You Can See Me, Right..? (Chapter 4)

 You Can See Me, Right..?

You Can See Me, Right.. [Chapter 4]

 

Title                       : You Can See Me, Right..?

Author                  : Zhang Wen Qian

Length                  : Chaptered

Genre                   : Friendship, Mystery (maybe),  School Life (bit) , Romance (bit/maybe),  Sad (bit/maybe)

Main Cast           : Kim Jongin (Kai), Jung Eunji, Byun Baekhyun

Other Cast          : Kim Namjoo, Sohn Naeun, etc

 

–You Can See Me, Right..?—[Chapter 4]

 

(Before Part 3)

 

“ahjussi, kita putar balik kerumah sakit X..” perintah Kai pada supir taksi itu.

 

“wae..?” Tanya Namjoo.

 

“lihat nanti saja..” Kai merasa belum bisa menceritakan kepada Namjoo.

 

Back to Eunji

 

“annyeonghaseyo, maaf jika aku mengganggu istirahatmu. Aku adalah seseorang yang dikenal oleh Namjoo..” gumam Eunji sendiri tapi sebenarnya tunjukan kepada Jongsoo.

 

Eunji merasa bosan karena tidak ada teman yang bisa diajak bicara.

 

“aku bukan orang jahat jadi tidak usah takut, beristirahatlah agar kau cepat sembuh..” sambung Eunji lagi.

 

Tiba-tiba mata Jongsoo terbuka. Eunji yang melihat itu kembali mengangakan mulutnya karena terlalu terkejut.

 

“kau… masih hidup..?” Tanya Eunji yang masih sangat terkejut.

 

Jongsoo menatap kearah Eunji. Eunji masih terkejut.

 

“eo..tteokhae..?” Eunji tergagap karena sedikit takut dan bingung harus berbuat apa.

 

“apa aku harus melaporkannya kepada dokter..?” gumam Eunji mulai bingung.

 

“permisi, apa aku harus melapor kedokter..?” Tanya Eunji kepada Jongsoo.

 

Jongsoo hanya diam dan tetap menatap kearah Eunji.

 

“ah matta, dia lumpuh..” Eunji mulai berfikir keras.

 

“apa kau bisa mendengarku..?” Tanya Eunji hati-hati.

 

Tiba-tiba ada uap di oksigen yang berada dihidung Jongsoo. Itu akibat Jongsoo mendesahkan nafasnya.

 

“kau mendengarku..?” Eunji mulai memastikan.

 

Desahan itu terdengar lagi hingga membuat uap lagi. Eunji yang mengerti apa maksud Jongsoo pun mulai bertanya.

 

“apa perlu aku melapor kedokter..?” Tanya Eunji.

 

Desahan itu terdengar lagi dan kali ini terdengar dua kali.

 

“tidak perlu..?” Eunji yang sepertinya mengerti.

 

“kwaenchanaseyo..?” Tanya Eunji yang merasa khawatir dengan kondisi Jongsoo.

 

Dengan tetap menatap Eunji, Jongsoo mengeluarkan desahannya sekali.

 

“arassoyo. Kau oppa Namjoo bukan..?” Eunji yang tidak bisa menahan rasa penasarannya bertanya dengan hati-hati.

 

Kali ini Jongsoo tidak mengeluarkan desahan dari hidungnya tapi ia malah menitikkan air matanya. Tatapan Jongsoo kepada Eunji pun berubah menjadi tatapan yang sedih. Eunji yang melihat tatapan Jongsoo berubah pun mengerti bagaimana perasaan Jongsoo. Eunji pun diam dan tidak bertanya apa-apa lagi. Sedangkan air mata Jongsoo masih mengalir.

 

Tiba-tiba terdengar suara langkah yang menuju kamar tersebut. Eunji yang mendengar itu pun langsung merasa kelagapan. Ia mencari tempat bersembunyi tapi Eunji malah menghapus air mata Jongsoo terlebih dahulu.

 

“tutuplah matamu..” suruh Eunji sambil menghapus air mata Jongsoo.

Jongsoo yang mendengar pun menutup matanya. Dan Eunji langsung bersembunyi dibawah ranjang Jongsoo. Eunji lalu melihat seorang namja memasuki kamar tersebut terlihat dari sepatu yang ia kenakan. Namja itu berdiri disamping ranjang Jongsoo, ditempat Eunji berdiri tadi. Eunji hanya melihat namja itu berdiri, sepertinya namja itu hanya melihat keadaan Jongsoo. Namja itu sama sekali tidak menegluarkan suaranya.

 

Tiba-tiba terdengar suara getaran handphone dan ternyata itu adalah handphone Eunji yang terletak dilantai. Karena sedari tadi Eunji memegang handphone-nya dan pada saat memasuki kebawah ranjang Jongsoo, Eunji meletakkan dilantai tepat didekat tangannya. Eunji yang melihat handphone berdering pun segera mengambilnya dan memegangnya.

 

Tapi, ternyata namja itu mendengarnya dan langsung berjongkok melihat keaadan dibawah ranjang Jongsoo. Eunji terlihat terkejut dan sedikit takut.

 

“hei, apa yang kau lakukan..?” kata namja itu langsung ketika melihat Eunji sedang duduk dibawah ranjang Jongsoo.

 

Eunji hanya diam menatap namja itu sedikit ketakutan dan menggigit bibirnya karena tidak tahu harus berbuat apa.

 

“hei, kau yeoja yang kemarin bukan..?” tebak namja itu.

 

Dan benar saja, ternyata itu adalah namja yang diikuti Baekhyun dan Eunji pada saat kerumah sakit ini.

 

“kau… ayo ikut aku..” namja itu menarik Eunji keluar dari bawah ranjang.

 

Setelah keluar dan berdiri dari bawah ranjang itu. Eunji hendak lari dan kabur tapi namja itu langsung menahan Eunji.

 

“lepaskan..lepaskan aku..” berontak Eunji.

 

Namja itu semakin memperkuat menahan Eunji. Melihat Eunji terus memberontak namja itu langsung memukul keras belakang kepala Eunji yang membuat Eunji langsung tak sadarkan diri.Eunji langsung dibawa oleh namja itu.

 

***

 

“aneh sekali, Eunji tak menjawab teleponku..” gumam Kai yang terus mencoba menghubungi Eunji.

 

“sudah kita cari saja sendiri saja kamarnya..” kata Namjoo tiba-tiba yang berada disamping Kai.

 

“geure..?” Kai tampak ragu.

 

“iya, ayo kita masuk saja..” ajak Namjoo.

 

Kai dan Namjoo pun langsung masuk kerumah sakit itu. Mereka menjelajahi seluruh pelosok di rumah sakit tersebut. Hingga Namjoo melihat kesuatu arah.

 

“Kai-ya..” panggil Namjoo sambil menunjuk ke salah satu lorong.

 

Kai pun langsung berlari kecil memasuki lorong tersebut. Dan Kai langsung melihat sebuah kamar dengan tatanan VVIP. Kai lalu melihat kondisi pintu depan kamar tersebut.

 

“sepertinya ini, terdapat alarm disini..” kata Kai.

 

“tapi, mengapa tidak terlihat Eunji disini..?” Tanya Namjoo yang sambil melihat sekitarnya yang tidak terdapat Eunji.

 

“entahlah, mungkin dia sudah pergi..” kata Kai sambil melihat-lihat tempat tombol sandi agar alarmnya mati.

 

“kau lihat apa..?” Tanya Namjoo.

 

“alarm ini, alarm ini tidak akan berbunyi jika kita buka dari dalam..” kata Kai menatap Namjoo.

 

“lalu..?” Namjoo terlihat sedikit bingung.

 

“kau bisa menembus pintu ini kan..?” Tanya Kai.

 

“ne..” jawab Namjoo langsung.

 

“kau masuk lalu membukakan pintu ini untukku..” jelas Kai.

 

Namjoo tampak berfikir dan sedikit ragu-ragu.

 

“wae..? kau tidak bisa melakukannya..?” kata Kai yang melihat ekspresi Namjoo.

 

“bisa, tapi ini melanggar aturan sebagai hantu. Kemarin aku sudah menunjukkan kehadiranku pada Baekhyun dan Eunji..” jelas Namjoo.

 

“memang apa hukumannya..?” Tanya Kai.

 

“kemunkinan aku tidak akan bisa melihat jasadku pada saat dimakamkan. Biasanya para hantu menyaksikan sendiri bagaimana ia dimakamkan atau dikremasi lalu baru pergi ke dunia akhirat..”jelas Namjoo.

 

Kai pun diam karena mengerti pasti Namjoo ingin melihat jasadnya dimakamkan secara layak dan ingin melihat orang-orang yang disayanginya bersedih karena kehilangannya.

 

“baiklah, aku akan melakukannya..” kata Namjoo tiba-tiba.

 

“ne..?” Kai tampak bingung.

 

“aku akan masuk dan membukakannya..” kata Namjoo yakin sambil menatap Kai penuh keyakinan.

 

“kau yakin..? tapi, kau tidak akan bisa melihat..” perkataan Kai langsung dipotong oleh Namjoo.

 

“jasadku pasti sekarang sudah tidak utuh, aku sudah meninggal hampir setahun. Aku juga tidak ingin melihat jasadku yang tidak utuh, mungkin akan menyakitkan..” kata Namjoo yang tidak sadar bulir-bulir air mata telah menumpuk di pelupk matanya.

 

“Namjoo-ya..” panggil Kai pelan.

 

“ani, kwaenchana..” Namjoo langsung membersihkan matanya dari bulir-bulir air matanya yang hendak jatuh tadi.

 

Namjoo langsung mengubah posisinya menjadi menghadap pintu kamar tersebut. Namjoo mengambil nafas panjang lalu dihembuskannya. Namjoo sudah berjalan dan akhirnya ia masuk kekamar tersebut setelah menembus pintu tadi. Namjoo lalu melihat Kai sekejap dari kaca transparan yang berada di pintu tersebut. Namjoo lalu memegang kenop pintu tersebut dan akhirnya terbukalah pintu tersebut.

 

Setelah pintu itu terbuka Kai langsung masuk dan menghampiri ranjang yang berada dikamar tersebut. Kai langsung membelalakkan matanya ketika melihat seseorang diatas ranjang tersebut.

 

“dia benar-benar oppa-mu..” kata Kai setelah melihat Jongsoo diatas ranjang tersebut.

 

Namjoo lalu mendekat dan melihat wajah Jongsoo. Setelah Namjoo melihatnya Namjoo tiba-tiba mundur selangkah sambil memegang mulutnya karena terkejut. Air mata pun langsung jatuh membasahi pipi Namjoo tanpa menunggu di pelupuk mata Namjoo.

 

Namjoo pun berusaha untuk mendekat lagi dan melihat wajah Jongsoo secara lebih dekat. Air mata Namjoo semakin deras jatuh ketika melihat Jongsoo lebih dekat.

 

“op..oppa..” gumam Namjoo pelan.

 

***

 

Baekhyun masih tetap memantau ibu tiri Namjoo bersama seorang namja tersebut. Tiba-tiba ibu tiri Namjoo mengangkat telepon tersebut. Setelah bebicara dengan si penelpon terlihat ibu tiri Namjoo tersebut langsung buru-buru pergi keluar kafe. Baekhyun sedikit bingung melihat tersebut.

 

Setelah ibu tiri Namjoo tersebut keluar Baekhyun langsung berlari menuju meja ibu tiri Namjoo adi dan langsung mengambil handphone-nya yang berada dibawah meja tersebut. Setelah itu Baekhyun langsung menuju keluar dan segera mengikuti ibu tiri Namjoo lagi.

 

Baekhyun mengikutinya hingga matahari sudah tenggelam.Saat dalam perjalanan mengikuti ibu tiri Namjoo, Baekhyun memasang headset-nya ke handphone-nya lalu mendengarkan sesuatu. Baekhyun memasangnya secara hati-hati karena ia juga sedang menyetir. Baekhyun terlihat sangat serius mendengar sesuatu dari handphonen-nya tersebut. Dan sesaat mata Baekhyun terbelalak mendegar itu. Baekhyun tampak terkejut hingga ia tidak bisa menutup mulutnya.

 

“dasar bajingan…” gumam Baekhyun yang tiba-tiba diselimuti kemarahan.

 

Baekhyun langsung mengambil handphone-nya dan menekan kontak  ‘Kai’.

 

“eo, Baekhyun-ah..” kata Kai langsung ketika mengangkat teleponnya.

 

“hei, neo eodiga..?” Tanya Baekhyun sepertinya seperi diburu waktu.

 

“rumah sakit, kenapa dengan suaramu..?” Tanya Kai yang bingung dengan nada bicara Baekhyun.

 

“hei, kau cepat kesini. Ini adalah tindakan criminal, aku tahu siapa pembunuh Namjoo..” kata Baekhyun.

 

“mwo..?” Kai sangat terkejut.

 

“cepat, Eunji juga dalam bahaya..” Baekhyun terdengar tak terkontrol.

 

“kau dimana..?” Tanya Kai langsung.

 

Baekhyun lalu melihat kearah luar mobilnya melihat arah lalu lintas.

 

“aku sedang berjalan menuju Incheon, kau cepat kesini. Nanti akan kukabari lagi..” kata Baekhyun.

 

Setelah mendengar itu pun Kai langsung mematikan teleponnya.

 

“wae..?” Tanya Namjoo.

 

“kajja, semua akan terungkap..” kata Kai.

 

“mwo..?” Namjoo merasa tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Kai.

 

“Baekhyun mengatakan dia tahu pembunuhmu, kita harus pergi sekarang..” kata Kai serius yang membuat Namjoo membelalakkan matanya.

 

“mwo? Jinnja?” Namjoo masih tidak percaya.

 

“ayo kita pergi dulu, sudah tidak ada waktu..” kata Kai langsung.

 

***

 

Baekhyun lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Baekhyun melihat mobil yang diikutinya memasuki sebuah jalan gelap dan dipenuhi pepohonan.

 

“mau kemana mereka, masuk kejalan seperti ini..” gumam Baekhyun.

 

Baekhyun lalu keluar dari mobilnya dan duduk di bagian depan mobilnya.

 

“jalan ini satu arah kalau mereka keluar pasti mereka melewati jalan ini. jadi, aku tunggu Kai disini saja..” gumam Baekhyun sambil melihat kearah jalan raya besar menanti kehadiran Kai.

 

Tak lama ada sebuah taksi yang berhenti didepan mobil Baekhyun. Baekhyun yang menyadari bahwa itu Kai pun langsung menghampirinya.

 

“kau tidak mengajak Naeun..?’ Tanya Baekhyun yang melihat Kai keluar taksi sendiri.

 

“handphone-nya tidak aktif..” jawab Kai.

 

“Namjoo..?”

 

Kai melirik kesebelah kanannya.

 

“baiklah, kajja..” ajak Baekhyun.

 

***

 

Naeun terlihat sedang terduduk dilantai dengan tangan terikat kebelakang beserta kakinya juga. Naeun berusaha melepaskan dirinya.

 

“hei, kau diamlah. Jangan terlalu banyak bergerak atau aku akan memperlakukanmu sama seperti gadis bodoh Namjoo itu..” teriak Namri dari atas kasur sambil membaca majalah.

 

Naeun terlihat ketakutan.

 

 

[Flashback On >>>]

 

Namri memasuki kamar mandinya. Naeun lalu membuka belanjaan mereka tadi. Naeun mengambil sebuah gaun lalu melihatnya dicerminNamri. Naeun tersenyum bahagia.

 

Tiba-tiba ada handphone yang berbunyi. Naeun lalu mengecek handphone-nya yang berada dikantung jas seragamnya. Tapi, ternyata bukan handphone naeun yang berbunyi. Naeun lalu melihat kearah kasur dan benar saja yang berbunyi adalah handphone Namri.

 

Naeun langsung mengambil handphone Namri dan melihat ada sebuah pesan yang masuk. Entah apa yang membuat Naeun langsung membuka pesan tersebut.

 

From: eomma

‘Namri-ya, eomma akan pergi menemui Jongsoo namja bodoh itu. Kau bilang sama appa kalau eomma sedang ada rapat ya… jangan sampai keceplosan seperti kemarin, kalau tidak kita akan ketahuan bahwa kita yang sudah membunuh Namjoo dan membuat Jongsoo sekarat dan lumpuh.. ingat jangan keceplosan..’

 

Mulut Naeun langsung terbuka lebar begitu pula dengan matanya. Naeun sangat terkejut melihat sms tersebut.

 

“mem..bunuh..?” Naeun tidak percaya.

 

Tangan Naeun langsung lemas dan menjatuhkan handphone Namri. Naeun langsung mengambil tasnya dan berlari keluar kamar Namri. Tepat pada saat Naeun keluar Namri pun keluar dari kamar mandinya.

 

“Naeun-ah..” panggil Namri sambil mengeringkan rambutnya.

 

“kenapa dia keluar..?” gumam Namri yang bingung melihat Naeun.

 

Namri lalu mengambil handphonen-nya dan Namri melihat sebuah pesan yang sudah terbuka. Wajah namri langsung berubah.

 

“aish..” gumam Namri sambil berlari keluar kamarnya yang sepertinya mengejar Naeun.

 

Sedangkan Naeun yang sedang menuruni tangga berusaha menelpon Kai.

 

“Kai oppa, kenapa handphone-nya sibuk..” gumam Naeun.

 

“Naeun-ah..” teriak namri ketika melihat Naeun.

 

Naeun yang mendnegar itu langsung memepercepat langkahnya. Tiba-tiba Naeun terjatuh dan terguling hingga kebawah. Kaki kanan Naeun yang menyandung kaki kirinya sendiri. Naeun pun tidak sadarkan diri.

 

“mau mencoba main denganku..” gumam Namri licik ketika berdiri tepat didepan tubuh Naeun yang sudah tidak sadarkan diri.

 

[Flashback Off <<<]

 

 

Naeun terus berusaha melepaskan ikatannya.

 

“Namri-ya..” panggil seseorang dari bawah.

 

Namri langsung berdiri lalu mengambil sesuatu dari laci. Ternyata Namri mengambil sebuah lakban.

 

“awas kalau kau berani kabur, nasibmu akan sama seperti Namjoo bodoh itu..” kata Namri licik sambil menempelkan lakban itu kemulut Naeun.

 

Naeun mencoba berontak tapi apa boleh buat ia tidak bisa melawan. Namri langsung keluar kamarnya dan menghampiri yang telah memanggilnya.

 

“ne, appa..” kata Namri sambil menuruni anak tangga.

 

“eo..? Chen oppa..?” gumam Namri yang sedikit terkejut melihat seorang namja sedang berbicara dengan appa-nya.

 

Namri langsung menghampiri appa-nya yang sedang duduk dikursi roda.

 

“Namri-ya, tolong antarkan Chen kekamar Namjoo. Chen bilang dia harus mengambil sesuatu milik Namjoo..” kata appa-nya kepada Chen.

 

“eo geure..? kajja, oppa..” ajak Namri.

 

“Chen-ah, setelah itu kau ikut makan malam bersama kami ya..” kata appa Namri ramah.

 

“ne…” Chen pun tersenyum ramah.

 

Namri lalu berjalan lebih dulu baru diikuti Chen.

 

“ini kamar Namjoo, aku langsung kemeja makan tidak apa-apakan oppa..?’ Tanya Namri.

 

“eo, kwaenchana. Oppa akan menyusul..” kata Chen.

 

Namri langsung meninggalkan Chen. Chen langsung memasuki kamar tersebut. Chen melihat-lihat sekeliling kamar tersebut yang sangat kental dengan warna pink. Chen lalu menhampiri sebuah lemari kecil. Chen langsung membongkar lemari tersebut. Chen lalu menemukan yang ia cari, diary Namjoo. Chen langsung memasukkannya kedalam ranselnya.

 

Chen langsung keluar dan menutup pintu kamar Namjoo. Chen berjalan melewati kamar Namri. Chen lalu melihat Naeun dari pintu tersebut. Memang sedari tadi Namri tidak menutup rapat pintu kamarnya hingga Chen bisa melihat kedalam.

 

Chen sedikit bingung dan terkejut. Chen melihat disekelilingnya dan tidak ada seorang pun. Chen lalu memutuskan untuk masuk kekamar Namri.

 

“permisi, apa yang kau lakukan..?” Tanya Chen pelan.

 

Naeun yang mendengar suara seseorang pun menoleh. Naeun langsunng kembali berontak tanda meminta tolong. Chen yang melihat itu pun reflex menghampiri Naeun lalu membuka lakban yang berada dimulut Naeun.

 

“tolong aku, dia ingin membunuhku..” kata Naeun langsung ketika lakbannya ditarik oleh Chen.

 

“ne..?” Chen merasa bingung.

 

“Namri… dia yang membunuh Namjoo..” kata Naeun yang bingung harus berkata bagaimana lagi.

 

Chen tampak sangat terkejut. Matanya terbelalak ketika mendengar itu dari Naeun.

 

“tapi, kau siapa..?” Tanya Naeun yang tersadar bahwa ia tidak mengenal Chen.

 

“Namri membunuh Namjoo…?” Chen masih tidak percaya.

 

“siapapun kau tolonglah aku dulu..” mohon Naeun lagi.

 

Chen pun tersadar dari lamunannya dan langsung melepaskan ikatan yang ditangan dan dikaki Naeun.

 

“gumawoyo..” Naeun langsung berdiri dan hendak pergi.

 

“permisi..” panggil Chen tiba-tiba.

 

Naeun langsung memutar tubuhnya.

 

“Namri sedang berada dibawah..” kata Chen.

 

“ne..?” Naeun yang bingung dengan maksud Chen.

 

Chen langsung menarik tangan Naeun keluar dari kamar Namri. Naeun sedikit bingung dengan tingkah Chen. Chen ternyata menarik Naeun kekamar Namjoo. Chen lalu menutup kembali pintu kamar Namjoo.

 

“Namri sedang dibawah bersama appa-nya, kau tenang saja aku akan membawamu keluar dari sini..” kata Chen yang terkesan baik hati bagi Naeun.

 

Naeun tersenyum.

 

“tapi, apa maksudmu kalau Namri adalah pembunuh Namjoo..?” kata Chen yang sepertinya masih bingung dan penasaran.

 

“aku melihat pesan dari eomma-nya bahwa mereka beruda adalah dalang dari ini kematian Namjoo..” kata Naeun.

 

“mw..mwo..? dalang kematian Namjoo..” Chen sangan terkejut.

 

“ne. oh ya, sebenarnya aku tidak mengenal Namjoo itu siapa..” kata Naeun.

 

Sedangkan dimeja makan.

 

“appa, kenapa Chen oppa lama sekali..? akan kupanggil saja ya..” Namri hendak berdiri memanggil Chen.

 

“sudah biarkan saja, dia pasti sedang mengingat-ngingat kenangannya bersama Namjoo..” kata appa Namri.

 

Namri pun kembali duduk dikursinya tadi.

 

Dikamar Namjoo.

 

Chen masih mencerna dengan apa yang dikatakan Naeun.

 

“baiklah, aku akan turun dulu. Kau disini saja, disini pasti aman..” kata Chen.

 

Naeun mengangguk. Tiba-tiba Naeun memanggil Chen.

 

“permisi..” panggil Naeun yang membuat Chen berbalik.

 

“maaf kalau aku merepotkan, tapi bolehkah aku meminjam handphone-mu..? handphone-ku tadi diambil Namri..” kata Naeun sedikit ragu.

 

Chen lalu merogoh kantong celananya lalu mengeluarkan handphone-nya dan memberikannya kepada Naeun.

 

“gumawo..” kata Naeun tersenyum.

 

Chen langsung meninggalkan Naeun.

 

***

 

“mwo..? ibu tiri Namjoo..?” Kai sangat terkejut.

 

“ne..” jawab Baekhyun yang tetap focus menyetir karena jalanan yang seperti dihutan sangat gelap.

 

Baekhyun lalu memberikan handphone-nya beserta headsetnya.

 

“kau dengarkan pembicaraanya dengan namjachingu-nya tadi, aku merekamnya..” kata Baekhyun.

 

“mwo..? namjachingu..?” Kai kembali dibuat terkejut.

 

Baekhyun mengangguk pasti dan yakin. Kai langsung memasang headset-nya di telinganya lalu mendengar rekaman tersebut.

 

‘jadi apa kau sudah membunuh oppa-nya Namjoo itu..?’ kata namja itu yang diduga adalah namjachingu ibu tiri Namjoo.

 

‘belum, aku masih belum bisa menemukan stempel anak bodoh itu. Dia lumpuh lagi, dia tidak bisa berbicara. Pria tua itu tetap masih mencari mereka, dia tidak tahu saja bahwa anak gadis kesayangannya sudah mati. Dan mungkin tubuhnya sudah dimakan hewan buas’

 

‘lalu apa hubungannya dengan stempel oppa-nya..?’

 

‘pria tua pesakitan itu tidak akan mencairkan warisannya jika tidak ada stempel anak itu. Makanya selama hampir setahun ini aku mempertahankannya agar tetap hidup kalau tidak sudah kubunuh juga seperti adiknya’

 

(bunyi telepon, ibu tiri Namjoo yang mengangkatnya)

 

‘ne..?. mwo..?. yeoja yang kemarin datang lagi..? sudah kau tangkap..? bagus, aku akan segera kesana, kalau perlu aku akan membuat nasibnya sama seperti Namjoo..’

 

(ibu tiri Namjoo mematikan teleponnya)

 

‘ayo sayang, kita pergi sekarang ada masalah baru..’

 

Rekaman itu berakhir.

 

Kai tampak tidak bisa menutup matanya dan mulutnya lagi. Kai merasa sangat terkejut.

 

“kau sudah mendengarnya..?” Tanya Baekhyun.

 

Kai masih diam karena merasa tidak habis fikir dengan kelakuan ibu tirinya tersebut.

 

“bukankah dia sangat gila..? sekarang Eunji tertangkap dan aku tidak harus bagaimana..” Baekhyun terlihat sedikit takut.

 

Sedangkan Namjoo yang sedari tadi hanya diam ternyata Namjoo melihat keseliling jalanannya. Tiba-tiba Namjoo teringat sesuatu.

 

Didalam ingatannya ia melihat seorang yeoja yang Namjoo yakini adalah dirinya sedang diseret oleh beberapa orang. Dan dibelakangnya terlihat seorang namja yang diyakini Namjoo bahwa itu adalah oppa-nya juga ikut diseret oleh beberapa orang. Namjoo dan Jongsoo terlihat melawan dan memberontak orang-orang tersebut yang menyeretnya dan oppa-nya.

 

Namjoo lalu tersadar.

 

“disini..” kata Namjoo tiba-tiba setelah ia sadar dari ingatannya.

 

Kai langsung menghadap kebelakang melihat kearah Namjoo.

 

“wae..? apanya yang disini..?” Tanya Kai langsung.

 

“aku diseret oleh beberapa orang disini, aku diseret bersama oppa-ku. Aku diseret dihutan ini..” kata Namjoo dengan tatapan yang kosong.

 

“benarkah? Apa kau yakin?” Kai sedikit terkejut.

 

Namjoo menganggukkan kepalanya yakin.

 

“apakah benar..” kata Baekhyun yang mendengar juga perkataan Namjoo.

 

“ne, aku diseret beberapa orang aku berusaha memberontak..” tambah Namjoo lagi.

 

“kemungkinan juga jasad Namjoo berada disekitar sini..” kata Baekhyun.

 

Kai masih menatap Namjoo. Namjoo pun perlahan menatap kearah Kai. Mereka saling menatap, Kai menatap dengan rasa iba dan kasihan.

 

“oppa…” panggil Namjoo tiba-tiba.

 

Kai mulai bingung.

 

“kau adalah oppa-ku…” kata Namjoo. Mata Namjoo pun mulai basah karena air yang menumpuk di pelupuk matanya.

 

Kai masih diam karena tidak mengerti.

 

“apa yang kau katakan..?’ Tanya Baekhyun yang juga bingung.

 

“kau adalah orang terakhir yang ingin aku temui bersama Jongsoo oppa. Kau oppa yang ingin aku temui…” kata Namjoo yang mulai menitikkan air matanya.

 

Kai masih diam karena bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan.

 

“mwo..? oppa..? apa maksudmu..?” Tanya Baekhyun.

 

“yang bisa melihat hantunya adalah orang yang ingin terakhir kali ia temui. Dan terakhir kali aku pergi dan ingin bertemu dengan oppa-ku yang dari simpanan appa-ku yang lain..” jelas Namjoo.

 

Kai tampak sangat terkejut dan tidak percaya.

 

“m..mw..mwo..? anak dari simpanan appa-mu..?” Baekhyun yang sama seperti Kai, terkejut dan tidak percaya.

 

Baekhyun lalu tampak berfikir.

 

“Kim Namjoo, Kim Namri, Kim Jongsoo…Kim Jongin…?” Baekhyun melihat kearah Kai dengan tatapan terkejut hingga mata Baekhyun seperti ingin keluar,  setelah mengurutkan nama-nama anak dari ayah Namjoo.

 

Kai lalu memikirkan dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Baekhyun.

 

“hei, kau benar-benar oppa-nya.. bukankah ibumu adalah simpanan dari seseorang dan itu adalah ayah Namjoo. Incheon… kau dulu tinggal di Incheon. Namjoo benar-benar adikmu..” jelas Baekhyun setelah mengingat semuanya.

 

Kai lalu menitikkan air matanya yang sedari tadi ia tahan. Kai menatap Namjoo yang sedari tadi sudah menangis menatap Kai seperti tatapan kerinduan.

 

“oppa…” panggil Namjoo pelan sambil tetap menatap Kai.

 

Kai menatap Namjoo dengan air mata yang membasahi pipinya. Kai lalu ingin memegang pipi Namjoo tapi tidak bisa. Tangan Kai menembus pipi Namjoo yang membuat tangisan Kai semakin menjadi.

 

Baekhyun sesekali melihat kearah Kai. Baekhyun pun ikut merasa dengan apa yang Kai rasakan sekarang. Keluarga, keluarga selain ibu yang ingin Kai lihat akhirnya ia bisa melihatnya. Adiknya, ia sekarang hanya bisa melihat adiknya dalam keadaan sudah menjadi arwah bahkan ia tidak bisa memegangnya. Kakak, kakak laki-lakinya sekarang sedang tidak sadarkan diri dirumah sakit dengan tubuh yang lumpuh total. Kai merasa hidupnya begitu menyakitkan.

 

“Kai-ya..” panggil Baekhyun tiba-tiba.

 

Kai lalu berusaha menghentikan tangisnya sambil menghapus air matanya.

 

“lihat itu..” kata Baekhyun sambil menunjuk kearah luar dan sudah menghentikan mobilnya.

 

Baekhyun menunjuk sebuah rumah yang terbuat dari kayu yang lebih terlihat seperti gubuk.

 

“mobil ibu tiri Namjoo berada disitu juga..” kata Baekhyun setelah melihat mobil tersebut.

 

Namjoo melihat gubuk tersebut dan Namjoo kembali mengingat sesuatu.

 

Didalam ingatannya ia melihat, Namjoo dilempar oleh orang-orang tersebut ketembok. Jongsoo hendak menolong Namjoo tapi ia tetap ditahan. Karena Jongsoo melawan, Jongsoo pun dipukul dengan kayu yang besar dikepalanya hingga membuat Jonggsoo tak sadarkan diri.

 

“opppaaa..” teriak Namjoo histeris ketika meliaht Jongsoo sudah tak berdaya.

 

Jongsoo terus dipukuli diseluruh tubuhnya menggunakan sebuah kayau dan ada juga yang menggunakan sevuah besi yang panjangnya tidak lebih dari 50 cm itu.

 

Namjoo ingin menghampiri Jongsoo dengan merangkak karena ia sudah tidak memiliki kekuatan. Tapi, kaki namjoo malah ditarik seseorang lalu orang itu memukul Namjoo. Namjoo tetap berusaha melawan dan tatapannya selalu melihat kearah Jongsoo.

 

Tiba-tiba masuklah seoarang yeoja yang Namjoo kenal. Ibu tirinya, ibu tirinya tersenyum licik melihat namjoo yang sudah tidak berdaya.

 

“hei, siapa yang suruh memukul anak ini..” bentak ibu tiri Namjoo melihat kearah Jongsoo yang sudah tidak sadarkan diri.

 

Terlihat bebarapa namja yang berada disitu saling menyalahkan satu sama lain.

 

“aish, sudah kubilang jangan sentuh anak ini… sudah cepat bawa dia kerumah sakit” suruh ibu tiri namjoo.

 

Dua orang namja langsung membawa Jongsoo yang sudah penuh dengan darah dan luka disekujur tubuhnya.

 

“op…pa…” panggil pelan Namjoo ketika melihat Jongsoo dibawa keluar.

 

 

Namjoo lalu melihat kearah ibu tirinya. Tatapan Namjoo terlihat ingin meminta tolong dan minta diselamatkan.

 

“lalu bagaimana dengan dia..?” kata seseorang yang menunjuk Namjoo dilantai yang sudah tak berdaya dan juga dipenuhi darah dan luka.

 

Ibu tiri namjoo lalu melihat kerah Namjoo dengan tersenyum licik.

 

“bunuh saja..” kata ibu tiri Namjoo lalu berbalik meninggalkan Namjoo.

 

“eomma..” panggil Namjoo yang berusaha mendekat kearah ibu tirinya tapi kaki Namjoo kembali ditarik oleh orang itu.

 

Namjoo kembali dipukuli oleh beberapa orang tersebut.

 

“aahhh..” teriak Namjoo mengingat itu semua.

 

Kai dan Baekhyun lalu melihat kearah kursi belakang karena terkejut.

 

“wae..?” Tanya Kai langsung dengan nada yang khawatir.

 

Namjoo merasa sangat takut. Nafas namjoo tersengal-sengal seperti habis berlari.

 

“ada apa dengannya..? kenapa suaranya begitu..?” Tanya Baekhyun karena ia tidak bisa melihat kondisi Namjoo.

 

“Namjoo-ya, apa yang terjadi..?” Tanya Kai lagi.

 

Namjoo lalu berusaha menatap kearah Kai dengan nafas yang masih tersengal.

 

“aku dibawa kesini, aku bersama oppa-ku dibawa kesini..” jawab Namjoo.

 

“di gubuk itu..?” Kai mencoba memastikan.

 

“ne, aku dibunuh disitu..” jawab Namjoo lagi.

 

–TBC–

Iklan

13 pemikiran pada “You Can See Me, Right..? (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s