The Raspberry (Chapter 6: In The Rain)

2014-04-13-22-51-39_decomm

 

The Raspberry (chapter 6: In The Rain..)

 

Author:            laelynur66

 

Main cast:        Kim Jongin (Exo)

                     Oh Sohee a.k.a Raisa Oh (Oc)

                     Oh Sehun a.k.a Daniel Oh (Exo)

                     Xi Luhan (gs) (Exo)

                     Byun Baekhyun (gs) (Exo)

 

Support cast:     all member Exo

                     Zico Block B

                     Zelo BAP

                     Taehyung BTS

                     Daehyun BAP

 

Length:            chapters

 

Genre:             romance, family, friendship (entahlah, mungkin genrenya akan berubah tiap chapter, mungkin)

 

Rating:             PG-17

 

Author note:         WARNING!!! DI FF INI BEBERAPA MEMBER MENGALAMI PERUBAHAN GENDER!! Bagi yang gasuka saya ga mempermasalahkan kok kalo ga mau baca. Well,saya hanya ngingatin dan saya juga terlalu mencintai beberapa official couple sehingga gamake cast oc ato idol girl lain buat ngepairing-in mereka..

Well, enjoy it..:)

Dengan langkah lebarnya Sehun berjalan cepat menaiki satu persatu tangga yang membawanya pada lantai tiga di mana terletak kelas Luhan di sana. Beberapa tatapan dari para sunbaenya tidak ia hiraukan, yang ia tau, Luhan harus menjelaskan ini padanya. Tangannya mencengkram kuat majalah otomotif di tangannya, ketika ruangan kelas 3B berada di depan matanya, dengan sedikit ragu ia melongokkan kepalanya melewati pintu yang terbuka lebar di hadapannya, ia mendesah pelan ketika tidak mendapati sosok Luhan di sana, hanya ranselnya yang teronggok pada mejanya. 

Dengan cepat otaknya menangkap di mana keberadaan Luhan dan kembali memutar tubuhnya berjalan meninggalkan ruangan kelas Luhan, ia berhenti sejenak ketika akan menuruni tangga saat matanya menangkap sosok tinggi dengan rambut pirang serta wajah angkuh terkesan dingin lewat di hadapannya, Sehun mengepalkan tangannya namun memilih mengacuhkannya dan berjalan menuruni tangga menemui Luhannya

Alunan lembut music klasik memenuhi pendengarannya ketika Sehun memasuki ruangan latihan tari, di tengah ruangan ia melihat Luhan tengah merenggangkan tubuhnya melakukan pemanasan, kemejanya ia lepas menyisahkan kaus tipis berwarna putih yang membungkus tubuhnya pas, hanya rok kotak-kotak dari sergamnya yang tersisa. Pandangan mereka bertemu, dan Luhan tersenyum pada refleksi Sehun dari balik cermin ketika namja itu berjalan mendekat padanya dan berdiri tepat di belakangnya. Luhan memutar tubuhnya membuat dirinya berhadapan dengan Sehun

“apa?” Tanya Luhan lembut dan mendapat gelengan dari Sehun. Dari jarak sedekat ini Luhan bisa memghirup aroma tubuh Sehun yang manis, seperti aroma apple pie yang lezat ditaburi bubuk kayu manis dan aroma samar dari sabun cair dan keringat yang bersatu, membuatnya sdikit limbung.

“Sehunniee!” Luhan terpekik ketika lengan Sehun melingkar pada pinggangnya dan menarik tubuh Luhan merapat padanya.

you don’t even tell me..” bisik Sehun di telinga Luhan membuat bulu kuduk Luhan meremang karena hembusan nafas Sehun menerpa tengkuknya

about what?” Tanya Luhan setelah berhasil mengontrol perasaannya

your profession, maybe??” sahut Sehun dan membuat Luhan tersenyum tipis saat matanya melihat majalah yang di pegang Sehun.

so, what is the problem?” Tanya Luhan lagi, sedikit mengintimidasi Sehun.

Sehun mengendikkan bahunya, satu tangannya terlepas dari pinggang Luhan dan merayap naik, mengusap lengan Luhan dan membuat Luhan memejamkan matanya sesaat “tidak ada, kecuali rasa cemburu pada kru-kru yang bebas melihatmu berpose…” Sehun mendekatkan wajahnya pada telinga Luhan “seksii..” lanjutnya dengan suara seraknya yang membuat Luhan hampir gila saat Sehun mengecup singkat cuping telinga Luhan membuat Luhan bergetar hebat.

“dasar kau bayi besar yang nakal” rutuk Luhan dan mengecup ujung hidung Sehun lembut dan sebagai balasan Sehun melangkah maju mendesak Luhan melangkah mundur beberapa langkah hingga Luhan merasakan dinginnya dinding kaca pada punggungnya.

“itu hanya profesiku, lagipula mereka itu professional” ucap Luhan, tangannya terulur mengenyahkan rambut Sehun yang menutupi keningnya, “tidak ada yang perlu dipermasalahkan” tambahnya lalu mencium pipi Sehun singkat.

“syukurlah…”lirih Sehun, ia membenamkan wajahnya pada leher Luhan menghirup aroma mawar yang menguar dari sana dan memberikannya kecupan-kecupan kecil yang mengalirkan ribuan volt listrik pada Luhan yang refleks membuat Luhan mencengkram kuat kedua bahu Sehun.

“Se..Sehun..” gumam Luhan berusaha menutupi suaranya yang bergetar.

“hmmm?” Sehun mengangkat wajahnya dari leher Luhan dan menatap wajah kekasihnya itu. Luhan menggeleng dengan mata setengah terpejam.

Tangan Sehun yang mencengkram lengan Luhan terangkat dan mencium telapak tangan Luhan dan pergelangan nadinya dengan intim, membuat Luhan tersipu karena perbuatan pemuda yang lebih muda dua tahun darinya itu.

“Luhan… Luhan!” Sehun menggumamkan nama Luhan sebelum menunduk dan mencium bibir Luhan dalam, lama dan panas. Ia bahkan tidak peduli jika Luhan menjadi pusing dan limbung akibat dari perbuatannya, yang ia tau ia hanya ingin memberikan Luhan sebuah ciuaman yang tidak akan Luhan lupa dan menikmati desahan kecil yang lplps dari bibir Luhan. Telapak tangannya menekan punggung Luhan lembut, memberikan pijatan pelan di sana dan Luhan berjinjit membalasnya dengan mengalungkan kedua lenganya pada leher Sehun tanpa berniat melepas tautan mereka. Ah, betapa semuanya terasa benar jika mereka bersama…

***

Bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu, tapi Sohee masih setia berdiri di ujung koridor kelasnya menunggu Sehun. Sekolah sudah sepi sedari tadi, hanya ada petugas kebersihan yang membersihkan ruang-ruang kelas serta beberapa siswa yang masih tinggal menunggu jemputan. Jika biasanya ia akan menggerutu jika Sehun terlalu lama membuatnya menunggu, tapi sekarang tidak, bibirnya tak hentinya tersenyum, cuaca hari ini memang sedikit mendung, tapi ramalan cuaca hari ini mengatakan bahwa hari ini tidak akan turun hujan, tapi semuanya salah… hari ini hujan turun dengan lebatnya membasahi bumi, padahal kota Seoul baru saja berada di awal musim panas dan hujan biasanya akan turun di akhir-akhir musim panas. ribuan bahkan jutaan tetes air membasahi segala apa yang ada di bawahnya. Sohee selalu menyukai hujan, jangan Tanya alasannya karena iapun bingung, ada begitu banyak alasan mengapa ia menyukai hujan, ia menyukainya, menyukai suara rintikan hujan yang beradu dengan atap rumah, suara rinai hujan yang terbawa angin, serta suara merdu tetes air yang jatuh dari atap menyentuh tanah selalu berhasil membuatnya terhanyut atau mungkin juga akibat yang ditimbulkan hujan itu sendiri yang menjadi alasannya untuk menyukai hujan, hujan yang mengakibatkan rerumputan menjadi basah dan membawa aroma segar dan sejuk bagi indra penciumannya, akhir-akhir ini juga hujan kadang mengingatkannya pada seseorang yang bagaikan genta angin, lembut dan tidak terkira masuk ke dalam kehidupannya menambahkan lagi satu alasan baginya untuk semakin menyukai hujan…

Sohee menunduk menatap pada ujung sepatunya yang basah, lalu mendongak, mengulurkan tanganya merasakan sensasi sejuk dari air hujan yang menetes pada telapak tangannya, ia memejamkan matanya merasakan pias-pias air hujan yang terbawa oleh angin dan menerpa wajahnya lembut.

Ia membuka kedua matanya saat merasakan seseorang berdiri di sampingnya dan ikut mengulurkan tangannya membiarkan telapak tangannya basah oleh air hujan. Setela menatap wajah orang tersebut dari samping, Sohee memejamkan matanya, kembali merasakan hembusan angin, menarik nafasnya dalam, mencium aroma basah hujan dan aroma yang akhir-akhir ini selalu memenuhi indra penciumannya.

“apa yang kau lakukan di sini?” suara husky itu memecah keheningan di antara mereka.

“menunggu Sehun” jawab Sohee masih dengan posisinya.

“Sehun menitipkanmu padaku, ia ada urusan dan tidak bisa pulang bersamamu” ujarnya lagi, membuat Sohee mau tidak mau membuka matanya dan menatap orang itu.

“kau kira aku barang?” seru Sohee tidak terima.

“ah, maaf… aku hanya menyampaikan pesan Sehun tanpa menyortirnya” ia membela dirinya  kemudian mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan menunjukkan pesan Sehun ada Sohee.

From: Oh Sehun

Kai, aku titip Sohee padamu, aku ada sedikit urusan tidak bisa pulang bersamanya. Kupercayakan dia padamu…

“ya ya ya” Sohee mengangguk malas ketika membaca pesan Sehun itu.

“jadi?”

“mau bagaimana lagi? Haruskah aku bermalam di sini?” sahut Sohee dengn alis terangkat. Sohee tertegun ketika namja berkulit tan di sampingnya itu tertawa serak, begitu menawan.

Keduanya kembali terdiam menikmati tetesan air hujan di hadapan mereka, hening panjang hingga akhirnya Jongin kembali membuka mulutnya untuk bertanya “kau mau mencobanya?”

“apa?” sahut Sohee tanpa berbalik.

“mandi hujan” jawab Jongin singkat. Dengan cepat Sohee berbalik menatap Jongin dan tertegun mendapat Jongin dengan ekspresi seriusnya pertanda bahwa ia tidak bercanda dengan perkataanya barusan.

“eh?”

“hmmmm”

“tapikan…”

“oh, ayolah kita sudah dewasa, kita tidak akan sakit” Jongin memotong perkataan Sohee dan tersenyum penuh arti padanya. Ia kemudian menjatuhkan ranselnya di lanati koridor dan membuka rompi seragamnya kemudian perlahan maju selangkah, membiarkan hujan membasahi separuh bagian tubuhnya. Rambut hitamnya jatuh lemas akibat guyuran hujan menutupi kening dan wajahnya membuat Sohee tersenyum dan tanpa ragu juga menjatuhkan ranselnya pada lantai dan mengikuti langkah Jongin.

“kuharap kau bertanggung jawab atas semua ini” seru Sohee sekuat tenaga karena suaraya teredam deras hujan.

“tentu”  jawab Jongin sebelum mencengkram lengan Sohee kemudian membawanya menuju lapangan sepakbola yang tidak jauh dari koridor tempat mereka berdiri tadi.

Keduanya berputar-putar, bernyanyi, tertawa saling melemparkan senyum menikmati tetesan hujan yang menetes pada kulit mereka menembus seragam yang mereka kenakan.

“Jongin, ini luar biasa menakjubkan” pekik Sohee saat mendongakkan wajahnya membiarkan rintik hujan membasahi wajahnya menusuk-nusknya lembut.

“kubilang juga apa” sahut Jongin yang berdiri di sampingnya.

“mau berdansa?” tawar Jongin sembari mengulurkan tangannya di hadapan Sohee yang menatap tangannya ragu “berdansa di tengah hujan, kapan lagi kau akan merasakannya” Jongin mempertahankan penawarannya dan tersenyum saat Sohee mengulurkan tanganya menyambut uluran tangannya.

Jongin menarik tubuh Sohee merapat padanya, satu tangannya melingkar di pinggang Sohee dan satu lagi masih setia menggenggam jemari Sohee, dengan cekatan ia menuntun tubuh Sohee agar bergerak ke kiri dan ke kanan sesuai irama rintik hujan dan hembusan angin, mereka berdansa di atas rumput lapangan sepakbola dan di bawah guyuran hujan yang membasahi seluruh tubuh mereka, ajaibnya keduanya tidak merasa kedingin meski telah setengah jam berada di bawah guyuran hujan. Tubuh mereka sangat dekat tanpa ada satupun yag menghalangi, saling memancarkan kehangatn masing-masing sehingga keduanya tidak merasakan kedinginan, setidaknya begitulah menurut keduanya.

Jongin menunduk, menyatukan keningnya dengan milik Sohee, menatap dalam pada wajah Sohee dengan mata terpejamnya yang seolah mempercayakan seluruhnya pada Jongin. Matanya beralih pada bibir tipis Sohee, tidak, Jongin tidak akan menyentuhkan bibirnya pada milik Sohee, bukan karena ia tidak ingin siapapun termasuk dirinya tidak akan tahan melihat bibir tipis berwarna pink alami itu berada sedekat ini dengan miliknya, ia hanya tidak ingin membuat Sohee kecewa karena perbuatannya dan berakhir dengan Sohee yang menjauh, ia akan menunggu hingga Sohee menyadari perasaannya sendiri dan membalas perasaanya. Jongin tersentak, tunggu… perasaan? Perasaan apa yang ia maksud? Perasaan suka pada Sohee? perasaan cinta? Sayang? Apa? Apa yang dimaksud olehnya tadi? Ia kembali tersentak ketika Sohee membuka matanya, menatap Jongin dalam pada mata dan tersenyum sebelum berjinjit mengecup sekilas pipi Jongin yang basah, ia bahkan bisa merasakan hangat dari bibir Sohee dan masih tertinggal di sana, pada pipinya..

“terima kasih Jongin… kau memang teman yang baik”

Dan perkataan Sohee membuatnya mual, ia merasakan pukulan telak  mengenai ulu hatinya. Teman? Hahh, kau terlalu berharap banyak Jongin…

***

“noona!”

Sohee berbalik menghadap kedua adiknya yang tengah berdiri di ambang pintu kamarnya dengan buku tulis di tangan masing-masing.

“ya?” sahutnya lembut.

“tugasku.. ugh, how I hate  henguel, with all my soul” gerutu Zico dan berjalan mendekati Sohee yang tengah duduk pada meja belajarnya diikuti Zelo yang sama persis memasang muka kesalnya.

“apa?” Tanya Sohee dengan menatap kedua adiknya bergantian.

“Hangeul, aku tidak begitu bisa membacanya noona!” jawab Zelo setengah merengek.

Sohee menghela nafasnya maklum “kemarikan” seru Sohee dan mengulurkan tangannya mengambil buku tulis di kedua tangan adiknya “noona akan menerjemahkannya saja. Oke? Selebihnya kalian melanjutkannya sendiri” tambahnya sembari meletakkan kedua buku tersebut di mejanya, tangannya memegang pena dan mulai membaca pada buku adiknya.

Zico dan Zelo keduanya beranjak dari sisi Sohee dan memilih berbaring pada ranjang king size milik noona mereka, betapa mereka terkagum dengan kelembutan sprei serta kanopi rumit yang menghiasi ranjang itu, serta—keduanya menarik nafas menghirup aroma strawberry—aroma khas strawberry yang selalu menguar dari tubuh noonanya. Entah alasan apa yang membuat keduanya begitu kagum pada noonanya itu, cantik? Itu sudah pasti lagipula cantik itu relative, pintar? Tentu saja, noonanya yang lihai bermain piaono sejak usia lima tahun, mengusai dua bahasa dan mampu mengerti beberapa bahasa yang ada di dunia mungkin juga menjadi salah satu alasan. Tapi ada satu alasan yang membuat keduanya semakin kagum pada noonanya itu, noonanya itu kuat sekaligus lembut, kuat alam artian menghadapi semua masalahnya dengan tabah serta lembut karena ia benar-benar mampu mengntrol emosinya dan tetap tersenyum manis sesakit apapun itu.

Keduanya menghela nafas bersamaan, membuat keduanya tersenyum geli lalu kembali bergelut pada selimut dan sprei milik noonanya.

“hei Zelo!” panggil Zico dengan berbisik.

“hmm?”

“menurutmu, mmm…”

“apa?”

“kau taukan jika Raisa noona itu cantik?” Tanya Zico setelah cukup lama terdiam “dan juga cerdas” tambahnya.

“hmm, lalu?” Zelo mengangguk.

“bagaimana jika ada seorang yang menyukainya dan berusaha membawanya pergi dari kita?” Zelo terdiam, mencerna tiap kata yang keluar dari mulut kembarannya yang lebih tua beberapa menit darinya itu, di kepalanya ia membayangkan seorang pria membawa paksa noonanya dengan menarik sebuah rantai di lehernya, tidak peduli betapa kerasnya noona itu menangis pria itu tetap menyeretnya.

“andweaaaaaa” pekik Zelo membuat Zico dan Sohee terlonjak kaget.

“apa?” Tanya Sohee dan  beranjak dari duduknya mendekati kedua adiknya dengan panik.

“kenapa?” tanyanya lagi ketika keduanya bungkam. Ia bernafas lega ketika keduanya menggeleng memberikan jawaban. “jangan membuat orang panik seperti itu, noona sudah menyelesaikannya, cepat lanjutkan tugas kalian” tambah Sohee memerintahkan adiknya. Ia sendiri duduk pada sisi ranjangnya, menjangkau ponselnya yang tergeletak pada meja keci di samping ranjangnya. Jarinya dengan lincah bergerak pada layar lebar ponselnya, dan tersenyum pada ponselnya saat mendapati pesan dari Jongin.

Zico dan Zelo yang masih setia pada posisinya menatap heran pada tingkah noona mereka, keduanya saling pandang sebelum memutuskan untuk mengintip pada layar ponsel noonanya.

Kim Jongin.

Keduanya membulatkan matanya, kemudian saling pandang. “Kim Jongin?” seru mereka bersamaan membuat Sohee berbalik menatap mereka dengan wajah yang sedikit merona.

“siapa? Siapa?” Tanya keduanya dengan nada menyelidik. Sohee menggeleng sebagai jawaban, membuat kedua adiknya semakin penasaran.

“sana selesaikan tugas kalian!” titah Sohee sembari kembali berjalan menuju meja belajarnya.

“tidak, sebelum noona memberitahukannya pada kami” sela keduanya bersamaan.

“apa?” Sohee berusaha menghindar.

“Kim Jongin, siapa?” Tanya Zelo dengan menyipitkan matanya. Ia tau betul di dalam hidup noonanya itu, hanya ada ia, Zico, Daniel, Suho serta dad mereka, ohh jangan lupakan Minseok hyung, sepupu mereka yang walaupun ia jarang di rumah, tapi ia termasuk lelaki juga yang dekat dengan noonanya itu.

Sohee menghela nafasnya “temanku”

“teman?” ulang Zico.

“teman” sahut Sohee.

Zico dan Zelo mendekatkan wajah mereka pada wajah Sohee menatapnya dalam “kim Jongin” ucap keduanya bersamaan. Semburat merah menghiasi wajah Sohee membuat keduanya menyipitkn matanya meyakinkan diri pada perubahan wajah noona mereka. Keduanya mengangguk pelan, kemudian menjauh dan berlari berhamburan keluar kamar Sohee.

“mooom, his name is Kim Jongiiiinn” teriak keduanya nyaring, membuat Sohee melotot kaget.

“ohh, shiit! Zicoo, Zelooo! Stoop it” jerit Sohee dan dengan cepat mengejar kedua adiknya yang sudah berhambur menuruni tanggan mencari keberadaan mom mereka di dapur. Sohee berlari menuruni dua anak tangga sekaligus dan melompat pada dua anak terakhir, mengejar adiknya yang menghilang ke arah dapur.

Ia menahan nafasnya, saat melihat momnya berdiri di counter dapur tengah berdiri di depan oven di apit oleh kedua adiknya yang tersenyum lebar hingga nyaris menentuh telinga.

“what?” Tanya momnya, heran.

“don’t listen to them!” pekik Sohee.

Momnya mengangkat alis heran, kemudian Sohee melanjutkan “about Jongin, he’s my friend, mom!”

“Jongin?” ulang momnya semakin heran.

Dengan ujung matanya Sohee memperhatikan kedua adiknya yang  semakin melebarkan senyum, shit maki Sohee dalam hati.

Jongin? Who is Jongin?” momnya kembali mengangkat alis heran. “ahhh, mom mengerti…” detik itu juga Sohee menyesali kebodohannya saat melihat momnya tersenyum penuh arti padanya. Sementara kedua adiknya dengan santainya mencomot pie yang baru saja keluar dari oven dan terkikik geli padanya.

Momnya bersiul kecil “is someone falling in love, here?” ujar momnya dan kembali sibuk dengan adonan kulit pie di belakanganya.

ohh, how I hate you!” pekik Sohee dan menunjuk kedua adiknya yang hanya memberikan senyum penuh kemenangan “don’t talk to me, anymore” tambahnya dan berlalu dari dapur.

“undang Jongin makan malam bersama kita” seru momnya dan Sohee memilih mengacuhkannya. Di ruang tamu ia berpapasan dengan Suho dan Yixing, Sohee memeluk oppanya sekilas dan berganti mengecup singkat pipi Yixing unninya yang tinggal dua hari lagi akan menjadi bagian dari keluarganya.

“bagaimana kabar keponakanku?” Tanya Sohee lembut, ia bersumpah melihat rona pada pipi Yixing unninya saat ia bertanya seperti itu, rona bahagia.

“oh, dia baik-baik saja” sahut Suho yang juga sama bahagianya.

“aku tidak bertanya padamu, oppa!” sohe menanggapinya dingin. Dan ia tersenyum mendapati Yixing unninya tertawa.

“well, kurasa ia mencium aroma pie, dan ia kelaparan sekarang” ujar Yixing dan tersenyum lebar.

“mom, membuat pie di dapur, temui saja ia” kata Sohee dan menjatuhkan dirinya duduk di samping Suho yang sudah duduk nyaman pada sofa dengan mengangkat kedua kakinya. Mata Sohee mengikuti sosok Yixing yang menghilang ke dapur dan mengacuhkan kegaduhan yang di buat oleh adik kembarnya di dapur yang terdengar hingga ruang keluarga

“oppa?”

“hmmm?”

“semua baik-baik saja?” Tanya Sohee pelan, ia menyandarkan kepalanya pada pundak Suho nyaman.

“tentu saja, tinggal menunggu hari, dan Yixing akan menjadi milik oppa seutuhnya, apa ada lebih membahagiakan?” jawab Suho lembut dengan mengusap kepala adiknya.

“kurasa ada” Suho mengangkat alisnya seolah bertanya.

“ya, memberikan keluarga ini seorang cucu, kurasa” Sohee mengendikkan bahunya, dan Suho tertawa serak tangannya mengacak rambut adiknya sayang.

“ya, dan membuatku menjadi seorang paman diusia muda!” sahut suara lain dari arah belakang mereka, keduanya berbalik dan mendapati Sehun yang berjalan mendekati mereka, menghempaskan tubuhnya duduk pada sisi lain Suho.

“dasar, dongsaeng kurang ajar!” ujar Suho terlewat ceria dan dengan sengaja mengacak rambut pirang Sehun membuat sang empunya menggeram kesal.

***

Dentingan nyaring suara lonceng yang menggema pada sebuah gereja sederhana yang terletak di pinggiran kota Seoul menjadi pertanda di bukanya pintu gereja yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran-ukiran yang rumit menghiasianya, seorang wanita berusia pertengahan dua puluh melangkah masuk, gaun putih gading sebatas lutut dengan aksen lipit dan bordiran bunga bunga mawar serta kain tile yang melapisi bawahannya melambai diterpa angin, tali spageti dengan ujung berbentuk pita tersemat di pundak mungilnya, pada bagian pinggang terdapat belt dengan taburan permata Swarovski, dengan kain sutera yang membentang di balik tubuhnya, rambutnya panjangnya dibentuk menjadi kepangan tebal yang rumit dan mengagumkan, bandana yang juga bertabur permata Swarovski tersemat di puncak kepalanya sebagai penyangga kain tipis transparan yang menutupi wajahnya, walaupun tidak terlihat, tapi semua orang tau bahwa yeoja itu tengah tersenyum manis di balik kain tipis tersebut. Satu tangannya memegang sebuah buket bunga dan tangan satu lagi digandeng oleh seorang pemuda remaja menggunakan tuxedo hitam yang membalut tubuh proporsionalnya, rambut pirang platinanya disisir kebelakang membawa kesan rapih dan keren secara bersamaan. Ekor panjang gaunnya dipegag oleh dua orang pemuda beranjak remaja yang mengenakan tuxedo putih dan dasi kupu-kupu yang menambah keimutan pada wajah mereka.

Mereka berjalan menuju altar diiringi dentingan piano lembut, melewati para tamu undangan yang duduk pada kursi kayu panjang yang disediakan gereja, semua mata tertuju padanya, bahkan namja berparas bak malaikat yang sedang berdiri d altar—menunggunya—tidak berkedip menatapnya, bibirnya tak henti-hentinya  menyunggingkan senyum dan rasa syukur karena sebentar lagi akan menjadikan yeoja itu miliknya seutuhnya. Namja itu mengulurkan tangannya, menyambut uluran tangan sang yeoja, menggenggamnya kuat dan menuntunnya menaiki altar, ia mengangguk pada ketiga adiknya yang membawa—menuntun—mempelainya kepadanya.

Setelah mengucapkan janji untuk setia sehidup dan semati, Acara suci nan sakral itu berakhir dengan kedua mempelai menyematkan cincin di jemari keduanya, tepuk tangan riuh meggema pada gereja sederhana tersebut.

Suho dan Yixing, resmi menjadi sepasang suami istri, membawa lembaran hidup baru yang akan mereka jalani, menambahkan jumlah anggota dalam keuarganya, memberikan cucu dan keponakan bagi adik-adiknya. Menghadirkan kehadiran bayi mungil yang kelak akan menjadi pengikat yang kuat bagi keluarganya…

***

“kau cantik”

Sohee tersentak dan nyaris menjatuhkan piring berisi potongan kue di tangannya, ia berbalik dan mendapati Jongin berdiri di belakangnya dengan tersenyum lebar pada reaksinya.

“apa?”

“kau cantik” ulang Jongin, Sohee memutar bola matanya jengah.

“tentu saja tuan Kim” ucap Sohee dan berjalan meninggalkan Jongin yang masih tersenyum.

Namun dengan sigap tangan Jongin menahannya “jangan ke mana-mana, di sini saja” ucapnya dan mengeratkan genggamannya pada lengan Sohee yang walaupun sedikit kesal, menurutinya berdiri diam di samping Jongin dengan tangan memegang piring yang dipenuhi oleh potongan kue. Kedua matanya menyalang menatap panggung mini di sudut taman, di mana Baekhyun dan Chen tengah memamerkan suara merdu mereka, serta Chanyeol dan Kyungsoo yang mengiringinya dengan petikan dan dentingan piano serta gitar yang harmonis.

“kau masih marah?” Tanya Jongin pelan, tangannya terulur mencomot sepotong kue krim dari piring Sohee..

“tidak” jawab Sohee singkat, matanya menyapu seluruh tamu undangan, tadi setelah janji suci diucapkan, tepat di belakang gereja tersebut terdapat sebuah taman yang luas dengan hamparan rumput hijau dan bunga-bungan musim panas yang bermekaran yang disulap menjadi tempat pesta, dengan beberapa meja kursi serta sebuah gazebo tempat Yixing unninya melempar buket bunganya dan ia sangat iri pada Baekhyun yang mendapatkannya, sebenarnya Chanyeol lah yang mendapatkanya tapi tentu saja ia memberinya pada Baekhyun, kekasihnya.

Ia melirik Jongin yang juga sibuk menatap sekelilingnya, sebelum acara pelemparan buket bunga tadi, Jongin dengan percaya diriny berjanji akan menangkapkan untuknya, tapi mana? Sohee mendengus sebal.

“ayolah Sohee, itu hanya sebuah buket bungan aku bisa memberimu yang lebih bagus dari itu” ujar Jongin “maaf ne” tambahnya.

“hmm..”

“ayo ikuut” Jongin dengan cepat menarik tangannya menjauh dari keramaian pesta, Sohee mendengus pelan kemudian melambai pada Baekhyun yang berdiri di atas panggung dan menatap padanya seolah bertanya.

“mau ke mana?” Tanya Sohee dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Jongin.

“temani aku berdoa, sudah lama sekali aku tidak berdoa” jawab Jongin masih dengan mencengkram lengan Sohee membawa—menyeretnya—menuju gereja kecil tempat upacara pernikahan tadi berlangsung.

***

“kau datang?”

“ya?”

Tangan Sehun terulur menautkan jemarinya dengan milik Luhan “kubilang, kau datang?”

“hmm, pemotretanku lebih cepat dari yang kuduga, kenapa?” sahut Luhan dan meremas lembut jemari Sehun.

“ani, terima kasih..” lirih Sehun.

“tidak masalah”

Keduanya kembali menikamati pemandangan di hadapan mereka, hamparan rumput hijau dengan sinar matahari dimusim panas, serta bunga-bunga krysantimun yang bermekaran. Suasana ramai pesta pernikahan masih tertangkap oleh telinga mereka, tapi keduanya tidak merasa terganggu sama sekali.

by the way, aku belum memberikan ucapan selamat pada hyungmu..” ucap Luhan memecah keheningan, ia menoleh menatap wajah Sehun yang menurutnya semakin tampan dengan tuxedo dan dasi kupu-kupu yang ia kenakan serta siraman cahaya matahari di musim.

“ya?” Sehun menoleh menatapnya juga.

“mana hyungmu? aku ingin mengucapkan selamat padanya..”

“nanti saja” ucap Sehun serak.

“dasar kau musang bajingan yang tidak bisa sedikit pun menjauhkan tanganmu dari tubuhku” protes Luhan ketika Sehun menariknya ke dalam pelukan Sehun dengan wajah Sehun yang terbenam pada cerukan leher dan pundaknya. Sehun tertawa renyah di sana, membuat Luhan terkikik geli.

“kyaaa, Sehun” pekik Luhan ketika Sehun mengangkat tubuhnya. Membawanya berputar-putar di bawah sinar matahari musim panas.

Sehun memeluk pinggangnya erat sementara Luhan mengeratkan rangkulannya pada leher Sehun. Mekipun jarak kakinya dngan tanah hanya beberapa inchi saja, tapi cukup membuatnya takut, walau begitu ia yakin Sehun akan menjaganya…

“Luhan?”

“hmm?”

“kelak, menikahlah denganku”

Luhan merona atas perkatan Sehun namun perlahan ia mengangguk, mempercayakan semuanya pada Sehun, semuanya. Ia memejamkan matanya saat bibir Sehun menjangkau miliknya—lagi—menciumnya lembut.

***

PENGUMUMAN: I think this is a bad news… dengan berat hati,, saya mau nyampaiin kalo mungkin ini chapter terakhir yang saya post di sini… maaf sebesar-besarnya atas pemberitahuan yang mendadak ini, yang itu artinya ff saya yang lainpun mungkin akan saya hentikan… saya mau berenti dari sini. Udah itu ajja… sekali lagi maaf.. *bungkuk sedalem-dalemnya*

Ato mungkin juga kalian bisa nemuin ini di tempat lain? Mungkin…

Makasih banget udah ngikutin ff ini sampe sekarang,, begitupun ff yang lain…

Bye.. *lambai tisuuu*

Btw, bagaimana menurut kalian kalau saya buat wp sendiri? Wkwkwk, saya bakalan belajar mengoperasikan wp deh mulai sekarang… sekali lagi, maaf dan terima kasih.. *bow*

 

XOXO

Iklan

15 pemikiran pada “The Raspberry (Chapter 6: In The Rain)

  1. Wp pribadinya tetep di sini kan thor?? Masa udah 6 chp gk di lanjut’in? Penasaran thorr….. Figthing buat blajar buat wpnya ya thor!! Nanti klo udh jadi lanjut’in ya thor chp 7 nya ya.. Soalnya penasaran banget aku, ff nya jjang!(y) fighting thor!!^^ di tunggu lanutannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s