Love Brings Happiness

Love Brings Happiness

Genre               : Little Hurt, Romance, School-life

Author             : Idiotmaknae

Rating              : PG-16

Length             : Oneshot

Main Cast        :

  1. Kim Jongin
  2. Park Chae Ri

Annyeong semua. Ketemu lagi dengan author yang satu ini dengan membawa fanfic Kim Jongin. Ide cerita ff ini mengalir disaat author lagi belajar untuk menghadapi UAS FISIKA. Bayangkan kawan-kawan, bukannya fokus sama fisika nya tapi malahan mengalir cerita fanfic. Duh sudahlah mungkin author butuh kasih sayang yang lebih dari Oh Sehun *abaikan*. Oh iya chingu, jangan lupa RCL nya ya, yang pasti komentar nya jangan lupa ya. Aku sangat butuh komentar dari kalian, agar bisa memmbuat ff yang lebih baik, so DON’T BE SILENT READER! Enjoy guys..
Oh iya di fanfic ini banyak adegan kisseu nya, hehe^^

 

̶  Love Brings Happiness  ̶

 

Kulangkahkan kakiku menuju tempat pemberhentian bus. Hujan begitu lebat ditambah dengan suara petir yang begitu menggelegar. Jujur, aku begitu takut. Namun, ku tepiskan semua pikiran negatif yang ada di dalam pikiranku. Tak lama kemudian, berhentilah sebuah mobil sedan hitam dihadapanku. Nugu? Siapa orang yang ada di dalam mobil itu? Vampire kah? Ya Park Chae Ri!! Keumanhae!! Sadar!! Tidak mungkin ada vampire disaat hujan lebat seperti ini. Namun, orang yang ada di dalam mobil itu pun menampakkan dirinya. Namja? Lalu, mengapa ia menghampiriku? Dan juga mengapa ia memakai masker? Orang itu pun semakin mendekat kearahku dan..

“Kyaaaaa.. kau siapa?!!” sontak saja aku berteriak karena ia menarik lenganku secara paksa.

Benar apa yang kuduga. Dia adalah namja. Apa yang ia inginkan sebenarnya? Jangan-jangan..

“Aaaaaaaaa jebal lepaskan tanganku!!”

Naasnya ia semakin menarikku hingga aku dimasukkan ke dalam mobilnya. Namja itu terus menatapku, namun aku tidak berani menatapnya, karena aku benar-benar sangat takut.

“Hahaha. Park Chae Ri, kau lucu sekali. Hahaha,” namja itu pun terbahak.

Saat aku melihat kearahnya dan ternyata kau tahu dia siapa? Dia adalah MUSUHKU.

“YA KIM JONGIN! MENGAPA KAU BERBUAT SEPERTI INI PADAKU?!” tanyaku dengan sarkatis.

Naega? Aku kan namjachingumu. Wajar saja jika aku mengerjaimu. Hahaha,” lanjutnya dengan tawa yang tidak bisa diredamkan.

“Kau jangan pernah mengada-ada. Sejak kapan kau menjadi namjachinguku? Ingat Jongin ssi! Kita berdua adalah musuh!”

“Aku bosan dengan kehidupan kita yang seperti ini. Aku ingin mencoba hal baru. Bagaimana jika kita berhenti menjadi musuh dan kita pacaran? Setuju?” tanya Jongin dengan tatapan yang begitu intens.

Jujur saja, kali ini hatiku sangat berdegup kencang. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan otakku.

“Hentikan candaanmu Jongin ssi!” aku pun beranjak keluar dari mobilnya.

Namun, ia berhasil menggenggam tanganku dan mencengkramnya dengan sangat kencang. Aku merasakan nyeri ditanganku. Namun, namja itu tidak berkata apa-apa melainkan ia terus menarikku dan menatapku. Ia menarik tengkuk milikku dan tiba-tiba saja, Ia.. mencium.. ku..

Aku pun mendorong tubuhnya cepat dan berusaha keluar dari mobilnya itu. Namun, kulihat dibelakang ternyata sudah banyak teman-teman Jongin yang melihat kelakuan Jongin tadi. Shit. Jangan katakan bahwa ia sedang melaksanakan taruhan.

“Waaah Jongin kau hebat!”

“Yeeeaaayy akhirnya kau bisa mencium bibir Park Chae Ri.”

“Selamat Jongin ssi.”

Sial. Benar apa yang kuduga. Ternyata mereka sedang mempermainkanku. Lihat saja Kim Jongin! Akan ku balas itu semua.

“Gomawo Park Chae Ri,” ucap Jongin dengan smirk andalannya.

Setelah insiden menjijikan itu, aku berusaha pergi dari neraka itu. Panas sekali rasanya dikelilingi oleh manusia seperti mereka. KIM JONGIN MATI KAU. Kau telah mencuri first kiss ku.

Aku pun terpaksa kembali ke tempat pemberhentian bus . untunglah hujan sudah reda, sehingga seragam sekolahku tidak akan basah. Bus yang akan aku naiki akhirnya tiba. Aku langsung memasuki dan mencari tempat yang membuatku nyaman.

“Park Chae Ri. Kemari, duduk disini.”

Tiba-tiba ada seorang ahjumma yang memanggilku. Saat aku menoleh, ternyata ia adalah Jongin eomma. Aigoo.

“Oh ahjumma, arraseo.”

Aku pun menghampiri Kim ahjumma. Apakah kalian tahu mengapa aku dan Kim ahjumma atau lebih tepatnya Jongin eomma bisa saling kenal? Sebenarnya, aku dan Jongin sudah lama kenal. Kami dari kecil selalu bersama, bahkan seringkali bermain dan belajar bersama. Namun, semenjak memasuki sekolah tingkat pertama Senior High School, Jongin berubah menjadi anak yang menyebalkan, selalu menggangguku. Bahkan pernah suatu kali ia mengerjaiku sampai aku habis dimarahi oleh kepala sekolah. Jujur saja, aku lelah dengan sikapnya yang seperti itu. Aku ingin ia menjadi Jongin yang dulu. Namun, apa daya.. itu pilihan Jongin.

Ahjumma tumben sekali naik bus,” ucapku yang memecah keheningan.

Ani.. ahjumma baru saja pulang dari restoran, karena ahjumma tidak membawa ponsel, jadinya tidak bisa menelpon ahjussi,” timpalnya dengan senyum yang merekah.

“Oh..”

“Kamu mengapa tidak pulang bersama Jongin?”

Sontak saja aku pun terbatuk saat ia menanyakan hal itu.

Aniya. Aku takut merepotkan dia. Gwenchana.. aku bisa pulang naik bus.”

“Bagaimana kalau kau ikut ke rumah ahjumma?”

Mwo?”

Wae? Kau tidak suka berkunjung ke rumah ahjumma?”

Aniya bukan seperti itu, maksudku ̶̶  “

Arraseo. Kita pergi ke rumah ahjumma ne.”

“Ah ne.”

Ada apalagi dengan semua ini. Aku berkunjung ke rumah Kim ahjumma sama saja mengunjungi sebuah neraka. Aku harap Jongin masih berada di luar sehingga aku dengan damainya bisa bersantai-santai di rumah Kim ahjumma. Kami pun sampai di depan rumah mewah miliknya. Aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, karena aku melihat mobil jongin terpampang bebas di garasi rumahnya. Park Chae Ri.. tamatlah riwayatmu.

“Chae Ri ya, tolong bawakan makanan ini ke kamar Jongin, ahjumma ada urusan sebentar.”

“Ah arraseo ahjumma.”

Dengan malasnya kulangkahkan kakiku menuju kamar Jongin, saat kubuka pintu kamarnya, hanya kegelapan yang menyapaku.

“Jongin ssi.. kau dimana? Mengapa disini begitu gelap? Kim Jongin kau mendengarku kan?”

Aku pun hanya meraba-raba tembok agar bisa menyalakan lampunya. Namun, tiba-tiba saja pintu kamarnya tertutup, jujur aku sangat takut kali ini.

“Jongin..” panggilku pelan.

Namun, saat aku sedang ingin menyalakan lampu tiba-tiba saja sebuah tangan dengan bebas melingkar di pinggangku. Aku ingin berteriak, namun mulutku dibekap. Hingga ia membisikkan sesuatu di telingaku.

“jangan berisik. Kumohon tetaplah dalam posisi seperti ini..”

Aku mengenal suara namja itu. Aku yakin itu pasti Jongin. Aku sangat berharap itu dia. Bukannya aku ingin dipeluk olehnya, namun aku akan begitu takut jika ternyata yang melakukan ini semua adalah vampire. Oh jangan harap aku bisa hidup dengan tenang setelah ini.

“Jongin ssi..” panggilku lirih.

“Aku hanya ingin memberimu makanan, ini dari eomma mu,” lanjutku.

“Aku memang lapar, namun kali ini bukan makanan yang kuinginkan.”

Maksud perkataannya itu apa? Aku tidak mengerti dengan otaknya. Mana ada orang yang katanya lapar namun bukan makanan yang ia butuhkan kali ini.

“Lalu apa?”

Ia pun melepaskan pelukannya dan menyalakan lampu. Ah akhirnya aku sudah terbebas dari kegelapan. Kulihat dihadapanku sudah ada namja yang begitu menyebalkan. Kim Jongin. Aku pun cepat-cepat memberikan makanan tersebut untuknya.

“Ini..” sodorku dan aku langsung berbalik.

Namun, naas sekali rasanya aku kali ini. ia menarik tanganku. Bahaya. Apalagi yang akan direncanakan mu Kim Jongin?!

“Ada apalagi?” tanyaku.

“Aku kan sudah katakan kalau aku bukan mau makan namun aku lapar karena hal lain.”

“Aku bingung dengan mu. Sudahlah lepaskan aku, akan aku katakan pada Kim ahjumma kalau kau lapar karena hal lain.”

Ia tidak merespon perkataanku. Ia malah mendekatkan tubuhnya kehadapanku. Aku mencoba melangkah ke belakang untuk menjauh darinya. Akh.. sial! Aku malah jatuh tertidur di kasurnya. Oh tuhan kumohon selamatkan aku.

“Jongin ssi..”

“Hmm.”

Ia terus mendekatkan tubuhnya dengan menindihku, dan aku mencoba mendorongnya. Namun, percuma saja aku memberontak. Sebab ia lebih kekar daripada aku.

“Jong.. in..”

“Aku hanya ingin bermain sebentar,” timpalnya.

Dekat, dekat, dan semakin dekat wajahnya dengan wajahku. Perasaanku kali ini benar-benar tidak karuan. Aku seperti terhipnotis olehnya. Bibirnya hanya beberapa senti lagi akan mengenai bibirku dan..

“Kim Jongin, eomma sudah ̶   omo?? Kalian berdua ̶  “

Jongin’s Pov

Eomma! Wae?!” tanyaku yang begitu frustasi.

“Eoh. Mian, eomma hanya ingin mengajak kalian untuk makan. Eomma tunggu dibawah.”

Eomma akhirnya meninggalkan kamarku. Ku lihat yeoja polos itu malah menutup matanya dalam posisi tidur. Damn. Berhentilah untuk berpikiran liar, Kim Jongin.

“Ya Park Chae Ri! Kajja kita makan!” ajakku yang langsung meninggalkannya.

Jongin’s Pov End

Aku masih terpaku di meja makan ini dan belum menyentuh sedikit makanan. Jujur saja, aku masih shock jika mengingat kejadian di kamar Jongin tadi. Untungnya ada dewi fortuna yang menyelamatkanku. Huft.

“Park Chae Ri? Chae Ri ya?” panggil Kim ahjumma sehingga aku terbangun dari lamunanku.

“Eh mwo?”

“Kau belum makan apapun dari tadi. Kau tidak suka ini semua?” tanya ahjumma.

“Sudahlah eomma biarkan saja yeoja kurus itu tidak makan. Aku tidak sabar untuk membullynya kalau ia sudah menjadi tengkorak,” ucap Jongin dengan suara jahatnya.

“Ya Kim Jongin! Apa maksudmu?! Arraseo. Aku akan makan ini semua.”

Aku pun mengambil lauk dan sayur yang banyak dan memasukannya ke dalam mulutku. Dan kini, pipiku terlihat menggelembung layaknya balon yang ingin meledak.

“Hahaha Chae Ri ya, kau lucu sekali.”

Aku pun hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.

Eomma harus pergi sekarang, kalian berdua tetap disini, dan jangan lupa untuk habiskan semua ini. Keurigo, Chae Ri ya, kau nanti diantar pulang oleh Jongin, otte?”

“Aku bisa naik ̶  “

Arraseo eomma, aku pasti akan mengantarnya pulang. Tenang saja,” sergah Jongin.

Mwo? Mati kau Park Chae Ri! Tamatlah riwayatmu!

Makan malam pun akhirnya berakhir. Ah aku merasakan perutku seperti akan meledak. Sepertinya terlalu banyak makanan yang masuk kedalam perutku. Lebih baik aku pulang saja.

“Jongin ssi cepatlah mandinya! Cepat antarkan aku pulang!” teriakku memintanya.

“Kau tidak harus teriak seperti itu bisa?”

Ani.. bukan seperti itu, aaiisshh, cepat antarkan aku pulang,” pintaku.

Ia hanya terus memandangku dan seketika mengeluarkan dompetnya. Dan kau tahu, apa yang selanjutnya terjadi? Dia melemparkan beberapa uang ke hadapanku. Namun, aku tidak akan mengambil ini semua.

“Ini. ambil ini semua dan cepat pergi dari rumahku!”

Mwo?!”

“Cepat keluar!”

Ia pun menrik lenganku dan mendorongku hingga aku terjerembab di depan pagar rumahnya.

“Lihat pembalasanku Kim Jongin!” desisiku.

Mwo?! Nugu?! Apa yang kau katakan?!” ia pun berbalik kembali ke arahku.

Aku lelah dengan sikapnya yang semakin menjadi-jadi. Kulangkahkan kakiku untuk pulang dan mencoba menghindarinya.

“Ya Park Chae Ri!” panggil Jongin namun aku terus berlari.

Awas kau Kim Jongin! Aku pasti akan membalasnya! Lihat saja!

 

̶  Love Brings Happiness  ̶

 

Keesokan harinya..

Hoaaam. Ah pegal sekali badanku. Pasti ini semua gara-gara semalam aku pulang jalan kaki. Sudahlah lupakan kejadian kemarin! Dan jangan mengingat Kim Jongin! Huh! Lebih baik aku mandi dan menyiapkan diri untuk pergi ke sekolah.

Segala persiapan sudah selesai semua dan sekarang waktunya pergi ke sekolah. Saat aku sedang menunggu bus, tiba-tiba saja berhenti sebuah mobil di hadapanku. Kaca mobil pun terbuka dan seorang perempuan memanggilku.

“Chae Ri ya! Kajja kita berangkat bersama.”

Oh matilah kau Park Chae Ri!

“Ah Kim ahjumma. Aniya, aku menunggu bus saja, sebentar lagi pasti bus nya tiba,” timpalku.

“Ayolah.. ahjumma akan sangat senang jika kita pergi bersama. Jongin juga ada disini,” pintanya lagi.

Kau akan terperangkap di dalam kandang harimau lagi Park Chae Ri!

“Ah arraseo.”

Tanpa bisa menolak lagi, aku pun menerima tawarannya itu. Sejujurnya, aku hanya malas jika harus berhubungan lagi dengan namja layaknya iblis seperti Kim Jongin, sebab ia selalu saja menyulitkan hidupku.

“Jongin ssi, eomma akan turun di depan sana. Selanjutnya kalian pergi ke sekolah bersama. Tidak apakan?”

“Hmm.”

“Bagaimana Chae Ri ya?”

“Oh ne, gwenchana.”

Dan sekarang, di dalam mobil ini hanya ada aku dan namja sialan ini. siapa lagi kalau bukan Kim Jongin. Ingin rasanya aku menjambak rambutnya. Aku dan ia hanya diam membisu. Namun, ia tiba-tiba menghentikan mobilnya.

Wae? Mobilmu mogok?” tanyaku.

Ani.”

“Lalu? Mengapa berhenti?” tanyaku lagi.

“Pergi dari mobilku!”

Mwo?! Kau gila! Sebentar lagi masuk dan tidak mungkin aku menunggu bus.”

“Bukan urusanku!”

“Ya Kim Jongin!”

Kemudian Kim Jongin  keluar dari mobilnya dan membukakan pintuku lalu menarikku secara paksa agar aku keluar dari mobilnya.

“Ya Kim Jongin lepaskan aku. Lenganku sakit. Akhh..” rintihku.

Yeoja memang sangat lemah. Sehingga kau jangan coba-coba melawan Kim Jongin. Arraseo?!”

Aku hanya menatapnya keji. Kau benar-benar berubah total. Kau menjadi sangat jahat padaku. Aku tidak akan membiarkan ini terus berlanjut. Aku pasti akan membalasnya! Lihat nanti! Aku pasti bisa membalasnya!

Dengan penuh amarah aku memasuki sekolah dengan nafas yang berderu cepat. Setelah insiden “diturunkan dari mobil” aku tidak mendapatkan bus, sehingga aku lari dari tempat itu ke sekolahku. Sesampainya disekolah dan tepatnya disaat aku ingin menuju ke ruang kelas, tiga yeoja sempat-sempatnya menghalangi jalanku.

Wae? Mworago? Bisakah kalian tidak menghalangiku?” tanyaku.

Ani! Ikut denganku!” perintahnya.

“Ah membuang waktu saja. Jangan menghalangi jalanku! Aku sudah telat!” tukasku.

Namun, mereka bertiga menjambak rambutku dengan sangat kasar.

“Aaarrrgghhh. Sakit! Lepaskan rambutku pabo!” teriakku.

“Ini belum seberapa, Park Chae Ri! Ikut kami!”

Tanpa bisa berkutik, aku pun megikuti mereka. Ia membawaku ke sebuah gudang sekolah yang sudah lama tidak digunakan dan begitu gelap.

“Kau Park Chae Ri, anak tidak tahu diri! Beraninya kau mendekati Kim Jongin, sudah bosan hidup?!” tanya salah seorang yeoja sambil mendorong tubuhku sehingga menubruk dinding.

Mwo? Aku tidak mengerti dengan semua ini,” jelasku.

“Kau tidak mengerti? Hoh, yeoja bodoh!”

“Ya bisakah kalian menjaga mulutmu?” tanyaku sembari mencoba memberontak.

“Jangan memberontak atau ̶  “

“Atau wae?!”

“Berani kau,”

Ppppllllllaaakkkkk!!!!!!!

Aku begitu shock. Yeoja tersebut menamparku. Aku ingin menangis, namun aku pasti kuat menghadapi yeoja tidak tahu diri ini. aku pun hanya bisa memegangi pipiku yang memar tanpa menatap mereka.

“Masih belum menyadari apa kesalahanmu?!” tanya mereka lagi.

Aku hanya menatap mereka satu persatu dengan amarah yang ingin meledak.

Wae?! Jadi kau belum sadar juga?!”

Aku terus menatapnya dengan penuh rasa benci, mereka pun akhirnya mendorong tubuhku sehingga aku terhempas dan kemudian mereka menendang tubuhku dan akhirnya mereka menghilang dari hadapanku. Aku mencoba untuk bangkit, namun aku merasakan sakit di sekujur tubuhku dan juga kepalaku begitu pusing, tapi aku putuskan untuk tetap masuk ke dalam kelas. dengan sangat hati-hati, akhirnya aku sudah berada di depan kelas.

An-annyeong sonsaengnim. Mianhae aku telat,” aku pun memasuki ruang kelas yang sedang serius belajar.

“Park Chae Ri! Sudah telat dan lihat wajahmu! Memar dan bibirmu berdarah! Kau berkelahi?!” tanya sonsaengnim dengan sangat galaknya.

“Aniya, bukan seperti itu, aku bisa jelaskan ̶  “

“Jelaskan apa?! Kau benar-benar, aiisshhh sudahlah! Cepat duduk!” perintahnya.

Kamsahamnida sonsaengnim.”

Dengan langkah gontai, kulangkahkan kakiku ini menuju tempat duduk.

“Chae Ri ya, gwenchana?” tanya Song Seul ni khawatir.

Gwenchana, aku baik-baik saja,” ucapku bohong.

”Kau harus menceritakannya nanti,” desaknya.

Ne.”

Selama jam pelajaran berlangsung, aku sama sekali tidak fokus dengan semuanya. Aku merasakan tubuhku yang masih sangat sakit. Dan juga, aku masih tidak habis pikir dengan semua ini, apa maksud yeoja tersebut?

“Chae Ri ya? Park Chae Ri? Gwenchana?” panggil Seul ni yang membuyarkan lamunanku.

“Oh ne. Sonsaengnim eodiga?”

Mwo? Kau tidak memperhatikannya? Ini sudah waktunya istirahat.”

“Ah ne. Kajja kita ke kantin.”

“Park Chae Ri, gwenchana?” tanyanya lagi khawatir.

“Jangan khawatir, gwenchana.. kajja kita ke kantin.”

Kami pun memesan makanan dan duduk di dekat sebuah jendela.

“Ada apa denganmu?” tanyanya yang memecah keheningan.

Aniya.. aku tidak mengerti. Saat aku sedang berjalan di koridor, tiba-tiba saja ada tiga yeoja..”

“Lalu?”

“Dia membawaku ke sebuah gudang dan disana aku ̶  “

“Ya Park Chae Ri ikut aku!”

Saat aku sedang bercerita pada Seul ni, Jongin tiba-tiba saja mencengkram tanganku dan menarikku.

“Jongin ssi, sakit.. lepaskan!” pintaku meronta-ronta.

Ia mengabaikanku dan aku terus memberontak hingga akhirnya aku bisa melepaskan tanganku dari cengkramannya. Namun, disaat aku ingin kembali ke tempatku, ia menyiramku denga minumannya dan menumpahkan semua makanannya ke atas kepalaku. Kami berdua menjadi pusat perhatian di kantin, ingin rasanya aku menangis, namun aku mencoba untuk tetap menahannya. Ingin sekali rasanya membalas, namun aku hanya meninggalkan Kim Jongin dan rasanya moodku hari ini sangat-sangat hancur!

Aku membawa diriku ke taman belakang sekolah untuk menenangkan diriku, disini damai sekali rasanya, dan aku pun bebas melampiaskan rasa kesalku.

“Hidupku sangat membosankan! Setiap hari selalu saja ada masalah! Aku benci menjadi Park Chae Ri, hiksss,” teriakku sambil menangis sesenggukan.

Namun, aku merasakan sebuah pelukan yang begitu hangat dari belakang. Aku tidak tahu itu siapa, karena aku hanya ingin melampiaskan segala kesedihanku sekarang.

Mianhae, menangislah sesukamu.”

Ternyata, itu adalah Jongin. Semakin aku menangis, ia semakin mengeratkan pelukannya. Hingga akhirnya aku membalikkan tubuhku dan langsung memeluknya lagi.

“Menangislah sesukamu.”

Aku hanya membalasnya dengan anggukan.

Bel pulang akhirnya berdentang dan aku bergegas meninggalkan kelas. namun, setibanya di gerbang, aku melihat namja yang tidak asing lagi bagiku.

Oppaaaa!!!” teriakku dan bergegas menghampirinya.

Bogoshipeo..” ucapku sambil memeluknya.

Nado Chae Ri ya.. chakkaman. Wajahmu wae?”

Aniya, gwenchana.. kapan kau pulang dari Jepang? Mengapa tidak memberitahuku? Ya oppa jahat sekali,” ucapku yang semakin mengeratkan pelukanku.

“Aisshh Chae Ri ya, aku hanya ingi memberimu kejutan,” jelasnya.

“Ah arraseo. Kajja kita pulang! Haruskah kita merayakan kepulangan oppa? Ah sepertinya harus. Otte?” tanyaku lagi.

“Ah ne. Kajja!”

Saat kami ingin menaiki mobil, tiba- tiba…

BBBRRRUUUKKKK..

Chanyeol oppa dihajar oleh.. MWO?! Kim Jongin?! Aisshh mati kau Kim Jongin!

“Ya Kim Jongin hentikan!” teriakku.

Namun, ia terus memukuli oppaku. Aaiisshh ottokhae? Aku pun akhirnya menarik Kim Jongin dengan sekuat tenaga. Namun, ia balik mencengkram tanganku dan membawaku menjauh dari oppa.

“Ya Kim Jongin! Lepaskan aku!” pintaku dengan kesalnya.

“Ikut aku!” perintahnya sambil terus mencengkram tanganku.

“Park Chae Ri!” panggil oppa.

Aku hanya pasrah mengikuti Kim Jongin. Air mataku sudah mengalir sangat deras. Dan akhirnya, ia menghentikan langkahnya.

“K-kau sa-sangat jahat Jongin ssi,” ucapku dengan tangis yang sudah tak tertahankan.

“Siapa dia?”

Aku tidakmenjawab pertanyaanya itu.

“Jawab aku Chae Ri ya!” teriaknya lagi.

“Dia itu oppaku. Kau tidak ingat? Park Chanyeol. Masih tidak ingat juga?” tanyaku dengan menatapnya begitu intens.

Jongin’s Pov

Jadi.. dia Chanyeol hyung? Kim Jongin pabo!

“Jangan bohong!”

“Aku tidak bohong Jongin ssi, a-aku serius, dia oppaku.. hikss,” ucapnya dengan tangisan yang begitu kencang.

Pabo! Kim Jongin! Kau benar-benar sudah bertindak gila! Lebih baik aku pergi meninggalkannya.

Jongin’s Pov End

Jongin terdiam dan berbalik meninggalkan aku. Mengapa kau seperti ini Kim Jongin? Kau benar-benar keterlaluan, lebih baik aku menghampiri oppaku.

Oppa, kajja kita pulang!” ajakku.

Selama di dalam mobil, aku hanya diam, begitu juga Chanyeol oppa. Aku masih terpikirkan oleh sikap Kim Jongin yang tadi. Kau benar-benar sudah melupakan semua hal tentangku, Kim Jongin. Kau, melupakan Chanyeol oppa, kau ̶

“Chae Ri ya, gwenchana?” tanya oppa hati-hati.

“Ah ne. Oppa cepatlah, aku tidak sabar merayakan kepulanganmu,” ucapku dengan senyum yang merekah.

Namja itu.. Kim Jongin?”

Oppa..”

“Sepertinya dia menyukaimu.”

Aniya! Itu tidak mungkin! Ya oppa, sudahlah lupakan,” pintaku.

“Lihat, wajahmu memerah.”

“Ya Oppa..”

“Ah Arraseo.”

Kim Jongin menyukaiku? Itu salah besar. Namja sepertinya tidak mungkin menyukaiku. Ia terlalu jahat jika menjadi namjachinguku. Jika dia benar-benar menyukaiku, pabo ya! Lupakan Kim Jongin!

“Sudah sampai, kajja!” ajak Chanyeol oppa.

Selama makan, kami berdua terlihat sangat senang. Chanyeol oppa menceritakan semua tentang sekolahnya di Jepang dan juga ia menceritakan yeojanya. Begitu juga dengan aku, ku ceritakan semua tentang sekolahku dan teman-temanku. Kami berdua saling melepas rindu dan terlihat sangat bahagia. Kuharap, aku akan selalu bahagia bersamamu, oppa..

 

̶  Love Brings Happiness  ̶

 

Esok harinya, hembusan angin di pagi hari menyapaku dengan lembutnya begitu juga dengan kicauan burung yang menyapaku dengan riangnya. Aku merasakan tubuhku tidak seperti biasanya, begitu lemas dan juga terasa panas. Sehingga ku putuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Chanyeol oppa mengajakku untuk pergi ke dokter, namun aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja dan hanya membutuhkan istirahat. Hari ini Chanyeol oppa pergi ke Busan, karena ia harus menyelesaikan tugas akhir sekolahnya di Jepang. Alhasih, aku sendiri di rumah. Ku habiskan waktu ini dengan tidur sepuasnya karena tubuhku benar-benar sangat lemas. Namun, ku dengar pintu kamarku terbuka seperti ada orang yang masuk. Sepertinya Chanyeol oppa tidak jadi pergi.

Oppa..”

Namun, ia tidak menjawab dan aku merasakan seseorang ikut berbaring di sampingku.

“Chanyeol oppa.. kau tidak harus tidur di sampingku.”

Ia masih tetap tidak menjawab.

Aku mencoba membuka mataku perlahan dan aku pun terbelalak saat melihatnya.

“Kim Jongin?!”

Ia terus menatapku dan membalikkan tubuhku sehingga kami tidur saling berhadapan.

“Kau kaget?” tanyanya.

“Kau, mengapa disini?”

“Ingin menjenguk yeojachinguku.”

Mwo?!”

“Aku mempunyai suatu hadiah untukmu.”

Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan aku begitu terbelalak ketika melihat foto yang ia tunjukkan, “Ya Kim Jongin! Hapus foto itu!”

“Tidak mau! Wae? Kau dan aku berciuman di foto ini. Sangat mengagumkan. Iya kan?” tanya sambil melingkarkan tangannya di pinggulku.

“K-Kim Jongin.. jebal,” pintaku.

“Kau mau aku menghapus foto ini dan tidak menyebarkannya?”

Aku pun mengangguk.

“Jadilah yeojachinguku.”

Mwo? Ya Jongin ssi kau sudah gila, aku ̶  “

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ia membungkam bibirku dengan miliknya. Ia menciumku dengan sangat begitu kasar. Aku mencoba memberontak, namun ia mengubah posisi kami sehingga aku yang tertindih olehnya dan juga ia semakin mengeratkan pelukannya. Aku merasakan bibirnya terus melumat bibirku, dan akhirnya ia pun melepaskan bibirnya dari bibirku dan sekarang ia mendekatkan kepalanya pada leherku. Apa yang harus kulakukan? Ottokhae?

“Kau harus menjadi milikku Park Chae Ri atau kau ingin aku melakukan yang lebih dari ini?” tanyanya dengan nada yang mencekam.

“J-Jongin ssi jangan..”

“Jadilah yeojachinguku!” bisiknya ditelingaku.

N-ne..” jawabku terbata.

Jongin pun bangun dari posisi kami, dan aku masih menutup mataku. Aku tidak berani untuk menatapnya.

“Ah arraseo.. kita resmi menjadi sepasang kekasih. Besok kita berangkat sekoah bersama dan semoga yeojaku sembuh. Aku pulang,” ucapnya sembari berlalu pergi dari kamarku.

Apa yang sudah kau katakan Kim Jongin? Namja brengsek!

̶  Love Brings Happiness  ̶

Ttttiiinnn.. tttiiiinn..

“Chae ri ya cepatlah sedikit, Kim Jongin sudah ada di depan,” panggil oppa.

“Ah ne. Oppa.. aku..”

Oppa senang sekali, akhirnya kau mempunyai namjachingu,” sambil mengacak-acak rambutku.

Oppa!!”

“Cepat pergi, Kim Jongin sudah menunggumu,” perintahnya lagi.

“Aaaiisshh, arra. Oppa aku berangkat,” pamitku pada Chanyeol oppa.

Kulihat mobil Jongin sudah terpampang di depan rumahku. Ingin rasanya aku kabur dan tidak melihat namja sialan itu lagi. Namun, apadaya. Aku terjebak.

Yeobo, kajja,” panggilnya.

“Hmm.”

Selama perjalanan, kami berdua hanya diam saja dan Jongin tiba-tiba saja mengeluarkan ucapannya.

“Aku belum mengerjakan tugas, tolong kerjakan!” suruhnya.

Mwo? Aniya,” tukasku.

“Baiklah akan kusebar foto ̶  “

Arraseo.. arraseo.. aku akan mengerjakannya.”

Kau! Namja sialan! Jadi, kau hanya menjadikan pacarmu sebagai pembantu. Benar-benar keterlaluan!

“Sudah selesai?” tanyanya.

“Hmm.”

“sudah sampai. Oh ya, kau harus memanggilku oppa dan ingat! Kita harus mesra dihadapan mereka,” jelasnya.

Mwo?! Ya Jongin ssi ̶  “

“Panggil aku oppa atau kau terancam!” ancamnya.

“Aiisshh!” timpalku frustasi.

Selama di sekolah kami berdua bertingkah mesra walau aku terlihat begitu kaku. Kemudian, aku dan Jongin pergi ke kantin untuk makan siang bersama.

“Jongin ssi, bisakah kau lepas rangkulanmu?” tanyaku hati-hati.

Namun, ia hanya diam saja.

“YA KIM JONGIN!”

Jongin pun terlonjak dan membisikkan sesuatu, “Panggil aku oppa!”

“Aaiisshh sudahlah aku ingin pergi ke perpustakaan.”

“Jangan!” sergahnya.

Mwo?”

“Ayolah kita makan. Cepat belikan aku makanan!” perintahnya dan ia duduk di meja sudut kantin.

Kau benar-benar ingin membuat masalah, eoh?! Ya tuhan, tolong aku. Aku tidak ingin terjebak dalam permainannya. Aku pun kembali kehadapannya sambil membawa makanannya.

“Ini, cepatlah makan,” ucapku sambil menyodorkan makanannya.

“Kau tidak membeli juga?” tanyanya.

“Ani, aku tidak lapar.”

Jongin pun melahap makanannya tanpa menawariku sedikit makanannya. Bukannya aku ingin makan, setidaknya ia perhatian padaku. Sudahlah lupakan hal itu, tidak mungkin Jongin akan seperti itu.

“Tolong bersihkan sepatuku!” perintahnya lagi.

“Aku tidak mau!”

Aku pun bangkit dari tempat dudukku. Namun, Jongin berhasil mencengkram tanganku.

“jangan melakukan hal bodoh, chagi,” ucapnya.

“Sakit Kim ̶  maksudku oppa. Lepaskan,” rintihku.

“Duduk,” ucapnya datar.

Aku hanya bisa menuruti permintaannya dan kembali duduk bersamanya.

“Kita putus!” ucapku.

“Tidak akan!” ucapnya lagi.

“aku lelah dengan permainanmu Jongin.”

Aku segera bangkit dan pergi meninggalkannya, namun Jongin segera mengejarku dan langsung membalikkan tubuhku sehingga kami berhadapan.

“Kim Jongin lep ̶  “ belum sempat menyelesaikan perkataanku, ia menyambar bibirku dan memelukku dengan sangat erat.

Sekeliling kami sudah sangat ramai akibat ulah Jongin. Aku merasakan ciumannya kali ini sangat lembut. Aku hanya diam tanpa membalas ciumannya. Lama.. lama.. ia pun melepaskan pertautan diantara kami berdua. Namun, setelah itu ia meninggalkanku yang masih diam sendiri di kantin. Aku tidak mengerti dengan sikapnya yang terkadang berubah-ubah. Aku ingin Kim Jongin yang dulu, bukan yang sekarang.

Bel akhirnya berdentang menandakan waktunya pulang bagi kami. Aku segera menuju tempat pemberhentian bus. Selama pulang sekolah aku tidak melihat Jongin, sepertinya ia pulang duluan. Ah, sudahlah lupakan. Lebih baik ia tidak menggangguku. Bus yang aku tunggu pun akhirnya datang dan aku segera bergegas menaikinya. Selama perjalanan menuju rumah, aku hanya merasakan udara segar yang begitu sejuk. Aku baru menyadari ternyata Seoul sangat begitu indah. Park Chae Ri, kau beruntung.

Sesampainya di rumah, aku langsung memasuki kamarku. Aku tahu Chanyeol oppa tidak akan pulang malam ini, karena ia begitu sibuk. Arraseo, tidak apa. Aku memang sudah terbiasa hidup sendiri. Tanpa menunggu lama, aku pun bergegas merebahkan diri di kasurku. Sungguh lelah hariku kali ini. lambat laun aku pun tertidur.

Author’s Pov

Hari sudah semakin gelap, Chae Ri mencoba membuka matanya dan mengerjapkannya. Namun, ia begitu kaget saat melihat namja dihadapannya. Kim Jongin. Namja yang berada dihadapannya itu sedang tidur dengan damainya. Chae Ri bingung mengapa Jongin bisa masuk kedalam rumahnya bahkan tidur bersamanya. Enggan rasanya bagi Chae Ri untuk menganggu Jongin. Jongin terlihat lelah, namun satu hal yang membuat Chae Ri nyaman adalah Jongin tertidur sambil memeluk pinggang Chae Ri dengan sangat eratnya. Entah apa yang membuat Chae Ri berani, ia mengusap-usap wajah Jongin dengan sangat lembutnya.

“Aku.. akan lebih mencintaimu.. jika kau tidak memperlakukanku seperti ini.. Kim Jongin,” ucapnya sedikit serak.

Dengan keberanian yang sudah terkumpul, Chae Ri menghapus jarak diantara mereka dan perlahan ia mencium bibir Jongin sekilas.

Jaljayo.. oppa,” Chae Ri pun kembali tertidur.

Dilain sisi, sebenarnya Jongin tidak benar-benar tidur. Ia mengetahui jika Chae Ri sudah bangun, namun ia tidak ingin merusak momen ini. Jongin mendengar bahwa Chae Ri mencintainya, dan satu hal yang membuat ia bahagia adalah Jongin tidak menyangka bahwa Chae Ri akan berani menciumnya walaupun itu bukan lumatan. Jongin tersenyum kecil.

“Aku sangat beruntung, Park Chae Ri..” tukasnya dalam hati.

Author’s Pov End

Hoaam.. ah nyenyak sekali tidurku, namun aku merasakan sesuatu hal yang berbeda. Ku buka mataku perlahan.. dan mwo? Kenapa aku bisa berada di dalam mobil?

“Pagi chagi..” ucap seorang namja yang sedang menyetir mobil.

“Ya Jongin ssi! Kau menculikku, eoh?” tanyaku dengan nada sedikit kesal.

Ani. Aku sudah meminta izin pada Chanyeol hyung dan ia pun mengizinkannya,” ucapnya dengan mengembangkan senyuman.

“Aaiisshh bagaimana bisa kau membawaku disaat aku sedang tertidur? Lagipula ini hari minggu. Kita mau kemana? Aku lelah menjadi pembantumu,” ucapku lagi sambil mengacak-acak rambut.

“Kau tidak akan menjadi pembantuku, namun..”

“Hah, namun apa?”

Baby sitter ku, haha,” timpalnya dengan gelak tawa.

“Aaiisshh, sudah kuduga. Mana ada seorang Kim Jongin berbuat baik padaku,” gelagatku.

Mwo? Apa kau bilang tadi?” tanyanya kaget.

Aniya,” timpalku dengan menggarukan kepala.

Dalam perjalanan kali ini, tumben sekali Jongin mengajakku berbicara. Ya walaupun agak aneh dengan alur pembicaraannya. Kadang ia menanyakan sesuatu tentang Chanyeol oppa dan ya terkadang ia menanyakan hal yang tidak berguna seperti, “Kau masih suka menonton spongebob? Aku sangat menyukai squidward.” Ya Kim Jongin, lucu sekali kau ini. Ternyata, kau masih suka menonton kartun itu. Namun, kali ini ia memberhentikan mobilnya di pinggiran jalan.

Wae? Jangan katakan jika kau ingin menuruniku seperti insiden kali itu?” tanyaku dengan menyipitkan mataku.

“Kkk.. aniya, chagi. Gantilah pakaianmu. Itu dibelakang pakaianmu,” jelasnya.

Aigoo.. untungnya ia tidak menuruniku lagi. Kau membuatku frustasi Kim Jongin dan juga.. membuatku semakin ingin bersamamu.

Jongi’s Pov

Hari ini aku akan membuatmu tertawa riang Park Chae Ri. Percayalah.

“Jong ̶  eh maksudku oppa, kajja kita berangkat!” ajaknya yang sudah mengganti pakaiannya.

“Kau terlihat cantik dengan pakaian itu,” ucapku sambil menghidupkan mobil.

“Ya oppa, jangan membuat wajahku memerah,” timpalnya sembari memalingkan wajahnya ke jendela.

“Hahaha, kau lucu sekali chagi.”

Chakkaman. Memangnya kita mau kemana? Aigoo.. kau belum mengatakannya padaku.”

“Menculikmu.”

“Eoh?! Mwo?! Aigoo.. bisa gila aku.”

“Kau akan tahu nanti Park Chae Ri.”

 

̶  Love Brings Happiness  ̶

 

“Sudah sampai, kajja kita keluar,” ajakku.

Kami berdua keluar dari mobil ini. udara segar pepohonan menyapa kami dengan damainya. Aku pun menggandeng tangan Park Chae Ri dan jalan bersama. Kulihat Chae Ri sangat takjub dengan semua ini dan berkata, “Wooaa oppa, Nami Island. Aku sangat suka udaranya dan juga suasananya.”

Aku hanya menatapnya dengan senyum yang mengembang di wajahku.

Jongin’s Pov End

 

̶  Love Brings Happiness  ̶

 

Author’s Pov

Selama mengunjungi Nami Island, Jongin dan Chae Ri menikmati indahnya dan segarnya suasana disana. Mereka mengitari Nami Island dengan penuh rasa gembira. Begitupun Jongin, ia terus menggenggam tangan Chae Ri. Ia baru sadar, bahwa ia ternyata benar-benar menyukai gadis ini. Namun, selama ini ia masih bergelut dengan egonya sendiri. Ia bukan berubah melainkan namun ia mencoba untuk memastikan apakah benar ia mencintai gadis ini atau tidak. Tapi ternyata, Kim Jongin sungguh mencintai Park Chae Ri.

Oppa.. annyeong. Ya oppa! Gwenchana?” Chae Ri pun mengkibas-kibaskan tangannya di depan wajah Jongin.

Akhirnya, Jongin tersadar. Mereka berdua sekarang sedang duduk dan Jongin tidak juga melepaskan genggamannya dari tangan yeojachingunya itu. Jongin pun menoleh ke arah Chae Ri yang sedang menghirup udara sambil menutup mata. Ia pun langsung menyandarkan kepalanya pada bahu Chae Ri.

“Ya o-opp-ppa.. gwenchana?” tanyanya gugup.

“Udaranya membuatku ingin tertidur. Damai sekali rasanya.. aku ingin seperti ini.. selamanya.. bersamamu, Park Chae Ri.”

Tubuh Chae Ri terlihat menegang dan sungguh kaget dengan perlakuan Jongin. Hingga akhirnya, ia hanya terdiam sambil menahan nafasnya. Begitu juga Jongin, ia semakin mengeratkan genggamannya dan masih dengan posisi kepala di bahu Chae Ri. Lama mereka dalam posisi seperti itu, Jongin pun terbangun dan membawa Chae Ri pergi dari tempat itu.

“Kita mau kemana lagi?” tanya Chae Ri dengan nada yang sedikit penasaran.

“Ikuti saja aku, kajja.”

̶  Love Brings Happiness  ̶

Oppa.. wooaa.. kau benar-benar membuatku terkesima dengan semua ini. Everland! Aku menyukai ini. ah oppa kau baik sekali.”

Chae Ri terlihat sangat senang dan memeluk Jongin dengan tawa yang tidak terrtahankan.

“Sebelum kita bermain kembali, kita harus makan dulu. Kau dari tadi pagi belum sarapan. Ayo,” ajak Jongin.

“Aku tidak ingin makan. Aku hanya ingin bermain kesana oppa.. aku hanya ingin naik kincir angin itu,” rengek Chae Ri.

Aniya. Kita harus makan siang dulu,” sergah Jongin.

Oppa..”

Chagi..”

“Ah arraseo. Kajja kita makan.”

Mereka berdua pun makan siang di sebuah restoran bernuansa Jepang. Sebenarnya, mereka berdua terlihat sangat lapar, namun hal itu mereka tutupi dengan kebahagiaan yang sedang mereka rasakan. Saat makan pun mereka masih semangat tertawa riang. Park Chae Ri sempat tidak bisa menahan tawanya disaat Jongin mengikuti suara layaknya squidward. Begitu juga Jongin yang gemas melihat yeojachingunya karena ia berhasil membuat Park Chae Ri bahagia.

“akhh.. I’m full oppa.”

“Lalu, kau yakin ingin menaiki kincir angin itu?” tanya Jongin.

Chae Ri mengangguk dan berkata, “Wae? Kau takut?”

Jongin menggeleng cepat, “Aniya. Aku berani. Kajja!” ajaknya sembari menggandeng tangan Chae Ri lagi.

Mereka berdua menaiki kincir angin tersebut. Everland terlihat sangat indah jika dilihat dari atas. Jongin dan Chae Ri sangat terkesima dengan pemandangannya.

Oppa. Ini menakjubkan!” ucapnya yang setengah sadar.

“Hmm.. aku juga merasakannya.”

Chae Ri melirik ke arah Jongin dan ia segera memeluk namjanya itu dengan sangat erat. Jongin terlihat kaget dengan perlakuan yeojanya ini. Namun, jauh didalam lubuk hatinya, ia sangat menyukai hal ini. Jongin pun membalas pelukan Chae Ri. Mereka saling memeluk dengan sangat eratnya seolah-olah mereka tidak ingin kehilangan satu sama lain. Namun, seketika tangan Chae Ri bergetar. Ia menangis.

Wae? Ada yang salah?” tanya Jongin yang masih memeluk Chae Ri.

“Aku mencintaimu oppa, neomu neomu saranghae,” ucap Chae Ri yang langsung mencium pipi Jongin sekilas.

Jongin pun semakin merasa sangat bahagia dengan ini semua. Ini bukan mimpi. Ini benar-benar asli.

Akhirnya, mereka turun dari permainan kincir angin tersebut. namun, ternyata Jongin masih memiliki kejutan untuk Chae Ri.

Kajja kita ke satu tempat lagi,” ajaknya yang langsung membawaku pergi dari Everland.

 

̶  Love Brings Happiness  ̶

 

Ttiikk.. ttiikk.. ttiikk

Mwo? Aigoo.. hujan. Oppa ayo kita mencari tempat berteduh,” ajak Chae Ri.

Hujan rintik-rintik membasahi mereka berdua. Untungnya mereka sudah sampai di tempat tujan. Namsan Tower. Itulah tempatnya. Namun, bukan tower yang akan mereka kunjungi, melainkan Teddy Bear Museum. Entah mengapa Jongin ingin sekali mengajaknya kesini.

Aigoo.. untungnya bajuku tidak basah. Kau tidak basah juga kan?” tanya Chae Ri.

Ani. Ayo kita masuk kedalam,” ajak Jongin sambil menarik tangan Chae Ri.

Oppa, ini tempat apa?”

“Kau tidak tahu?” tanya Jongin dengan tatapan jahilnya.

Chae Ri pun menggeleng dengan wajah polosnya.

“Ini adalah rumah hantu,” timpal jongin.

Sontak saja Chae Ri pun langsung merapatkan tubuhnya pada Jongin.

Oppa.. ayo pulang..” ajak Chae Ri yang terlat ketakutan.

“Kkk.. ya Park Chae Ri. Keumanhae! Ini Teddy Bear Museum. Kau sungguh lucu Chae Ri ya.”

“Ya oppa! Aaiisshh jantungku hampir copot.”

Jongin pun hanya tertawa akan kelakuan Chae Ri. Mereka sepertinya terlihat begitu antusias dengan museum ini. jongin menjelaskan apapun yang ia ketahui tentang museum ini, walaupun Chae Ri terlihat sedikit bosan. Namun, ia tetap mengikuti Kim Jongin. Jauh didalam lubuk hatinya, ia merasakan kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Setelah ia melihat-lihat museum tersebut, mereka berdua pergi ke toko pernak-pernik teddy bear. Namun, Jongin pergi ke toilet, sehingga hanya Chae Ri sendiri yang berada didalam toko tersebut. Tanpa sengaja, ia menemukan kalung teddy bear yang begitu membuatnya tertarik. Itu adalah kalung untuk pasangan. Saat Chae Ri ingin membelinya, ia teringat akan sesuatu. Ia tidak membawa dompet. Chae Ri pun hanya menghembuskan nafas kecewa dan pergi keluar toko tersebut. Namun, ia mendapatkan sebuah kotak masuk dari Jongin.

Pergilah ke sebuah tempat yang berada jamnya yang terletak  di dekat Namsan Tower.

Tanpa berpikir panjang, Chae Ri pun segera pergi ke tempat tersebut. Hari sudah semakin gelap dan untungnya hujan sudah reda. Chae Ri sampai ke tempat itu, namun ia tidak melihat sosok namjanya. Ternyata sudah pukul sembilan malam. Sebenarnya Chae Ri sudah merasakan lelah. Namun, jika ia teringat Kim Jongin, lelah itu seakan-akan hilang. Lama Park Chae Ri menunggu, sebuah lengan berhasil memeluknya dari belakang. Chae Ri terlihat kaget. Orang yang memeluknya itu menyandarkan dagunya pada bahu Chae Ri.

“Sudah lama menunggu?”

N-ne..”

“Ternyata begitu hangat berada didekatmu chagi,” ternyata namja itu Jongin.

“Kau dari mana saja?”

Ani. Aku dari tadi disini.”

“Aaiisshh, kau ̶  “

“Kau telah membuat kebahagiaan masuk kedalam hidupku Chae ri ya..aku sangat senang berada didekatmu. Bersamamu. Walaupun awalnya kita bersama didasarkan atas sebuah ancamanku. Namun, semenjak hari-hariku bersamamu, aku sungguh tidak bisa berpikir normal. Aku hanya memikiramu,” ucapnya yang semakin mengeratkan pelukannya.

Chae Ri merasakan hembusan nafas Jongin yang berada dibahunya, “Oppa.. kau ken ̶  “

“Aku sudah banyak membuatmu terluka, aku begitu menyesal Chae Ri ya..”

Jongin melepas pelukanya dan membalikkan tubuh Chae Ri sehingga mereka berhadapan. Jongin mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Kalung teddy bear. Itu adalah kalung yang sempat Chae Ri ingin beli. sontak Chae Ri kaget dengan hal itu. Jongin pun langsung memakai satu kalung dilehernya dan ia juga memakaikannya pada Chae Ri. Lalu, ia memeluk Chae Ri kembali.

“Dengan kalung ini, aku yakin kita tidak akan terpisahkan. Kau dan aku selalu bersama.. untuk selamanya,” jelas Jongin.

Gomawo oppa..” timpal Chae Ri yang membalas pelukan Jongin.

“Kau sangat-sangat begitu berharga bagiku, aku tidak ingin kehilanganmu, Chae Ri ya.. kau akan terus bersamaku,” ucapnya lagi sambil mengeratkan pelukannya.

“Aku juga sangat bahagia bisa bersamamu oppa..”

Sambil melepaskan pelukannya, “Kau janji kita akan selalu bersama?

Ne..”

Jongin pun mensejajarkan wajahnya dengan wajah Chae Ri, “Saranghae Park Chae Ri.”

Jongin pun langsung mencium bibir mungil Chae Ri. Yeojanya sempat ingin menghindar, namun Jongin menguncinya dengan memeluknya juga. Alhasil, mereka berdua saling membalas ciuman satu sama lin. Dan mereka pun berjani akan selalu bersama, selamanya.

Finish

Bagaimana ff ku yang ini? maaf ya kalau agak aneh, soalnya aku juga masih dalam tahap pembelajaran. Oh iya, kira kira aku harus buat sequel nya ga ya? Tolong komentar ya chingu. Oh iya yang ingin mengenal author bisa follow @cindyyy_ar *aku ga promosi kok* hehe..

Iklan

42 pemikiran pada “Love Brings Happiness

  1. ya ampun,,jongin mau mastiin cinta atau engganya ke cha eri aja sampe harus ngebully segala,,untung aja jonginnya ganteng hahhaha
    ffnya bagus,,jd bacanya juga ikutan ngefly*apasih?? hehehe
    ceritanya juga mudah di pahami,,meskipn aku bingung siapa yg nyiram cha eri wktu di kantin???tp secara keseluruhan keren,,
    KEEP WRITING THOR^^

  2. jadi GR sendiri kkkkkkkkk~ nasib 3 nenek grondong gimana thour ? Wkwkwkwk… Kai kesannya jail banget disini, suka. Thour follback @_ima92YES ye…

  3. wuahh daebak jongin aduh awalnya mengerikan tapi trnyata dia bnar2 mencintai chae ri ff nya daebak 🙂 and keep writing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s