The Princess & The Knights (Chapter 1)

are-u-our-princess

Title                 : The Princess & The Knights

Author                         : Kim Na Na

Length                         : Series

Main Cast        : All EXO Member

                          Song Min Young (OC)

Other Cast        : Find it 🙂

Genre               : Historical Romance, Fantasy, School Life

Rating              : PG-15

FF ini pernah dipublish di exofanfictionindonesia.wordpress.com

Min Young POV

            “Eomma, appa aku pergi dulu.” kataku sambil tersenyum ke arah 2 foto yang terjejer rapi di ruang keluarga. 3 bulan yang lalu orang tuaku meninggal dalam kecelakaan. Padahal kami baru saja akan merayakan kelulusan SMPku, tapi mereka malah meninggal dalam perjalanan pulang. Hari yang seharusnya diisi tawa kami berubah dan hanya diisi tangisanku. Aku tersenyum pedih lalu berjalan meninggalkan kedua foto itu. 

Author POV

            Min Young melangkahkan kakinya ke arah Han Yang High School. Dia berhasil masuk di salah satu SMA paling terkenal di Korea Selatan. Tidak sedikit pengorbanan yang dia lakukan agar bisa masuk ke Han Yang, sayang orang tuanya tidak bisa melihat dirinya hari ini.

            Dia berhenti sebentar untuk mengaggumi gedung Han Yang. Min Young tidak menyangka dirinya bisa masuk ke sana, padahal selama SMP dia bukan murid yang terpintar. Meskipun tidak bodoh dia juga bukan 10 besar di sekolahnya. Karena itu saat dia melihat namanya diantara siswa yang diterima, dia benar-benar terkejut.

            Dia menggelengkan kepala untuk menyadarkan dirinya dari lamunan. “Mulai hari ini aku akan berjuang agar orang tuaku tidak khawatir di sana.” batinnya sambil tersenyum bersemangat ke arah Han Yang lalu kembali melanjutkan langkah kakinya tanpa mengtahui ada sekelompok orang yang memperhatikannya.

*****

            “Heii benar yeoja itu renkarnasi Se Young gong ju?” tanya seorang namja bertubuh tingi dan terlihat paling muda. “Ne, saat aku melihat fotnya pada form pendaftaran aku bisa langsung merasakan bahwa dia reinkarnasi gongju mama.” kata seorang namja yang bertubuh tidak kalah tinggi dan berwajah keras.

            “Kris bisa saja kamu salah. Mungkin saja hyung saat itu sedang mengantuk karena tugas yang menumpuk sehingga salah melihat.” kata namja yang lain yang mengenakan seragam bertagkan ‘Park Chan Yeol’

            “Hya Kris hyung tidak pernah salah. Mungkin kamu yang pabbo sehingga tidak bisa merasakannya.” kata namja bermata panda berusaha membela Kris

            “Sudahlah, jika kalian tidak percaya bagaimana kalau yeoja itu kita tes. Se Young gongju mama paling tidak bisa melihat seseorang yang diperlakukan tidak adil. Kita lihat reaksinya nanti saat kita mengerjai temannya.” kata seorang namja lain.

            “Geurae, aku tidak sabar bertemu lagi dengan gongju mama.” kata namja yang terlihat paling  cute saat ke 12 namja itu berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan bertuliskan ‘Student Council’.

*****

“Ah akhirnya makan siang juga.” kata Min Young sambil menggosok tangannya tidak sabar untuk segera mendapat jatah makan. “Kamu benar-benar lapar ya?” kata Eun Hae sambil tersenyum kepada teman yang baru dikenalnya beberap jam yang lalu. “Hehehe tadi aku tidak sempat sarapan.”  kata Min Young sambil tersenyum .

Setelah menerima bagian mereka masing-masing, kedua yeoja itu segera mencari tempat duduk yang nyaman untuk menikmati makanan mereka. “Hei coba lihat, itu Sung Jae sunbae dan kelompoknya.” kata Eun Hae sambil mengarahkan dagunya ke arah sekelompok namja yang baru saja memasuki cafeteria.

“Jangan sampai kita berurusan dengan mereka. Bisa-bisa kita didepak keluar dari sekolah ini.” kata Eun Hae  sambil menarik ujung seragam Min Young dan berjalan menunduk melewati Sung Jae dan gerombolannya. Min Young tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti itu dia tetap berjalan tanpa menunduk. “Untuk apa seperti itu?” batinnya

“Lu Han.” kata Kris. “Arasseo.” kata Lu Han sambil menjentikkan jarinya. Tiba-tiba Sung Jae merasa seseorang mendorongnya, membuat dia menabrak Eun Hae  yang saat itu berjalan di sampingnya. Kimchi-chigae yang dibawa Eun Hae pun tumpah di seragam Sung Jae.

“Hya sekya, kalau jalan lihat depan.” bentak Sung Jae sambil memukul kepala Min Young. “Jeongseohamnida, jeongseohamnida” kata Eun Hae ketakutan sambil berusaha membersihkan bekas sup di seragam Sung Jae. “Aish yeoja ini.” kata Sung Jae geram lalu mendorong Eun Hae hingga jatuh.

“Beritahu temanmu agar jangan berani denganku.” bentak Sung Jae ke arah Min Young lalu berjalan melewati Eun Hae  sambil memukul kepala Eun Hae.

“Kris sepertinya dia bukan reinkarnasi Se Young gongju mama.” kata Chan Yeol. “Bahkan ekspresinya datar saja, padahal temannya diperlakukan seperti itu.” kata Baek Hyun dengan wajah ngeri. “Sudahlah kita kembali saja, percuma di sini hanya untuk melihat yeoja yang tidak berperasaan.” kata Chen sambil berjalan kembali ke ruang OSIS diikuti teman-temannya.

Tapi mereka segera berhenti karena mendengar suara teriakan. “Hyaa kamu yang sekya!” teriak Min Young lalu menyiramkan airnya ke kepala Sung Jae. “Jelas-jelas kamu yang menabraknya malah membentak orang. Aku tidak takut denganmu.” bentak Min Young lalu menendang tepat di tengah, menghantam ‘barang berharga’ Sung Jae.

“Hahaha ternyata firasatku benar. Bahkan cara menghadapinya pun masih sama.” kata Kris sambil tertawa dan teman-temannya hanya melongo.

“Neo…” rintih Sung Jae. “Sunbae harus minta maaf ke Min Young.” kata Min Young dengan tatapan tajam yang menkutkan membuat Sung Jae dan kelompoknya merasa takut dengan yeoja kecil di depan mereka.

“Yap biar kami urus sisanya, agashii.” kata Lu Han sambil memeluk Min Young dari belakang. “Nuguya?” tanya Min Young tapi Lu Han hanya menepelkan jari telunjuk di bibirnya memberi isyarat agar Min Young tidak bertanya. “Park Sung Jae segera minta maaf kepada yeoja itu.” kata Kris tegas sedangkan Su Ho sedang membantu Eun Hae berdiri.

Dalam waktu singkat Min Young sudah dikelilingi oleh 12 namja itu. Para yeoja mulai berteriak histeris, dan penonton yang sebelumnya sudah banyak sekarang bertambah lebih banyak, mayoritas para siswi. “Siapa mereka?” bisik Min Young kepada Eun Hae. “Mereka OSIS sekolah ini. Mereka sangat terkenal, bukannya kamu melihat mereka di upacara penyambutan tadi?” kata Eun Hae bingung. “Aku tadi tertidur.” kata Min Young polos. Lu Han dan Se Hun yang paling dekat dengan mereka langsung menahan tawa.

“Sudahlah Sung Jae  segera minta maaf. Kita tidak mau bermasalah dengan OSIS.” kata salah satu teman Sung Jae. Sung Jae berpikir kemudian berjalan mendekati Min Young. “Mianhae.” kata Sung Jae lirih lalu segera membalikkan badan untuk meninggalkan cafeteria diikuti dengan kelompoknya.

Bel tanda istirahat berakhir sudah berbunyi. “Sial aku belum makan.” kata Min Young yang membuat Lu Han dan Se Hun kembali menahan tawa. “Ya sekarang silakan kembali ke kelas masing-masing.” kata Kris tegas.

“Song Min Young, kamu ikut kami ke ruang OSIS.” kata Kris lalu berjalan keluar cafeteria. “Aku tidak akan dihukum kan?” tanya Min Young. “Kita lihat saja.” kata Se Hun dengan senyum mencurigakan membuat Min Young semakin takut. Padahal aku mau melewati masa SMA dengan damai kenapa sekarang malah begini, batin Min Young kesal.

Setelah semua memasuki ruang OSIS, Min Young memberanikan diri bertanya. “Eung, mianhae tadi aku hanya berusaha membela temanku. Tidak ada maksud lain. Aku tidak dihukum kan?” Mereka langsung menatap Min Young kemudian tiba-tiba berlutut di depan Min Young. “Jeongmal jeongseohamnida Se Young gongju mama.” ucap mereka serempak. “Ige mwoya?” tanya Min Young bingung.

“Eung sunbae, wae guraeyo? Namaku Min Young, Song Min Young, bukan Se Young.” kata Min Young bingung. “Gongju mama, anda pasti marah sekali hingga melupakan kami.” kata Tao sambil menitikan air mata. “Ani, aku sama sekali tidak marah dengan kalian. Bahkan aku baru pertama kali bertemu kalian hari ini.” kata Min Young, semakin khawatir melihat ekspresi para sunbae.

“Kris kenapa bisa begini?” tanya Su Ho. “Entahlah, tapi sepertinya dia tidak bisa mengingat kehidupan yang lalu. Tidak seperti kita.” kata Kris membuat Min Young semakin bingung.  “Kyung Soo, bisa kamu jelaskan kepada Gongju mama?” kata Kris dan seorang namja berjalan mendekati Min Young.

“Gongju mama, jeongseohamnida membuat anada terkejut. Saya, Do Kyung Soo akan menjelaskan kepada anda. Ini terjadi saat zaman 3 kerajaan di Korea. Anda adalah putri seorang kaisar dari kerajaan Silla. Semua menyayangi anda, mulai pedagang di pasar hingga Kaisar, semua menyanyangi anda. Bahkan Kaisar lebih menyayangi anda di banding putra mahkota. Demi melindungi anda, Kaisar memilih 12 orang yang membawa 12 kekuatan untuk melindungi anda. 12 orang tersebut adalah kami.

Lalu perselisihan antar kerajaan terjadi. Demi menhindari perang, anda dikirim untuk menjadi permaisuri dari putra mahkota kerajaan geoguryeo. Kami seharusnya mengawal anda tetapi pihak geoguryeo melarang. Ternyata di tengah perjalanan, anda di serang dan meninggal.

Kami merasa sangat marah pada diri kami sendiri dan berjanji tidak akan pernah melepaskan gongju mama. Sekarang, meskipun kami telah berenkarnasi kami tetap akan melindungi anda. Tapi 3 bulan lalu kami menyadari bahwa tidak hanya kami dan gongju mama yang terlahir kembali tapi juga  beberapa pihak koguryeo yang kami curigai terlibat dengan pembunuhan anda lebih dari 1900 tahun yang lalu. Dan sekarang mereka kembali mengincar gongju mama.” kata Kyung Soo mengakhiri penjelasannya.

Semua perkataan Kyung Soo membuat kepala Min Young pusing. Gongju mama? Pengawal? Dan sekarang dia menjadi target pembunuhan yang tidak diketahui penyebabya? Kenapa semua terasa tidak masuk akal. “Hahaha, sunbae bagus sekali dongengnya. Tapi itu hanya dongeng, kan?. Aku hanyalah siswi SMA biasa, Song Min Young.” kata Min Young setengah frustasi.

“Kematian orang tua gongju mama 3 bulan yang lalu bukanlah karena kecelakaan. Mereka dibunuh oleh kelompok yang mengincar gongju mama.” kata Kyung Soo. Perkataan Kyung Soo sukses membuat Min Young tersentak kaget. Orang tuanya meninggal karena dirinya?

“ANDWEE!” teriak Min Young histeris. Membuat seluruh ruangan hening. “Aku bukanlah putri yang kalian cari dan orang tuaku  meninggal karena kecelakaan.” lanjut Min Young. “Gongju mama…” kata Lay berusaha menenangkan Min Young. Tapi Min Young malah menampik tangan Lay yang terulur “Jangan panggil aku gongju mama.” bentak Min Young lalu berlari keluar ruangan OSIS.

Min Young berlari menuju ke belakang sekolah. Kenangan menyedihkan saat dia mendengar orang tuanya meninggal kembali berputar di otaknya. “Eomma, appa…” lirihnya lalu jatuh terduduk menangis.

*****

Suara bel pelajaran berakhir membangunkan Min Young. Dia jatuh tertidur karena kelelahan menangis. Dia melihat sekeliling dan ternyata saat ini sudah gelap. “Gawat aku harus segera pulang.” kata Min Young sambil berdiri.

“Sreek.” Min Young langsung berbalik ke arah asal suara itu. “Nuguseyo?” tanya Min Young ke arah asal suara. Dia tidak  bisa melihat siapa itu karena sekelilingnya sudah gelap. Tidak ada jawaban yang muncul.  Min Young sedikit mendekat dan kembali bertanya. Tapi tetap tidak ada jawaban.

Tiba- tiba Min Young melihat sepasang mata dan sebuah tangan terulur ke arahnya. Min Young teringat perkataan Kyung Soo sunbae bahwa ada orang yang mengincar nyawanya. Min Young langsung mundur dan berlalari secepat dia bisa.

Min Young mendengar suara langkah kaki dibelakangnya. Tidak hanya satu tapi sekitar lima orang, itu pun jika bisa disebut orang karena Min Young tidak yakin yang mengejarnya adalah manusia.

Dia berlari hingga sesuatu menahan kakinya membuatnya jatuh terjembap. “Appo.” rintihnya sambil membalikkan badan untuk melihat pengejarnya. Min Young melihat sekitar 7 orang berpakian seperti tentara zaman dahulu sudah menantinya lengkap dengan pedang yang berkilat berbahaya.

“Andwe, jangan mendekat.” lirih Min Young. Tapi salah satu prajurit malah mengakat pedangnya. Untung saja Min Young dapat menghindar sehingga hanya menggores lengannya tapi cukup untuk membuat Min Young yakin bahwa mereka berniat membunuhnya.

Min Young beruasah memperlebar jarak antara dia dan pengejarnya sambil menahan lengannya yang terasa perih. Min Young terkejut saat punggungnya menyentuh dinding. Sudah tidak ada tempat untuk lari lagi. Prajurit- prajurit itu semakin mendekat dan prajurit yang terdepan sudah siap menghunuskan pedang tepat ke arah jantung Min Young. “ANDWEE!!” teriak Min Youngsambil memejamkan mata.

Suara pedang terjatuh menyadarkan Min Young. “Gongju mama!” seru Xiu Min dan para anggota OSIS lain sambil berlari mendekat ke arah Min Young. Min Young terkejut lalu melihat ke arah prajurit yang tadi mengarahkan pedang ke arahnya sedang mengerang keseakitan karena pedang es menancap di lengannya.

“Gongju mama, gwenchana?” tanya Lu Han khawatir. “Gwenchana.” kata Min Young sambil berusaha menutupi luka di lengannya. Tapi Lay yang sudah terbiasa melihat luka langsung sadar. “Gongju mama, chakaman.” kata Lay sambil menahan tangan Min Young yang berusaha menutupi luka.

“Jeongseohamnida, kami terlambat hingga membuat Gongju mama terluka.” kata Lay sambil mengarahkan tangannya yang bebas kearah luka Min Young. Setelah terlihat seberkas sinar yang keluar dari tangan Lay, Min Young meraskan lukanya menutup dan perihnya pun hilang. “Eottokhe?” tanya Min Young tidak percaya. “Nanti akan aku jelaskan.” kata Lay sambil tersenyum.

“Kris apa yang harus kita lakukan kepada orang yang berani membuat Gongju mama tereluka?” tanya Su Ho. Min Young merasa bingung karena selama Su Ho bertanya tangan Su Ho seperti dililit oleh ular tapi berasal dari air.

“Tentu saja menghabisinya.” kata Kris lau keluar sayap seperti sayap naga dari punggungnya. Tidak hanya Kris yang berubah tapi juga seluruh anggota OSIS berubah.

Beberapa anggota memiliki cakar binatang di tempat yang seharusnya merupakan tangan mereka. Dan yang lain tumbuh sayap seperti Kris. Lay mengeluarkan sayap seperti malaikat sedangkan Chan Yeol mengeluarkan sayap api.

Belum habis rasa bingung dan terkejut Min Young, berbagai kejadian aneh muncul seperti tiba-tiba ribuan jarum es turun, angin bertiup kencang, atau bola-bola api melayang. Min Young tahu itu adalah kekuatan para anggota OSIS, tapi dia tidak tahu siapa memanggil apa.

Terlalu banyak hal yang tidak masuk akal membuat Min Young pusing dan dia merasa kesadarannya semakin menjauh. Hal terakhir yang ia ingat adalah teriakan para sunbae.

*****

Min Young POV

Aku  mengerjapkan mata, berusaha membiasakan matanya dengan sinar matahari yang masuk. Matahari? Aku segera membuka mata dan aku sudah berada di tempat tidurku. Aku melihat kesekelilingku dan aku langsung mengenalinya sebagai kamarku.

Bukannya kemarin aku ada di sekolah? Apa itu semua hanya mimpi? batinku bingung. Aku menepuk pelan pipiku. “Itu pasti mimipi. Suatu mimpi yang hebat.” batinku meyakinkan diriku sendiri. Aku lalu berjala keluar kamar dan langsung terkejut dengan yang kulihat.

12 namja itu ada di ruang keluarga dan ruang makanku. Bahkan namja yang bernama Kyung Soo dan namja yang kemarin menyembuhkanku sedang memasak di dapur. “Ah selamat pagi gongju mama.” kata Kyung Soo sambil tersenyum kearahku.

Seluruh namja langsung melihat ke arahku dan tersenyum. “Gongju mama cuci muka dulu lalu kita sarapan.” kata Kyung Soo. “Ah matta.” kataku dan segera berlari ke kamar mandi. Aku mengusap air mata di pelupuk mataku.

Sudah lama sejak orang tuaku meninggal tidak ada yang menyambutku di pagi hari. Aku juga selalu makan sendiri. Melihat mereka tersenyum menyambutku, aku teringat dengan orang tuaku. Aku segera mencuci mukaku lalu keluar untuk sarapan.

“Gongju mama duduk sini.” kata Lu Han sambil menepuk tempat disebelahnya. Karena dirumahku hanya ada 4 kursi jadi kami makan di ruang kelurga dengan resiko kami duduk di bawah. “Gomawo sunbae.” kataku sambil tersenyum. Lalu kami sarapan dalam diam. “Mianhae.” kataku memecah keheningan. Mereka semua langsung melihat ke arahku.

“Mianhae kemarin aku bersikap kasar dan tidak mempercayai kalian.” kataku sambil menundukkan kepala. “Gwenchana, kami sadar hal ini tidak mudah diterima oleh akal sehat.” kata Kris kepadaku sambil tersenyum meyakinkan bahwa aku tidak berbuat salah dengan mereka.

“Tapi kedepannya gongju mama harus hati-hati karena akan semakin banyak siluman-siluman yang mengincar gongju mama seperti kemarin. Gokjomma, kami akan melindungi gongju mama.” kata Kyung Soo yang diikuti anggukan teman-temannya.

“Jeongmal gomawo.” kataku sambil tersenyum. “Tapi bisakah kalian berhenti memanggilku gongju mama? Aku tahu aku dulu seorang putri tapi sekarang aku hanya anak SMA biasa. Lagipula aku ingin berteman dengan kalian, bukan sebagai atasan dan bawahan.” kataku.

Mereka berpikir sejenak lalu Kris berkata “Baiklah kalau itu memang keinginan gongju mama. Tapi jangan  panggil kami sunbae juga. Rasanya terlalu formal.” kata Kris dengan senyum pasrah. “Nah itu lebih baik.” kataku dengan semangat. “Geundae, aku tidak tahu nama hyung satu persatu.” kataku polos. “Hyung?” tanya Kyung Soo bingung. “Aku tidak terbiasa mengatakan oppa, lebih enak hyung.” kataku santai, tapi aku melihat beberapa sunbae menahan tawa.

“Baiklah, kalau begitu mulai dari aku. Namaku Xi Lu Han. Dulu aku dari klan rusa dan kekuatanku adalah telekinesis. Aku sekarang kelas 3-3.” kata Lu Han sambil menjentikkan jari dan seikat bunga yang ada di vas menja makan melayang ke arahku

“Aku Park Chan Yeol. Aku dari klan phoniex dan kekuatanku tentu saja api. Aku sekarang kelas 2-1.” kata namja yang duduk di sebelah Lu Han hyung dengan senyum jail. Dia menjentikkan jari dan keluarlah bola api yang menyerupai bunga lalu bunga itu berhamburan menjadi kupu-kupu yang berterbangan dan menghilang.

Aku selalu kagum dengan kekuatan-kekuatan mereka dan menjadi tidak sabar untuk melihat kekuatan apalagi yang mereka punya

“Aku Byun Baek Hyun, kelas 2-1. Aku dari klan anjing dan kekuatanku adalah cahaya.” katanya sambil megeluarkan bola cahaya yang kemudian pecah menjadi serpihan cahaya warna-warni di sekelilingku.

“Namaku Zhang Yi Xing atau biasa dipanggil Lay kelas 2-2. Aku dari klan angsa dan kekuatanku dapat menyembuhkan.” katanya sambil tersenyum tapi sebelum dia sempat menunjukkan kekuatannya aku cepat-cepat berkata “Eung hyung mianhae kemarin aku bersikap kasar kepadamu. Juga terima kasih karena menyembuhkan lukaku.” kataku sambil menundukkan kepala. “Gwenchana.” katanya sambil tersenyum.

“Nah sekarang aku. Namaku Kim Jong Dae, tapi kamu bisa memanggilku Chen. Dari kelas 2-1. Aku dari  klan elang dan kekuatanku adalah halilintar. Tapi aku tidak akan menunjukkan kekuatanku, karena aku tidak mau merusak barang-barang disini.” katanya. Aku tertwa mendengar perkenalannya yang aneh.

“Aku Do Kyung Soo. Aku dari klan kuda dan kekutanku adalah tanah. Aku di kelas 2-3.” katanya lalu dari pot bunga di belakangku terdengar suara retakan tanah dan ketika aku melihatnya di sana telah tumbuh serumpun bunga.

“Aku Kim Jong In alias Kai, kelas 2-3. Aku dari klan serigala dan kekuatanku..” lalu dia menghilang. Aku terkejut dan mencarinya tapi ternyata dia sudah di belakangku. “adalah teleportasi.” katanya sambil tersenyum.

“Aku Kim Min Seok biasa dipanggil Xiu Min, kelas 3-1. Aku dari klan rubah dan kekuatanku adalah membekukan.” katanya dan tiba-tiba turun kepingan bunga es yang imdah di sekelilingku.

“Kamu pasti sudah mengenal aku. Ketua OSIS Han Young High School sekaligus pemimpin pasukan pengawal putri. Aku dari klan naga dan kekuatanku hanyalah terbang. Aku kelas 3-3.” katanya sambil mengeluarkan sayap naganya.

“Kalau itu saja aku dan Yeollie hyung bisa.” kata Chen sambil mengeluarkan sayapnya diikuti oleh Chan Yeol hyung. “Aku juga.” kata Lay sambil mengeluarkan sayap angsanya yang kemarin aku pikir sayap malaikat. “Makanya aku bilang ‘hanya’.” kata Kris hyung dengan wajah kesal.

“Eung chogio, bisa kalian lipat lagi sayap kalian? Ruangan ini tidak cukup kalau hyungdeul mengeluarkan sayap.”  kataku dan mereka langsung melipat sayap mereka lagi.

“Selanjutnya aku. Namaku Kim Joon Myun atau biasa dipanggil Su Ho. Aku wakil ketua OSIS dan dari kelas 3-3 sama seperti Kris. Aku berasal dari klan ular dan kekuatanku adalah mengendalikan air.” katanya lalu gelembung-gelembug air yang berkilauan seperti mutiara berjatuhan di sekelilingku sebelum kembali diserap oleh Su Ho hyung

“Aku Huang Zi Tao dari kelas 2-2. Aku dari klan beruang dan kekuatanku adalah mengendalikan waktu.” katanya sambil menunjuk jam yang menunjukkan pukul 9 padahal aku tadi melihat jam itu menunjukkan pukul 10 lebih tapi dalam satu kedipan mata waktu kembali menunjukal pukul 10 lebih.

“Terakhir aku Oh Se Hun. Aku dari klan harimau dan kekutanku adalah mengendalikkan angin.” katanya lalu tiba tiba angin hangat beraroma padang rumput berhembus pelan. “Hyung dari kelas berapa?” tanyaku karena dia tidak menyebutkan kelasnya. “Hyung? Aku kan sekelas denganmu.” katanya dengan wajah heran.

“Chakaman, kenapa kelas 1 yang baru saja masuk bisa menjadi anggota OSIS?” tanyaku bingung. “Aku bukan anggota OSIS. Tapi karena sejak SMP sering bersama mereka, banyak orang yang mengenal aku. Tapi aku masih kelas 1.” jelasnya.

 “Sekarang giliranku. Aku Song Min Young dari kelas 1-3. Aku tidak memiliki kekuatan khusus seperti hyung-deul tapi aku tidak akan berdiam diri saja menghadapi orang-orang yang membunuhku karena aku berjanji pada orang tuaku agar selalu hidup bahagia. Mohon bantuan hyung-deul” kataku sambil membungkukkan badan.

Aku tidak akan kalah dari orang-orang itu. Manusia ataupun siluman aku tidak takut karena aku harus bertahan hidup seperti yang diinginkan orang tuaku.

“Mumpung hari ini hari libur bagaimana kalo kita bermain dengan kekuatan kalian. Aku ingin melihat lebih banyak kekuatan kalian.” kataku bersemangat. Mereka saling pandang lalu tersenyum “Baiklah tapi di halaman saja karena berbahaya kalau di dalam rumah.” kata Su Ho hyung sambil menepuk kepalaku. “Yay!” seruku lalu berlari menuju ke halaman belakang rumah yang cukup luas. Untung saja aku punya rumah luas jadi kami bisa bermain sepuasnya.

Kami bermain sepuasnya hari ini. Mereka berubah ke wujud binatang mereka dan kami bermain setan-setanan. Setelah bosan karena aku selalu kalah, kami membagi menjadi 2 kelompok yang beraggotakan 6 orang tiap kelompoknya (Kyungie hyung tidak ikut karena harus memasak makan siang) kemudian berusaha mengalahkan kelompok musuh dengan kekuatan masing-masing anggota.

Semua ini memang terasa tidak masuk akal, tapi aku menyukainya. Banyak kejutan dibalik kekuatan dari hyung-deul. Meskipun awalnya aku takut, terutama dengan hyung yang dapat berubah menjadi binatang buas sepertai Kai atau Kris, tapi sekarang aku malah menyukai wujud binatang mereka.

Selama bermain dengan mereka, aku bisa kembali menjadi aku yang dulu. Sebelum orang tuaku meninggal. Aku tidak akan mengatakan pada mereka bahwa selama 3 bulan, hidupku benar-benar sengsara. Aku selalu merasa apa gunanya aku hidup. Tapi sekarang aku mengetahui bahwa appa dan eomma berkorban demi hidupku. Karena itu aku harus menjaga hidupku.

Appa, eomma. gokjoma, aku akan selalu hidup bahagia. Aku tidak akan sedih lagi karena sekarang aku punya 12 hyung yang baik padaku.

****

“Ah hari ini menyenangkan.” kataku sambil duduk di teras taman belakang. Kami beristirahat setelah makan siang . Angin musim semi yang hangat bertiup lembut memainkan rambutku. Aku tidak tahu itu memang angin yang berhembus atau angin yang di buat oleh Se Hun.

Suara alunan lembut gitar yang dimainkan Lay hyung membuat suasana semakin tenang. “Iya kami jadi teringat saat kami dulu bermain dengan gongju mama.” kata Su Ho hyung. Tiba-tiba sebuah pertanyaan terlintas di otakku.

“Hyung, dulu aku seperti apa?” tanyaku penasaran. Saat Su Ho hyung mebuka mulut untuk menjawab pertanyaanku, aku segera menyela. “Hyung chakaman. Se Hun bisa berubah jadi harimau? Aku pinjam punggungmu untuk jadi bantal.” kataku sambil mengeluarkan puppy eyes-ku.

“Hahaha, kembali ke pekerjaan lamamu,eoh?’ kata Yeollie hyung sambil tertawa. “Baiklah.” kata Se Hun datar tanpa memperdulikan Yeollie hyung. Dan dalam sekejap harimau sebesar mobil berdiri di tempat tadi Se Hun duduk.

Dia lalu menekuk kempat kakinya dan aku segera menjadikan punggungnya bantal. “Gomawo.” kataku sambil mengelus kepala harimau itu. Aku merasa nyaman dengan harimau Se Hun sejak dia menaikkan aku ke punggungnya saat kami bermain perang-perangan.

“Hyung ayo kembali cerita.” kataku pada Su Ho hyung setelah aku menemukan posisi yang nyaman di sisi Se Hun. Su Ho hyung tertawa sambil berkata “Benar-benar tidak berubah. Dulu gongju mama suka sekali mendengarkan dongeng kami sambil bersandar di punggung si harimau angin.”

“Se Young gongju mama bukan seorang putri seperti putri biasanya. Saat para putri sedang sibuk berdandan dan saling menjatuhkan, putri malah sibuk berlatih panah dan belajar bersama Wangja Mama, kakak sang putri. Karena itu putri tumbuh menjadi putri yang berani dan cerdas. Putri selalu membantu ketika rakyat menderita, bahkan tidak jarang putri menjual hiasan rambut untuk meyelamtakan nyawa seseorang yang sedang sakit. Karena itu, semua orang menyayangi putri….”

Su Ho hyung terus menceritakan seperti apa aku dulu. Dari ceritanya aku tahu bahwa kehidupanku dulu sangat menyenangkan. Aku mendengarkannya tetapi mataku semakin berat dan aku pun tertidur.

****

Author POV

“Hyung, gongju mama sudah tidur.” kata Baek Hyun untuk menyadarkan Su Ho yang terlalu hanyut dalam cerita. “Mwo? Dasar dia tidak berubah.” kata Su Ho sambil mengelus puncak kepala Min Young. “Tapi gongju mama pintar sekali menyembunyikan perasaannya.” kata Lu Han sambil mengamati Min Young yang tertidur pulas.

“Museumsoriyeyo?” tanya mereka serempak. “Aku sempat membaca perasaannya saat aku memeluknya kemarin. Aku bisa merasakan kesedihan yang menyakitkan juga ketakutan yang sangat besar tapi dia tidak menunjukkan kepada sekelilingnya dan berusaha terus tersenyum.” kata Lu Han dengan wajah sedih.

“Wajar saja jika dia seperti itu. Dia kehilangan kebahagiaannya dalam sekejap. Apalagi dia harus sendirian padahal masih kecil.” kata Xiu Min. “Gongjumama, gokjoma, kami akan melindungimu.” kata Tao sambil tersenyum ke arah Min Young.

“Gongju mama tidak selemah yang kalian pikir.” kata Se Hun lalu dia berubah menjadi manusia. “Gongju mama akan berjuang dengan caranya sendiri.” lanjutnya sambil menggendong Min Young ke arah kamar tidur Min Young.

“Ya, tapi hal itulah yang membuatnya meninggal 1900 tahun yang lalu.” kata Kris. “Dulu gongju mama mau berkorban untuk Silla agar dapat menghindari perang. Padahal kita sudah melarangnya untuk pergi dan mengajaknya lari dari istana.” lanjut Kris.

“Gongju mama terlalu baik untuk menjadi seorang bangsawan tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk menjadi rakyat biasa.” kata Lay sambil tersenyum pahit.

“Karena itu sekarang kita harus melindunginya agar kejadian yang lalu tidak terulang kembali.”

Iklan

44 pemikiran pada “The Princess & The Knights (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s