2 Reasons (Chapter 6)

2 Reasons

IMG_20140512_065937

 

Tittle : 2 Reasons

Rating : 17+

Lenght : Chapter 6 of 7

Genre : Romance, Friendship, AU

Language: Indonesia

Scriptwriter : RV

Main Cast : Park Chanyeol & Wu Yifan/Kris (EXO), Kang Raera (OC), Park Chorong (A Pink).

Support Cast : Baekhyun & Jongdae (Exo), Kang Raehyun (OC) etc.

 

Chapter 6 “Park Chorong, I’m in love with you”

 

Sesampainya di depan pintu perpustakaan kris menghentikan langkahnya. Ia mengambil napas lalu mendorong kenop pintu bersamaan dengan ia membuang napas.

Kris melihat seorang wanita sedang duduk di tempat penjaga perpus, tapi ia tahu pasti bahwa wanita itu bukan chorong melainkan seseorang yang berbeda yang sekiranya jauh lebih tua darinya.

 

Kris memutuskan mendekati wanita itu.

“Chogi.. dimana Park Chorong?” Tanya kris.

 

Wanita itu menoleh lalu mengernyitkan dahinya.

“Park Chorong? Nugu?”

 

Kris agak tergelak mendapati reaksi wanita dihadapannya.

 

“Kau tidak mengenalnya?” Tanya kris dengan ekspresi tidak percaya.

“Tidak”

“Park chorong! Dia penjaga perpustakaan disini”

“Maaf aku tidak kenal, aku hanya disuruh menjaga perpustakaan oleh ketua yayasan untuk menggantikan penjaga perpus sebelumnya” jelas wanita itu.

“Jadi maksudmu park chorong sudah tidak bekerja disini? Dan kau penggantinya?” Tanya kris, dadanya serasa terpukul dengan benda tumpul.

“Aku kurang tahu kalau masalah itu, aku hanya menjalankan perintah, tapi ketua yayasan tidak bicara apa-apa padaku tentang menjadi penjaga perpustakaan tetap, ia hanya bilang agar hari ini aku menjaga perpustakaan. Itu saja”

“Apa kau tahu alasan kenapa Kau menggantikannya? Maksudku.. alasan park chorong hari ini tidak datang apa kau tahu?”

“Maaf” ucap wanita itu sambil menggeleng menyesal.

 

Tanpa mengucapkan apa-apa lagi kris langsung melengos pergi.

 

Kris berjalan dengan tempo cepat di koridor, saat berbelok tanpa terduga dia menghantam tubuh seseorang membuat orang yang ia tabrak terjatuh.

 

“Auuh” ringis yeoja yang ia tabrak.

 

Kris hanya diam mematung saat tahu siapa yeoja yang ia tabrak.

 

Raera memandang kris sekilas lalu ia bangun dari tempat ia terjatuh.

 

“Sepertinya kata maaf begitu sulit bagimu” sindir raera.

“Maaf” ucap kris singkat.

 

Raera menghela napas, lalu ia tersenyum miris.

 

Karena tidak nyaman dengan situasi ini kris memutuskan untuk pergi terlebih dahulu.

 

*

 

“Sebenarnya apa yang menganggumu?” Tanya baekhyun.

“Tentang raera?” Jongdae menambahkan.

 

Chanyeol menggigit bibirnya lalu menghela napas gusar.

“Aku merasakan ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku”

 

Jongdae: “Benarkah? Mengenai apa?”

“Perasaannya! Aku rasa dia masih menyukai kris”

Baekhyun: “Ahh jinjja.. benar-benar gadis itu”

“Apa kau yakin?” Tanya jongdae.

“Entahlah.. yang jelas aku merasa bahwa perasaan raera terhadap kris semakin besar, dan.. dan itu membuatku resah” jelas chanyeol.

“Itu tidak bisa dibiarkan!” Seru baekhyun “kau harus melakukan sesuatu!” Lanjutnya.

“Apa?? Aku tidak tahu!” Ujar chanyeol frustasi.

“Kau harus tenang, chanyeol-ah. Kita akan pikirkan cara yang terbaik untuk hubungan kalian” ucap jongdae menenangkan.

 

*

~Keesokkan Harinya~

 

Chorong turun dari bis. Ia menengadahkan wajahnya menatap matahari pagi yang sinarnya menyentuh hangat wajahnya, ia tersenyum kecil lalu melangkahkan kakinya menuju Universitas Nasional Seoul. Ia Berjalan menunduk menghindari tatap wajah dengan orang-orang disekitarnya, Sekedar terlalu canggung untuk tersenyum atau menyapa orang asing yang membuatnya gugup.

 

Saat melewati tempat parkir chorong berpapasan dengan chanyeol. Chanyeol agak terkejut sampai ia menoleh 2 kali untuk memastikan siapa yang ia lihat, lalu ia sedikit berbungkuk dan tersenyum pada chorong.

 

“Anyeong, kita bertemu lagi” sapa chanyeol.

“Mmm anyeong” balas chorong menundukkan kepalanya.

 

Mereka terdiam beberapa saat.

 

“Kau Park chanyeol ya?” Tanya chorong berusaha mengingat.

“Ne, itu namaku” jawab chanyeol “Kau tahu namaku darimana?” Tambah chanyeol.

“Kris pernah menyinggung namamu” jawab chorong polos.

 

Chanyeol memandang chorong sambil berpikir apa ia pernah melihat yeoja lebih imut dari yeoja dihadapannya ini.

 

“Ahh begitu.. sepertinya kau dekat dengan kris”

“Apa terlihat seperti itu?” Tanya chorong tanpa ekspresi.

 

Chanyeol sempat berpikir lalu ia tersenyum kaku menanggapi reaksi chorong.

“Iy..yaa.. begitu”

 

Chorong menggaruk belakang kepalanya terkesan bingung lalu ia tertawa.

“Aneh haha”

“A..apanya yang aneh?” Tanya chanyeol.

 

Chorong menggeleng.

“Kau pihak yang beruntung chanyeol-ssi”

 

Tanpa menunggu respon dari chanyeol yang tampak kebingungan, chorong pamit.

“Aku pergi chanyeol-ssi, selamat tinggal”

 

Chorong mempercepat langkahnya meninggalkan chanyeol di belakang.

 

“Aku pihak yang beruntung? Apa maksudnya?” Gumam chanyeol.

 

*

 

Chorong berjalan tenang di lorong menuju perpus, saat ia sudah dekat ia melihat sosok pria jangkung berdiri di depan pintu perpus dengan gagahnya.

 

Chorong tahu betul siapa sosok namja itu dengan berat hati ia mendekati sosok itu.

 

“Kau menungguku ya?” Tanya chorong.

 

Kris reflek menoleh ke chorong, terpampang ekspresi terkejut juga sekaligus lega.

 

“Iya aku menunggumu! Kau kemarin kemana? Kenapa tidak kesini?” Sembur kris.

 

Chorong berpikir sebentar.

“Kemarin? Kemarin aku kuliah pagi” gumam chorong.

“Kau kuliah juga?”

“Kau kira hanya kau yang bisa kuliah!” Jawab chorong agak kesal.

“Kau kuliah dimana?”

“Bukan urusanmu~” ujar chorong sambil mencubit pipi kris gemas.

 

Kris hanya diam tidak keberatan diperlakukan seperti itu oleh chorong, ia memandang chorong tanpa ekspresi membuat chorong salah tingkah.

 

Chorong melepaskan cubitannya lalu ia meremas kedua tangannya.

“Aku permisi” ucap chorong sambil menunduk tidak berani menatap mata kris.

 

“Nanti pulang bersamaku!” Seru kris.

“Ne?” Chorong terkejut.

 

Kris tersenyum lalu ia berbalik pergi.

 

“Kenapa aku jadi berurusan terus dengan dia?” gumam chorong pada dirinya.

 

*

 

-Perpustakaan-

 

“Park Chorong, ayo pulang!”

 

Chorong yang sedang berjongkok merapikan berkas berkas di laci meja reflek berdiri tapi sialnya kepalanya terantuk meja dengan keras.

 

“Auuh” ringis chorong sambil memegangi puncak kepalanya.

“Neo gwenchana?” Tanya kris khawatir.

 

Chorong memandang kris dengan sebal.

“Ini salahmu karena mengagetkanku” rengek chorong, air mata sudah bertumpuk di pelupuk matanya.

“Maaf, Apa sakit?” Kris berusaha memegang kepala chorong tapi ia urungkan.

“Tentu saja sakit!”

“Sakit sekali kah?”

“Kau pikir saja!” Ujar chorong agak meninggikan suaranya.

“Maaf maaf, aku sama sekali tidak bermaksud” ucap kris, baru kali ini ia begitu merasa bersalah sekaligus takut pada seorang gadis.

 

Dari kejauhan luhan dan sehun memata-matai mereka dari balik rak buku.

 

“Sejak kapan kris hyung jadi lembek begitu? Seperti bukan kris hyung saja” bisik sehun sambil menggeleng kecil tidak percaya dengan apa yang ia saksikan.

“Dia memang sudah kehilangan akal sehatnya, bahkan dia tidak bisa bertingkah keren di depan gadis itu” cibir luhan.

 

Mereka terdiam beberapa saat.

 

“Dia bahkan dengan mudahnya memohon maaf pada gadis itu!!” ujar luhan tiba-tiba sulit percaya.

“jaga mulutmu hyung, kau mengagetkanku” perintah sehun datar.

 

Kembali pada kris yang saat itu masih merasa bersalah pada chorong.

 

“Yasudah ayo aku antar kau pulang” tawar kris.

“Belum bisa, jam kerjaku masih 1 jam lagi”

“Benarkah? Yasudah tidak apa-apa aku akan menunggumu”

 

Chorong menatap kris dengan serius.

“Kenapa kau baik sekali padaku? Aku sudah bilang kalau aku tidak punya niat untuk berteman denganmu”

“Kau kira aku mau jadi temanmu?” Balas kris sangsi.

“Lalu kenapa kau terus mendekatiku? Kau ingin menjadikanku yeojachingu-mu?” Tanya chorong asal.

“Iya! Kau puas?!” Jawab kris tanpa berpikir.

 

“Tuh kan tuh kan!! Dia bahkan tidak tahu malu mengutarakan perasaannya, coba kau pikir sejak kapan dia jadi tidak tahu malu begitu?” Ucap luhan heboh sendiri.

“Kris hyung… dia… jadi lebih…. berperasaan?” Sehun menoleh kearah luhan mencari jawaban.

 

Chorong menelan ludah, dia kembali menunduk tidak berani menatap kris.

 

Kris mengelus lembut kepala chorong yang tadi terantuk meja.

“Kembali lah bekerja, aku akan menunggumu disana” ucap kris, ia melangkahkan kakinya ke tempat duduk untuk membaca.

 

Chorong memandang punggung kris dengan perasaan yang sulit diartikan.

 

*

 

1 Jam kemudian.

 

Chorong memasukkan barang-barangnya ke tasnya. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke kris yang berada di tempat membaca.

 

“Sepertinya ia tertidur” gumam chorong yang melihat kris menyandarkan kepalanya pada lengannya sambil terpejam.

 

“Ini kesempatanku untuk melarikan diri darinya” ujar chorong pada dirinya sendiri.

 

Dengan gelagat seperti pencuri chorong bangun dari kursinya, lalu dia mengendap-endap menuju pintu.

 

Saat selangkah lagi keluar dari perpustakaan, chorong menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke kris yang masih terlelap, ada rasa iba yang menjalarinya.

 

“Sepertinya tidak baik jika meninggalkannya begitu saja, bagaimanapun dia sudah baik padaku”

 

Chorong mendekati kris dengan perlahan, saat sudah di depan kris ia membungkuk. Chorong memandangi wajah kris yang terlihat tegas saat tidur. Ia tersenyum, seperti ada sesuatu yang menggelitik perutnya.

 

Chorong mendekatkan bibirnya ke telinga kris.

 

“Ayo kita pulang” bisik chorong lembut ditelinga kris yang sontak membuat kris terbangun.

 

Mata kris agak memerah karena efek tidur.

 

“Sudah selesai?” Tanya kris sambil melihat sekelilingnya.

“Ne, kajja!” Ajak chorong riang yang membuat kris tanpa sadar menyunggingkan senyumnya.

 

Kris beranjak dari duduknya lalu ia menggenggam tangan chorong dan menariknya agar berjalan berdampingan dengannya.

 

“Aku tahu kau menyukaiku, tapi tidak perlu berjalan bergandengan seperti ini juga, aku tidak nyaman diperhatikan orang lain” ucap chorong seperti bisikkan pada kris.

 

Kris hanya tersenyum, senyum dengan perasaan yang ia rasa belum pernah ia rasakan sebelumnya. Senyum yang sangat bersemangat menurutnya.

 

Sesampainya di tempat parkir mobilnya, Kris membukakan pintu mobil untuk chorong, lalu ia juga masuk dan mulai melajukan mobilnya.

 

“Apa kau sudah makan?” Tanya kris.

“Aku tidak lapar” jawab chorong.

“Tapi aku lapar, bagaimana kalau kita makan dulu?”

“Terserah kau saja” jawab chorong tidak tertarik.

“Kau suka jalan kemana? Toko buku atau semacamnya?”

“Tentu saja tidak! Seharian aku berurusan dengan buku, di kampus dan di tempat kerja.  Bagaimanapun aku ini manusia yang mempunyai rasa bosan dan jenuh” chorong mengembungkan pipinya lalu menghela napas.

“Aku hanya bertanya” jawab kris masih terfokus dengan kemudinya.

“Ngomong-ngomong kita mau makan dimana?” Tanya chorong antusias.

“Aku yang mau makan bukan kau, kau bilang tidak lapar” goda kris.

 

Chorong mencubit pipi kris kencang sampai membuat kris meringis kesakitan.

“Kau sangat menyebalkan!” Umpat chorong.

 

“Kenapa kau selalu mencubit pipiku huh?” Tanya kris sedikit kesal.

 

“Maaf, itu hanya reflek. Aku tidak akan melakukannya lagi” ucap chorong.

“Bukan itu maksudku.. aku hanya heran saja..”

“Nevermind” potong chorong.

 

‘Aissh jinjja gadis ini’ batin kris.

 

*

 

Kris memandangi menu dessert di halaman belakang yang semua daftarnya adalah es krim, ia mengingat bagaimana ia dulu makan es krim bersama raera dan begitu dinginnya gadis itu.

 

“Kau mau pesan es krim?” Tanya chorong.

“Ani” jawab kris masih terpaku dengan daftar menunya.

“Lebih baik kau memandangiku daripada memandangi buku menu itu” ucap chorong yang membuat kris langsung mengalihkan pandangan ke dirinya.

 

“A..aku hanya bercanda, sungguh” pungkas chorong gugup.

 

“Jangan menatapku seperti itu” tambah chorong sambil mencoba mengalihkan wajah kris dengan tangannya.

 

“Kau menyukaiku?” Tanya kris sarkastis.

“Mwo?” Tanya chorong tidak terima.

“Kau salah tingkah” jawab kris santai, sifat evil-nya `kambuh` lagi. “Tenanglah” lanjutnya.

 

Pesanan mereka sampai, kris mulai makan dengan tenang sedangkan chorong tidak berselera karena situasi yang memojokkannya.

 

“Kau suka es krim?” Tanya kris tiba tiba.

“Tidak, kenapa? Kau suka?”

“Sama sekali tidak, rasa manisnya begitu pahit dilidahku. Terkadang apa yang kita makan dapat mengingatkan kita pada suatu kejadian, kenangan atau semacamnya” jawab kris dengan senyum miris.

 

Chorong hanya terpaku dengan perubahan ekspresi dari kris. Kris yang menyadari itu langsung membalas tatapan chorong.

 

“Wae?” Tanya kris tidak nyaman dipandangi seperti itu.

“Gadis itu menyukai es krim? Dia alasan yang membuat manisnya es krim jadi pahit dilidahmu?” Tanya chorong tepat sasaran.

 

Chorong tidak berniat memberikan kesempatan untuk kris membalas ucapannya.

 

“Karena Park Chanyeol yang memenangkan gadis itu, kau pasti sangat terpukul. Oleh karena itu kau mencari pelampiasan. Apa aku begitu mudah untukmu?” Lanjut chorong.

 

Karena tidak tahan dengan ucapan chorong kris bangkit dari kursinya lalu membungkam bibir chorong dengan bibirnya, tidak ada penolakan dari chorong membuat kris melumat lembut bibir chorong singkat. Kris melepaskan ciumannya, tapi ia sangat terkejut saat mendapati tatapan tajam dari gadis itu.

 

Chorong tersenyum pahit.

“Sekarang kau berani menciumku? Apa aku terlalu mudah untukmu?” Tanya chorong lagi.

 

Kris menggapai pergelangan tangan chorong dan menariknya membuat chorong bangkit dari kursinya.

“Yak ada apa denganmu?!” Tanya kris frustasi.

“Kau yang kenapa! Kenapa kau menciumku? Aku bukan kekasihmu atau siapapun bagimu!” Balas chorong emosi.

“Aku menyukaimu! Apa kau tidak mengerti?”

“Ungkapan macam apa itu? Kau kira aku anak kecil yang bisa luluh begitu saja karena ucapan seperti itu?”

“Lalu apa yang harus aku lakukan? kau membuatku gila!”

“Ingat! Kita baru beberapa hari kenal Bahkan kita hanya sebatas tahu nama satu sama lain. Dan kau.. tiba-tiba bilang menyukaiku? Michosseo?”

“Aku hanya mencoba terbuka dan jujur”

“Urusi hidupmu sendiri, jangan ganggu aku lagi! Aku sudah muak dengan tingkahmu yang seenaknya padaku! Pasti kau juga seperti itu kan pada Kang Raera sehingga ia lebih memilih Park Chanyeol daripada dirimu!”

“Kenapa kau terus mengungkitnya?”

“Mwo? Naega? Jelas jelas kau yang memulainya, boleh saja aku sebagai pelampiasanmu, aku tidak peduli! Tapi kau tidak boleh menciumku sembarangan!”

“Apa mencium seseorang harus memiliki hubungan dulu? Kau hidup di era berapa?”

 

Chorong tidak habis pikir dengan perkataan kris.

“Jangan samakan hidupku dengan kehidupan gemerlapmu! Kau mungkin terbiasa dengan mencium siapapun tanpa memiliki perasaan khusus, tapi aku tidak!”

 

Chorong berbalik untuk pergi dari hadapan kris.

 

“Yak kau mau kemana?” Cegah kris di depan pintu restaurant.

“Kemanapun asal tidak bersamamu!” Jawab chorong.

 

Chorong menghempaskan tangan kris yang menahannya dan ia keluar dari restaurant. Di depan restaurant kris kembali menjegatnya.

 

“Kau tidak boleh pergi” cegah kris merentangkan kedua tangannya. “Jangan buat situasi semakin sulit” tambah kris.

“Carilah yeoja lain yang bersedia kau perlakukan semaumu, aku tidak mau kau permainkan” desis chorong sinis.

“Oke aku minta maaf atas ciuman itu! Yang pasti untuk semuanya aku minta maaf. Tapi kau salah paham, aku tidak pernah berniat mempermainkanmu!” Jelas kris dengan nada tinggi.

 

Kris berdecap lalu mengacak rambut frustasi membuat chorong agak kaget, chorong hanya menunduk.

 

“Kau kira aku mau membuang waktuku hanya untuk main-main dengan perasaan, yeoja atau semacamnya?” Tanya kris menantang.

 

Kini kris yang membesarkan egonya, ia tidak membiarkan chorong membantah perkataannya.

 

“Kau! Maksudku.. kenapa semua orang selalu meragukan perasaanku? Dulu raera, sekarang kau dan sahabatku menyangka aku hanya mencari pelampiasan. Apa aku terlihat terlalu menyedihkan sehingga kalian berpikir aku seperti itu? Atau kalian pikir aku orang jahat yang ingin mempermainkan dirimu?”

 

“Tidak bisakah kau merasakan ketulusanku, chorong-ah?” Tanya kris yang otomatis membuat chorong mendongak menghadapnya.

 

Ada perasaan aneh yang menggerogoti hati chorong karena ini kali pertama ada yang bertanya seperti itu padanya.

 

“Aku hanya ingin mencoba terbuka terhadap perasaanku” lanjut kris.

 

“Maaf kalau kau merasa selama ini aku hanya membuang-buang waktumu. Pergilah, aku tidak akan menahanmu lagi” Kris mundur selangkah.

 

Kris menghirup udara disekelilingnya dengan kasar lalu ia berbalik melangkahkan kakinya menjauh dari chorong yang masih mematung ditempat.

 

“Tunggu!” Seru chorong.

 

Kris tidak menggubris ucapan chorong.

 

“Kubilang tunggu!!” Chorong meninggikan suaranya.

 

Kris yang sudah hilang kesabarannya tidak menghentikan langkahnya barang selangkahpun.

 

“Oppa~ kris oppa!!”

 

Kini ucapan chorong berhasil membuat kris mati langkah.

 

Chorong merasa lega saat melihat kris berhenti.

 

Kris membalikkan tubuhnya lalu memandang chorong dengan tatapan dinginnya.

 

“Oppa, ka-ji-ma”  ucap chorong mempertegas gerak bibirnya yang dapat dilihat kris dari jarak sekitar 10 langkah darinya.

 

Kris mendekat dengan tenang ke arah chorong. Saat mereka sudah berhadapan kris masih konsisten dengan tatapan dinginnya.

 

“Wae?” Tanya kris.

 

Chorong menggigit bibirnya, merasa gugup.

 

“Maaf.. aku juga minta maaf karena berprasangka buruk padamu” ucap chorong menyesal.

 

_Skip_

 

~Keesokkan harinya~

_Kampus_

 

-Chanyeol POV-

 

“Akan kubunuh kau Byun baekhyun!” Umpatku kesal sambil membawa tas ransel dan juga tas bekal makan siang baekhyun.

 

“Seenaknya dia menitipkan tas super beratnya ini” Aku mengeratkan pegangan tanganku.

 

“Chanyeol-ah, kau terlihat kesulitan, apa tas itu sangat berat?” tegur raera yang saat itu baru datang dengan raehyun.

 

“Ne bisa dibilang begitu” jawabku, aku sedikit melambaikan tanganku pada raehyun yang dibalas anggukan malas darinya.

“Kenapa kau membawa tas banyak sekali?” Tanya raera.

“Ini milik byun baekhyun” jawabku.

“Namja rakus itu” celetuk raehyun yang dibalas lirikkan protes dari raera.

“Mian, oke.. aku pergi!” Ucap raehyun sambil mengangkat kedua tangannya seperti seorang tersangka.

“Ayo kita ke kelas bersama” ajak raera.

“Ne, kajja”

 

“Ponselku!” Seru raera menghentikan langkah kami.

“Ada apa?” Tanyaku.

“Tunggu sebentar, ponselku tertinggal di mobil”

“Baiklah”

 

Aku mengeratkan lagi peganganku pada tas baekhyun.

 

Klontang !

 

“Sial, apa itu yang jatuh?” Aku sempat menunduk ke sekitarku dengan susah payah karena bobot tas yang berat.

 

“Chogi.. kau menjatuhkan sendokmu” ucap seorang gadis.

 

Saat aku menoleh aku mendapatkan gadis yang kemarin dihadapanku sambil menyodorkan sebuah sendok yang kutahu bahwa itu sendok makan baekhyun.

 

‘Yeoja itu lagi..?’ pikirku.

 

“Oh ne terimakasih” ucapku sambil sedikit berbungkuk. Aku mencoba mengambil sendok itu tapi aku agak kesulitan karena kedua tanganku yang sedang sibuk menjinjing tas baekhyun.

 

Yeoja yang kalau tidak salah bernama Park Chorong itu tersenyum padaku seakan memahami sesuatu.

“Ah..biar ku bantu, mau ditaru dimana?”

“Tolong disini” ucapku sambil menunjuk tas bekal baekhyun.

 

Ia memasukkan sendok bekal baekhyun ke dalam tas lalu ia memandangku.

“Sudah” ucapnya.

“Terimakasih, maaf sudah merepotkan”

“Bukan masalah, kau terlihat butuh bantuan, mengapa kau bawa 3 tas sekaligus? Kau mau pergi jauh?” Tanyanya polos.

 

Entah apa yang membuatku tidak dapat menahan tawaku yang membuat ia langsung bingung.

 

“Apa ada yang lucu?”

“Hmm maaf bukan maksudku tidak sopan, tapi suaramu lucu sekali” jelasku.

“Apa terdengar buruk?” Tanyanya.

“Ah ani, tidak sama sekali. Aku suka mendengar suaramu”

 

Dia hanya mengangguk menanggapi ucapanku.

 

“Kau mau ke perpustakaan?” Tanyaku basa basi.

“Ne”

“Aku juga ke arah sana, mau pergi bersama?” Tawarku.

 

Dia sedikit berpikir lalu mengangguk menyetujui.

 

“Sini biar kubantu” Tawarnya sambil mengambil tas ransel baekhyun padahal aku belum menyetujui tawarannya.

 

Ia memakai tas ransel baekhyun di punggungnya sambil menjinjing tas miliknya.

 

“Te..terimakasih” ucapku.

“Tas ini berat juga” gumamnya.

“Kalau begitu sini biar aku saja”

“Tidak apa-apa”

 

Aku tersenyum melihatnya, karena gadis feminin seperti dia memakai tas ransel pria berwarna hitam dan berukuran besar.

 

‘Sungguh lucu’ pikirku.

 

“Kau semester berapa?” Tanyanya.

“Aku semester 2” jawabku.

“Ternyata kau lebih muda setahun dariku, aku semester 4 tapi aku tidak kuliah disini”

“Benarkah? Kukira kau masih SMA” candaku.

“Apa aku terlihat semuda itu?”

“Sebenarnya tidak juga hehe” aku tertawa kecil “berarti aku harus memanggilmu nuna, chorong nuna” lanjutku

 

Lagi lagi dia hanya membalas dengan senyuman.

 

“Kau masuk kerja pagi di perpustakaan kami, Lalu bagaimana dengan kuliahmu?” Tanyaku penasaran.

“Jadwal kuliahku dari hari selasa sampai jumat dan dari jam 5 sampai jam 8 malam”

“Apa kau selalu masuk kuliah sore?”

“Tidak juga, terkadang aku masuk pagi kalau dosenku ada suatu urusan yang mengharuskan kami masuk pagi”

“Pasti sangat lelah karena harus kuliah sambil bekerja”

 

“Chanyeol-ah!!” Panggil seorang namja.

 

Karena Aku sedang tidak memakai kacamata jadi aku harus menegaskan mataku melihat seorang namja yang sedang berlari menghampiriku, semakin lama sosok namja itu semakin jelas.

 

“Yak baekhyun-ah~” panggilku.

 

“Aku mencarimu, maaf ya sudah merepotkanmu” sesalnya.

“Ne, tapi yang jelas aku tidak akan mau membantumu lagi” ancamku.

 

Baekhyun hanya nyengir kuda, lalu ia mengalihkan pandangannya ke chorong nuna.

 

“Ke..kenapa tasku bisa ada padanya?” Tanya baekhyun bingung sambil melirik tas punggungnya.

“Jadi kau pemilik tas ini” ucap chorong nuna lebih terdengar sebagai pernyataan, ia melepas tas baekhyun lalu memberikannya pada baekhyun.

 

“Apa kau sadar kalau tasmu berat sekali? Punggungku sampai pegal menggendongnya” ujar chorong nuna terlihat tidak senang.

 

‘Sepertinya dia agak kesal’ pikirku.

 

“Kau sangat hebat karena mampu membawanya setiap hari, pasti punggungmu sangat kuat” ucap chorong nuna sambil menepuk punggung baekhyun.

 

“Oh ya aku harus segera pergi, sampai jumpa” salamnya pada kami.

“Nuna, sampai jumpa” balasku sambil melambai padanya.

 

Baekhyun mendengus tidak percaya.

“Hss.. apa apaan gadis itu? Kau mengerti maksudnya?” Tanya baekhyun dengan tampang terbodohnya.

 

Aku hanya tersenyum sambil megindikkan bahuku.

 

“Ngomong-ngomong mana raera? Tadi aku bertanya pada raehyun katanya kau bersama raera, tapi kenapa dia tidak ada?”

 

Glek!

 

Aku seakan menelan sesuatu.

“A..aku lupa tadi dia..”

“Ah itu dia!” Tunjuk baekhyun.

 

Aku menoleh dan mendapati raera berjalan kearah kami, lebih tepatnya melewati kami, dia sempat menoleh dan menyunggingkan senyum tipis, bahkan sangat tipis pada kami.

 

“Apa dia marah ya aku tinggal?” Tanyaku pada diriku sendiri.

“Tidak mungkin” jawab baekhyun walaupun sebenarnya pertanyaan itu tidak ditunjukkan padanya, lalu ia berbalik dan masuk kelas.

 

“Kau benar.. tidak mungkin, karena dia gadis yang sangat masa bodo dan tidak peka” gumamku.

 

Aku masuk kelas juga lalu duduk di sebelah jongdae yang sedang makan roti isi yang ia bawa dari rumah.

 

“Mau?” Tawar jongdae.

“Tidak terimakasih, aku kenyang” jawabku.

“Tadi aku belum sarapan makanya perutku lapar sekali” curhat jongdae.

“Kalau begitu makanlah sampai kenyang, jongdae-ah”

 

Baekhyun yang duduk di belakang kami tiba tiba dengan sigap mengambil roti di tangan jongdae.

 

“Aku juga belum sarapan” ucapnya sambil melahap roti jongdae lalu ia tersenyum tanpa dosa.

 

Jongdae hanya tersenyum maklum lalu ia merengut dan mengambil satu potong roti isi yang masih ia miliki.

 

*

 

2 jam kemudian

~Raera POV~

 

“Baiklah sampai disini pelajaran kita, lusa kita akan lanjut lagi. Terimakasih atas perhatian kalian” salam dosen yang mengajar kami.

 

Aku melirik ke arah chanyeol yang sedang bersenda gurau dengan baekhyun dan jongdae. Ia tertawa sangat lepas seakan tidak ada yang terjadi.

 

‘Apa ia tidak tahu kalau aku sedang kesal padanya? Jelas-jelas tadi dia meninggalkanku dan sangat akrab dengan gadis penjaga perpus itu’ kesalku dalam hati.

 

Chanyeol dan yang lain beranjak dari kursinya lalu ia menoleh kearahku, aku agak tersentak karena kepergok sedang memerhatikannya.

 

Ia menyelempang tasnya lalu tersenyum padaku.

“Raera-ah, kau mau ikut kami ke kantin?”

 

Aku hanya menggeleng sambil menatapnya dingin.

 

“Baiklah, anyeong” ucapnya sambil melambaikan tangan padaku, lalu ia kembali bersenda gurau dengan baekhyun dan jongdae meninggalkan kelas.

 

Aku mendengus, ada rasa kesal yang menjalari hatiku. Kenapa aku begitu kesal saat melihat dia dengan gadis penjaga perpus itu.

 

‘Apa aku cemburu?’ Tanyaku dalam hati.

 

karena sudah tidak tahan berdiam diri, kuputuskan untuk beranjak dari kursiku. Aku keluar kelas dengan tujuan tidak jelas, aku hanya berharap semakin jauh aku melangkah semakin pula perasaan yang melanda hatiku terhapus jejaknya.

 

Aku menghentikan langkahku, menoleh ke pintu besar yang bertuliskan perpustakaan. Aku mengernyit membacanya, entah apa yang membuatku menjejakan kaki ke tempat itu.

 

Aku melihat meja penjaga perpustakaan kosong.

 

‘Kemana gadis itu?’ Tanyaku dalam hati.

 

Aku celingukkan ke penjuru perpustakaan yang saat itu sedang sepi hanya beberapa mahasiswa yang terlihat serius membaca dan beberapa yang sedang mencari buku. Aku masuk kelorong buku sastra, memerhatikan dengan takjub pada ketebalan setiap buku.

 

Tap..tap

 

Aku menoleh ke arah langkah kaki yang mendekat.

 

‘Ia gadis yang tadi, bukan?’ Pikirku.

 

Gadis itu membawa beberapa buku lalu mencoba memajangnya dengan menyamakan urutannya.

 

Ia terlihat tidak mempedulikan kehadiranku dan hanya terfokus dengan buku-buku yang sedang ia pajang. Kuberanikan diri untuk mendekatinya.

 

“Chogi” ucapku.

 

Ia menoleh padaku.

“Ne, ada yang bisa kubantu? Mencari buku?” Tanyanya.

 

Aku tertegun melihat penampilannya yang menurutku sangat manis, wajahnya pun cantik.

 

‘Tak heran jika kris menyukainya’ pikirku.

 

“A..ani, aku hanya ingin bertanya. Buku apa yang sedang kau pajang? Dari covernya terlihat menarik” ucapku mencoba basa basi.

 

“Ah ige, ini buku sastra korea revisi terbaru. Kau mau membacanya?” Tanya gadis itu antusias.

“Boleh” jawabku tidak yakin.

 

Aku mengambilnya lalu mulai membuka buku itu, tapi baru buka beberapa halaman lalu dengan cepat kututup lembaran buku itu.

 

“Ngomong-ngomong siapa namamu?” Tanyaku.

“Namaku Park Chorong” jawabnya.

“Aku raera, Kang Raera” terangku sambil mengajaknya jabat tangan.

 

Ia membalas jabatan tanganku lalu ia terlihat berfikir.

 

“Tadi kau bilang namamu Kang Raera? Kang raera-nya Park Chanyeol?” Tanya gadis bernama chorong itu.

“Ne?”

“Kris oppa pernah menyinggung namamu” ucapnya.

“Ouh begitu, jadi kris pernah cerita mengenai diriku”

“Bukankah kau pernah terlibat cinta segitiga dengannya?” Tanyanya terus terang.

“Mwo? Maaf, apa kris bercerita seperti itu padamu? Tapi kenapa?”

“Entahlah, aku juga tidak mengerti kenapa dia begitu mudah menceritakan hal itu padaku”

“Dengan kata lain Kris menyukaimu?”

 

Gadis itu tersenyum menatapku

“Ne, dia menyukaiku” jawabnya santai.

 

Ada rasa sesak di dadaku saat mendengar perkataannya.

“Jadi kalian berpacaran?”

 

Dia tersenyum lagi padaku memamerkan deretan giginya yang putih.

“Entahlah, aku belum memutuskan. Menurutmu apa aku harus membalas perasaannya?”

“Kenapa kau bertanya padaku?” Aku sedikit memicingkan mataku, merasa tersinggung mungkin.

“Bukankah kau pernah dekat dengannya? Kau pasti lebih mengenalnya daripada aku..”

“Itu hakmu!” Potongku cepat “Jangan tanyakan hal seperti itu lagi padaku” lanjutku, aku menyesali diriku yang memutuskan untuk berbicara dengannya.

“Maaf” ucapnya tulus.

 

“Kau juga kenal dengan tunanganku?” Tanyaku, sebenarnya bukan Gayaku menyebut chanyeol dengan embel-embel tunangan, tapi egoku ingin menegaskan pada gadis ini kalau chanyeol milikku.

“Park chanyeol? Tentu, dia orang yang sangat baik dan ramah. Kau beruntung memilikinya” ujarnya sambil tersenyum.

 

‘Apa maksudnya?’ Batinku.

 

Aku hanya diam tidak berekspresi. Ingin sekali kukatakan padanya untuk jangan pernah bertemu atau bicara lagi dengan chanyeol.

 

“Nuna, aku mau pinjam buku!” Seru seorang mahasiswa di depan lorong buku.

 

“Ah ne, chakkaman! Aku permisi raera-ssi” salamnya.

 

Ia berlari kecil menghampiri mahasiswa yang ingin meminjam buku itu.

 

“Gadis macam apa dia?” Gumamku.

 

*

 

Jam pulang kuliah.

@Tempat parkir kampus.

~Author POV~

 

“Maksudmu oh sehun? Dia memang seperti itu, sebaiknya kau jangan terlalu berharap padanya” terang baekhyun pada seorang temannya, sohyun.

“Tapi kemarin saat aku lewat dia tersenyum padaku, bukankah itu berarti dia menyukaiku?” sangkal sohyun.

“Bodoh! Kau pasti salah lihat, amat sangat tidak mungkin dia tersenyum padamu! Sudah-sudah pergi sana jangan ganggu aku! Daritadi yang kau tanyakan dia terus, Kau kira aku temannya!” Umpat baekhyun.

 

Sohyun merengut.

“Kau menyebalkan baekhyun-ah”

“Aku tidak peduli!” Jawab baekhyun cuek.

“Awas kau tidak akan kuberi bekal makan siangku lagi”

“Aku bisa minta dengan yang lain” balas baekhyun menjulurkan lidahnya yang membuat sohyun kesal, gadis itu berbalik pergi menjauh dari baekhyun.

 

Baekhyun menghela napas.

“Dasar..gadis jaman sekarang sangat agresif dan tidak tahu malu” keluh baekhyun sambil menggaruk pelipisnya.

 

“Aku setuju denganmu!” Seru seseorang, membuat baekhyun kaget.

 

Baekhyun menoleh ke asal suara dan dia mendapati luhan yang kini sedang berdiri disampingnya.

 

Lagi-lagi baekhyun menghela napas.

‘Sedang apa ia disini?’ Batin baekhyun.

 

Baekhyun tersenyum tipis menanggapi luhan.

 

“Hyung, kami mencarimu” ujar sehun yang tiba-tiba muncul dengan kris.

 

Baekhyun memandang 3 sekawan itu dengan malas.

 

“Tadi aku keruang dosen” jawab luhan.

 

“Kris hyung, bukankah itu Park chorong?” Tunjuk sehun ke sosok gadis yang sedang berjalan dari lorong.

 

Baru saja kris mau memanggil chorong tapi ia keduluan oleh seseorang yang langsung membuatnya bungkam.

 

“Chorong nuna!” Panggil chanyeol.

“Oh anyeong” balas chorong tersenyum kepada chanyeol dan raera.

“Kau sudah mau pulang?” Tanya chanyeol.

“Aku mau ke kampusku” jawab chorong sambil melihat arlojinya.

“Benar juga, kau harus kuliah. Kau ingin menumpang mobilku? Raera dan aku mau ke pasar swalayan” ajak chanyeol antusias.

 

Raera reflek menoleh ke chanyeol, tidak terima dengan usul kekasihnya tersebut.

 

“Tidak usah, aku biasa naik bis” jawab chorong sopan, tidak lupa ia tersenyum ke arah raera yang kini wajahnya sudah terlihat jauh lebih dingin dari biasanya.

 

Luhan mengernyitkan dahinya memerhatikan chanyeol, raera, dan chorong.

 

“Sejak kapan Park chanyeol dan park chorong saling kenal?” Tanya sehun.

 

Kris hanya diam masih fokus memerhatikan, sedangkan luhan menoleh ke baekhyun mencari jawaban pertanyaan sehun.

 

“Mollayo” jawab baekhyun terdengar menyangkal.

“Geez, teman macam apa kau?” Umpat luhan, lalu ia mengalihkan pandangannya.

 

Bersamaan dengan itu baekhyun mengambil ancang-ancang memukul kepala luhan.

‘Menyebalkan’ batin baekhyun.

 

Tidak ada akhirnya senyum yang terukir di wajah chanyeol saat berbicara dengan chorong yang membuat raera gerah dengan tingkah kekasihnya itu.

 

“Kalau begitu lain kali pergilah makan eskrim bersama kami, raera sangat menyukai es krim, benar begitu raera-ah?” ujar chanyeol.

“Tidak juga” jawab raera yang dibalas dengan ekspresi chanyeol yang bingung.

“Sejak kapan kau menolak es krim?” Tanya chanyeol tidak yakin.

 

Chorong tersenyum sambil menggeleng.

“Tidak perlu, aku tidak suka es krim” jawab chorong.

“Sayang sekali..” erang chanyeol.

 

Raera menghela napas kasar.

 

“Aku duluan!” Ucapnya tiba-tiba dengan nada tidak suka, ia melengos begitu saja.

 

“Sepertinya dia tidak suka kau berteman denganku” ucap chorong.

“Tidak mungkin, dia memang orang yang seperti itu, dia sangat dingin bahkan denganku saja ia begitu. Jadi tidak mungkin dia cemburu atau marah hanya karena aku bicara dengan yeoja lain. Haha aku tidak bisa membayangkan jika ia merasakan hal itu” jawab chanyeol tersenyum pahit.

 

Baekhyun memerhatikan raera dengan tampang serius, lalu ia menarik bibirnya ke kiri hingga membentuk sunggingan kecil.

 

“Kang rera, ia.. cemburu” gumamnya tapi masih dapat didengar kris cs.

 

Kris dan yang lainnya dengan cepat menoleh ke arah baekhyun yang mengatakan hal itu membuat baekhyun terkejut.

 

“Wae??” Tanya baekhyun frustasi “Jangan menatapku seperti itu!” Titah baekhyun.

 

TBC

21 pemikiran pada “2 Reasons (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s