetus Chanyeol pelan sesaat kemudian sembari tersenyum lebar pada Luhan.

Luhan mendelik, melebarkan kedua matanya dengan marah, “Aku bukan…” kalimatnya terpotong seketika saat Minsu mendekap mulut Luhan dengan tangan kanannya.

“Iya, diaadikku. Aku belum pernah cerita ya kalau aku punya adik?” tanya Minsu sambil tertawa gugup. Chanyeol beralih kembali menatap Minsu alih-alih Luhan yang kini tengah memberontak hebat untuk melepaskan diri dari dekapan Minsu.

“Tidak, kau tidak pernah cerita” jawab Chanyeol menggeleng tapi sambil tersenyum.

“Memangnya apa pentingnya dia cerita padamu? Kau itu bukan siapa-siapa!” ucapan Luhan kembali membuat Minsu mendekap mulutnya, dan kali ini plus pandangan mematikan dari yeoja itu. Luhan terdiam, tapi tampak protes melalui melalui matanya yang dibesarkan, walaupun ia tidak lagi berontak seperti sebelumnya.

Chanyeol memandang pada Luhan, kemudian terkekeh kecil, “Tampaknyaadikmu pencemburu sekali ya. Kau pasti sayang sekali pada nunamu bukan?” ucap Chanyeol dengan tangannya yang kini mengelus pelan rambut Luhan, membuat namja kecil itu seolah dipancing amarahnya menuju puncak tertinggi.

Minsu yang menyadari hawa panas dari Luhan segera mengangkat namja kecil itu, menggendongnya didepan dada. Beban tubuh Luhan seketika membuat tangannya kebas, tapi ia harus segera membawa kabur pangeran kecil itu sebelum dia mengacaukan semuanya.

“Aku ada perlu sebentar, bye Chanyeol-ah” ucap Minsu. Dengan cepat berbalik kemudian berlari dengan Luhan yang tengah memberontak hebat dalam dekapannya.

“Jadi, kenapa kau bisa sampai disini Lu?” tanya Minsu menginterogasi.

Saat ini, Minsu dan Luhan tengah berada di tempat yang paling Minsu senangi, atap sekolah. Tidak akan ada seorangpun yang datang ke tempat itu, karena tempat itu hanya bisa dimasuki oleh orang-orang yang diberikan kunci pintu. Dan Minsu, sebagai anggota dewan sekolah serta menejer klub basket, termasuk dalam jejeran segelintir orang yang diperbolehkan memiliki kunci untuk akses menuju atap sekolah yang langsung berteman dengan langit luas itu.

Luhan merenggut pelan, berjalan menjauhi Minsu dengan tangan di dalam saku. Ia tidak menjawab pertanyaan Minsu, melainkan menglihkan pandangannya memperhatikan tempat itu dengan seksama.

“Jawab pertanyaanku Luhanie, jangan diam saja!” suara Minsu lagi, menahan geram.

Perlahan tanpa melepas tangannya dari dalam saku, juga tanpa repot-repot merubah mimik wajahnya yang masam, Luhan kembali berbalik menghadap Minsu, “Memangnya kenapa kalau aku datang ke tempat ini? kau merasa terancam karena tidak akan bisa dekat-dekat dengan namja kurang ajar itu?”

Pertanyaan Luhan seketika mengagetkan Minsu. Ia terdiam dan hanya menatap Luhan lama. Angin berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambutnya. Dia masih berdiri terpaku di tempatnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, teararah pada Luhan.

“Baiklah, maafkan aku kalau kedatanganku memang mengganggu” ucap Luhan kecil akhirnya. Dia memilih lebih dulu mengalihkan wajahnya menatap ke arah lain selain dari tempat Minsu berada.

“Ya sudahlah, tidak apa-apa. Lain kali, jangan datang kesini lagi tanpa memberithu Lu! apalagi dengan tubuh kecil begitu” tanggap Minsu kemudian berjalan mendekati Luhan.

“Satu lagi, jangan berbicara sembarangan lagi pada Chanyeol” tambah Minsu pelan, menatap Luhan yang kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Minsu, balas menatap.

“Kau menyukai namja itu?” tanya Luhan lewat beberapa detik hanya saling tatap dengan Minsu.

Minsu menatap kekejauhan, matanya tidak terfokus, tapi kata-kata yeoja itu berikutnya tidak tahu kenapa membuat Luhan merasakan sakit disuatu tempat di sudut hatinya. Ia tidak mengerti perasaan apa itu. Tapi satu hal yang pasti, ia tidak akan diam begitu saja. Ia tidak bisa diam begitu saja.

“Mungkin hidupuku di masa depan, akan aku berikan padanya.”

To Be Continue!

Iklan

16 pemikiran pada “Merupuri (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s