It’s Gonna be Love (1/2)

aswdere

It’s gonna be Love (1/2)

lilimissro

Byun Baekhyun and OC

Romance gaje

General

Inspired  song by:

Mandy moore – it’s gonna be love (A walk to remember ost)

It’s gonna be love, it’s gonna be great
It’s gonna be more than I can take
it’s gonna be me, baby, and it’s gonna be you

Because it’s gonna be love

.

.

.

“Mau kukenalkan dengan seseorang bernama Baekhyun?”

Aku membalikkan badanku dan menatap sahabatku yang tengah duduk dibelakangku sambil bertopang dagu dengan mata bulatnya yang berbinar-binar. Bertemu dengan namja? Untuk apa? 

“Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?” temanku yang bernama Kyung soo itu langsung berkacak pinggang mendengar ucapanku.

“Tentu saja untuk berkenalan dengannya, Nona.”

Memang apa pentingnya berkenalan dengan dia?  Aku segera menyuarakan pikiranku.“Mem-“

“Hei, apa kau tidak sadar? Kau butuh pacar agar kau tidak bermain terus bersama namja dan mulai membicarakan namja dengan teman-teman yeojamu! Kau pikir aku senang dibilang pacarmu karna kau selalu menempel lengket denganku?”

“Jadi kau tidak senang bersamaku? Oh, oke aku akan bertemu dengan namja bernama Baekhyun itu.” Aku mendorong mejaku maju dan berdiri hendak meninggalkan Kyung soo.

“Bukan-bukan itu maksudku. Aku hanya, kau tahu, aku juga punya pacar sendiri. Dia sering marah mendengar orang-orang memangilmu pacarku.”

“Jadi dimana yang bernama Baekhyun itu?” aku menatapnya garang.

“Kita temui nanti siang saja, sekarang pasti akan susah karna..”

“Baiklah, Baiklah,” aku langsung memotong ucapannya dan duduk lagi. jujur aku tidak ingin tahu kelanjutan ucapan Kyung soo, apapun itu.

Dan itulah cerita singkat bagaimana aku bisa bertemu, berkenalan dan mengingat seseorang bernama Byun baekhyun. Seseorang yang aku bahkan tak bisa pahami hingga sekarang. Tentu saja aku sangat kesal saat itu dengan ucapan           Kyung soo dan langsung menyetujui ucapannya.  Bisa-bisanya dia lebih perduli dengan pacarnya daripadaku, teman yang sudah menemaninya dikala susah dan senang sejak kecil.

Namun, aku tidak menyadari sebuah kenyataan aneh dan mungkin tidak masuk akal yang aku alami setelah menyetujui hal itu. rasanya sakit, seperti didorong beribu-ribu orang secara bersamaan. Tapi anehnya, hal itu akan membuatmu kecanduan dan akan melakukan apa saja agar dapat merasakannya lagi.

**

“Hei, Tunggu aku!”

Lagi-lagi aku mendengar seseorang meneriaki namja bernama Baekhyun itu. Siapa lagi jika bukan Kyung soo? Seseorang yang bersikeras menjodohkanku dengan Baekhyun. Aku tersenyum senang melihat kegagalan namja itu untuk mengejar Baekhyun yang ternyata sudah beranjak pergi dengan motornya tepat saat kami datang untuk menemuinya.

“Tidak bisakah kita cari namja yang lainnya? Sepertinya namja itu sedikit idiot.” Gumamku saat ia mulai berlari kearahku. Ya, aku tahu perkataanku sangat pedas dan mungkin tidak pantas kusematkan pada namja yang bahkan tak kukenal. Tapi apa peduliku? Kyung soo yang membuatku tiba-tiba merasa kehadiran namja itu seperti benalu.

Apa aku marah karna Kyung soo mendadak memintaku untuk bermain dengan yeoja dan melupakannya? Lupakan saja, aku bahkan tak peduli jika Kyung soo itu hidup atau tidak sekarang. Aku hanya marah karna Kyung soo menganggapku sebagai yeoja jelek yang sulit mendapat pacar dan harus melekat dengan bintang kelas bernama Do kyung soo.

Ah, akhirnya namja itu berbicara setelah mengatur nafasnya yang sangat-sangat pendek itu, “Tidak, pokoknya kita harus mendapatkan Byun baekhyun. Itu demi kebaikanmu dan kebaikanku juga.”

Kebaikan? Apa yang kau maksud dengan hal itu Kyung soo? Apa dengan mengusir sahabat sehidup sematimu demi 100 ribu won ini baik? Pikirkan lagi sebelum aku meremukkan kepalamu!

“Kita pulang saja.” ajakku setelah melihat keadaan namja itu membaik.

**

Keesokan harinya.

“Hei, ayo keluar. Seseorang bernama Byun Baekhyun mencarimu! Palli dia sangat tampan!”  lagi-lagi aku harus mendorong kursiku dan merelakan waktu tidur siangku terbuang demi menemui namja bernama Byun Baekhyun itu. Dan kali ini bukan Kyung soo yang memaksaku mememuinya, tapi lebih tepatnya -teman-teman-perempuanku- yang melakukannya.

“Jadi, kau yang bernama Baekhyun itu?” ujarku santai sambil bergelayutan malas di ambang pintu kelas. Namja itu hanya menatapku datar dan menyipitkan matanya seolah sedang mengamati wajahku di setiap sentinya.

“Hei, aku memintamu untuk menjawabku, bukan memandangiku tuan!”

Baekhyun hanya tersenyum. Entah itu senyum malaikat, atau hanya iblis yang berpura-pura menjadi malaikat dan tersenyum.  Entahlah, aku belum mengenal dengan baik namja itu. Aku menegapkan tubuhku dan menatap namja itu penasaran. Apa yang Kyung soo pikirkan saat memintaku untuk mendekati namja ini?

**

“Semuanya diam!” tiba-tiba aku mendengar suara Joon myun si ketua kelas berteriak di sela-sela jam kosong yang membuat seluruh pandangan mengarah padanya. Termasuk aku yang sedang sibuk membaca komik yang kudapatkan dari teman sebangkuku.

“Minggu depan ada festival musim semi di kota kita dan sekolah beriinisiatif untuk menyumbangkan tenaga untuk acara ini dan..” Oh, kumohon jangan, jangan bilang jika kami harus membantu menjaga stan-stan itu. Itu adalah hal terburuk yang pernah kulakukan sepanjang hidup, dimana aku harus terus berdiri dengan senyum mengembang setiap ada orang yang lewat termasuk Byuntae sekalipun.

“Kelas kita mendapat bagian untuk menyumbangkan salah satu (hanya satu saja) siswi untuk pentas drama sebagai Chunhyang. Cha, menurut kalian siapa yang pantas untuk ini?”

Aku langsung membulatkan kedua bola mataku begitu melihat semua penghuni kelas menatapku. “Apa? Apa yang kalian lihat? Tidak pernah melihat gadis cantik ya?”

“Baiklah, semua sudah setuju jika kau yang ikut.” Ujar Joon myun padaku dan menulis di kertas yang ia bawa lalu beranjak pergi. Ah, ini tidak boleh! Aku, murid terbandel nomor satu di sekolah (jika Jong in si pembuat onar tidak dihitung) harus ikut dan menjadi wakil dari kelasku? (ah,salah. Bahkan menjadi wakil sekolah?)  Apa? Lelucon macam apa ini?

Aku langsung berlari menyusul Joon myun dan berteriak di belakangnya. “Hei, aku tidak bisa. Aku ada urusan Joon myun-ah! Aku harus mengganti makan anjingku! Aku sibuk aku tidak bisa! Kumohon! Jangan aku!”

Tapi aku terlambat. Saat aku berhasil menyusulnya, Joon myun sudah mengumpulkan formulir itu ke kantor kepala sekolah.

**

Ini buruk. Lebih buruk daripada membayangkanku berdandan memakai hanbok dan berpura-pura menjadi seseorang yang bertolak belakang sifatnya denganku. Percayalah padaku, semua hal diatas sana bahkan 100 kali lebih mudah dilakukan jika pasanganku dalam drama itu bukanlah BYUN BAEKHYUN.

“Chunhyang, aku akan pergi ke Seoul dan menempa ilmu sebaik mungkin disana. aku berjanji, saat aku kembali kesini, aku akan datang sebagai mongryong yang siap untuk meminangmu.” Kini kami dalam sesi membaca skrip. Dan tentu saja, aku duduk tepat dihadapan namja itu. Ah, memuakkan.

“Baiklah Mongryong. Pergilah, pergilah sejauh mungkin dan jangan kembali. Dan.. rencanamu untuk meminangku itu.. lupakan saja.” ujarku sambil menyeringai. Mungkin jika aku yang menciptakan naskah dalam drama ini semuanya akan menjadi  lebih baik. Hey, kenapa aku tidak mencoba untuk menjadi penulis naskah saja? kekeke

“Hei, itu tidak ada di script!” teriak Jong dae, siswa SMA sebelah yang tengah menjadi sutradara kini. Benar, semua yang terlibat dalam proyek ini adalah anak SMA. Dan mungkin mereka  memilihku dalam drama panggung ini karna akulah yang tercantik di sekolah (Dan bukannya pembuat onar yang bahkan sering bersekongkol dengan Jong in)

“Aku hanya improvisasi, tuan Jong dae!” aku tersenyum dan menatapnya tajam. Jong dae mendengus sambil menatapku dengan tatapan apa-kau-bosan-hidup?

“Baiklah, jika kau tidak mau mengucapkan semua dialog di dalam sana dengan baik, pergilah kerumah si Mongryong (sambil menunjuk Baekhyun yang masih membaca skrip dengan serius) dan belajar dari dia. Dia juga melakukan improvisasi tentunya, tapi dengan cara yang lebih baik darimu.”

Aku menatap jong dae tak percaya sambil membuka mulutku lebar-lebar. Apa dia ingin membuat Kyung soo berjingkrak senang karna untuk pertama kalinya dia berhasil dengan taruhannya (tentu saja bersama teman-temannya dan aku jadi korbannya) terhadap flower boy misterius bernama Baekhyun? A-ap-APA?!

“Kau maukan Mongryong?” Tanya Jong dae sambil melirik Baekhyun yang kini tengah menatap semua orang dengan senyum ramahnya. (yang membuatku berkali-kali menahan muntah) Baekhyun mengangguk, dan entah kenapa aku seperti mendengar semua orang diruangan itu menghela nafasnya lega.

**

Aku memberanikan diriku mengetuk rumah Baekhyun keesokannya, saat pulang sekolah. Aku sedikit tercengang melihat dandanan namja itu dirumah. Tidak seperti namja lain yang berpakaian santai pada siang yang panas itu, Baekhyun malah memakai kemeja biru kotak-kotak dan sweater abu-abu berlengan panjang yang ikut digulung bersama kemejanya. Sungguh aneh, apa dia tidak kepanasan? Oh, ternyata dia memakai celana pendek. Tapi,tetap saja aneh. Apa dia seorang model? Atau jangan-jangan dia artis? Kenapa dia selalu berpakaian yang seperti itu? Kyung soo yang anak rajin saja pasti sudah membuang semua pakaiannya karna panas matahari yang bersinar terlalu cerah hari ini.

“Kau datang kesini untuk berlatih kan? Cha, ayo masuk.” tanyanya ramah. Aku bingung, setelah mengetahui aku yang seperti ini kenapa dia masih saja seperti tersenyum itu? Jujur, dia membuatku terlihat seperti pendosa dengan senyum malaikatnya itu.

Aku mengangguk dan mengikutinya masuk. Rumah kecilnya begitu.. nyaman. Sofa cream besar menghiasi pandanganku begitu masuk keruang tamunya yang berdinding putih tulang. Di atas sofa besar yang kududuki itu terdapat banyak pajangan foto yang kebanyakan diisi oleh seorang namja berwajah sama malaikatnya dengan Baekhyun. Dan, anehnya hanya ada satu foto Baekhyun disana, itu juga bersama namja itu.

“Tunggu disini dulu. Aku akan mengambil naskahku dikamar.”

“Ehm, cham, maaf aku tidak sopan. Tapi siapa namja itu?” aku menunjuk wajah namja yang menghiasi hampir seluruh dinding itu.

“Oh, itu adikku. Sehun. Sebentar lagi mungkin dia akan pulang.” Ujar Baekhyun tanpa kehilangan senyum malaikatnya itu dan langsung beranjak mengambil naskahnya kedalam rumah.

Aku menghela nafasku dan mengamati langit-langit rumah Baekhyun. Sejenak aku mendapati hal janggal dirumah ini. dimana orang tua Baekhyun? Dan, kenapa hanya ada foto Sehun dan Baekhyun yang dipajang?

“Aku pulang.” Aku menoleh pada arah sumber suara itu dan mendapati Sehun tengah melepas sepatunya kemudian terdiam melihatku. Hehe, mungkin dia tepesona denganku.

“Maaf, kau siapa ya? teman Baekhyun Hyung?” aku hanya mengangguk. Jika dilihat dari seragamnya sih dia mungkin hanya berjarak 1 tahun dari aku maupun Baekhyun yang seangkatan(juga kelas yang bersebelahan). Dia juga anak SMA ternyata.

Ah, aku baru sadar. Apa yang kulakukan tadi saat mendengar Sehun menanyakan aku teman Baekhyun atau bukan? aku mengangguk?  Yang benar saja! apa yang terjadi padaku?

**

“Kau mengabaikanku dan pulang bersama Baekhyun?” Kyung soo mengangkat alisnya dan menatapku aneh. “Bukankah aku dulu pernah mendengar ada seseorang yang mengatainya idiot?”

“Ini demi kepentingan drama babo!” aku mengetuk kepalanya dengan kepalan tanganku.

“Sejak kapan kau perduli dengan hal itu? Tapi, mungkin orang tuamu akan sangat senang melihat kau berubah seperti ini.”

“YA! aku tidak akan memberitahu mereka. Sampai kapanpun.”

“Mereka akan tahu, bagaimanapun.” Seru Kyung soo membalasku.

“Tidak jika aku membunuhmu lebih dulu.” Kini mataku seolah berubah menjadi mata laser superman dan siap memanggang si Kyung soo keparat menjadi daging gosong.

“Oke, oke, aku tidak akan melakukannya.” Kyung soo mengangkat tangannya sebatas dada dan berjalan menjauhiku. “Selamat bersenang-senang dengan tuan Baekhyun! Dan selamat datang uang 100 ribu won!!”

“Yak!” aku langsung melepas sepatuku dan melempar kepalanya. Dia berteriak mengaduh dari kejauhan dan langsung melempar sepatuku kembali sebelum berlari secepat kilat.

Kini bahkan aku juga ikut bingung. Kenapa aku tiba-tiba bersemangat dalam drama itu? Apa Jong dae memantraiku? Apa si penulis naskah itu yang memantraiku untuk giat berlatih drama dan pulang bersama Baekhyun? Entahlah, aku juga belum begitu mengenal namja itu.

**

“Lagi-lagi kau datang.”

Aku memanyunkan bibirku melihat Sehun membukakan pintu rumahnya sambil menggerutu lagi. Sudah 2 minggu ini aku selalu datang kerumah Baekhyun dan entah kenapa sepertinya Sehun terlihat tidak suka dengan kehadiranku. Dia sama anehnya dengan Hyungnya. Setelah melihatku mengangguk dan mengangkat bahuku, ia mempersilahkanku masuk.

“Memangnya sepenting itu drama kalian hingga kau harus datang kesini untuk berlatih dengan Hyungku?” racau Sehun lagi. anak ini sebenarnya sangat kekanakan. Sangat berbeda dengan wajahnya yang bahkan terlihat lebih tua dari Baekhyun. :b

“Jong dae yang menyuruhku.” Jawabku lirih.

“Tapi kalian latihan hampir setiap hari. Senin sampai sabtu dirumah ini dan Minggu di sekolah. Kau membuat Hyungku kelelahan!”

“Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. (tapi apa kau tahu jika aku juga melakukannya?!)” aku menghela nafasku. Setiap hari Sehun akan menceramahiku disini hingga Baekhyun pulang dari pekerjaannya. Baekhyun bekerja paruh waktu di sebuah restoran terkenal di kota ini, jadi Sehun harus selalu menjaga rumah. Aku tahu Baekhyun berkali-kali lebih lelah dibandingkanku karna semua ini. tapi anehnya, senyum malaikatnya itu tetap ada setiap bertemu dengan siapapun.

“Apa dia pulang terlambat hari ini?” tanyaku. Sehun langsung memutar bola matanya malas. “Mungkin dia malas pulang karna saat sampai dia harus melihat yeoja sepertimu dirumah kami.”

Hei, apa aku seburuk itu? Aku hanya bandel dan sering melanggar peraturan, aku bukannya kucing jalanan yang kotor!

“Aku pulang.” Aku dan Sehun langsung memandang pintu dan melihat Baekhyun berjalan kearah kami dengan senyumnya (aigoo. Sampai kapan ia akan tetap tersenyum seperti itu?)

“Kau sudah datang Hyung, kau mau makan dulu?” Tanya Sehun sambil berdiri dan menyambut Hyung nya. Biasanya Sehun membawakan tas Baekhyun atau memberikannya minuman. Aku tahu, aku tahu aku sedang berada di rumah keluarga berwajah malaikat dan berperilaku seperti malaikat juga. Tapi aku mulai terbiasa dengan hal itu dan tidak  merasa  sebagai pendosa lagi saat ini.

Baekhyun menggeleng setelah menolak Sehun yang hendak mengambil tasnya. “Aku akan mengajak yeoja ini ke  tempat anak-anak. Mereka mungkin akan senang. Tidak apa-apa kan jika aku meninggalkanmu sendiri disini?”

“Jika itu demi anak-anak.. baiklah. Tapi apa kau yakin mereka akan senang dengan hal itu?”

Aku mulai merasa bulu kudukku entah kenapa berdiri saat ini. kenapa aku merasa seolah aku ini korban prostitusi yang akan dijual? Andwae,andwae!

“Kajja.”ujar Baekhyun singkat dan menarik tanganku. Dengan senyuman malaikat itu, perilaku yang kelewat baik dan sosok misteriusnya itu membuatku sedikit ragu jika aku benar-benar seorang korban prostitusi. Entahlah, aku juga tak terlalu mengenalnya. Dan mungkin tak akan bisa mengenalnya, kurasa.

**

Apa aku ini bodoh? Bisa-bisanya aku tadi sempat meragukan kebaikan Baekhyun. Aku, dengan pakaian compang-camping ini sedang berdiri disamping namja tampan bernama Byun Baekhyun. Di halaman sebuah panti asuhan.

Baekhyun hanya tersenyum singkat dan mengajakku masuk. Disana terdapat banyak sekali lorong-lorong dan anak kecil berlalu lalang. Yang membuatku sangat kaget disini adalah, Baekhyun hampir hafal semua nama anak-anak itu dan bahkan tahu apa yang mereka sukai.

“Apa  kau sering datang kesini?” tanyaku sambil memasukkan   kedua telapak tanganku pada jeans belel yang sedang kupakai.

“Setiap minggu. Dan setiap aku punya waktu luang.”  Jawabnya sambil sibuk berbicara dengan anak-anak itu. Mereka tampak sangat gembira dengan kedatangan Baekhyun. Tapi, setelah melihatku tiba-tiba mereka sedikit hening dan mulai berbisik-bisik. Baekhyun yang tak merasakan hal itu langsung menggendong gadis kecil (Saat aku tersenyum padanya dia langsung memeluk Baekhyun erat.) dan membawanya berjalan.

Dengan terpaksa aku mengikuti mereka berdua.  Baekhyun dan anak-anak kecil itu  bernyanyi dengan riang gembira hingga suara mereka hampir memenuhi seluruh gedung panti asuhan yang besar. Sementara aku?  Aku berjalan cukup  jauh dari mereka. Bukan karna aku tidak suka nyanyian itu atau suara Baekhyun, tapi aku dihadang oleh sejumlah anak yang berbadan cukup besar. Apa mereka pikir aku akan menyakiti Baekhyun kesayangan mereka itu? Ada-ada saja.

Aku memalingkan wajahku kebawah begitu merasakan sesuatu menarik-narik  bajuku. Disana kudapati seorang gadis kecil, mungkin berusia 3 tahun? Atau 4? Ah,pokoknya dia terlihat berumur antara itu. Matanya yang cantik itu berkedip-kedip sambil menatapku. Aku hanya menatapnya ngeri. Aku sangat jijik dengan sesuatu yang berbau aegyeo, jujur saja.

“Eonni.” Panggilnya lirih.  Aku hanya menatapnya sambil mengisyaratkan jawaban iya di mataku yang sedang ia  tatap.

“Eonni tahu kenapa Baekhyun oppa mengajak eonni kesini?”  tanyanya sedikit cadel. Dan itu membuatku semakin ngeri,  dia seperti berbicara sambil meminum atau memakan sesuatu. Aku terdiam cukup  lama sambil menghilangkan rasa ngeriku kemudian menggeleng.

“Aku yang memintanya.” Tiba-tiba gadis yang berusia kira-kira 12 tahun datang. Aigoo.. kenapa harus ada banyak gadis imut disini?

“Kenapa?” tanyaku frontal. Gadis  itu terlihat terdiam sambil memegangi dua kepangnya  dan berpikir sejenak.  “Aku menyukai Baekhyun oppa. Jadi saat dia terus menerus menceritakanmu, aku pikir kita harus bertemu.”

Mwo? Dia terus menceritakanku? Aku yang terpeleset kulit pisang dan terjatuh ke selokan saat pulang dengan Baekhyun? Aku yang bahkan pernah adu panco dengan Sehun dan kalah telak kemudian menangis kesakitan? Dan aku yang tak sengaja memeluk Baekhyun saat lampu rumahnya tiba-tiba mati dan mendapat amukan Sehun? Apa yang sudah ia ceritakan!?

“Lalu?” tanyaku lagi.

“Tapi yasudahlah. Melihat dari penampilanmu yang urakan.. kemungkinan Baekhyun Oppa menyukaimu adalah nol persen. Jadi, aku rasa tak ada yang perlu kita bicarakan.” Ujarnya sok pintar sambil mengangkat dagu dan berlari menuju Baekhyun yang berjalan cukup jauh dariku. Kini tinggal aku dan gadis kecil yang menarik-narik bajuku tadi.

Aku berjongkok dan mensejajarkan tinggiku dengannya, “Kenapa kau tidak ikut pergi seperti yang lain??”  ia langsung menunduk mendengar ucapanku. Sejenak kemudian dia langsung melebarkan tangannya. Ia ingin digendong. Olehku.

aku menarik tubuhnya dan menggendongnya di pinggang kananku sambil berjalan menyusul Baekhyun yang masih saja bernyanyi (Sebenarnya mau kemana dia?). Ia  terus menerus memandangiku dengan mata bulatnya lagi. “Ada apa?” tanyaku penasaran melihat tingkahnya yang tidak wajar itu.

“Eonni.. jangan dengarkan ucapan Sun hye eonni.” Ujarnya sambil mulai melingkarkan tangannya dileherku. “Memangnya kenapa?”

“Eonni cantik, beraroma seperti ibu, dan Baekhyun ajushi (tunggu,dia tidak setua itu gadis kecil!) beraroma  seperti ayah. Jika aku boleh meminta pada Tuhan, aku ingin Baekhyun ajushi menjadi ayahku dan Eonni menjadi ibuku.” Ujarnya sambil memalingkan wajahnya kearah lain.

“Tapi eonni tidak berpenampilan seperti ibu bukan?” ujarku lagi sambil mengelus kepalanya. Anak-anak bertubuh gempal itu masih membatasi jarak antaraku dan Baekhyun.    Jadi namja itu tak mungkin dapat mendengar pembicaraanku dengan gadis kecil ini.

“Ibu itu tidak dari penampilan. Aku suka eonni, dan Baekhyun ajushi (lagi-lagi dia memanggilnya seperti itu) juga menyukai eonni. Itu semua sudah cukup untuk menjadikan eonni sebagai ibuku.”

“Oh- eh, apa yang kau katakan barusan?” ujarku kaget sambil memasang telingaku rapat-rapat. Apa aku tidak salah dengar? Baekhyun.. juga menyukaiku?

Ini benar-benar gila. Gadis ini berbohong atau tidak? tapi yang kudengar anak kecil tidak bisa berbohong. Ini nyata atau tidak? kenapa Baekhyun mengatakan hal itu pada anak kecil? Sebenarnya apa yang terjadi pada namja itu?

Kenapa… semakin lama aku semakin sulit memahaminya? Apa aku yang terlalu bodoh atau Baekhyun memang sangat sulit ditebak?

Entahlah, debaran dalam dadaku ini tak mau berhenti. Sial.

**

“APA!!? SEKARANG KAU BILANG?!!!!”

teriakku kencang -sekencang mungkin- saat Baekhyun mengatakan ingin menunjukkan hasil latihan kami pada anak-anak panti asuhan itu. Aku menurunkan Min hee dari gendonganku dan memelototi Baekhyun. “Apa kau gila? Itu drama untuk remaja dan Dewasa bodoh!”

“Aku tahu- kita ubah sedikit dialognya, sambil menghafalkannya juga kan? Ayolah.. mereka sudah lama menunggu.” Ujarnya memohon. Kini kami berada di tempat bermain anak-anak yang cukup luas, dengan sebuah televisi di sudut ruangan, mainan berserakan dimana-mana, dan anak-anak panti asuhan yang sudah duduk rapi dihadapan kami.

“Apa kau gila? Ah, sudahlah.” Aku menghela nafasku dan menurutinya.

Sesuai yang dikatakan Baekhyun, kami mengganti segelintir dialog yang sulit dipahami oleh anak kecil dan menghilangkan kiss scene yang sebenarnya ada di dalam drama itu (inilah yang membuatku mengamuk saat membaca naskah itu pertama kali) dan malah membuat acara komedi dadakan, tapi dengan kalimat yang pas untuk anak kecil  tentunya.

“Kalian menyukainya?” Tanya Baekhyun setelah kami membungkuk dan menutup drama.

“IYAAA!!!” jawab anak-anak itu serempak. Aku mengalihkan pandanganku pada Min hee dan ia sedang tersenyum senang sambil bertepuk tangan. Dia pasti sangat senang karna dia ingin aku dan Baekhyun –ah,lupakan.

Aku langsung merosot jatuh kelantai dan bersender di dinding yang berada di belakangku. Ah, melelahkan sekali menjadi badut sehari di tempat ini.  tak  kusangka tiba-tiba anak-anak langsung menyerbu dan memelukku sambil mengatakan jika mereka menyukaiku. Baekhyun yang melihat hanya tersenyum dan ikut duduk di sampingku.

“Min hee, kau tidak perlu melakukan itu.” Ujarku saat melihat gadis kecil itu dengan langkah berat membawakan beberapa balon putih dari sudut ruangan sambil berjalan kearahku. Aku akan berdiri membantunya, tapi tangan Baekhyun menghalangiku, “Biarkan saja. dia akan menangis jika kau menghalanginya.”

Akhirnya Min hee sampai dihadapanku dan menyerahkan tiga balon itu padaku. Aku menggenggamnya sementara Min hee mulai naik di pahaku dan memeluk lenganku.

“Min hee-ya lepaskan! Noona ini milikku!!”  teriak seorang anak kecil lainnya sambil berusaha menggeret Min hee dariku. “Sudah biarkan saja, kalau kau mau kau bisa tidur di pangkuan noona.” Ujarku sambil menepuk kakiku yang sedang bersilang, dengan Min hee yang sudah tertidur pulas di paha kananku. Anak yang bernama Son dal itu langsung merebahkan kepalanya di paha kiriku. Sementara anak-anak yang lain mulai mengerubungi Baekhyun, meminta hal yang sama.

Baekhyun terlihat kerepotan sejenak. Untung dia terselamatkan oleh pengurus panti asuhan yang menyuruh mereka semua untuk tidur siang. Min hee dan Son dal masih tidur di pangkuanku, saat pengurus ingin membangunkan mereka aku mencegahnya dan menyuruhnya untuk membiarkan mereka tidur di pangkuanku.

“tidak lelah?” Tanya Baekhyun setelah beberapa menit kami saling terdiam. Aku menggeleng dan meniupi balon putih di tangan kiriku. Karna bosan aku juga berpura-pura seperti akan memakannya dan Baekhyun terdiam lagi.  aku mengalihkan padanganku padanya dan mendapati namja tampan itu tengah tersenyum geli melihat tingkah konyolku.

Dan kemudian Baekhyun menyenderkan kepalanya di bahuku.

Butuh beberapa menit bagiku untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi.  Baekhyun? Apa yang sedang dia lakukan? Tanpa sengaja aku melepaskan genggaman balonku dan membiarkan mereka terbang ke atas langit-langit. Lagi, lagi.. lagi-lagi jantungku.. ouh, sial Dia tidur sekarang! Dia tidur di bahuku!

Ah, eotteokhae? Jantung berhentilah berdebum seperti itu! Kau bukan drum! Hanya tidur, Baekhyun hanya tidur di pundakmu! Oke, itu bukan hanya, itu LUAR BIASA GILA! Baekhyun..  kau membuatku.. Arrgh!!!

**

Hari terus berlalu, bahkan terasa begitu cepat bagiku. Setelah pergi kepanti asuhan bersama Baekhyun, aku jadi sering kesana. Alasannya adalah Min hee dan anak-anak yang membuatku rindu pada senyum dan tawa mereka. Aku bukanlah gadis yang menyukai anak kecil, dan mereka termasuk dalam daftar yang kuhindari. Tetapi, akhir-akhir ini pikiranku mulai berubah. Sebenarnya bukan itu saja.

Aku juga merubah penampilanku.

Demi Baekhyun (ah, salah. Aku tidak bermaksud mengatakannya!!! Lidahku tergelincir!!)

Semua orang kelihatannya sangat menyukai penampilan baruku. Saat aku membuka loker di pagi hari pasti kakiku akan  tertimpa tumpukan surat cinta dari dalamnya. Kini lebih tepatnya aku popular bukan karna aku gadis gila yang selalu bersekongkol dengan Jong in. bahkan namja itu pernah mengirimiku surat sekali. Aneh ckck.

Kyung soo semakin menggila akhir-akhir ini. dia berjingkrak senang karna dia berhasil mendapatkan uang 100 ribu won (yang jumlahnya tidak terlalu banyak itu), hubungan dengan pacarnya membaik, dan sialnya nilai si Kyung soo itu terus naik.

Sehun juga lebih baik padaku setelah aku tidak berdandan seperti preman lagi. memang aku tidak berubah sepenuhnya, tetapi pakaian sopan sudah cukup. Aku sering mengendap-endap kerumah Baekhyun pagi hari untuk mencuri sarapan buatan Sehun, yaitu roti dan susu. Dan akhirnya namja itu sarapan di rumah pacarnya, Jun hee gadis yang baru berumur lima tahun dan selalu ngotot untuk menikahi Sehun. (Apa kalian pikir Sehun pedofil? Aku rasa aku juga berpikir seperti itu). Sehun berterimakasih untuk itu dan akupun berterimakasih padanya karna aku bisa melihat Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan handuk basahnya dari ruang makan rumah mereka (ouw lidahku tergelincir lagi.)

Dan drama itu… sangat lancar.

Hingga pada suatu hari tiba-tiba Jong dae mengumumkan jika pemeran wanitanya diganti dengan Choi jin ri, gadis tercantik di sma khusus wanita yang pintar berbagai bahasa dan menjahit dengan pita pink yang selalu menempel di rambut coklatnya. Aku harap Baekhyun tidak menyukainya dan meminta Jong dae mengembalikanku. Semoga saja.

Tapi dunia tidak seindah dan semudah itu.

Aku sudah berubah, Kyung soo sudah mendapat 100 ribu wonnya, dan Sehun sudah kenyang sarapan di rumah pacarnya. Tapi  semua itu tak bisa membuatku kembali bermain drama keparat itu. Sekarang aku tambah murka melihat naskahnya karna saat aku melihat adegan kiss itu tidak dilakukan lagi olehku, melainkan Jin ri. Dan aku hanya bertugas menggulung kabel -__- (dan tentu saja tidak akan aku lakukan.)

“Hei.” Aku tersadar dari lamunanku dan mendapati si jakung Sehun disampingku. Jujur saja, kulitnya itu pucat, tubuhnya benar-benar kurus, dan Dia benar-benar tinggi.

“Apa? Kau ingin main nikah-nikahan lagi dengan Jun hee dan aku jadi pendetanya lagi? atau kali ini aku jadi pengiring pengantin?” tanyaku sarkastik sambil terus berjalan pulang. Jam sekolah sudah berakhir dan tak ada hal penting terjadi hari ini.

“Yak! Aku muak dengan semua itu. Aku tahu aku terlihat sangat senang. Tapi, asal kau tahu. Aku hanya butuh asupan gizi yang memadai, dan adik Joon myun Hyung selalu memberikannya padaku.” Oh, aku lupa mengatakan jika Jun hee yang baru lima tahun itu ternyata adik ketua kelasku yang menulis namaku tanpa permisi waktu itu dan membuatku terjebak dengan Baekhyun.

“Lalu? Apa yang kau mau?” tanyaku datar.

“Bisakah kau berhenti mengendap-endap? Sekarang kau juga bisa makan bersamaku, Jin ri noona selalu membawakan makanan setiap pagi.”

Apa?

Jin ri?

Dia membawakan makanan untuk Baekhyun?

Hal yang tak pernah kulakukan selama ini?

Baiklah, aku kalah telak.

“Tidak usah Sehun-ah. Aku tidak akan makan di rumahmu lagi. lagipula dirumahku juga ada makanan. Aku pulang dulu.” Ujarku tanpa memandang Sehun (yang dari tadi sudah memandangku bingung) dan berlari secepat mungkin. Pergi dari tempat itu.

Oh, air mata ini.. aisssh!!! Kenapa aku harus menangisinya?!

**

Aku terlihat seperti orang stress.

Mataku terlihat seperti panda. Tubuhku tiba-tiba menjadi kurus sekali. Dan aku sering marah-marah. Aku tidak tahu jika akan seperti ini jadinya jika aku kehilangan Baekhyun dalam hidupku. Aku merindukannya, sangat.

Dan sekarang, aku sedang bersama adiknya lagi setelah dua minggu tak bertemu dan drama itu akan dimulai beberapa menit lagi. aku berada di backstage, menjadi manusia tak berguna yang hanya melihat orang lain berlalu lalang.

“Aku ingin bicara padamu.” Ujar Sehun tiba-tiba.

“Apa?”

“Jika sesungguhnya aku ini dulu adalah salah satu dari anggota anak panti asuhan yang kau datangi bersama Baekhyun Hyung.”

Aku langsung memandangnya. “Jadi kau dan Baekhyun berasal dari sana?”

“Ania.. hanya aku.” Sehun menunjuk dirinya sendiri, “Baekhyun Hyung itu anak dari keluarga yang mengadopsiku. Tapi, saat aku dan Baekhyun Hyung sedang dalam perjalanan karyawisata TK, kedua orang tua kami kecelakaan dan tewas. Baekhyun Hyung sudah menjagaku selama itu.”

“Lalu? Apa motivasimu mengatakan hal ini?”

“Kau harus tahu jika-“

“Jika apa?” potongku cepat.

“Jika Baekhyun Hyung terlalu baik  untukmu.” Ujarnya lemah. Aku tahu itu bukan ejekan atau sindiran. Baekhyun memang terlalu baik, bahkan aku yang sudah berubah sedemikian rupa ini masih belum pantas untuknya.

“Tapi apa yang bisa kuperbuat? Dia sudah terlanjur jatuh hati padamu.” Ujar Sehun datar dan pergi meninggalkanku. Aku sudah tahu hal ini akan terjadi.. TUNGGU! Baek, bbb, baekhyun jatuh-cinta-padaku?!

“Sehun-ah!” ah, ya. dia sudah pergi. Bagaimana sekarang? Apa yang harus kulakukan?

Bagaimana ini? aku bisa-bisa mati karna terlalu senang!! Byun Baekhyun.. kau..

Jika aku bertemu denganmu lagi, kau akan mati! (bukan-bukan itu maksudku.)

**

Dunia memang tak akan seindah di negri dongeng. Aku tahu. Sekalipun aku merasa sangat senang dengan ucapan Sehun yang entah benar atau tidak itu, apa yang terjadi dihadapanku seolah menjelaskan segalanya dengan jelas dihadapanku.

Baekhyun mencium gadis itu. Dan dia terlihat menikmatinya.

Mungkin aku tidak bisa membaca pikiran Baekhyun maupun Jin ri. Tapi, melihat senyum lembut Baekhyun yang ia hadapkan pada gadis itu seolah langsung meruntuhkan duniaku seketika. Tanganku berkeringat dingin. Aku benci semua ini. dan aku benci harus menangisi Baekhyun lagi.

“Hyungku tidak benar-benar menciumnya. Dia hanya berakting. Kau tidak perlu menangis.” ujar Sehun menenangkanku.

“Tidak apa. Aku tahu ini semua akan terjadi dan aku sudah siap. Tapi tetap saja.. hal ini rasanya seperti akan membunuhku. Aku menyukainya.. bukan, aku MENCINTAINYA! Apa kau paham itu? Apa anak kecil sepertimu paham?”

Sehun terdiam. Aku tahu dan sangat sadar dia terluka dengan ucapanku. Tapi apa yang bisa kulakukan? Sehun, kau sudah melihatku hancur, tapi kenapa kau masih bisa mengatakan hal-hal menjijikan seperti itu? Baekhyun sudah jelas-jelas membuangku!

Aku langsung menutupi wajahku begitu sosok Baekhyun turun dari atas panggung. Aku beranjak pergi dan mengisyaratkan Sehun untuk tidak mengatakan apapun pada Baekhyun. Aku harus membuang perasaanku, segera sebelum semua ini terlalu jauh dan aku bisa mati karenannya.

**

“Kyung soo-ah!” teriakku sambil berlari menuju Kyung soo yang langsung terdiam cengo di gerbang rumahnya sehabis pergi membeli es krim di supermarket saat kupanggil.

“Ada apha?” tanyanya dengan mulut penuh es krim. Ia tak menyadari air mata di seluruh wajahku. Matanya terlihat polos, aku benci itu. Dialah yang memulai semuannya. Dia yang mengenalkanku dengan Baekhyun.

“Kau senang sekarang hah? Kau senang membuatku seperti ini?” ujarku lirih.

“Kau kenapha?” Tanya Kyung soo khawatir dan mulai menyadari air mataku. Aku hanya tersenyum tipis, “Tidak apa-apa. Pulang sana, jangan khawatirkanku.”

“Tapi aku khawatir!” bentak Kyung soo, “Aku tahu kadang aku kejam padamu, tapi ada apa? Apa kau menangis karnaku?”

“Bukan. Ini karna Baekhyun.”

Kyung soo terdiam mencerna kalimatku. Aku mengusap mataku dan menepuk pundaknya. “Aku pulang dulu, banyak yang harus kukerjakan.”

Ya, memang banyak hal yang harus kukerjakan malam ini. dan salah satunya adalah mulai membenci Baekhyun.

**

Dua minggu berlalu sejak pentas drama itu usai. Musim panas akan segera datang dan matahari lebih sering menampakkan dirinya akhir-akhir ini. aku kembali dengan kebiasaan lamaku, yaitu tidur di kelas. Aku tidak merubah penampilanku kembali seperti dulu tentu saja,  aku hanya.. lebih tertutup dengan orang-orang. Semua yang ada di sekitarku mengingatkanku pada Baekhyun. Bahkan, aku bertemu dengannya untuk pertama kali di kelasku sendiri.

Bruk!!

Terdengar suara debuman benda menghantam dinding kelasku dari luar. Aku yakin ada yang sedang berkelahi diluar sana. Aku tidak akan keluar, toh tak ada yang bisa kulakukan selain melihat dan menunggu siapa yang akan memenangkan perkelahian itu atau siapa guru yang menghentikannya.

“Kau bajingan Byun!”

Aku mendongak mendengar marga Baekhyun disebut.  Dan aku lebih kaget lagi saat mendengar suara Kyung soolah yang mengucapkan kata tak pantas itu. Apa salah Baekhyun hingga Kyung soo mengumpat seperti itu?

“Hentikan!” teriakku di hadapan mereka dan mendapati ternyata mereka berdualah yang saling berkelahi. “Kyung soo-ah? Apa yang kau lakukan??”

Kyung soo tidak menghiraukanku dan masih memukuli Baekhyun. Seragam Baekhyun terdapat bercak-bercak darah di sekitar kerahnya. Aku melihat wajahnya dan melihat darah di sudut bibir, pelipis dan hidungnya. Kyung soo hampir sama dengan Baekhyun. Jadi, kusimpulkan ini bukan tentangku karna Baekhyun tak akan memukul Kyung soo jika dia memiliki perasaan padaku.

“Apa kalian berdua tuli? Dengarkan aku! Hentikan!!!!” teriakku lagi. tenggorokanku terasa kering. Mataku memanas dan aku tidak bisa membendung air mata ini sebentar lagi. kenapa namja ini harus muncul lagi setelah dua minggu berlalu dan aku mulai melupakannya? dadaku terasa ngilu melihatnya. Apalagi dengan luka-luka itu.

Aku menendang Kyung soo dan akhirnya namja itu melihatku begitupun dengan Baekhyun. Mereka berdua tampak terkejut. Dan aku tidak perduli. “Selesaikan masalah kalian secara jantan. Jangan berkelahi seperti anak SD! Aku tak pernah sekecewa ini terhadapmu Kyung soo! Dan Baekhyun-ssi, bukankah anak-anak dan adikmu akan sedih melihatmu bertengkar seperti ini?”

“Aku melakukannya bukan tanpa alasan.” Sahut Baekhyun lirih, aku hanya menghela nafasku.

“Dia bajingan. Jangan dengarkan dia!” teriak Kyung soo kemudian melembut. “Percayalah padaku.”

“Aku tahu. Dia memang bajingan. Dan jika kau tidak keberatan, maukah kau pergi? Maksudku, kalian semua.” Ujarku sambil melirik para penonton perkelahian itu. Mereka beranjak pergi satu persatu. Kini hanya tinggal aku, Baekhyun dan Kyung soo. Jangan harap kisah ini akan berakhir bahagia kali ini.

“Kenapa?” tanyaku kesekian kalinya.

“Dia mencarimu.” Jawab Kyung soo lirih sambil menunduk. “Benarkah itu Baekhyun-ssi? Kau mencariku? Ada hal penting apa?”

Baekhyun terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya. Kyung soo menatapnya datar seolah bosan melihat amarah Baekhyun yang baru hari ini kulihat. “Ada apa Baekhyun-ssi?”

“Kumohon jangan memanggilku seperti itu.”

“Tapi kita memang tidak memiliki hubungan yang bisa membuatku menghilangkan embel-embel ssi dari namamu, Baekhyun-ssi.” Ujarku sesantai mungkin. Aku masih berusaha menyedot air mataku masuk, sekalipun aku yakin mataku sudah sangat merah sekarang.

“Aku ingin menjelaskannya. Aku, aku ingin meminta Jong dae mengubah semuanya. Aku ingin pergi saat Jong dae tak mendengar ucapanku. Tapi semua orang sudah mengharapkanku..”

“Aku mengerti.” Ujarku mencoba sabar. “Tapi siapa yang tahu saat kau sudah berlatih keras selama berbulan-bulan, ternyata sutradara diam-diam sudah menyuruh orang lain menghafalkan dialogmu dan merebutnya saat hari pementasan? Kau pikir itu menyenangkan bagiku?” tambahku mengejek.

“Maafkan aku.”

“Lupakan saja. lupakan semuanya dan Lupakan jika kita bahkan pernah bertemu!”

Baekhyun terperangah mendengar ucapanku dan berdiri. “Aku tidak bisa, aku tidak bisa melakukannya.”

“Kenapa? Apa yang kau rencanakan sebenarnya?”

“Aku mencintaimu.”

“Jangan katakan hal itu lagi!” bentak Kyung soo. Air mata mulai turun di wajahnya. “Kau tahu, temanku ini sudah sangat menderita karnamu. Dia memang berandalan, tapi dia bukan preman. Dia bukan yeoja yang bisa menahan rasa sakitnya. Kau harus tahu, dia sahabatku! Dan meskipun aku yang mengenalkannya padamu, aku tak akan membiarkan tanganmu menyentuhnya lagi!”

“Tidak apa Kyung soo.” Ujarku menenangkan Kyung soo dan menatap Baekhyun yang sedang syok. “Seharusnya kau punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan agar perkelahian kalian ini tidak percuma!”

Baekhyun menatapku kali ini, tepat di kedua retinaku dan seolah dapat  menembusnya. “Apa kenyataan jika aku menyukaimu itu tidak penting?”

“Tidak. tidak sama sekali.” Ujarku menggeleng.

“Lalu jika aku merasa tersiksa setiap malam karna teringat padamu, apa aku masih terlihat seperti orang jahat?” kini air mata mulai menuruni pipi Baekhyun. “Aku memukuli Kyung soo karna di bilang aku tidak boleh berharap padamu lagi. kau pikir itu mudah bagiku?”

“Kalau begitu lupakan saja aku.” Ujarku santai.

 “Apa menurutmu melupakan seseorang semudah menjetikkan jari?”

“Well, menurutku iya. Aku sudah melakukanya.” Ujarku sambil melangkah pergi bersama Kyung soo. Dan, tentu saja akhirnya air mata sialan itu jatuh dari pelupuk mataku. Aku sangat kesal dan, dan, tidak bisa berkata apapun lagi. aku menyesal… tidak seharusnya aku berbohong pada Baekhyun. Tidak, tidak, aku benar-benar membutuhkannya sekarang..

**

Malam ini terasa begitu menyakitkan bagiku. Berulangkali aku berpikir, kenapa aku tidak memilih untuk menjadi orang rendahan dan menerima Baekhyun begitu saja? kenapa aku tidak menerima saja sekalipun Baekhyun hanya mempermainkanku? Setidaknya, aku bisa meredam sedikit rasa sakit di dadaku. Lukanya semakin melebar setiap detiknya dan hanya satu yang dapat menyembuhkannya, yaitu Byun baekhyun.

“Aku merindukanmu..” lirihku sambil terisak.

“Si bodoh yang tidak bisa berkata tidak pada orang lain.. mungkin jika aku mengatakannya dulu ia tak akan tega menolakku..”

“Si bodoh yang memiliki senyum malaikat dan adik aneh yang kelewat polos. Aku merindukan semuanya, kau telah merubahku. Setiap detik dalam hidupku berubah karnamu.. benakku tergerak, jiwaku terbangun, dan hatiku telah tersusun rapi. Dan itu tidak akan berubah sebelum seseorang lain datang atau.. kau mau menempatinya.”

Aku tersenyum, Byun Baekhyun, melupakanmu sama saja dengan mati.

To be continue..

Iklan

11 pemikiran pada “It’s Gonna be Love (1/2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s