Post Hoc, Propter Hoc (Chapter 11)

PHPH

 Title : Post Hoc, Propter Hoc (Chapter 11)

Author : Hyuuga Ace (@sosiyeology)

Genre : Drama, Hurt, Comfort, Romance, School Life, Family

Length : Multichapter

Rate : PG-15

Web : cynicalace.wordpress.com

Main Cast :

  • Park Gaemi (OC)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Junmyun / Suho  (OC)

Other Cast :

o   EXO

o   Oh Senna, Yang Chiya, Lee Heyoung, Im Jaelim, Hong Pulip,  Yang Choyun,  Baek Regi (OC)

Disclaimer :  OC and the plot of story are mine and pure from my idea. Don’t plagiarism. Thank you.

Author’s note :

Akhirnya Post Hoc, Propter Hoc Chapter 11 bisa mengudara (?) juga… semoga tidak mengecewakan yahhh (wish author di setiap chapternya selalu sama). Dan spesialnya.. chapter ini lebih panjang 1000 word daripada biasanya hehehe 😀

Oh ya buat pemberitahuan ajah supaya bacanya ga bingung… Nanti ada part di mana Suho akan ngomong sama masternya. Kalau narasinya menyebutkan nama Suho dan Master itu berarti dari sudut pandang Suho yah.. sementara kalo Junmyun dan Jaemun itu sudut pandang Master/Jaemun. Walaupun keliatannya ‘paciweuh’ (ini Bahasa Sunda, btw.. author gatau Indonesianya apaan #cckckkc) tapi emang sengaja dibedain gitu… hehehe. OKE?? Semoga ga bingung dehh hihihihi..

Dan sepertinya PHPH akan tamat sebentar lagi.. huaaa sediiihhh.. mungkin 2 sampe 3 chapter lagi.. hanya pemberitahuan ajah sih. Huhuhu 😥 tapi mari kita fokus pada chapter 11 dulu sajaa..

HAPPY READINGGGGGG~ (tumben author’s note di awalnya pendek, ntar panjangnya di setelah TBC soalnya wkwkwk)

Summary :

“Masa lalu adalah sesuatu yang membentuk dirimu saat ini. Masa lalu terjadi lebih dahulu dibanding hari ini, sehingga hari ini ada karena disebabkan masa lalu. Post Hoc, Propter Hoc. Tapi hanya orang- orang yang memiliki keberanian untuk menatap masa depanlah yang berani untuk melepaskan masa lalu. Dan hidup karena hari ini, dan masa depan.”

Recommended Song : Westife –Fragile Heart , Westlife – The Rose

***

(Author’s PoV)

Mengendap- endap bagaikan pencuri di malam hari, Sehun seolah- olah merasa dirinya sedang shooting adegan action. Bagaimana tidak? Rumah –tidak, lebih tepat disebut mansion yang sedang ia injak ini adalah tempat termewah dan terbesar yang pernah ia masukki. Tak heran, denah yang Suho berikan padanya  begitu rumit dengan bilik dan tanda panah –arah dimana ia harus pergi. Belum lagi kunci yang ia kantungi di tas selempang yang Suho berikan padanya, sangat banyak. Untung saja ada nomer kunci yang tertanda pada setiap ruangan di denah.

Sejak pembicaraannya di mobil dengan Suho, Sehun menyetujui  bahwa ia akan membantu Suho entah siapa sebenarnya Suho itu. Suho bukanlah seorang siswa High School biasa dan karena kejadian ini Sehun pun tahu bahwa Suho juga bukan orang biasa. 

Suho memberi tahu bagaimana seharusnya Sehun masuk mansion lewat jalan belakang tanpa ketahuan satupun bodyguard yang berjaga hampir di seluruh tempat ini. Juga tentang kamera CCTV di sudut ruangan yang jumlahnya ratusan, Suho meyakinkan bahwa Sehun tidak usah khawatir dengan CCTV, karena Suho tahu kode untuk menonaktifkan semua CCTV yang ada di tempat ini.

Namja yang menjadi hyungnya jika dilihat secara umur ini, berpisah dengannya tepat di belokan pertama setelah mereka berhasil masuk mansion ini. Suho akan mengurus ruang control CCTV pertama- tama. Selanjutnya, ia akan mengurus semuanya. Sehun hanya perlu mencari keberadaan Gaemi dan membawa kabur Gaemi dari tempat ini.

“Ingat, setelah kau menemukan Gaemi. Pergilah lewat jalur ini.” Suho menunjuk daerah berwarna merah di denah yang ia buat. “Kalian akan aman jika masuk daerah ini, karena selain CCTV yang akan kumatikan. Tidak ada yang berani berjaga di daerah itu. itu tempat terlarang di mana biasanya master mengurung dirinya setelah pertempuran. Di ujung kawasan merah ini, kau akan menemukan pintu keluar. Cepat pergi dari sini dengan mobil tadi lewat jalur ini..” Sekali lagi namja itu menunjuk denah dengan mata tajam dan serius.

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Abaikan aku. Tugasmu hanya menemukan Gaemi dan pergi dari sini. Ingat, kalau ada sesuatu yang bahaya kau tahu cara menghubungiku.”

Tidak bisa diragukan bahwa Suho mengetahui setiap titik di mension ini, bahkan sampai titik terlemah di mana tidak ada penjagaan sama sekali. Seakan- akan mansion ini adalah rumahnya sendiri. Suho mempersiapkan semuanya, layaknya hari ini akan datang. Sehingga ia menggambar denah dan ‘mendapat’ kunci tempat ini. Juga tentang GPS di ponsel Gaemi, juga pemanggil khusus yang ia siapkan di kancing jaket yang ia berikan. Mengagumkan.

“Kemungkinan besar, Gaemi ada di ruangan FE atau JH, itu hanya prediksiku. Tapi lebih baik kau cepat- cepat cari ruangan itu. Bodyguard akan kualihkan fokusnya dengan kedatanganku. Mungkin sekitar 80% mereka akan beranjak dari pos jaganya, kau bisa menangani sisanya bukan? Jangan sampai ketahuan oleh 20% sisanya.”

Walau Sehun tidak mengerti dan mencoba untuk tidak bertanya apapun, tapi dia tidak bisa memungkiri bahwa ia benar- benar penasaran siapa Suho sebenarnya sehingga ia bisa membuat bodyguard pergi dari ‘pos jaganya’ hanya untuk menemui dirinya.

Tapi sekarang ia sama sekali tidak pedulikan karena keselamatan Gaemi adalah yang utama. Dan benar saja seperti penuturan namja bermarga Kim itu, dia hanya melihat segelintir tubuh berbadan besar dan tegap yang seharusnya jumlahnya lebih banyak untuk menjaga tempat ini.

Sekarang fokusnya hanya mencari di mana ruang FE atau JH itu. Lantas Sehun melarikan perhatiannya dari lorong di depannya pada denah di  tangan kanannya, dengan langkah hati- hati –karena dia tidak ingin bunyi kunci di tasnya menarik perhatian- Sehun menatap pasti ujung lorong kesekian yang sudah ia lewati hari ini.

Memicingkan matanya untuk melihat CCTV di atas kepalanya, Sehun menyeringai. Lampu CCTV nya padam, Suho sama sekali tidak membohonginya tentang mematikan kamera CCTV.

Suho disisi lain, berputar arah untuk masuk mansion dari pintu depan. Seperti dugaannya, bodyguard yang menjaga sisi depan mansion mempersilahkan dirinya untuk masuk, namun tangan kirinya merogoh sesuatu seperti walkie talkie untuk memanggil beberapa orang. Yang Suho yakini adalah bodyguard tambahan sehingga ketika ia melangkah masuk ke ruang utama di lantai satu, ia bisa melihat sekitar 20 bodyguard berjejer hanya untuk menyapanya.

“Kau datang, doryeonim?”

Suho tersenyum sinis. Ia tidak mengerti mengapa semua orang di tempat ini memanggilnya dengan tuan muda di kala dirinya hanyalah seorang pelacak atau ‘pekerja’ biasa bagi master. Dari cara mereka menatap Suho, seakan- akan ada sesuatu seperti rasa hormat yang mereka berikan padanya. Kenapa orang- orang ini  harus menghormati orang tidak berguna sepertinya? Adalah pertanyaan yang selalu Suho pertanyakan dalam dirinya sejak lama.

“Apakah master berhasil mendapati yeoja itu?” Retorik. Suho hanya ingin memancing reaksi orang- orang di hadapannya.

Tapi tidak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan itu sehingga Suho hanya bisa mendengus. “Jangan sakiti dia, atau kalian akan berurusan denganku.” Suho tergelitik dengan ucapannya sendiri. Ia menggunakan rasa hormat bodyguard master padanya untuk mengancam mereka semua. Tapi itu berhasil, karena mereka semua lantas memberikan tatapan hati- hati yang sudah diekspetasi Suho.

Dengan itu Suho kembali melangkahkan kakinya pada lift di sisi kanan ruangan –tujuannya sekarang adalah lantai 4, tempat di mana master pasti berada-, dari ujung matanya ia melihat body guard master yang masih mengikuti dirinya. Mereka mengawal Suho. Tapi itu hal bagus mengingat dengan begitu penjagaan di sisi belakang mansion akan berkurang sehingga akan mempermudah Sehun untuk menemukan Gaemi. Suho melirik sekilas jam tangannya untuk melihat di mana keberadaan Sehun sekarang. Jam tangannya memiliki semacam GPS yang terhubung dengan jaket yang ia berikan pada Sehun. Sekarang namja Oh itu sedang menuju lantai 2, sepertinya dia terlihat aman.

Sehun pasti bisa bukan menangani beberapa bodyguard yang berjaga di sekitar kamar di mana Gaemi berada? Menangani disini konteksnya adalah melewati mereka tanpa ketahuan. Suho harus mempercayai namja itu bagaimana pun.

***

“Junmyun datang.”

Master tersenyum kecil ketika mendengar laporan dari salah satu bodyguardnya.

“Silahkan kembali memasang topengmu. Semoga kau bisa berakting dengan baik, teman. Jangan lupa pura- pura batuknya untuk menunjukan kau sedang sakit parah. Ckk.. sakit ginjal. Apa- apaan sekali kau ini?”

“Sialan kau, Baekho.”

Jaemun bangkit dari kursi besarnya dan melangkah keluar, meninggalkan ruang kerjanya tempat di mana ia dan sahabatnya berbincang- bincang.

Dia melangkah masuk ke sebuah ruangan yang berada tepat di sebelah ruang kerjanya, itu adalah ruang bacanya. Waktu kecil, Junmyun sangat senang bermain di ruangan ini. Semua karena banyak buku yang bisa ia baca. Jaemun bergerak menuju rak paling ujung di mana sebuah buku tersimpan rapih disitu.

Sebuah buku karya Antonio de Saint Exupery favourite Junmyun kecil membuat hatinya menghangat. The Little Prince. Jaemun ingat bagaimana Junmyun sangat menginginkan buku ini sehingga ia sendiri datang ke toko buku –yang seumur- umur baru kali itu ia datangi- dan membeli buku dari tahun 1943 itu. Semua karena Junmyun menginginkannya.

Jaemun menarik buku tua itu dari tempatnya dan tersenyum ketika melihat covernya.

“Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik- baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting dalam kehidupan tidak terlihat oleh mata.” Jaemun terkesiap ketika ia mendengar sebuah suara dari arah belakangnya. Suara yang sebenarnya sangat ia rindukan. Anak laki- lakinya.

***

Sehun mengalami kesulitan besar untuk mencari ruang FE, di denah terlihat jelas bahwa ruangan itu berada di lantai 4. Tapi dia sedikit bingung ketika kakinya menginjak lantai 4. Lantai ini memiliki lebih banyak lorong dan bilik di banding lantai- lantai lainnya. Jujur saja, Sehun tersesat.

Dia sekarang berada di balik tembok besar yang membuat tubuhnya tertutup di baliknya, beberapa meter di depannya banyak sekali bodyguard yang berjaga di depan sebuah pintu. Apakah itu ruang FE?

Menurut hipotesisnya, sepertinya ruangan tempat di mana Gaemi berada akan dijaga ekstra 2 kali lipat. Dan karena keadaannya sekarang adalah tersesat, Sehun harus menggunakan feelingnya untuk mencari ruangan itu, dan feelingnya mengatakan ruangan itu tepat di depannya. Tapi bagaimana caranya dia bisa masuk? Sial. Posisinya tidak menguntungkannya, sama sekali. Jika dia bergerak keluar dari ‘tembok persembunyiannya’ 70% dirinya akan segera ketahuan oleh bodyguardbodyguard berbadan kekar itu.

Tapi Gaeminya sedang dalam bahaya sehingga ia harus mencari ide untuk bisa masuk ke sana tanpa ketahuan.

Ketika dalam keadaan genting, karena posisinya yang benar- benar tidak menguntungkan dan kebuntuan ide untuk bisa masuk ke ruangan itu. Seseorang dari 6 bodyguard di depan pintu itu mengangkat sesuatu seperti walkie talkienya. Wajahnya terihat serius, sebelum ia berujar.

“Kyungsoo.. dia datang.”

“Kyungsoo.. Do Kyungsoo?”

“Bukankah dia partner doryeonim dalam usahanya kabur dari tempat ini? Untuk apa dia datang lagi kesini?” Sehun tidak mengerti apa yang mereka bahas, tapi dia bisa bernapas lega karena sepertinya orang bernama Kyungsoo itu berhasil menarik perhatian para bodyguard sehingga mereka beranjak dari tempat itu. Hanya  tinggal tersisa 2 orang dari 6 yang berjaga.

Kini namja berusia 16 tahun itu bertanya- tanya. Apakah dia bisa melewati 2 orang yang tersisa? Tapi kemudian perhatiannya kembali terfokus pada sosok namja tua yang baru saja keluar dari ruangan yang tidak jauh dari ruangan yang dijaga ketat itu. Mereka membincangkan sesuatu dengan nada rendah, Sehun sama sekali tidak bisa menangkap  apa yang mereka bicarakan. Tapi kedua bodyguard itu memasang wajah tidak setuju dan hendak membantah apapun yang dibicarakan namja tua itu. Tapi mereka tampak tidak bisa melakukannya. Sehingga mereka hanya mengangguk dan segera berjalan pergi bersama si namja tua.

“Tugas kalian sekarang pastikan saja Kyungsoo tidak membuat masalah lagi di rumah ini, karena Jaemun tidak akan suka. Kau ingat terakhir kali dia hampir meledakkan tempat ini karena rasa loyalnya pada Junmyun? Dia sendirian dengan otak cerdasnya bisa mengalahkan semua bodyguard di tempat ini. Jangan lupa.”

Dengan itu mereka bertiga benar- benar meninggalkan tempat itu. Kosong dan tanpa penjagaan sehingga Sehun benar- benar bingung sekaligus was-was. Tapi ini mungkin kesempatannya untuk mendekati ruangan itu, dan mencari kunci yang bisa membuka pintu itu. Mengingat dia tidak tahu ini ruangan apa dan ke berapa karena dia tersesat di denahnya sendiri.

Dia harus bergerak cepat.

Tapi ruangan itu sama sekali tidak dikunci. Sehingga Sehun melempar kembali kunci yang berada di tangannya ke tas selempangnya. Sehingga kini ia memutuskan untuk masuk saja tanpa pertimbangan apapun.

Namun kemudian Sehun merasa kecewa dan bodoh ketika ia tidak menemukan sesuatu seperti ekspetasinya, ia malah menemukan rak- rak tinggi seperti perpustakaan di balik pintu. Sial, dia pasti salah ruangan. Kakinya hendak beranjak keluar dan mencari ruangan lain, ketika ia mendengar sebuah suara. Suara yang sangat familiar baginya, tanpa pikir panjang ia segera menyembunyikan dirinya di balik rak- rak dan mengintip dari sela- selanya untuk melihat apa yang sedang suara familiar itu bicarakan.

***

“Junmyun-ah.” Namja tua itu berbalik dan mendapati Junmyunnya yang sedang menatapnya penuh kebencian. Jaemun hanya bisa menghela napasnya.

“Kata- kata favoritku dari buku yang sedang kau pegang.” Gumam Suho sambil melangkah maju. “Kau terlihat sehat, master. Apa ginjalmu baik- baik saja? Tidak terlihat seperti seseorang yang akan menemui ajalnya.”

Jaemun tersenyum singkat. “Kenapa kau berkata seperti itu? Aku memiliki Gaemi yang bisa membantuku memperpanjang hidupku.”

Kilatan di mata Suho berubah, kini matanya bukan hanya memancarkan kebencian. Tapi juga perasaan sakit. Dan Jaemun bisa membaca hal itu sehingga ia bertanya- tanya.

“Kau tidak akan bisa memakai Gaemi.”

“Kenapa aku tidak bisa?”

Suho memandang tajam sosok di hadapannya. “Karena kau bisa memakaiku.”

Jaemun yakin ia menemukan sebuah nada ketulusan yang sudah lama tidak ia dengar dari mulut Suho ketika namja itu berbicara dengannya. Suaranya terdengar lemah dan penuh kefrustasian, namun ketulusan di saat yang bersamaan. Dan hal itu berhasil membuat raut Jaemun berubah drastis. Ia tidak menduga kata- kata itu terlontar dari mulut anak laki- lakinya.

“Apa maksudmu?”

Suho menghela napas panjang dan menutup matanya. Ketika ia membuka kembali matanya, ia menatap master dengan raut penuh tanda tanya. “Apa aku adalah anakmu?”

Dalam sedetik Jaemun membelalakan matanya dengan pertanyaan hampir menuju pernyataan seorang Kim Junmyun. Tapi ia berhasil mengontrol ekspresinya di detik selanjutnya. Mulutnya terbungkam sehingga hanya matanya yang berbicara pada Junmyun yang masih memandangnya.

Akta kelahiranku. Kenapa namamu yang mengisi kolom ayahku? Dan siapa Seulgi?”

Astaga.. anak ini menemukan akta kelahirannya?! Jaemun yakin bahwa hal yang tidak akan pernah bisa Junmyun temukan adalah akta kelahirannya sendiri karena ia benar- benar menyembunyikan itu sangat rapih dan tertutup.

“Kau menemukan akta kelahiranmu?”

Suho tersenyum miris ketika matanya memancarkan kesedihan. “Kau yang membentukku seperti ini bukan? Aku seorang pelacak bagimu. Kau mengatakan itu adalah bakatku. Jadi apa salahnya aku memakai bakatku untuk mencari jati diriku sendiri?”

Jaemun tertawa, “Kau benar, Junmyun. Kau memang sangat berbakat.”

Tapi pujian itu sama sekali tidak membuat Suho senang. Malah hatinya teriris satu lapisan –lagi.

“Siapa Seulgi? Apa dia ibuku? Di mana dia sekarang?” Mungkin selain perihal Gaemi, Suho sangat ingin ‘mendiskusikan’ hal ini dengan master. Apa mungkin di masa kecilnya ia pernah bertemu ibunya tapi ia tidak pernah tahu hal itu.

Jaemun memposisikan dirinya di sofa panjang di ruangan itu. Junmyun masih berdiri tegak di hadapannya. Mungkin sudah saatnya membongkar semuanya. Setelah 19 tahun yang panjang bagi anak laki- lakinya.

“Kau memang anakku, Kim Junmyun.” Walau sudah menduga hal ini, tapi Suho tetap menahan napasnya ketika ia mendengar hal ini dari mulut master sendiri. Lalu hatinya kembali terluka ketika dia mengingat perlakuan master padanya. Apakah ada seorang ayah yang mencelakakan anaknya sendiri? Ada. Ayahnya.

“Tapi kau bukan anak kandungku.”

Ah…. Jadi karena aku bukan anak kandungnya. Yah, ini lebih terdengar manusiawi.

Jujur saja, Suho lebih suka mendengar pernyataan kedua daripada pernyataan pertama. Karena hatinya akan jauh lebih terluka jika master yang selama ini ia benci adalah ayah kandungnya sendiri.

Jaemun memandang Junmyun langsung di bola matanya, berharap maksud hatinya tersampaikan tanpa perlu ia ucapkan. Maksud hatinya yang mengatakan bahwa walaupun kau bukan anak kandungku, tapi aku tetap menyayangimu –walau caraku memperlakukanmu sangatlah salah. Tapi Junmyun sama sekali tidak mengerti itu. Sehingga Jaemun memilih untuk melanjutkan penjelasannya.

“Dan Seulgi, dia adalah ibu kandungmu. Yang sudah meninggal ketika dia melahirkan Gaemi.”

Suho memproses ucapan master, Seulgi –ibunya, melahirkan Gaemi. Ah….. Suho menutup matanya sekejap, merasakan sakit hatinya yang mengkronis di dalam sana. Setiap kenyataan yang ia dengar mengiris lapisan hatinya lebih dalam, sehingga ia menunggu waktu di mana hatinya akan hancur ke titik dia tidak akan bisa merasakan cinta lagi. Tapi di saat itu, ia mengingat Park Gaemi. Sehingga dia tidak bisa menyerah untuk merasakan cinta –kasih sayang.

“Gaemi adalah adikku? Adik kandungku?”

Suara anak laki- laki bermarga Kim terdengar tenang. Tapi Jaemun tahu bahwa ketika Junmyun setenang ini, jiwanya merasakan kebalikannya. Itu sangat terlihat setelah ia menunduk dan melarikan diri dari tatapan Jaemun yang masih memandang anaknya dalam diam. Kening Suho berkerut, dia menatap kosong pada ujung sepatunya.

“Kenapa dia bisa menjadi adikku?” Suaranya bergetar hebat. Dan yang Jaemun inginkan saat ini adalah berdiri dan memeluk tubuh di depannya layaknya seorang ayah yang sedang menenangkan anaknya yang baru saja divonis tidak naik kelas. Tapi Jaemun sama sekali tidak bisa, apalagi ketika ia memakai topeng untuk melakukan perannya.

“Karena kalian memiliki ibu yang sama walau ayah kalian berbeda. Yah, kau cukup tahu istilah saudara dari ibu yang sama bukan?”

Jaemun tidak pernah melihat Junmyun yang seperti ini sebelumnya, dia terlihat bingung dengan apa yang akan dia lakukan dan bicarakan. Seorang Kim Junmyun adalah sosok yang selalu tahu apa yang harus ia lakukan dan ia tidak pernah meragukannya lagi.

“Apa yang akan kau lakukan pada adik malangmu itu? Membuangnya padaku untuk mendapat kebebasan –“

“TIDAK!” Wajahnya terangkat, Suho menampakan wajahnya yang penuh dengan amarah sehingga wajahnya memerah. Urat- urat dilehernya timbul seiring dengn geraman yang keluar dari mulutnya.
TIDAK AKAN PERNAH.

“Keputusanmu?”

“Aku tahu kau akan tetap mengambil ginjalnya, atau apapun yang ingin kau lakukan padanya. Tapi TIDAK! Aku tidak akan pernah membiarkannya, aku harus melindunginya apapun yang terjadi walau aku harus membuat diriku kembali berlutut di bawah kakimu untuk seumur hidupku. Jika kau menginginkan ginjal, aku akan mencarinya ke seluruh dunia. Kau hanya harus memberikan deadline kapan aku harus menyerahkannya padamu. Aku akan menemukan pendonor, baik kulakukan secara legal ataupun illegal. Aku akan menemukannya, TAPI TIDAK DENGAN GAEMI!!” Suho terengah- engah dengan ucapannya sendiri. Udara seakan menghianatinya sehingga ia sangat kesulitan untuk mencari nafasnya, itu mencekiknya sampai wajahnya memerah dan suaranya terdengar tidak stabil. “Itu keputusanku.”

Jaemun terhenyak, hatinya tersayat. Dia bisa melihat, siapapun bisa melihat bahwa seorang Kim Junmyun menaruh sesuatu yang lebih penting dari kebebasannya.. dan itu Gaemi. Teman sekelasnya yang terlihat sangat akrab dengannya dari pantauan Jaemun selama ini.

“Apa arti yeoja malang itu untukmu? Dia hanya teman sekelasmu dan seorang adik yang baru kau ketahui keberadaannya beberapa menit yang lalu. Pikirkan kembali, Kim Junmyun. Kau akan membantuku membunuh banyak orang ketika kau memilih untuk kembali. Kau membencinya, bukan?”

Suho terlihat hancur, dia marah, kecewa, dia frustasi. Sehingga tanpa sadar ia terjatuh pada lututnya sendiri. Hatinya sakit dengan semua drama yang ia jalankan di kehidupannya. Dia mengarahkan tangannya pada hatinya, dia meremas kemejanya di tempat di mana hatinya berada.

Dan tidak ada yang pernah melihat Suho sehancur ini sebelumnya.

“Aku membenci hidupku sendiri. Bahkan aku lebih berharap untuk mati daripada menjalani hidup seperti ini. Aku takut dengan masa depan yang akan kujalani, dan akan menjadi seperti apa diriku. Tapi yeoja itu datang.. dia tersenyum dan memanggil namaku. Oppa.. Suho oppa.’ Dan saat itu, aku memiliki alasan lain untuk bertahan hidup. Karena dirinya.” Suho membuka semua dinding pertahanannya, dia bahkan tidak peduli untuk membuka hatinya pada seorang master. Orang yang menjadi alasan mengapa ia membenci dirinya sendiri. “Aku menyayangi yeoja itu.” Untuk pertama kalinya, Suho menangis di hadapan oran lain. Dia terisak saat ia mengatakan bahwa ia menyanyangi seorang Park Gaemi.

19 tahun hidup Junmyun, barulah kali ini Jaemun melihat anaknya yang begitu rapuh. Junmyun tidak pernah terlihat seperti remaja pada umumnya yang labil, melampiaskan kekecewaannya dengan ucapannya dan tangisan, bahkan… sekalipun Jaemun tidak pernah melihat Junmyun membuka isi hatinya. Kini di hadapannya, Kim Junmyun hanyalah seorang namja berusia 19 tahun yang sangat dipengaruhi oleh hatinya –bukan akal sehatnya, sehingga ia bisa menangis dan ketakutan. Dan itu membuka mata Jaemun lebih dari apapun, bahwa Gaemi bisa meruntuhkan lapisan pertahanan kokoh Junmyun yang ia buat untuk melindungi dirinya selama ini. Lapisan yang disebut dengan akal sehat, logikanya.

“Karena aku menyayanginya, aku tidak mau dia terluka. Aku akan melindunginya. Jadi, master…” Suho menengadah dan menatap master yang masih duduk di sofa dengan posisi angkuh, matanya memerah tapi tidak ada air mata di matanya –walau Jaemun tahu dia menangis. Wajahnya memohon, dan untuk pertama kali seorang Lee Jaemun melihat anak laki- lakinya memohon di hadapannya. “Jangan lakukan apapun terhadap Gaemi dan biarkan yeoja itu hidup sebagaimana harusnya dia hidup. Jangan bawa dia ke dunia kita.”

Butuh waktu yang cukup lama sampai Jaemun bisa membuka mulutnya dan memastikan bahwa ia tidak akan menghancurkan topengnya di saat- saat terakhir. Karena yang sesungguhnya dia inginkan adalah mengatakan perasaannya.. bahwa ia menyayangi dan melindungi anak- anaknya sama seperti Junmyun yang akan melindungi Gaemi dengan resiko apapun. Mengapa begitu sulit untuknya mengungkapkan rasa sayangnya pada anak- anaknya?

“Jika aku mengatakan ya atas keinginanmu, apa yang akan kau lakukan untuk melindungi Gaemi dari kenyataan tentang dirinya yang sebenarnya?”

“Aku akan menghilang.” Tanpa ragu, Suho menjawab pertanyaan ini. Matanya menyiratkan keyakinan.

“Menghilang… apa  maksudmu?!” Jaemun membelalakan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Untuk melindunginya, aku harus menghilang. Aku akan keluar dari kehidupannya dan berjanji tidak akan muncul lagi di hadapannya. Karena keberadaanku adalah titik balik di mana ia bisa mengetahui siapa sebenarnya ia di masa depan.”

“Kau yakin? Kau bilang kau menyayanginya?”

Suho bangkit dari posisinya, dia menatap master langsung ke matanya. “Karena aku sangat menyayanginya, aku harus menghilang dari sisinya.

Dan di detik itulah, seorang Lee Jaemun menyadari satu hal. Bahwa Junmyun ataupun Suho memiliki rasa sayang yang jauh lebih besar pada Gaemi jika dibandingkan dengannya.

Jaemun tersenyum. Begitu tulus sehingga Suho terhenyak karena melihatnya. “Aku telah menemukan jawabanku. Bagaimana kelanjutan hidupmu maupun Gaemi, semuanya ada di tangan kalian. Junmyun-ah, tugasku telah selesai.” Lee Jaemun begitu bangga pada anak kandung dari Seulgi dan Namsoon. Sekarang dia bisa menghabiskan sisa hidupnya dengan pemikiran positif bahwa Junmyun sangat menyayangi Gaemi dan dia akan melakukan apapun untuk melindungi dan menjaga adiknya.

Kim Junmyun, terima kasih.

“Apa maksudmu?”

“Gaemi, dia sekarang ada di rumahnya. Aku sama sekali tidak menculiknya seperti dugaanmu. Aku hanya menculik ponselnya dan merekam ucapannya sebelum ia tidak sadarkan diri dan memutarnya kembali saat namja bernama Oh Sehun menghubunginya.” Tanpa Suho sadari, master menyelipkan sesuatu ke saku jaket panjangnya. Sebuah persegi berwarna putih –ponsel Gaemi.

“Kau mengenal Oh Sehun?”

“Aku mengenal semua tentang anakku. Oh Sehun adalah namja yang Gaemi sukai namun tidak bisa membalas perasaan Gaemi walaupun dia ingin. Bukan begitu?”

Suho terlihat skakmat  dengan ucapan master. Apa saja yang namja tua ini tahu sebenarnya?!

“Junmyun-ah, aku adalah stalker anak- anakku, kau tahu? Itulah caraku mengetahui bagaimana keadaan mereka. Memantau perkembangan anakku.” Jaemun tersenyum di akhir kalimatnya.

“Kau mengawasi Gaemi sejak kecil.” Sebuah pernyataan yang amat Suho yakini kebenarannya. “Lalu untuk apa kau menyuruhku mencarinya dan berbohong dengan alasan penyakit ginjal?”

“Sebenarnya aku hanya ingin memberi tahumu kalau kau memiliki seorang adik perempuan yang harus kau jaga. Itu caraku untuk memberi tahumu.”

Dengan itu master bangkit berdiri, dia menepuk pundak Suho. Ada secercah rasa bangga yang ia perlihatkan pada Suho, dan Suho masih tidak bisa mengerti apa maksudnya. Lalu ia berjalan meninggalkan tempat itu menuju pintu keluar yang cukup jauh dari tempatnya sedari tadi.

Tapi sebelum namja tua itu benar- benar keluar dari ruangan dia tersenyum tulus. Membuka mulutnya dia mengucapkan sesuatu dengan nada penuh wibawa dan ketulusan, yang belum pernah sekalipun Suho dengar sebelumnya.

’Seseorang hanya dapat melihat dengan sebaik- baiknya melalui hatinya, karena yang terpenting dalam kehidupan tidak terlihat oleh mata.’ Kata- kata ini bukan hanya sebatas omong kosong rupanya.”

***

(Gaemi’s PoV)

Kepalaku berat sekali, sudah berapa lama aku terlelap? Rasanya sulit hanya untuk membuka kelopak mataku. Di mana aku sekarang? Terakhir kali aku hanya melihat siluet namja tua yang datang kepadaku sebelum semuanya berubah gelap. Aku memaksa membuka kelopak mataku sekali lagi, karena aku harus mengetahui ada di mana aku sekarang.

Apa aku dalam keadaan bahaya? Apa seseorang sedang mencoba melukaiku?

Benakku terus berspekulasi. Tapi berbeda dengan jiwaku yang malah merasa sebuah ketenangan. Kuhirup dalam- dalam udara di sekitarku, rasanya familiar. Aku mengenalnya dengan baik aroma di sekitarku. Karena itu aromaku sendiri. Ini seperti kamarku.

Aku membuka perlahan kedua mataku dan kegelapan malam menyambutku membuat jantungku sedikit berdebar. Sehingga tanpa sadar tubuhku menegang.

“Kau baik- baik saja?”

Aku terkesiap ketika mendengar suara yang berasal dari sisi kananku ini. Suaranya.. tidak mungkin aku tidak mengenalinya.

“Sehun?”

Dia tertawa kecil. Tapi aku bisa mendengar nada kepahitan di balik suaranya. “Aku disini.”

Aku menoleh untuk mencari wajahnya, tapi aku tidak menemukannya. Aku tahu dia tepat berada di samping ranjangku, mungkin Sehun sedang melihatku. Tapi aku tidak bisa melihat wajah apalagi ekspresinya, sama sekali.

“Sehun, bisa kau nyalakan lampu? Aku tidak bisa melihatmu. Jam berapa sekarang? Apa yang terjadi? Aku berada di kamarku sekarang, kan?”

Sebuah tangan menggenggam punggung tanganku. Kehangatan berangsur- angsur menjalar ke seluruh tubuhku yang berasal dari tangan besarnya. “Gaemi-ya, tenang. Sekarang masih jam 3, kau berada di kamarmu –di rumahmu. Dan tidak ada yang terjadi.”

Aku menggeleng cepat. “Kenapa kau berada di sini?”

Ada suara helaan nafas yang terdengar sangat berat yang berasal dari namja Oh ini. “Aku hanya ingin melihatmu. Aku ingin berada di sisimu.”

Kalau bukan karena kebingungan dan kepanikan yang mendadak kurasakan –entah karena alasan apa. Aku pasti akan tersenyum lebar mendengar pengakuannya. Tapi ada sesuatu yang ganjil dan tidak benar. “Bisa kau nyalakan lampu terlebih dahulu? Bagaimana kau bisa melihatku kalau keadaan sungguh gelap gulita?”

Sehun terdiam. Kenapa dia tidak menjawab pertanyaanku?

“Sehun-ah?”

Apa sesulit itu untuk menyalakan lampu? Ini aneh.

Aku bangkit dari posisi tidurku, berinisiatif untuk menyalakan lampu dengan usahaku sendiri. Sehun tidak mau melakukannya, dan itu benar- benar membuatku bingung. Tapi sialnya, ketika aku hendak memposisikan kedua kakiku menginjak lantai. Aku merasa lututku melemah sehingga aku mempersiapkan keadaan di mana kepala atau tanganku akan membentur lantai. Tapi itu tidak terjadi…

Ada sebuah tangan yang dengan sigap meraih pinggangku dan menariknya ke arah tubuhnya sehingga hidungku membentur dada bidangnya. Itu Sehun…

“Kau tidak apa- apa?”

“Hmm.. Lututku hanya lemas, itu saja.” Kurasa Sehun mengangguk- angguk.

“Kau tertidur lebih dari 25 jam –“

“APA?!” Apakah aku tidur selama itu? Kenapa bisa? “Kenapa aku bisa tidur selama itu, Sehun-ah?”

Masih dalam posisi yang sama, aku berada dekat sekali dengan tubuh namja ini –sadar atau tidak aku mengalami kesulitan bernapas karena debaran yang kurasakan di pusat aliran darahku- dengan tangannya yang merengkuh pinggangku begitu erat. Sehun terdiam beberapa saat sebelum menjawab. “Sepertinya kau kelelahan.”

Kelelahan? Memangnya apa yang kulakukan?

Aku baru saja mau mengingat- ingat apa yang sebenarnya kulakukan 25 jam yang lalu –Ah prom night!- ketika Sehun menarik lebih dekat lagi dengannya. Kini salah satu tangannya bergerak di pinggangku untuk mendekapku lebih erat. Begitu eratnya sampai aku semakin kesulitan dalam bernapas. Belum lagi ketika dia mengubur wajahnya di lekukan antara leher dan pundakku. Otakku seakan- akan membeku.

“S..Se.. Sehun-ah.”

Sehun masih bergeming di tempatnya dan aku sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk mendorong tubuhnya. Keadaan masih gelap gulita, bahkan cahaya bulan sama sekali tidak bisa masuk ke kamarku –atau karena malam ini tidak dihiasi bulan?- aku masih belum bisa menjangkau saklar untuk menyalakan lampu. Jadi aku tidak bisa melihat bagaimana ekspresi yang menghiasi wajah namja yang kusukai ini. Tapi entah kenapa aku tahu.. aku tahu Sehun sedang bersedih. Namja ini seakan- akan menangis dalam diam.

“Sehun-ah, kau baik- baik saja? Apa yang terjadi?” Aku terdiam ketika merasakan getaran dari tubuhnya. Sehun bergetar hebat. “Hey…”

“Gaemi-ya. Mianhae.”

“Huh?”

“Aku telah banyak menyakitimu, bukan? Maaf.”

Lalu ingatan akan banyak hal membentur tembok memoriku. Tentang bagaimana Sehun menciumku dengan kasar ketika di prom night. Juga tentang bagaimana aku marah padanya sehingga aku menamparnya dan pergi dari hadapannya. Juga tentang air mata yang kuhabiskan karena tingkah lakunya. Rasanya, hati ini berdenyut nyeri sekali lagi.

“Maaf.”

Tapi suaranya yang begitu tulus seakan- akan meredakan amarah yang mulai timbul dari dalam diriku. Sehun berhasil membuatku melupakan semua itu dalam sekejap mata karena ucapannya yang begitu tulus.

“Maaf. Maaf.”

Sehun masih terus menggumamkan kata maaf yang membuatku jadi ikut merasa bersalah.. “Shhh… gwaenchana. Aku memaafkanmu.”

“Kenapa kau memaafkanku? Aku benar- benar brengsek –“

“Karena aku menyukaimu, apalagi memangnya?” Aku tersenyum ketika aku berhasil membungkam mulutnya yang terus menerus mengucapkan kata maaf. “Ya, karena aku sangat menyukaimu. Aku bisa memaafkanmu.”

Tapi sepertinya pesanku sama sekali tidak tersampaikan. Karena aku mendengar Sehun menggeram frustasi dan mengangkat kepalanya dari leherku. “Kenapa kau menyukaiku? Kau pantas menyukai seseorang yang lebih baik dariku, Park Gaemi! Aku sama sekali tidak pantas mendapatkan sema itu! Aku bodoh, sama sekali tidak dewasa,  aku hanyalah seorang remaja yang bahkan tidak bisa menentukan mana yang baik dan buruk, aku tidak bisa melakukan apapun dengan benar. Aku –AH SIALAN!”

Aku hanya menunggu. Sehun masih mengoceh tidak jelas, dan aku hanya bisa terdiam sampai akhirnya dia ikut diam bersamaku. “Sudah?”

“Gaemi..”

“Hmm.. bisa kau lepaskan pelukanmu terlebih dahulu dan menyalakan lampu?” Pelukannya di pinggangku merenggang tapi ia masih belum beranjak untuk menyalakan lampu.

“Biar aku saja..”

“Jangan! Jangan nyalakan lampu. Aku tidak ingin kau melihat wajahku..”

“Ekspresi apa yang sedang kau coba tuk tutupi, Sehun-ah?”

“I’m just desperate, that’s all.”

Sehun terlalu cepat mengakui hal itu. Dan itu sedikit membuatku sedih. “Kau desperate karena aku menyukaimu? Hey.. kau ingat apa perkataanku saat itu? Sehun, ini adalah perasaanku. Aku berhak atas perasaanku sendiri. Kau tidak harus menghawatirkan apapun. Karena hanya aku yang menyukaimu, bukan?” Walau sekeras apapun aku mencoba untuk tenang, tapi aku tetap saja tidak bisa menghilangkan kepahitan di ujung lidahku setiap kali aku mengatakan dengan mulutku sendiri bahwa cintaku sama sekali tidak berbalas.

Sehun lagi- lagi terdiam, mungkin sekarang dia sedang mencerna perkataanku dan mengiyakan dalam hatinya. Tapi aku salah..

“Bagaimana jika kukatakan bahwa aku juga menyukaimu?“ Apa yang Sehun ucapkan selanjutnya sama sekali tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Itu mengejutkanku sampai di tahap di mana aku hanya bisa membatu di posisiku yang masih belum terlepas dari tubuhnya 100%.

Mungkin karena posisiku itu, aku bisa merasa debaran jantung seseorang yang berpacu sama cepatnya denganku. Bersahut- sahutan seakan- akan benda itu turut memperjelas semuanya. Dan itu makin membuat ucapannya semakin nyata.

“Kau.. menyukaiku?”

“Ya, aku adalah si brengsek yang harus melewatkan banyak hal untuk menyadari hal itu. Bodoh, bukan?”

Aku tersenyum. Rasanya begitu senang sehingga tidak sadar aku juga memeluk balik tubuhnya. Di balik pelukanku aku merasa Sehun sedikit tersentak. Mungkin ia kaget karena refleksku.

“Terima kasih.”

“Terima kasih?”

“Hmm.. terima kasih.”

“Terkadang aku merasa begitu beruntung karena kau menyukaiku. Kau mau berada di sisiku ketika aku mau membuka hatiku untuk bercerita tentang masa laluku. Aku yang seharusnya berterima kasih. Tapi satu hal Gaemi-ya. Aku memang tidak dewasa, tapi maukah kau menerimaku? Maukah kau mengajariku untuk sedikit lebih dewasa?”

Aku tertawa, lucu sekali mendengar permintaan namja ini. “Tentu saja, Sehun-ah. Lalu bagaimana denganmu? Aku bukanlah yeoja yang sempurna. Aku tidak sepintar Heyoung, atau semanis Pulip, aku juga tidak –“

“Kau sempurna untukku. Aku menyukai semua tentangmu, aku menyukai dirimu yang kau ketahui ataupun yang tidak akan kau ketahui.”

“Apa maksudmu?” Apa yang aku tidak ketahui? Aku merasa Sehun menegang.

“Yang kau tidak ketahui?” Sehun melonggarkan pelukannya. Lalu dia meninggalkan aku sendiri, dia berjalan menjauh. Aku merasa kehilangan begitu besar sampai tiba- tiba cahaya lampu menusuk mataku sehingga aku harus mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan mataku dengan penerangan yang begitu tiba- tiba.

“Aku bukan hanya menyukaimu. Aku mungkin sudah mencintaimu sejak lama.”

Dengan melihat matanya, ekspresinya, aku merasa makin yakin bahwa Sehun tidak bercanda. Apalagi berbohong. Namja ini benar- benar menyukaiku. Aku tidak bisa menahannya lebih lama, senyum itu terkembang dengan sendirinya.

Waktu terus bergulir sementara aku dan Sehun hanya saling melempar pandangan satu sama lain dengan senyum di wajah kami. Sampai ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.

“Apa sekarang kita adalah sepasang kekasih, hmm?”

Aku tersenyum sekali lagi. Yah, mungkin ini adalah akhir yang bahagia bagi kisah cintaku dengan namja bernama Oh Sehun. Sehun menyukaiku. Sehun bilang dia menyukaiku. Perasaanku selama ini tidak sia- sia, karena pada akhirnya Sehun juga menyadari bahwa dia menyukaiku. Aku seharusnya menjadi yeoja paling bahagia sekarang. Tapi nyatanya, aku tidak bisa sepenuhnya bahagia.

Malam itu –di mana aku terbangun dari tidur 25 jamku, aku menyadari suatu hal. Ada sesuatu yang terjadi dan aku tidak mengetahuinya. Banyak pertanyaan dalam benakku yang ingin sekali kutanyakan saat itu.

Kenapa Sehun bisa berada di kamarku? Kenapa dia mencoba menyembunyikan rasa sedihnya di balik kegelapan malam? Aku melihatnya walau dia terus menerus menyembunyikannya. Kenapa Sehun menatapku seakan- akan aku bisa menghilang esok hari? Tatapannya seakan- akan pernah kehilanganku. Padahal aku tidak kemana- mana.

Dan yang pertanyaanku yang paling besar adalah..

Apa yang terjadi denganku 25 jam yang lalu?

***

(Author’s PoV)

“Suho oppa? Apa  kau baik- baik saja? Apa yang sedang kau kerjakan? Kemana kau selama ini? Kenapa kau tidak menjawab telepon atau membalas pesanku? Apa kau sakit? Aku sekali lagi mencarimu ke butik miliki Luhan oppa– ah, eommanya. Tapi Luhan oppa seperti menyembunyikan sesuatu tentang keberadaanmu dengan mengatakan bahwa aku lebih baik tidak mencarimu lagi. Lalu aku mendengar kabar burung bahwa kau  keluar dari sekolah. Itu menakutkan, oppa. Kau di mana sekarang? Aku benar- benar menghawatirkanmu.”

Sehun berusaha menelan bongkahan kepahitan yang terasa di hatinya. Dia begitu menderita melihat Gaemi yang terus menerus mencari keberadaan Suho. Ini sudah  2 bulan sejak kejadian itu. Tentu saja Sehun tahu semuanya, cerita apa di balik kehidupan Gaemi maupun Suho. Dan siapa Gaemi bagi Suho. Dia pun tahu alasan mengapa Suho tidak pernah muncul lagi di kehidupannya, maupun kehidupan Gaemi.

“Apa yang kau pikirkan sekarang, Oh Sehun?” Dinginnya malam beserta heningnya sungai Han menjadi saksi pembicaraan mereka berdua.

“Aku tidak bisa memikirkan apapun.”

Suho tersenyum kecil, matanya tidak menunjukan emosi apapun kecuali rasa sakit. “Kuharap kau tidak meninggalkan Gaemi karena tahu siapa Gaemi sebenarnya.”

“Tentu saja tidak! Aku bahkan tidak peduli tentang semua itu.” Dan itu memang benar, ketika Sehun mendengar semuanya. Perbincangan antara Suho dan namja tua yang ternyata adalah ayah kandung Gaeminya, Sehun tidak pernah sekalipun berpikir untuk melihat Gaemi dengan kacamata lain. Karena Gaemi tetaplah akan menjadi Gaemi, yeoja yang ia sukai. Lalu Sehun teringat akan satu hal.

“Apa kau akan benar- benar menghilang seperti yang kau katakan pada namja tua itu?” Sehun menoleh untuk melihat raut menderita Suho yang lebih dalam lagi.

“Bukankah aku harus melakukannya?” Sementara Suho masih membuang tatapannya jauh ke depan. Tatapannya seakan hilang dalam ruang dan waktu. Tersesat.

“Kau tidak harus melakukan hal itu. Gaemi akan terluka jika kau pergi dari sisinya.”

“Kalau aku tetap berada di sisinya.. Gaemi akan tahu siapa sebenarnya ia.”

Sehun terdiam, ya mungkin logika Suho benar adanya. Jika Suho terus berada di sisi Gaemi, maka suatu hari kemungkinan Gaemi akan tahu jika Suho adalah oppa kandungnya akan lebih besar terjadi. Dan jika Gaemi tahu hal itu, ia akan tahu siapa dirinya sebenarnya.

“Sehun, kumohon. Jangan pernah beritahu hal ini pada siapapun dan sampai kapanpun. Biarkan semua ini menjadi rahasia yang harus kita telan sendiri.”

“Lalu bagaimana dengan… kau menyebutnya master?”

Suho lagi- lagi tersenyum kecil. “Ketika aku melihat orang itu melalui hatiku, aku barulah mengerti bahwa orang itu juga melindungi Gaemi dengan membuangnya. Mungkin, yah ada kemungkinan bahwa ia juga menyayangi anaknya. Kurasa dia juga tidak ingin Gaemi tahu siapa ayah kandungnya, dia tidak akan melakukan apapun pada Gaemi lagi. Dia akan kembali pada posisinya selama 16 tahun terakhir. Seorang ayah yang hanya bisa memandang dan memantau anaknya dari kejauhan.”

Ucapan Suho baru saja menembus hatinya sampai ia rasa ia terkoyak karena kenyataan yang menyakitkan. Lalu bagaimana dengan dirinya? Dia habis- habisan menghindari ayahnya sendiri hanya karena egonya? Padahal dia tahu siapa ayahnya dan apa yang ayahnya rasakan padanya.

“Sehun, aku memintamu untuk menjaga dan melindungi adikku di sisinya. Sementara aku akan melindunginya dari kejauhan. Kau bisa kan melakukannya untukku?”

Detik itulah, Sehun baru saja menyadari bahwa rasa sayang Suho terhadap adiknya melebihi apa yang selalu namja itu ucapkan. Sehun tertunduk, rasanya sakit menjadi saksi di balik penderitaan Suho.

“Hyung.. apa kau harus meninggalkan Gaemi?” Suho sedikit terkejut dengan cara Sehun memanggilnya. Tapi ia tersenyum pada akhirnya.

“Aku bukan meninggalkannya, aku melindunginya.”

Sehun menggeleng cepat. “Bagiku itu adalah meninggalkan. Hyung, aku mohon… sekali lagi temui Gaemi, buatlah perpisahan yang wajar di antara kalian. Gaemi akan terluka jika kau meninggalkannya begitu saja tanpa kata ‘selamat tinggal’.”

Suho terdiam untuk memikirkannya. Lalu wajahnya terangkat. “Satu kali. Kau yang memiliki tiket itu. Saat Gaemi mencariku di masa depan, di titik di mana ia benar- benar kelihatan frustasi. Kau bisa menggunakan tiket itu untuk memanggilku kembali ke sisi Gaemi dalam sehari. Tiket itu ada di tanganmu, Sehunnie.”

“Hyung…”

“Jaga adikku. Buat dia bahagia. Aku tahu kau mampu melakukannya. Karena kau sangat mencintainya bukan?”

“Aku mencintainya.”

Suho tersenyum puas, untuk pertama kalinya ia bisa memandang Sehun seakan- akan namja itu lebih dewasa dari hari kemarin. “Sehun, kembalikan ponsel Gaemi.”

Lalu Suho mengeluarkan ponsel putih Gaemi dari sakunya dan memberinya pada Sehun. Sehun menerimanya dengan tatapan kosong.

“Jadi ini benar- benar perpisahan, hyung?”

Flashback END

Itu adalah perbincangan terakhir Sehun dengan Suho. Terjadi sekitar 2 bulan yang lalu. Dan mungkin Suho benar. Sehun bisa membuat Gaemi bahagia. Tapi kini Sehun tahu, bahwa kebahagiaan Gaemi tidak lengkap.

Harus ada Suho disisinya juga. Itulah yang membuat Gaemi bahagia sepenuhnya. 2 bulan yang Gaemi jalani tanpa Suho membuat yeoja itu terlihat frustasi dan terlihat bersedih di beberapa saat. Semua orang bisa melihat betapa ia sangat merindukan sosok Suho oppa nya. Walau ia tetap terlihat ceria dan tersenyum ketika bersamanya atau Chiya, atau teman- temannya. Ia tetap terlihat kosong.

Dan Sehun sangat membenci hal itu. Gaemi tidak bisa dikategorikan bahagia dengan keadaannya. Ia selalu tanpa sadar datang ke atap setiap istirahat hanya untuk meninggalkan voice mail untuk Suho –seperti sekarang. Ia sering mencari tahu di mana rumah Suho, mendatangi butik di mana salah satu teman Suho sering berada, Gaemi sering mengajaknya hiking ke gunung yang sekarang Sehun ketahui sebagai tempat di mana yeoja itu sering menghabiskan waktu bersama Suho.

Yeoja itu sangat kehilangan Suho. Sehun tidak bisa bertahan melihat ekspresi kosong dan sedih yang semakin hari semakin sering muncul di bola mata yeoja itu. itu menyakitinya secara tidak langsung.

“Suho oppa…apa aku melakukan suatu yang salah padamu sehingga kau meninggalkanku?”

Dia tidak meninggalkanmu, dia melindungimu Gaemi-ya.

Lalu Sehun melihat Gaeminya yang menatap kosong langit seraya dengan air matanya yang perlahan mulai menggenang di pelupuk matanya. “Oppa,kau bilang kau panggilan 119 ku? Aku memanggilmu sekarang oppa! Aku dalam keadaan genting karena aku benar- benar merindukanmu.” Yeoja itu mulai terisak dan menundukan kepalanya. Tubuhnya bergetar hebat.

Sehun yang menyaksikan semua itu hanya bisa terdiam. Hatinya sakit melihat keadaan Gaemi yang semakin parah. Sekarang yang tersisa hanyalah tiketnya.. mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk memanggil Suho kembali.

Namja bermarga Oh itu membuka ponselnya mengetikan sesuatu dan mengirimkannya ke orang itu untuk menagih janjinya.

To : Kim Suho

Tiketku, aku akan menggunakannya untuk Gaemi sekarang.

 

TBC

 

Gimana? Feelnya dapet ga sih? Ga yah? Hikss maapkaaaaaan..

Part pengakuan Sehun itu sederhana banget ga sih?

Ini ceritanya masuk akal ga sih?

Kok gue jadi menggalaukan banyak hal gini sih.. #DUH

Kalian yang menilai yahh.. menilainya dengan comment- comment kalian yang berharga 🙂

Jadi don’t forget for leaving a comment for me kkkk~

Thank you very muchhhhh!!

Makasih banyak yang udah ngikutin ni epep sampe sejauh ini, baik yang silent reader  dan yang udah comment. Buat yang udah comment makasihnya double dari author hehehe 😀

Oke, sampai bertemu di chapter selanjutnya kalau begituuu.. jangan bosen sama PHPH yahh, jangan juga bosen sama author #pengennya wkwkwkw

BYE YEOOOMMM~ *menghilang bersama Yeol*

31 pemikiran pada “Post Hoc, Propter Hoc (Chapter 11)

  1. Huaaaa . . . Bikin berlinang airmata d siang bolong thor. Keren ini ff mah. Bayangin ini diadaptasi ke drakor, beuuuh..pasti kece.
    Jempol 4dah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s