Werewolf Beside You (Chapter 1)

 Werewolf Beside You

werewolf

 

늑대인간, 당신옆에 (Chapter 1: The First Meeting)

by Ayeolaa Park (@fireyeols)

Cast: Lee Sara (OC), Park Chanyeol (as Werewolf), Park Chanyeol (as Human), Kim Jongin, and other cast || Length: Multichapter || Genre: Fantasy, Tragedy, Thriller, and Romance.

Ratting: G (bisa berubah-ubah)

Inspiration: Novel/Movies: Werewolf Boy

Disclaimer:

PURE CREATED BY ME! NO PLAGIARISM!

DILARANG COPY PASTE CERITA TANPA IZIN!

SAAT MEMBACA, PERHATIKAN TANGGAL CERITA!

Maaf, typo bersebaran dimana-mana. Masih amatir dan mainstream karena baru pemula. Well, happy reading!

Pertemuan singkat antara 2 makhluk yang berbeda… Dan terasa seperti ‘dejavu’.

“Perkenalkan… Aku… Aku Lee Sara. Penghuni baru rumah sebelah.”

“Aku Park Chanyeol.”

 

Rasa ‘cinta’ adalah perasaan yang baru ia rasakan membuatnya merasa lemah.

“Chanyeol… Bolehkah aku mencintaimu?”

“Kupikir… Aku tidak pantas untuk kau cintai, Sara.”

“Tapi… Aku rasa… Aku mencintaimu, Park Chanyeol.”

“Aku juga mencintaimu, Lee Sara.”

Namun, mereka harus berpisah karena adanya perbedaan.

 

 

 

CHAPTER 1…

 

THE STORY BEGIN…

 

—Kanada, 1964—

 

Awal musim dingin yang buruk bagi keluarga besar yang bermarga Lee. Salah satu anggota keluarga tersebut telah meninggal dunia akibat penyakit bronkitis yang ia idap selama bertahun-tahun. Hingga sekarang, nyawanya tak dapat di panggil kembali. Tn. Lee Jongsoo telah menghembuskan nafas terakhirnya saat petang, pukul 4, di Kanada, Amerika Serikat.

Tn. Lee Jongsoo seorang ayah dengan 2 orang anak perempuan yang amat manis. Lee Sara anak pertama, dan Lee Aera adalah anak kedua. Penyakitnya telah menurun kepada salah satu anaknya, anaknya yang pertama—Lee Sara. Lee Sara yang masih berumur 19 tahun kini baru mengetahui, penyakit yang menurun dari ayahnya. Berawal dari ia sering sesak nafas parah saat mengikuti mata pelajaran olah raga di sekolah dan tidak jarang batuk berdahak dengan lendir kemerahan saat sedang menghirup asap atau polusi udara semacamnya.

Sang istri—Lee Songra tak henti-hetinya menangis sambil memeluk kedua buah hatinya yang cantik. Tak jarang, ia memanggil nama suaminya yang telah berbaring tenang di dalam peti hitam yang akan segera dikubur di bawah tanah. Semua yang ada di pemakaman menitikkan air mata harunya pada seorang Lee Jongsoo. Seorang jendral bijaksana yang sangat dihormati orang banyak.

 

 

 

—Gangwon-do Yanggu, 1964—

 

Pertengahan musim dingin yang lembut menyambut keluarga Lee tanpa seorang pemimpin keluarga mereka menginjakkan kakinya kembali di tempat dimana keluarga itu lahir. Korea Selatan. Selama meninggalnya pemimpin keluarga mereka, mereka memilih untuk pindah dari rumah saudara mereka yang berada di Kanada. Dan kini tinggal di rumah lama mereka, di kawasan Gangwon-do Yanggu. Kota yang sepi dan di kelilingi oleh pegunungan yang membuat suhu udara sangat dingin saat musim dingin.

Seorang gadis tengah berdiri dengan tatapan tak peduli kepada pekerja-pekerja suruhan ibunya untuk membantu memindahkan barang. Ia menatap sendu bangunan yang akan ditinggalinya kini. Ini rumah dengan atas namanya—Lee Sara. Almarhum ayahnyalah yang memberikan rumah ini dengan atas namanya, bukan ibunya. Karena Lee Sara adalah anak kesayangan ayahnya, dan juga anak yang mengidap penyakit yang telah diturunkan olehnya.

Inilah hidup. Hidup tak selamanya dilingkupi perasaan senang. Penyakitnya membuatnya geram untuk cepat-cepat menyusul ayahnya. Penyakit ini sangat menggangunya. Ia ingin sembuh, namun sangat berkemungkinan kecil ia bisa sembuh total. Ia kesal, tapi tidak kesal dengan ayahnya. Ia kesal pada dirinya sendirinya yang lemah.

Seorang pemuda berkulit agak gelap kini telah berdiri di sampingnya. Dia Kim Jongin. Dia adalah anak buah ayahnya. Dan yang paling ia tau betul, ayahnya berpesan bahwa ia harus dengan lapang dada menikah dengannya suatu saat nanti. Demi kebahagiaan ayahnya, ia bersedia dengan semua keinginan ayahnya, yang sama sekali bukan keinginannanya sendiri. Pemuda ini memiliki hati yang sangat baik kepadanya, karena telah membiayai pengobatannya. Sekaligus membatu mengurus surat pindah dan tinggal kembali di rumah tua ini.

Sara berjalan meninggalkan pemuda itu dengan tatapan sinis dan berniat membantu ibunya mengangkut barang-barang. Hatinya telah kosong, dan tidak peduli dengan orang lain. Hatinya terasa tertutup rapat dan hatinya serasa tidak hidup sehidup jantungnya yang masih berdegup normal.

 

Hatiku hilang… hatiku mati…

 

“Disini banyak debu, sayang. Istirahatlah dulu dan temani Aera, adikmu.” Ucap sang ibu lembut walau penat yang ia rasakan, namun ia tutupi demi anaknya yang ia sayangi.

“Ya, bu.” Balas Sara singkat dan mendekati adiknya yang sedang menatap sekitar rumah, berjalan-jalan kecil di halaman rumah yang cukup luas ini.

Pandangan Sara tertarik pada sebuah bangunan putih tua yang berdiri tepat di sebelah rumahnya ini. Rumah itu layaknya tak berpenghuni. Ia menatap kosong rumah itu, namun dihatinya ada rasa takut dan khawatir bilamana ada sesuatu yang terjadi pada dirinya dan keluarganya dari efek rumah itu.

Satu kata untuk rumah itu. Ia takut kesana dan ia tidak sudi masuk ke dalamnya. Angin salju berhembus tepat ke arah rumah itu membuat Sara bergidik ngeri dan menatap horor rumah tua bercat putih itu. Entah mengapa, Sara berpikir, bahwa ada makhluk yang tinggal disana dan kini sedang menyendiri dari masyarakat. Dia merasakan, nafas makhluk itu…

Pikiran dan hatinya berkutat. Pikirannya berkata jangan mendekati rumah itu, dan hatinya berkata untuk mencoba mendekati rumah itu untuk meyakinkan bahwa rumah itu tak berpenghuni.

Tangan hangat dan mungil tiba-tiba membangunkan lamunan Sara. Itu tangan Lee Aera—adiknya yang berumur 5 tahun. “Sara eonni… Eonni, lihat apa?” Tanya polos.

Sara menatap dengan ekspresi datar, seakan tidak ada apa-apa kepada adik manisnya itu. Sara hanya menggeleng dan dibalas senyuman khawatir oleh Aera.

“Aera! Lihat, Jongin oppa punya apa untukmu?” Teriak pemuda itu—Jongin sambil menyodorkan sebuah lollipop ukuran besar kepada Aera. Aera memekik girang dan langsung mendapatkan lollipop yang Jongin beri untuknya. Sara hanya menatap tak peduli pada Jongin yang beralih tersenyum kepadanya.

“Waah! Terima kasih, Jongin oppa!” Ucap Aera dari mulut mungilnya dan berlari mendekati ibunya untuk memberi tau ibunya, apa yang ia dapat.

“Kenapa?” Tanya Jongin dan mendekat sehingga Sara mundur satu langkah ke belakang. Sara melipat kedua tangannya di depan dada dengan mata terpejam.

“Kau tidak senang?” Tanya Jongin kembali dan menaruh tangan kanannya di pundak Sara. Sara pun menepisnya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya ke sekitar dengan berat. Ia pun menatap bola mata Jongin dan lagi-lagi menghembuskan nafasnya kasar.

“Jangan bersikap sok baik denganku. Aku benci orang baik-baik.” Ujar Sara ketus dan menghindar dari pandangan Jongin yang kini menatapnya sedih. Jongin tak tau harus berbuat apa, ia tidak bisa membenci Sara karena kelakuannya yang selalu membuat hatinya sakit. Semua perilaku Sara yang membuatnya sakit hati, tak membuatnya kesal kepada gadis itu.

Karena Jongin mencintainya.

Matahari mulai semakin bersembunyi dan menghilangkan bekas cahayanya yang kini memudar akibat musim dingin. Sara menikmati malam kesendiriannya di kamar tidur barunya. Kamar tidur yang berisi lemari, ranjang, meja belajar, dan beberapa perlengkapan sederhana meninggali kamar tidurnya. Ia menatap dewi malam yang indah di balik jendela yang ukurannya cukup besar. Ngerinya, tepat di depan jendela, bangunan putih tua itu berdiri. Membuat hati Sara bergetar tiap kali memerhatikan salah satu jendelanya yang tertutup debu tebal.

Kakinya terangkat dan turun dari jendela keluar rumah. Dengan sandal rumah berbulu berwarna merah jambunya. Ia ingin sedikit berjalan-jalan di halaman rumahnya yang luas ini. Menghirup udara sejuk di malam hari. Suasana amat tenang dan terkadang terdengar suara siulan burung hantu yang tak membuat Sara takut, ia sudah sedikit terbiasa. Tiba-tiba saja…

 

Err… Auuuuu!!!

 

Sara mendengar lolongan serigala yang cukup terdengar jelas di telinganya. Ia menutup telinganya dengan hati yang bergetar. Matanya tertutup dan tubuhnya bergetar hebat mendengar lolongan itu. Lolongan itu berasal dari belakang rumahnya. Matanya kembali terbuka saat ada sesuatu yang berlalu cepat di depan rumahnya. Sara berjalan ke depan rumahnya dan melihat itu. Ia melihat makhluk berbulu lebat.

 

I… I-Itu… Itu serigala…

 

Batin Sara saat melihat makhluk itu berjalan cepat bagaikan angin berhembus ke arah rumah bercat putih yang Sara takuti itu. Tubuh Sara makin berguncang hebat saat ia mendengar suara bantingan pintu yang amat keras dari rumah bercat putih itu. Pintu rumah itu tertutup rapat seketika. Sara pun terduduk lemas di depan rumahnya.

Matanya terbelalak dan keringat dingin mengucur di leher dan pelipisnya. Detak jantungnya berdegup kencang. Tiba-tiba napasnya tercekat dan ia merasa sesak napas. Ia memegangi dadanya dan berusaha berdiri kembali menuju ke jendela kamarnya dan merangkak ke kasurnya. Ia menutup jendelanya rapat-rapat dan menutup tirainya. Ia membenamkan wajahnya di balik selimutnya dengan jantung yang masih berdegup kencang.

Apa yang ia lihat tadi? Apa benar itu serigala?

Berarti, penghuni rumah itu adalah seekor serigala. Atau bisa, lebih parah lagi.

 

 

THE FIRST MEETING…

 

Karena penyakit Sara, Sara tidak diperbolehkan sekolah saat ini. Sara sangat iri dengan adiknya yang diperbolehkan sekolah karena tidak memiliki penyakit sedikit pun. Ia merasa adiknya sangat beruntung 100x lipat dibanding dirinya. Inilah takdir yang tidak dapat ia hindari. Ia harus menerima semuanya dengan lapang dada, walau sulit untuk menerimanya secara ikhlas.

Ibunya membuat beberapa toples kue kering manis musim dingin untuk dibagikan ke para tetangga yang ada di samping-samping rumahnya untuk menyambut kepindahannya kemari kemarin. Ibu adalah sosok yang baik dan perhatian. Terkadang, anaknya sering mengeluh karena ‘keterlalu baikannya’ ibu. Termasuk Sara.

Ibunya menitipkan toples-toples itu kepada Sara pagi ini. Karena ibunya dan Aera harus ke kota untuk mendaftarkan sekolah baru untuk Aera. Dengan berat hati ia menerima titipan ibunya itu. Namun di benaknya juga ada rasa pasrah.

Sara melangkahkan kakinya keluar dengan sweater musim dinginnya yang berwarna coklat muda. Tas keranjang manis berisi beberapa toples kecil kue kering ia jinjing dengan tangan kanannya yang mungil. Tak lupa, ia mengunci pintu rumahnya terlebih dahulu agar tidak kemalingan.

Matanya, tiba-tiba terkunci kepada rumah bercat putih itu. Ingatannya kembali teringat kejadian tadi malam. Ia bimbang apa yang harus ia lakukan. Berkunjung ke rumah itu, atau tidak sama sekali. Tetapi, rasa penasarannya masih berkubung dalam pikirannya dengan apa yang ia lihat tadi malam.

Ia memutuskan untuk mengunjungi tetangga yang lainnya terlebih dahulu. Untungnya, para tetangga disini amat baik dan ramah terhadap Sara sehingga menyambutnya dengan hangat. Membuatnya merasa betah tinggal di kawasan ini, dan ia merutuki dirinya yang pada awalnya tidak menyutujui keputusan ibunya untuk kembali tinggal disini.

Lengkungan manis sukses melukis wajah cantik Sara hari ini. Ia membuka pagar rumahnya dan berniat mengeluarkan kunci rumahnya yang berwarna keemasan dengan membuka keranjang berisi toples kue kering. Saat ia membuka penutup keranjangnya… Ia teringat sesuatu.

 

Toples kue keringnya masih satu lagi.

 

Batin Sara dan mengedarkan padangannya ke rumah bercat putih itu lagi. Hatinya bergetar dan jantungnya berdegup kencang sekali. Apa harus ia masuk ke dalam sana…

Ia pun memutuskan untuk ke rumah bercat putih itu dengan keberanian tinggi. Rasa takut Sara, ia hilangkan jauh-jauh dari pikirannya. Toh, jika Sara kenapa-napa, tetangga disini akan menolongnya, karena orang-orang yang tadi ia kunjungi sangat baik dan ramah kepadanya.

Kini Sara sudah sampai tepat di depan rumah tua bercat putih itu. Dengan keberanian yang ia pegang dengan teguh, ia pun mengetuk pintu cokelat yang ada di depannya. Masih belum ada jawaban, Sara pun mencoba mengetuknya lebih keras lagi dengan perasaan agak kesal.

Bodoh aku mencoba kemari. Mana mungkin seekor serigala bangun di siang bolong begini!

Umpat Sara dalam hati dan berbalik dengan perasaan kesal, sia-sia, dan sedikit… kecewa.

 

Ciettt…

Baru berbalik sebentar, suara decitan pintu tua terdengar jelas di telinga Sara. Sara pun berbalik dengan tubuh yang sedikit bergetar, karena seramnya suara decitan pintu tua yang seperti di film-film horror. Dan yang ia dapati adalah…

Seorang pemuda berpostur tubuh tinggi bersurai hitam legam acak-acakan dan berkulit putih bersih. Tubuhnya seperti seorang atletis atau aktor film. Dengan sweater merah marun dan celana hitam yang memperlihatkan kaki jengjangnya, pemuda itu menatap datar Sara yang berdiri mematung menatap detil pemuda yang ada di depannnya. Tak dikira, pemuda ini mempunyai wajah yang sangat tampan. Tidak, sangat, seperti malaikat.

Sara menyadari ia menatap pemuda yang ada di depannya terlalu jeli. Pipinya pasti sudah memerah karena salah tingkah. Sara pun membungkuk kecil. Ia menunduk dan memberanikan diri untuk memperkenalkan diri.

“Perkenalkan… Aku… Aku Lee Sara. Penghuni baru rumah sebelah.” Sapa Sara terbata-bata sambil sedikit mendongak. Pemuda ini tinggi, sehingga Sara harus mendongak menatapnya. Pemuda itu menatap Sara terkejut, kemudian pemuda itu sedikit menutup pintunya takut-takut. Seakan takut sinar matahari.

 

 

 

 

 “Aku Park Chanyeol.” 

 

 

 

To Be Continue

 

 

 

A/N:

Maaf updatenya lama, soalnya bimbang mau dilanjutin apa ngga, takutnya ngga ada yg minat baca… Kalau banyak yang komen, aku jadi semangat ngelanjutinnya, hehe. Leave your coments for the next chapter~ No siders ya!

Follow me on instagram; @fychanyeol | fychanyeol.wordpress.com

Thanks for reading!

Iklan

21 pemikiran pada “Werewolf Beside You (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s