Merupuri (Chapter 4)

merupuri exo2

Author: Queeney

Cast : Luhan, Minsu(OC)

Genre : Fantasy, Romance, Misteri

Type : Straight

Length : Chapter

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari sebuah komik. Ide maupun judul adalah milik sang komikus Matsuri Hino. Diksi, alur, dan penokohan ulang adalah hasil imajinasi saya. Sudah pernah di publish dengan nama author yang sama tapi versi berbeda.

Do not copy-paste without my permission or steal the story! thanks and enjoyed!

Chapter 4 © Queeney

—————————–

Mata tajam nan menggoda itu menatap sebuah adegan seolah sedang menonton suatu

tayangan di televisi, dari sebuah cermin segi enam yang cukup besar dengan ukiran-ukiran dan tatanan batu pualam berwarna maroon disekeliling tepinya. Dia hanya berdiam diri cukup lama menikmati berbagai ekspresi yang dikeluarkan wajah tampan yang sudah dikenalnya dengan baik selama 7 tahun itu. Sesekali dia terkekeh, tampak geli dengan beberapa hal yang mungkin orang lain akan heran hal apa dari adegan tersebut yang pantas mengundang tawa dari seorang Kris.

Seminggu dalam pelarian dan dicari selusin lebih mentri kepercayaan raja yang selama ini belum pernah gagal menjalankan perintah, tentu saja membuat namja tampan itu sedikit terkekang dan tidak bisa melakukan hal-hal yang dia inginkan dengan lancar. Saat dia hendak memulai kekacuan yang bertanjuk pemborantakan ini, ia sendiri sudah sadar apa yang akan menantinya, dan percaya atau tidak, pengerahan mentri-mentri terpercaya untuk mencarinya, masuk dalam daftar teratas untuk hal-hal yang harus dia hadapi cepat atau lambat.

Kris melakukan semua hal konyol ini bukan hanya karena satu alasan yang mungkin lansung menjadi tebakan raja nomor satu atas tingkah lakunya yang menyimpang. Tentu saja ada hal lain yang mendasari perbuatannya yang bisa dibilang berbahaya ini. Dia tahu dengan pasti konsekuensi apa yang akan didapatnya jika ia tertangkap sebelum rencananya berhasil, tapi dia tidak bisa diam begitu saja setelah mengetahui semua hal itu, semua hal yang menjadi dorongan kuat ia–seorang pangeran utama yang dimasa depan akan menggantikan tahta ayahnya sebagai raja Merupuri–melakukannya.

“Aku melakukan hal yang benar ‘kan Baek?” suara Kris menggema dalam ruangan kelam itu. Matanya sudah beralih dari kaca, untuk melihat seorang lain di dalam ruangan tersebut. Makhluk tampan (yang anehnya juga terlihat cantik) dengan tubuh yang tingginya hanya 30 senti itu, mengangguk tegas seraya tersenyum lebar.

“Kau tidak akan meninggalkan aku ‘kan?” ujar Kris lagi, bertanya dengan wajah yang kentara sekali terlihat sangat lelah.

Kepala itu menggeleng, “Selamanya akan selalu disampingmu” ucapnya meyakinkan Kris. Sudah menjadi tugasnya sebagai peri penjaga pangeran utama yang merupakan calon raja selanjutnya itu, untuk selalu berada disampingnya dan membantunya dalam segala hal.

Semenjak seorang pangeran utama dilahirkan dari rahim permaisuri, maka akan lahir pula lah seorang peri khusus, peri ini bukan berkelamin yeoja seperti peri-peri lainnya, melainkan namja, yang disebut sebagai peri penjaga. Peri penjaga inilah nantinya yang akan menjadi teman, penasehat, serta pendamping selamanya dari pangeran tersebut. Ikatan mereka adalah ikatan paling sakral diantara aturan lainnya di Merupuri. Tidak akan pernah kau temukan hubungan yang begitu kuatnya selain hubungan dari seorang pangeran dan raja, dengan peri penjaga mereka. Begitupun dengan Kris dan peri lucunya tersebut, Baekhyun.

“Setelah semua hal sialan ini, kau harus mengingatkan aku untuk melakukan perawatan pada wajahku yang tampan ini Baekhyun-ah” ujar Kris sejurus kemudian, membuat Baekhyun tertawa geli.

Ne, hyung! aku akan langsung mengingatkanmu meski aku yakin kau tidak akan lupa untuk hal yang satu itu” jawabnya dalam sela-sela tawanya.

Kris terkekeh pelan sebelum melanjutkan dengan mimik yang kentara sekali didramatisir dengan berlebihan, “Oh… lihatlah wajahku yang menawan ini, ada kerutan-kerutan lain yang telah muncul Baek… ah, apa kata rakyatku nantinya jika calon raja mereka berkurang ketampanannya” ujar Kris sembari tangannya terangkat memegang kepalanya, seolah namja itu merasakan pening hebat menderanya.

Baekhyun tertawa lagi, hal inilah yang paling disukainya dari majikannya tersebut, dalam keadaan apapun dia selalu bisa membawanya dalam suasana yang tak jarang terasa menggelitik, walaupun sebenarnya tidak bermaksud begitu.

Seperti saat ini, padahal nasib Kris benar-benar sangat rawan dan jika mereka tertangkap lagi, Baekhyung yakin, dia tidak akan bisa menggunakan kekuatannya–seperti yang ia lakukan sebelumnya–untuk membebaskan mereka dari kungkungan kerajaan, karena pastilah raja sendiri yang akan turun tangan untuk mantra kurungan mereka. Tentu saja hal ini tidak akan berlangsung baik, karena sihir Baekhyun tidak akan berpengaruh apa-apa pada sihir peri penjaga raja yang berada satu tingkat lebih tinggi derajatnya dari pada dia.

Kris berjalan ke tempat duduknya yang empuk, memijat pelan keningnya sebelum kemudian menatap lurus pada Baekhyun, “Bagaimana kalau kita percepat saja rencana kita Baekhyun-ah?” tanyanya.

Dengan tubuhnya yang tetap melayang diudara, dan kaki terlipat seolah duduk dalam ke kosongan, Baekhyun terlihat berpikir keras untuk jawaban atas pertanyaan tuannya tersebut. Memperlihatkan mimik serius yang jarang terlihat, bahkan oleh Kris.

“Aku rasa, memang lebih baik kita percepat” ujar peri penjaga itu akhirnya.

Kris mengangguk kecil seraya kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Dia butuh istirahat lebih kalau memang mereka harus mempercepat rencana tersebut.

***

Luhan uring-uringan, dia sudah berkali-kali menatap nanar ke dalam cermin segi enam milik Minsu yang ditinggalkan yeoja itu dengan alasan dirinya tidak mau terganggu jika mungkin Xiumin akan datang tiba-tiba lagi seperti kemarin, saat namja itu tiba-tiba saja hendak muncul padahal Minsu sedang ditengah-tengah pelajaran.

Pikiran Luhan kembali melayang pada sejurus kalimat Minsu yang berhasil membuat emosinya memuncak 2 hari lalu dan sedikitpun tidak berkurang hingga hari ini.

“Mungkin hidupuku di masa depan, akan aku berikan padanya” ujar yeoja tersebut kali itu.

“Bodoh, kenapa dia terlihat percaya diri sekali saat mengatakannya! Memangnya dia tahu apa tentang masa depan? Dasar yeoja bodoh!” Luhan mengumpat marah tanpa berusaha mengecilkan suaranya. Dia mengacak-acak rambutnya dengan wajah frustasi, kentara sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.

Belum lagi menit berlalu setelah umpatan Luhan, cermin dihadapan namja yang kini tengah berada dalam tubuh dewasanya tersebut, tiba-tiba bercahaya terang, menandakan ada seseorang yang akan keluar dari dalamnya.

“Apa kabar pangeran? Well kau tidak seimut biasanya… dan juga wajahmu terlihat sedikit tidak menyenangkan” suara Xiumin yang seperti biasa, terdengar sedikit dipanjang-panjangkan, mengisi pendengaran Luhan sementara cahaya dari cermin perlahan hilang dan menampakkan wajah tampan (sekaligus cantik) pengawalnya tersebut.

Luhan tidak mengindahkan kata-kata “imut” yang diungkit Xiumin, melainkan hanya menghela nafas seraya kembali bersandar, “Jangan bertanya hyung, aku sedang tidak ada mood menceritakannya” ujarnya memulai, “Kau datang kesini atas perintah appa? Ada apa hyung? ” lanjut Luhan lagi, bertanya.

Xiumin berjalan menuju tempat tidur Minsu yang rapi. Ia duduk disana, melipat kaki dengan tenang sebelum kembali menatap Luhan, “Ne pangeran, kali ini aku datang atas perintah langsung dari raja” ujar Xiumin pelan.

Alis Luhan segera saja menyatu dalam satu garis lurus, kentara sekali pangeran cilik negeri sihir Merupuri itu menunggu kelanjutan ucapan Xiumin.

“Jadi…?” tanya Luhan akhirnya karena Xiumin masih berhenti dan tidak melanjutkan. Luhan menunggu dengan wajah tak sabar, sedikit takut dengan apa yang akan di dengarnya.

“Aku akan menjelaskan semuanya setelah kau berjanji tidak akan menyulitkan posisiku dengan penolokan darimu atas perintah ini” ujar Xiumin dengan pandangan tegas, membuat Luhan menaikan sebelah alisnya, heran.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Luhan menganggukan kepalanya perlahan, dia terlalu penasaran dengan perintah yang diberikan appanya pada Xiumin hingga tidak peduli apakah perintah itu mungkin akan menyulitkannya nantinya.

Geure, aku akan menjelaskannya” tanggap Xiumin atas persetujuan Luhan seraya tersenyum kecil.

***

Semilir angin menerbangkan beberapa helai rambut panjang Minsu yang berwarna carnation pink. Sudah beberapa menit berlalu semenjak dia berada disana, dan berkutat seru dalam kesendiriannya. Dia berkali-kali menghembuskan nafas berat yang ia sendiripun tidak mengerti untuk apa. Pikirannya sudah beberapa kali pula menampakan bayangan wajah Luhan saat ia berbicara dengan namja itu di tempat dia berada saat ini.

“Aiish… kenapa aku harus merasa bersalah? Dan bocah itu, astaga… kenapa dia harus terlihat sesedih itu?” Minsu memukul pelan kedua pipinya frustasi, agaknya semakin pusing dengan dirinya sendiri.

Minsu menutup matanya sejenak dan berusaha menghirup udara sedalam-dalamnya. Sesaat ia merasa tenang, yeoja itu kini menundukan kepalanya, menatap taman sekolah yang persis berada di bawahnya. Dia melihat seorang namja memasuki taman tersebut sembari menggandeng tangan seorang yeoja. Minsu memperhatikan mereka dengan seksama sebelum akhirnya memukul keras kepalanya,

“YA, Kim Minsu! Kau itu, apa segitu frustasinya sampai ingin mengintip orang pacaran?” makinya pada dirinya sendiri.

Minsu hendak mengalihkan pandangannya ketika dia menyadari wajah siapa yang tengah berada di taman tersebut dan menggandeng mesra seorang yeoja, “Chan… Chanyeol-ah?” ujarnya pelan, terperangah dengan apa yang baru saja disadarinya. Dia menajamkan penglihatannya, merasa tidak percaya pada persepsi yang baru saja muncul di dalam pemahamannya. Tidak salah lagi, namja yang kini tengah menatap yeoja dihadapannya tersebut adalah Chayeol.

Terguncang, Minsu merasakan kedua kakinya lemas seketika, dan belum lagi dia sempat menjatuhkan dirinya ke lantai rooftop, matanya kini sudah terbelalak syok. Apa yang dilihatnya barusan pastilah tidak terjadi, itu pasti hanya dalam khayalannya saja,

“Tapi… wajah tampannya itu terlalu nyata untuk khayalan paling buruk Minsu-ya!” bantah Minsu keras entah pada siapa. Yeoja itu terlalu syok hanya untuk menenangkan dirinya sendiri atas sebuah ciuman yang baru saja dilihatnya diberikan oleh Chanyeol entah pada siapapun yeoja yang tengah berada bersamanya itu.

Sejurus air mengalir keluar dari kedua mata bening Minsu, dia menangis dalam diam, tanpa isakan. Minsu membiarkan kakinya–yang sedari tadi sudah tidak mampu menahan berat tubuhnya–terlipat dan seketika menjatuhkan dirinya ke lantai yang keras. Dia membenarkan posisi kakinya perlahan, sebelum kemudian menyandarkan keningnya ke lutut kakinya yang beradu, sedangkan tangannya melingkar, memeluk lutut dan tubuhnya.

Minsu menangis cukup lama, walaupun sebenarnya tidak tahu apa yang sebenarnya membuatnya sedih. Dia belum sampai tahap jatuh cinta pada Chanyeol, tapi entahlah, tiba-tiba saja wajah Luhan yang terlihat sedih, memenuhi pikirannya dan seketika mendesak airmatanya keluar.

Minsu merasa tidak peduli apakah ada yang akan mendengar isakannya dan menemukannya disana karena dia tadi lupa mengunci pintu masuk rooftop. Tapi rupanya hal ini tidak terjadi, tidak ada satupun murid yang berada cukup dekat dengan tempat itu untuk mendengar tangisnya. Waktu berlalu cukup lama dengan dipenuhi tangis Minsu. Dia baru benar-benar berhenti terisak saat bunyi bel tanda usainya sekolah, berbunyi nyaring hingga ke tempat Minsu berada.

Minsu sebenarnya enggan meninggalkan tempat itu, tapi dia teringat bahwa setiap pukul 5 sore, gedung belajar akan langsung dikunci dan demi apapun dia tidak mau terkurung disana, tidak setelah ia melihat kejadian yang membuatnya menangis itu.

Minsu melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, sudah pukul 04.25 sore, jika ia tidak bergegas bisa saja ia benar-benar terkurung di tempat itu. Sejurus wajah kembali muncul dalam pikiran Minsu saat yeoja itu merapikan seragamnya dan menepuk pelan pipinya. Dia teringat Luhan yang berada di rumah dan semakin bersalah karena teringat ia lupa memasakan sesuatu tadi pagi sebelum berangkat sekolah.

Minsu mempercepat langkahnya melewati koridor yang sepi, bulu kuduknya berdiri mengingat sekolahnya itu punya beberapa cerita horor. Dia sama sekali tidak berniat menjadi saksi mata sebuah penampakan, maka dengan pikirannya yang kini sudah dipenuhi berbagai hal menakutkan, dia berlari secepat yang ia bisa menuju ruang kelasnya di lantai 2 untuk mengambil tasnya yang tertinggal.

Belum sempat mencapai kelasnya, sekelebat bayangan terlihat di ujung koridor yang akan dicapai Minsu. Mata yeoja itu melebar panik, dia segera berbalik dan berlari ke arah yang sama sekali berlawanan dengan kelasnya.

Suara langkah berlari yang mengikutinya dari belakang membuat Minsu semakin takut, “KYAAAAAA!” teriaknya seketika saat tubuhnya disergap dalam dekapan erat oleh makhluk apapun itu yang tadi mengejarnya.

Minsu memejamkan matanya rapat-rapat, dia bisa merasakan sebuah hembusan nafas hangat ditengkuknya yang terbuka karena rambut pirangnya ia kuncir sebelum turun meninggalkan rooftop. Detak jantung Minsu berdebar kencang seiring desiran darah dalam pembuluhnya. Ia terlalu takut untuk bisa berpikiran jernih bahwa tidak ada hantu manapun yang bisa menyentuh tubuhnya, atau malah memeluknya seperti sekarang.

Nuna… kau kenapa lari? sampai berteriak begitu. apa ada seseorang yang menyusahkanmu?” pertanyaan yang bertubi-tubi dengan suara yang sedikit panik dan kentara sekali cemas itu, membuat Minsu membuka matanya perlahan.

Jika makhluk dibelakangnya ini hantu, kenapa dia harus bertanya dengan suara secemas itu? batinnya mencoba berpikir sehat.

Perlahan Minsu memberanikan diri untuk melirik tangan yang mendekapnya tersebut, sebuah tangan yang menggoda dengan satu cincin berbatu rubi bentuk segi enam di jari telunjuk kiri, dan satu lagi cincin seperti kumpulan helain benang–tetapi jelas sekali itu terbuat dari emas putih–di jari kelingkingnya.

Agaknya Minsu mengenali cincin itu, perlahan dia melepaskan kedua tangan itu, kemudian berbalik dan matanya kini beradu dengan mata tajam namun hangat milik seorang namja yang akhir-akhir ini berperan besar dalam mengisi hari-harinya.

“K… Luhan-ah, kau… kenapa bisa ada disini? Aku kira kau itu hantu atau apa” ucap Minsu seraya memukul pelan bahu bidang Luhan. Dia menghela nafas lega karena apa yang ia takutkan ternyata hanya pikiran buruknya saja.

“Jadi kau berteriak karena mengira aku ini hantu? Astaga nuna, aku yang tampan ini…!?” Luhan membulatkan matanya, tidak terima atas penjelasan Minsu yang seolah menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang pangeran tampan yang diagung-agungkan seantero negeri Merupuri.

Minsu terkekeh pelan, tangannya terangkat mengusap tengkuknya, merasa bersalah. Luhan menggelengkan kecil kepalanya, layaknya namja dewasa yang mendapati seorang yeoja seusianya yang bersifat kekanak-kanakan.

Beberapa detik Luhan memandang wajah cantik itu dalam diam sebelum akhirnya sadar bahwa mata Minsu terlihat sedikit lebih sembab dari pada biasanya, dan ada sisa-sisa air mata di pipinya yang putih mulus.

“Kau habis menangis? Pasti bukan karena kejadian sebentar ini ‘kan? Ada apa?” Luhan kembali bertanya secara bertubi-tubi, kedua tangannya masing-masing mencengkram pelan sisi tubuh Minsu.

Minsu menunduk dalam, tiba-tiba saja sepasang sepatunya tampak lebih menarik dari pada Luhan. Dia terdiam lama, tapi Luhan tidak menampakan tanda-tanda dia akan melepas cengkramannya ataupun menyerah menunggu penjelasan Minsu.

Akhirnya Minsu mengangkat kepala, balas menatap mata Luhan yang sarat akan kecemasan itu–yang membuatnya merasa sangat tersentuh. Dia menghela nafas beberapa kali sebelum akhirnya menceritakan semua hal yang terjadi pada Luhan. Sedangkan Luhan sendiri sesekali tampak mengangguk, mendorong Minsu yang terkadang berhenti dan tampak siap menangis kembali, untuk melanjutkan ceritanya sampai selesai.

Minsu akhirnya terisak saat dia terdiam setelah kata terakhir dari seluruh kejadian yang ia ceritakan. Sembari mengusap air matanya yang semakin lama semakin deras mengalir, Minsu melirik sedikit untuk melihat reaksi Luhan terhadap ceritanya.

Minsu tertegun, dia dengan jelas dapat menatap raut penuh emosi itu. Luhan tampak mengepalkan kuat-kuat buku-buku jarinya, sehingga kini terlihat jelas, kedua telapak tangan namja itu memucat seiring darah ditangannya hanya berkumpul disekitar area yang terbenam jari-jarinya.

“Hng… Lu… kau, tidak apa-apa ‘kan?” ujar Minsu akhirnya saat melihat tubuh Luhan kini bergetar hebat. Tampaknya namja itu berusaha keras menahan luapan emosi dirinya. Luhan menggeleng kaku, tidak membalas tatapan cemas Minsu yang malah makin membuat yeoja itu panik.

“Aku sudah tidak apa-apa Lu! kau… kau jangan marah. Ayo kita pulang!” ujar Minsu lagi, kedua tangannya menggenggam kepalan tangan kanan Luhan tanpa memalingkan tatapannya ke arah lain.

Luhan tampak tersentak, namja yang aslinya berumur 7 tahun itu, kini balas menatap mata Minsu. Dia masih berdiri diam dan rahangnya terlihat begitu kaku, kentara masih menahan emosi walaupun sudah sedikit berkurang karena tubuhnya sudah tidak bergetar lagi.

“Percayalah, aku sudah merasa lebih baik. Dan itu karena kau datang mencariku. Jangan marah Luhanie” Minsu mempererat genggamannya di tangan Luhan sebelum memberikannya senyum kecil yang menandakan perasaanya kini sudah membaik.

Luhan menatap wajah yang tersenyum itu lama, ia diam, tapi beberapa saat kemudian segaris senyum tipis menghiasi wajahnya, “Benar kau tidak apa-apa?” tanyanya memastikan, tepat seperti seorang bocah kecil yang sangat protektif terhadap orang-orang yang disayangi dan berharga untuknya. Minsu mengangguk dan tersenyum lebih lebar lagi, dia melapaskan sebelah tangannya dari tangan Luhan yang tidak lagi terkepal dan kemudian mengarahkannya ke wajah namja itu, mengelusnya singkat.

Gomawo Luhan-ah, kau sampai segitu cemasnya dengan keadaanku. Cheonmal gomawo” ujarnya lembut yang dibalas Luhan dengan anggukan seraya menutup kedua matanya, menikmati sentuhan tangan Minsu di wajahnya.

“Kita pulang sekarang?” tanya Minsu, berjalan bersisian dengan Luhan sembari masih menggenggam sebelah tangan namja itu. Luhan menolehkan wajahnya ke arah Minsu kemudian mengangguk singkat, “Aku lapar” ujarnya yang seketika mengundang tawa dari bibir Minsu.

Ne, aku tahu! Aku akan memasakan apapun yang kau suka” balas Minsu. Tangannya terangkat dan mengacak pelan rambut Luhan.

Keduanya terus berjalan menuju pintu keluar gedung tersebut dengan sesekali tertawa renyah dari guyonan masing-masing. Bahkan terkadang Minsu sampai membungkuk memegangi perutnya yang sakit karena geli tidak tahan dengan cerita Luhan mengenai kekonyolan dan tingkah laku jahil yang diperbuat hyungnya, Kris, di Merupuri.

“EEEH? Pintunya! Andwe…” tiba-tiba Minsu berlari meninggalkan Luhan saat matanya menangkap sesuatu yang menurutnya tidak mungkin terjadi.

“Kenapa nuna?” tanyanya Luhan sembari memperhatikan pintu besar dihadapannya yang kini tengah digedor-gedor Minsu dengan keras.

“Pintunya terkunci! tidak ada jalan keluar lain kecuali pintu ini” jelas Minsu dengan suara yang kentara panik. Luhan menaikan kedua alisnya, dia masih memperhatikan Minsu menggedor pintu saat yeoja itu berbalik dan mendelik ke arahnya. Luhan yang seketika paham dengan maksud Minsu, kini ikut menggedor pintu itu juga walaupun rasanya sia-sia.

Hawa dingin perlahan mulai menyelimuti Luhan dan Minsu yang kini sedang duduk bersandar pada pintu depan, menandakan malam segera menjelang. Minsu mengalihkan tatapannya pada Luhan, Kalau tetap disini, nanti Luhan akan kedinginan bisiknya dalam hati. Dia beranjak berdiri sesaat setelah mendapat ide baru yang datang tiba-tiba dalam kepalanya. Luhan yang melihat Minsu berdiri, hanya menatap bingung, “Wae?” tanyanya. Minsu tersenyum kecil. Mengulurkan tangannya ke depan, mengisyaratkan Luhan untuk berdiri dan menggenggam tangannya.

“Ayo kita ke ruang kesehatan! Disana ada tempat tidur, bantal, dan juga selimut. Kita bisa tidur disana dan pulang besok pagi-pagi sekali saat pintu dibuka, sebelum murid lain datang” jelasnya yang perlahan diikuti anggukan kepala Luhan. Namja itu berdiri dan kemudian menyambut uluran tangan Minsu, menggenggamnya cukup erat.

Semoga bisa sedikit menghangatkannya batin Luhan saat merasakan tangan Minsu yang membeku.

Beruntung ruang kesehatan ternyata tidak terkunci, sehingga Luhan dan Minsu bisa langsung masuk dan mendapati sebuah tempat tidur kosong di sudut dekat dinding.

“Err… aku tidak tahu kalau hanya ada satu bantal dan satu selimut” bisik Minsu pelan tapi masih terdengar jelas oleh Luhan yang berdiri tepat disebelahnya. Luhan menarik tangan Minsu sehingga tubuh yeoja itu otomatis mengikuti langkahnya, “Nah, kau istirahatlah nuna, biar aku berjaga kalau-kalau ada yang sadar kita terkurung disini” ucapnya sembari mendudukkan Minsu di atas tempat tidur.

“Jangan gila Lu, kau bisa sakit kalau tidak istirahat tidur!” protes Minsu keras, ganti menarik tangan Luhan dan seketika mendorong tubuhnya hingga tertidur di atas kasur.

“Kalau begitu, kita tidur berdua saja!” tanggap Luhan sesaat sebelum kemudian menarik tangan Minsu yang masih terjulur memegangi bahunya agar dia tidak bangun dari tempat tidur. Sontak tubuh Minsu terjatuh ke depan, menimpa Luhan. Dia mengalungkan tangannya di tubuh Minsu, dan mendekap yeoja itu erat sembari munutup kedua matanya.

“YA! PANGERAN LUHAN YANG TERHORMAT, LEPASKAN AKU!” teriak Minsu berusaha melapaskan diri dari kungkungan Luhan yang seolah menjadikan dirinya guling namja itu. Luhan diam tidak bergeming, rupanya tubuh dewasanya itu memberikan tenaga fisik yang lebih dari pada yang biasanya Ia miliki.

Minsu masih berusaha lepas selama beberapa detik ke depan sebelum akhirnya menyerah. Dia menghela nafas berat sembari sibuk menenangkan jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak kencang. Jujur saja, tubuh dewasa Luhan itu membuat keadaan semakin lebih buruk untuknya. Ia tidak bisa berpikir sehat dan menyadarkan dirinya bahwa namja itu masih bocah dan jarak umur mereka adalah 10 tahun.

Luhan menggeser tubuhnya sedikit tanpa melepaskan dekapannya di tubuh Minsu, memperbaiki posisi mereka sehingga terasa lebih nyaman, “Nuna, bagaimana perasaanmu?” tanyanya sejurus kemudian.

“Apanya?” tanya Minsu balik setelah beberapa saat hanya terdiam.

“Tentang masalah Chanyeol” jelas Luhan pelan, sementara Minsu kini bisa mendengar detak jantung yang sama sekali berbeda dari detak jantungnya sendiri.

“Jantungmu kenapa berdegup kencang begitu Luhan-ah?” ujar Minsu akhirnya, bukan menjawab pertanyaan Luhan, malainkan malah balik bertanya. Kali ini Luhan lah yang terdiam cukup lama, “Karena ada kau didekatku” jawabnya, seketika membuat tubuh Minsu menegang kaku.

Apa katanya tadi? Karena ada aku? batin Minsu terperangah.

Nuna, jantungmu kenapa berdegup kencang begitu?” pertanyaan balasan dari Luhan membuat hati Minsu mencelos, jika saja Luhan bisa melihat wajah Minsu, dia pasti akan bertanya kenapa wajahnya memerah, karena Minsu bisa dengan jelas merasakan panas yang menjalar ke seluruh bagian wajahnya.

“Aku…itu…itu karena mendengar jawabanmu yang mengada-ada Lu” jawab Minsu beralasan. Dia menelan ludah dengan susah payah, takut Luhan juga menyadarinya.

“Bukan karena ada aku?” lagi, pertanyaan Luhan membuat Minsu terdiam kaku, lidahnya kelu, tidak tahu harus menjawab apa. Sedangkan Luhan, namja dewasa yang aslinya berumur 7 tahun itu hanya diam dan menikmati sensasi menyenangkan dari tubuh Minsu yang ada dalam dekapannya, sembari menunggu apapun pembelaan yeoja tersebut atas pertanyaanya yang ia tahu membuat Minsu tidak nyaman.

“Bukan… tentu saja bukan!” jawab Minsu akhirnya meski tidak berhasil menyembunyikan suaranya yang jelas sekali terdengar panik dan sedikit bergetar.

“Oh begitu. kau tidak perlu sepanik itu nuna” tanggap Luhan datar meski kecewa dengan jawaban yang didengarnya.

“Aku tidak panik” balas Minsu yang hanya ditanggapi Luhan dengan “Hmm” singkat.

Malam kini sudah benar-benar menyelimuti Seoul. Gedung sekolah tempat Luhan dan Minsu berada itupun sudah benar-benar ditelan kegelapan. Minsu lupa menghidupkan lampu saat mereka masuk tadi, maka kini hanya seberkas cahaya dari lampu lapangan lah yang menjadi sumber penerangan mereka.

“Luhan-ah, aku harus menghidupkan lampunya dulu” ujar Minsu selepas lama mereka hanya saling diam.

“Biarkan saja. Aku lebih suka gelap” tanggap Luhan tidak mengindahkan tubuh Minsu yang bergerak sedikit, hendak lepas dari pelukannya yang masih sama eratnya dengan tadi. Mereka kembali terdiam, suara jangkrik di luar jendela jadi terdengar lebih nyaring dari pada yang seharusnya.

“Jadi, bagaiman perasaanmu yang sebenarnya setelah kejadian Chanyeol tadi siang?” Kali ini Luhan lah yang memecah kesunyian mereka. Dia kembali menanyakan pertanyaannya yang tadi belum sempat dijawab Minsu.

“Yah, aku kaget. Aku kira dia menyukaiku. Hanya itu saja” jawab Minsu singkat, entah kenapa mulai nyaman berada dalam dekapan Luhan karena udara malam yang dingin tidak terlalu terasa membekukan tubuhnya. Sebenarnya bisa saja dia mengatakan pada Luhan untuk memakai selimut yang terletak di bawah kakinya, tapi tampaknya setelah beberapa usaha untuk melepaskan diri tadi, Luhan tidak akan menyanggupinya kali ini, sekalipun Minsu berjanji bahwa namja itu boleh memeluknya lagi setelah mereka berada dalam selimut yang hangat.

“Kau tidak patah hati?” tanya Luhan lagi. Kali ini, Minsu mendongakan kepalanya sehingga matanya beradu dengan mata Luhan yang ternyata sedari tadi memandang wajahnya dari atas kepalanya.

“Aku tidak tahu” jawab Minsu lebih singkat dari sebelumnya, dan jawaban kali ini sebenarnya mengagetkan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia tidak tahu apakah ia patah hati atau tidak? Tentu dia patah hati! Ia melihat namja yang disukainya berciuman dengan yeoja lain.

Tapi… apa iya aku patah hati? hati kecil Minsu mengulang pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.

“Kau aneh nuna. Jika patah hati, tentu dirimu akan sadar dengan pasti. Tapi, kenapa jawabanmu tidak tahu?”

Minsu tidak menanggapi ucapan Luhan melainkan terdiam, bertanya pada dirinya sendiri tentang perasaanya.

“Aku lapar” ucapan pelan Luhan membuat Minsu kembali melihat ke arahnya, setelah tadi sempat mengalihkan pandangan. Minsu terkekeh kecil, “Benar juga, kau pasti belum makan dari pagi ‘kan?” ujarnya. Luhan menganggukan kepala.

“Ah,aku ingat! Astaga, kenapa tidak terpikirkan olehku dari tadi? bukankah kau bisa menggunakan sihir Luhan-ah? kau bisa mengeluarkan kita dari sini dengan sihir ‘kan?” mata Minsu membulat dengan solusi masalah mereka yang tiba-tiba saja muncul dalam otaknya tersebut.

“Aku belum bisa menggunakan sihir berpindah tempat nuna! Ingat kalau umurku baru 7 tahun?” jawab Luhan yang membuat semangat Minsu kembali merosot. Dia bisa merasakan perutnya mulai perih, menandakan penyakit magh nya akan segera kambuh kalau tidak segera diberi asupan makanan.

“Kau memang tidak bisa pangeran Luhan, tapi aku bisa” sebuah suara lain memenuhi ruang kesehatan yang sepi dan hanya ada mereka berdua tersebut. Luhan yang tersentak kaget mendengar suara Xiumin itu, segera melepaskan pelukan tangannya pada Minsu dan bangkit duduk. Dia baru saja teringat kalau tadi sebelum pergi, dia sempat mengambil cermin segi enam milik Minsu dan menjejalkannya ke sakunya. Bagaimana mungkin Ia bisa lupa?

Hyung! Aku butuh bantuanmu” tanggap Luhan pada suara tersebut seraya mengarahkan cermin ke depan wajahnya. Sedangkan Minsu yang masih sedikit terguncang dengan kehadiran suara Xiumin yang seperti biasa, datang tiba-tiba tanpa diundang, kini juga telah duduk dan memposisikan dirinya di sebelah Luhan.

Cermin segi enam milik Minsu memancarkan cahaya terang sesaat sebelum sebuah bayangan keluar dari dalamnya, dan kini tampaklah Xiumin dengan pakaian kerajaan Merupuri–yang terlihat sedikit lebih mewah dari pada biasanya–berdiri dihadapan Luhan dan Minsu. Dia memperhatikan Luhan agak lama, kemudian beralih menatap Minsu sesaat dan kembali lagi ke Luhan.

“Sedari tadi aku bertanya-tanya kapan sebaiknya aku muncul sehingga pangeran tidak merasa terganggu” ucapan Xiumin seketika mendapat pelototan dari Minsu, “Kau mendengar pembicaraan kami?” Minsu mendelik protes, yang diacuhkan saja oleh Xiumin karena namja itu kini hanya menatap pada Luhan.

“Ada apa hyung? Apa persoalan tadi siang?” tanya Luhan, juga tidak mengacuhkan protes Minsu yang sepertinya akan berlanjut.

Xiumin mendudukan dirinya di kursi yang biasanya dipakai dokter jaga ruang kesehatan. Wajahnya tampak cukup lelah. “Bukan pangeran, tapi ada yang lebih penting. Lay memberi kisikan kalau para mentri sudah tahu dimana pangeran Kris saat ini berada, dan mungkin…” ucapan Xiumin terputus, sebuah cahaya kembali memenuhi ruangan tersebut, cahaya itu berasal dari sebuah cincin di jari telunjuk kanan Xiumin.

“Pangeran Kris sudah dibawa kembali ke kerajaan dan sekarang sedang menghadapi raja, menunggu hukuman untuk berbagai pelanggaran yang dilakukannya” suara seseorang yang tidak dikenal Minsu, terdengar cukup keras dari cincin di tangan Xiumin yang ia angkat sedikit ke udara agar terlihat oleh Luhan. Pesan itu singkat, tapi sepertinya sangat penting untuk Luhan maupun Xiumin.

“Nah, itu menjelaskan semuanya. Pangeran Lu, kita harus kembali ke Merupuri sekarang” Xiumin berdiri dari tempat duduknya, dia mengulurkan tangan untuk menerima cermin segi enam milik Minsu. Luhan tampak berpikir lama, dia menatap Minsu, “Sebelum pergi, kita harus mengambalikan Minsu nuna ke rumahnya dulu hyung” ujarnya memutuskan.

Minsu hanya diam dan bergantian menatap antara Luhan dan Xiumin.

“Tentu saja pangeran. Tapi setelah anda masuk ke cermin dulu. Tenang saja, aku akan langsung menyihir Minsu-ssi kembali ke rumahnya sebelum aku menyusulmu” Xiumin berucap dalam satu tarikan nafas, menenangkan Luhan yang sesaat tadi berwajah tidak yakin. Sedetik berlalu, Luhan menganggukan kepalanya, “Baiklah…” ucapnya.

Luhan ikut berdiri, mengalihkan tatapannya ke arah Minsu. Lama dia hanya diam sampai akhirnya ia menggapai tangan kanan Minsu dengan tangan kanannya, menggenggamnya dengan erat tapi hanya sesaat, “Aku pergi dulu nuna, aku akan kembali lagi” ucapnya sembari tersenyum. Minsu menganggukan kepala, “Ne, tentu saja” tanggapnya sambil balas tersenyum.

Luhan memiringkan tubuhnya, menghadapkan pipi sebelah kanannya pada Minsu yang juga telah berdiri, bersiap menerima ‘ciuman sang gadis’. Minsu mendekat dan mencium Luhan cepat. Cahaya ketiga memenuhi ruangan sesaat sebelum kemudian menghilang dan tampaklah Luhan kecil dalam pakaiannya tadi tapi dalam versi kecil yang pas dengan tubuhnya, kekuatan dari cincin peri penjahit yang melingkar di jari kelingkingnya.

Luhan kecil melangkah mendekati cermin segi enam milik Xiumin, “Baiklah hyung, aku masuk sekarang. Jangan lupa kembalikan Minsu nuna ke rumahnya!” ujarnya sebelum menyentuhkan jari kirinya dan kemudian menggumamkan sebuah mantra.

Minsu menatap cerminnya sedikit tidak rela, Luhan sudah kembali lagi meninggalkannya. Dia menatap Xiumin yang tampak berpuas diri, namja itu balas menatap sembari kemudian menjetikkan jarinya dengan ringan di udara. Sesaat Minsu merasa dirinya dicemplungkan ke dalam sebuah kolom berisi air es yang sangat dingin, kemudian saat berikutnya dia mengerjapkan mata, Minsu menyadari ia sudah kembali ke apartemennya.

Xiumin berjalan mendekati Minsu seraya mengulurkan cermin miliknya, “Jangan berharap lebih bahwa pangeran Luhan akan kembali lagi kesini setelah kejadian di ruang kesehatan itu” ucapan Xiumin membuat Minsu tersentak, tangan yeoja itu menggantung di udara dengan cermin segi enam berada di telapak tangannya.

Mata Minsu bergerak liar memerhatikan kedua bola mata Xiumin dan ekspresinya yang tidak terbaca, “Kenapa?” tanya Minsu. Suaranya tercekat.

“Luhan adalah seorang pangeran Minsu-ssi! Bukan hanya pangeran Daimonia, tapi pangeran Merupuri. Di tempat itu ada 12 kerajaan yang berkuasa dan saling hidup berdampingan, tetapi hanya ada satu diantara 12 yang memegang kekuasaan tertinggi, yaitu menjabat sebagai kerajaan utama, sedangkan yang lainnya mengambil tempat dalam susunan mentri ataupun dewan kerajaan.

Seperti yang kau ketahui, dahulunya kerajaan utama dipegang oleh Aster, bukan Daimonia. Tetapi, karena buyutmu mengkhianati perjanjian pernikahan, dua kerajaan terbesar yang berkuasa saat itu, saling menyalahkan dan terjadi ketidakseimbangan di Merupuri. Karena hal itulah, tampuk kerajaan dialihkan pada kerajaan ketiga yang paling disegani, yaitu Daimonia. Nah, menurutmu apakah seluruh negeri akan menanggapi dengan baik hubungan kau dan pangeran Luhan? Hubungan kalian tidak akan pernah mendapatkan restu dari siapapun! Lebih bagus mengakhirinya sebelum dimulai.

Aku sudah cukup melihat, sejauh apa perasaan pangeran Luhan yang murni telah jatuh padamu. Ini menurutku bukanlah hal yang baik untuk dilanjutkan, dan karena sekarang pangeran Kris telah kembali dan sedang berhadapan dengan raja, aku yakin kutukan pangeran Luhan akan bisa dihilangkan sehingga tidak membutuhkan ‘ciuman sang gadis’ lagi. Aku harap kau paham akan hal ini Minsu-ssi, dan tentu saja kau harus mencoba kembali untuk menjalani kehidupanmu yang biasa tanpa harus memikirkannya lagi, ataupun mulai membuka hatimu untuk menerima perasaan pangeran Luhan.

Nah, sampai disini saja, aku tidak mau pangeran Luhan curiga jika aku menyusulnya terlalu lama. Terimakasih banyak atas bantuanmu Minsu-ssi! Aku akan mengirimkan hadiah dari kerajaan atas jasamu tersebut. Semoga harimu baik!” Xiumin mengakhiri ucapannya tanpa Minsu duga. Namja itu menghilang masuk ke dalam cermin segi enamnya begitu saja, meninggalkan Minsu yang terpaku diam di tempatnya berdiri.

“Apa katanya? Semoga hariku baik?!” pelan Minsu terkekeh, tapi bukan kekehan geli, melainkan terdengar begitu getir. Otaknya tiba-tiba saja terasa kosong, keheningan malam seolah menamparnya dan mencaci-maki karena kebodohannya yang melepas Luhan pergi begitu saja. Jika sesaat lalu memang saat terakhirnya bertemu Luhan, seharusnya tidak seperti tadi dia melepasnya, seharusnya ada sedikit pelukan hangat yang diberikannya pada namja kecil itu, bukan… bukan sedikit, tapi pelukan penuh yang hangat. Bukankah namja itu sudah begitu baik untuk menyusulnya ke sekolah dan menenangkannya saat dia terguncang dengan adegan ciuman Chanyeol?

Air mata Minsu menetes, padahal sembab dimatanya yang tadi siang saja belum hilang, dan kini dia sudah harus menangis lagi. Minsu sesegukan, ia menangis keras, hatinya terasa begitu sakit, jauh lebih sakit daripada saat ia menangis di rooftop sekolah. Beberapa lama dia berada dalam keadaan seperti itu, terduduk di lantai dengan tangan mendekap erat cermin segi enamnya dan air mata yang mengalir deras dari kedua matanya.

Setelah merasa sedikit lebih tenang, Minsu mengarahkan cermin segi enam terseubut ke depan wajah, lama ia hanya memperhatikan cermin itu. Dia bisa melihat pantulan dirinya di cermin yang terliht sangat kacau, dengan kedua mata yang sembab, dan hidung yang sedikit memerah di bagian ujung depannya yang mancung.

Tiba-tiba saja kenangannya bersama Luhan berkelebat dalam pikirannya. Bagaimana jika dia suatu saat lupa dengan wajah imut namja itu? juga dengan wajah tampannya saat berubah menjadi Luhan dewasa? Minsu menghela nafas berat, “Apa ya nama panjangnya?” bisik Minsu pelan.

Dia menekan cermin dengan tangan kirinya, mencoba mengingat nama lengkap Luhan yang dulu sempat diberitahu namja itu saat mereka berbinbang-bincang sambil menikmati makan malam,

“A Daimonia Eucalystia Luhan” seiring kata terakhir yang terucap dari bibir Minsu, tiba-tiba cahaya yang amat terang menyelimuti tubuhnya, membuat yeoja itu berteriak kencang.

Minsu merasakan tubuhnya seolah dihimpit oleh besi baja yang amat berat dari berbagai arah, tapi rupanya tubuhnya masih berwujud sama, karena Minsu masih bisa merasakan jari-jarinya sendiri. Hanya sesaat dia merasakan hal ini, karena sesaat berikutnya, ia merasakan tubuhnya terhempas pada lantai marmer yang keras.

Minsu memberanikan diri untuk membuka kedua matanya yang tadi dia pejamkan rapat-rapat. Yeoja itu melongo hebat mendapati bahwa ia sudah tidak lagi berada di apertemennya. Minsu berjalan mendekati jendela besar dengan pilar kokoh dan tanpa kaca yang ada tepat disampingnya, ia melongokan kepalanya dan seketika menjadi lebih terkejut dari pada sebelumnya,

“Ini… Merupuri?” bisiknya tidak percaya.

***

To Be Continue…

Iklan

25 pemikiran pada “Merupuri (Chapter 4)

  1. Aku baru baca ff ini. Menurut aku ini daebak ceritanya, detail banget aku suka bisa dibayangin juga sama aku, thor ini chapter selanjutnya udh dipost belum? Aku gak sabar pengen baca lagi 😀

  2. Wahh minsu masuk kedalam merupuri 😮 aku penasaran sama permaisuri yang bakal jadi istrinya kris, kalau ia jadu raja. Akankah itu minsu?? Konfliknya ditambahin dong thor 😦

  3. Astga, mian thor baru coment di chap ini hehe #GUBRAK
    ceritanya bagus (y) aduhh, gimana nasib Minsu?o.o next thor Good Story 😉

  4. A new chapter of Merupuri! Sekarang gantian Minsu yang pindah dunia! Waaah, aku exited banget bacanya! Lanjut ya, Thor ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s