Between 2 Before 20 (Chapter 1)

Between 2 Before 20

Between 2 Before 20

Title                : Between 2 Before 20

Author            : JJ Young

Length            : Multi chaptered

Rating             : Teen

Genre             : School life, romance, friendship

Cast                : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Han Ahreum (OC), EXO members

Author’s note : FF ini pernah dipublish di wp lain ->fanfictionofkpop.wordpress.com

                           Hope you’ll enjoy this fic. Happy reading..

 

Chapter 1 ─ Hard to Choose

Badminton, sepak bola, basket.

Badminton. Korea Selatan termasuk unggulan dunia kalau tidak salah.Shuttle cock, raket, net dan lapangan;tiga belas koma empat meter kali enam koma satu meter. Kira-kira hanya itu yang dibutuhkan, kecuali jika melewatkan sepasang sepatu olahraga untuk dipasang di kaki. Baekhyun cukup tahu soal itu.

Menari, menyanyi, akting.

Menyanyi. Belum mahir sih. Tapi lumayan lah jika disuruh menyanyi di gereja setiap minggu. Tidak perlu suara sebagus Michael Jackson atau Xiah Junsu ─contoh dekatnya─ untuk menjadi penyanyi. Selama memiliki teknik vocal bagus, pandai atur dinamika dan emosi saat bawakan lagu, suara seperti Baekhyun pun enak di dengar. Tapi sayangnya, Baekhyun memiliki suara yang bagus, bonus powerful. Dia pandai bernyanyi.

YG, JYP, SM.

SM. Lebih detail lagi SM Entertainment. Pabriknya artis Kpop yang melahirkan artis populer macam Suju. Perintis Kpop macam TVXQ. Sembilan dara cantik; Girls’ Generation. Tak ketinggalan juniornya yang masih menyusul popularitas seniornya. Baekhyun lebih senang SM, bukan karena Taeyeon idolanya debut disana, tapi karena dirinya sendiri ada disana. Sedang melatih diri menunggu debutnya. SM mengajarkan bagaimana caranya menyanyi.

Lalu,

Badminton, menyanyi, SM.

Tidak tahu. Baekhyun tidak bisa memilih. Ia ingin memilih ketiganya kalau boleh jujur. Baekhyun suka badminton. Baekhyun suka menyanyi. Baekhyun suka SM.

Tapi kata orang-orang hidup itu pilihan. ‘Life is a Choice’ istilah kerennya. Manusia tidak diizinkan serakah oleh Tuhan. Mereka harus memilih. Andai saja kata ‘memilih’ itu sesederhana mengucapkannya, pasti istillah Life is a Choice tidak akan sepopuler sekarang. Baekhyun tahu ia harus memilih. Tapi memilih juga perlu pertimbangan kan? Perlu waktu juga kan?

Santai saja, Baekhyun masih delapan belas tahun kok.Masih ada waktu untuk berpikir.

─oOo─

Seoul, 8 April 2014

“Jadi, kau pilih apa?” Kai menyikut rusuk Baekhyun.

Baekhyun tersentak. Dagunya terjatuh. Telapak tangannya yang daritadi menopang dagu jatuh akibat ulah Kai. Baekhyun menatap Kai yang wajahnya sudah gerah karena terlalu lama menunggu keputusan Baekhyun. Benar menurutnya, memilih itu sulit.

“Hei, bacon─”

“Kau bukan fansku. Berhenti memanggilku Bacon.” Sahut Baekhyun tak terima. Ia menegakkan punggungnya di kursi lalu memikirkan apa yang sebaiknya ia pilih.

Bubble Tea, Kai.”

Kai mendengus. “Kau seperti disuruh memilih antara badminton atau menyanyi saja. Ujung-ujungnya juga bubble tea.” Komentar Kai sambil berlalu menuju konter kafe untuk memesan satu bubble tea Baekhyun dan satu cappuccino untuk dirinya.

“Terima kasih Kai.” Ujar Baekhyun saat Kai kembali dengan bubble tea ditangannya.

“Kau bukan fansku. Jadi berhenti memanggilku Kai.”

Baekhyun tertawa pelan. Imitasi Kai sangat mennyebalkan baginya. Ternyata begini rasanya saat ia tadi memotong ucapan Kai ─eh, Jongin tadi. Baekhyun menatap jam tangannya sendiri. Setengah jam di kafe ini amat membosankan. Apalagi menunggu sepuluh laki-laki dari planet yang katanya, EXO planet? Memangnya ada ya?

“Kemana mereka? Apa mereka perlu eyeliner untuk perayaan ulang tahun debut?”

Jongin mendengus sebal. Ia juga bosan. Ia malah sudah empat puluh lima menit ada di kafe itu. Bukannya salah jadwal atau apa. Memang Kai dan Baekhyun tidak berangkat dari dorm. Mereka berangkat terpisah dari apartemen masing-masing. Awalnya Baekhyun tidak tahu ada perayaan macam ini untuk ulang tahun debut EXO. Tapi, tiba-tiba si maniak kebersihan, Do Kyungsoo meneleponnya pagi-pagi dan menyuruhnya datang ke kafe ini pukul delapan.

Tapi ini sudah setengah sembilan.

“Sudahlah, mereka itu bersepuluh. Sulit untuk menyesuaikan jadwal. Paling-paling D.O dan Xiumin hyung yang kehabisan suara meneriaki mereka.” kata Kai menyeruput cappucinonya.

“Oh iya,” Jongin meletakkan cappucinonya lalu mencondongkan badan ke arah Baekhyun. “Kau tidak ada pertandingan?”

“Pertandingan?” Baekhyun megerutkan dahi.

─oOo─

Victory High School, 4 April 2010.

“Hei, Baek.” Seseorang menyentuh pundaknya. Baekhyun mendongakkan wajah. Tangannya tetap terlipat diatas bangku. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Hanya memastikan yang punya suara adalah Han Ah Reum. Ketua club seni di SMA Victory.

“Ada apa?” Baekhyun menatap Ahreum yang mengambil tempat didepan bangkunya. Duduk dikursi Chanyeol yang sedang kosong karena sang pemilik sedang tidur diruang kesehatan. Katanya dia mengantuk karena pulang latihan baru jam tiga pagi tadi. Tentu saja itu salahnya sendiri karena memiliki tubuh yang kakunya seperti robot. Memangnya enak dilihat kalau robot sedang nge-dance?

“Festival musik sebulan lagi. Kau berpartisipasi kan? Ajak Chanyeol juga.”

“Kau suruh apa dia? Menyanyi? Yang ada timmu akan membeli sound system baru karena rusak. Chanyeol akan ngerap terus selama sejam.” Kata Baekhyun malas menanggapi Ahreum. Ahreum ini sudah tiga kali membujuk Baekhyun ikut festival musik bulan depan. Segala macam rayuan ia lontarkan. Mulai dari ‘Baek, suaramu sebagus Whitney’ atau ‘Kau kan trainee SM’ dan yang paling menjengkelkan adalah ‘Baek, sumpah kau tampan sekali kalau sedang menyanyi.’

Anehnya, kenapa dia sendiri tidak berpartisipasi. Sekedar informasi, Ahreum juga trainee SM. Seangkatan dengannya. Baru masuk enam bulan lalu. Suaranya bahkan menyaingi tone-nya Mariah Carey. Sekarang apalagi? Sudah jelas dia kandidat terkuat finalis festival musik bulan depan.

“Aku ketua panitia. Tidak mungkin aku ikut. Kalau jadi kau, aku sudah pasti ikut.” Katanya mulai memainkan pensil mekanik milik Chanyeol yang dipinjam Baekhyun.

“Sayangnya kau tidak jadi aku…”

“Baekhyun!”

“Ahreum!”

“Isssshhh!!” Ahreum menjejakkan kakinya kuat ke lantai. Bahkan bangku Baekhyun sedikit bergerak. Selalu saja seperti ini. Pembicaraan antara Byun Baekhyun dan Han Ahreum akan berakhir sebagai perdebatan yang hampir tidak ada ujungnya. Tidak disekolah, di ruang seni, bahkan di gedung SM.

“Hei, Ahreum.” Suara berat laki-laki membuat perdebatan Baekhyun dan Ahreum berhenti sejenak. Mereka menoleh, dan mendapati Chanyeol dengan mata merahnya berdiri sambil mengedikkan dagunya ke arah pintu.

“Pergi. Kau tidak dengar bel sudah berbunyi?”

“Hei Park Chanyeol, tidak bisakah kau sedikit berlembut hati pada gadis cantik sepertiku?”

Chanyeol dan Baekhyun merasa mual. Lagi-lagi Ahreum menggila. Mengatai dirinya sendiri cantik. Itu hal paling konyol. Kalau bodoh iya ─Ahreum memang bodoh. Tapi tidak ada yang menyangkal kalau Han Ahreum cantik. Kalau tidak, SM tidak akan menerimanya sebagai trainee. Standar wajah bagi SM merupakan keharusan. Boleh sih tidak rupawan, asalkan bakatmu luar biasa. Oplas di Korea secanggih Amerika yang membanggakan teknologinya.

Han Ahreum segera menyingkir dari kedua couple itu. Baekyeol. Mereka berdua couple paling mesra di SM. Kemana-mana berdua. Mereka sekamar, seumuran, dan sekelas pula. Untungnya tidak ada gossip kalau mereka gay.

“Kau jadi ikut festival musik?” Tanya Chanyeol duduk dibangkunya. Menyuguhi Baekhyun dengan punggungnya. Ia yakin kalau Baekhyun masih bisa mendengarnya.

Murid-murid sekelasnya mulai berjubel masuk untuk melanjutkan kelas fisika setelah matematika. Menyerah pasrah terhadap jadwal pelajaran yang menyiksa otak. Ditambah dengan Jae Suk seonsangnim, guru fisika yang julukannya killer tapijustru aneh karena mengajarnya yang membuat seluruh siswa menguap sepanjang pelajaran.

“Sebenarnya ingin. Aku suka menyanyi. Tapi, kalau ketuanya Ahreum aku malas.”

“Haha..” Chanyeol tertawa pelan. Takut ketahuan Jae Suk seonsangnim. Hukumannya luar biasa berat kalau ketahuan mengobrol di kelas. Bukan mengepel seluruh sekolah, itu masih manusiawi kalau dipikir-pikir. Yang tidak manusiawi itu kalau dia memberikan seratus soal fisika dan harus dikumpulkan tiga jam setelah jam pulang sekolah. Kalau biologi sih oke, Google punya solusinya. Tapi ini fisika!

“Kenapa memang?”

“Dia cerewet.”

“Jangan begitu, bagaimanapun juga Ahreum rekan seperjuangan kita.” Bisik Chanyeol.

“Park Chanyeol!Berapa efisiensi Siklus Carnot di soal nomor tiga?!”

Chanyeol tersentak, diikuti Baekhyun. Jae Suk seonsaengnim melemparkan spidolnya ke kepala Chanyeol. Tepat mengenai telinga lebarnya. Cepat-cepat Chanyeol mengelus telinga kirinya, membagi panasnya telinga dengan jari-jari. Chanyeol menggumam pelan, menyumpahi Jaesuk karena belum pensiun juga.

Posisi Baekhyun lebih menguntungkan dibanding Chanyeol. Ia tertutup badan Chanyeol yang lebih jangkung darinya. Ia sedari tadi juga berpura-pura menatap papan tulis yang berisi puluhan notasi fisika tentang konsep-konsep termodinamika, termasuk Siklus Carnot.

Chanyeol menggaruk kepala, padahal dia tidak punya kutu. Ia sama sekali tidak tahu tentang Siklus Carnot. Sekalipun ia diberi klu, ia tidak akan bisa menebak sisanya. Pengetahuannya tentang fisika nol besar. Ia tidak suka belajar. Chanyeol hanya akan menguap-nguap sepanjang pelajaran. Hari-harinya fokus untuk training, sedang ke sekolah untuk tidur. Jadi, dia lebih tahu teknik falsetto daripada termodinamika.

“Temui Han Ahreum sepulang sekolah. Minta seratus soal darinya.”

Baekhyun terkekeh. Sudah jatuh tertimpa tangga. Mendapat hukuman seratus soal saja sudah menyebalkan. Ditambah meminta soalnya dari Ahreum. Itu lebih menyebalkan. Bukannya membantu, Ahreum pasti menceramahi Chanyeol selama lima belas menit agar tidak menjadi siswa bodoh. Baru ia memberikan soalnya. Yang mengherankan, kenapa bisa Han Ahreum menjadi asisten guru fisika. Padahal nilainya jelas tidak jauh beda dengan Chanyeol, predikat C.

“Aku ikut prihatin..” Bisik Baekhyun.

“Diam kau Baek!!”

_______

Chanyeol menutup telinganya kuat. Seakan ingin memasukkan kedua telinga lebarnya─agar tidak diejek Baekhyun─ke kepalanya. Ahreum malah mengernyit. Bukannya bicara, Chanyeol malah menutup telinganya. Lima menit lalu, Chanyeol datang dengan wajah paling menyedihkan, lalu bercerita kalau dia mendapat detensi dari Jae Suk seonsaengnim. Prihatin iya, tapi kalo tingkahnya aneh begini rasanya ingin mengahantamkan kamus ke kepala Chanyeol.

“Kau kenapa?”

“Jangan ceramahi aku!”

“Astaga!” Ahreum mengetok kepala Chanyeol, tidak jadi menghantam menggunakan kamus. “Kau pikir aku nenek Baekhyun?!”

Chanyeol menurunkan kedua tangannya lalu menatap Ahreum. Ia sedang sibuk mengobrak-abrik isi tasnya. Mencari map merah hati katanya. Isinya pasti soal-soal fisika yang susahnya minta ampun. Chanyeol memperhatikan, ia baru tahu kalau Ahreum menyimpan headphone nirkabel berwarna biru tua di tasnya. Seingatnya, headphone itu kado dari Baekhyun tiga bulan lalu untuk ulang tahunnya. Mustahil kelihatannya kalau Ahreum sampai membawa-bawa kado si ‘Baek’ ─kata Ahreum─ sampai ke sekolah.

“Selesaikan dalam tiga jam. Jae Suk seonsaengnim tidak pernah memberikan toleransi waktu. Kerjakan semampumu, daripada sama sekali tidak kau kumpulkan.”Ahreum menata lima lembar kertas soal fisika ditangannya lalu menyerahkannya kepada Chanyeol.

“Tumben kau tidak ceramah..”

Ahreum menarik lagi kertas ditangannya. “Kau ingin diceramahi?”

“Tidak-tidak. Sini berikan. Gara-gara kau waktuku terpotong sepuluh menit.”

Ahreum memang bodoh. Sama alasannya dengan Chanyeol: Datang ke sekolah untuk tidur. Tapi aslinya dia punya otak lumayan. Lumayan licik. Contohnya sekarang, tiba-tiba dia punya ide yang menurutnya bagus. Ide itu terlintas begitu saja saking cerdasnya otak yang ia miliki.

“Apa lagi?”

Ahreum menarik kertas soalnya lebih dekat dengan dirinya. Mencegah Chanyeol tiba-tiba merebut soal itu dan menggagalkan idenya. Bukan ide besar sih, tapi okelah untuk misinya menggaet Baekhyun ikut festival musik. Ia tidak pernah menyerah untuk misi yang satu ini; membuat Baekhyun menyanyi di festival musik. Tidak ada alasan khusus kenapa dia bersikeras memaksa Baekhyun mengikuti festival itu. Hanya saja…

“Pastikan Baekhyun ikut festival musik. Lalu aku akan memberikan soal ini padamu.”

“Hei Han Ahreum. Kau gila ya? Baekhyun tidak mau.”

“Justru karena itu aku mengancammu.” Ahreum bersikeras.

“Ahreum-ah, tidak sadarkah alasan Baekhyun tidak mau ikut adalah dirimu?”

Ahreum tidak kaget. Ia tahu alasannya jauh sebelum Chanyeol tahu. Baekhyun suka menyanyi. Suka sekali. Karena itu ia ingin mengikuti festival musik ini. Tapi entah mengapa, situasinya jadi tidak bagus. Saat Ahreum mendatangi Baekhyun sebagai ketua panitia dan bermaksud memberikan selebaran festival musik itu, Ahreum menyadari ekspresi wajah Baekhyun berubah. Baekhyun langsung mengatakan ia tidak tertarik. Dan itu bohong.

Untuk alasan itulah. Ia sedikit, sekali lagi sedikit, merasa bersalah. Oleh karena itu, selama beberapa waktu terakhir ia memaksa Baekhyun untuk mengikuti festival musik. Karena Ahreum tahu, Baekhyun memang menginginkan itu. Ahreum tidak pernah menyerah untuk misi yang satu ini; membuat Baekhyun menyanyi di festival musik. Tidak ada alasan khusus kenapa dia bersikeras memaksa Baekhyun mengikuti festival itu. Hanya saja… ia merasa bersalah.

“Terserah,” Ahreum mulai merapikan barang-barangnya. “Aku akan memberikan soal ini setengah jam sebelum waktumu habis.” Lanjut Ahreum sambil memanggul tas ransel dibahunya. Ia beranjak dari bangkunya, sambil melipat kertas soal milik Chanyeol.

“Baiklah.. baiklah.” Kata Chanyeol menarik lengan Ahreum. “Berikan soalnya.”

“Janji?” Ahreum mengulurkan kelingkingnya.

“Apa perlu?”

“Kau harus menepati janjimu.”

“Kalau Baekhyun tidak mau?”

Ahreum mendecak. “Ya sudah, aku pergi.”

“Oke oke.” Cahnyeol menyambar kelingking Ahreum dengan kelingkingnya sendiri sebelum gadis cerewet itu benar-benar pergi. Bisa celaka kalau Ahreum memberikannya nanti. Nilainya bisa melorot ke predikat D semester ini. Mendapat C saja sudah membuat stres.

“Anak baik.” Ahreum mencubit pipi kanan Chanyeol gemas.

“Jijik. Lepaskan!” Kata Chanyeol menepis lengan Ahreum.

Ahreum tidak menggubris. Biasa baginya jika Chanyeol dan Baekhyun bersikap seperti itu. Ia sudah kebal. Sekebal tubuhnya terhadap virus cacar air.

“Oi Chanyeol, kau kan bisa minta bantu si Baek. Dia kan jago fisika.”

“Dia sibuk.” jawab Chanyeol berjalan menuju pintu. Menuju kelasnya lebih baik daripada beradu mulut dengan Ahreum. Menyelesaikan detensinya menjadi prioritas utama untuk menghindari predikat D semester ini.

“Sibuk? Sedang apa dia?” Ahreum menyusul langkah Chanyeol yang panjang-panjang.

“Badminton seperti biasa. Dia berambisi masuk timnas katanya.”

“Di Sport Centre?”

“Tentu saja, memangnya di SM ada lapangan badminton?”

Ahreum tersenyum lebar lalu menepuk-nepuk pundak Chanyeol. Tidak ada alasan khusus kenapa gadis itu nyengir lebar. Dia memang selalu cengar-cengir seperti orang depresi. Bahasa sederhananya, tidak ada kata sedih dalam kamus hidupnya. Gadis itu periang, saking riangnya burung beo kalah cerewet dengannya.

“Chanyeol!! Fighting!!! Sebagai imbalan, kumpulkan padaku. Aku yang akan memberikan pada Jae Suk seonsaengnim. Annyeong…” Teriak Ahreum segera berlari mundur ke arah Sport Centre di lantai bawah SMA Victory.

Chanyeol menggelengkan kepala melihat tingkah Ahreum. Ia masih tidak percaya ada trainee SM yang seceria itu. Seperti tak ada beban saja. Selain ceria, Han Ahreum ini cerewet dan keras kepala. Cantik juga. Tapi satu hal yang baru disadari Chanyeol hari itu.

“Dia baik.”

─oOo─

“Baekhyun, gunakan servis pendek saja. Penyajian bola pertama itu penting.”

Baekhyun mengangguk lalu memberikan servis pada pelatihnya di seberang net. Pelatihnya, sebut saja Go Yoo Jin, membalas servis Baekhyun dengan pukulan lob yang bisa dimanfaatkan Baekhyun untuk pukulan smash. Baekhyun mundur empat langkah, menyongsong shuttle cock di udara lalu melompat. Sambil mengayunkan raket.

Dropshot. Bukan smash keras.Untungnya, Yoojin bisa membaca pergerakan Baekhyun dan mendekat ke arah shuttlecock. Membalasnya dengan lemah, mengajak Baekhyun beradu teknik netting.

“Wooah, Baekhyun jago..” Komentar Ahreum saat mengambil tempat duduk di salah satu tribun memutar yang mengelilingi tiga lapangan badminton di pusat stadion. Tidak hanya Go Yoo Jin dan Baekhyun, masih ada Lee Yong Hwi si master smash, Jung Dong Jun yang satu level di bawah Yong Hwi dan Lee Cha Young, satu-satunya atlit badminton putri.

“Dia berbakat.”

Ahreum merasakan ada yang bersuara disampingnya. Ia menengok, mungkin saja ia menemukan Lee Yong Dae disana, si atlit tampan itu. Tapi yang ia temukan hanyalah Lee Shin. Pelatih klub badminton selain Go Yoojin. Ia duduk menyilangkan lengan disamping Ahreum sambil memperhatikan ke depan, ke arah Baekhyun yang baru saja tersungkur untuk mempertahankan bola.

11-9, poin untuk pelatih Go Yoojin. Baekhyun masih stuck diangka 9.

“Aku tahu dia berbakat.” Ujar Ahreum. Saat itu, Baekhyun menyadari ada Ahreum di stadion juga. Baekhyun tidak memberi perhatian lebih, hanya sekedar menengok. Untuk memastikan bahwa itu memang Ahreum si beo cerewet. Setelah tahu dugannya benar, Baekhyun melanjutkan fokusnya untuk menerima bola servis dari Go Yoojin.

“Aku dengar dia trainee agensi hiburan.”

“Iya. Aku disini untuk menunggunya berangkat kesana bersama.”

“Aku tidak tega mengatakan ini.” Lee Shin membuka pembicaraan yang agak serius. “Dia tidak bisa bertahan seperti ini terus.”

“Maksudmu?”

“Antara artis dan atlit. Hanya satu yang bisa ia jalani. Musik dan badminton, harus satu yang ia tekuni. Kalau tidak, dia tidak akan menjadi yang terbaik.”

Ahreum menatap Lee Shin, lalu beralih pada Baekhyun di tengah lapangan yang sedang berteriak karena mendapat satu poin lagi. 12-15, poin untuk Baekhyun. Baekhyun bisa menambah 3 poin, tapi Yoojin masih memimpin dengan angka 15. Ahreum tersenyum menatap Baekhyun yang sangat menggilai olahraga ini. Ketika Ahreum menyadari─walaupun amat kecil─keringat Baekhyun menuruni pelipis, sebagian bertumpuk di ujung alis, dan lebih banyak yang jatuh di lapangan, ia tahu Baekhyun bekerja keras.

“Kalau dia memilih musik?”

“Dia berhenti jadi atlit. Timnas bukan lagi mimpinya.”

“Kalau dia memilih….” Ahreum tercekat. “…badminton?”

“SM harus melepasnya.”

Dada Ahreum tertohok. Jantungnya seperti berhenti ditempat. SM merupakan mimpi bagi  Baekhyun. Ia tahu betapa sulitnya perjuangan untuk menjadi bagian dari SM. Karena ia juga merasakan perjuangan itu. Kalau Baekhyun melepaskan musik, ia juga harus melepaskan SM. Baekhyun harus merelakan kerja kerasnya untuk masuk agensi bergengsi itu. Kerja kerasnya tidak akan membuahkan hasil, debutnya─mimpinya─hanya menjadi mimpi. Berhenti pada kata ‘mimpi’

15-17, poin untuk Baekhyun.

15-18, poin untuk Go Yoojin.

15-19, poin untuk Go Yoojin.

15-20, poin untuk Go Yoojin.

16-20, Baekhyun berusaha menunda kemenangan Yoojin dengan smash keras tepat disisi kiri lapangan Yoojin.

16-21, smash Baekhyun melebar di luar garis putih sisi kiri lapangan Yoojin. Mengakhiri pertandingan hari itu. Baekhyun harus mengakui keunggulan Yoojin atas dirinya.

“Kau harus lebih sabar. Jangan terburu-buru. Bahkan peringkat sepuluh dunia bisa mengalahkan peringkat satu dunia karena dia lebih sabar. Tunggulah waktu yang tepat untuk membangun serangan.” kata Yoojin sambil menepuk punggung Baekhyun. Ahreum dan Lee Shin mendengar sayup-sayup instruksi Yoojin yang dibalas anggukan oleh Baekhyun.

“Tidak bisakah Baekhyun memilih keduanya?” Tanya Ahreum pelan agar tidak didengar Baekhyun yang ada ditengah lapangan.

Lee Shin tersenyum lemah. “Sudah kubilang, dia tidak akan menjadi yang terbaik. Kemungkinan buruknya, ia akan kehilangan kedua mimpinya.”

Baekhyun kehilangan keduanya.

─oOo─

Sesekali Ahreum melompat. Penyakit riangnya kambuh.

Baekhyun tidak melompat. Hanya berjalan lurus, merasakan nyeri di lututnya karena tadi sempat tersungkur di lapangan. Hanya lecet, tidak parah. Sembari melupakan rasa nyerinya, Baekhyun menatap Ahreum disampingnya yang tidak berhenti mengoceh seperti biasa. Kali ini ia mengajak diskusi soal festival musik yang sayu-sayu didengar Baekhyun ada enam belas peserta yang ikut. Tujuh belas, kalau Baekhyun jadi ikut. Anehnya, Ahreum tidak membujuknya lagi. Apa dia sudah menyerah?

“Kupastikan kau ikut.” Kata Ahreum menuju kesimpulan.

Baekhyun mengangkat bahu.

Ahreum mulai tenang. Baekhyun menatap lurus trotoar yang panjangnya hampir tujuh ratus meter untuk membawanya menuju halte terdekat. Tidak dekat juga kalau tujuh ratus meter, yang jelas itu jarak terdekat menuju halte. Baekhyun sering jalan bersama Chanyeol melewati jalan itu, tapi kali ini ia bersama Ahreum. Chanyeol sudah pulang duluan setengah jam yang lalu. Katanya ia ingin cepat latihan dan cepat tidur. Otaknya sudah ringsek setelah berkutat dengan segala macam jenis soal fluida dan kawan-kawannya.

“Oi, Baek.” Celetuk Ahreum. Kali ini ia menghentikan aksi lompat-lompatnya.

“Apa?”

“Sejak kapan kau menyanyi?” Tanya Ahreum menatap lurus jalan didepannya.

Baekhyun diam sejenak. “Umur delapan.”

“Oh,” Balas Ahreum santai. “Sejak kapan kau menyukai badminton?”

Baekhyun diam lagi. “Umur sepuluh.”

“Kau sangat muda sekali ketika menemukan impianmu.”

“Hm..” Baekhyun mengangguk. “Aku suka menyanyi dan badminton.”

“Aku tahu.” Jawab Ahreum menatap wajah Baekhyun dari samping.

“Mana yang kau sukai?” Tanya Ahreum hati-hati.

“Maksudmu?” Baekhyun menolehkan wajahnya, menatap wajah Ahreum yang sama bingungnya dengan dirinya. Wajah Ahreum seakan mengatakan bahwa ia serius, dan Baekhyun harus menjawab. Ekspresi seperti itu tidak pernah ditampakkan oleh Han Ahreum selama mengenalnya. Jadi, Baekhyun harus menjawab.

“Antara menyanyi dan badminton, mana yang kau sukai?”

Baekhyun terkekeh pelan. Ia memasukkan kedua lengannya ke saku celana lalu kembali menatap trotoar didepannya. Pertanyaan Ahreum lucu baginya. Baekhyun rasa ia sudah mengatakannya tadi bahwa ia suka menyanyi dan badminton.

“Aku suka keduanya, Han Ahreum.”

“Kalau harus memilih?” Ahreum mencercanya dengan pertanyaan lain. Baekhyun tidak tahu kenapa Ahreum jadi seperhatian ini pada hobinya. Beberapa jam lalu, Ahreum masih sama seperti sebelumnya, riang dan tidak serius sama sekali dengan segala tindakannya. Tapi sekarang, dia malah seperti orang dewasa. Mencemaskan sesuatu tentang bakat anaknya.

“Kalau harus memilih?” Ahreum mengulangi pertanyaannya.

Baekhyun menghentikan langkahnya. Ahreum juga. Baekhyun memutar badan lalu menatap wajah Ahreum yang sedikit lebih pendek darinya.

“Kalau kau?” Baekhyun balik bertanya.

“Musik. Aku pasti memilih menyanyi.”

“Ya sudah. Aku juga.” Balas Baekhyun seadanya. Ia kembali berjalan.

Sejujurnya, Baekhyun tidak tahu harus memilih apa. Ia menyukai keduanya. Ia akan memilih keduanya. Tapi pertanyaan Ahreum tadi mulai menggoyahkan keteguhan hatinya. Adakah suatu saat ia harus memilih antara keduanya? Artis atau atlit? Menyanyi atau badminton? Maka, saat itu juga ia akan berada dalam kebingungan yang luar biasa. Dia tidak bisa memilih sekarang. Karena jalan keduanya sudah sangat dekat baginya. Ia bisa saja meraih keduanya.

Baekhyun berada di SM, hanya menunggu debut.

Baekhyun masuk timnas junior ketika umurnya masuk lima belas. Dan sekarang sedang dipantau oleh timnas perkembangan skillnya.

‘Aku memilih yang mana?’ Batin Baekhyun, kebimbangan mulai muncul di dadanya.

“Baekhyun-ah!!!” Teriak Ahreum. Baekhyun menoleh.

Ahreum berlari menyusul posisi Baekhyun. Lalu mengerem tiba-tiba saat ia berada didepan Baekhyun. Seperti biasa, Ahreum memamerkan senyumnya dulu sebelum bicara. Menunjukkan kalau dia memiliki lesung pipit samar di pipi kirinya. Ia lantas tidak bicara. Ahreum mengangkat tangan kanannya lalu menyuguhkan jari kelingkingnya, lagi.

“Untuk apa?”

“Janji?”

“Janji apa?”

“Janji kau tidak akan marah.”

“Kenapa aku harus marah?”

“Janji dulu.” Ahreum mengehentakkan kakinya.

“Apa sih?”

“Byun Baekhyun, berjanjilah kau tidak akan marah.”

Baekhyun menghela napas lalu menatap kelingking Ahreum yang sama mungilnya dengan kelingking keponakan Baekhyun yang masih SMP. Ia menatap wajah Ahreum yang seolah mengatakan ayo-segera-janji lalu mengangkat tangannya. Menyambar kelingking Ahreum dengan kelingkingnya sendiri. Baekhyun hapal tingkah kekanakan Ahreum. Sekalipun ia mengatakan tidak, Ahreum akan memaksa sampai Baekhyun terpaksa mengatakan ‘iya aku janji’

Dan,

Baekhyun hampir terjungkal saat Ahreum menghambur padanya. Tanpa permisi, Ahreum melingkarkan kedua lengannya dipinggang Baekhyun lalu memeluknya erat. Kepala Ahreum bersandar di dada kirinya, sedang badannya menempel erat dengan tubuh Baekhyun.Saat itu, Baekhyun benar-benar terkejut. Ya, sangat.

“Hei─”

“Kau sudah berjanji tidak akan marah.” Potong Ahreum sama sekali tidak mengangkat kepalanya. Ia takut kalau Baekhyun akan meledak. Ahreum tetap menyembuyikan kepalanya di dada Baekhyun. Ia tahu Baekhyun akan marah saat tangan Baekhyun sudah bersiap untuk mendorong tubuhnya.

“Tunggu, biarkan aku bicara.” Kata Ahreum untuk menghentikan Baekhyun yang sudah memegang kedua lengan atas Ahreum. Seakan itu titah, Baekhyun tidak jadi mendorong Ahreum. Ia hanya menatap puncak kepala Ahreum yang hanya kali ini ia bisa melihat dalam jarak sedekat ini. Wangi almond menyeruak dari rambut panjang Ahreum.

“Aku tahu kau tidak menyukaiku, Chanyeol juga. Aku tahu aku berisik. Aku seperti beo  kelebihan energi. Tapi…”

Baekhyun menunggu Ahreum melanjutkan.

“Kau sama sekali tidak boleh melupakan aku seandainya kau sudah memilih nanti.” Ahreum takut jika itu badminton yang menjadi pilihan Baekhyun. Sudah pasti Baekhyun akan meninggalkan SM, tak terkecuali dirinya. Ia takut dilupakan. Ahreum tak suka diabaikan. Benar-benar tak suka.“Aku hanya punya kau dan Chanyeol. Satu lagi, kalau kau mengalami masa sulit suatu saat, kau harus ingat kalau aku, Han Ahreum masih disini. Menemani Byun Baekhyun.”

Baekhyun mengerutkan dahi. “Maksudmu?”

Ahreum terhenyak. Bisu untuk sesaat. Merasa bodoh mengatakan hal yang seharusnya tidak pernah ia katakan.

“April mop!!!!!” teriak Ahreum tiba-tiba sambil melepaskan Baekhyun. “Hahahaha”

“Ya!!! Kau─” Kata Baekhyun geram, telinganya sudah memerah.

“Kau berjanji tidak akan marah.”

“Tapi ini keterlaluan. Hei Han Ahreum!!! Berhenti disana!!” Teriak Baekhyun mengejar Ahreum yang lebih cepat kabur sebelum sempat Baekhyun menjitak kepala jelmaan beo itu.

“Kau saja yang terlalu serius!!! Hahahaha….”

Aku serius Baek. Sangat serius. Kau jangan memilih badminton. Kau harus memilih menyanyi. Kau harus bertahan di SM. Karena aku, aku…

oOo─

Seoul, 8 April 2014

Perempuan yang baru masuk itu aneh. Kalau Baekhyun benar, ini sudah musim semi. Musim dingin sudah berakhir dua bulan yang lalu. Bahkan seluruh mantelnya sudah ia simpan lagi dilemari. Ibunya sendiri sudah mulai kegerahan, padahal ini musim semi bukannya musim panas. Yang jelas, sangat aneh kalau berpakain setebal itu saat ini.

Dia memakai mantel hitam dengan bulu-bulu dibagian tudung kepalanya. Tak ketinggalan syal ala Gryffindor di film Harry Potter menghangatkanlehernya─kalau Baekhyun sih akan gerah. Ditambah kacamata hitam limited edition yang baru sebulan kemarin diluncurkan. Dan kebetulan Baekhyun beruntung kebagian stocknya. Perempuan itu sangat aneh kalau dilihat dari sudut pandang Baekhyun. Dia salah kostum atau apalah. Perempuan itu mengingatkan Baekhyun pada Han Ahreum, temannya yang agak‘sangar?’

Sepertinya Kai─eh Jongin, sudahlah panggil Kai saja lebih simpel─menyadari sesuatu. Kai menegakkan punggungnya. Memperhatikan perempuan aneh yang baru saja kembali dari meja konter dengan tampang kesal yang disembunyikannya dibalik kacamata dan syal. Anehnya, ia tidak membawa minuman atau apapun dalam genggamannya. Melihat ekspresinya, ia benar-benar mengingatkan pada sosok Han Ahreum, si duplikat beo cerewet.

“Han Ahreum!!” Teriak Kai bersemangat.

‘Benar Ahreum?’ Gumam Baekhyun dalam hati. Si perempuan langsung melepas kacamata lalu dengan senyum lesung pipitnya ia menghampiri meja nomor tiga, meja Baekhyun dan Kai. Dia mengambil tempat duduk di sebelah Kai, tepat di depan Baekhyun. Baekhyun mempelajari struktur wajah Ahreum yang lebih dewasa dengan polesan make up tipis di bibir dan matanya.

“Hei, kau seperti melihat hantu saja. Ah iya sih, pakaianku serba hitam. Aku sedang menyamar.” Si duplikat beo itu mulai mengeluarkan kebiasaannya. Cerewet tiada henti. Ahreum cengar-cengir seperti biasa, seperti orang depresi. Ia tidak menggubris ekspresi Kai dan Baekhyun yang kebetulan sedang terkejut mendapati dirinya dengan kostum malaikat pencabut nyawa berada di kafeini.

Si kasir tidak mau melayani pesanannya menurut cerita Ahreum. Ia jadi jengkel karena entah untuk alasan apa si pelayan menolak pesanan pelanggannya. Dan alasannya ketemu saat Kai mulai menjelaskan.

“Maaf ya, kami mau merayakan ulang tahun kedua debut kami. Seluruh kafe sudah kami sewa.” Ujar Kai sambil memasang wajah agak bersalah di depan Ahreum. Logika Baekhyun benar-benar buntu. Kenapa ia tidak cepat menyadari alasan Ahreum ditolak oleh sang kasir. Ia lupa, ini kan acara EXO, tentu butuh privasi. Ahreum saja yang seenaknya masuk. Tetap saja, ini salah Ahreum.

“Ya!! Kalian berani tidak mengundangku???” Teriak Ahreum histeris.

Baekhyun mendesah. “Hei beo cerewet, kafe ini hampir runtuh gara-gara suaramu.”

“Jangan mentang-mentang kalian debut duluan yya, kalian melupakan aku.”

“Itu tahu kalau kau hoobae. Seharusnya kau tidak berteriak pada kami.”

“Tapi kita seangkatan. Seumuran. Seperjuangan.” Balas Ahreum tak mau kalah.

Baekhyun menyeringai. “Kita tetap sunbaemu..”

“Byun Baekhyun!”

“Han Ahreum!”

Kai menndecak pelan sambil mengangkat cappucinonya yang sisa setengah. Ia menyedotnya pelan sambil memperhatikan Baekhyun dan Ahreum yang saling memelototi. Setelah menginjak dewasapun mereka masih sering berselisih. Parahnya, hanya perkara tidak penting yang diributkan. Sebenarnya, dikemanakan rasio mereka. Apa ditinggal dirumah?

Sekedar info, Han Ahreum debut setahun yang lalu. 2013. Setahun setelah EXO debut. Spesialnya, dia tidak debut dalam grup seperti kebanyakan idol Korea. Ia menjadi generasi penerus BoA, solois cantik yang juga jago nge-dance. Umurnya dua puluh dua. Julukannya solois multi talent. Rookie yang daya saingnya paling membahayakan. Nama panggungnya Hana. Artinya satu. Entah itu singkatan dari namanya sendiri, HanA-hreum, atau karena ia ingin menjadi nomor satu. Dia kan ambisius, sekalipun omongannya tidak pernah serius.

“Oi, kalian… bisa berhenti sekarang? Aku tidak ingin memungut mata kalian yang copot.”

Baekhyun mengakhiri perang mata konyol antara dirinya dengan Ahreum saat suara Kai mulai meninggi. Seperti biasa, Kai ikut emosi melihat dirinya dan Ahreum adu mulut. Padahal kan dia tidak diajak bergabung.

“Baekhyun, kau tahu skor pertandingan badminton semalam? Aku ketiduran. Jadi kelewatan set ketiga.” Kata Kai mencari topik lain yang kebetulan digemari Baekhyun.

“Aku tidak tahu. Aku juga tidur kemarin.”

“Aku tahu! 23-21, kemenangan untuk pasangan ganda putra Indonesia.” Sahut Ahreum dengan gembiranya. Matanya sampai berputar-putar mengingat nama pasangan asal Indonesia yang jelas susah pelafalannya. Baekhyun menunggu Ahreum menemukan siapa itu namanya.

Sampai tiga menit Ahreum masih memutar bola matanya sampai tiga ratus enam puluh derajat. Apa Ahreum tidak pusing ya? Jelas tidak, dia kan aneh. Hanya performa panggungnya saja yang keren, sedang diluar panggung dia sangat aneh.

“Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan.”

“Nah itu maksudku!!!” Teriak Ahreum menunjuk-nunjuk wajah Baekhyun. Baekhyun yakin, sebenarnya Ahreum tidak mengingat sama sekali. Otaknya kan lemot masalah menghafal. Seperti dulu, saat ia berduet dengan Baekhyun untuk festival musik─eh, sekedar bocoran, Baekhyun jadi ikut festival musik. Ahreum hampir lupa lirik di awal bagiannya. Untung saja Baekhyun berhasil mengcovernya, jadinya tidak sebegitu memalukan. Mana ada calon artis lupa lirik?

“Ngomong-ngomong pertanyaanku yang tadi.” kata Kai memutus kegembiraan Han Ahreum karena berhasil memberikan informasi. “Kau tidak ada pertandingan?”

Ahreum ikut memperhatikan Baekhyun. Menunggu jawaban si Bacon.

“Minggu depan.” Jawab Baekhyun singkat. “Aku akan menang.”

“Hei Bacon.” Satu lagi si happy virus datang. Dengan napasnya yang memburu, ia meraih bubble tea Baekhyun dan langsung meneguknya habis. Hanya menyisakan embun-embun diluar bagian gelas plastiknya. Baekhyun menggeleng, diikuti Kai dan Ahreum. Tingkah bocah satu ini juga tidak ada peningkatan. Sama konyolnya ketika SMA. Hanya saja, sosoknya lebih keren dibanding dengan SMA yang hanya bisa kabur dan tidur di ruang kesehatan.

“Baek, Lee Sooman mencarimu.”

“Untuk apa?”

“Tidak tahu. Siapa tahu dia menawarkan album solo seperti Henry Hyung. Lumayan, peningkatan.”

Baekhyun mengerutkan dahi. “Bagaimana dengan EXO kalau aku solo?”

Kai dan Chanyeol saling berpandangan.

─oOo─

To be continue..

4 pemikiran pada “Between 2 Before 20 (Chapter 1)

  1. Keren keren!!
    Tingkahnya si Ahreum sama Baekhyun itu udah bikin aku pengen ngakak tapi nggak jadi deh/?
    hehe… ^^

    Di Next ya Author-ssi ^^
    Di tunggu… ^^

    Keep Writing~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s