Stuck (Chapter 6)

Stuck

Stuck Poster 2

Title       : Stuck (Chapter 6)

Author  : Hye Kim (@hyekim0412)

Genre   : Romance, Comedy

Length  : Multichapter

Rate       : PG-15

Main cast:

  • Kim Hyemin
  • Oh Sehun (EXO)

Other cast:

  • EXO member
  • Cho Kyuhyun (SJ)
  • Other cast.

Disclaimer: Other cast and the plot of story are mine. Pure from my mind. NO plagiarism.

Summary: You are mine. And I’m yours, from the first time we meet each other. Note it. Don’t you dare to leave me.

****

[PREVIEW]

“A-aku pulang! Jal—“

Sehun menahan tangan Hyemin dan mengecup bibir Hyemin sekilas, membuat pipi gadis itu memerah. Sehun terkekeh. “Semakin lama aku menyadari kalau wajah memerahmu itu manis.” Hyemin mengerucutkan bibirnya, turun dari mobil Sehun, dan dengan cepat berjalan menuju apartemennya.

Sehun menatap punggung Hyemin yang menjauh, tersenyum kecil. Ia akhirnya menyadari perasaannya. Ia menyukai Hyemin, atau mencintai gadis itu?

Kim Hyemin.

Gadis yang akhir-akhir ini membuat Sehun selalu tersenyum. Membuat Sehun hilang beban yang memenuhi tubuhnya. Membuat Sehun menjadi lebih semangat. Membuat Sehun ingin memeluk gadis itu, melindunginya.

Dan saat ini, Sehun malah merindukan gadis yang baru semenit ia cium tadi.

“Kim Hyemin, kau benar. Aku sepertinya memang gila. Ini juga karenamu, Nona Kim.”

****

Eomma!!”

Hyemin berlari menuju ibunya yang baru saja mendarat beberapa menit yang lalu itu. Ia langsung memeluk ibu kesayangannya, merindukan wanita paruh baya itu. Sang Ibu, Nyonya Kim menyambut pelukan anaknya itu, memeluknya sayang. Wajar saja, mereka sudah tidak bertemu sejak setahun yang lalu.

Eomma, aku merindukan eomma,” rengek Hyemin manja, mencium ibunya sayang. “Aigoo, putri ibu manja sekali!” Hyemin tersenyum manis, mengalihkan pandangannya pada ayahnya yang menatapnya sebal.

Appa.” Hyemin memeluk ayahnya kini, menangis. Walaupun ia kadang tak suka sikap ayahnya, ia tetap menyayangi ayahnya itu. Ayah yang menyayanginya juga dengan cara yang berbeda. Tuan Kim memeluk anak gadisnya. “Ayah kira kau hanya merindukan ibumu saja.”

Hyemin menggeleng. “Tentu saja tidak! Oppa juga merindukan appa. Ya, ‘kan, Oppa?” Semua tatapan beralih menuju Woobin, anak sulung dari keluarga Kim. Woobin tengah tersenyum melihat adiknya yang tampak merindukan orang tuanya, sama sepertinya.

Woobin tak mendapat kasih sayang orang tuanya sejak ia kabur dari rumah sebelum ia seterkenal ini. Ia tak pernah mendapat dukungan dari orang yang ia sayangi, terlebih ibu dan adiknya. Ia tak pernah bisa menghubungi mereka. Tentu saja karena ayahnya melakukan segala cara agar Woobin tak bisa menelepon adiknya.

Woobin hanya harus menanggung akibat dari perbuatannya saat itu. Oleh karena itu, Woobin selalu bekerja keras agar ayahnya menerimanya lagi. Menganggapnya menjadi anaknya lagi. Dan juga bertemu adik kecil kesayangannya itu.

“Hyungjoong­-a, putraku,” lirih Nyonya Kim, menghampiri putra sulungnya. Nyonya memeluk erat putra sulungnya sambil menangis. Mungkin mereka sudah kembali berkomunikasi lewat telepon, namun kali ini adalah pertemuan pertama mereka sejak itu.

Eomma, kenapa menangis?” Woobin tersenyum sembari menyeka air mata ibunya. Nyonya Kim memukul pelan anaknya itu. “Dasar anak nakal!”

Woobin hanya tersenyum menanggapi ucapan ibunya. Pandangannya beralih pada Tuan Kim. “Appa, maafkan aku.” Woobin hendak menghampiri ayahnya, namun ayahnya menahannya. “Tidak, tidak. Kalau kau ingin memelukku, lebih baik di tempat tertutup.”

Tuan Kim tersenyum lebar menatap anak sulungnya. Beliau merangkul Woobin dan mengajak istri dan anak bungsunya untuk segera pergi ke rumah mereka.

****

“Kau di mana sekarang?”

Sehun mengeringkan rambutnya dengan satu tangan menempelkan ponsel miliknya pada daun telinga. Sesekali ia tersenyum melihat dirinya di dalam cermin. Aku memang terlahir tampan.

Menurutmu aku ada di mana? Kenapa? Kau ingin aku menemanimu?

Sehun tersenyum lagi. Gadis yang tengah diteleponnya benar-benar sudah membuat Sehun seperti orang idiot setiap saatnya. Sehun menerka-nerka, apa benar ia menyukai seorang gadis bernama Kim Hyemin itu?

Sepertinya.

Eum, biar aku tebak. Kau sedang di atas kasurmu, memeluk bonekamu atau apapun itu, membayangkan yang kau peluk itu aku, benar? Dan, ah ya, aku ingin menciummu lagi. Eotteokhaji?” goda Sehun, terkekeh pelan. Sebenarnya ia tahu Hyemin sedang apa dan di mana. Tentu saja, ia bukan lelaki pelupa yang sering Hyemin katakan.

“YA, Oh Se—tidak, Eomma, tidak apa-apa. Temanku ini menyebalkan jadinya aku berteriak.” Benar saja, Hyemin pasti sudah bersama orang tuanya setelah menjemput mereka di bandara. Teman? Hyemin menganggapku teman?

“Teman kau bilang? Kim Hyemin, aku sudah merebut ciuman pertamamu dan kau masih menganggapku teman? Kenapa kau tidak bilang bahwa aku ini pangeran berkuda tampan yang menciummu?”

Terdengar decakan Hyemin di seberang sana. “Kau? Pangeran? Oh Sehun, kau itu cocok menjadi pangeran katak. Kau terlalu banyak menonton kartun, ya?

Mworago? Pangeran katak? Kau meremehkanku? Lihat saja, Kim Hyemin. Kau akan tahu akibatnya setelah aku bertemu denganmu. Aku tutup, Hyemin sayang.”

Sehun membasuh wajahnya dengan air, kasar. “Hyemin-a. Lihat saja kau nanti! Akan kupas—“

Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan wajah menyeramkan Suho yang menatap Sehun dengan tajam. Sehun yang ditatap seperti itu, hanya menatap Suho dengan tatapan polosnya, tak tahu maksud tatapan Suho itu.

“Oh Sehun, kau ingin melakukan apa pada Hyemin?”

Sehun yang akhirnya tersadar, menggeleng dengan wajah gugupnya. “Aniya, Hyung. Aku, aku pergi dulu!” Sehun berlari menuju kamarnya, dan kembali menelepon Hyemin. Ia sampai lupa menanyakan Hyemin masih di bandara atau tidak.

Kenapa lagi?

Sehun menghela nafas. “Ini serius. Kau ada di mana? Aku ingin bertemu denganmu.”

Untuk apa?

Sehun berdecak. “Eum, aku merindukanmu. Apa itu boleh dikatakan sebagai alasanku?”

****

Hyemin menatap layar ponselnya sebal. Semenjak di mana Sehun menciumnya, Sehun semakin lama semakin menyebalkan. Sehun menjadi sering menggodanya, dan sekarang ini ancamannya benar-benar nyata. Sehun tak segan-segan menciumnya jika Hyemin melakukan hal yang bahkan Hyemin yakini itu tak ada masalahnya bagi Sehun.

Sayang? Astaga Oh Sehun sudah benar-benar gila!

“Dasar pangeran katak!” Hyemin memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, melipatkan tangannya di depan dada. Oh Sehun menyebalkan. Dia pikir Sehun siapa? Kekasih bukan. Kenapa Sehun selalu melakukan hal-hal seenak jidatnya akhir-akhir ini?

“Pangeran katak, tapi kau tetap menyukainya, ‘kan?” Hyemin menoleh dan ia mendapati wajah menyebalkan kakaknya yang berada tak jauh dari wajahnya. “Menyukainya? Oppa ini sama menyebalkannya dengan Sehun!”

Hyemin membuang mukanya, memandang ke luar mobil. Sedangkan Woobin hanya tertawa geli melihat kelakuan adiknya itu. Orang tua mereka yang melihat kedua anaknya, menatap mereka dengan wajah bingungnya.

“Siapa itu Sehun? Pacar Hyemin?” Hyemin menoleh dan menatap ayahnya dengan wajah melas. “Sehun buka—“

“Betul, Appa! Sehun! Oh Sehun adalah kekasihnya uri Hyemin! Iya, ‘kan, Minah-ya?” Woobin memutarkan kepala adiknya agar menatap Woobin. Namun, Hyemin menatap Woobin tajam.

“Hyemin sudah punya kekasih, ya? Kenapa kau tidak cerita pada eomma, Sayang?”

Hyemin menatap ibunya dengan tatapan memelasnya. “Appa, Eomma, aku tak punya kekasih. Sehun itu anaknya Tuan Oh dan Nyonya Oh yang ingin bertemu kalian untuk bekerjasama dengan Appa itu,” rengek Hyemin, memajukan bibirnya.

“Benarkah? Hyemin tidak memiliki hubungan dengan anak mereka?” Hyemin menggeleng, lalu tersenyum kaku. “Sebenarnya, Sehun itu salah satu anggota boyband rookie, Appa.”

Tuan Kim menghela nafas, menggelengkan kepalanya. “Sampai kapan kau mengidolakan mereka yang berbau kpop itu, eum? Mereka bahkan tidak mengenalmu.”

Appa tidak tahu, Hyemin itu dekat sekali dengan anggota satu grup dengan Sehun! Bahkan, Appa, Eomma, Sehun sepertinya menyukai Hyemin! Ya, ‘kan, Hyemin?”

Hyemin hendak membuka mulutnya, namun bunyi ponsel menghentikannya.

Oh Sehun Yang Tampan.

Dia lagi? Batin Hyemin, tak percaya.

“Kenapa lagi?” tanya Hyemin pada Sehun di seberang sana. Maunya apa, sih?

Terdengar helaan nafas Sehun. “Ini serius. Kau ada di mana? Aku ingin bertemu denganmu.” Hyemin mengangkat satu alisnya. Bertemu denganku?

“Untuk apa?”

“Eum, aku merindukanmu. Apa itu boleh dikatakan sebagai alasanku?

Hyemin terdiam. Wajahnya memanas, jantung berdebar tak karuan. Sehun merindukanku? Seorang Oh Sehun? Oh Sehun si magnae EXO itu?

“Apa, apa?” Hyemin tergagap. Wajahnya semakin memanas. Tidak mungkin.

Kau ini mendengarkanku atau tidak? Aku merindukanmu! Cepat katakan kau ada di mana sekarang!

Hyemin menggelengkan kepalanya. Sehun benar-benar mengatakannya. Oh Sehun merindukannya. “Eo. Aku, aku sedang di jalan menuju rumahnya yang berada di Apgujeong. Kau ingin bertemu denganku di mana?”

Ah, aku akan ke rumahmu saja. Kirimkan alamatmu padaku. Sampai bertemu nanti, Hyemin-a.

Oh Sehun merindukan Kim Hyemin. Kenyataan yang sulit dimengerti oleh Hyemin.

****

Hyemin melangkahkan kakinya ke dalam rumahnya yang sudah lama tak ia kunjungi. Rumah ini masih terlihat sama semenjak Hyemin pindah ke Indonesia waktu itu. Tentu saja, karena pelayan-pelayan yang merawat rumah keluarga Kim tersebut.

Sebenarnya ayah Hyemin sudah menyuruhnya tinggal di rumah ini dibanding Hyemin tinggal sendiri di apartemen studionya. Namun, Hyemin menolaknya karena ingin hidup mandiri. Alasan lainnya agar ia tak ingin ayahnya bersikap protektif pada Hyemin.

“Aku merindukan rumah ini.”

Hyemin menatapi Woobin yang memandang rumah mereka dari pekarangan rumah mereka. Gadis itu berjalan mendekati kakaknya, dan menarik kakaknya agar masuk ke dalam rumah. “Oppa, ayo kita ke halaman belakang!”

Woobin menahan tangan adiknya itu. “Kau mau bermain? Di cuaca sedingin ini?” Hyemin menatap kakaknya dengan tatapan polosnya, menyengir. “Aku lupa kalau ini sedang musim dingin.”

Woobin mengacak rambut Hyemin, gemas. “Kau ini. Kau ini sudah besar, masih ingin bermain? Kasihan sekali Sehun.” Hyemin menatap kakaknya tajam. Sehun lagi, Sehun lagi. “Kenapa memangnya dengan Sehun? Oppagay?”

Woobin memegang kedua pipi Hyemin. “Oppa tidak gay, oppa normal, Sayang. Oppa hanya prihatin dengan Sehun karena akan memiliki kekasih yang kekanakkan sepertimu. Dan, kau mau kita kedinginan di sini?”

Hyemin hanya menatap punggung kakaknya yang memasuki rumah dengan wajah bingungnya. Kekasih yang kekanakkan? Hyemin membulatkan matanya. Hyunjoong oppa tahu siapa gadis yang disukai Sehun?

Hyemin berjalan ke dalam rumah, menghampiri kakaknya. Namun, langkahnya terhenti. Siapa peduli siapa gadis yang disukai Sehun? Aku tak meny—

“Kau sedang memikirkanku, ya?”

Hyemin memalingkan pandangannya pada sumber suara tersebut. Suara yang terdengar menyebalkan bagi Hyemin, dan pemilik suara itu yang baru saja Hyemin pikirkan. Oh Sehun.

Sehun terkekeh melihat wajah polos Hyemin yang tengah menatapnya. Perlahan Sehun masuk ke dalam rumah Hyemin, setelah disambut oleh beberapa pelayan Hyemin. Ia berjalan mendekati Hyemin yang hanya diam, terus menatapnya.

“Kau benar-benar tengah memikirkanku, ya?”

Hyemin tersadar. Ia mendapati Sehun yang berjarak begitu dekat dengannya. Gadis itu melangkah mundur, bergerak menjauhi Sehun.Sehun sebaliknya. Ia melangkah maju, mendekati Hyemin. “Oh Sehun! Kau ini kenapa?”

Sehun menyentuh kedua sisi bahu Hyemin. “Kau memikirkanku, ‘kan?” Hyemin menggeleng. Kenapa Sehun percaya diri sekali? Yah, walaupun yang ia pikirkan tadi perkataan kakaknya yang menyangkut tentang Sehun.

“Benarkah? Wajahmu tidak bisa membohongiku, Hyemin.”

“Oh Sehun, neo—“

“Oh Sehun, kau ingin mencium adikku? Jangan di sini! Ada orang tuaku di atas.” Pandangan Sehun dan Hyemin tertuju pada Woobin yang sudah mengenakan baju santainya—yang entah dari mana ia mendapatkannya karena tak mungkin pakaian dulu masih cukup padanya—dan tengah menuruni tangga.

Sejak kapan kakaknya naik ke lantai atas? Itu yang Hyemin pikirkan. Ia menggeleng. Untuk apa Hyemin memikirkannya? Yang harus ia pikirkan sekarang adalah perkataan Woobin yang menyebalkan itu.

Opp—“

Sehun merangkul Hyemin. “Jadi, aku boleh mencium Hyemin selain di sini, Hyung?” Hyemin menatap Sehun dengan tatapan tak percaya. “Oh Sehun, jangan—“

“Sudahlah, Sayang. Kakakmu terlanjur mengetahuinya.” Mata Hyemin semakin membulat. Oh Sehun, benar-benar………..

“Wah, jadi kalian sudah pacaran, ya? Kim Hyemin, kenapa tidak bilang pada oppa? Sehun-a, kau boleh mencium adikku di mana saja, tapi jangan berlebihan. Kau tahu maksudku, ‘kan?”

Sehun mengangguk. “Tenang saja, Hyung!”

Woobin terkekeh, berjalan mendekati Sehun dan Hyemin. “Jangan sampai orang tuaku tahu, ya!” Woobin tersenyum, menepuk bahu Sehun.

Ya! Kim Woo—“

Hyemin menatap tangan kakaknya yang menutup mulutnya. “Kalian ingin berkencan, ‘kan? Pergilah. Jangan pulang malam-malam, ya, Sayang?” Woobin mengecup puncak kepala Hyemin dengan sayang. Hyemin memajukan bibirnya, menatap kakaknya kesal.

Oppa menyebalkan! Aku mau tidur!”

Woobin dan Sehun tertawa melihat ekspresi wajah Hyemin yang lagi-lagi terlihat sangat menggemaskan. Mereka mencubit kedua pipi Hyemin, membuat wajah Hyemin terlihat aneh, akan tetapi lucu.

“Ada apa ini?”

Woobin dan Sehun menarik tangan mereka dari pipi Hyemin, menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal. Hyemin berlari menaiki tangga, memeluk ibunya yang baru saja turun. “Eomma, mereka mencubit pipiku. Sakit,” rengek Hyemin manja.

Nyonya Kim tersenyum melihat putrinya yang masih manja sekali padanya. “Mereka mencubitmu karena  gemas melihat putri eomma yang manis dan lucu ini. Iya, ‘kan, Hyunjoong-a? Dan, siapa ini? Temanmu, Hyungjoong?” Nyonya Kim berjalan menuruni tangga dengan pelan, karena Hyemin masih saja memeluknya.

Dasar kekanakkan, batin Sehun.

Sehun membungkuk, sopan. “Annyeong haseyo. Oh Sehun imnida. Saya—“

“Dia anaknya Tuan Oh yang ingin bertemu dengan appa dan eomma lusa,” potong Woobin, menyengir ke arah Sehun. Nyonya Kim mengangguk-angguk. “Ah, jadi ini yang namanya Sehun? Kau tampan sekali! Lebih tampan dari anakku.”

Eomma!” Woobin menatap ibunya dengan tatapan tak percaya.

“Tapi, Eomma, Nyonya Oh bilang oppa lebih tampan dari Sehun.” Nyonya Kim tertawa melihat putrinya. “Benarkah?” Hyemin mengangguk.

“Kapan ibuku bicara seperti itu? Perasaan tida—“

“Waktu aku ke rumahmu. Kau saja yang tidak tahu karena kau sedang tidur di kamarmu.” Hyemin mencibir pada Sehun. Sehun hanya tersenyum yang tak dapat diartikan.

“Hyemin pernah ke rumah Sehun?” Hyemin mengangguk, menatap ibunya.

Sehun berdeham. “Bolehkan saya mengajak Hyemin keluar sebentar? Saya ingin—“

“Oh Sehun, sudah kubilang, kalau kau ingin mengajak Hyemin jalan-jalan, ajak saja! Asalkan pulangnya tidak malam-malam. Iya, ‘kan, Eomma? Dan juga, bicara formalmu menyeramkan!” Woobin lari menuju lantai atas, takut-takut Sehun akan memukulnya saat itu walaupun ia tahu Sehun tak mungkin melakukannya.

Secara, Woobin adalah kakak dari Hyemin dan karena ada ibunya di sana. Jadi, ia terselamatkan.

Nyonya Kim terkekeh. “Pergilah dengan Sehun. Tapi, pakaian Hyemin—“

Hyemin akhirnya melepas pelukannya pada ibunya. “Aku tidak sedang berkencan. Kenapa harus ganti pakaian? Begitu, Oh Sehun?” Hyemin menatap Sehun dengan tatapan sinisnya, dan Sehun hanya tersenyum penuh arti.

“Tapi, setidaknya ganti pakaian yang manis, Sayang. Sehun, bisa tunggu sebentar? Aku akan mendandani putriku sebentar. Okay?”

Sehun mengangguk. “Ah, iya.”

Hyemin menatap ibunya, memelas. “Eomma.”

“Sudah, ayo ikut eomma!”

****

“Kau merindukanku juga, ‘kan?”

Hyemin menoleh pada Sehun yang tengah mengendarai mobilnya. Lelaki bernama Oh Sehun benar-benar memiliki kepercayaan sangat tinggi. Bagaimana mungkin Hyemin merindukan lelaki tengik ini, sedangkan ia lebih merindukan orang tuanya dibandingkan Sehun.

Dan lagi, memangnya Sehun kekasihnya? Kekasihnya saja bukan, mana mungkin Hyemin merindukan Sehun tanpa status.

“Kenapa diam? Diam berarti kau—“

“Untuk apa merindukanmu? Percaya diri sekali!” Hyemin memajukan bibirnya, seperti biasa. Sehun yang melihatnya, menarik pipi Hyemin sebelah kiri. Gemas. “Kau itu jahat sekali, sih, padaku. Tidak tahu aku merindukanmu, ya?”

“Kau? Merindukanku? Oh Sehun, atas dasar apa kau merindukanku? Bahkan kita—“

Sehun tersenyum miring. “Bahkan kita tak mempunyai hubungan spesial, begitu maksudmu?” Hyemin membulatkan matanya. “Kau benar-benar seorang cenayang, ya?”Sehun menggeleng. “Karena aku bisa membaca pikiranmu, juga karena wajahmu itu menjelaskan semuanya. Salahkan wajah polosmu itu, Sayang.”

“Berhenti memangg—“

“Aku tidak akan berhenti atau kau akan kucium, Kim Hyemin Sayang.” Hyemin menatap Sehun kesal. Kenapa Sehun selalu mengancamnya dengan ciuman? Kenapa tidak dengan mentraktir Sehun bubble tea? Memangnya tidak ada yang Sehun inginkan selain…….menciumnya?

“Oh Sehun menyebalkan!”

“Sudah pernah kubilang, bukan, jangan mengatakan hal yang aneh-aneh, atau kucium kau.” Sehun tersenyum penuh kemenangan. Tunggu saja, Kim Hyemin. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Setelah aku jatuh cinta padamu.

Sehun terdiam. Aku sudah jatuh cinta padanya? Sehun menggeleng. Sampai saat ini Sehun masih saja belum mengakui perasaannya sendiri. Walaupun ia ingin Hyemin menjadi kekasihnya, namun Sehun belum mengakui dirinya sudah jatuh cinta pada gadis bawel bernama Kim Hyemin itu.

“Oh Sehun!” Sehun menoleh. “Eo?” ujar Sehun tergagap.

Hyemin memajukan bibirnya. “Kau tidak dengar aku memanggilmu sejak tadi? Apa yang kaupikirkan, sih? Bukannya kau fokus pada jalan, malah melamun.”

“Aku memikirkanmu,” jawab Sehun polos, tanpa menatap Hyemin. Sehun dapat merasakan sekujur tubuhnya membeku, wajahnya memanas, serta gejolak di dadanya bertambah kencang. Jantungnya berdetak sangat kencang. Apa ini?

Hyemin mengerjapkan matanya. Hyemin yakin Sehun pasti sedang mabuk. Ia menggeleng. Tak mungkin Sehun mabuk di saat siang seperti ini, juga tak mungkin karena Sehun masih terlalu muda untuk meminum minuman seperti itu. Lagipula Sehun beserta member yang lain pernah Hyemin larang untuk meminum itu karena kesehatan dapat terganggu oleh minuman seperti itu.

Hyemin menyentuh pipinya. Panas. Selalu seperti ini. Sehun selalu saja menjadi alasan jantungnya berdetak lebih kencang, juga wajah meronanya.

Apa aku benar-benar menyukai Sehun?

“Ayo kita turun.” Lamunan Hyemin buyar begitu mendapati Sehun tengah melepas sabuk pengamannya. Gadis itu menatap sekelilingnya, lalu menatap Sehun. “Ini di mana?”

Sehun menoleh, tersenyum lembut—membuat debaran Hyemin bertambah kencang. “Aku ingin membelikanmu pakaian yang cocok untuk lusa nanti. Kau tak punya gaun, bukan? Pasti tidak punya, gadis sepertimu mana mungkin suka memakainya. Kalau mini dress mungkin kau punya, tapi kalau gaun mungkin tidak.”

Suara Sehun yang awalnya lembut berubah menjadi menyebalkan. Hyemin menatap Sehun tajam. “Aku—“

Sehun mendaratkan bibirnya di permukaan bibir merah muda milik Hyemin. Lelaki itu menyentuh tengkuk Hyemin, mendorong Hyemin agar memperdalam ciumannya. Sehun hanya menempelkan bibir Hyemin, tak lebih.

“Sehun, neo—“

“Makanya, jangan menatapku setajam itu kalau tidak mau kucium. Sudahlah, ayo kita turun,” ujar Sehun sembari melepaskan sabuk pengaman yang Hyemin pakai, membuat wajah Hyemin semakin merona.

“Ayolah, Kepiting Rebusku yang manis. Jangan sibuk merona seperti itu. Ayo turun!”

Hyemin menatap Sehun yang entah sejak kapan ia sudah membuka pintu mobil bagian kanan, menatap Hyemin gemas.

“Iya, dasar bawel seka—ah, tidak jadi.” Sehun tersenyum, menatapi punggung Hyemin yang sudah berjalan masuk ke dalam butik yang cukup terkenal di Seoul.

“Dasar, Kepiting Rebusku yang an—kepiting rebusku? Oh Sehun, sadarlah.”

Sehun menggelengkan kepalanya, bergegas menyusul Hyemin.

****

Annyeong haseyo. Anda Sehun dari EXO, ya?”

Sehun tersenyum, lalu merangkul Hyemin. “Ah, iya. Bisa tolong carikan ia pakaian yang cocok untuk makan malam keluar—“

“Makan malam keluarga? Oh Se—“

“Ah, Sayang, lagipula mereka tidak akan membongkar hubungan kita. Buka begitu?” Sehun tersenyum manis pada Hyemin. Sedangkan Hyemin hanya menggembungkan pipinya, sebal.

“Tolong carikan pakaian yang cocok untuk makan malam kelaurga, ya,” ujar Sehun mengulangi perkataan sebelumnya yang sempat Hyemin sela. Sehun menatap Hyemin agar mengikuti si pegawai toko untuk mencarikan pakaiannya.

“Ah, Agasshi, ayo kami bantu mencarikan pakaian yang cocok untuk Anda.” Hyemin menatap Sehun, memohon dengan puppy eyesnya. “Aku tak mau pakaian yang aneh-aneh, ya?” Sehun mendengus. “Aku takkan membiarkan tubuhmu dilihat orang lain selain aku kelak. Aku tak mungkin menyuruhmu memakai pakaian yang sexy, lagipula tidak akan cocok dengan wajahmu yang imut ini.”

Sehun mencubit kedua pipi Hyemin yang sudah memerah. “Apa maksudmu dengan selain dirimu kelak?” Sehun menatap sekelilingnya. Mencium bibir Hyemin sekilas. “Aku akan memberitahumu setelah tepat pada waktunya. Sekarang cepat ke sana atau—“

“Atau akan melaporkan ini pada oppa! Ah, tidak Woobin oppa pasti mendukungmu! Aku akan bilang pada oppadeul. Dan, oh ya, habis ini belikan aku—“

“Iya, aku tahu. Aku akan membelikannya setelah ini. Cepat ke sana!”

****

Sehun POV

Aku menatap Hyemin yang tengah mengikuti pegawai butik ini. Aku terkekeh pelan. Aku tahu gadis itu pasti ingin makan es krim. Gadis itu benar-benar aneh, tapi manis. Manis? Aku menggeleng kepalaku. Aku sepertinya sudah jatuh pada pesona seorang Kim Hyemin.

Aku menggeleng kepalaku lagi.

Oh Sehun, kau ini kenapa, sih? Setelah mengambil ciuman pertamanya kau malah

Bukankah memang seharusnya aku mengambil ciuman pertamanya? Karena aku menyukainya, ‘kan? Oh Sehun, kau menyukai atau mencintainya? Tapi, bukankah sama saja? Hah, entahlah.

Aku berjalan menuju sofa yang terletak tepat di depan ruang ganti. Aku menatap ruang ganti itu dengan menaikkan satu alisku. Ini butik atau studio pakaian pengantin? Kenapa ruang gantinya seperti ini?

Untuk apa aku memikirkannya? Toh, butik ini bukan punyaku atau keluargaku.

Aku teringat dengan perkataanku tadi.

Aku takkan membiarkan tubuhmu dilihat orang lain selain aku kelak.

Kurasa otakku benar-benar perlu dicuci ulang. Bagaimana aku bisa mengatakan hal seperti itu pada Hyemin? Bukankah perkataan itu menjurus jika aku akan menikahinya nanti? Bukankah seperti itu maksud perkataanku tadi?

Kim Hyemin benar-benar telah membuatku hampir gila. Atau sudah gila?

Aku melirik jam tanganku. Sudah lebih dari lima belas menit sejak Hyemin mengikuti pegawai butik tadi. Namun, sampai sekarang wajah gadis bawel itu belum muncul juga. Sebenarnya apa yang ia pakai, sih? Gaun pengantin?

Aku tersenyum. Mungkin suatu saat aku akan menunggunya seperti ini saat kami akan—

“Oh Sehun, apa yang kau pikirkan, sih?”

Beberapa menit kemudian, pegawai butik memberitahuku bahwa Hyemin telah selesai memilih pakaian yang cocok untuknya. Aku meletakkan ponselku di atas meja, melipatkan tanganku di dada. Entah kenapa jantungku berdetak dengan kencang. Astaga, Oh Sehun, ini bukan saat-saat kau akan menikah, tapi kenapa kau malah berdebar sekeras ini?

Aku menatap tirai yang perlahan tapi pasti menampakkan seorang gadis yang dibalut dengan mini dress berwarna pink—yang merupakan warna kesukaan gadis itu—dengan sabuk motif kotak berpita di depannya.

Aku mengerjapkan mataku. Ini benar Kim Hyemin? Kenapa ia terlihat beribu kali lipat sangat manis? Ah, tidak. Hyemin memang gadis yang manis. Aku dapat melihat pipinya yang memerah karena ekspresi wajahku sepertinya. Itu efek dari perona pipi atau wajah kepiting rebusnya muncul?

Astaga, Oh Sehun. Kau benar-benar sudah jatuh ke dalam pesona seorang Kim Hyemin.

****

Author POV

Sehun menatap Hyemin yang tengah merona itu dengan mulut setengah terbuka, juga tatapan tak percayanya.Kenapa Hyemin terlihat semanis itu?

Hyemin terlihat sangat manis. Sehun baru pertama kalinya melihat Hyemin menggunakan mini dress yang membuat Hyemin terkesan manis. Dengan biasanya Hyemin menggunakan pakaian casual walaupun menggunakan rok.

Ah, tidak. Sehun pernah melihatnya, namun sekali lagi yang sekarang ini jauh lebih manis.

Hyemin yang ditatap seperti, hanya bisa menundukkan kepalanya, malu. Apakah pakaian sangat jelek, ya? Padahal ini sangat lucu.

“Kim Hyemin.” Suara Sehun membuat Hyemin mengangkat kepalanya, menatap Sehun yang tengah berjalan mendekatinya perlahan. Tanpa sadar Hyemin mundur satu langkah ke belakang. “Oh, Oh Sehun, kenapa? Aneh, ya?”

Sehun menggeleng, meraih bahu Hyemin dan menatap mata Hyemin lekat-lekat. Membuat jantung Hyemin berdebar sangat kencang. “Oh Sehun?”

Sehun tersenyum, wajah gugup Hyemin beserta wajah meronanya membuat Hyemin tampak menggemaskan dan manis. Manis. Entah berapa kali ia mengatakan Hyemin sangat manis.

“Kau terlihat manis dan menggemaskan, Sayang.”

Hyemin berubah menatap Sehun tajam. “Berhenti memanggilku seperti itu! Aku bukan kekasihmu, Oh Sehun!” Hyemin mendorong Sehun agar menjauh. Ia ingin mengganti pakaiannya. Juga, ingin menjauh dari Sehun sebentar karena jantungnya benar-benar menyebalkan.

Sehun teduduk di sofa, di mana ia duduk tadi. Sehun menatapi tirai yang sudah tertutup dengan pandangan kosong. Jadi, aku boleh memanggilmu seperti itu kalau kau menjadi kekasihku? Begitu, Kim Hyemin?

“Tuan.” Sehun terdiam, masih sibuk dengan pikirannya akan Hyemin. Jadi, ia harus segera menyatakan perasaannya pada Hyemin agar—

“Tuan.”

Lamunan Sehun buyar. Ia menoleh ke arah pegawai butik yang sejak tadi memanggilnya. Sehun menarik ujung bibirnya. Pegawai tersebut menanyakan apakah Sehun jadi mengambil mini dress yang Hyemin kenakan atau tidak.

“Tentu saja. Ini kartu kreditku.” Sehun memberikan kartu kreditnya.

Dan tak lama kemudian, Hyemin sudah selesai mengganti pakaiannya dan mereka pun meninggalkan butik tersebut.

****

Sehun menatapi jalanan kota Seoul yang cukup ramai.Ia menghela nafas pelan. Malam  ini adalah pertemuan orang tua Hyemin dengan orang tuanya yang katanya ayah Sehun ingin menjalin kerja sama perusahaan dengan ayah Hyemin. Tapi semakin lama, Sehun merasa itu bukan satu-satunya alasan mereka bertemu.

Entah kenapa, ini mungkin hanya sebagai alasan ibunya agar bisa membuat Hyemin menjadi anak menantunya? Ibunya itu sangat menyukai Hyemin. Bahkan ibunya itu mengabaikannya saat ada Hyemin. Sehun yakin, ibunya itu pasti memiliki rencana untuk menjodohkannya dengan Hyemin.

Sehun mendengus. Mungkin ibunya mengira Sehun hanyalah lelaki berumur dua puluh tahun yang tak akan mengira hal seperti ini. Logikanya, jika ini masalah perusahaan, kenapa dirinya dengan Hyemin—bahkan kakak Hyemin—harus ikut juga? Sayangnya kakak laki-laki Sehun sedang pergi keluar negeri, jadi tidak ikut.

Mengingat Hyemin, Sehun tak pernah bertemu atau menghubungi gadis itu sejak mereka pulang dari butik. Bahkan saat Sehun bilang akan membelikan es krim, gadis itu malah mengatakan ia ingin pulang, tak mau makan es krim bersama Sehun.

Apa Hyemin marah padanya? Apa Sehun harus segera menyatakan perasaannya pada Hyemin? Tapi, Sehun pun belum yakin dengan perasaannya sendiri. Tidak, Sehun sudah yakin, yang membuatnya tak yakin adalah perasaan Hyemin padanya.

Hyemin dekat dengan Kyuhyun. Bisa saja Hyemin diam-diam menyukai Kyuhyun, bukan? Kyuhyun. Mengingat itu Sehun menjadi kesal. Namun, kekesalannya menguap saat ia mengingat Hyemin tak lagi menghubungi Kyuhyun setelah Sehun melarangnya, juga Kyuhyun pun tak menghubungi gadis itu. Mungkin karena jadwalnya yang padat.

Hyemin juga dekat dengan Kris. Hyemin sering tersenyum saat bersama Kris. Secara, Hyemin begitu mengidolakan Kris. Sehun bahkan ingat, saat mereka di Beijing, Hyemin malah menelepon Kris, dibanding menelepon dirinya.

Sehun mengacak rambut yang sudah ia tata dengan rapi, frustasi.

“Kau kenapa, Sehun-a?”

Nyonya Oh yang melihat kelakuan aneh anaknya, menanyakan keadaan Sehun. Sehun menggeleng. “Ah, tidak, Eomma.”

Nyonya Oh terkekeh. “Kau memikirkan Hyemin, ya? Sebegitu sukanya kah kau pada Hyemin? Anak ini, kenapa tak mau jujur pada dirinya sendiri, sih?” Apa yang Nyonya Oh katakan memang benar. Ia memang tengah memikirkan Hyemin.

“Siapa itu Hyemin, Yeobo?” tanya Ayah Sehun yang duduk di samping kemudi. Tuan Oh menoleh ke arah istri dan anak bungsunya yang sepertinya tengah membicarakan seorang gadis. “Kekasihnya Sehun yang akan ki—“

“Yang akan kalian?” Sehun menaikkan satu alisnya. Sepertinya yang ia curigai tepat seperti apa yang ia pikirkan. Nyonya Oh tersenyum kaku. “Hyemin itu anaknya Tuan Kim dari Perusahaan HY, Yeobo. Bukankah aku pernah mengatakannya?”

Tuan Oh tengah menatap istrinya dengan wajah bingungnya. Sedangkan, Nyonya Oh tampak mengedipkan matanya pada Tuan Oh, seperti memberikan kode untuk tidak melakukan hal atau mengatakan sesuatu yang membuat Sehun curiga.

Appa tidak tahu?”

“Ah, iya, appa ingat Hyemin anak Tuan Kim. Aduh, sepertinya appa mulai cepat lupa, Sehun-a.”

Sehun memiringkan kepalanya. Orang tuanya benar-benar mencurigakan sekali.

Tak lama setelah itu, mereka sampai di sebuah restoran mewah khas Italia. Sehun sengaja mengatakan pada ibunya agar makan malam di restoran Italia, karena masakan Italia adalah makanan favorit Hyemin.

Sehun menghela nafas. Ia takut malam ini adalah hari di mana ia dan Hyemin dijodohkan sebelah pihak oleh ibunya. Ya, Sehun tahu itu pasti. Sehun senang kalau misalnya apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi. Tapi, bagaimana dengan Hyemin? Bagaimana kalau Hyemin malah membencinya?

Oh Sehun, semangat.

****

Sehun dapat bernafas dengan lega—setidaknya—karena Hyemin tidak marah padanya. Gadis itu masih tersenyum manis saat Sehun tiba di ruang VIP restoran tersebut. Gadis itu bahkan sempat menyapanya.

Pandangan Sehun tak lepas dari Hyemin yang duduk tepat di depannya. Ia dapat melihat Hyemin yang tengah menikmati spaghetti—favoritnya. Ujung bibir Sehun terangkat. Melihat Hyemin—yang sempat ia pikir bahwa gadis itu marah padanya—yang terlihat menggemaskan saat makan.

Sehun meletakkan sendok dan garpunya dengan rapi di atas piringnya, tanda ia sudah selesai makan. Ia mengambil serbet yang ia letakkan di atas pahanya, lalu membersihkan sekitar bibirnya. Pandangan Sehun terhenti di sekitar bibir Hyemin yang terdapat saus spaghetti.

“Hyemin-a, itu—“Hyemin menatap Sehun yang menggantung perkataannya.

Woobin yang berada di sebelah Hyemin, melihat wajah adiknya, siapa tahu ada yang salah pada adiknya—dilihat dari wajah Sehun. “Eo? Hyemin-a, sini oppa bersihkan. Kau ini makan seperti anak kecil saja!” Woobin membersihkan sisa saus spaghetti di sekitar bibir Hyemin dengan serbetnya.

Orang tua Sehun yang melihat apa yang Woobin lakukan pada adiknya, tersenyum. “Kalian sepertinya sangat akur, ya,” ujar Nyonya Oh, tersenyum pada Woobin dan Hyemin.

“Siapa yang bilang mereka akur? Mereka selalu tidak akur kalau aku melihatnya.” Sehun meneguk minumannya, sembari menatap Hyemin yang tengah menatapnya dengan tajam.

“Kau tak ingat bahwa kami selalu bertengkar karena ada hubungannya denganmu?” Woobin menatap Sehun dengan tatapan mengejeknya. “Hyung—“

“Sehun, kau ini benar-benar. Memangnya apa hubungannya dengan Sehun sampai kalian bertengkar?” tanya Nyonya Kim, ibu Hyemin dan Woobin. Hyemin memelas pada ibunya, sedangkan Woobin tersenyum setan ke arah Sehun.

“Ah, itu karena kecocokkan Hyemin deng—“

Oppa, oppa mulai bicara yang aneh-aneh!” seru Hyemin sembari memajukan bibirnya, membuat seluruh orang yang berada di ruangan itu terkekeh geli melihat kelakuan Hyemin.

Sehun tersenyum. Dasar Kim Hyemin.

“Ah, ya, kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai membicarakan tujuan kita bertemu malam ini, Tuan Kim? Nyonya Kim?” tanya Nyonya Oh, tersenyum.

Sehun mendengus. Sepertinya eomma benar-benar tak sabar menjodohkanku. Sehun beranjak dari kursi. Ia merapikan jasnya agar rapi. Lelaki itu menatap Hyemin. “Saya permisi keluar sebentar. Ingin mencari udara segar. Hyemin-a, mau ikut aku?”

Hyemin menatap Sehun yang seperti memberi isyarat dengan matanya. Hyemin mengangguk, lalu beralih menatap kakaknya. “Oppa,“

Woobin yang sepertinya tahu apa yang akan terjadi di sini, memilih untuk tidak ikut. Ia tahu, pertemuan ini akan berujung dengan perjodohan, melihat bagaimana sukanya ibu Sehun pada adiknya itu—berdasarkan apa yang pernah Hyemin katakan. Dan dilihat dari mata Sehun, Woobin dapat mengira Sehun juga berpikiran yang sama dengannya.

Sayang, adiknya ini tak bisa menerka apa yang akan terjadi di sini—pada dirinya. Apa adiknya itu terlalu polos atau apa?

“Wah, kebetulan eomma ingin menyuruh kalian mencari udara segar. Ini masalah perusahaan soalnya, jadi kalian pasti tidak akan mengerti, bukan? Dan, Woobin-a, kau sebaiknya tinggal di sini saja, ya? Woobin pasti , ‘kan, akan menjadi penerusnya Tuan Kim. Bukan begitu, Tuan Kim?”

Ayah Hyemin mengangguk, walau sebenarnya tak mengerti.

Woobin tersenyum. “Aku juga sebenarnya ingin di sini saja.”

Sehun tersenyum penuh arti pada Woobin. Ia berjalan menghampiri Hyemin, dan meraih tangan gadis itu. “Kajja, Hyemin-a.”

****

“Oh Sehun.”

Sehun menoleh pada Hyemin yang tengah menampakkan wajah memelasnya. Saat ini mereka tengah berada di taman belakang restoran Italia tersebut, duduk di sebuah kursi taman yang tersedia di sana.

Sehun menatap Hyemin dengan wajah datarnya. “Kenapa?”

Hyemin tersenyum manis, senyum yang membuat Sehun membeku di tempat. “Aku masih lapar,” rengek Hyemin, memajukan bibirnya. Gadis itu menyentuh perutnya dengan tangan yang sedikit gemetaran akibat cuaca malam ini yang cukup dingin. Seharusnya ia meminta mantelnya terlebih dahulu, baru pergi ke taman.

Hyemin merutuki kebodohannya. Sejak dulu ia selalu saja lupa akan mantelnya yang penting untuk kehangatan badannya. Apalagi saat di mana ia pertama kali bertemu dengan Sehun.

Hyemin menoleh, menatap sisi samping dari seorang Oh Sehun. Apakah Sehun masih mengingatnya?  Hyemin menggeleng. Tentu saja tidak. Oh Sehun, ‘kan, pelupa.

“Kau memikirkan apa sampai menggelengkan kepalamu?” Hyemin menggeleng, masih meletakkan tangannya di perutnya. Spaghetti yang ia makan tadi sangat kurang dari porsi makan yang biasa ia makan. Biasanya satu porsi spaghetti di tempat langganannya sudah masuk ke dalam kategori lebih dari cukup.

Apa restoran ini yang punya pelit, ya? Hyemin kembali menggeleng. Pikirannya sudah mulai kacau karena lapar sepertinya.

Hyemin menoleh pada Sehun saat dirasakannya jas milik Sehun tersampir di bahunya, cukup untuk menghangatkan dirinya. “Kau benar-benar lapar?”

Hyemin mengangguk. “Spaghetti tadi kurang untukku. Geundae, Oh Sehun, kau tidak kedinginan?”

Sehun menggeleng. “Tidak apa-apa, aku tak merasa kedinginan kok. Aku sudah terbiasa dengan dingin.” Sehun terdiam, begitu pula Hyemin. Kata-kata itu juga Sehun katakan saat Hyemin menolak Sehun yang ingin memberikan mantel padanya pada musim dingin tahun lalu.

Apakah dia tahu siapa pemilik mantel itu? Sepertinya tidak. Kalau ia ingat, pasti ia akan heboh karena pernah mendengar perkatanku saat itu, batin Sehun.

Sehun berdeham. “Kau benar-benar lapar? Kau mau makan di sini atau—“

“Bagaimana kalau makan ramyeon atau udon? Tadi aku melihat kedai ramyeon tak jauh dari sini. Bagaimana? Ada tteokbokki juga sepertinya. Kau mau menemaniku?”

Hyemin mengerjapkan matanya, berharap Sehun mau menemaninya. Sedetik kemudian, senyum merekah di wajah menggemaskan Hyemin, membuatnya semakin menggemaskan di mata Sehun. Sehun mengangguk, dan tersenyum melihat gadis di hadapannya juga tersenyum.

Sehun berdiri, menatap Hyemin yang masih terduduk. “Ayo kita makan lagi. Kita ke dalam dulu, bilang pada orang tua kita terlebih dahulu, takut mereka mencari kita. Ayo!” Sehun mengulurkan tangannya, menanti Hyemin menyambut ulurannya. Sehun tersenyum saat Hyemin menggenggam tangannya, menerima ulurannya. Sehun mengeratkan genggamannya.

Mereka berjalan masuk ke dalam restoran, menuju ruangan di mana mereka makan tadi. Sehun baru saja akan membuka pintu ruangan tersebut, namun tangannya yang akan membuka pintu, terdiam—menggantung—di udara saat mendengar percakapan di dalam.

“……………Saya menyukai Hyemin. Saya ingin sekali menjadikan Hyemin sebagai anak menantu saya. Sebenarnya mengajak Tuan Kim untuk bekerjasama dengan perusahaan Ayah Sehun hanya alasan belaka agar Hyemin dan Sehun tidak curiga………”

Tepat seperti apa yang Sehun pikirkan. Ibunya ini sepertinya sudah merencanakannya sejak awal. Walaupun Sehun menyukai Hyemin, tetapi ia tidak ingin dijodohkan seperti ini. Ia ingin menjadikan gadis digenggamannya kini sebagai kekasihnya dengan usahanya sendiri. Dengan—ehm—perjuangan cinta Sehun sendiri.

“Oh Sehun?”

Sehun menoleh, menatap Hyemin yang tampak bingung kenapa Sehun tidak membuka pintunya dengan segera. Ia benar-benar sudah lapar sekali. Sepertinya Hyemin tidak mendengar percakapan di dalam, untungnya.

“Kenapa? Ayo kita bilang dulu, aku sudah lapar!” ujar Hyemin lalu segera memegang knop pintu. Dan seperti Sehun tadi, Hyemin malah terdiam karena mendengar apa yang dibicarakan orang tua mereka.

“…………………ingin menjodohkan anak kami dengan Hyemin………..”

Hyemin menatap Sehun yang terus terdiam. Lelaki itu menatap mata Hyemin dengan tatapan yang sangat sulit Hyemin tebak. “Oh Sehun—tak mungkin, ‘kan?”

Sehun menghela nafas. “Kita tak mendengar apa-apa. Ayo kita makan saja dulu. Kita bisa memberitahu mereka dengan mengirimkan pesan pada mereka. Ayo, aku tak mau kau tambah kelaparan dan merengek macam-macam padaku. Ayo!”

Hyemin hanya mengikuti Sehun yang sudah menariknya keluar restoran. Ia benar-benar tak tahu bagaimana.

Ia akan dijodohkan oleh seorang Oh Sehun?

****

“Saya sangat menyukai Kim Hyemin. Ia benar-benar gadis yang manis. Ini pertama kalinya Sehun dekat dengan seorang gadis. Bahkan saya sengaja menyuruh bawahan saya untuk mengikuti mereka. Dan ini hasilnya,” ujar Nyonya Oh, lalu menunjukkan beberapa foto Sehun dan Hyemin.

Semua yang berada di dalam ruangan menatap foto-foto itu. Ada foto di mana Sehun memeluk Hyemin dari belakang, foto Sehun yang mencium Hyemin di dalam mobil, dan foto-foto mereka yang lainnya.

“Mereka lebih cocok menjadi sepasang kekasih daripada seorang artis dan—“ Woobin terdiam, ia hampir saja memberitahu rahasia Hyemin. Ia berdeham. “—daripada seorang artis dan fansnya. Bukan begitu, Nyonya Oh?” Nyonya Oh mengangguk. Sepertinya Nyonya Oh juga tahu situasi Hyemin. Itu yang Woobin pikirkan.

Hyemin benar-benar sangat dekat dengan Nyonya Oh sepertinya.

“Saya menyukai Hyemin. Saya ingin sekali menjadikan Hyemin sebagai anak menantu saya. Sebenarnya mengajak Tuan Kim untuk bekerjasama dengan perusahaan Ayah Sehun hanya alasan belaka agar Hyemin dan Sehun tidak curiga.”

Tuan Kim berdeham. “Jadi intinya?”

“Jadi, kami ingin menjodohkan anak kami dengan Hyemin. Bolehkah jika itu terjadi?”

Tuan Kim menatap istrinya. Nyonya Kim menghela nafas. “Kami tak ingin memaksakan mereka. Bagaimana jika mereka tak memiliki perasaan yang lebih terhadap masing-masing? Kami han—“

Eomma tak perlu khawatir. Mereka saling menyukai, ani, bahkan saling mencintai. Hanya saja mereka—entah—belum menyadari perasaan mereka atau tidak mau mengakui perasaan mereka sendiri.” Woobin menatap ibunya, meyakinkan ibunya.

“Jadi, bagaimana kalau kita membuat mereka menyadari dan mengakui perasaan mereka dengan cara memberitahu mereka bahwa mereka dijodohkan karena syarat dari bekerjasamanya perusahaan appa dan Tuan Oh?”

Woobin menatap orang tuanya dan orang tua Sehun yang tampak berpikir.

“Bagaimana? Itu usulku, sih. Nanti pada akhirnya kita memberitahu pada mereka bahwa mereka tidak dijodohkan. Ini hanya—seperti—sebuah trik untuk menyatukan mereka.”

TBC

Halo, Hye ngirimnya tidak terlalu lama kan? Hehehehe

Akhirnya udah chapter 6 aja kkkk~

Gimana? Tambah gaje ya? Jangan lupa RCL, babies ❤ kkkkk

Maaf kalo ada kata-kata yang kurang jelas atau typo ^_^

 

 

 

Iklan

31 pemikiran pada “Stuck (Chapter 6)

  1. maaf thor baru coment oh yah ini deabak thor conflik nya entah napah nih lucu
    oh yah aku pengen minta maaf karna pernah jd siders dan kata2 yg kurang baik
    minal aidzin wal fa idzin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s