2 Reasons (Chapter 5)

2 REASONS

Chapter 5

IMG_20140524_125053

 

Tittle : 2 Reasons

Rating : 17+

Lenght : Chapter 5 of 7

Genre : Romance, Friendship, AU

Language: Indonesia

Scriptwriter : RV

Main Cast : Park Chanyeol & Wu Yifan/Kris (EXO), Kang Raera (OC), Park Chorong (A Pink).

Support Cast : Baekhyun & Jongdae (Exo), Kang Raehyun (OC) etc.

 

Chapter 5 (Move On)

 

~Kang Raera POV~

 

‘Ke..kenapa air mata ini tidak berhenti mengalir?’ Batinku.

 

Aku berjalan dengan tempo cepat ke toilet. Sesampainya di toilet aku basuh wajahku dengan air beberapa kali, berharap rasa sakit di hatiku yang menyebabkan air mataku jatuh ikut hilang bersamaan dengan air yang membasahi wajahku.

 

‘Kenapa aku seperti ini? Perasaan apa ini?’ Hanya pertanyaan itu yang kini berputar di otakku.

 

Aku tahu seharusnya aku tidak boleh seperti ini hanya karena kris menjauhiku. Seharusnya aku senang dan lega karena itu artinya tidak ada lagi yang dapat mengusik hubunganku dengan Park Chanyeol.

 

‘Tadi itu… dia membelaku kan? Tanpa melirikku sedikitpun!’

 

Aku mendongak berharap air mataku tidak jatuh lagi, ku kibaskan tanganku di depan mataku. Berkali kali aku menghela napas merasakan sesak di dadaku.

“Kau harus sadar Kang Raera, ini bukan dirimu!” Tegasku pada pantulan bayanganku di cermin.

 

‘Apa aku sakit hati karena kris enggan melihatku?’ Tanyaku dalam hati.

 

Kuputuskan untuk keluar dari toilet, betapa terkejutnya aku saat mendapati Park chanyeol di depan toilet.

 

Ia sedang bersandar di dinding dan menunduk kebawah memainkan kakinya. Lalu ia mendongak dan tersenyum besar padaku saat mata kami bertemu.

 

“Sedang apa kau disini?” Tanyaku.

“Tentu saja menunggumu” jawabnya, ia mendekat lalu merangkulku “kajja!” ajaknya.

“Kemana?” Tanyaku menghentikan langkah kami.

“Maunya?” Tanya ia balik.

 

Dengan perlahan aku lepaskan rangkulan Park chanyeol.

“Maaf aku sedang tidak mau kemana-mana. Ada yang harus kukerjakan” dustaku.

 

Dapat kulihat tersirat kekecewaan di wajah park chanyeol.

 

“Maafkan aku” ucapku.

 

Ia memaksakan diri untuk tersenyum, senyum yang membuat perasaanku semakin campur aduk.

 

“Kau tidak perlu minta maaf, raera. Baiklah aku pergi” park chanyeol melambai lalu melangkah pergi menjauhiku.

 

Tidak seharusnya aku memperlakukan pria sebaik Park Chanyeol seperti ini.

 

“Dia begitu baik dan tulus padaku” gumamku.

 

~Raera POV End~

 

-Perpustakaan-

~Author POV~

 

“Sebenarnya apa yang salah padaku? Kenapa aku dikaruniai teman yang membosankan seperti kalian? Sudah cukup dengan Oh Sehun dan buku-buku tuanya, sekarang kau juga ikut-ikutan membaca buku dan mengabaikanku kris?” Racau luhan tidak karuan. Luhan menghela napas sulit percaya “Buku sejarah? Itu bahkan tidak ada di mata kuliah kita”

 

“Hei! Sudah hampir 10 menit aku bicara dan tidak ada satupun dari kalian yang mengindahkan ucapanku!”

 

Karena geram luhan beranjak dari kursinya.

“Aku ingin menghirup udara segar”

 

Luhan berbalik lalu melangkahkan kakinya.

 

“Yak~ raera-ssi!” Panggil luhan yang melihat raera membawa beberapa buku ke perpustakaan.

 

Kris dan sehun yang mendengar nama raera dipanggil langsung menghentikan aktifitas membaca mereka untuk melirik sekilas ke gadis itu.

 

Raera menoleh ke luhan lalu ia sedikit berbungkuk.

 

Luhan menghampiri raera yang sedang mengembalikan beberapa buku ke penjaga perpus.

 

“Sedang apa kau disini?” Tanya luhan.

“Mengembalikan buku pinjaman dosen”

“Ouhhh. Ngomong-ngomong bagaimana tanganmu yang tadi di injak? Apa masih sakit?”

“Baik”

“Syukurlah. Hmm sehabis dari sini kau mau kemana?”

“Ada apa?” Tanya raera tanpa melihat luhan sama sekali masih terfokus dengan buku-buku dihadapannya.

“Apa kau mau makan diluar?” Tanya luhan santai.

 

Raera mengalihkan pandangannya ke luhan.

“Dengan kau?”

 

Luhan mengangguk sambil tersenyum.

 

“Tidak terimakasih” jawab raera acuh.

 

Raera berbungkuk pada penjaga perpus lalu ke luhan.

“Aku permisi” ucapnya.

 

“Aissh jinjja, ada apa dengan semua orang? Kenapa mereka semua mengabaikanku?” Gerutu luhan yang disambut gelengan oleh gadis muda penjaga perpus.

 

“Wae? Ada masalah? Kau tidak tahu siapa aku?” Sembur luhan.

 

Gadis penjaga perpus itu membenarkan poninya lalu tersenyum kecil menanggapi ucapan luhan.

 

“Siapa yang menyuruhmu tersenyum?” Omel luhan.

 

Gadis muda itu menggeleng.

 

“Aissh kau membuatku kesal saja”

 

Luhan melirik name tag gadis itu.

 

“Park…Cho..rong, Jadi itu namamu?”

 

Gadis bernama Park Chorong itu menatap luhan dengan tatapan innocent-nya.

“Apa anda ada masalah?” Tanya chorong dengan suara khas anak kecilnya.

 

“Kau orang baru ya?”

“Ne”

“Pantas saja kau tidak tahu aku”

“Aku tahu kau, selama seminggu aku bekerja disini kau adalah pengunjung yang selalu berisik karena keluhan-keluhanmu terhadap buku pada kedua temanmu yang disana”

“Apa masalahmu?”

“Tidak ada” jawab chorong lalu ia mempunggungi luhan dan menulis sesuatu di sebuah buku.

 

“Yak! Kalau ada seseorang yang bicara denganmu kau harus memandangnya bukan mempunggunginya seperti ini! Apa kau tidak pernah di ajari etika berbicara dengan orang lain?”

 

Chorong menoleh, lalu menatap luhan bingung.

 

“Mwo?? Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya luhan tidak nyaman.

“Jadi kau masih ingin bicara denganku” ucap chorong terdengar seperti pernyataan.

“Ternyata kau percaya diri sekali” luhan menghela napas lalu menarik kursi dan duduk di hadapan chorong hanya meja penjaga perpus yang menjadi batas mereka.

 

Chorong menengadahkan tangan kanannya tepat di depan wajah luhan.

 

“Mwoya? Kau ingin nomor ponselku?” Tanya luhan sarkastik.

“Mana buku yang ingin kau pinjam?” Tanya chorong masih menengadahkan tangannya.

“Siapa bilang aku mau pinjam buku?”

“Lalu untuk apa kau duduk disini? Ini hanya untuk orang yang mau meminjam atau mengembalikan buku”

“Aissh gadis ini..”

“Kau bisa pergi jika tidak ada urusan lain” suruh chorong bernada sopan.

 

“Hah!” Luhan menghela napas tidak habis pikir.

 

Dia ingin mengucapkan sesuatu lagi, tapi kemudian ia urungkan, dia lebih memilih berbalik dan kembali ke tempat dimana kris dan sehun berada.

 

Brakk!

Luhan duduk dengan kasar membuat kris dan sehun terlonjak.

 

“Ada apa lagi?” Tanya kris malas.

“Yak hyung, apa masalahmu?!” Protes sehun.

“Kalian lihat gadis disana!?” luhan menunjuk chorong yang sedang duduk manis di tempat penjaga perpus.

“Dia cantik” jawab sehun sekenanya.

“Bukan itu maksudku!”

“Lalu apa?” Tanya sehun tidak sabar.

“Dia sungguh menyebalkan”

“Dia salah satu fangirl-mu?” Tanya kris.

“Sama sekali bukan”

Kris: “Lalu apa masalahmu?”

“Pokoknya aku tidak suka dia!”

 

Sehun menggaruk kasar rambutnya.

“Hyung.. sudahlah jangan membahas hal-hal yang tidak penting, kau hanya membuang-buang waktumu dengan banyak bicara”

 

“Ayo kita pergi” ajak kris tiba-tiba.

 

Kris beranjak dari kursi lalu melangkahkan kakinya terlebih dahulu, yang segera diikuti oleh luhan dan sehun.

 

Karena penasaran dengan gadis yang disebut-sebut menyebalkan oleh luhan tadi, saat lewat meja penjaga perpus kris menyempatkan melirik Park chorong yang sedang menulis serius.

 

“Hatchiii”

 

Kris agak terkejut saat melihat chorong bersin apalagi suara bersinnya yang seperti anak kecil.

 

Chorong mengusap-usap hidungnya lalu dia tersenyum malu karena sadar kalau kris menyaksikannya bersin.

 

Kris hanya terpaku sambil sedikit membungkuk.

 

Kris menunggu sehun dan luhan di koridor.

 

Sehun dan luhan menghampiri kris dengan tenang. Mereka terdiam beberapa saat lalu kris angkat bicara.

 

“Siapa nama gadis penjaga perpus itu?”

“Ohh.. dia, namanya Park.. ehh tunggu-tunggu ada apa kau menanyakan namanya?” Tanya luhan penasaran.

“Wae? Tidak boleh?” Balas kris tenang.

“Hyung, Tidak biasanya kau menanyakan nama seorang yeoja”

“Mungkin aku tertarik dengannya” jawab kris tanpa ekspresi.

“Mworago? Apa tidak ada gadis lain?” Sembur luhan terkejut.

“Hyung.. kenapa tiba-tiba..?” Sehun bingung ingin menambahkan apa dikata-katanya.

“Ada yang pernah bilang padaku ‘Carilah orang lain yang dapat membuatmu menyukainya karena hal sederhana yang ia miliki'”

Sehun: “Memang hal sederhana apa yang penjaga perpus itu lakukan sampai kau menyukainya, hyung?”

“Dia bersin” jawab kris sambil mengindikkan bahunya.

“Kau tertarik padanya hanya karena ia bersin didepanmu?!” Luhan tak habis pikir.

“Jadi siapa namanya?” Tanya kris mengabaikan ucapan luhan.

“Park Chorong”

“Park Chorong.. baiklah, aku akan mendekatinya”

“Hyung.. kau tidak bermaksud membuatnya sebagai pelampiasanmu kan?” tanya Sehun hati-hati.

“Entahlah, yang jelas saat ini aku membutuhkan seorang gadis disisiku untuk membuatku rileks”

Luhan: “Kurasa Kang Raera sudah membuatmu sangat tertekan”

“Aku akan melupakannya…pasti”

“Kami menginginkan yang terbaik untukmu, hyung” ucap sehun sambil memegang bahu kris.

 

-Keesokkan harinya-

 

Kris menunggu chorong ditempat parkir, sudah lebih dari setengah jam dia menunggu tapi tidak ada satupun tanda-tanda kedatangan chorong.

 

Beep..beep…beep

 

Tanda panggilan masuk dari ponsel kris. Ia merogoh saku celananya lalu mengambil ponselnya, tanpa pikir panjang ia menerima panggilan tersebut setelah nama sehun terpampang di layar ponselnya.

 

“Sehun-ah, wae?”

“Ini aku luhan! Kau ada dimana?” Tanya luhan diseberang sana.

“Oh kau, aku sedang ditempat parkir” jawab kris sambil mengalihkan pandangannya ke penjuru area parkir.

“Apa kau sedang menunggu penjaga perpus itu?”

“Ne”

“Sepertinya kau salah timing dan tempat. Kau tahu apa yang sedang aku dan sehun lakukan sekarang?”

“Langsung ke intinya saja, apa yang coba kau katakan?”

“Oke oke, aku dan sehun sedang melihat targetmu sedang menyapu”

“Maksudmu park chorong?”

“Tentu saja! Cepatlah kesini, kami sedang di perpus”

“Haha.. arasseo” kris menertawakan dirinya sendiri yang sedari tadi seperti orang bodoh membuang waktunya menunggu gadis itu.

 

*

 

Kris menghampiri sehun dan luhan yang sedang duduk di tempat baca.

 

“Dimana dia?” Tanya Kris to the point.

“Disana!” Tunjuk luhan sehun kompak.

 

Kris mengikuti arah tangan sehun dan luhan. Dapat ia lihat chorong yang sedang membersihkan rak buku.

 

“Kalian pergilah” perintah kris.

“Wae? Kami masih ingin disini” jawab sehun.

“Lebih baik kau cepat hampiri dia, lihat dia pergi ke belakang lorong!” Ujar luhan.

 

Kris melirik tempat yang tadi chorong bersihkan, tapi sosok gadis itu sudah tidak lagi disana.

“Baiklah” jawab kris menurut, ia mulai melangkahkan kakinya.

“Cakkaman!” seru luhan “Kau benar-benar ingin mendekati gadis itu?” Lanjutnya.

“Tentu” jawab kris cuek sambil lalu.

 

“Coba kau lihat hyungmu itu sudah tidak waras, bisa bisanya dia menjatuhkan harga dirinya untuk mengencani seorang gadis yang baru kemarin ia lihat. Lebih parahnya dia tertarik dengan gadis itu hanya karena melihatnya bersin, sungguh diluar akal sehat” gerutu luhan.

“Hyung, bukankah cinta memang diluar akal sehat?” Balas sehun tanpa perasaan.

“Bocah sepertimu tahu apa tentang cinta?! Ini bukan cinta tapi pelarian!”

“Biarkan saja kris hyung melakukan apa yang ia inginkan, setidaknya ini lebih baik daripada melihat ia terpuruk karena patah hati”

 

*

 

Kris melihat chorong sedang mengelap debu di lorong buku sastra. Kris melepas gelang hitam miliknya yang cukup elastis, ia mendekati chorong yang kini sedang mempunggunginya.

 

Chorong terkejut bukan main saat merasakan rambutnya sedang dikunciri seseorang.

 

“Maaf, kuperhatikan rambutmu menganggu pekerjaanmu” ucap kris tenang.

 

Chorong menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangannya lalu menatap kris.

“Terimakasih, tapi jangan lakukan itu lagi kau mengejutkanku” ucapnya “ngomong-ngomong apa kau membutuhkan bantuanku? Ada buku yang kau cari?” Lanjut chorong.

“Tidak ada” jawab kris.

“Lalu mau apa kemari?”

“Entahlah”

“Apa kau sedang memperhatikanku?”

 

Kris tertawa kecil.

“Kau memiliki kepercayaan diri yang tinggi”

“Kalau tidak ada, pergilah! aku tidak suka diperhatikan” jawab chorong.

“Shireo”

“Aku tidak bisa kerja kalau diperhatikan, itu akan membuatku gugup” ucap chorong ragu.

 

Kris mendekat lalu menyunggingkan senyumnya.

“Jadi kau tidak suka diperhatikan?”

“Ne”

“Tapi aku suka memperhatikanmu” goda kris sembari menatap chorong intens.

 

Butuh beberapa jeda untuk chorong menjawab, kini wajahnya sangat tenang.

“Apa kau mencoba menggodaku?” Tanya chorong.

 

Kris tidak menjawab, hanya memerhatikan wajah chorong meneliti setiap inchi-nya.

 

kemudian chorong tertawa “kau sangat lucu” ucapnya agak gemas sambil mencubit kecil pipi kris yang sempurna membuat mata kris membulat.

 

Dengan cuek chorong berbalik mengambil peralatannya lalu keluar dari lorong meninggalkan kris sendirian.

 

“Hah” kris menghela napas sambil tertawa mengejek dirinya  sendiri “gadis itu.. jinjja! Aku dibuat bodoh”

 

~Keesokkan harinya~

 

-Kampus-

 

“Park chorong!” Panggil kris ke sosok gadis yang sedang berjalan beberapa meter di depannya.

 

Gadis itu menoleh dan memandang kris yang mendekat dengan tatapan polosnya, bingung dengan orang yang memanggilnya.

 

“Oh annyeong, kau namja yang kemarin, kan? Ternyata kau tahu namaku” chorong tersenyum.

“Kau mau kemana?” Tanya kris mengabaikan ucapan chorong.

“Aku ini librarian tentu saja tujuanku ke perpustakaan”

“Nado” jawab kris sembari menarik tangan chorong untuk mengikutinya.

 

“Tunggu! Kau tidak boleh kesana, Perpustakaan dibuka masih 2 jam lagi!” Seru chorong.

 

Langkah kris tiba-tiba berhenti membuat chorong membentur punggungnya.

 

Chorong mengintip dari punggung kris melihat apa yang terjadi, ia mendapati chanyeol cs (baekhyun+chen) dan juga Raera.

 

Chorong mencoba melepaskan genggaman tangan kris tapi kris malah mengeratkannya. Chorong merasakan tangan kris bergetar dan atmosfer yang berbeda saat orang-orang dihadapannya tampak terkejut melihat tangan ia dan kris bertautan. Chorong merasakan ketegangan saat mata kris dan raera bertemu untuk beberapa detik.

 

“Hai kris” sapa chanyeol canggung.

“Hai” jawab kris acuh sambil membuang muka.

“Si..siapa gadis itu?” Bisik baekhyun ke jongdae tapi masih bisa terdengar oleh mereka.

 

Chorong tersenyum besar.

“Annyeong, Park chorong imnida”

“Aku tidak pernah melihatmu” balas baekhyun.

“Ah ne, baru 2 pekan ini aku menjadi penjaga perpustakaan disini” jelas chorong yang dibalas anggukan.

 

Karena tidak tahan dengan situasi awkward  ini, akhirnya chorong berinisiatif.

 

Chorong mengalungkan tangannya di lengan kris.

“Oppa Ayo kita pergi, tadi kau bilang mau mengantarku ke perpustakaan!” Ajak chorong.

 

Butuh sedikit jeda sampai kris menjawab.

“Ah ne, kajja”

 

Chorong membungkuk pada chanyeol dan lainnya yang hanya diam mematung.

 

*

 

Chorong melepaskan tangannya dari kris.

“Huh tadi kau membuatku berada di situasi yang aneh, Sepertinya terjadi sesuatu antara kau dan mereka” ujar chorong sambil menunjuk dada kris.

 

Mereka terdiam sesaat.

 

“Hmm biar kutebak, cinta segitiga?” Tanya chorong antusias.

 

Kris menatapnya dingin.

“Apa maksudmu?”

 

Chorong menepuk pipi kanan dan kiri kris dengan kedua tangannya.

 

“Auwh! ige mwoya?” Tanya kris emosi.

“Jangan menatapku seperti itu” pinta chorong takut sambil menunduk.

 

Emosi kris lenyap begitu saja saat melihat reaksi chorong yang terlihat takut padanya, kris merasa ada sesuatu pada gadis itu yang membuat ia tidak bisa berbuat apa-apa.

 

“Maaf” ucap kris canggung sambil mengacak belakang rambutnya.

 

Chorong mengembungkan pipinya dan mengangguk.

“Aku tidak akan membahasnya lagi” ucap chorong pelan.

 

“Park Chanyeol” ujar kris tiba tiba.

“Ne?” Tanya chorong tidak mengerti maksud kris.

“Dia ditunangkan oleh Park chanyeol! Namja yang tadi menyapaku”

“Jadi gadis itu bertunangan dengan namja tadi” gumam chorong.

 

Tiba tiba chorong mencubit pipi kiri kris lembut sambil tertawa kecil, membuat kris terpaku karena ia yeoja pertama yang memperlakukannya seperti ini, dan anehnya kris tidak keberatan merasakan sentuhan lembut tangan chorong.

 

“Aku pergi” salam chorong sambil mengibaskan tangannya di depan wajah kris.

 

Grepp!

 

Kris menangkap tangan chorong sambil menatapnya lekat-lekat.

 

“Aku tidak pernah dengar kau menyebut namaku” ucap kris serius.

“Ah itu.. karena aku tidak tahu namamu” jawab chorong jujur.

“Kau belum tahu namaku?”

“Kurasa itu tidak perlu, karena kita bukan teman dan..akupun tidak berniat berteman denganmu” jawab chorong yang semakin lama suaranya mengecil.

 

Kris menarik tangan chorong agar jarak mereka semakin dekat.

“Tanya namaku!” Perintah kris sambil sedikit memicingkan mata.

“A..aku tidak mau”

“Tanya!”

“Kenapa kau kekanak kanakkan sekali?” Tanya chorong takut..

 

Kris menarik chorong lagi, sampai sampai chorong menubruk dada kris.

 

“Si..siapa namamu?” Tanya chorong ragu.

 

Kris melepaskan genggamannya lalu tersenyum puas.

“Namaku Kris Wu, panggil aku kris oppa! Kau lahir tahun 1991, kan? Aku lebih tua darimu setahun, jadi kau harus memanggilku oppa”

“Kau memata-mataiku ya?” Sangka chorong.

“Jangan bicara yang tidak-tidak!”

“Lalu kau tahu darimana aku lahir tahun 1991?”

“Apa itu penting?”

“Sudahlah aku pergi!” Ujar chorong kemudian, ia melengos begitu saja.

 

‘Aku harus menjauhinya!’ tekat chorong dalam hati.

 

*

 

-Taman Kampus-

 

“Apa dia yeojachingu kris?” Tanya baekhyun dengan mulut yang masih penuh dengan snack.

“Mungkin saja, kris kan bukan namja yang mudah dekat dengan sembarang yeoja, apalagi yeoja tadi hanya seorang penjaga perpus, pasti ada sesuatu diantara mereka” tutur jongdae.

“Kau benar, lagipula yeoja itu sangat manis dan feminim, kau dengar saat dia bicara tadi? Suaranya lucu sekali. Tidak heran kalau kris tertarik padanya”

“Sudah tidak perlu dibahas lagi” pinta chanyeol “bukan urusan kita ia berhubungan dengan siapa” lanjutnya.

“Iya kau benar” balas jongdae.

“Yasudah, kami ke kelas dulu ya?” baekhyun sambil merangkul jongdae.

“Ne” jawab chanyeol dan raera.

 

Baekhyun dan jongdae sudah tidak terlihat, chanyeol mendekati raera yang saat itu sedang membaca buku di kursi taman kampus.

 

“Kau baik baik saja?” Tanya chanyeol sembari duduk disampingnya.

“Maksudmu?” Tanya raera tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca.

“Tentang kris” jawab chanyeol pelan, ragu mengucapkannya.

 

Raera menutup bukunya, lalu menatap chanyeol.

“Aku baik baik saja. Sudah kubilang antara aku dan kris sudah tidak ada apa-apa, jadi kumohon jangan berbicara seolah olah aku mencintainya. Aku tidak mau kau terluka karena pemikiranmu yang seperti itu, aku hanya ingin kau berpikir hanya ada aku dan kau”

 

Chanyeol tersenyum lebar.

“Terimakasih”

 

Raera berdiri lalu meraih tangan chanyeol.

“Ayo kita ke kelas juga” ajaknya yang disambut anggukan oleh chanyeol.

 

-Keesokkan harinya-

 

Seperti biasa, kris cs selalu tidak pernah lepas dari fan girls yang memuja ketampanan dan citra mereka sebagai pemain basket yang handal. Walaupun hanya 5 yeoja yang mengerumuni mereka tapi tetap saja ini masih mengganggu kris, sehun dan luhan.

 

Kris hanya menatap dingin para yeoja yang membuatnya muak. Sedang sehun lebih memilih pura pura membaca buku untuk mengabaikan setiap panggilan panggilan yang mengacu namanya. Dan luhan yang tiada hentinya mengulas senyum  untuk menghargai para yeoja ‘tidak tahu malu’ julukkannya itu.

 

Chorong yang kebetulan lewat terkejut melihat para yeoja dihadapannya yang memuja mahasiswa di kampus mereka sendiri padahal namja itu bukan artis atau semacam public figur.

 

‘Buang-buang waktu’ pikir chorong.

 

Saat mata kris dan chorong bertemu dengan cepat chorong mengalihkan pandangannya dan pura-pura tidak lihat.

 

“Park Chorong!” Panggil kris yang suaranya saru dengan suara berisik fan girls-nya, tapi masih bisa terdengar oleh chorong.

 

Chorong pura pura tidak dengar malah celingukkan ke arah lain, Karena takut dipanggil kris lagi dengan cepat chorong mengambil langkah seribu untuk pergi.

“Menjauh menjauh menjauh menjauh” gumam chorong mensugesti dirinya.

 

Kris hanya memandang punggung chorong yang semakin menjauh dengan tatapan polosnya.

“Apa dia tidak dengar?” Gumam kris.

 

Kris beralih ke fan girlsnya.

“Yak pergi sana!!” Teriak kris yang langsung membuat para fan girlsnya diam dan agak ngeri.

 

“Maaf semuanya, habis ini kami ada kuliah” ucap luhan “Ayo kris kita pergi! Sehun-ah, kau juga ada kuliah kan?”

“Ne hyung”

“Yasudah, kami pergi”

“Okay” setelah bilang itu sehun langsung lari menuju gedung kampus untuk menghindari mahasiswa atau mahasiswi lain menegurnya.

 

Luhan yang melihat tingkah sehun hanya dapat mendengus lemah.

“Anak itu benar benar anti sosial” gumamnya.

 

“Luhan, kajja!” Ajak kris yang terlebih dahulu melangkahkan kakinya.

 

-Keesokkan harinya-

 

Setelah kelas selesai kris memutuskan untuk ke perpustakaan untuk menemui chorong, Karena kemarin jadwal kuliahnya penuh jadi ia tidak sempat ke perpustakaan. Ia berjalan dengan tenang tanpa ditemani luhan dan sehun, sebenarnya mereka ingin ikut ke perpus tapi kris bersi keras melarang mereka.

 

Sesampainya di depan pintu perpustakaan kris menghentikan langkahnya. Ia mengambil napas lalu mendorong kenop pintu bersamaan dengan ia membuang napas.

 

Kris melihat seorang wanita sedang duduk di tempat penjaga perpus, tapi ia tahu pasti bahwa wanita itu bukan chorong melainkan seseorang yang berbeda yang sekiranya jauh lebih tua darinya.

 

Kris memutuskan mendekati wanita itu.

“Chogi.. dimana Park Chorong?” Tanya kris.

 

Wanita itu menoleh lalu mengernyitkan dahinya.

“Park Chorong? Nugu?”

 

TBC

17 pemikiran pada “2 Reasons (Chapter 5)

  1. wah..knp tiba2 park chorong jd sosok misterius y..kaya hantu..hehehe..
    Tp raera dr sikapny kaya punya rasa k kris..mungkin cuma tebakanku..

  2. jangan2 chorong arwah penunggu perpus….!
    koq aq gk suka ya ngeliat kriss dekatin chorong tp aq juga gk suka raeera nyakitin chanyeol.#plakk

  3. Chorong siapa? Jangan-jangan hantu/? *apaan dah-__-

    Ah! Jangan-jangan dia jadi librarian itu karena kegiatan bakti sosial/?
    Tau ah, lanjut baca ya thor!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s