Seonsaengnim (Chapter 3)

 

Title: Seonsaengnim

 

Author: @diantrf

 

Cast:

Xiao Luhan, Park Chanyeol (Exo) | Park Cheonsa (OC) | Others

 

Genre: Fantasy, School-life, Romance | Rating: T | Length: Chaptered

 

Prev:

Part-1 | Part-2

 

0o0

Acara amal akan dilaksanakan tiga hari lagi, tepatnya pada hari Sabtu. Seharusnya hari ini aku belajar di kelas, namun sejak hukuman yang Luhan berikan akibat insiden perpustakaan itu mau tak mau aku menjadi panitia inti dan saat ini tengah menghias aula bersama dengan panitia lain.

 

Ada cukup banyak panitia lain disini. Aku bisa melihat Myungsoo, Sehun, dan tentu saja Luhan. Aku tak terlalu kenal dengan panitia yang lainnya karena pada dasarnya aku tak terlalu pandai bergaul. Aku hanya dekat dengan teman sekelasku saja, itupun karena aku ketua kelas. Kan tak lucu jika ketua kelas tak dekat dengan anggota kelasnya sendiri.

 

Aku diberi tugas untuk mengecek segala peralatan musik, mulai dari menyesuaikan senar gitar, mengecek piano, dan berbagai alat lainnya. Aku dibantu oleh Jongdae sunbae dan Kris seonsaeng. Entah mengapa aku juga merasa bahwa mereka adalah vampire. Ya Tuhan, hidupku semakin dipenuhi banyak vampire.

 

Luhan terlihat sedang mengatur panitia lain dalam mendekor atap aula. Telihat banyak balon warna-warni dan pita yang melintang di atas. Sangat cantik. Luhan bilang bahwa ia yang mendesain tata letak dekorasinya. Aku jadi membayangkan bagaimana nanti ia mendesain apartemen tempat kami tinggal, hehe.

 

 

“Do, re, mi- akh!”

 

 

Sakit sekali. Jariku tergores senar gitar yang putus. Darah langsung keluar cukup banyak dari jari telunjukku. Dan, bingo! Seperti yang sudah aku duga, ruangan ini hampir didominasi oleh vampire. Aku tahu karena saat ini banyak murid yang menatapku, termasuk Sehun dan Myungsoo yang kutahu adalah vampire juga.

 

Jongdae sunbae dan Kris seonsaeng yang melihat jariku berdarah langsung mengedarkan matanya mencari Luhan di aula yang luas ini. Kalau aku tak salah, mungkin Kris seonsaeng sedang bertelepati dengan Luhan karena tak lama ia datang dari arah balkon depan aula dengan jalan terburu-buru.

 

 

“Cheonsa, kumohon kau tenang.”

 

 

Sepertinya Jongdae sunbae mengerti jika saat ini aku tengah panik. Bagaimana tak mau panik jika banyak vampire yang sedang memperhatikanmu saat ini? Jongdae sunbae terus menahan tanganku agar tetap seimbang sehingga darah itu tak menetes. Jadilah jariku dipenuhi gumpalan darah yang cukup banyak.

 

 

“Kris, urus mereka.”

 

 

Luhan langsung menggendongku dan berlari meninggalkan aula. Hanya perasaanku saja atau semua orang tiba-tiba berubah menjadi patung yang tak bergerak? Sudahlah, yang kupedulikan saat ini adalah Luhan yang entah akan membawaku kemana.

 

Dan ternyata ia membawaku ke ruang kerjanya. Semenjak ia jadi guru Konseling, ia jadi memiliki ruangan pribadi yang cukup luas. Ia mendudukkanku di sofa dan mengambil kotak obat. Dengan telaten ia mengobati lukaku mulai dari membersihkan darahnya dengan air sampai membalutnya dengan kasa.

 

 

“Kenapa tak kamu hisap darahnya?”

 

 

Park Cheonsa, kau benar-benar menanyakan satu hal konyol! Luhan langsung terkikik pelan dan tersenyum manis kearahku. Setelah menaruh kembali kotak obatnya, kini ia duduk di sampingku sambil menatapku lembut. Oke, aku benar-benar salah tingkah saat ini.

 

 

“Aku tak ingin membuat vampire lain iri, hehe. Dan lagipula aku masih kenyang karena meminum darahmu beberapa hari yang lalu.”

 

 

Aku hanya mengangguk paham. Beberapa detik kemudian kami diselimuti keheningan. Aku bingung ingin bicara apa, terlalu banyak pikiran dalam kepalaku saat ini. Luhan yang sepertinya menyadari kegelisahanku dengan tiba-tiba langsung merangkul pinggangku dan menarikku agar aku memeluknya.

 

Memang agak sedikit sesak dengan hawanya yang dingin, namun entah mengapa aku merasa nyaman berada dalam pelukannya seperti ini. Kami berpelukan cukup lama sampai akhirnya Luhan melepas pelukan kami dengan sedikit kasar.

 

 

Ah, maaf. Aku lupa jika kamu pasti akan kesakitan karena-“

 

Ani, justru aku merasa nyaman seperti ini.”

 

 

Aku tersenyum dan kembali memeluknya. Luhan dengan takut-takut membalas pelukanku, membuatku tak terlalu merasakan sesak lagi. Memang benar, terkadang rasa sakit adalah suatu kebahagiaan yang tak kita sadari artinya. Dan rasa sakitku saat dekat dengan Luhan seakan berubah menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku.

 

 

“Luhan..”

 

“Iya sayang, ada apa?”

 

“Soal Sehun itu..”

 

 

Luhan melepas pelukanku dan menatapku datar. Ia seakan ingin membaca pikiranku, namun ia pernah bilang jika ia tak dapat menembus pikiranku entah karena alasan apa. Aku malah menatapnya bingung. Sebenarnya apa yang ada di benak Luhan saat aku menyebutkan nama Sehun?

 

 

“Ia juga salah satu orang yang kuminta untuk melindungimu.”

 

“Dan Jongdae sunbae-“

 

“Ia juga.”

 

“Dan-“

 

“Sudahlah, lebih baik kita kembali ke aula. Aku harus mengatur penataan pita di dinding.”

 

 

Dan akhirnya Luhan menarik tanganku lalu kami berjalan kembali menuju aula. Sepanjang perjalan ini aku masih terus memikirkan segala kemungkinan. Mengapa Banyak sekali orang yang Luhan minta untuk melindungiku? Apakah ia tak bisa melindungiku seorang diri?

 

Kami sampai di aula setelah berjalan sepuluh menit. Kris seonsaeng langsung menghampiri kami saat baru saja menjejakkan langkah pertama memasuki aula. Matanya menatap Luhan dengan pandangan yang tak kumengerti artinya.

 

 

“Kau harus tahu jika aku kesulitan meng-handle nafsu mereka.”

 

 

Sontak aku membulatkan mataku mendengar percakapan pelan antara mereka. Luhan lalu menatap Kris seonsaeng tajam, sepertinya ia tak suka jika aku mengetahui tentang hal itu. Namun sepertinya Kris seonsaeng tak peduli dan langsung kembali ke tempatnya.

 

Luhan tersenyum kecil lalu ikut meninggalkanku menuju balkon aula lagi. Tak selang lama, Jongdae sunbae menghampiriku dengan wajah khawatirnya. Ia tepat berdiri di hadapanku dan memperhatikan jariku yang dibalut perban.

 

 

“Darahmu masih terus mendesak untuk keluar, bisa-bisa perbanmu akan penuh lagi dan darahmu akan menetes. Sebaiknya kita mencari pekerjaan ringan yang bisa kau kerjakan.”

 

 

Ia tersenyum manis lalu langsung menggenggam tanganku dan membawaku ke belakang panggung. Sepertinya kami akan membuat origami dengan berbagai bentuk. Jongdae sunbae mengajariku sekali dan setelahnya aku sudah bisa membuatnya sendiri.

 

Karena terlalu asyik, aku sampai lupa dengan perkataan Jongdae sunbae tadi. Dan benar saja, darah di perbanku sepertinya semakin banyak. Kenapa ini? Biasanya darahku akan cepat mengering saat luka. Namun mengapa saat ini tidak?

 

Belakang panggung ini lumayan sepi. Hanya ada kami berdua dan beberapa panitia yang sepertinya sedang mengerjakan jurnal kegiatan hari ini. Mereka memiliki hawa kehadiran yang normal, berarti mereka manusia biasa. Terlihat juga Minseok seonsaeng yang sedang mendampingi mereka.

 

Jongdae sunbae masih asyik dengan kegiatan melipatnya. Aneh, mengapa ia tak menyadari jika darahku semakin banyak? Aku berusaha berpikir positif dan terus mengerjakan lipatan kertas itu. Namun naas, aku langsung tersentak kaget karena hawa dingin yang tiba-tiba datang.

 

Aku terus memegangi dadaku yang sesak. Oh Tuhan, ini sesak sekali. Rasanya sama persis seperti di taman belakang waktu itu saat melihat orang itu. Jongdae sunbae langsung panik dan berusaha menenangkanku. Kurasa aku akan pingsan lagi saat ini.

 

 

“Junmyeon seonsaeng, tolong bantu Cheonsa!”

 

 

Entah dari mana, tiba-tiba Junmyeon seonsaeng sudah berjalan kearah kami dengan wajah khawatirnya. Kapan ia berada disini? Aku tadi tak melihatnya. Dan mengapa ini semakin sakit? Dadaku semakin sesak ditiap tarikan napasnya.

 

 

“Cheonsa, bertahanlah. Aku akan membawanya ke ruang kesehatan.”

 

 

Jongdae sunbae langsung mengangguk dan Junmyeon seonsaeng langsung menggendongku. Napasku sudah semakin menipis. Rasa sesak ini semakin menusukku. Bahkan aku sangat kesulitan hanya untuk sekedar menarik napas.

 

Baru beberapa langkah Junmyeon seonsaeng berjalan, aku merasa bahwa ia berhenti tiba-tiba. Mataku terlalu berat untuk dapat kubuka. Tapi yang pasti aku merasakan bahwa tubuhku ini tengah berpindah tangan dan rasanya lebih hangat. Setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

 

0o0

 

Mataku sangat berat untuk sekedar terbuka. Setelah menenangkan diri selama beberapa detik, aku kembali berusaha membuka mataku dan berhasil. Langsunglah berkas cahaya lembut menyapa retinaku. Ini dimana? Semuanya terlihat putih. Ini bukan kamar rumah sakit, tapi bukan kamarku juga. Ini dimana?

 

Pada kedipan ketiga, semuanya nampak jelas di mataku. Ini kamar Chanyeol. Saat kami memutuskan untuk pisah kamar, Chanyeol mengalah dan ia yang pindah ke kamar tamu. Tapi.. mengapa aku bisa berada disini? Bukankah terakhir itu..

 

Ah, ya! Aku lagi-lagi pingsan karena rasa sakit di dadaku. Saat itu bukankah Junmyeon seonsaeng yang menggendongku? Mengapa aku bisa berada di rumah bahkan di kamar Chanyeol?

 

 

“Sudahlah, jangan terlalu memikirkan kejadian yang telah berlalu.”

 

 

Aku menoleh ke arah sumber suara. Chanyeol tengah berdiri di depan pintu dengan nampan yang sepertinya berisi makanan. Ia mendekat padaku perlahan dan menaruh nampan itu di meja nakas lalu duduk di pinggir ranjang. Ia memegang keningku dengan punggung tangannya lalu mengusap anak rambutku yang berantakan.

 

Entahlah, rasanya sangat nyaman diperlakukan seperti ini oleh Chanyeol. Apakah ikatan batin kami sangat kuat? Secara harfiah Chanyeol adalah adikku, namun aku saat ini lebih terlihat seperti adik kecilnya ketimbang kakaknya. Ia masih terus mengelus rambutku sampai wajahnya tiba-tiba mendekat ke telingaku.

 

 

“Jangan sakit lagi. Kau membuatku khawatir.”

 

 

Bisikannya sangat pelan dan lembut, namun aku masih bisa mendengarnya. Mengapa akhir-akhir ini Chanyeol sangat berbeda dari biasanya? Dimana Chanyeol yang selalu ramai dan sering membuat ulah dengan menjahiliku? Mengapa sekarang ia menjadi pria manis seperti ini?

 

 

“Ini, makanlah walau hanya sedikit. Mau kusuapi?”

 

 

Rasanya aku sangat sukar bahkan hanya untuk berkata iya. Akhirnya aku hanya mengangguk pelan dan Chanyeol membantuku untuk bangkit dan menyandar tepi ranjang. Ia kemudian menyuapiku bubur sedikit demi sedikit. Lidahku terasa pahit, rasanya aku ingin muntah.

 

 

“Cheonsa!”

 

 

Langsung aku berlari menuju kamar mandi dan berdiri tepat di depan wastafel. Aku memuntahkan semua yang bisa kumuntahkan. Perutku seakan menolak untuk diisi dan kepalaku semakin pusing. Tak lama, aku merasakan ada memijat tengkukku. Mungkin itu Chanyeol.

 

 

“Sayang, kamu kenapa?”

 

 

Ini bukan Chanyeol. Ini suara Luhan. Aku terlalu lemas hanya untuk menoleh padanya. Aku masih terus memuntahkan semua isi perutku. Ia dengan sabarnya memijat tengkukku dan mengusap punggungku. Kepalaku semakin terasa pusing. Dan di detik-detik terakhir, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa yang kumuntahkan bukan lagi air atau makanan.

 

Darah. Cairan pekat itu lolos begitu saja dari mulutku. Dan.. warnanya hitam. Darah itu berwarna hitam. Tuhan, apa yang terjadi padaku? Kurasakan tubuhku oleng dan aku tak sadarkan diri. Lagi-lagi tak sadarkan diri.

 

0o0

 

Baiklah, aku menyerah. Mataku saat ini benar-benar tak bisa terbuka. Aku terlalu lemas bahkan hanya untuk membuka mataku. Hari ini adalah rekor jarak waktu pingsan tercepatku. Alhasil aku hanya diam dan berusaha untuk mendengar suara di sekelilingku. Samar-samar kudengar suara Luhan yang sepertinya sedang bicara dengan Chanyeol.

 

 

“Aku benar-benar tak sadar jika Cheonsa pingsan di backstage karena kekurangan darah. Bagaimana mungkin aku tak merasakan aliran darahnya?”

 

 

Itu suara Luhan. Mereka pasti sedang membicarakanku yang tiba-tiba pingsan di backstage saat bersama dengan Jongdae sunbae. Namun benar apa yang Luhan katakan. Harusnya ia sebagai vampire tahu aroma dan aliran darahku. Dan aku jadi teringat, bahkan Jongdae sunbae yang dekat denganku pun tak merasakannya. Bukankah itu hal yang aneh?

 

 

“Ada yang menghentikan waktu, hyung.”

 

 

Tunggu! Apa tadi kata Chanyeol? Menghentikan..waktu? Aku memang pernah membaca buku The Power of Vampire milik kakek di perpustakaannya. Bahwa tiap vampire memiliki kekuatannya masing-masing. Contohnya adalah Luhan yang bisa teleportasi, berlari cepat, dan entah apalagi kekuatan yang ia miliki. Jadi.. Apa mungkin ada vampire lain yang sengaja menghentikan waktu dan membuatku terjebak di dalamnya? Namun untuk apa?

 

 

‘Banyak vampire yang mengincarmu.’

 

 

Aku jadi teringat kata-kata yang sering Luhan ucapkan padaku. Banyak vampire yang mengincarku karena aroma darahku yang nikmat. Apa mungkin yang menghentikan waktu itu adalah salah satu dari banyak vampire yang menginginkan darahku?

 

 

“Tapi aku masih tak mengerti. Dan Chanyeol, mengapa kau bisa terbebas dari penghentian waktu itu?”

 

 

Luhan sepertinya bisa membaca pikiranku. Itu benar. Jika vampire itu hanya menjebakku dalam waktu itu, mengapa Chanyeol bisa lolos?

 

 

“Sebenarnya bukan sepenuhnya waktu itu dihentikan, hyung. Itu hanyalah pengalihan pandang saja. Dan apakah hyung lupa jika aku pelindung Cheonsa?”

 

 

Deg!

 

 

Kenyataan apa lagi ini? Belum selesai perasaan heranku pada Luhan, kini Chanyeol semakin menambah buruk. Sebenarnya apa yang orang-orang sembunyikan dariku? Mengapa aku seperti ini? Jika terus seperti ini aku lebih baik menunda bahkan membatalkan pernikahanku dengan Luhan yang hanya tinggal satu minggu lagi.

 

Aku paling tidak suka jika ada yang menyembunyikan suatu hal penting di belakangku. Sangat tidak suka. Dan apalagi ini Luhan, calon suamiku, dan Chanyeol yang notabene-nya saudaraku sendiri. Aku merasa tidak dianggap. Ini menyangkut keselamatan hidupku dan mereka malah menyembunyikan semuanya dariku.

 

Hening. Sepertinya mereka tengah melamun dengan pikiran mereka masing-masing. Dan tubuhku sudah mulai bisa digerakkan. Aku membuka mataku perlahan dan menggeliat kecil. Mataku langsung disambut oleh tatapan teduh Luhan yang duduk di samping ranjangku, diikuti Chanyeol yang kulihat tengah duduk di sofa kamarku sambil menatapku. Bukankah aku tadi berada di kamar Chanyeol?

 

 

“Aku akan mengambilkan Cheonsa minum.”

 

 

Chanyeol tersenyum lalu keluar dari kamarku. Sepertinya ia memang sengaja untuk memberikan ruang untuk aku berdua dengan Luhan. Saat ini Luhan masih terus sibuk menatapku dan memainkan jemariku dalam genggamannya.

 

Senyumnya saat ini sangat manis, walaupun raut wajah khawatir itu terlihat jelas disana. Ia mengusap rambutku dan masih terus terdiam. Ini hanya perasaanku saja atau Luhan sedikit pucat. Apakah ia sakit?

 

 

Hey, kamu seperti putri tidur yang tidur berabad-abad.”

 

 

Aku mengerutkan keningku. Waktu itu aku pingsan selama tiga hari, dan aku sangat shock begitu mengetahuinya. Dan sekarang aku pingsan berapa hari lagi? Jangan-jangan seminggu? Atau bahkan setahun?

 

 

“Acara amal telah selesai dua hari yang lalu.”

 

 

Sumpah, aku benar-benar shock saat ini. Itu artinya aku sudah pingsan selama lima hari. Catat itu, lima hari! Ya Tuhan, mengapa tubuhku sangat lemah seperti ini? Luhan seperti menyadari kekagetanku dan malah terkekeh kecil melihat wajahku yang absurd saat kaget.

 

 

“Saat sakit pun kamu masih sempat menggodaku dengan wajah imutmu itu, hm? Dasar gadis nakal.”

 

 

Ketimbang memikirkan ucapan Luhan barusan, aku lebih memilih untuk memikirkan satu hal lagi yang lebih penting. Pernikahan kami. Jika aku pingsan selama lima hari, bukankah itu artinya waktu pernikahan kami semakin dekat? Oh Tuhan bunuh aku sekarang juga.

 

 

“Pernikahan kita-“

 

“Akan dilaksanakan dua hari lagi.”

 

 

Sepertinya hari ini Luhan benar-benar membuatku jantungan. Pertama, saat tahu bahwa aku kembali diganggu oleh vampire sinting yang menghentikan waktu. Kedua, saat tahu aku pingsan selama lima hari. Dan kini dengan berita pernikahan kami yang tinggal dua hari. Selanjutnya apa lagi?

 

Aku hanya terdiam. Sesungguhnya aku masih belum bisa menerima Luhan sepenuhnya. Ada saatnya dimana hati kecilku berkata jika aku tak bisa bersama Luhan. Aku tidak ditakdirkan untuk bersama Luhan. Namun separuh hatiku yang lain berkata bahwa memang Luhan-lah orangnya. Orang yang bisa menjaga hatiku dan tak akan menyakitinya kelak.

 

Aku bingung. Hidupku semakin tak tenang saat ini. Padahal sebelum mengenal Luhan hidupku baik-baik saja. Cheonsa si gadis dingin yang mempunyai saudara menyebalkan. Namun justru sekarang aku kaget dengan perubahan sikap Chanyeol. Ia menjadi lebih diam dan serius dalam menanggapi suatu hal.

 

Tanpa sadar air mataku menetes. Aku masih berbaring di ranjang dan air mataku keluar dengan sendirinya. Hebat. Apa yang akan Luhan katakan saat ini?

 

Semakin lama semakin banyak air mataku yang keluar. Aku membenarkan posisiku hingga sekarang terduduk menyandar kepala ranjang. Aku tidak menangis terisak, hanya diam dan membiarkan air mataku tumpah sebanyak yang kubisa. Mungkin aku hanya terlalu lelah dengan segala hal yang menimpaku belakangan ini.

 

Pandanganku kosong. Aku tak berani menatap Luhan saat ini. Entah mengapa aku menjadi tidak yakin dengan semua ini. Aku merasakan jika Luhan menghapus air mataku dengan jemarinya. Tatapan matanya sangat lembut, seolah aku ikut masuk ke dalamnya.

 

Ia perlahan mendekatkan wajahnya padaku, mencium keningku yang tertutup poni dengan lembut. Aku memejamkan mataku, dan itu menyebabkan genangan air mataku tumpah. Apa yang harus kukatakan pada Luhan. Tak mungkin aku bilang jika aku belum siap menikah dengannya. Dan bagaimana pula reaksi kakek menyebalkan satu itu? Aku bosan mendengar ceramahnya yang sudah sangat kuhafal satu bulan ini.

 

Luhan kembali menatapku, masih sambil mengusap rambutku dengan tangan yang lainnya berada di pundakku. Sepertinya ia berusaha untuk menenangkanku. Mungkin Luhan memang tahu jika aku belum siap untuk semua ini.

 

 

“Sayang, apakah kamu tahu jika aku tak bisa istirahat dengan tenang selama sebulan ini karena memikirkanmu? Banyak hal yang kupikirkan tentangmu. Tentang kita. Aku tahu jika kamu pasti memiliki keraguan yang sangat besar di hatimu.”

 

 

Jemarinya turun menelusuri pipiku, menghapus sisa air mata yang masih mengalir disana. Tangan kirinya memainkan jemariku yang berada di pangkuanku, berusaha untuk membuatku tenang. Suaranya yang entah mengapa berbeda saat ini membuatku kembali luluh. Seakan aku tak pernah memikirkan keraguan ini sama sekali.

 

 

“Kuharap kamu siap untuk semuanya. Untuk hidupmu yang akan berbeda sejak kamu menjadi istriku dua hari lagi. Aku berjanji akan selalu menjagamu.”

 

 

Senyuman manis itu menjadi penutup kalimatnya, dan setelahnya ia mencium bibirku dengan lembut. Memeluk pinggangku. Dan bisa kurasakan hembusan napasnya yang dingin. Yang membuatku bingung adalah, bukankah vampire tidak bernapas?

 

 

“Luhan, bukankah vampire tidak bernapas?”

 

 

Aku mendorong dada Luhan agar melepaskan ciumannya. Ia agak tersentak kaget karena tiba-tiba saja aku mendorongnya di tengah ciuman kami yang sangat ia nikmati. Namun detik berikutnya ia malah tertawa dan mengacak rambutku dengan semangat.

 

 

Vampire memang tidak bernapas. Itu hanya gerakan tubuh kami saja agar terlihat bernapas layaknya manusia. Napasku terasa dingin, kan? Itu karena aku tak benar-benar bernapas dan tak terjadi pembakaran oksigen dalam tubuhku. Itulah akibatnya jika kamu tidur saat aku menjelaskan pelajaran di depan kelas, otakmu tak menerima pelajaran apapun.”

 

 

Ia mencubit hidungku dan kembali tertawa. Aku menatapnya tajam agar ia menghentikan tawanya. Apa tadi ia bilang? Aku, tertidur di kelas? Memangnya pernah, ya? Aku lupa kapan itu terjadi. Luhan tiba-tiba menghentikan tawanya dan kembali menciumku. Kali ini sedikit melumatnya. Dasar mesum.

 

 

“Luhan-“

 

“Anggap saja ini latihan agar nanti kita tak kikuk melakukannya. Dan, apakah kita perlu latihan juga untuk malam pertama?”

 

“Luhann!”

 

Hahahaha.”

 

 

Aku memukul lengannya dengan brutal. Dasar guru mesum menyebalkan! Padahal baru beberapa menit yang lalu ia menjadi pria lembut dengan tatapan menenangkan. Sekarang ia sudah kembali ke wujud aslinya. Pria mesum yang menyebalkan.

 

0o0

 

Ini adalah hari terakhirku masuk sekolah sebelum aku menikah dengan Luhan, karena besok aku benar-benar akan disibukkan dengan kegiatan memilih pakaian dan semacamnya. Besok Luhan juga akan cuti mengajar, mungkin satu minggu. Tentunya aku akan mendapat libur satu minggu juga, kekeke.

 

Tapi aku masih membayangkan bagaimana nanti setelah menjadi istri Luhan. Aku akan terjebak dalam kamar yang sama dengannya. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding seperti ini. Menurutku, Luhan adalah tipe pria yang bisa menjadi ‘ganas’ jika sudah dikuasai nafsunya. Mungkin Park Cheonsa hanya tinggal nama setelah lusa nanti.

 

Pagi ini sekolah masih sepi. Aku memutuskan untuk berangkat sendiri karena Chanyeol masih ada urusan lain dan Luhan ternyata datang lebih pagi untuk menyiapkan bahan ulangan muridnya. Aku berjalan santai di koridor yang membelah taman depan sekolah. Udara sangat sejuk. Aku hanya menikmati tiupan lembut angin yang memainkan anak rambutku.

 

 

Deg!

 

 

Oh tidak, hawa dingin ini datang lagi. Mengapa harus datang di saat sepi seperti ini? Kemana murid lain? Mengapa aku tak melihat satu pun orang yang lewat disini? Saat aku tengah panik mencari orang lain, mataku tak sengaja menangkap sesosok pria yang berdiri tak jauh di depanku. Ia menatapku dengan mata merah darahnya. Pandangannya seakan menusukku.

 

Dapat kulihat ia menyeringai tipis sebelum akhirnya tanpa kusadari ia sudah berdiri tepat di belakangku. Kepalanya menyandar di pundak kananku dan dapat kurasakan permukaan kulitnya yang dingin menyentuh leherku, menciuminya dan membuatku benar-benar tak bisa bergerak.

 

 

“Apakah kamu tahu jika harum tubuhmu ini hampir membuatku gila?”

 

Seonsaeng, kumohon- AKH!”

 

 

Kurasakan sesuatu memukul punggungku. Lalu hanya gelap yang bisa kulihat, setelah sebelumnya aku seperti melihat bayangan Chanyeol yang menatapku. Chanyeol, apakah itu benar kau yang datang untuk menyelamatkanku?

 

 

 

TBC

 

 

*berlindungdibalikbaekhyun* jangan bunuh Angel karena bikin ini kelamaan, hehe. Ceritanya masa makin ga jelas. Jujur aja ini masih ngambang dan ga tau mau dikemanain ini cerita. Tapi biarin deh, nanti juga dateng sendiri ilhamnya. Maaf atas keterlambatannya. doakan selanjutnya lancar, dan ff yang lain juga lancar. Annyeong^^

Iklan

176 pemikiran pada “Seonsaengnim (Chapter 3)

  1. Kyaaaaaa…
    Luhan sikap mesummu itu udh akut bgtz kyknya ngga bkl bsa hilang, knp tiba2 chanyeol berubah sikapnya sm cheonsa jgn blg chanyeol mlai ska sm cheonsa lagi dan syp itu yg meluk2 cheonsa sm yg menyelamatkan cheonsa
    .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s