A Twist In My Story (Chapter 3)

A Twist In My Story

ATIMS

 

Title : [Chapter 3] A Twist in My Story

Author : seijurossi

Cast :Cho Soyeon (OC), Byun Baekhyun, Kim Jongin, Park Chanyeol

Other Cast : Jongdae, Tao, Sehun, Seo Sangmi (OC)

Genre :AU,School Life, Romance, Comedy, Friendship, Family

Length :Chapter

Disclaimer : Pure of her imagination. Casts are belong to God and themselves. She doesn’t own and surely not claiming them as hers.

Summary : Setiap orang pasti memiliki lika-liku dalam hidupnya. Bagaimana jika dalam sehari muncul dua orang yang membuat kehidupanmu berubah drastis?

http://hellosillo.wordpress.com

Enjoy reading. And please, have much respect on her story by not be a silent readers J

A Twist in My Story © seijurossi

Chapter Three

New Classmate, New Problem

Cho Soyeon Point of View

Aku benci Jongin! Kenapa sih dia harus muncul di kehidupanku?

Aku ingin kehidupanku yang tenang, damai, dan santai, kembali lagi. Aku tidak mau harus menghadapi pagiku menjadi seperti tadi setiap hari!

Pokoknya tidak mau!!!

-flashback for about one hour ago-

“TEEET. TEEET. TEEET.”

“Hei, pemalas.”

“Ayo bangun—”

“TEEET. TEEET. TEEET.”

“Kalau tidak—“

“TEEET. TEEET. TEEET.”

“Aku akan—“

“TEEET. TEEET. TEEET.”

“Membuatmu—“

BYUR!!

“HAH?!”

“—bangun 100%.” Jongin menaruh ember yang sebelumnya terisi air dingin itu di sebelah tempat tidur Soyeon. “Terasa lebih segar?” tanyanya cuek kemudian langsung keluar kamar Soyeon dengan santai.

Yang disiram barusan hanya terdiam. Mulutnya menganga. Soyeon tidak sanggup berkata apa-apa saking shock-nya dari kejadian yang hanya berlangsung selama beberapa detik tadi.

Soyeon melihat dirinya sendiri, kemudian melihat tempat tidurnya. Semua basah karena siraman air dingin dari Jongin.

“KIM JONGIIIIIIIIIIN!!!”

-flashback ends-

“Ya kamu juga sih, tidak pernah bisa bangun walaupun alarm sudah bunyi dari tadi.”

Aku melotot ke arah Eomma yang sedang menaruh sarapan pagi di meja makan. Aku tidak percaya  Eomma justru membela Jongin.

“—justru bagus kan, akhirnya kamu bisa sarapan di rumah dengan tenang setelah sekian lama selalu terburu-buru,” lanjut Eomma. Ukh. Walaupun kesal, tetapi harus kuakui memang Eomma benar.

“Tapi kenapa dia harus me-nyi-ram-ku?” aku berkata menahan amarah seraya melirik jengkel ke arah namja yang seolah tidak peduli bahwa aku sedang membicarakannya. Yang sedang memakan sarapan dengan wajah (sok) polosnya.

Eomma menatapku tajam. “Dia? Soyeon-ah, kau tahu bahwa tidak seharusnya kau memanggil Oppa-mu dengan sekasar itu, bukan?”

Bisa kulihat Jongin berusaha menyembunyikan senyumannya yang menyebalkan itu.

Baiklah, Eomma memang 100% membela Jongin.

Tentu saja aku tidak bisa berbuat apa-apa.  Jadi selanjutnya aku memakan sarapanku dalam diam. Untung saja aku tidak harus berlama-lama dengan Jongin di meja makan karena tidak lama bus sekolah Jongin sudah tiba. Hm, baguslah, setidaknya rumah menjadi lebih tenang walaupun hanya kali ini.

~A.T.i.M.S~

Di tengah perjalananku ke kelas, aku melihat namja itu, ya, Baekhyun. Astaga aku lupa kalau hari ini dia sudah mulai bersekolah di sini!

Dilihat dari situasinya sepertinya Baekhyun sedang sibuk mengurus kepindahan di ruang guru, jadi aku langsung berbelok ke kelasku.

“Soyeon-ah~ selamat pagi!” suara Sangmi langsung menyambutku begitu aku membuka pintu kelas.

“Pagi, Sangmi,” balasku seraya tersenyum kecil. Sangmi adalah sahabat terdekatku semenjak SMP sampai sekarang. Setelah aku menempatkan diri di tempat dudukku, Sangmi langsung mengambil tempat di depanku.

“Jadi, ceritakan bagaimana harimu bersama Oppa barumu kemarin.”

Senyumku reflek memudar. “Ayolah, jangan bikin hariku menjadi menyedihkan lagi,” aku mengerucutkan bibir. Memang aku sudah menceritakan semua mengenai Eomma-ku yang menikah lagi serta kedatangan Oppa yang menjengkelkan bernama Kim Jongin kepadanya.

Sangmi tertawa. “Maaf, maaf, tapi itu lucu sekali, Yeon. Habisnya sepertinya kamu mendapat Oppa yang menarik sekali. Kapan-kapan ajak aku bertemu dengannya, ya?”

“Jangan!”

“Kenapa~?”

Aku memutar mata. “Kamu tidak akan betah dengannya. Sifatnya perlu disekolahkan.”

Kukira Sangmi akan mengurungkan niatnya, tetapi dia justru semakin ingin bertemu dengan Jongin.

“Habis, aku ingin melihat sosok yang bisa membuatmu menderita di rumah,” kekeh Sangmi, ketika aku bertanya mengenai alasan ingin bertemu Jongin.

Baiklah, sesukamu sajalah, Sangmi. Aku tidak bertanggung-jawab kalau kau menyesal dengan ucapanmu kelak.

Bel masuk akhirnya berbunyi. Homeroom seonsaeng kami, Choi seonsaeng, terlihat memasuki ruangan. Tidak lama terlihat Chanyeol di belakangnya. Tumben sekali Chanyeol masuk tepat setelah bel. Karena biasanya dia hampir tidak pernah telat—kecuali jika sedang mengurusi masalah klubnya, dia terkadang bisa telat.

Psst. Katanya murid baru akan masuk ke kelas kita lho.” Aku mendengar beberapa yeoja berbisik-bisik sebelum duduk di bangku masing-masing. Sepertinya aku tahu siapa yang mereka maksud.

Choi seonsaeng menaruh tasnya di atas meja kemudian tatapannya menyusuri seruangan kelas. “Anak-anak, mungkin beberapa dari kalian sudah tahu. Kelas kita kedatangan murid baru. Keluarganya baru pindah kemari dari Amerika. Ayo masuk,” Choi seonsaeng memberi kode kepada sosok yang berada di balik pintu.

Kemudian seperti yang sudah kuduga, sosok Baekhyunlah yang masuk ke dalam kelasku. Jadi aku tidak terlalu kaget. Dia sudah memakai seragam sekarang dan di luar dugaan sangat cocok untuknya.

Wajahnya masih menimbulkan kesan yang sama seperti pertama aku bertemu dengannya. Sangat lucu. Menggemaskan.

Baekhyun membungkukan badan kemudian memperkenalkan diri, “Annyeong haseyo, Byun Baekhyun imnida. Senang berkenalan dengan kalian. Mohon bantuannya,” katanya dengan cengiran khasnya.

Sontak seluruh kelas langsung ribut. Sebagian yang berteriak heboh tentu saja ulah para yeoja. Baekhyun yang mendapat sambutan seperti itu langsung melambaikan tangannya sambil tertawa senang. “Terima kasih, terima kasih,” katanya. Tentu saja reaksi kelas semakin memanas.

Aku mengerutkan keningku. Merasa heran melihat reaksi kelas. Biasanya jika ada murid pindahan tidak pernah seheboh ini.

Choi seonsaeng menepuk-nepuk meja supaya kelas bisa tenang. “Jadi, Baekhyun dimasukkan ke dalam kelas ini karena ada teman masa kecilnya dulu, Chanyeol, supaya dia mudah beradaptasi—“  Baekhyun menyela sedikit. “Juga ada Soyeon, seonsaeng,” ujarnya seraya tersenyum kecil.

Hah?

Seketika seluruh kelas langsung menatap ke arahku. Oh God. Kenapa Baekhyun harus berkata seperti itu?! Kini kurasakan tatapan tajam dari seluruh yeoja kelasku—kecuali Sangmi karena dia hanya menahan tawa. Wajar karena Sangmi juga sudah kuceritakan mengenai namja aneh yang menyapaku di tengah jalan—yang baru kutahu bawa dia adalah teman SD-ku selama setahun dulu.

Aku hanya pura-pura melihat buku teks sambil mencoba meminta bantuan dari Chanyeol. Tetapi dia hanya menatapku bingung. Kurasa dia juga tidak menyangka kalau Baekhyun akan berkata seperti itu.

“Baiklah, Baekhyun akan duduk di sebelah Chanyeol.” Choi seonsaeng berkata seolah tidak peduli dengan keributan kecil yang baru terjadi di kelasnya.

“Terima kasih, seonsaeng,” Baekhyun mulai berjalan ke tempat di sebelah Chanyeol. Aku tidak terlalu memperhatikannya, tetapi aku tahu kalau dia sempat melirik ke arahku sebelum akhirnya duduk di tempatnya.

Kenapa sih?!

~A.T.i.M.S~

Akhirnya pelajaran pagi berakhir tanpa aku mengerti sama sekali. Aku tidak tahu. Sepanjang  pelajaran aku berpikir kenapa aku bisa tidak ingat apa-apa mengenai Baekhyun, sementara Chanyeol ingat.

Sewaktu bel istirahat berbunyi, teman-teman sekelas langsung mengerubungi Baekhyun. Pasti dia sedang ditanyai macam-macam. Yah, apapun itu, aku harap dia tidak melibatkanku lagi.

Aku memanggil Chanyeol supaya dia menuju ke bangkuku. Karena tidak mungkin aku ke tempat Chanyeol yang notabene duduk di sebelah Baekhyun persis.

“Kenapa, Yeon-ah?” tanya Chanyeol.

“Duduk,” perintahku. Chanyeol langsung menurutiku.

“Baiklah,” aku mengawali percakapan. “Menurutmu kenapa aku nggak ingat mengenai Baekhyun sama sekali sementara kau ingat?”

“Eh..” wajah Chanyeol terlihat bingung lagi.

“Kau yang sudah bersamaku sejak masih kecil harusnya mengerti. Menurutmu kenapa?” tanyaku. Lebih ke dalam konteks memaksa.

Chanyeol tidak langsung menjawab. Entah kenapa dia terlihat bingung dan hm.. sedikit gelagapan? Huh. Kenapa sih?  Memangnya pertanyaanku begitu rumit?

“Entahlah, Yeon-ah,” akhirnya Chanyeol menjawab juga. “Mungkin kamu melupakannya karena kamu terlalu banyak berpikir?”

Aku mengerutkan kening tidak setuju. Alasan macam apa itu. Tapi karena merasa useless bertanya lebih lanjut kepada Chanyeol, aku sudahi saja percakapan ini.

Aku melirik ke arah Baekhyun yang masih sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yeoja-yeoja kelas. Kuperhatikan wajahnya lekat-lekat. Tuh kan. Wajahnya memang sangat familier. Tetapi tidak ada ingatan di pikiranku mengenainya.

“Kenapa kamu melihat dia terus-terusan?”

Aku mendongak kaget. Ternyata Sangmi. Syukurlah. “Tidak apa. Memangnya ada masalah?”

“Ada. Kau mulai penasaran dengan dia, mungkin,” Sangmi tersenyum kecil.

“Tidak usah bicara macam-macam,” aku memukul pelan Sangmi dan dia justru terkekeh. “Tapi Yeon-ah, Tadi itu lucu sekali, tahu. Aku bisa merasakannya.”

Aku menatap Sangmi. “Merasakan apa?”

“Baekhyun sepertinya tertarik denganmu.”

Aku mencibir. “Bukan seperti itu. Itu semata-mata karena dia juga menganggapku teman kecilnya makanya dia bersikap seperti itu.”

Sangmi giliran menatapku. “Memangnya kau tidak menganggapnya teman kecilmu?”

“Bukan begitu, hanya saja—“ perkataanku terhenti karena menyadari sosok yang sedang dibicarakan sudah berdiri di depanku. Tersenyum manis menatapku.

Aku sedikit terlonjak. Menyadari bahwa Baekhyun sudah tidak berada di bangkunya lagi melainkan di depan mejaku.

Dengan segala kecanggungan yang terjadi, aku bertanya. “Ya…?”

“Bisa temani aku berkeliling?” pintanya langsung. Hah?

“Berkeliling… sekolah?” tanyaku lagi. Keringat dinginku mulai keluar karena kurasakan tatapan menusuk dari yeoja-yeoja kelasku.

Baekhyun mengangguk. “Tidak apa, kan kalau aku memintamu?”

“Eh, i—iya, tidak apa.”

Arraseo. Yuk,” Baekhyun menarik lenganku keluar kelas. Aku terlalu terkejut sampai-sampai tidak bisa menolak dan hanya bisa pasrah ditarik oleh Baekhyun.

Ukh. Tatapan menusuk itu terasa lagi.

Great. Habis ini aku pasti akan mati di kelas.

~A.T.i.M.S~

Normal Point of View

“Ehm, jadi ini gedung B. Isinya laboratorium dan beberapa ruang kelas satu.”

Soyeon tidak percaya dia melakukan ini. Lagi-lagi Baekhyun melibatkannya.  Dan itu membuat seisi kelas menjadi sinis kepada Soyeon.

Baekhyun sedari tadi hanya tersenyum setiap kali Soyeon menjelaskan sesuatu. Hal yang semakin membuat Soyeon merasa tidak nyaman karena… dia merasa canggung?

“Aku senang. Rasanya seperti kembali ke masa SD. Dulu kamu yang mengajakku untuk berkeliling sekolah ketika aku barusan pindah, Soyeon-ah.”

Soyeon harus bereaksi seperti apa? Kaget? Tentu saja dia kaget karena tidak ingat pernah mengajak Baekhyun berkeliling. Tetapi harus dia akui, rasanya Soyeon memang pernah melakukannya. Tetapi dia tidak ingat. Hah. Hal apa yang lebih membingungkan daripada ini.

Ketika Soyeon dan Baekhyun akan menuju ke gedung selanjutnya, mereka berpapasan dengan Chanyeol yang juga sedang bersama teman seperkumpulannya di sekolah.

Tetapi karena Baekhyun sepertinya tidak bisa berhenti untuk bercerita mengenai apa yang sudah dia dan Soyeon lewati sewaktu SD sementara Soyeon yang tidak bisa berkonsentrasi penuh karena dia terlalu pusing memikirkan bagaimana dia harus menghadapi Baekhyun, jadi, tidak ada yang menyadari kehadiran Chanyeol.

“Lihat, lihat, Chanyeol! Soyeon mengabaikanmu~” salah satu teman seperkumpulan Chanyeol, Jongdae, tertawa geli sambil menepuk-nepuk pundak Chanyeol.

“Dia sedang sibuk memberikan tur keliling,” Chanyeol menyingkirkan tangan Jongdae sambil merengut.

“Hei, bukannya itu Baekhyun yang sedang bersama Soyeon?” tanya Sehun, teman Chanyeol lainnya.

“Kamu tahu dia siapa, Hun?” Zitao, satu-satunya chinese diantara yang lain giliran bertanya ke Sehun.

“Dulu aku kan satu SD dengan Chanyeol. Beda kelas sih, tapi aku tahu kalau dia itu Baekhyun yang juga murid pindahan di kelas Chanyeol,” jawab Sehun.

“Hoo….” semuanya mengeluarkan reaksi yang sama. Kecuali Chanyeol yang justru semakin merengut.

“Tapi kenapa mereka canggung banget?” lagi-lagi Sehun yang bertanya. “Kayaknya dulu kalian cukup akrab, kenapa deh?”

Chanyeol terdiam sebentar. Dia melihat kedua sosok yang sedang dibicarakan sudah mulai menjauh.

Kemudian Chanyeol memamerkan cengirannya. “Hehe, mungkin Soyeon terlalu senang makanya dia jadi canggung kayak gitu.”

Semuanya menatap Chanyeol heran. “Ah udahlah ngapain dibahas. Yuk langsung ke kantin,” ajak Chanyeol, mengalihkan topik. Mendengar kata kantin, semuanya langung setuju dan mulai beranjak pergi.

Diam-diam, Chanyeol kembali melihat sosok Baekhyun dan Soyeon kemudian menghela napas berat.

Kira-kira kapan aku bisa mengatakannya ke dia?’ pikir Chanyeol dalam hati.

 

Setelah semua kejadian itu.

To Be Continued

Iklan

22 respons untuk ‘A Twist In My Story (Chapter 3)

  1. Memangnya apa yg terjadi ???
    Aigoo sumvah penasaran bgt :3

    oh yaa chingu mian di chapter 2 tdk bisa komen ? Entahlah selalu galat -,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s