The Red Tear Gun And The Doll’s Eye (Chapter 1)

New Picture

The Red Tear Gun And The Doll’s Eye (Chapter 1)

Title: The Red Tear Gun And The Doll’s Eye (Chapter 1)

Author: tigeryongguk

Co-author: rapperdobi

Genre: Angst, Fantasy, Romance, School-life

Rating: PG-15

Length: Multichapter

Cast: Kai, Mina, EXO’s members etc.

***

Flashback On

“Kai sayang, Mina datang kesini.” Ibu Kai melihat ke arah anak laki-lakinya yang sedang duduk di karpet sambil melihat ke arah matahari dengan awan disekitarnya. Anak tersebut dengan cepat menganggukan kepalanya dan berlari kebawah dengan wajah senang.

“Mina, Mina, Mina!” Kai memeluk gadis kecil dengan rambut coklat sepinggang.

“Aku merindukanmu, Kai!” Gadis bernama Mina itu memeluk balik sahabatnya.

Aigoo. Anak-anak, kenapa kalian tidak bermain saja di halaman belakang?” Ayah Kai, yang mengenakan topi berwarna hitam dan pakaian yang benuansa hitam menunjukan dirinya dari ruang kerjanya.

“Baiklah Ayah.” Kai membawa gadis kecil itu bersamanya ke halaman belakang. Saat anak-anak sudah tidak ada di sisi orang tuanya, Ayah Kai datang berbicara face-to-face dengan Ayah Mina.

“Hoseok, sudah kubilang kau seharusnya jangan datang! Di saat seperti ini, Mina dan Kai tidak aman!” kata Ayah Kai.

“Tenang saja, Yoongi. Aku percaya padamu. Kau adalah bos mafia. Kau akan melindungi anak-anak kita.” kata Ayah Mina sembari memegang pundak temannya itu.

“Tapi Hoseok, FBI sedang mengejar kita. Kita mungkin saja membuat anak-anak kita dalam keadaan bahaya.” Ibu Kai, Hyeyoung turun dari lantai dengan kekhawatiran di wajahnya.

“Maafkan aku, Hyeyoung. Mina terlihat sangat sedih bulan lalu. Kami tak tahan melihat kesedihannya. Dia merindukan Kai.” kata Ibu Mina, Gayoung dengan wajah sedih.

“Kai pun begitu. Dia sangat sedih.” Yoongi berkata sambil melihat anak-anak mereka bermain, berlarian dan tertawa senang. Kemudian terdengar bunyi dari intercom.

“Ya, Kim Yoongi disini.”

“Ya.”

“Ya Pak.”

“Apa?”

“Aku mengerti.”

“Ada apa?” tanya Hoseok serius.

“Mereka disini. Di rumahku.” Yoongi menghela nafas dan dengan cepat mengeluarkan pistol dari kantungnya. Hyeyoung dan Gayoung memandang sekilas dan segera menuju halaman belakang untuk mengamankan anak-anak mereka. Tetapi, saat mereka akan meraih knop pintunya, pistol telah ditempatkan di pelipis mereka.

“Angkat tanganmu! Jangan melawan!” seorang lelaki berbaju hitam berkata kepada mereka berdua.

“Hoseok! Mina dan Kai…”

“Mina! Kai! Lari!” Hoseok berteriak kepada anak-anak yang sedang saling memegang tangan satu sama lain dan terdiam ketakutan. Saat mereka mendengar perintah Ayah Mina, mereka berdua segera berlari ke tempat yang aman. Suara pelatuk pistol berbunyi sangat keras, sebelum seorang gadis kecil menangis kesakitan.

“MINA!”

Flashback End

“MINA!”

Tangan Kai terulur keatas seperti sedang memanggil seseorang. Keringat mengalir dari dahi ke dagunya. Matanya seketika terbuka, mulutnya sedikit terbuka dan nafasnya tersengal.

“Nak? Kau tak apa?” Ayah Kai melihat ke arahnya dari pintu dan terlihat khawatir.

“Tidak. Mina lagi.” Kai menekuk kedua kakinya dan menaruh sikunya di kedua lututnya. Dia menyembunyikan wajahnya dengan tangannya dan terlihat ketakutan.

“Mina tak apa-apa. Kau hanya perlu percaya padanya, okay?” Ibunya muncul disebelah ayahnya melihat kegelisahan anaknya.

“Bagaimana kau tahu, Bu?! Ini sudah 11 tahun setelah kejadian itu!” teriak Kai pada ibunya. Ibunya terlihat sangat kaget karena perkataan anaknya.

“Maaf, aku sebaiknya bersiap-siap untuk sekolah.” Kai mengambil handuknya dan berjalan menuju kamar mandinya.

Ayahnya hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Lalu berjalan menuruni tangga. Istrinya melihat dia dan membantunya untuk turun kebawah.

“Kita harus kembali bersama mereka.” kata Hyeyoung setelah Yoongi duduk di kursi makan.

“Tidak. Aku merasa bersalah. Ini salahku.”

“Hoseok, dia pasti memaafkanmu.” kata istrinya tanpa melihat kearahnya dan melanjutnya mencuci piring kotor.

“Aku tahu. Tapi kali ini, aku ingin melindungi kita semua.”

***

“Aku berangkat sekolah dulu.” Mina menaruh sendok garpunya dan berdiri.

“Kau tak berangkat dengan ayahmu?” tanya ibunya setelah selesai mencuci piring kotor dan mengelap tangannya.

“Aku akan berangkat memakai bis.” Mina melambaikan tangannya pada ibunya tanpa senyuman terukir di wajahnya.

“Hari-hati.” Ibunya melambaikan tangannya juga dan memberinya senyuman kecil. Saat pintunya tertutup, ayahnya turun ke bawah.

“Dia sudah pergi?” tanya nya pada istrinya.

“Sudah. Hoseok, aku pikir kita harus menelepon Yoongi dan Hyeyoung.” kata istrinya dengan nada sedih.

“Untuk apa?” tanya nya lagi.

“Hyeyoung tadi meneleponku. Dia berkata setelah kecelakaan itu, Kai tidak bisa tidur dengan tenang. Dia terus memikirkan keadaan Mina. Lama kelamaan itu membuatnya menderita.”

“Aku tidak yakin Kai akan mengingat Mina. Mina sangat berbeda sekarang.” Hoseok menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju.

“Ayo kita lihat. Apakah mereka akan saling mengingat satu sama lain.”

***

“Astaga! Itu Kai Oppa!” segerombolan gadis berdiri dan berteriak di depan Seoul International Academy, saat sebuah mobil sport merah tiba.

Mereka mengikuti mobil sport itu sampai ke tempar parkir dan melihat lelaki berambut hitam keluar dari mobilnya. Dia memperlihatkan mereka seringainya yang membuat gadis-gadis itu menjadi jelly.

11 laki-laki datang ke arah Kai dan menepuk pundak Kai.

“Hei, Kai.” Seorang lelaki tinggi berambut merah merangkul pundak Kai. Para gadis mulai berteriak “KaiYeol”.

“Ayo masuk teman-teman.” kata seseorang yang tinggi lainnya, dengan rambut dirty blonde mengajak mereka masuk dan mereka jalan masuk ke sekolah.

“Hei, kudengar akan ada siswa pindahan. Apa benar Suho hyung?” tanya seorang dari mereka yang memiliki wajah yang mungkin bisa dibilang imut.

Yeah. Gadis itu ada di kelas 3-A.” seorang yang dipanggil Suho menganggukan kepalanya.

“Bagus! Seorang gadis? Apakan dia cantik, sexy, cerdas?” Chanyeol ber-tos dengan D.O dan Luhan yang berada di kelas 3-A juga.

“Dia mempunyai segala aspek yang kau tanyakan.” Kris yang paling tinggi, dengan rambut dirty blonde memberikanseringai ke arah Chanyeol.

“Dia pasti sangat hot.” Sehun yang termuda, melipat tangannya kebelakang kepala dan mendapatkan pukulan dari Chen.

“Dari yang kuingat, kalau tak salah marganya J-Jeon.”

“Hyung, kau tahu kita sedang tak membicarakan marganya.” Kata Xiumin.

“Aku tahu. Tapi kupikir dia sangat ingin tahu.” Suho mengangguk ke arah Kai yang terlihat sangat tertarik untuk mengetahui namanya.

“Apakah dia Jeon Mina?” tanya Kai pada anak kepala sekolah, Tao.

“Aku tak tahu, Kai. Hanya ketua dewan murid dan ketua dewan disiplin yang tahu hal itu.” Tao mengangkat bahunya tanda tak tahu.

“Aku pikir itu bukan dia. Namanya Jeon Mina. Tapi dia tak bernyawa, Tak seperti yang kau ceritakan.” Kris menggelengkan kepalanya dan yang lain hanya melihat ke lantai.

“Dewan murid Seoul International Academy dari SMA, harap segera menuju gedung utama, untuk pertemuan pagi dengan dewan murid lainnya.”

Interkom di koridor berbunyi dua kali sebelum akhirnya berhenti berbunyi.

“Sampai ketemu di jam istirahat kawan.” Suho berhenti dan melambaikan tangannya pada teman-temannya sebelum dia berlari menuju gedung utama.

“Ayo jalan teman-teman.”

***

“Mr. Kim. Silahkan duduk.” Kepala sekolah menyambut Suho dan mempersilahkan dia duduk di sofa abu untuk satu orang. Dia melihat ke laki-laki yang lebih muda yang duduk di sofa berwarna merah.

“Halo, Mr. Lee.” sapa Suho kepala laki-laki dengan jas biru dan rambut blonde.

“Kau bisa memanggilku Dane, Mr. Kim.” dia tersenyum kepada Suho.

“Dan kau juga bisa memanggilku Suho.” kata Suho membalas senyuman laki-laki yang terpaut lebih muda 6 tahun darinya.

“Halo, kawan! Senang melihatmu!” lelaki tinggi dengan jas coklat dan rambut coklat spike, menepuk punggung Suho sebelum duduk di sofa berwarna hitam.

“Mr. Suoh.” Suho tersenyum kepada mahasiswa tersebut.

“Sekarang kau bisa memanggilku Tamaki.” dia tersenyum kepada Suho.

“Dimana Mr. Nam?” tanya kepala sekolah sambil menatap 3 dewan murid yang ada di ruangannya.

“Kepala sekolah, kupikir dia terlambat lagi.” Dane melihat ke jendela dimana itu bisa membuat kita bisa melihat halaman sekolah. Seorang laki-laki sedang berlari sambil terus mengecek jam tangannya.

“Tch. Dia selalu saja telat.” Tamaki menggerutu dan memainkan handphonenya karena bosan menunggu.

“Maaf aku telat, Kepala sekolah Huang!” Seseorang bernama Nam membuka pintu perlahan.

“Duduklah. Dan kita akan mulai.”

“Anak-anak, aku telah memperhatikan kalian selama beberapa tahun. Dane Lee, anak tunggal dari pemilik Korea-America Entertainment Agency. Nam Woohyun, anak pertama dari pemilik Music Departement ter-Elite di Korea. Kim Joonmyun, anak kedua dari salah satu dokter gigi terhebat di dunia. Tamaki Suoh, anak dari kepala sekolah Ouran Private Academy.”

“Kalian semua tumbuh untuk menjadi generasi penerus di Korea.Tahun ini, kalian adalah senior. Aku ingin Hari Pemilihan Dewan Murid diadakan dalam satu bulan. Ingat peraturannya. Pilihlah mereka dengan hati-hati. Aku berharap mereka nantinya akan menjadi sebagus kalian. Pertemuan hari ini selesai.”

***

“Tahun ini ada murid pindahan, pasti dia cantik!*

“Dengar itu? Dia pasti sangat cantik.”

Chanyeol tersenyum mendengar berita tentang murid pindahan itu.

“Aku cuma berharap dia tidak terlalu bodoh untuk jatuh cinta pada mu.” kata Luhan bercanda dan memukul Chanyeol yang membuat Si Rambut Merah Chanyeol mengerang.

“Apa salahnya jadi idiot?! Pada akhirnya, aku tetap naik kelas kan?” katanya Chanyeol.

“Kalian berdua, ayo.” D.O menunjuk ke kelas dan mereka berdua mengangguk. Saat mereka membuka pintu kelas, semua gadis di kelas mencari perhatian kepada 3 flower boy itu.

“Chanyeol! Dimana Kai-ku?” seorang gadis pendek melipat tangan di dadanya, terlihat feminim, memakai sneakers high-heels dan make up yang terlalu banyak.

“Menjauhlah, nenek sihir! Dia bahkan bukan milikmu dari awal.” Chanyeol mengusir gadis itu dan gadis itu mengancam Chanyeol balik.

“Tunggu saja-“

“Sampai kau memberitahu ayahmu aku mengusirmu dan dia akan mengeluarkan aku dari sekolah?” Chanyeol melihat ke gadis itu dengan seringai terpancar di wajahnya. Dia berjalan menuju gadis itu sampai hidungnya menyentuh hidung gadis itu sebelum berbisik perlahan.

“Ayahku bisa saja membuat ayahmu kehilangan pekerjaannya dan kau akan dikeluarkan dari sekolah tanpa seorang pun akan mengetahuinya. Hwang. Min. Jung.”

Gadis itu menggerutu dan dengan cepat kembali ke tempat duduknya. Luhan dan D.O yang melihatnya tertawa dan ber-tos dengan Chanyeol.

“Mrs. Jung datang dengan siswi baru!” Ketua kelas berteriak sebelum dia berlari menuju tempat duduknya. Semua mulai duduk di tempatnya dan menunggu dengan tenang.

“Selamat pagi, semuanya.” Mrs. Jung menyapa kelas.

“Seperti yang kalian ketahui, kita mempunyai murid baru! Silahkan masuk Ms. Jeon.” Kelas bertepuk tangan dengan masuknya seorang gadis berambut coklat.

“Halo, namaku Jeon Mina. Senang bertemu dengan kalian. Kuharap kita bisa berteman.”

***

“Sialan. Gadis itu benar-benar.” Luhan mengerang sakit dan duduk di bangku dengan teman-temannya dengan punggungnya yang kesakitan.

“Ada apa dengan punggungmu?” tanya Chen saat melihat kekesalan di wajah Luhan.

“Gadis sialan itu-“

“Ehm.” Suho berdehem sambil melihat ke arah Luhan.

“Maksudku, Hwang Minjung menendangku.” kata Luhan sambil melihat ke arah Suho.

“Kenapa dia menendangmu?” tanya Sehun melihat ke arah Luhan.

“Aku tak mau memberitahu dia dimana alamat rumah Kai.” kata Luhan.

“Bagus kau tak memberitahu dia.” kata Kris dan memakan ayam nya.

“Apa kalian sudah melihat murid baru itu?” tanya Suho pada mereka bertiga, murid kelas 3-A.

“Sudah. Dia duduk tepat di belakangku.” Chanyeol menyeringai memperlihatkan gigi putihnya.

“Kasihan sekali dia harus duduk di belakang giant.” Kris menyeletuk dan membuat Chanyeol mendengus.

“Bagaimana kelihatannya?” tanya Kai pada mereka. Dia terlihat sangat tertarik dengan nama Jeon Mina pagi ini.

“Lebih dari yang bisa kau bayangkan, Kai. She’s perfect.” kata D.O dan ber-tos dengan Luhan dan Chanyeol.

“Oh.. matanya..” Luhan menjentikkan jarinya dan membuat mereka semua melihat ke arahnya.

“Ssstt. Kita tak boleh memberitahu mereka tentang itu.” Chanyeol memukul lengan Luhan.

“Memangnya kenapa?” tanya Xiumin melihat ke arah mereka berdua.

“Sudahlah, kau akan tahu begitu melihat gadis itu.” D.O hanya menggelengkan kepalanya mencoba membuat mereka untuk tidak membicarakan hal itu.

“Nah, itu dia.” Luhan menyikut pelan Kai, membuat Kai segera melihat seseorang. Seorang gadis dengan rambut coklat panjang dan penutup mata yang menutupi mata kanannya, sedang berjalan menuju ruang makan.

“Astaga. Dia seperti seorang Dewi.” Baekhyun berkata sambil terus memperhatikan gadis itu.

“Woah, dia sangat cantik.” kata Lay sambil menggigit sendoknya.

“Kai Oppa, boleh aku minta tanda tanganmu?” seorang gadis SMP datang kepadanya dan memberinya kertas dan pulpen.

“Ah tentu saja.” kata Kai dan menandatangani kertas itu sebelum mengembalikannya dengan senyuman di wajahnya.

“Baek Ah Yeon. Aku pikir kita mempunyai peraturan disini. Segera kembali ke ruang makan SMP, sebelum aku menendangmu disini.” Nam Woohyun melihat ke arah siswi SMP dengan tajam. Gadis itu melihat ke arahnya.

“Kau sangat menyebalkan, Ketua.” kemudian berlari kembali menuju ‘tempat asal’nya.

“Maafkan aku hyung. Aku tidak bisa mengatur gadis itu.” Woohyun membungkukan badannya pada Kai.

“Tidak apa-apa. Kau boleh pergi.” kata Kai menganggukan kepalanya. Woohyun mengangguk dan kembali menuju area SMP.

“Coba lihat itu. Mark Tuan. Dia menggoda si eye-patch heiress.” D.O menunjuk kepada seorang laki-laki berambut keriting berwarna merah.

Eye-patch heiress? Darimana kau dapat nama panggilan itu?” tanya Kris setelah meminum susunya dari kotak susu dan melempar nya tepat ke tempat sampah.

“Karena dia memakai penutup mata. Dan dia adalah seorang penerus perusahaan.” kata Chanyeol sambil melihat Mark dengan tatapan tajam.

A freaking fucking rich heiress.” kata Luhan.

“Lebih dari Suho?” kata Baekhyun sebelum pukulan mendarat di kepalanya.

“Tiga kalinya.” kata D.O lagi.

Bloody hell. Apa pekerjaan orang tuanya?” Lay bertanya sambil melihat ke Suho dan Kris.

“Kita tidak tahu. Kepala sekolah menyembunyikan tentang itu.” kata Kris dan membersihkan tangannya dari sisa makanan.

“Hei, Kai. Apa yang kau pikirkan?” Tao memukul pundak sahabatnya dan tertawa melihat Kai yang menggigit jarinya.

“Aku sudah memikirkannya. Pasti akan membuang waktuku bukan bila aku menunggu dia?” kata Kai. Dia bersemangat untuk menjalankan rencananya.

“Lalu? Kau mau move on?” kata Chanyeol sambil melihat laki-laki di sebelahnya.

“Bukan, dasar bodoh.” kata Kai lalu memukul kepala Chanyeol.

“Kau ingin Lay membongkar data Pemerintah Korea dan mencari tentang informasi gadis itu. Apa aku benar?” Luhan yang pintar dapat mengetahui maksud pemikiran Kai.

“Kau benar lagi, Luhan.” Kai ber-tos dengan Luhan.

“Ayolah Lay, tolong aku.” Kai memohon pada Lay yang terlihat keberatan dengan permohonan sahabatnya.

“Tapi, tak ada seorang pun yang-“

“Ada. Ilmuwan tergila dan terpintar di dunia. Jeon Hoseok. Ayahnya Mina.” Kai memotong perkataan Lay.

Semua terlihat kaget karena perkataannya. Karena, tidak ada satupun yang berhasil membongkar data Pemerintahan Korea tanpa masuk penjara seumur hidupnya.

“Kenapa Dokter Jeon melakukan itu?” kata Suho. Dia terkejut dan bingung pada ilmuwan yang paling dia kagumi melakukan hal itu.

“Mana aku tahu huh?” kata Kai dan Suho mendengus.

“Lay kumohon. Bongkar datanya daro komputer ayahmu. Ayolah. Dia yang memegang data Pemerintahannya.” Kai memohon pada Lay sampai Lay berkata iya.

Okay guys, kumpul di markas jam 8 malam. Kita bongkar datanya jam 9 saat seluruh pegawai sudah pulang ke rumah.” kata Lay dengan nada menuntut dan semuanya setuju.

Thanks guys.

Mina’s POV

Handphone ku berbunyi dua kali di saku ku. Aku mengambilnya dan melihat nama yang tertera di layar. “Asisten Pribadi Ayah”. Jariku segera menekan tombol hijau pada layar.

“Apa yang kau inginkan L?”

“Santai, Heiress.” Laki-laki di seberang sana menjawab lalu tertawa kecil.

“Cepatlah. Aku harus ke kelas 5 menit lagi.” kataku berbohong.

“Berhentilah menjadi pembohong. Aku tahu kau masih punya waktu 20 menit lagi sebelum jam ke-5.” katanya lalu tertawa dan aku mengutuk dirinya dalam hati.

“Jadi? Apa?” aku mendesah dan melanjutkan mendengarkan dia.

“Ayahmu memberitahu aku untuk menjemputmu pulang sekolah. Jadi tunggu aku, okay?” katanya.

“Sepertinya tak ada pilihan untukku. Baiklah.” kataku dan hampir saja menutup teleponnya sebelum dia mengatakan sesuatu yang membuatku mulutku ternganga.

“Oh, aku dengar ‘Little Prince’ mu Kim Jongin adalah senior di sekolahmu. Jadi selamat bersenang-senang mencari dirinya.” Katanya sebelum menutup telepon. Aku mendengus dan menekan tombol merah untuk menutup teleponnya.

Aku menaruh handphone ku ke dalam saku dan berjalan menuju cafetaria sendirian. Aku melihat 12 laki-laki yang melihatku dengan tatapan sexy- maksudku mata coklat mereka. Tiga dari mereka adalah teman sekelasku, dua dari mereka adalah Ketua Dewan Murid dan Ketua Kedisiplinan Murid. Aku tidak terlalu tertarik dengan mereka jadi aku hanya berjalan pergi. Aku duduk di tempat untuk dua orang. Pelayan datang dan mencatat pesananku.

“Hei, kau murid baru itu bukan?” Laki-laki keriting berambut merah duduk di depanku dan mengedipkan satu matanya. Aku meringis sedikit melihat tindakannya yang menjijikan.

“Namaku Mark Tuan. Senang bertemu denganmu, My Lady.” dia meraih tanganku dan hendak menciumnya sebelum sebuah tangan menghentikannya.

“Whoa, calm down horsey. Langkahi dulu mayatku untuk menyentuh si heiress ini.” kata Sungjong, salah satu teman Myungsoo.

“Tch, pergi sana dasar gay.” dia meludah ke sepatu Sungjong. Hei tampan, kelakuanmu sangat buruk.

“Kenapa kau-“

“Mr. Tuan, jika kau berkenan, tolong tinggalkan aku dengan Mr. Lee.” kataku dengan tenang meskipun emosi mulai tumbuh di dalam diriku.

“Baiklah. Sampai jumpa nanti, Babe.” dia memberiku flying kiss yang Sunjong hancurkan di udara.

“Laki-laki itu membuatku mual.” Sungjong duduk di depanku, di tempat Mark tadi duduk.

“Hei, Sungjong. L bilang-“

“Kim Jongin mu tidak ada disini. Di sekolah ini Kim Jongin adalah seorang brengsek dan playboy.” kata Sungjong sambil membersihkan sepatunya dengan tissue.

“Oh.” kataku dan memerosotkan bahuku kecewa.

“Kapan?” tanyanya ketika aku berterima kasih kepada pelayan yang mengantarkan pesananku.

“Kapan kau akan melepas penutup mata sialan itu?” katanya.

“Sungjong, aku mungkin akan gila jika melepaskan ini.” kataku sambil menunjuk penutup mata putihku.

Yeah, dengan mata boneka itu, kau bisa melihat kematian.” dia mendesah dan aku hanya diam.

“Kenapa aku harus menggunakan mata terkutuk ini?” kataku sambil melihat ke arah Sungjong yang masih menundukan kepalanya.

“Itu yang terakhir Mina. Jika kita mencari yang lain, kau akan mati.” katanya. Aku hanya menganggukan kepalaku dan mulai memakan makananku.

“Aku mengerti.” kataku padanya dan memberikan senyuman. Yang dingin. Dan tidak tulus.

-TBC-

16 pemikiran pada “The Red Tear Gun And The Doll’s Eye (Chapter 1)

  1. apa yg akan terjadi selanjut nya yaaa….
    jongin tau klo ada mina di sekolah nya , atau enggak tau
    dan mina nya tau gak klo jongin 1 sekolah dengan nya
    next ya eooni OK .di tunggu lohh ,
    klo coment nya sikit atau banyak hrus tetap di lanjutin ya eooni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s