The Raspberry (Chapter 7 : All Of Me)

The Raspberry (chapter 7: All Of Me )

 2014-04-13-22-51-39_deco

Author:            laelynur66

 

Main cast:        Kim Jongin (Exo)

                     Oh Sohee a.k.a Raisa Oh (Oc)

                     Oh Sehun a.k.a Daniel Oh (Exo)

                     Xi Luhan (gs) (Exo)

                     Byun Baekhyun (gs) (Exo)

 

Support cast:     all member Exo

                     Zico Block B

                     Zelo BAP

                     Taehyung BTS

                     Daehyun BAP

 

Length:            chapters

 

Genre:             romance, family, friendship (entahlah, mungkin genrenya akan berubah tiap chapter, mungkin)

 

Rating:             PG-17

 

Author note:         HAHAHAHHA, APA INI?? PLEASE READ THE A/N on the end of the story.. J

 

 

 

 

Jongin berjalan gontai melewati lorong rumah sakit yang selalu ramai, berulang kali ia menarik dan menghembuskan nafasnya dalam, perkataan dokter Kim tentang sesuatu yang seolah langsung menghancurkan dunianya, begitu terngiang di telinganya. Sejenak ia memejamkan matanya mengenyahkan kebisingan di sekitarnya, menutup pikirannya dari hal-hal yang mengganggunya, menyumbat hidungnya dari aroma pembersih lantai serta obat-obatan ciri khas yang dimiliki seluruh rumah sakit di dunia, walau rumah sakit bertaraf international pun tidak menjamin akan terbebas dari bau-bauan tersebut.

“jongiin”

Suara lembut yang memanggilnya itu bergema di kepalanya, ahh betapa ia menyukai suara tersebut, betapa ia menyukai senyuman yang mengembang seiring disebutnya namanya, betapa ia menyukai hatinya yang bergetar ketika suara itu terdengar memanggilnya,  betapa ia menyukai desiran pada aliran darahnya ketika sang pemilik suara berada di dekatnya, detak jangtungnya yang menggila ketika kulit mereka bersentuhan. Betapa ia tidak menyadari sejauh mana ia terjatuh pada pesonanya.

Detik itu juga ketika merasa kekosongan di dadanya, Jongin menangis, menangis dalam diam, menangis di antara koridor rumah sakit yang selalu ramai. Ia meratapi nasibnya, hidupnya yang begitu sempurna di mata orang lain, namun begitu malang baginya. Dan ketika ia tersadar, ia terkejut saat mendapati dirinya berlari menuju parkiran mobilnya, mengendarai mobilnya dengan memacunya gila-gilaan di jalan raya, mengacuhkan pekikan klakson serta caci maki orang yang nyaris ditabraknya. Ketika ponselnya bordering nyaring, menampilkan sebuah nama yang akhir-akhir ini selalu memenuhi kepalanya sepanjang hari, ia tau tujuannya, ia tau apa yang harus ia lakukan, bibirnya menyunggingkan senyum ketika memutuskan untuk membawa mobilnya—dirinya—menuju harapannya.

 

 

***

 

 

Di kala hati resah

Seribu ragu datang memaksaku

Rindu semakin menyerang

Kalaulah aku dapat membaca pikiranmu

Dengan sayap pengharapanku ingin terbang jauh

 

Sohee berlari dengan cepat menyusuri koridor sekolahnya yang masih ramai, kepalanya dipenuhi oleh pertanyaan yang dilontarkan Baekhyun tadi setelah mereka menikmati makan siang mereka.

“apa kau menyukai Jongin? Kau menyayanginya? Terlebih lagi, apa kau mencintainya?”

Tanpa terasa airmatanya berkumpul di pelupuk matanya, ya ia tau, ia tau perasaanya. Ia tau ia menyukai Jongin, menyayanginya bahkan mencintainya. Di awal mereka bertemu ia sudah merasakannya. Ia mengerti mengapa ia tidak menyukai ketika Jongin tersenyum pada orang lain, bukan pada dirinya, ia tau mengapa wajahnya terasa panas jika seorang menyebutkan nama Jongin di hadapannya, suara Jongin, sentuhan tangannya, genggaman tangannya, serta senyum hangat Jongin yang ditujukan padanya, ia menyukai semuanya.. semuanya. Tanpa sadar seluruh saraf motoriknya memang membutuhkan Jongin di sana. Dengan tergesa ia menaiki tangga menuju lantai dua di mana kelas Jongin berada, ia harus bertemu Jongin untuk memastikan semuanya, untuk menanyakan bagaimana perasaan pemuda itu padanya. Sejenak ia ragu, bagaimana jika Jongin tidak memiliki perasaan apapun padanya? Namun pada akhirnya ia mampu meyakinkan dirinya, setidaknya Jongin harus tau bahwa ia manyukai Jongin, bahwa ia mencintainya, tidak perlu bertanya dari mana dimulainya, karena ia tidak peduli kapan dimulainya dan kapan juga kapan pula berakhirnya. Karena Jongin merupakan awal dan akhir baginya, terdengar berlebihan, tapi itulah kenyataannya.

 

Lihat awan pun gelisah

Daun-daun jatuh berguguran

Namun cintamu kasih

Terbit laksana bintang

Yang bersinar cerah menerangi jiwaku

 

Sohee menarik nafasnya kuat, sedikit rasa kecewa ia rasakan saat dirinya tidak menemukan Jongin di kelasnya, namun hanya sekian detik ia merasakan rasa kecewa itu ketika kepalanya meneriakan sebuah tempat di mana kemungkinan besar Jongin akan berada. Dengan cepat ia berbalik kembali berlari menuruni tangga dan berbelok ke kiri menuju ruang kelas seni.

Bahunya bergerak naik turun dramatis, tangannya mencengkram dadanya kuat, nafasnya menggantung akibat dari berlari ia membungkuk sebentar menetralkan nafasnya sebelum memantapkan hatinya untuk membuka pintu kayu di hadapannya.

Dan di sanalah Jongin, duduk diam di depan grand piano dengan sebuah earphone yang menutupi telinganya, matanya menatap kosong pada tuts-tuts piano di hadapannya, hembusan angin menerpa poninya yang jatuh di keningnya, menambahkan kesan tampan yang berlebihan pada wajah Jongin yang memang sudah tampan. Dan tanpa ragu sedikitpun Sohee berjalan mendekatinya, menatap figure wajah Jongin dari samping menyimpannya baik-baik pada memorinya agar ia bisa menikmatinya di lain waktu, jika saja ia tidak bisa bertemu dengannya lagi.

Degan pelan Sohee mendudukan dirinya pada ruang yang tersisa dari kursi yang di duduki oleh Jongin, membuat pundak mereka bersentuhan dan Jongin yang tersentak dari lamunannya berbalik dan sedikit terkejut mendapati Sohee yang sedang tersenyum padanya. Jongin menatapnya seolah bertanya, mulutnya menggumamkan kata ‘apa’ tanpa suara, sementara tangannya naik melepaskan earphone dan mengalungkannya pada lehernya.

Sohee menarik nafasnya, tangannya terulur menjangkau tuts-tuts piano dengan ujung jarinya, menekannya lembut menghasilkan nada-nada yang harmonis, meleburkan dirinya pada nada-nada yang diciptakan oleh jemarinya yang berpadu dengan tuts-tuts piano di hadapannya, mulutnya terbuka melantunkan sebuah lagu.

 

“andaikan kudapat mengungkapkan perasaanku

Hingga membuat kau percaya

Akan kuberikan seutuhnya rasa cintaku, selamanya, selamanya..”

“tuhan, jalinkanlah cinta.. bersama.. selamanya..”

“andaikan kudapat mengungkakan perasaanku

Hingga membuat kau percaya

Akan kuberikan seutuhnya, rasa cintaku

Rasa cinta yang tulus dari dasar lubuk hatiku…” *

 

Sohee terdiam, jemarinya berhenti di atas tuts piano dan dengan sangat jelas jemari itu bergetar, keringatnya pun mengalir deras. Ia bahkan bisa merasakan bulir keringatnya yang jatuh melewati dagunya dan menetes tepat di atas roknya. Ia gugup, ia takut menantikan reaksi Jongin yang duduk di sampingnya.

Tidak ada yang berani membuka mulut untuk sekedar bersuara, hanya suara-suara bising dari luar yang terdengar samar. Hingga akhirnya Jongin berdehem kasar dan Sohee berusaha mengumpulkan semua sisa keberaniannya dengan berbalik menatap Jongin yang entah mengapa juga sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan.

Sohee mengelurkan tangannya menjangkau earphone yang mengalung di leher Jongin, kemudian memasangnya kembali pada telinga Jongin dan mendapat tatapan bertanya dari sang pemilik.

Dengan kedua tangan yang masih menempel pada sisi wajah Jongin, memegang earphone yang terpasang di telinganya agar Jongin tidak melepasnya, Sohee menarik nafasnya dan menatap dalam mata Jongin, mencari kilatan perasaan yang sama dengan yang ia rasakan pada bola mata hitam itu, sebelum ia membuka mulutnya Sohee menarik nafasnya dalam. “Jongin, Kim Jongin” panggil Sohee lirih. “Jongin, bagaimana kalau aku..” Sohee menahan nafasnya, “menyukaimu?” lanjutnya. Ia menggeleng keras “tidak, kurasa, kurasa aku.. aku jatuh cinta padamu..” ucap Sohee pelan, sepelan yang ia bisa. Perasaan lega seketika menyentuh hatinya, ia berhasil mengeluarkan perasaan sesaak yang selama ini menghimpitnya, hanya dengan sebuah pengakuan di hadapan Jongin, di luar dari apakah Jongin benar-benar mendengar tau atau setidaknya mendengarkannya. Sohee tidak terlalu memperdulikan itu, yang utama adalah bagaimana akhirnya ia bisa mengutarakan perasaannya, di luar dari rencana awalnya yang seharusnya Jongin mengetahui perasaannnya, setidaknya untuk saat ini ia telah mengutarakannya.

Sohee menghela nafasnya ketika menyadari tatapan Jongin yang seolah menggambarkan ketidaktahuan dan ketidakmengertian. Ia terenyak saat Jongin tersenyum lembut padanya, kemudian mengulurkan satu tangannya mengusap pipi Sohee. Sohee memejamkan matanya saat wajah Jongin mendekat padanya. Sementara tangan Jongin yang mengusap pipi Sohee menangkupkan sebagian wajah Sohee, membimbing wajah Sohee mendekat hingga sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirnya, bibir Jongin menekan pada miliknya cukup lama, hingga Jongin menjauhkan wajahnya, menyatukan keningnya dengan milik Sohee, tatapan mereka bertemu, saling tatap dan saling menyelam ke dalam cerminan hati masing-masing.

“aku mendegarnya” lirih Jongin. Membuat Sohee tersentak “dan aku suka ketika kau mengatakannya” tambah Jongin pelan.

Sohee tersenyum “aku menyukaimu Jongin… aku, aku jatuh cinta padamu” ucap Sohee tidak kalah pelan “bagaimana denganmu?” tambahnya, membuat Jongin kembali tersenyum lembut padanya.

“aku juga sama sepertimu! dan apa kau tau, Hal yang paling aku sukai darimu?” Tanya Jongin pelan. Sohee menggeleng. “semuanya, semuanya Sohee.. aku menyukai semuanya” Jongin melanjutkan ketika melihat gelengan dari Sohee. “terutama..” Jongin menyentuh bibir Sohee dengan telunjuknya. “kau tau betapa aku tersiksa dengan menahan diriku untuk tidak mengecup bibirmu karena aku harus menunggumu menyadari perasaanmu” jelas Jongin dan membuat Sohee tertawa renyah.

“kalau begitu lakukan, lakukan apa yang kau inginkan” bisik Sohee dengan memejamkan matanya.

Jongin tersenyum, sebeum menunduk kembali memertemukan bibir mereka hingga tidak ada lagi jarak yang memisah, tangannya menekan tengkuk Sohee lembut, membiarkan bibirnya menari-nari di permukaan bibir Sohee yang selembut sayap kupu-kupu.

Sohee mencengkarma ujung seragam Jongin, mengacuhkan detak jantungnya yang berdetak gila-gilaan seolah hendak mendobrak tulang rusuknya keluar, dadanya sesak, tapi kali ini bukan sesak yang menghimpit dadanya, melainkan sesak yang dipenuhi oleh kebahagian. Perlahan ia bergerak, membalas ciuman Jongin dan mendesah pelan saat merasakan basahnya lidah Jongin pada bibir bawahnya.

Semuanya terasa sempurna. Andai saja ia menyadari perasaannya sejak awal, mungkin ia akan merasakan kesempurnaan itu sejak awal. Tapi tidak mengapa, toh pada akhirnya ia merasakan kesempurnaan itu bahkan ia memiliknya. Memiliki Jongin, karena baginya, Jongin merupakan sebuah kesempurnaan.

Jongin melepaskan tautan mereka dan kembali menyatukan keningnya pada milik Sohee, tersenyum tipis saat Sohee membuka matanya membalas menatapnya. Tangannya terulur mengusap pelan permukaan bibir Sohee yang basah karena perbuatannya.

“Sohee?”

“hmm?”

“aku..” Jongin menjauhkan wajahnya dari milik Sohee dan berpaling menatap tuts-tuts piano di hadapannya.

“ya?”

Jongin meringis pelan “Kyungsoo mengajariku sedikit, tentang..” jemari Jongin menekan tuts piano di hadapannya.

“tentang?” Tanya Sohee penasaran.

“tapi, kau tidak boleh kecewa, oke?” ucap Jongin dan berbalik menatap Sohee. Sohee mengangguk pelan.

Jongin menarik nafasnya dalam, sebelum meletakkan kesepuluh jarinya di atas tuts piano, mengernyitkan dahinya beberapa saat sebelum memutuskan menekan tuts piano tersebut, mengasilkan alunan nada yang sedikit sumbang namun masih terdengar lembut dan merdu bersatu dengan suara serak Jongin.

what would I do without your smart mouth?

Drawing me in, and you kicking me out

You’ve got my head spinning, no kidding

I can’t pin you down

Whats going on in that beautiful mind

I’m your magical mystery ride

And I’m so dizzy, don’t know what hit me but I will be alright

My head under water but I’m breathing fine

You’re crazy and I am out of my mind”

 

Permainan piano Jongin terhenti saat ia merasakan sakit di kepalanya, ia memejamkan matanya berusaha mengenyahkan sakit itu, ia bahkan menggigit bibir bawahnya hingga nyaris terkoyak. Tidak, kumohon! Jangan sekarang, batinnya.

“jong?” Sohee memanggilnya lembut. Jongin menoleh padanya, pandangnnya bahkan memburam ia tidak bisa melihat wajah Sohee dengan jelas akibat dari rasa sakit di kepalanya “are you okay? Tanya Sohee lagi, kali ini dengan menyentuh pundaknya. Dan Jongin dengan susah payah mengangguk berusaha kembali memusatkan seluruh perhatiannya pada Sohee dan piano di hadapannya, mengacuhkan rasa sakit di kepalanya, ia mencoba, tapi ia..

 

cause all of me loves all of you

Love your curves and all your edges

All your perfect imperfection

Give your all to me

I’ll give my all to you

You’re my end and my beginning

Even when I lose I’m winning

Cause I give you all of me

And you give me all of you”

 

Jongin tertegun ketika Sohee melanjutkan permainan pianonya dan melantunka kelanjutan dari lagu yang ia nyanyikan, dadanya sesak oleh perasaan yang campur aduk, ia ingin menangis, tapi ia berusaha menahannya, menahan airmatanya yang hendak mengalir, tapi tidak di dalam hatinya ia telah menangis keras meraung-raung ingin di selamatkan. Dengan tangan yang terkepal kuat di pangkuannya Jongin menyandarkan kepalanya yang rapuh pada bahu mungil Sohee, menyandarkan segalanya untuk sejenak di sana..  sementara jemari Sohee masih menari di atas tuts piano, masih mengasilkan nada yang indah sangat berbeda dengan yang dihasilkan olehnya. Bibirnya terbuka, melanjutkan tiap bait lirik lagunya yang seharusnya ia selesaikan, menyelaraskan suaranya dengan suara Sohee serta dentingan piano.

 

“how many time do I have to tell you

Even when you are crying you are beautiful too

The world is beating you down

I’m around through every mood

You are my downfall. You are my muse

My worst distraction, my rhythim and blues

I can’t stop singing it is ringing, in my head for you..”

 

Jongin menyerah, ia menangis. Menangis mengeluarkan airmatanya. Menangis dengan terisak. Meratapi takdirnya, hidupnya, semuanya…

My head under water, but I’m breathing fine

Ya, saat ini ia kesakitan, tapi di luar itu semua, ia merasa baik-baik saja. Selama dirinya bersamanya.

“Jongin..” lirih Sohee sebelum berbalik menghentikan permainan pianonya, memenjarakan Jongin ke dalam pelukannya, membiarkan namja itu menangis terisak di dadanya, mengusap pelan pundaknya yang bergetar akibat menangis. Sohee tidak ingin mengetahui apapun, jadi ia memilih diam. Lebih dari itu, ia hanya tidak ingin mendengar jawaban yang akan dikeluarkan Jongin jika ia bertanya. Sejujurnya, dirinya tidak siap..

 

Give me all of you

Cards on the table, we’re both showing hearts

Risking it all, Though it’s hard..**

 

 

 

***

 

 

 

“Sohee!” Sohee yang di panggil mengangkat kepalanya dari majalah yang tengah ia baca.

“ya, mom?” sahutnya dengan mengangkat kedua alisnya pada momnya yang muncul dari arah dapur dengan celemek di tubuhnya.

“apa kau tidak mendengar bell kita berbunyi sedari tadi?” gerutu momnya. Sohee menggeleng sebelum berbalik menatap pintu raksasa rumah mereka.

ting tong, ting tong”

see?” momnya membalasnya dengan mengangkat alisnya sembari menatapnya.

Dan dengan malas Sohee bangkit dari duduknya, menggumam sesuatu yang tidak jelas dengan menghentakkan kakinya berjalan menuju pintu rumahnya. Siapa sihh.. gerutunya dalam hati.

Dengan sekali hentakan Sohee menarik pintunya terbuka, ia membulatkan matanya saat mendapati seorang yeoja tengah berdiri di depan pintunya tangan kananya menggantung pada tombol bell di samping kanan pintunya.. kalau tidak salah..

“Luhan?” gumam Sohee dan menatapnaya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kekasih saudaranya itu tersenyum manis dengan semburat merah di wajahnya. Rok panjang berbahan syfon yang melambai jika tertiup angin berwarna kuning gading membungkus kakinya serta tanktop putih dilapisi rompi rajut membalut tubuh mungilnya, sebuah bandana manis tersemat di kepalanya dan rambut keemasaannya dibiarkan terurai terbang tertiup angin. Terkesan begitu manis dan sopan..

“Sehun ada?” suara lembutnya membuyarkan Sohee dari lamunannya.

“ah, dia ada.” Sohee tersenyum kikuk, tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“ah, kau sudah di sini” suara datar Sehun menginterupsi mereka. Membuat Sohee mennggeser tubuhnya ke samping ketika Sehun menarik lengan Luhan masuk. Sohee cemberut dan dengan menggerutu menutup kembali pintu rumahnya.

Di akhir pekan seperti ini, rumah mereka kedatangan tamu special, tamu yang begitu manis, dibandingkan dengan dirinya yang.. Sohee menunduk menatap baju yang dikenakannya,  celana tidur serta baju kaus kedodoran yang ia kenakan membuatnya terlihat lusuh dan lagi..oh, shit aku belum mandi! Maki Sohee di dalam hatinya dan dengan dengan cepat berlari naik menuju kamarnya.

 

 

 

***

 

 

mom, she is Luhan. Luhan, she is my mom!” Sehun memperkenalkan Luhan pada momnya yang sedang sibuk menyiapkan makan siang mereka di counter dapur. Dengan ujung matanya ia mengamati Luhan yang tertunduk malu.

“aigoo..” momnya mendekat padanya sembari mengusapkan tangannya yang basah pada ujung celemek yang dikenakannya. “kau cantik sekali..” seru momnya  dan menggenggam tangan Luhan yang masih tertunduk.

“gomawo” cicit Luhan pelan.

“mau makan siang di sini?” tawar momnya sembari mengangkat dagu Luhan agar mendongak menatapnya.

Mata Luhan mengerjap beberapa kali menatap wajah yang terlihat masih cantik di hadapannya itu, ia mengangguk “Sehun mengundangku, kemari..” jawabnya pelan dan kembali menunduk.

“tidak perlu sungkan seperti itu, seandainya Sehun tidak mengundangmu pun, kau boleh kemari” sahutnya “satu lagi, kau cantik Luhannie sayang, tidak perlu menunduk seperti itu, oke?” tambahnya lembut. Dengan cepat Luhan mengangkat wajahnya dan tersenyum manis kemudian kembali mengangguk.

“Luhannie? Sayang?” hei, mom! Hanya aku yang boleh memanggilnya seperti itu!” protes Sehun yang sedari tadi diacuhkan. Momnya mendelik padanya, sementara Luhan tersenyum lebar.

“kau bisa memasak?” Tanya momnya tiba-tiba, membuat Sehun tersentak dan menatap Luhan prihatin. Ia bahkan mengelus dadanya saat Luhan mengagguk. Kenyataannya Luhan memang bisa, hidup sendiri membuatnya mandiri melakukan segalanya sendirian.

“kalau begitu, kemari bantu mom..” seru momnya terdengar begitu riang, dengan lembut ia menarik tubuh Luhan menuju counter dapur tempatnya membuat makanan.

Sehun menghela nafasnya daam sebelum memutuskan berjalan menuju meja makan tempat biasa kelurga besarnya berkumpul untuk menikmati moment kebersamaan mereka serta makanan yang disiapkan oleh momnya. Matanya terus menatap Luhan dan momnya berbicara dan terkadang terkikik geli, mereka terlihat seperti dua orang penyihir cantik yang sedang meracik racun untuk mengubah pangeran menjadi kodok. Membayangkannya membuat bulu kuduk Sehun meremang.

“hyung, noona itu siapa?” Sehun terlonjak kaget mendapati kedua adik kembarnya sudah duduk di seberang meja menatapnya intens.

“hyung, siapa?” Tanya mereka lagi.

“Luhan”

“aku tidak menannyakan namanya hyung, aku Tanya dia siapa?” jelas Zico.

“pacar hyung yah?” seru Zelo menggoda.

“hmmmm” Sehun mengangguk mantap.

“ahh, aku ingat dia.. dia yang datang di pernikahan Suho hyung itu kan.. dan hyung, kau..” Zico menatapnya dengan menyipitkn matanya lalu berbalik membisikkan sesuatu pada Zelo dan membuat kembarannya itu terkiki geli.

“apa?” Tanya Sehun datar, padahal dalam hatinya ia penasaran setengah mati.

we know what did you do there, hyuuuung…” ujar Zico dan Zelo bersamaan sebelum beranjak dari duduknya dan lari berhamburan meninggalkan ruang makan saat Sehun mengejarnya dengan wajah merah menahan malu serta rasa kesal yang melandanya.

Meja makan berukuran besar itu telah dipenuhi makanan yang masih mengepulkan asap, Sehun, Zico dan Zelo duduk di tempat masing-masing menatapi momnya dan Luhan yang masih sibuk menyiapkan segala sesuatu yang di butuhkan, Zico dan Zelo duduk dengan wajah cemberut dan Sehun yang berganti menatapi mereka dengan wajah tersenyum puas, setelah berhasil membungkam mulut kedua adiknya tadi ia kembali menuju ruang makan dan membantu Luhan mengangkat mangkuk besar berisi sup ayam buatan Luhan dengan momnya. Tidak lama sampai Sohee muncul dengan menuntun Yixing yang akhir-akhir ini terlihat selalu kelelahan. Sohee menarik kursi di samping Luhan dan duduk tenang di sana. Ia berbicara dengan Luhan berbagai hal dan sesekali mereka terkikik geli, membuat Sehun yang duduk di sisi lain Luhan mendelik sebal pada mereka.

“Zico, Zelo! Tidak ada yang boleh makan jika hyung kalian belum di sini” pekik momnya ketika kedua anak kembarnya hendak menyumpitkan telur gulung di hadapan mereka dan mendapat protes kecil dari keduanya. Sehun dan Sohee melirik keduanya dan meleletkan lidah mereka bersamaan pada kedua adik mereka. Luhan terkiki geli di tempatnya.

“joonmyun, sebentar lagi, tiba.. sabar ne” suara halus Yixing terdengar terengah membuat Zico dan Zelo mengangguk. Mereka akan sangat patuh jika Yixing yang berkata, karena mereka tau bagaimana penderitaan yang sedang di hadapi noonanya itu, hamil muda membuatnya tersiksa dan mereka tau itu.

“kurasa aku…” Yixing membekap mulutnya dan berdiri sembari mendorong kursinya, Sohee dengan sigap ikut berdiri menuntun  unnninya menuju wastafel dan mengusap punggungnya saat unninya itu menegluarkan segala isi perutnya di sana.

“kalian lihat kan bagaimana perjuangan Yixing noona saat mengandung?” ujar momnya lembut pada Zico dan Zelo. “tidak berbeda seperti Yixing noona, mom juga seperti itu” tambahnya dan membuat keduanya mengangguk.

listen to your mom, and be nice” lanjut Sehun dan tersenyum puas pada kedua adiknya yang terdiam dengan tangan yang terlipat di atas meja.

Tangan momnya terulur mengusap kepala mereka bergantian. Luhan tertawa pelan di tempatnya dan berhenti, saat tangan Sehun menggenggam jemarinya di bawah meja, meremas lembut jemarinya.

 

 

 

***

 

 

 

Lohaaaa…. Kembali lagi.. LANGSUNG AJA jadi, mau bad news dulu atau good news nihh?

Good news dulu dehh..

Oke, good newsnya adalah wp saya udah jadi.. woohhoooooo.. dan lagi saya akan tetap ngepost di sini dan d wp pribadi juga.. thks to natashanate atas sarannya.

And the bad news issss… saya ngestuck d our story hehehehehe dan mungkin karena akan cukup sibuk merapihkan wp saya, saya akan cukup lama buat ngepost di sini.

Ohh yahhh buat pembaca setiaaa, utamanya junmyunnie, oh nara, defiyeoxi siapaaa gitu yah kalo gasalah? Balas komenku doonnk, karena kalian ga balas makanya ku mention di sini ajjaa. Kwkwkwkwwkwkwkw. Dan pembaca yang lain yang ga di sebut namanya.. thks a lot.

Oh yahh, bocoraan yahh, ff in sad ending, jangan harap akhir yang bahagia karena niatan saya memang buat mematikan Jongin!!!!!! Hahahahaha (ketawa hardcore) eh, gasik yahh? Dan buat masalahnya Baekhyun, walopun udah 2 minggu lewat, sakitnya tuh masih berasa di sini. *nunjuk ati* huweeeeeee.. TTATT

Last but not the least, aduh sebenarnya males banget ngomong kek gini? Mau temenan di twitter? Follow aku yahh @d_onutlips, mention ajja buat flbk. Oh yah saya juga hanya ngeflbk sesama kpopers… walaupun saya lebih condong k fb, tapi saja selalu buka twitter kok buat ngecek mentionan…

Apa lagi yah? Ga ada deh, Last word Thks masih mau baca cerita gaje ini…

 

 

XOXO

 

 

 

*selamanya cinta by D’cinnamons

**All Of Me by John Legend

 

Iklan

9 pemikiran pada “The Raspberry (Chapter 7 : All Of Me)

  1. Omaygaaaaaaaaaat ga nyangka bakal dimention, hahahaha
    Maaaf thoooor, aku ga ngeaktif buat langsung muncul di email. Ini deeeh mulai diaktifin, hehehe
    Aduuuuuuh bahagia banget itu wp akhirnya adaaaa, selamat ya thooor,akhirnya yaaaaa, hahahahaha

    Btw, sad ending? Yaaaah sediiiiiiih ToT jongin kenapa? Kanker otak? Dia bakal mati? Ya ampuuuuuuuun kasian soheee
    Btw, aku suka banget sama jongin sohee moment waktu main piano, so sweet banget thor, sumpaaah!! Mau dong sehun sohee moment yg sodaraan, soalnya sehun luhannya lebih kentara. Hehehe, banyak maunya nih, sorry ToT

    Btw, aku udah ngesearch di twitternih, tapikok enggak ada ya? Jadi belum aku follow, hehe
    Eh thor, btwwp nya apaan? Haha
    Senengjuga ff ini dilanjutin, hihihi. Legaaaaaaaaaaa
    Next chapter ya thor, ditunggu, fighting!!

    • Busehh, panjang amaat yee?? Wkwkwkkwk
      Iye udah jadi, tapi masih berantakan, ngalahin tetanic belah malahan. Kalo ga sad yah mungkin akhirnya gajelas. Rahasia, pokoknya sakit(?)nya rahasia.

      Lagunya yang bikin romantis, ciusann,kalo gamake lagu itu, gaartinya..

    • Iyyee, itu typo, yang bener in nihh @d_onutslips. Mau pin.bb juga?? Wokwowokwokwok
      Wpnya masih rahasia, ntar deh kalo udah rapih..
      Sama requestan kamu, bakalan kewujud, gaminta juga bakalan kukasih kokk.. Themua kan thayang thehun…

      • Thayang thehun thelalu, ahhahahahahaha
        Btw, aku udah ngefollow lhooooo, hahaha
        Iya thor panajng, soalnya lagi seneng banget baca ff ini lagi. Habisnya dikirain ga bakal di post lagi gitu. Kirain berhenti, hehehe
        Oya, aku juga baca our love story. Semangat ya thoooor, hehe
        Aduh jadi banyak banget typonya

  2. wah itu ada nama aku/? :v ahhh tapi typo =.= tapi nggak papa lah orang wajar dan sudah biasa XD hehehe 😀 asik nggak jadi deh berhenti ngepost fanfic ini disini 😀 entar kapan kapan aku ngunjungin juga wp pribadinya deh 😀 ishhh.. ini fanfic bikin gemes/? Ceritanya itu loh keren 😀 sohee nyatain perasaannya kok malah menurut aku manis banget gitu? Manis dari mananya pun aku tak tahu XD kapan yixing lahiran? Kapan zelo sama zico punya pacar? kapan sehun-luhan nyusul nikah/? *loh* kapan chanyeol-baekhyun ikutan nyusul/? XD kapan jongin mati/? XD *readers jahat XD wahaha* udah ah aku gak bakalan banyak tanya tanya XD pokoknya fanficnya jjang banget! Oh iya sama mian gak bales komennya karena aku gak tahu >< *readers jahat lagi
    ditunggu next chapternya ^^ fighting and keep writing! Jjang~~!! Yo~ yo~

  3. Jongin & Sohee intens bgt dh ahh -.-
    kepengin juga TT^TT hahaha ..

    ciatt ciatt ciatt (‘-‘/)/ ketauan ngapain tuh sehun sama luhan??ketauannya sama si Twins Zico & Zelo lg :’V whahaha … Lucu !

    author.. sebenernya aku agak kecewa! karena terlalu pendek ㅠ.ㅠ saranku sh lebih di perpanjang & klo bisa 1 chapter penuh adegan JONGIN & SOHEE SEMUA AUTHORNIEMM :v yaudah sekian dlu comentanku yg sepanjang alan kenanga ini hahah :’v

    keep write & fighting authorniem ^.^)99 hwaiting hwaiting !!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s