A Longlast Happiness (Chapter 2)

A Longlast Happinnes

Title: A Longlast Happinnes (Chapter 2)

Author: Jung Rae Mi

Cast: -EXO’s Sehun

-OC’s Se Ra

-etc

Genre: Angst, Sad, Romance

Rating: Teen (turun dikit)

Length: Chapter

A.N: HALO PEMBACA! AKU KANGEN BANGET SAMA KAMU! IYA KAMU! *ala Dodit*. AKHIRNYA AUTHOR BISA NGETIK LAGI! *nyium Sehun* *ditampol readers*

PLEASE, DO NOT COPY PASTE, PLAGIARIZE, OR ANYTHING LIKE COPAS *grammarnyaparah -_-*

Oke, Happy Reading!! ^^

.

.

.

Jam 12 malam di rumah Sehun-Min Ah. Se Ra masih terjaga dan memutuskan untuk pergi ke mini bar. Sehun sendiri masih belum memejamkan mata. Disampingnya Min Ah sudah tertidur lelap. Yah, meskipun kembar fraternal, tapi Min Ah memiliki kemiripan dengan Kai, Se Ra menyebut mereka King and Queen of Sleep.

Sehun bangkit lalu keluar dari kamarnya. Ia menuruni tangga dan menemukan sosok Se Ra tengah menuang sesuatu ke dalam gelas. Sehun menghela nafas lalu mendekati Se Ra.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Sehun.

“Membuat Abshinte.” Jawab Se Ra singkat lalu menatap segelas Abshinte yang telah selesai.

“Astaga, dokter sudah melarangmu meminum alkohol. Kenapa kau bahkan membuat ini?” Tanya Sehun kesal.

“Aku hanya penasaran dengan apa yang dirasakan Van Gogh hingga ia memotong telinganya sendiri setelah meminum ini.” Jawab Se Ra datar.

Sehun seketika membulatkan matanya. Ia menahan tangan Se Ra ketika gelas itu hampir menyentuh bibir Se Ra.

“Apa yang kau lakukan Se Ra?” Tanya Sehun.

“Ingin meminum ini.” Jawab Se Ra.

“Bukan, apa yang kau lakukan? Kenapa kau begini?” Desak Sehun.

Seketika Se Ra teringat akan apa yang diucapkan Kai tadi.

.

.

Oppa, apa maksudmu aku anak hilang?” Se Ra menarik lengan Kai sebelum lelaki itu masuk ke dalam kamar tamu yang disediakan untuknya.

Kai menoleh, lalu mengusap kepala Se Ra. “Kau ini anak hilang, adikku. Kau kehilangan tujuan, harapan, dan cinta. Karena kau merelakan segalanya, kau kehilangan Se Ra. Makanya, aku mengatakan kau ini anak hilang.”

.

.

Dan air mata mengalir di wajah Se Ra.  Membasahi pipi gadis itu. Sehun terdiam, bingung.

“Hiks… Kai Oppa benar… aku ini anak hilang… aku kehilangan segalanya…” Sehun menatap Se Ra sendu dan menarik Se Ra kedalam pelukannya. Isakan Se Ra mengalir. Hatinya benar-benar sakit sekarang. Apakah ia benar-benar sudah kehilangan segala kebahagiannya? Segalanya?

“Se Ra, tenanglah…”  Sehun menepuk-nepuk punggung Se Ra.

“Aku ingin bertemu Suho Oppa… aku ingin bertemu Suho Oppa… Suho Oppa…”

Seketika hati Sehun berdenyut. Ia telah sering mendengar nama ‘Suho’ dari bibir Se Ra. Dan sampai sekarang ia belum tahu siapa Se Ra itu. Ia tidak tahu sama sekali. Dan hanya bisa penasaran, karena setiap kali ia bertanya siapa Suho itu, Se Ra hanya diam dan tidak menjawab. Tapi Sehun tahu, Suho itu pasti seseorang yang spesial bagi Se Ra.

Setelah Se Ra tenang, Sehun melepaskan pelukannya dan menatap mata Se Ra.

“Sekarang, istirahatlah. Tadi aku bicara dengan Min Ah, dan dia memintaku untuk menemanimu kemanapun yang kau mau besok, karena ia akan diantar Kai untuk cuci darah besok. Aku akan memperlihatkan sesuatu padamu.” Sehun mengusak lembut kepala Se Ra.

Se Ra tersenyum manis. Ia mengangguk lalu berjinjit untuk mengecup pipi Sehun, kebiasaannya. Lalu berbalik dan pergi menuju kamarnya.Meninggalkan lelaki itu yang kini mengusap pipinya yang merona merah samar.

.

.

.

“Sehun-ah.”

Sehun menoleh dan menatap Min Ah yang kini berbaring disebelahnya dan menatapnya. “Wae?”

“Tadi… kau melihat Se Ra ketika makan malam terlihat murung sekali. Menurutmu dia kenapa?” Tanya Min Ah.

“Aku tidak tahu.Biasanya dia ceria. Ah, besok jadwalmu cuci darah, ‘kan?” Sehun segera mengalihkan pembicaraan.

“Iya. Tapi aku dengan Kai saja. Mungkin Se Ra perlu waktu bersama sahabatnya. Besok pergilah bersama Se Ra kemanapun ia mau. Mungkin itu akan membuatnya ceria.” Jawab Min Ah.

Sehun terdiam sejenak lalu mengangguk.

.

.

.

Sehun mengetuk pintu kamar Se Ra. Min Ah dan Kai sudah pergi sejak satu jam yang lalu.

“Se Ra, ayo pergi.”

Okaaaay~!”

Pintu kamar Se Ra terbuka, Sehun bisa melihat gadis itu mengenakan mantel coklat—itu jelas membuat Sehun senang karena itu adalah mantel pemberiannya—, ditambah dengan syal putih yang sama seperti yang dipakai Sehun sekarang, stocking hitam tebal, dan boot putih. Terlihat lucu. Membuat Sehun refleks tersenyum dan mencubit pipi Se Ra kuat.

“Aaaah, appo..!” Ringis Se Ra.

Sehun tertawa lalu menarik tangan Se Ra, menuruni tangga, lalu keluar dari rumah.Setelah memastikan pintu rumah terkunci, mereka menaiki mobil lalu keluar dari daerah perumahan.

“Oke, pertama kau mau kemana?” Tanya Sehun.

“Ayo beli hot french vanilla, lalu kita jalan di taman, aku ingin melihat agapanthus. Kemudian ayo pergi ke Gapyeong. Lalu kita pergi kedai kue di dekat pantai itu, lalu-“

“duduk di sisi pantai dan melihat sunset.” Potong Sehun.

Se Ra tertawa. Mereka lalu menuju sebuah kedai kopi, membeli dua gelas french vanilla, lalu menuju taman.

“Sehun-ah! Lihat! Agapanthus-nya masih tetap hidup!” Se Ra menunjuk kumpulan Agapanthus di sisi taman. Ia menarik tangan Sehun menuju Agapanthus itu dan menatapnya.

“Tentu saja. Kau sendiri yang pernah berkata, bunga ini hidup di empat musim.” Sehun mengusak kepala Se Ra lembut, lalu meminum kopinya.

“Ayo duduk disini.” Se Ra duduk di bangku di depan bunga berwarna biru dan ungu itu. Sehun duduk disebelahnya.

Mereka menatap suasana taman yang ramai meskipun musim dingin. Se Ra meneguk kopinya lalu menyandarkan kepalanya di pundak Sehun, dimana lelaki itu kini sibuk dengan iPod-nya. Ia lalu memasangkan earphone ke telinganya dan telinga Se Ra.

Se Ra menggumamkan kecil lagu yang dimainkan di iPod Sehun. Be Alright Acoustic Version. Mereka berdua memang penggemar Justin Bieber.

Sehun mengecup puncak kepala Se Ra lembut, lalu mereka larut dalam lagu.

“Oh, Kai Oppa.” Se Ra melepaskan earphone dan segera mengangkat panggilan dari Kai.

Yeoboseyo Oppa? Aku sedang bersama Sehun Oppa.Wae? Oh! Ulang tahun harabeoji? …… Oh, baiklah…” Nada bicara Se Ra yang awalnya girang berubah sedih di akhir.

Se Ra menghela nafas lalu menaruh ponselnya di saku mantel. Ia kembali menyandarkan kepalanya di pundak Sehun dan memejamkan mata.

“Apa yang dikatakan Kai?” Tanya Sehun.

Se Ra memasang earphone kembali ditelinganya, “dia dan Eonnie harus segera berangkat ke Busan untuk acara ulangtahun haraeboji dari Eomma. Acaranya akan berlangsung selama lima hari jadi mereka akan menginap disana. Selain itu, harebeoji ingin hanya keluarga disana. Min Ah Eonnie sebenarnya ingin kau ikut, tapi ini acara keluarga. Dan… mereka tidak ingin aku disana.”

“Hei, ayolah. Jangan sedih. Apa yang kita lakukan sekarang adalah yang kita tidak lakukan musim gugur dan musim panas lalu. Jadi kita akan melakukan kencan musim dingin selama tiga hari kedepan.” Sehun mengusap kepala Se Ra lembut, menenangkan.

Yah, mendengar musik sambil menikmati kopi adalah kencan musim gugur mereka.Mereka menyebutnya kencan empat musim. Disaat musim semi, mereka akan pergi ke taman ria. Disaat musim panas, mereka akan pergi ke pantai. Di musim gugur, mereka akan duduk di bawah pohon sembari mendengar lagu. Lalu di musim dingin, mereka akan menonton berbagai film ditemani cokelat panas, cupcake, dan macaroon. Terkadang melted chocolate.

Kenapa mereka tidak melakukannya musim panas dan gugur tahun ini, karena persiapan pernikahan Min Ah dan Sehun.

“Oke, ayo kita ke Gapyeong sekarang.” Sehun menggenggam tangan Se Ra dan membawa gadis itu ke mobil. Mereka menuju ke Gapyeong, dimana biasanya digunakan untuk lokasi syuting.

Untunglah, saat ini tidak ada yang syuting, jadi Se Ra bisa dengan bebas berlari-lari di perkampungan abad pertengahan Eropa itu.

Sehun, yang sudah menyiapkan kameranya, memotret Se Ra, terkadang tanpa gadis itu sadari. Sehun memang lebih menyukai candid untuk Se Ra. Karena terlihat lebih natural.

“Wuah, Oppa… indah sekali disini.” Se Ra duduk di salah satu anak tangga.

“Ya.” Balas Sehun lalu menatap langit.

Tangan mereka saling bertaut, berbagi kehangatan.

Caramel Se Ra menemukan sebuah gumpalan putih. Se Ra menunjuk gumpalan putih itu yang jatuh dari langit.“The  first snow!” Ucap Se Ra.

Sehun menoleh ke arah yang ditunjuk Se Ra. “Oh, benar juga. Untunglah kita bisa mendapatkan the first snow bersama.” Sehun merangkul Se Ra dan membawa gadis itu ke pelukannya.

Yang Sehun butuhkan saat ini hanya mereka berdua. Cukup kebersamaan mereka berdua. Sehun hanya ingin bersama Se Ra. Hanya berdua.

Dan ketika Sehun melihat pancaran bahagia di mata Se Ra, tawa riang dari mulut Se Ra, senyuman manis di bibir Se Ra, Sehun ingin menjaga semua itu.

Se Ra menoleh ke arah Sehun ketika merasakan tangan lelaki itu mengusap pipinya, dan Sehun segera mencium bibir Se Ra.

Cukup mereka berdua saat ini.

Biarkan kami melupakan segalanya dan menikmati saat-saat ini. Dimana hanya ada aku dan kamu.

.

.

The End

.

.

.

Tapi bohong! XD

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Masih TBC kok. Masih ada chapter berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya. Muehehe. Nggak mungkin endingnya cepet banget. Se Ra masih belum cukup menderita *ngakak*. Dan Suho juga memegang peran penting di FF ini.

Oke,

Jangan lupa komentar yaaaa~!

 

21 pemikiran pada “A Longlast Happiness (Chapter 2)

  1. ichhh km tega bkin sera menderita???? ohhh jd y kembar it kai sma Min Ah s…dn sera???? uhuhu tunggu apa dy ank dr wanita lain dr ayah si kembar???? jngan2 kan ktnya dy aib kan wahhhhh seruuu ini,,,moment sehun-sera kurangggggg hehhehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s