A Twist in My Story [Chapter 2]

ATIMS

Title : [Chapter 2] A Twist in My Story

Author : Seijurossi (Nindirau)

Cast :Cho Soyeon, Kim Jongin

Other Cast : Luhan

Genre :AU,School Life, Romance, Comedy, Friendship, Family

Length :Chapter

Disclaimer : Pure of her imagination. Casts are belong to God and themselves. She doesn’t own and surely not claiming them as hers.

Summary : Setiap orang pasti memiliki lika-liku dalam hidupnya. Bagaimana jika dalam sehari muncul dua orang yang membuat kehidupanmu berubah drastis?

      Enjoy reading. And please, have much respect on her story by not be a silent readers J

A Twist in My Story © Seijurossi (Nindirau)

Chapter Two

One Day is Like a Hell With Him

Cho Soyeon Point of View

Aku tidak percaya.

Aku masih tidak percaya.

Aku tidak ingin percaya.

Intinya, aku masih dan tidak ingin percaya mengenai kejadian kemarin. Gosh, aku berharap semua ini hanya mimpi dan aku akan terbangun lalu kembali menjalani rutinitasku. Walaupun sangat membosankan tetapi kali ini aku benar-benar ingin menjalaninya.

Ini hari Minggu. Hari libur. Kalau dulu, setiap hari aku sangat menantikan hari Minggu karena bisa bebas dari segala macam pelajaran di SMA. Tetapi sekarang? Bahkan aku lebih memilih pergi ke sekolah.

Alasannya satu, karena Kim Jongin, namjasok-kenal-sok-dekat yang sejak kemarin resmi menjadi Oppa baruku itu, juga tidak sedang sekolah—aku tidak percaya ternyata dia seumuran denganku, tetapi dia sudah menginjak kelas 2 SMA! Mukanya tua seperti itu, kukira dia sudah kuliah.

Dan bukan hanya itu, Kim Jongin ternyata bersekolah di Namkyungsan Art Academy—akademi sekolah seni yang paling elit di Seoul! Sebagai tambahan, karena alasan talentanya, dia dapat naik kelas lebih cepat.

Benar-benar sulit dipercaya.

Maksudku, yang benar saja, namja barbar seperti dia, di luar dugaan ternyata sangat berbakat?

Tetapi bukan itu masalah yang paling utama, yang menjadi masalah sekarang, justru karena dia itu juga libur, artinya seharian ini aku hanya berdua saja dengannya di rumah!

“Nah, Eomma dan Appa berangkat dulu. Jaga rumah baik-baik ya. Jangan lupa untuk saling mengakrabkan diri selama kami pergi seharian ini,” ujar Eomma sambil mencium keningku. Aku memaksakan diri untuk tersenyum. Tidak ingin membuat kencan resmi pertama Appa dan Eomma terganggu karena keterpaksaanku. Oh ya, tentu saja aku memang terpaksa. Kalau bukan karena permintaan Appa dan Eomma, pasti aku sudah pergi seharian bersama Sangmi di hari Minggu ini.

Oh ya, Sangmi adalah teman sekelasku sekaligus sahabatku.

“Jongin, jaga dongsaeng-mu ini ya.” Appa menepuk bahu Jongin.

Jongin tersenyum—entah mengapa senyumannya terasa jahat sekali bagiku—lalu berkata, “Tentu saja. Aku akan menjaganya dengan sangat baik, Appa dan Eomma tidak perlu khawatir.”

Brrrr. Mengapa perkataan Jongin sukses membuatku merinding? Dan lagi, apa-apaan dengan sikapnya yang sok manis itu? Aku yakin pasti dia merencanakan sesuatu hari ini.

Dan benar dugaanku. Beberapa menit setelah pintu rumah resmi ditutup oleh Appa dan Eomma, Jongin langsung menatapku—masih dengan senyuman jahatnya. Aku yang sudah merasa pasti ada sesuatu segera menyingkir darinya. Berniat untuk meluncur ke kamarku dan mengunci diri seharian. Tetapi sebelum hal itu terwujudkan, Jongin sudah berkata, “Bahkan Eomma-mu menyuruh kita untuk mengakrabkan diri.”

Aku yang merasa perkataan Jongin sedikit janggal, meresponnya, “Bahkan?” tanyaku mengulangi satu kata yang Jongin ucapkan.

“Kau sama sekali tidak ada niat untuk akrab denganku kan?”

“Sama sekali,” jawabku cepat.

“Sayang sekali, tetapi keinginanmu itu tidak akan terwujud, Cho Soyeon-ssi.” Jongin mendekat ke arahku, sekali lagi masih dengan senyum jahatnya—yang bisa juga disebut senyuman seorang pervert— dan tanpa kusadari dia memojokkanku ke tembok. Uh oh. Apa yang akan dia lakukan?

Jongin semakin mendekatiku. Dan aku sadar bahwa ini sudah benar-benar berbahaya. Aku ingin berontak seperti kemarin, tetapi karena pikiranku dipenuhi oleh hal-hal yang tidak kuinginkan jadi aku terlambat. Jadi aku hanya memejamkan mataku erat-erat. Berharap hal yang kupikirkan tidak akan terjadi.

Hening. Aku tidak merasakan sesuatu yang menyentuhku. Apa tadi Jongin hanya bercanda dan sudah menjauhkan wajahnya dariku, ya? Pelan-pelan, aku membuka mataku.

Dan tidak ada hal yang lebih mengejutkan ketika aku menemukan wajah Jongin masih berada di depan wajahku persis dengan jarak sekitar 5 cm. Otomatis aku berteriak. Keras dan lama sekali. Rasanya seperti baru menemukan sesosok psikopat yang dalam hitungan detik akan membunuhku pelan-pelan.

Mendengar teriakanku, Jongin langsung menepuk pipiku keras dengan kedua tangannya sehingga aku berhenti berteriak. Sebagai gantinya aku merintih pelan.

“Sudah kubilang aku paling tidak suka ketika mendengarmu berteriak. Sangat menyakitkan telingaku,” kata Jongin dengan memasang wajah jutek yang sama persis seperti kemarin.

Aku menatapnya garang. Kali ini aku merasa bisa memberontak dirinya, “Itu semua karena kau. Menjauh dariku, Kim Jongin!” aku mendorong tubuh Jongin agar dia menjauh. Dan berhasil.

Alis Jongin terangkat sebelah, “‘Kim Jongin’? Hei, aku ini lebih tua darimu. Jadi panggil aku dengan sebutan yang sopan, lagipula aku Oppa-mu.”

Mataku berkilat. “Hanya karena kau loncat kelas, bukan berarti aku akan memanggilmu Oppa. Lagipula, kau hanya lebih tua setengah tahun dariku,” kataku sarkatis.

“Kalau begitu aku akan bilang kepada Eomma bahwa dongsaeng baruku ini menolak memanggilku Oppa.”

“You won’t.”

“Oh, I really will.”

Aku mendesis, “Dasar pengadu.”

Jongin tersenyum dan mulai merangkulku. Tetapi rangkulannya jauh dari rasa penuh kasih sayang. Tangannya kirinya yang merangkulku itu justru nyaris mencekikku. Aku memukul tangannya beberapa kali berharap namja kurang kerjaan ini melepaskan rangkulannya. Tetapi yang terjadi justru Jongin semakin merapatkan rangkulannya—dengan kata lain, aku semakin tidak bisa bernapas karenanya.

“Heghh, heghh, lepaskan…!! Aghku tidak bisa bernapasghh…!!” racauku tidak jelas.

Tetapi bahkan hal ini tidak membuatnya berhenti untuk menyiksaku. Dia justru terkekeh pelan dan dengan santainya mengatakan, “Menyenangkan, bukan? Ini adalah tanda cinta dari Oppa untukmu, Soyeon-ah.”

Oke, namja ini gila.

“LE-PAS-KAN!” kali ini aku mencoba menendangi kakinya dengan brutal. Dalam keadaan terjepit seperti ini, cara perlindungan diri yang diajarkan oleh Chanyeol muncul begitu saja padaku. Dan sepertinya tendanganku berefek baginya karena rangkulannya mulai melemah. Aku memanfaatkan kesempatan langka ini dengan menggigit lengannya segera. Jongin mengaduh dan akhirnya benar-benar melepaskan rangkulannya. Bagus!

Setelah lepas darinya, aku mulai menyiapkan kuda-kuda. Kali ini aku benar-benar dalam status siaga satu. Aku tidak akan lengah lagi kali ini. Ayo maju kalau berani, Kim Jongin!

“Benar-benar tidak mirip sekali dengan Eomma. Tidak anggun. Bahkan sikapmu juga kasar.” Jongin mengelus-elus area lengannya yang barusan kugigit. Aku memutar mataku. Yeah, maksudku, siapa yang peduli? Yang penting aku sudah memenangkan pertarungan kecil ini dengannya.

“Bilang saja bahwa kau malu mengakui bahwa kau kalah bertarung denganku,” ujarku sarkatis seraya tersenyum puas.

“Aku? Kalah bertarung? Siapa bilang? Justru pertarungan baru akan dimulai sekarang.” Jongin meraih telepon rumah dan memencet beberapa angka lalu menempelkan di telinganya. Aku mengerutkan kening. Siapa yang dia hubungi?

Tidak lama, terdengar suara Jongin yang terlihat menyapa seseorang yang dia telepon barusan, “Ah, tidak apa kok. Aku hanya ingin memberitahukan Eomma mengenai sesuatu. Ini tentang naedongsaeng.”

Mataku membulat begitu mendengar kata ‘Eomma’. Jongin menelpon Eomma?!

“Ne, bukan begitu. Sebenarnya tingkah dongsaeng sudah cukup baik, tetapi ada satu dari sikapnya yang sedikit menggangguku.”

Tidak, tidak. Jangan tertipu, Cho Soyeon. Pasti Jongin hanya berpura-pura menelpon Eomma dan berlagak bahwa dia akan memberitahukan semuanya. Iya, jangan tertipu!

“Ne, Eomma ingin berbicara dengan Soyeon?” Jongin menyerahkan telepon ke arahku seraya tersenyum. “Eomma ingin bicara denganmu,” katanya.

“Kau bohong. Pasti ini hanya tipuanmu saja kan? Tidak mungkin kau menelpon Eomma.” Walaupun berkata seperti itu, aku tetap saja menerima telepon itu.

Jongin mengangkat bahu, “Buktikan saja sendiri,” katanya percaya diri.

Perkataannya seketika membuatku berpikir ulang mengenai kemungkinan Jongin berbohong. Bagaimana jika seandainya dia memang menelpon Eomma?

Kecurigaanku terbukti karena aku benar-benar mendengar suara Eomma memanggil namaku lewat telepon rumah. “Soyeon-ah, kau ada masalah dengan Oppa-mu?”

Lalalala~ Nan Freeze!

Aku terpaku di tempatku. Oh, sial. Jongin tidak sedang mengerjaiku. Reflek aku menekan tombol merah di telepon. Sial, sial, sial, sial. Kim Jongin sialan.

Jongin menatapku. Kali ini senyuman yang diarahkan kepadaku benar-benar membuatku ingin mencekiknya dan membuangnya ke Sungai Han. “Bagaimana? Aku tidak sedang berbohong kan?”

Aku tidak tahan lagi dengan sikapnya. “Pengadu! Kau sudah besar tetapi masih suka mengadu kepada orang tua!” teriakku kesal.

“Memangnya kenapa? Tidak boleh? Sekarang Eomma sudah mengetahui bahwa ada satu sikapmu yang menggangguku. Aku hanya perlu berkata pada Eomma bahwa sikap yang dimaksud adalah tidak-menghormati-Oppa-nya.” Jongin menatapku seraya tersenyum lebar. “Kira-kira bagaimana ya reaksi Eomma?”

Mataku membelalak. Tidak percaya dengan apa yang Jongin katakan. “Curang! Awas saja kalau kau sampai memberitahu Eomma!”

“Aku memang akan memberitahu Eomma.”

Dasar maniak.

Aku terdiam. Mengepalkan kedua tanganku erat-erat. Mencoba mengendalikan emosi yang sudah muncul secara berkala di dalam hati. Apa ada Oppa seperti Jongin? Yang walaupun baru satu hari resmi mempunyai dongsaeng baru tetapi kelakuannya menunjukkan seakan-akan kita sudah menjadi saudara selama bertahun-tahun? Eob-seo.

Lalu aku menatap Jongin. Senyuman jahatnya masih setia bertengger di bibirnya. Dari sikapnya, aku tahu apa yang sedang Jongin pikirkan sekaligus rencanakan. Sial, walaupun aku tidak ingin mengatakan apa yang sudah terpikir di otakku, tetapi jika ingin selamat dari celotehan Eomma yang panjang lebar ditambah tinggi sekaligus menghindari persepsi negatif dari Appa yang notabene baru menjadi Appa-ku selama sehari ini, mau tidak mau aku harus mengatakan hal ini.

Aku mendesah. Berat. Benar-benar desahan terberatku sepanjang masa sebelum aku bertanya, “Jadi, sebenarnya kau mau apa?” tanyaku putus asa.

Dan Jongin tersenyum puas mendengar pertanyaanku. Oh, my…

~A.T.i.M.S~

“Ya, setelah ini bersihkan kamar Appa dan Eomma. Seperti biasa, tidak boleh ada sampah sedikitpun. Jika ada barang-barang yang tidak rapi, rapikan. Intinya aku ingin kamar Appa dan Eomma menjadi sangat bersih.”

Aku menganga. Tidak cukupkah baginya aku membersihkan kamarnya, kamarku, dan seluruh kamar mandi di rumah ini? Oh ya, tentu saja tidak cukup. Karena Jongin sedang mengerjaiku habis-habisan. Lagipula, sebaik apapun aku membersihkan kamar, pasti ada saja komentar tidak masuk akal dari Jongin. Seperti ‘kamarnya kurang harum’, ‘lantainya belum sepenuhnya berkilau’, atau ‘belum layak untuk aku tempati’. Demi Tuhan, KOMENTAR MACAM APA ITU?

Tetapi walaupun dalam hati aku memaki Jongin habis-habisan, aku tetap tidak bisa melawan. Karena setiap aku mulai menunjukan tanda-tanda perlawanan, Jongin langsung bersiul-siul sambil memainkan telepon rumah. Bayangkan, TELEPON RUMAH. Jongin selalu mengikutiku kemana-mana sambil membawa telepon rumah! Benar-benar kurang kerjaan! Untung saja telepon rumah kami berbentuk seperti handphone, jadi aku tidak perlu takut akan kabelnya yang pasti akan melar jika ditarik-tarik terus oleh Jongin.

“Bisa tidak kau gunakan kata ‘tolong’ dalam perkataanmu? Aku ini bukan pembantumu, melainkan dong-saeng-mu.” Aku sengaja menekankan kata dongsaeng pada kalimatku. Berharap untuk selanjutnya Jongin tidak akan memperlakukanku seperti ini lagi.

“Oh? Jadi kau sudah mengakuiku sebagai Oppa-mu?”

Aku melotot sementara Jongin tertawa lepas. Aish, apa aku tidak berbakat dalam hal sindir-menyindir jika sudah melawan Jongin?

“Bercanda, dongsaeng-ah, kau tidak usah membersihkan kamar Appa dan Eomma,” kata Jongin sambil menepuk-nepuk kepalaku pelan. Aku mengerutkan kening. Sedikit tidak percaya dia akan mencabut perintahnya secepat ini. Keundae, yang terpenting, akhirnya Jongin mempunyai sisi baiknya juga.

Aku sudah ingin bersorak gembira—akhirnya aku bisa menemukan kebebasanku juga di hari Minggu ini—ketika Jongin buru-buru melanjutkan perkataannya, “Tapi setelah ini siapkan dua minuman dan makanan kecil. 15 menit lagi temanku datang ke sini.”

“Aishhhh!!” aku berjalan menuju dapur dengan perasaan jengkel. Tersirat dari hentakkan kedua kakiku yang sengaja kukeraskan dari biasanya. Kutarik perkataanku. Selamanya Jongin tidak akan mempunyai sisi baik. Tidak akan pernah. Dia itu bukan manusia. Dia itu titisan iblis.

Ketika aku sudah sampai di dapur, aku teringat akan sesuatu. “Ya! Kim Jongin!” bentakku.

“Ne?” sahut Jongin dari kejauhan.

“Di mana kata TOLONG mu?” sekali lagi aku menekankan pada kata tolong karena lagi-lagi Jongin tidak menggunakan kata tersebut dalam kalimatnya.

“Tolong.”

“Kurang lengkap!”

“Aku minta tolong~”

“Kim Jongin!”

“Ne, dongsaeng-ah~?”

“AISHHHH!!!” aku memutuskan untuk menyerah berbicara dengan makhluk abnormal macam Jongin. Dan seperti yang sudah kuduga, Jongin kembali tertawa lepas. Terserah!

~A.T.i.M.S~

Ting Tong.

Pasti itu temannya yang memencet bel. Aku mendelik ke arah Jongin. Kalau dia sampai menyuruhku untuk membuka pintu rumah, tanpa ragu-ragu aku akan melempar buku Chicken Soup tebalku yang sedang kubaca ke arahnya.

Tapi syukurlah bukuku tidak harus melayang mengenai kepala Jongin karena dia langsung menuju ke pintu rumah. Hah, hanya jika bertemu temannya saja, namja itu baru bersikap mandiri.

Aku mengintip sekilas dari balik pintu dapur. Teman Jongin terlihat sudah duduk di ruang tamu. Baiklah, waktunya mengerjakan tugas. Setelah ini aku akan melaksanakan niat awalku pada hari Minggu ini—mengunci diri di kamar seharian.

Aku berjalan menuju ruang tamu dengan nampan berisi minuman dan makanan kecil. Jongin tersenyum simpul melihatku yang benar-benar menjalankan perintahnya dengan baik. Cis~ hanya untuk kali ini saja, Kim Jongin.

“Ah, kau pasti dongsaeng barunya Jongin ya?” teman Jongin menatapku setelah aku selesai menaruh minuman dan makanan kecil. Aku tersenyum dan mengangguk kecil. Tidak berniat untuk berlama-lama di ruang tamu.

Setelah itu, teman Jongin langsung berdiri dan mengulurkan tangannya. “Kenalkan, Luhan imnida. Aku teman satu klub Jongin di Namkyungsan,” ujar teman Jongin. Nah, ini baru sikap yang sopan!

Aku membalas uluran tangannya senang, “Cho Soyeon imnida.” Ah, betapa aku rindu dengan perlakuan sopan dari orang lain.

“Cho Soyeon? Berarti mulai sekarang kau harus merubah margamu jadi Kim, Soyeon-ah,” Luhan Oppa terkekeh pelan. Kenapa tiba-tiba aku memanggilnya Oppa? Karena sikap Luhan Oppa sangat sopan. Dan jujur sangat kontras dengan sikap Jongin. Ah, seandainya Jongin bisa sesopan Luhan Oppa…

“Shireo, aku masih sayang dengan margaku selama 16 tahun ini,” tolakku langsung. Sebenarnya alasan sebenarnya karena aku tidak ingin satu marga denganJongin.

“Wow, kau baru 16 tahun?” kata Luhan Oppa takjub. “Aku merasa sudah tua, padahal hanya berbeda dua tahun denganmu,” lanjutnya seraya terkekeh kecil.

Giliran aku yang takjub, “18 tahun? Jadi lebih tua daripada…” aku melirik Jongin sekilas. Luhan Oppa mengangguk seakan mengerti arti dari lirikanku barusan. Hah? Bagaimana bisa? Padahal wajah Luhan Oppa terlihat jauuuh lebih muda daripada namja abnormal itu. Jangan lupakan senyumnya yang baru aku sadari sangaaaaaaat manis sekali.

“Merasa aneh karena aku lebih muda daripada Luhan?” Jongin menatapku sinis. Sepertinya dia tersinggung karena ucapanku barusan. Tapi, hei, aku bahkan tidak menyebut namanya sama sekali. Aku hanya meliriknya.

“Ya. Karena Luhan Oppa terlihat jauh lebih muda darimu, Jongin-ssi,” ucapku seraya tersenyum sarkatis. Aku menekankan ‘Oppa’ di kalimatku. Sengaja kulakukan untuk menyindirnya.

Jongin memutar mata dan wajahnya semakin tidak enak untuk dilihat. Yes! Aku berhasil! Ah, betapa menyenangkannya bisa mengerjai balik~

Luhan justru yang merespon perkataanku, “-ssi? Kalian sudah menjadi kakak beradik, tetapi mengapa cara panggilmu masih sangat formal, Soyeon-ah?”

“Dia tidak ingin memanggilku Oppa.” Jongin menjawab pertanyaan Luhan yang ditujukan kepadaku.

“Waeyo? Apa karena masalah usia kalian yang masih sepantaran?” tanya Luhan langsung.

Tidak ada yang menjawab.

Sebenarnya aku ingin menjawab “YEAH, OPPA. LAGIPULA AKU TIDAK SUDI MEMANGGIL NAMJA BARBAR INI DENGAN SEBUTAN OPPA” tetapi karena tidak ingin kesan pertamaku hancur di depan Luhan Oppa, jadilah aku tidak mengatakan apapun.

“Tidak usah dibahas lebih lanjut, Lu. Kau tahu aku mengundangmu ke sini untuk membicarakan hal lain yang lebih penting daripada ini, bukan?” Jongin menatap Luhan kemudian menatapku tajam. Aku mencibir pelan. Itu adalah kata lain dari ‘sebaiknya kau segera pergi dari sini, Cho Soyeon-ssi’. Jadi baiklah, aku pergi saja dari ruang tamu ini. Do whatever you want, stupid Jongin. Lagipula panggilan kamar sudah menungguku.

Begitu aku sudah menginjakkan langkah pertamaku di kamar, aku merasa sangat bebas. Tidak ada gangguan apapun lagi dari namja abnormal itu. Setidaknya sampai Luhan Oppa pulang.

Aku melemparkan diri ke arah kasur dan berteriak, “AKU BEBAS!!”

~A.T.i.M.S~

About one hour later…

Mengapa aku justru merasa bosan?! Kupikir dengan bebas dari suruhan Kim Jongin, aku bisa menikmati waktu liburku yang tersisa. Tetapi baru saja berjalan satu jam, aku sudah nyaris mati kebosanan. Kerjaanku sedari tadipun hanya mengganti-ganti saluran televisi. Bisa kalian bayangkan betapa kurang kerjaan hal tersebut?

Aku melirik ke arah jendela kamarku. Kebetulan aku mempunyai dua jendela kamar. Satu, jendela yang langsung mengarah ke taman. Dua, jendela yang menghadap ke ruang tamu. Kali ini aku melirik ke arah jendela nomor dua. Sekedar memastikan apakah Luhan Oppa masih di rumah atau tidak.

Ah, ternyata masih. Sepertinya Luhan Oppa terlibat pembicaraan cukup serius dengan Kim Jongin. Terlihat dari raut wajah mereka berdua yang terlihat tegang.

Lalu tiba-tiba aku merasa haus. Ah, ya, pasti rasa kebosananku tercipta karena tenggorokanku kering. Kalau begitu mau tidak mau aku harus keluar kamar dan mengambil minum, bukan? Aku tidak sedang mencari-cari alasan, bukan?

Akupun turun ke bawah. Kupelankan langkah kakiku karena dispenser terletak cukup dekat dengan ruang tamu. Begitu selesai mengambil air dan meminumnya, aku melirik ke arah ruang tamu. Lagi-lagi wajah keduanya begitu tegang. Sebenarnya apa yang mereka bicarkan, sih?

Hm…

Menguping sedikit tidak apa kan?

Dan itu yang akhirnya kulakukan. Aku mendekatkan diri ke ruang tamu, mencoba untuk mendengar setiap kata yang Jongin dan Luhan Oppa bicarakan.

Ah, aku hanya bisa mendengar samar-samar saja! Aku semakin merapatkan diri ke ruang tamu, bergerak sepelan dan sehalus mungkin supaya tidak menimbulkan suara.

“….tapi—”

Pembicaraan mereka semakin terdengar. Aku mencoba memfokuskan pendengaranku lagi.

“….Jisoo tidak akan senang jika melihatmu seperti ini.”

Hah?

DING DONG. DING DONG.

Aku nyaris terlonjak dari tempatku karena suara bel rumah yang tiba-tiba berbunyi. Dari luar rumah terdengar suara Appa dan Eomma meminta agar gerbang rumah dibuka. Ah, syukurlah mereka sudah pulang. Itu artinya, penyiksaanku hari ini sudah berakhir!

Aku segera kembali ke kamarku mengingat seharusnya aku sedang berada di dalam kamarku. Lagipula kulihat sekilas Jongin yang membukakan gerbang rumah.

Jadi di kamarku, aku melompat ke kasur lalu menyalakan iPod kesyanganku. Kalau seandainya ditanya mengapa bukan aku yang membukakan, aku tinggal jawab saja sedang mendengarkan musik.

Sampai tidak sadar kalau aku sudah terlelap.

To Be Continued

Dont forget to visit http://hellosillo.wordpress.com ~

16 pemikiran pada “A Twist in My Story [Chapter 2]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s