Merupuri [Chapter 5]

merupuri exo2

Author: Queeney

Cast : Luhan, Minsu(OC)

Genre : Fantasy, Romance, Misteri

Type : Straight

Length : Chapter

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari sebuah komik. Ide maupun judul adalah milik sang komikus Matsuri Hino. Diksi, alur, dan penokohan ulang adalah hasil imajinasi saya. Sudah pernah di publish dengan nama author yang sama tapi versi berbeda.

Do not copy-paste without my permission or steal the story! thanks and enjoyed!

Chapter 5 © Queeney

Minsu mengerjapkan kelopak matanya berulang kali hingga dia kini merasa sedikit pusing. Walau begitu, tetap saja ia tidak bisa mendapatkan ide apapun untuk jawaban yang tengah dicari dalam laci-laci memori otaknya tentang bagaimana dia bisa berada di Merupuri.

Bangunan klasik itu benar-benar membuatnya tersihir selama semenit penuh akan satu kata, cantik. Sejauh yang dapat dia lihat, seluruh dinding bangunan dipenuhi ukiran dan pahatan halus, serta beberapa batu pualam pada setiap sisi. Pilar-pilar kokoh yang menyangga bangunan tua tersebut, serta patung prajurit yang menggunakan baju besi pada setiap sisi pilar, semakin menambah suasana istana besar yang memang terkesan sangat megah. Kentara sekali tempat itu pastilah istana utama negeri Merupuri.

Tapi… bagaimana mungkin aku bisa masuk ke tempat ini? lagi-lagi pertanyaan yang sama Minsu ajukan pada dirinya.

Dia berjalan kembali mendekati bingkai jendela besar tanpa kaca yang berada dihadapannya. Emeraldnya menelusuri seluruh penjuru negeri Merupuri yang terpapar indah, sejauh matanya mampu menangkap pemandangan menakjubkan tersebut. Dia bisa melihat rumah-rumah yang berjejer rapi, aliran sungai yang berakhir pada laut biru yang terbentang luas, hutan yang dipenuhi pepohanan tinggi, dan ia juga bisa melihat sawah hijau yang terlihat begitu asri.

Tidak pernah sekalipun terbayangkan oleh Minsu bahwa Merupuri akan membuatnya se-terpesona itu, bahkan tidak dengan wajah tampan sang pangeran yang beberapa kurun waktu lalu berada di rumahnya.

Merupuri adalah negeri sihir, jadi bagaimana mungkin kau akan mengharapkan bahwa tempat itu akan semenakjubkan ini? segera saja Minsu teringat novel Harry Potter yang sangat disukainya. Benar juga, disana negeri sihir juga terlihat menakjubkan ujarnya dalam hati sembari mengangguk kecil.

“Aneh, bukankah aku meninggalkan rumah saat malam hari? Tapi… kenapa tempat ini sangat terang? Seperti bumi disore hari yang cerah” kerutan timbul di kening Minsu saat yeoja itu berusaha mengerti kedaan seperti apa yang tengah terjadi dihidupnya yang mendadak penuh hal-hal aneh.

“Ah sudahlah, sebaiknya aku segera mencari Luhan, dia pasti berada di tempat ini. aku bisa menanyakan itu padanya nanti” Minsu berujar keras sembari mengepalkan tangannya ke udara, menumbuhkan semangat pada dirinya sendiri.

Dia memasukan cermin segi limanya ke dalam saku rok, kemudian berjalan menelusuri koridor istana. Kendati pun ia merasa telapak kakinya mulai beku karena lantai marmer yang dingin dan dia tentu saja sedang dalam kondisi tidak memakai alas kaki apapun, Minsu tetap memantapkan langkahnya.

Beberapa menit dalam kesunyian yang kini terasa sedikit mencekam, Minsu mulai ragu pada gagasannya sendiri. Istana itu terasa begitu hening dan kosong, sedikit aneh untuk sebuah istana yang berperan besar dalam kelangsungan hidup seluruh negeri. Meski ada rasa takut dalam diri yeoja berambut carnation-pink itu, ia tetap berjalan menelusuri koridor dengan harapan agar bisa segera bertemu Luhan.

-ooo-

Sementara itu disisi lain bangunan istana, sosok itu menjadi pusat perhatian saat dia berjalan menelusuri koridor dengan tatapannya yang kharismatik, serta dagu yang sedikit terangkat ke atas bak bangsawan. Tapi tunggu, dia memang bangsawan eh? Dia adalah pangeran kerajaan Merupuri yang terkenal cerdas, menarik, sekaligus terlihat agak angkuh disaat yang bersamaan.

Sebenarnya bukan hal aneh jika orang-orang memalingkan wajah untuk melihat ke arah sosok tersebut saat ia berjalan melewati mereka dengan jubah sutranya yang melambai terkena angin, dan sosok itu biasanya memang tidak terlalu memperdulikan keadaan sekitarnya meskipun (untuk kesopanan) terkadang dia menganggukan kepalanya singkat saat ada yang menyerukan atau memanggil namanya.

Tapi kali ini sedikit berbeda, sosok itu tidak bisa berjalan seperti biasanya. Bukan karena tubuh tegapnya–yang sudah beberapa kali ia kendalikan–melainkan karena suasana hatinya yang tiba-tiba terasa sedikit gundah.

Sosok itu menghentikan langkah lebarnya, memalingkan wajahnya yang tanpa cela untuk mengamati langit di kejauhan yang sudah mulai berwarna oranye. Hatinya seolah berkata bahwa dia menuju tempat yang salah. Tapi seingatnya dia berjalan ke arah yang benar, menuju kastil barat kerajaan Merupuri, tempat dimana pesta ulangtahun putra mahkota yang ke-21 akan dilangsungkan.

“Pangeran, ada apa? Kenapa anda berhenti dan menatap langit? Ada sesuatu yang tidak beres?” seorang pengawal bertanya pada sosok itu sembari sesekali ikut mengarahkan kepalanya ke langit, dan jadi semakin bingung apa yang membuat pangeran yang berdiri di depannya itu terlihat resah.

“Menurut tabib Istana, malam ini tidak akan hujan. benar?” balas sosok tampan itu, kepalanya menoleh dan menatap pengawal disampingnya yang tadi bertanya. Pengawal itu mengangguk singkat,

“Iya pangeran Luhan, karena itulah upacara hari tidak jadi dibatalkan.”

Sosok itu, Luhan, kembali menatap langit selama beberapa saat sebelum akhirnya melanjutkan berjalan menelusuri koridor. Sebenarnya sesuatu di dalam hatinya masih terasa tidak tenang.

Kalau bukan karena cuaca, lalu apa yang membuat perasaanku berat seperti ini? gumamnya di dalam hati.

ooo

“AWW!”

Minsu mengumpat keras saat mendapati sesuatu yang tajam menyayat kaki telanjangnya. Dia segera bersandar pada dinding terdekat, kemudian mengangkat kaki kirinya perlahan.

Minsu meringis melihat sebuah sayatan baru yang cukup dalam pada telapak kakinya yang seketika mengucurkan banyak darah. Ia celingukan panik mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk membabat lukanya. Tapi tidak ada apapun selain pecahan cermin di lantai marmer yang tadi tidak sengaja terinjak.

“AH…kenapa aku jadi sial begini?” kembali Minsu mengumpat keras sembari sebelah tangannya yang tidak memegangi kakinya, terangkat mengacak rambut. Dia berpikir sejanak, mencari akal untuk mengehentikan darah yang masih mengalir dari telapak kakinya.

“Kalau begini tidak ada jalan lain” desahnya, kemudian dengan perlahan melepaskan pegangan pada kaki kirinya dan beralih memegang ujung kemeja yang sedang ia kenakan. Dia berjalan dengan susah payah ke arah pecahan kaca, memungutnya, kemudian mengarahkan pecahan kaca tersebut ke kemeja seragam sekolahnya yang belum sempat diganti.

Dengan sekali tebasan, kemeja Minsu kini sudah robek diujungnya. Dia meletakan kembali pecahan kaca tersebut ke lantai marmer tapi dengan menyandarkannya ke dinding berpelitur, takut ada orang yang melewati jalan tersebut dan bernasib sama dengan dirinya nantinya.

Minsu mengarahkan tangannya kembali ke bagian ujung kemeja dan kemudian memperbesar robekan hingga terlepas. Dia lalu mengangkat kaki kirinya, membabat luka lebar yang sesekali masih mengalirkan darah segar itu dengan robekan baju, diikuti sedikit gerutuan.

“Nah, tidak ada salahnya mengikuti camp pramuka tahun lalu” Minsu tersenyum senang melihat hasil pertolongan pertamanya terhadap kakinya sendiri.

Dia memerhatikan sekitar dengan seksama. Sekarang dia berada di persimpangan koridor. Keningnya mengerut seketika, berpikir keras jalan mana yang harus ia ambil, karena disana terdapat dua koridor yang berlawanan arah. Jika dia salah memilih, bisa jadi kesempatannya bertemu Luhan akan semakin sulit, sedangkan perutnya sudah semakin terasa perih, menjerit minta diisi.

Assa! Sepertinya kanan adalah jalan yang benar” beberapa menit kemudian Minsu berseru keras sembari kedua tangannya meninju udara seolah mendapatkan ilham ntah dari mana. Dia berjalan dengan sedikit terseyok, luka pada kaki kirinya mulai berdenyut menyakitkan, membuat pemilik mata emerald itu meringis setiap kali ia melangkah.

Sementara kakinya terus menelusuri lorong panjang nan gelap itu, pikiran Minsu tiba-tiba saja melayang pada penjalasan Xiumin dahulu saat mereka masih berada di apartemennya,

“Benar! walaupun kau keturunan kerajaan Ratreia, yang dulu memiliki tahta di atas kerajaan Daimonia, tetapi sekarang sudah berbeda Minsu-ssi! Karena pengkhianatan leluhurmu, Sungmin yang kabur menikah dengan Kyuhyun, kerajaan kalian sudah bukan kerajaan tertinggi lagi. Jadi, kau harus menghormati Pangeran Luhan.”

Dia tidak dapat menahan helaan berat nafasnya yang terengah ketika kilasan kenangan itu melintas dibenaknya.

Pengkhianat ya… tapi aku berada di tempat ini sekarang, itu artinya… apa aku sebenarnya juga memiliki kekuatan sihir? sesaat dia terpekur atas pikirannya yang tiba-tiba berkecamuk. Jika analisanya benar, berarti semua hal yang tengah terjadi saat ini menjadi sedikit masuk akal.

“Tapi, bagaimana mungkin mantra masuk ke Merupuri adalah nama panjang Luhan? Tidak masuk akal” Minsu berteriak frustasi, merasakan otaknya kembali buntu.

Dia terus melangkah tanpa mengindahkan suasana koridor yang sunyi dan (sejujurnya) agak menakutkan. Ia masih terbenam dalam berbagai hipotesa otaknya tentang keberadaannya di Merupuri, saat tiba-tiba cahaya di ujung lorong membutakan matanya selama sedetik.

“Eh?” lenguhnya perlahan sambil mempercepat langkahnya yang terseyok dan kemudian terpana melihat keadaan sekelilingnya.

Dia sudah tidak lagi berada di dalam koridor maupun bangunan kerajaan. Tidak ada lagi pilar kokoh, dinding berpelitur, ataupun langit-langit tinggi yang tampak megah. Semua tergantikan oleh langit yang kini telah berwarna orange kemerahan, serta pepohanan rimbun dan jalan setapak, membuat Minsu terdiam cukup lama, terpesona.

“Astaga, sepertinya aku salah jalan” tiba-tiba Minsu menepuk kepalanya agak keras, merutuki kebodohan serta semua kesialan yang menimpanya.

“Bodoh. Untuk apa memukul keras kepalamu seperti itu? memangnya akan mengantarmu ke jalan pulang?” Suara berat seseorang yang terdengar sedikit mencemooh membuat Minsu mengedarkan pandangannya dengan liar.

Pandangan itu akhirnya jatuh pada sosok tampan dengan penampilan ala bangsawan yang bersandar santai pada sebuah pohon ek yang tinggi menjulang.

“En… nuguya?” tanya Minsu dengan suara amat pelan dan pandangan gugup.

Dilihat dari penampilannya dan dimana mereka berada saat ini, tentu Minsu sudah bisa sedikit menebak kira-kira siapa sosok yang berada di hadapannya tersebut. Tapi, dia tidak mau berprasangka lebih jauh, karena semua prasangkanya sejauh ini tidak mengantarkannya pada nasib baik.

Namja tampan dengan rambut penuh warna bak pelangitersebut, perlahan meniggalkan pohon tempatnya bersandar. Dia berjalan dengan langkah santai ke arah Minsu, dengan tangan kanannya berada di dalam saku celana (membuat jubah sutranya yang menjuntai hingga mata kaki dan sangat elegan, terbuka melambai sedikit ke belakang), sedangkan sebelah tangannya lagi menjuntai ringan di sisi tubuhnya. Menimbulkan bayangan pangeran ideal dalam komik-komik Jepang yang pernah Minsu baca.

“Kau tahu, kau bisa mendapatkan masalah besar jika pengawal menemukanmu di lingkungan kerajaan seperti ini dan dengan dandanan yang… ern, mengasankan ini… Ratreia” namja itu berucap dengan ekspresi yang sulit Minsu tebak. Tapi satu hal yang baru saja disadarinya membuat dia tersentak kaget dan tak mampu berbicara sepatah katapun.

“Kenapa aku bisa tahu kau dari Ratreia? well… pertanyaan bagus. Seperti yang semua keturunan bangsawan ketahui, keturunan Ratreia selalu berambut carnation-pink dan bermata emerald” jawaban yang meluncur keluar dari bibir namja dihadapannya itu, padahal Minsu sama sekali tidak bertanya, membuatnya cemas seketika.

Berbagai pikiran mengerikan segera memenuhi otak Minsu. Wajah pucatnya rupanya tidak bisa disembunyikan, karena namja yang kini telah mencapai tempat yang tepat berada di hadapan Minsu tersebut, perlahan mengangkat sebelah tangannya dan memelintir pelan sejumput rambut mempesona milik Minsu yang terurai melewati bahunya.

“Tapi, orang lain bisa saja memiliki rambut dan mata seperti mereka juga eoh? Kenapa kau jadi pucat begitu?” namja dihadapan Minsu itu terkekeh, mencemooh, tapi masih dengan wajahnya yang datar.

Minsu membelalakan mata seketika, sadar kalau dia telah menggali kuburannya sendiri. Dengan bergegas ia menjauh dari tangan namja itu, mengambil jarak aman kalau-kalau nanti dia akan disergap dan dipaksa ikut ke dalam Istana.

“A…Aku…” Minsu gelegapan tanpa bisa menyelesaikan ucapannya. Dia tidak tahu harus memberikan penjelasan yang seperti apa agar dapat terbebas dari sana.

“Hm, karena ini adalah hari besar, dan kehadiranku sudah ditunggu oleh orang-orang di kerajaan, aku tidak akan menghalangimu untuk kabur dari tempat ini secepat yang kau bisa” namja dengan ekspresi yang sulit di tebak itu, sesaat tersenyum miring.

Minsu mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan kalau dia tidak salah mendengar ucapan namja berambut pelangi tersebut.

“Jika kau menelusuri jalan setapak ini, kau akan sampai di desa. Cepatlah pergi sebelum aku berubah pikiran dan menye…” kalimat namja itu terputus saat tiba-tiba saja Minsu berbalik memunggunginya dan–secepat yang bisa dilangkahkan kakinya yang terluka–berlari kencang menelusuri jalan setapak. Kabur adalah opsi pertama yang sempat diteriakan otaknya. Maka itulah yang segera Minsu lakukan.

Dia tidak memberikan kesempatan pada kepalanya untuk menoleh ke belakang atau matanya untuk sekedar melirik dan melihat namja itu lagi, ia tidak mau kemujurannya dibiarkan meninggalkan tempat itu berganti kesialan nantinya.

Sementara itu, sepasang bola mata kelam milik sang namja berambutpelangi, tidak lepas menatap sosok yang berlari kecil menjauhinya tersebut. Ekspresi wajahnya berubah mengeras seiring semakin menghilangnya lambaian rambut carnation-pink Minsu yang tergerai.

Akhirnya dimulai juga… katanya dalam hati.

ooo

“Sudah waktunya pangeran Luhan. Ayo keluar dan bergabung dengan pangeran Kris untuk menghadap Raja dan Ratu” teguran pelan dari sisi kanannya, menyadarkan Luhan dari lamunannya yang telah cukup lama berlangsung.

Luhan yang kini sedang berada dalam tubuh dewasanya itu, menatap sejenak salah satu pengawal pribadinya tersebut sebelum akhirnya melangkahkan kaki meninggalkan ruangan untuk bergabung dengan kakaknya yang nyentrik, memberikan penghormatan pada ayahanda dan ibundanya sebelum upacara dimulai.

“Aku belum pernah sekalipun mendengar ucapan terimakasih darimu adik kecilku, atas tubuh tampan yang kau miliki sekarang” Luhan mengehentikan langkahnya saat mendengar suara yang amat familiar di telinganya itu berucap dari arah belakang.

Kris merangkul ringan pundak Luhan sembari terkekeh pelan, geli atas perbuatannya sendiri. Sementara ekspresi Luhan saat ini benar-benar geram dengan tingkah hyung nya yang aneh itu.

“YA! Cepat hilangkan kutukan ini dari tubuhku, bodoh!” marah Luhan sesaat setelah Kris mencubit pipinya gemas.

Luhan menepis tangan Kris yang berada di pundaknya dengan kasar, menahan kekesalan yang meluap pada dirinya. Sedangkan Kris kembali terkekeh pelan, tidak terusik dengan ekspresi dongsaeng kasayangannya yang berubah kelam tersebut.

“Wah wah, aku kan sudah bilang, kalau itu aku tidak bisa mengabulkannya adik kecil, aku sudah lupa mantra apa yang ku gunakan padamu waktu itu, begitu pun mantra pembaliknya. Bahkan ayahanda juga tidak menemukan caranya di kitab suci yang sudah aku kembalikan ‘kan” ucapan Kris yang terkesan bertele-tele makin membuat Luhan geram.

“Semuanya mungkin percaya dengan ucapanmu itu, tapi aku tidak. Alasanmu terdengar sangat konyol di telingaku hyung! Sebaiknya kau tidak berbohong mengenai itu dan memang berusaha membantu untuk menghilangkan sihir sialan ini dari diriku, seperti janjimu pada ayahanda” Mengingat bagaimana ayahanda dan ibundanya dengan mudah percaya begitu saja pada alasan Kris, tidak membuat sang pangeran kecil merasa lebih baik.

Kris menangkap tatapan maut Luhan, seolah dongsaeng nya itu akan segera mengulitinya hidup-hidup jika tidak menghentikan tawanya, maka itulah yang segera dilakukan namja nyentrik nan amat tampan itu. Dia berdeham pelan, merapikan sedikit pakaiannya yang terlihat lebih mewah daripada milik Luhan, kemudian menatap serius adik tirinya yang susah sekali diajak bercanda itu.

“Dasar pria tua bodoh! Bercandamu keterlaluan tahu! Aku bisa terkurung dalam tubuh aneh ini selamanya hanya karena keisengan dan kedramatisan luar biasamu itu!” Luhan membentak keras Kris, meluapkan rasa frustasinya pada sang kakak yang sekalipun tidak pernah bersikap layaknya orang dewasa.

Kris menghela nafas pelan sebelum kembali menatap Luhan, membuat namja yang aslinya baru berumur 7 tahun itu tertegun. Tatapan Kris kali ini berbeda dengan tatapannya sebelumnya, bahkan seingat Luhan, dia tidak pernah melihat hyung nya itu seserius ini sebelumnya.

Kris mengalihkan tatapannya sesaat ke arah para pengawal yang ada disekitar mereka. Seolah mengerti, pengawal-pengawal tersebut perlahan menunduk singkat dan kemudian menjauh beberapa meter dari mereka agar pembicaraan kedua kakak beradik itu tidak terdengar.

“Dengarkan aku Lu, ini mungkin yang pertama sekaligus yang terakhir kalinya aku menyampaikan hal ini padamu” Kris memulai, memusatkan tatapannya pada Luhan yang terlihat sedikit bingung tetapi mengangguk juga, tanda ia mendengarkan.

“Merupuri tidak seperti yang kau pikirkan selama ini. Kau lahir setelah perdebatan besar para leluhur berhenti dan mendapatkan kesimpulan bahwa kerajaan kita, Daimonia, ditetapkan menjadi kerajaan tertinggi di Merupuri. Tidak, jangan bantah aku dulu…” Kris berhenti. Dia menatap tajam pada Luhan yang terlihat hendak mengutarakan sesuatu. Keduanya terlibat adu tatapan tajam untuk beberapa saat sebelum akhirnya Luhan mengalah. Dia rupanya sangat penasaran dengan apa yang akan Kris katakan.

“Nah, biar aku lanjutkan, dan tolong jangan menyela dulu Luhan-ah.” Kris berdeham singkat.

“Tempat ini sudah sangat tua dan begitu lama menjadi saksi bisu tindakan busuk orang-orang didalamnya. Tidak sedikit orang yang mengincar tahta ayahanda dengan berusaha membunuhnya sebelum aku dapat menjalankan upacara resmi sebagai putra mahkota yang beberapa jam lagi akan dilangsungkan ini.

Kau mungkin tidak pernah mendengar kabar tentang makanan raja yang diracuni, hadiah ulang tahun untuk raja yang telah dikutuk sihir hitam, atau hal-hal berbahaya lainnya. Tapi, mereka tidak bisa menutupi hal tersebut dariku. Yah, aku mendapat gelar jenius bukan tanpa alasan. Aku sudah menyelidiki beberapa hal dan sudah mengetahui sebagian besar dari apa yang dulu hanya menjadi pradugaku saja.

Aku yakin kau berpendapat bahwa apa yang aku lakukan sekarang hanya untuk iseng ataupun sebagai bentuk pemberontakanku pada upacara penetapan calon istriku ini. Tapi Luhanie, aku tidak akan mengutukmu seperti ini jika aku tidak memiliki alasan kuat untuk melakukannya.

Setelah hari ini, mungkin akan sedikit berat untuk kita bertemu, karena hukuman atas perbuatanku padamu masih berlanjut. Aku tidak yakin bisa mendapatkan waktu strategis lainnya seperti saat ini. Dan karena aku tahu kalau kau juga tidak kalah jeniusnya denganku, aku rasa kau akan mengerti benar maksud ucapanku. Jadi tolong ingat dengan baik-baik hal yang akan aku katakan ini adik kecil…” Kris berhenti sejenak. Dia perlu mengatur nafas beberapa kali sebelum dapat melanjutkan pada inti pembicaraan.

ooo

Area luas di depan podium menara barat kerajaan Merupuri tampak sesak. Beratus-ratus ribu rakyat Merupuri dari berbagai kelangan, berdesakan memedati area tersebut. Sepertinya tidak ada seorangpun yang ingin melewatkan hari bersejarah itu, dimana pangeran mahkota sebentar lagi akan merayakan ulang tahunnya yang ke-21, sekaligus pengumuman penting siapa yang akan menjadi permaisuri masa depannya.

“Menurutmu berapa persen keberhasilan yang akan kita dapatkan dari rencana ini Baek?” Kris berujar amat pelan pada sosok cantik nan mungil yang duduk disampingnya, hingga tidak ada orang lain di podium itu yang dapat mendengar pembicaraan rahasia mereka.

“Sejujurnya, tidak lebih dari 55% hyung. Tapi kalau kita memikirkan kemungkinan adanya faktor keberuntungan, aku rasa tidak terlalu berlebihan kalau aku jawab 80%” ujar peri penjaga Kris tersebut, Baekhyun, tak kalah pelan. Kris mengangguk-angguk kecil. Dia kemudian mengarahkan tatapannya kepada Baekhyun yang kini telah melayang tepat sejajar dengan pundaknya.

“Lebih besar dari yang aku perkirakan kalau begitu” ujar pangeran tampan itu singkat, membuat Baekhyun terkekeh pelan.

Sementara percakapan kedua mate itu terlihat berlangsung ringan, tampak disisi lain raja, Luhan duduk dengan menatap kosong ke keramaian dihadapannya. Otaknya berkali-kali menampilkan kilasan ucapan Kris satu jam lalu sebelum mereka memasuki podium tersebut. Dan untuk pertama kalinya, seorang Luhan yang terkenal cerdas, bahkan jenius, tidak dapat mengerti sedikitpun maksud ucapan sang kakak.

Bunyi terompet yang menggema dari podium tempatnya berada, seketika menyadarkan Luhan dari lamunan tanpa petunjuknya. Dia berpaling menatap ke arah kiri–melewati singasana raja–tepat saat Kris juga melihat ke arahnya, tersenyum miring sambil mengedip kecil. Luhan kembali mengarahkan kepalanya ke keramaian yang kini hening, menunggu upacara kedewasaan putra mahkota dimulai.

ooo

Ditempat yang tidak terlalu jauh dari tempat Luhan berada, Minsu berulang kali menyuarakan protesnya saat terdorong oleh pejalan kaki yang lewat, tetapi selama berulang kali itu pula ia tidak diacuhkan. Dia menghentakan kakinya kesal saat lagi-lagi tubuhnya terdorong arus manusia yang tampaknya terlalu bersemangat menuju satu tempat tanpa mengindahkan sekitarnya.

“Huh, sepertinya orang-orang di negeri ini tidak mengerti apa itu sopan santun” gerutu Minsu kesal, dengan sengaja memperkeras volume suaranya. Tapi tetap saja ia diacuhkan seolah dirinya hanya lalar kecil yang tidak dipedulikan keberadaannya.

“Hai nak! Ayo kesini!” seorang wanita paruh baya memanggil Minsu sembari melambai-lambaikan tangannya pelan. Minsu memerhatikan wanita paru baya itu sesaat sebelum akhirnya melesat ke stanmakanan dari mana ia dipanggil.

“Ern… maaf, tapi ada apa ya?” Minsu berujar pelan, tangannya terangkat menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wanita paruh baya itu tersenyum kecil mendengar pertanyaan Minsu. Tangannya terulur memberikan sepiring kecil makanan (yang tampak seperti tteokbokki) pada Minsu yang dengan sedikit ragu menerimanya.

“Makanlah! kau terlihat kelaparan” ujar wanita paruh baya itu saat Minsu belum juga menyentuhmakanan yang diberikannya.

Minsu tertegun sesaat, menyesali rutukannya beberapa menit lalu tentang sopan santun, “Ne, gamsahabnida ahjumma (terimakasih bibi)” ucapnya sembari tersenyum lebar.

Minsu memakan tteokbokki nya dengan seksama, berkali-kali melempar pandangan ke arah jalanan yang padat.

“Eh… ahjumma kalau boleh tahu, kenapa semua orang terlihat tergesa-gesa menuju ke arah sana?” tanya Minsu akhirnya setelah menghabiskan suapannya yang ketiga.

Wanita paruh baya yang kini tampak sibuk merapikan stan nya itu, terhenti seketika. Ia mengangkat wajah dan memandang Minsu dengan tatapan menyelidik yang kentara,

“Hari ini ‘kan perayaan ulangtahun pangeran Kris, sekaligus upacara kedewasaannya sebagai putra mahkota, tentu saja semua orang bergegas pergi kesana! Dan begitu juga aku setelah selesai merapikan tempat ini. kau aneh anak muda… bagaimana mungkin kau tidak tahu berita yang sepenting itu?” jelasnya panjang lebar sembari kini mulai memperhatikan Minsu perlahan dari ujung kepala hingga ujung jari kakinya, membuat Minsu jengah.

“A…Ah…jadi begitu, sekarang adalah perayaan ulangtahun kakaknya Luhan” gumam Minsu pelan, menolehkan kembali kepalanya ke piring yang berisi tteokbokki di tangannya.

“Apa kau bilang?! Kakaknya…? k…kau…kau memenggil pa…pangeran dengan nama kecilnya?! YA! MANA SOPAN SANTUNMU PADA KELUARGA KERAJAAN HAH?” wanita paruh baya itu tiba-tiba berteriak keras sesaat setelah tersadar dari rasa terkejut yang menderanya saat Minsu mengucapkan nama kecil Luhan.

Teriakan itu kontan membuat Minsu berjengit kaget. Piring kecil makanan ringanyang tadi dipegangnya sembarangan, jatuh dari tangannya dan pecah seketika membentur aspal.

“A…Aku tidak bermaksud…” Minsu berusaha menjelaskan, tapi wajah wanita paruh baya itu yang tampaknya benar-benar sedang murka, membuat Minsu mengurungkan niatnya dan kemudian berlari sekuat tenaga menjauh dari sana.

“HEI ANAK ANEH! MAU KEMANA KAMU!?” Minsu tidak menghiraukan teriakan wanita paruh baya di belakangnya itu, dengan langkah yang agak pincang karena luka di telapak kakinya, Minsu menorobos kerumunan dan mengikuti arus orang-orang yang berjalan menuju kerajaan Merupuri.

ooo

“…dan karena itulah, untuk memperlihatkan kemahsyuran kerajaan di masa yang akan datang, pangeran Luhan bersedia menerima sihir sesaat kitab mantra dan tampil di hadapan kita semua dalam wujud dewasanya”

Semua rakyat bersorak kagum saat Luhan berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan ke arah Kris dan kemudian berhenti tepat berdiri disampingnya. Tangannya terangkat melambai dengan anggun dan kharismatik pada seluruh rakyat yang tidak berhenti berteriak histeris.

Luhan mendengus pelan dalam hati, alibi yang bagus ayahanda. Ck, bersedia menerima sihir sesaat eoh? cemoohnya sembari melirik kecil pada Kris yang kini memasang senyum lebar.

Andai saja rakyat Merupuri tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada tubuh kecil Luhan, tentu saat ini alih-alih sorakan kagum, mungkin kerajaan akan menerima kecaman karena dianggap tidak becus mengurus pangeran mahkota.

“Eh?” Luhan tersentak saat matanya yang memandang kerumunan besar rakyat Merupuri itu, menangkap siluet carnation-pink yang berjarak beberapa puluh meter darinya dan sedang ditarik-tarik oleh beberapa pengawal.

Luhan menajamkan penglihatannya, sesuatu di dalam hatinya berdetak kencang saat mata emerald itu tepat beradu pandang dengannya,

“Minsu?” desisnya pelan tanpa disadari.

“Eoh? Apa?” Kris menoleh pada Luhan saat tak sengaja mendengar ucapan Luhan tersebut. Tapi tanpa sempat bertanya lebih jauh lagi, Kris dibuat terperangah saat Luhan berlari cepat ke arah depan dan detik berikutnya melompati pagar podium tanpa diduga.

“Apa yang kau lakukan Luhan-ah?!” teriak Kris seketika, ikut berlari menuju ujung podium untuk melihat keadaan Luhan.

Kejadian itu begitu tiba-tiba hingga membuat semua orang yang berada disana menahan nafas dan tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada satupun yang bersuara karena syok yang mendera mereka, bahkan para pengawal pun bingung akan apa yang terjadi. Luhan mendarat dengan perlahan di jalanan aspal, tanpa aba-aba kerumunan rakyat Merupuri seketika menyibak, memberikan jalan pada pangeran mereka.

“Minsu?”

-ooo-

“Minsu?”

Suara merdu yang sudah sangat dikenalnya itu, membuat Minsu menengadahkan kepalanya seketika. Kedua tangannya yang sedari tadi ditarik oleh beberapa pengawal yang hendak mengusirnya dari tempat tersebut karena dicurigai sebagai penyusup, kini terkulai lemas disisi tubuhnya setelah begitu saja terlepas dari cekalan sang pengawal istana.

Mata Minsu melebar melihat sosok yang entah kenapa terasa sangat dirindukannya tersebut. Bibir plum yeoja itu tiba-tiba saja kelu, air bening mulai tampak di sudut mata emeraldnya, pipi chubby nya mulai menampakkan semburat merah.

“LUHAN-AH!” ujar Minsu detik berikutnya, bersamaan dengan jatuhnya air bening dari kedua pelupuk matanya. Dia berlari pincang ke arah Luhan, dan sesaat berikutnya telah menubruk tubuh tegap namja itu, memeluknya erat.

Luhan membalas pelukan Minsu tak kalah erat. Namja yang aslinya masih anak kecil tersebut menenggelamkan kepalanya pada tengkuk Minsu, menghirup harum tubuhnya yang tidak berkurang sedikitpun dari beberapa jam lalu saat dia memeluknya di ruang kesehatan sekolah.

Minsu masih berada dalam kebingungannya akan apa yang tengah terjadi saat tiba-tiba Luhan melonggarkan pelukannya, kemudian dia melepas jubah sutranya dan menyampirkan jubah itu ke tubuh Minsu yang masih memakai seragam. Belum lepas kekagetan yang dia rasakan, tiba-tiba saja Minsu menyadari tubuhnya melayang dan detik berikutnya dia tahu bahwa Luhan telah mengangkatnya ala bridal style.

“Apa yang kau lakukan Lu? turunkan aku!” Minsu meronta pelan dalam pelukan Luhan yang erat.

Namja itu tidak mengindahkan permintaan Minsu, dia hanya terus berjalan kembali ke arah podium dengan diikuti pandangan kaget ratusan ribu orang yang menyaksikan adegan tersebut, termasuk ratusan petinggi kerajaan dan ayahandanya sendiri.

“Semua orang menatapku tajam seolah ingin membunuhku Luhanie, cepat turunkan aku!” kali ini Minsu tidak lagi berontak ataupun berucap keras, dia berbisik pelan sembari menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Luhan.

“Aku tidak akan membiarkanmu berjalan tanpa alis kaki nuna! apalagi dengan telapak yang terluka seperti itu! kau membuatku tidak bisa bernafas selama beberapa menit saat melihat kakimu yang berlumuran darah itu tahu” ocehan Luhan yang tampaknya sedang dalam keadaan sangat kesal tersebut membuat Minsu bungkam seketika. Dia tidak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan yang sebenarnya sangat membuatnya tersentuh itu.

ooo

To be continue…

 

Halo! Masih pada nunggu ff ini ‘kan? Hehehe omong-omong jangan lupa baca Light in The Dark juga ya… udah sampai chapter 3 lho 🙂 dan buat teman-teman yang ingin membaca ff ney lainnya, silahkan berkunjung ke http://quillstarney.wordpress.com !

Komentar kalian sangat ditunggu 😀

Iklan

24 pemikiran pada “Merupuri [Chapter 5]

  1. wah.. minsu ko’ bisa masuk ke merupuri ya..?? apa dia masih punya kekuatan sihir dari leluhurnya, tapi dia ndx menyadarinya..??

    itu yg ketemu sama minsu siapa ya..?? kris kah, atau sehun, soalnya rambutnya warna warni sih.. hehe *sotoy*

    oia, sebenarnya apa yang direncanakan kris sama baekhyun ya..?? apa benar yang dibilang kris ke luhan bahwa banyak orang yang ingin mengincar tahta raja dan berusaha membunuh raja..??
    sebenarnya apa hubungan rencana kris dengan mengubah adiknya jadi berwujud dewasa ya..?? penasaran.. :/

    wuaaahhh lulu sweet banget ya, sepertinya bukan hanya tubuhnya yang berubah jadi dewasa, tapi sikapnya juga.. gentle banget..hehe mau dong digendong juga sama lulu *ngarep* -_-”
    itu gimana reaksi masyarakat merupuri dan petinggi2nya melihat aksi yang dilakukan lulu..??

    di tunggu next chapternya ya chingu.. keep writing n fighting.. annyeong.. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s