Be My Shine (Suho’s Story: The Unlucky Guardian)

Be My Shine (Suho’s Story: The Unlucky Guardian)

Copy of jDuqTNNDczdCF

 

Title                       : Be My Shine

Sub – Title           : Suho’s Story: The Unlucky Guardian

Author                  : AlifyaA (@Alifya_Kuchiki)

Main Cast            :

  • Kim Joon Myun as Suho
  • You as Ok Choon Hee

Cameo                  : Ok Chan Sung (OC) & more.

Genre                   : Romance

Rating                   : G

Type                      : Longshot

 

This world will be much beautiful if we help each other..

And the arrogance will not bring you anywhere..

-By AlifyaA

***

Annyeong, yeoreobun! Sekarang Author membawakan FF uri Leader, EXO Suho!! Sebelumnya, Author ucapkan terimakasih kepada readers yang sudah membaca FF – FF Be My Shine yang sudah dipublish (Admin eonni, kamsahamnida sudah mempublish) dan memberikan kritik, saran, serta komentarnya. Untuk kali ini pun, Author masih sangat mengharapkan tanggapan – tanggapan dari kalian. Dan untuk Readers yang ingin mengkoreaksi, monggo.. karena itu bisa jadi bahan perbaikan ke depannya. Sekali lagi, jeongmal kamsahamnida. Happy reading, annyeong!

***

[SUHO’s POV]

“YA, MWOHANEUNGWOYA?! DASAR YADOOONG!” teriak yeoja itu sambil menjambak rambutku.

“YA, aw aw aw.. AAAWWW!! YA, LEPASKAN TANGANMU DARI RAMBUTKU!!” ucapku sambil berusaha menjauhkan tangannya. Eomeo, dia kuat sekali.

“Shireo! Namja sepertimu perlu diberi pelajaran.”

“AAAWWWW!!!”

Ne, itulah pertemuan pertama kami. Pertemuan yang lucu, saking lucunya sampai membuatku hampir gila. Pertemuan lucu itu terjadi di tengah sebuah kekacauan. Kekacauan yang membuatnya terjatuh. Kekacauan yang membuatku berada di sisinya.

 

xoxoEXOxoxo

 

Luhan membuka pintu Waiting Roomku sambil melangkah masuk dengan sekantung kripik kentang di tangannya. Ia pun duduk di sebelahku tanpa berhenti mengunyah, setelah selesai mengunyah dan menelannya, ia menatapku.

“Joon Myun-ah, aku dengar kau ingin menjadi sukarelawan untuk Kapal Sewol?”

“Ne, katanya banyak yang terluka, meninggal, dan masih hilang. Aku ingin bisa membantu.”

“Heoksi.. Suho, Management memberi nama artis yang sangat cocok denganmu. Walaupun kau sudah menjadi actor sekarang, kau masih seperti dulu,” ucap Luhan dengan mata berbinar.

“Kenapa kau melihatku seperti itu? Jangan melihatku seperti itu, itu menggelikan! Lagi pula, aku sudah pernah belajar cara memberikan pertolongan pertama, aku juga pernah menjadi Duta Red Cross Youth, jadi tidak ada salahnya aku ikut jadi sukarelawan.”

“Ne, hwaiting! Mianhe aku tidak bisa ikut, syuting dramaku belum selesai.”

“Em.. kau bisa ikut lain kali, Luge.”

“Arraso, na kalke,” ucapnya sambil beranjak bangun.

“Kau mau kemana, baru di sini sebentar?”

“Aku ada janji dengan Ah Reum,” ucapnya sambil membuka pintu.

“Kau masih berpacaran rahasia dengannya?”

“Kureom, aku tidak mungkin meninggalkannya. Lagi pula suatu hari aku akan member tahu Pers tentang hubungan ini.” Ia pun keluar dari Waiting Roomku dan menghilang di balik pintu.

“Bagaimana bisa dia mempertaruhkan kariernya hanya untuk seorang yeoja? Ck ck ck ck,” ucapku sambil menggelengkan kepala.

 

xoxoEXOxoxo

 

“Haaah… rasanya lelah sekali,” desahku sambil meminum kopi yang mulai dingin di tanganku.

“Chogi.. Ahjussi, bisakah kau membantuku?” ucap sorang gadis kecil sambil menarik lengan bajuku.

“Kureom! Apa yang bisa Ahjussi bantu, Gadis Manis?” ucapku sambil tersenyum dan mengikuti langkah kaki kecilnya dari belakang.

“Halabeoji, yang mana yang sakit?” tanya seorang suster.

“Aku sudah makan, kau tidak perlu khawatir,” jawabnya.

“Ne? Aniya, yang mana yang sakit?” tanyanya ulang.

“Aku bilang, aku sudah makan.”

Dari kejauhan aku melihat Suster Go yang terlihat sedang kebingungan, aku pun menghampirinya.

“Ada apa?” tanyaku.

“Eh.. ini, Suho – ssi, tadi saya bertanya ‘yang mana yang sakit’ tapi halabeoji menjawab ‘dia sudah makan’. Sepertinya mendengarannya sudah kurang bagus.”

“Mm, biar aku saja.. CHOGI, HALABEOJI APA ADA YANG SAKIT??!!” teriakku.

“Ish, kau tidak boleh berteriak – teriak! Nanti akan mengganggu yang lainnya. Seharusnya kau bertanya sejak tadi secara baik,” ucap kakek itu.

“Ne~ jeongseonghamida.. Jadi yang mana yang sakit?” tanyaku sambil tersenyum manis.

Ne, sekarang yang kulakukan adalah membantu korban – korban Kapal Sewol yang selamat di penampungan sementara. Rasanya benar – benar melelahkan, tetapi di waktu bersamaan ini membuat hatiku tenang.

 

xoxoEXOxoxo

 

Sore ini, aku membantu Tim Pencari untuk mencari siapa tahu masih ada korban yang selamat. Untuk mempermudah proses pencarian, kami bergerak secara berpencar dengan beberapa kapal boat kecil. Kapal boat kami hanya berisi dua orang, aku dan Jin Hyuk, seorang nahkoda dari Red Cross.

Dari kejauhan, aku seperti melihat sesuatu mengapung di permukaan air. Aku pun menyuruh Jin Hyuk untuk mengikuti arahanku. Setelah dekat, aku terkejut. Ternyata benar – benar ada seorang yeoja yang mengapung di atas pecahan badan kapal.

“Oh, Jin Hyuk-ah, lihat!” ucapku sambil menunjuk orang yang sedang terapung itu, dengan cepat Jin Hyuk menghentikan kapal boatnya.

“Aku akan turun.”

“Ne, hati – hati Joon Myun-ah.”

Aku pun terjun ke air dan segera menolongnya. Aku menariknya dan mengangkatnya ke boat. Setelah aku menaruhnya, aku segera mengecek kondisinya, apakah dia masih hidup atau tidak. Ya, Tuhan.. Aku mohon, semoga dia masih hidup.

“Oh, dia masih hidup,” ucapku riang.

“Segera beri dia pertolongan pertama!”

“Ne?”

“Beri dia pernapasan buatan, lalu tekan dadanya, keluarkan semua air di tubuhnya!”

“Mwo?” ucapku terkejut.

“YA, kenapa malah bingung begitu?”

“Ta – tapi, aku tidak membawa ventilator.”

“Kalau begitu, gunakan mulutmu!”

“MWO?!” ucapku lebih terkejut.

“YA, cepat lakukan sebelum dia mati! Aku harus mengendalikan boatnya. Ppaliiiii!!!”

“A – arraso.”

Karena terpaksa, aku pun melakukannya. Ini masalah nyawa, aku tidak bisa membiarkan seseorang mati tepat di depan mataku. Aku terus melakukannya, sampai ia mengeluarkan semua air dalam tubuhnya.

“Joon Myun-ah!”

“Ne?”

“Pernapasannya bisa tertahan. Buka sepatu, kaus kaki, gesper dank acing atasnya!”

“Ne, arraso.”

Aku melakukan semua yang dikatakan Jin Hyuk. Aku melepaskan semua barang – barang yang kira – kira akan menghambat pernapasannya. Tapi tiba – tiba ia tersadar dan menatap ke arahku yang sedang membuka kancing atas kemejanya.

“YA, MWOHANEUNGWOYA?! DASAR YADOOONG!” teriak yeoja itu sambil menjambak rambutku.

“YA, aw aw aw.. AAAWWW!! YA, LEPASKAN TANGANMU DARI RAMBUTKU!!” ucapku sambil berusaha menjauhkan tangannya. Eomeo, dia kuat sekali.

“Shireo! Namja sepertimu perlu diberi pelajaran.”

“AAAWWWW!!!”

“AHH.. JIIINNJJA!!” desahnya. Heol!

“YA, JIN HYUK – AH! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?!! TOLONG AKU, DIA GILA,” teriakku sambil melihat ke arah Jin Hyuk yang masih ada di belakang kemudi dengan wajah memelas sambil terus memegangi rambutku yang dijambaknya.

“Oh, a- a- chogi.. agasshi, tolong berhenti! Tadi dia hanya sedang menolongmu. Pernapasanmu bisa tertahan, jadi aku menyuruhnya untuk melakukan itu,” jelas Jin Hyuk. Garis wajah yeoja itu pun seketika berubah dan menunjukkan ekspresi kosong.

“Oh, kureokuna..” ucapnya tak bersalah.

“AHH.. JIIINNJJA!!” desahku menirunya.

“YA, SALAHMU SENDIRI MEMBUATKU SALAH PAHAM!!” teriaknya lagi.

“MWOO?! Kau seharusnya berterimakasih padaku karena tidak membiarkanmu mati kedinginan, digigit ikan hiu, tersengat ubur – ubur atau hanyut diterpa ombak.”

“Itukan sudah tugasmu,” ucapnya angkuh.

“MWO?! Hah, apa yang seharusnya kau ucapkan setelah orang lain menolongmu?”

“ Mm? ‘Apa kau sudah gila’?”

“Kalau tanda terimakasihmu seperti itu, lebih baik tidak perlu!”

“Memang tidak perlu,” jawabnya santai.

Seketika, Jin Hyuk pun mencoba untuk melerai kami, “Tenaaang.. Siapa namamu?” tanyanya.

“Ok Choon Hee.”

“Cih! Nama itu benar – benar tidak cocok denganmu. Ok: kelembutan, Choon Hee: gadis musim semi. Musim semi apanya? Musim dingin lebih cocok denganmu, tenagamu saja mirip Yeti.”

“Kau saja yang lemah, dasar namja lembek!”

Ahh, jinjjaaaa.. siapa yeoja angkuh ini? Bukannya berterimakasih, dia malah menyemprotku dengan kata – katanya. Dasar yeoja tak tahu terimakasih.

 

xoxoEXOxoxo

 

Aku menghampiri yeoja itu dengan kesal dan menyodorkan handuk padanya, “Igeo.”

“Shireo, aku tidak mau menggunakannya jika kau yang memberikan.”

“Ini bukan waktunya untuk bersikap rewel, apakah kau tidak lihat di sini hanya ada kita bertiga?”

“Kalau begitu, biar namja itu yang memberikannya.”

“Kalau dia yang melakukan hal – hal seperti ini, siapa yang akan menjadi nahkoda? Ya sudah kalau tidak mau, dasar gadis manja!” ucapku kesal sambil membuat jarak yang lebih jauh darinya.

Aku melihat ke arahnya sekilas, hanya untuk memastikan tidak ada apa – apa padanya. Walau bagaimana pun juga, dia baru melewati hal yang sangat mengerikan. Saat aku melihat ke arah kakinya, celanannya sudah dipenuhi darah yang mulai mengering. Lalu aku langsung melihat ke arah wajahnya, ia sedang menggigit bibir bawahnya. Dia menahan sakit. Tanpa berfikir panjang, aku langsung menghampirinya, berjongkok di depannya dan merobek celananya.

“Mwohaneungoya?” tanyanya kasar.

“Benar kan, kaki mu patah. Apa kau seangkuh itu sampai tidak bilang kalau kau sakit?”

“Apa urusanmu?” tanyanya skeptis sambil menatapku. Aku menghiraukan ucapannya dan segera beranjak untuk mengambil Kotak Pertolongan Pertama. Aku mengambil botol alkohol dan menyiramkannya pada kaki yeoja itu.

“Aww.”

“Tahan sedikit,” ucapku. Setelah itu aku langsung memperban kakinya dan mengikatkan dua buah papan agar kakinya tetap lurus dan tidak banyak bergerak. Lalu aku mengeluarkan suntikan dari kotak.

“Apa yang ingin kau lakukan?”

“Lukamu bisa mengakibatkan infeksi, aku harus menyuntikan anti-tetanus sebelum terlambat,” ucapku dan tanpa aba – aba langsung menyuntikkannya. “YA, seharusnya kau bilang ‘hana, dul, set’ terlebih dahulu!” protesnya, yang sepertinya belum siap.

“Hana, dul, set,” ucapku polos.

“SUDAH TERLAMBAT!”

Tiba – tiba dia muntah, dengan segera aku mengambil kain untuk muntahannya. Aku terus memeganginya erat sambil memijit belakang lehernya lembut. Aku bisa merasakan rasa sakitnya, dia terus menahannya seorang diri. Dan sampai merasa tidak mampu lagi, ia pun mulai menangis pelan sambil terus memuntahkan semua isi perutnya. Aku merasa sedih melihatnya, sama sekali tidak ada perasaan jijikku terhadapnya. Setelah ia selesai, aku langsung membersihkannya. Lalu mendekapnya dan menggendongnya ke dek.

“Bagian mana lagi yang sakit?” dia tidak menjawab dan hanya memalingkan wajahnya. Jeongmal.. Aku pun langsung memeriksanya sendiri.

“YA, mwohaneungwoya? Kenapa kau pegang – pegang? YA!” ucapnya dengan suara rendah, karena kehabisan tenaga.

“Kamaiso! Bisakah kau diam sebentar? Aku sudah cukup pusing dengan meladenimu. Seperti yang kau katakan, aku hanya menjalankan tugas. Jadi singkirkan keangkuhanmu! Aku tahu kau sedang marah, trauma dan merasa sakit, tapi diamlah sebentar sebelum aku benar – benar bersikap tidak peduli…” aku menatapnya dengan mata yang sedikit berkaca “..dan pakai handuknya, kau kedinginan.”

Dia hanya membisu dan membiarkanku meneruskan pekerjaanku. Setelah terdiam selama beberapa saat, ia pun mengambil handuk yang berada di dekatnya dan mulai mengeringkan diri. Sedangkan aku masih terfokus untuk memeriksanya, aku menemukan banyak luka di sekitar pelipis, leher, tangan dan kakinya, dia pun meringis kesakitan saat aku menyentuh pundaknya. Setelah mengobati luka – luka yang masih bisa aku tangani, aku mengambil sebuah selimut tebal dan menyelimutinya. Tahan sebentar lagi, Ok Choon Hee.. Jinjja, dia benar – benar terluka, tapi kenapa sejak tadi dia hanya menahannya sendiri, apa hanya karena merasa gengsi. Dia benar – benar kuat, tapi apakah kau seangkuh itu.. Ok Choon Hee?

“Tahan rasa sakitnya untuk sementara, setelah sampai di daratan kau akan segera dibawa ke rumah sakit. Arraso?” ucapku lembut, dia hanya mengangguk.

“Kau akan baik – baik saja.”

 

xoxoEXOxoxo

 

Begitu sampai di daratan, aku menggendongnya dan menaikkannya ke atas blangkar. Dia tidak marah – marah lagi seperti sebelumnya saat aku menggendongnya, dia lebih tenang. Dan karena hanya ada sedikit relawan di RS dan RS juga mulai kewalahan dengan jumlah korban yang banyak, aku pun ikut ke RS dengan menaiki mobil ambulance yang membawa Choon Hee. Aku melihat ke arah Choon Hee yang hanya terlentang diam di mobil, menghiraukan seorang suster yang sedang memberikan jarum infus ke tangannya. Dia hanya diam, tanpa sedikitpun berontak atau mengeluh kesakitan.

“Suho-ssi..” panggilnya tiba – tiba.

“Wae?”

“Berapa banyak korban yang meninggal?” tanyanya, masih terfokus menatap atap mobil yang terus melaju tanpa menurunkan sedikitpun kecepatannya.

“Sekarang lebih baik kau tidak memikirkan hal itu,” jawabku.

“Aniya, aku ingin tau. Marhaebwa!”

“Cukup.. ba-nyak,” jawabku dalam hati. “Banyak yang selamat, kau tidak perlu khawatir.”

Setelah mendengar jawabanku, ia dengan seketika menutup matanya dan menghela nafas panjang. Selama di perjalanan ke RS terdekat, dia tidak mengucapkan sepatah katapun lagi. Hal itu pun membuat otak ku mengeluarkan sebuah pertanyaan. Dengan siapa dia menaiki kapal itu?

 

xoxoEXOxoxo

 

Setelah sampai di RS, Choon Hee langsung dibawa ke UGD dan tak lama setelah itu, dia langsung dipindahkan ke ruang operasi. Apa yang terjadi padanya? Saat aku melihat ke arah dokter – dokter dan suster – suster yang menanganinya, wajah mereka benar – benar gusar. Padahal Choon Hee cukup kuat untuk menahan rasa sakitnya.

Dia bukan siapa – siapa bagiku. Dia hanya sekedar seorang korban yang aku selamatkan dari sebuah tragedi mengerikan. Dia hanya sekedar gadis rewel yang terlalu banyak menuntut di waktu yang tidak tepat.  Tapi mengapa aku begitu khawatir? Mengapa aku begitu peduli?

Saat Choon Hee sedang menjalani operasi, aku masih sibuk dengan pekerjaanku memindahkan korban – korban yang baru sampai di rumah sakit, tapi pikiranku masih terus tertuju pada keadaan yeoja itu. Selama sekitar empat setengah jam, aku baru melihat kelompok bedah yang menangani Choon Hee melewatiku. Operasinya sudah selesai.

Aku pun menghampiri seorang gadis berambut bob yang kuyakini ikut mendampingi dokter yang mengoperasi Choon Hee.

“Chogi..”

“Oh, Suho-ssi? Ini benar – benar kau? Oh, jeongmal.. kau tidak tahu seberapa besarnya aku mengidolakanmu,” ucapnya riang.

“Ah, kamsahamnida. Mm.. begini.. apa yang terjadi dengan pasien tadi?” tanyaku to the point.

“Oh, maksudmu pasien korban kapal Sewol itu, Ok Choon Hee?”

“Ne,” jawabku singkat.

“Mmm, dia.. kondisinya benar – benar buruk, beberapa tulangnya patah, dia juga mengalami gagar otak ringan. Tetapi yang terparah adalah pada kakinya, saraf – saraf kakinya telah mati. Aku rasa dia akan lumpuh, padahal aku dengar dia adalah seorang penari ballet. Sungguh kasihan..”

Aku hanya terpaku mendengar ucapan suster itu. Kaki ku tidak bisa digerakkan, lidahku kelu, keringat menetes di pelipisku, dan pandanganku mulai tidak fokus. Yang bisa ku dengar adalah suara samar suster itu yang pamit pergi untuk menangani pasien lain. Untuk beberapa saat aku hanya membeku, namun tiba – tiba dadaku merasa benar – benar sesak dan tanpa disadari setetes air jernih meluncur di pipiku. Itu bukan aku. Bukan aku yang mengalami semua ini. Tapi kenapa? Kenapa begitu menyesakkan? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

Ok Choon Hee.. mianhae.. aku sudah berbohong padamu.. kau tidak baik – baik saja

 

xoxoEXOxoxo

 

“Joon Myun-ah,” panggil salah satu anggota Red Cross.

“Ada apa, Dong Hoon Hyung?” tanyaku sambil menghampirinya.

“Aku sudah mendapatkan data korban itu.”

“Maksudmu Ok Choon Hee?”

“Ne. Dia seorang Mahasiswa di Seoul University. Selain kuliah, dia sudah menjadi seorang penari Ballet sejak berusia 4 tahun. Dia naik ke kapal itu bersama kedua orangtuanya dan seorang namdongsaeng yang baru berusia 7 tahun. Orangtuanya sudah ditemukan dalam keadaan tak terselamatkan lagi, sedangkan namdongsaengnya masih hilang,”

“Mmm.. Joon Myun-ah, sebaiknya kau yang memberitahunya. Aku paling tidak bisa memberitahukan kabar buruk,” lanjut Dong Hoon Hyung sambil pergi berlalu.

“Eotteoke? Eotteokaji? Bagaimana aku bisa memberitahukan apa yang terjadi pada kedua orangtuanya, pada namdongsaengnya, dan pada kakinya?” ucapku dalam hati, sambil merosot terduduk ke lantai. Aku pun mulai merasa sakit lagi.

 

xoxoEXOxoxo

 

Aku melangkah menghampiri kamar inap Choon Hee. Orang – orang di Red Cross menyuruhku untuk memberitahunya kabar buruk itu. Mereka berfikir aku adalah orang yang paling dekat dengannya jika dibandingkan dengan anggota tim penyelamat lainnya.

Aku melangkah perlahan dengan tubuh yang sejak tadi enggan untuk berhenti bergetar. Telapak tanganku basah dan pelipisku sudah dipenuhi oleh keringat. Setelah sampai di depan pintu kamar inapnya, dengan ragu aku memutar kenopnya dan masuk perlahan.

Di sana bisa ku lihat yeoja itu sedang melihat langit – langit kamar dengan pandangan kosong. Dengan ragu, aku menarik kursi yang ada di dekat ranjangnya dan duduk. Ia pun melihat ke arahku dengan tatapan lemah.

“Joon Myun-ssi,” ucapnya pelan.

“Ne?”  tanpa menjawabku, dia berusaha bangun dari posisi tidurnya, dengan refleks aku menahan tubuhnya yang lemah itu dan menyenderkannya.

“Jongseonghamnida.. Joon Myun-ssi.. dan kamsahamnida..” ucapnya dengan getir dan mulai meneteskan air mata. “Jongseonghamnida karena telah merepotkanmu.. dan kamsahamnida karena telah menolongku..”

“Ne. Kau tidak perlu mengatakannya, apalagi bilang kalau kau meminta maaf..”

“Sebenarnya ada hal yang ingin ku katakan,” ucapku.

“Ha-jima.. hiks.. Na arrayo..” air matanya mulai semakin deras.

“Ne?”

“Aku.. mendengar pembicaraan suster di luar kamarku.. mereka bilang.. mereka bilang aku akan lumpuh dan keluargaku.. mereka tidak selamat.. hiks..” tangisnya semakin kencang dan tubuhnya terus bergetar. Aku pun beranjak bangun dan mendekapnya erat.

“Mianhae.. mianhae karena telah berbohong padamu.. mianhae karena mengatakan kau akan baik – baik saja.. hiks.. tapi masih ada namdonsaengmu.. hiks..” ucapku, mulai menangis.

“Namdongsaengmu belum meninggal.. aku akan menemukannya.. namanya Ok Chan Sung kan? Aku akan menemukannya.. aku berjanji padamu. Kau boleh merasa sedih, kau boleh menangis.. tapi aku mohon kau tidak boleh kehilangan harapanmu.. dan bergantunglah kepadaku..hiks” ia pun membalas pelukkanku dan menangis semakin keras. Saat itu, keangkuhannyapun runtuh.

“Gwaenchana.. aku akan berada di sisimu.. hiks.. semuanya akan membaik..”

xoxoEXOxoxo

Aku kembali ke lokasi kapal Sewol tenggelam dengan Tim Penyelamat lainnya untuk mencari korban lain yang masih hilang. Matahari sudah mulai terbenam, tapi kami masih enggan untuk menghentikan pencarian.

“Aku akan masuk ke dalam,” ucapku.

“Tapi itu sangat berbahaya, kita akan sulit mengeluarkanmu dari sana tanpa helikopter. Sebaiknya kita cari besok,” ucap Jin Hyuk.

“Bagaimana kalau ada yang selamat di dalam sana? Bagaimana jika dia tidak bisa bertahan hingga besok? Aku akan turun,” tegasku.

“Baiklah, jika kau bersikukuh. Aku akan segera membawa helikopter ke sini. Berhati – hatilah!”

“Ne.”

Saat aku menyelam ke dalam bongkahan kapal sendirian, aku mendengar seseorang menangis. Aku pun mengikuti sumber suara, masih dengan pencahayaan yang kurang baik dari senterku. Dan ternyata, aku mendapati seorang namja kecil yang sedang menangis dan terhimpit potongan kapal. Aku pun menghampirinya.

“AAAA… Ah-ju-ssi, to-long a-ku.. hiks!!”

“Ne, ah..jussi a..kan menolongmu..” ucapku dengan nafas terengah – engah. Aku segera mengangkat potongan kapal yang menghimpitnya dan mengeluarkannya dari sana. Dia terluka dengan sangat parah. Seluruh pakaiannya telah dipenuhi darah. Aku menggendongnya dan memberikan kode dengan senter kepada helikopter yang terbang di atasku. Jin Hyuk sudah sampai.

Melihat tanda itu, helikopter pun mendekati bongkahan kapal yang sedikit terapung dan melihatku di antara cela – cela. Mereka pun menurunkan tali. Dengan segera aku mengikatkan tali itu ke tubuhku dan membentuk simpul lain dan memasang skrup untuk memasangkan penghubung tali pada anak kecil itu. Setelah selesai, mereka menarik kami secara perlahan – lahan. Tapi saat di tengah udara, tiba – tiba ada yang terlepas dan membuat kami sedikit turun lagi.

“ADA APA?!” teriakku.

“ADA SKRUP YANG PATAH DAN TALINYA TIDAK KUAT MENAHAN BEBAN!!” teriak Jin Hyuk.

“SUDAH TIDAK ADA TALI LAGI!” teriaknya, “JOON MYUN-AH, TAHAN SEBENTAR LAGI. AKU AKAN MEMANGGIL TIM PENYELAMAT LAINNYA.”

Tiba – tiba anak kecil di pangkuanku memuntahkan darah dengan sangat banyak.

“Ah-ah-ju-ssi..” ucapnya pelan sambil terus mengeluarkan darah, bersamaan dengan air matanya.

“Tenang, ahjussi akan menyelamatkanmu.. hiks.. siapa namamu?” ucapku mulai menangis.

“Ok.. Chan-Sung,” balasnya lemah.

“Ok Chan Sung? Noona-mu.. Ok Choon Hee?”

“Ne. A-pa-kah Noo-na sela-mat?” sekali lagi dia mengeluarkan darah.

“Kureom. Begitu juga denganmu,” ucapku sambil mengeluarkan sebuah pisau lipat dari kantungku.

“Chan Sung-ah.. hiks.. tolong katakan pada Noonamu.. ‘mianhae karena aku berbohong lagi, dia tidak dapat bergantung padaku..’ dan katakan padanya ‘Gadis Rewel.. sarangaeyo..’. Arraso?” ia hanya mengangguk. Aku pun mendekatkan pisau lipat itu pada tali penghubungku. “Kalau hanya kau, talinya tidak akan putus.”

“YAA, JOON MYUN-AH.. JANGAN BODOH, TIM PENYELAMAT AKAN SEGERA DATANG.. JANGAN BERANI – BERANINYA KAU MEMOTONG TALINYA!! YAAA!! KIM JOON MYUN! SUDAH KU KATAKAN, PENYELAMAT LAINNYA SEDANG DI PERJALANAN!! ” teriak Jin Hyuk dari atas.

“Tidak ada waktu lagi.. Chan Sung, kau harus hidup,” ucapku sambil memotong taliku.

“KIIIIIIIM JOOOOOON MYUUUUUNNN!!!!!!” aku pun terjatuh dan kehilangan kesadaran.

 

xoxoEXOxoxo

“Hiks.. hiks…”

Suara tangis siapa itu?

“Kim Joon Myun.. kau memang pembohong..”

Choon Hee?

                “Aku mohon bangun, kau sudah berjanji.. kau sudah berjanji untuk menjadi sandaranku.. nado.. sarangeyo”

Choon Hee, apakah itu benar?

“Hah..” tiba – tiba aku terbangun dengan nafas sulit.

“Joon Myun-ah?” ucap seorang yeoja di atas kursi rodanya.

“Ok-Ch-oon-Hee?” ucapku lemah. Ia pun langsung mendekapku tubuhku yang lemah di atas ranjang dan menangis keras.

 

xoxoEXOxoxo

 

Few Years Later..

[AUTHOR’s POV]

“YA, JOON MYUN-AH!! KAU MAU KEMANA???!! SCHEDULE-MU BELUM SELESAI. YAA!!” teriak Manager Jung kepada artisnya yang sedang berlari pergi.

“Sudahlah, Hyung. Dia sedang terlambat untuk konser,” ucap seorang namja tampan.

“Apa maksudmu, Luhan? Konser apa?”

“Konser piano,” jawabnya singkat sambil berlalu pergi.

 

xoxoEXOxoxo

Namja nampan itu pun melajukan mobilnya dengan cepat dan urakan seperti pengemudi baru yang tak lama mendapatkan SIMnya. Dia pun menghentikan mobil mewahnya di depan sebuah butik. Ia pun keluar dari mobil dan memasuki butik tersebut.

“Jasku sudah siap?” ucapnya dengan terburu – buru.

“Ye. Tadi juga pengantar bunga datang untuk mengantarkan pesananmu.” Jawab seorang pelayan butik.

“Baiklah, mana? Aku sudah terlambat,”

 

xoxoEXOxoxo

[SUHO’s POV]

“HYUNG-NIM, PPALLIIII!” teriak seorang anak berusia sekitar 11 tahun di salah satu bangku.

“Oh, Chan Sung-ah.. apakah aku terlambat?”

“Hampir,” ucapnya singkat.

Dan di sana, di atas sebuah panggung yang megah, aku melihat sesosok yeoja tercantik di dunia ini. Ok Choon Hee. Yeoja yang menemaniku dan mengisi relung hatiku selama beberapa tahun ini. Sekitar empat tahun yang lalu, ia kehilangan semua mimpinya. Tapi sekarang dia telah menemukan mimpi baru. Menjadi seorang pianist, seorang pianist yang luar biasa.

 

xoxoEXOxoxo

 

Setelah konsernya selesai, aku pun menghampirinya di backstage bersama Chan Sung. Aku melihatnya masih menggunakan dress cantik berwarna pastel itu. Dia berdiri tegap dengan alat bantu, kaki palsunya. Ia melihat ke arahku dan tersenyum manis.

Aku pun semakin menghilangkan jarak di antara kami. Saat aku sudah berada di hadapannya aku pun menyodorkan buket bunga lily-ku kepadanya. Ia menerimanya sambil tersenyum manis ke arahku. Ia menghirup wangi bunga itu, lalu memasang ekspresi aneh saat melihat bunga itu. Di sana.. pada salah satu tangkainya, aku telah menyimpan sebuah cincin cantik. Ia pun melihat ke arahku dengan pandangan berbinar. Aku pun langsung mengambil cincin yang ada di sana dan bersujud di depannya.

“Ok Choon Hee, maukah kau menikah denganku?” ia hanya mengangguk dengan air mata yang telah jatuh ke pipinya. Aku pun bangkit, memasangkan cincin itu di jari manis kirinya dan memeluknya.

“Sarangaeyo..” ucapnya di belakang telingaku.

“Nado sarangaeyo.” Akupun sedikit merenggangkan pelukanku. Aku menatapnya dalam dan mendekatkan wajahku.

“E-em.. ada anak kecil di sini,” ucap Chan Sung sambil menatap kami kesal.

Bagaimana aku bisa melupakan anak ini?

Kami berdua pun hanya tertawa lepas melihat anak kecil it uterus mengomel tidak jelas. Aku melihat ke arah Choon Hee yang sedang tertawa. Dia sangat cantik. Aku pun menariknya dan mengecup keningnya lembut. Selamanya aku akan menjadi sandaranmu, kali ini aku tidak akan berbohong. Karena bagiku, kau adalah cahayaku.

 

THE END

 

26 pemikiran pada “Be My Shine (Suho’s Story: The Unlucky Guardian)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s