Love Actually [#3]

loveactucom

[ TITLE ]

Love Actually [#3]

[ Author ]

Didoots

[ Length ]

Chaptered

[ Genre ]

Romace, family, friendship

[ Rating ]

PG-16

[ Main cast ]

Lee Jin Yeong

Kai (EXO-K)

Chen (EXO-M)

Kim Eomma (Kai’s Mom)

[ Support Cast ]

Find by yourself!

 

Sorry for the typo! Namanya juga manusia tidak ada yang tidak mempunyai salah mohon dimaafkan, dan kesamaan tokoh atau alur cerita itu adalah hal yang tidak saya ketahui yang mengetahui hanya readers dan Tuhan.

FF ini sudah pernah dipublish, jika melihat FF ini ditempat lain itu bukan plagiator. Tapi jika melihat ff ini dengan berbeda nama author berarti dia seorang plagiator.

PLAGIATOR!! HATERS AND SIDERS? GO AWAY!!!

 

 

– Happy Reading Guys! –

 

**

Jin Yeong mengayuh sepedanya dengan cepat, dia menatap langit yang berubah menjadi hitam abu-abu, gelap dan suara gemuruh petir sudah menghiasi awan abu-abu itu. Jin Yeong langsung mengayuhkan sepedanya dengan cepat. Jarak dari sekolah kekediaman keluarga Kim cukuplah jauh.

Rintikan air sudah mulai menetes. Sedikit demi sedikit air itu membasahi rambut Jin Yeong. Dari rintikan lalu berubah semakin besar menjadi hujan yang lumayan lebat. Kini tubuh Jin Yeong sudah basah semua, dia tetap melanjutkan kegiatanya yaitu mengayuh sepeda. Untunglah tasnya anti air jadi dia tidak khawatir dengan buku-bukunya.

Dia sampai di parkiran rumah keluarga Kim, dia sampai berbarengan dengan mobil jaguar putih milik Kai. Jin Yeong memarkirkan sepedanya disamping mobil Kai. saat Kai keluar mobil dia terkejut melihat Jin Yeong berada dirumahnya dengan keadaan basah kuyub seperti itu. tapi dia tidak menghiraukan keadaan Jin Yeong dia langsung masuk kedalam rumahnya. 

Jin Yeong sudah mengigil dan dia menggigit bibir bawahnya karena sangat kedinginan, dia memencet bel. Pintu terbuka disana terdapat Kim Eomma berdiri dengan mengembangkan senyumnya, tapi senyumnya luntur saat melihat Jin Yeong basah kuyub dan kedinginan seperti itu.

“Omo! Kau basah kuyub cepat ayo nak masuk..” Kim Eomma langsung merangkul pundak Jin Yeong dan membawanya masuk kedalam rumah, tak perduli dia menjadi basah juga karena bersentuhan dengan Jin Yeong.

“tunggulah disini, Eomma akan ambilkan handuk untukmu ne” Kim Eomma pergi mencari handuk. Tiba-tiba Eommanya datang menghampiri Jin Yeong dengan segelas coklat panas.

“nak kau tidak apa-apa? minum ini dulu ne” Tanya Eomma Jin Yeong khawatir.

“n-ne, g-gw-wen c cha na Eomma” Jawab Jin Yeong dengan terbata-bata. Kim Eomma telah kembali sambil mebawa handuk dan pakaian.

“ini, mandi dan pakailah ini ne?” Kim Eomma membawa Jin Yeong kekamarnya untuk mandi disana. Nyonya Lee mengikuti dari belakang sambil tersenyum. Jin Yeong sekarang sedang mandi. Diluar Nyonya Lee dan Kim Eomma duduk sambil menunggu.

“ah Nyonya maafkan anakku dia jadi merepotkanmu” ucap Nyonya Lee.

“ah gwenchana gwenchana dia sudah aku anggap anakku sendiri, saat melihatnya aku jadi merindukan Hyojin” kini muka Kim Eomma menjadi muram.

“bagaimana keadaan Hyojin Nyonya?”

“tidak ada perubahan padanya, Harin lebih baik kau siapkan makan malam, kau da Jin Yeong makan disini ne?” Ujar Kim Eomma dengan senyum.

“ah ne,ne” Nyonya Lee langsung pergi ke dapur dan menyiapkan makan malam.

Jin Yeong keluar kamar dengan menggunakan mini dress berwana green dengan balutan tali dibelakangnya, dan itu membuat Jin Yeong terlihat manis.

“omoo,omoo kau cantik sekali Jin Yeong” Puji Kim Eomma.

“ah Kim Eomma bisa saja, aku merasa tidak pantas menggunakan ini”

“ah, kau salah kau terlihat lebih cantik jika menggunakan pakaian ini, untunglah Eomma masih menyimpan pakaian Hyojin”

“sini..” Kim Eomma menyuruh Jin Yeong duduk dibangku riasnya, dan Jin Yeong menuruti.

Dia mengambil sisir lalu menyisiri rambut Jin Yeong lembut. Rasanya sudah lama sekali dia tidak melakukan ini, setelah mengenal Jin Yeong, Kim Eomma seperti mempunyai belahan jiwa lagi. dia sangat menyayangi Jin Yeong sebagai anaknya. Waktu makan malam pun datang.

“Jin Yeong tolong panggilkan Jongin untuk makan malam” Jin Yeong mengangguk mengerti.

Dia melangkahkan kakinya menuju kamar Kai, dengan ragu dia mencoba mengetuk pintu yang dihiasi papan nama “Kim Jong In” itu.

“Kai Eomma menyuruh mu kebawah untuk makan malam” teriak Jin Yeong dari balik pintu kamar Kai. tapi tidak ada jawaban. Dan Jin Yeong mengetuk kembali pintu kamar Kai, setelah yakin sang pemilik kamar tidak menjawab dia membuka pintu kamar Kai. kosong tidak ada orang. ‘kemana namja itu? dia pergi?’ batin Jin Yeong.

Dia mencoba mencari Kai di setiap sudut ruangan latai atas. Dia berjalan menyusuri lorong awalnya dia tidak yakin untuk kesana tapi dia tetap mencoba siapa tau Kai ada disana pikirnya. Dilorong itu terdapat 1 pintu dengan tulisan dilarang masuk.

“mungkin Kai disini, untuk apa dia menuliskan dilarang masuk aneh” Pikir Jin Yeong

Jin Yeong mulai menyentuh gagang pintu itu, dia mulai mendorong pintu itu. tapi tiba-tiba ada tangan seseorang menggengam tanganya yang memegang gagang pintu. Sang pemilik tangan itu Kai. ya dia adalah Kai yang dari tadi Jin Yeong cari.

“apa yang kau lakukan? Kau tidak lihat bacaannya dilarang masuk culun!” Kai berbicara dengan nada tinggi.

“mian, tadi aku mencarimu tau. Eomma menyuruh mu untuk makan malam” Jelas Jin Yeong.

“ne tunggu, aku ingin mematikan tape dulu” Kai berjalan dan Jin Yeong mengekor dibelakangnya dia penasaran apa yang dilakukan Kai.

Pintu itu terdapat tulisan “Jongin’s Castle” dia membuka pintu dan Jin Yeong mengikuti. Dia begitu terkejut melihat isi ruangan itu. ruangan itu adalah tempat Kai berlatih menari.

“ini tempat latihan dance mu?” Tanya Jin Yeong menyelidik sambil berputar-putar mengelilingi ruangan yang penuh dengan stereo dan tape, didepannya terdapat deretan cermin. Ruangan ini seperti ruangan untuk dancer yang profesional.

“ne, Eommaku yang mebuatkannya untukku”Jelas Kai sambil membereskan ruangan itu.

“waw! Ini keren” puji Jin Yeong tanpa sadar. Kai hanya memberikan senyum ejekan pada Jin Yeong.

“kajja” teriaknya dari ambang pintu. Jin Yeong menurut lalu kembali mengekor dibelakang Kai. dimeja makan telah siap Kim Eomma dan Harin Eomma. Jin Yeong senang sekali memiliki 2 Eomma yang menyayanginya.

Kai duduk disebelah Kim Eomma dan Jin Yeong berhadapan dengan Kai dan disampingnya Harin Eomma. Mereka mulai mengambil makanan lalu menyantapnya.

“omo Jongin kenapa keningmu?” Tanya Kim Eomma sambil mengelus kening anaknya ini.

“u-uhukk..” Jin Yeong tersedak ketika mendengar pertanyaan Kim Eomma kepada Kai. Eomma Jin Yeong langsung dengan sigap memberikan minum untuk anaknya ini.

“kau baik-baik saja?” Jin Yeong hanya mengangguk-agukan kepalanya meyakinkan.

“Kai, jawab dulu kenapa dengan keningmu?”

Kai diam sejenak, matanya mentapan Jin Yeong yang was-was. Jin Yeong takut Kai menceritakan semuanya. Tatapan Kai memang sangatlah tajam buktinya Jin Yeong langsung menundukan kepalanya karena takut.

“tadi terjatuh saat latihan menari Eomma” jawab Kai berbohong, mendegar Jawaban Kai Jin Yeong mengangkat kepalanya lalu menatap Kai lalu tersenyum memberikan ucapan terimakasihnya karna telah menyelamatkanya, dan Kai mengangukan kepalanya.

“andai Jin Yeong itu menantuku” Jin Yeong dan Kai yang mendegar langsung tersedak bersamaan. Kim Eomma langsung tersenyum melihatnya.

“kalian memang sehati” Kai dan Jin Yeong langsung saling menatap. Lalu membuang muka bersamaan. Akhirnya keheningan terjadi.

“Jongin nanti kau antarkan Jin Yeong dan Lee ahnjumma ne?” ucap Kim Eomma memecahkan keheningan.

“ne Eomma” jawab Kai malas. Mau tidak mau dia harus mengantarkan Jin Yeong dan Lee ahjumma kalau menolak bisa di cincang dia oleh Eommanya.

“tapi Kim Eomma, aku membawa sepeda..” Ujar Jin Yeong binggung.

“tenang saja, nanti Eomma akan suruh orang untuk mengantarkan sepedamu ne? Lagian tidak mungkin kau mengayuh sedamu dengan dress” kata Kim Eomma sambil diiringi tawanya.

Makan malam selesai, Kai langsung mengambil jaketnya dan kunci mobilnya. Jin Yeong segera menghampiri Kim Eomma untuk berterima kasih.

“Kim Eomma terimakasih untuk segalanya” Ucap Jin Yeong sambil tersenyum.

“ne, jangan sungkan-sungkan untuk main kesini ya” Kim Eomma memeluk Jin Yeong erat.

Kai sudah memasuki mobilnya sekilat 5 menit yang lalu, Kai menunggu Jin Yeong sambil mendegarkan radio dari mobilnya. Jin Yeong masuk dan duduk didepan sedangkan Eommanya dibelakang.

Diperjalanan terjadi keheningan, tidak ada dari penumpang dimobil itu yang membuka suara, Jin Yeong sibuk dengan pikirannya sedangkan Kai dia memang sibuk dengan pikirannya tapi dia harus fokus pada jalan.

“Kai sajangnim, aku harus menjemput anak kecil saya” Ucap Eomma Jin Yeong ragu.

“oh begitu? Memangnya dimana rumahnya Lee ahjumma?” Tanya Kai ramah.

“setelah belokan didepan Tuan tinggal belok kekiri” jelas Nyonya Lee. Jin Yeong hanya diam memperhatikan pembicaraan mereka.

Kai menuruti apa yang disuru Nyonya Lee, dia membelokan stir mobilnya ke arah kiri. Lalu Nyonya Lee menyuruh mobil Kai untuk berhenti di tepi jalan didepan sebuah rumah yang tidak begitu besar.

“tunggu sebentar ne?” Nyonya Lee keluar mobil.

Terjadi keheningan dimobil Kai dan Jin Yeong sama sekali tidak ada yang mau berbicara sekata patah pun. Akhirnya Jin Yeong pun membuka suaranya.

“gomawo Kai-sshi” Ucap Jin Yeong.

“terimakasih untuk apa?” Kai binggung dengan Jin Yeong.

“tadi kau tidak menceritakan pada Kim Eomma tentang keningmu” Jin Yeong menundukan kepalanya.

“ne,ne gwenchanayo”

“apa keningmu masih sakit?” tanya Jin Yeong lagi.

“sedikit, oh iya kau sekelas dengan Chen?” tanya Kai. hal itu membuat Jin Yeong binggung.

“ne, dia teman dekatku dikelas” jelas Jin Yeong.

“apakah dia baik? Bagaimana sifatnya?” Jin Yeong semakin heran dengan pertanyaan-pertanyaan Kai, dia bertanya layaknya seorang yang suka pada seseorang.

“kau suka dengannya? Jangan-jangan kau..”

“hyak apa yang kau pikirkan culun!” Kai menjitak kepala Jin Yeong dengan cukup keras.

“ya kan aku hanya mengira-ngira, dia baik, perhatian dia adalah satu-satunya teman yang aku punya dikelas, dan yang jelas dia lebih baik dari kau Kai” Jelas Jin Yeong sambil menatap Kai.

“benarkah? Haha” Kai tertawa meremehkan. Dari kejauhan terlihat Nyonya Lee mengandeng seorang anak laki-laki. Lalu mereka masuk kedalam mobil.

“Lee Minchan kenalkan ini Jongin Hyung” kata Nyonya Lee.

“hai Minchan” sapaan manis keluar dari mulut Kai.

“ya lebih baik hyung langsung menyetir saja ini sudah malam” Kai sedang tersenyum langsung memasang muka datarnya. Pertama kalinya ada seorang anak kecil yang berbicara seperti itu padanya.

“Minchan jangan berbicara seperti itu, tidak sopan, mianhae Tuan Jongin” Nyonya Lee merasa tidak enak dengan Kai karna perkataan Min Hyuk.

Kai melajukan mobilnya dengan cepat, Kai memang sudah tau dimana Nyonya Lee tinggal karna sebelumnya dia pernah mengantarkan Eommanya kesana. Akhirnya mereka sampai.

“gomawo Tuan Jongin, hati-hati dijalan” Nyonya Lee keluar dari mobil.

“mianhae Kai, adikku memang seperti itu” jelas Jin Yeong.

“seperti itu bagaimana?”

“dia susah sekali berteman dengan orang, dia itu sangatlah jutek jarang sekali dia bisa akrab dengan teman namja ku” penjelasn Jin Yeong membuat Kai menggelengkan kepalanya.

“adikmu sangatlah aneh sama seperti noonanya” Jin Yeong menatap Kai, lalu Kai hanya menyeringai.

“terserahlah, yasudah gomawo Kai” Jin Yeong tersenyum lalu turun dari mobil. Kai langsung melajukan mobilnya dengan kencang.

**

Pagi-pagi Jin Yeong sudah membuat heboh kamarnya dia mengubek isi kamarnya, dia binggung kemana kacamatanya. Lalu dia teringat kemarin kacamatanya tertinggal dimeja rias Kim Eomma. dia kemeja makan lalu memasang muka yang kesal. Disana sedang duduk seorang namja yang dia kenal ya itu Kai. apa yang dia lakukan disini.

“selamat pagi Eomma, Appa, Minchan dan ..Ka.i” sapa Jin Yeong manis dan dia merasa aneh dengan menyapa Kai seperti itu.

“apa yang kau lakukan disini Kai?” Tanya Jin Yeong.

“akan aku jelaskan dimobil nanti” Jawab Kai datar.

Hari ini Nyonya Lee memasak nasi goreng beserta Ayam goreng. Kai langsung melahapnya, sama hal nya dengan Jin Yeong dia pun melahap makanannya. Setelah selesai Kai menatap Jin Yeong memberi kode agar berangkat sekarang lalu Jin Yeong yang mengerti menganggukan kepalanya.

“Eomma Appa aku berangkat dulu” Jin Yeong berdiri lalu mengecup pipi kedua orang tuannya dan adiknya itu.

“gomawo Lee ahjumma dan Ajushi” Kai membungkukan badannya sopan, lalu dia tersenyum.

Mereka meninggalkan kediaman rumah Keluarga Lee, Jin Yeong kembali teringat dengan sepedanya. Dia mencari sepedanya tapi hasilnya nihil. Seakan mengerti dengan keadaan Jin Yeong Kai langsung menjelaskan kemana sepedanya dan apa tujuannya datang pagi ini.

“sepedamu ada disekolah, suruhan Eommaku membawanya kesekolah, tadinya dia menyuruh nya untuk mengantarkan pagi ini tapi karna dia melihat kacamatamu yang tertinggal jadi dia menyuruhku kesini untuk mengatarkan kacamata dan berangkat bersama kesekolah” Penjelasan panjang lebar Kai, hanya di tanggapi anggukan mengerti Jin Yeong.

“kajja kita berangkat, dan ini kacamatamu” Jin Yeong langsung mengambil kacamatanya dari tangan Kai.

Kai membukanan pintu mobilnya untuk Jin Yeong. Dia membalas terima kasihnya dengan senyuman. Saat ingin memasang sabuk pengaman tangan Jin Yeong terasa sakit. Kai yang binggung menatapnya heran.

“kau kenapa?” tanyanya datar.

“tanganku keram” rintih Jin Yeong sambil mengeluarkan sedikit air mata.

“mwo? coba sini” Kai menarik tangan Jin Yeong dia mencoba membantu Jin Yeong dengan sepengetahuan yang Kai tau.

“sudah merasa baikan?” Tanya Kai.

“nde, ne sedikit” mata Jin Yeong masih meram melek untuk menahan sakit yang menjalar di tangannya.

“Kai bisakah kau memasangkan aku sabuk penganman, tanganku masih sakit” Kai mengangguk menyanggupi.

Kai mendekatkan tubuhnya pada Jin Yeong. Kalian tau jarak mereka benar-benar dekat Jin Yeong pun mencium wangi parfum Kai yang sangat mewah itu. dia menikmati wangi parfum itu. andaikan Jin Yeong seorang pengemar Kai mungkin dia akan sangat bahagia tapi Jin Yeong bukalah mereka jadi dia memasang muka datarnya.

“hyak berhentilah benafas di leherku itu membuatku geli” ujar Kai tiba-tiba. Jin Yeong malah sengaja bernafas dengan kencang di leher Kai lalu tertawa. tiba-tiba Kai memalingkan mukanya menghadap Jin Yeong lalu menatapnya tajam layaknya serigala ingin menerkam mangsanya, jarak mereka semakin dekat hidung Kai pun sudah menyentuh hidung Jin Yeong. Kai langsung memberikan senyum smirknya melihat muka Jin Yeong yang memerah. Lalu dia kembali ke tempat duduknya.

“jangan bermain-main denganku, baru begitu saja kau sudah merah haha” Kai tertawa lepas setelah berhasil mengerjai Jin Yeong.

“hyak Babo, cepat berangkat” Jin Yeong mengalihkan pembicaraan karna malu.

“Kai-sshi kau tidak apa-apa berangkat bersamaku?”

“menurutmu? Sebenarnya aku takut banyak gosip yang menerpa kita tapi, ya sudah aku bisa jelaskan nanti.” Jelas Kai sambil memasang wajah tidak bersalahnya itu, mengingat kejadian yang baru terjadi yang membuat wajah Jin Yeong memerah membuat Kai masih menatapnya dengan jail. Sebenarnya ini yang ditakutkan Jin Yeong. Jika dia berangkat dengan Kai bisa-bisa sasaeng fans Kai melukainya. Kai cukup banyak fans wanitanya dan jika tiba-tiba mereka membuat ‘Gerakan Anti Jin Yeong’ bagaimana? Entahlah liat saja nanti Jin Yeong mencoba menerima nasibnya.

Jin Yeong lebih memilih memandangi keluar jendela, mengindari tatapan Kai yang menyebalkan itu. Dapat dilihat oleh Jin Yeong Kai sesekali tersenyum kemenangan kearahnya. Mereka sampai disekolah dan Jin Yeong buru-buru keluar dari mobil Kai. saat berjalan Kai mengekor dibelakangnya dengan jarak yang cukup dekat. masih diparkiran Jin Yeong bertemu dengan Chen. Dia langsung menatap Kai dengan tatapan tidak suka, tatapan marah, kesal juga. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Kai dan Chen.

Chen POV

Mobil ferarri ku sudah diparkirkan dengan lurusnya di parkiran, aku segera mengambil tas ku lalu menggendongnya. aku berjalan dengan santainya di parkiran tentu banyak yeoja yang memperhatikanku hal itu sangatlah membuatku risih.

Aku tetap berjalan dengan santai sampai tiba-tiba mataku menangkap Jin Yeong. Aku sempat tersenyum sampai akhirnya senyumku itu hilang saat melihat Kai. kebencianku langsung memuncak seketika. Ingin rasanya aku memukulnya sekarang. Tapi dengan cepat aku urungkan niatku itu.

Untunglah Jin Yeong selalu bisa mendinginkan pikiran maupun hatiku. Dengan melihat senyum manisnya saja bisa membuat aku tenang. Beruntunglah dia adalah temanku.

“annyeong Chen Oppa” sapaan manis keluar dari bibir mungilnya.

“annyeong Jin Yeong” sapaku. Kai yang sedari tadi dibelakang, berjalan mendahului aku dan Jin Yeong. Sebelum dia benar-benar menghilang dari pandanganku dia sempat menatapku lalu memberikan senyuman yang aku sangat benci.

Kami memasuki kelas bersamaan, hal itu membuat Jin Yeong sedikit menundukan kepalanya. Kenapa semua orang mengangapnya jelek, culun, kampungan? Don’t Judge People by Their Cover. Aku tau Jin Yeong seperti apa,meskipun aku baru dekat dengannya.

Menurutku Jin Yeong adalah gadis yang hebat, dia sering menceritakan keluarganya penuh dengan kehangatan, setiap mendegar ceritanya aku menjadi rindu keluargaku. Apalagi jika dia bercerita tentang adiknya, aku seperti merindukan sosok kasih sayang seorang kakak.

Jin Yeong adalah wanita yang sempurna, dia pintar, baik, dan hal terpenting dia sangatlah sabar. Sangat sulit menahan emosi saat semua orang mencaci maki kita. Setelah mengenalnya aku mulai belajar mengerti arti sabar dan kasih sayang yang tulus.

“oh iya kenapa kau bisa berangkat bersama Kai?” Tanyaku tiba-tiba.

“sepedaku pagi ini disekolah jadi dia diminta oleh Eommanya menjemputku” aku sedikit binggung dengan penjelasan Jin Yeong, aku pura-pura saja mengerti masa bodo aku tidak perduli dengan semua hal yang berbau dengan Kai.

Author POV

Pelajaran kali ini benar-benar membosankan, Jin Yeong mengakui itu, tidak biasanya dia akan merasa bosan dengan suatu pelajaran, buatnya jika sehari tidak memperhatikan guru itu sama menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Tapi prinsipnya kali ini kalah dengan rasa bosannya.

Jin Yeong mulai mengetuk-ngetukan pensilnya lalu mengambil buku, dia pun mulai mencorat-coret dengan tulisan atau gambar-gambar yang tidak jelas apa yang digambarnya. Chen memperhatikan Jin Yeong sambil tersenyum.

“kau bosan? Tidak biasanya” Tanya Chen ramah.

“ah ne, aku bosan sekali rasanya ingin pergi kesuatu tempat”

“hm bagaimana nanti sepulang sekolah kita pergi ke taman?” Tanya Chen, Jin Yeong mulai mengetuk-ngetukan pensilnya sambil berpikir. Tapi dengan cepat dia menganguk.

“tapi bagaimana dengan sepedaku?” Jin Yeong pun mulai muram lagi.

“tinggal saja disekolah, besok aku akan menjemputmu, oettoke?” Jin Yeong kembali berpikir, untuk hal ini sangat susah mengiyakan, dia tidak mau merepotkan orang lagi.

“ani, aku rasa kita bertemu saja nanti ditaman” Chen sedikit lama mengiyakan, tapi akhirnya dia mengaguk juga.

**

Pulang sekolah ini Chen dan Jin Yeong menjalan kan aktivitas yang telah dia rencanakan yaitu ke taman, Chen mengantarkan Jin Yeong ke parkiran sepeda setelah itu dia menyuruh Jin Yeong pergi terlebih dahulu. Setelah itu baru Chen yang pergi.

Jin Yeong tengah duduk di kursi taman sudah 2 menit dia sampai tapi Chen belum menampakan batang hidungnya, dia menunggu sambil membuka buku pelajaran yang dia pelajari hari ini. Chen menutup kedua mata Jin Yeong dengan tangannya lalu menahan tawanya. Jin Yeong sudah tau siapa yang menutup matanya itu jadi dia hanya tersenyum-senyum.

“Chen…Oppa”

“hyak kau sudah tau rupanya” Chen melepaskan tangannya lalu duduk disampi Jin Yeong.

“menurutmu? Siapa lagi yang akan melakukan itu padaku?”Jin Yeong menaikan satu alisnya.

“hm siapa tau namjachingumu” jawab Chen asal.

“namjachingu? Aku saja tidak kepikiran memilikinya” Jin Yeong tertawa kecil setelah berbicara seperti itu.

“ya aku tau, orang pintar sepertimu tidak akan memikirkan hal-hal yang hanya akan membuang waktumu saja ne?” Jin Yeong mengangukan kepalanya semangat mendengar perkataan Chen. Benar perkataan Chen hal itu hanya akan menyita waktunya dan menghampat kesuksesanya.

“kau haus? Aku mau beli bubble tea, kau mau rasa apa?”

“aku mau rasa taro milk” Chen mengerti lalu meninggalkan Jin Yeong. Dan Jin Yeong pun kembali membaca bukunya.

Chen sudah kembali dari perginya selama 15 menit membeli Bubble Tea. Chen langsung duduk di bangku sebelah Jin Yeong.

“Oppa aku merasa ada yang aneh dengan kau dan Kai” Perkataan itu sukses membuat Chen menolehkan kepalanya.

“mwo? aneh apanya?” Tanya Chen pura-pura binggung.

“ya kalian saling menatap dengan penuh api”

“itu hanya perasaanmu saja Jin Yeong” Chen mengelus kepala Jin Yeong sambil tersenyum.

“Chen bagaimana tugas kita, kapan kita mulai mengerjakanya?” Chen berpikir, lalu dia tersenyum.

“besok, sepulang sekolah dirumahku oettoke?” Tanya Chen.

“hm, baiklah aku akan minta izin pada orang tuaku dulu, seperti hari sudah mulai gelap, lebih baik kita pulang Chen”

“ne,ne” Chen langsung menarik tangan Jin Yeong, dan hal itu membuat mata Jin Yeong menatap Chen dari belakang. ‘Dia sungguh baik tapi penuh misteri’ Batin Jin Yeong.

**

Sepulang sekolah Chen langsung memberikan alamatnya kepada Jin Yeong, niatnya Chen akan mengajak Jin Yeong naik mobil bersamanya tapi Jin Yeong adalah yeoja yang cukup keras kepala. Dia tetap bersikukuh untuk naik sepedanya.

Chen telah sampai rumahnya dari 10 menit yang lalu, dai khawatir kenapa Jin Yeong belum juga sampai kerumahnya apakah dia salah alamat? Atau dia diculik. Ah dasar yeoja itu sangatlah membuat gemas.

Suara bel membuat selengkungan senyuman di bibir Chen dia sudah tau pasti itu adalah Jin Yoeng yang sedari tadi dia tunggu. Chen membuka pintu dan melihat Jin Yeong yang mukanya penuh dengan buliran keringat. Chen segera menyuruh nya masuk.

“hyak kenapa kau lama sekali?” Tanya Chen.

“aku hampir saja salah alamat” Jin Yeong masih mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal itu.

Chen segera mengambil beberapa lembar tissue,lalu dia menarik dagu Jin Yeong untuk menatap mukanya, dengan gerakan yang cepat tapi lembut Chen mengelap setiap buliran keringat yang berada dimuka Jin Yeong. Mata Jin Yeong membelalak hebat.

“seperti ini lebih baik” Chen mencubit hidung Jin Yeong dengan lembut.

Jin Yeong sekarang mematung, entah kenapa dia mematung. Apakah ini yang namanya cinta? Tapi Jin Yeong tidak percaya, mungkin hanya sekedar nyaman atau dia menganggap Chen sebagai Oppanya.

“ayo masuk Jin Yeong, sampai kapan kau akan berdiri didepan pintu terus oeh?” Jin Yeong tersadar, ternyata dia sedari tadi melamun karena perlakuan Chen. Jin Yeong buru-buru berjalan untuk menyamakan jaraknya bersama Chen.

“kajja kita mulai” Chen membuka laptopnya lalu mulai mencari materi yang diperlukan, Jin Yeong hanya memperhatikannya sesekali dia melihat Chen yang sedang serius memandangi laptopnya.

Jin Yeong sudah mulai bosan, jelas dia bosan Chen hanya mengerjakan tugasnya sendiri dia tidak menanyakan pendapat Jin Yeong sama sekali. Jin Yeong berdiri melihat beberapa pajangan foto. Matanya tertuju oleh foto keluarga yang semua mukanya di tutupi oleh gambar-gambar kucing, seperti aplikasi catwag.

“Chen Oppa kenapa foto ini ditempel gambar kucing seperti itu, disana hanya ada fotomu yang terlihat” Chen pura-pura tidak mendengar, dia terlalu malas menjelaskannya pada Jin Yeong.

“Yak Oppa!!!” Teriak Jin Yeong. Alhasih Chen pun menoleh kearah Jin Yeong.

“keponakanku yang melakukan itu” Jawab Chen.

“oh jahil sekali keponakanmu” Chen kembali fokus kepada tugasnya, tapi pikirannya kembali teringat sesuatu, baru kali ini dia merasa kehilangan, rindu yang sangat amat dalam dengan kehangatan keluarga. Air mata Chen pun menetes, dengan segera dia menghapusnya agar Jin Yeong tidak melihat.

“selesai” Chen langsung merengangkan tubuhnya. Jin Yeong kembali tersenyum.

“Oppa aku ingin pulang hari sudah sore ne? Neo gwenchanayo?”

“ne gwenchana, salam pada kedua orang tua mu ne” Chen mengelus kepala Jin Yeong dengan gemas. Jin Yeong langsung memajukan bibirnya kesal.

-To Be Continue-

 

 

CHAAAAA~

Akhirnya bertemu lagi dengan Nyonya Park alias istrinya Park Chanyeol yang super duper ganteng itu. maaf kan aku ya karena lamangepost ini ff bukan karena aku jahat atau malas Cuma aku harus fokus UN kemarin. Dan sekarang UN udah selesai jadi aku akan mencoba ngepost dengan cepat demi kalian (gombal-_-).

Kalian enggak bosen kan nunggunya? Aku harap sih enggak(maksa-_-). Dan thanks bgt yang udah baca ff ini, maaf yah aku enggak bisa bales satu-satu, tapi tenang aku baca kok semuanya. Tapi sebisa mungkin aku bales comment kalian yang unyu-uyun kaya authornya(gaje-_-).

Buat para sidersku tersayang, makasih juga ya udah baca. Aku memaklumi kalian jika enggak bisa comment, pasti ada sesuatu hal aku yakin kok kalian enggak berniat untuk menjadi pembaca gelap. Dan untuk para readers yang comment juga makasih yah kalian luar biasa!.

Udah ah capek! Makasih yah baby udah baca FF aku, kecup basah dari All Members:*.sampai bertemu dipart selanjutnya<3.

Iklan

14 pemikiran pada “Love Actually [#3]

  1. Makin seruu ceritanya 😀 Chenyeon juga makin romantiss wakss … menurut kelakuan sih , si Jin Yeong mirip banget sama aku #pedebangetlu yahh sebelas duabelas lah 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s