Crazy Twins (Chapter 1 of 2)

Crazy Twins (1/2)

 crazy-twins2

Title : Crazy Twins | Author : Julia Hwang

Genre : Thriller, Psyco, Mistery | Rating : PG15+ | Leght : Twoshoot

.

Main Cast :

F(x) Krystal | EXO Sehun | EXO Luhan

Other Cast :

EXO Kai | F(x) Sulli

Cover by : Princess @Poster State

 

Disclaimer : 

Fanfiction ini murni hasil dari imajinasi semata. Para cast adalah milik Tuhan, keluarga dan agency mereka tentunya. Mereka hanya di pakai untuk kepentingan dari cerita. Jika ada kesamaan judul ataupun alur cerita, itu hanya unsur ketidaksengajaan ! Jika memang ada, dia dan saya sehati ! ❤

 

Summary :

“Kumohon.. untuk kali ini.. jangan pernah.. tinggalkan aku sendiri!”

 

Warning for typo guys!! 😀

HAPPY READING~! ^^

 

~Crazy Twins~

 

“Apa yang kau lakukan ? Kau baru saja membunuhnya!”

“Eng.. Aku benci mereka! Mereka terlalu cerewet! Aku benci mereka!”

“Lalu apa yang akan kita lakukan ?”

“Biarkan mereka disini, hyung. Mereka akan terlihat baik.”

“Hilangkan semua bukti yang ada! Tenanglah, aku akan selalu berada di sampingmu.”

“Terimakasih, hyung”

-***-

 

Krystal POV

Aku membuka mataku dan beberapa kali mengerjapkannya. Kubangkit dari ranjang dan kurenggangkan tanganku yang sebelumnya kaku tak bergerak. Entah kenapa di pagi ini aku merasa sangat nyaman, dan kembali perutku mulai berbunyi tanda lapar. Aku segera beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi. Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi dan sekarang adalah hari minggu. Hari minggu adalah hari dimana.. Oh iya, aku bahkan lupa, hari ini aku ada janji dengan kedua sahabat tercintaku untuk melakukan lari pagi minggu ini.

Dengan gerakan cepat aku mulai bersiap-siap, setelah mandi aku mengenakan setelan celana kain panjang dan kaos simple berwarna putih. Aku menguncir kuda rambutku dan langsung turun ke bawah dengan senyum merekah. Benar saja, Sehun dan Luhan sudah duduk di meja makan bersama dengan Ibu dan tersenyum hangat ke arahku.

“Kau telat 5 menit.” Kata Luhan memberitahu sambil menunjukkan jam yang melingkar manis di tangannya.

Aku melipat tanganku di dada dan mengerucutkan bibirku kesal. “Ck! Kalian saja yang terlalu rajin datang kemari.”

Sehun dan Luhan tertawa keras, bahkan Ibuku juga menertawakanku. Hey.. Apakah ada yang salah ? Aku langsung mengambil roti berisi selai yg disiapkan Ibu dengan wajah kesal. Sehun langsung bangun dari tempat duduknya dan merapikan kunciranku lalu tersenyum ke arahku. Aku membuang wajahku dari tatapan yang kutau mereka akan menggodaku setelah ini. Sehun menarik lenganku agar keluar dari rumah dan aku hanya menurut saja dengan mulut penuh dengan roti yg kumakan.

“Omonim.. Kami pergi sekarang. Annyeong~!”

Kudengar Luhan berpamitan pada ibuku dan mulai menyusul kami berdua hingga kudengar lagi ibu berteriak agar pulang tidak terlalu siang dan aku hanya mengangguk lalu berjalan di tengah kedua sahabat tampanku ini.

.

.

.

“Kalian tahu ?” Aku membalikkan tubuhku dan berjalan mundur sambil menatap mereka dengan senyuman manja. Mereka mengerutkan kening bingung. Aku selalu suka melihat ekspresi kedua saudara kembar di hadapanku ini.  Setiap mereka berekspresi yg sama, itu membuat mereka berdua terlihat menggemaskan.

“Tahu apa ?” Jawab mereka serempak. Aku kembali di buat tertawa oleh mereka. Aku menghentikan langkahku dan sedikit menyondongkan tubuhku agar wajahku dekat dengan mereka berdua. Dan hasilnya mereka sedikit terkejut melihat perlakuanku seperti itu.

“Kai ingin mengajakku berkencan nanti malam!”

“APA ??!!”

Aku menutup rapat-rapat telingaku dan berubah panik saat mendengar teriakan heboh mereka. Mereka langsung memberikan tatapan tajam dan menakutkannya padaku. Aku pastinya tetap cuek dan memalingkan wajahku dari mereka.

“Kau tidak boleh berhubungan dengan bajingan itu!”

Aku menoleh tajam ke arah Luhan “Ya! Apa yang kau bicarakan ? Kai pria yg baik. Siapa kau berani menyuruhku ?!”

Betapa bodohnya aku saat berkata seperti itu pada Luhan dan pastinya Sehun juga akan merasa tersinggung. Angin pagi semakin berhembus kencang dan mulai memasuki pori-pori kulitku. Sangat dingin dan ditambah lagi tatapan tajam dan menakutkan kedua pria di hadapanku ini semakin mengerikan. Mereka seakan ingin melubangi kedua mataku saat ini dan pastinya aku menyerah. Aku tersenyum kikuk ke arah mereka dan menggaruk tengkukku. Melihat tidak ada perubahan apapun dari wajah mereka, aku segera berdiri di tengah-tengah dan merangkulnya.

“Hey.. hey.. Aku hanya bercanda! Jangan tersinggung kumohon. Ini semua tidak benar-benar terjadi. Aku hanya ingin melihat respon kalian dan ternyata ini respon terburuk yg pernah kudapatkan. Sudahlah ayo tersenyum kembali!” Pintaku memohon sambil mencubiti pipi kedua pria kembar di sebelah kanan dan kiriku ini.

Aku tahu ini kesalahan terbesar. Aku telah membangunkan macan-macan manis yg berada di dekatku. Saat mendengar kata Kai ataupun Sulli (teman sekelas kami juga) mereka pasti akan berpura-pura tuli atau menyuruhku menjauh dari mereka. Sehun dan Luhan membenci kedua orang yg kusebutkan tadi. Sejak awal bersekolah mereka berempat tidak pernah mendapatkan moment yg baik untuk sekedar berkenalan atau berteman. Di mata Sehun dan Luhan, Kai adalah seorang bajingan yg sok pintar. Sedangkan Sulli, menurut mereka gadis itu hanyalah gadis cerewet bermulut besar yang selalu membela Kai dimanapun mereka berada.

Sejak dulu aku ingin sekali mendamaikan kedua kubu yg terus menerus bersiteru ini. Karena aku juga selalu terlibat dalam kasus mereka, Kai menyukaiku dan Sehun maupun Luhan membenci jika aku berada di dekat Kai dan itu adalah kasus besar bagiku. Entah kenapa karena Sehun dan Luhan membencinya, aku juga ikut membenci Kai dan Sulli. Tapi itu terpaksa, karena aku lebih menyayangi Sehun dan Luhan dan mempercayai mereka.

Akhirnya setelah menggoda mereka cukup lama, senyum simpul terulas di kedua bibir pria kembar ini. Perasaan lega langsung muncul dan ikut membalas senyuman mereka.

“Cukup mudah ternyata membuat kalian tersenyum.” Kataku bangga membuat mereka mengerucutkan bibir kesal dan membuang pandangannya padaku.

Kami melajutkan jogging pagi hari ini dengan bercanda dan mereka tak henti-hentinya membully dan terus membuatku kesal. Tawa, canda, kasih sayang dan apapun selalu aku dapatkan dari kedua pria ini. Aku sungguh menyukai dan menyayangi mereka. Entah apa jadinya jika mereka pergi jauh dariku. Maka hingga sekarang aku tak akan pernah mempercayai orang lain, selain mereka dan kedua orang tuaku.

.

.

.

Malam harinya, seperti biasa aku selalu berkutat dengan buku-buku pelajaran di hadapanku ini. 2 minggu lagi waktunya kami semua akan mengikuti tes kelulusan selama sepekan penuh. Aku harus mempertahankan peringkat pertama agar bisa mendapatkan universitas yg ku idamkan selama ini, Universitas Seoul. Di sela-sela waktu belajar, aku mengingat Sehun. Ia sempat bilang dia akan masuk di universitas yg sama denganku suatu saat nanti. Aku ingin menagih janji pria itu. Berbeda dengan Luhan, ia masih bingung ia akan melanjutkan sekolahnya di Seoul atau negara kelahirannya California.

Aku menyangga ponsel dengan bahuku dan tertempel dengan sempurna di telingaku setelah sebelumnya aku menekan tombol panggilan pada Sehun. Selagi menunggu panggilan tersambung, aku kembali membuka halaman demi halaman buku yg makin lama makin membosankan ini. Sejak tadi aku sudah berapa kali mempelajarinya. Baru saja halaman selanjutnya kubuka, sebuah suara terdengar di seberang ponselku.

“Sehun-ah..” Teriakku semangat dan terdengar sangat manja padanya. Kuyakin anak itu akan memuntahkan seluruh isi perutnya di kala mendengar suara cemprengku yg indah ini.

“….”

“Ya! Berikan ponselnya pada Sehun!” Kataku kesal yg ternyata itu adalah Luhan dan mulai meneriakiku saat ini.

“….”

“Ne arraseo.. arraseo.. Kau sedang apa ?”

“….”

“Baiklah. Besok pagi giliran aku yang menjemput kalian. Hoho entah kenapa aku merindukan omonin dan abonim. Hihihi”

“….”

“Oe ? Kenapa seperti itu ? Hmm.. Baiklah..”

“….”

“Ne.. Sampai bertemu besok.”

Panggilan akhirnya terputus. Aku menghembuskan nafasku berat sambil menatap buku pelajaran yang berada di hadapanku dengan wajah tertekuk. Tadi, baru saja untuk pertama kalinya Luhan memarahiku. Berteriak dengan suara yg terdengar penuh amarah dan rasa takut. Apa ada yang salah dengan ucapanku ? Aku hanya ingin berkunjung karena akhir-akhir ini sangat jarang untukku bisa berkunjung lagi ke rumah mereka. Tapi saat keinginan itu baru saja akan terpenuhi, mereka seakan menghindar dan membuatku seperti orang asing yg tak berhak masuk di kehidupan mereka.

Ada apa dengan kedua sahabatku itu ? Kenapa mereka berubah ? Sudah lama aku memperhatikan,  tatapan mata itu sudah tak setenang dulu lagi. Senyuman mereka telah berubah menjadi senyuman menakutkan yg tak jarang aku melihatnya. Kata demi kata yang mereka ucapkan jauh berbeda dengan kata manis yang mereka ucapkan terdahulu. Semua berubah saat mereka berkunjung kembali ke California beberapa bulan yg lalu.

Aku memulai memikirkan hal itu lagi. 5 bulan yg lalu mereka pulang ke tempat asal mereka dan setelah itu semua seakan berubah total. Aku tak pernah melihat omonim dan abonim lagi. Semua seakan lenyap penuh misteri. Rumah yang berdiri kokoh tepat di depan rumahku sekarang terlihat menakutkan. Yang ada hanya tanda-tanda Sehun dan Luhan. Aku percaya mereka menutupi sesuatu. Saat kutanya mereka selalu mengatakan sesuatu yg cepat membuatku percaya. Saat kutanya lagi, dimana omonim dan abonim, mereka mengatakan omonim dan abonim sedang berada di Berlin menjalani bisnis keluarga. Rumah mereka yg semulai begitu terang menderang di penuhi lampu sekarang nampak menyedihkan dan menakutkan. Siang dan malam, lampu tak lagi terlihat menyinari rumah penuh kenangan itu. Terakhir aku masuk ke dalam sana 3 tahun lalu, dimana Sehun dan Luhan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk ulang tahun mereka yg ke 15 tahun.

Aku bangkit dari ranjangku dan berjalan ke arah balkon. Aku berdiri sambil menatap rumah itu lagi. Rumah kedua sahabatku yang masih tetap di selimuti kegelapan. Seberkas cahaya pun hanya terlihat sedikit dan itu hanya berasal dari lantai dua, tepat di kamar mereka. Aku ingin sekali menanyakannya, tapi rasa takut mereka akan marah atau tersinggung selalu menguasi diriku. Aku hanya bisa diam dan bungkam dengan tangan yg menyangga wajah kusutku.

“Apa yg terjadi dengan kalian ?”

 

~Crazy Twins~

 

Pagi hari ini aku mulai tak bersemangat. Semalam aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Di pikiranku hanya berputar-putar wajah Luhan dan Sehun secara bergantian. Dan lagi untuk hari ini, pembelajaran di sekolah akan semakin bertambah karena ujian kelulusan yg tinggal menghitung hari. Aku memasukkan semua buku ke dalam ranselku. Hanya tinggal memakai sepatu dan blazer aku akan berangkat.

Baru saja aku keluar dari kamarku, suara bel rumah berbunyi. Aku mengintip dari lantai dua dan melihat Sehun dan Luhan sudah datang dan seperti biasa ibu menyambut mereka berdua hangat. Aku menuruni tangga dengan senyum palsu yg di paksa. Aku tak mungkin memperlihatkan wajah burukku pada mereka dan mendapat ribuan pertanyaan yg akan mereka lontarkan. Tapi sepandai-pandainya aku menyembunyikannya, salah satu dari mereka tetap mengetahui.

“Hey.. Kenapa kantung matamu ? Kau habis menangis ? Atau kau tidak tidur semalaman ?” Tanya Sehun dengan penasaran di tambah lagi Luhan dan Ibu menatapku menunggu jawaban. Aku hanya bisa menggaruk tengkukku yg tak gatal dan terkekeh kecil.

“Aku tidak bisa tidur semalam.”

“Kau begadang ?” Kembali kali ini Ibu bertanya. Aku mengerucutkan bibirku “Aku belajar untuk ujian kelulusan nanti.”

“Bodoh. Itu masih 2 minggu lagi.”

Semakin lama mereka berdua.. tidak ibuku juga ikut membully ku sekarang. Aku merasa tersudut dan kurasa apa yang kukatakan selalu salah di mata mereka. Aku menghembuskan nafas berat dan berlalu menuju dapur. Pandangan mereka masih mengarah padaku dan aku tidak peduli. Aku lelah dan butuh tidur. Bersekolah pun aku merasa malas hari ini. Ini semua karena Sehun dan Luhan.

Kusapa bibi choi yang sedang memasak di dapur dan mengambil sepotong roti yang baru saja keluar dari oven. Kudengar langkah kaki menuju ke arahku, aku menoleh ternyata Sehun dan Luhan sudah berada di sampingku. Aku tersenyum sekilas pada mereka dan melanjutkan acara sarapanku. Semua kembali diam dan terasa sangat canggung. Tumben sekali kedua saudara kembar ini ikut diam. Biasanya mereka selalu cerewet di manapun dan selalu mempunyai bahan untuk membuat suasana menjadi konyol seperti mereka. Sekarang aku diam mereka juga diam.

.

.

Sesampainya di sekolah, Sehun dan Luhan tetap berada di sisiku. Baru saja aku ingin memasuki kelas dengan mereka, murid-murid yg berada lebih dulu disana mulai berlari keluar. Semuanya berlari dengan wajah yang terlihat takut dan penasaran. Apa yang terjadi sebelumnya aku tidak tahu. Aku melihat Kai dan Sulli berlari beriringan dengan wajah panik. Mereka berlari bersama Taeyeon seongsangnim dan aku mulai penasaran karena mereka sedang menuju gedung olahraga. Aku berbalik menatap kedua sahabatku secara bergantian. Wajah mereka juga nampak bingung dengan situasi pagi ini.

“Apa yang terjadi ?”

Mereka berdua mengangkat bahu tidak tahu. “Lebih baik kita juga kesana!” Ajak Luhan dan mulai menarik tanganku dan di ikuti Sehun.

Kudengar dengan jelas di luar geduang, suara orang berteriak silih berganti. Rasa panik dan penasaran semakin menyelimutiku. Aku mempererat genggaman tanganku pada Luhan dan kurasakan tanganku mulai basah karena keringat dingin.

Baru saja kami sampai, puluhan murid telah berkerumun membentuk lingkaran yang cukup besar. Ada yang berbisik, ada yang berteriak histeris dan bahkan ada yang menangis saat ini. Kulihat lagi, beberapa  anak perempuan ada yang sampai jatuh pingsan. Apa yang terjadi ? Ada apa di dalam sana ? Pertanyaan itu terus menghatui pikiranku sekarang. Tiba-tiba aku merasakan mulas di dalam perutku.

Luhan kembali menarik tanganku memasuki kerumunan. Sehun tetap setia mengikuti kami di belakang dan mulai menggenggam tanganku yang satunya. Aku menutup mata, aku tidak berani melihat apa yang ada di hadapanku saat ini. Suara teriakan yang histeris semakin membuat telingaku sakit. Jantungku terus berdegup dengan kencang bahkan mungkin sebentar lagi akan copot. Kurasakan kedua genggaman tangan dari Sehun dan Luhan melemas. Aku terpaksa membuka mataku tapi dengan cepat Luhan memelukku dan menyembunyikan wajahku di dekapan dadanya seperti melarangku untuk melihat semua. Kudengar degupan jantung Luhan juga sama seperti degupan jantungku saat ini.

Aku penasaran dan sedikit mengintip dari dalam dekapannya. Walaupun terlihat hanya sedikit tapi itu sangat jelas. Banyak darah berceceran di lantai. Sangat banyak dan warnanya bahkan menandakan itu masih sangat segar. Aku mulai melepas dekapan Luhan dan akhirnya aku melihat itu. Mataku tak berhenti membelalak lebar. Mulutku menganga seakan lupa cara menutupnya. Tepat di hadapanku saat ini, melihat dengan mata kepalaku sendiri apa yang orang-orang lihat tadi.

“AAAGGGGGHHHHHH . . . . !!!”

Aku berteriak sekencang-kencangnya dan menutup mata dan telingaku. Aku tidak peduli suaraku akan habis sebentar lagi. Luhan kembali mendekapku dan mengelus pundakku yg mulai bergetar. Tak kurasa aku menangis. Aku mempererat pelukan Luhan dan menangis sekencang mungkin. Isakan tangisku bahkan mungkin akan membuat beberapa telinga ngilu jika mendengarnya. Kudengar suara sirine polisi mulai terdengar dari arah depan. Bahkan sangat keras dan kupikir akan banyak polisi yang akan datang. Tangisanku belum berhenti sampai tiba-tiba Luhan melepas pelukannya padaku dan memegang bahuku dengan kuat. Aku terus menerus menunduk sambil menangis. Bisa kulihat lantai di bawahku berubah, aku sudah jauh dari gedung olahraga dan mungkin aku sedang berada di kelas.

Aku memberanikan diri mengangkat kepalaku. Wajahku telah penuh dengan air mata. Yang kulihat saat ini hanya ada Luhan, Sehun dan aku yang berada di dalam kelas. Ekspresi takut dan panik sangat terlihat di wajah Luhan dan Sehun. Mereka menatapku sendu.

“A-Apa..yang.. terjadi deng—“

“Tenanglah.” Sehun menghentikan kalimatku dan duduk di sebelahku sambil mengelus lembut pundakku. Aku masih menatapnya dengan rasa takut yang sungguh, ini untuk pertama kalinya rasa takut ini seperti membuatku kehilangan arah. Apa yang aku pikirkan seakan berhenti dan semua tergambar jelas di dalam kepalaku tentang kejadian yang baru saja di suguhi untukku.

“Kau akan baik-baik saja.” Sehun kembali melanjutkan kalimatnya dan akupun menghambur ke pelukannya. Tubuhku bergetar sedari tadi. Aku sangat sangat takut. Aku tak ingin pergi jauh dari mereka.

“Jangan.. tinggalkan aku.” Kataku tergagap “Kumohon.. untuk kali ini.. jangan pernah.. tinggalkan aku sendiri!”

“Baiklah.. Kami berjanji!”

 

-***-

 

Suasana kelas kini menjadi semakin memburuk. Rasa takut kini menyelimuti hampir setiap murid yang melihat kejadian mengerikan tadi. Di pikiranku hanyalah rumah. Aku ingin pulang dengan cepat hari ini. Taeyeon seongsangnim nampak frustasi di depan kelas. Ia duduk di meja guru sambil mengecek beberapa berkas yang entah apa isinya. Aku melihat ke sekelilingku dan beberapa di antara mereka memiliki ekspresi yang tak beda jauh dariku. Takut, panik dan bingung.

Hari ini, tepat hari Senin tanggal 2 Juni 2014 semua terjadi. Kejadian mengerikan menimpa sekolahku. Huang Zi Tao salah satu murid senior sekolah dan security sekolah, Jimin ahjussi mati mengenaskan di gedung olahraga pagi ini. Darah segar bercucuran di berbagai anggota tubuh mereka. Sungguh, saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dunia seakan berhenti. Semua terlihat berputar-putar dan kepalaku terasa sangat-sangat pusing saat itu.

Mobil polisi dan ambulance semakin banyak datang berkerumun ke sekolahku. Rasa takut semakin menjadi saat beberapa polisi melewati koridor kelasku dengan langkah lebar dan wajah yang panik. Apa yang sebenarnya terjadi hari ini ? Kenapa hal itu bisa terjadi ? Siapa yang membunuh mereka ? Berbagai pertanyaan sekarang menghiasi kepalaku.

Aku menoleh ke sebelahku, Sehun masih diam dan enggan untuk bicara. Wajahnya terlihat tenang dan tidak ada rasa takut sama sekali. Begitu juga dengan Luhan dan aku melihat Kai, ia juga sama tenangnya dengan dua pria kembar yang duduk di sebelah kanan dan di depanku.

Taeyeon seongsangnim bangkit dari tempat duduknya dan berdiri tepat di depan kelas. Wajahnya berubah lemas dan sendu. Ia menatap kami seolah kami harus tetap tenang dan tidak panik. Aku melihat ia menghembuskan nafas panjang.

“Ini adalah kejadian pertama yang menimpa Baidu High School. Selama 5 tahun aku bekerja disini, tidak pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya. Aku kira ini hanya sebuah kecelakaan dan kuharap kalian tetap tenang dan fokus. Ujian kelulusan akan berlangsung beberapa hari lagi. Aku berjanji ini tidak akan terulang.”

Bukannya membantu, kata demi kata yang di ucapkan Taeyeon seongsangnim malah semakin membuatku frustasi. Ini bukan sebuah kecelakaan! Ini sudah diatur! Mereka dibunuh dan pembunuh itu masih berkeliaran di sekitar sekolah ini. Itu yang aku takutkan dan itu yang membuatku tidak mempercayai siapapun mulai sekarang.

“Polisi akan segera menangani kasus Huang Zi Tao dan Jimin ahjussi secepatnya.” Taeyeon seongsangnim menambahi dan kembali duduk di tempatnya. Kuharap ini akan cepat berakhir dan tidak membuat nilai ujianku hancur karena masalah ini!

Krystal POV End

 

~Crazy Twins~

 

Baidu High School telah berubah 180% hari ini. Tidak ada tawa, tidak ada canda, tidak ada yang berkeliaran di koridor atau lapangan sekolah, tidak ada yang bergosip di kantin dan tidak ada aktifitas seperti biasanya. Semua murid seakan berubah menjadi mayat hidup secara tiba-tiba. Berkumpul di kelas dan mengurung diri, mereka seakan ingin menjaga satu sama lain karena kasus mengerikan pagi ini.

Krystal merebahkan kepalanya di atas meja dan memejamkan matanya. Tak di sangka, Sehun yang berada di sampingnya juga ikut melakukan hal yang sama dan mereka saling berhadapan. Sehun menatap Krystal dalam. Matanya tak henti menatap mata Krystal yang tertutup. Semilir angin dari arah jendela membuat Krystal sedikit menggeliat dan membuat Sehun tersenyum. Sehun mengangkat tangannya menyentuh rambut Krystal. Gadis itu masih tidak bergerak saat Sehun merapikan rambut-rambut kecil yang ingin menutupi wajah cantiknya. Tapi akhirnya, gerakan Sehun membuat Krystal tersadar dan beberapa kali mengerjapkan matanya. Ia menatap Sehun dengan kening berkerut.

“Apa yang kau lakukan ?” Tanya Krystal sedikit bingung. Ia menyangga dagu dengan sebelah tangannya dan tetap menghadap ke arah Sehun. Baru saja Sehun ingin menjawab, tiba-tiba Luhan datang membawa kabar yang akan membuat Krystal kecewa saat ini.

“Krystal..” Ia memanggil Krystal lirih dan menatapnya sendu. “Aku dan Sehun.. Akan menyusul ayah dan ibu ke Berlin besok lusa. Ada acara keluarga yang harus kami datangi.”

Betapa shock Krystal mendengar pengakuan Luhan yang sekarang hanya bisa menunduk di hadapannya. Baru saja kejadian gila menimpa sekolah dan pastinya akan meninggalkan teror besar, tapi orang-orang yang tadinya berjanji padanya untuk melindungi dirinya akan pergi meninggalkannya. Apa semua orang sudah gila sekarang ?

“Kau sudah gila! Kau dan Sehun bahkan baru saja berjanji untuk tidak meninggalkan dan melindungiku, tapi sekarang kenapa kau tiba-tiba pergi! Kau mau membuatku mati berdiri sekarang ?” Krystal membentak Luhan dengan emosi yang menggebu-gebu. Untung saja kelas sedikit ribut jadi tak banyak yang mendengar suara Krystal yang penuh amarah. Kecuali Kai dan Sulli yang sejak awal sudah memperhatikan mereka.

“YA! Luhan jelaskan padaku!” Krystal kembali meracau kali ini sambil menarik blazer yang di kenakan Luhan. Luhan hanya bisa memandangi gadis itu dengan wajah menyesal dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Sehun mulai menggenggam kedua tangan Krystal yang tadinya sedang menarik-narik seragam Luhan dan mendekatkan gadis itu padanya. Krystal kembali menangis dan menutup wajah dengan telapak tangannya. Ia menangis dalam diam membuat Sehun langsung memeluknya.

“Jangan menangis. Kami janji, kami akan cepat pulang.” Kata Sehun menenangkan. Krystal terisak di pelukan Sehun. Ia memukul pelan dada bidang milik  pria tampan itu. Terus menangis tanpa ingin mengeluarkan suara sekecil apapun.

“Kalian membohongiku!” Katanya pelan namun terdengar oleh Sehun dan Luhan sendiri. Anehnya teman-teman di kelas mereka yang lain tak ada yang memperhatikan drama dari ketiga orang bersahabat ini. Hanya Kai dan Sulli yang tetap memperhatikan mereka tajam dari kejauhan (tempat  duduk mereka berjauhan)

“Kami tidak tahu ini terjadi sebelumnya. Ini terlalu mendadak. Maafkan kami, Krystal.” Sesal Luhan kembali di ikuti anggukan kepala dari Sehun.

“Kapan kalian akan pulang ? Sungguh, aku sangat takut saat ini.”

“5 hari sebelum Ujian kelulusan, aku dan Sehun akan kembali.”

Krystal melepas pelukan Sehun dan kembali menoleh menatap Luhan tajam “Kenapa lama sekali ?!”

Luhan mengangkat bahunya “Itu sudah ketentuan dari ayah dan ibu.”

Kembali suasana hening menyelimuti mereka. Krystal memainkan jari tangan dan menggigit bibir bawahnya. Tanpa sadar ia mengangguk “Baiklah.. Aku akan tetap menunggu kalian.”

Sehun dan Luhan saling pandang lalu tersenyum. Mereka berdua memeluk gadis manis yang sejak tadi menangis itu dan menghusap lembut rambutnya. Mereka menyayangi Krystal layaknya adik kandung mereka sendiri, sama seperti Krystal ia bahkan hanya percaya pada dua saudara kembar tampan ini. Satu sekolah sudah tahu mereka telah bersahabat sejak kecil. Dan tak jarang, mereka bertiga menjadi idola di kalangannya dan membuat beberapa pihak iri akan kedekatan mereka. Bahkan pernah salah satu wanita yang kebetulan sangat menyukai Sehun meneror Krystal malam-malam dan membuat Krystal dengan terpaksa harus menjauhi mereka sehari. Tapi sungguh malang nasib gadis-gadis yang menyukai mereka karena Sehun dan Luhan tak pernah menganggap mereka ada dan mengacuhkannya.

Sehun dan Luhan terkenal sebagai kembar pemilih di sekolah mereka. Mereka jarang berteman atau bahkan bertegur sapa dengan murid-murid lain di Baidu High School. Yang mereka tahu hanyalah Krystal dan harus berada di samping gadis itu setiap saat. Selama 3 tahun bersekolah Sehun dan Luhan tercatat sebagai murid yang pintar dan beberapa kali menjuarai berbagai macam olimpiade di sekolah mereka. Tapi banyak yang menyesali itu, mereka terlalu sombong dan dingin. Tidak ada kata ramah di kamus hidup mereka walaupun Krystal sudah puluhan, atau mungkin ratusan kali memberitahu mereka untuk ramah pada orang lain. Omongan mereka ceplas ceplos dan terlalu mengintimidasi dan itulah yang membuat beberapa orang tak suka dengan mereka.

Dimana ada Luhan, pasti ada Sehun. Dimana ada Krystal, pasti ada kedua manusia berwajah mirip itu. Begitu seterusnya sampai sekarang. Maka dari itu tak jarang lagi ada yang begitu dendam pada mereka. Terutama Kai dan Sulli musuh bebuyutan manusia kembar itu. Karena Kai menyukai Krystal sejak pertemuan pertama tapi Sehun dan Luhan tidak akan pernah menyetujui itu.

Akhirnya selama kurang dari dua minggu, Krystal tidak akan melihat kedua sahabat dekatnya. Dan selama itu pula ia akan menyendiri di tambah teror aneh di sekolah mereka yang belum terselesaikan. Jujur, ia bahkan bingung selama tidak ada Sehun dan Luhan apakah ia bisa ? Krystal menyesali betapa ia sangat tergantung dengan pria-pria itu. Dan kini ia sedang diuji untuk bisa melakukannya sendiri. Sendiri tanpa di temani siapapun.

 

-***-

 

Tanpa diduga, dan ini sungguh di bawah akal pikiran manusia, teror pembunuhan murid Baidu High School semakin menjadi. Belum ada 2 minggu Sehun dan Luhan pergi, sudah ada 10 korban murid mati terbunuh dengan mengenaskan di berbagai sudut sekolah. Hingga sekarang polisi pun belum bisa melacak ataupun menemukan siapa pembunuh dari murid-murid tak bersalah itu. Krystal semakin takut. Satu persatu yang ia tau, murid-murid yang mati terbunuh itu sebelumnya pernah mencari masalah dengannya ataupun Sehun dan Luhan. Saat mereka pertama kali bersekolah, menginjak tahun kedua dan untuk tahun ini. Beberapa murid itu pernah Luhan, Sehun dan dirinya cap sebagai parasit, perusak bahkan preman. Krystal begitu menyesali itu hingga sekarang mereka telah mati tanpa meninggalkan jejak apapun. Sampai kapan kejadian ini terjadi. Bahkan beberapa murid sampai pindah sekolah takut mereka akan menjadi korban selanjutnya.

Polisi sempat mengecek beberapa korban pembunuhan, di sudut leher mereka semua terdapat sebuah tanda aneh yg di ukir memakai silet atau benda tajam lainnya. Ini selalu ada di setiap leher korban seperti sang pelaku ingin meninggalkan jejak misterius disana. “P&T”, Begitulah pesan singkat yang terukir di leher korban di tambah ukiran angka-angka aneh yang polisi ketahui adalah tanggal dan jam dimana sang korban meninggal. Polisi sempat melacak sidik jari pelaku tetapi selalu tidak di temukan. Pembunuhan ini sangat aneh. Ini seperti pembunuhan berantai. Ia mencari korban dengan jenis kelamin yang berbeda-beda dan membunuhnya dengan cara yang berbeda juga. Misalnya hari ini adalah seorang pria, lalu keesokan harinya adalah seorang wanita dan begitu seterusnya. Ini masih menjadi misteri yang sulit untuk di pecahkan. Pembunuhannya sangat rapi dan bersih. Sepertinya mereka adalah pembunuh yang cukup pintar untuk melaksanakan aksinya.

.

.

.

Krystal merapikan bukunya saat bel isitrahat berbunyi. Karena teror ini ia tak pernah meninggalkan kelas selain pulang. Ia hanya duduk di bangkunya dan mendengarkan musik, kadang ia juga tertidur. Ia sudah lelah untuk menangis lagi. Setiap ada korban yang berjatuhan ia selalu saja menangis. Ia juga sedih melihat beberapa orang tua murid menangisi anaknya dan berteriak seperti orang kesurupan melihat anaknya mati mengenaskan. Ia pernah juga mengutuk semua guru dan kepala sekolah karena selalu menganggap masalah ini sebuah kecelakaan yang jangan terlalu menanggapinya serius. Apa mereka tidak punya perasaan ? Ini berturut-turut terjadi dan mereka semua masih menganggap ini masalah kecil dan hanya kecelakaan biasa ? Oke.. Mereka melakukan itu hanya untuk menenangkan seluruh muridnya agar tidak cepat panik dan terbawa suasana, tapi untuk Krystal itu adalah cara terbodoh tanpa otak yang ia tahu.

Baru saja buku terakhir ingin ia masukkan, dua orang yang tak pernah ia inginkan sekarang malah mendatanginya dan mereka duduk tepat di hadapan Krystal saat ini. Krystal tak menoleh sedikit pun, ia hanya sempat melirik dengan ekor matanya dan langsung menghembuskan nafas kesal. Setelah semua ia kira telah beres, ia langsung menoleh tajam pada kedua orang itu dan melipat tangan di dada.

“Ada apa ?” Ujar Krystal ketus. Ia sebenarnya tidak ingin mempermasalahkan apapun sekarang dan hanya ingin mencoba tenang di suasana buruk seperti ini.

Kai dan Sulli saling menatap bingung dan kembali menatap Krystal “Eng.. Sehun dan Luhan.. Benarkah mereka sedang pergi ke Berlin ?” Krystal membuka mulutnya lebar mendengar pertanyaan yang baru saja di lontarkan Sulli padanya. Kai dengan cepat kembali menampik takut terjadi kesalahpahaman dengan mereka.

“Hmm..Kumohon dengarkan kami sebentar! Kenapa kami bertanya tentang Sehun dan Luhan karena kasus dan teror pembunuhan ini kurasa ada hubungannya dengan kedua sahabatmu itu.”

“Apa kau bilang ?” Krystal kembali di buat shock. Apa yang sedang kedua orang ini bicarakan padanya. Dan kenapa mereka menyangkut pautkan Sehun dan Luhan dengan teror gila ini ? Apa mereka sedang mengadu domba sekarang ?

“Begini.. Eng.. Sangat susah menjelaskan ini padamu!” Kai dan Sulli merapatkan tubuh mereka agar apa yang mereka bicarakan tidak ada yang mendengar. Krystal yang di suruh hanya mengikut saja. Ini menyangkut kedua sahabatnya itu.

“Sebelumnya maafkan kami terutama aku sendiri, Krystal.” Kai melanjutkan kalimatnya “Beberapa hari yang lalu, sebelum murid-murid itu mati seperti yang kita lihat sekarang, aku dan Sulli sempat melihat mereka sedang berbicara dengan Luhan dan Sehun. Bukan di sekolah, tapi di luar sekolah. Mereka sepertinya berjanji untuk bertemu dan bahkan mengobrol bersama. Aku tidak berbohong, sungguh! Sulli juga bahkan beberapa kali melihatnya. Dan keesokan harinya, murid-murid itu pasti di temukan mati dengan keadaan mengenaskan. Aku tidak pernah berniat untuk mengadukan sesuatu yang tidak benar, tapi ini benar terjadi. Maka dari itu kami ingin bertanya padamu tentang Sehun dan Luhan.”

“Hahahaha…” Hanya itu yang bisa Krystal respon tentang kalimat panjang yang di lontarkan Kai padanya. Ia tertawa sekeras mungkin menganggap ini adalah sebuah lelucon yang patut di tertawakan. “Apa kalian berdua sedang mengajakku bercanda ? Hey.. Ini sangat lucu kau tau! Hahaha.. Mereka tidak berada di Seoul, mereka di Berlin apa kalian lupa ? Jadi itu tidak mungkin terjadi!”

Kai dan Sulli kembali saling memandang satu sama lain. Wajah mereka yang awalnya serius berubah pasrah sekarang. Kai kembali menghembuskan nafasnya dan melanjutkan kalimatnya walaupun ia tau Krystal sangat sulit untuk mempercayai ini semua.

“Hmm.. Aku tau kau pasti tidak akan mempercayaiku. Tapi aku akan tetap bercerita.” Krystal menghentikan tawanya dan kembali menatap Kai serius.

“Kau pernah melihat mereka semakin hari semakin terlihat aneh atau ada yang berbeda dari mereka ?” Kai bertanya dan kali ini Krystal mengangguk menyetujui.

“Aku sering melihat Luhan dan Sehun tertawa bahkan berpelukan bersama. Tapi saat aku melihat mata mereka. Menakutkan! Itu yg aku lihat saat menatapnya.” Krystal berhenti sejenak dan terlihat menghembuskan nafas kasar “Mereka seperti menyembunyikan sesuatu dariku, itu terlihat jelas dari mata tajam mereka akhir-akhir ini.”

Kai dan Sulli hanya bisa mengangguk. “Hmm.. Apa kau tahu permainan yang sering mereka mainkan ? Aku sempat mendengar itu dari beberapa murid dan saat kutanya mereka tidak terlalu jelas untuk mendengarnya. Dan juga ada yang pernah melihat, Sehun dan Luhan pernah bermain permainan itu dengan Jimin ahjussi beberapa hari yang lalu sebelum beliau meninggal bersama Tao. ” Pertanyaan kedua datang dari Sulli. Semakin lama Krystal semakin mengira ia seperti seorang saksi yang tahu betul mengenai suatu pembunuhan sampai ia ditanya pertanyaan macam itu dari Kai dan Sulli. Tapi anehnya, ia ingin sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan itu yang sebenarnya sudah lama mengganjal di hatinya.

Krystal berpikir sejenak “Aku tau permainan itu. Mereka sering memainkan sebuah permainan. Nama permainannya adalah zombie atau manusia. Jika kau memilih menjadi zombie, kata mereka kau akan mendapatkan sebuah hadiah, tapi jika kau memilih menjadi manusia, mereka bilang kau harus tetap menjadi zombie!” Kai dan Sulli nampak tersentak dengan pernyataan Krystal. Mereka saling memandang satu sama lain kembali. Bulu kuduk mereka juga merinding tiba-tiba saat angin kencang dari arah jendela juga ikut berhembus dan membuat suasana menjadi sangat dingin. Krystal kembali mengingat jika mereka pernah membicarakan permainan itu tapi ia selalu menganggap itu hanya lelucon biasa. Tapi sekarang, ia melihat Kai dan Sulli nampak sangat takut jika membicarakan permainan itu.

“Krystal, apa kau ingin teror ini cepat selesai bukan ?”

“Tentu saja! Aku benci suasana seperti ini. Membuatku muak dan merusak konsentrasi belajarku.” Omel Krystal yang mendapat senyuman dari Kai dan Sulli.

“Memangnya kenapa ?”

“Kami membutuhkan bantuanmu, bisakah ?” Sulli menimpali dengan wajah penuh harap pada Krystal. Krystal mengerutkan keningnya seolah bingung. “Kami ingin mencari tau tentang Sehun dan Luhan lewat dirimu.”

“MWO ?? APA KALIAN SUDAH GILA ?!” Krystal berteriak kembali. “Itu tidak mungkin aku lakukan. Mereka sahabatku dan kalian adalah musuh mereka yang sudah pasti juga musuhku! Untuk apa kalian meminta bantuan padaku. Maaf itu tidak aka terjadi, aku bukan orang yang suka mengumbar rahasia sahabatku pada orang lain.” Krystal bersikeras dengan kata-kata yang penuh sindiran dan penekanan.

“Aku tidak akan pernah percaya padamu! Aku percaya pada mereka!” Tambahnya lagi sambil menatap dengan mata membunuh darinya.

Kai dan Sulli semakin bingung apa yang harus mereka lakukan. Mereka membutuhkan Krystal untuk melacak pelaku pembunuh ini yang sejak awal mereka sudah mengira itu adalah Sehun dan Luhan, karena kedua pria kembar itu memiliki gelagat aneh dan penuh misteri. Mereka tidak bisa membujuk Krystal untuk bergabung.

“Kami mohon Krystal! Untuk kali ini saja. Ini demi sahabat-sahabatmu, sungguh aku tak berniat sama sekali menuduh mereka dan hanya ingin memastikan. Jika memang mereka sedang berada di Berlin, berarti besar kemungkinan rumah mereka kosong bukan ? Kami membutuhkan infromasi dari dalam rumah itu.”

Krystal kembali berpikir. Ia juga sebenarnya berniat untuk masuk kembali ke dalam rumah itu karena menurutnya ada sesuatu yang aneh yang mereka sembunyikan darinya. Entah kenapa beberapa penjelasan dari Kai ataupun Sulli ia menganggap itu benar. Tapi hatinya berkata Sehun dan Luhan tidak akan pernah berbuat seperti itu. Tapi kembali pada kenyataan, Krystal bahkan pernah sempat berpikir yang sama dengan Sulli dan Kai. Bahwa Sehun dan Luhan adalah penyebab semua ini.

“Sebenarnya aku kurang yakin dengan apa yang sudah kalian jelaskan padaku. Tapi…,”

“Tapi apa ?” Kai dan Sulli menjawab serempak.

Krystal bangkit dari tempat duduknya dan melipat tangan di dada. “Nanti malam jam 7 aku tunggu kalian di rumahku.”

.

.

.

.

.

.

-TBC-

 

Otte ? Baguskah ? Ada yang mau menunggu ? No comment untuk ff ini deh, sepertinya makin aneh dan ngebosenin -_- Saya masih setengah hati ngelanjutin ini soalnya writer’s blcok menyerang saat membuat ff ini 😥 Jika keanehan menyerang harap di maklumi, saya bukan manusia sempurna :’) Saya selalu bermasalah sama ending sebelum TBC, kayanya itu jelek banget -,- Dan maaf lagi kalau ini gak ada feel serem atau apanya, sekali lagi saya bukan manusia sempurna :’) Soalnya ini buatnya ngebut jadi ya jadinya begini ._.

Tapi saya janji, di chapter 2 END Story nya saya akan berusaha semaksimal buat ceritanya sekeren mungkin ^^ Terimakasih sudah menunggu dan jangan lupa tinggalkan jejak yaa 😉

Terimakasih sudah mau membaca dan jangan bosan menunggu saya author abal ini 😀 Sekali lagi Big Thanks for admin EXO Fanfiction yang udah mau ngepost ff ini disini ^^

Jangan lupa mampir ke blog pribadi author yaa disini :*

 

Iklan

44 pemikiran pada “Crazy Twins (Chapter 1 of 2)

  1. waaaaa ff nya kerenn
    cast nya cocok banget sama genre nya
    tapi aku ngerasa kai itu partner-nya seohyun bukan sulli (just my opini)
    sehun sama luhan cocok banget jadi psikopat kaya gitu
    waaaaa makin cinta sama luhan :*
    lanjut thor !!!!!!!! keren 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s