Private Arrangement (Chapter 4)

Allendale’s Proudly Present:

Private Arrangement [Chapter-Four]

Poster PA-EXO-3

 

Genre: Marriage and Drama | Rating: PG-17 | Main Cast: Park Chanyeol and Shin Yeonju | Support Cast: Kim Jongin, Lee Hana, and others

.

.

.

Summary:

Park Chanyeol, penerus L.co Group ke empat, punya masalah: ia harus menikah dan memiliki pewaris. Bahkan bukan ibunya saja yang mendesak Chanyeol. Ada sebuah tradisi dimana penerus saat ini menginjak usia dua puluh tiga dan harus segera merencanakan masa depan perusahaan dengan membuat penerus baru. Chanyeol tidak merasa keberatan, tentu saja, ia hanya mempercayakan ibunya dalam hal ini. Namun terjadi banyak kendala, dua kali bertunangan, sebanyak itu pula ia gagal menikah.

Mengetahui dilema Chanyeol, Shin Yeonju menawarkan diri untuk menjadi pengantinnya. Tapi Yeonju bertekad menjaga jarak dari lelaki itu. Dan ia akan melakukan apa pun untuk menyembunyikan kelemahan terbesarnya, bahwa ia sudah bertahun-tahun jatuh cinta kepada Park Chanyeol.

Setelah lonceng pernikahan dibunyikan, Yeonju menduga Chanyeol merahasiakan sesuatu darinya. Apakah rahasia yang disembunyikan Chanyeol? Bagaimana kehidupan pernikahan mereka? Dan apa reaksi Chanyeol bila mengetahui bahwa istrinya ternyata sudah lama mencintainya?

 

Disclaimer:

Inspired by movie of Anna Karenina and Boys Before Flowers.

Walaupun cerita ini terinspirasi dari kedua fim tersebut, cerita sepenuhnya berbeda. Saya cuma mengambil beberapa Kejadian dan kebiasaan dari kedua film.

Do not copy-paste this fanfiction without my permission and don’t be a Silent Readers.

 

 

***

 

 

 

“Aku mencintaimu.”

Chanyeol menatap wanita itu sejenak sebelum bergerak lagi, kali ini dengan penuh tekad. Gerakan terakhir itulah yang dibutuhkan wanita itu, dan ia merasakan dirinya kehilangan tempat berpijak pada dunia nyata. Sambil menjejak tempat tidur yang sepenuh gairahnya, Nari meneriakkan nama Chanyeol sewaktu dunianya meledak dalam hasratnya. Otot-otonya menegang, memeluk Chanyeol, meruntuhkan pertahanan Chanyeol, dan lelaki itu memekik penuh kemenangan sewaktu ikut meledak di dalam tubuh kekasihnya.

Bermenit-menit kemudian, sewaktu mereka berbaring sambil berpelukan dalam kemesraan yang memuaskan, Chanyeol mendesah dalam, membenamkan wajah di leher Nari. “Aku tadi khawatir tidak akan pernah mendengar kata-kata itu lagi.” Ujar Chanyeol pelan.

Nari membenamkan jemarinya pada rambut hitam Chanyeol dan mengacaknya. “Aku masih khawatir aku tidak akan pernah mendengarnya lagi.”

Chanyeol mundur dan menangkup wajah Nari. “Aku mencintaimu, Nyonya Park Nari.” Katanya dengan tulus. “Aku cinta padamu dengan sepenuh hatiku dan segenap jiwaku. Aku mencintaimu dengan cara yang tidak pernah kubayangkan akan kurasakan kepada seorang wanita selain dirimu. Aku mencintaimu seperti…”

“Stop,” seru Nari, matanya berkaca-kaca.

“Kenapa, Chagiya?”

“Aku bahagia sekali,” kata Nari dengan suara tercekat.

“Itu masih belum cukup. Sebetulnya, aku berniat memberikan seluruh hidupku untuk memastikan bahwa setiap harinya kau hidup lebih bahagia daripada sebelumnya.”

“Kurasa itu tidak akan sulit selama kau di sampingku.”

Chanyeol tersenyum. “Seakan-akan aku mau meninggalkanmu saja.”

“Bagus,” sahut Nari.

“Seolah-olah kau akan membiarkanku melakukannya saja,” Chanyeol berceloteh. “Kekasihku yang galak. Bisa jadi kau akan mengejar-ngejarku sambil membawa senapan.”

Nari duduk, dan melempar Chanyeol dengan bantal. “Nakal, kau.” Sambil tertawa gembira, ia membiarkan Chanyeol menindihnya di ranjang. “Di samping itu, aku tidak bisa menembakkan senapan.”

“Apa? Kekasihku yang suka memanjat pohon, memancing, memukul pencopet, tidak bisa menembakkan senapan? Aku kecewa.”

“Tapi kalau dengan pistol, kemampuanku di atas rata-rata.”

Chanyeol mencondongkan badan untuk mencium Nari. “Nah, itu lebih masuk akal.”

“Chanyeol?”

“Hmm?”

“Kau tidak perlu segera pulang ke rumahmu, kan?”

“Kurasa begitu. Mengapa kau bertanya?”

“Aku ingin bersama denganmu lebih lama malam ini.”

Chanyeol mendekap Nari ke dadanya, mensyukuri cinta mereka berdua. “Kurasa itu bisa diatur.”

 

 

***

 

 

 

 

Jam makan malam sudah lama berlalu ketika Chanyeol akhirnya pulang. Yeonju yang merasa membutuhkan pengalihan memilih melukis di buku gambar. Di kakinya, Mouse terduduk ketika mendengar kedatangan Chanyeol. Sekarang anjing itu berjalan ke pintu dan mengendus celahnya.

Yeonju menggerakkan tangannya dengan terampil, menghasilkan kerangka gambar yang bagus. Ia senang melihat betapa stabil jemarinya. Mungkin setelah sering berada di dekat Chanyeol, ia bisa mengatasi sensitivitasnya yang tinggi terhadap pria itu. Hanya Tuhan yang tahu betapa membantu kesabaran yang ia rasakan selama berjam-jam menunggu pria itu. Oh, Yeonju masih merasakan Chanyeol, masih ingin ditemani olehnya, tapi saat ini semua perasaan itu tertutup oleh kekecewaan. Ia belum melihat Chanyeol sejak sarapan, walaupun Baekhyun sudah memberitahu bahwa suaminya tidak akan makan malam dirumah—tetap saja, Yeonju harus menunggunya. Pernikahan mereka memang atas dasar kesepakatan, tapi bukan berarti Chanyeol bisa memperlakukan Yeonju seperti ini.

Yeonju bisa mendengar suaminya bicara dengan kepala pelayan dan para pelayan pria di lorong. Bukan pertama kalinya ada malam ini, ia bertanya-tanya apakah Chanyeol benar-benar lupa dia punya istri. Kelihatannya Yongguk pria yang perhatian. Mungkin pria itu akan mengingatkan tuannya mengenai keberadaan Yeonju.

Jam besar di rak perapian berdentang menandakan seperempat jam yang baru berlalu, nadanya kecil dan datar. Yeonju mengernyit dan menggambar sketsa. Ia duduk di ruang utama bernuansa kuning. Satu-satunya alasan ia memilih ruang duduk ini karena kedekatannya dengan aula depan. Chanyeol harus melewatinya sebelum pergi ke kamar tidur.

Pintu ruang duduk terbuka, mengejutkan Mouse. Anjing itu melompat mundur dan, seakan-akan menyadari dirinya ketahuan mundur, melompat maju untuk menyalak di pergelangan kaki Chanyeol. Chanyeol menunduk menatap anjing itu. Yeonju mendapat kesan Chanyeol tidak sungkan untuk menendang anjingnya.

“Mouse,” Yeonju memanggil untuk menghindari tragedi.

Mouse menyalak satu kali lagi, menghampiri Yeonju, dan melompat ke sampingnya di atas sofa kecil.

Chanyeol menutup pintu dan masuk ke ruang duduk, berdiri menatap Yeonju. “Selamat malam, Yeonju-ssi. Maaf aku tidak ikut makan malam. Kuharap Baekhyun tidak lupa memberitahumu.”

Yeonju tersenyum dan menunjuk kursi di hadapannya. “Aku yakin urusan yang menahanmu lebih penting, Chanyeol-ssi.”

Chanyeol berdeham, bersandar di kursinya dan meletakkan sebelah pergelangan kakinya di atas lutut kaki satunya. “Sepertinya begitu.”

Yeonju menggoreskan pensilnya lagi. Entah mengapa sepertinya malam ini suaminya tampak lesu, seakan-akan semangatnya yang biasa tiba-tiba menghilang. Kekecewaan Yeonju padam ketika bertanya-tanya apa yang membuat suaminya muram.

Chanyeol mengernyit menatap Yeonju. “Kenapa belum tidur?”

Mouse meletakkan kepala di pangkuan Yeonju. Yeonju membelai hidung anjing itu. “Aku menunggumu.”

Chanyeol membuka mulut lalu menutupnya lagi. Tatapannya tertuju ke sekeliling ruang duduk, dan Yeonju hampir bisa merasakan keinginan pria itu untuk melompat bangun dan pergi meninggalkannya. Namun, sebaliknya, Chanyeol mengetukkan jemari panjangnya di atas lengan kursi. Pria itu tampak lelah, dan—Yeonju merenung apakah Chanyeol memang selalu kelihatan lelah bila bersamanya?

Yeonju tidak suka melihat suaminya sedih. Itu membuat hatinya sakit. “Apa kau mau kubuatkan minuman? Atau sesuatu dari dapur? Aku yakin juru masak punya kidney pie sisa makan malam.”

Chanyeol menggeleng.

Sejenak Yeonju menatapnya, bingung. Ia sudah bertahun-tahun mencintai pria ini, tapi dalam banyak hal, ia tidak mengenalnya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk pria ketika lelah dan sedih. Yeonju menunduk, alisnya bertaut, lalu menyelesaikan gambarnya.

Chanyeol berhenti mengetukkan jemari. “Apa yang kau lukis?”

“Tidak ada. Hanya ingin melatih kemampuan tanganku.” Yeonju bergumam ketika membuat goresan lain dengan serius.

“Bukankah sebaiknya kau melukis di siang hari?”

Yeonju melirik Chanyeol dari balik kening yang tertunduk.

Wajah Chanyeol terlihat sedikit geli—tersenyum simpul. “Bukan berarti kau tidak boleh melukis pada malam hari, hanya saja—itu tidak biasa.”

“Aku senang melukis pada malam hari.”

Chanyeol mengetukkan jemari lagi.

Yeonju mempertegas goresannya dan mulai membuat bagian lain di dalam lukisannya yang indah. Menyenangkan juga duduk bersama-sama, meskipun mereka berdua sama-sama tidak tahu harus berbuat apa. Ia mendesah tanpah suara. Mungkin sifat bijaksananya akan muncul seiring waktu.

Chanyeol berhenti mengetukkan jemari. “Hampir lupa. Aku membelikan sesuatu untukmu saat pergi.” Ia merogoh saku mantelnya yang besar.

Yeonju menutup dan meletakkan bukunya lalu mengambil sebuah kotak. Hadiah itu dibungkus dan diikat secara hati-hati untuk melindungi isinya dengan baik, dan Yeonju mendapati bahwa ia dipenuhi oleh rasa penasaran. Sudah berapa lama sejak terakhir kali ia menerima hadiah? Hadiah dari seseorang yang tidak mengharapkan imbalan? Memandang suaminya lagi, ia melihat ketulusan yang baru pertama kali dilihatnya. Melihat kebaikan Chanyeol, Yeonju merasa ia akan menyukai apa pun yang ada di dalam pembungkus cokelat yang sederhana ini.

Ya. Ia sangat penasaran.

Yeonju membuka hadiahnya, memotong tali yang mengikat kertas dan menyingkapkan pembungkusnya. Membalikkan buku dalam genggamannya, ia tersadar akan perhatian Chanyeol. “Dari mana kau tahu kalau aku suka Mozart?”

Chanyeol tersenyum. “Kakakmu bilang kau gemar bermain piano. Aku tidak tahu siapa komposer kesukaanmu, jadi, kebetulan sekali kalau kau suka.”

Yeonju menelusuri sampul kulit buku dengan hati-hati. “Aku akan mulai membacanya hari ini.” Ia menatap mata Chanyeol, sungguh-sungguh. “Terima kasih, Chanyeol-ssi.”

“Anggap saja itu sebagai tanda permintaan maaf karena berteriak padamu tadi pagi,” kata Chanyeol. “Aku memang pria yang buruk.”

Yeonju menahan godaan untuk memeluk Chanyeol. “Kau tidak seburuk itu.”

Chanyeol menggeleng. “Itu bukan hal yang pantas, berteriak padamu pada hari pertamamu di rumah ini, dan aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.”

“Aku mengerti.” sahut Yeonju. “Sekali lagi, terima kasih. Aku sangat menyukainya.”

Di seberangnya, Chanyeol mengangguk dan berdiri. “Bagus. Kalau begitu kuucapkan selamat malam.”

Yeonju merasakan sapuan bibir Chanyeol di rambutnya, lalu suaminya sudah berada di depan pintu. Chanyeol menyentuh kenop pintu, lalu setengah berbalik menghadap Yeonju. “Lain kali kau tidak perlu menungguku.”

Yeonju mengangkat sebelah alis.

Chanyeol meringis. “Maksudku, aku terbiasa pulang sampai larut malam, dan tidak ada seorang pun yang menungguku di rumah. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau tidak melakukannya lagi. Lagipula aku tak akan mengunjungi kamarmu, setidaknya untuk sementara ini. Aku merasa kau harus mengetahuinya agar tidak khawatir. Tidurlah dengan nyenyak, Yeonju-ssi.”

Yeonju memiringkan kepala, menggigit bibir untuk menahan air mata, tapi Chanyeol sudah keluar.

Yeonju mengerjapkan mata dengan cepat, lalu menatap buku Biografi Mozart serta buku besar melukisnya. Ia memandang hasil goresan tangannya dengan sedih. Yeonju menyentuh gambarnya dan bertanya-tanya—apakah Chanyeol akan memperhatikannya—sungguh-sungguh memperhatikannya—sedikit saja, bahwa ia sedang melukis pria itu.

Yeonju memeluk hadiah Chanyeol dengan erat. Kemudian ia membereskan barang-barangnya dan keluar. Mouse membuntutinya.

 

 

 

***

 

 

 

Beberapa hari berikutnya dalam kehidupannya merupakan masa-masa yang paling menyulitkan yang pernah dialami Yeonju. Ia melewati hari-hari tersebut seakan dengan melayang-layang dalam kabut kekecewaan, bibirnya selalu tersenyum bila mengingat betapa ia harus melewati semua ini tanpa harus mengkhawatirkan para pelayan bahwa—sejujurnya, ia sangat ingin menangis. Walaupun kehidupannya bersama Chanyeol memberikan rutinitas baru—sarapan berdua di pagi hari, minum teh bersama diruang duduk untuk sekedar membicarakan perusahaan—meskipun Yeonju berusaha keras untuk mengobrol tentang aktifitas suaminya, tetap saja Chanyeol selalu menutup diri. Setiap petang, setelah makan, Yeonju mendapati Chanyeol sudah pergi tanpa sepatah kata pun.

Dan malam hari, tentu saja, Yeonju gunakan untuk bersembunyi—menunggu kepulangan Chanyeol.

Yeonju segera menyesuaikan diri untuk memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya jika sedang bersama Chanyeol. Suaminya itu harus mengurusi bisnis yang membutuhkan perhatian penuh, dan sering menghabiskan waktu di ruang kerja untuk menangani surat-surat dan dokumen-dokumen penting. Sesekali Yeonju mendapati dirinya berdiri didepan ruang kerja Chanyeol—selama beberapa menit yang penuh dengan kecemasan—berharap ia memiliki keberanian untuk sekedar mengetuk pintu.  Tapi jelaslah itu bukan sesuatu yang mudah yang bisa dilakukan Yeonju.

Sepuluh menit penuh pertimbangan yang pada akhirnya, Yeonju harus memanggil Hana untuk membawa kembali teh susu hangat yang ia rencanakan untuk suaminya. Kakak laki-lakinya bilang, pria suka meminum minuman hangat ketika sedang stress karena pekerjaan. Dan Yeonju tahu, Chanyeol sangat membutuhkan minuman itu.

“Anda yakin, Miss?”

Yeonju berusaha untuk tersenyum. “Bawa saja ke dapur. Aku yakin Tuan Chanyeol tidak mau diganggu saat ini.”

Hana menatap majikannya ragu-ragu. “Tapi ini sudah minuman kelima yang Anda buat. Semuanya berakhir di tempat pencucian tanpa disentuh sedikit pun. Dan saya yakin—bukan maksud saya untuk membantah Anda, Miss—tapi tak lama setelah ini, saya akan menemukan Anda disini dengan secangkir teh susu hangat lagi. Hanya berdiri—memandangi pintu bodoh itu—sampai teh susu tersebut sudah dingin. Saya bertanya-tanya—mungkin ini tidak pantas—tapi kenapa Anda tidak mau mencoba mengetuk? Tuan Chanyeol pasti tersanjung dengan sikap perhatian yang Anda berikan. Well, seandainya saja beliau tahu apa yang Anda lakukan, Miss.”

“Mungkin kau memang benar, Hana. Namun faktanya bahwa Tuan Chanyeol tidak keluar dari ruangan selama berjam-jam, melewatkan jam makan siang, mengabaikan apa pun yang terjadi diluar, aku berani berasumsi dia sama sekali tidak ingin diganggu. Bahkan kalau saja tiba-tiba dia merasa butuh minuman panas, dia sudah menyuruh seorang pelayan untuk membuatkannya. Rasanya lucu, jika aku tiba-tiba mengetuk pintu, masuk dengan secangkir teh panas, dan dia akan menyambutku dengan alis terangkat lalu berkata ‘Kau tidak perlu repot-repot. Aku sudah mendapatkan teh hangat dari juru masak.’”

“Anda tidak akan pernah tahu kalau Anda tidak mencobanya.” kata Hana.

Yeonju merasa pening, tapi sama sekali tidak pernah melupakan senyumnya. “Aku tahu.” katanya. “ Aku tahu bahkan sebelum aku mencobanya.”

Bibir Hana berkedut. Ia hendak membuka mulut sebelum Yeonju berkata dengan lembut bahwa tidak ada yang perlu dikatakan lagi. Dan setelah majikannya melangkah pergi dengan sangat anggun di lorong yang sepi, Hana diam-diam menatap pintu ruang kerja Park Chanyeol. Mencampuri urusan orang lain memang bukan sifatnya, tapi untuk yang satu ini adalah pengecualian. Sejak pertama kali mengenal Yeonju, Hana sudah bersumpah untuk menyayangi Shin Yeonju sampai kapan pun.

 

 

 

***

 

 

 

 

Chanyeol bersandar ke kursi berlengannya. Pekerjaan ini benar-benar menguras pikirannya. Kertas-kertas surat dan beberapa proposal menumpuk di hadapannya membutuhkan perhatian pria itu. Semua ini jelas menyita waktunya.  Belum lagi masalah tunggakkan yang disebabkan penyewa tanah miliknya di daerah Gangnam.

Seandainya saja Taehyun-Hyung masih hidup, pikir Chanyeol. Situasi ini pasti berbeda. Chanyeol rela kehilangan seluruh kemewahan demi sebuah kebebasan. Chanyeol tidak pernah bermimpi menjadi pewaris sekalipun, bahkan membayangkannya saja ia tidak mau. Namun, Chanyeol tersadar inilah takdir—garis kehidupan—yang mau tidak mau harus dipikul. Ia sudah tahu semenjak kematian kakak laki-lakinya diumumkan bahwa saat itu juga hidupnya akan berbuah. Seolah-olah ada bobot besar yang sangat berat menempel di pundaknya. Rasa tanggung jawab terhadap perusahan keluarganya bersandar kemanapun ia melangkah, menemainya tidur, bahkan membuntutinya hingga sampai saat kunjungannya ke rumah Nari.

Chanyeol selalu dibayang-bayangi kematian kakaknya, ucapan terakhir ayahnya sebelum meninggal, dan wajah ibunya yang penuh harap. Belum lagi akhir-akhir ini ia sering memikirkan seorang wanita. Wanita itu adalah istrinya sendiri dan Chanyeol sungguh tak habis pikir bahwa ia memimpikan wanita itu. Di dalam tidurnya, Yeonju sangat cantik, begitu menarik, dan… menggairahkan.

Pada saat itu setelah mandi, ia merangkak naik ke tempat tidurnya, benar-benar tak peduli pada langit yang masih terang di luar dan senja yang akan turun sejam lagi. Ia benar-benar letih sehingga berniat segera tidur, tidur tanpa mimpi, tak terbangun sampai esok hari. Tapi pada suatu waktu di malam itu, tubuhnya mulai gelisah dan lapar. Dan benaknya yang berkhianat dipenuhi bayangan mengerikan. Ia melihat bayangan-bayangan itu seakan melayang-melayang di langit-langit, tapi ia merasakan semuanya—tubuhnya, yang telanjang, bergerak di atas tubuh kenyal seorang wanita, tangannya mengelus dan meremas kulit yang hangat. Kaki dan tangan yang saling mengait, aroma seks dari dua tubuh yang sedang memadu cinta—semua ada disana, panas, dan hidup dalam ingatannya.

Lalu ia bergeser. Hanya sedikit, mungkin ingin mencium telinga wanita tanpa wajah itu. Hanya saja ketika ia bergeser ke samping, wanita itu tak lagi tanpa wajah. Mula-mula yang terlihat adalah rambut tebal berwarna kemerahan, dengan lembut mengilap dan menggelitik bahunya. Kemudian ia bergeser lebih jauh…

Dan ia melihatnya.

Bukan Kim Nari.

Wanita itu Shin Yeonju.

Ia langsung terbangun, duduk tegak di kasur dengan tubuh gemetar. Itu adalah mimpi erotis paling jelas yang pernah dialaminya. Mimpi yang paling membangunkan gairahnya. Juga mimpi yang tak pernah diharapkannya. Ia meraba-raba sekeliling seprainya amat takut akan menemuikan bukti gairahnya. Ya Tuhan, semoga ia tidak ejakulasi ketika memimpikan istrinya sendiri untunglah seprainya bersih, jadi dengan jantung berdebar keras dan napas berat, ia kembali membaringkan tubuh di bantal, gerakkannya perlahan dan hati-hati, seakan-akan ingin mencegah mimpi itu datang kembali.

Ia menatap langit-langit kamarnya selama berjam-jam, mula-mula ia mengingat bisnis yang sedang dijalaninya, lalu ia mulai menghitung sampai seribu, semua usaha dilakukannya agar otaknya tidak memikirkan Shin Yeonju, lebih-lebih ia menahan godaan untuk mengetuk pintu kamar istrinya dan membuat mimpinya menjadi nyata.

Dan hebatnya, ia berhasil mengusir bayangan wanita itu dari otaknya dan tertidur.

Tapi sekarang bayangan istrinya datang lagi. Well, sungguh aneh, pikir Chanyeol. Selama dua tahun bersama Nari, ia tidak pernah bermimpi tentang wanita itu, bahkan sampai seerotis mimpinya dengan Yeonju.

Tanpa sadar, ia menghela napas. Ia tidak mengizinkan bayangan istrinya masuk ke ruang kerjanya. Chanyeol harus memastikan hal itu. Jadi ia mulai mengalihkan pikirannya. Di sebelahnya, Kim Jongin, berdiri dengan tegak sambil memeriksa pembukuan tentang pengeluaran bulan lalu. Jongin cukup pintar, cukup berakal untuk mengurus keuangan. Chanyeol melirik Jongin dengan ekspresi perpaduan antara lelah dan kagum.

“Kau begitu semangat membantu pekerjaanku.” kata Chanyeol sambil mengamati salah satu proposal. “Kalau tidak salah, aku sudah menawarimu posisi sebagai manager di salah satu sahamku, kan?”

Walaupun Jongin tak menghiraukannya, Chanyeol bisa melihat bahu pria itu semakin tegak.

“Kau tinggal memilih, Jongin. Jarang ada orang yang seberuntung dirimu.” tambah Chanyeol.

Jongin menggumamkan sesuatu yang tidak dimengerti Chanyeol, kemudian dengan masih menatap pembukuan itu ia berkata. “Kalau boleh kukoreksi, Guv, tidak ada satu pun orang yang seberuntung aku.”

Chanyeol mengangkat alisnya, sambil mencoret bagian yang menurutnya salah di dalam proposal. “Well, kalau begitu kenapa kau menolak posisi yang kutawarkan?”

“Aku tidak pernah menolaknya.”

“Ya, kau pernah. Dan itu terjadi lebih dari dua kali.”

“Aku tidak ingat pernah melakukan hal sembrono seperti itu.” Jongin membalik ke halaman selanjutnya.

“Jelas kau harus pergi ke rumah sakit. Dokter akan menyuruhmu duduk di antara alat-alat yang tidak pernah kau lihat, memaksamu diam dan menyuntikkan obat yang akan membuatmu tertidur selama dua hari, setelah itu para dokter akan meneliti otakmu sampai ingatan tentang insiden penolakan itu ditemukan. Mungkin dokter tidak perlu repot-repot mengeluarkan otakmu karena aku akan dengan senang hati melakukannya sendiri.”

Sudut mulut Jongin melengkung. “Jangankan kau, Guv,” pelan-pelan ia menaruh pembukan itu ke atas meja. “Aku sendiri sangat ingin membelah kepalaku dan mengambil otakku yang kopong.”

Chanyeol mendengar suara tawanya sendiri. Menutup proposal tersebut sambil melepaskan kaca matanya. “Aku rela menyerahkan kekayaanku demi melihat aksimu.” Lalu ia tertawa, lagi. Sudah berapa lama ia tidak tertawa seperti ini?

Sebelum Jongin sempat membalas, kenop pintu bergerak, terbuka, kemudian tanpa dipersilahkan seorang gadis mungil melesat masuk. Gadis pelayan itu melangkah dengan pasti—walau terlihat jelas kalau gadis itu ketakutan—nyaris membuat Jongin ingin tertawa kalau tidak dalam ruangan Chanyeol. Entah kenapa Jongin sangat menikmati bila mana melihat wajah Hana menciut karena ketakutan.

Chanyeol memperhatikan gadis itu yang sedang membungkuk. “Apa ada masalah?”

Jongin melihat cangkir yang bergerak di tangan Hana. Gadis itu gemetar.

“Hmmm, Tidak.” Pelayan pribadi Miss Yeonju berdeham. “Mungkin.”

Jongin mengangkat alisnya menatap gadis di hadapannya dengan skeptis. Keinginan membuat gadis itu merenggut menggiurkan hatinya. Tapi ia tidak melakukannya.

“Mungkin?” tanya Chanyeol. “Apa sesuatu terjadi pada Miss Yeonju? Dimana dia sekarang?”

Chanyeol memohon agar istrinya tidak datang kesini, ia merasa belum siap. Sejujurnya ia tidak akan siap. Takut ketika ia tidak bisa menahan gairahnya bila Yeonju berdiri di hadapannya, dengan gaun malam yang sensual serta rambut kemerahannya tergerai indah, sambil tersenyum menarik Chanyeol ke tempat tidurnya. Kulit halus istrinya membelai tubuhnya dengan perlahan meninggalkan hawa panas di sana. Dan Chanyeol mendapati dirinya…

Tidak. Hentikan! Itu benar-benar pemikiran yang konyol!

“Oh, Miss Yeonju baik-baik saja. Saya rasa beliau sedang menyelesaikan lukisannya.” Ia berkata. “Sebenarnya saya datang untuk sekedar memberikan Tuan minuman.” buru-buru ia menaruh dangkir itu di meja kerja Chanyeol.

“Apa ini?” Ia berusaha menjaga suara tetap stabil.

“Teh. Susu. Hmm, mungkin teh susu.” Hana menggeleng cepat dengan kebodohannya. “Cukup membantu untuk meredakan stress. Setahu saya begitu.”

Tawa sudah berada diujung mulut Jongin, siap dikeluarkan. Jongin bersumpah tidak ada hal apa pun yang membuatnya lebih terhibur dari pada melihat Hana seperti sekarang ini.

Well, kau baik sekali. Sayangnya aku sudah mendapatkan minumanku.” Chanyeol mengangkat gelasnya. “Wiski. Lebih berhasil membutaku relax.”

“Tapi Anda harus meminum teh susu ini.” Hana menahan dirinya agar tidak berteriak.

Alisnya Chanyeol bertaut. “Mengapa harus?”

“Karena Miss Yeonju sendiri yang membuatkannya.” Kata Hana. “Hanya untuk Anda.”

Chanyeol dan Jongin sama-sama bergeming. Hana menjadi cemas dengan kebisuan Tuan Chanyeol. Ia merasa tidak ada yang salah dengan perkataannya barusan.

Ragu-ragu ia menambahkan. “Miss Yeonju yang turun tangan sendiri untuk membuatkan Anda minuman pereda stress ini. Teh susu hangat. Begitu Miss Yeonju menyebutnya. Dan selagi masih hangat Tuan—kumohon jangan tersinggung—aku jamin minuman ini jauh lebih baik dibandingkan wiski yang Anda minum sekarang.”

Chanyeol memandang cangkir tersebut. Mungkin ini hanya imajinasinya atau memang cangkir itu terlihat seperti istrinya. Bahkan samar-samar Chanyeol dapat mencium aroma Yeonju di antara kebul asap dari teh susu yang nyaris tak terlihat. Ya, ia bisa merasakan Yeonju berada di ruangan ini, bersamanya.  Chanyeol menahan desakan untuk mengendus bau minuman tersebut, tapi ia sangat ingin merasakan harum Yeonju. Wangi sabun rumahan yang khas, bercampur wangi bunga, tidak berlebihan.

Oh, demi Tuhan, aku menyukai wangi tubuh istriku, batin Chanyeol.

Chanyeol disadarkan dehaman keras yang berasal dari Jongin. Ia mengerjap, merasa ini bukanlah dirinya.

Jongin melirik Chanyeol dengan dahi berkerut diwajahnya sebelum beralih ke Hana yang tampak gusar. “Miss Yeonju sungguh wanita yang baik.” katanya, sungguh-sungguh. “Tolong katakan pada Miss Yeonju, bahwa Tuan Chanyeol,” ia kembali melirik atasannya yang tetap bergeming. “sangat tersanjung.”

Hana tidak yakin.

“Aku sendiri yang akan memastikan cangkir sudah kosong ketika kau melihatnya.” Kata Jongin. “Tuan Chanyeol sangat menikmati dan dengan senang hati akan menghabiskannya.”

Sejenak Hana bertekad untuk tetap tinggal dan melihat sendiri gelas itu kosong. Tapi setelah melihat ekspresi Jongin sekarang—kesal, marah dan muak—entah ditujukan kepada siapa emosi itu, jelas Hana ingin segera beringsut pergi. Jadi ia menghelas napas, membungkuk hormat dan melesat keluar dari ruangan yang di desain maskulin itu.

Saat pintu tertutup, Jongin segera menatap Chanyeol. Apa hukuman yang akan diterimanya jika mencekik atasannya sendiri?

“Saya tidak akan membuat pilihan kali ini.” kata Jongin. “Anda harus menghabiskannya.”

Chanyeol tidak tahu harus bersikap seperti apa. “Tidak.” gumamnya. “Aku tidak menyukainya.” Siapa pun tahu bahwa ia berbohong.

Jongin bersyukur masih memiliki kesabaran. “Ini hanya teh susu yang masih hangat. Anda tidak akan  sakit atau mati karena meminum minuman seperti ini.”

Chanyeol berdiri, melangkah ke jendela yang terbuka sedikit. Ia sangat membutuhkan udara. Apa reaksi Jongin ketika Chanyeol bercerita tentang mimpinya? Apa ajudannya akan menertawainya?  “Aku tidak menyukai minumanya.” Lebih tidak menyukai si pembuatnya. Jongin harus tahu kalau ia tidak mau berhubungan dengan apa pun yang menyangkut istrinya. Ia ingin menjauh dari bayangan istrinya. Karena kalau tidak ia akan kalah dengan dirinya sendiri.

“Tentu Anda suka. Anda akan menyukainya jika Anda meminumannya.” geram Jongin. “Itu minuman yang sederhana. Dibuat dari orang yang sama sederhananya.”

Chanyeol tersenyum sinis. “Lima menit lalu kita masih saling mengejek. Aku heran kenapa sekarang kita malah berdebat tentang minuman yang tidak penting?”

Jongin mengukur-ngukur jarak antara ia dan Chanyeol. Menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menerjang ke arah atasannya? Menggoyangkan bahu Chanyeol agar pria itu sadar dan membuka matanya. Menyadarkan majikannya untuk melihat betapa beruntungnya ia mendapatkan istri seperti Miss Yeonju, betapa ia harus segera melupakan Nari, betapa ia tidak peka pada ketulusan Miss Yeonju, betapa berengsek dirinya, betapa…

Ponsel Chanyeol berdering. Seakan-akan melenyapkan pikiran brutal Jongin. Pria itu mengambil ponselnya di meja. Ketika melihat nama sang penelepon, wajah Chanyeol tampak lelah. Mungkin ia berpikir untuk mengabaikan panggilan itu, tapi ia tidak bisa. Tidak akan pernah bisa.

“Annyeong,” sapa Chanyeol. “Aku sedang bekerja. Ada apa Nari-ya?”

Jongin tidak sadar ia telah mendengus di samping Chanyeol. Bahkan ia tidak peduli. Persetan dengan sikap kurang ajarnya. Jongin hanya ingin mematahkan ponsel majikannya. Untuk sekarang, ia mau meneruskan mengurus pembukuan. Merasa muak dengan keadaan.

Entah apa yang dikatakan Nari di ponsel, Chanyeol melirik ke arah Jongin. Sepertinya memastikan agar ajudannya itu sudah tidak lagi memperhatikannya “Aku harus mengurus beberapa dokumen yang menumpuk.”  katanya.“Tapi kautahu aku tidak bisa menolakmu.”

Pengeluaran bulan lalu sangat banyak. Perbaikan untuk beberapa jendela juga belum diselesaikan. Mungkin Jongin harus mengawasi sendiri para pekerja besok siang.

Chanyeol berjalan menjauh dari Jongin. “Tidak. Lima belas menit lagi aku akan menjemputmu di sana. Kita bisa mengajak Taeri jalan-jalan.”

Jongin menutup buku keras-keras. Walaupun tidak bermaksud begitu tapi ia mendapati dirinya tidak menyesal. Ia mendengar Chanyeol menggumamkan sesuatu sebelum memutuskan panggilannya, kemudian beralih menatap pria itu.

“Anda tidak berniat pergi, kan?” serbu Jongin sebelum Chanyeol membuka mulut.

Chanyeol menghiraukannya. Ia mengangkat bahu acuh tak acuh.“Sayangnya aku harus pergi, Jongin.” Ia mengambil mantel dan kacamatanya sendiri karena ia yakin Jongin tidak sudi melayaninya saat ini.

“Anda meninggalkan pekerjaan yang menumpuk,” Jongin kehilangan kesabaran. “hanya demi wanita itu?”

Chanyeol sama sekali tidak ingin berdebat dengan Jongin hari ini. Ia sudah cukup lelah dengan usahanya membuang Yeonju dari pikirannya dan Jongin akhir-akhir ini sering membuatnya jengkel. “Aku bisa meninggalkan seluruh kekayaanku demi wanita itu, Jongin.”

Jongin benar-benar mendengus, rahangnya sekeras baja dan matanya setajam pisau, seolah-olah hanya dengan tatapannya bisa membuat siapa pun lumpuh. “Setidaknya minumlah sedikit minuman yang sudah dibuat Miss Yeonju,” desis Jongin. Langkah Chanyeol berhenti di ambang pintu bersiap menarik kenop. “Aku sudah berjanji mengembalikan cangkir dalam keadaan kosong.”

Ketahuilah, Chanyeol juga sangat ingin mencicipi minuman itu. Namun itu sama saja menyerah dengan keputusannya. Ia tidak boleh mempermainkan Yeonju dan menidurinya hanya karena gairah. “Sudahlah, Jongin.” katanya tanpa menoleh. “Aku tidak ingin berdebat dengamu.”

“Tapi, Guv,” seru Jongin. Menahan kepergian Chanyeol. “Makan malamlah di sini.”

Chanyeol mendesah, menatap Jongin dari balik bahunya. “Sampaikan pada Miss Yeonju untuk menungguku nanti malam.” Setelah itu Chanyeol benar-benar pergi. Meninggalkan Jongin yang merasa muak dengan sikapnya.

Mengabaikan perhatian dari seorang istri yang tulus terhadap suaminya adalah tindakan pria tidak terhormat.

 

 

 

 

***

 

 

 

Yeonju memberikan sentuhan terakhir pada kreasi terbarunya,lukisan sebuah keranjang berisi apel merah. Ia mundur dari kanvas, dan memiringkan kepalanya ke satu sisi, mengamati dengan serius. Apel. Sungguh membosankan.

Dengan dahi berkerut, ia melemparkan kuasnya ke samping dan mengelap kedua tangannya di celemek yang diikat di bawah dadanya. Setelah melukis setiap objek yang terpikirkan di rumah ini, sekarang gambarnya menurun jadi apel. Ia menoleh letih ke sekitar ruang gambar—dinding-dindingnya ditutupi lukisannya, begitu juga dengan dinding di rumahnya dulu. Lukisan Naturalism dan Raelisme dan Ekspresionisme. Apa yang tidak ia bawa dari rumahnya, ia akan segera membuatnya.

Sudah seminggu ia tidak melakukan  apa-apa selain melukis,  menyambut pekerjaan yang dipenuhi jam-jam kesendirian yang tak ada habis-habisnya. Tapi beban kekosongannya menekannya semakin keras dan keras, dan melukis, yang dulu memberinya penghiburan, tidak bisa lagi mengisi kekosongan tersebut.

Apel, demi Tuhan!

Ya Tuhan, ia harus melakukan sesuatu! Tiba-tiba ia melepaskan tali celemek dengan keras, melemparnya ke samping, dan berderap melewati pintu ke cahaya matahari yang terang. Ia akan menemukan sesuatu yang baru untuk mengisi waktu dan pikirannya, terkutuklah dengan kesopanan! Sesungguhnya Yeonju tidak biasa bersikap seperti ini. Ia berjalan melintasi halaman yang dirawat dengan baik, tangannya yang sepucat kertas melayang-layang pada rumput yang belum dipangkas. Mungkin ia akan pergi dan menemukan Chanyeol dan menuntutnya untuk mengizinkannya membantu. Tapi ia baru ingat kalau suaminya telah pergi keluar dan tanpa berpamitan.

Sering kali ia merasa sangat kurang dan kecil hati dan gentar dengan statusnya menjadi istri pria seperti Chanyeol. Tetapi hari ini adalah salah satu hari ketika ia membenci pria itu dan mengutuknya karena sudah mengabaikannya seperti ini. Ini salah satu hari ketika ia merasakan sakit hatinya dengan sengit dan menyalahkan Chanyeol karena menerima lamarannya waktu itu. Kenapa Chanyeol menerima lamarannya dan menjadikan ia istrinya kalau pria itu bahkan sama sekali tidak peduli?

Yeonju menggeleng mengingatkan dirinya. Tentunya untuk segala yang salah dengan hidupnya yang pantas disalahkan adalah dirinya sendiri. Ia yang telah mengajukan lamaran, ia yang berniat untuk menunjukkan rasa cinta yang begitu besar pada suaminya. Semua ini ulah dirinya sendiri, ulah dari perasaan yang begitu mendalam pada suaminya.

Kenapa aku tidak terus saja tetap bersembunyi?

Kekehidupan Chanyeol memang berbanding terbalik dengan kehidupannya. Chanyeol suka pergi ke berbagai pesta, sedangkan ia tidak. Chanyeol menyukai kerumunan dan sering dikelilingi kerumunan sedangkan ia tidak. Sampai kapan pun Yeonju tidak akan pernah bisa sepaham dengan suaminya.

Mungkin terus bersembunyi memang hal yang paling masuk-akal sekarang ini. Jika ia tidak bisa menunjukkan perasaannya pada Chanyeol, biarkan ia melihat perasaan Chanyeol kepadanya.  Ia akan melakukan apa pun yang membuat suaminya menunjukkan emosinya. Hal yang mampu membuat suaminya merasa terganggu. Hal yang pada akhirnya bisa menarik perhatian suaminya, bisa mengingatkan suaminya akan kehadirannya sebagai istri. Mendapat kemarahan suaminya bahkan lebih bagus daripada diabaikan seperti ini.

Yeonju berjanji pada dirinya sendiri.

Kemudian ia melihat Baekhyun bergegas menghampirinya dari seberang halaman dan berhenti menunggu pelayannya menyusul. “Selamat sore, Miss, Anda menyelesaikan lukisannya begitu cepat?” tanya Baekhyun dengan suara terengah-engah.

Yeonju memang sudah selesai. Untuk selamanya. “Apel, Baekhyun. Aku melukis apel.”

“Oooh, subjek yang sangat indah.”

“Tentu subjek yang membosankan, Baekhyun. Sepertinya imajinasiku telah habis.”

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat, seperti kebiasaannya. “Lukisan Anda sangat indah, dan saya yakin apel Anda dilukis dengan sempurna.’

Yeonju tersenyum kecil. “Tidak sulit melukis apel dengan sempuran, bukan? Kau hanya perlu melukis lingkaran, kemudian mewarnainya dengan warna merah.”

“Kalau memang semudah itu, kita semua seharusnya melukis apel,” kata Baekhyun, dan berhenti sejenak menyapu sepotong benang khayalan dari lengan bajunya. “Anda beruntung memiliki bakat yang begitu unik… wah, kalau bukan karena lukisan-lukisan indah Anda, rumah ini akan menjadi sangat biasa.”

Yeonju tertawa mendengarnya. Tidak satu pun di rumah ini yang bisa dideskripsikan dengan biasa. “Meskipun begitu, untuk sementara ini aku memutuskan untuk berhenti.”

“Saya rasa lebih baik begitu, Miss. Ada yang ingin menemui Anda.”

Tiba-tiba perasaan adanya pertanda buruk menghinggapi Yeonju. “Tamu?”

“Benar, Miss,” respon Baekhyun, terlihat sangat senang. “Miss Eunsang dan Miss Emma dari London!”

Tamu dari London! Mungkinkah keluarga suaminya? “Apa… apa suamiku…”

“Oh ya, Miss. Sekarang Tuan Chanyeol sudah pulang dan telah bersama mereka, beliau meminta saya menjemput Anda.”

Yeonju memaksa dirinya tersenyum ke Baekhyun, yang kelihatannya sangat senang karena telah kedatangan tamu dari London. “Baiklah kalau begitu,” kata Yeonju dengan kibasan ringan pergelangan tangannya, dan melanjutkan langkah menuju rumah, Baekhyun mengikutinya dengan gelisah. Tamu! Oh Tuhan! Wanita-wanita ini, siapa pun mereka, akan melihat kalau pewaris L.co Group keempat tidak peduli dengan istri barunya.

Saat mereka masuk ke dalam rumah melewati ruang duduk di teras, Yeonju berhenti sejenak memeriksa rambutnya di cermin. Baekhyun berseri-seri memberikan persetujuannya, meyakinkan kalau Yeonju terlihat menarik, dan dengan gugup melompat dari satu kaki ke kaki lain sampai ia puas tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Ketika mereka tiba di ruang tamu, Baekhyun dengan bangga menarik pintu terbuka.

Dua wanita paruh baya melompat berdiri saat Yeonju masuk, keduanya berbicara dengan bersemangat saat Chanyeol maju ke depan. Ia tersenyum kosong ke arah Yeonju dan memberi isyarat agar masuk ke dalam ruangan. “Eunsang-Ahjumma, Miss Emma, mari kuperkenalkan dengan Miss Yeonju Park,” katanya lancar. Yeonju membungkukkan kepalanya memberi hormat, bermaksud menyampaikan salam yang pantas, tapi kedua wanita itu langsung berceloteh  sebelum ia sempat membuka mulut.

“Miss Park, bagus sekali kedengaranya, tidakkah menurutmu begitu, Em?”

“Sangat hebat, terutama karena kita tidak pernah menyangka Chanyeol memilih wanita yang lebih cantik.”

“Oh ya ampun, tidak pernah!” ulang Eunsang-Ahjumma.

Tidak yakin harus bagaimana merespon, Yeonju tergagap, “Aku, um, terima kasih.”

“Eunsang-Ahjumma adalah bibi dari orangtua teman dekatku, Kim Joonmyun,” Chanyeol memberitahu. “Dan Miss Emma adalah sahabatnya. Mereka mampir dalam perjalanan ke Incheon, untuk mengunjungi saudara perempuan Miss Emma.”

“Sudah lama sekali sejak aku memutuskan tinggal di London.” Eunsang-Ahjumma mendesah. “Aku sangat merindukan makanan di sini.”

“Kimchi!” cetus Miss Emma.

“Kimchi!” ulang Eunsang-Ahjumma dan melipat kedua tangan montoknya di atas perutnya. “Aku tidak bisa menemukan rasa kimchi yang pas di London. Apa kau pernah ke London, Miss Yeonju?”

Ya Tuhan, Yeonju bahkan hampir tak pernah ke Pulau Jeju! “Sayangnya aku belum pernah,” jawabnya, dan sensasi kikuk yang baru-baru ini terasa familier mulai merayap ke tulang-tulangnya. Ia memberi isyarat ke beberapa kursi dengan tak berdaya. “Silahkan duduk.”

Kedua wanita itu melakukannya dengan bersemangat, dan meluncur ke dalam diskusi tentang rencana perjalanan mereka. Sejauh yang Yeonju tahu tidak ada satu pun detail yang terlewatkan, termasuk kelegaan yang kedua wanita tersebut rasakan karena saudara perempuan Miss Emma tinggal di Incheon dan bukan di Busan. Mengapa mereka melakukan perjalanan ini untuk melihatnya, kelihatannya, akan tetap menjadi misteri.

Mereka bicara tanpa henti, saat yang satu selesai, yang satu mulai. Dan sebagian pembicaraan mereka diarahkan kepada Chanyeol. Yeonju mencoba ikut bercakap-cakap, tapi celoteh mereka mengintimidasinya dan ia benar-benar tak memiliki apa-apa untuk ditambahkan. Kalau ia berhasil mengatakan sesuatu, kelihatannya para wanita itu nyaris tak mendengarnya. Oh, mereka tersenyum dan menganggukkan kepala kepadanya dengan cukup ramah, tapi perhatian mereka sebagian besar ditujukan kepada Chanyeol.

Dan pria itu, tentu saja, tidak memberikan tanda-tanda mendengar apa yang ia ucapkan, namun ia cukup mudah bercakap-cakap dengan para wanita itu, seperti Yeonju pernah melihat pria itu bercakap-cakap dengan semua temannya.

Setelah para wanita itu menyelesaikan cerita mereka tentang Incheon, mereka mulai mengoceh tentang kejadian-kejadian di London, membicarakan orang-orang dan tempat-tempat yang tidak diketahui Yeonju. Tidak sekali pun mereka berusaha menjelaskan padanya siapa Mr. Johnson itu, atau mengapa pria itu mengalami depresi berat. Mereka juga tidak berusaha menjelaskan pentingnya Simon Basset, yang kelihatannya menjadi tuan rumah beberapa pesta di sana, yang mereka semua pernah datangi. Mereka juga bersenang-senang di sana, bila menilai dari suara tawa terbahak-bahak mereka ketika beberapa kejadian disinggung kembali.

Melepaskan usaha lemahnya untuk bergabung dalam percakapan di mana ia jelas merupakan orang luar, Yeonju terhenyak di kursi empuk, merasa yakin dirinya dan corak bunga tak bisa dibedakan. Ketika Eunsang-Ahjumma berdiri dan mulai melihat-lihat ruangan tersebut, terpikir olehnya untuk bergabung dengan wanita itu, tapi Chanyeol bergegas berdiri, melangkah di samping wanita itu dan mengangguk-angguk serius ke arah salah satu lukisan Yeonju yang dikagumi wanita itu.

Kemudian penderitaan Yeonju beralih ke rasa sakit yang mulai memuncak. Ketika Eunsang-Ahjumma menanyakan siapa pelukisnya, Chanyeol hanya menggeleng. “Kurasa ajudanku membelinya di pasar lokal.” Jawabnya tak peduli, dan mengarahkan Eunsang-Ahjumma ke sebuah vas oriental mahal yang baru saja tiba. Suaminya yang menyebalkan tidak tahu kalau itu lukisannya! Setelah satu minggu merasa seperti wanita tak berguna, amarahnya tersulut dan api mejalari tubuh Yeonju dengan kecepatan yang menakutkan. Pria itu tidak benar-benar bicara dengannya, ia tidak mengakuinya dalam berbagai cara, dan ia tidak ingat kalau Yeonju melukis! Terkutuklah suaminya! Walaupun ia yang mengajukan lamaran, Yeonju yakin bahwa suaminya berjanji akan memperlakukannya dengan baik—seperti seorang suami. Walaupun mereka tidak saling mencintai. Mungkin, tepatnya, salah satu dari mereka tidak mencintai pasangannya, sedangkan yang satu lagi menyembunyikan rasa cintanya.

Ketika Yongguk mengumumkan teh sudah siap, kedua wanita tersebut dengan bersemangat menerima undangan Chanyeol, di saat yang sama bersumpah mereka benar-benar harus melanjutkan perjalanan. Chanyeol mengulurkan kedua lengannya untuk mereka, tersenyum sopan pada celotehan yang mereka ucapkan dengan serempak. Yeonju tetap duduk, dengan sabar memandangi mereka yang berjalan ke pintu ruang tamu. Sesampainya mereka di sana, Eunsang-Ahjumma berhenti menoleh cepat ke belakang membuat ikal keriting rambutnya yang seperti sosis menari-menari liar. “Miss Yeonju, kau tidak bergabung dengan kami?” tanyanya dengan manis.

Chanyeol tersentak dan berputar. “Yeonju-ssi! Aku benar-benar minta maaf, aku khawatir aku telah melupakanmu,” katanya sambil tertawa kecil tanpa bermaksud jahat, dan tersenyum memesona kepada kedua wanita itu.

Suaminya telah melupakannya—tapi bukankah itu menyenangkan! Dan mengapa Yeonju harus merasa terkejut? Pria itu nyaris tidak menyadari kalau ia ada, jadi seharusnya ia tak merasa tersinggung karena pria itu melupakannya. Namun ia memang tidak tersinggung, ia bahkan tidak marah kepada suaminya. Perlahan-lahan Yeonju mendorong kursinya dan melangkah ke tempat mereka berdiri, selama perjalanan hanya memastikan dirinya tidak akan jatuh untuk bersujud ke kaki suaminya. Mengemis-ngemis untuk mendapat perhatian suaminya.

“Ooh, aku mencium bau kue. Aku suka kue!” Miss Emma berceloteh dan mereka bertiga keluar, melangkah santai melewati koridor, meninggalkan Yeonju berjalan di belakang.

Obrolan berlanjut, tak berkurang, selama acara minum teh. Setelah bersikeras ia akan mengenalkan Yeonju saat membawanya ke London untuk acara peluncuran produk parfume nanti—sesuatu yang kelihatannya Eunsang-Ahjumma yakin akan terjadi—ia mulai bercerita tentang sebuah kisah memalukan tentang permainan kartu ketika ia kalah melawan wanita bernama Ahn Yoonra. “Aku bersumpah, aku sungguh-sungguh berharap diriku adalah seorang pria agar aku bisa membela kehormatanku dengan pantas,” katanya gusar, dan memasukkan satu buah stroberi ke dalam mulutnya. “Apa kau bermain kartu, Sayang?” ia bertanya pada Yeonju, sambil dengan hati-hati mengeluarkan bagian puncak stroberi ke serbetnya.

“Tidak, aku khawatir aku tidak mengetahui peraturannya,” jawab Yeonju jujur, dan ingin melempar serbetnya saat Eunsang-Ahjumma bertukar tatapan singkat yang tak salah lagi merupakan pandangan mengasihani dengan Miss Emma.

“Aku pernah nyaris harus membela harga diriku dengan Ahn Yoonra,” Chanyeol terkekeh pelan. “Dia hampir tak bisa menerima kehadiranku pada pesta di London musim panas yang lalu.”

“Oooh, kau memang pria yang berbahaya, Mr. Park!” pekik Eunsang-Ahjumma, dan dengan main-main memukul lengan Chanyeol sementara Miss Emma tertawa terbahak-bahak.

Merasa kalah, Yeonju terhenyak di kursinya dan mulai memisahkan kismis dari scone-nya, menumpuknya tanpa beripikir di satu sisi piringnya. Entah di mana di tengah-tengah deskripsi mendetail tentang keburukan Ahn Yoonra, ia menangkap Chanyeol melihat piringnya. Ia merespon dengan tatapan kaku, namun pria itu bahkan tidak berkedip, dan sebaliknya, malah merespon pertanyaan Miss Emma dengan sopan mengenai perjalanan terakhirnya ke London. Kemudian Eunsang-Ahjumma dengan santai menyinggung kalau ia bertemu dengan Kim Nari yang “malang”. Hawa dingin tiba-tiba hinggap di ruangan tersebut. Yeonju langsung mendongak dari tumpukan kismisnya.

“Eunsang!” desis Miss Emma.

“Aku benar-benar minta maaf, Mr.Park!” Eunsang-Ahjumma terkesiap. “Aku tidak tahu apa yang kupikirkan! Kau harus memaafkanku!”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ahjumma,” sahut Chanyeol dingin. Yeonju melihat dari Chanyeol ke kedua wanita itu dan kembali lagi. Ekspresi wajah suaminya tetap tak terbaca. “Siapa Kim Nari?’ tanyanya. Tiga pasang mata tiba-tiba terkunci di wajahnya.

“Seorang kenalan, Sayang. Bukan orang yang kau kenal,” gumam Miss Emma.

Ya, seperti semua orang lain yang mereka bicarakan! Yeonju menurunkan garpunya. “Hanya kenalan? Kalau begitu kenapa kau merasa begitu bersalah, Eunsang-Ahjumma?” tanyanya dengan manis,  dan hampir bisa merasakan ketidaksenangan Chanyeol memancar dari seberang meja berukuran kecil itu.

“Dia temanku, Yeonju. Ibunya meninggal baru-baru ini,” sahut Chanyeol tegang. Eunsang-Ahjumma tiba-tiba sangat tertarik dengan kuenya, Miss Emma pura-pura mengamati dari dekat bunga-bunga di atas meja.

“Aku benar-benar minta maaf,” kata Yeonju, tapi entah kenapa ia tidak merasa menyesal, tidak sama sekali. Bagaimana ia bisa tahu kalau suaminya punya teman yang baru saja berduka? Lagi pula pria itu tidak pernah mengenalkannya ke teman-teman terdekat. Yeonju memang tahu beberapa orang kenalan Chanyeol, tapi ia tidak mengetahui hubungannya Chanyeol dengan mereka. Kim Nari pasti teman terdekatnya karena mendapatkan perhatian yang begitu banyak dari Chanyeol. Ini bisa dilihat dari emosi suaminya begitu Eunsang-Ahjumma mengungkit gadis itu. Kalau suaminya merasa tak nyaman, itu salahnya sendiri, dan dengan pelan-pelan dan berpura-pura tak peduli ia meneruskan mengatur kismis di atas piringnya.

 

 

 

***

 

 

Contact me: houseofallendale@yahoo.com

 

Hello Readers~~ aku ada sedikit pengumuman nih. Sebelumnya terima kasih untuk kalian dan review yang luar biasa yang saya terima. Ada beberapa yang bertanya-tanya ‘Kok konsepnya kaya bangsawan-bangsawan gitu?’ Well, dari penjelasan disclaimer yang sudah saya jelaskan ff ini terinspirasi dari film Anna Karenina dan BBF yang memang bertema bangsawan atau orang-orang kalangan atas. Berhubung aku suka sama yang ber-genre bangsawan, jadi, jangan heran kalau ff ini sedikit beda dari ff biasanya. Lebih baik saya ingatkan bagi yang tidak suka atau merasa ff ini melenceng dari budaya Korea, well, mohon maaf tolong hiraukan saja ff abal-abal ini.

Dan untuk chapter selanjutnya, aku mau memberi password di ff ini. Secepatnya mungkin aku bakal hubungin adminnya. Jadi, kalau chapter berikutnya sudah di protect, bagi yang mau tahu pw-nya mohon kirim username kamu yang sama saat digunakan untuk menulis komen ke email yang di atas. Terima kasih!^^ Love you all~

 

 

-xoxo-

511 pemikiran pada “Private Arrangement (Chapter 4)

  1. walaupun konsep bangsawan, jujur ini fanfiction paling keren yang pernah aku baca. Aku serius. Diksimu benar-benar mengagumkan, mirip cerita terjemahan ya padahal bukan

  2. jadi kenapa dengan dua orang itu(re: eunsang & emma ahjumma) wah bahkan mereka sama sekali nggak pantes dgn sebutan ahjumma. Yeonju yang malang kelihatan tdk dipedulikan sama sekali:(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s