Cynicalace (Chapter 10)

Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

 

Disclaimer: Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi, dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

 

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

–Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

–Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

–Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

–Park Chanyeol–

Author’s Note:

*noleh kiri kanan nyariin readers* HALOOOOOOO!! Authors muncul lagi.. Ad yg kangenn? Hehehe… Akhirnya Cynicalace chapter 10 muncul ke permukaan! YEAYY~!Akhirnya!! Akhirnya!!!!! Hahaha di chapter ini akan lbh bnyk kaihae moment daripada sblmnya. Bagi yg kangen hehehe~Ahahahaha, setelah vakum beberapa chapter kaihae lg pingin nongol huahahah. Juga yang nunggu reyeol tenang saja mereka masih ada kok nyahahhaha Dan udh segini ajh yh author’s notenya… *lagi garing ide soalnya ahahaha… Seperti biasa jangan lupa comment yahh

Comment kalian adalah koreksi dan semangat buat authors!!!! #deepbow

HAPPY READING!!!

___

 

-:Author’s PoV:-

“Annyeong Ilhae-ya! Sampai ketemu besok!”

Ilhae melambaikan tangannya pada Heseul teman satu fakultasnya. Yeoja dengan rambut bob itu berjalan meninggalkannya ke arah yang berlawanan.

Dengan perasaan senang Ilhae berjalan cepat menuju mobilnya yang sudah memiliki penunggu bernama Rein.

“Rein-ah! Kau keluar lebih awal? Tidak biasanya. Kkaja. Aku antarkan kau ke Paulo’s.” Ilhae membuka kunci mobilnya dengan remote dan menempatkan diri di kursi pengemudi di susul dengan Rein.

“Jam berapa kau pulang dari kerja paruh waktumu?” Tanya Rein tegang. Sudah beberapa hari yeoja itu lolos dari tidak dijemput Ilhae tetapi tetap saja kabar buruk itu pasti segera datang.

Ilhae menyalakan mesin mobil dengan cengiran menyebalkan, “Hehehe, sekiranya 1 jam lebih telat daripadamu. Jadi… kau mau menunggu atau bagaimana? Atau kau bisa menelepon Cha –”

“Aku akan mengurusi kepulanganku dengan baik. Jadi tenanglah.” Rein tidak ingin menambah beban pikiran sebelum waktunya – ia masih ingin bekerja dengan semangat penuh.

Ilhae hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum geli tersembunyi di dalam pikirannya – tentu saja ia tidak perlu tersenyum nyata hanya untuk membuat Rein mengurungkan apapun niatnya. Seperti meminta Chanyeol menjemputnya?

Setelah 15 menit perjalanan akhirnya mobil Ilhae menepi dan menurunkan Rein.

“Sampai ketemu di apartemen ya!” Ilhae melambaikan tangannya dan melaju menuju tempatnya bekerja.

 

-:Author’s PoV:-

Hari sudah menjelang petang dan sesosok yeoja masih asyik dibalik laptopnya. Hari itu perpustakaan sedang sepi sehingga Geum Ilhae dapat melakukan hal yang diinginkannya sebebas-bebasnya. Yeoja itu nampak frutasi dengan sesuatu yang berada di layar laptopnya. Sejenak ia berhenti dan merogoh ponselnya.

To: Rein

Hei! Apa-apaan dengan game yang kau berikan padaku hah? Aku tidak mengerti. Sudah hari ke 33 dan karakterku tidak bertemu satupun yeoja! Ini jelas-jelas sad ending!

“Ilhae-ssi?”

Ilhae menoleh dan menemukan Yoo Dongju, teman dari Chanyeol yang akhirnya bertemu muka dengannya. “Ah, sudah pergantian jam ya? Mian, aku terlalu asyik.”

Ilhae segera berbenah dan menutup aplikasi game dating yang sedang dimainkannya – well, game dari Jung Rein. Setelah semua bawaannya masuk ia berpamitan pada Dongju.

Begitu ia berada diluar ia tidak langsung menuju mobilnya melainkan berjalan menyusuri trotoar untuk sekedar mencari cafe. Gadis itu ingin meminum kopi panas selama perjalanan. Hanya terpisah satu block Ilhae menemukan cafe sederhana. Telapak tangannya sudah menyentuh pegangan pintu…

“Ilhae-ya!”

Otomatis tubuhnya berbalik dan menemukan Taecyeon yang sedang bersama Suyeon.

“Annyeong, kalian sedang berkencan ya?”

Taecyeon terperanjat dengan perkataan Ilhae dan segera memberikan jarak antara dirinya dan Suyeon. “Ani, aku hanya menemaninya berbelanja. Apa kau akan masuk?”

Ilhae menatap Suyeon yang menatapnya tajam. “Ne, aku bermaksud membeli kopi.”

Sebuah ide terpatri di pikiran Taecyeon. “Kalau begitu kenapa tidak bersamaku?”

Taecyeon sudah berganti pihak dengan berada di sisi Ilhae dan menarik tangan yeoja itu dalam genggamannya. “Taec…” Ilhae berusaha menarik tangannya.

“Suyeon, kutinggal dulu ya.”

Mwo?! Ilhae langsung gelagapan dengan perkataan Taecyeon. Matanya melotot dari hatinya yang terdalam, apakah namja ini ingin membuatnya diiris-iris oleh Suyeon?!

“Tidak perlu. Aku hanya membeli untuk dibawa pulang.”

Tetapi Taecyeon memaksa. “Sekali-kali mengobrollah denganku. Kau tidak memiliki acara lain bukan?” tanyannya tajam.

“Tidak, tapi Suyeon…”

Taecyeon memandang Suyeon yang tercengang dengan skenario yang baru saja terjadi. “Aku dan Suyeon sudah bermaksud untuk pulang. Tidak apa-apa.”

Suyeon, seumur hidupnya ia jarang diperlakukan seremeh itu dan semuanya berkat yeoja yang itu-itu saja. Geum Ilhae dan Jung Rein. Dengan perasaan terluka Suyeon memaksakan dirinya tersenyum. “Ne tidak apa-apa.”

Lalu kakinya yang mengenakan high heels itu melangkah pergi menuju mobilnya. Pikirannya tengah kacau dan ia benar-benar ingin melemparkan apa saja yang ia bisa.

“Kkaja.” Taecyeon yang puas melihat Suyeon meninggalkan lokasi menarik Ilhae yang merasa tidak nyaman.

Setelah memesan Ilhae dan Taecyeon duduk berhadap-hadapan di meja yang terletak paling pojok. Ilhae menundukkan kepalanya karena terlampau merasa canggung dengan situasi yang ada.

“Ilhae-ya, gwaenchana?”

Ilhae menganggukkan kepalanya. “Gwaenchana.”

Taecyeon melihat resah ke arah Ilhae. “Apakah kau membenciku?”

Ilhae yang sedang menarik nafasnya berhenti, sejenak suplai udaranya terputus begitu saja.

“M..mwo?” Ilhae berusaha mengklarifikasikan kalau telinganya tidak salah dengar.

“Kau tidak salah dengar Ilhae-ya.” Jawab Taecyeon.

“Eng… Aku tidak membencimu.” Jawab Ilhae sedikit menautkan kedua alisnya.

Taecyeon sudah ingin berkata lagi hanya saja pegawai cafe menginterupsi mereka.

“Ini pesanannya, hot latte dan hot americano.”

“Terima kasih.” Ilhae mengambil cupnya dan merangkumkan kedua tangannya untuk menerima kehangatan dari americano panas yang dipesannya.

“Tapi kau terlihat tidak nyaman.” Taecyeon berujar dan memperhatikan Ilhae yang tengah menyesap minumannya. Setelah satu tegukan Ilhae menjauhkan bibir cup dari mulutnya.

“Jujur saja, aku memang merasa tidak nyaman. Tetapi aku tidak membencimu.” Jawab Ilhae datar.

“Aku tidak mengerti.”

Ilhae menghembuskan nafasnya. “Secara keseluruhan kau bukanlah orang menyebalkan yang harus di benci. Kau baik dan ramah… Tapi…”

Taecyeon menunggu penjelasan gadis yang memang menarik untuknya itu, tidak bisa dipungkiri bahwa ia cukup tegang.

“Tapi kau tidak membuatku nyaman ketika berada di sekitarmu. Seperti mencoba untuk dekat tidak pada waktunya?” Suara Ilhae berubah ragu dan menampakkan ekspresi yang lucu. Gadis itu tidak mendapatkan kata-kata yang tepat dan itu membuat Taecyeon geli.

“Hahaha..”

“Jangan tertawa.” Ilhae kembali menyesap americanonya untuk mengalihkan perhatiannya.

“Baiklah. Namaku Ok Taecyeon. Namamu?” Taecyeon tersenyum mengulurkan tangannya ke arah Ilhae. Ilhae berjengit. “Aku tahu namamu.”

“Katamu aku ‘bersahabat’ denganmu terlalu cepat. Jadi aku mulai lagi dari awal dan menjadikannya seperti air mengalir.” Taecyeon masih menunjukkan deretan giginya yang rapi.

“Arra… Geum Ilhae.” Ilhae menerima tangan Taecyeon dengan enggan.

 

-:Rein’s PoV:-

Dasar gila!

Aku tidak tahan untuk tidak menggerutu. Sahabatku yang sepertinya sangat santai dalam menjalani pekerjaannya bisa-bisanya mengirimkan pesan berupa keluhan dalam bermain game. Saat itu aku sedang sangat sibuk. Cafe sangat ramai pengunjung saat itu, sehingga aku baru bisa membaca pesan itu sekarang.

Aku mengirim sebuah pesan balasan, tapi bukan membahas tentang Game Virtual Dating itu. Melainkan sesuatu yang lain.

To : Ilhae-ya

Chingu, kau tidak usah menjemputku hari ini. Gwaenchana. Kau bisa langsung mengarahkan mobilmu ke apartemen sehabis menyelesaikan pekerjaanmu.

Aku membuka pintu Paulo’s, bersiap untuk pulang. Melihat gelapnya malam aku sedikit meremang.

Baiklah! Aku akan mencoba sesuatu. Pulang dengan bus kota.

Aku sadar selama ini aku terlalu banyak merepotkan Ilhae yang selalu menjemputku. Lama- lama itu membuatku tidak enak dengannya.

Yah, walau kubilang aku bisa bergumul dengan angkutan umum. Tapi aku tidak pernah mencoba menaiki angkutan umum ketika hari sudah gelap. Yah, semua karena ketakutanku terhadap gelap – apalagi di tempat asing.

Itulah yang akan kucoba hari ini. Supaya kalau hari ini aku berhasil, besok-besok aku akan meminta Ilhae untuk tidak menjemputku lagi karena aku sudah bersahabat dengan bus kota di malam hari.

Aku menghembuskan napas, mencoba tenang. Lalu mulai berjalan keluar kawasan Paulo’s.

Hatiku berdebar kencang. Wajar mengingat ketakutan yang coba ku tahan. Aku mengepalkan kedua tanganku -mencoba menahan kegugupan.

Namun baru berjalan 5 langkah keluar dari kawasan Paulo’s. Seseorang menggenggam pergelangan tangan kanan..ku.

PENGUNTIT!!!!!!!!!!!

Alarm itu yang berbunyi nyaring dalam benakku. Sehingga tanpa aba-aba, aku melepas tas tangan yang ku sampirkan di bahu kiriku. Dan menggebuki sang penguntit tanpa ampun!

“YA!!!!!!! PERGIIII!!!!!” Sambil memukuli penguntit yang sekarang sedang menunduk sambil meringis, aku tersadar bahwa gantungan besi bergambar menara Eiffel yang menempel di tasku mengenai wajahnya dan menggores pipi kanannya sehingga darah keluar dari pipi penguntit yang mulus ini.

Tapi aku tidak perduli, aku terus memukuli orang ini dengan sekuat tenaga.

Namun dalam sekali hentakan tubuhku oleng ke belakang, karena sang penguntit menggenggam kedua tanganku dengan kuat.Yah, bagaimanapun seorang yeoja tidak diciptakan untuk bisa menahan tenaga seorang namja. Dan aku hanya bisa menutup mataku sementara sekujur tubuhku mulai gemetaran.

“INI AKU REIN!”

Hah… Suara ini?

“CHANYEOL!” Saat aku membuka mataku, aku bisa menghembuskan napas lega karena seseorang yang kusangka penguntit hanyalah seorang Park Chanyeol. Namun…

“OMO! PIPIMU!!”

 

-:Author’s PoV:-

Rein bergerak gelisah di dalam mobil Chanyeol. Dia khawatir dengan keadaan Chanyeol. Walau hanya goresan ringan tapi tetap saja itu adalah sebuah luka. Pipi Chanyeol yang berdarah karena gantungan tasnya. Tapi jika dia mau mengobati lukanya, itu berarti Chanyeol dan dirinya harus berada di apartemennya. Berdua saja.

“Apakah kau memikirkan mengapa aku bisa berada di Paulo’s tadi?”

“Hmmm?” Rein mendongak dan menghentikan kegusaran hatinya untuk mencerna perkataan Chanyeol.

“Kau terlihat memikirkan sesuatu. Apa itu yang kau pikirkan?” Rein masih terdiam dan menatap lurus seorang Park Chanyeol di balik kemudinya. “Jika iya, aku hanya sebatas sedang lewat daerah situ saja. Dan menemukanmu sedang berjalan sendirian. Kau kelihatan ketakutan sehingga aku menghampirimu.”

Yah, well. Walau sebenarnya aku tidak sebatas sedang lewat. Batin Chanyeol. Sebenarnya Chanyeol cukup sering memperhatikan Rein dari jauh saat ia bekerja. Dia terlihat manis dan cantik saat bekerja – sebenarnya setiap saat pun dia selalu terlihat manis dan cantik. Hanya saja Chanyeol sangat menyukai view Rein saat dia bekerja. Dan hari ini pun sama. Sampai Rein keluar dari Paulo’s dengan mata yang memancarkan cukup ketakutan hingga Chanyeol turun dari mobilnya hanya untuk mengecek bahwa yeoja itu baik-baik saja. Hanya saja.. Kesalah pahaman terjadi hari ini.

“Ah, gomawo. Atas tumpangannya.” Rein kembali sibuk dalam pemikirannya meninggalkan Chanyeol yang hanya tersenyum kecil.

“Eung. Park Chanyeol.”

“Hmmm?”

“Kau tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padaku, kan?”

Chanyeol mengerinyitkan alisnya mendengar pertanyaan Rein yang tiba-tiba ini.

“Tentu saja tidak.”

Aku terlalu mencintaimu untuk melukaimu lebih daripada yang pernah kulakukan di masa lalu, Jung Rein.

“Hmm.. Yaksok?”

Walaupun tidak mengerti arah pembicaraan Rein, Chanyeol hanya mengangguk pasti. “Yaksok.”

Hening sesaat sampai Rein menatap Chanyeol sekali lagi.

“Kalau begitu kau punya waktu untuk mengunjungi apartemenku. Aku ingin mengobati luka di pipimu.”

Dan Chanyeol hanya bisa merasa perasaan berbunga-bunga saat ini karena Rein-nya baru saja mengatakan hal termanis yang pernah ia dengar! Tentu saja Rein yang 100% sadar. Hal lainnya, Chanyeol bahkan pernah mendengar Rein mengatakan bahwa ia mungkin saja menyukai namja bermarga Park itu, bukan?

*-*-*

Ilhae membuka pintu mobilnya dan segera menuju lift. Setelah mengobrol selama kurang lebih 1 jam dengan Taecyeon akhirnya Ilhae memutuskan untuk pulang karena tidak nyaman. Namja itu banyak bertanya seputar dirinya yang berbanding terbalik dengan Ilhae yang bisa dibilang hanya tertarik dengan nama namja itu saja. Awalnya tentu saja Ilhae harus mendapati namja itu menawarkan diri untuk mengantar Ilhae pulang. Tetapi Ilhae menolak dengan alasan yang amat kuat – ia membawa mobil sendiri.

Tangan Ilhae menekan tombol lift dan kebetulan lift langsung terbuka, Ilhae memasuki lift – sedikit kewalahan karena sedang berkonsentrasi untuk memasukkan kunci mobil ke dalam tasnya.

“Apa yang sedang dilakukan oleh Rein ya?”

Ilhae menekan pin masuk pintu apartemennya.

“Ah.. sakit!”

Ilhae terdiam diambang pintu apartemennya sendiri karena terdengar suara maskulin yang tidak mungkin ada di dalam apartemen berpopulasi dua yeoja. Apakah ia salah masuk apartemen? Tidak mungkin, pin apartemennya terbuka.

“Rein?”

“Oh sial! Ilhae pulang.” Temannya mengumpat dari jauh.

Ilhae mengerutkan dahinya, apa yang sedang dilakukan sahabatnya itu?

Sebenarnya Rein hanya sedang memberi obat merah pada luka di wajah Chanyeol ketika Ilhae menemukan mereka berdua di ruang tengah saling berhadap-hadapan dengan jarak wajah yang tidak ada 30 cm. Ini semua salah Chanyeol karena dia terus-menerus merengek karena rasa sakit yang menurut Rein tidak seberapa.

Tapi kenapa reaksi Chanyeol segitu berlebihannya sehingga mereka harus berposisi seperti itu dalam waktu yang lebih dari 10 menit.

Rein langsung menarik diri dan segera berdeham tidak jelas. Sementara Chanyeol hanya cengengesan. Yah, sebenarnya Chanyeol sangat amat sengaja merengek-rengek seperti bayi. Semua karena ia ingin dekat-dekat dengan Rein, dan agar jari-jari panjang yeoja itu menyentuh wajahnya. Modus memang.

“Ya! Jangan bilang kalian mau melakukan itu lagi?” Ilhae langsung mengambil langkah seribu untuk menyeret Rein dari sofa – tempat ia duduk dengan Chanyeol.

“Itu? Itu apa? Lagi?” Rein gelapan karena kejadian ini. Namun dia tidak berpura-pura tidak mengerti maksud Ilhae. Karena dia memang bingung dengan konteks pertanyaan Ilhae.

Berbeda dengan Chanyeol yang langsung terlihat tidak santai. Ilhae berdecak dan kembali menghampiri Chanyeol dan memukul namja itu seketika.

“Ya! Untuk apa kau berada di sini?” Omel Ilhae.

“Hae-ya. Aku yang menyuruhnya datang ke sini.” Rein menyela.

Ilhae menoleh. “Kau? Menyuruh Chanyeol mampir? Dengan kesadaran penuh?” Mata yeoja itu menatap nyureng.

“Ya…” Rein menundukan kepalanya.

“Woah daebak… Sebenarnya, apa yang terjadi selama ini diantara kalian?” Ilhae menggaruk tengkuknya bingung.

“Tidak seperti yang kau pikirkan. WAIT! Kenapa aku harus repot-repot menjelaskan padamu layaknya aku adalah tersangka disini? Aku tidak melakukan kesalahan..” Rein melirik sekilas wajah Chanyeol dan nafasnya tertahan. “Yah.. Well. Kecuali luka di pipi namja itu. Jadi aku hanya sedang menebus kesalahanku dengan mengobati luka itu.”

“Aku benar-benar curiga di sini, Jung Rein…” Ilhae menyipitkan matanya.

“Terserah kau sajalah.” Lalu dengan langkah malas Rein melangkah meninggalkan ruang tengah dan masuk ke dalam kamarnya.

“Anak itu menghindari masalah…” Dengus Ilhae sebal.

“Sebenarnya tidak ada masalah disini, sampai kau datang Geum Ilhae. Astaga bahkan Rein tidak mengucapkan selamat malam atau hati- hati di jalan padaku. Tapi ya sudahlah. Aku pulang, Hae-ya…” Chanyeol mengambil jaketnya yang ia selampirkan di lengan sofa dan kunci mobilnya yang berada di meja di depan sofa lalu melewati Ilhae yang hanya bisa menahan amarahnya sambil megap-megap seperti ikan kurang air. Namja bermarga Park itu menepuk pelan pundak temannya sebelum benar-benar meninggalkan Ilhae di ruangan itu dan keluar dari apartemen orang yang ia cintai dan juga temannya yang sedikit emosian malam ini.

“Ige mwoya?!” Ilhae menggerutu.

Drrt… Drrt…

Ilhae mengambil ponselnya yang tersimpan di saku celananya dan membuka isinya.

From: 1148xxxxxx

Apakah kau sudah sampai ke apartemenmu dengan selamat?

Ilhae mengerutkan dahinya, siapa yang berani-berani mengirimkan pesan tidak dikenal?

“Ish!” Ilhae melempar ponselnya asal ke sofa tempat Chanyeol duduk tadi dan memasuki kamarnya.

BRAK!

Jauh di dalam kamarnya sendiri Rein terkejut mendengar suara pintu yang agak dibanting.

-:Rein’s PoV:-

Assa! Senang rasanya ketika kau keluar dari Joonmyung tanpa membawa satu pun tugas. Fix. Sampai satu minggu ke depan, kau tidak memiliki tugas apa-apa Jung Rein!

Entah mengapa aku bangga sekali dengan hal semacam ini. Mengingat tugasku yang terkadang tidak manusiawi, sekali-kalinya tidak diberikan tugas. Tentu aku senang sekali.

Langkahku terasa ringan menyusuri lorong Joonmyung yang cukup ramai siang ini. Aku melirik sekilas jam tangan putih yang melingkar di tangan kiriku.

Masih jam 1.45. Masih cukup banyak waktu sebelum pekerjaanku di Paulo’s.

Hmmm… Sepertinya aku bisa menuju suatu tempat untuk menghabiskan waktu luangku.

“Rei!” Aku menghentikan langkahku ketika mendengar seseorang memanggilku dan dari caranya, sudah pasti orang yang memanggilku hanyalah… Oh Sehun.

“Ya, apa yang kau lakukan dengan berjalan tergesa-gesa seperti itu?”

Sehun terkekeh, “Mengejarmu. Setelah dosen membubarkan kelas, kau langsung menghilang dari kelas.”

Ah! Aku tersenyum simpul.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang, Rei?” Sehun sepertinya bisa mencium dari gelagatku bahwa aku ingin pergi ke suatu tempat.

“Hmm.. Aku hanya ingin mencari makanan kura- kura sebenarnya.” Makanan si ‘Chanyeol’ yang kubeli di Incheon sudah menipis.

Namja bermarga Oh berwajah tampan kesukaanku ini mengerinyitkan keningnya. “Kura-kura?”

Aku mengangguk antusias. “Eoh! Saat aku pulang ke Incheon, aku membeli kura- kura.”

“Makanan kura- kura bisa kau temukan di toko ikan atau malah supermarket, Rei.”

“Ada supermarket yang menjual makanan kura-kura? Wow, aku baru tahu” Aku balik bertanya.

“Aku tahu di mana tempatnya. Kaja!”

Sehun mengenggam telapak tanganku dan menarikku. Aku hanya bisa menatap bingung ke arah tangannya yang mengenggamku erat.

“Wait. Wait! Kau mau menemaniku membeli makanan kura-kura?”

“Hmmm.. Kurasa aku juga tidak ada kegiatan setelah ini. Lagipula aku juga sedang ingin bersamamu, Rei.”

 

-:Ilhae’s PoV:-

“Ah! Sial!” aku menggebrak keyboard laptopku. Layar laptopku menunjukkan background pantai dengan sunset yang sangat disukai makhluk bernama Rein tetapi sekarang itu tidaklah penting. Sekali lagi karakter yang aku mainkan tidak mendapat happy ending. Sial Rein yang memberikanku game virtual dating ini. Yeoja itu telah mendapatkan happy endingnya pada berbagai karakter, sedangkan aku? Heol! Sulit.

Aku menutup laptopku seketika karena aku takut tanganku yang barbar ini akan merusak benda yang sudah berisi data-data pribadi yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Setelah memasukkan benda persegi panjang kembali pada tasnya aku menatap perpustakaan yang tengah sepi hari ini. Mungkin semua orang sama seperti Rein yang sedang tidak banyak tugas. Semalaman Rein sudah berteriak-teriak bahagia layaknya anak TK karena tidak memiliki tugas, aku sampai bosan mendengarnya.

Drrt… drrt…

Oh, ada yang mencariku? Tumben sekali. Aku membuka ponsel yang siap sedia di sampingku itu.

From: Jangmin

Hey! Apakah kau akan ikut denganku hari ini?

Ugh! Dasar Jangmin, sepupuku yang sangat suka melakukan banyak kegiatan baru-baru ini merongrongku untuk ikut kelas dance. Aku tidak mau tahu darimana ia mendapatkan info tersebut, yang mau aku tahu kenapa ia mengajakku sebagai korbannya? Aku menyesal pernah mengatakan padanya kalau aku ingin mencoba menari.

Drrt… drrt..

Belum sempat aku mengetikkan satu huruf, Jangmin sudah kembali mengirimkanku pesan.

From: Jangmin

Aku sudah mendaftarkanmu kau tahu? Informasi, kau sudah menyia-nyiakan dua pertemuan, kau juga harus mengasihani isi kelas yang menjadi ganjil. Jebal, kau harus datang.

MWO?!

Aku menyisir isi pesan itu lagi dan harus menahan sebuah godaan untuk membating benda mungil yang berada di tanganku ini. Benar-benar! Darimana ia mendapatkan uang untuk mendaftarkanku?

Dengan cepat jariku mengetikkan balasan.

To: Jangmin

YA! Darimana kau mendapatkan dana untuk mendaftarkanku? Kau gila ya? Aku hanya menjawab mungkin dan itu bukan IYA!!!!

Woah, dia cepat juga menjawabnya.

From: Jangmin

Aku memintanya dari eommamu, aku meneleponnya dan ia sangat senang karena kau mau mengikuti sebuah kegiatan.

Meminta dari eomma?! Seketika aku membeku dan seluruh bulu kudukku berdiri. Jika eomma yang mengeluarkan uang untuk ini sedangkan aku bahkan sudah melewatkan dua pertemuan… bagaimana jika ia bertanya?! Aku bisa dicincang habis-habisan karena pasal menghabiskan uang dengan percuma.

Aku bersumpah ingin membunuh sepupuku yang kurang ajar ini. Sebaiknya aku datang. Ah! Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Bagaimana dengan tugas calculusku? 50 soal sudah menunggu. Aku sudah mengerjakannya tetapi aku meninggalkan soal terakhir yang paling sulit, tadinya aku berencana mengerjakannya sore ini, but… this is another story. Selamat datang jam begadang.

To: Jangmin

Baiklah aku datang, dasar kau setan dari alam baka! Jam berapa? Di mana?

From: Jangmin

Ehehehe, maafkan aku, kalau tidak aku akan kesepian. Tenanglah kau berbakat dalam bidang ini. Jam 2 sampai jam 4. Di daerah tempatmu bekerja. Kalau tidak salah hanya berbeda 3 block, dekat dari sebuah cafe kecil.

*-*-*

Aku memandang gedung sederhana di depanku dengan beban, apakah aku bisa bertahan? Aku berbakat dari mana! Berjalan tanpa tersandung juga sebuah keberuntungan bagiku – kata Rein yang membuatku sakit hati.

Baiklah ayo selesaikan saja. Aku menguatkan diriku dan berjalan masuk. Aku menemukan resepsionist dengan seorang yeoja yang terlihat lebih tua dariku.

“Uhm…”

Dia mendongak dan tersenyum padaku. “Ada yang bisa aku bantu?”

“Namaku Geum Ilhae.”

“AH! Kau sepupunya Jangmin? Akhirnya kau datang, kau tahu dia sangat membangga-banggakan dirimu. Katanya kau pintar menari ya?”

“Ti… tidak!” Aku langsung mengklarifikasikan sebelum rumour miring itu melekat dan mempermalukanku.

“ILHAE!”

Aku tersentak ketika seseorang menepuk pundakku yang tidak lain adalah Jangmin, si penjahat kecil ini.

“Apa? Kau telah menyeretku ke kadang singa, dan jangan pernah bilang aku ini pintar menari.”

Yeoja dengan tinggi yang hanya 155cm itu mengeluarkan mimik menyedihkannya yang langsung ingin kutendang saat itu juga. Mungkin Jangmin bisa saja menjadi yeoja paling imut dengan rambutnya yang selalu ditata dan baju berenda-renda plus berbunga-bunga, tapi tidak bagiku.

“Ayo, jangan banyak bicara.”

Lalu kami berjalan bersama menaikki tangga menuju lantai dua. Kami berhadapan dengan lorong dan aku penasaran kenapa banyak sekali pintu di sini.

“Kenapa banyak sekali pintu?”

“Karena di sini bukan hanya tempat menari. Ada les vokal, les alat musik, bahkan drama.”

Jangmin menjawabku kemudian ia mendorong pintu yang terletak tidak jauh dari tangga. Penglihatanku tertutup oleh tubuhnya tetapi mulutnya dengan suara hebat itu langsung berkicau.

“Jongin! Kau sudah datang!”

“Sudah kubilang panggil aku Kai.”

Detik berikutnya aku langsung berbalik bermaksud pulang. Tetapi tanganku sudah ditahan oleh Jangmin yang ternyata tidak ingin membiarkanku bergerak menjauh.

“Oh ya aku membawa sepupuku yang sudah pernah aku bicarakan itu. Namanya Ilhae.”

Dengan kecepatan cahaya Jangmin menarikku masuk dengan satu sentakan cepat. Aku memutuskan untuk melihat sekeliling ruangan yang memiliki kaca sebagai dindingnya dan lantai kayu. Mataku menolak untuk melihat ke depan.

“Aku sudah mengenalnya.” Kata Kai datar.

Dunia memang sempit sekali!

Rein sahabat dekatku merangkap teman seapartemenku adalah rekan kerja namja ini, Kyungsoo teman masa kecilku adalah teman dekat namja ini, dan sekarang… Jangmin juga?

INI GILA! GILA! Dan GILA!

Dan rupanya, Rein tidak berbohong saat mengatakan bahwa Kai, namja yang sangat lihai dalam menari. Ingat kan? Saat kejadian jempol kakiku yang terpentok meja dan berakhir diurut Kai di Paulo’s saat aku mencari Rein? Rein juga mengatakan Kai pintar menari saat itu. Itu tidak bohong, Kai sepertinya memang memiliki peranan dalam dunia menari.

 

-:Author’s PoV:-

“Rei?” Ini sudah ke 4 kalinya dalam 10 menit terakhir Sehun terus memanggil-manggil Jung Rein. Yeoja itu kelihatan tidak fokus dan sibuk dengan ponselnya. Mengetikan sesuatu dengan wajah kesal dan gusar.

“Eoh?” Akhirnya Rein mengangkat wajahnya dari ponsel dan menatap Sehun dengan rasa bersalah.

Kini mereka sedang berada di salah satu kedai bubble tea di kawasan Myeongdong. Seperti biasa, Sehun selalu mengunjungi kedai bubble tea setiap kali dia berjalan-jalan, Rein paham itu.

Arah pandang Rein jatuh pada choco bubble tea milik Sehun yang tinggal setengahnya saja. Sementara Taro bubble tea milik Rein masih penuh dan belum terjamah.

“Ada apa?” Sehun dengan poker facenya menunjuk ke ponsel Rein dengan dagunya.

“Eoh? Aniyo! Hanya orang yang menganggu.”

Orang yang mengganggu? Park Chanyeol?

Sehun membatin, dia rasa Rein benar- benar sibuk meladeni Chanyeol lewat ponselnya. Namja bermarga Oh itu benar-benar tidak suka akan hal itu. Sekarang Rein sedang bersamanya, seharusnya perhatian yeoja itu hanya untuknya.

“Rei. Kalau menganggumu, kau bisa melakukan hal semacam ini kan?”

Rein hanya bisa tercengang ketika ponsel putih yang berada di genggamannya tiba- tiba direbut secara halus oleh Sehun. Lalu namja itu mematikan ponselnya, dan mencabut baterainya.

“Sehun-ah?”

“Ketika bersamaku, kau seharusnya hanya memperhatikanku, Jung Rein.”

OHO! Ini tidak baik. Ketika Sehun sudah memanggil Rein dengan nama lengkapnya berarti ada sesuatu yang ganjil dengan dirinya sehingga Sehun terganggu. Terakhir kali hal ini terjadi adalah ketika Rein marah besar pada Sehun karena suatu hal. Yang ternyata suatu hal itu hanyalah sebuah salah paham belaka.

“Mian.. Mian.. Sehun-ah.” Rein mengambil kembali ponselnya – yang baterainya sudah dilepas dan memasukannya begitu saja ke tas selempangnya.

“Rei, jangan mengacuhkanku, arasseo?”

Layaknya anak kecil yang sedang dinasehati oleh orang tuanya. Rein mengangguk-angguk dengan tampang bersalah. Rambutnya yang dikucir ekor kuda hari ini bergerak-gerak dinamis sehingga membuat wajah Jung Rein terlihat lebih imut.

Seketika kekesalan Sehun memudar digantikan perasaan yang membuat jantungnya berdegup kencang. Sehun tidak pernah merasakan hal ini kepada yeoja lain, hanya Reinnya lah yang berhasil membuatnya merasakan jantung yang berdebar-debar seperti ini.

Sehun tersenyum, dan Rein tahu Sehun sudah tidak kesal lagi padanya.

*-*-*

“Ya, tangan kanannya ke atas, silang ke lutut kiri, lalu tangan kiri silang ke lutut kanan. Buka kakinya pindahkan kedua tangan, body wave sembari mengangkat tangannya ke atas.”

Ilhae dengan datarnya mengikuti instruksi yang tengah diberikan. Kelas berisikan 8 orang ini telah membuatnya bosan luar biasa. Intruksi yang diberikan terlalu lambat dan Ilhae benar-benar ingin mengganti musik yang berirama slow itu dan posisinya yang benar-benar berada didepan stereo tidak membantu godaan yang tengah ia hadapi.

“Maju 3 langkah, geurae sambil menurunkan tangan.. Dan loncat 3 kali sambil berputar.”

Sesigap mungkin Ilhae mengikuti apa yang dikatakan instruktur berindentitas namja itu. Ketika sedang berputar Ilhae menatap ke belakang dan menemukan sosok Kai yang tengah melakukan gerakan yang sama tetapi lebih enak dilihat. Well, kemampuan namja itu menari tidaklah hanya sebatas pemula karena sepanjang pelajaran sesekali dirinya mengamati – tentu saja bukan disengaja. Ia hanya melihat ketika gerakan yang dilakukan membutuhkan perpindahan posisi.

“Sst.. Kapan kelas ini akan berakhir?” Ilhae berbisik pada Jangmin yang tepat berada di sebelahnya.

“Hmmm 75 menit lagi.” Jangmin menjawabnya tanpa melirik sekalipun. Sepupunya itu tengah berkonsentrasi memperbaiki gerakannya.

“Jangan bercanda! Kita baru berada di sini 45 menit?”

Jangmin menjawab. “Ne, kau tidak lihat jam ya? Itu tergantung di dinding.”

Ilhae mengikuti telunjuk Jangmin yang dengan senang hati menunjuk jam dinding. Mau dikatakan bagaimanapun, perkataan Jangmin benar adanya. Jika saja ia bisa pulang lebih cepat… Bayangan tugas yang belum ia selesaikan terus-terusan menghantui pikirannya.

“Baiklah… Waktu istirahat 10 menit, berikan detail pada gerakan kalian dan kita akan memulai lagi dengan beat yang lebih cepat.”

Mendengar pengarahan instruktur yang kalau tidak salah ingat bernama Yoo Baram – yep si angin, pada akhirnya Ilhae mengatainya, Ilhae langsung menyergap tasnya yang bersandar pada dinding kaca tersebut. Ia membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada Rein – berharap yeoja itu bersedia berkirim pesan dengannya selama 10 menit.

“Ya! Ilhae! Ayo berlatih…”

Ilhae memandang wajah Jangmin yang terbalik karena posisinya yang tengah terbaring terlentang.

“Kai! Ajari aku!” Teriak Jangmin tidak lama kemudian.

Ilhae langsung saja berguling mengubah posisinya memunggungi ruang latihan, yeoja dengan marga Geum ini lebih memilih untuk menghadap kaca dan melihat pantulan-pantulan kaki.

“Ah.. Begini? Jinjja! Sulit! Bagaimana bisa kau body wave sebegitu luwesnya.”

Ilhae mengulurkan tangannya untuk mengambil ponsel bermaksud mengecheck balasan dari Rein, tapi hasilnya nihil. Tidak memiliki kegiatan penting lainnya Ilhae mengotak-atik media sosial yang ada di ponselnya.

“Woah! Daebak Kai-ya!”

“Ck?!” Ilhae berdecak sembari melirik sinis ke arah Jangmin dan Kai yang tengah berlatih berdua. Terlihat sekali kalau sepupunya itu tengah merayu Kai. Jempol Ilhae menyentuh layar ponselnya dan bergerak kebawah untuk melihat-lihat isi timeline twitternya.

@han_saera99 OMO!!! Yixing sunbae menjadi penyanyi solo! Ah! Pasti tampan!

Ilhae terdiam melihat ponselnya dan kehebohan batin segera menyertainya, “Uwoh! Jung Rein! Ppali balas pesanku! Yixing sunbaemu!!” Ilhae merefresh terus inboxnya.

Di sisi lain, namja bernama lengkap Kim Jongin tengah merasa risih dengan kelakuan Jangmin. Yeoja dengan baju yang senada dari atas sampai bawah. Semuanya berwarna biru tidak lupa dengan ikat rambut, anting, dan sepatu. Lalu matanya melirik ke arah yeoja yang tengah menjadi seonggok daging tidak jauh dari mereka – yeoja itu hanya mengenakan celana training hitam dan kaus putih belel. Sepatunya pun hanya sneakers biasa berwarna coklat.

Jangmin yang melihat Kai yang tengah menelisik sepupunya itu beringsut mendekat dan dengan suara kecil ia berucap. “Mian, sepupuku itu memang kurang persiapan. Itu baju tidur Ilhae yang ia simpan di rumahku untuk menginap di ketika dia datang kesana sebenarnya.”

Kai memutar bola matanya. Geum Jangmin adalah orang yang tidak bisa menjaga mulutnya dan baru saja membuka aib sepupunya.

“Geum Jangmin! Apakah kau memberikan nomor ponselku pada temanmu lagi? Atau mereka mencuri lihat ketika kau membiarkan mereka bermain dengan ponselmu?!” Ilhae berteriak tanpa mengganti posisinya.

Jangmin terbelalak. “Aniya! Itu sudah tidak pernah terjadi lagi sejak Senior High School!”

Ilhae memelototi layar ponselnya. Sebuah pesan asing dengan nomor asing yang sama seperti saat insiden Chanyeol-Rein di apartemen.

“Salahkan saja dirimu yang terlalu banyak memberikan informasi itu. Orang jadi mudah mencurigaimu.” Sahut Ilhae.

*-*-*

“Kenapa kau membeli kantung makanan kura- kura berukuran kecil, Rei?” Jung Rein dan Oh Sehun baru saja keluar dari supermarket yang Sehun bicarakan di Joonmyung tadi siang.

“Eung.. Budgetku hanya cukup membeli yang ini.” Salah tingkah, Rein tersenyum tipis. Kata lain kalimatnya sebenarnya.. Uangku tidak cukup.

“Kau bisa mengatakannya padaku dan aku bisa membelikannya untukmu.”

“Aniyo. Kau tahu sendiri aku tidak suka berhutang.”

Sehun baru saja ingin mendebat Rein karena yeoja itu menolak keinginannya. Tapi Rein menggeleng sambil tersenyum. “Gomawo sudah menemaniku.” Seakan- akan ia mau mengalihkan pembicaraan. Sehingga Sehun pun mulai membicarakan hal lain selain budget membeli makanan kura- kura.

“Siapa nama kura-kuramu, Rei?” Ada senyuman jahil di balik ucapan Sehun. Dan Rein bingung karenanya.

“Wae?”

“Kau akan menamainya nama orang-orang di sekitarmu, bukan?” Rein mengerutkan keningnya. “Kau selalu memberi nama hewan-hewan peliharaanmu dengan nama orang-orang di sekitarmu, ingat? Kau pernah memberi nama kucing di rumah orang tuamu dengan Ilhae. Lalu kau pernah memelihara anjing dengan nama teman Junior Highschoolmu. Kau sendiri yang menceritakannya padaku.”

Ah! Benar juga yah. Rein menepuk keningnya. Sepertinya memang sebuah kebiasaan, Jung Rein.

“Hebat kau masih mengingat ceritaku.”

Sehun terkekeh, “Aku selalu mengingat setiap ceritamu.”

Rein menatap Sehun sambil tersenyum, membuat ada gelenyar aneh yang muncul dalam diri Sehun. Namja dengan tinggi di atas 180cm itu berdeham-deham kecil. “Jadi siapa namanya?”

Yeoja itu tersenyum kecil. “Bimil!” Rahasia, tentu saja. Rein mana berani mengatakan bahwa nama kura- kuranya itu adalah Chanyeol. “Tapi akan kupertimbangkan untuk merubah nama kura- kuraku dengan nama Sehun. Hahaha.”

“Senang kau mau menamainya dengan namaku.” Sepertinya Sehun tidak mengerti nada canda di balik kalimat yeoja di sampingnya, sehingga Rein buru- buru tersenyum kikuk.

“Kau tidak keberatan disamakan dengan kura- kura?”

“Ani, kau sangat menyukai memelihara binatang kan, Rei. Kurasa nama orang- orang yang pernah menjadi nama binatang kesayanganmu termasuk jejeran nama orang- orang yang paling kau sayangi.”

DEGG

Sial! Kalau begitu bagaimana dengan Park Chanyeol, Sehun-ah? Tidak. Ini hanya asumsi Sehun, kan.

“Aahhaha kau bisa saja.” Rein mengibas- ngibaskan tangannya.

“Kau ingin ke mana setelah ini?” Mengganti topik pembicaraan agar Rein tidak memikirkan hal yang tidak ingin dipikirkannya.

Setelah kedai bubble tea, memasuki Game Center, dan berakhir di supermarket ini. Ternyata masih ada beberapa waktu sebelum jam kerjanya di Paulo’s.

“Kau mau menemaniku membeli sepatu olah raga? Mumpung kita masih di daerah pertokoan. Setelah itu aku berjanji akan mengantarmu ke tempat kerjamu.” Tawar Sehun.

“CALL. KAJA.” Lalu tanpa sadar tangan Rein yang bebas, mengenggam pergelangan tangan Sehun dan menariknya. Mungkin refleks, tapi bagi Sehun ada sesuatu yang menghangatkan hatinya lewat sentuhan Rein. Lalu tanpa pikir panjang, dia menggerakan tangannya untuk menggenggam telapak tangan Rein.

Rein menoleh dan memandang wajah Sehun dengan tatapan bingung, tapi Sehun hanya menaikan satu alisnya dan mulai berjalan dengan tangan Rein yang berada dalam genggamannya.

*-*-*

“Ya… Latihan hari ini selesai. Sampai ketemu minggu depan!” Baram membubarkan kelas.

Ilhae langsung meraih tasnya bermaksud langsung pergi ke ruang ganti. Sepanjang jalan menuju ruang ganti Ilhae terus-terusan menatap ponselnya cemas. Ke mana lagi seorang Jung Rein?! Yeoja itu memiliki shift sore dan sekarang ia benar-benar khawatir.

“Ya! Ke mana perginya Jung Rein?!” Ilhae mencoba menghubungi yeoja itu tapi yang membalas panggilannya adalah operator.

“Baiklah Rein! Apakah sekarang kau memiliki operator sebagai sekertarismu?!” Ilhae memelototi ponselnya hasil dari kegagalannya menelepon Rein.

Ilhae sebagai teman kental yeoja bernama Rein itu sangat-sangat khawatir dan tidak akan tinggal diam. Bagaimana kalau sahabatnya itu diculik? Ia harus menjemput Rein ke Paulo’s!

Ilhae mendorong pintu ruang ganti dan menemukan kaca yang memantulkan siluet dirinya. Ilhae melihat pantulan dirinya yang sedang tidak berkacamata itu. Rambutnya lengket karena keringat dan bajunya juga menempel karena keringat.

“Annyeong friends!”

Ilhae menoleh dan menemukan Jangmin yang baru memasuki ruangan. Yeoja itu terlihat lebih baik darinya, tidak terlalu berkeringat.

“Hey Jangmin! Apakah kau membawa handuk dan sabun?” Ia membalikkan badan dari konsentrasinya menatap pantulan diri.

Jangmin yang tengah menyapa teman-temannya itu menoleh pada sepupunya. “Tentu saja. Wae?”

“Aku berencana ke Paulo’s sesudah ini dan aku tentu tidak akan datang seperti ini.” Ilhae membiarkan Jangmin melihat dirinya dari atas sampai bawah.

“Paulo’s?”

“Tempat kerja temanku.”

Jangmin terdiam sejenak. “Ah.. Arra, aku akan mandi di rumah.”

Ilhae menerima handuk dan kotak sabun dari Jangmin lalu langsung berjalan lurus ke bilik kamar mandi.

Setengah jam kemudian Ilhae sudah bersih dan segar dengan wangi sabun Jangmin yang terlampau manis – berbeda dengan sabunnya yang berbau citrus. Ilhae yang sedang mengeringkan rambut panjangnya sekering mungkin mencari-cari sosok Jangmin.

Ke mana perginya yeoja itu?

Ilhae mengedikkan bahunya dan berjalan keluar ruang ganti, ia berharap bisa menemukan Jangmin diluar. Dan benar seperti perkiraannya Jangmin memang tidak berada di ruang ganti lagi, tapi yeoja itu kembali berada di ruang latihan. Ilhae berjalan mendekati ruangan tersebut dan mendapatkan pemandangan yang lebih akurat tentang gerombolan yeoja yang ia anggap sedang bergosip.

Rupanya dibalik sekerumun yeoja tersebut tersembunyi sosok Kai yang ternyata memiliki banyak penggemar.

“Cih.. Ya! Geum Jangmin, gomawo handuk dan sabunnya. Aku pergi dulu. Annyeong!” Ilhae menepuk pundak Jangmin sebelum pergi.

*-*-*

Ilhae melirik jam yang tertera pada layar ponselnya. 45 menit lagi shift seorang Jung Rein akan dimulai tapi ia tidak menemukan keberadaan yeoja itu dari luar Paulo’s. Ilhae mengernyit sekali lagi karena ponselnya tak kunjung menerima balasan pesan dari Rein. Tanpa mengalihkan pandangannya Ilhae berjalan lurus dan tangannya terulur hendak membuka pintu, tetapi tangannya malah bersentuhan dengan tangan yang hangat. Hal tersebut membuat Ilhae mendongak dan menahan nafasnya. Kenapa dari semua orang yang ada di muka bumi, ia harus bersinggungan dengan Kai?! Dan astaga, bukankah terakhir kali ia melihat Kai adalah ketika dia dikerubungi oleh yeoja- yeoja fansnya? Ckk.. Kenapa dia sudah ada di sini lagi?

Sejenak mereka berpandangan sedetik kemudian Kai mengalihkan pandangannya dan berjalan memasuki Paulo’s. Ilhae terdiam beberapa saat sampai sosok dengan punggung tegap itu menghilang, barulah ia menyusul masuk.

Sambil menunggu kedatangan Jung Rein, Ilhae membuka emailnya dan tersenyum lega karena Heseul telah mengirimkannya foto soal calculus dan ia bisa mengerjakannya tanpa harus pulang ke apartemen. Di bukannya buku serba guna bernama loose leaf itu dan pada lembar kosong mulai mengerjakan masalah terakhirnya.

“Ya! Ilhae-ya!” Ilhae memutar tubuhnya 180 derajat untuk menemukan wajah kesal Chanyeol menghadangnya.

“Mwo?!”

“Astaga galak sekali!”

Ilhae memutar bola matanya malas. Percaya padanya sebentar lagi Chanyeol akan menanyakan sesuatu tentang Rein.

“Apakah kau tahu sekarang Rein ada di mana?”

BINGO!

“Molla. Aku sudah mencoba menghubunginya, tapi hasilnya nihil! Ponselnya sepertinya mati.” Jawab Ilhae apa adanya sambil mengerucutkan bibirnya.

“Geurrae! Sekitar satu setengah jam yang lalu aku masih bisa menghubunginya. Yah well untuk sekedar menanyakan apa yang dia lakukan. Tapi setelah itu bagai hilang di tengah badai besar, ponsel Rein tidak bisa dihubungi.” Cara bicara Chanyeol benar- benar membuat Ilhae sebal. Melebih-lebihkan. Hiperbola.

“Lalu?”

“Yah, well. Aku hanya khawatir dan mencarinya di Paulo’s mengingat sekarang adalah shift kerja yeoja itu. Ah, apa yang kau lakukan disini?”

Ilhae masih mendengarkan penuturan Chanyeol tapi matanya telah terfokus ke sisi belakang Chanyeol. Tepatnya pada 2 sosok namja dan yeoja yang sedang berbincang- bincang dengan wajah ceria, dan juga… Mereka bergandengan tangan?!

WHAT THE-

“YEOL!!! Kau bisa mengantarku pulang sekarang?!” Ilhae panik untuk menyelamatkan situasi.

“Ya, ya! Wae?” Chanyeol tentu saja bisa merasakan sesuatu yang mencurigakan, lantas ia menoleh ke belakang.

Dan…. APA- APAAN INI?!

Dia baru saja menemukan Rein dan Sehun berjalan bersama- sama dan terlihat seperti orang yang baru selesai berkencan. Kedua makhluk itu masih belum menyadari keberadaan dirinya dan Ilhae.

Seakan-akan mereka terlalu terfokus dengan dunianya sendiri.

To Be Continue…

21 pemikiran pada “Cynicalace (Chapter 10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s