Saranghae Uri Dongsaeng

Saranghae Uri Dongsaeng

Saranghae Uri Dongsaeng

Length               : TwoShot

Genre                : brothership, angst, sad story

Rating                : G

Main Cast          : DO Kyungsoo, Byun Baekhyun, Park Chanyeol

 

Indah. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan tempat dimana kedua namja ini berpijak. Ada sebuah menara yang menjulang tinggi berdiri tegak dihadapan mereka. Entah apa yang sedang mereka lakukan dan apa pula yang sedang mereka rasakan saat memandangi salah satu 7 keajaiban dunia itu. Mereka berdua, namun tak ada yang saling bicara satu sama lain. Hanya saling menatap dan kemudian mata mereka kembali tertarik pada menara yang dikenal dengan nama Eiffel.

 

FLASHBACK ON

 

“darimana saja kau? Kenapa kau tak pulang saja sekalian. . .  apakah selamanya kau akan jadi seperti ini? keluar malam dan menjadi anak yang brutal dan kurang ajar?” terlihat seorang ayah sedang memarahi anaknya yang pulang tengah malam

“aku sudah menjelaskan berkali-kali pada ayah. . . apapun yang ku lakukan sama sekali tak ada sangkut pautnya pada keluarga ini, jadi ayah tak perlu khawatr aku akan mempermalukan keluarga kita. . .”

“chanyeol mau kemana kau? Ayah belum selesai berbicara padamu..”

“jika salah satu dari kita tidak ada yang menghindar, maka pertengkaran ayah dan aku tak akan pernah ada hentinya. Aku hanya tak ingin kedua adikku terganggu. . .”

Seperti inilah setiap hari yang terjadi pada keluarga ini. tak ada yang namanya ketenangan walau hanya satu haripun mereka selalu menghabiskan dengan pertengkaran. Hanya saat mereka sedang tidak bersama baru ada ketenangan.

“sepertinya sudah tidak ada keributan. . .” seorang namja yang lain melepaskan kedua tangannya setelah menutup kedua telinga adiknya. Mungkin agar sang adik tak mendengar pertengkaran antara ayah dan kakaknya.

“d.o-ah. . . gwenchana?” seorang kakak yang bernama Baekhyun itu merasa khawatir karena adiknya hanya diam, tak ada reaksi marah, sedih, ataupun kesal mendengar kakak pertama dan ayahnya betengkar. Ya pasti masih sedikit terdengar bagaimana mereka bertengkar walau terdengar kecil.

Seseorang telah membuka pintu kamar d.o .

“ya bakhyunnie kenapa kau memandangku seperti itu? Bukankah ini sudah kebiasaan antara aku dan ayah?” chanyeol yang masuk ke kamar d.o dengan sumringah tiba-tiba bungkam dengan tatapan salah satu adiknya yang terlihat ingin memakannya.

“sebaiknya kita keluar, biarkan d.o istirahat. . . . d.o-ah tidurlah. . .  sudah tidak akan terjadi apa-apa lagi” baekhyun menarik d.o untuk berbaring, d.o yang masih diam hanya pasrah(?)

Setelah berhasil membuat d.o ke posisi tidur, baekhyun menarik kakaknya chanyeol keluar dari kamar d.o.

“bisakah sehari saja kalian tidak ribut dan bertengkar? Aku tak akan peduli dengan apa yang kalian lakukan. Tapi kau harus ingat kondisi kyungsoo. Apa kau memang berniat membuatnya mati secara perlahan?” baekhyun tanpa aba-aba memarahi chanyeol

“kau kira aku mau dan ingin berada dalam keadaan seperti ini? kau kira aku juga tidak lelah bertengkar setiap hari dengan ayah? Kau kira aku tak khawatir dengan keadaan kyungsoo. . . . chamkaman. . . ada kabar apa tentang kondisinya sekarang?”

“aku tadi mengantarnya check up. . . . dan. . .”

“dan apa? cepatlah kau bicara. . . apa tidak ada perkembangan dengan jantungnya? Ya baekhyun jawab aku!”

“bahkan lebih dari itu. . . kondisinya semakin memburuk. . bahkan dokter sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan kyungsoo. D.O tak tahu kondisinya sendiri, aku tak tau bagaimana cara mengatakannya”

Seketika tubuh chanyeol seperti membeku dan tak tahu bagaimana cara menggerakkannya. Hati mereka sakit melihat kondisi adiknya yang seperti itu. Chanyeol bahkan seperti mengutuk dirinya sendiri karena pengorbanan yang ia lakukan tiap malam untuk menambah biaya pengobatan d.o kyungsoo seperti hal yang sia-sia. Mereka memang dari keluarga yang kaya, namun perusahaan sang ayah akhir-akhir ini sedang mengalami krisis. Baekhyun seperti orang yang tak ada gunanya untuk adiknya. Yang bisa dia lakukan hanyalah sekolah dan duduk dirumah.

Tanpa chanyeol dan baekhyun sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan keduanya sedang berbicara di pinggir kolam renang. Dengan langkah gontai dia kembali ke dalam kamarnya.

“Mianhae chanyeol hyung. . . mianhae baekhyun hyung . . . . mianhae ayah. . . aku selalu membuat kalian bingung dan menderita. Jika aku bisa memilih, aku ingin Tuhan mengambilku sekarang agar kalian tak lagi menderita karena aku” d.o terisak dalam tangis dan hanya dapat menjerit dalam hati tanpa mampu membuka mulut. mungkin bukan tidak mampu tapi dia tidak ingin tangisannya terdengar sampai luar.

“oemma. . .. .” hanya kata itu yang membuatnya membuka mulut

 

Beberapa hari kemudian

Baekhyun telah lulus SMA hari ini. berbeda dengan murid lain yang menghabiskan waktu merayakan kelulusan dengan konfoi dan pesta, Baekhyun hanya membagi kesenangannya dengan adik dan kakaknya.

“chukkae. . .”

“Ya hyung. . . adik imutmu ini lulus dengan nilai sempurna dan hanya itu yang kau ucapkan? Tidakkah kau sedikit saja menambahkan kata ‘chukkae adikku yang ku banggakan’ atau bla bla bla”

“Ya baekhyunnie. . . . kata-kata seperti itu tidaklah penting, ini bukan akhir dari perjuanganmu dan kau dengan bangganya tersenyum puas?”

“huuwaaahhh. . . . kau benar-benar hyung yang tidak menyenangkan, aku tak akan memelukmu, aku hanya akan memeluk d.o” dengan tanpa izin d.o baekhyun langsung memeluk tubuh mungilnya erat-erat. Tak ada penolakan dari d.o, karena dia memang tau bahwa kakaknya yang satu ini memang sangat manja jika sedang bahagia.

“kau bahkan tak malu padaku dan d.o . . . umurmu lebih tua darinya, tapi kau seperti berumur 10 tahun yang baru saja mendapat cokelat. . . .”

Saat ketiga saudara lelaki ini sedang asik berbincang, tiba-tiba sang ayah datang dan mengheningkan suasana

“kenapa kalian diam? Ayah tak akan mengganggu kalian. . . silahkan lanjutkan”

“ayah tak mau mengucapkan selamat padaku?”baekhyun melepas pelukannya pada d.o dan menghampiri ayahnya yang akan beranjak pergi

“bagaimana tidak? Ayah sangat bangga padamu. . . sampai ayah tak tau lagi harus berkata apa”

Baekhyun hanya mengulas senyum dan wajah sok imutnya itu. Melihat ayah dan baekhyun terbesit rasa iri dalam hati chanyeol. Dia hanya menunduk melihat percakapan mereka. D.o yang seperti menyadari hyungnya langsung menggenggam tangannya dan menatap chanyeol dengan tatapan seolah mengatakan ‘gwenchana?’. Dan hanya dijawab dengan senyum sumringah oleh chanyeol.

“ah ya ayah ingin berbicara pada kau dan chanyeol. . .”

Perkataan sang ayah membuat mereka bertiga bingung

“setelah ini temui ayah di ruang kerja ayah”

 

At ruang kerja Ayah

“Wajib militer? Ayah kenapa secepat itu?” baekhyun dan chanyeol kaget mendengar penuturan ayahnya

“kalian sudah sama-sama lulus sekolah. . . bukankah baik jika dilaksanakan secepatnya? Memangnya ada masalah jika amil kalian dipercepat? Apa kalian tidak tega meninggalkan d.o sendirian? Jika itu yang kalian khawatirkan buang jauh-jauh pikiran itu. Ayah masih bisa menjaga d.o”

“tapi ayah. . .”

“keputusan ayah sudah bulat. . . senin depan kalian akan berangkat. Gunakan satu minggu ini untuk mempersiapkan diri” sang ayah pun meninggalkan chanyeol dan baekhyun dengan keadaan bercampur aduk rasanya

 

Setelah kejadian itu d.o seperti menjaga jarak pada kedua kakaknya. Dia tak ingin lagi bergantung pada hyung-hyungnya itu, dia tak ingin saat kedua kakaknya wamil dia tak bisa berbuat apa-apa. hingga pada suatu malam d.o merasakan sakit yang amat sangat pada jantungnya.

“bbbaekhyun hyung.. . . cchchhanyeol hyung. . . .” d.o hanya bisa menahan tangis dan sakitnya seorang diri, bahkan dia hanya bisa menjeritkan nama kedua hyungnya dalam hati

 

Esok harinya . . .

“jaga diri kalian disana, jangan berbuat ulah dan patuhi semua peraturan agar kalian dapat cepat pulang arrachi?”

Sementara baekhyun, chanyeol, dan ayahnya berada di pintu gerbang menunggu mobil militer menjemput, d.o hanya melihat kedua kakaknya dari jendela ruang tamu.  Tak terasa air matanya jatuh.

“tuan tidak keluar sekedar memberi pelukan perpisahan pada tuan chanyeol dan tuan baekhyun?”

“jika aku keluar maka aku tidak akan bisa melepas mereka bi. . . .” sahut d.o dengan suara parau

“tuan kyungsoo jangan khawatir, wajib militer hanya 2 tahun. . .  kalian pasti akan berkumpul lagi nanti”

“aku bahkan tidak tau tahun depan aku masih disini apa tidak? Aku juga tidak tau apakah kita nanti masih bisa pergi ke Paris bersama” d.o membatin. Air matanya makin deras keluar. D.o kembali memegangi dadanya. Rasa sakit yang selama ini mendera 2x lipat ia rasakan saat ini.

Sementara diluar terlihat sebuah mobil besar (bayangkan sendiri. . hehe) berhenti tepat di depan gerbang rumah mereka. Ada sekitar 4 orang berpakaian lengkap (bayangkan pakaian abri indonesia aja hehe) keluar dari mobil dan memberi hormat pada ayah.

“mereka sudah siap. . . kalian bisa membawanya”

“d.o-ah?” chanyeol melihat adiknya sedang berdiri dibalik jendela. D.o yang seperti sadar bahwa chanyeol telah melihatnya pun langsung menutup tirai dan beranjak hendak menuju kamar.

“d.o-ah. . .” suara chanyeol dan baekhyun menghentikan langkahnya

“hyung?”

Tanpa berkata apa-apa lagi mereka berdua langsung memeluk adiknya. Tak ada perkataan yang terlontar.

“andwae. . .  kalian jangan seperti ini. . . pergilah sekarang aku akan menunggu kalian. . aku janji”

“jangan keluar saat cuaca dingin. . . jangan melakukan hal-hal yang membuatmu lelah. . minum obat dengan teratur dan jangan pernah bandel. . .  jangan memikirkan hal-hal yang membuat sakit. . .” chanyeol melepaskan pelukannya dan memberikan beberapa nasihat kepada adiknya. Sedangkan Baekhyun terus memeluk tubuh mungil D.O.

“aku akan mengingatnya. . . baekhyun hyung ayolah jangan seperti ini. . . jika kau bersikap seperti anak kecil kau akan sulit menjalani semua kegiatan. .”

“kau harus berjanji pada kami untuk tetap sehat. . . ingat saat kami kembali kau harus dalam keadaan sehat dan tak bermuka vampir seperti sekarang. . arrachi?”

“Arra arraseo. . . jadi lepaskan pelukanmu sekarang” d.o sedikit kesal dengan sikap childish hyungnya ini.

“Ya! Kedua hyungmu akan pergi selama 2 tahun dan seperti ini ekspresi wajahmu? Kau benar-benar dongsaeng yang menyebalkan”

“kau harus mengingat semua perkataanku tadi. . .”

“oke oke. . . epatlah kalian berangkat. . . kalian mau mendapat hukuman karena keleletan kalian? Palli palli. . .” d.o mendorong chanyeol dan baekhyun keluar

“daaa. . . .” d.o melambaikan tangannya walau kedua hyungnya masih berada di depannya

“aiiiisshhh ya jinja. .. . :/”

Dengan langkah berat mereka meninggalkan donsaengnya.

Tak terasa mobil yang membawa kedua hyungnya sudah tak terlihat. D.O kembali meneteskan air mata.

“yeol hyung. .  baekki hyung. . jaga diri kalian disana. . .” d.o membatin

“aaarrgghhh. . . . .”

“tuan muda? Tuan tuan. . . .” bibi yang setia berada di belakang d.o langsung menyadari d.o yang sedang mengeram kesakitan

“d.o? bi cepat hubungi dokter kris. . . saya akan membawa d.o ke kamarnya. .” tuan jungsoo memapah putranya ke kamar

“bbaik tuan. . . .”

 

Beberapa saat kemudian setelah dokter pulang dari rumah mereka.

“yeol hyung. .  baekkie hyung. . . . .” d.o kembali memanggil nama kedua hyungnya dengan deraian air mata.

“jika ayah tau akan terjadi seperti ini ayah tak akan mau menuruti semua kemauan gilamu itu d.o . . . kau lihat? Sekarang kau sedih seperti ini. . .” ayah d.o duduk disamping ranjang, sedangkan d.o masih berbaring membelakangi ayahnya

“tapi jika waktu bisa terulang aku akan tetap melakukan hal yang sama ayah. . . aku tak ingin yeol hyung dan baekkie hyung hanya menghabiskan waktunya untuk mengurusku. . setidaknya dengan mereka ikut wamil mereka akan sibuk pada diri mereka masing-masing”

“tapi jika mereka tau bahwa kaulah yang meminta ayah untuk memerintahkan mereka ikut wamil mereka akan sangat kecewa dan sedih mereka juga mungkin akan menyesal karena tak menjagamu. . .”

“andwae. . . ayah jangan pernah memberitahukan soal ini pada mereka. . jebal. . .aku tak ingin mereka semakin sedih. . . .” d.o tersentak bangun dan memegang tangan ayahnya seraya memohon

“kau memang keras kepala. . . ayah sudah berkali-kali bicara padamu bahwa semua yang kau lakukan pada akhirnya bukan ayah, chanyeol maupun baekhyunlah yang mendeita, tapi kau sendiri”

“aku akan menunggu mereka. . . mereka berjanji akan pulang tepat waktu. . . . dan aku yakin bahwa kita masih bisa pergi ke Paris bersama untuk melihat secara langsung Menara Eiffel”

“kalau begitu kau harus memegang janjimu yang akan menunggu mereka. . . jika kedua hyungmu sudah pulang ayah akan mengabulkan keinginan Paris ke kalian. . . sekarang kau istirahatlah. . .” ayah d.o mulai beranjak meninggalkan d.o di kamar.

“maafkan ayahmu ini yang tak yakin bahwa kau akan bisa pergi ke Paris d.o . . . .” ayah d.o berhenti sejenak dibalik pintu kamar d.o. sementara d.o

“aku tau ayah. . . aku tau ayah tidak yakin aku bisa pergi ke Paris bersama yeol hyung dan baekkie hyung” seolah d.o menjawab isi hati ayahnya, dia juga berpikir hal yang sama tentang dirinya

 

 

2 Tahun Kemudian

 

“apa ayah tau perasaanku setelah semua yang kita lalui selama 2 tahun?”

“bagaimana ayah tidak tau. . . bagaimana keadaan kalian selama berada disini? Kalian hebat bisa melalui semua kegiatan dan pulang tepat waktu. . .ayah bangga pada kalian berdua” ayah ingin memeluk chanyeol dan baekhyun yang telah berhasil menjalankan misi mereka selama 2 tahun (misi mereka? Tepatnya misi si dongsaeng :D)

“tunggu. . . . kami memang senang bisa menjalani wamil dengan baik. . . tapi bukan berarti kami lupa tentang pemaksaan ayah yang mendadak menyuruh kita ikut ni. . . ayah tidak tau betapa kagetnya kami 2 tahun yang lalu. Dan ayah juga tidak tau bagaimana rasa rindu kami pada adik kami?” chanyeol mengelak dari ayahnya yang akan memeluknya dan juga baekhyun.

“d..o? kemana dia? Kenapa d. Tak ikut sama ayah menjemput kami berdua? Apa dia tak rindu pada kami?” baekhyun yang tadinya ingin membalas pelukan ayahnya langsung menepis juga karena mendengar kata ‘adik kami’. Ayahnya langsung diam membeku.

“aapa terjadi sesuatu pada d.o?” chanyeol dengan ragu bertanya pada ayahnya. Berharap apa yang dipikirkannya tidak terjadi.

“ayah. ? kenapa ayah diam? Ayolah ayah jangan membuat kami bingung dan khawatir?” chanyeol sedikit mendesak ayahnya untuk menjawab

“ayah akan membawa kalian ke suatu tempat. . cepat masuk ke dalam mobil” tanpa menjawab pertanyaan chanyeol, ayah malah menyuruh mereka masuk mobil.

 

Mereka sudah berada di tempat yang ayah mereka maksud. Tempat dimana banyak orang dengan berbagai ekspresi. Ada yang sedih dan menangis, ada yang tersenyum bahagia. Ada pula yang sedang merintih kesakitan.

Mereka kini sudah berada di sebuah ruang dengan sebuah kaca lebar yang terdapat dalam tempat itu.

“rumah sakit?”

“ICU?”

Ujar chanyeol dan baekhyun bergantian. Tubuh mereka menegang. Pikiran mereka melayang ke satu arah. Namun sama-sama menepis semua yang mereka pikirkan. Tidak mungkin adiknya. Tidak mungkin d.o.

“d.o selama ini selalu menunggu kalian. Dia bahkan pergi check up secara rutin dan meminum obatnya secara teratur demi kalian. Agar dia dapat menepati janjinya untuk tetap sehat saat kalian pulang. . . tapi 3 bulan yang lalu. Mungkin itu hari dimana dia sudah tidak bisa lagi bertahan. Walau dia rutin dan rajin check up itu sama sekali tidak membuat jantungnya semakin membaik.

“anni. . . . andwae. . . dia sudah berjanji padaku untuk menyambutku dengan tidak dalam bermuka vampir. . tapi kenapa dia malah tidur seperti ini? kenapa dia tidak menepati janjinya. . . . .” tubuh baekhyun membeku ketika melihat sang adik yang sangat ia cintai terkulai lemah dengan berbagai alat-alat yang terpasang di tubuhnya. Sedangkan chanyeol masih sibuk dengan pikirannya yang kacau

“d.o sudah koma selama 3 bulan. . .” lanjut sang ayah

 

Dalam ruang ICU

Dengan pakaian steril mereka masuk ke dalam ruangan dimana sang adik sedang tidur. Lengkap dengan alat bantu pernafasan, kabel-kabel yang menempel di dada adiknya *saya sendiri tidak tau itu kabel apa.

“annyeong d.o-ah. . .  hyung sudah pulang. . jahat sekali kau sama sekali tak menjemput atau menyambutku. . . apa kau tidak tau hyung sangat rindu padamu? Bangunlah dari tidurmu itu dan sambut kami. . . aku tau kau hanya lelah menunggu kami dan ingin tidur sebentar. . sekarang kami datang seharusnya kau juga bangun. . .” celoteh baekhyun dengan nada tersedu-sedu dia berusaha menghibur diri

“baekkie-ah jangan seperti ini. . . d.o tak akan mendengar apa yang kau bicarakan. . . dia sedang koma. .  sebaiknya kau diam dan jangan berisik” chanyeol yang notabene kakak tertua berusaha tegar dan menenangkan baekhyun.

“kau salah hyung. . . . d.o hanya sedang tidur dan pasti dia juga mendengar kata-kataku. . . dia harus mendengarnya bahwa hyungnya ini sedang kecewa karena dia tidak menepati janji. . .  d.o-ah jawab aku dan bilang pada yeol hyung bahwa kau hanya lelah dan tertidur. . . .” baekhyun sedikit mengguncangkan tubuh d.o yang terbaring lemah tak berdaya.

“baekkie-ah jernihkan pikiranmu itu. . . jika d.o sadar maka  juga akan ikut sedih melihatmu seperti ini. . .”

“anniyoo. . . dia akan bangun . . . . d.o-ah cepatlah bangun dan tepati janjimu. . . bukankah kau juga menginginkan kita pergi bersama ke Paris dan melihat menara Eiffel? aku akan ikut denganmu walau aku tak begitu menyukai Paris. Tapi kau harus bangun dulu. . .  d.o-ah jebaal. . .”

“baekkie-ah” hanyeol sedikit membentak agar baekhyun tau apa yang dia lakukan itu percuma

“oh yeol hyung lihatlah. . . .” baekhyun melihat tangan d.o sedikit bergerak. Dia pun langsung mengusapkan air mata yang sudah membasahi pipinya itu

“d.o-ah kau sudah sadar? Baekkie kau tunggu sini. . aku akan panggil dokter” chanyeol dengan sigap keluar ruangan untuk mencari dokter

 

Beberapa saat kemudian

“d.o-ah apa ada yang sakit? Bagaimana bisa kau tidur selama itu? Kau bukanlah orang yang suka sekali tidur dan setiap kau tidur lama badanmu akan terasa pegal dan nyeri” baekhyun sedikit memijat pundak d.o

“gwenchanaeo. . . . mianhae hyung. . . karena aku mengingkari janjiku sendiri” ujar d.o dengan suara yang lemah

“anniyo. . . kau sudah berusaha. . . ini sudah kehendak Tuhan, kau tak perlu menyesali diri. . .  yang terpenting sekarang kau sudah sadar dan akan segera sembuh” ucap chanyeol

“chanyeol hyung. . . sebaiknya kau lanjutkan studymu dan membantu ayah di perusahaan, aku tau kau sangat pintar dalam berbisnis dan sangat memahami seluk beluk perusahaan. . .” d.o seperti memberi nasihat untuk hyungnya

“kenapa kau tiba-tiba membicarakan hal itu?” chanyeol sedikit dibuat bingung oleh adiknya

“baekhyun hyung. . . kurangilah sifat kekanakanmu itu karena wanita tak terlalu menyukai lelaki yang childish sepertimu itu. . . kau juga harus melanjutkan sekolahmu dalam bidang seni karena aku tau kau sangat pandai bernyanyi. . . .” d.o juga memberi nasihat pada hyung yang satunya

“wae geure? Kau berkata seolah kau akan pergi selamanya. . . .” baekhyun ikut dibuat bingung juga

“ aku senang bisa bertemu kalian sebelum aku pergi. . aku akan meminta Tuhan untuk menjadikan kita sebagai saudara yang saling menyayangi lagi dikehidupan selanjutnya. . . aku juga akan meminta agar Tuhan mengumpulkan semua keluarga kita dan hidup bahagia disana. . . Chanyeol hyung, Baekhyun hyung, ayah. . . terima kasih atas kasih sayang yang kalian curahkan. . . maafkan aku yang selalu membuat kalian khawatir dan hidup tak tenang. . .  kalian harus tetap bahagia. Aku akan selalu mengawasi kalian di atas sana. . . .”

Perlahan d.o mulai memejamkan matanya dan badannya sudah mulai melemas dan tak bertenaga.

“d.o-ah? Kau kenapa? Apa kau kembali tidur lagi?” ujar baekhyun yang panik melihat adiknya yang sudah memejamkan matanya

“d.o-ah kau jangan mempermainkan kami lagi. . .kau baru saja sadar dan kamu seperti ini lagi?” chanyeol mengguncangkan keras tubuh d.o namun d.o sama sekali tak memberi respon. Dengan keadaan panik dia memanggil dokter di depan pintu ICU cukup keras.

 

FLASHBACK OFF

 

“dan pada akhirnya hanya kita berdua yang kesini” ujar chanyeol  dengan tatapan yang tak beralih dari menara

“d.o-ah apa kau senang? Aku harus pergi ketempat yang tidak aku suka. . .dan yang sangat menjengkelkan adalah aku mulai menyukai Eiffel sejak aku melihatnya sekarang ini. . .” baekhyun kembali berceloteh ria

 

Akhirnya mereka beranjak dari tempat yang membuat mereka mematung.

 

“d.o-ah kau harus menunggu kami. . .”

 

“d.o-ah kau harus menepati janjimu saat kita bertemu disana. . .jangan ada lagi yang namanya sakit. . sampai kapanpun Saranghae Uri Dongsaeng”

 

 

END

 

 

 

 

 

 

30 pemikiran pada “Saranghae Uri Dongsaeng

  1. mian baru komen.daebak thor!!nangis bombay saya.tapi thor,menurut aku,alurnya rada kecepetan dehh.overall keren kok.keep writting!! ditunggu karya lainnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s