Adios

Adios

adios

Title                       : Adios

Author                 : xiadeer18 (@irfaniaNS )

Genre                   : Sad, Angst, Romance

Lenght                  : Oneshoot

Rating                   : General

Main cast             : Kris Wu

Nam Hye In (OC )

Disclaimer   : cast milik agency dan orang tua mereka, OC dan cerita milik author. 100% murni dari otak author. Bila ada kemiripan jalan cerita itu hanya kebetulan saja. Maaf bila banyak salah  kata,typo(s) atau alur cerita yang aneh author meminta maaf sebesar-besarnya karena author masih belajar dalam dunia per FF-an. Author sangat membutuhkan komentar para readers 😀 *bow*

Enjoy it~

Payung-payung hitam mengembang di pemakaman itu. Tetesan bulir-bulir dari langit mengiringi kepergiannya. Pemakamannya terlihat sendu. Prosesi pemakaman selesai setengah jam yang lalu. Kaki-kaki pelayat berjalan mulai meninggalkan pemakaman. Kerabat, sahabat, teman satu persatu pergi. Merangkul, memeluk, menenangkan keluarga yang ditinggalkan dan berkata ‘turut berduka cita’ lalu berpamitan pulang. Meninggalkan pria sendu disamping pusara istrinya. Matanya buram karena terus-terusan menangis. Tangannya memeluk makam istrinya. Menangis sejadi-jadinya. Menumpahkan seluruh air matanya.

Hari mulai beranjak sore. Matahari mulai mendekat keperaduannya. Dan pria tersebut masih saja terduduk di samping makam istrinya. Lututnya kotor. Kemejanya basah terkena gerimis. Lay kembali lagi ke makam. Menghampiri sahabatnya yang masih disana. Ingin sekali rasanya memeluk sahabatnya yang tengah terisak. Namun tangannya terlalu kaku untuk melakukannya. Kesedihan yang terlukiskan di wajah sahabatnya membuatnya urung melakukannya dan memilih tertunduk di belakang sahabatnya.

Bahunya masih saja bergetar. Masih terisak tapi kini tak ada air mata. Mungkin air mata sudah habis melepas kepergian istri tercintanya. Seberapa banyak air mata yang dikeluarkan tak akan sama dengan sakit hatinya. Hatinya terluka. Secepat ini kah istrinya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya?

Seraya matahari mengarah ke barat akhirnya tangan Lay bergerak menyentuh bahu sahabatnya. Ini sudah terlalu larut.

“Kris, ayo pulang.”

Bagai berbicara pada patung batu. Tak ada tanggapan. Dua kali ia mengajaknya pulang. Sudah tiga jam lamanya sahabatnya itu bersimpuh di samping pusara istrinya.

“Kris.. ku mohon, ayo p-u-l-a-n-g.”

Kris mendongakkan kepalanya menatap Lay dengan mata berairnya. Dan akhirnya bangun berdiri.

“Benar. Aku harus pulang. Hye In pasti menungguku di rumah.”

Mendengar perkataan tersebut membuat Lay menunduk dalam. Terisak dalam diam. Lihatlah. Sahabatnya masih belum bisa menerima kenyataan. Kenyataan yang sebenarnya. Yang sebenarnya bahwa Hye In istri Kris telah meninggal dunia. M-e-n-i-n-g-g-a-l.

—-

Kesunyian meliputi perjalanan pulang mereka. Tatapan mata Kris kosong menatap ke luar jendela. Tak ada titik fokus disana. Lay memutuskan untuk bungkam dan tetap fokus memegang kemudi.

“Lay…”

“Ehm?”

“Apa sebaiknya kita mampir membeli kimbab kesukaan Hye In?” untuk kesekian kalinya air mata itu sukses meluncur dari mata Lay. Tuhan kenapa kau ambil orang yang begitu baik begitu cepat?lihatlah sekarang. Sahabatnya bertingah seperti orang bodoh.

“Kris.. ku mohon sadarlah. Tolong terima kenyataannya. Hye In.. Hye In sudah.. sudah me-ning-gal.” Ujar Lay patah-patah. Berusaha mengambil nafas panjang. Lidahnya sangat kelu untuk mengatakan ini.

Dua detik mereka terdiam. Kris masih mempertahankan posisinya. Sepertinya ia tak mendengar apa yang diucapkan Lay. Salah besar!Kris mendengar. Mendengar semuanya dengan sangat jelas. Sangat jelas. Sejelas dirinya menyaksikan istrinya menghembuskan nafas terakhirnya dihadapannya.

“Lay.. secepat itukah Hye In pergi? Salah apa dia hingga harus pergi secepat ini?dia begitu baik Lay.. harusnya aku saja yang pergi. Kenapa? Kenapa secepat ini?”  suara Kris terdengar bergetar. Tersengal berusaha mengatur nafasnya. Aliran bening itu kembali tercipta untuk kesekian kalinya.

Sejak kemarin malam Kris tak menelan apapun. Ia sama sekali tak menelan air ataupun makanan. Ia hanya menelan pahitnya kenyataan. Lay memutuskan untuk tinggal di rumah Kris. Menemani jiwa yang sedang terluka itu. Ratusan kali Lay membujuk Kris untuk makan. Namun, pemilik mata elang itu sama sekali tak mengindahkannya. Tatapannya masih kosong. Walau hanya sekedar minum air pun ia tak mau. Lay khawatir sahabatnya dehidrasi.

“Kris, kau tak makan apapun sejak kemarin malam. Kalau kau jatuh sakit bagaimana?kau tak kasihan pada Hye In?” akhirnya kata-kata itu meluncur dari mulut Lay. Sudah bosan rasanya membujuk raksasa itu. Dengan menyebutkan ‘Hye In’ barulah Kris menyentuh sendoknya.

Sungguh tak ada maksud untuk membiarkan sahabatnya larut dalam ketidaknyataan. Namun hanya itu yang dapat membuat Kris makan dan tetap hidup. Apa dia pikir dengan tidak makan ia akan meyusul istrinya?jangan bodoh. Dia hanya akan jatuh sakit dan akan menderita di hidupnya.

Dua hari setelah kepergian Hye In. Kris masih saja bungkam. Tak ada Kris yang dingin. Tak ada Kris dengan kekonyolannya. Tak ada Kris dengan segala keanehannya. Tak ada juga sejoli bahagia itu. Tak ada lagi Hye In menyambut Kris pulang. Tak ada. Tak akan pernah ada lagi. Rumah itu benar-benar sepi. Hanya terdengar suara-suara aktivitas biasa. Sesekali terdengar omelan Lay yang mengutuk dirinya sendiri karena lupa memasukkan garam kemasakannya. Atau terdengar kepanikkan Lay yang sibuk mencari barangnya yang hilang. Tidak. Lebih tepatnya ia lupa menaruhnya.

Dua orang pria konyol berada dalam satu rumah. Satu membatu di kamarnya, sibuk memandangi barang-barang istrinya. Yang satu sibuk mencari barang-barangnya yang tengah bersembunyi. Tak tahan dengan keadaan dirinya di rumah Kris dengan segala keadaan yang ada akhirnya Lay menghubungi istrinya. Sebaiknya istrinya juga datang ke rumah Kris untuk mengurus semuanya. Ia sangat tak tahan dengan segala kesunyian di rumah ini. Ia bahkan tak memiliki lawan bicara. Kris masih sibuk dengan kesedihannya. Berulang kali Lay sudah membujuk rayu, menasehati Kris untuk tidak larut dalam kesedihannya. Namun Kris sudah terlanjur membatu.

Duduk. Kris menatap kosmetik istrinya tertata rapi di meja riasnya. Kosmetik yang jarang sekali disentuh oleh Hye In. Istrinya memang jarang sekali memakai make up. Tanpa make up pun sudah meluluhkan hati Kris. Dua hari sudah ia menangis. Menangis tanpa air mata. Bukan mata, tapi hati. Ya,hatinya lah yang menangis. Empat tahun berlalu bersama Hye In. Empat tahun yang indah.

Hye In, tersenyum di lorong kampusnya. Seluruh mahasiswa berlalu-lalang kesana-kemari. Tatapan pertama mereka. Berpapasan. Wajah tak peduli dan langsung menatap kembali ke depan. Hanya tiga detik. Tiga detik yang berhasil membuat hati Kris meleleh. Pria dingin namun konyol itu jatuh cinta. Kris tersenyum getir. Wajahnya yang kembali muncul dihadapannya saat di Caffetaria. Mereka satu meja. Saat itu seluruh meja penuh. Kris tak keberatan bila Hye In dan salah satu temannya bergabung di mejanya, bahkan dengan senang hati. Kris seperti bisa mencium parfum yang dikenakan Hye In saat itu. Melihat betapa anggun saat ia makan.

“ehm.. bolehkah kami bergabung?” kalimat pertama yang ia dengar darinya. Anggukan bodoh yang membuat Hye In tersenyum. Dia tersenyum!tersenyum untuk dirinya. Oh-Tuhan betapa cantik ciptaanmu ini.

Pertemuan demi pertemuan hingga akhirnya Kris mulai mendekati Hye In yang ternyata adik kelasnya. Setahun sejak tatapan di lorong itu Kris mengungkapkan perasaannya. Wanita dihadapannya hanya terdiam. Dua detik kemudian mengangguk pelan. Setahun pula merajut harapan bersama akhirnya Kris melamar wanita idamannya. Mengucapkan janji suci di pelaminan. Membina hubungan dan merajut kebahagian bersama. Tak terasa satu bulir air mata mengalir dari ujung mata Kris.

Wajah riang yang tersenyum. Tawanya yang riang. Tangannya yang hangat. Wajah yang seperti anak kecil saat tidur. Namun berubah menjadi wanita yang sangat anggun di kehidupannya.  Hidung kecilnya. Kebiasaannya yang menenggelamkan kepalanya  antara bahu Kris dan kasur. Cita rasa masakannya yang tak ada tandingannya. Semuanya Kris masih ingat. Bahkan ekspresi jijik-nya saat Kris menakutinya dengan kecoa. Semua tentang Hye In, Kris masih ingat. Semuanya.  Kris tertuduk mencengkram ujung meja rias. Semua kenangan ini menyakitkan. Mengiris hatinya. Kenyataannya Hye In sudah pergi untuk selama-lamanya.

Tuhan kenapa kau ambil Hye In sangat cepat? Kenapa? Dia orang baik? Kenapa kau senang sekali mengambil orang-orang baik terlebih dahulu? Kenapa tidak orang-orang jahat saja yang kau ambil,Tuhan? Kenapa? Kami baru merasakan indahnya keluarga tiga tahun!tiga tahun! Bahkan kami belum memiliki keturunan, kenapa? Secepat ini kah semuanya? Masa indahnya dengan Hye In berakhir? Haruskah secepat ini?

Kris meratap. Terus bertanya pada Tuhan.

Terduduk tertunduk dalam. Sendirian.

Pria jangkung itu akhirnya keluar dari kamar. Dua pasang mata menatapnya. Wanita di samping Lay itu tersenyum. Sungguh keadaan Kris sangat berbeda dari biasanya. Sangat berbeda dari stylenya yang ‘Cool’  sekarang dia terlihat sangat berantakan. Rambutnya ke sana-sini. Mata elangnya kini tampak bengkak. M-e-m-p-r-i-h-a-t-i-n-k-a-n.

Malam makan mereka berlangsung sangat sunyi. Tak ada yang berbicara sekalipun. Kris yang selesai terlebih dahulu dan menyalakan televisi di ruang tengah. Tangannya memegang remote dan hanya menekan semua chanel tanpa tertarik melihat acaranya. Gerakannya seketika berhenti. Tubuh Kris membeku. Mata elang itu kembali muncul. Menatap tajam layar datar di hadapannya. Menyaksikan berita kecelakaan yang diberitakan stasiun tv itu. Lay yang melihatnya menatap sekilas ke istrinya. Cemas. Pasti Kris akan teringat kejadian itu lagi.

Lay menangkap tubuh sahabatnya yang kini bergetar hebat. Kris tenggelam dalam memori saat detik-detik kehilangan istrinya.

Jika saja saat itu mereka tak pulang dari rumah bibi mereka hari itu juga. Mungkin kecelakaan itu tak akan terjadi.  Seorang pria melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan tiba-tiba berhenti dan berbalik arah. Membuat Kris membanting stirnya menghindari mobil itu. Jalanan yang licin karena diguyur hujan membuat mobilnya berputar beberapa kali dan hilang kendali.

BRAKK

Hingga akhirnya menabrak tiang pembatas dengan sangat keras. Rusak parah,penyok.  Istrinya terbentur  dasbor mobil. Darah mengalir dari dahi  Hye In. Kris sendiri hanya mengalami beberapa benturan kecil berkat air bag dari mobilnya. Kris berusaha melepaskan diri  dan segera mengeluarkan Hye In yang terjepit. Sungguh jahat, kemana semua orang?tak ada satupun yang lewat. Jalanan itu terlalu lengang.

“HYE IN!! AKU MOHON BERTAHANLAH!!!”  tangan terluka itu menekan nomor ambulance. Memeluk sangat erat tubuh istrinya. Darah hangat terus mengucur dari kepala Hye In bercampur air hujan. Kenapa ambulance lama sekali?

“Kris..  apa kau baik-baik saja?” lemah Hye In bertanya.

Kris membeku. Apa maksudnya?Bukankah Hye In jauh lebih terluka dibandingkan dirinya. Bagaimana mungkin Hye In masih sempat mengkhawatirkan dirinya? Mempedulikan orang lain?

Kris mengangguk pelan. Air matanya tersamarkan oleh air hujan. Terisak menyedihkan. Tersengal berkali-kali.

“Kris.. d-i-n-g-i-n.” Hye In terbatuk

“Dingin?bertahanlah..” Kris memeluk erat perempuan yang tengah menggigil itu.

“Bagaimana? Hangat?” istrinya mengangguk lemah hingga akhirnya tak sadarkan diri. Darah Hye In memang sudah tak mengalir karena Kris sudah membalut dahi Hye In dengan kain seadanya. Setidaknya istrinya tak kehilangan banyak darah.

Menghela nafas panjang. Benar-benar malam yang mengenaskan. Ambulance datang terlambat. Korbannya sudah tak sadarkan diri. Kris terlanjur panik dan meminta agar menambah kecepatan. Perawat-perawat ribut menyiapkan kereta dorong. Dokter terburu-buru masuk ke UGD. Tubuh istrinya masuk kedalam ruangan itu. Kris membandel ingin ikut masuk. Hingga perawat memanggil satpam untuk mencegah Kris.

Kris terpekur duduk di kursi panjang. Terus memanjatkan doa kepada Tuhan. Hatinya benar-benar kacau. Satu jam kemudian dokter keluar. Pria tinggi itu langsung menyerbu dokter itu dengan beribu pertanyaan. Operasinya berhasil. Tapi dokter menyatakan bahwa sekarang keadaanya sedang koma. Saat mendengar bahwa ia boleh masuk dan menemui istrinya. Kris seketika kalap, berlari masuk ke UGD. Langkah kaki panjang itu semakin lama semakin pelan seraya terus mendekap ke tubuh istrinya yang tekulai tak berdaya. Tubuhnya pucat.  Tangan besar menggengam tangan istrinya yang dingin. Menciuminya sambil memohon.

Sehari semalam Kris terus berada di samping tubuh istrinya. Sesekali mengajak ngobrol walaupun ia hanya berbicara seorang diri. Hingga akhir nya malam itu tubuh istrinya berlahan bergerak. Jari-jari itu mengeliat pelan. Kepalanya dengan sangat pelan menoleh ke samping.

“Kris..” pemilik nama itu mendongak dan tersenyum getir menatap istrinya.

“Kenapa kau menangis Kris?” pertanyaan apalagi ini?haruskah ia menjawabnya. Tentu saja Kris menangis karena mengkhawatirkan dirinya.

Kris menggeleng lemah. Mengelus lembut rambut istrinya. Wajah itu terlihat sangat lemah. Pucat.

Aneh, tiba-tiba istrinya menangis. Terisak. Amat memilukan. Kesedihan sangat tergambar jelas di wajahnya.

Yeobbo…Jangan menangis. Kumohon.”

“Kris apa kau mencintaiku?” Istrinya bertanya disela-sela tangisnya. Tersengal. Nafasnya mulai terdengar samar. Kris menyadari ada sesuatu yang ganjil.

Mata istrinya mulai meredup. Nafasnya terdengar satu-satu. Tidak ada harapan lagi untuknya. Kris terpaku. Menggigit bibirnya.

“Jangan… Kumohon, jangan pergi.” Kris bergetar.

Hye In masih menunggu. Menunggu jawaban dari Kris.

“JANGAN PERGI! KUMOHON.” Kris berseru panik sambil merengkuh tubuh istrinya.

“k-r-i-s”

Kris mengangguk mantap. Menggigit bibir kuat-kuat. Ya Tuhan.. Dia sungguh mencintai istrinya. Mencintai dari hati yang paling dalam. Anggukan Kris mengantarkan semuanya.

“T-e-r-i-m-a-k-a-s-i-h-k-r-i-s.” Kata-kata itu mengiringi mata indahnya tertutup. Senyum cantiknya terukir disaat terakhirnya.

Pergi. Untuk selamanya.

Kenyataan adalah tak akan bisa di tolak. Hye In dimakamkan keesokan harinya. Semua kerabat,sahabat tak menyangka bahwa Hye In pergi secepat itu. Dan orang yang paling kehilangan adalah Kris. Pria yang kini sedang berada dipelukan sahabatnya. Sahabat yang selalu ada di sampingnya. Selalu ada di semua keadaan. Lay.

“Ehm.. Kris, kau sudah selesai menangis?” ujarnya pelan.

“Kalau sudah, bisakah kau bangun?kau berat sekali.” Sambungnya enteng. Astaga, dia memang sahabat yang baik namun sifat polos,lugu dan terlalu apa adanya itu selalu muncul di semua suasana.

Rumah kediaman Kris itu sekarang tenang. Tak ada lagi tangisan sendu. Televisi hanya menampilkan hitam. Jiwanya sudah tenang setelah puas menangis. Support selalu dilontarkan oleh sahabatnya. Kris lebih tenang saat istri Lay memberinya segelas air.

“Kris oppa, kau tau?Aku dan Hye In eonni sangatlah dekat. Dia sudah seperti kakak aku sendiri. Dia mengajariku banyak hal. Eonni yang selalu ada untukku. dan apa kau tau kata-kata Hye In eonni yang selalu membekas di hatiku?dia mengatakan ini padaku: ‘cobalah untuk mengikhlaskannya,mungkin ini memang jalan terbaik. Terkadang jalan terbaik itu membuat kita terpisah darinya. Coba pikirkan dari sisi orang yang pergi?bisa saja dia akan lebih bahagia disana. Sulit memang untuk merelakannya. Tapi cobalah,seiring dengan berjalannya waktu semua akan baik-baik saja. Bukankah hati kita akan lega saat mengetahui ia bahagia di sana? Yang sudah terjadi biarlah menjadi kenangan. Dia mungkin memang pergi, tapi kenangan bersama dirinya akan tetap bersamamu. Dia akan tetap di hatimu. Semua akan baik-baik saja, percayalah.’  Ya, Hye In eonni mengatakan itu saat aku.. aku kehilangan Appaku. Kata-kata itu sangat menenangkan hatiku.” Istri Lay tampak mengusap ujung matanya yang basah, tangan Lay mengusap lembut punggung istrinya itu. Betapa irinya Kris melihat keduanya.

“Mungkin Hye In ingin mengatakan itu juga padamu. Dan aku pikir kata-kata itu berlaku padamu juga Kris. Cobalah untuk merelakannya. Hye In eonni pasti akan sedih bila melihatmu hidup seperti ini. Dia akan merasa berdosa karena telah meninggalkanmu. Mungkin hatimu hancur Kris. Hatimu hanya butuh waktu untuk membangunnya kembali. Kenangan itu tak akan hilang. Hye In akan selalu di sisimu dan akan abadi di hatimu Kris. Hye In eonni pernah mengatakan padaku kalau dia adalah wanita beruntung karena mendapatkan pria yang sangat mencintainya. Dia juga mengatakan padaku bahwa dia sangat mencintaimu Kris.”

“Seiring waktu semua akan baik-baik saja,cobalah merelakannya Kris..” Kris terdiam mendengar penuturan Istri Lay. Mungkin itu semua benar. Hye In mungkin akan bahagia di sana tapi bila melihat suaminya yang hidup kacau mungkin Hye In akan bersedih. Tapi butuh waktu untuk membenahi hatinya. Meembangun hatinya yang telah hancur.

“Aku tau mungkin ini sangat berat,Kris. Tapi percayalah.”

Kaki panjangnya menyeret menuju kamar. Pedih tak hanya mendera mata tapi juga hati. Pergi tidur mungkin semua akan lebih baik saat bangun nanti. Matanya tertutup. 25menit terlelap. Istrinya muncul dihadapannya. Sangaat cantik dengan gaun putih panjang. Hye In bahkan memakai flower crown di kepalanya. Tak ada luka di dahinya. Terlihat cantik sekali. Tersenyum dengan sangat manis. Tampak malu-malu dan sesekali tertawa kecil. Berjalan mendekat dan menyentuh pipi kanan Kris. Pria itu hanya membeku dalam posisinya.

“Terima kasih sudah merelakanku. Kumohon hiduplah dengan baik. Sampai jumpa Kris. Aku mencintaimu.” Bisiknya lembut di telinga Kris. Mengecup pipinya. Lalu pergi.

Air mata itu kembali menetes. Berusaha menggapai tangan istrinya. Berusaha menahannya agar tidak pergi. Sayang usahanya sia-sia.

Perlahan ia membuka matanya,terisak. Tangannya menyentuh pipi kananya. Kris dapat merasakan tadi tangan lembut istrinya memegang pipinya. Sangat yakin itu nyata, bibir itu benar-benar mengecup pipinya.

“Baiklah aku akan hidup dengan baik. Selamat tinggal Nam Hye In. Semoga kau bahagia. Aku juga mencintaimu.”

–          END    –

 

*note : akhirnya author menyelesaikan ff ini hoho.. mungkin ini perasaan hati para exostan yang galau karena kris :” karena sebenarnya ini perasaan hati author. Pertama kali mendengar kasus Kris author gk percaya dan menganggap itu mungkin sama seperti kasus sebelumnya tapi setelah banyak berita,akhirnya author bener-bener gk tahan. Rasanya gk bisa terima banget. Semua rasanya tu campur aduk. Sedih,pengen nangis, pengen marah juga. Setelah beberapa hari author mencoba untuk bersikap dewasa dengan berpikir ‘mungkin ini memang keinginan Kris,bukankah dia cita-citanya pengen jadi basketball player dan aktor?ya mungkin ini memang udah jalannya.’ Tapi namanya juga fans :” air mata author jatuh lagi.. dan sekarang author sedang mencoba untuk tetap me-support abang Kris, bukankah dia sekarang sedang ada syuting film? Kris gk akan terlepas dari EXO begitu pula EXO nggak akan terlepas dari namanya Kris. Sekarang dia hanya menjadi seorang Wu Yi Fan J . Author percaya bahwa Kris gk akan pernah meninggalkan fansnya, orang-orang  yang membesarkan namanya. Kris pasti juga gk bermaksud mengecewakan bahkan melukai hati fansnya. Yang seharusnya author lakukan adalah tetap men-support Kris untuk kelanjutan kariernya  dan terus men-support EXO^^. Karena author tau member EXOlah yang pali terluka.  Duh author malah curhat hihi.. maaf kalo FF ini mengecewakan dan kurang dapet feelnya. Dan maaf juga kalau curhatan author diatas salah, author hanya mengungkapkan isi hati^^

Tak keberatankah para readers untuk meninggalkan jejak? ^^ author butuh kritik dan saran untuk FF ini agar author lebih baik lagi. Gomawo *bow*

11 in my eyes but 12 in my heart. Right?

 

Iklan

25 pemikiran pada “Adios

  1. Nyesek sekaliiii … :”
    Istrinya Kris baik banget ya ampunnn , keren keren. Udah lah pokoknya keren :v buat sidestory kehidupan rumah tangga mereka berdua dong kak 😀 kehidupannya mereka berdua kayanya damai-damai aja. Hye In baik banget dah, pantes aja Kris sampe begitu :’)

    keep writing ya kak !

    • gomawo chingu udh baca+meninggalkan jejak^^
      ehm.. kalo sempat nanti author coba bikin sidestorynya deh, tapi nggak janji looh. iya mereka sangat harmonis XD
      makasih chingu 😀

  2. nyeseeeeekkk bngeet yak? Kris itu kelihatannya sediiiiiiiiiih bnget. Hiks, feelnya ngena bnget. pokoknya ini keren deh.. pke banget dah. di tunggu sidestorynya yahh. Keep fighting Authooor! ;;)

  3. whuaa….
    nyesek T-T
    tapi bnr sih
    pertama aku dnger kbr kyk gtu,aku jg gg percaya,tapi setelah aku tnya mbah google,,,
    trnyata bnr T^T
    tapi bnr kata author,
    walaupun keliatan’a cuman 11 tapi aku merasa klo mereka itu ber12 *curcol
    ff daebak author
    mata ku udh berkaca-kaca
    begitu dlm’a cinta kris ke istri’a
    gtw mau komen apalagi,yg jelas ni ff keren bgt ><

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s