Unbroken (Chapter 2)

Title: Unbroken – Chapter 2

Author: V (@violarosaliya)

Main casts: Kim Jong In a.k.a Kai | Kim Hyo Jae (OC)

Supporting casts: Find it out through the stories

Genre: Romance | school life | friendship

Rated: PG 13

Length: Multichapter

Disclaimer: Fanfiction ini murni hasil karya author tanpa plagiat dari fiksi manapun.

Author’s note: I hope you enjoy reading this fan fiction. Please leave comments after that. Every comment is so valuable for me. Thank you very much.

I also post this story on my blog phiyongg.wordpress.com

Summary:

Unbroken. Nothing will be broken.

Neither the precious relationship nor the old feeling.

Nothing should be broken in the middle of this triangle love.

Dua minggu kemudian

                   Suasana satu-satunya sekolah musik di Seoul ini cukup sepi di saat pagi menjelang siang hari.Hampir seluruh siswa sedang berada di kelas kecuali beberapa siswa yang sedang berolahraga di lapangan sekolah. Dari kejauhan terlihat sekelompok siswa laki-laki sedang bermain basket dengan di support oleh siswa perempuan di pinggir lapangan. Beberapa kali mereka terdengar berteriak keras saat tim yang mereka dukung mendapatkan poin. Di sisi lain sekolah nampak seorang namja yang mengenakan seragam sekolah yang berbeda berjalan mengendap-endap. Perbedaan yang kentara walaupun Ia melapisi kemejanya dengan sebuah sweater dan menggunakan sebuah snapback berwarna hitam. Ini terlihat mencurigakan karena Ia dengan hati-hati melihat keadaan di sekelilingnya lalu berjalan cepat sekarang seperti takut bila kehadirannya diketahui oleh seseorang.

                   Nomor yang Anda tuju sedang sibuk.Silahkan menghubungi beberapa saat lagi. Tut. Tut. Tut. 

                   Shit” namja itu mengumpat saat nomor yang Ia hubungi ternyata sedang tersambung dengan nomor lain saat ini. Disaat Ia dengan SANGAT ingin segera berbicara dengan si pemilik nomor.

                   Ia baru saja akan menekan tombol panggil untuk kedua kali saat seorang petugas kemanan sekolah melihatnya. Spontan Ia berlari ke arah taman belakang sekolah. Sepertinya ini bukan kali pertama Ia masuk kesekolah ini. Terbukti Ia terlihat sangat mengenal sekolah favoritnya ini sehingga Ia tahu kemana Ia harus bersembunyi. Selagi melarikan diri Ia kembali mencoba menghubungi nomor tadi. Ia terlihat awas dan berlari kecil dengan langkahnya yang besar sambil melihat ke arah belakang dimana seseorang mengejarnya tadi. Namun, Ia terlambat menyadari hadirnya seseorang persis di hadapannya. Brukk. Keduanyapun lalu bertubrukan di tengah taman belakang sekolah.

                   “Aduh” ternyata namja itu bertabrakan dengan seorang yeoja yang ternyata sedang menelepon seseorang.

                   Nomor yang Anda tuju sedang sibuk.Silahkan menghubungi beberapa saat lagi. Tut. Tut. Tut.

                   Nomor yang ia terhubungi ternyata masih sibuk sehingga Ia kembali mendapatkan balasan dari operator telepon. Dengan kasar Ia menghentikan sambungan.

                   “Wae?Gwenchana?” suara seorang namja terdengar dari ujung telepon yeoja yang baru saja jatuh itu.

                   “Oh. Gwenchanayo, Oppa” katanya sambil membersihkan  roknya dari rerumputan dan mencoba berdiri.

                   Tiba-tiba saja namja yang menabraknya tadi seketika menarik tangannya lalu mengajaknya berlari dari tempat itu dengan sangat cepat.

                   “Yaa” Ia berteriak meminta tangannya dilepaskan.

                   “Oppa. Nanti aku hubungi lagi ya”

                   Tut. Telepon dimatikan.Ia masih tidak mengerti mengapa namja yang berpakaian serba hitam ini tiba-tiba menabraknya lalu menyeretnya berlari seperti ini.

Apa jangan-jangan namja ini siswa yang berbuat ulah di sekolah? Tapi ia tidak menggunakan seragam yang sama dengan siswa lain? Apa jangan-jangan?” yeoja itu bergidik saat Ia sadar pikirannya sudah terlalu jauh tentang namja berpostur tubuh tinggi ini.

Namja itu masih menggenggam tangannya.Mereka berdua berlari sangat cepat. Sang petugas keamanan kelihatannya menyerah saat keduanya sudah berada jauh dari lingkungan sekolah dan akhirnya sampai tidak jauh dari pusat perbelanjaan kota.

“Yaa” yeoja itu berteriak minta tangannya dilepaskan saat mereka tiba di sebuah jalan setapak. Saat tangannya terlepas Ia dengan sigap langsung membuka topi yang namja itu kenakan.

“Kaii?”Ia kembali berteriak seolah tidak percaya akan wajah yang baru saja Ia temui di balik snapback hitam itu.

“Yaa.Berisik tau.Apa tidak bisa kalau tidak berteriak huh??” Kai balik berteriak padanya.

Yeoja itu kembali akan berteriak pada Kai jika beberapa orang halmoni dan haraboji memelototi mereka berdua.

“Tapi apa benar kau, Kai?” yeoja itu memandangi wajah Kai yang duduk disebelahnya dengan detail sehingga wajah mereka berdua berdekatan kurang dari sepuluh senti.

Mata mereka berduapun bertemu beberapa detik.Kai memandang dalam mata yeoja itu. Tiba-tiba Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Wah, ternyata kau benar Kai. Berarti aku belum pikun ya” dengan tiba-tiba Ia menjauhkan wajahnya saat Ia yakin kalau namja itu adalah Kai.

“Omo. Tapi apa kau ingat aku? Kita bertemu di salah satu restoran di daerah Gangnam.Kalo tidak salah waktu itu Black Day. Hari ulang tahunmu juga . . . “ sekarang Ia mencoba mengingat apapun mengenai pertemuan pertama mereka sekitar dua minggu lalu.

“Aku hari itu juga terkena kram perut dan kau menelepon ambulans” Kai melanjutkan potongan cerita yang belum lengkap itu.

                   Ya ternyata namja berpakaian serba hitam bahkan dengan snapback dan kacamata hitam itu benar Kai.Yeoja itu masih mengingat wajah Kai bahkan hanya dengan satu kali melihat wajahnya lagi.Pertama kali mereka bertemu dengan Kai, yeoja itu langsung dibuat panik olehnya. That’s why she can’t forget him easily, right?

                   “Apa kau sudah sembuh sekarang? Oh. Ne. Pasti kau sudah sembuh ya.Mana mungkin kau bisa berlari secepat tadi kalau kau masih menderita kram perut, kan?” yeoja itu menjawab pertanyaannya sendiri.

                   “Tadi kenapa petugas keamanan sekolah itu mengejarmu? Kau bukan siswa sekolah itu kan?” Ia bertanya dengan sedikit curiga. Ekspresinya begitu lucu seperti sedang mengintrogasi seorang penjahat.

                   “Maaf untuk yang tadi ya.Aku tadi datang untuk menemui seseorang.Kau juga bukan siswi sekolah itu sepertinya.Apa kau juga akan menemui seseorang?”Kai meminta maaf untuk aksi spontannya tadi.

                   “Tadinya aku akan menemui oppaku, tapi karena seseorang aku jadi membatalkannya” Ia lalu bersungut-sungut.

                   “Yaa.Aku kan sudah minta maaf” Kai kembali emosi.

Apa Kai sedang dalam masa PMS ya?” yeoja itu berpikiran aneh lalu tersenyum-senyum sendiri.

“Yaa.Waee?” sekali lagi terdengar teriakan Kai.

Anii” yeoja itu lalu tertawa sekarang.

Keduanya terlihat akrab walaupun ini adalah pertemuan kedua mereka. Jelas ini sesuatu yang aneh kan mengingat mereka bahkan belum mengenalkan diri secara langsung waktu itu.

“Dasar yeoja aneh” Kai menggeleng-gelengkan kepala karena yeoja berprilaku unik di depannya. Kemudian Ia mengeluarkan smartphone bermerknya dan mencoba menelepon seseorang.

“Oh, Ne. Mian, Sehun-ah.Tapi bisakah kau mengirimkan alamat yang kemarin itu?”Kai ternyata menelepon Sehun yang pasti sekarang sedang belajar di sekolah.

“Oh, ne yang itu. Thanks” Ia mengakhiri percakapannya lalu mengecek pesan dari Sehun yang langsung masuk. Ia tersenyum melihat alamat yang Ia akan tuju ternyata tidak jauh dari tempat Ia berada sekarang.

“Ayo” Kai bangkit dari tempat duduknya.

“Kau mau tinggal disini sendirian?”Kai bertanya sekenanya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan yeoja itu.

“Yaa, Kai. Aku ikut.Bagaimana bisa kau meninggalkan seorang yeoja sendirian di pinggir jalan?” yeoja itu kembali berteriak sambil mempercepat langkahnya. Setelah ngos-ngosan akhirnya Ia bisa menjajari langkah Kai.

“Kita mau kemana?” yeoja itu meminta kejelasan kemana mereka akan pergi. Kai hanya diam dan terus berjalan kearah pusat perbelanjaan yang sangat ramai.

“Oya, apa kau tadi menelepon seseorang bernama Sehun?” yeoja itu kembali bertanya. Tapi kali ini Ia menyebut nama Sehun.

“Sehun?Oh Sehun yang kau maksud?” Kai menyebut nama lengkap teman baiknya itu.

“Iya.Aku pernah punya seorang teman saat sekolah dasar bernama Sehun” yeoja itu menjawab penuh semangat.Ia seperti mengenali sosok bernama Oh Sehun itu.

“Yaa, kau kira hanya temanmu itu namja bernama Oh Sehun. Ada banyak Oh Sehun di Korea” Kai seketika menyangkal kalau Oh Sehun yang yeoja itu maksud adalah orang yang sama.

“Dulu?Apa berarti kau sudah lama tidak bertemu dengan temanmu itu?”Kai kembali bertanya. Kelihatannya Ia sedikit ingin tahu.

“Ne. Aku baru saja pulang dari Amerika tepat di hari kita bertemu, dua minggu lalu.Aku pernah sempat bersekolah disini ketika sekolah dasar” yeoja itu akhirnya bercerita.

“Aku dan eomma pindah ke Amerika saat ayahku meninggal enam tahun lalu.Keluarga appa yang sebagian besar tinggal di Amerika benar-benar merasa kehilangan jadi kami diminta untuk tinggal disana” lanjutnya.

“Jadi appamu orang Amerika?” pertanyaan Kai disambut sebuah anggukan yeoja bermata coklat itu.

“Pantas saja kau tidak terlihat seperti kebanyakan yeoja asli Korea” Kai merasa senang karena tebakannya sejakpertama ternyata tidak salah.

Pembicaraan mereka akhirnya terhenti saat mereka berdua tiba di depan sebuah kedai kopi bergaya klasik. Keduanyapun langsung memasuki bangunan besar berlantai tiga itu.Kai lalu menanyakan maksud kedatangannya pada salah satu manager kafe. Setelah memastikan Ia berada di tempat yang benar, Kai mengajak yeoja itu menuju sebuah ruangan di bagian samping kafe. Setelah menyusuri sebuah tangga berputar beberapa saat kemudian mereka tiba di lantai bawah.Terlihat dari lokasi ruangan ini sepertinya hanya orang-orang tertentu yang bisa mengaksesnya.

Mereka berdua begitu takjub ketika memasuki ruangan ini.Suasana underground benar-benar terasa.Berbeda sekali dengan ruangan sebelumnya yang berada di lantai satu tadi yang merupakan kedai kopi biasa.

“Kai, apa kau serius ada keperluan di tempat seperti ini?” yeoja itu kelihatannya tidak begitu yakin akan keberadaan mereka berdua disana. Tempat itu sangat asing baginya.

“Apa di Amerika tidak ada yang seperti ini?” Kai menyeringai Ia sedang meledek yeoja blasteran Amerika itu.

“Yaa.Walaupun banyak hal-hal seperti ini disana.Tapi mana pernah aku ke tempat seperti ini sendirian?”Ia mendengus kesal menjawab ledekan Kai.

“Apa pacarmu tidak pernah mengajakmu ke tempat seperti ini?”Kai kembali bertanya dan kali ini yeoja itu terdiam lalu berhenti berjalan.

“Yaa.Apa kau tidak punya pacar? Atau mungkin belum pernah punya pacar?”Kai kembali meledeknya dan sekarang sudah terbahak.

Yeoja itu diam saja. Sepertinya membenarkan apa yang Kai ucapkan dan memanyunkan bibirnya.

“Kau terlihat jelek begitu.Tidak usah takut, okay?Tempat ini tidak semengerikan yang aku pikirkan.Calm down, Miss America” Kai tiba-tiba menggenggam tangannya lalu kembali menyusuri ruangan yang sangat minim penerangan itu.

Kai akhirnya menemukan seseorang yang Ia cari lalu berbincang sekitar sepuluh menit di salah satu sudut ruangan. Ia mengucapkan terima kasih lalu beranjak keluar dengan mata berbinar. Ia mendapatkan apa yang inginkan. Yeoja itu mempercepat langkahnya dan keluar terlebih dahulu dari ruangan bawah tanah itu menuju kedai kopi.

“Kau harus mentraktirku kali ini” katanya setelah memesan membiarkan Kai membayar tagihannya. Yeoja itu tersenyum manis saat Kai memberikannya sebuah kartu kredit berwarna hitam. Ia lalu mengambil pesanannya berupa dua Iced Americano, satu tiramisu dan waffle.

                   Mereka berdua kemudian berjalan dalam diam tanpa arah, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.Yeoja itu mengambil keputusan untuk duduk di salah satu bangku panjang di salah satu sudut jalan.Matahari sore yang cerah menyapu wajah mereka.

                   “Kenapa kau tidak masuk sekolah musik kalau memang kau sangat mencintai musik, Kai?” yeoja itu menanyakan pertanyaan yang Kai juga tanyakan pada dirinya sendiri.

                   “Entahlah.Aku mungkin terlalu pengecut bahkan untuk memperjuangkan mimpiku sendiri” Kai menjawab sekenanya.Namun itu adalah kenyataan yang sebenarnya.Ia memang tidak bisa walaupun Ia begitu menginginkannya.

                   “Kau harus berani, Kai.Setidaknya kau percaya pada mimpimu sendiri dan mencoba untuk mewujudkannya” dua kalimat yang baru saja terlontar dari bibir yeoja itu seketika menancap di benak Kai.

                   “Ini salah satu caranya. Aku akan mencobanya. Ini akan jadi langkah pertamaku” Kai tersenyum getir. Namun menyiratkan ada harapan di sana.

                   “Aku akan mendukungmu, Kai. Aku akan datang saat festival nanti. Kita sudah resmi berteman kan sekarang” Ia menyemangati Kai sambil memberikan senyumnya yang cantik, secantik matahari yang hampir terbenam.

                   “Omo.Sudah hampir malam, Kai. Aku harus pulang sekarang” wajahnya sangat lucu saat Ia berekspresi kaget.

                   “Annyeong, Kai. See ya” Ia berdiri dan sedikit berakting dengan membungkukkan badan layaknya ballerina pada Kai. Yeoja itu berlalu meninggalkan Kai yang masih duduk disana.

                   “Ya, Miss America.Aku belum tahu siapa namamu” Kai seketika berdiri dan berteriak kearah yeoja yang belum melangkah jauh itu.Ia lalu berbalik, menuliskan sesuatu di cangkir kopinya tadi, dan meninggalkannya di tempat Ia berdiri sekarang. Ia kembali melambaikan tangan pada Kai.

                   Kai berjalan pelan melawan arah matahari sore menuju cangkir kopi yang yeoja itu tinggalkan.Ia tersenyum saat melihat tingkah yeoja itu yang masih seperti anak-anak. Namun seketika senyumnya perlahan memudar digantikan dengan ekspresi tertegun saat melihat tiga kata pada cangkir kopi yang tertulis dalam hangul dan terbaca Kim Hyo Jae.Ia terdiam sambil memandangi yeoja yang sudah jauh berjalan memunggunginya itu.

♪♪♪

          (Author POV)

                   “Tidak mungkin, tidak. Ada banyak yeoja dengan nama Kim Hyo Jae. Iya benar. Tidak mungkin Ia Hyo Jae yang sama” Kai mencoba untuk menenangkan diri akan fakta yang baru saja terungkap beberapa menit lalu.

                   “See. There so many people named Kim Hyo Jae, right?” Kai tersenyum saat melihat artikel terkait dengan nama itu di salah satu mesin pencari. Namun entah kenapa sepertinya Ia masih meragukan asumsi yang ia rekatkan di kepalanya saat ini.

                   Kai lagi-lagi terdiam. Pandangan matanya kosong saat menatap kata kunci yang Ia tuliskan di mesin pencari. Ia bahkan menuliskan tiga kata itu dengan huruf kapital. KIM HYO JAE. Sesekali Ia terlihat menggeleng keras menyangkal pikiran yang tidak Ia inginkan.

                   Penyangkalan Kai sangat beralasan sebenarnya. Kemungkinan yeoja dengan nama yang sama cukup besar. Namun Ia kembali teringat bahwa Hyo Jae ini sama-sama punya teman sekolah dasar bernama Oh Sehun. Mengingat hal ini membuatnya semakin yakin bahwa yeoja itulah yang selama ini Ia ingin temui. Enam tahun lamanya Ia menunggu kesempatan berharga seperti ini. Seharusnya tidak ada yang harus Kai sangkal atau Ia kembali menjadi pengecut bahkan untuk meminta maaf. Kemungkinan lainnya Ia tidak ingin bertemu kembali dengan cara seperti ini. Ini tidak seperti yang Ia inginkan. Ia ingin yeoja itu memaki atau bahkan menamparnya saat pertama kali bertemu bukannya menolongnya seperti waktu itu.

                   “Sepertinya dia tidak tahu kalau aku Kim Jongin” Kai kembali cemas menyadari satu hal lagi.Ia cemas membayangkan Hyo Jae yang akan kecewa setelah mengetahui bahwa Kai adalah Kim Jongin yang pernah membuatnya menangis. Membuat seorang Hyo Jae yang periang menangis.Namun bukan hanya sekali ternyata.

                   “Lets answer number nine” seorang guru bahasa Inggris kelas lima mengajak siswanya untuk coba menjawab pertanyaan.

                   Beberapa siswa terlihat mengacungkan jarinya berebut ingin menjawab pertanyaan nomor sembilan.Namun, guru tersebut menunjuk Jongin kecil yang memperhatikan teman-temannya tanpa berniat ingin ikut berpartisipasi.

                   “The answer is false. Because the supermarket is not next to the shoe shop but between information desk and bakery” Iamenjawab dengan lantang dengan penuh percaya diri akan jawabannya yang tepat.

                   “Okay, that’s right, Jongin. Thank you. Now who wants to answer the last question?” sang guru kembali memberi kesempatan pada siswanya untuk menjawab dan lagi-lagi mereka berebutan ingin menjawab.

                   “Yup, Hyo Jae.You can answer the last question” guru berambut pendek itu mempersilahkan seorang siswa perempuan bernama Hyo Jae untuk menjawab.Namun, siswa itu seperti kehilangan konsentrasinya dan terdiam karena tidak bisa menjawab.

                   “I think she can’t answer it. It’s so easy, isn’t it?. The answer is true. Why? Because Yummy Restaurant is on the third floor”  Jongin kecil menyerobot kesempatan Hyo Jae. Jawaban lantangnya membuat seluruh kelas bertepuk tangan.Ia menyeringai meledek Hyo Jae yang hanya terdiam memandangi buku teksnya.

                   Kai kembali teringat akan salah satu sikap memalukannya. Itu bukan kali pertama atau kedua dan yang terakhir adalah saat Hyo Jae kecil menangis hari itu. Meskipun itu bisa dikategorikan kenakalan anak-anak biasa namun entah Kai merasa ini bukan hal yang bisa Ia abaikan begitu saja. Ia memandang coat Hyo Jae yang yeoja itu pinjamkan di saat Ia menderita kram perut beberapa waktu lalu. Merasa kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa itulah yang Ia rasakan saat ini. Apapun keputusannya Ia harus siap akan segala resiko terburuk sekalipun.

♪♪♪

          Pukul 11:30 PM

(Taemin POV)

                   “Hyung, apa kau tahu kalau Hyo Jae ada disini sekarang?Di Korea, hyung” Kai langsung berbicara saat aku mengangkat teleponnya.Dengan begitu antusiasnya.

                   “Yaa, Kai. Tolong bicara dengan jelas. Siapa yang ada  disini?” aku memintanya melambatkan tempo bicara.

                   “Hyo Jae. Kim Hyo Jae, hyung” Kai melambatkan nada bicaranya. Memenggal kata per kata agar aku mengerti apa yang Ia maksud.

                   “Aku bertemu dengannya” Kai melanjutkan kalimatnya.

Satu nama yang baru saja Ia ucapkan membuat aku terkejut. Dan fakta bahwa Ia sudah bertemu dengan yeoja itu sekali lagi membuat aku tidak percaya.

                   “Hyung, kau masih disana?”Kai menyadarkan bahwa aku masih terhubung dengannya.

                   “Oh. Aku masih mendengarkan” aku menjawab sekenanya mencoba menenangkan diri dari kekagetanku. Tapi aku ingin tahu lebih banyak apa yang sebenarnya terjadi.

                   “Dua minggu lalu saat aku terkena kram perut kami bertemu untuk pertama kali dan tadi aku kembali bertemu dengannya di sekolahmu” Kai menjelaskan tanpa ragu.

                   “Hyo, kenapa kau tidak bilang kalau sudah sampai? Aku kan sudah bilang kalau harus segera menghubungiku, huh?” aku mencoba terlihat kesal padanya.

                   “Miannheyo, oppa. Aku juga baru sampai tadi sore karena pesawatnya delay selama satu jam. Ketika sampai entah kenapa aku sangat ingin sekali makan jjangmyeon.Jadi aku langsung kesana tadi” Hyo Jae meminta maaf padaku.

                   “Kita kan bisa makan bersama, Hyo” aku masih berakting kesal.

                   “Hoaa.Miannhe, oppa.Maaf yaa. Kita bisa pergi bersama besok kan?” Ia sudah merangkul tanganku sekarang. Aku akhirnya tersenyum.

                   “Ne, baiklah. Oh, apa kau punya dua smartphone, Hyo? Dan ini?” tanyaku sambil menunjuk satu smartphone dan jaket kulit berwarna hitam yang masih Ia pegang.

                   “Oh, tidak, Oppa.Ini punya seseorang yang tertinggal tadi. Mungkin nanti aku bisa kembalikan padanya setelah Ia membayar makanannya tadi”

                   Aku teringat Hyo menceritakan tentang seorang namja yang terkena kram perut.Ia menyayangkan bahwa namja itu harus merayakan ulang tahunnya di rumah sakit. Dan Kai berulang tahun di hari kepulangan Hyo.Ia juga masuk rumah sakit karena kram perut hari itu.

                   Dan satu hal terakhir yang membuat aku yakin jika mereka sudah bertemu adalah kejadian tadi siang saat Hyo berencana menemuinya yang batal karena Ia harus pergi terburu-buru. Aku seolah beberapa kali terlempar kembali ke beberapa memori yang ternyata semuanya berhubungan.Seketika aku begitu ingin menyangkal bahwa ini semua hanya imajinasiku saja.

                   Apa itu benar dia, hyung?Tapi sepertinya dia tidak mengenaliku” kalimat terakhir Kai sedikit membuatku tenang.

                   “Apa kau sudah bertemu dengannya?”Kai kembali bertanya.

                   “Entahlah, Kai. Aku tidak tahu siapa yang sedang kau bicarakan ini.Tapi bukankah bagus kalau dia memang Hyo Jae?” aku berbicara lambat mencoba agar suaraku terdengar senormal mungkin.

                   “Entahlah, hyung.Aku juga tidak tahu.Aku cuma takut dia akan kecewa jika tahu teman barunya ini adalah musuhnya di masa lalu” suara Kai terdengar sedih.

                   “Sudahlah jangan ganggu konsentrasimu karena hal sepele seperti ini.Bukan berarti aku menganggapnya tidak penting tapi kau harus fokus pada festival bandmu hari sabtu besok. Aku akan coba mencari tahu nanti” aku menenangkannya yang bila mulai panik akan mudah untuk kehilangan konsentrasinya untuk hal apapun.

                   “Ne, hyung.Gomapta” Kai menutup telepon.

                   Aku menatap layar smartphone-ku dengan sedikit emosional.Terdapat sebuah foto seorang yeoja sedang menyeruput kopi yang diambil secara candid dari samping sebagai wallpaper.Aku memandang lirih wajahnya.Ada sesuatu yang berkecamuk di antara hati, pikiran, dan perasaanku.Ketiganya sedang tidak beriringan sejalan sekarang.Saat hatiku berkata aku mencintai yeoja ini, perasaaanku juga mengatakan bahwa aku menyayangi Kai yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri dan yang terparah pikiranku menyemangatiku untuk bersaing dengannya.Hampir saja aku membanting smartphone tipis itu ke lantai.Aku harus bisa berdamai dengan salah satu diantaranya secepat mungkin.Jika tidak aku bisa mati sepertinya. Mati karena jika aku mengikuti salah satu maka pasti akan ada satu hati yang terluka. Kalau bukan hatiku maka itu adalah Kai.

to be continue

30 pemikiran pada “Unbroken (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan ke tiyabaekkie Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s