My Pervert Boy (Chapter 1)

My Pervert Boy

my pervert boy

 

Title : My Pervert Boy.

 

Theme : I Hate You, Kim Jongin.

 

Author : Pikaboo

 

Genre : Romance, School-life.

 

Rating : PG-15

 

Length : Chaptered.

 

Main Cast :

 

l   Kim Jongin

 

l   Shin Seona

 

You can find another cast. And exo member as cameo.

 

Sorry for the typo(s) and don’t forget to RCL. Happy Reading guys!

 

Thanks for amazing poster, Spring Sabila by http://cafeposterart.wordpress.com/

-My Pervert Boy part1-

 

Pagi itu,

 

YA! Shin Seo-na, Ppalli Ireona! Kau ingin terlambat, huh?”

 

Suara nyaring nan melengking itu disambut dengan gedoran pintu yang cukup keras. Telah berhasil membangun kan gadis yang tertidur pulas dikamarnya.

 

Ne Eomma.”

 

Gadis itu—Shin Seo-na. Masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang belum sampai seratus persen. Dia segera mengambil handphone nya yang tergeletak disamping bantalnya. Dia mengerjepkan matanya sebentar untuk melihat jam yang berada di handphonenya itu.

 

“Ugh, masih jam enam lewat tiga puluh menit–”

 

Dia kembali memejamkan matanya.

 

.

 

Lima detik kemudian..

 

.

 

Omona! Aku akan terlambat. Tidak tidak. Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan. Ah! Tentu saja mandi, Shin Seo-na pabo pabo pabo.”

 

Seo-na terus menyalahkan dirinya sendiri karena tadi malam dia rela menghabiskan waktu tidurnya demi mengerjakan tugas dari Han songsaenim.

 

Aish ini bukan salahku. Ini sebenarnya salah guru botak itu.”

 

Dia segera berlari kearah pintu kamar mandi yang terletak di sebelah kamarnya. Bahkan, belum sampai sepuluh menit. Dia telah selesai membersihkan tubuhnya.

 

 

 

Eomma! Aku pergi dulu.”

 

Belum sempat eommanya membalas teriakan dari anak semata wayangnya itu. Seo-na langsung menutup pintu lumayan keras. Eommanya hanya menggelengkan kepalanya karena sudah hafal sifat Seo-na yang–lumayan– tidak sopan.

 

Seo-na segera berlari kearah halte bus yang letaknya diujung komplek perumahannya. Dia melirik sekilas jam yang berada di pergelangan tangannya yang kurus.

 

Aish dua puluh menit lagi aku akan terlambat. Agh-”

 

Dia segera menambah kecepatan berlarinya. Hingga saat dia sudah hampir mencapai halte bus itu, dia melihat bus itu sudah mulai menutup pintunya secara perlahan.

 

YA! Tunggu aku! Ahjussi!”

 

Sepertinya, dewa fortuna tidak sedang berpihak kepadanya. Bus itu tetap saja melaju, seperti tidak menganggap Seo-na ada. Padahal, Seo-na sedari tadi merelakan suaranya–yang merdu– habis.

 

Semula pakaian Seo-na yang rapi, rambut yang ditata dengan rapi. Seakan kata-kata ‘rapi’ itu diganti dengan kata-kata ‘berantakan’. Seo-na masih saja menggerutu dan mengucapkan sumpah serapah pada ahjussi itu.

 

Terpaksa, dia harus menunggu bis lain yang akan datang kembali. Dia berjalan kembali menuju halte bis itu, dengan tampang wajah yang merengut kesal. Belum lama dia menunggu, sudah ada mobil sport merah yang terparkir dihadapannya.

 

Kaca mobil itu perlahan terbuka menampangkan wajah seorang.. namja?

Namja itu memakai kaca mata hitam. Terlihat dari kulit wajahnya, dia memiliki kulit tan. Seona tersentak, dia mengenal namja yang berada dihadapannya ini.

 

“Bukankah? Itu Jong-in? Sedang apa dia disini?” Seona bergumam pelan.

 

Pria itu—Kim Jong-in. Melepas kaca mata hitamnya dengan gaya yang menurut Seo-na. Sok Keren. Seo-na yang melihat itu hanya memberi tatapan menggelikan. Jong-in menoleh kearah Seo-na, dengan wajah datar.

 

“Kau akan berangkat kesekolah?” Tanya Jong-in.

 

Seo-na mengangkat sebelah alis matanya. ‘Tumben sekali dia menanyakan hal itu kepadaku’ pikir Seo-na.

 

“Tentu saja. Lalu? Ada apa.”

 

Jong-in menyeringai mendengar jawaban ketus dari Seo-na. Dia kembali memakai kaca mata hitamnya.

 

“Kau ingin aku mengantarmu?”

 

Seo-na terkejut, tentu saja. Siapa yang tidak terkejut jika seorang cassanova di tempat dia bersekolah mengantarnya? Jika saja ada satu orang yang melihat dia diantar oleh Jong-in. Berita itu akan tersebar keseluruh penjuru sekolah dalam satu jam.

 

Dan, tentu saja dia tidak ingin fangirl Jong-in menerornya hanya karena Jong-in mengantarnya.

 

“Eum, sebaiknya tidak usah–”

 

Jong-in yang tidak ingin mendengar kalimat penolakan pun langsung turun dari mobil sportnya. Dia segera menggengam lengan kurus Seo-na cukup kuat.

 

Y-ya! Sakit bodoh. Lepaskan sekarang juga.”

 

Seo-na berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Jong-in. Dan, bukannya terlepas. Tapi itu menambah sakit di lengannya. Dia tidak menyerah, Seo-na langsung memukul brutal lengan Jon-gin. Jon-ginpun tidak bereaksi sama sekali tetap menarik lengan kurus itu dan menyuruhnya duduk didalam mobilnya.

 

Jon-gin segera berlari kearah sofa pengemudi dan menutup pintu mobilnya itu. Dan tidak lupa dia menguncinya agar Seo-na tidak lari. Dia mulai menstarter mobilnya. Dan menjalankannya dengan kecepatan sedang.

 

YA! Kau ingin menculikku eoh?”

 

Suara melengking itu seakan langsung menusuk gendang telinga Jongin.

 

“Kau lebih baik diam saja dan duduk manis disitu. Jika aku tidak ada, maka kau akan terlambat pabo

 

MWO? Coba kau ulang lagi. Kau memanggilku apa huh?”

 

Aish jangan berteriak. PA-BO”

 

Tingkat kesabaran Seo-na pun habis. Dia langsung menjambak rambut hitam Jong-in. Tidak peduli Jong-in itu siapa di sekolahnya. Jong-in pun hanya berteriak kesakitan.

 

YA! Kau ingin kita tertabrak huh?”

 

“AKU TIDAK PEDULI”

 

Seo-na berteriak begitu keras didekat telinga Jong-in. Jong-in yang mendengar itu seperti merasakan dengung ditelinganya.

 

Arra arra! Mianhe. Aku tidak akan memanggilmu seperti itu lagi– dan Lepaskan tanganmu itu dari rambutku! Dan juga, jangan sekali lagi kau berteriak didekat telingaku. Aku bisa tuli karena itu.”

 

Seo-na mendengus kesal. Dan dihadapannya sudah terpampang gerbang sekolah yang besar. Ah Seo-na baru ingat jika dia turun didepan sekolah. Dia bisa menjadi pusat perhatian disana dan, jangan lupakan fangirl gila itu.

 

“Jong-inssi. Bisakah kau menurunkanku didepan gerbang saja?”

 

Jon-gin mengerutkan alisnya.

 

Wae? Bukankah lebih baik jika sampai kedalam?”

 

Seo-na menundukkan kepalanya dan menautkan jari-jarinya.

 

“Aku tidak ingin jadi santapan para fangirl mu.” Ucap Seo-na pelan.

 

Nde? Ah. Kau tidak perlu takut. Aku akan melindungimu.”

 

What?! Jongin. Melindungi. Seo-na? Astaga, itu bukan usul yang baik. Itu akan berdampak sangat buruk bagi kehidupan Seo-na. Seo-na tidak yakin jika dia menuruti permintaan Jong-in. Dia masih bisa hidup dihari-hari berikutnya.

 

Mereka sudah berada didepan gerbang besar itu. Dan, security yang menjaga pun segera membuka gerbang itu untuk Jong-in. Mengingat Jong-in adalah cucu dari pemilik sekolah Seo-na—Daeguk High School.

 

Seo-na pun semakin gugup karena dihadapan mereka sudah berjejer para fangirl Jong-in. ‘Astaga, aku akan mati sekarang juga’ pikir Seo-na. Jong-in pun memakirkan mobilnya ditempat parkir khusus untuknya dan beberapa siswa yang dianggap ‘orang penting’ dari pihak sekolah.

 

Kajja.”

 

Seo-na menatap Jong-in penuh harap. Dia meminta solusi agar bebas dari fangirl gila itu. Jong-in pun menoleh kearah Seo-na. Dan seperti mengerti maksud dari tatapan itu. Dia langsung menghembus kan nafasnya pelan.

 

“Oke. Jika kau ingin bebas dari mereka. Kau hanya boleh mengatakan ‘ya’ dan, jangan sekalipun kau menolak apa yang kulakukan. Ikuti saja rencanaku. Mengerti?”

 

Perasaan Seona tidak enak. ‘apa kah dia ingin melakukan hal yang membuat fangirlnya marah? Dan aku akan masuk dalam daftar siswa bullying?’ Pikir Seo-na. Seo-na tampak berpikir. Dan tidak lama kemudian, dia menghela nafasnya.

 

“Baiklah, tapi! Kau jangan berbuat macam-macam yang membuat mereka marah.”

 

“Ya.” Mungkin tidak Pikir Jong-in. Oh tidak Seona! Kau dalam masalah sekarang.

 

Jong-in menyeringai seperti-iblis- sekarang. Dia segera keluar dan membukakan pintu untuk Seo-na. Seo-na pun keluar dengan tampang wajah dibuat datar. Jong-in langsung mengenggam tangan Seo-na erat.

 

Seo-na terkejut, dia berusaha melepaskan genggaman Jong-in yang begitu erat ditangannya. Jong-in pun hanya menatapnya seperti kau-ingat-apa-yang-barusan-kukatakan. Seo-na hanya bisa pasrah. Dalam hati, dia berdoa agar Jong-in tidak melakukan hal macam-macam.

 

.

 

Kya! Jong-in oppa!”

 

.

 

“Oppa! Saranghae!”

 

.

 

“Oppa! Kau keren sekali!”

 

.

 

Setidaknya seperti itulah para fangirl gila itu meneriak Jong-in yang menurut Seo-na seperti tidak ada kerjaan. Jong-in berjalan dengan tampang wajah yang–sangat– dibuatnya agar terlihat keren. Seo-na yang melihat itu seperti merasa ingin muntah sekarang.

 

Para fangirl itupun tidak lama terdiam. Mereka menatap Seo-na sinis, kesal, bingung, dsb. Se-ona hanya menundukkan kepalanya.

 

“Ya! Lakukan sesuatu agar mereka tidak salah paham pabo.” Bisik Seo-na.

 

Jong-in menoleh kearah Seona, tentu saja dia tidak terima Seona memanggilnya seperti itu.

 

“Kau barusan memanggilku apa? Kau harus diberi hukuman Shin Seo-na”

 

Seo-na langsung mengangkat kepalanya melihat kearah Jong-in dengan tatapan bingung. Jong-in hanya menyeringai. Seo-na berharap, itu bukan sesuatu hal yang buruk. Para fangirl itu pun mulai berteriak kembali.

 

.

 

Oppa! Siapa perempuan itu?”

 

.

 

“Apakah dia pacar barumu lagi, Oppa?”

 

.

 

Ya! Kau pasti menggoda oppaku!”

 

.

 

Seo-na merasa sangat malu sekarang, dia bahkan berharap agar Jong-in tidak menghukumnya dengan tindakan yang sangat tidak Seo-na harapkan. Jong-in menghentikan langkahnya, begitu juga Seo-na. Dia berdehem sebentar.

 

“Kalian ingin tahu siapa gadis disebelahku ini?”

 

Jong-in sedikit berteriak agar suaranya bisa didengar mereka yang jumlahnya cukup banyak.

 

Fangirl itupun mengangguk. Seo-na merasakan hal yang aneh sekarang.

 

“Dia.. dia adalah kekasih baruku. Jadi, kuharap kalian tidak menganggunya.”

 

Semua orang disitu terkejut. Bahkan diantara mereka ada yang menangis, kecewa, dan marah. Bahkan rahang Seo-na sudah turun kebawah. Dia sangat terkejut. ‘Oh tidak, aku akan mati’ Pikir Seo-na.

 

Jong-in mulai melanjutkan langkahnya, Seo-na juga mengikutinya. Masih dengan tangan yang digenggam erat oleh Jong-in. Seo-na masih merasakan tatapan membunuh itu. Ketika mereka cukup jauh, Seo-na langsung menghempaskan tangannya.

 

YA! Apa maksudmu berbicara seperti itu huh?! Kau ingin aku dibunuh oleh mereka?!”

 

Jong-in melipat tangannya didada. Dan menyeringai—hal yang paling tidak disukai Seo-na— Seo-na pun melakukan hal yang sama dia melipat tangannya didada dan mengangkat dagunya seakan menantang Jong-in.

 

“Itu adalah hukumanmu. Siapa suruh kau memanggilku seperti itu.”

 

Seo-na menggeram kesal, dia ingin sekali menjambak rambut laki-laki ini sampai dia botak. Sungguh, Seo-na sebelumnya tidak dekat dengan namja dihadapannya ini. Mereka bertemu ketika Seo-na baru pindah ke sekolah ini.

 

Karena Seo-na adalah anak pindahan dari Inggris. Dan, jangan lupakan. Dia adalah primadona sekolah. Wajar saja jika fangirl itu kesal dengannya, karena hampir seluruh namja disekolah ini—bahkan sampai keluar sekolah— mengagumi Seo-na.

 

Dan, teman perempuan Seo-na hanya bisa dihitung dengan jari mengingat banyak yeoja yang membencinya. Wajahnya yang cantik–karena darah campuran inggris-korea-jepang– telah berhasil membuat para namja bertekuk lutut padanya.

 

.

 

.

 

.

 

Masih dalam perdebatan mereka, akhirnya Seo-na tersadar akan sesuatu hal yang membuatnya lupa. Dia melirik jam yang berada di pergelangan tangannya. Jam itu menunjukkan jam tujuh pagi.

 

“Oh tidak!” Seo-na histeris.

 

Jong-in mengangkat sebelah alis matanya. Sebelum Jong-in bertanya ada apa. Seo-na langsung meninggalkannya sendiri.

 

“Ya!”

 

Seo-na tidak peduli jika Jong-in marah kepadanya, toh Jong-in bukan siapa-siapanya juga. Dia segera berlari kearah kelasnya berada. Dan menengok kearah jendela, benar saja. Guru killer itu sudah masuk dan mengajarkan anak muridnya tentang blablabla.

 

Seo-na menelan salivanya karena ini baru kali pertama dia terlambat masuk. Dia membuka pintu, dan segera membungkukkan badannya kearah Mr. Han.

 

Annyeong-haseyo Han songsaenim. Maafkan aku, karena aku terlambat masuk. Ada sedikit hambatan tadi dijalan”

 

Seo-na berusaha mengeluarkan senyuman manisnya kepada Mr. Han. Sepertinya itu tidak berlaku karena Mr. Han..

 

“Keluar dari kelas sampai pelajaranku selesai.”

 

Mr. Han kembali melanjutkan pelajarannya tanpa peduli keadaan Seo-na. Seo-na hanya melongo tidak percaya, dan dia menuruti kata Mr.Han. Dan, dia menyalahkan manusia yang bernama Kim Jong-in.

 

Dan dari kejauhan dia melihat Kim Jong-in sedang berjalan seperti biasa–sok keren– Seo-na sudah tau, pasti Jong-in akan meledeknya dan dia akan masuk lalu duduk dengan manis dikursinya–karena Mr. Han tau jika Jongin cucu pemilik sekolah— dan tidur selama jam pelajaran.

 

Jong-in yang melihat Seo-na berdiri didepan kelas hanya menyeringai. Dia segera melangkahkan kakinya cepat dan berdiri disamping Seo-na. Seo-na terkejut karena Jong-in tidak masuk kedalam kelas, malahan dia ikut berdiri disamping Seo-na seakan dia juga dihukum.

 

“Apa yang kau lakukan disini huh?! Kau senang bukan, karena aku dihukum karena mu!”

 

“Bukankah aku juga terlambat?”

 

Seo-na hanya mendengus kesal. Dan dia akan melingkarkan tanggal hari ini dikalender kamarnya sebagai hari paling sial dalam hidupnya.

 

 

 

Bel istirahat pun berbunyi, pelajaran Mr. Han telah selesai dua puluh menit yang lalu. Jadi, Seo-na dan Jong-in bisa masuk kedalam kelas, dan mendapatkan tatapan bingung, kagum, sinis, dan entahlah. Masih banyak lagi.

 

Seo-na menghempaskan tubuhnya dikursi disebelah sahabatnya–Cho Min-hee. Min-hee menatap Seo-na bingung. Dia ingin menanyakan beberapa hal kepada Seo-na.

 

“Seo-naya mengapa kau terlambat? Aku baru kali ini melihat kau terlambat. Dan, kau.. datang bersama Jong-in oppa?”

 

Bisa dibilang Min-hee termasuk list fangirl Jong-in. Tetapi, dia tidak sebrutal fan Jong-in yang lainnya. Seo-na menoleh kearah Min-hee yang minta dijawab pertanyaannya. Seo-na menghela nafas.

 

“Tapi.. kau jangan memberitahu siapa-siapa ne?”

 

“Tentu saja. Jadi.. apa jawabanmu?”

 

Seo-na tampak berpikir. “Aku terlambat karena tidur terlalu malam, dan hasilnya aku jadi kesiangan.”

 

“Lalu? Mengapa kau datang bersama Jong-in oppa?”

 

“A-aku.. aku diantar oleh Jong-in kesekolah.” Ucap Seo-na pelan tapi, Min-hee masih bisa mendengarnya.

 

MWO?! KAU SERIUS, BAGAI— hmppp..”

 

Min-hee berteriak begitu keras hingga beberapa siswa yang masih berada didalam kelas pun menoleh kearahnya. Seo-na langsung membekap mulut itu.

 

“Bisakah kau sedikit memelankan suaramu?”

 

Dia perlahan melepaskan tangannya dari mulut Min-hee.

 

“TAPI SHIN SE–”

 

Dia kembali membekap mulut itu. Dan sungguh, dia ingin menyumbat mulut itu dengan sepatunya.

 

“Ya! Sekali lagi kau berteriak aku akan menyumbat mulut cerewetmu dengan sepatuku.”

 

“Baiklah, aku akan mencoba untuk tidak berteriak lagi. Jadi, ceritakan kepadaku mengapa kau bisa diantar oleh Jon-gin oppa

 

Eum aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya dihalte bus dekat rumahku. Dan karena aku ketinggalan bus jadi aku menunggu. Lalu tiba-tiba dia datang dan, memberi tumpangan kepadaku. Cerita selesai, kau puas?”

 

“DIA– ah mian. Dia memberi tumpangan kepadamu? Astaga, ini kejadian yang sangat langkan Shin Seo-na. Kau tahu, sepertinya dia ingin dekat denganmu”

 

Min-hee menaik-turunkan alisnya tandanya dia sedang menggodaku.

 

Ah mungkin ini tidak bisa dirahasiakan. Sudah pasti seluruh kampus akan mengetahuinya Seo-na.” Seo-na terdiam sebentar. ‘Ah benar juga’

 

“Kau benar, dan orang-orang yang membenciku pasti akan meningkat.” Ucap Seo-na menundukkan kepalanya.

 

“Tenanglah, aku ada disini. Oke mungkin lebih baik kita harus ke kantin sekarang karena cacing dalam perutku memberontak ingin minta makan, kajja!”

 

 

Seo-na dan Min-hee meletakkan nampan makanan dimeja kosong barisan kedua paling depan itu. Mereka makan makanan mereka seperti biasa, Seo-na memakan sandwich dan orange juice sedangkan Min-hee memakan bulgogi dan milk.

 

Ketika, mereka sedang menikmati makanan mereka tak lama. Tiga perempuan menghampiri mereka dengan wajah marah. Salah satu dari mereka—Choi Yu-na. Yang terlihat seperti dia adalah bos dari antara mereka bertiga.

 

Yu-na menggebrak meja itu keras, sehingga keadaan kantin yang semula ribut menjadi hening seketika. Seo-na langsung mengangkat kepalanya melihat siapa yang menganggu acara makan siangnya dengan Min-hee.

 

YA! Kau wanita jalang, beraninya kau menggoda oppaku!” Pekik Yu-na.

 

Tentu saja Seo-na tau arah pembicaraan ini. Siapa lagi jika bukan, Kim Jong-in. Seo-na langsung berdiri berhadapan dengan Yu-na.

 

“Apa kau bilang? Oppamu.” Seo-na tertawa sinis “Lebih baik kau mengambil kaca, dan berkaca lah. Kau seperti wanita tidak tau malu menganggap namja yang tidak ada hubungannya denganmu, menjadi pacarmu. Lucu sekali.”

 

Yu-na menggeram kesal. “Dan kau. Apakah kau tidak berkaca juga? Walaupun kau menyandang status in relationship dengan oppa. Aku yakin, kau pasti hanya akan menjadi mainannya saja.” Yu-na tersenyum meremehkan.

 

“Lihat saja penampilanmu seperti pelacur yang tidak punya harga diri.”

 

Seo-na mengepalkan tangannya kuat. Emosinya mulai memuncak, lalu dia menghembuskan nafas agar emosinya bekurang.

 

“Oke. Pertama, aku tidak pernah menggoda Kim Jong-in pabo itu. Kedua, aku sama sekali tidak pernah mau berpacaran dengannya. Dan, ketiga apa kau tidak menyadari kalau kau yang berpenampilan seperti itu? Lihat saja, rok mu bahkan terlalu pendek untuk ukuran disekolah ini. Apa kau kekurangan bahan pakaian?”

 

Seo-na menekan kalimat yang menurutnya tidak akan pernah terjadi itu. Yu-na terlihat sangat marah sekarang. “NEO!–”

 

“Ada apa ini?” belum sempat Yu-na melanjutkan kalimatnya, seseorang memotongnya. Mereka seperti gerombolan boyband. Mereka ber-enam, dan salah satu dari mereka ada namja yang paling Seo-na benci–Kim Jong-in–.

 

Salah satu dari mereka yang terlihat paling bijaksana–Kim Joon-myeon– memotong permbicaran ani perdebatan Seo-na dan Yu-na. Joon-myeon adalah ketua osis disekolah mereka.

 

Keadaan kantin yang semula hening karena perdebatan mereka pun menjadi ricuh. Sebagian para yeoja berteriak histeris melihat mereka, apa lagi jika bukan kawan-kawan Jongin.

 

“DIAM.” Teriak Joon-myeon. Sehingga keadaan kantin hening kembali.

 

“Jadi, jelaskan kepadaku. Ada apa ini?”

 

Seo-na menoleh kearah Jong-in. Dia melihat Jong-in menatapnya dengan tatapan kesal. ‘mengapa dia menatapku seperti itu.’ Seo-na mulai takut jika Jong-in mulai berulah dan sasarannya adalah dirinya.

 

“Tunggu dulu, hyeong” Jong-in maju dan menggantikan posisi Joon-myeon.

 

“Aku pikir mereka membicarakan aku karena aku yang paling keren, jadi biar aku saja yang mengurusnya, hyeong” Ucap Jong-in percaya diri sekali.

 

Seo-na sungguh ingin tertawa keras sekarang, dia baru pertama kali mengenal orang yang begitu percaya dirinya. Sedangkan, Joon-myeon memutarkan bola matanya tanda menyerah karena Jong-in akan sangat keras kepala jika keinginannya tidak dituruti.

 

“Pertama, aku ingin bertanya padamu..” Jong-in menoleh kearah Yu-na. Yu-na tampak cukup terkejut karena Jong-in tidak mengenalnya, astaga dia pasti sangat malu sekarang. “Choi Yu-na” Ucap Yu-na singkat.

 

Ah ne. Jadi, Choi Yu-na. Aku yakin, pasti kau yang pertama menciptakan perdebatan ini bukan?”

 

“A-ah seperti it-itulah.” Yu-na tampak tergagap. Jong-inpun hanya menganggukan kepalanya.

 

“Kedua, aku ingin berbicara dan sekaligus bertanya kepadamu Shin Seo-na” Jong-in memberikan tatapan seduktive sekarang kepada Seo-na. Seo-na bergidik ngeri, dia memohon dalam hati agar Jong-in tidak berulah kembali.

 

“Kau itukan yeojachinguku. Jadi, lebih baik kau mengakuiku sebagai namjachingmu. Tidak usah malu, arrachi?” Jong-in mengelus pipi Seo-na.

 

Seo-na yang tampak kesal, dia langung menghampas kan tangan Jong-in dari pipinya kasar. “Apa kau bil–” belum sempat Seo-na melanjutkan kalimatnya, Jong-in kembali memotongnya.

 

Ah aku juga dengar ada seseorang memanggilku dengan panggilan ‘Kim Jongin pabo‘ dan aku yakin, satu orang yang memanggilku seperti itu hanya kamu kan, chagi

 

“Dan, karena kamu memanggilku seperti itu. Kau harus dihukum Shin Seo-na”

 

Seo-na terbeku ditempatnya, ‘ah tidak. Aku harus bisa kabur sekarang’ . Seo-na baru mengambil ancang-ancang untuk kabur. Tetapi, Jong-in langsung menarik pergelangannya dan memegang tengkuknya lalu.. dan waktu itu juga, dan ditempat itu juga. First Kiss Seo-na sudah direbut oleh Jong-in.

 

.

 

1 detik, semua orang dikantin menahan nafas mereka.

 

.

 

2 detik, Jong-in mulai menggerakan bibirnya. Sedangkan Seo-na masih terbeku ditempatnya.

 

.

 

3 detik, Seo-na mulai tersadar dan dia mulai memberontak didalam pelukan Jong-in.

 

.

 

4 detik, Jong-in masih belum melepaskan kisseunya. Seona pun menjambak rambut itu keras sehingga Jong-in merintih kesakitan. Dan melepaskan ciumannya.

 

.

 

Keadaan dikantin begitu ricuh, sebagian dari mereka ada yang menangis, ada yang kecewa, ada yang senang, dan ada yang putus asa. Sedangkan keadaan mereka berdua Jong-in masih memegang rambutnya yang perih karena dijambak dengan keras oleh Seo-na.

 

Sedangkan, Seo-na dia…

 

“KIM JONGIN I HATE YOU!!!”

 

 

-END-

 

.

 

.

 

.

 

-Eh Ralat. TBC:3-

 

Camera, Lightning/?, Action.

 

Hallo readers ku tersayang my hany bady switi muah muah. Ini fanfic abal-abal yang pernah author buat.muehehe’-‘)/ oiya, ada kabar menggemparkan! Author Kaylakim ganti nama jadi pikaboo-lupakan-

 

Oiya, nanti dibeberapa part mungkin author bakal masukin–sedikit– nc:3 yaa, karena ini bulan puasa dan author juga agamanya islam/ga.nanya/ jadi author masukin sedikit aja. Dan. Couple Na-Jong/apaansi/ alias Seona-Jongin. Dipart berikutnya bakal ada sedikit lawaqnya/comedynya, kasih bocoran’3’)/ yaudah deh, curcolnya. Bye bye my beloved readers/slap.

 

Oke, happy reading yah guys. Jan lupa RCL yoo. Nanti author usahain buat ngebales komen kalian kuq/alay modeon.

 

CUT!

 

 

Iklan

153 pemikiran pada “My Pervert Boy (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s