My Adorable Ghostgirl (Chapter 6)

 My Adorable Ghostgirl

My Adorable Ghostgirl (Chapter 6)

Title: My Adorable Ghostgirl

Main Cast:  Oh Se Hun (EXO-K), Yoon Cheon Sa (OC)

Supported Cast: Luhan (EXO-M), Park Chan Yeol (EXO-K), and other casts will appear soon

Author: Ahra storyline

Rating: PG-16

Genre: Romance, Fantasy

Length:  Multi Chapter

Disclaimer: All the cast belongs to the God, their agency and family. Author just borrow them except for the OC. The OC is mine. This idea is pure mine and it comes from my mind and please Don’t bash it. Typos everywhere, good readers and comments are welcoming 😉

OST (Just For Fun J):  J. Rabbit – Talkin’ bout love & Ailee – Evening Sky

‘Terkadang manusia bingung untuk mendeskripsikan perasaannya sendiri’

Chapter 6

Author POV.

Suara rintik hujan pagi itu terdengar layaknya musik yang indah di telinga Sehun dan akhirnya hal itu membuat Sehun terbangun dari tidurnya. Kedua matanya mencoba untuk terbuka dan saat itu pula ia mendapati sesosok wajah yang tersenyum padanya dan menyambut paginya.

Apakah ia malaikat? Apakah ia malaikat yang turun untuk menjagaku? Batin Sehun. Terlalu berlebihan memang, tapi itulah yang kini tengah dilihat Sehun.

Dan jawabannya adalah tidak. karena ia adalah Cheon sa.

“Bagaimana keadaanmu?” Cheon sa duduk di tepi tempat tidur Sehun dan ia melemparkan senyum manisnya yang entah mengapa berhasil membuat reaksi pada jantung Sehun sedikit aneh. Sehun sendiri sudah merasa terbiasa akan kehadiran Cheon sa yang tiba-tiba sehingga ia tak merasa terkejut lagi.

Sehun merutuki dirinya sendiri yang terlalu cepat merasakan serangan jantung dipagi hari karena melihat senyuman itu.

“aku baik-baik saja. Kupikir aku sudah sembuh”   Sehun bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya sambil menyandarkan punggungnya pada headboard.

“kalau kau masih merasa sakit, sebaiknya kau tidak usah sekolah dulu hari ini” saran Cheon sa.

“gwenchanha. Aku tidak apa-apa. Aku sudah sehat”  ujar Sehun berusaha meyakinkan.

“kau yakin?” ujar Cheon sa dengan raut wajah penuh kekhawatiran yang menghiasi wajahnya. Sehun mengangguk yakin.

“aku yakin aku baik-baik saja, Cheon sa-ya” Ujar Sehun. “Aku ingin mandi dulu” ujarnya yang langsung disambut dengan anggukan dari Cheon sa.

Sehun berjalan masuk ke dalam kamar mandi sementara Cheon sa akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar Sehun dan menunggu di ruang tengah.

At School. 01.00 PM KST

Author POV.

Bel kedua berbunyi dan menandakan bahwa jam istirahat sudah dimulai. Sehun yang sedari tadi merasa enggan untuk pergi ke kantin bersama hyung-hyung nya yang lain akhirnya memutuskan untuk pergi ke loker nya untuk mengambil barang-barangnya.

Sehun membuka lokernya dan mengambil headphone berwarna biru beserta MP3 nya. Ia pikir ia bisa menggantikan selera makannya dengan musik yang mungkin saja bisa membunuh rasa bosannya.

“untuk apa kau kerumahku?” Suara berat seseorang tiba-tiba terdengar dan membuat Sehun menolehkan kepalanya ke sampingnya. Dan saat Sehun melihat siapa pemilik suara itu, Sehun segera menghela nafasnya.

“hanya sekedar menjenguk adik kesayangan Se Young noona. Memangnya kenapa? Tidak boleh?” ujar  Sehun yang masih menyibukkan dirinya dengan mengobrak-abrik isi lokernya. Entah apa yang dicari Sehun di dalam sana.

“kelihatannya tidak seperti itu. apa kau sedang mencari seseorang di rumahku?” tanya Chan yeol dengan nada yang terdengar mengintimidasi.

“menurutmu? Bagaimana?”  Sehun menghentikkan aktivitasnya sejenak dan beralih memperhatikan Chan yeol sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“kau sedang mencari seseorang yang pergi meinggalkanmu bukan?” ujar Chan yeol dan diiringi dengan jentikkan jari Sehun.

“tebakanmu hampir tepat” Sehun mengangguk-anggukkan kepalanya dan kembali beralih mengobrak-abrik isi lokernya dan akhirnya ia mendapatkan sesuatu yang ia cari sedari tadi. Memory Card.

“ah..jadi benar. Kau mencari Cheon sa saat itu?” Tebak Chan yeol dan hal itu lantas membuat Sehun menghentikan aktivitasnya lagi. Sehun akhirnya menutup lokernya dan memasukkan kuncinya ke dalam saku jasnya, dan ia beralih memperhatikan  Chan yeol.

“a..rupanya kau tahu, kau bisa melihatnya juga ?” ujar Sehun datar.

“wae? Kau terkejut?”

“tidak” jawab Sehun.

“jinjja?”

“eoh, “ jawabnya singkat.

“tapi, jika aku bisa memilikinya, apa kau tetap akan bereaksi seperti ini? apa kau akan terkejut?” tanya Chan yeol dengan nada seolah-olah tengah menginterogasi seseorang.

Sehun mengernyitkan dahinya, ia bingung “apa maksudmu?”

“aku tahu kau menyukainya,” ujar Chan yeol  “tapi kau kalah jauh dariku. Aku berada jauh didepanmu. Aku dan Cheon sa sudah bersama hingga separuh dari usiaku dan itu berarti tidak ada seorangpun yang bisa menyingkirkanku.” Tegasnya. Sementara Sehun, ia hanya menggeleng kecil sembari tersenyum kecil. Senyum yang terkesan meremehkan.

“kau terlalu percaya diri,“ tukas Sehun,  “bagaimana jika aku bisa memilikinya? Bagaimana jika aku bisa merebutnya darimu?” tantang Sehun.

“jangan terlalu berharap, Sehun-ah, kau tidak akan pernah bisa melakukan hal itu”

“kau tidak bisa menjaminnya, Chan yeol-ah”   Sehun berjalan mendekat ke arah Chan yeol  dan menepuk pelan pundak namja itu,  ”aku ingin menunjukkan padamu bagaimana rasanya jika sesuatu yang seharusnya menjadi milikmu harus direbut oleh orang lain” Ujar Sehun sembari berlalu dari hadapan Chan yeol dan dengan sengaja ia menabrakkan bahunya dengan bahu Chan yeol.

“kau sudah mulai berani rupanya, Oh Se Hun” Gumam Chan yeol.

 

Cheondamdong Hospital. 03.45 PM KST.

Author POV.

Tanpa berpikir untuk pulang terlebih dahulu, Sehun memutuskan untuk segera pergi ke rumah sakit tempat Cheon sa dirawat. Ia hanya pergi sendiri ke Rumah sakit tanpa memberitahu Cheon sa ataupun Hyungnya, Luhan.

Ditangannya kini Sehun sudah menggenggam erat sebuket bunga Agaphantus. Dan tanpa banyak bicara lagi, ia langsung memasuki kamar inap Cheon sa.

Seperti yang bisa ditebaknya, kamar itu gelap. Hanya ada sedikit penerangan disana meskipun Sehun masih bisa melihat dengan jelas wajah gadis cantik itu. Gadis cantik yang tengah terlelap dan membiarkan jiwanya pergi dari tubuhnya untuk sementara.

Sehun duduk di salah satu kursi dan menariknya hingga mendekati tepi ranjang Cheon sa. Sehun tersenyum. Ia tersenyum karena akhirnya ia bisa melihat kembali wajah gadis yang selama ini selalu menghantui pikirannya dan selalu membuat jantungnya bereaksi aneh.

“Hai Cheon sa-ya” sapa Sehun meskipun ia tahu gadis dihadapannya tak akan pernah bisa menyapa sapaannya.

“Ini kedua kalinya aku datang menjengukmu bukan? Dan aku membawakanmu bunga ini” Sehun menatap sebuket bunga ditangannya dan mulai meletakkannya pada vas bunga yang terletak di meja sampingnya.

“ini adalah bunga Agaphantus” ujar Sehun sambil membenarkan letak bunga-bunga itu di dalam vas nya.  “kau tahu? ini adalah Bunga Cinta” Ujar Sehun sembari menoleh pada Cheon sa dan tersenyum padanya.

“Bunga ini bisa bertahan saat musim panas dan bahkan musim dingin” jelas Sehun, “ dan kuharap, kau bisa menjadi seperti bunga ini, Kuat dan cantik ” lanjutnya.

“ dan juga,” ucapan Sehun menggantung, “Sebenarnya bunga ini adalah salah satu ungkapan perasaanku”  Sehun tidak tahu apa yang kini tengah terjadi dengan syaraf di tubuhnya. Tapi yang pasti, kini kedua tangannya sudah bergerak meraih tangan Cheon sa dan menggenggamnya erat.

“Mungkin ini terlalu cepat, aku sendiri tidak tahu dan tidak bisa mendeskripsikan perasaanku sendiri dengan baik, “ Ujar Sehun tanpa berusaha sedetikpun mengalihkan tatapan matanya pada wajah Cheon sa.

“Mungkin ini terlalu cepat, tapi.. aku menyukaimu, Cheon sa-ya”

Seperti ada ratusan kembang api yang bergejolak di dalam hati seorang Oh Se Hun dan seperti ada puluhan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Seperti itulah perasaan yang Sehun rasakan saat ia menyatakan perasaannya pada Cheon sa. Pada sesosok gadis yang masih setia memejamkan matanya dengan erat. Sehun tahu hal ini sia-sia baginya jika ia menyatakan perasaannya pada yeoja yang bahkan tak bisa mendengar perasaannya secara langsung.

Sehun menyadari bahwa ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. ia masih bingung dengan perasaan suka yang menyelimutinya terhadap gadis bernama Cheon sa ini. tapi yang pasti, Sehun takut kehilangannya. Sehun takut Cheon sa dimiliki oleh orang lain. Sehun takut. Ia terlalu takut akan hal itu. Sehun hanya seorang manusia. Ia hanyalah seorang namja yang diliputi rasa ketakutan akan perasaannya sendiri. Ia takut jika ia salah mengartikan perasaan sukanya pada gadis ini. Sehun takut jika ia salah mendeskripsikan perasaannya sendiri. ia terlalu takut.

“Cheon sa-ya, cepatlah bangun dari tidur panjangmu” gumam Sehun dihadapan Cheon sa, diiringi dengan senyuman manis yang mengembang di wajah namja tinggi itu, “dan bantu aku mendeskripsikan perasaanku sendiri padamu” ujarnya.

Sehun mengarahkan tangan kanannya menuju wajah Cheon sa. Ia mulai menggerakan jemarinya menelusuri wajah gadis itu. wajah seorang Cheon sa yang terlihat tirus dan pucat.  Sehun yakin jika jiwa Cheon sa masuk ke dalam raganya, Cheon sa pasti akan merasa sangat kesakitan.

Suara knop pintu itu tiba-tiba saja membuat Sehun tersentak dan dengan gerakan refleks ia segera menolehkan kepalanya ke belakang . Dan lagi-lagi Sehun dibuat kesal karena yang datang kali ini adalah Chan Yeol.

Sehun mendengus kesal dan ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Cheon sa yang terinfus. Tatapan tajam Sehun masih setia menjurus pada sosok namja tinggi dihadapannya. Park Chan Yeol.

“Sedang apa kau disini?” Chan yeol berjalan mendekat ke arah Sehhun dan bertanya dengan nada yang terdengar sangat sinis.

“aa.. rupanya yang datang adalah teman masa kecil Cheon sa” ujar Sehun dan mengabaikan pertanyaan Chan yeol.

“apa maksudmu? Sudahlah, sebaiknya kau pergi saja dari sini. Biar aku yang menjaga Cheon sa”  Tukas Chan yeol.

“mwo? Memangnya kau siapa sehingga seenaknya memerintahku seperti itu? memangnya kau ada hubungan apa dengan Yoon Cheon Sa, eoh?” Sehun mulai menggertakkan giginya. Ia merapatkan rahangnya. Ia sudah terlampau kesal dengan sikap namja ini.

“seharusnya aku yang bertanya itu padamu, kau bukan siapa-siapa bagi Cheon sa. Kau tidak punya tanggung jawab apapun terhadapnya jadi kuberitahu kau satu hal, menyingkirlah sebelum aku yang menyingkirkanmu”  Sehun tergelak mendengar ancaman Chan yeol yang baginya tidak ada apa-apanya.

“kau tertawa? Kau meremehkanku, eoh?”

“kau bertanya siapa aku bagi Cheon sa? Eoh? Kau ingin tahu jawabannya?” tanya Sehun. Kali ini wajahnya mulai berubah serius dan ia terlihat begitu berusaha memendam emosinya.

“aku tidak perlu jawabanmu karena aku sudah tahu apa jawabannya. Kau bukan siapa-siapa bagi Cheon sa.” Jawab Chan Yeol.

“kau ingin thu jawabannya? Karena aku adalah tunangan Yoon Cheon Sa”  ujar Sehun.

–==–

At Home. 05.12 PM KST.

Cheon Sa’s POV.

Aku berlalu lalang di dalam apartemen Sehun. Disini benar-benar membosankan. Tidak ada komik, novel, DVD film, ataupun apapun yang bisa menghiburku selain televisi. Kehidupan namja ini sangat sederhana meskipun apartemennya terlampau mewah. Ruangan kosong pun banyak kutemui dirumah ini.

Kuhempaskan tubuhku ke sofa empuk di ruang tengah itu. mataku kesana-kemari menyapu bersih seluruh penjuru ruangan dan tiba-tiba saja pandanganku terhenti pada sebuah objek berwarna putih. Lebih tepatnya sesuatu yang ditutupi dengan kain putih besar di sudut ruangan. Anehnya, kenapa selama ini aku tidak pernah melihat benda sebesar itu?

Aku bangkit dan berjalan mendekati benda itu. dan aku bukanlah Yoon Cheon Sa jika tidak berhenti penasaran terhadap sesuatu yang baru. Aku menyingkap kain putih itu dan seketika itupula kedua mataku membulat sempurna saat aku mengetahui dibalik kain putih itu ternyata ada sebuah grand piano berwarna hitam mengkilat.

“uwah, kenapa selama ini aku tidak pernah melihatnya? Apakah dia baru saja membelinya?” Tak henti-hentinya aku berdecak kagum melihat piano mewah itu. memang, aku mempunyai satu piano dirumahku tapi tidak sebagus ini. dan itu wajar saja jika aku terus menerus terkagum-kagum dengan piano dihadapanku ini.

Jari jemariku mulai menekan tiap tuts piano dan memainkan salah satu instrument kesukaanku. Reminiscent dari Yiruma. Dan tanpa aku sadari, aku sudah hanyut dalam permainan pianoku sendiri.

Rasanya sudah begitu lama sejak aku tidak menyentuh tuts-tuts piano ini. rasanya sudah seperti berpuluh-puluh tahun. Biasanya aku selalu memainkannya bersama Chan yeol dirumahku. Tepatnya saat kami liburan sekolah dan tidak tahu apa lagi yang harus kami mainkan.

Nama Chan yeol yang kembali bermain di dalam otakku akhirnya membuatku teringat padanya dan membuatku merasa bersalah atas kejadian dulu. Saat aku tanpa pamit menghilang dari sisinya. Mungkin saat itu aku sudah membuatnya khawatir setengah mati. Entahlah apa yang sekarang ia pikirkan terhadapku. Mungkin aku akan dicapnya sebagai yeoja yang selalu ingkar janji. Dan mungkin saja ia sudah membenciku.

Permainan piano ku terhenti saat pintu apartemen Sehun terbuka dan nampaklah di ambang pintu itu seorang namja bertubuh tinggi yang tidak lain adalah Oh Se Hun. Ia baru saja pulang dari sekolah rupanya.

“kau sudah pulang?” tegurku. Ia mengangguk kecil dan mulai melemparkan tas nya secara asal ke atas sofa. Bersamaan dengan tubuhnya sendiri.

“Sehun-ah, apa ini piano baru? Aku baru saja melihatnya” ujar ku pada Sehun yang masih sibuk merelaksasikan tubuhnya di atas sofa.

“Hyung ku yang memberikan nya padaku. Ia perlu tempat yang luas untuk ruang kerjanya dan akhirnya piano ini diletakkan di apartemenku” jelas Sehun. “kau menyukainya?” tanya nya.

Aku mengangguk, “ aku suka.” Jawabku, “ apa kau bisa bermain piano?” tanyaku pada Sehun yang baru saja melepaskan jas seragamnya.

“ehm…” gumamnya malas.

“ah.. aku tak yakin kalau kau bisa memainkan ini, sudahlah, biar aku saja yang memainkannya, dulu aku sering memainkan piano bersama Chan yeol, aku..” ucapanku terhenti saat tiba-tiba saja Sehun bangkit dari duduknya dan menghampiriku dan langsung berdiri di sampingku.

“siapa bilang aku tidak bisa bermain piano? Kau tahu? aku dijuluki Pianist Monster saat aku SMP. Kau harus tahu itu” tukas Sehun. Sehun mulai melipat lengan kemejanya, seolah-olah mulai siap untuk bermain piano.

“kau ingin aku memainkan lagu apa?” tanya Sehun dengan tampang angkuh. Namja ini benar-benar.

“Canon In D? Kau bisa?” tantangku. Sehun tersenyum miring, meremehkan.

“tentu saja. Kau mau memainkannya dengan ku?” tawar Sehun. Dan aku segera mengangguk mengiyakan. Boleh juga, aku penasaran bagaiimana namja ini memainkannya.

“baiklah, jika kau memaksa” ujar ku dengan senyuman yang mengembang lebar di wajahku.

Sehun menarik sebuah kursi panjang dan mulai duduk diatasnya. Aku pun duduk di sampingnya dan mulai mencoba menyesuaikan jemariku dengan tuts-tuts piano dihadapanku. Dan perlahan, alunan musik itu mengalun merdu.

Aku melirik pergerakkan jemarinya yang menurutku sangat lincah. Dia tidak bercanda rupanya.  Dan dibandingkan dengan kemampuanku dalam memainkan piano, aku mengakui kalau aku masih jauh berada dibawahnya.

Dan permainan piano pun berakhir. Aku tersenyum puas. Begitupula dengan Sehun. Ia menleh padaku dan mengembangkan senyumnya. Dan satu hal yang begitu aneh terjadi padaku.

Aku menyadari bahwa ini pertama kalinya aku melihat Oh Se Hun tersenyum semanis ini.

“bagaimana? Masih meragukanku?” tanyanya. Aku menggeleng.

“tidak. kau.. hebat sehunnie” ujarku.

–==–

Sehun’s POV.

Aku merasa lucu saat melihat ekspresinya ketika ia memanggilku dengan nama ‘Sehunnie’. Ia jauh terihat seperti seorang anak kecil yang terkesan karena melihat kepandaian oppa nya sendiri. dan kata Sehunnie, terkesan lebih akrab dan lucu di telingaku.

“kau semakin mirip dengan Se Young noona, Cheon sa-ya” gumamku. Aku teringat suatu hal. Dulu, dulu sekali, sebelum Chan yeol menjadi bagian dari keluargaku, Se Young nona selalu memanggilku dengan sebutan Sehunnie. Aku menyukainya. Sangat menyukainya, karena kupikir itu adalah panggilan istimewa dari noonaku kepadaku. Dan sialnya, semenjak Chan yeol datang dan masuk ke dalam keluargaku, aku merasa tak ada di dalam mata Se Young noona.

Dengan susah payah aku berusaha menghilangkan memori itu dari ingatanku. Betapa tidak, setiap memori indah yang tergambar jelas di dalam ingatanku, selalu saja akan berakhir dengan kekesalan dan rasa sedih yang memenuhi memoriku. Tentang keluargaku dan Chan yeol.

Tapi bagaimanapun juga, Se Young noona tetaplah kakak perempuanku. Ia adalah keluargaku dan itu tidak akan pernah berubah.

Dan besok, aku berencana untuk mengunjungi makam Se Young noona. Dan kupikir, tidak ada salahnya jika aku mengajak Cheon sa juga.

–==–

Cheondamdeong Hospital. 02.12 AM KST

Author’s POV.

Seorang Dokter dengan name tag bernama ‘Dr. Luhan’ memasuki kamar inap Cheon sa. Luhan bersama seorang suster lainnya mulai memeriksa keadaan Cheon sa. Tidak ada yang berubah dari keadaan Cheon sa. Ia masih menutup erat kedua matanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan segera sadar dan terbangun dari tidur panjangnya.

Luhan menghela nafas panjang. Ia kembali teringat dengan Sehun, adiknya yang tidak lain adalah calon tunangan gadis dihadapannya ini. Luhan sendiri sudah tahu bahwa Cheo sa adalah gadis yang akan bertunangan dengan Sehun dari kedua orangtua Cheon sa.

Keadaan Cheon sa baik-baik saja. Tidak ada perubahan yang signifikan dari Cheon sa. Ia masih belum sadarkan diri dan Luhan sendiri tidak yakin jika Cheon sa akan bangun dalam waktu dekat.

Tiba-tiba saja kedua mata Luhan tertuju pada sebuah vas bunga yang telah diisi oleh sebuket bunga Agaphantus berwarna Blue Bird. Warna kesukaan Sehun. Luhan lalu tersenyum penuh arti setelah melihat bunga itu. ia mengerti akan maknanya dan siapa yang memberikan bunga itu.

‘Rupanya adikku benar-benar sudah jatuh hati padamu, Cheon sa-ya’ gumam Luhan di dalam hatinya.

Luhan tahu artinya. Sehun pernah bercerita padanya bahwa jika suatu hari nanti ia sudah menemukan gadis yang tepat untuk ia dan kehidupannya, maka Sehun akan memberikan gadis itu sebuket bunga Agaphantus berwarna Blue Bird. Dan saat itu Sehun berkata bahwa Agaphantus adalah bunga Cinta. Oleh karena itu, Sehun hanya akan memberikannya sekali seumur hidupnya dan hanya untuk satu yeoja yang akan menemaninya seumur hidupnya.

Dan rupanya gadis itu adalah Yoon Cheon Sa.

‘Kau sudah besar rupanya, Sehun-ah’ Gumam Luhan.

–==–

At Home. 03.10 PM KST.

Author POV.

“Kau mau ikut dengan ku?” Sehun melepaskan jas seragamnya dan mengganti nya dengan jaket hitamnya. Ia hanya mengganti jas nya saja dan membiarkan kemeja sekolahnya masih menempel di tubuhnya.

“kemana?” tanya Cheon sa yang sedari tadi berusaha menyibukkan dirinya dengan menonton acara televisi.

“sudahlah, nanti kau akan tahu” ujar Sehun. Sehun segera mengambil kunci mobilnya dan keluar dari apartemennya bersama Cheon sa menuju basement. Tak perlu waktu lama, Sehun kini sudah berada di depan mobilnya.

“tidak usah repot-repot, aku bisa masuk sendiri” ujar Cheon sa saat ia menyadari Sehun yang akan membukakan pintu untuk Cheon sa. Cheon sa lalu masuk dengan menembus pintu mobil itu dengan sangat mudah. Sehun mengangguk ragu dan akhirnya ia melepaskan pegangannya pada gagang pintu mobil itu, “baiklah” Ujar Sehun.

Sehun masuk ke dalam mobilnya dan mulai menyalakan mesin. Tanpa banyak bicara, Sehun segera melajukan mobilnya menuju sebuah tempat yang tidak diketahui oleh Cheon sa.

“memangnya kau mau membawaku kemana, Sehun-ah?” tanya Cheon sa. Ia mempoutkan mulutnya karena sedari tadi ia tidak mendapatkan jawaban apapun.

“sudahlah, kau lihat saja nanti. Lagipula, sebentar lagi kita akan segera sampai” ujar Sehun yang masih sibuk memfokuskan dirinya pada aktifitas menyetirnya.

Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 30 menit, Sehun dan Cheon sa sudah sampai di sebuah pemakaman yang tak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Luhan Hyung bekerja. Cheon sa mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru arah dan ia menyadari bahwa kini ia berada di sebuah taman pemakaman.

“Sehun-ah, untuk apa kita kesini?” Cheon sa menghampiri Sehun yang nampak sibuk di jok belakang mobil. Dan tak lama setelah itu, Sehun keluar bersama dengan sebuket bunga Alyssum ditangannya.

“kita kesini untuk menjenguk seseorang” ujar Sehun sambil berlalu mendahului Cheon sa. Cheon sa yang sama sekali tidak tahu apa-apa hanya bisa berjalan mengikuti Sehun dibelakangnya.

Mereka sampai di sebuah makam bertuliskan R.I.P Oh Se Young. Cheon sa menyadari sesuatu. Marga Oh. Apakah ini adalah makam keluarganya? Batin Cheon sa.

Sehun berjongkok di samping makam itu sambil meletakkan sebuket bunga Alyssum di samping plakat yang bertuliskan nama Se Young noona.

“hai noona,” sapa Sehun, “maaf aku terlambat kesini” lanjutnya.  Cheon sa terdiam sambil memandangi Sehun yang tengah tersenyum simpul di sampingnya.

“noona, aku membawakan bunga kesukaan noona. Bunga Alyssum.  Aku sekarang mengerti kenapa noona sangat menyukai bunga ini” terang Sehun, “Bunga ini begitu mirip dengan noona. Cantik dan menenangkan” Sehun menoleh pada Cheon sa yang turut berada di sampingnya.

“tapi sekarang, aku sudah menemukan seseorang yang begitu mirip dengan Se Young noona” ujar Sehun tanpa berusaha melepaskan tatapannya pada Cheon sa.

“ tapi tetap saja, noona tidak akan pernah tergantikan” kata Sehun. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada makam dihadapannya.

Cheon sa tersenyum simpul. Satu hal lain lagi yang ia ketahui tentang Sehun. Satu sisi yang berbeda dari sosok seorang namja bernama Oh Se Hun ini. ia begitu menyayangi noonanya.

“jadi ini makam noona mu?” Cheon sa angkat bicara. Sehun mengangguk.

“ehm. Dia adalah noona ku” jawab Sehun.

“Oh Se Young. Dari nama nya saja bisa kupastikan bahwa ia adalah gadis yang sangat cantik. Benarkan?” tebak Cheon sa. Tebakan Cheon sa lalu diiringi oleh senyuman Sehun.

“eoh. Dia sangat cantik. Aku bahkan tidak bisa membedakanmu dengan Se Young noona” Sehun berhasil membuat Cheon sa tertunduk malu karena mendengar ucapan Sehun.

‘Berhenti membuat perasaanku kacau seperti ini, Oh Se Hun!’ teriak Cheon sa di dalam hatinya.

–==–

Several days passes.

Author POV.

Hari-hari berlalu dengan cukup tenang. Baik itu Sehun dan Cheon sa, keduanya sudah mulai bisa beradaptasi satu sama lain. Dan bahkan, sekarang keduanya memiliki waktu lebih untuk bersama.

Sudah satu minggu berlalu dan Sehun belum menjenguk Cheon sa dirumah sakit. Dan akhirnya Sehun memutuskan untuk kembali menjenguk yeoja itu untuk yang ketiga kalinya.

Sehun memasuki kamar Cheon sa dan ia sedikit kaget saat dilihatnya kamar Cheon sa terlihat lebih terang dari biasanya. Dan ternyata disana sudah ada Luhan Hyung beserta beberapa suster lainnya.

“oh, hyung!” Sehun langsung memeluk Luhan hyung singkat. Luhan menepuk pundak adiknya itu.

“ kurasa sudah sangat lama aku tidak melihatmu. Ya, bagaimana sekolahmu?” tanya Luhan Hyung. Memang benar, sudah lebih dari satu bulan lamanya Sehun tidak bertemu dengan Luhan Hyung lagi. Tentu saja dengan kesibukan Luhan Hyung sebagai dokter muda membuatnya dituntut untuk terus bekerja dan bekerja sehingga membuat intensitas nya bertemu dengan keluarganya semakin berkurang.

“ baik-baik saja. Ah ne, bagaimana keadaannya? Kapan ia akan sadar, hyung?”  tanya Sehun sambil sesekali menatap ke arah Cheon sa.

“entahlah. Tidak ada perubahan yang berarti dari Cheon sa.  Aktifitas jantungnya masih stabil dan semuanya berjalan baik-baik saja. Mungkin ia belum akan sadar dalam waktu dekat” ujar Luhan Hyung .

“oh begitu” Sehun mengangguk lemah. Luhan hyung menepuk pundaknya, dan tersenyum pada adik laki-lakinya itu.

“Hyung keluar dulu. Jaga Agaphantusmu dengan baik, ne?”  Luhan mempercayakan adiknya. Dan Sehun langsung mengerti maksud dari kata ‘Agaphantus’ itu sendiri. Sehun mengangguk mantap. “tentu saja hyung. Dia satu-satunya Agaphantus yang kutemui dihidupku” ujar Sehun.

Luhan Hyung bersama dengan beberapa orang suster lainnya lalu keluar meninggalkan Sehun dan Cheon sa berdua di dalam ruangan itu. Sehun menarik kursinya mendekat pada Cheon sa. Ia lalu meraih tangan Cheon sa dan menggenggamnya erat.

“Cepatlah bangun, malaikat cantik” ujar Sehun dengan suara yang teramat lembut, “aku menunggumu” ujarnya.

Sehun semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Cheon sa hingga akhirnya Sehun terlelap di samping Cheon sa.

–==–

Author POV

Cheon sa hampir saja melupakan sesuatu yang penting di dalam hidupnya yaitu dirinya sendiri. Sudah beberapa minggu Cheon sa tidak menjenguk tubuhnya sendiri di Rumah sakit. Ia tidak tahu apa yang kini terjadi pada dirinya di tempat lain. Apa yang kini tengah dirasakan oleh tubuhnya. Bagaimana wajah Cheon sa setelah ditinggal oleh jiwanya yang pergi untuk sementara. Cheon sa sama sekali tidak mengetahui semua hal itu.

Cheon sa akhirnya memutuskan untuk pergi menjenguk tubuhnya di rumah sakit. Cheon sa duduk dan berusaha memposisikan dirinya sebaik mungkin dan ia berusaha memejamkan kedua matanya dan mencoba menghilang dengan sekejap dan muncul di dalam kamar inapnya sendiri.

Sedetik kemudian, Cheon sa sudah berada di dalam kamar inap nya. Kedua mata Cheon sa akhirnya membulat sempurna saat dilihatnya ada seorang namja yang tertidur di tepi tempat tidurnya dengan posisi sambil menggenggam erat tangannya dan Cheon sa mengenali siapa namja itu hanya dari perawakkannya saja.

“Oh Se Hun?” gumam Cheon sa. Cheon sa mendekati ranjangnya. Cheon sa mendekati tubuhnya yang lemah. Ia memperhatikan dengan seksama bagaimana rupanya saat ini setelah ditinggalkan olehnya. Wajahnya terlihat lebih tirus dan pucat. Helaan nafasnya terdengar lemah dan berat. Cheon sa merasa miris melihat keadaannya sendiri yang terlihat begitu menyedihkan.

Cheon sa mengalihkan pandangannya pada Sehun. Namja yang kini tengah terlelap di tepi tempat tidur Cheon sa sambil menggenggam erat tangan Cheon sa. Seolah-olah jika ia melepaskan tangan itu, Cheon sa akan segera meghilang dari hadapannya.

Cheon sa mendekat pada Sehun. Ia mengangkat sebelah tangannya dengan ragu dan akhirnya ia mengarahkan tangannya pada kepala Sehun dan mengelus lembut rambut namja itu.

“Terima kasih karena sudah bersedia berada di sampingku, Oh Se Hun” gumam Cheon sa dengan senyuman manis di wajahnya.

–==–

Cheondamdong Hospital, 02.05 AM KST.

Author POV.

Seperti biasa, Dr. Luhan akan selalu memeriksa setiap pasien yang sudah menjadi tugasnya  tiap malamnya. Dr. Luhan akan memeriksa apakah ada perkembangan dari tiap pasiennya atau tidak. dan salah satu pasien yang menjadi tugas Dr. Luhan adalah Yoon Cheon Sa.

Dan sebuah perubahan kecil namun berarti mulai ditunjukkan oleh Cheon sa. Dan hal itu memuat Dr. Luhan dan juga suster-suster yang lain terkejut.

“Dr. Luhan, Ada perubahan pada aktifitas jantung pasien bernama Yoon Cheon Sa!” ujar seorang suster dengan antusias. Suster itu menjelaskan pula bahwa ia sempat melihat jemari Cheon sa bergerak dan hal itu lantas membuat Dr. Luhan merasa senang. Setidaknya, itu berarti Cheon sa akan segera sadar dari koma nya.

Dr. Luhan mulai memeriksa catatan kesehatan Cheon sa, keadaan tubuh Cheon sa sendiri dan berbagai alat kesehatan medis yang digunakan dalam masa pengobatan Cheon sa. Dan dari sana, Dr. Luhan mengambil sebuah kesimpulan yang turut membuatnya senang.

“Saya pikir dia akan segera sadar dalam beberapa minggu” ujar Dr. Luhan.

–==–

To Be Continued___

 

A/N:

Annyeong readers-deul.  Author kambek lagi. Btw, kayaknya readers udah pada bosen denger author minta maaf mulu, kan? Haha, biarlah, pasti author adalah author yang paling lelet ngepost next chapter ff nya. Itu karena author buntu ide dan karena ada hambatan2 lainnya. *ngeles lagi ceritanya.

Ehm, tapi serius yah, Author minta maaf banget selalu telat ngepost ff ini. maaf banget. Tapi author seneng banget liat komen yang selalu nyemangatin author, ngasih author saran dan kritik. :”) Sebenernya ya, jujur author pernah sempet mikir mau berhenti lanjutin ini ff gegara author buntu ide._.v Tapi author liat lagi komen kalian dan kembali punya semangat buat nerusin ff ini. thanks a lot buat komennyaa :D. Dan author mau ngasih tau kalau ff ini diperkirakan bakal end di chapter 10. Masih prediksi yaah.

a/n nya kepanjangan? Mian. Author sekalian curhat ini. haha 😀 thanks buat yang udah RCL!!

Iklan

52 pemikiran pada “My Adorable Ghostgirl (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s