Winter Tears (Chapter 1)

Winter Tears

PhotoGrid_1399626420059

Title                 : Winter Tears (Chapter 1)

Author             : Claraaprillia@claraKHB

Rating             : PG – 15

Length             : Chaptered

Genre              : AU, Romance, Sad, Family

Main Cast        : Park Ji Eun (OC)

Xi Luhan

Other Cast       : Kim Jong In

Kim Na Yoon

DC                    : FF ini milik author dan jangan sampai meng-copast FF ini tanpa izin. RCL, gomawo ^^ maaf untuk typo(s). Happy reading.

Note                  : FF “Winter’s Tears” ini merupakan sequel dari FF “The Real Destiny”.

————————————————-

Dirimukah yang saat ini bersamaku?

Jujur, aku bahkan hampir tak mengenalmu

—————————————————————————

~~~~~ Winter Tears ~~~~~

 

Author

Satu tahun lamanya semenjak Ji Eun dan Luhan saling menyatakan perasaan mereka. Serasa baru kemarin memang, namun waktu berjalan begitu cepat. Di awal musim gugur keduanya nampak begitu hangat dan harmonis, begitu pula hari ini.

“Kau tidak ada kelas hari ini?” tanya Ji Eun pada Luhan dengan mata yang terfokus pada layar ponselnya.

“Tidak. Aku ingin menghabiskan seharian penuh bersamamu hari ini.” Jawabnya dengan tersenyum ceria.

“Kau kira aku bersedia kencan dengan laki-laki yang rajin absen kuliah sepertimu? Andwae! Kau harus kuliah hari ini.”

“Kalau aku tidak mau?” seketika itu pula Ji Eun melemparkan death glare nya pada Luhan.

Luhan yang melihat tingkah kekasihnya itu pun hanya dapat tersenyum geli. Ia merasa saat-saat seperti inilah yang dinamakan kebahagiaan, duduk berdua di taman dan mengobrol dengan hangatnya.

“Hmm, baiklah. Aku akan pergi kuliah, namun jangan salahkan aku jika bertemu gadis lain yang lebih cantik darimu lalu…” Luhan menggantungkan kalimatnya.

“Lalu apa? Percaya saja kau tidak akan mampu melakukan itu padaku. Sudah, cepat berangkat!” ucap Ji Eun dengan memberi tanda kepada Luhan untuk segera pergi kuliah.

“Kau kira aku tidak bisa? Lihat saja nanti!” Luhan menanggapi komentar Ji Eun dan kemudian berlalu sambil melambaikan tangannya pada gadisnya itu.

Begitulah kedua insan ini menjalani hari-hari mereka. Tawa, canda, emosi, terkadang menjadi penghias dalam kisah asmara mereka berdua.

 

Luhan

Satu tahun ditambah satu bulan, ah tiga belas bulan sudah aku dan Ji Eun bersama. Tidak terasa sudah cukup lama. Kulihat wajahnya saat dulu masih duduk di bangku SMA pada layar ponselku. Ya, memang kupasang wallpaper foto kami berdua saat masih SMA. Terlihat sangat kuno memang, tapi bagiku saat-saat itulah yang menjadi kenangan manis untuk selalu dikenang.

“Permisi.” Suara seorang perempuan menyadarkanku dari lamunanku.

“Ah, ya? Ada yang bisa saya bantu?”

“Apa kau tahu dimana gedung Bussiness Management?”

“Oh, kau hanya perlu berjalan lurus kemudian belok ke kiri.” Jawabku singkat.

“Baiklah, terima kasih.”

“Apa kau baru di sini?” tanyaku singkat padanya.

“Ya, begitulah. Namaku Kim Na Yoon, aku baru datang dari New York. Dan sekarang melanjutkannya di sini. Bagaimana denganmu?”

“Oh, aku Xi Luhan. Semester dua bidang Olah Raga. Senang bertemu denganmu.”

“Senang bertemu denganmu juga. Sepertinya aku harus segera pergi karena ini sudah sangat terlambat. See you soon, annyeong~” lanjutnya dengan bergegas menuju arah yang sebelumnya telah kutunjukkan.

Ramah. Bagi pendatang baru, apalagi dari negara besar seperti Amerika, jarang ada yang seperti dia. Ah, dia mungkin orang yang baik.

 

Seoul, 2 p.m KST

“Kau akan pulang telat? Sungguh? Ah, jangan sampai membuat orangtuamu cemas, arra? Baiklah kututup teleponnya, annyeong~ saranghae~”

Apa-apaan gadis itu? Apa dosennya memberi banyak tugas hari ini? Seharusnya sekarang adalah waktu kencan kami, tapi… sudahlah. Mungkin tugasnya jauh lebih penting,seharusnya aku tahu itu.

“Ah, Luhan-ssi!”

“Kau? Kita bertemu lagi. Apa kabar?”

“Baik tentunya, dan kau?” ia bertanya dengan mata yang berbinar.

“Aku juga baik. Bagaimana harimu di universitas?”

“Tidak terlalu buruk, aku senang karena telah mendapatkan cukup banyak teman termasuk kau.”

“Ah, ya. Mulai sekarang kita adalah teman, bila kau membutuhkan bantuan hubungi saja aku. Akan kuusahakan semampuku.” Balasku dengan tidak kalah ceria.

“Wah, kau memang baik Luhan-ssi.”

“Ah, itu.. cukup Luhan saja, okey?”

“Oh, maaf. Baiklah, Luhan.”

Kami pun mulai terbiasa mengobrol dan larut dalam topik perbincangan yang tak ada habisnya. Benar dugaanku, dia merupakan orang yang baik dan satu lagi, menyenangkan. Sangat menyenangkan.

 

~~~~~ Winter Tears ~~~~~

Ji Eun

Ada apa dengan dosen satu ini? Baru setengah jam lalu dia berkata akan memberi bimbingan untuk tugas membuat makalah, dan sekarang? Dia justru membatalkannya? Tahu seperti ini aku lebih baik pergi bersama Luhan. Aku rasa dia sedikit kecewa saat kutelepon tadi, terdengar jelas dari suaranya saat menyahutiku.

“Apa lebih baik ku telepon dia saja, ya?” gumamku seraya mengambil ponsel dari saku jaketku.

Kutekan panggilan terakhirku,’Lulu^^’. Nada sambung terus berbunyi namun tidak diangkat. Apa dia tidak mendengarnya?  Kucoba sekali lagi dan hasilnya pun sama.

“Apa dia sibuk?” lirihku dengan heran.

Lebih baik kutemui dia langsung. Sekali-sekali aku ingin memberinya kejutan.

 

Seoul University, 3.30 p.m KST

“Ah, bukankah seharusnya ia sudah pulang dua jam lalu? Untuk apa aku kemari? Tentu dia sudah pulang, Park Ji Eun.”  Runtukku dalam hati. Namun saat hendak berbalik, seseorang menabrak bahuku.

“Maafkan aku, aku benar-benar tidak melihat.” Ucapnya seketika.

“Ohh, tak apa. Aku tak apa-apa, bagaimana denganmu?”

“Justru aku yang harus menanyakan itu padamu. Sekali lagi aku minta maaf.” Ia berkata dengan terus menerus membungkukkan badannya.

“Sungguh, aku baik-baik saja. Lain kali berhati-hatilah.”

“Oh, ya. Aku akan lebih berhati-hati. Baiklah, aku harus pergi sekarang. Kuharap kita bisa bertemu lagi.” Ia tersenyum dengan cerianya. Aku baru menyadarinya, dia cantik bahkan sangat cantik.

“Sampai jumpa lagi.” Sahutku kemudian.

Sepertinya dia juga orang yang baik. Siapa dia?

 

Author

Angin sore berhembus menerpa wajah Ji Eun yang sedang duduk di salah satu bangku taman Universitas Seoul, kampus Luhan. Entah apa yang ia pikirkan saat ini sampai ia merasa nyaman duduk santai di tempat itu.

Namun tanpa ia sadari sepasang manik mata sedang memperhatikannya dengan senyuman mengembang di bibirnya. Siapa lagi? Tentu Luhan.

“Apa yang kau lakukan di sini?” suara lembut milik Luhan sedikit mengejutkan Ji Eun di tengah aktivitas melamunnya.

“Oh, kupikir kau sudah pulang?” wajah Ji Eun menampilkan ekspresi yang begitu lucu sehingga Luhan mencubit pipinya lembut.

“Anni, aku belum ingin pulang. Ternyata benar dugaanku, hari ini kita akan tetap pergi kencan. Ayo kita pergi sekarang!” ajak Luhan seraya menarik tangan Ji Eun dengan semangat.

Ji Eun yang diperlakukan seperti itu hanya dapat menahan tawanya geli.

 

~~~~~ Winter Tears ~~~~~

Tak terasa hari mulai gelap hingga menjadi malam. Luhan dan Ji Eun terlarut dalam indahnya kisah cinta yang mereka rajut berdua. Ketika keduanya sedang berjalan di Seoul District, seseorang memanggil nama Luhan dengan cukup lantang.

“Luhan!” dan suara tersebut cukup mampu membuat si pemilik nama dan kekasihnya itu menoleh kearah sumbernya.

“Kau?” mata Luhan sedikit terbuka lebar melihat seseorang di hadapannya kini.

“Benar! Kau sedang jalan-jalan ya? Dan bersama… oh?” ucapan gadis itu pun terhenti begitu melihat Ji Eun.

“Ah, annyeong. Kita bertemu lagi.” Sahut Ji Eun seketika dan membuat Luhan yang berdiri di sebelahnya kini menatapnya tidak percaya.

“Ya, kau yang tadi itu ‘kan? Ah, maafkan aku soal tadi, aku benar-benar tidak melihat. Ehm, kalian mirip sekali. Sibling?”

“Ah, tidak…” belum sempat Ji Eun mengakhiri kalimatnya, gadis itu telah memotongnya terlebih dahulu.

“Tidak perlu malu-malu. Ehm, aku iri pada pasangan sibling seperti kalian. Terlihat sangat akur dan baik. Oh, iya satu lagi. Kita belum sempat berkenalan, bukan? Namaku Kim Na Yoon, aku teman satu kampusnya Luhan. Kau?” sambungnya panjang lebar.

“Park Ji Eun, aku kekasihnya Luhan.” Ucap Ji Eun sedikit ragu.

“Kekasih? Ah, ayolah.. yang benar saja. Kalian begitu mirip, aku yakin hubungan kalian adalah bro and sist, okey?” Na Yoon menimpali ucapan Ji Eun.

“Tidak, dia benar. Park Ji Eun ini adalah kekasihku.” Luhan pun menyahuti dengan yakin.

Seriously? Oh my God, i’m so sorry about my oppinion. Maafkan aku sekali lagi.” Seru Na Yoon dengan wajah tak percaya.

“Tak apa, lagi pula memang banyak orang yang mengatakan kalau kami berdua mirip.” Timpal Luhan.

“Ya, benar sekali. Kukira kau belum memiliki kekasih, jadi aku bisa mendekatimu. Hahaha, just kidding! Sepertinya aku harus pulang sekarang, tidak ada alasanku untuk tetap bersama kalian dan mengganggu malam kalian. Dan maaf soal ini.”

“Ah, tak apa. Justru kami akan senang jika kau mau bergabung dengan kami.”  Ji Eun berusaha meyakinkan Na Yoon.

“Apa kau bilang?” Luhan yang terkejut atas pernyataan Ji Eun pun mengernyitkan dahinya.

“Anni, tidak perlu. Aku tidak ingin mengacaukan suasana indah kalian berdua.”

“Kim Na Yoon, kumohon.” Namun sepertinya innocent eyes milik Ji Eun mampu meyakinkan Na Yoon untuk bergabung dengannya dan Luhan. Sedang Luhan hanya dapat diam dan menerima saja keputusan Ji Eun.

Sepanjang jalan mereka habiskan dengan berbagi cerita, terlebih Na Yoon yang banyak bercerita tentang kesehariannya saat di New York.

“Jika saja tadi aku tak bertemu Luhan, pasti hari ini aku akan bolos di hari pertamaku masuk Universitas. Ah, jeongmal gomawo Luhan.”

“Ah, tak masalah.” Luhan membalas dengan senyuman ramah di bibirnya.

Saat mereka berhenti untuk makan mi ramen di pinggir jalan, Na Yoon kembali mendominasi percakapan antara mereka bertiga. Namun, kali ini Luhan pun mulai masuk dalam topik yang menarik bersama Na Yoon hingga sedikit mengabaikan Ji Eun yang hanya tersenyum menanggapi cerita keduanya.

“Dulu aku sempat berlibur ke New York dan sebelum berangkat aku berpikir mungkin aku lah orang yang paling putih disana sambil memandangi diriku sendiri di cermin seperti ratu jahat di cerita snow white. Akan tetapi saat aku sampai di New York aku merasa malu karena kenyataannya kulit mereka jauh lebih putih dibandingkan denganku yang tidak ada apa-apanya ini.” Seketika tawa pun pecah diantara mereka.

“Kemudian aku berkata pada ibuku, ‘kau bilang aku akan menjadi orang dengan kulit yang paling putih di Amerika?’ lalu ibuku menjawab ‘ya, jika kau pergi ke amerika di kawasan Detroit (wilayah orang kulit hitam/negro)’ dan aku hanya dapat ber-oh ria dan berkata ‘baiklah, bisa kau bawa aku kesana?’ aku benar-benar tidak tahu apa itu Detroit karena usiaku yang masih kanak-kanak.” Tawa mereka pun semakin menjadi-jadi.

Di tengah suasana hangat yang mereka ciptakan, tiba-tiba ponsel Ji Eun berdering. Dia pun segera mengangkatnya karena rupanya yang menelepon adalah ibunya.

“Ne, Eomma?” Ji Eun terdiam beberapa saat. Begitu pun Luhan dan Na Yoon.

“Aku mengerti, aku akan segera pulang.” Kalimat terakhir yang diucapkan Ji Eun sebelum memutuskan panggilannya.

“Ada apa?” Luhan yang heran melihat perubahan ekspresi pada wajah Ji Eun.

“Tidak. Tidak perlu kuatir. Aku harus pulang sekarang, kau bisa mengantarku?” sahut Ji Eun kemudian pada Luhan.

“Ah, itu. Bukannya aku tidak mau mengantarmu, Ji Eun-ah, tapi bagaimana dengan Na Yoon bila seorang diri di tempat seperti ini?” ucapnya sedikit ragu.

“Ah, tak apa. Aku benar-benar tak apa jika harus pulang sendiri. Ya! Luhan, antarlah dia. Dia itu kekasihmu bukan?” Na Yoon berkata dengan ekspresi terkejutnya.

“Ah, ya. Aku hampir lupa. Benar, lebih baik kau temani Na Yoon. Bahaya jika seorang diri disini. Kalau bisa kau antar dia pulang.” Ji Eun membenarkan pernyataan Luhan.

“Ji Eun-ah~” belum sempat Na Yoon menyelesaikan kalimatnya, Ji Eun sudah memotongnya terlebih dahulu.

“Ah, tak apa. Tak perlu sungkan seperti itu, aku harus pulang sekarang. Satu lagi, aku tidak seberapa suka dengan ‘Ji Eun-ah’ itu. Jaga dia, Luhan!” perintah Ji Eun pada kekasihnya.

“Kau bisa mengandalkanku, chagi~ annyeong!” Ji Eun pun segera berlari mencari taxi untuk pulang ke rumahnya.

 

Luhan

“Kau sangat beruntung, Luhan.” Suara Na Yoon membuatku sedikit tersentak.

“Eoh? Maksudmu?” tanyaku yang tak paham maksud ucapannya.

“Ji Eun. Dia sangat manis dan baik hati. Dia jauh memikirkan keadaan orang lain dibanding dengan dirinya sendiri.” Jelasnya dan membuatku teringat akan sesuatu. Masa lalunya, masa lalu kami.

“Ya, dia memang begitu. Dia luar biasa.” Aku pun menanggapi penjelasannya barusan sambil terus menatap arah perginya Ji Eun yang semakin menghilang dari pandangan mataku.

“Kau sangat mencintainya?” pertanyaan singkat yang membuat hatiku sedikit miris. Mengapa dia bertanya seperti itu? Apa tidak terlihat jelas bagaimana aku mencintai Ji Eun?

“Apa yang kau bicarakan? Tentu aku amat mencintai Ji Eun.” Jawabku sedikit terbawa emosi.

“Ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja… aku iri.”

“Iri? Bagaimana..”

“Aku hanya.. memiliki masa lalu yang buruk.” Ungkapnya yang membuatku sedikit terkejut karena perubahan ekspresi pada wajahnya yang menjadi datar. Kuperhatikan wajahnya sambil meneguk soju di gelasku.

Tanpa kuminta untuk bercerita, ia dengan kesadarannya sendiri menceritakan tiap kejadian yang ia alami di masa lalu.

“Aku.. selalu dan selalu merasakan ini. Sahabatku bertambah dari hari ke hari dan hal itu membuatku senang. Namun aku tak pernah menyangka bahwa pada akhirnya merekalah yang menjadi penghancur bagi kisah cintaku.”

Kutanggapi ceritanya dengan menganggukan pelan kepalaku dan tetap serius mendengarnya berbicara.

“Mereka bertanya bagaimana perasaanku pada orang yang aku sukai dan dengan senang hati kuceritakan pada mereka. Namun, siapa sangka? Ternyata justru mereka yang menjalin hubungan dengan orang yang kusukai itu. Aku tak masalah jika mereka memang menjalin hubungan, hanya saja mengapa mereka harus berbohong dan mengatakan akan membantuku untuk mendapatkan hati pria itu?” kupandangi wajahnya semakin terlihat sedih.

“Atau memang aku harus selamanya begini? Tak pernah mendapat akhir bahagia di tiap kisahku?” pertanyaan itu sempat membuat hatiku tersayat.

Tunggu!

‘Kim Sae Ri, Cho Ji Hyun, dan Shin In Joo ~ aku tak akan pernah membenci mereka. Karena adanya mereka kini aku bersamamu, Xi Luhan ~’

“Sahabat kau bilang?” tanyaku untuk meyakinkan.

“Benar, sahabat.”

Ada apa ini? Mengapa bisa seperti ini? Bagaimana bisa kisah Na Yoon sama seperti Ji Eun? Ah, nyatakah semua ini?

“Lalu, siapa orang yang selalu bersamamu kala kau sedih dan merasa sendiri?”  kuberanikan diri bertanya padanya.

Nobody can help me and nothing can support me. I’m just alone~”

Ini dia yang membedakan. Jika Ji Eun masih memilikiku untuknya dapat bertahan, Na Yoon tak memiliki siapa pun untuk menghiburnya dan menguatkan hatinya. Dia sungguh malang.

“Kau.. kau tak perlu kuatir mulai dari sekarang. Karena kini kau memiliki  kami, aku dan Ji Eun. Kami akan selalu ada untukmu.”

“Gomawo Luhan-ah~” ucapnya seraya tersenyum padaku. Ya, senyum seperti milik Ji Eun yang terlampau tulus dan membawa kedamaian di hati.

 

~~~~~ Winter Tears ~~~~~

Ji Eun

“Dasar wanita tak diuntung! Masih bagus kau kuhidupi selama ini! Makan, minum, tempat tinggal, pakaian, apa lagi huh? Aku hanya ingin keluar dengan wanita-wanita itu saja kau mencegahku? Bukankah hidupmu hanya untuk uang?!”

Ya, aku tahu memang akan seperti ini tiap hari jika dia pulang. Appa.

“Kumohon kali ini saja. Ji Eun akan segera datang, kau harus melihatnya! Jangan buat dia bersedih lagi, kumohon.” Suara Eomma terdengar amat serak, dia pasti menangis begitu banyak.

Kubuka pintu rumahku dan benar saja mereka berdua langsung menoleh kearahku dengan pandangan yang berbeda-beda.

“Aku pulang.” Eomma yang melihatku datang langsung hambur ke tubuhku dan memelukku erat.

“Kau sudah pulang, nak.” Ucapnya dengan pandangan bahagia.

“Apa ini hasil didikanmu? Pulang sampai semalam ini dan bau apa ini? Ah, kau minum soju kan? Mengaku saja! Dasar gadis yang buruk!” Appa mulai membuatku geram.

“Aku bisa seburuk ini juga karena perbuatanmu. Sepertinya sifat burukmu mengalir deras dalam darahku. Jadi, jangan pernah salahkan aku.”

“Kurang ajar! Siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu, huh?”

“Kau!”

Plak!

Benar, bukan? Aku sudah mengira ia akan melakukan ini padaku.

“Hentikan! Jangan lukai dia lagi!” Eomma yang tidak tahan lelaki itu menamparku segera mencegah perbuatan appa.

“Diam! Seperti ini jadinya didikan dari seorang ibu yang hanya memikirkan uang dan uang! Dasar kalian berdua memang tak tahu diuntung!”

Sesaat setelah dia berteriak seperti itu, ia pun meninggalkan rumah seperti biasa. Aku muak, sangat muak melihatnya ada di rumah.

 

~~~~~ Winter Tears ~~~~~

Author

Dua minggu semenjak ayah Ji Eun meninggalkan rumah untuk yang kesekian kalinya, Ji Eun merasa sedikit tenang. Ia merasa waktu-waktu bersama ayahnya merupakan waktu yang sangat mengerikan dan membuatnya muak.

“Kau baik-baik saja?” Luhan membuka percakapan diantara mereka.

“Ya, aku tak apa. Bagaimana ujianmu?”

“Ah, tidak sulit. Kau tahu ‘kan, aku ini sangat pintar? Ujian seperti itu saja jelas bukan masalah bagiku. Bagaimana denganmu?”

“Ah, entahlah. Aku tak benar-benar fokus pada ujianku. Aku merasa ragu dengan semua jawabanku kemarin.”

“Benarkah? Ada apa?”

“Tidak, tidak ada apa-apa.” Ji Eun memilih bungkam.

“Ya! Kalian berdua! Mengapa tak mengajakku kemari?” sahut Na Yoon yang datang tiba-tiba ke tempat mereka, cafe.

“Ah, maafkan aku. Aku lupa memberitahumu.” Jawab Luhan.

“Bagaimana bisa? Hampir setiap hari kita bertemu dan kau melupakanku? Padahal minggu lalu kau mengajakku ke tempat ini juga. Teman macam apa kau ini?” ucap Na Yoon tanpa jeda.

Keadaan sedikit hening dan tanpa mereka sadari kini wajah Ji Eun tengah menampilkan perubahan ekspresi. Ia sedikit bingung.

“Minggu lalu?” tanya Ji Eun.

“Benar. Ah, aku lupa kau sedang mempersiapkan ujianmu saat itu.” Na Yoon kembali berucap.

“Tapi Luhan.. bukankah kau pergi ke Beijing saat itu?” pertanyaan kedua Ji Eun mampu membuat Luhan tak berkutik.

“Itu.. aku..” Luhan yang nampak sedikit panik tak mampu menyembunyikan suaranya yang sedikit terdengar gugup.

“Beijing? Tidak, dia bersamaku.” Pernyataan Na Yoon seakan mampu menjawab kedua pertanyaannya barusan.

Luhan berbohong, kekasihnya membohonginya.

‘Apa yang sedang kau rencanakan? Kuharap bukan suatu hal yang buruk yang akan terjadi’

— To Be Continue —

 

Iklan

29 pemikiran pada “Winter Tears (Chapter 1)

  1. Na yoon ilang aja dehh!! Ganggu hubungan orang-.-” luhan jgn selingkuh donggg:”) kai cepet nongol bantuin ji eunnnn….ditunggu chapter selanjutnya ya thor^^ anyeonggg

  2. OMG OMG Luhan udah mulai bohong sama Jieun. Tuhaan pasti na yoon jg ska kan sama luhan. gmana kalo mereka selingkuh. omo! kasihan ji eun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s