Be My Shine (Lay’s Story: When the Light was Disappear)

Be My Shine (Lay’s Story: When the Light was Disappear)

Title                       : Be My Shine

Sub – Title           : Lay’s Story: When the Light was Disappear

Author                  : AlifyaA (@Alifya_Kuchiki)

Main Cast            :

  • Zhang Yi Xing as Lay
  • You as Park Ha Na

Genre                   : Romance

Rating                   : G

Type                      : Oneshot

Your heart isn’t in your chest, but you asked someone to keep that for you.

And that someone is the one that you called the light of your life.

–          By AlifyaA

***

Anyeonghaseyo! Ketemu lagi dengan Author amatiran ini, Alifya imnida. Kalian sudah baca FF oneshot Be Mine Shine yang Umin’s dan Yeol’s? Kalau sudah, kamsahamnida! Seperti janji Author sebelumnya, Author akan membawakan 12 FF Oneshot setiap member. Dan perlu ditegaskan lagi, 3 dari 12 FF sudah Author publish dengan judul yang sama namun karakter berbeda, jadi kalau yang udah pernah baca dari blog lain, ini BUKAN hasil plagiat. Komentar – komentar dari kalian masih sangat diharapkan. Kamsahamnida! Anyeong!

***

 [Author’s POV]

Seorang yeoja berdress putih terduduk di halte bus sendirian dengan memegang sebuah payung transparan di kedua tangannya. Ia melirik ke arah jam tangan putih yang menunjukkan pukul 4 sore di tangan kanannya, seharusnya ia sudah ada di rumah sejak dua jam yang lalu. Ia takut Eommanya akan marah jika mengetahui ia keluar rumah sendirian saat ia tidak ada.

Hujan turun dengan begitu derasnya tanpa mengkhawatirkan akan ada seseorang kedinginan olehnya. Dari kejauhan seorang namja berseragam SMU berlari ke arah halte bus untuk berteduh. Setelah ia sampai, iapun duduk di sebelah yeoja itu dan menggosok – gosokan kedua tangannya karena kedinginan. Yeoja itu pun menoleh kepadanya.

“School of Performing Arts, Seoul,” ucapnya tiba – tiba.

“Ne?” tanya namja itu kebingungan.

“A-aniya.. hanya saja aku pernah bermimpi dapat bersekolah di sana,” ucap yeoja itu dengan wajah bercahaya, namja itu pun hanya membalasnya dengan senyuman ramah.

Tak lama, sebuah bus berhenti di depan mereka. Merekapun beranjak dan masuk ke bus itu. Di sana hanya tersisa dua bangku kosong yang berada di baris ketiga sebelah kanan, merekapun duduk di sana.

“Tadi kau bilang kau ingin bersekolah di sekolahku?” ucap namja itu membuka pembicaraan.

“Mmm,” gumam yeoja itu sambil mengangguk.

“Lalu kenapa kau tidak bersekolah di sana?”

“Eommaku melarangku.”

“Lalu kau sekolah dimana?”

“Aku.. aku tidak sekolah.”

“Tidak sekolah?” tanya namja itu kebingungan.

Namun sebelum pertanyaan itu terjawab, bus itu telah berhenti di tempat tujuan yeoja itu. Ia pun menunduk sopan dan beranjak bangun.

“Jamkkanman! Nan Zhang Yi Xing imnida, orang – orang memanggilku Lay,” ucap namja itu.

“Ha Na.. Park Ha Na.” ucapnya dan berlalu pergi.

[Lay’s POV]

Hari ini adalah hari paling melelahkan untukku. Setelah pulang sekolah, ada seorang sunbae aneh yang tiba – tiba mengajakku berkelahi. Namanya Chanyeol, dia bilang untuk tidak mendekati yeojanya yang entah siapa. Aku mencoba untuk bicara tapi dia malah menyerangku secara membabi buta. Akhirnya daripada aku harus berkelahi seperti orang babo, aku lebih memilih berlari secepat yang ku bisa, apalagi aku tidak tahu untuk apa perkelahian itu. Setahu ku, aku tidak pernah dekat dengan yeoja manapun.

Aku hanya melangkah perlahan sambil menendang – nendang kerikil di hadapanku. Kepalaku menunduk menatap tanah dan saat aku mengangkat kepalaku, aku melihat seorang yeoja yang menggunakan dress putih manis sedang terduduk di kursi halte bus. Park Ha Na? Aku pun langsung menghampirinya.

“Annyeonghaseyo, Ha Na-ssi!” sapaku.

“Oh, annyeonghaseyo!”

“Mwo haneungoeyo?”

“Aku hanya sedang memikirkan tempat tujuanku hari ini,” jawabnya.

“Tempat tujuan?”

“Ne, aku selalu pergi ke tempat yang berbeda setiap hari.”

“Bolehkah aku ikut denganmu?”

“Ne?” tanyanya kebingungan.

“Hehe.. aku hanya sedang merasa bosan,” jawabku sedikit malu.

“Baiklah!” ucapnya riang.

“Jinjjayo?” sekarang aku yang kebingungan, aku kira dia akan melarangku untuk ikut.

“Mm, kau boleh ikut!” ucapnya sambil beranjak menghampiri bis yang ternyata sudah menunggu di belakangku. Aku hanya mengikuti langkah Ha Na dan duduk di kursi kosong sebelahnya.

“Ada apa denganmu, Lay-ssi?” tanya Ha Na tiba – tiba.

“Ne?”

“Wajahmu sedikit berbeda dengan kemarin.”

“Berbeda?”

“Mmm.” Gumamnya dengan anggukan.

“Apakah aku mudah terbaca? Padahal kau baru bertemu denganku kemarin.”

“Aniya! Aku hanya merasa ada yang sedikit berbeda,” jawabnya dengan senyuman.

[Author’s POV]

Sudah beberapa minggu Lay bertemu di halte bus dan menemani Ha Na pergi ke tempat yang berbeda setiap harinya setelah pulang sekolah. Lay selalu menceritakan semua kejadian yang dilaluinya, Ha Na hanya tersenyum mendengar cerita – cerita yang keluar dari mulut namja itu namun tidak membalasnya dengan ceritanya sendiri. Seperti yang Lay katakan, sejak itu Ha Na selalu bisa membacanya namun Lay sendiri tidak dapat melakukan hal yang sama. Ia selalu bingung dengan siapa Ha Na. Apa yang ia sukai ataupun yang ia benci. Pengalamannya. Dan hal – hal lain yang biasanya ia ketahui dari teman – temannya.

Hari demi hari dilalui Lay dengan Ha Na, walaupun ia tidak tahu apapun tentang yeoja itu namun ia merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakannya. Seperti ia merasa selalu ada cahaya di hatinya setiap ia melihat Ha Na tersenyum hangat untuk menjawab semua pertanyaannya. Ia pun menyadari bahwa ia menyukai youja itu dan memutuskan untuk mengungkapkannya.

“Ha Na-ah, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ucap Lay.

“Ne, marhaebwayo!”

“Nan- nan chuayo! Apakah kau mau menjadi yeojachingu ku?”

Ada raut sedih pada youja itu, “Mianhae.. Lay-ssi. Aku tidak bisa..”

Ha Napun langsung beranjak dan melangkah pergi, meninggalkan namja di belakangnya yang tanpa di sadari telah meneteskan sesuatu di pipinya.

Mianhae~ Lay-ssi! Aku juga menyukaimu tapi aku tidak bisa. Rintih youja itu dalam hati.

[Lay’s POV]

Sudah beberapa hari aku tidak melihat Ha Na di halte bus. Aku sudah menerima bahwa kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku tapi kenapa kau jadi menghindariku seperti ini? Apakah kita tidak bisa berteman?

Tiba – tiba terdengar lagu yang tidak asing bagiku, lagu Don’t Go dari EXO yang ternyata berasal dari phone cell yang ada di tasku. Aku pun mengeluarkannya dan menatap nama yang ada di layarnya. Park Ha Na. Dengan cepat aku mengangkat dan menaruhnya di telinga kiriku.

“Yeoboseyo?”

“Apakah ini Lay-ssi? Aku adalah eommanya Ha Na.”

[Author’s POV]

Terbaring seorang gadis lemah di ranjangnya dengan mata tertutup. Wajahnya yang cantik itu terkena cahaya dari sela – sela jendela yang tertutup gorden tipis berwarna putih.

Dialah Park Ha Na. Rona merah di pipinya telah hilang, bibirnya mengering dan berwarna kelabu, warna kulitnya memutih pucat, dan nafasnya terengah – engah. Perlahan ia membuka matanya dan melihat ke arah namja yang menatapnya pedih. Ia mencoba menunjukkan senyuman hangat yang biasa terlihat di wajahnya. Namun namja itu tetap menatapnya dengan kesedihan.

“Kau kenapa? Wajahmu jelek kalau cemberut seperti itu!” ucap Ha Na dengan suara yang sangat pelan.

“Kau sendiri kenapa hanya tidur meringkuk? Inikan sudah siang, sudah saatnya untuk berjalan – jalan,” ucap Lay berusaha untuk tegar namun di luar kendalinya, air jernih itu pun jatuh.

[Lay’s POV]

Setiap hari setelah pulang sekolah, aku selalu pergi ke rumah sakit untuk melihat Ha Na. Karena terlalu lelah, aku sering tertidur di kelas. Hari ini pun Guru Lee tiba – tiba membangunkanku, namun bukan untuk memarahiku melainkan menyuruhku mengangkat phone cell yang terus menjerit di dalam tas ku. Aku sengaja tidak mengubahnya ke silent mode agar aku tidak kehilangan kabar mengenai Ha Na. Aku pun permisi sebentar untuk mengangkatnya.

“Yeoboseyo?”

“Lay-Lay -ssi-hiks-Ha-Na-hiks..hiks.”

                Aku pun berlari meninggalkan sekolah tanpa peduli berapa orang yang sudah ku tabrak. Aku kalut. Air mata mulai tumpah dari kelopak mataku, seluruh tubuhku mulai bergetar hebat, jalanku sudah tak setegap biasanya, dan nafasku tak teratur.

Setelah aku sampai di Rumah Sakit aku langsung menghampiri Bibi Park yang matanya telah lebam karena air mata.

“Lay-ssi.. Ha Na sedang dioperasi! Lalu dokter itu menyuruhku untuk menyerah! Dokter brengsek itu menyuruhku untuk menyerah! Bagaimana bisa aku menyerah atas anakku?!! Padahal ia masih bernafas!! Bagaimana bisa?!!” teriak Bibi Park histeris, akupun hanya memapahnya yang hampir terjatuh untuk duduk.

***

Aku sedang melihat yeoja yang paling aku cintai terkulai lemah di ranjangnya. Ia tetap tersenyum hangat menatapku walaupun dengan susah payah. Tiba – tiba ia mencoba untuk bangun dan turun dari ranjangnya. Akupun berlari menghampiri dan mendekapnya yang hampir terjatuh. Bukannya kembali ke tempat tidur, ia malah memelukku erat.

“Lay-ssi, a-aku-ingin jalan – jalan. A-aku i-ngin meli-hat ma-tahari ter-bit,” ucapnya bersusah payah.

“Ne. Ayo, kita melihat matahari terbit!” ucapku sambil menahan air mata. Aku harus tetap tersenyum dan menganggap semuanya baik – baik saja.

Aku menggendong Ha Na di punggungku dan keluar dari kamar inap. Aku melihat Bibi Park masih menangis. Namun setelah ia melihat kami, ia dengan cepat menghapus air matanya.

“Ha Na-ah, Kau mau kemana?” tanyanya dengan senyuman yang dipaksakan.

“Kita ingin melihat matahari terbit di Sungai Han,” jawabku mewakili Ha Na.

“Ne,” ucap Bibi Park, lalu berbisik padaku. “Kau harus membuatnya tersenyum.”

“Aku- su-dah ter-senyum, eom-ma,” ucap Ha Na yang ternyata dapat mendengarnya.

“Ne, kau tersenyum! Kau baik – baik saja! Kau sangat sehat!” ucap Bibi berpura – pura ceria dan lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Aku pun melangkah pergi, dari belakang aku bisa mendengar isak Bibi kembali. Aku berusaha tersenyum dan keluar dari tempat itu.

“Lay-ssi..go-ma-wo!” ucapnya di atas punggungku.

“Ne,” ucapku sambil menahan tangis yang sebentar lagi tumpah.

[Author’s POV]

Sungai Han terbentang indah di depan mereka, mereka terduduk di sebuah kursi panjang. Ha Na terkulai lemah bersandar ke pundak Lay yang sedang berusaha untuk terlihat ceria.

“Lay-ssi, apakah kau masih ingat kalau aku ingin bersekolah di sekolahmu?” tanya Ha Na yang sudah mulai berbicara dengan normal kembali.

“Ne,” jawab Lay singkat dengan getir.

“Aku selalu ingin menjadi seorang penyanyi dan masuk ke sebuah Girl group. Namun eomma tidak mengizinkanku untuk menjadi penyanyi. Ani! Dia bahkan melarangku untuk pergi ke sekolah manapun. Aku hanya dapat menulis, membaca dan berhitung. Tidakkah aku sangat babo? Aku bahkan tidak tahu sejarah negaraku sendiri. Karena itu, aku selalu merasa bosan dan pergi ke tempat yang berbeda setiap harinya, ke tempat yang belum pernah aku datangi saat eomma pergi untuk bekerja. Dia tidak pernah tahu kalau aku sering pergi keluar rumah, bahkan saat aku pulang terlambat di hari pertama kita bertemu. Tidakkah itu lucu?” ucap Ha Na untuk pertama kalinya menceritakan dirinya.

“Ne. Itu lucu!” jawab Lay dengan senyum dipaksakan.

“Lay-ssi, kalau aku pergi.. maukah kau berjanji untuk menjaga eommaku?”

“Kureom! Tapi kau tidak akan pergi kemana – mana, eomma-mu akan marah jika tidak menemukanmu di rumah saat ia pulang,” ucap Lay pura – pura tidak mengerti.

“Benar juga, nan jeongmal babo gatha!” ucapnya sambil menggetuk – getuk kepala sambil tertawa.

“Kalau begitu kau harus berjanji untuk menjadi penyanyi yang hebat,” lanjutnya.

“Ne, yaksok! Asalkan kau terus melihatku di bangku depan.”

“…”

“Lay-ssi..”

“Ne?”

“Saranghaeyo..” ucap yeoja itu sambil tersenyum lemah di pundak Lay.

“Na-nado saranghaeyo, Ha Na-ah.”

Ha Na pun hanya tersenyum dengan hangat. Senyuman yang setiap hari ia perlihatkan di halte bus. Senyuman yang setiap hari ia berikan untuk Lay. Senyuman yang menerangkan kehidupan Lay.

Dari kejauhan matahari mulai terbit dengan indah. Sinarnya menghujani wajah lemah Ha Na yang menutup matanya dan tidak dapat membukanya kembali. Sedangkan air mata Lay sudah tak tertahankan lagi, ia pun hanya membiarkannya jatuh membasahi pipinya dan jatuh mengenai tangan orang yang ia cintai yang telah membeku.

Selamanya kau akan menjadi cahayaku, Park Ha Na..

 

The End

Iklan

31 pemikiran pada “Be My Shine (Lay’s Story: When the Light was Disappear)

  1. authornim akhirnya ketemu yang lay, tpi kenapa sad end? 😦 kenapa kalo baca cerita yg castnya lay selalu sad siiiih? 😦 aah 😦 tapi ttep keren deh buat author yg udah buat ff ini 🙂 keep writing ya thorr, ditunggu be my shine yang lainnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s