Cynicalace (Chapter 11)

CYC 3ilhae

Title : Cynicalace

Author : NadyKJI & Hyuuga Ace

Length : Chaptered

Genre : Romance, Comedy, Friendship

Rate : G

Main Cast :

Jung Re In (OC)

Geum Il Hae (OC)

Park Chanyeol (EXO)

Kim Jong In (EXO)

Disclaimer: Annyeong, ff ini adalah murni hasil pemikiran author yang kelewat sangat tinggi,  dilarang meniru dengan cara apapun, don’t plagiator. Gomawo #deepbow.

Summary :

Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak ingin berurusan lagi denganmu. Tapi mengapa kau selalu hadir di sekitarku layaknya modul akuntansi yang selalu kubawa setiap hari. Wajahmu mengangguku tapi aku mulai merindukannya ketika wajah itu menghilang dari keseharianku. Oh, menyebalkan.

–Jung Rein–

Aku tidak sudi, aku tidak sudi, aku tidak sudi! Dia menyebalkan, cuek, dan dingin. Tapi… terkadang dia baik juga walau dengan muka datar, terlihat tulus, dilihat-lihat juga ia lumayan.. bukan, tampan… Argh! Aku menyerah, sepertinya karma itu berlaku.

–Geum Ilhae–

Sama seperti panggilannya, yeoja itu memang kelewat bodoh. Sialnya, karena terbiasa menjadi dampak dari perilakunya, aku menjadi terbiasa untuk selalu hadir di sisinya. Namun entah mengapa aku merasakan keberadaanya bagaikan pelangi dalam keseharianku yang hanya dihiasi dua warna – hitam dan putih.

–Kim Jong In–

Melihat wajah seriusnya, merasakan kesinisannya padaku. Itulah makanan keseharianku karena ulahku sendiri. Well, kau memang bodoh dan gila jika bersangkutan dengan yeoja itu. Kau terlalu gila Park Chanyeol.. tapi, aku tidak keberatan gila untuknya. It’s a pleasure.

–Park Chanyeol–

Author’s Note:

Hehehe, HALOOOOO! Akhirnya Cynicalace Chapter 11 di post.. YEAYYYY~ makasih yang masih ngikutin kelanjutan cerita ini.. Hehehe..

Oh ya, bagi para Kaihae shipper, mungkin di chapter ini momment mereka ga full mendominasi tp sesuai janji NadyKJI kalo momentnya kaihae itu akan banyak secara bertahap, hihihihi.. biarlah di chapter ini bnyk membahas ttg nasib sial yang menimpa tokoh utama kita yang mengalami ‘sesuatu’. Kkkk~

Oke, seperti biasa buat mnyemangati kami dlm menulis kelanjutan Cyc, komen kalian sangat kami perlukann.. jangan lupa komen yahhhh ^^

HAPPY READINGGGGGG~!

___

 

-:Author’s PoV:-

Rein masih berbicara dengan Sehun tentang rencana Trip Club Panahan ketika seseorang memanggil namanya. Lantas ia menoleh dan menemukan Chanyeol dan Ilhae sedang berjalan ke arahnya dan Sehun.

“Eoh? Apa yang kalian lakukan disini?” Rein hanya bertanya dengan nada polos ke arah mereka berdua.

Rein melirikan matanya ke arah Chanyeol dan menemukan adanya aura hitam yang mengelilingi namja itu. “Pertama-tama, bisakah kalian melepaskan tautan tangan kalian?” Namja yang lebih tinggi dari Sehun itu menggeram. 

Rein menoleh pada tangannya yang ternyata masih digenggam oleh Sehun. Astaga ia bahkan tidak sadar akan hal itu, lantas ia melepaskan tangannya dan Sehun membiarkannya begitu saja.

“Apakah kalian baru pulang berkencan?” Sekali lagi suara Park Chanyeol terdengar, dan kedengarannya suaranya sama sekali jauh dari kata bersahabat.

Sehun disisi lain hanya bisa memutar bola matanya, dia benar-benar tidak menyukai namja bernama Chanyeol ini. Karena dia selalu saja bersikap seolah-olah Rein adalah miliknya.

“Itu bukan urusanmu.” Rein juga Ilhae yang masih dalam mode silent, terkejut ketika mendengar Sehun yang menjawab pertanyaan Chanyeol.

Oho! Aura di antara kedua namja ini sudah benar-benar buruk, sementara Rein masih kebingungan dan sedikit tidak connect akan inti permasalahan mengapa Chanyeol dan Sehun terlihat siap adu jotos. Terkadang, ada saat-saat tertentu di mana Rein cukup polos – terkesan bodoh, akan hal seperti ini.

Dalam keadaan seperti ini, hanya Ilhae lah yang bisa menyelamatkan suasana.

“Rein-ah, sepertinya kau sudah telat. Kau masuk duluan saja.” Suara cempreng Ilhae mendinginkan suasana.

“Eoh? Arasseo. Sehun-ah, aku masuk dulu. Terima kasih sudah menemaniku hari ini.” Rasanya Ilhae benar-benar ingin menendang bokong temannya karena penuturannya terkesan ‘tidak tahu diri’. Sehun tersenyum ketika Rein mengatakan hal itu padanya.

“Dan kau! Aku tidak tahu kau datang kesini untuk apa, tapi jangan teror aku terus dengan pesan-pesanmu, Park Chanyeol.”

Chanyeol hanya bisa mangap dalam beberapa detik, sampai Rein menghilang di antara mereka.

“Ckkk.. Ternyata dia memang sengaja mematikan ponselnya agar aku tidak bisa menghubunginya.” Chanyeol berbicara untuk dirinya sendiri tapi Sehun mendengarnya.

“Aku yang mematikan ponselnya.” Ujarnya dingin. “Aku tidak ingin perhatian Rein tersita pada hal lain ketika bersamaku.”

Lalu Sehun berbalik dan meninggalkan Chanyeol yang hanya bisa menganga mendengar penuturan singkat namun sangat memiliki arti barusan.

Sementara Ilhae, dia hanya bisa menepuk jidatnya sambil bergumam. “Gawat.”

Sepertinya dugaannya selama ini benar, Sehun sepertinya menyukai Jung Rein. Jika terdapat dua namja yang sama-sama menyukai satu yeoja, bukankah itu gawat? Apalagi mengingat yeoja itu terkesan masih ‘abu-abu’ terhadapat perasaannya sendiri.

Ilhae menggerakan bola matanya, ketika melihat sosok jangkung Chanyeol mulai bergerak. Awalnya dia pikir namja itu akan kembali mengejar Rein sampai ke dalam Paulo’s untuk menanyakan yah well apapun yang menganggu benaknya. Tapi dugaannya salah, Chanyeol hanya melangkah lebar-lebar menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berada.

Chanyeol sepertinya cukup marah kali ini atau dalam presepsi Ilhae, namja itu sedang dibakar kecemburuan karena kedekatan Rein dan Oh Sehun.

*-*-*

Rein berjalan santai ke arah Ilhae yang sedang sangat serius dengan berbagai kertas, kalkulator, dan alat tulisnya yang kini sudah berserakan di salah satu meja di Paulo’s. Di tangannya kini terdapat nampan bundar dengan orange juice di atasnya.

TAK

Rein menyimpan orange juice tersebut di meja ketika ia sudah berada di hadapan Ilhae yang otomatis mendongak dan ketika matanya melihat wajah Rein yang kelihatan cerah sekali hari ini ia hanya bisa mendengus.

“Ya. Wae geurrae?!” Yeoja bermarga Jung itu tidak terima akan dengusan Ilhae yang diarahkan padanya. Wajahnya memberengut dan segera memposisikan dirinya di bangku kosong di hadapan Ilhae. Lagipula Paulo’s tidak begitu ramai sore ini sehingga ia bisa sedikit bersantai.

“Sekali lagi aku bertanya, ada apa denganmu?” Rein merasa kesal ketika Ilhae mengacuhkannya.

Sementara yeoja bernama Geum Ilhae itu benar-benar mengacuhkan sahabatnya dan menyibukan diri dengan tumpukan kertas-kertasnya.

“Ilhae-ya…” Rein masih mencoba menarik perhatian Ilhae kepadanya.

“Oi! Hae-Hae Babo.” Dan berhasil pada usaha keempatnya ketika dirinya menyebut Ilhae dengan panggilan aneh yang biasanya hanya diucapkan Kai.

“Apa maumu?!”

Rein menghela napasnya. “Ada apa denganmu?”

“Aku kesal padamu.”

Rein menelan salivanya ketika Ilhae sangat berterus terang dan to the point padanya; mengatakan bahwa ia kesal dengan dirinya. Yeoja itu baru saja ingin mengatakan sesuatu, tapi terlambat karena Ilhae sudah terlebih dahulu ‘menyemburnya’.

“Ya! Ke mana saja kau seharian? Kenapa ponselmu tidak aktif? Apakah kau tidak tahu aku sudah berusaha menghubungimu beberapa kali tapi tidak mendapatkan jawaban apapun? Satu perkara, aku khawatir. Bagaimana kalau kau diculik dan sebagainya? Dan sebenarnya apa yang kau lakukan dengan Sehun hari ini? Kalian berkencan?” Rentetan kalimat Ilhae berhasil membuat mata Rein membulat – apalagi pertanyaan terakhirnya.

“Ani! Aku tidak berkencan!” Jawabnya cepat – terlalu cepat, sehingga kecurigaan Ilhae pada sahabatnya ini makin tinggi.

“Kau -“

“Dan soal ponsel!” Rein buru-buru memotong ucapan Ilhae sebelum yeoja itu memberondongnya lagi. “Kau tadi dengar sendiri kan? Sehun yang mematikannya. Dia bilang bahwa aku tidak boleh memperhatikan hal lain ketika bersamanya.. Jadi…”

Ilhae memutar bola matanya, sedikit kesal namun agak geli juga mendengar bahwa makhluk seperti Oh Sehun bisa memiliki sifat posesif seperti itu. “Positif, Rein-ah. Namja bernama Oh Sehun itu menyukaimu.”

Rein terperanjat, apa kata Ilhae tadi?

Sehun menyukainya? Maldo andwae.

“Kau bercanda. Dia teman dekatku, Hae-ya.” Walau di bibirnya Rein mengatakan hal ini dengan nada santai, tapi percayalah. Rein jadi benar-benar memikirkannya, walau tetap saja hal itu kelihatan sangat tidak mungkin – baginya – tapi ia bahkan menerawang untuk memikirkan bahwa Sehun menyukainya.

“Bercanda.”

“Tidak mungkin.”

Dua gumaman ini lolos dari bibirnya tanpa ia sadari. Ilhae yang masih terlihat kesal namun tidak sekesal sebelumnya, menghela napas melihat Rein di hadapannya.

Tiba-tiba ponselnya yang ia letakan di atas salah satu kertas-kertasnya bergetar, dan layarnya yang semula hitam berubah warna.

Segelintir angka menghiasi layarnya.

“Ckk.. Nomor asing lagi. Annoying sekali. Apa aku angkat saja?!”

“Waeyo? Kau memiliki penguntit?” Rein memanjangkan lehernya agar dapat melihat layar ponsel sahabatnya lebih jelas.

Kemudian Ilhae dengan sigap menolak panggilang tersebut dan menaruhnya kembali di meja. Namun, usahanya tersebut sia-sia dan ponselnya kembali berdering.

Rein terperanjat sedikit karena sahabatnya itu meraih ponselnya dengan kasar dan mengucapkan ‘halo’ dengan sekali sentak.

“Ah.. Taecyeon? Mian, kau tidak bilang ini nomormu.”

Taecyeon? Rein mengernyitkan dahinya bingung.

“Mian, geurae, annyeong.” Lalu Ilhae mengakhiri panggilan dan menghembuskan nafas berat.

“Mwoya? Itu balasan telepon paling aneh yang pernah kudengar. Sudahlah, aku akan kembali bekerja. Neo!” Rein menunjuk tepat di depan hidung Ilhae membuat yeoja itu sedikit bergerak mundur. “Jangan marah lagi padaku.. dan gomawo karena sudah menghawatirkanku.” Walaupun bagaimana, Rein tetap menyisipkan senyum simpulnya di ujung kalimatnya.

“Arasseo… Orange juicenya gratis kan? Sebagai tanda permintaan maafmu?”

“Kutraktir.” Lalu Rein berlalu dari pandangan Ilhae karena yeoja pecinta warna putih itu sudah masuk ke dalam sebuah ruangan dengan tulisan ‘staff only’.

Sementara Ilhae kembali melakukan tugasnya – mengerjakan soal-soal calculus. Rein disibukan kembali dengan tugasnya sebagai pekerja di Paulo’s. Walau jujur saja, benaknya sedikit terganggu karena ucapan asal-asalan sahabatnya.

Sehun tidak benar-benar menyukaiku, kan?

*-*-*

“Ahaha, lucu sekali kau Rein bisa-bisanya kau menyenggol tasmu sehingga hampir masuk bak cuci piring. Hati-hatilah chingu…” Ilhae menepuk-nepuk bahu Rein dengan tidak berprikemanusiaan. Rein yang kala itu memang menanggung malu – bisa-bisanya ketika ia sedang mengobrol dengan Baekhee sambil membantu yeoja itu membereskan piring ia hampir menjatuhkan tasnya – kejadian naas itu tentu terlihat oleh Ilhae yang sedang memelototinya tidak sabar ingin pulang.

“Lupakan!” Rein menutup pintu mobil dan menyuruh Ilhae segera menjalankan mobilnya.

Ilhae, masih dengan sedikit kesintingan karena tidak puas-puasnya menertawakan Rein memutar kunci mobilnya dan membiarkan derungan halus dihasilkan mobil yang telah menjadi kakinya selama ia tinggal di Seoul.

Ilhae tengah melihat lurus-lurus ke arah jalanan gelap yang sepi. Ketika yeoja itu hendak berbelok di sebuah perempatan tiba-tiba sebuah motor tidak diundang melesat didepannya bagaikan tuyul dan memaksa Ilhae untuk membanting setirnya ke samping.

“Sial!” Umpat Ilhae dan Rein yang tengah mengutak-atik ponselnya itu sampai terpaksa merelakan benda kesayangannya itu terlempar ke dasbor karena terkejut.

BUK!

Ilhae menutup matanya dan sial – ia baru saja menabrak bilik telepon umum – seluruh tubuhnya mati lemas dan ia tidak bisa merasakan anggota tubuhnya – ia berasa lumpuh, kepalanya berkunang-kunang.

Rein di sisi lain hanya bisa membelalakan matanya. Hal pertama yang membuatnya begitu terkejut adalah kejadian ini begitu cepat sehingga ia baru bisa menyadari rasa sakit yang berasal dari kepalanya yang terbentur dasbor beberapa detik kemudian.

Dan hal kedua adalah perihal munculnya asap yang mulai membumbung tinggi dari arah kap mobil Ilhae. Apakah kalian ingat bahwa Rein adalah manusia yang sangat mudah panik?

Ya. Sekarang imajinasi liar yeoja itu tengah membawanya ke berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.

Mengabaikan rasa pening di kepalanya dan kemungkinan memar pada keningnya. Rein sekuat tenaga meraih lengan Ilhae yang kelihatan masih blank atas kejadian naas ini.

“YA! Keluar dari mobil!! Bagaimana jika mobil ini meledak?! Kita bisa mati!”

Ilhae yang kala itu masih sangat tidak fokus hanya menatap kosong ke arah Rein – sahabatnya. Barulah, ketika Rein menampar pelan pipinya, Ilhae seakan kembali ke dunia nyata. Dan ocehan pertama yang keluar dari mulutnya adalah…

“Kepalaku sakit sekali! Rasanya ingin pingsaaaaaaan!”

“Mana ada orang mau pingsan bilang-bilang dulu bodoh! Keluar sekarang, atau kita mati disini!”

Dengan itu Rein dan Ilhae keluar dari mobil yang naas itu.

Sulit untuk berjalan dengan benar mengingat benturan pada kepala mereka membuat mata mereka berkunang-kunang dan berat.

Ilhae terduduk tidak begitu jauh dari mobil kesayangannya dan menatap miris ke arah bagian depan mobil yang sudah bonyok dan keluar asap.

Sementara Rein mengambil jarak yang cukup jauh dari mobil untuk menghubungi 911 masih dengan keadaan super panik.

“Yobseo. Ah – sial kepalaku pusing!”

“Agassi?”

“Pak, saya baru saja mengalami kecelakaan. Sepertinya sebentar lagi mobilnya akan meledak, saya melihat adanya asap di bagian kap mobil yang terbuka karena benturan.”

“NE?”

*-*-*

“Agassi, di mana sakitnya?” Seorang suster  mendekati Ilhae yang tengah duduk di pinggir ranjang UGD dengan Rein yang tengah mendapatkan perawatan di dahinya yang memar dan berdarah di ranjang sebelah. Mereka sudah berpindah dari lokasi kejadian bersama dengan mobil Ilhae yang di derek dengan mengenaskan.

“Eung… aku sebenarnya terlalu syok, aku hanya menyadari kepalaku yang berputar terus menerus. Untunglah sekarang aku sudah bisa fokus melihat sesuatu.” Ilhae menjelaskan keadaannya pada suster tanpa menyembunyikan apapun yang akan menghambat proses pemeriksaan.

“Baiklah, aku ambil dulu hasil sinar x-raynya.”

Kemudian suster yang menangani Ilhae pergi.

“YAK! Kenapa kau malah mengkhawatirkan mobilnya akan meledak?!” Ilhae memelototi Rein yang baru saja selesai dibubuhkan antiseptik.

“Ya memang kenapa?”

“Anak ini! Kekhawatiranmu yang tidak mendasar itu juga berhasil membuatku panik tadi!” Ilhae menatap sahabatnya itu.

Rein memberengut. “Kalau mobilnya meledak dan kita ada di dekatnya – lebih tepatnya masih di dalam mobilnya – kita juga yang akan terluka bahkan tewas, kepanikanku tidak salah.”

Ilhae ingin membalas ucapan Rein dan menghadirkan adu debat paling tidak mutu abad ini tapi seorang wanita berumur 30an mendekati mereka tersenyum.

“Bagaimana keadaan kalian? Perkenalkan namaku detektif Jung dari Kepolisian Gangnam yang berada di dekat TKP kejadian kecelakaan.”

Rein meringis ketika mendengar kata TKP dan kecelakaan, seakan-akan insiden naas adalah sesuatu yang sangat besar. Padahal itu semua hanyalah Ilhae yang tidak safety drive pada hari ini. Whoa, kalau saja Ilhae mengetahui apa yang dipikirkan sahabatnya. Rein sudah pasti akan kena semburan omelan.

Sementara itu, Ilhae menganggukkan kepalanya sesedikit mungkin dan menunggu apa yang akan dibicarakan oleh detektif tersebut.

“Sebelumnya ini ponselmu yang tertinggal di mobil,  aku sudah menelepon adikmu dan menginformasikan namjachingumu.”

Hah?! Baik Ilhae maupun Rein yang sedang terduduk tegang di kasurnya masing-masing menganga. Sejak kapan si anak tunggal Geum Ilhae memiliki adik? Bahkan namjachingu? Rein tidak habis pikir bagaimana detektif Jung bisa mengatakan bahwa seorang Ilhae yang terlalu melenceng itu memikirkan perihal menjalin hubungan romantis.

“Tunggu… sepertinya ada kesalahan… saya…”

“ILHAE EONNI!” Tidak perlu menoleh, beberapa detik kemudian berlatar suara derapan beberapa kaki berlari Kyungah muncul dengan wajah memerah habis menangis.

“Ah, kau pasti adiknya Ilhae?”

“Eng – kurang lebih.” Kyungah langsung menjawab menggantikan Ilhae yang pasti akan mengatakan hal yang akan memperpanjang cerita.

“Baiklah, sepertinya aku tinggal dulu. Mungkin besok kita bisa bertemu, untuk menceritakan kronologis kecelakaan.” Detektif Jung yang ternyata peka itu bermaksud memberikan privasi.

Setelah detektif Jung pamit Kyungah beringsut mengambil tempat detektif Jung, matanya menatap khawatir. “Eonnideul tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa.” Ilhae menjawab.

“Hanya luka ringan.” Rein menyahut.

“Jadi bagaimana kau bisa mengetahu insiden ini?” Ilhae bertanya mengabaikan Rein.

“Eonni terakhir kali aku menelepon Eonni tadi sore bukan? Nomorku berada dalam daftar teratas riwayat bertelepon Eonni dan detektif itu meneleponku dan menanyakan kalau aku ini memiliki hubungan apa denganmu – aku jawab saja aku adiknya – dan ia memberitahuku bahwa Eonni baru saja mengalami kecelakaan. Aku langsung berteriak dan memberitahu Oppa.” Kyungah melirik ke arah Kyungsoo dan Kai.

“Ramai sekali.” Suster yang menangani Ilhae kembali dengan papan di tangannya dan seorang dokter bersamanya.

“Permisi tetapi gadis ini harus kuperiksa dulu.” Dokter tersebut meminta izin Kyungah untuk mengambil tempatnya dan mendekati Ilhae. Dokter tersebut menyalakan sebuah papan dan menyelipkan lembar hasil sinar x-ray Ilhae.

“Tidak ada cedera serius.”

“Benarkah?” Ilhae bergerak dengan lebih bertenaga tetapi pergerakannya berhenti seketika digantikan dengan ringisan kesakitan. Dokter dengan rambut yang disanggul rapih itu mendekati Ilhae dan menyentuh bahu kanan Ilhae yang refleks yeoja itu pegang ketika kesakitan.

“Di sini?” Ilhae hanya mengangguk dan dokter menarik tirai yang tidak terpakai tadi. Dokter yang satu ras – perempuan – menyuruh Ilhae membuka kaos yang dikenakannya. Tangan ahli tersebut menelusuri bekas memar berbentuk garis diagonal.

“Sepertinya karena seatbelt.” Dokter mengangkat tangan Ilhae dan menekan beberapa tempat disekitar memar tersebut. Setelah membuat Ilhae meringis kesakitan beberapa kali akhirnya Ilhae dipersilahkan mengenakan kausnya lagi, tirai dibuka dan satu sosok lagi bertambah. Mata Ilhae membelalak – Ok Taecyeon.

“Ilhae! Kau tidak apa-apa? Aku meneleponmu tapi yang mengangkat adalah seorang wanita dan dia..”

“Aku baik-baik saja.” Ilhae mengangkat tangan kirinya tangan kirinya untuk mencegah Taecyeon memeluknya atau apapun karena namja panik itu sudah menggeser dokter yang hanya bisa tersenyum tipis.

“Sebenarnya aku harus memastikan apakah ada tulang yang retak karena seatbelt. Jadi sepertinya kau dan juga temanmu harus tinggal di rumah sakit…”

“Jangan! Aku tidak mau menginap! Aku memiliki mata kuliah yang harus dihadiri besok!” Berbeda dengan Rein yang berniat menunggu perkataan dokter selesai, Ilhae langsung meloncat dari ranjang rumah sakit. Seketika karena gerakan tiba-tiba ditambah dengan beberapa cedera, Ilhae terhuyung dan kalau saja tidak ada Taecyeon, Ilhae bisa saja memperparah diri dengan mencium sahabat sejatinya – lantai. Kepala Ilhae berputar dan bahunya nyeri membuat nafasnya agak tersentak dan kelompok kecil tersebut tidak ada kecuali terkesiap kaget.

Ilhae terkejut terlebih lagi Taecyeon, untung saja refleks namja itu bagus dan dia berhasil menangkap Ilhae.

“Kau yakin kau baik-baik saja?”

Secepat mungkin Ilhae melepaskan diri dari pelukan Taecyeon. “Iya. Hanya terlalu tiba-tiba.”

“Ehem… kalian harus tinggal di rumah sakit untuk menunggu hasil sinar x-ray, dan jika tidak ada yang serius kalian bisa pulang. Untuk kalian berdua, akan kuberikan resep obat penahan sakit kalau-kalau sakit akibat benturan tersebut tidak tertahankan. Kusarankan jika rasa sakitnya masih bisa ditoleransi jangan minum obatnya. Kalian bisa melakukan kegiatan normal walaupun sebetulnya kalian kusarankan untuk tinggal di rumah minimal 2 hari.”  Dokter berucap amat sangat terkontrol walaupun ia juga baru saja terkejut.

Ilhae dan Rein langsung bertatapan dengan arti yang sama ‘aku tidak sudi tinggal di apartemen selama dua hari tanpa mengerjakan sesuatu yang berarti’.

Setelah setengah jam lagi menunggu hasil pemeriksaan dan beberapa debatan tidak ingin tinggal di rumah sakit bagi Ilhae karena tulangnya retak sedikit akhirnya dokter mengalah juga.

“Baiklah, tapi kau harus memakai penahan juga…”

Ilhae menatap penuh ketaatan. “… Kau tidak boleh pulang sendiri. Lebih tepatnya kalian.”

“Aku akan mengantar Ilhae dan Rein.” Taecyeon mengajukan diri.

“Kau mengenalku?” Rein memasang wajah datarnya sambil melirik Taecyeon dengan tatapan menusuk.

Taecyeon sedikit salah tingkah melihat kejudesan Rein yang sangat kentara itu. Tapi mengabaikan hal itu, ia menjawab pertanyaan Rein dengan nada dibuat seceria mungkin. “Dangyeonhaji! Kau teman baik Ilhae, bukan?”

“Maja. Tapi kau bukan teman Ilhae, kan?”

Taecyeon membelalakan matanya ketika ia mendapat balasan yang sangat dingin dan ketus seperti itu.

“Ya, Rein-ah.” Ilhae memahami temannya yang bernama Jung Rein itu. Apalagi ketika ia mulai tidak menyukai seseorang. Seorang Jung Rein bisa saja tidak menyukai seseorang dari kesan pertamanya dengan orang itu. Sampai sekarang Ilhae tidak mengerti mengapa sahabatnya bisa seperti itu. Dan sepertinya Taecyeon masuk ke dalam salah satu daftarnya.

“Aku mau menginap disini saja.”

“Mwo?”

“Aku berubah pikiran, sedang ingin mencari suasana lain. Kau pulang saja.”

Satu hal lainnya yang benar- benar tidak dimengerti oleh Ilhae. Terkadang sahabtnya yang sebenarnya adalah makhluk yang cukup pintar bisa berubah menjadi makhluk yang sangat idiot. Dia bilang apa tadi? Mencari suasana baru? DI RUMAH SAKIT?! Jangnan anieyo!

Belum sempat Ilhae mengomentari keanehan Rein, suster kembali menutup tirai begitu dokter mengangguk pada Taecyeon. Suster tersebut membawa benda putih seperti rompi tanpa lengan dan menyilang x, ia memasangkannya di atas kaus lengan panjang Ilhae dan setelah itu menginjikan Ilhae untuk memakai jaketnya. Ilhae keluar dari ruang isolasinya dan menempatkan diri di samping Rein yang masih belum beranjak sedikitpun dari ranjangnya.

“Kau serius ingin tinggal disini?” Sekali lagi Ilhae mengonfirmasi keinginan Rein.

“Hmmm.. Kurang lebih begitu. Kau tidak akan kesepian di apartemen, kan?” Raut wajah Rein melunak. “Kau benar- benar tidak apa-apa, Hae-ya?”

“Kalau kau ingin tinggal disini, tidak apa. Nan gwaenchana.”

Belum Rein mengutarakan rasa khawatirnya lebih lanjut Kai yang berada tidak jauh dari Rein menyapa yeoja itu.

“Kau sendiri bagaimana? Sedari tadi dokter dan suster lebih fokus pada keadaan Ilhae. Kau hanya diberikan antiseptik pada luka di jidatmu, Rein.”

Rein tersenyum kecil. “Aku tidak apa-apa, kau tenang saja.”

“Kau benar- benar tidak apa, Rein-ah? Wajahmu cukup pucat.” Untuk pertama kalinya Kyungsoo bersuara. Wajahnya khawatir melihat keadaan Rein.

“Ne, eonni. Kyungsoo oppa benar.”

“Kulitku warnanya memang pucat. Kalian tidak perlu khawatir aku baik-baik saja.”

Perlu waktu untuk meyakinkan Kyungsoo, Kyungah, Kai dan Ilhae bahwa dirinya tidak apa-apa. Sementara Taecyeon hanya bisa memandang datar Rein.

Ilhae yang sudah merasa tidak nyaman berdiri terus akhirnya lega karena ia sudah bisa pulang.

“Baiklah aku akan pulang sekarang. Jika ada sesuatu, hubungi aku segera, Rein-ah.”

 Jujur saja walaupun ia bilang baik-baik saja agar diijinkan pulang, tubuhnya kaku dan nyeri di setiap sendi, otot, dan tulang.

“Kau baik-baik saja?”

Tidak pernah mengharapkan satu kata pun dari pemilik suara tersebut. “Iya lebih baik daripada tadi.” Ilhae menjawab Kai kaku.

“Ilhae kkaja!” Dengan sangat gentleman sekali Taecyeon meraih tangan Ilhae dan tas yeoja itu. Ilhae berusaha melepaskan diri tetapi genggaman tangan Taecyeon semakin erat dan menyeret yeoja tanpa tenaga lebih itu.

Sedangkan Kai merasa sebal karena namja bernama Taecyeon itu, kacamata yang ia gunakan untuk memandang Taecyeon masih belum berubah. Namja itu terlalu pemaksa! Dan kelihatannya Ilhae tidak merasa nyaman berada di dekatnya. Tapi yeoja itu tidak bisa menolak si Taecyeon ini.

Kai merasakan tepukan di bahunya. “Kau tahu? Geum Ilhae adalah yeoja yang sangat tidak peka dalam beberapa kasus.”

Kai menoleh dan melihat Kyungsoo. “Maksudmu?”

Kyungsoo berdecak kesal. “Ternyata kalian itu satu spesies.”

Meninggalkan Kai yang terbengong-bengong Kyungsoo mengajak adikknya – yang tengah bertanya penasaran pada suster tentang pekerjaan di rumah sakit – untuk bergegas. Orang lain mungkin tidak mengetahuinya tapi ia bisa melihat Kai yang terlalu diam dan kaku.

Ketika semua orang telah meninggalkan Rein di UGD sendirian, yeoja itu menjerit tertahan.

Rasa sakit yang ia tahan sedari tadi, tidak bisa lebih lama ia tahan lagi. Setelah loncat keluar dari mobil Ilhae karena pemikiran mobil akan meledak. Rein merasa nyeri luar biasa pada lututnya. Seakan-akan lututnya tidak bisa ditekuk lagi. Karena itulah ia menolak untuk pulang ke apartemen karena ia tidak yakin ia bisa berjalan dengan benar. Sehingga dia membuat alibi ingin menginap di rumah sakit dengan alasan mencari suasana baru.

Sepertinya karena kecelakaan ringan tadi, lututnya membentur keras ke arah sisi mobil. Tapi ia tidak ingin membuat Ilhae dan yang lainnya khawatir padanya. Sehingga ia menyembunyikannya. Bahkan ketika suster menanyakan padanya bagian mana yang sakit, dia tidak menjawab daerah lututnya.

Tapi berhubung Ilhae sudah pulang, dia harus cepat-cepat diperiksa oleh dokter.

Rein menggerakan sedikit tubuhnya, untuk menggapai ke arah suster-suster yang sedari tadi berseliweran di luar kaca ruangannya dan Rein tadi. Tapi ketika hal itu terjadi, gerakan kecil pada kakinya membuatnya menjerit kesakitan.

“AHHHHHHH!!!!”

“REI!!!!” Rein menutup matanya, air mata mulai menggenang karena rasa sakitnya. Dia mendengar seseorang memanggilnya dan melangkah ke arahnya. Tapi dalam keadaan seperti ini, dia benar-benar mengabaikan orang itu yang ia yakin adalah Oh Sehun.

“Suster! Dokter!!!” Sehun memanggil suster dan dokter yang langsung berhambur ke arah Rein.

“Ada apa agassi?”

“Kaki. Kakiku sakit sekali!”

Dokter yang barusan dipanggil Sehun itu membuka selimut tipis yang sedari tadi menutupi kaki Rein. Mata dokter itu langsung terpusat pada daerah lutut kanan Rein.

“Lutut kananmu sakit?”

Rein ingin mengangguk, tapi dokter tersebut tanpa aba-aba terlebih dahulu menyentuh lutut kanan Rein dengan gerakan pasti. Rein yang tidak siap, langsung menjerit dan refleks langsung memeluk Sehun yang sedari tadi hanya melihat Rein dengan tatapan menderita tepat di sebelahnya.

“Astaga! Tempurung lututmu berpindah, aggassi.”

Rein merasa sangat pusing sekarang, selain karena sakit yang luar biasa dia sedikit menghawatirkan ucapan dokter barusan.

Memangnya tempurung lutut bisa berpindah tempat? Kok menyeramkan sekali?

“Gwaenchana, gwaenchana, Rei.”

Tanpa diduga Rein sebelumnya, tangan kanan Sehun terulur untuk mengelus rambut Rein dan menenangkannya.

“Apakah Rei mengalami cedera Dislocation?” Sehun bersuara kembali setelah menenangkan Rein yang hanya bisa memejamkan matanya

“Itu baru diagnosa saya, akan segera saya pastikan. Suster, siapkan X-Ray dan peralatan lainnya.”

Suster keluar dari ruangan itu, sementara dokter mulai sibuk dengan kertas- kertas yang berada di tangannya.

Ketika itulah Rein mengendurkan pelukannya pada Sehun dan menatap dalam mata namja itu dengan air mata yang sudah mengalir dari mata indahnya.

Baru kali inilah Sehun melihat Rein menangis sehingga ia cukup terhenyak.

“Uljima, Rei.”

Rein menggeleng pelan. “Sehun, kau tetap disini yah.. Temani aku. Aku takut, Hun-ah.”

Dan Sehun bersumpah bahwa ia merasa getaran yang sangat besar berasal dari hatinya, sehingga tanpa sadar ia mencium kening yeoja itu.

Rein merasa sedikit shock tapi rasa tenang yang diberikan Sehun lewat ciumannya, berhasil menenangkannya.

*-*-*

Ilhae memelototi tangannya yang masih digenggam oleh Taecyeon sepanjang mereka berjalan menuju basement. Ilhae menggigit bibir bawahnya tanda bahwa ia sedang berpikir dan pada akhirnya otaknya tersebut berjalan dengan cemerlang.

“Taecyeon.”

“Ne?” Namja itu berhenti dan berbalik untuk menatap Ilhae.

Ilhae menempatkan tangannya yang bebas pada tangannya yang masih digenggam Taecyeon dan melepaskan tangannya itu, Ilhae melihat ekspresi terluka yang ia pikir seharusnya tidak perlu itu dan berbicara. “Uhm… aku tahu apartemenku dan rumahmu jauh. Jadi kau tidak perlu mengantarkanku ini sudah larut, dan jika kau mau memaksa dengan mengatakan kalau besok kau tidak usah bangun pagi karena kuliah – jangan bohong. Aku tahu kau selalu ada kuliah pagi.”

Taecyeon membulatkan matanya dan mulutnya mengatup terbuka karena takjub. Ilhae mengetahuinya? “Kau tahu?”

Ilhae terlihat salah tingkah dan menundukkan kepalanya. “Well, kau bilang semuanya ketika di cafe. Saat kau menanyakan rumaku dan kau berkata kalau sayang sekali rumah kita berjauhan. Juga ketika kau menanyakan kuliahku dan kau bilang kuliahmu selalu pagi.”

“Kau ingat?”

Seketika seorang Ilhae merasa sebagai orang paling bodoh satu dunia, apakah ia sebodoh itu sampai-sampai Taecyeon melihatnya seperti orang melihat anak bisu bisa berbicara.

“YA! Kau kira aku ini seperti apa? Aku tentu saja ingat! Apalagi kau itu banyak bicara kau tahu? Ya apapun itu, sekarang kau tidak perlu mengantarku pulang. Aku akan menyetop taksi – aku tidak akan naik bus karena aku juga lelah. Annyeong!”

Ilhae langsung berbalik menuju lift sedangkan Taecyeon tersenyum memandang punggung Ilhae yang semakin menjauh. Jika saja yeoja itu lebih lama berdiri disana Taecyeon bisa saja mencubit pipi chubby yang baru saja menggembung kesal itu, tapi tidak apa-apa. Kenyataan kalau Ilhae setidaknya mengingat sesuatu tentangnya sudah cukup.

“Ish… apa aku itu bodoh sekali ya? Ingatanku seburuk itu?” Ilhae menggerutu sembari menunggu pintu lift terbuka. Kenapa Taecyeon setakjub itu ketika ia mengetahui beberapa hal saja? Ia tidak salah bukan?

Molla – Ilhae mengambil kesimpulan dan mengambil langkah memasuki lift, karena hari sudah malam lift yang dinaikkinya sepi dan lift langsung naik ke lantai 1. Setibanya di lobby Ilhae mengangguk pada suster yang berjaga di meja infromasi lalu berjalan lurus menuju pintu keluar.

“Oh. Kalian belum pulang?” Ilhae melihat Kyungsoo, Kyungah, dan Kai berada diluar – sepertinya menunggu sesuatu.

“Kau tidak pulang?! Ke mana namja itu?” Kyungsoo menyipitkan matanya seperti kakak kepada adiknya.

“Eonni jangan bilang namja itu meninggalkanmu begitu saja? Dia bukan gentleman.” Kyungah menimpali.

Ilhae mengangkat tangannya sedikit berusaha menghentikan Kyungsoo yang akan mengomelinya lagi. “Bukan begitu. Kenapa kalian belum pulang?”

“Karena aku dan Kyungah sedang menunggu supir.” Kyungsoo menjawab.

“Supir wae? Kalian tidak bawa mobil?”

Kyungah yang sangat tahu Ilhae sedang menghidari penjelasan memotong. “Sebenarnya aku dan Oppa ada acara keluarga – eomma dan appa pulang dari Amerika – dan karena Eonni tiba-tiba kecelakaan jadi kami bertiga memang ke sini menggunakan mobil, tapi Appa ingin kami tetap datang jadi kami menunggu dijemput dan Kai-oppa akan membawa mobilnya pulang. Jadi kenapa Eonni tidak pulang diantar?”

“Karena rumahnya jauh dari apartemenku dan dia ada kuliah pagi. Jadi aku bersikeras untuk menolaknya.” Sangat singkat Ilhae menjawab.

“Kalau begitu biarkan Kai mengantarmu.” Kyungsoo menyarankan.

Sebelum Ilhae sempat menjawab orang yang bersangkutan memutuskan untuk menjawab. “Aku bisa, aku tidak ada kuliah besok.”

Ilhae membulatkan matanya. “Kau – ”

“Kau tidak tahu jadwalku sebaik aku mengetahui jadwalku sendiri.”

Ini dia! Kyungah mengigit lidahnya agar tidak melewatkan apapun. Kai Oppa sedang menatap Ilhae Eonni dengan tatapan menang dan Eonni sama sekali tidak bergeming sama sekali – tercengang. Jawaban yang pintar oppa! Ayolah eonni terima! Kurang lebih seperti itulah isi otak fangirl bernama Do Kyungah. Dengan angin yang tiba-tiba berhembus diantara mereka.. OH SO PERFECT! Kyungah ingin sekali menyalakan kamera ponselnya! Ia harus mengirim adegan ini ke station televisi dan mencalonkan diri untuk menjadi sutradara.

Tiba-tiba suara keretakan dan mesin mobil terdengar. Kyungah menoleh dan mendapati mobil berwarna emas kepemilikan Appanya sudah berhenti di depan mereka. Seketika perhatian terahlihkan dan Kyungsoo membuka pintu menginstruksikan agar Kyungah menaikki mobil namun dengan lambaian kecil Kyungah menolak dan menyuruh Oppanya masuk duluan. Barulah setelah itu ia ikut masuk.

“Kami pergi dulu ya.” Kyungsoo mengintip dari balik punggung Kyungah.

“Jaga Eonni dengan baik!” Lalu Kyungah menutup pintu.

Dari dalam mobil Kyungah tidak bisa mendengar dengan baik karena suara radio tapi setelah mobil mereka berjalan Kyungah masih sibuk melihat ke belakang untuk melihat Kai dan Ilhae. Kai sudah meletakkan tanganya di leher Ilhae – seperti kebiasaan eommanya ketika membawa Kyungah ke supermarket saat masih kanak-kanak – agar tidak hilang – dan mereka berjalan memasuki rumah sakit lagi dengan Ilhae yang seperti sedang memberontak.

“Duduk yang benar, nanti kau pusing lagi.” Kyungsoo memperingatkan adiknnya yang amat sangat tidak bisa diatur itu.

-:Ilhae’s PoV:-

Sejak aku dan Kai memasuki mobil Kyungsoo tidak ada percakapan yang terjadi sama sekali – aku tidak ingin membuka percakapan mengingat kekalahanku dalam perdebatan yang terjadi sepanjang perjalanan menuju tempat parkir. Tadinya aku ingin menunggu saja diluar dan Kai membawa mobilnya karena aku tidak mau bolak-balik – kilahku untuk kabur, tapi Kai tidak menginjikanku dan bilang aku pasti kabur.

Hanya saja sekarang aku sudah seperti berada di kuburan dan keheningan yang terasa tidak bersahabat menganggu kesehatan jiwa. Tidak masalah aku tidak bicara dengan Kai ketika aku hanya bertemu dengannya sesedikit mungkin, tapi bersama dengannya sepanjang perjalanan tidak pernah ada dalam skenario manapun.

“Huft…” Aku memeluk tasku semakin erat.

Sudahlah lebih baik aku merenungi tentang apa yang akan aku katakan besok pagi tentang mobilku yang raib dan aku harus pergi ke kampus bagaimana? Bus? Kupikir aku masih cukup asing dengan trayek bus. Aku masih ingat ketika aku dan Rein nekat menaikki bus dan pada akhirnya tersesat di atas teriknya matahari tengah hari. Tapi siapa yang mengetahui jalur bus ke kampus? Aha! Baekhyun! Lalu pekerjaanku? Rein hanya tahu bus ke Paulo’s sepertinya. Kyungsoo dan Kyungah pasti sangat asing. Chanyeol? Oh tidak, aku tidak ingin berhadapan dengan anak itu dulu, memikirkannya saja aku tidak ingin.

Apakah aku minta izin saja? Tapi aku tidak mau. Sejak dulu aku selalu diiringi beban tidak ingin bolos ketika aku bisa menghadiri acara apapun itu – terutama urusan sekolah.

Kulirik Kai.

Oke. Dia bekerja di Paulo’s dan rumahnya katanya tidak jauh dari perpustakaan. Ah… kenapa alternativeku selain taxi adalah dia?

“Hoy.”

Kai menoleh sebentar padaku dengan tatapan bertanya.

“Apakah kau tahu bus yang harus kutumpangi jika ingin ke perpustakaan – kau tahu perpustakaan tempatku bekerja?” Benar sekali Geum Ilhae! Rumahnya di sana dan dia kemungkinannya tahu.

“Aku tahu, kenapa?”

“Apakah kau tahu bus apa yang harus aku naiki dari Joonmyung atau kalau tidak dari Paulo’s.”

Lampu rambu lalu lintas berubah merah dan mobil berhenti, kini Kai menoleh sepenuhnya. Bagus sekarang aku merasa terintimidasi.

“Dari Paulo’s?”

“Well, yeah. Kalau kau tidak tahu bus mana dari kampusku aku bisa ke Paulo’s dulu – Rein pasti tahu busnya. Baru dari sana aku ke perpustakaan.”

“Kau tahu kau itu orang paling mempersulit diri yang baru aku temui.” Aku langsung menoleh dan melihat Kai yang tengah menahan tawa.

“Ya!” Suaraku tercekik karena baru melhat ekspresi Kai yang jauh dari kata sok dan aku kaget sungguhan.

“Lalu aku harus bagaimana? Memintamu menjemputku berhubung kau tidak ada kuliah? Lagipula aku ragu kau bahkan mau.” Aku memalingkan wajahku dan mobil kembali bergerak – dasar lampu merah!

“Kenapa kau ragu?”

“Oh tolonglah! Kenapa kata-kata pertanyaan yang menghampiriku hari ini adalah ‘kenapa’, tapi kuingatkan kita bertengkar ketika di Jeju.”

“I see.” Kai membalas serak.

Lalu keheningan kembali menyelimuti dan sekarang bahkan lebih buruk.

“Hey… aku tidak ingin memperkeruh keadaan.” Aku berguman tidak enak, tapi apa daya, aku sendiri bukanlah tipe orang yang bisa mencairkan suasana.

Lalu ia menjawab. “Tentu saja.”

Ini menyebalkan. Apa yang aku harus lakukan? Tidak etis juga membuat suasana awkward dengan orang yang baru saja memberikanmu tumpangan. Setidaknya tidak sekarang? ANDWAE! Kau mau ribut apa lagi Geum Ilhae! Secara mental aku menendang diriku.

Baiklah… Kai hanya temannya Rein dan Kyungsoo – dan mungkin temanku juga? Setengah? Yah, setidaknya aku tidak harus takut padanya kan?

:Rein’s PoV:-

Tik Tok Tik Tok~

Aku melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 1 malam, dan aku masih tetap terjaga. Operasi kecil yang dilakukan dokter padaku sudah berlalu sejak 2 jam yang lalu, namun aku masih belum bisa tidur. Mungkin karena lutut kananku yang diperban kencang membuatku tidak nyaman saat berbaring, atau hanya karena aku memang kesulitan tidur setelah mengalami kecelakaan yang walaupun terdengar kecil tapi bisa membuat tempurung lututku berpindah dari tempatnya. Ckk.. Kedengarannya cukup menyeramkan.

Sehun yang terus menemaniku sejak dia datang kesini tengah membaringkan tubuhnya di sofa panjang di ujung ruang rawat inapku – ya, aku dipindahkan ke ruangan ini sesaat setelah operasi kecil itu berakhir. Namja yang sudah cukup lama menjadi teman dekatku itu bersikeras untuk menemaniku di rumah sakit.

Merasa bersalah, karena dengan itu sekarang Sehun terlihat tidak nyaman dengan posisinya di sofa. Sepertinya dia sudah tidur sejak 15 menit yang lalu.

Aku menghela napas, entah mengapa ada sesuatu yang berat yang mengganjal di benakku yang tidak bisa kudeskripsikan apa itu sejak awal aku dibawa ke rumah sakit. Hanya saja, aku seperti menginginkan keberadaan seseorang yang menjengukku dan menanyakan bagaimana keadaanku.

“Kau sudah menghela napas sebanyak 6 kali dalam 15 menit terakhir, Rei.” Aku melirik cepat ke arah Sehun ketika dia membuka matanya dan bersuara. Sedikit kaget karena dugaanku yang mengira dia sudah tidur itu salah besar.

“Kau belum tidur?”

“Aku menunggumu untuk tidur terlebih dahulu.” Sehun bangkit dari posisinya dan berjalan ke arahku, mengambil tempat di ujung ranjangku dan melihatku dengan ekspresi yang sulit terbaca.

“Apa yang menganggu pikiranmu?”

“Tidak ada. Aku hanya sulit tidur di tempat asing, Hun.”

Sehun mengerutkan keningnya mendengar penuturanku. “Kau berbohong. Aku mengenalmu dengan baik, Rei. Kau orang yang bisa tidur di mana saja dan kapan saja.”

Sejujurnya aku tidak tahu harus mengatakan apalagi karena Sehun benar dan aku ketahuan berbohong oleh namja ini. Jadi..

“Kau tahu dari mana aku masuk ke rumah sakit?”

Sehun tampak bingung dengan perubahan topik pembicaraan tapi ia tetap menjawabnya, “Awalnya aku berencana untuk menjemputmu di Paulo’s. Tapi salah satu rekan kerjamu mengatakan kau sudah pulang. Jadi aku kembali, dan rute menuju rumahku melewati tempat di mana kau kecelakaan. Saat itu aku melihat mobil yang sangat familiar. Sehingga aku turun dari mobil dan menanyakan pada warga yang berada di situ. Mereka mengatakan ada dua orang yeoja yang mengalami kecelakaan dan di bawa ke rumah sakit ini. Aku langsung memacu mobilku ke sini dengan pikiran bahwa 2 orang yeoja itu adalah kau dan Ilhae. Rupanya, aku benar.” Sehun menjelaskan panjang lebar sehingga aku hanya bisa mendengarnya dengan saksama.

“Kau tahu? Melihatmu seperti ini benar-benar membuatku sangat sedih, Rei.” Sedikit salah tingkah dengan tatapan Sehun yang begitu dalam, aku memilih melempar pandanganku ke arah lain selain matanya.

Lantas aku berdeham kecil. “Geurrae. Seorang teman harus sedih saat melihat temannya mengalami nasib buruk, bukan?”

Ada jeda beberapa detik dan aku tidak bisa melihat raut wajah Sehun karena aku memilih untuk tidak melihat ke arahnya. Tapi aku mendengar helaan napas Sehun diujung keheningan ini.

“Teman? Saat kau menjerit kesakitan dan memeluku aku sama sekali tidak memposisikan diri sebagai temanmu Rei.”

Aku membelalakan mataku saat merasakan jari hangat Sehun yang menyentuh pipiku. Tentu saja aku kaget. Sehingga tanpa sadar aku langsung menoleh ke arahnya dan aku menyesal karena dengan melakukan itu kini aku terjebak di dalam bola mata tegas namun hangat milik Oh Sehun.

“Saat itu aku adalah seorang namja yang sangat ingin melindungi dan menghapus rasa sakit yang dirasakan oleh yeoja yang paling ia sukai.”

Aku tidak bodoh.

Aku tahu apa maksud dari ucapan Sehun barusan.

Sehun, dia baru saja mengatakan bahwa ia menyukaiku…

To Be Continue…

22 pemikiran pada “Cynicalace (Chapter 11)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s